Full House.
Chapter 23.Old And New
Sinar matahari pagi menerobos, menerawang melalui kusen jendela yang tidak tertutup gorden. Sebuah hari baru lagi telah bermula di kediaman ketujuh kembar bersaudara bermarga BoBoiBoy yang juga ketambahan tiga orang sepupu mereka.
Terangnya sinar mentari yang mendarat di wajah Gempa membuatnya terpanggil dari alam mimpinya. Kedua netra cokelat nya perlahan membuka seiring kembalinya Gempa ke alam sadar.
"Huaaaahhhh..." Gempa menguap lebar setelah mendorong dirinya duduk di atas sofa yang ia tiduri semalam di ruang tengah rumahnya. Secara refleks seperti kebiasaannya, Gempa menggaruki lengannya yang tidak terlindung kaus armless merah yang ia kenakan.
Kedua netra cokelat Gempa bergerak-gerak mengamati keadaan sekitarnya. "Wow... Semuanya disini?" gumamnya lembut ketika ia menemukan seluruh saudara-saudaranya menggeletak di ruang tengah.
Dengan memeluk bantal sofa, Halilintar tidur tengkurap di atas sofa dan bertindihan kaki dengan Solar. Di atas lantai berkarpet duduklah FrostFire yang terlelap dan bersandar pada sofa yang ditiduri Halilintar. Supra pula mendengkur lembut di atas pinggul FrostFire yang dijadikan bantal. Ice dan Glacier tidur saling beradu bokong di atas sebuah sofa. Blaze dan Thorn saling berpelukan di atas sofa yang terakhir.
"Kemana Taufan?" Gempa menggumam. Kakaknya yang bernetra biru safir itu tidak terlihat batang hidungnya
Perlahan-lahan Gempa membusungkan dadanya dan memgangkat kedua tangannya setinggi mungkin melewati kepala. Terdengarlah bunyi persendian tulang yang berderak menggeretak dari tulang punggung, pundak, dan rusuk Gempa ketika ia meregangkan persendian tubuh bagian atasnya.
Gempa duduk terdiam di atas sofa untuk mengumpulkan nyawanya. Kembali ia mengamati semua saudara-saudaranya yang bergelimpangan tak tentu arah dan letak di ruang tengah. "Hebat juga Blaze bisa menjaga rumah ini..." gumam Gempa lembut dengan sebuah senyuman tipis menghias wajahnya.
Setelah beberapa saat berdiam diri, barulah Gempa bediri dari sofa yang ia duduki. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sebuah kamar mandi kecil di dekat ruang tengah rumahnya. Panggilan alam telah bersuara memanggil Gempa untuk menuntaskan ritual pagi yang wajib dilaksanakan setiap hari.
Setibanya di kamar mandi, Gempa langsung memulai ritual paginya. Seperti kebiasaan, melepas hajat adalah hal pertama yang ia lakukkan. Berikutnya adalah menggosok gigi dan membasuh wajahnya sampai bersih. Dengan sengaja Gempa menggunakan banyak air sampai membasahi sebagian kaus armless yang ia kenakan.
Setelah merasa lebih segar, Gempa melangkah keluar dari kamar mandi. Mendadak Gempa mendapati indera penciumannya diserang aroma wangi roti yang tengah dibakar ketika daun pintu kamar mandi itu dibukanya. Aroma wangi itu cukup menjadi jawaban untuk Gempa akan pertanyaannya mengenai keberadaan kakaknya yang tidak terlihat batang hidungnya.
Terdorong rasa penasaran, Gempa mengikuti aroma wangi roti bakar yang menggelitik indera penciumannya. Kedua kakinya mengantar Gempa sampai ke dapur, dimana ia menemukan Taufan yang masih mengenakan kaus singlet tanktop dan celana pendek tengah memasak.
Gempa menggelengkan kepalanya setelah ia melihat penampilan kakaknya itu. Tanpa bersuara Gempa mengambil sebuah celemek yang tergantung pada rak dinding.
"Pakai ini, Fan." ucap Gempa sembari menyodorkan celemek yang dipegangnya kepada Taufan.
"Hua! Setan!" Sayangnya Taufan yang sedang fokus memasak tidak menyadari kehadiran Gempa. Insting Taufan pun bekerja, spatula yang tengah digenggam pun mengayun sekuat tenaga ke arah suara yang didengar Taufan.
