Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]

~ Sequel ~

.

.

.

[Sasuke Pov.]

Kuil semakin terasa sepi, kadang-kadang beberapa anak sengaja datang untuk bermain di halaman kuil, atau beberapa orang tua dan anak sekolahan yang akan menjalani ujian, mereka datang dan berdoa.

Aku mengamati semuanya selama bertahun-tahun, melalui pergantian tahun sendirian di kuil ini.

Hari itu cukup aneh dengan datangnya para dewa ke kuil ini, aku sudah berharap tidak bertemu Izanagi lagi dan dia akhirnya menampakkan dirinya, tidak ingin menatapku dan terus memasang wajah arogannya itu.

"Apa yang terjadi? Kalian sampai repot datang ke kuil tua ini." Ucapku.

Para dewa berlutut di hadapanku dan Izanami memintaku untuk kembali ke langit.

"Aku bukan dewa yang di agungkan seperti itu." Ucapku.

"Ini semua salah Izanagi, seharusnya semua bukti telah terkumpul, tapi dia terus menutupinya, katakan Izanagi." Ucap Izanami padanya. Memangnya hal apa yang perlu mereka sampaikan padaku lagi?

"Ya, aku yang menghasut pria tua itu saat itu untuk menikahi anak gadis dari keluarga Uzumaki, aku yang membuat semua jadi kacau, lalu apa itu akan mengubah sesuatu? Tidak ada, jaman sudah berganti." Ucap Izanagi.

Sejenak ini membuatku sangat marah, karena dia Kahukura harus menyia-nyiakan nyawanya untukku, tapi aku tidak mau membuat masalah dengan Izanagi lagi.

"Minta maaf padaku dan pergilah kalian dari sini, aku tidak akan kembali ke atas." Tegasku.

"Kenapa aku harus minta maaf padamu!" Kesal Izanagi, sebentar lagi di akan menyerangku.

"Katakan Izanagi! Kau yang bersalah! Kau membuat manusia itu mati." Ucap Izanami dan menuntut permintaan maaf dari Izanagi.

Dewa arogan itu akhirnya minta maaf walaupun dengan ucapan dan sikap yang tidak ada bedanya, tetap saja merasa tidak bersalah.

"Kembalilah, Kagutsuchi." Ucap Izanami padaku, sudah berapa lama aku tidak mendengar nama pemberiannya itu?

Tapi,

"Aku akan menjaga kuil ini untukmu, jadi tenang saja, aku akan menjaga diri dan terima kasih untuk ajakanmu untuk kesekian kalinya, aku hanya ingin semua menjadi damai di atas, aku yakin itu yang di harapkan Izanagi." Ucapku.

"Diam, kau tetap tidak aku maafkan." Ucapnya dan mendapat teguran Izanami.

Akhirnya, Izanami menyerah untuk mengajakku kembali, aku akan tetap disini, aku ingin melihat segalanya terjadi di sekitar kuil ini dan hal apa lagi yang akan terjadi padaku.

.

.

.

.

"Wah festival tahun ini semakin ramai." Ucap pria berambut blonde ini, setelah 5 tahun menghilang, akhirnya dia muncul lagi, aku tidak tahu jika festival tahun ini dia akan datang.

Ya festival ini semakin ramai setiap tahunnya, warga sekitar semakin antusias dan apapun yang di jajahkan mereka semakin bervariasi, halaman kuil jadi mendapat perhatian, mereka mempavin-block semua tanah agar mudah menjadi area yang di pijaki, kuil sudah di benahi kembali, warga sekitar lebih peduli dari pada pemilik kuil ini sendiri.

"Kenapa muncul lagi? Seharusnya kau jual saja tanah beserta kuil ini pada orang yang mau mengurusnya." Ucapku.

"Maaf-maaf, jangan marah seperti itu, ini harta warisan yang tidak bisa di jual begitu saja, amanah dari leluhur turun temuran dan meminta tanah ini tidak boleh di berikan pada siapapun kecuali keturunan Uzumaki, aku masih tetap menyanyangimu, Sasuke." Ucap Naruto.

"Aku dewa, bukan temanmu." Tegasku. Tetap saja tidak pernah berbicara lebih sopan padaku.

"Aku pikir kuil ini akan baik-baik saja, apa Sakura masih sering datang?"

"Gadis itu sudah pergi lima tahun yang lalu. Apa yang kau pikirkan? Gadis itu tidak memiliki tanggung jawab apa-apa pada kuil ini, aku hanya memberinya hukuman."

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Begitu ya, aku pikir dia tetap tinggal di Konoha."

"Kota ini memiliki kenangan buruk untuknya, dia tidak bisa tinggal disini, kepergiannya akan membuat takdirnya lebih baik, kau tidak akan percaya jika bertemu dengan gadis itu lagi."

"Wah, kau memang dewa maha tahu segalanya."

"Diam, dan apa yang kau lakukan disini? Halaman dan kuil sudah di benahi kembali oleh para warga, kau tidak berguna untuk datang."

"Masih saja marah, aku harus datang ke sini dan meminta ijin darimu."

