Suasana Angelus Café amat sangat tentram dengan lagu instrumental menangkan yang terdengar di setiap sudutnya.
Café hari ini sepi karena Angelus telah dibooking untuk perayaan ulang tahun Seungkwan.
Tentu Jeonghan sebagai pemilik akan dengan sukarela menyediakan tempat untuk ulang tahun calon adik ipar. Yeah walau Nyonya Choi tetap mengirimkan biaya sewa ke rekening Angelus.
Para chef sibuk di dapur dan disinilah Jeonghan dan Myeongho yang terlihat melakukan finishing pada dekorasi di meja makan.
Seungcheol, Jisoo, Seokmin, dan Chan juga sudah hadir dan membantu menata kue juga kado-kado yang ada.
Dekorasi café berubah menjadi warna biru pastel dimana-mana. Mulai dari balon-balon, gantungan bintang di langit-langit, hingga setiap dekorasi mini yang ada di meja.
"Wah cantik sekali." Puji Jihoon kala ia memasuki bagian dalam café bersama Soonyoung dan Wonwoo.
Jihoon sudah bisa berjalan walau masih harus diawasi. Namun untuk saat ini atas permintaan Soonyoung, Jihoon tetap duduk kursi roda.
"Letakan kadonya disini saja hyung." Kata Chan.
Kado berbentuk kotak berwarna putih dan pita biru itu diserahkan Wonwoo ke Chan sehingga Chan bisa meletakan kado tersebut di samping kado lainnya.
Semakin menuju jam 7 petang, semakin lengkap anggota Quattuor Coronam yang datang dengan membawa hadiah yang beraneka ragam ukuran dan bentuknya.
Bahkan Hyunwoo dan Kihyun juga sudah hadir di café ini. Hanya tinggal menunggu yang berulang tahun untuk hadir bersama dengan Hansol.
Mereka berbicang-bincang ringan sambil menikmati minuman pesanan masing-masing.
"Semuanya, Seungkwan hadir…" Seungkwan berteriak heboh kala memasuki pintu café.
Ia terlihat manis dengan kemeja baby blue dan celana berwarna putih.
Oh dan lihatlah siapa yang ada di sampingnya. Terlihat Hansol yang berjalan sambil mengandeng jemari Seungkwan.
Mereka terlihat bahagia seolah tak ada masalah di masa lalu.
"Aigoo yang sudah resmi…"
"Bikin iri deh…"
"Selamat ya Kwanie dan Hansolie…"
Seungkwan dan Hansol tersenyum ke segala arah. Tentu saja cara mereka untuk tersenyum berbeda. Mereka benar-benar bahagia sekali karena permasalahan yang terjadi di antara mereka sudah selesai.
Pesta berlangsung dengan suasana yang hangat. Canda tawa terlontar dimana-mana.
Seungkwan tertawa bahagia begitu pula orang-orang di sekelilingnya yang juga merasakan kebahagiaan.
Mungkin tak ada yang sadar namun satu orang di antara mereka menjalankan misi mata-mata. Siapa lagi kalau bukan Jihoon yang memperhatikan gerak-gerik sang hyung.
Surat elektronik dari Selene tentu membuat Jihoon kepikiran. Ia sangat paham bahwa kata 'bercanda' tidak ada dalam kamus Selene.
Karena sungkan bertanya langsung, ia memilih untuk memperhatikan sang hyung saja.
"Huffttt..."
Seungkwan meniup lilin yang ada di kue ulang tahunnya dengan semangat.
Sorakan heboh dan tepuk tangan mengiringi nyala api lilin yang mengilang. Semoga apa yang diharapkan oleh Seungkwan terkabul.
"Seungkwanie, mianhe tapi aku harus menjemput Chaeyeon." Ucap Mingyu di tengah gelak tawa yang ada.
Beberapa mulai terdiam dan beberapa ada yang memilih melanjutkan pembicaraan dengan yang lainnya.
Fokus Jihoon berubah kini ke Mingyu. Ketika ia kembali ingin menatap sang hyung, Wonwoo sudah berjalan menuju toilet.
Seungkwan, si pemilik pesta merengut dengan kesal.
"Hyung! Kita bahkan baru selesai meniup lilin. Kau tega sekali." Kata Seungkwan tidak terima.
Makanan utama bahkan baru dihidangkan. Terus Mingyu tidak makan begitu?
Di satu sisi Mingyu benar-benar menyesal namun di sisi lain ia juga memiliki janji bertemu dengan orang tua Chaeyeon di hari ini juga.
"Sudah biarkan saja. Chaeyeon lebih penting dari padamu, Kwanie." Ucap Soonyoung dengan nada menusuk.
Jihoon segera menyentuh bahu Soonyoung untuk menenangkan sang tunangan.
Mingyu tak membalas ucapan sang hyung dan tetap menatap Seungkwan dengan permohonan maafnya.
