JANGAN LUPA BACA NOTE AUTHOR! BACA SAMPAI AKHIR YA!
.
.
.
~ Noona ~
Happy Reading Guys...
~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~
"Hah!" Helaan nafas itu terdengar "Kenapa Baekhyun tak membalas pesanku?" Dan gumaman itu terdengar seiring dengan gerak tangan Chanyeol yang semakin cepat bergerak di atas Ponsel milik Pemuda itu.
Dua hari berlalu, sejak Chanyeol kepergok orang tua Baekhyun tengah mencium Baekhyun di depan pintu Apartemen wanita itu.
Dan sejak dua hari yang lalu ia tak bisa bertemu dengan Baekhyun.
Bukan karena orang tua Baekhyun melarang mereka bertemu, melainkan karena Baekhyun harus pergi ke luar kota bersama Kris untuk urusan pekerjaan. Karena itulah mereka tak bisa bertemu sejak dua hari yang lalu.
Selain karena ada orang tua Baekhyun yang menginap di apartemen kekasihnya itu, Chanyeol juga tak bisa bertemu Baekhyun ya karena Kekasihnya sedang di luar Kota.
Baekhyun hanya bisa bertukar pesan dengannya. Wanita itu juga sepertinya akan lama berada di luar kota.
Proyek yang berada di luar kota mendapat masalah, dan Kris sebagai CEO yang di percaya oleh Ayah Chanyeol- harus bisa menyelesaikannya sendiri.
Bukan masalah besar sebenarnya, ia juga bisa menyelesaikan sendiri. Hanya saja, Kris membutuhkan Baekhyun agar semuanya bisa cepat selesai.
Lebih cepat lebih baik bukan?
"Kenapa wajahmu terlihat menyedihkan begitu?" Luhan sedang berkunjung ke rumah Pemuda itu.
Ia mendapat mandat dari Ibu nya untuk mengantarkan oleh-oleh untuk Chanyeol. Jadi, sekalian saja ia main disana dan menemani Chanyeol yang tengah duduk malas-malasan di ruang santai rumahnya.
"Kenapa kau masih disini?"
Chanyeol pikir, Luhan akan langsung pulang setelah menyimpan titipan dari Ibu gadis itu.
"Menikmati wajah menyedihkan dirimu cukup menyenangkan!" Luhan mengatakannya santai, sesantai ia yang tengah memakan buah Anggur yang baru saja gadis itu ambil dari dapur rumah Chanyeol.
"Ckkkkk!" Chanyeol tak perlu heran dengan jawaban Sepupu-nya itu.
Luhan memang teramat sangat menyebalkan melebihi kedua sahabatnya, Jongin dan Sehun.
Jika ada tempat tukar tambah Sepupu, Chanyeol ingin sekali menukarkan Luhan. Dan untungnya Luhan hanyalah Sepupu-nya, bukan adiknya. Chanyeol tak bisa membayangkan jika Luhan adalah adiknya.
Mungkin ia akan stress dan cepat tua menghadapi sikap menyebalkan Luhan.
Belum lagi kalau Luhan sudah bersama Sehun. Sudahlah, yang ada di sekitarnya tak pernah mereka anggap ada.
Dunia seakan hanya milik berdua, yang lain hanya mengontrak. Begitulah kira-kira.
Chanyeol kembali memandangi Ponselnya dengan nanar. Menunggu Baekhyun membalas pesannya.
Sesekali ia melirik Luhan yang terlihat seperti bocah TK yang tengah memakan Anggur.
Memilih satu persatu buah Anggur itu, entah apa yang di cari Gadis itu di antara buah Anggur itu. Luhan juga sesekali memperhatikan Chanyeol, sambil membuang biji Anggur yang akan ia makan.
"Gawat, aku memakan satu!" Gumam Luhan seraya cepat-cepat meminum air putih yang berada diatas meja.
Chanyeol mengeryit "Apanya?"
"Biji Anggur. Aku menelannya, biji itu tidak akan tumbuh di dalam perutku kan?" Luhan bertanya seraya kembali memakan buah Anggur yang sebelumnya kembali ia pilih-pilih terlebih dahulu.
Luhan memakan yang tak ada Biji-nya, dan mengabaikan buah Anggur lainnya yang sekiranya terlihat ada Biji-nya.
"Hanya anak kecil yang masih percaya mitos seperti itu!" Chanyeol harusnya tak memperdulikan Luhan. Ia menyesal karena sudah menanggapi Luhan.
"Aku memang masih kecil! Kau tidak lihat wajah Baby Face-ku ini?" Ucapnya seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu tersenyum manis agar terlihat lucu.
Lemparan bantal yang Chanyeol berikan menjadi jawaban ketidaksetujuan Pemuda itu atas tindakan dan ucapan yang baru saja di lontarkan Luhan.
