CHAPTER ELEVEN
"Ibu mau yang itu dan itu!" kata Ibu Byun sambil mengarahkan jemarinya pada objek yang dia mau kepada staff toko tersebut.
"Bu, itukan modelnya sama, hanya berbeda warna saja," omel Baekhyun saat melihat barang-barang yang diinginkan oleh sang ibu.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Ibu Byun dengan wajah garangnya.
Chanyeol mencoba menenangkan suaminya itu dengan merangkul bahu, kemudian berbisik, "Sudahlah, Baek. Biarkan ibumu mengeksplorasi mall ini, aku akan membayar semua tagihannya."
'Tapi…"
"Kau juga bisa memilih barang yang kau suka. Tenang saja, aku yang membayarkan tagihannya juga." Chanyeol pun memilih untuk menawarkan Baekhyun juga daripada lelaki cantik itu terus mendesak ibunya.
"Benarkah? Kau serius?" tanya Baekhyun sembari mengerutkan dahinya.
"Ya, tentu saja, Sayang," goda Chanyeol kepada suaminya itu. Baekhyun yang merinding ketika panggilan 'sayang' ditujukan untuknya pun menyikut pinggang Chanyeol hingga membuat sang empunya meringis dan melepaskan rangkulannya.
-o0o-
"Aku tidak menyangka, alih-alih ibumu, malah kau yang lebih banyak barangnya daripada miliknya," cibir Chanyeol sembari melirik ke arah Baekhyun yang tengah duduk di jok yang ada di sebelahnya saat setelah mengantarkan ibu Baekhyun ke rumahnya.
"Katamu juga aku boleh memilih barang yang kumau. Apa sebenarnya kau tidak rela membelikan barang-barang ini kepadaku?!" tanya Baekhyun dengan intonasi suara yang naik satu tingkat.
"Bukan itu…" Chanyeol menjadi kelabakan sendiri menghadapi Baekhyun yang kembali merajuk padanya. Diliriknya sekilas dan pria cantik itu sedang membuang pandangannya ke luar kaca jendela.
"Baiklah, semua kantong belanjaan di jok belakang itu milikmu, bukan milikku." Chanyeol tidak bisa menahan senyumannya. Biarpun sikap Baekhyun terkadang menyebalkan, tetapi jika diperhatikan lebih baik lagi, itu membuat Baekhyun tampak lebih menggemaskan.
"Baekhyun, bukan begitu maksudku!" Chanyeol berusaha menjelaskan, bahkan salah satu tangannya kini terulur ke arah Baekhyun dan menggenggam jemari Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun yang sekarang mengarahkan pandangannya kepada Chanyeol yang tengah fokus mengemudikan mobil dengan sebelah tangan saja.
"Menggenggam tanganmu agar kau tidak merajuk lagi padaku," jawab Chanyeol santai dan itu sedikit membuat semburat merah terlihat jelas di pipi chubby milik si cantik.
"Hentikan kalimat-kalimat kekanakan itu, kupikir aku akan muntah sebentar lagi karena terlalu sering mendengarkanmu mengucapkannya," komentar Baekhyun sembari melirik Chanyeol dengan ekor matanya. Tak lupa pula, bibir tipis itu mengerucut lucu.
"Benarkah? Kupikir kau menyukainya." Baekhyun menunduk lagi dan tautan tangan mereka semakin mengerat.
"Bodoh, kau tidak tahu apa-apa!" tampik Baekhyun yang kesal karena Chanyeol berlagak sok tahu.
"Aku melihat wajahmu memerah. Aku tahu itu muncul karena rayuanku, bukan?" Baekhyun semakin menunduk, tak kuasa menahan malu. Dia benci hal ini, mengapa ketika dia merasa malu, pipinya selalu tersipu.
"Aku benar, kan?" Chanyeol semakin menggoda si cantik itu dan membuat Baekhyun memaksa membuka tautan tangan mereka. Awalnya, Chanyeol enggan melepaskan, tetapi saat Baekhyun akan menggigit tangan itu, Chanyeol langsung melepaskannya.
"Ah, dasar! Kau bukan manusia, kau kucing!" ujar Chanyeol dengan nada yang kesal.
"Aku rela menjadi kucing, lalu aku akan mencakar wajahmu sampai hancur! Wleee!" olok Baekhyun sembari menjulurkan lidahnya kepada Chanyeol.
"Kekanakan," cibir Chanyeol pelan, tetapi tentu saja telinga tajam pria mungil itu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kau bilang?!"
"Kau cantik."
"APA?!"
"Berisik!"
-o0o-
"Kau mendiamkanku lagi?" tanya Chanyeol ketika dirinya baru saja membuka pintu apartemen mereka dengan tangan yang dipenuhi paper bag milik belanjaan si cantik.
Baekhyun yang tadi berada di belakangnya pun masuk terlebih dahulu, bahkan dia hampir menutup pintu itu untuk Chanyeol.
"Diamlah! Kau tidak tahu bagaimana rasanya sedang labil ketika hamil," cibir pria cantik itu sambil menempatkan bokongnya ke sofa yang lembut.
