FATE OF MY ADOLESCENCE
Rate: T
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Fate Series [Type Moon]
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: School, Friendship, Family, Romance, Drama
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Naruto hidup dalam kesendirian sejak kecil karena perpisahan orang tuanya. Dia bukanlah seseorang yang mudah bergaul ataupun bersosialisasi. Dalam kehidupannya, hanya basket yang dapat membuatnya bertahan dari kesepian. Namun suatu hari, dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera di kaki kirinya. Banyak hal yang telah dilaluinya hingga saat ia menginjakkan kaki di bangku tahun kedua SMA.. Sobu Gakuen. Kehidupan nya dimulai saat bergabung ke sebuah Klub…
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 12 : Sobu Gakuen's Basketball Team
Orang bilang, waktu berjalan begitu cepat dan hal itu memang benar. Yang terlintas di pikiran Naruto saat ini adalah momen dimana dia harus membuat kesepakatan dengan Gilgamesh, kemudian berhadapan dengan Luvia… gadis yang merupakan teman masa kecilnya. Sore itu, dia mendapat gangguan berulang kali dari Luvia setelah gadis itu mengetahui kalau Naruto adalah teman masa kecilnya. Mulai dari memaksa Naruto memberikan nomer dan akun sosial medianya hingga memaksanya menghabiskan waktu untuk bertelepon sepanjang malam.
Lalu dimana dia sekarang? Dia berada di dalam gedung olahraga sekolahnya. Dan saat ini sedang melamun dengan posisi berjongkok sambil menggunakan telapak tangan kanannya sebagai tumpuan kepala. Benar benar seminggu yang melelahkan baginya. Sebenarnya apa yang terjadi? Hal itu bermula keesokan harinya setelah Naruto membuat kesepakatan dengan Gilgamesh dan bermasalah dengan Luvia.
Di dalam ruangan Klub Relawan ketika istirahat makan siang
Tohsaka sedang duduk dengan posisi kaki kanannya bertumpu di atas kaki kirinya dan kedua tangannya ia silangkan di depan dada. Wajahnya begitu dingin seolah tak mempedulikan keberadaan laki laki yang biasa dipanggil dengan nama Murakami Naruto. Kebetulan Naruto juga ada disana bersama dengan seorang gadis bernama Matou Sakura. Dia adalah adik kelas Naruto yang tempo hari menyatakan perasaannya kepada Naruto.
"Tohsaka-san… oi Tohsaka-san… apa kau bisa mendengarku?" ucap Naruto memanggil manggil Tohsaka sejak tadi, namun tidak digubris oleh gadis itu.
Tohsaka menghela nafas nya dengan ekspresi dingin kemudian tanpa menolehkan pandangannya, dia berkata, "Matou-san… bisa kau katakan pada serangga yang ada disana untuk tidak seenaknya memanggil manggil namaku? Itu memuakkan…"
Sakura yang tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, hanya bisa menuruti perkataan Tohsaka. "Baik, Tohsaka-senpai..."
Dengan perasaan bingung, Sakura menyampaikannya kepada Naruto, "Naruto-senpai… kelihatannya Tohsaka-senpai tidak suka mendengar Naruto-senpai memanggi manggil namanya,"
"Aku dengar itu, Matou-san… tidak perlu kau ucapkan lagi," jawab Naruto dengan ekspresi pasrah.
Sikap Tohsaka yang dingin kepada Naruto ini ada hubungannya dengan semalam. Seperti yang telah diketahui bahwa kemarin Luvia mengetahui bahwa Naruto adalah teman masa kecilnya dan sejak itu pula sikapnya berubah 180 derajat. Bahkan semalaman, Naruto dipaksa menghabiskan waktunya untuk menerima telepon dari Luvia. Akibat pertama adalah dia kekurangan waktu untuk tidur sehingga sepanjang hari ini, dia merasa mengantuk di kelas.
Kedua dan mungkin yang paling fatal adalah dia mengabaikan chat yang dikirim Tohsaka kemarin. Sebenarnya Tohsaka hanya ingin bertanya mengenai hal kecil seputar Gilgamesh dan Jeanne, tapi ketika merasa chat nya tidak dibalas juga, dia terus saja mengirimkan chat kepada Naruto, dengan tujuan agar chat nya dibalas oleh Naruto.
"Maafkan aku tidak membalas chat mu semalam… aku tidak tau kau ingin berdiskusi atau mengobrol denganku tadi malam," ucap Naruto dengan ekspresi yang masih sama.