-Bletak!-
"AHH! TAUFAAAN!" Gempa berteriak kesakitan setelah keningnya dihajar spatula oleh Taufan. Masalahnya spatula yang digunakan Taufan juga sedikit berminyak dan minyak panas pada spatula itu memercik ke wajah Gempa.
"WAJAHKU! AHH!" jerit Gempa yang terhuyung mundur, menjauh dari Taufan.
"Alamak! Gempa!" Taufan berniat untuk menolong Gempa, namun ia kalah cepat dengan Gempa yang terhuyung mundur ke arah ruang tengah.
Malangnya Gempa tidak melihat kaki FrostFire yang berada di lantai. Memang kaki adik sepupunya itu tidak besar, namun cukup untuk membuat kaki Gempa tersangkut.
"TAUFAAAN!" Jeritan Gempa yang ternyata tidak kalah cemprengnya dengan Taufan pun membahana. Kedua kakinya tidak lagi menjejak permukaan lantai rumah. Waktu seakan berjalan lambat ketika tubuh Gempa terjatuh ke belakang. Kedua netra cokelat Gempa pun memejam erat dan dirinya bersiap mendarat dengan tidak nyaman di atas lantai.
-Greb!-
"Pagi-pagi sudah berisik."
"Hah?" Perlahan-lahan Gempa membuka kelopak matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang manik netra berwarna merah rubi pada sesosok wajah yang kusut. Di bawah wajah yang jusut itu terdapat tubuh yang sedikit berotot berbalut singlet tanktop hitam. "Ha-Hali?"
"Ya, teriakan Taufan dan kamu membuatku terbangun, tahu?" Halilintar menggerutu seraya menegakkan tubuh Gempa. Setelah adiknya itu berdiri di atas kakinya sendiri lagi, barulah Halilintar melepaskan tangannya dari tubuh Gempa.
"Fiuh... Terima kasih Hali." Taufan yang hanya sempat berlari sampai ke tepian ruang tengah bernapas lega. Minimal Gempa tidak akan geger otak karena ulahnya.
Halilintar mendenguskan napas. "Lanjutkanlah masakmu, Fan. Tuh masih ada tujuh mulut lagi yang harus diberi makan." ucap Halilintar datar selagi ia berjalan menuju kamar mandi. Singlet tanktop hitamnya tersibak setengah pada bagian perutnya, memperlihatkan otot-otot abdomen dan pinggangnya yang nyaris mengotak.
Taufan yang berdiri di ambang dapur terdiam. Kedua manik netra biru safirnya bergerak mengikuti Halilintar sampai si kakak tertua itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Gempa yang melihat Taufan mendadak bermimpi pada siang hari itu kontan memutar bola matanya ke atas. "Hey, jangan melamun, nanti masakanmu gosong." tegur Gempa. "Ya, badan Halilintarmu itu indah, tapi kamu lagi masak!"
Taufan tersentak kaget mendengar teguran Gempa. "Alamak! Iya! Masakanku!" ujar si Happy Virus itu sebelum berlari kembali ke dapur dan menghampiri kompor yang memang masih menyala.
Keributan kecil pada pagi hari itu cukup untuk membuat seisi rumah serempak terbangun.
FrostFire adalah yang pertama terjaga dari tidurnya. Ia bahkan melompat sampai berdiri sempoyongan akibat teriakan kakak-kakak sepupunya. "A-ada apa?" tanya FrostFire yang sudah tegak berdiri dan bahkan memasang kuda-kuda taekwondonya.
FrostFire yang secara refleks melompat sampai berdiri itu tidak ingat akan adiknya yang tengah bersandar pada tubuhnya. Perlahan-lahan FrostFire menoleh ke belakang dan menemukan Supra tengah merengut sebal dan mengusapi kepalanya yang sedikit menonjol.
"Frost, lantai rumahnya empuk sekali seperti kasur air kok." ketus Supra sembari mengusap bagian kepalanya yang nampak sedikit menonjol.
"Ah! Maaf Supra!" cicit FrostFire. Ia langsung berlutut dan memeluk Supra yang air mukanya masih memperlihatkan kekesalan. "Maaf, aku ngga sengaja..." bisik FrostFire lagi.
Supra menatap kakaknya yang mulai memasang tampang memelas. Ia menarik napas panjang dan mencoba untuk tersenyum. "Ya sudah, aku tahu kamu ngga sengaja, Frost." ucap Supra sembari mendorong tubuhnya untuk berdiri. "Tolong ambilkan aku kantung es buat kompres kepalaku deh."