Demi Tuhan, ia sedang tidak dalam mood baik untuk diajak bercanda.
Chanyeol tak lagi menghiraukan Luhan yang sempat marah padanya, ia sibuk mengetik pesan singkat yang akan ia kirim pada Baekhyun. Ia merindukan Kekasihnya, teramat sangat rindu.
Jika dulu ia berani datang dan menginap di Apartemen Baekhyun walau tak ada Baekhyun disana, maka sekarang lain ceritanya. Cari mati jika Chanyeol berani menginap disana saat ada orang tua Baekhyun disana.
Chanyeol... Ia ingin memantas kan dirinya di hadapan kedua orang tua Baekhyun. Ia ingin dikenal sebagai Pemuda baik-baik yang menjaga Baekhyun. Tak menodai Kekasihnya.
Meskipun sebenarnya mereka jika sudah berdua, tak dapat mengontrol diri untuk tak saling menyentuh satu sama lain. Dan bisa dikatakan hubungan mereka sudah masuk ke tahap yang tidak bisa dikatakan 'sehat'.
Dan sekarang ia ingin dikenal sebagai Pemuda yang baik untuk Baekhyun.
Bagaimana caranya?
Ia sudah pasti di sangka Pemuda kurang ajar karena mencium Baekhyun se-enak nya.
Ya, walaupun keinginan Baekhyun sendiri sih... Tapi kan tetap saja ia yang akan di cap jelek oleh orang tua Baekhyun.
Terutama Ibu Baekhyun, calon Ibu mertua nya itu terang-terangan seakan tak setuju dengan hubungan yang mereka jalin.
Apa Chanyeol harus menyombongkan kekayaan Ayahnya? Supaya Ibu Baekhyun tak perlu besikap jutek padanya?
Tak perlu kan?
Chanyeol tak ingin dikenal sebagai Pemuda sombong yang hanya bisa memamerkan kekayaan Ayahnya. Ia tak ingin calon mertua nya mengenal ia sebagai Pemuda yang seperti itu.
Cukup ia pamer pada sahabat-sahabatnya saja dan teman-teman di sekolahnya.
Untuk urusan cinta dan mendapatkan hati sang Ibu Mertua, ia tak akan memamerkan apa yang milik Ayahnya.
Ia harus menjadi Pemuda sederhana, baik, berwibawa, dan tentunya pantas untuk Baekhyun. Tak perduli sekalipun mereka berbeda umur cukup jauh.
Sudah Chanyeol katakan berulang kali, dan sudah Aybaekxing ketik juga berulang kali, jika mereka tak pernah perduli pada perbedaan umur.
Cinta tak pernah memandang batasan usia.
"Chan, aku lupa bertanya padamu!" Luhan mulai serius membuka obrolan dengan Chanyeol yang masih setia berbaring santai di sofa "Apa kau tahu kalau Seohyun Eonni sudah kembali ke Korea?"
Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.
"Kau.. tidak merasa terganggu?"
"Tidak!" Chanyeol menoleh ke arah Luhan "Tergganggu karena apa? Bukankah bagus dia kembali ke Korea?" Yang Chanyeol pikirkan, tentu saja bagus jika Seohyun pulang ke Korea.
Karena dengan begitu, Minho bisa bertanggung jawab pada anak kecil yang lahir dari rahim Seohyun. Anak Minho dan Seohyun.
Chanyeol tahu kebenaran itu setelah Seohyun memberitahunya melalui sambungan telepon. Dan kemarin ia juga sudah bertemu dengan anak Seohyun dan Minho.
Anak mereka benar-benar tampan. Chanyeol bahkan sudah lengket dengan anak Seohyun walau baru bertemu untuk pertama kalinya.
"Bagus?" Luhan memandangi Chanyeol dengan wajah kaget.
Karena Luhan belum tahu kebenarannya, jelas saja sekarang ia berpikir jika Chanyeol berkata begitu karena bahagia jika cinta pertamanya sudah kembali.
Luhan menatap horor Chanyeol yang sama sekali tak terganggu dengan wajah terkejutnya. Luhan mulai berpikir jika Chanyeol mungkin saja hendak mempermainkan Baekhyun.
Walau Luhan tak begitu dekat dengan Baekhyun, tapi karena ia sama-sama seorang Wanita, Luhan tak ingin jika Chanyeol mempermainkan Baekhyun.
Meskipun Chanyeol adalah Sepupunya, tapi jika Chanyeol salah ia harus memperingati Chanyeol.
"Ya bagus Luhan. Dia pulang ke Korea, tidak ada yang salah jika seseorang pulang ke kampung halamannya!" Chanyeol menggerak-gerakan otot tubuhnya, melangkah ke arah dapur untuk mengambil sekaleng soda dari dalam lemari es.