"Ijin apa?"

"Apa pohon-pohon di sebelahnya sana boleh ku tebang? Aku harus meminta ijin darimu terlebih dahulu."

"Kenapa harus meminta ijin? Tanah ini adalah milik leluhurmu."

"Tetap saja, apa kau tahu yang namanya mendapat sial jika tidak meminta ijin pada dewa?"

"Itu hanya terjadi pada drama-drama, kau bisa menebang pohon apapun yang ada di sekitar kuil ini, tapi jangan menebang pohon besar itu?"

"Aku tahu, itu adalah rumahmu kan? Hahahaa, aku tidak percaya, bangunan kuil bisa menjadi tempat tinggalmu tapi kau malah tinggal di atas pohon." Ucap Naruto dan tidak bisa berhenti tertawa, aku cukup kesal mendengar ucapannya dan menjitak keras kepalanya.

"Ma-maaf! Aku tidak akan bercanda dengan dewa lagi!" Ucapnya dan dia kapok menggangguku.

"Sampai kapan kau ada di Konoha?"

"Ini rahasia." Ucapnya dan membuatku jijik menatapnya.

"Jangan menyusahkan orang-orang yang bukan keturunanmu, kau harus rajin datang kesini dan membersihkan segalanya, ini adalah tanggung jawabmu."

"Iya, aku mengerti, aku sangat mengerti dewa."

Dasar manusia konyol, aku tidak tahu apa niat Naruto untuk menebang area pohon di sebelah sana, dulunya itu adalah bangunan rumah yang di gunakan oleh leluhur Uzumaki. Dan setelah pohon-pohon itu di tebang, beberapa orang mulai datang membawa bahan bangunan dan membangun sebuah rumah di area itu.

"Bagaimana? Aku ini hebat 'kan? Karena tanah ini sudah wariskan kakek buyut padaku, aku jadi bebas melakukan apapun." Ucapnya dan terlihat bangga.

Aku sama sekali tidak melihat hal yang hebat darinya, dia membangun sebuah rumah dengan dua lantai dan bangunan itu yang di buat sesuai untuk area disini, rumah ini akhirnya rampung setelah setahun, Naruto kembali menanam beberapa pohon agar mengganti pohon yang di tebangnya, dan hal lainnya, dia membawa seorang wanita kesini, memperkenalkannya padaku walaupun wanita berambut indigo sepunggung itu tidak bisa melihatku.

Naruto bahkan repot-repot membuat sebuah kamar untukku, apa yang kau pikirkan dengan dewa tinggal di sebuah rumah? Dasar bodoh! Tetap saja bodoh!

Wanita yang di bawanya adalah istrinya, dia sudah mengatakan pada wanita itu jika mereka akan tinggal di Konoha, Naruto pun memiliki tanggung jawab untuk mengurus kuil ini, wanita yang bersamanya itu terlihat menerima segalanya, mungkin kebodohan suaminya juga, mereka hidup harmonis dan aku melihat segala kehidupan mereka seiring berjalannya waktu.

Aku menarik kembali kata-kataku, kata-kata yang sempat aku katakan pada Sakura, aku pikir Naruto akan hidup di kotanya tanpa mempedulikan kuil leluhurnya lagi, dia benar-benar menyelesiakan kuliahnya, mendapat pekerjaan dan telah menikah, Naruto memilih menetap disini, selain amanah dari kakek buyutnya, dia percaya jika dimana pun dia tinggal dan dewa bersamanya, dia bisa mendapat keberuntungannya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Beberapa tahun berlalu.

[Normal Pov.]

"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucap seorang anak laki-laki, umurnya sudah 7 tahun dan tahun ini dia mulai bersekolah di sekolah dasar kelas 2. Anak laki-laki dengan wajah dan warna rambut yang sama dengan ayahnya.

"Ada apa Boruto?" Tanya Naruto, pria ini sudah tua dan menjadi seorang bapak-bapak, menatap bingung ke arah tingkah anak laki-lakinya, Uzumaki Boruto.

"Apa ayah pernah memperhatikan Himawari?" Tanyanya, dia sedang mempertanyakan tingkah aneh sang adik, Himawari Uzumaki adalah anak kedua Naruto.

"Ada apa dengan Hima?" Tanya Naruto semakin bingung.

Boruto mendekat ke arah ayahnya dan berbicara cukup pelan. "Aku sering melihat Hima berbicara sendirian, dia tertawa dan terdiam menatap sesuatu di hadapannya, Hima selalu seperti itu saat berada di teras. Apa ayah tidak menyadarinya?" Ucap Boruto, dia pun bingung akan sikap adiknya itu.

Naruto terdiam, seperti tengah berpikir, dia hanya melihat Himawari berbicara pada dewa Sasuke.

"Ah, begitu rupanya, sepertinya Hima bisa melihat dewa tanpa perlu dewa itu menunjukkan wujudnya." Jelas Naruto.

"Apa maksud ayah! Ibu juga aneh, dia suka menaruh kue dan makanan di teras kuil, apa ayah tidak mengerti? Apa mungkin ada hantu disini? Kata teman-teman sekolahku kuil itu berhantu." Ucap Boruto dan terlihat takut.