"Okee!" FrostFire yang tidak ingin membuat Supra kecewa langsung berlari ke dapur dan mengambil benda yang diminta adiknya itu.
Lain lagi halnya dengan Blaze dan Thorn. Mereja berdua yang juga terjaga dari tidurnya tidak banyak berkomentar. Tanpa bersuara keduanya berlalu ke kamar mereka untuk menuntaskan ritual paginya.
Solar sendiri memilih untuk menunggu giliran memakai kamar mandi yang sedang dipakai oleh Halilintar. Ia kembali berbaring di atas sofa yang dipakainya tidur sejak semalam.
Hanya dua orang saja yang masih meringkuk di atas sofa dan di atas lantai. Glacier dan Ice masih saja mendengkur di atas sofa yang mereka tiduri. Tidak ada tanda-tanda mereka akan segera bangun.
"Ice ngga berubah ya? Masih saja tukang tidur..." gumam Gempa sembari duduk di atas sofa yang dipakai Solar untuk berbaring.
Solar menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Memang, mungkin lebih parah sekarang." lanjutnya sembari mengangkat sebelah tangannya ke atas dan melewati pinggiran sofa yang ia tiduri. "Sejak ngga ada kalian, Ice jadi lebih tenang tidurnya. Tambah lagi Glacier yang sama saja dengan Ice kalau sudah molor."
Gempa melirik ke arah Solar yang memperlihatkan lekuk bagian tubuhnya yang tidak terlindung singlet tanktop putihnya. "Kompak sekali mereka ya?" komentar Gempa. "Dan kamu juga kulihat makin mirip dengan Blaze..."
"Ha?" Kedua netra kelabu Solar mengedip cepat. "Aku ngga ngerti." ucap Solar lagi sembari menatap Gempa.
"Jarang-jarang kamu dulu tebar ketek macam Blaze..."
"Ah..." Solar terkekeh saja mendengar komentar Gempa. "Memang nyaman sih Kak. Lagipula aku ngirit baju bersih, makanya aku selalu bergantian pakai dua atau tiga baju yang sama untuk tidur selama sebulan."
"Hah?" Kedua netra cokelat Gempa membelalak lebar setelah ia mendengar jawaban dan penjelasan adiknya yang terkecil itu. "Maksudmu, kamu ngga ganti baju tidur?"
Solar menggelengkan kepalanya. "Ngga. Paling dua bulan sekali baru aku cuci. Badanku kan wangi, Kak." ucap Solar yang ditambahkan dengan cengiran kampretnya.
"Astaga. Ambil semua baju kotormu, kita cuci semua nanti!" ketus Gempa yang mulai sewot setelah mengetahui kelakuan adik-adiknya setelah ia, Halilintar dan Taufan kuliah di luar negeri.
"Ngapain repot Kak?" Solar mengangkat tangannya yang sebelah lagi melewati pinggiran sofa. "Kita selalu pakai laundry untuk mencuci baju. Lebih praktis."
Gempa memutar bola matanya ke atas. "Pantas saja baju kalian jarang berubah kalau aku video call..."
"Sudah, sudah, jangan mulai adu mulut pagi-pagi begini." Terdengarlah suara Taufan melerai Solar dan Gempa yang beradu argumen. "Lebih baik kalian cepat mandi atau cuci muka lalu sarapan. Aku buat nasi goreng buat semuanya."
Himbauan Taufan kali itu sangat sulit untuk ditolak, apalagi aroma gurih nasi goreng buatan Taufan mulai tersebar dan menggelitik napsu makan. Tanpa perlu disuruh dua kali, Gempa dan Solar segera mencari kamar mandi yang masih kosong.
Sarapan bersama pagi itu tidak seperti biasanya. Meja makan pun terlihat kosong tanpa penghuni kecuali tumpukan piring, gelas dan peralatan makan yang lainnya. Ruang tengah rumahlah yang dijadikan tempat berkumpul penghuninya untuk menikmati sarapan bersama pagi itu.
Sebagian duduk di atas sofa seperti Gempa, Blaze, FrostFire dan Supra. Sisanya duduk bersila di atas karpet dan mengelilingi meja kecil di ruang tengah. Sebuah sofa terpaksa tidak bisa digunakan karena masih digunakan oleh dua mahluk yang masih menolak untuk bangun
"Glacier, Ice, ayo bangun." Dari sofa yang ia duduki, Gempa mencoba untuk menggoyangkan tubuh Glacier dan Ice. Memang jangkauan tangannya cukup panjang untuk mencapai bagian tubuh kedua adiknya yang masih terlelap.
