Tidak seperti orang kebanyakan yang membenci hari senin. Soonyoung adalah satu dari sedikit insan yang membenci hari selasa.

Hari selasa adalah hari yang padat untuk Soonyoung. Ia adalah seorang pemimpin tertinggi Monteen Stage dan juga seorang mahasiswa magister yang sudah harus berurusan dengan persiapan penelitian.

Di hari selasa, Soonyoung harus melakukan kunjungan rutin ke kantor pusat Monteen Starge untuk rapat direksi minggunan yang dilaksanakan di hari Selasa pukul 8 pagi hingga 12 siang. Kelas Soonyoung dimulai dari jam 1 siang hingga jam 8 malam.

Efek pengambilan kelas yang salah, sehingga tiga mata kuliah langsung berada di hari selasa. Walau hal ini membuat hari senin, kamis, dan jumat tidak ada mata kuliah sama sekali, Soonyoung tetap merasakan beratnya hari selasa.

Soonyoung sudah mengganti pakaian kuliahnya dengan jas abu-abu yang terlihat santai karena ia membuka seluruh kait jas tersebut. Rambutnya yang biasanya turun terlihat ditata naik hingga menampilkan jidatnya yang mulus.

Sekretaris Soonyoung yang berjumlah 3 orang sudah menunggunya untuk turun dari mobil di depan gedung pusat Monteen Stage.

Bisa dikatakan sekretaris 1 mengurusi bagian Monteen Entertaiment, sekretaris 2 mengurusi bagian Monteen Broadcasting, dan sekretaris 3 mengurusi bagian Monteen Stage alias pusat.

"Selamat siang hyungnim."

Ketiga sekretaris itu menyapa Soonyoung dengan hormat ala Monteen Stage yaitu hormat dengan dua jari (telunjuk dan tengah). Terlihat swag dan tak sopan namun itu yang Soonyoung inginkan.

"Selamat siang juga Dongmyeong, Cya, Kanghyun. Yang lain sudah ada di ruang rapat?" Tanya Soonyoung.

"Sudah, hyungnim. Ming hyungnim, JR hyungnim, dan Ren hyungnim sudah berada di ruang rapat bersama yang lainnya." Kata Dongmyeong yang merupakan sekretaris pusat.

Mereka berempat berjalan masuk ke dalam gedung.

Di setiap langkah Soonyoung, ia selalu mendapatkan bentuk hormat dan sapaan dari pegawainya dalam bentuk hormat dengan dua jari. Tentu saja Soonyoung tersenyum lebar membalasnya.

Mereka berempat masuk ke dalam lift.

Soonyoung memasuki ruang rapat. Ketika ia masuk, seluruh orang yang ada disana memberi hormat kepadanya dalam posisi duduk santai mereka.

"Yohoo, selamat siang semua. Mari kita mulai." Ucap Soonyoung yang sudah duduk di kursi utama.

Soonyoung bisa melihat sang dongsaeng, Mingyu yang duduk di kursi CEO Monteen Stage yang ada sisi kiri meja persegi panjang itu.

Di ruangan ini hadir CEO Monteen Broadcasting yaitu Kim Jonghyun atau yang biasa dipanggil JR, CEO Monteen Entertaiment Choi Minki atau yang biasa dipanggil Ren, beserta deretan manager mereka.

Hubungan Soonyoung, Jonghyun, dan Minki adalah lebih dari kolega bisnis. Mereka berteman sejak Soonyoung masuk ke sekolah menengah atas dimana Jonghyun dan Minki adalah kakak kelasnya.

Semenjak orang tua Soonyoung dan Mingyu meninggal, banyak petinggi yang sudah berumur memilih mengundurkan diri.

Yah mungkin karena mereka sudah terikat dengan orang tua Soonyoung atau mereka memang tidak mau dipimpin oleh sesosok remaja macam dirinya.

Maka dari itu Soonyoung mengambil tindakan untuk mengangkat orang-orang yang berbakat dan tidak terpaut umur yang jauh darinya untuk posisi yang kosong.

Bukankah menyenangkan bekerja dengan yang mengerti dirimu sepenuhnya?