"Ish. Terserahmu saja Gyu hyung. Tapi janji traktir aku ice cream selama seminggu oke!"
"Iya iya. Semuanya, aku berangkat dulu. Eomeoni, abeoji, aku duluan."
Setelah pamit dengan Hyunwoo dan Kihyun, Mingyu berjalan keluar dari area café.
"Ada acara apa sih Mingyu hyung, hyung?" Tanya Seungkwan yang masih kesal ke arah Soonyoung.
Soonyoung hanya mengangkat bahu tak peduli.
Jihoon yang melihat itu tersenyum kecil sambil menepuk bahu Soonyoung. Ia tahu sekali bahwa tunangannya itu sedang kesal.
"Aku membawakan desert kesukaan semua orang. Ayo makan…" Ucap Jeonghan yang membawa nampan berisi ice cream beraneka macam rasa.
Timing yang tepat untuk menghilangkan mood buruk Soonyoung. Tentu saja semua orang menyukai ice cream kan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mobil Mingyu memasuki wilayah perumahan elit milik keluarga Jung. Begitu ia turun dari mobil, ia disambut dengan hangat oleh sang tunangan yang tersenyum dengan lembut.
"Gyu, kau lama sekali." Ucap Chaeyeon.
Mingyu tersenyum kecil lantas menepuk surai panjang yeoja cantik itu.
"Mian. Tapi ulang tahun Seungkwan juga sedang diadakan. Ayo temui orang tuamu."
Dengan lengan yang saling bergandengan, Mingyu dan Chaeyeon memasuki pintu utama.
Tuan dan Nyonya Jung sudah terlihat berdiri di depan meja makan menyambut kedatangan sang calon menantu.
"Malam abeoji, eomeoni…"
"Malam juga Mingyu-ya. Ayo duduk. Kita akan makan malam terlebih dahulu." Sahut Nyonya Jung dengan senyuman.
Keempat sosok itu makan dengan diselingi beberapa obrolan ringan.
Tak beberapa lama, makan malam telah usai dan kini mereka menikmati teh hangat dengan macaroon sakura yang terlihat cantik.
Tap.
Sang kepala keluarga Jung meletakan cangkir teh yang ia minum.
"Mingyu-ya, kami akan langsung saja." Ucap Tuan Jung mengawali pembicaraan.
Mingyu tersenyum sopan sambil mengangguk, menunggu apa yang akan dibicarakan calon mertuanya itu.
"Kau dan Chaeyeon memang baru 19 tahun namun itu adalah usia yang cukup. Kalian juga sudah memiliki penghasilan masing-masing, bahkan kalian terlihat sangat cocok. Untuk apa menunda-nunda lagi kan, bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat saja?"
Ucapan sang kepala keluarga Jung membuat cengkraman Mingyu pada cangkir tehnya mengerat.
Helaan nafas ia keluarkan dengan perlahan.
"Abeoji, walau apa yang abeoji katakan tadi benar namun aku yang belum siap menjadi seorang suami. Menikah adalah hal yang dilakukan sekali seumur hidup dan aku belum siap untuk itu."
"Apa lagi yang harus kau persiapkan Gyu? Kau sudah mampu berpikiran dewasa dan eomeoni rasa kau sudah siap."
Mingyu tersenyum tipis ke arah Nyonya Jung.
"Abeoji, eomeoni. Berikan aku waktu untuk memikirkannya. Pernikahan bukan hanya mengenai aku dan Chaeyeon, aboeji. Aku harus membicarakannya pada hyung dan Quattuor Coronam."
Tuan Jung menampakan wajah tidak suka. Begitu pula dengan Nyonya Jung yang terlihat kesal. Sedangkan Chaeyeon hanya terdiam.
"Kau yang menikah namun kau meminta ijin Quattuor Coronam?"
Mingyu tersenyum tipis.
"Appa dan eommaku ada di Quattuor Coronam. Hyung dan dongsaengku juga ada di Quattuor Coronam. Mereka adalah keluargaku, abeoji."
"Tapi Mingyu-ya. Secepatnya lebih baik bukan? Kau hanya perlu berbicara pada kepala keluarga Kwon. Begitu saja dan semuanya selesa-"
Tap.
Mingyu mengetukkan cangkir tehnya agak keras menyebabkan sang nyonya terdiam.
"Abeoji, eomeoni. Aku sedang tidak dalam mood yang baik, aku ijin kembali terlebih dahulu. Apa yang kita bicarakan saat ini, biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu. Aku undur diri. Chae, aku pamit."
Tubuh tegap itu terlihat membungkuk untuk memberi hormat lalu berjalan menuju ke pintu keluar menyisakan keluarga Jung yang saling bertatapan dengan kekecewaan.
Bruk…
Mingyu mendudukan dirinya di kursi kemudi dan menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Hahhh…." Helaan nafas panjang ia keluarkan.
Kelopak mata itu terbuka dengan pelan.
"Menikah ya…."