Dan ketika mendengar kalimat itu dari Naruto, Tohsaka langsung memalingkan wajahnya yang mulai memerah perlahan. Lalu sambil menunjuk Naruto, dia mengucapkan sebuah kalimat dengan tegas, "B-Bukan maksudku ingin mengobrol denganmu atau apa ya! A-Aku hanya tidak suka kesombonganmu itu! Kau pikir kau bisa mengabaikanku? B-Baka!"
"Ehm… aku tidak berpikir seperti itu! Bukan maksudku sombong atau apa! Aku tidak bisa membalas chat darimu kemarin karena semalaman aku harus menghabiskan waktuku dengan menerima telepon dari Luvia!" balas Naruto membela diri.
Dan ketika Naruto memberikan jawabannya, tak hanya Tohsaka saja yang terkejut tapi Sakura juga. Mereka berdua secara refleks langsung menatap Naruto dengan raut wajah curiga, meski ada sebagian dalam hati mereka, mengatakan kalau mereka tidak percaya dengan alasan Naruto.
Lagipula untuk apa seseorang seperti Luvia menghabiskan malamnya untuk menelepon Naruto? Yang mana merupakan penyendiri di kelasnya, meski harus diakui bahwa popularitasnya meningkat jauh setelah dirinya mengalahkan Gilgamesh dengan seluruh murid sebagai saksinya.
"Hooh? Menelpon Edelfelt-san, ya? Jadi apa yang terjadi antara dirimu dan Edelfelt-san?"
"Dan senpai… sejak kapan kau mulai memanggilnya 'Luvia'? Sudah sedekat apa dirimu dengan Edelfelt-senpai?"
Tohsaka dan Sakura menunjukkan ekspresi yang tidak biasa dan itu mengakibatkan bulu kuduk Naruto merinding. Instingnya pun mengatakan bahwa dirinya dalam bahaya jika dia tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan kedua gadis ini. Tapi yang jadi masalahnya adalah… jawaban apa yang mereka inginkan? Karena jawaban jujur pun tidak selalu menjadi pilihan terbaik jika menghadapi situasi semacam ini.
"Kalau kubilang Luvia merubah sikapnya padaku karena dia mengingat kalau aku adalah teman masa kecilnya… apakah kalian akan percaya? A-Ah, tidak! Maksudku… apakah aku aman?"
Tanya Naruto memindahkan kursinya dan menjauhkan dirinya dari mereka berdua. Katakanlah tindakan ini merupakan upaya nya untuk menyelamatkan diri dari tatapan tajam mencekam kedua gadis itu.
"Ha…?" hanya itu yang keluar dari mulut mereka.
Di situasi semacam itu, Naruto tidak memiliki peluang untuk menyelamatkan diri dengan usahanya sendiri, tapi betapa beruntungnya dia, ketika suara pintu di ketuk oleh seseorang.
"Cih… masuk.."
'Terima kasih, kami-sama!' ucap Naruto dalam hati.
Naruto benar benar bersyukur saat mengetahui situasi menyelamatkannya. Mungkin dia harus berterima kasih kepada orang yang datang ke klub mereka. Dia mengangguk beberapa kali dengan sebuah senyum tipis.
"Selamat siang…"
Seorang lelaki dan seorang perempuan memasuki ruangan klub, Naruto membuka kedua matanya dan merasakan sebuah kekecewaan besar dalam hatinya. Rupanya, dua orang yang baru saja masuk adalah alasan kenapa dirinya berada dalam bahaya. Mereka berdua adalah Gilgamesh dan Luvia. Hanya sebuah ekspresi datar pasrah yang terukir di wajah Naruto, sedangkan Tohsaka dan Sakura langsung mengernyitkan alis mereka melihat sosok gadis tersebut.
"Gilgamesh-senpai… dan… Edelfelt-san…" ucap Tohsaka memberikan tatapan yang cukup dingin kepada Luvia.
"Ah, si Ratu Es… tenang saja, aku datang kesini bukan untuk mencari masalah denganmu! Aku hanya ada perlu dengan Naruto-kun! Yang punya urusan dengan klub ini adalah Gilgamesh-senpai…" ucap Luvia dengan nada yang terdengar ramah.
Tohsaka menyamarkan ekspresinya, seolah dia tidak peduli. Kemudian dia memberikan sebuah lirikan tajam kepada Naruto, dan tentu saja Naruto menyadari aura mencekam dari Tohsaka, meski gadis itu sudah menyamarkan ekspresinya.