Naruto tertawa cukup keras.

"Ayah! Aku serius! Di rumah ini dan kuil itu ada hantunya!" Teriak kesal Boruto.

"Ayah sudah katakan padamu, itu adalah dewa, dewa yang menghuni kuil itu, teman-temanmu itu hanya menceritakan isu lama yang beredar, sejak dulu tidak pernah berubah, kuil itu masih di anggap kuil berhantu." Ucap Naruto dan sesekali tertawa.

"Jadi yang di lihat Hima adalah dewa?"

"Ya, dia adalah dewa Kagutsuchi, beberapa keturunan keluarga kita bisa melihatnya, tapi tidak semuanya, kecuali dewa itu yang ingin menampakkan dirinya sendiri."

"Apa itu alasan ibu sering menaruh makanan di sana?"

"Begitulah."

"Jadi ini bukan karena ada hantu?"

"Bukan, jangan katakan seperti itu, dewa akan marah." Ucap Naruto dan melirik ke arah dimana Sasuke tengah berdiri dan menatapnya dengan tatapan datar. Naruto tidak sadar jika tertawanya cukup keras karena kuil ini masih tetap di anggap kuil berhantu.

"Sekarang minta maaf pada dewa." Ucap Naruto.

"Untuk apa?"

"Karena kau sudah salah paham, kau pikir dia hantu?"

"Aku harus meminta maaf?"

"Iya, katakan saja."

"A-aku minta maaf dewa." Ucap Boruto dan melihat sekitar dengan tatapan takut, masih tidak percaya akan ucapan ayahnya sendiri.

.

.

.

.

.

Sasuke menatap sekitar kuil, kuil ini akan selalu bersih, Hinata, istri Naruto sangat rajin, dia wanita yang bisa melakukan segalanya, setiap hari pun dia akan menaruh makanan di teras sebagai permintaan Naruto padanya.

Sasuke hanya mengatakan untuk tidak perlu merepotkan istrinya, dia yang bertanggung jawab, bukan istrinya, tapi Naruto pun cukup sibuk dengan pekerjaannya di sebuah perusahaan.

Hari ini, hari membersihkan kuil, Naruto sudah membuat sebuah jadwal setiap sebulan sekali kuil ini akan di bersihkan.

Semuanya turun membersihkan, anak-anak Naruto pun senang melakukannya.

"Aku melakukan ini karna ingin membalas semuanya untukmu." Ucap Naruto.

"Apa kau sedang pamer jika membersihkan kuil?"

"Tidak, aku ikhlas melakukannya."

Sementara itu, Boruto terus menatap ayahnya yang duduk di teras kuil dan seperti tengah berbicara pada seseorang yang tidak di lihatnya, berjalan perlahan hingga menghampiri Hima yang rajin bersih-bersih walaupun hanya menyapu beberapa daun.

"Hima apa yang kau lihat disana?" Tanya Boruto pada adiknya.

Anak perempuan ini mengekor ke arah yang di tunjuk kakaknya.

"Ayah."

"Di samping ayah?"

"Dewa."

"Kau sungguh bisa melihatnya? Apa ibu juga?"

"Ya, aku bisa melihatnya, apa kakak tidak melihatnya? Kalau ibu, ibu tidak bisa melihat dewa." Ucap Hima.

"Aku tidak percaya jika itu adalah dewa, itu pasti hantu."

"Kakak tidak boleh berbicara seperti itu, dewa akan marah, dia bukan hantu."

"Apa penampilannya menyeramkan?"

"Dia dewa yang tampan." Ucap Polos Hima.

"Su-sungguh? Aku tidak percaya padamu."

"Hima tidak berbohong! Kakak bisa meminta pada dewa, dewa akan memperlihatkan wujudnya padamu." Tegas Himawari.

"Ti-tidak, aku tidak ingin melihat sesuatu yang menyeramkan." Ucap Boruto.

"Kakak benar-benar tidak percaya." Ucap Hima dan bergegas meninggalkan kakaknya sendirian, berlari senang ke arah ayahnya dan menyapa dewa itu.

Dia bahkan mengaduh pada dewa itu jika kakaknya mengatakan dewa adalah hantu, kembali Naruto harus menahan diri agar tidak tertawa.

"Apa dewa akan makan siang bersama kami?" Tanya Hima.

"Tidak, kakakmu akan pingsan jika melihat alat makan yang melayang." Ucap Sasuke dan gadis itu tertawa.

"Kenapa kau tidak memperlihkan wujudmu saja?" Ucap Naruto.

"Anak laki-lakimu itu bisa melihatku, tapi selama dia tidak percaya padaku, dia akan tetap sulit melihat wujudku."

.

.

.

.

"Boruto apa di rumahmu banyak hantu? Pasti hantu di kuil itu pindah ke rumahmu." Ucap salah seorang anak yang satu sekolah dengan Boruto.

Tiap harinya dia akan terus di ganggu oleh teman-teman sekolahnya, anak laki-laki ini pun tidak mengerti dengan tindakan ayahnya, membiarkan mereka tinggal di samping kuil.