"Mmh... Ngantuknya" gumam Glacier dengan mata yang masih tertutup. "Tiga jam lagi , Bang..." Alih-alih bangun, Glacier malah memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Ice.
"Astaga." Gempa menggelengkan kepalanya. Ia meletakkan piring berisikan nasi goreng yang tengah disantapnya sebelum menggeser posisi duduknya ke atas sofa yang dihuni oleh Ice dan Glacier. "Bantuin, Fan, gotong dua anak ini ke kamar mandi." Gempa menolehkan kepala ke arah kakaknya yang ia sebut namanya.
Taufan yang dipanggil pun meletakkan piring berisikan nasi gorengnya ke atas meja. "Biar kucoba jurusku kalau membangunkan Hali..." ucap Taufan sembari berjalan mendekati Glacier dan Ice.
"Nah lho, jurus apa itu?" tanya Blaze yang mendadak tertarik dengan kata-kata Taufan. Bagaimana tidak, karena Blaze juga melihat bahwa Halilintar mendadak gelisah dengan wajah yang sedikit merona. "Kak Taufan mau cium Ice?"
"Lihat saja." Sebuah seringai jahil mengulas di wajah Taufan. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya pada telinga Ice.
Semua pandangan langsung tertuju pada Taufan, terutama dari Solar dan Supra yang masing-masing meneguk ludahnya. Semakin dekat bibir Taufan dengan telinga Ice, semakin fokus juga tatapan mata kedua fudan itu.
"Taruhan, Sup." Solar berbisik kepada adik sepupunya.
"S, U, P, R, A. SUPRA, bukan Sup." ketus Supra yang tak rela namanya disingkat begitu saja oleh kakak sepupunya.
"Ya, Supra." Solar mengkoreksi nama adik sepupunya. "Taruhan, Kak Taufan akan cium Ice."
"Oke. Yang kalah cuci semua piring kotor." Supra mengulurkan tangannya yang terbuka pada Solar.
Tanpa keraguan sedikit pun Solar langsung berjabat tangan dengan adik sepupunya. "Oke, jadi!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
Jarak antara bibir Taufan dan telinga Ice semakin mengecil. Perhatian semua penghuni tumah itu tertuju pada Taufan. Selain perhatian, ada juga yang mengepalkan tangan semakin erat seperti Halilintar dan Gempa.
"Kupasung Taufan kalau sampai mencium Ice..." desis Gempa kepada Halilintar seakan meminta persetujuan.
"Boleh, tiga hari kau pasung Taufan pun aku rela." balas Halilintar dengan berbisik.
Dan kedua bibir Taufan pun membuka. Suara teriakan lantang namun cempreng Taufan pun terdengar mengumandangkan Adzan tepat pada daun telinga Ice.
Mendadak kedua kelopak mata Ice terbuka selebar-lebarnya. "HUAAA! AKU BELUM MATI!" jerit Ice yang panik luar biasa dan langsung turun dari sofa yang ia tiduri.
Sayangnya Ice tidak melihat apa atau lebih tepatnya siapa yang tidur bersama dengannya di atas sofa itu.
"AHHH!" Gantian Glacier yang menjerit ketika ia terjun bebas dari atas sofa yang ia tiduri.
-Bruk!-
Dengan tidak elitnya wajah Glacier mendarat di atas lantai berkarpet ruang tengah.
"Yap, Kak Solar kalah, silahkan cuci piring." ucap Supra dengan senyum kemenangan penuh kepuasan. Bahkan Supra menaruh piring kotornya di atas pangkuan Solar.
"Ho, begitu. Terima kasih Solar." Menyusul Halilintar, Blaze, dan Gempa yang meletakkan piring kotor mereka ke atas pangkuan Solar.
"Alamak! Taruh di wastafel dapur, bukan di pahaku!" ketus Solar. Ia segera berdiri sebelum piring-piring kotor dari saudara-saudaranya yang lain menyusul ke pangkuannya.
"Terima kasih Fan." Gempa terkekeh ringan melihat Taufan yang berhasil membangunkan Ice. "Ayo Ice, cuci muka, sikat gigi. Habis itu sarapan." ucap Gempa kepada adiknya yang bernetra aquamarine itu.
"Tapi aku masih ngantuk..." Ice menggerutu sembari memasang tampang cemberut.
"Ya sudah..." keluh Gempa sebelum ia berdiri dan mengamit tangan adiknya. "Kita mandi sama-sama yuk... Aku juga belum mandi, cuma cuci muka saja tadi."