"Jika kau memiliki keperluan dengan Murakami-kun yang saat ini sedang berada dalam aktivitas klub, itu artinya kau berurusan dengan klub nya juga,"
"Ha?" ucap Luvia dengan nada tidak suka.
"B-Bisa kita hentikan ini?" tanya Naruto yang kebingungan harus mengambil sikap seperti apa.
Tohsaka dan Luvia yang sudah melempar tatapan tidak suka satu sama lain akhirnya terdiam juga. Naruto menghela nafas lega, sama halnya dengan Sakura yang sejujurnya juga tidak nyaman, meski dia sendiri juga memiliki banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Naruto setelah ini.
"Jadi, Gilgamesh-senpai… ada urusan apa kau dengan klub kami?" tanya Naruto.
"Urusanku sebenarnya itu juga denganmu, bukan? Apa kau lupa dengan yang kukatakan kemarin? Aku sudah memberimu waktu seharian…"
Naruto terdiam saat itu juga. Sepertinya dia sudah menyiapkan jawaban, lagipula dia juga tidak memiliki pilihan lain, tetapi membicarakannya sekarang saat ada Sakura disini bukanlah hal yang tepat.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Tohsaka.
"Matou-san, bisa kau tinggalkan ruangan klub sebentar saja? Ada hal yang ingin kubahas dengan mereka… ini adalah sebuah rahasia yang tidak bisa kami katakan padamu,"
Ucap Naruto yang beruntungnya langsung disanggupi oleh Sakura. Gadis itu sendiri terlihat penasaran dan sedikit enggan untuk meninggalkan ruangan klub, akan tetapi ekspresi serius yang terpancar di wajah Naruto seolah memaksa dirinya untuk bergegas meninggalkan ruangan klub.
"Kenapa kau harus menyuruh Matou-san keluar?"
"Ini tentang nama Namikaze ku yang dijadikan bahan negosiasi oleh keparat ini," ucap Naruto dengan nada kesal.
Gilgamesh tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika Naruto memanggilnya 'keparat', sedangkan Tohsaka sedikit terkejut mendengar pernyataan Naruto. Dia menghela nafas sejenak dan kemudian melanjutkan, "Baiklah, ceritakan padaku…"
Setelah itu, Naruto menceritakan semuanya kepada Tohsaka dan tentu saja Tohsaka paham hingga ke titik dimana dia tahu bahwa Naruto tidak akan bisa menolak kesepakatan yang sudah dibuat oleh Gilgamesh. Oleh karena itu, Naruto hanya bisa berpasrah diri menjadi seorang relawan membantu klub basket sekolah sebagai tugas anggota klub sendiri.
.
.
.
.
.
Saat ini, hari sabtu yang cerah
Hari dimana Naruto biasanya menghabiskan waktu dengan bersantai santai di apartemennya. Tapi kesenangan yang biasanya dia lakukan itu lenyap saat ini. Dia sedang memandangi langit langit gedung olahraga milik sekolahnya sambil membayangkan betapa menyenangkannya hari sabtu santai yang biasanya dia jalani selama ini. Di hadapannya ada beberapa anggota klub basket, mulai dari tahun pertama hingga tahun kedua.
Rata rata pemain tahun ketiga sudah berhenti karena mereka sudah fokus dengan ujian dan hal lain semacamnya, tapi tidak dengan Gilgamesh. Yang paling mencolok dari semua orang yang ada disana adalah dirinya. Tak memiliki niat atau keinginan untuk bermain, namun bisa menjadi anggota tim inti klub basket saat ini. Tentunya hal itu menimbulkan beberapa pertentangan di kalangan anggota tahun pertama dan tahun kedua.
"Terima kasih sudah melibatkanku dalam urusan yang merepotkan semacam ini, Naruto…" ucap Neji yang sudah mengenakan seragam tim basket sekolah.
"Aku tidak menyangka kalian berdua akan masuk sebagai anggota utama tim basket. Apakah akan baik baik saja ya? Memasukkan dua anggota baru jadi tim inti itu sedikit…"
"Tenang saja, seluruh anggota tim basket sudah membuka mata mereka apalagi setelah melihat permainan Naruto dan Neji…"
"Hanya kau dan Siegfried yang anggota asli dari tim basket… itu artinya kau perwakilan tahun ketiga dan Siegfried sebagai tahun kedua ditambah dengan adanya aku dan Neji. Lalu siapa pemain terakhir?"