"Kau senang dia kembali?" Luhan mengikuti Chanyeol yang masih berada di dapur yang terlihat mencari makanan.
"Senang tentu saja! Noona yang dulu selalu menjaga-ku kembali, siapa yang tidak senang?"
Luhan yang salah mengartikan maksud ucapan Chanyeol, menyimpan mangkuk Anggur yang sedari tadi di bawanya. Bergerak kembali ke ruang tengah rumah Chanyeol untuk mengambil Ponsel miliknya.
"Ke rumah Chanyeol sekarang juga! Dan jangan lupa ajak Jongin sekalian ya, Sehunie!"
Siapa lagi kalau bukan Sehun yang akan ia telpon. Luhan kan akan bersekutu bersama Jongin dan Sehun untuk mencuci otak Chanyeol agar tak lagi mengejar-ngejar Seohyun seperti dulu.
Sementara Chanyeol hanya mengeryit kan kedua alisnya kala mendengar Luhan meminta Sehun dan Jongin untuk datang ke rumahnya.
Padahal ia ingin bermalas malasan tanpa adanya pengganggu sekaligus tukang rusuh seperti Jongin dan Sehun, tapi sekarang... Gagal sudah.
Mengabaikan Luhan yang sibuk dengan Ponselnya, Chanyeol memilih pergi ke ruang music miliknya yang ada dibelakang rumah besarnya.
Mengambil gitar miliknya, dan mulai memetik sinar gitarnya untuk sebuah lantunan lagu yang kemudian ia iringi dengan suara indahnya.
Sudah lama ia tak pergi ke Cafe, apa sore ini ia kesana saja?
Itung-itung mengisi waktu luang seraya menunggu Baekhyun kembali dari luar Kota. Dan sudah jarang juga ia tak tampil di Cafe itu semenjak sibuk mendekati Baekhyun.
-o0o-
"Ada karyawan yang melakukan Korupsi dalam Proyek ini, dan ini data lengkap sekaligus kerugian yang di Alami Perusahaan karena tindakan yang ia lakukan!" Baekhyun berada di kamar Hotel bersama Kris.
Mereka berdua baru saja kembali setelah mengecek langsung ke lapangan di mana Proyek yang tengah mereka bangun mengalami masalah. Mereka tengah berada di Daegu saat ini.
Kris melihat berkas yang Baekhyun berikan dengan begitu serius, mencatat beberapa hal penting yang sekiranya nanti bisa ia pakai untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Ia tak bisa memenjarakan orang tersebut, karena orang yang sudah memakan uang Perusahaan itu sekarang Kabur.
Sebenarnya bisa saja Kris langsung melaporkannya ke pihak yang berwajib (Polisi), namun tak semudah itu.
Ia harus mengumpulkan beberapa bukti yang nantinya bisa menguatkan laporannya ke Pihak Kepolisian.
"Mau kaya tapi tak mau kerja dan berusaha. Korupsi, mencuri dan menipu adalah pekerjaan yang sering di lakukan orang-orang Tolol dan menyedihkan! Kenapa mereka tak pergi ke Neraka saja setelah melakukan kejahatan seperti ini!?" Kris memijit Hidung mancungnya.
Baekhyun hanya bisa menghela nafas, kembali mengecek beberapa berkas yang harus ia teliti lebih lanjut lagi.
"Jangan kasih ampun, laporkan perbuatannya ke Polisi. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah menyalah gunakan kepercayaan yang aku berikan!" Sedikit membanting berkas yang di pegang nya, Kris juga menghubungi seseorang untuk segera mengurus masalah yang tengah mereka hadapi saat ini.
"Kau bisa mencari seseorang untukku?" Ucapnya melalui sambungan telpon.
"Wanita lagi? Kau tidak bosan keluar masuk lubang yang berbeda, Hyung? Segeralah cari Istri!" Jawab seseorang yang tak di ketahui Baekhyun.
Karena sambungan telpon itu dalam mode Speaker, jadi tentu saja Baekhyun dapat mendengarnya.
Baekhyun bahkan sampai berdehem keras mendengarnya.
"Ehh! Aku mendengar suara wanita di sampingmu? Kau sedang bersama siapa Hyung?"
Oke. Kris mulai muak jika orang yang tengah berbicara melalui sambungan telpon dengannya itu, kini mulai ingin tahu segala sesuatu yang tengah ia lakukan.
"Aku tidak membutuhkan Wanita saat ini. Aku butuh kau untuk mencari seseorang yang sudah mencuri uang Perusahaan. Jadi bisakah kau tidak berpikiran Mesum, anak muda!" Kris memutar bola matanya mendengar tawa dari orang itu.
"Aku terbiasa mendapat pekerjaan darimu untuk di carikan Wanita yang siap mengangkang di depanmu Hyung, jadi jangan salahkan aku jika aku berpikir saat ini kau juga ingin di carikan Wanita lagi!"
