Saat Jeon Jungkook terbangun, yang dirasakannya adalah angin yang menyapa lembut. Tanah dengan rumput yang menjadi alasnya sumgguh nyaman, seolah ingin Jungkook untuk tetap berada pada posisinya, berbaring di sana, selamanya. Sinar matahari hangat memeluk, memberikan kasih sayang dan kehangatan semesta.

Nyanyian yang begitu menenangkan terdengar oleh telinga, dan kewarasan seakan dilemparkan kembali padanya.

Sosok yang masih mengenakan pakaian berwarna merah dengan sayap putih bernoda darah tergesa mendudukkan diri. Bertahan dengan netra yang tak berguna, juga sepasang sayap yang dapat merasakan semesta, pria bersurai tembaga itu menolehkan kepalanya ke segala arah. Ia mencoba untuk mencari sumber dari lantunan yang entah bagaimana terasa begitu akrab dengannya. Diyakininya, suara menenangkan itu pernah bergaung di telinga, dinyanyikan oleh seseorang dengan amat lembut untuk menenangkannya.

Jantungnya berdegup kencang seakan-akan ia tengah disambut oleh seseorang yang, entah bagaimana, ia rindukan. Kalau saja sepasang bola mata sewarna arang itu masih menjadi miliknya, pasti sudah berkaca-kaca.

Beranjak dari tanah yang semula menjadi tempatnya memejamkan mata, penyandang marga Jeon melangkahkan kakinya. Ia begitu percaya kepada sepasang sayap milik Lucifer yang menuntunnya entah kemana. Sayap berwarna putih bernoda merah itu menarik perhatian makhluk-makhluk bersayap putih lain yang menatapnya, lalu berbisik kepada rekan di sebelahnya. Atau mungkin, sosoknya yang berpakaian merah dengan celana panjang dan alas kaki berwarna hitam pekat memang terlalu asing untuk berada di sana. Karenanya, ia menjadi buah bibir yang dipertanyakan kepentingannya berada di taman indah itu.

Di tengah pencariannya terhadap suara nyanyian dan tatapan penasaran dari para makhluk bersayap di sekelilingnya, ia mendengar nama Luciel berulang kali disebutkan.

Jungkook abai, meski jelas nama itu terlampau mirip dengan nama seekor iblis yang begitu dikenalnya.

Ahh, mungkin penyandang marga Jeon itu saja yang terlalu percaya diri, merasa telah mengenal Sang Pangeran Kegelapan, meski pada kenyataannya, ia hanya merasa telah mengenalnya dengan sempurna. Meski pada kenyataannya, tindakan makhluk itu berhasil membuatnya bingung luar biasa, juga kecewa.

Ia lebih memilih untuk mengikuti langkah kakinya yang membawa ke sebuah telaga dengan air yang begitu jernih.

Beberapa makhluk bersayap putih dengan pakaian berwarna senada berendam di sana. Sungguh, demi apapun yang dimilikinya, seluruh makhluk yang ia temui hari ini benar-benar tampak serupa. Dilihatnya, makhluk-makhluk itu sedang bersuka cita. Ada yang tengah bercengkrama dengan kawanannya di tepi telaga, ada pula yang memainkan alat musiknya untuk mengiringi mereka yang memilih untuk bernyanyi.

Ia bahkan melihat malaikat-malaikatdengan pakaian penuh noda darah. Para makhluk bersayap itu perlahan masuk ke dalam telaga, lalu dengan ajaib, noda berwarna merah pada pakaian dan sayapnya lenyap entah kemana. Luka-luka sekujur tubuhnya musnah seketika, goresan yang terlihat menyakitkan di wajah langsung menghilang begitu mereka membasuh muka di sana. Air telaga bahkan tetap jernih tanpa sedikitpun warna merah yang tertinggal.

Ahh, mungkin dari sinilah lantunan menenangkan itu berasal, dari para malaikat yang melantunkan puji-pujian.

Para malaikatkah?

Jadi, seperti ini Surga.

Sepasang sayap di punggung Jungkook mengepak satu kali, dan secara serentak, seluruh malaikat yang berada di sekitarnya langsung memusatkan perhatian.

Dada pemilik surai tembaga berdebar kuat saat ia merasakan sedikit dorongan yang seolah-olah memintanya untuk mandi di dalam telaga. Sayap berwarna putih bersih yang tengah terluka itu ingin merasakan air Surga yang dahulu selalu membasuhnya.

"Hentikan…" lirihnya hampir tanpa suara, entah kepada siapa.

Bagai dibisikkan mantra, sayap Lucifer berhenti meronta, lalu diam seperti yang diinginkan pemiliknya, menurut pada Jungkooknya.

"Kau sudah bangun rupanya."

Jeon Jungkook terkesiap. Ia membalikkan badannya dengan tergesa, lalu segera memasang posisi siaga dengan sebelah tangan yang melindungi perutnya kala mendapati sepasang malaikat tengah berjalan mendekat. Satu diantara keduanya adalah sosok yang coba ia dan Lucifer lumpuhkan, sementara satu lagi ialah malaikat yang dilihatnya berada di medan perang, namun hanya mengamati dari kejauhan.

Sekelebat bayangan mengenai sosok yang dilihatnya di rumah sakit di malam sebelum ia menyerahkan seluruh dunianya kepada Lucifer terlintas di pikiran. Dan ia menyadari bahwa malaikat yang dilihatnya malam itu adalah malaikat yang sama dengan malaikat yang sempat coba dibunuhnya bersama sang kekasih.

Menggelengkan kepalanya pelan, Jungkook coba menghindari ingatan mengenai kejadian yang membuatnya terkejut luar biasa sebelum ia berakhir menyerahkan jiwanya kepada kegelapan. Jujur saja, rasanya masih tetap menyakitkan di dada. Jeon Jungkook tak lagi merasa takut, namun trauma akibat keterkejutannya masih ada. Meski begitu, sisipan kebahagiaan selalu terasa kala mengingat kini malaikat kecil bersemayam di perutnya akibat dosa besar yang dilakukannya malam itu.

Mantan detektif Jeon seolah disadarkan, malaikatnya terlampau tenang. Darah daging sang Pangeran Kegelapan itu bahkan sama sekali tidak bergerak sejak ia terbangun beberapa saat yang lalu.

Dan ketika itulah, jantung penyandang marga Jeon terasa diremat kuat.

Kedua tangannya kini refleks menyentuh perut, mengelusnya lembut seakan coba membangunkan buah hati kesayangan yang tengah terlelap.