Baru lah mereka teringat dengan pemain terakhir yang akan melengkapi tim utama dari klub basket Sobu Gakuen. Ketika menanyakan itu, Gilgamesh hanya terdiam. Siegfried sudah menebak nebak siapa orang yang dipilih oleh Gilgamesh untuk bergabung dengan tim.
"Maaf, aku terlambat Gilgamesh-senpai! Siegfried-senpai! Dan senpai yang lain!" ucap seorang laki laki yang baru saja datang.
"Sudah kuduga pasti kau orangnya, Fujimura…" ucap Siegfried.
Naruto dan Neji melihat wajah itu dan mereka teringat dengan sebuah pertandingan saat mereka berada di divisi SMP. Ada sebuah sekolah yang tidak begitu terkenal akan basketnya, akan tetapi tim basket Naruto dan Neji mengalahkan tim basket sekolah itu dengan cukup sulit saat turnamen regional. Penyebabnya adalah salah seorang pemain lawan yang lebih muda setahun dari mereka. Dan orang itu kini muncul di hadapan keduanya.
"Kau…" ucap Neji.
"Ah, lama tidak berjumpa… Naruto-senpai, Neji-senpai!"
Dan tampaknya mereka memang tidak salah, laki laki itu juga mengenali Naruto dan Neji.
"Sebenarnya aku sering melihat Naruto-senpai di sekolah, tapi pertemuan pertama kita… ah, mungkin senpai tidak ingat tapi sebelumnya tim basket kita pernah bertanding di turnamen regional saat SMP,"
Ternyata memang benar, bagaimana bisa Naruto dan Neji melupakan pertandingan itu. Meski mereka tetap menang dengan keunggulan yang cukup jauh, mereka tidak akan pernah melupakan pemain lawan yang bermain sebagai Small Forward saat itu. Mereka beberapa kali dibuat kerepotan dengan pergerakannya, bahkan Sasuke sendiri mengakuinya.
"Small Forward dari SMP Kitayama… Fujimura Ritsuka," ucap Neji.
"Eh, senpai mengenaliku?"
Gilgamesh dan Siegfried tidak terkejut kalau mereka berdua bahkan mengenali Fujimura meski dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung yang besar. Bagi Naruto dan Neji sendiri, Fujimura memiliki kualifikasi yang hampir sepadan dengan mereka berdua untuk dipilih oleh Sasuke seandainya dulu Fujimura memutuskan untuk masuk ke Konoha Gakuen.
"Tak kusangka kau akan masuk ke sekolah ini… kenapa kau tidak masuk ke sekolah dengan klub basket yang lebih hebat? Apalagi klub basket sekolah ini tidak memiliki pelatih, hanya seorang pembimbing klub yang bertugas sebagai penanggung jawab saja," ucap Naruto seolah merendahkan klub basket Sobu Gakuen.
"Aku juga setuju dengan si pirang ini… kau menyia nyiakan bakatmu,"
Sejujurnya semua pujian yang datang dari Neji dan Naruto, hanya membuat Fujimura malu. Kepribadiannya sendiri sebenarnya cukup unik, dia adalah anak yang bersemangat namun juga cukup pemalu.
"S-Senpai, terlalu memujiku… aku tidak sehebat itu,"
Yang jadi pertanyaan adalah Neji tidak pernah melihatnya lagi sejak tahun ketiga, pada saat Naruto juga sudah berhenti bermain basket. Tim basket mereka mengikuti turnamen di tahun terakhirnya saat SMP dan dikalahkan lagi oleh Amakusa. Akan tetapi mereka sempat bertemu dengan SMP dimana Fujimura berada saat di turnamen regional. Dan dia tidak melihat Fujimura bermain.
"Kupikir kau sudah berhenti bermain sejak pertemuan terakhir sekolah kami dan sekolahmu… aku tidak melihatmu waktu itu,"
"Ah, uhm… saat itu aku sedang cedera. Jadi aku tidak bisa ikut dalam turnamen,"
Begitulah sedikit basa basi mereka sebelum mulai berlatih. Siegfried ingin menghentikan nya disana tapi matanya tiba tiba tertuju ke salah satu sudut lapangan, dimana ada 3 orang gadis disana seolah akan menonton mereka latihan. Dia tidak heran dengan kehadiran salah seorang dari gadis yang ada disana, tapi untuk sisanya perlu dipertanyakan.
"Hei, kalian… adakah salah satu dari kalian yang memanggil mereka kemari?" tanya Siegfried dengan raut wajah heran dan bingung sambil menunjuk ke arah ketiga gadis tersebut.
"T-Tohsaka, Luvia dan Matou-san?"