Kris tak bisa menyangkal itu. Yeah, bagaimanapun juga ia memang selalu meminta di carikan Wanita panggilan ketika nafsu gairahnya tak bisa ia tahan.
"Jadi, siapa Wanita yang saat ini bersamamu? Kenapa aku merasa pernah mendengar suaranya?"
Kris menatap Baekhyun yang mengerjap kan kedua matanya, sesekali melirik ke arah Ponsel Kris dan sesekali ke arah Kris yang juga tengah menatapnya.
Pandangan mata Kris menyipit, menaruh curiga pada Baekhyun yang tak mengerti apa-apa.
Apa Baekhyun sebenarnya bukan wanita baik-baik?
"Kau tak pernah menjadi Wanita panggilan kan, Baekhyun?" Dan pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut sialan Kris.
"Yakk Bos!" Baekhyun nyaris menggebrak meja, hanya nyaris karena untungnya tidak ia lakukan.
Ia masih ingat jika Kris atasannya.
Baekhyun hanya bisa menatap Kris dengan penuh kekesalan. Bisa-bisa Kris mengatakan hal seperti itu padanya.
Padahal Kris tahu bagaimana ia bekerja. Ia bahkan sampai lupa berkencan karena terlalu sibuk bekerja. Dan yang membuat ia bekerja dengan tekun sampai terkadang lembur, tak lain karena perintah Kris sendiri yang minta ia menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat dan benar.
"Walau aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, tapi tak mungkin juga aku menjadi Wanita panggilan!" Baekhyun terlihat kesal, ia begitu menggebu-ngebu ketika menjawab tuduhan, atau lebih tepatnya pertanyaan Kris.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau sangat marah!" Kris menelan saliva-nya, Baekhyun yang terlihat kesal benar-benar menyeramkan saat ini.
Baekhyun memutar bola matanya, alisnya menekuk.
"Aku ini Bos-mu jika kau lupa. Jangan se-enaknya membentak ku!" Kris memicingkan kedua matanya, berusaha membalikkan keadaan agar Baekhyun tak lagi marah padanya.
Namun percuma saja. Baekhyun benar-benar kesal dengan pertanyaan Kris.
Siapa juga yang terima dituduh menjadi wanita panggilan?
"Terserah kau saja Bos!" Baekhyun meninggalkan Kris yang terlihat kebingungan.
"Yakk kau mau kemana? Kerjakan dulu pekerjaanmu!"
"Kerjakan saja sendiri, aku mau Istirahat. Aku cape Bos!" Baekhyun keluar dari kamar Hotel yang di tempati Kris, lalu ia masuk ke kamar Hotel yang di tempati nya.
Bersebrangan dengan kamar yang di tempati Kris.
"Dasar Bos gila! Pantas saja aku suka menemukan Bra di Mobil-nya. Ternyata dia masih saja suka bergonta-ganti Wanita!" Baekhyun berjalan ke arah balkon Hotel, bermaksud menikmati udara sejuk kota Daegu.
Soal Kris, tenang saja. Lelaki botak... Maksudnya, Lelaki tampan itu selalu memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Jadi kemungkinan ia terkena penyakit, tidak akan terjadi. Karena Kris juga tetap menjaga kesehatannya, dan ia selalu bermain aman.
Dan Wanita yang sering Kris tiduri, bukanlah sembarang Wanita. Kelas Kris adalah model cantik yang sudah mempunyai nama di dunia Entertainment.
Kembali ke Kris yang tengah menelpon. Kris kembali dibuat muak dengan seseorang yang tengah bertelepon dengannya saat ini. Terus saja menanyakan tentang Baekhyun.
"Dan sekarang aku yakin, jika aku pernah bertemu dengan Wanita yang saat ini tengah bersamamu, Hyung!"
"Kau baru kembali dari Luar Negeri, dan dia tak pernah melakukan perjalanan ke Luar Negeri. Jadi mustahil kau bertemu dengan dia." Kris membuka laptopnya.
"Iya juga sih!" Ucap orang itu lagi "Jadi, aku harus mencari siapa?"
"Akan aku kirimkan padamu data-nya!" Kris memeriksa Laptopnya sebentar dan langsung mengirimkan data seorang Karyawan yang sudah melakukan Korupsi Dana Proyek di Daegu yang tengah di pegang Perusahaannya.
"Berikan saja data nya pada pihak Polisi jika kau menemukan keberadaan orang itu!" Kris menutup laptopnya setelah selesai dengan apa yang ia kerjakan.
"Jangan lupa bayaran ku Hyung!" Ucap seseorang itu sebelum benar-benar menutup sambungan telepon itu.
Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, Kris bersantai sebentar seraya menutup kedua matanya.
Pikirannya butuh penyegaran. Sudah sebulan penuh ia tak lagi bermain dengan para Wanita-nya.
Semenjak Ibu-nya datang ke Korea lebih tepatnya. Kris menjadi malu jika ingin bertemu dengan para Wanita-nya. Ia tak ingin jika sampai Ibu-nya tahu kalau ia sebenarnya tak mempunyai Kekasih.
Biasalah, seperti di Film dan Drama, ia membohongi Ibu-nya jika ia sudah mempunya pasangan. Padahal yang sebenarnya, orang yang Kris kenalkan hanyalah teman kencan satu malamnya.
Bahkan orang yang sempat Kris katakan sebagai Kekasihnya pada Baekhyun tempo hari, bukanlah Kekasih Kris yang sebenarnya.
Baekhyun yang juga tengah bersantai dikamar Hotel yang ia tempati, mencoba menelpon Chanyeol yang sebelumnya sudah mengiriminya banyak sekali pesan.
"Kenapa tak di angkat?" Baekhyun menjadi was-was kala Chanyeol mengabaikan panggilan telepon nya.
Bahkan sudah ke tiga kalinya ia menelpon Chanyeol namun tak di angkat sama sekali oleh Pemuda itu.
"Apa dia marah?" Monolog Baekhyun.
Sambil berjalan ke tempat tidurnya, Baekhyun mencoba menelpon lagi Chanyeol.
Lama menunggu, akhirnya teleponnya di angkat. Namun bukan Chanyeol yang mengangkatnya. Melainkan Luhan yang mengangkat panggilan telepon nya.
"Halo Eonni!" Sapa Luhan di sebrang sana, Baekhyun tak perlu heran kenapa Luhan yang mengangkat panggilan telepon nya.
Mungkin mereka tengah berkumpul?
"Halo Luhan! Kau sedang bersama Chanyeol?" Tanya Baekhyun sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tidak Eonni. Chanyeol meninggalkan Ponselnya di rumah, dia pergi sambil membawa gitar." Luhan terdengar terlibat percakapan yang Baekhyun tebak itu adalah Sehun dan Jongin "Apa Eonni tahu kira-kira kemana Chanyeol pergi? Kami akan menyusulnya!"
Baekhyun diam sebentar, sampai akhirnya ia baru ingat jika Chanyeol mungkin saja pergi ke Cafe tempat biasa anak itu tampil seraya bernyanyi.
"Kau pergi saja ke Cafe Lovely yang di dekat Apartemenku!" Baekhyun melirik ke arah pintu kala ia mendengar suara Kris memanggilnya. "Akan aku kirimkan alamatnya. Aku harus menutup teleponnya. Luhan, bisa kau katakan pada Chanyeol untuk menelpon ku nanti?"
"Baik Eonni, akan aku sampaikan pada Chanyeol!"
Baekhyun segera menutup panggilan telepon itu untuk membuka pintu kamarnya.
Saat ia membuka pintu, Kris berdiri disana seraya melirik Jam di tangannya.
"Kita pergi makan siang Baekhyun! Aku harus memastikan mu makan, jika tidak Bocah itu akan mengadu pada Paman-ku." Setelahnya Kris berjalan menuju lift "Tunggu apalagi, cepatlah pendek!"
Baekhyun menghela nafas mendengar Kris kerap sekali meledeknya. Pendek... Pendek... Pendek... Pendek...
Baekhyun rasa tubuhnya tidaklah terlalu pendek. Kris saja yang terlalu tinggi seperti Namsan Tower. Dan Chanyeol juga sama tingginya seperti Kris. Ia juga tak tahu apa yang kedua anak Manusia itu makan sampai bisa setinggi itu.
-o0o-
"Hyung, kita bertemu disini. Astaga, sepertinya kita ditakdirkan untuk berteman Hyung!" Lucas berbicara panjang lebar setelah bertemu dengan Chanyeol yang baru saja selesai bernyanyi di Cate Lovely, tempat biasa ia tampil.
Chanyeol masih belum bisa bersikap santai pada Lucas setelah kejadian di Rumah Sakit. Ia masih... Bersikap jutek dan bahkan menjaga jarak dengan anak muda yang banyak bicara itu.
Tapi, bukankah keterlaluan jika ia terlalu keras pada anak itu.
"Sedang apa kau disini?" Chanyeol turun dari atas panggung kecil Cafe itu.
Berjalan ke arah Lucas yang duduk di salah satu meja Cafe yang dekat dengan panggung.
"Ah... Aku habis mencari seseorang. Dan karena aku belum makan siang, jadi aku mampir dulu kesini!" Lucas berbinar senang karena Chanyeol tak lagi mengabaikannya seperti beberapa waktu yang lalu.