"Aku tidak akan peduli jika kalian mendapat kesialan, apa kalian tahu jika di sana itu bukan hantu, tapi dewa!" Kesal Boruto, berapa kali pun membela diri, teman-temannya akan tetap mengejeknya.

"Tidak ada dewa disana."

"Baiklah, jika kalian masih tidak menganggap ada dewa di sana, ketika festival matsuri jangan datang ke kuil! Kalian akan mendapat sial!" Teriak Boruto dan bergegas berlari.

Teman-temannya hanya menertawai tempat tinggalnya, dia juga ingin seperti Himawari yang bisa melihat dewa, tapi dia sulit untuk mempercayai keberadaan dewa itu.

Bught!

Boruto berlari hingga menabrak seseorang.

"Kau tidak apa-apa?" Ucap sebuah suara, dia pun menolong Boruto untuk berdiri. "Maaf aku tidak sengaja." Ucap suara itu lagi.

Boruto menatap ke atas dan melihat seorang wanita dengan rambut sepundaknya, pakaiannya terlihat lebih berbeda dari penampilan ibunya yang biasanya di rumah, dia terlihat sangat modis.

"A-aku yang minta maaf." Ucap Boruto.

"Kau sangat mirip seseorang." Ucap wanita ini.

"Mirip? Apa maksud bibi?" Ucap Boruto bingung.

"Ah, maaf, aku tidak bermaksud menyamakanmu dengannya, lagi pula aku hanya pernah bertemu dengannya sekali, dulu, dia jauh lebih tua dariku, aku memanggilnya kak Naruto." Ucap wanita ini.

"Bibi mengenal ayahku?"

"A-ayah?" Sakura cukup terkejut setelah mendengar ucapan anak kecil ini.

"Iya, namaku Uzumaki Boruto, ayahku bernama Uzumaki Naruto." Jelas Boruto.

"Sungguh? Apa aku tidak salah orang?" Ucap Sakura, bingung. Memikirkan jika dia harus memastikan itu adalah Naruto yang di temuinya dulu.

"Bibi kenal dengan ayahku? Apa bibi mencarinya? Aku akan pulang, apa bibi mau ikut?" Ucap Boruto, mengajak wanita itu.

Sebuah senyum di wajah Sakura, sejujurnya dia akan menemui teman-temannya terlebih dahulu sebelum ke kuil, tapi wanita ini pun tidak menyangka jika Naruto menetap di Konoha.

Mereka mulai berjalan bersama, Boruto hanya bertanya apa hubungan Sakura dan ayahnya, wanita ini menceritakan jika mereka tidak segaja bertemu di kuil.

"Apa bibi tahu di sana ada dewa?" Ucap Boruto.

"Dewa? Ayahmu selalu mengatakannya." Ucap Sakura.

"Teman-teman di sekolah mengatakan di sana ada banyak hantu."

"Sungguh? Aku tidak percaya jika rumor itu masih beredar sampai sekarang, dulu aku tinggal disini, kuil itu juga sering di sebut kuil berhantu, tapi percayalah, di sana ada seorang dewa, dan apa kau melihat patung dewi Izanami?"

Boruto mengangguk, dia dan adiknya sering berlarian di dalam bangunan kuil jika sedang di bersihkan.

"Katanya dewi Izanami itu sama persis patungnya, dia sangat cantik dan anggun." Ucap Sakura.

"Aku tidak percaya jika ada dewa. Hima dan ayah bisa melihatnya, kenapa aku dan ibu tidak?" Tegas Boruto.

"Mungkin karena kau perlu percaya padanya terlebih dahulu, kalau ibumu, mungkin seperti aku, kata ayahmu dewa hanya memperlihatkan wujudnya pada keturunan Uzumaki." Jelas Sakura.

"Aku tidak mengerti." Ucap Boruto.

Sakura hanya tersenyum melihat tingkah anak kecil itu.

Tidak beberapa lama, langkah Sakura terhenti.

"Ada apa bibi? Rumahku di atas sana." Ucap Boruto dan menunjuk jalanan menuju kuil.

Sakura tidak percaya jika dia harus datang ke kuil ini lebih dahulu.

"Kalian tinggal di sini?" Tanya Sakura.

"Iya, ayah membangun sebuah rumah dekat kuil, makanya aku benci sekali tempat ini, kenapa kita harus tinggal disini?" Ucap Boruto dan dia terlihat kesal.

Sakura menatap anak laki-laki itu, mungkin mereka mengalami pengalaman yang hampir sama, tapi di keadaan yang berbeda.

Mulai memijaki anak tangga itu satu persatu, Sakura mengenang segala ingatannya di setiap langkah kakinya, angin berhembus perlahan hingga mereka akhirnya tiba di atas, Sakura bisa melihat bangunan sebuah rumah dan kuil yang terlihat sangat terawat, halaman kuil yang di pavin-block, dan beberapa tanaman lain di tanaman di sekitar pohon, area kuil ini jadi sangat berbeda.