Yang pertama kali menyebutkan ketiga nama gadis itu adalah Naruto. Sikapnya berubah seketika, begitupula dengan ekspresi nya yang nampak tidak nyaman melihat kehadiran dari tiga gadis itu. Setelah disadari kehadiran mereka, ketiga gadis itu berjalan ke arah lima pemain utama tim basket yang sudah berdiri di lapangan, sedangkan sisa pemain cadangannya sedang duduk diluar lapangan.
"Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Naruto kepada Tohsaka dan Sakura.
"B-Bukannya aku datang untuk menyemangatimu atau apa ya! Jangan salah paham! A-Aku hanya menganggap ini juga tanggung jawabku sebagai anggota klub relawan untuk hadir mengawasimu!" ucap Tohsaka memalingkan wajahnya yang terlihat memerah.
Dalam hati, Naruto hanya bisa mengatakan, 'Wah benar benar tsundere yang konsisten dari dulu hingga sekarang…'
"K-Kalau aku memang datang untuk menyemangati senpai! A-Aku juga sudah membuatkan bekal untuk senpai," ucap Sakura sambil membawa sebuah bekal makan siang yang telah dia siapkan untuk Naruto.
"Tunggu sebentar! Disini, akulah manager nya! Jadi kurasa mereka harus makan bekal yang telah kusiapkan karena aku yang bertanggung jawab dengan apa yang dikonsumsi oleh mereka berlima!" ucap Luvia ketika melihat tempat bekal makan siang yang dibawa oleh Sakura.
Sebenarnya tidak hanya Sakura dan Luvia yang secara khusus membuatkan bekal untuk Naruto, tapi juga Tohsaka yang diam diam menyembunyikan bekal makan siang buatannya yang juga dia siapkan untuk Naruto. Hanya saja, katakan lah dia terlalu malu untuk menunjukkannya. Dia mencoba mencari alasan yang tepat agar dia tidak terkesan membuatkan Naruto bekal karena keinginannya sendiri.
"Tunggu, Edelfelt-san… Murakami-kun adalah bagian dari Klub Relawan, jadi dia adalah tanggung jawab kami!" ucap Tohsaka menekan Luvia.
"Tapi sekarang dia berada dalam asuhan tim basket yang mana semua makanan yang dikonsumsi olehnya selama masa latihan di tim basket, harus menjadi tanggung jawab klub basket!"
Neji yang melihat pemandangan semacam itu hanya merasakan kekonyolan entah kenapa. Sedangkan Siegfried justru terheran heran dengan sikap ketiga gadis tersebut. Dia kemudian memalingkan wajahnya ke arah Naruto dan bertanya.
"Apa efek dari pertandinganmu tempo hari sampai sehebat ini? Hanya dalam waktu singkat kau langsung populer di kalangan gadis gadis yang terkenal di sekolah,"
"Jangan konyol… aku tidak pernah menginginkan hal semacam ini," ucap Naruto pasrah.
Pada akhirnya mereka semua hanya bisa menonton dengan ekspresi kebingungan. Berbeda dengan anggota tim basket yang lainnya, mereka terlihat iri dengan posisi Naruto. Ada satu sisi di hati mereka yang menjaga sebuah keinginan terpendam. Keinginan apa itu? Tentu saja menghajar Naruto, memangnya apalagi? Sejauh yang mereka ketahui, Naruto adalah laki laki suram yang seketika jadi populer hanya karena beruntung sudah mengalahkan Gilgamesh dalam pertandingan resmi.
Karena tak tahan dengan suasana tersebut, pada akhirnya Gilgamesh mengambil alih suasana setelah dirinya menghembuskan nafas dengan nada yang terdengar kesal.
"Hentikan! Naruto atau kami berempat ada disini bukan untuk menjadi obyek perdebatan kalian… masalah yang kalian perdebatkan, silahkan kalian simpan untuk nanti! Jangan ganggu latihan kami!"
Untuk kali ini Naruto, Fujimura dan Siegfried benar benar menghormati Gilgamesh karena berani bertindak tegas kepada ketiga gadis itu. Namun yang tidak mereka sadari adalah tindakan Gilgamesh barusan merupakan sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan. Begitu mereka melihat ke arah Luvia dan Tohsaka, keduanya sudah mengeluarkan aura sedingin es dengan tatapan setajam pisau.
"Ohh… barusan kau membentak kami, senpai?"