Gundukan yang biasanya selalu berulah itu diam. Bahkan hangat yang senantiasa menemani Jungkook selama masa kehamilan kini tak lagi mampu dirasakannya.

"Bayiku…" gumamnya perlahan dengan suara yang bergetar. Berulangkali coba ia mengusap area perut bagian bawah yang terlindungi pakaian berwarna merah, namun sapaannya tak juga mendapatkan sambutan yang diharapkan.

"Berendamlah, kita harus meluruhkan semua yang berbau iblis darimu."

Kaki Jungkook membatu.

Ia hanya bisa terdiam kala salah satu dari malaikat yang menghampiri, kini mencoba untuk menyentuhnya. Ia bahkan membiarkan tangan kotor itu membelai sayap milik Lucifer yang saat ini telah menyatu dengannya. Jujur, ada perasaan aneh ketika sosok malaikat itu tersenyum kepadanya.

Rasanya begitu familiar,

Begitu akrab,

Dan begitu penuh dengan kerinduan.

"Seraphiel, mari kita bantu ia berendam. Tidak baik jika darah iblis terlalu lama berada di Surga. Aku tidak mau sucinya Eden tercemar."

Nama malaikat itu Seraphiel, Jungkook akan mengingatnya.

Dan pemilik netra sebiru kristal yang barusan menegur adalah Michael, malaikat yang, seingat pria Jeon, coba membunuh dan dibunuhnya bersama sang pemilik Neraka.

Dan mungkin, sebentar lagi akan benar-benar membunuh bayi dalam kandungannya.

"Aku akan membantumu mengurus ini terlebih dahulu."

Seraphiel melepas blindfold yang menutupi area mata Jungkook, dan ia langsung meringis menahan ngeri kala melihat kelopak mata si manusia yang terlihat cekung dan menghitam. Guratan-guratan merah juga terlihat, pertanda bahwa daerah itu telah kehilangan banyak darah, dan sedang mencoba untuk pulih.

Katakanlah Jeon Jungkook adalah seorang pengecut lantaran ia hanya bisa mematung di depan kedua malaikat itu. Ia terlalu menginginkan malaikatnya sendiri untuk memberikan tanda-tanda kehidupan, dan keberadaan puluhan, atau bahkan ratusan ekor malaikat Surga di sekelilingnya membuat Jungkook tidak memiliki nyali meski hanya untuk sekedar melangkah. Apalagi, pemimpin bala tentara Surga sedang berada di hadapannya. Makhluk itu bisa kapan saja memerintahkan anak buahnya untuk membunuh bayinya, juga dirinya.

"Michael, ambilkan airnya."

Mantan detektif ternama itu melihatnya, ketika Michael berjalan turun ke dalam telaga, lalu menangkupkan kedua tangannya untuk mengambil air dari sana.

Dan saat pemimpin bala tentara itu berjalan mendekatinya, Jungkook berjenggit mundur lantaran merasakan bayinya berontak di dalam perut. Malaikat kecilnya merasa ketakutan, dan itu cukup membuat Jungkook lega lantaran ia tahu calon anaknya masih berada di sana.

"Kau akan baik-baik saja. Momma akan menjagamu." ucap sosok bersurai tembaga tanpa suara. Ia memberikan usapan lembut ke perutnya, lalu tersenyum tipis sambil menunduk seakan ia tengah memandangi calon bayinya dengan penuh kasih sayang.

"Angkat wajahmu."

Bagai terkena mantra, penyandang marga Jeon benar-benar mengangkat wajahnya usai mendengar perintah Seraphiel. Ia menyadari malaikat itu terseyum tipis, menunjukkan lesing pipinya. Seraphiel terlihat sangat ramah, sungguh. Namun ramahnya malaikat Surga terasa begitu berbahaya bagi Jeon Jungkook yang sudah merasakan nikmatnya sentuhan Neraka.

"Kau pasti sangat spesial sampai-sampai Luca memohon agar kau diterima di Surga." Seraphiel berujar tenang, ia meraup sedikit air di tangan Michael, lalu mengusapkannya ke sepasang mata Jungkook yang terpejam, kemudian ke bagian wajahnya yang terluka. "Kuharap kau hidup tenang di sini dan tidak berurusan lagi dengan segala sesuatu yang berbau iblis ataupun dosa."

Degup jantung Jungkook berpacu kuat. Usapan Seraphiel terasa begitu lembut. Entah karenanya, atau karena air telaga yang menyapu wajahnya, wajahnya terasa segar, begitupun pikirannya yang sempat kalut.

Michael lalu semakin mendekati Jeon, mengusapkan air di tangannya ke luka-luka di sayap yang semula milik adiknya. Secara ajaib, luka-luka itu pergi, dan sayap di punggung Jungkook kembali ke warnanya yang putih bersih dan memesona.

Jungkook mungkin tidak menyadarinya, namun warna kuit pada kelopak matanya kini juga telah kembali seperti semula, seperti ketika sebelum Lucifer mengambil bola matanya untuk kemudian diberikan kepada Asmodeus.

Mendadak nyeri itu kembali terasa ketika kejadian itu kembali berputar di dalam kepala, bersamaan dengan perasaan asing yang terjadi di area matanya.

Jeon Jungkook pikir, ia cukup setia kepada Sang Pangeran Neraka. Harapannya, supaya ia yang sudah jelas akan ditolak Surga bisa mendapatkan tempat untuk sekedar bersandar. Apalagi benih Lucifer sudah terlanjur tumbuh di dalamnya, dan ia tidak ingin menjadi seorang pembunuh bagi darah dagingnya sendiri. Sayang sekali, the fallen one seakan tak peduli dengan buah hati mereka dan malah melempar Jungkook jauh ke Surga.

Alasannya, supaya Jeon Jungkook bahagia selamanya.

Tidak tahukan Lucifer bahwa kebahagiaan Jeon Jungkook saat ini adalah terjebak di dasar Neraka bersama ayah dari malaikat kecilnya?

"Buka matamu."

Satu-satunya makhluk yang memiliki darah manusia di tubuhnya mengeryitkan dahi. Bukannya tidak mau melakukan apa yang Seraphiel katakan. Hanya saja, setelah konflik dengan Asmodeus waktu itu, Jungkook sama sekali tidak bisa membuka matanya. Lucifer membuatnya demikian, dengan tujuan agar luka yang diakibatkan oleh diambilnya bola mata dengan iris sekelam malam milik Jungkook membaik.