Pupil hijau zambrut ini mengarah pada pohon yang terus di jaga, disana akan selalu di lihatnya, seorang dewa yang tidak pernah termakan waktu, dia akan terus hidup abadi, wajah dan penampilan yang tidak berubah, tidak ada ucapan apa-apa yang di katakan dewa itu.

"Bibi kita kesana." Ucap Boruto dan menarik Sakura menjauh dari area kuil. "Ayah! Seseorang ingin bertemu denganmu." Teriak Boruto dan berlari masuk.

Hinata mendengar suara Boruto dan berjalan keluar, dia melihat seorang wanita yang mungkin lebih muda darinya.

"Se-selamat siang, aku Haruno Sakura." Ucap Sakura, mencoba memperkenalkan dirinya.

"Hinata. Uzumaki Hinata, silahkan masuk." Ucap Hinata, dan sebuah senyum ramah.

Sakura melihat penampilan wanita yang menjadi istri Naruto, memikirkan jika Naruto terlalu hebat mendapat seorang wanita yang cantik dan sangat lemah lembut.

Naruto pun akhirnya datang dan mereka kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya.

"Aku tidak percaya kau datang lagi, Sakura." Ucap Naruto.

"Aku sendiri tidak percaya jika kak Naruto memilih menetap di Konoha." Ucap Sakura.

"Mau bagaimana lagi, aku harus mengurus kuil, tinggal disini juga lebih baik. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau jadi terlihat berbeda, apa murid-murid itu masih mengganggumu setelah aku pergi?" Ucap Naruto.

Sakura terdiam setelah mendengar ucapan terakhir Naruto, dia tidak ingin mengingat hal buruk yang hampir terjadi padanya, tapi dia melupakan sesuatu.

"Ah, maaf jika aku menyinggung masa lalu." Ucap Naruto, dia pun merasa tidak enak menanyakan hal itu.

"Tidak apa-apa, aku bisa menceritakannya, dan juga, aku ingin berterima kasih padamu kak Naruto, tapi kau jauh lebih cepat pulang." Ucap Sakura.

Sakura pun menceritakan apa yang terjadi setelah Naruto kembali, masalah yang hampir mengancamnya nyawanya, dan setelahnya dia pergi dari Konoha dan tinggal bersama neneknya, dia menghabiskan banyak waktu di desa itu, masuk ke satu-satunya SMA di desa sana dan belajar dengan giat, setelah beberapa tahun berlalu, neneknya meninggal, orang tua cukup rentan untuk masalah penyakit, Sakura tidak percaya dengan banyaknya warisan yang di tinggalkan neneknya, gadis ini meninggalkan desa, mengambil kuliah jurusan desainer dan melanjutkannya dengan jurusan bisnis, Sakura mengubah kehidupanya di umurnya yang masih sangat muda, dia menjadi desainer terkenal dan pebisnis yang handal.

Hinata yang tidak mengetahui apapun, mendengar cerita gadis dihadapannya.

"Masa sulitmu mulai terbayar, aku tidak pernah mengalami hal semacam itu, aku pikir kau gadis yang sangat kuat, Sakura." Ucap Hinata.

"Terima kasih, aku tidak percaya kak Naruto yang seperti ini memiliki istri yang sangat cantik." Ucap Sakura.

"Apa-apaan itu! Aku ini juga hebat." Ucap Naruto.

Sakura bisa melihat beberapa anak kecil yang berlari ke arah mereka, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, anak perempuan itu menghampiri Sakura dan dia terlihat senang.

"Aku mengenal kakak." Ucap Himawari, heboh.

"Bagaimana kau bisa mengenalnya Hima? Aku baru saja bertemu dengannya." Ucap Boruto.

"Kakak ada di majalah dan di tv." Ucap Himawari.

"Ah, mungkin waktu peragaan busana." Ucap Sakura.

"Kau benar-benar terkenal Sakura." Ucap Naruto.

"A-aku bukan apa-apa." Ucap Sakura, malu.

"Apa kakak akan membuatkan baju untukku?" Tanya Hima.

"Tentu, aku akan membuat gaun kecil untukmu."

"Hima, jangan membuat repot Sakura." Tegur Naruto.

"Tidak apa-apa, aku harus membalas kebaikan kak Naruto, membuat gaun untuk Himawari bukan sebuah masalah." Ucap Sakura.

Mereka masih saling berbicara dan Sasuke tidak beranjak dari tempatnya, hanya mengamati sekitar dan tidak percaya jika gadis itu benar-benar kembali.

.

.

.

.

.

Pembicaran yang cukup panjang hingga hari semakin sore, Naruto meminta Sakura menginap saja di rumahnya dari pada harus mencari hotel, Hinata pun tidak masalah akan kedatangan Sakura, Naruto kadang membicarakan jika tugasnya selama ini di gantikan oleh Sakura.

Sebelumnya, Sakura akan menemui teman-temannya terlebih dahulu, dia berharap mereka masih bisa di temuinya, mereka janjian di sebuah restoran.

Sakura tidak sempat menemui Sasuke, dia harus menemui teman-temannya terlebih dahulu.