"Wah, ternyata kau memiliki keberanian yang besar…"
Keduanya berada di dalam kondisi dimana Naruto, Siegfried, Fujimura bahkan Neji tidak mampu untuk menghentikannya. Gilgamesh yang sadar akan perbuatannya, memasang ekspresi bingung lalu dia melihat ke arah keempat rekan setimnya yang sudah pergi menjauh darinya. Dia hanya mengutuk mereka berempat dalam hati, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah dua gadis yang mengintimidasinya.
'M-Merepotkan…'
.
.
.
.
.
Suara bola basket yang dipantulkan ke lantai dan decitan yang berasal dari sepatu basket terdengar berkali kali. Teriakan para pemain juga mengiringi sepanjang latihan. Derasnya keringat yang keluar di tubuh mereka juga menandakan bahwa mereka benar benar sedang melakukan latihan. Skor yang tercetak disana menunjukkan selisih yang cukup jauh, 101 – 31 untuk kemenangan tim utama.
Pencetak angka terbanyak adalah Neji disusul oleh Fujimura dan Siegfried, namun tak bisa dipungkiri kalau semua angka yang bisa dicetak oleh mereka adalah berkat menara kendalinya… Naruto.
"Aaahhhh, melelahkan… mereka benar benar kuat!" ucap salah seorang anggota klub basket tahun pertama yang menjadi lawan tanding tim utama hari ini.
"Apa mereka benar benar murid SMA? Bahkan meski keringat yang keluar sederas itu… nafas mereka benar benar terjaga sepanjang pertandingan,"
Pada akhirnya quarter keempat berakhir dengan skor yang 101-31 untuk kemenangan tim utama. Senyum puas terukir di wajah Gilgamesh, seolah mengatakan bahwa dia sungguh percaya kalau tim inilah yang akan membawakan kemenangan padanya di turnamen nasional terakhirnya.
"Kerja bagus, semuanya!" ucap Gilgamesh.
Naruto, Siegfried, Neji dan Fujimura pergi ke pinggir lapangan dan menerima handuk serta minuman dari Luvia.
"Bagaimana menurutmu, Neji?" tanya Naruto.
"Tidak buruk… justru kurasa kita memiliki kesempatan meski permainan kita saat ini masih belum cukup meyakinkan untuk mengatakan 'Kita pasti menang'…" jawab Neji.
"Dengan siapa yang kau maksud…?"
"Keduanya… baik Konoha maupun Apocrypha,"
"Apa tim basket Konoha sudah sejauh itu menyusul Apocrypha?" kali ini Siegfried yang bertanya.
"Mereka sudah berkembang jauh sejak terakhir aku meninggalkan Konoha. Bahkan kepindahanku mungkin tidak akan membawa pengaruh besar bagi Konoha Gakuen yang sekarang," jawab Neji.
Perbincangan singkat mereka selesai, mereka bergegas menuju kamar mandi untuk membilas tubuh mereka.
Latihan pada hari itu berlangsung dari pagi hingga sore hari, hanya sebuah latihan pertandingan biasa dengan tim cadangan untuk membentuk kerja sama dalam tim yang baru saja terbentuk. Setidaknya dari latihan pada hari ini, mereka sudah menentukan formasi yang tepat untuk tim mereka. Naruto akan mengambil posisi sebagai Point Guard, Siegfried dengan posisi nya sebagai Power Forward, Neji sebagai Shooting Guard, Fujimura sebagai Small Forward dan Gilgamesh sebagai Center.
Ada kemungkinan untuk mereka saling berganti posisi selama pertandingan tapi sejauh ini, itu adalah formasi dasar mereka. Masing masing dari mereka pun memiliki kemampuan yang baik terutama Naruto dan Neji.
Setelah sebagian besar anggota tim basket pulang, hanya tersisa kelima pemain utama beserta Tohsaka, Luvia dan Sakura. Sebenarnya Gilgamesh juga sudah selesai mengemasi barang barangnya namun dia seolah menunggu orang orang yang masih tersisa disana.
"Setelah ini, kemana kalian akan pergi?" tanya Gilgamesh.
"Entahlah, mungkin pulang?" balas Naruto sambil mengemasi barang barangnya.
Yang lainnya tidak menjawab karena satu jawaban Naruto sudah mewakili sisanya.
"Setelah ini ikutlah denganku jika kalian tidak ada rencana, aku ingin membahas tentang strategi tim dan seputar turnamen…" ucap Gilgamesh.
Nampaknya tidak ada yang keberatan dengan permintaan Gilgamesh yang mendadak ini.
"Aku tidak masalah… tapi bagaimana dengan ketiga gadis ini? Apa mereka lebih baik pulang atau ikut dengan kita? Karena bagaimana pun Luvia adalah manager tim kita," ucap Naruto.