Kebetulan saat itu Jonghyun dan Minki sudah bekerja di Monteen Stage yang mana Jonghyun sebagai General Manager dan Minki menempati posisi Human Resource Manager.

Rata-rata umur pekerja di Monteen Stage dan kedua anakannya adalah 22,1 tahun.

Ingat ketiga sekretaris Soonyoung tadi? Dongmyeong, Cya, dan Kanghyun masih berumur 18 tahun namun sudah bekerja disini berkat lamaran yang mereka lakukan walau hanya lulusan sekolah kejuruan.

Motto pekerja Monteen Stage adalah You've Kiss atau 'Young, Brave, Kind, Sexy, and Swag.'

Bahkan di Monteen Stage dan cabangnya, Soonyoung membuat peraturan untuk memanggil satu sama lain dengan panggilan keren. Seperti JR, Ren, Ming, dan Soonyoung sendiri dipanggil Hoshi.

Rapat mengambil konsep santai tapi serius. Bahkan keempat petinggi ini melepaskan panggilan formal jika berbicara.

Mungkin para manager muda masih terlalu kaku untuk melepas keformalan, namun yakinlah mereka sedang berusaha juga.

"Aku duluan oke. JR hyung tak bisa menolak, aku harus mengurus boy group yang mau debut." Ucap Minki kala Jonghyun sudah akan mengucapkan sesuatu.

Jonghyun menyerah dan mempersilakan Minki untuk berbicara.

Minki yang mengenakan blouse berwarna kuning terang itu tersenyum cerah. Apalagi rambutnya yang berwarna pirang juga membuat perpaduan yang menyakitkan mata sesungguhnya.

Sosok cantik itu mulai melaporkan apa saja yang terjadi di Monteen Entertaiment secara umum.

Soonyoung dan Mingyu sesekali bertanya mengenai beberapa hal krusial. Namun semuanya terlihat aman terkendali.

Kini giliran manager Human Resouce milik Monteen Entertaiment maju ke depan layar untuk mempresentasikan laporannya.

'Ay nal ssogo gara

Sswa turn right

Swwa turn left'

Suara ringtone smartphone Soonyoung berbunyi.

Jangan anggap ia tidak sopan karena membiarkan teleponnya tetap berdering kala rapat seperti ini.

Saat rapat seperti ini, Soonyoung telah mensetting perangkat keras itu hanya akan berbunyi jika menerima telepon dari Jihoon. Dengan syarat Jihoon harus menghubunginya lewat sistem panggilan darurat sehingga Soonyoung tahu bahwa sang tunangan memang sangat memerlukannya.

Soonyoung mengangkat tangannya untuk menghentikan rapat sebentar.

"Yeoboseyo Jihoonie…"

Tik

.

.

Tok

.

.

Tik

.

.

Tok

.

.

Tik

.

.

"MWO?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tertawa secara diam-diam. Menangis dalam diam.

Awan terlukis dengan sangat cantik di atas sana. Melayang kesana kemari mengikuti gerakan angina yang lambat.

Matahari menyinari dunia dengan hangat membuat siang hari ini bukanlah suasana yang terik dan menyengat.

Cantik.

Satu kata untuk suasana hari ini.

Namun….

Tak pernah dibayangkan bahwa menyembunyikan keadaan ternyata sesulit ini.

Hari ini seperti biasa, tidak ada kata-kata yang bisa dengan keras ia ucapkan. Tak ada keberanian untuk berteriak dan melepaskan beban. Ia hanya bisa menyimpannya dalam hati.

Rasa bersalah menjalar di hatinya dan ketakutan memenangi pikiran. Hanya bisa terefleksikan dalam dirinya yang bergetar tak karuan.

Ini sangat berat. Beban dalam pikirannya sangat berat. Hari-hari terus berjalan tak terkendali.

Apa yang harus ia lakukan?

Keberadaannya tak berarti dan melarikan diri adalah satu-satunya cara?

Sosok itu terdiam di pinggiran jalan.

Langkah kakinya dengan perlahan menapaki jalan.

Pandangannya kosong dan pikirannya melayang entah kemana.

"Himdeureo… I will be free…" Lirihnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TIINNNNNNNN…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BRAK…