Di tengah keraguannya, senyum Seraphiel menjadi hal yang mampu meyakinkan si manusia untuk membuka mata. Michael yang mengangguk dengan dengusan kecil pun seakan coba untuk meyakinkan si setengah manusia bahwa membuka mata adalah hal yang harus dilakukannya.

Ia melakukannya perlahan, teramat pelan…

Dan benar saja, kelopak matanya kembali terbuka untuk pertama kalinya, menunjukkan sepasang mata dengan iris jernih sebiru kristal yang mengagumkan, sama persis seperti warna mata para malaikat di sekelilingnya yang tengah menatapnya takjub.

Michael tersenyum tipis, sementara senyum di bibir Seraphiel semakin lebar.

Malaikat berlesung pipi itu bahkan mengusap sudut mata Jungkook, memastikan bahwa mata baru Jeon berfungsi sebagaimana mestinya. Warna kehitaman di sekitar netranya pudar, benar-benar menyisakan keindahan Surga di tengah damainya taman Eden.

Dan memang benar, indera penglihatan Jungkook kini bekerja sebagaimana mestinya.

Jeon Jungkook yang tadinya sudah bisa melihat dengan sepasang sayap milik the fallen one, kini memiliki sepasang netra yang membuat penglihatannya semakin sempurna.

"Masuklah ke dalam telaga, kita perlu melenyapkan darah iblis yang mengalir di dalam dirimu."

Michael mengatakannya di sela senyuman, namun itu sungguh menjadi horror paling menyeramkan yang Jeon Jungkook alami. Apalagi ketika Michael dan Seraphiel sama-sama melirik gundukan di perutnya yang mendadak terasa kram. Kakinya yang tak bisa bergerak lagi-lagi membuatnya hanya mampu membatu.

Melenyapkan darah iblis yang ada di dalamnya berarti meluruhkan kandungannya.

Jeon Jungkook tidak akan mau membunuh malaikat kecilnya.

Bodohnya ia hanya bisa melangkah mengikuti Michael dan Seraphiel yang menuntunnya berjalan menuju tepi telaga. Saat itu juga, para malaikat yang tadinya berendam mulai keluar dari sana, seakan memberi kesempatan bagi Jungkook untuk membunuh darah dagingnya di sana, lalu menyaksikannya sambil bersuka cita. Mereka yang masih terluka bahkan rela menunggu makhluk setengah manusia untuk menikmati aksi pembunuhan yang hendak dilakukannya.

Ujung sepatu Jungkook masuk ke dalam air, dan benda itu mulai larut di dalamnya. Sepasang kaki Jungkook merasakan dingin yang begitu nyaman, dingin yang menyambutnya, dingin yang menawarkan kebahagiaan Eden yang abadi.

Di sebelah kirinya, Michael memegang lengannya dengan lembut, sementara Seraphiel menuntun lengan kanannya dengan hati-hati. Keduanya yang berpakaian serba putih ikut masuk ke dalam telaga, menyertai Jungkook yang berjalan menyusuri jernihnya air yang semakin dalam.

"Tenang saja, kau tidak akan telanjang." Michael terkekeh saat merasakan langkah Jungkook berhenti, bersamaan dengan pakaian pemberian Lucifer yang lenyap hingga bagian pahanya. "Kain dari Surga akan langsung memelukmu begitu seluruh tubuhmu terendam air."

Jungkook masih diam, dengan sepasang tangan yang kini memegangi perutnya yang semakin terasa kram. Pandangannya kosong, sejalan dengan pikirannya.

"Kau boleh menutup mata jika merasa takut."

Ucapan Michael mengingatkannya kepada seseorang.

Ucapan yang dulu diucapkan oleh Kim Taehyung begitu membekas hingga saat ini karena kata-kata itulah yang meyakinkannya bahwa menyerahkan dunianya kepada Penguasa Neraka adalah keputusan paling tepat yang harus diambilnya.

Saat ini, haruskah ia mengikuti kata-kata Michael juga?

Atau… inikah pertanda bahwa Jeon Jungkook harus selalu mengingat Lucifer di dalam hatinya?

Apa yang bajingan itu katakan kepadanya?

Apa yang bajingan itu ingin Jeon Jungkook lakukan?

Di tengah kebimbangannya, genggaman di kedua lengan pemolok surai tembaga terlepas, lalu Seraphiel bergerak hingga kini berdiri tepat berhadapan dengannya. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh puncak kepala Jungkook. Perlahan ia menekannya lembut, seolah memberi isyarat supaya makhluk setengah manusia dengan darah iblis yang mengalir tubuhnya mulai berlutut dan menenggelamkan dirinya ke dalam telaga.

Bersamaan dengan itu, nyanyian para malaikat mulai menggema. Jungkook bahkan melihat dan mendengarkan secara langsung Seraphiel yang begitu dekat dengannya bernyanyi.

Suaranya merdu, sungguh.

Namun itu berhasil membuat penyandang marga Jeon merasa takut luar biasa.

Mungkin, hanya mungkin, Jeon Jungkook akan dibaptis langsung oleh salah satu malaikat tertinggi di Surga.

Mungkin, hanya mungkin… Jeon Jungkook harus melakukannya sambil bersimpuh karena dirinya sudah benar-benar kotor dan berdosa lantaran mengandung keturunan iblis.

Memejamkan matanya, suara nyanyian para malaikat yang mengiringi proses penyuciannya membuat ulu hati Jungkook terasa nyeri.

Ia ingat betul lantunan ini.

Adalah Lucifer, iblis yang telah ditendang dari Surga yang telah memperdengarkan lagu dengan bahasa yang tak ia pahami ini, entah sengaja atau tidak. Yang jelas, malam itu, malam dimana ia terbangun usai tak sadarkan diri lantaran melihat sosok malaikat untuk pertama kali, ia mendengar Lucifer bernyanyi.

Jika saja saat ini Jeon Jungkook tidak sedang berada di taman Eden dan mendengar secara langsung lantunan lembut para malaikat, ia tak akan pernah tahu bahwa Lucifer masih mengingat sebagian kecil dari Surga, tempat tinggalnya sebelum terjebak di dalam Neraka.

Dan sebentar lagi, lagu yang saat itu menenangkan resahnya akan menyambut keping hatinya yang remuk kala darah dagingnya lenyap begitu saja.

Jungkook memejamkan mata, lututnya yang sedikit menekuk terasa kaku dan nyeri luar biasa.

Ia menyayangi bayinya. Meski makhluk yang masih berada di dalam kandungan itu sering menyusahkannya, keberadaannya sudah menjadi bagian dari Jungkook. Ia terlampau menyayangi setan kecil keturunan Lucifer, terlalu terbiasa dengan keberadaan darah dagingnya sampai-sampai Jeon Jungkook keberatan untuk meluruhkannya meski tinggal di Surga adalah bayaran yang akan ia dapatkan.