"Naruto-kun! Tentu saja aku akan ikut… ini sudah tanggung jawabku sebagai manager untuk mendampingi kalian!" ucap Luvia dengan wajah yang antusias.
"Aku juga ikut! Aku khawatir jika gadis ini memberikan saran yang bukannya membantu tapi justru merepotkan," tambah Tohsaka.
"A-Aku juga akan ikut…" kali ini giliran Sakura.
Naruto tidak terbiasa dengan sikap Tohsaka yang seperti ini. Sejujurnya, sebelumnya dia terasa lebih dingin dan tajam tapi entah kenapa sejak Luvia bersikap baik kepada Naruto, Tohsaka juga sedikit berubah. Dia yang biasanya tidak peduli jadi mulai aktif.
"Jadi, kurasa tidak ada yang keberatan…" ucap Gilgamesh.
Dengan saran dari Naruto atau lebih tepatnya… keinginan darinya pribadi, pada akhirnya mereka memutuskan untuk membahas mengenai tim basket dan ke depannya di sebuah kedairamen yang cukup terkenal di daerah dekat sekolah mereka, Ramen Ichiraku.
.
.
.
.
.
"Murakami-kun… kusarankan kau untuk menjauhkan diri dari gadis sepertinya," ucap Tohsaka dengan ekspresi dingin tapi terlihat sebuah pertigaan di dahinya menandakan dia menahan emosinya.
Saat ini Naruto sedang digandeng erat oleh Luvia tanpa perlawanan sedikit pun dari Naruto. Dia juga sebenarnya sudah mencoba melepaskan tadi dan dia sadar bahwa percuma saja baginya untuk menolak karena pada akhirnya akan sama saja. Sedangkan itu, bagi pria yang sebelumnya menjadi incaran Luvia, Siegfried… dia merasa sedikit aneh meski sejujurnya dia juga tidak masalah dengan hal itu. Sejauh ini dia masih menganggap Luvia hanya seorang teman.
"Sebenarnya… apa yang terjadi?" tanya Siegfried.
"Kalau kau bertanya padaku… lalu harus kepada siapa aku bertanya?" balas Neji.
"Tenang saja, Siegfried-kun! Kita masih bisa berteman…"
Luvia mengucapkan itu dengan santainya dan hal itu sedikit menimbulkan perasaan aneh di hati Naruto. Walau pada akhirnya, sekali lagi… dia hanya bisa mengikuti alur takdir yang sudah disiapkan untuknya. Bagaimana dengan Sakura? Sebenarnya gadis ini adalah gadis yang pemberani. Buktinya dia bahkan bisa menyatakan perasaannya kepada Naruto dan masih bisa bertahan meski sudah ditolak olehnya. Bahkan dia memutuskan untuk masuk ke klub yang sama.
Hanya saja, dalam posisi seperti ini… dia bingung harus bertindak seperti apa. Apalagi jika lawannya adalah seorang senpai yang terkenal di sekolahnya.
"Luvia-san… apa kau tahu yang namanya etika dan sopan santun? Ada baiknya laki laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan hubungan apapun… lebih menjaga jarak satu sama lain!" ucap Tohsaka yang rasanya ingin memisahkan Luvia dari Naruto tapi terbentur oleh harga dirinya yang terlalu tinggi.
"Sudah kubilang, aku dan Naruto-kun adalah teman masa kecil!"
Pada akhirnya perdebatan itu tidak akan selesai sebelum mereka berpisah. Sesungguhnya yang paling terganggu disana bukanlah Naruto, tapi keempat laki laki lainnya yang seolah benar benar tidak diperhatikan meski disana ada tiga gadis. Tatapan demi tatapan orang orang di sepanjang perjalanan mereka, mengindikasikan kalau mereka mengasihani keempat laki laki itu dan mengutuk Naruto dalam hati.
Penyiksaan itu akhirnya selesai setelah mereka sampai di Ramen Ichiraku. Mereka semua masuk ke dalam dan pelayan wanita disana yang sebenarnya adalah anak dari pemilik kedai ramen itu menyapa mereka dengan ramah.
"Tempatnya cukup besar juga ternyata…" komentar Gilgamesh.
"Aku lapar sekali… dan aroma ramennya benar benar membuatku semakin lapar," ucap Fujimura dengan tampang kelaparan.
"Sudah lama aku ingin kesini… kudengar ramen disini sangat enak," ucap Siegfried.