"Bagaimana kau bisa menjadi terkenal seperti ini!" Ucap Ino dan mencubit kedua pipi Sakura.

"Sudahlah, kau menyakitinya." Tegur Shion.

"Aku juga tidak percaya, Sakura yang dulu sudah sangat berubah." Ucap Tenten.

"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Sakura, setelah cubitan Ino terlepas dari pipinya.

"Aku baru akan lulus S2." Ucap Ino.

"Aku mengurus perusahaan keluarga." Ucap Shion.

"Aku bekerja dimana pun." Ucap Tenten.

"Kalian juga hebat." Ucap Sakura.

"Ya, tapi, lihatlah, perubahanmu sangat menonjol Sakura." Ucap Ino.

"Terima kasih. Saat ini aku senang bisa bertemu dengan kalian lagi." Ucap Sakura.

"Uhm, aku juga senang melihat perubahanmu Sakura, kau sudah menjadi gadis yang kuat, kau hebat untuk mengalahkan segala hal buruk yang sudah menimpahmu." Ucap Shion.

"Apa kau bisa merancang guan pengantin untukku?" Ucap Tenten.

"Kau akan menikah dengan siapa?" Sindir Ino.

"Aku hanya perlu mengambil slot sebelum banyak yang meminta pada Sakura." Ucap Tenten dan tertawa.

Pertemuan yang hanya di habiskan dengan berbicara dan mereka pun tidak memiliki waktu banyak seperti dulu lagi, setelah jam 9 malam, mereka pun berpisah dan memikirkan ide liburan bersama jika mereka tidak sibuk.

Setiap jalanan yang di lalui Sakura mengalami banyak perubahan, termasuk rumah yang dulunya menjadi tempat tinggalnya, rumah itu sudah mengalami renovasi dan ada sebuah keluarga yang tinggal di sana. Suasana mulai menjadi cukup sepi, Sakura baru tiba setelah jam 10 malam, dia sengaja berjalan-jalan untuk melihat sekolah dan beberapa tempat yang biasanya di datanginya, suasana di Konoha semakin ramai dengan banyaknya pembangunan di sana dan disini.

Walaupun begitu, di area kuil ini tetap memiliki banyak pohon, dan pohon yang saat ini di tatap Sakura akan turus tumbuh.

"Kau tidak mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Sakura, dewa itu tidak juga berbicara padanya.

"Apa yang harus aku katakan padamu?" Ucap Sasuke, gadis itu pulang cukup malam dan lagi-lagi mereka hanya saling bertatapan.

"Apa saja, kau bisa katakan padaku." Ucap Sakura.

"Aku rasa kau lebih tenang dari pada yang dulu." Ucap Sasuke.

"Apa maksudnya? Apa aku ini seperti orang yang tidak bisa tenang?"

"Ya mungkin."

"Pertanyaan lain?"

"Tidak ada, aku tidak perlu memberimu pertanyaan." Ucap Sasuke.

"Aku mengerti, karena kau adalah dewa. Jadi aku yang akan bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja?"

"Seperti yang kau lihat."

"Kau makan dengan baik?"

"Aku selalu mendapat makananku dari keluarga Uzumaki."

"Aku senang mendengarnya. Apa kau tidak akan turun dari sana?" Tanya Sakura, Sasuke tetap saja di atas pohon itu.

Tidak ada jawaban dari Sasuke, dewa itu menghilang dari atas pohon dan sudah berada di bawah, tanpa sadar gadis itu berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

"Apa kau merindukanku?" Tanya Sakura.

"Hn." Sasuke hanya bergumam.

"Bagaimana jika kau mengikutiku?" Ucap Sakura, melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke.

"Kau lupa jika aku dewa?"

"Aku tidak akan pernah lupa. Bagaimana jika membawa dewa? Apa kau bisa pindah tempat?"

"Tidak, aku sudah lama terikat akan tempat ini, semua yang ada disini karena energiku, jika aku pergi akan mengalami perubahan, jadi hilangkan pikiran bodohmu untuk membawa seorang dewa."

"Apa kau tidak tahu jika aku terus memikirkanmu?"

"Aku selalu merasa berada di pikiran orang-orang sebagai dewa yang jahat." Ucap Sasuke.

Sakura tertawa pelan mendengar ucapannya, kembali memeluknya erat, memeluknya serasa tidak ingin melepaskannya.

"Bagaimana aku bisa melihat pria lain jika hanya kau saja yang terus aku pikirkan? Bagaimana jika ada hubungan dewa dan manusia? Aku tahu itu mustahil jadi aku berusaha untuk tidak mengatakannya padamu."

"Aku tahu."

Sakura tersentak mendengar ucapan Sasuke.

"Aku tahu segalanya, kau tidak berubah, di kehidupanmu yang ini, kau menahan segalanya."

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ya, dulu, di jaman kuno." Ucap Sasuke, hanya cukup mengatakan hal itu tapi tidak dengan jati diri Sakura di jaman itu.

"Apa aku juga seperti sekarang?"

"Kurang lebih seperti itu."

