The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 18

.

Renjun masih berdiri di depan meja riasnya, kedua tangannya sibuk merapihkan rambut hitamnya yang halus dan wangi jeruk. Sudah lebih dari 10 menit anak itu berdiri disana dan bingung harus diapakan poninya antara mop bangs, side part bangs atau dibiarkan seperti biasanya saja.

Hari ini, entah kenapa, perasaannya berdebar-debar ketika akan berangkat ke sekolah. Berangkat sekolah berarti bertemu Jaemin. Bertemu Jaemin berarti—hmm, wajah Renjun memerah, mengingat pesan singkat yang dini hari tadi ia terima dari siswa tercerdas seangkatan itu.

'Hari ini kujemput. Masa bodoh dengan poin hukuman yang kudapatkan nanti. Aku tak sabar melihat wajah cantikmu.'

Detak jantung Renjun lebih cepat dari biasanya hanya dengan membayangkan Jaemin akan menjemputnya hari ini. Sejak anak itu meminta maaf kemarin masalah kencannya dengan Jeongin, Jaemin menunjukkan perubahan besar pada dirinya. Yang biasanya tidak pernah mengirim pesan ke Renjun atau membalas pesan anak itu, kini ia malah selalu menjadi orang pertama yang menanyakan kabar dan keadaan Renjun.

"Na Jaemin, ini bukan mimpi kan? Hubungan ini nyata kan?" Renjun bertanya pada pantulan dirinya di cermin, senyumannya tak luntur sejak tadi.

Ting tong!

Wajah Renjun berubah antusias, senyuman yang sudah terukir di wajahnya melebar dari sudut ke sudut setelah mendengar suara bel. 'Itu pasti Jaemin,' batinnya sambil melirik jam tangan Daniel Wellington warna silver yang melingkar di pergelangan tangan kiri siswa asal China itu, jam 6:30, saatnya berangkat ke sekolah.

Saat anak itu mengambil ancang-ancang untuk berlari, ia memekik pelan, bagian bawahnya masih terasa ngilu dan sedikit perih. Untuk berjalan dengan benar sebenarnya masih sulit, apalagi dipakai untuk berlari. Akhirnya Renjun berjalan sedikit tertatih dengan kaki yang agak membuka, membuatnya nampak terlihat seperti penguin berjalan.

Dengan sedikit usaha, Renjun membuka pintu apartmentnya, menampakkan sosok tampan Jaemin yang hanya memakai blazer hitam dengan kalung perak menggantung di lehernya. Sedangkan Renjun sendiri memakai seragam coklat, padahal jadwal hari ini mengharuskan mereka memakai seragam putih yang kemarin basah karena terguyur hujan.

"J—Jaemin? Kenapa tidak memakai seragam?" tanya Renjun terbata. Ia terpesona dengan ketampanan Jaemin yang saat ini menatap intens ke arahnya. Surai anak tunggal keluarga Na yang berwarna pink menyala malah semakin membuat Jaemin terlihat sexy di mata Renjun.

"Besok seragam yang kau pakai kan dipakai lagi. Aku malas mencuci, Renjun. Tidak ada pelayan di rumahku. Ibuku meliburkan mereka semua." Jaemin menggamit lengan Renjun, kemudian melangkah menjauh dari apartment siswa yang lebih tua setelah Renjun berteriak pada Winwin. "Winwin ge, aku berangkat dulu!"

"Kenapa tidak mencuci sendiri?" Renjun menerima gandengan Jaemin pada lengannya, telapak tangannya mengelus punggung tangan Jaemin.

"Malas," sahut Jaemin sekenanya. Ia memang malas sekali jika disuruh melakukan pekerjaan rumah tangga. Pada dasarnya karena Jaemin memang anak tunggal dan terlalu dimanjakan sejak kecil oleh pelayan-pelayan keluarga Na, hal itu membuat Jaemin buta dengan pekerjaan rumah terutama untuk urusan bersih-bersih.

Renjun terkekeh mendengar jawaban siswa yang lebih muda. Ia sekarang sedikit demi sedikit tahu sisi lain Na Jaemin, siswa tercerdas seangkatan di sekolahnya ini ternyata benci pekerjaan rumah tangga. "Ya sudah, kalau malas mencuci nanti aku cucikan baju-baju kotormu." Renjun mempererat gamitan lengannya yang melingkar dengan lengan Jaemin, menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Jaemin.