"Berbeda denganmu, saat SMP… aku sering sekali diseret oleh Naruto untuk makan disini bersama dengan rekan setim kami yang lain," balas Neji.
Gilgamesh, Fujimura, Siegfried dan Neji sudah lebih dulu duduk di salah satu meja, sedangkan Naruto dan ketiga gadis yang baru saja masuk ke dalam terhenti di depan pintu karena Naruto yang tiba tiba menghentikan langkahnya setelah dia mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut di dalam kedai. Matanya tertuju kepada seorang wanita cantik yang duduk di bagian pojok ditemani oleh seorang gadis yang memakai seragam sekolah mereka.
Naruto terdiam dan hanya menunjukkan ekspresi datar. Luvia, Tohsaka dan Sakura memperhatikan arah tatapan Naruto lalu menyadari sesuatu.
"Kenapa mereka berdua ada disini…?" tanya Luvia dengan ekspresi cukup terkejut.
Sedangkan itu, dari meja Gilgamesh dan yang lain… Fujimura melambaikan tangannya ke arah Naruto dan ketiga gadis lainnya. Karena ikut penasaran, Neji yang menganalisa tatapan Naruto akhirnya juga mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut, tempat perhatian Naruto singgah sekarang.
'Bukankah itu…' ucapnya dalam hati.
"Oi, Senpai-tachi! Matou-san! Apa yang kalian lakukan disana?"
Naruto tampaknya tidak mendengarkan panggilan dari Fujimura, justru gadis dengan seragam sekolah yang kini menjadi salah satu alasan Naruto terdiam, menolehkan wajahnya saat mendengar suara berisik disana. Gadis itu tidak lain adalah Jeanne, sepupu Naruto sekaligus senpai nya. Jeanne membuka matanya lebar ketika sadar kalau Naruto ada disana. Perasaan gelisah muncul di hatinya dan alasannya bukan karena dirinya bertemu dengan Naruto setelah dirinya menolak perasaan Naruto, melainkan jika wanita yang sedang bersamanya ini bertemu dengan Naruto.
"Bukankah itu…" ucap wanita itu ketika melihat Naruto.
Naruto masih terdiam disana mencoba bertindak setenang mungkin. Akhirnya dia memutuskan untuk berpura pura tidak melihat dan pergi berjalan ke meja kosong yang ada di sebelah meja Gilgamesh dan yang lainnya.
'Kaa-san…' sebutnya dalam hati.
TBC
Author Note :
Tes tes… Shiba desu. Bagaimana kabar kalian? Kuharap baik, maaf jika aku update terlalu lama. Kuliah benar benar membebaniku dan tiap kali aku memiliki ide, aku tidak memiliki hasrat untuk mengetik atau kadang aku memiliki hasrat, aku tidak memiliki ide. Ya itu cuma alasan sampah dari seorang author sampah yang lemah sepertiku. Apa yang ingin kubahas ya di chapter ini? Entahlah aku lupa… kuharap tidak ada typo karena aku tidak memeriksanya setelah selesai kutulis karena aku buru buru. Kalau pun ada, semoga tidak begitu mengganggu..
Semoga kalian suka dengan ceritanya… school life atau ya kisah sekolah yang cuma mengalir saja dan mungkin tidak istimewa juga di pikiran kalian… meski! Kenapa ya lebih banyak dari kalian yang memintaku update fic ini saja daripada Monarch of Despair.
Ya kebetulan aku sedang dapat hasrat menulis ini… dan hasrat ku menulis Monarch sedang habis. Tapi berikutnya mungkin aku akan update Monarch… entah minggu ini atau minggu depan atau bisa jadi dua minggu lagi… semoga tidak terlalu lama.
Itu saja dan ya doakan saja aku dan keluargaku tetap sehat supaya aku masih bisa melanjutkan fic ini. Pensi? Hmm, belum kepikiran sejauh ini. Tapi sebelum pensi maksudku… kalau pun aku akan pensi, setidaknya aku ingin fic ini tamat karena fic ini tidak akan sepanjang fic ku yang lain.
Paling paling.. mentok cuma sampai chapter 25-30 kurasa atau mungkin tidak sampai. Ya entahlah, lihat saja… Mohon kerja samanya untuk memberikan review kalian, terima kasih. Dan aku ingin tahu kalian Team siapa… #TeamTohsaka, #TeamJeanne, #TeamLuvia atau #TeamSakura.. ya aku cuma gabut dan ingin tahu saja. Silahkan cantumkan di review kalian wkwkwk.
See u in next chap