Ia juga sudah tahu jika Baekhyun yang sempat ingin ia dekati, adalah kekasih Chanyeol. Dan ia sudah di beri nasehat panjang lebar oleh Jongin agar tak bermain-main dengan Chanyeol, atau bahkan sampai memancing kemarahan Chanyeol.
Kata Jongin, ia bisa di lempar oleh Chanyeol sampai ke Namsan Tower jika nekad mendekati Kekasih Chanyeol.
Memang mustahil jika ia dilempar sampai ke Namsan Tower. Kecuali jika Chanyeol adalah Manusia jelmaan Iblis, mungkin saja bisa.
Tapi, bukankah ketika seseorang sedang marah, hal yang bersifat mustahil-pun bisa saja terjadi?
"Mencari seseorang?" Alis Chanyeol mengeryit.
"Bukan hal yang penting Hyung, hehe. Hanya bagian dari pekerjaan sampingan ku. Hehe." Lucas menggaruk kepala belakangnya. "Hyung selalu bernyanyi disini?"
Chanyeol memesan minuman pada pelayan, lalu memulai obrolan bersama Lucas.
"Kadang-kadang kalau aku mau." Dan Chanyeol baru sadar jika Ponselnya tidak ada setelah berniat ingin mengecek Ponselnya.
"Kenapa Hyung?" Lucas cukup mengerti jika Chanyeol tengah mencari sesuatu.
"Sepertinya Ponselku tertinggal!" Ia segera meminum minuman pesanannya dan berniat beranjak dari sana untuk pulang "Lucas, aku harus pergi. Sampai jumpa nanti!" Ia pamit pada Lucas yang hanya mengangguk dan tak berniat untuk ikut pergi karena ia sudah kelaparan dan ingin makan.
Chanyeol yang membawa mobilnya, memarkir mobilnya di depan Cafe. Dan ia segera pergi dari sana setelah menyalakan mobilnya.
Dan tepat saat Chanyeol pergi, Luhan baru saja sampai disana bersama Jongin dan Sehun.
"Itu mobil Chanyeol! Cepat kejar Sehunie!" Untungnya Luhan sadar jika Mobil yang baru saja lewat berlawanan arah dengan mobil yang mereka naiki adalah Mobil milik Chanyeol.
Sehun yang menyetir, memutar Mobil yang di kemudikannya untuk segera mengejar Chanyeol.
"Mau kemana dia?" Gumam Luhan yang tak melepaskan pandangannya pada Mobil Chanyeol.
"Kau bertanya padaku?" Tanya Jongin yang duduk di kursi belakang.
"Tidak!" Jawab Luhan yang menoleh sebentar ke arah Jongin lalu kembali melihat ke arah depan.
"Kupikir kau bertanya padaku. Jika kau bertanya padaku, jawabanya 'Aku tidak tahu' dan kita sedang mencaritahu nya sekarang!"
"Aku tahu sialan!" Ucap Luhan begitu kesal.
Sehun yang mengemudi hanya bisa menghela nafas.
Sehari saja tanpa ribut, sepertinya Luhan dan Jongin akan gatal-gatal. Untung Sehun sayang Luhan. Kalau tidak, mungkin Sehun akan meninggalkan Luhan begitu saja.
Selama dalam perjalanan, Luhan dan Jongin sesekali berdebat dan sesekali berdiskusi. Luhan juga menceritakan tentang percakapannya dengan Chanyeol sebelumnya.
"Mungkin sebenarnya Chanyeol..." Belum selesai Sehun berbicara, Luhan sudah lebih dulu membentaknya.
"Sehunie, kau selalu saja membela Seohyun Noona! Apa kau menyukai Seohyun Noona dan berniat meninggalkanku?"
Jongin yang duduk dibelakang menahan tawa melihat Sehun yang tak berkutik setelah Luhan membentak Pemuda itu.
"Tidak tentu saja. Mana mungkin aku melepas Hello kitty cantikku ini!" Sehun mencubit pipi Luhan agar Luhan tak lagi marah padanya.
Dan Jongin yang semula ingin tertawa kini menjadi jengkel melihat dua orang didepannya.
Seakan ada taburan bunga diantara mereka berdua, keduanya berdebat sambil sesekali Sehun menenangkan Luhan dengan mengelus pipi Gadis cantik itu.
Kapan penderitaan Jongin yang menjomblo akan berakhir?
Ia sudah tak sabar ingin pamer kepada mereka juga.
Ia jadi rindu Kyungsoo yang tak bisa ia ajak kencan karena sibuk bekerja. Sad.
"Kalian sibuk berdebat sampai melupakan tujuan kita. Lihatlah! Chanyeol hanya pulang ke rumahnya!" Jongin yang semula diam karena jengkel, tak diam lagi kala melihat Mobil yang Chanyeol kemudikan ternyata masuk ke pekarangan Rumah Lelaki itu sendiri.