Chanyeol yang kesusahan membawa berbagai macam merk paper bag itu ikut menendang pintunya agar bisa ditutup, lalu ikut duduk di samping Baekhyun dan meletakkan paper bag tersebut di atas meja kopi yang ada di depan sofa.
"Oke, aku memang tidak tahu, tapi kumohon jangan melakukan ini berkali-kali padaku, kau tidak mengerti seberapa frustasinya aku menghadapi kelabilanmu." Chanyeol mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil menatap Baekhyun yang kini tengah mengangkat kedua kakinya untuk menyandarkan kakinya itu di atas meja kopi.
Baekhyun bersedekap dada, dan berdecak kesal, "Kau? Frustasi gara-gara aku? Yang benar saja!"
"Bagaimana aku tidak frustasi kalau calon ibu dari anak-anakku malah mendiamkanku seperti ini."
Baekhyun yang sedari tadi menatap lurus pun akhirnya menoleh ke arah Chanyeol dengan ekspresi muaknya.
"Berhenti mengatakan hal seperti itu, benar-benar menjijikan untuk didengar di telingaku."
Chanyeol sangat menyukai ekspresi itu, dia akan terus-terusan menggoda Baekhyun kalau sudah begini.
"Halo, Ibu dari anak-anakku." Baekhyun menutup kupingnya dan mulai berceloteh tidak jelas agar perkataan Chanyeol tidak terdengar olehnya.
"Sayang…"
"Blaaa… Blaaa… Blaaa…" Chanyeol yang melihat itu memegang kedua tangan Baekhyun agar pria itu tidak menutupi telinganya, namun meski begitu bibir tipisnya masih belum mau berhenti.
"Diam atau kucium?" Suara Baekhyun yang memenuhi ruangan itu pun langsung terbungkam saat ancaman itu keluar dari mulut si brengsek Chanyeol.
"Aku membencimu, Park Chanyeol," geram Baekhyun seraya menatap tajam kepada sang suami.
"Astaga, kau memilih diam daripada kucium?" tanya Chanyeol tak percaya akan pilihan Baekhyun.
"Tentu saja, aku tidak akan mau dicium bibirmu yang terlalu tebal itu."
Chanyeol yang tadinya menahan tangan Baekhyun sekarang berpindah di pipi gembul suami cantiknya.
"Lepas!" Chanyeol menggeleng sembari tertawa puas melihat Baekhyun tidak berdaya di tangannya.
"Kuitung sampai tiga."
"Coba saja."
"Satu…"
"Dua…" Chanyeol tak kunjung melepaskan tangkupan tangannya. Malah, pria itu tersenyum semakin lebar seraya memainkan alisnya.
"Ti—! Hmppph!"
Chanyeol menempelkan kedua belah bibir mereka dan itu membuat kedua bola mata Baekhyun membesar. Pria itu berusaha mendorong dada bidang milik suaminya itu, tetapi Chanyeol menolak untuk melepaskannya. Sampai akhirnya, Baekhyun memilih menonjok perut Chanyeol dengan tonjokan yang lumayan keras dan itu berhasil melepaskan rekatan bibir mereka.
"Arghhh!"
"Kau gila?" Baekhyun berdiri dari tempatnya dan menatap Chanyeol penuh amarah.
"Habisnya tadi kau mengatai bibirku, sekarang bagaimana? Bukankah ciuman tadi membuatmu ketagihan?" Baekhyun menatapnya tak percaya.
"Aku tidak mengira kau sebodoh itu, Park Chanyeol! Kau bilang itu ciuman? I-itu hanya kecupan, Bodoh! Dasar bodoh!" Setelah mengatakan itu, Baekhyun beranjak dari ruang tamu menuju kamar mereka.
Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari berbisik untuk dirinya sendiri, "Benar juga, itu hanya kecupan, bukan ciuman."
-o0o-
Setelah membolos beberapa hari karena permintaan suaminya itu—katanya takut ditinggal sendirian dan hanya bisa menghandle di ruang kerja yang ada di apartmentnya—akhirnya Chanyeol sudah bisa masuk ke ruang kerja di kantornya lagi.
Chanyeol harus meninggalkan suami cantiknya itu lagi untuk pergi bekerja demi mencari sesuap nasi. Dan, kini di depannya sudah banyak pekerjaan yang menanti, termasuk sang sekretaris yang raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Pak, sepertinya Wu Enterprise sangat marah karena anda tidak mau bekerja sama lagi dengan mereka."
"Untuk apa bekerja sama dengan perusahaan yang hampir bangkrut? Lagipula itu salah anak mereka sendiri yang malah terlibat dalam peredaran narkotika secara besar-besaran." Chanyeol menghela nafasnya saat mengingat profil perusahaan yang dibacanya pekan lalu.
"Jadi anda ingin memutuskan kerja sama secara permanen, Pak?" tanya Joohyun memastikan lagi.
"Tentu saja! Aku tidak mau perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahku dari nol jadi ikut berakhir menyedihkan seperti itu," jawab Chanyeol sembari tersenyum tipis sekilas kepada Joohyun, lalu fokus lagi ke monitor yang menyala di depannya.
Chanyeol tidak menyadari ada yang menguping dari balik pintu eksekutifnya yang sedikit terbuka.
"Beraninya kau!"
TBC