Yang paling penting, Jeon Jungkook berjanji kepada kekasihnya untuk selalu mejaga buah hati mereka, apapun yang terjadi.

Dan seolah disadarkan, manusia yang kini memiliki sepasang kristal di bola matanya itu mendongakkan kepala.

Benar, Lucifer memintanya menjaga malaikat kecil mereka.

Dan itulah yang harus Jungkook lakukan.

Dengan seringaian kecil yang disunggingkannya tatkala menatap Seraphiel, Jungkook mengepakkan sepasang sayapnya kuat, membawa tubuhnya melayang, keluar dari dalam telaga, tepat sebelum airnya sempat menyentuh perut dan meluruhkan darah daging sang iblis.

Ia tak mempedulikan tubuh bagian bawahnya yang hampir telanjang.

Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah mencari jalan keluar dan segera menemui sang pangeran.

Sosok berpakaian merah itu menghela napas panjang, seolah ia merasa sangat lega usai terlepas dari belenggu penyiksaan.

Sepasang manik Michael berkilat, ia mengambil ancang-ancang untuk terbang sementara para malaikat menghentikan lantunan, dan beberapa diantaranya dengan siaga memegang senjata.

"Mungkin aku sudah membantu Tuanku Lucifer untuk membunuh bangsamu." Jungkook bergumam, tangannya mengelus lembut perutnya, memberi tahu bahwa ia tak akan pernah membiarkan bayinya terluka. "Tapi asal kau tahu, aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri."

Entah sadar atau tidak, ia baru saja mendeklarasikan bahwa Lucifer, benar adalah sosok tuan baginya, dan ia akan selalu patuh dengan apa yang diperintahkan kepadanya.

Tangan kanan Michael bergerak sebagai komando, dan selaksa tentara Surga langsung menyerbu Jeon Jungkook yang tengah melayang di angkasa.

"Akan kupastikan jiwamu tersiksa sebelum kau mendekam di dasar Neraka."

Jungkook tertawa mendengarnya. Jujur ia terluka saat melihat tatapan kecewa dari Seraphiel, namun itutak mampu membuatnya tinggal.

Dan tentu saja, janji Michael tidak akan membuatnya gentar.

Bukankah ia memang seharusnya berada di Neraka?

Tewas di sini, atau berhasil kembali ke istana Sang Pangeran Kegelapan, Jeon Jungkook akan tetap tinggal di Neraka.

Ia memang memiliki pilihan untuk menjadi bagian dari taman Eden, namun ia tidak mau membayarnya dengan janin yang ada di dalam kandungan.

ia akan menemui banyak kesulitan, namun satu hal yang diyakininya,

Lucifer akan menyelamatkannya…

Seharusnya.

Maka dengan sisa keberanian yang ia punya, Jeon Jungkook mengepakkan sayapnya, sayap milik seorang malaikat bernama Luciel, menjauh dari telaga. Ia bahkan tak tahu harus ke arah mana untuk keluar dari Eden, dan yang dilakukannya hanyalah terbang sembari menghindar dari serangan anak buah Michael.

Jungkook sempat mematahkan lengan malaikat yang berhasil mengejarnya, lalu mengambil pedangnya sebagai senjata.

Ia berusaha terbang sekuat tenaga, dengan perlawanan dan pertahanan seadanya, dab bana Lucifer yang dirapalkannya dalam doa.

Tolong aku, Lucy.

Selamatkan bayimu,

Bantu aku keluar dari sini,

Beri tahu aku kemana harus pergi,

Selamatkan aku,

Lucifer…

.

.

.

.

.

"Kau baik-baik saja?"

Pria berjubah coklat berjalan mendekati sosok lainnya yang tengah berbaring di ranjang. Sebut saja ia lancang, lantaran tangan kanannya terulur, lalu menyeka kening tuannya yang berkeringat, menyingkirkan helaian surai arang yang basah.

"Maaf." gumam pria itu kala sepasang kelopak mata milik sosok yang disentuhnya terbuka, menunjukkan sepasang iris sewarna birunya laut dalam yang nampak kelam.

"Aku tidak akan mati." pria bersurai arang berujar lemah. Ia berusaha mendudukkan dirinya, tentu saja dengan bantuan pria berjubah coklat. "Aku tidak akan musnah, Azazel."

Yang disebut namanya hanya menganggukkan kepala.

Jujur saja ia merasa ragu.

Luka di dada sang tuan belum juga pulih, dan kondisinya semakin hari semakin terlihat lemah.

"Kau terlihat sedih." pria yang setengah berbaring dengan hanya mengenakan celana panjang itu terkekeh. Dan ternyata, meski dengan tubuh yang terluka dan tanpa jubah panjangnya pun ia masih saja terlihat berwibawa. "Bukankah seharusnya kau merasa senang jika aku musnah? Kau bisa merebut nama Pangeran Kegelapan dengan mudah. Mungkin Asmodeus menginginkan posisi itu juga, tapi pedang yang kuberikan padamu jelas bisa memenggalnya dengan mudah."

Azazel menghela napas panjang. Sepasang maniknya menatap lekat Lucifer. Seharusnya memang ia senang jika penguasa Neraka musnah karena ia bisa menjadi penguasa berikutnya. Namun, entah mengapa ia tak ingin menempati posisi itu. Menjadi tangan kanan seorang Lucifer membuatnya cukup menikmati hari-harinya di dunia bawah.

Azazel menikmati perannya, dan ia tidak menginginkan untuk menjadi orang lain. Setidaknya, untuk saat ini.

"Sepertinya aku terlalu lama berada di dunia manusia."

Jawaban iblis bertanduk melingkar sukses membuat pangeran kegelapan tertawa. Memang benar Azazel setia berada di sampingnya sebagai seorang manusia bernama Jung Hoseok sementara dirinya bermain peran sebagai Kim Taehyung.

Ia tak mengatakan apapun setelahnya, hanya menatap obor-obor kecil di dinding-dinding kamarnya yang menyala. Lucifer mengingat bagaimana ia memutuskan untuk bernaim-main di dunia manusia tanpa ada seorangpun yang memanggilnya. Awalnya ia hanya ingin melihat seberapa banyak manusia yang lebih memilih untuk menyembahnya, menganggap dirinya diturunkan sebagai juru selamat yang diutus ke Bumi meski pada kenyataannya, ia bukannya diturunkan, melainkan terjatuh, atau boleh juga disebut menjatuhkan diri. Mungkin ia terlalu menikmati permainannya sehingga memutuskan untuk menetap sementara sebagai Kim Taehyung sembari merekrut para manusia yang dengan suka rela menyerahkan jiwa kepadanya.