Mereka sebenarnya bisa bernafas lega karena ternyata Chanyeol pulang ke rumahnya. Tapi, saat melihat Chanyeol turun dan langsung menghampiri seseorang yang Luhan waspadai, Seohyun.
Dan mereka terkejut tentu saja.
Mereka semakin terkejut kala mendapati Seohyun membawa seorang anak kecil, yang langsung membuka kedua tangannya saat Chanyeol menghambur menggendong anak kecil itu.
"Tunggu, anak siapa itu?" Luhan bermonolog, dan ia langsung keluar dari Mobil dan menghampiri Chanyeol dan Seohyun.
Sehun dan Jongin mengikuti Luhan di belakang.
"Chanyeol!" Panggil Luhan, membuat Chanyeol dan Seohyun langsung melihat ke arah Luhan.
"Hai Luhanie!" Sapa Seohyun.
Luhan tersenyum tipis. Berusaha bersikap sopan pada Seohyun.
"Kau habis darimana?" Yang Chanyeol ingat, Luhan ada di rumahnya saat ia pergi ke Cafe.
Luhan memandangi anak yang tengah di gendong Chanyeol. Melihat Seohyun yang datang bersama anak itu, ia yakin jika anak itu ada hubungannya dengan Seohyun. Akhirnya Luhan ia kembali bertanya karena rasa penasarannya.
"Anak itu..." Tanya Luhan dengan ragu.
"Ah anak ini..." Chanyeol tak sempat menyelesaikan ucapannya karena anak kecil itu telah lebih dulu mengintrupsi ucapannya.
"Daddy, popo!"
Damn.
Chanyeol begitu terkejut, apalagi Luhan yang langsung melotot ke arah Chanyeol.
"Kau sudah mempunyai anak Chanyeol? Oh my good Park Chanyeol! Kau sudah menyetubuhi orang lain sampai hamil dan memiliki anak?" Luhan menepuk dahi-nya frustasi.
Ia tak menyangka dengan Chanyeol yang ternyata menyembunyikan rahasia besar dalam hidupnya.
Seohyun yang melihat kesalahpahaman Luhan berusaha menahan tawanya agar tak meledak. Sepertinya seru sedikit bermain-main dengan Luhan.
"Wow! Ilmu yang kau dapat dariku sudah kau kuasai ternyata Chan!" Jongin dengan rasa bangga karena ajaran sesatnya.
Sementara Sehun memilih diam. Ia tak mau ikut-ikutan menjadi orang bodoh seperti kekasih dan sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Short Story
Heechul tengah membereskan baju-baju milik Baekhyun.
Sebagai seorang Ibu, ia ingin berbaik hati pada anak semata wayangnya itu. Mencuci pakaian kotor milik Baekhyun, sepatu kotor, dan juga membereskan kamar anaknya itu yang sudah tiga hari ini ia tempati untuk tidur.
Heechul tersenyum manis kala membereskan celana dalam Baekhyun yang beraneka warna dan juga dengan aksen Strawberry di beberapa celana dalam milik anaknya itu.
Ia tak menyangka jika anaknya yang sudah dewasa itu masih mengenakan beberapa celana dalam yang sedikit kekanak-kanakkan, pikirnya.
Namun, senyuman Heechul luntur kala ia menemukan sebuah celana dalam yang... Tak ia kenali. Yang pasti itu bukan milik anak Gadisnya.
Heechul melihat-lihat celana itu dengan seksama, dan seketika itu juga ia langsung membulatkan kedua matanya kala memikirkan siapa pemilik celana dalam itu.
"Ini... ini kan celana dalam laki-laki?!" Heechul membuka lagi lemari Baekhyun.
Heechul langsung menggeledah lemari anak gadis nya itu dengan seksama. Mencari sesuatu yang mungkin saja tersimpan disana.
Sesuatu yang tak ia harapkan ia temukan disana.
Dan saat ia tak menemukannya, Heechul sedikit bisa bernafas dengan tenang meski ia masih kesal akan benda yang kini berada di tangannya.
"Setidaknya tak ada Kondom disini!" Heechul lalu menuju tempat sampah di kamar Baekhyun. Dan ia memeriksa tempat sampah itu guna mencari keberadaan benda yang ia sebutkan sebelumnya.
Dan ia kembali bernafas lega karena tak menemukan benda itu disana.
Namun Heechul masih perlu mencari tahu tentang, kenapa ada Celana dalam milik Lelaki ber-merk Supreme dikamar Baekhyun.
"Aku yakin jika celana ini pastilah milik Pemuda itu!" Heechul berjalan keluar seraya mencari Ponselnya.
Mencari sebuah nomor telepon milik seseorang yang merupakan teman lama sekaligus Ayah dari si pemilik celana dalam itu.