"Aku tidak percaya, apa kita di takdirkan bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu, kita baru bertemu di tahun ini." Ucap Sasuke.

"Aku percaya takdir." Ucap Sakura.

"Hari sudah sangat malam, segeralah tidur." Ucap Sasuke.

"Tidak apa-apa, aku bisa tidur nanti, besok aku sudah harus kembali." Ucap Sakura murung. Melepaskan pelukannya perlahan dan menundukkan wajahnya.

"Tetap saja keras kepala, masuklah dan aku menemanimu." Ucap Sasuke.

"Eh? Ka-kau mau kita tidur bersama?" Panik Sakura, wajahnya terlihat merona.

"Apa? Kau tidak pernah tidur bersama seorang pria? Bahkan di umurmu yang sekarang? Apa kau tidak takut jika seseorang memikirkan kau ini aneh."

"A-aku tidak aneh!" Tegas Sakura.

"Kita masuk sekarang juga, udara akan semakin dingin." Ucap Sasuke, menarik gadis itu untuk masuk, pintu di rumah Naruto di biarkan tidak terkunci, Naruto sengaja melakukannya agar membiarkan Sakura pulang sesuai keinginannya, kamar di lantai atas yang di tunjukkan Naruto adalah kamar khusus yang di buat untuk Sasuke.

"Kau tahu, Naruto membuat kamar ini untukku, aku tidak mengerti akan jalan pikirannya." Ucap Sasuke.

Sakura berusaha menahan diri untuk tidak tertawa keras, semuanya sudah tidur, dia akan membangunkan orang-orang.

"A-apa kau sungguh akan menemaniku tidur?" Tanya Sakura, malu.

"Dewa tidak pernah menarik kata-katanya." Tegas Sasuke dan berbaring lebih dulu.

Setelahnya.

Sakura pikir mereka akan tidur seperti yang di pikirkannya, wajahnya sangat-sangat merona.

"Berhenti berpikiran konyol." Ucap Sasuke dan menyentil jidat gadis ini.

"A-aku minta maaf dewa!" Ucap Sakura, jidatnya pun sakit di sentil.

Suasana kembali menjadi tenang, sebuah dekapan yang membuatnya bisa tertidur nyenyak, tapi gadis ini memilih tetap membuka matanya, sadar jika dia bersama dewa yang sejak lama di sukainya, tapi memikirkan hubungan yang mustahil membuatnya kesulitan, dekapan itu mengerat.

"Kenapa kau tidak tidur juga?" Ucap Sasuke, dia sadar jika gadis itu tidak tidur sejak tadi.

"Aku tidak ingin tidur, hari ini saja aku bisa bersamamu, esoknya kita akan berpisah." Ucap Sakura, wajahnya terlihat murung.

"Kau masih bisa menemuiku, kau tahu aku berada dimana, aku tidak akan pergi kemana pun selama kuil ini masih berdiri." Ucap Sasuke.

Sakura hanya mengangguk dan terdengar suara tangis disana, Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa dan semakin memeluknya erat.

.

.

.

.

Esoknya.

"Ada apa dengan matamu Sakura?" Ucap Naruto.

"Tidak apa-apa, sepertinya aku terlalu senang hingga menangis saat bertemu teman-temanku." Bohong Sakura, semalaman dia menangis dalam pelukan Sasuke.

"Kau akan kemana lagi hari ini?" Tanya Naruto.

"Apa kau akan jalan-jalan? Bagaimana jika pergi bersama?" Ucap Hinata, mengajukan sebuah ide.

"Tidak, terima kasih, hari ini aku akan segera pulang, ada banyak hal yang perlu aku urus, terima kasih kak Hinata, kak Naruto, bertemu kalian aku seperti merasakan punya keluarga lagi." Ucap Sakura.

"Bagaimana denganku? Aku bisa menjadi adik, kakak." Ucap Himawari.

"Sopanlah sedikit Hima, panggil dia bibi." Tegur Boruto.

Himawari pun tidak peduli akan teguran kakaknya.

Hari ini juga, Sakura sudah harus kembali, dia berterima kasih pada Hinata dan Naruto yang begitu baik menampungnya, begitu juga anak-anak manis dari Naruto.

Menatap sejenak ke arah kuil sebelum pergi.

"Kau tidak menemuinya dulu?" Tanya Naruto.

"Tidak perlu. Sebaiknya aku bergegas, sampai jumpa lagi, terima atas segalanya." Ucap Sakura.

"Kakak jangan lupa untuk gaunku." Ucap Himawari.

"Tentu, aku akan mengirimnya." Ucap Sakura.

Gadis itu telah pergi, Sasuke hanya menatapnya dari tangga kuil, seperti dulu, sebelum dia pergi, Sasuke tahu perasaan beratnya Sakura membuatnya sulit menemuinya lagi.

.

.

.

.

.

Sakura pov.

Rasanya benar-benar berat, apa aku tidak bisa menikah dengan seorang dewa! Aku sangat ingin bersamanya, kenapa aku harus menyukai seorang dewa! nasib ku benar-benar buruk.

Tapi,

Aku mengingat setiap ucapannya.