Semuanya berjalan baik-baik saja sampai ia bertemu dengan Jeon Jungkook, manusia biasa yang berhasil memikatnya dengan pesona iris sekelam malam yang begitu indah.

"Aku akan mengawasi para pendosa."

Ucapan Azazel menarik atensi sang pangeran. Ia mengangguk sekilas sebelum akhirnya kembali larut dalam ramainya kesunyian.

Kamar yang semula hanya boleh dimasuki olehnya, lalu oleh Jungkook ketika manusia itu datang ke Neraka, kini pintunya selalu terbuka. Azazel menjadi satu-satunya yang selalu mengunjungi, sementara Asmodeus akan sesekali menampakkan diri sambil melontarkan kalimat-kalimat ejekan untuk sang pangeran. Meski demikian, ia akan langsung bungkam begitu sepasang iris sewarna birunya laut terdalam milik Lucifer menatapnya dengan sorot dingin.

Mungkin, hanya mungkin… Asmodeus yang pernah mengutarakan ingin masuk ke dalam silsilah keluarga fiktif buatan Kim Taehyung sebagai seorang adik sepertinya tengah menunjukkan bagaimana ia sangat menyayangi sang kakak.

Satu makhluk yang tidak bisa diabaikan eksistensinya adalah si kerdil yang sering mengintip dari balik pintu dengan sepasang matanya yang berwarna hijau. Tubuhnya yang dipenuhi rambut dengan kupluk lusuh di kepala membuatnya terlihat sepert kucing penakut yang tengah mencari tuannya.

Dan kali ini pun, makhluk itu kembali diam-diam mengawasi sang pangeran.

Awalnya, Lucifer abai, namun iblis bersurai sekelam malam itu berakhir dengan memanggil iblis kerdil yang sempat dibodohi dengan menyuruhnya menjadi pengawal Jeon Jungkook. Memejamkan mata, Lucifer lalu bergumam dengan suara rendahnya.

"Mara, kemarilah."

Yang dipanggil merasa jantungnya berhenti saat itu juga. Terakhir kali masuk ke kamar pangeran, ia dihajar habis-habisan karena lancang menyamar sebagai calon permaisuri.

Maka yang dilakukannya adalah terdiam dengan badan yang berdiri di balik tembok sambil menyembulkan kepalanya sehingga bisa melihat sang pangeran melalui pintu yang sengaja dibuka. Sepasang tangannya memilin ujung kupluk lusuh di kepala.

Merasa tidak mendapatkan jawaban apapun, Lucifer mengulangi perintahnya. Kali ini, dengan intonasi yang lebih tegas.

"Mara." ada jeda sebelum akhirnya perintahnya terucap sempurna. "Kemarilah."

Mau tidak mau, iblis rendahan itu melangkahkan kakinya ragu. Rasanya, ia memang harus menurut atau telinganya yang akan menjadi taruhan, lagi.

Berjalan mendekati ranjang sang pangeran, sepasang tangan Mara yang semula memainkan kupluknya, kini berpindah untuk menyentuh masing-masing daun telinganya sendiri.

Merasakan keberadaan iblis rendahan itu di dekatnya, Lucifer lalu membuka kelopak matanya. Ditatapnya Mara yang masih betah dengan wujud aslinya. Manik hijaunya menghindari tatapan penguasa Neraka meski jelas percuma.

"Kau tidak menjalankan tugasmu membuat manusia bermimpi buruk?"

Yang ditanya malah berusaha dengan susah payang untuk menelan saliva di dalam mulutnya. Ia sungguh gugup, namun otaknya yang hanya sebesar kacang kenari masih bisa berpikir. Mara lalu menggeleng pelan.

Lucifer masih menatapnya, kali ini tanpa kata. Tatapan tajam sang pangeran seolah menuntut Mara untuk memberikan jawabannya segera.

Dengan suara bergetar, makhluk yang ditumbuhi rambut di sekujur tubuhnya itu menjawab. "Aku harus menjaga calon permaisuri dan bayi setan. Calon permaisuri belum pulang jadi aku tunggu."

Kali ini pangeran terkekeh.

Ia jadi tahu bahwa alasam Mara mondar-mandir di depan kamarnya sambil sesekali menengok ke dalam adalah karena iblis kecil itu penasaran dengan keberadaan Jeon Jungkook, makhluk yang diklaim Mara sebagai calon permaisuri Lucifer.

"Ubahlah dirimu ke bentuk yang disukai Jungkook."

Mara mengagguk, sepasang tangan kurusnya lalu menggerak-gerakkan kupluk lusuh berwarna coklat di kepala.

Sang pangeran menyaksikan dengan manik kelamnya, bagaimana tubuh yang dipenuhi bulu dan tampak kerdil itu perlahan berubah menjadi sosok manusia berkulit pucat yang mengenakan sweater berwarna merah muda dan celana panjang berbahan jeans. Sepasang kakinya telanjang tanpa alas dengan jari-jari kurus yang bergerak resah.

"Umm… aku pakai baju diberikan Jungkook." Mara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sesekali melirik Lucifer seolah memberitahukan bahwa seragam yang dipakainya adalah sesuatu yang diberikan oleh calon permaisuri.

Tentu saja pemilik Neraka dan seisinya mengetahui hal itu. Seingatnya, sepasang pakaian yang kini dikenakan Mara memanglah satu-satunya yang diberikan Jeon Jungkook kepada si iblis rendahan. Selain kedua potong benda itu, tidak ada lagi yang Jungkook berikan kepada Mara.

"Telingamu?"

Sepasang netra Mara mengerjab sebelum ia menyentuh daun telinga, lalu memainkannya dengan ibu jari dan jari telunjuk.

"Kupingku tumbuh lagi."

Dan lagi-lagi sosok Kim Taehyung terkekeh melihat tingkah Min Suga.

Pantas saja Jeon Jungkook sering marah-marah di awal pertemuan mereka, terutama usai ia menugaskan Mara untuk mengawasi si manusia. Iblis ini memang berbicara dengan bahasa yang unik, tingkahnya pun bisa dibilang ajaib.

"Ambilkan jubahku, lalu temani aku berkeliling."