Air muka Ice langsung bertukar dari yang tadinya lesu tidak bersemangat menjadi ceria dan berseri-seri. "Ah, ayo kak!" sambut Ice dengan antusias. Tanpa perlu diperintah lagi, Ice langsung memeluk lengan Gempa yang tidak tertutup kaus armlessnya
"Ya, ya sabar." Gempa menarik lengannya yang dipeluk Ice. Sebagai gantinya, Gempa melingkarkan lengannya itu pada pundak Ice. "Sudah enam bulan lebih aku ngga merasakan kamu, Ice..." bisik Gempa sembari menuntun Ice berjalan menuju tangga rumah.
Supra yang memperhatikan kedua kakak sepupunya itu langsung mencolek pundak FrostFire. "Ayo, Frost... Aku juga mau mandi..." ucap Supra sembari mengedikkan alis matanya.
"Aih... Nanti sore saja mandinya" keluh FrostFire. "Mumpung libur nih." tambahnya lagi sembari menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Supra.
Taufan yang melihat interaksi kedua adik sepupunya itu menggelengkan kepala. "Pantas saja rumah ini baunya apek. Rupanya ada empat orang yang malas mandi ya sekarang?"
"Aku ngga malas mandi ya!" ketus Solar yang merasa tersindir oleh kata-kata kakaknya yang bernetra biru safir itu. "Aku menghemat air."
"Badanku ngga bau apek, Kak Ufan." Begitu pula dengan Thorn yang ikutan cemberut.
"Solar suka dengan bau badanku." sahut Blaze yang membuatnya dihadiahi lirikan tajam dari Solar.
"Tuh, Kak Blaze saja jarang mandi. Aku juga boleh dong." FrostFire pun ikutan membela diri. "
"Sudah, mandi sana kalian semua sebelum aku dan Halilintar memandikan kalian dengan sikat kawat!" ketus Taufan yang mulai merasa kepalanya berdenyut-denyut.
Halilintar menghela napas panjang. Ia gagal paham mengapa dirinya ikut-ikutan diseret ke dalam masalah mandi adik-adiknya. Namun karena mengetahui apa yang dikatakan Taufan itu ada benarnya, Halilintar pun mengikuti peran permainan Taufan.
"Ya... Atau..." Halilintar menggeretakkan seluruh persendian ruas jari-jemarinya. Tidak ketinggalan ia menggeretakkan tulang pundak dan lehernya.
Suara gemeretak persendian Halilintar yang jelas terdengar membuat semua adik-adiknya yang masih berkumpul di ruang tengah meneguk ludah. Tanpa ada kata-kata yang terucap Thorn, Blaze, Solar, FrostFire, Glacier, dan Supra segera mempermisikan diri mereka untuk menjalankan titah kedua kakak tertua mereka.
"Yah... Mereka memang lebih dewasa, tapi masih saja susah mandi." Taufan terkekeh selagi ia menghempaskan tubuhnya di samping Halilintar. Hanya ia dan Halilintar saja yang tersisa di ruang tengah.
Tanpa terlihat oleh siapa pun kecuali Taufan sendiri, Halilintar tersenyum tipis. "Ngga sangka kamu sekarang bisa tegas juga ke mereka. Biasanya kamu sendiri yang malah jadi korban."
"Hmpf!" dengus Taufan sembari membuang muka yang sedikit merona. "Jangan ingatkan aku dengan kejadian yang dulu dong."
"Aw... Kenapa Taufan-ku?" Halilintar melingkarkan lengannya di atas pundak Taufan. "Kamu imut lho waktu ditangkap Blaze dan Thorn (Fanfic Troubled Trio Troublemaker)." ucap Halilintar lagi sembari mendaratkan kepalanya di atas pundak Taufan. Sebuah kecupan singkat pun hinggap di pipi Taufan.
"Haaah..." Taufan menghela napas panjang. Perlahan-lahan ia menolehkan kepalanya dan menatap Halilintar. "Memang susah untuk marah padamu, Hali." ucap Taufan dengan sebuah senyuman kecil terkembang.
"Ya, aku tahu kok." Kedua netra merah rubi Halilintar memejam redup selagi batinnya menikmati kenyamanan bersama Taufan di rumah yang sudah hampir enam bulan lamanya mereka tinggalkan.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi.
Sampai jumpa lagi pada kesempatan berikutnya.
"Unleash your imagination"
Salam hangat, LightDP.