"Jangan, nanti kau capek." Jaemin tak cukup bodoh untuk menyadari bahwa cara berjalan Renjun sangat aneh dan hal itu sudah pasti karena ulahnya kemarin. Anak itu terlihat menahan sakit di bagian bawah sana walaupun senyuman manis terukir di wajahnya. "Hey, are you alright?" tanya Jaemin. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap wajah Renjun penuh perhatian.

"Aku tidak papa," bohong Renjun. Ia terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa selangkangannya masih terasa ngilu dan lubangnya sedikit perih. "Aaa—J—Jaemin! Turunkan aku!" pekik Renjun panik saat Jaemin tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style.

"Hey." Siswa yang lebih muda menempelkan dahinya ke dahi Renjun, menatap dalam kedua mata sipit anak tunggal keluarga Huang tersebut. "A—apa Jaemin?" sahut Renjun yang merasakan hangatnya dahi Jaemin yang sudah menempel di dahinya walau tertutup poninya yang halus.

"Tak perlu malu untuk jujur padaku. Aku akan menjagamu," ujar Jaemin yang sukses membuat wajah Renjun memerah seperti tomat dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jaemin, menahan malu. Jaemin terus melanjutkan langkahnya menuju ke Porsche merahnya dan berangkat ke sekolah dengan Renjun yang hanya pasrah saja dalam gendongan Jaemin.

X

X

Sampai di sekolah, Jaemin memaksa ingin menggendong Renjun dari parkiran sampai ke kelas tapi anak itu menolak habis-habisan dan mengancam akan marah pada Jaemin. "Aku masih punya kaki Jaemin. Aku bisa berjalan sendiri," ujar Renjun yang berjalan sedikit cepat beberapa langkah di depan Jaemin.

Jaemin sedikit kesal karena Renjun keras kepala sekali. Mereka baru saja dimarahi oleh guru BK dan diberi poin saat mencoba memasuki gerbang dengan membawa mobil sendiri, keduanya pun tidak memakai seragam sesuai jadwal.

Parahnya, Jaemin malah memakai kaos putih yang hanya dilapisi blazer hitam. Mereka pun sukses mendapat poin dari guru BK: 30 untuk Renjun karena tidak memakai seragam sesuai jadwal dan 110 untuk Jaemin karena membawa mobil ke sekolah, tidak memakai seragam dan malah memakai kaos.

Berjalan di koridor sekolah menuju ke kelas, Jaemin dan Renjun sempat berpapasan Jeongin dan Hyunjin walaupun kedua siswa berwajah mirip itu tidak menyadari bahwa Renjun dan Jaemin berjalan agak jauh di belakang mereka. Jaemin pun berbisik di dekat telinga Renjun. "Kau lihat kan, aku dan Jeongin tak ada hubungan apapun. Mereka masih terlihat mesra."

Renjun tersenyum, ia ikut senang melihat Hyunjin dan Jeongin yang berjalan beriringan sambil sesekali bercanda. Bahkan, Jeongin sempat memukul pipi Hyunjin main-main setelah siswa itu membisikkan sesuatu pada telinga adik kelasnya. Ia bersyukur melihat Hyunjin sudah ceria lagi dan tidak terlalu larut dalam kecemburuan karena ulah bodoh Jaemin. "Iya Jaemin, aku percaya padamu." Renjun menoleh, tersenyum pada Jaemin yang kini merangkulnya.

Sesampainya di kelas, semua orang menyoraki Jaemin dan Renjun. "Cie, pasangan baru abad ini!" goda salah satu teman sekelas mereka. "Jaeminaa, ciumanmu itu panas sekali, membuat orang iri saja!" susul siswa lain. "Renjun selamat ya sudah bisa mendapatkan hati Jaemin!" seru beberapa siswa perempuan di kelas yang mengklaim diri mereka sebagai JaemRen shipper.

"Yak! Na Jaemin! Dasar kau sialan! Menjauh dari Renjunku yang polos!" Itu suara Haechan yang sudah berkacak pinggang di depan keduanya, wajahnya kusut karena kurang tidur. Ia menarik lengan Renjun untuk berdiri di sampingnya dan berjalan cepat menuju ke bangku mereka.

Jaemin hanya tersenyum melihat Haechan berangkat ke sekolah. Ia kagum dengan kegigihan Haechan melawan rasa pusing dan tak enak yang pasti masih dirasakannya karena pengaruh bius kemarin. Ia kemudian berjalan ke bangkunya dan menerima tatapan bingung Mark. "Ada apa sih? Kenapa kau dan Renjun tak memakai seragam sesuai jadwal?" tanya Mark.