Makhluk bersurai hitam pudar tampak bingung, menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, lalu berlari kecil saat menyadari jubah milik pangeran tersampir di kursi yang ada di seberang ranjang. Ia membawanya, kemudian menyerahkan kepada Lucifer yang sudah duduk di tepi ranjang. Sepasang kakinya telah mengenakan sepatu, tinggal tubuh bagian atasnya saja yang belum terlindung apapun.

Mara meringis kecil ketika melihat tuannya menumpuk luka di dadanya dengan jubah yang baru saja ia serahkan. Katakanlah otaknya memang tidak bekerja dengan baik karena hal yang selanjutnya terjadi adalah dirinya yang melontarkan pertanyaan kurang ajar.

Sebuah pertanyaan yang, bahkan Azazel dan Asmodeus saja tidak berani menyuarakannya.

"Apa pangeran akan mati?"

Dan Lucifer hanya menjawabnya dengan gelengan serta tawa lirih yang terdengar menyedihkan. Ia beranjak dari ranjang, lalu berjalan pelan dengan Mara yang mengikuti dari belakang.

"Ceritakan hal-hal menggemaskan tentang Jungkook."

Sebelum jawaban, Lucifer mendapat gumaman panjang dari satu-satunya makhluk berpakaian mencolok di Neraka. Makhluk itu nampak berpikir serius sebelum menyajikan hasil pengamatannya ketika masih mengawal Jeon Jungkook.

"Jungkook kalau tidur mulutnya terbuka sedikit."

Sang pangeran kegelapan menganggukkan kepala sebanyak tiga kali. Sepasang iris kelamnya menatap para iblis yang ditemuinya di sepanjang lorong. Mereka memberikan gesture menghormati, sementara Lucifer nampak acuh tak acuh sambil terus berjalan dengan Mara yang mengekor di belakangnya.

"Jika sejak ada bayi, Jungkook suka bilang-bilang sendiri. Perutnya membesar seperti bola lalu diajak bicara."

Kekehan Lucifer terdengar cukup keras ketika mereka melewati aula tempat jiwa-jiwa kotor manusia diadili. Azazel yang tengah menggantikan tugas Lucifer pun sempat melirik sang tuan sekilas sebelum melanjutkan pekerjaannya. Meski beberapa kali tuannya keluar dari kamar untuk menghapus kebosanan, keberadaan iblis dengan pakaian menyilaukan mata di belakangnya kali ini jelas berbeda dari kebiasaan, cukup menarik perhatian karena ini kali pertama Lucifer membiarkan seseorang menemaninya usai pertempuran hari itu. Ia memilih abai dengan eksistensi iblis rendahan sekelas Mara yang berjalan mengekori sang penguasa Neraka dengan raut sumringah di wajah. Bibirnya bergerak-gerak, tanda bahwa makhluk itu tengah berkisah, dan Lucifer terlihat nyaman mendengarkan ocehannya.

"Jungkook bilang bayi akan menjadi pangeran tampan yang gemas, tidak seperti ayah bayi yang tolol." ucap Mara enteng begitu mereka keluar dari pintu utama. Ia masih terlihat gembira sebelum menyadari tuannya berhenti melangkah. Sepasang tangannya menumpuk untuk menutup mulutnya sendiri, lalu Mara mengumpat dalam hati, mengatai dirinya sendiri yang dengan lancang menyebut pangerannya tolol.

Walau sebenarnya ia hanya menyampaikan apa yang pernah didengar dari sang calon permaisuri, tetap saja Mara sudah mengatai pangeran secara tidak langsung.

Makhluk yang mengenakan sweater merah muda itu menunduk, takut jika Lucifer akan memotong telinganya lagi, atau memotong bagian tubuh yang lainnya. Namun setelah lama menunggu, tidak ada apapun yang terjadi padanya. Maka ia memberanikan diri untuk sedikit mengangkat kepalanya.

Dan ia melihat sang tuan yang tengah memandangi salah satu pilar utama berukuran besar, lebih tepatnya, memandang sosok wanita cantik yang digantung di sana, wanita itu menatap Lucifer dengan sorot mata sayu dan senyum tipis di bibirnya. Mara yang berdiri di belakang penguasa Neraka tentu tidak tahu ekspresi seperti apa yang ditunjukkan tuannya. Ia penasaran, namun tak memiliki nyali untuk mengintip.

"Calon permaisurimu meninggalkanmu, hmm?"

Lady Midday, namanya.

Ialah sosok yang berhasil membuat sang calon permaisuri cemburu buta hingga meminta Lucifer menjadikan iblis betina itu hiasan di salah satu pilar istana.

Pada kenyataannya, tidak ada satu ekorpun iblis yang mengungkit kejadian yang memicu berakhirnya pertempuran. Entah karena tidak memiliki nyali, atau karena alasan lain yang tidak dimengerti. Yang jelas, mereka yang masih bernyawa dan bisa kembali ke Neraka kompak bungkam tanpa suara.

Cerita tentang Lucifer yang berdoa kepada sang Ayah tidak pernah menyebar. Mereka yang ikut berperang menyimpan cerita sekaligus pertanyaan rapat-rapat, lalu melanjutkan kesenangan di dalam Neraka, ada pula yang kembali menawarkan kesenangan sesaat kepada manusia, untuk kemudian menarik jiwanya ke dalam kegelapan. Beberapa yang coba melengserkan kedudukan sang penguasa Neraka usai menyaksikan sendiri bagaimana keadaan Lucifer di medan perang berakhir dengan kembali ke posisinya lantaran Azazel dan Asmodeus memasang badan. Kedua iblis ini bahkan tak segan-segan memenggal mereka yang coba mengambil takhta sang pangeran sebagai pemilik Neraka dan seisinya.

Azazel memang merupakan tangan kanan sang pangeran. Mungkin karena itulah ia dengan setia melaksanakan tugasnya. Sementara itu Asmodeus yang biasanya sering mencuri kesempatan untuk menggulingkan kekuasaan Lucifer, kini malah berdiri tegap untuk melindunginya. Anggap saja ia tengah membalas budi karena the fallen one telah bermurah hati membantunya lepas dari hukum langit usai dengan tidak sengaja membocorkan waktu kematian Jeon Jungkook.

Lucifer menghela napas kasar. Ia menatap Midday tanpa minat sembari menyunggingkan senyuman, atau lebih tepatnya, menyunggingkan seringaian.