"Yeobseo?" sapa seseorang.
Heechul duduk dan menyimpan celana dalam yang sebelumnya ia temukan didalam Lemari milik putri-nya itu.
"Halo, Oppa! Ini aku, Adik kesayanganmu!" Heechul menunggu seseorang itu kembali berbicara.
Ada jeda cukup panjang setelah ia mengatakan itu. Heechul tahu jika seseorang yang saat ini tengah ia hubungi, pastilah kaget karena mendengar suaranya. Sudah lama ia tak berkomunikasi dengan orang itu.
"Heechul-ie?"
"Ya Oppa, kau pikir siapa lagi? Kau tidak melupakan aku kan, Siwon Oppa?"
Heechul dan Siwon, adalah sahabat sewaktu mereka duduk di bangku kuliah. Dan Heechul adalah adik tingkat yang paling dekat dengan Siwon, dan juga sudah Siwon anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Walau kadang mereka suka ribut karena memperebutkan hal sepele. Seperti berebut kulit Ayam goreng misalnya.
Heechul lah yang paling suka memarahi Siwon.
Jelas saja, ia hanya Mahasiswa yang beruntung bisa berkuliah di Seoul dengan mengandalkan Beasiswa, sedangkan Siwon menggunakan uang orang tua-nya karena Lelaki itu orang kaya raya.
Tapi Siwon suka meminta kulit Ayam pada Heechul yang hanya seorang pekerja part time.
Sebenarnya Siwon sendiri sih yang memperkerjakan Heechul.
Mengisi tugas milik Siwon, adalah kerja part time Heechul yang menyenangkan.
Karena sebenarnya Siwon lah yang kerap membantu Heechul.
"Ommo Heechul-ie, benarkah ini kau? Astaga aku tak percaya ini! Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru menghubungi Oppa sekarang? Kau melupakanku? Kau..."
"Stop Oppa! Kau cerewet sekali!" Heechul menggeleng, Siwon belumlah berubah.
"Ckckkkck kau ini!" Terdengar tawa Siwon di sebrang telepon sana "Jadi, kenapa baru menelpon, dan ada apa? Aku tahu kau menelpon pasti karena ada sesuatu, kan?!"
Heechul mengangguk samar "Tentu saja! Kapan Oppa pulang ke Korea?"
Ia tak lagi basa-basi menanyakan kabar Siwon, atau bagaimana kehidupan Siwon setelah lama mereka tak bertemu.. Nanti ia akan menanyakannya secara langsung pada Siwon saat mereka bertemu.
Lagipula, ada yang lebih penting disini.
Siwon harus bertanggung jawab atas tindakan anak Lelakinya itu yang sudah berani... Membuat jejak di kediaman putrinya dengan meninggalkan celana dalam nya didalam lemari anak gadisnya.
"Selalu, Heechul-ie tak pernah basa-basi," Tawa Siwon kembali terdengar "Sore ini aku pulang ke Korea. Kita bertemu di mana? Biar Oppa suruh orang menjemputmu dan Hangeng!"
"Berikan alamat rumah Oppa, aku akan kesana bersama Hangeng." Heechul tak akan meminta seseorang menjemputnya.
Ia tak suka banyak merepotkan Siwon, meskipun sebenarnya Siwon tak merasa direpotkan sama sekali.
"Baiklah! Kita bertemu besok?"
"Ya Oppa! Kalau begitu, sampai jumpa besok!" Heechul menutup panggilan telepon itu tanpa berniat mengobrol lebih lama.
Siwon dan dirinya biasa seperti itu. Di telepon mereka tak akan banyak berbicara. Namun, saat mereka bertemu... tak bisa dipungkiri jika mereka akan seperti anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah TK.
Heechul kembali memandangi celana dalam milik Chanyeol yang sebelumnya ia simpan di atas meja ruang tamu.
"Awas kau anak muda, aku akan memastikan kau menikahi Baekhyun! Jika kau sampai meninggalkan anakku, maka kau akan habis di tanganku!"
Heechul tidak tahu saja, jika Chanyeol akan sangat bahagia jika harus menikahi Baekhyun. Bahkan jika disuruh besok pun, sepertinya Chanyeol akan mau.
Hanya saja, untuk saat ini Chanyeol pasti akan berpikir dua kali.
Mengingat ia belum lulus Sekolah, dan juga... Chanyeol belum memiliki pekerjaan.
Tak mungkin ia memberi makan Baekhyun udara, yang ada Baekhyun mati sebelum mereka mendapatkan keturunan.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Mohom tinggalkan jejak sebagai dukungan untuk aku.
Dan maaf ini FFN kelupaan gak di up hehehe. Kemarin udah up di wattpad lupa gak di up disini juga. Mianhae…