Mark memang tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara Renjun dan Jaemin, setahunya mereka sudah baikan kemarin, itupun Jeno yang memberi tahunya pagi tadi. Kemarin dia latihan basket dengan Hyunjin dan timnya. Sedangkan Haechan tahu apa yang sahabatnya dan Jaemin lakukan kemarin karena siswa berambut pink itu dengan bangganya bercerita pada Haechan yang langsung mengancam akan membunuh anak tunggal keluarga Na tersebut.

"Tanya saja pada anak-anak yang lain. Seragam kami basah." Jaemin mengedikkan bahunya. Ia melihat Renjun sudah duduk di bangkunya. Ditatapnya punggung kecil Renjun tapi tatapan penuh sayangnya harus berubah menjadi tatapan kesal karena Haechan yang berdiri di samping Renjun sudah mengacungkan jari tengahnya, menghalangi pandangan Jaemin.

Sesaat kemudian, guru seni musik masuk, membuat kelas yang heboh merecoki Jaemin dan Renjun kembali tenang. "Hari ini bapak akan memberikan tugas kelompok untuk kalian kerjakan di rumah dan dikumpulkan 3 minggu dari sekarang. Haechan dan Renjun tidak boleh satu kelompok," ujar guru mereka karena Haechan dan Renjun memiliki nilai seni musik paling bagus diantara anak-anak yang lain. Vokal mereka dan pengetahuan soal nada sudah di atas murid SMA pada umumnya.

Haechan hanya mendengus sedangkan Renjun tersenyum kaku menatap sahabatnya yang kecewa. Mereka biasanya selalu menjadi partner dalam pelajaran atau tugas apapun itu. "Bapak bagi kelompoknya sekarang," lanjut gurunya.

"Mark Lee dengan Huang Renjun."

Renjun menoleh ke belakang, menatap Jaemin yang sudah melempar pandangan kecewa karena tidak bisa satu kelompok dengan Renjun. Sedangkan Mark di depan Jaemin terlihat tidak keberatan mau sekelompok dengan siapa saja.

"Haechan dengan Na Jaemin."

Jaemin melotot, mulutnya sedikit membuka ingin melancarkan protes tapi sudah didahului oleh Haechan. "Kenapa aku harus dengan Jaemin pak?! Aku tidak mau!" serunya kesal, membuat anak-anak di kelas tertawa dan menyorakinya. "Haechanie, jangan hianati Renjun ya!" seru salah satu dari mereka.

X

X

A slice of mature content [!]

( ͡° ͜ʖ ͡°)

Brak!

Suara punggung Renjun yang membentur papan tulis keras menggema ke seluruh sudut ruang kelas yang sudah sepi. Semua siswa keluar untuk istirahat kecuali dua siswa yang sedang dimabuk asmara di kelas 3E. Jaemin mendorong tubuh anak itu dengan penuh nafsu. Nafasnya berat tak tahan ingin melumat bibir Renjun. Wajah Renjun pun terlihat memerah karena menginginkan Jaemin.

"Aku tidak tahan ingin menciummu." Jaemin menabrakkan bibirnya dengan bibir Renjun, melumat bibir plum milik siswa yang lebih tua. Renjun menerimanya dengan senang hati, sebelum menutup kedua matanya, ia memandang ke dalam mata Jaemin yang sangat terlihat putus asa ingin menciumnya. Renjun yakin Jaemin sudah menahan hasrat itu sejak pagi tadi.

Pelan-pelan Renjun menutup kedua matanya, membiarkan bibir Jaemin melumat kasar bibirnya yang mulai membengkak, hingga Renjun sedikit kesulitan mengimbangi ritme ciuman basah mereka. Melihat Renjun menutup matanya, Jaemin memperdalam ciumannya. Seringaian kecil muncul dari bibir Jaemin, membawa tangan besarnya pelan-pelan menyelinap masuk menggerayangi bagian dalam seragam atas Renjun.

"Aa—ahhh—" desah Renjun di sela-sela ciuman mereka. Ia merasakan jemari panjang nan besar milik Jaemin memilin putingnya dengan lembut. "Aa—ahh—Jaemin—ahh—" desahnya berkali-kali, tak tahan dengan perbuatan Jaemin yang membuatnya ikut bergairah. Renjun ingin lebih tapi ia tepis keinginan itu jauh-jauh, bagian bawahnya masih belum benar-benar pulih.

"Kau suka, sayang?" Jaemin melepaskan ciumannya, tersenyum tipis menatap Renjun yang masih memejam. Ia mempercepat gerakan tangannya memilin puting kecil Renjun di balik seragam anak itu, mendengar desahan dan erangan Renjun yang terdengar semakin keras dan tubuhnya yang meronta, menggelinjang tak beraturan dalam himpitan Jaemin dan papan tulis kelas.