"Calon permaisuriku sangat setia, asal kau tahu saja." nada bicara sosok bersurai jelaga terdengar santai dengan penekanan pada dua kata pertama. Sepasang netranya menelisik luka di wajah iblis betina yang sempat menjadi teman tidurnya. Ia akui Midday memang cantik, tapi tidak ada yang spesial darinya. Makhluk itu sama saja dengan mereka yang pernah dicicipinya. "Ohh… kau pasti juga tahu kalau calon permaisuriku tengah mengandung setan kecil yang akan membantuku menguasai jagad raya."

Raut wajah Lady Midday berubah.

Tadinya ia masih bisa menunjukkan senyum mengejek, namun ketika tuannya memberitakan tentang kehamilan si manusia sialan, Midday tidak bisa menyembunyikan kekesalan. Ia sempat melihat Jeon Jungkook dengan perutnya yang sedikit membesar ketika manusia itu lewat di hadapannya. Ia sudah menduga kehamilan penyandang marga Jeon. Rasanya memang begitu membuatnya marah, namun ketika Lucifer sendiri yang memberitahunya dengan nada bangga, hati Lady Midday seperti tercabik tanpa ampun.

"Aku bisa mengandung dan melahirkan berapapun keturunan yang kau mau, Lucifer… Andai kau memilihku untuk menjadi pendampingmu, pasti kau akan mendapatkan keturunan-keturunan yang kuat."

Suara sosok bergaun putih lusuh itu terdengar lirih, namun sang pangeran mampu mendengarnya dengan jelas.

Terkekeh pelan, Lucifer mendengus kasar sebelum berucap. "Banyak iblis yang lebih kuat darimu, sayangku. Jika yang kuinginkan adalah keturunan yang kuat, sudah sejak lama aku mendapatkannya dari mereka. Masalahnya hanya satu, sayang… benar-benar hanya satu."

Ada jeda cukup lama sebelum Lucifer melanjutkan ucapannya.

Ia akui Midday memang sosok yang menawan. Wajahnya cantik dan senyumannya begitu menarik. Sayangnya, ada satu hal yang tidak bisa didapatkan Lucifer dari iblis wanita itu.

"Kau, dan tentu saja, mereka, bukan Jeon Jungkook."

Terucap sudah, sosok pemilik Neraka dan seisinya hanya menginginkan Jeon Jungkook, dan ia akan mendapatkannya. Berapapun harga yang harus ia bayar, Lucifer akan mendapatkannya.

Sosok berjubah hitam itu berjalan angkuh meninggalkan bagian depan istana. Ia akan berjalan memutar untuk melihat sekeliling istana.

"Jungkook lebih menggemaskan darimu, wanita seram!" Mara memasang wajah bengis. Ia menatap garang iblis yang sempat membuat Jungkook terluka, dan ia mendapat hukuman akibat dianggap lalai melaksanakan tugasnya. "Pangeran suka yang gemas-gemas tidak seperti wanita seram sepertimu."

"Kau… cecunguk keparat!"

Mara menjulurkan lidahnya sebelum berlari kecil mengejar sang tuan.

"Mara, katakan padanya, Jeon Jungkook sangat luar biasa di ranjang. Midday tidak ada apa-apanya jika dibandingkan calon permaisuriku."

Lady Midday masih bisa mendengar suara sang pangeran. Ia merasa kesal sekaligus terluka, dan Mara yang melaksanakan perintah Lucifer dengan suara lantang yang ceria sukses menginjak harga dirinya, terutama karena beberapa iblis berada di dekat mereka dan mampu mendengarnya.

"Jeon Jungkook hebat di ranjang, bisa memuaskan pangeran. Lady Midday payah! Dengar itu, ha!?"

Mara berbalik, lagi-lagi menatap Lady Midday, lalu dengan kurang ajar memberi thumb-down kepada iblis betina dengan wajah penuh luka itu. Ia bahkan sempat kembali menjulurkan lidahnya sambil menekan hidungnya sendiri hingga berbentuk seperti hidung babi sebelum kembali berlari mengejar pangeran yang berjalan menuju taman belakang.

Mata kecil Mara mengeryit saat melihat bayangan besar terbang di langit Neraka yang kemerahan.

Demi apapun, para iblis yang memiliki sayap memang biasa terbang sesuka hati, namun tidak ada yang berani melakukannya di sekitar istana kecuali sang pangeran yang memerintahkannya.

"Asmodeus.' gumam Lucifer tenang ketika makhluk itu mendarat tak jauh darinya yang baru saja tiba di taman belakang.

iblis bertanduk sapi itu terlihat marah saat berjalan mendekati penguasa Neraka. Sayapnya lebarnya masih dibiarkan bertengger di punggung, sementara tangannya terulur, lalu mencekik leher tuannya kuat.

"Apa yang kau rencanakan, sialan!"

Lucifer terkekeh renyah. Tangan kirinya terangkat, lalu disentuhnya pergelangan tangan Asmodeus pelan. Ia tidak mengatakan apapun, membuat iblis bertanduk sapi itu luar biasa geram.

"Aku mendapat laporan dari anak buahku, ribuan malaikat sedang berusaha membuka gerbang ke Neraka." iblis dengan jubah abu-abu berbicara dengan amarah yang tertahan. Iris matanya berkilat. "Kau akan membiarkan mereka memporak-porandakan rumah kita!?

Rupanya bukan hanya Asmodeus yang datang menemuinya. Para panglima tertinggi yang menjadi kepercayaannya tiba di hadapan Lucifer beberapa saat setelah Asmodeus melepas cekikannya yang tak berpengaruh pada sang pangeran. Bahkan suara Phenex sang burung api menggema di atas istana milik Lucifer.

Azazel setengah berlari ketika keluar dari istana. Awalnya ia merasakan lantai yang dipijaknya bergetar, dan udara di sekitarnya berubah. Suara Phenex seakan menjadi komando untuknya agar segera memastikan apa yang terjadi.

Dan di sini lah ia, berada di tengah jajaran petingi Neraka yang terlihat siap berperang. Semuanya begitu mendadak, ia bahkan tidak mendengar perintah Lucifer untuk berkumpul. Nampaknya memang mereka juga merasakan apa yang ia rasakan, atau mereka mendapat laporan dari para anak buah yang tersebar di dunia atas.

"Suasana kacau, Tuanku Lucifer. Para malaikat berkeliaran di tengah para manusia dan terlihat mengejar sesuatu."

Iblis berjubah hitam melirik salah seorang anak buahnya. Ia mengangguk singkat seakan menerima apa yang baru saja dilaporkan.