"…Nikmati takdir baikmu."

Berhenti di sebuah toko dengan dinding kacanya, aku bisa melihat penampilanku saat ini, benar-benar sangat berbeda dengan yang dulu, teman-temanku sampai tidak percaya jika aku bisa menjadi seperti sekarang ini, dewa itu benar, aku mengalami takdir baikku setelah pergi dari Konoha, melakukan semuanya dengan kata hatiku dan sekarang aku tidak pernah merasa kekurangan apapun.

Walaupun hidup seperti ini, aku kadang memikirkan kedua orang tuaku dan mereka tiba-tiba datang secara terpisah, berbicara semua penyesalan mereka padaku, tapi aku sama sekali tidak tergerak untuk mendengar mereka, aku bersikap acuh pada mereka, aku tahu ini salah, tapi apa mereka tidak pernah memikirkan perasaanku selama ini? Hidup dengan hinaan dan biaya dari nenek hingga beliau pergi, mereka tak pernah memperlihatkan batang hidung mereka, anak dan menantu macam apa mereka? Aku malu memiliki orang tua seperti mereka.

Ibu sudah memiliki keluarga baru, sementara ayah bekerja keras demi kehidupannya sendiri, di akhir pembicaraan kami, aku meminta maaf dan memutuskan hubungan dengan mereka, aku menjadi anak yang buruk untuk mereka, aku ingin memiliki kehidupanku sendiri tanpa mengingat setiap masa lalu yang buruk dari mereka, aku harap kita menjalani kehidupan dengan tenang masing-masing.

Kembali melanjutkan perjalananku, aku harus naik kereta di sebuah stasiun, menatap ke belakang, aku berharap dewa itu bisa mengikutiku, walaupun itu tidak mungkin.

.

.

.

.

.

Festival matsuri.

Tahun ini, aku akhirnya bisa datang ke festival matsuri setelah menyelesaikan semua pekerjaanku, aku datang tanpa mengatakan pada teman-temanku, kami bertemu di festival ini, halaman rumah kak Naruto jadi sangat ramai, aku datang lagi dan membawa pesanan Himawari, dan juga sebuah jas kecil untuk Boruto, mereka sangat cocok menggunakannya.

Kak Hinata membantuku menggunakan yukata dan kami bisa menikmati festival ini walaupun hanya di halaman rumah, aku tak percaya jika semakin ramai dan seluruh penjual akan berada di bawah bawah tangga sekitar kuil hingga ke atas, sangat ramai, kuil jadi semakin indah dan aku bisa bertemu dengannya lagi.

"Kau memakai topeng itu lagi?" Tanyaku padanya, dia menggunakan topeng yang katanya menggambar wajahnya, ini sangat lucu, orang-orang terus beranggapan jika dewa Kagutsuchi berpenampilan seperti itu.

"Aku tidak bosan menggunakannya, ini bukan hal buruk, anggapan orang-orang sejak dulu tentang wajahku agar mereka takut padaku." Ucapnya dan membuatku tertawa.

Menatap dewa itu, aku memintanya mengenakan sebuah hakama yang aku buat sendiri, dia sangat cocok menggunakannya.

"Apa kau tetap membuat dirimu sibuk untuk datang ke Konoha?"

"Jangan berbicara seperti itu, kau harus tahu, aku tidak tahan memiliki hubungan jarak jauh." Ucapku dan terkekeh.

"Masih tetap keras kepala dan tidak menyerah." Ucapnya dan mendorong pelan jidatku dengan telunjuknya.

"Ya, aku akan tetap keras kepalanya hanya untukmu." Ucapku. Merangkul lengannya.

Dewa itu hanya menghela napas, untuk hari ini saja, aku bisa merasakan jika batasan antara hubungan dewa dan manusia itu, menghilang.

.

.

TAMAT

.

.


finally!

okey, ini udah benar-benar tamat, author udah buat sequelnya, jadi fic ini udah beres yaa. akhirnya berkurang fic TBC lagi XD. chapternya dikit, sesuai rencana emang, XD

tidak bosan-bosannya author mau sampaikan terima kasih pada semua-semua reader, di tengah-tengah kasus yang sedang beredar di dunia ini, author masih menyempatkan diri untuk membuat fic, hehehe cuma untuk menghibur saja, biar nggak bosan, semoga ceritanya nggk membosankan juga.

maaf jika mulai jarang membelas review kalian, tapi author baca semua kok, senang masih ada yang meninggalkan review di tempat ini, artinya masih ada penghuninya, author pikir dah pindah tempat baca semua XD.

nggak banyak mau di sampaikan, mungkin ada beberapa hal yang membuat para reader penasaran, tapi author udah selesaikan semua di chapter ini. semoga tidak ada yang mengganjal lagi.

apa Sasu dan Saku jadian? jawaban dari author adalah tidak, dewa dan manusia tetap tidak bisa bersama XD sekali-kali buat mereka tidak bersama hehehe. jadi sebenarnya ini sad ending sih, cuma author kemas agar tidak terkesan sad ending, hehehe.

SASUKE FANS