"J—Jaemin—ahh—hentikanhh—siswahh—yang—lain—ahhh bisa dengar—ahhh—" Renjun kesulitan bicara, tangan Jaemin pelan-pelan berpindah dari dadanya menuju ke bawah, meremas gundukan besar yang masih terbungkus celana seragam Renjun. Anak itu sudah benar-benar terangsang tapi Jaemin tak mau menyakiti Renjun, maka ia memutuskan hanya untuk menyentuh Renjun saja. "Ahh—Jaemin—ahh"

Karena desahan Renjun yang dirasanya terlalu keras dan dapat memancing siswa lain datang, Jaemin melumat kembali bibir merah muda itu, menciumnya dengan penuh gairah hingga membuat kepalanya harus sedikit miring untuk memperdalam ciumannya, mendorong kepala belakang Renjun yang sudah bersentuhan dengan papan tulis.

Jaemin menggigit kecil bibir bawah Renjun, meminta akses untuk memasukkan lidah panjang dan basahnya ke dalam mulut kecil siswa bermarga Huang itu. Renjun yang merasakan sedikit sakit karena gigitan kecil dari Jaemin langsung membuka mulutnya untuk melepaskan desahannya.

Tak menyiakannya, Jaemin mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut siswa yang lebih tua untuk mengabsen rentetan gigi rapi Renjun lalu menghisap bibir bawahnya hingga membuat siswa manis itu melenguh hebat karena ulah Jaemin.

"Hey—Oh my God, Jesus!"

Seruan Mark membuat Jaemin dengan cepat menarik wajahnya dari Renjun. Ia menoleh ke arah pintu masuk, disana sudah berdiri Mark yang membawa dua bungkus burger di kedua tangannya. Merasa tak suka, Jaemin menatap tajam pada Mark seolah ingin membunuhnya karena sudah mengganggu kegiatan sakralnya dengan Renjun.

Mark balik menatap bagian bawah Jaemin yang didesak oleh gundukan besar minta dipuaskan di balik celana siswa berambut pink itu. "Astaga, kau ini gila ya melakukannya di kelas?!" ujar Mark tak percaya, menahan tawanya.

Renjun yang lagi-lagi ketahuan oleh Mark hanya bisa memeluk Jaemin, menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher siswa yang lebih muda karena malu. Jaemin pun membawa tangannya pada pinggang Renjun, menunjukkan gesture posesif untuk melindunginya. "Sialan kau hyung, bisakah kau mengetuk sebelum masuk? Ini kedua kalinya kau menggangguku dan Renjun."

Mark terkekeh, kedua tangannya mengangkat kantung burger tadi lebih tinggi. "Tanganku sibuk semua, sorry," ucap Mark sambil melangkah maju mendekati dua teman sekelasnya itu.

"Haechan bilang, kau menyuruhnya membeli makan siang di kantin karena Renjun ingin makan di kelas, Jaeminaa. Tadi dia kesini, tapi gara-gara mendengar desahan Renjun, dia kembali lagi ke kantin dan menyuruhku mengantarkan ini." Mark menyerahkan kedua kantong burgernya di atas meja guru.

"Ya sudah, tinggalkan saja disitu, terima kasih hyung. Sampaikan terima kasihku pada Haechan juga," ujar Jaemin. Ia memang menyuruh Haechan membelikan makan siang untuknya juga Renjun. Jaemin tidak mau Renjun banyak berjalan dulu karena hal itu hanya akan memperlambat pemulihannya.

Mark masih terkekeh. "Jinjja, Renjun, hati-hati dengan Jaemin ya. Kalau dia brengsek, tendang saja anunya." Ia lalu berbalik untuk keluar lagi, meninggalkan Jaemin yang sudah mengangkat kaki tinggi-tinggi untuk menendang kakak tiri sahabatnya itu. Tak lupa setelah sampai pintu, Mark melambaikan tangan pada Renjun dan Jaemin yang masih saling memeluk.

"Hey, Mark hyung sudah pergi." Jaemin membawa kedua telapak tangannya menyentuh kedua pipi Renjun, menatap siswa yang lebih tua dengan tatapan meneduhkan, membuat Renjun membalas Jaemin dengan tatapan yang sama.

"Maaf ya, ketahuan lagi," ucap Jaemin lembut lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibir Renjun.

.

.

.

To be continued.