"Para malaikat berusaha untuk menyerang Neraka. Kita harus bersiap dan melumpuhkan mereka sebelum mereka sempat menghirup udara di sini." Asmodeus mengatakannya dengan berapi-api. Meski ia tidak tahu pasti, dirinya yakin bahwa kejadian kali ini ada kaitannya dengan tindakan Lucifer di akhir perang mereka beberapa waktu lalu.

"Diamlah, adikku."

Iblis berjubah abu-abu dengan tanduk melingkar yang tadinya ingin kembali berujar, langsung bungkam mendengar ucapan sang pangeran.

Ia menatap Lucifer dengan sorot penuh tanya, namun sama sekali tidak menyuarakannya.

"Sedikit saja seorang malaikat bersentuhan dengan Neraka, Surga tidak akan mau menerimanya. Mereka tidak akan menyentuh kita di sini, apalagi karena hari ini adalah hari paling bersejarah bagi mereka."

Sang Penguasa Neraka mendengus. Ia menatap para panglima kebanggaannya dengan tenang, dan suara bernada rendahnya menggema, diikuti dengan kedua tangannya yang bergerak ke atas dengan cepat seolah dirinya tengah mencabik langit Neraka yang berwarna jingga.

"Hari dimana kemenangan kita telah tiba!"

Benar saja, langit di atas sana mengaga, menunjukkan birunya langit di bumi dengan makhluk-makhluk bersayap putih yang bergerak mengejar sesuatu. Mereka menyerangnya tanpa ampun.

"Kuperintahkan kalian untuk melindunginya."

Telunjuk kanan Lucifer mengarah makhluk yang seakan menjadi musuh semesta, sehingga eksistensinya harus dimusnahkan dengan mengerahkan seluruh bala tentara Surga.

Lucifer jadi mengingat hari dimana ia jatuh.

"Kembali, begitu ia berhasil pulang."

Tanpa diperintahkan dua kali, seluruh iblis yang tadinya berkerumun di sekeliling Lucifer, langsung melesat ke arah gerbang Neraka yang terbuka. Mereka membabi buta, menyerang para malaikat yang terkejut dengan kemunculan gerbang Neraka dan para iblis yang keluar dari sana seakan-akan kejadian ini telah direncanakan dengan matang.

Semua iblis benar-benar berpesta, melanjutkan peperangan yang sempat berakhir tanpa adanya kepuasan.

Semua,

Kecuali Asmodeus, Azazel, dan Mara.

Iblis ber-sweater merah muda yang sejak tadi diam menjadi semakin bungkam lantaran ia yang tidak pernah ikut ke medan perang, kini menyaksikan bagaimana brutalnya hal itu dilakukan.

"Kau merencanakannya." kalimat Asmodeus menggantung. Ia bahkan tidak yakin apakah dirinya tengah bertanya, atau menyuarakan analisa di kepala. Sepasang netranya menatap sang pangeran dengan sorot tak percaya.

Sementara Azazel mendengus. Ia tahu ada ada yang aneh dari kemenangan yang dideklarasikan sang pangeran. "Kau membohongi Ayahmu."

The fallen one terkekeh mendengarnya.

Ia yang tadinya mendongak sambil memperhatikan sesosok makhluk bersayap dengan penuh kebanggaan, kini menoleh, sehingga pandangannya bersibobrok dengan sang tangan kanan.

"Aku tulus berdoa, Azazel. Aku tulus menginginkan Jeon Jungkook bahagia." Lucifer menyunggingkan senyum tipis selama beberapa detik sebelum berubah menjadi seringaian, dan saat itu Azazel sadar bahwa tuannya memang telah mempertaruhkan segalanya demi menunggu hari ini tiba. Hari yang, sebenarnya entah akan terjadi atau sekedar menjadi angan dan mati, Bibir lucifer bergerak, dan suara penuh keyakinan itu terucap. "Tapi aku juga percaya bahwa Jeon Jungkook akan menjaga janjinya kepadaku."

"Tu- tuanku Lucifer…" suara mara yang bergetar menarik perhatian ketiga iblis terkuat di Neraka. Telunjuk kurusnya terangkat, dan mata sipitnya membola saat melihat sesuatu yang jatuh dari langit.

Sang penguasa Neraka melihatnya,

Bagaimana tubuh setengah telanjang yang penuh luka itu terjun bebas dengan anak panah yang menembus salah satu sayapnya yang terbakar.

Sosok itu terjatuh, lalu menghantam tanah yang berada tak jauh darinya tanpa rengek kesakitan yang lolos dari bibir.

Debumannya begitu keras, dan panasnya api dari sepasang sayapnya yang terbakar begitu terasa oleh para iblis yang berpijak di dekatnya.

Dan Lucifer tersenyum puas.

Sosok dengan rambut merah menyala itu merangkak, berusaha menyeret tubuhnya yang penuh luka untuk mendekati Lucifer yang sama sekali tidak bergerak. Sepasang iris yang memiliki warna sama persis dengan milik sang penguasa Neraka terlihat nanar, diikuti dengan bibirnya yang bergetar ketika berujar.

"Lucifer…"

Suaranya masih terdengar merdu, dan Lucifer masih menyukainya, atau bahkan semakin menyukainya.

Meski begitu. Ia diam.

Tubuh tegapnya berdiri kaku dengan sepasang mata yang mengamati si surai merah.

Yang ditatap hampir putus asa. Tubuhnya yang penuh luka terasa sakit luar biasa, dan ia begitu khawatir dengan keadaan perutnya yang terasa panas tak terkira. Sebelah tangan dengan setia memegangnya, seolah ingin memastikan bahwa perutnya baik-baik saja.

Bibirnya bergerak merapalkan nama sang pangeran yang pernah berjanji untuk datang dan menyelamatkan ketika namanya disebut. Namun diamnya Lucifer hingga saat ini membuatnya hampir putus asa karena tubuhnya yang hampir telanjang mulai tidak bisa merasakan apapun.

Dan bibirnya bergerak, memanggil sang pangeran untuk terakhir kalinya,

"Tuanku, Lucifer."

Dilepasnya jubah yang ia kenakan sendiri, lalu Lucifer membungkukkan tubuhnya, menyambut sosok yang hampir menyentuh ujung sepatunya. Diselimutinya tubuh itu dengan jubahnya, dibiarkannya makhluk-makhluk penghuni Neraka melihat luka menganga pada punggungnya, luka yang tidak pernah mau ditunjukkannya secara suka rela.

Sang pangeran memeluk tubuh itu, membawanya dalam pangkuan, lalu mendekapnya erat.

Bibirnya setengah tersenyum, menyiratkan setitik kebahagiaan kala berujar,

"Selamat datang, Permaisuriku Belial."