The Student
A Jaemren Story
BoyxBoy
Bagian 19
.
"Sudah dua minggu kalian saling melumat jika kelas kosong, apa tak seharusnya kau meresmikan hubunganmu dan Renjun?" tanya Mark pada Jaemin yang sedang duduk bersila di sampingnya, membaca sebuah novel berjudul The Plague karya Albert Camus. Mereka sedang berada di atap sekolah untuk membolos pelajaran sosiologi. Jaemin yang mengajak Mark karena anak itu benci pelajaran tersebut.
Jaemin menutup novelnya, membuat Mark menoleh ke Jaemin yang sudah menatapnya heran. "Apanya yang perlu diresmikan?" tanya Jaemin bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud Mark. Dirasanya, hubungan Renjun dengannya baik-baik saja sejauh ini, tak ada hal berarti yang mengganggu.
Mark yang tadinya tiduran dengan beralaskan kedua tangannya yang ditekuk kini bangkit ikut duduk bersila dan menghadap ke Jaemin. "Semacam mendeklarasikan kalau Renjun adalah milikmu, y'know?" katanya sambil mengedikkan bahu cepat beberapa kali.
"Renjun memang milikku hyung, siswa-siswa disini tidak buta untuk melihat betapa mesranya kami," balas Jaemin, masih tidak mengerti yang Mark maksud.
Mark menghela nafas kasar, ternyata ada orang yang lebih bodoh dari dia dan orang itu adalah Na Jaemin yang selalu dielu-elukan semua orang sebagai siswa tercerdas seangkatan di SMA mereka. "Kau ini bodoh atau pura-pura tolol?"
Jaemin semakin mengernyit heran. Ia terlalu bingung dengan maksud Mark. Ingin menyanggah lagi tapi suara pintu yang dibuka membuat keduanya menoleh ke sumber bersamaan. "Hyunjin?" panggil Jaemin pada sosok yang sudah tiba di atap sekolah tersebut.
Hyunjin hanya menunjukkan telapak tangannya dan berjalan mendekat ke arah teman-temannya. "Kupikir aku sendirian membolos disini, taunya kalian berdua malah bermesraan," ujar Hyunjin yang langsung memposisikan dirinya untuk tidur di atas pangkuan Mark.
"Kau membolos?" tanya Mark pada wakil kapten tim basket itu. "Tumben," lanjutnya.
Hyunjin memejamkan mata, lengannya ia tekuk di atas wajahnya untuk menutupi sinar matahari yang mengintip di balik awan mendung. "Memang aku tidak boleh membolos?" ujar Hyunjin. "Kalian sendiri sedang apa disini? Mark Lee si murid berprestasi nomer satu dalam bidang olah raga dan Na Jaemin si murid paling cerdas seangkatan," cibir Hyunjin, membuat Mark dan Jaemin tersenyum membenarkan.
"Aku sedang tidak ingin mengikuti pelajaran sosiologi. Makanya aku mengajak Mark hyung membolos," ujar Jaemin, kini ia ikut meletakkan kepalanya di atas pangkuan Mark, mendesak kepala Hyunjin untuk memberinya ruang.
"Aiish, Jaem!" seru Hyunjin karena tak nyaman. Mark hanya pasrah saja pahanya dijadikan bantal kedua sahabatnya. Ketiganya kini diam, menikmati langit Seoul yang sedikit mendung, menyimpan pikiran masing-masing tanpa ingin diucapkan.
Mark yang masih memikirkan permintaan Haechan untuk menanyakan kapan Jaemin menembak Renjun.
Jaemin yang sampai saat ini tidak mendapatkan petunjuk siapa ZC walaupun ia sudah bertanya pada Renjun.
Hyunjin yang memikirkan nanti pulang sekolah mau makan ramyun atau chicken.
"Hey, Jaemin, kalau kau ingin membolos kenapa tak mengajak Renjun saja. Kalian sudah sering mesum di kelas kan." Hyunjin membuka suara, memecah keheningan mereka yang mulai terasa awkward.
"Aku tidak mau mengganggu belajarnya. Dia murid beasiswa, Hyunjin," sahut Jaemin. "Hey, darimana kau tau kalau aku dan Renjun sering mesum di kelas?" Ia meninggikan suaranya, membuat Hyunjin dan Mark terkekeh.
"Kau lupa julukan Hyunjin di sekolah?" ucap Mark. Ia mengusap poni Jaemin, membuat sang empu mendecak risih.
"Apa? Tukang gossip?" tanya Jaemin memastikan yang langsung disusul dengan anggukan Mark.
"Dewa gossip." Hyunjin menyahut, tersenyum bangga dengan julukan yang ia terima dari para siswa di sekolah mereka. "Kapan kau meresmikan hubungan kalian?" tanya Hyunjin pada satu-satunya siswa dengan rambut berwarna pink di sekolah, menanyakan pertanyaan yang sama dengan Mark.
Jaemin bangkit dan duduk bersila, memutar tubuhnya menghadap ke dua temannya. "Apa yang perlu diresmikan? Jika seseorang melihat kami selalu mesra tak akan ada yang berani mendekati Renjun, kujamin itu," cecar Jaemin, kokoh dengan pendiriannya.
Hyunjin ikut bangkit dari posisi rebahannya, bersila menghadap ke Jaemin. Ia pusing sendiri ternyata Jaemin bodoh sekali dalam urusan percintaan. Anak itu bahkan tak tahu betapa berartinya sebuah hubungan yang didasari dengan pernyataan kepemilikan atau deklarasi cinta, kata Mark. "Hey, orang Amerika! Dengarkan aku!" ucap Hyunjin, nada bicaranya sedikit kesal karena daritadi Jaemin tak paham juga.
"Aku bukan orang Amerika!" sahut Jaemin, ngotot.
Hyunjin memasang wajah datar. "Baik, tapi aku tahu kau pindahan dari Amerika dan kebiasaan disana tidak ada yang namanya pernyataan cinta atau menembak. Maka dari itu aku dan Mark menyarankan agar kau segera meresmikan hubunganmu dan Renjun! Memangnya kau mau jika ada orang lain ingin menjadi pacarnya, Renjun menjawab dia tidak punya pacar? Kalau Renjun menjawab dia adalah pacarmu, itu tidak mungkin karena kau belum menembak Renjun. Kalian tak ada hubungan apa-apa. Aku atau Mark bahkan bisa menembaknya sekarang kalau kami mau!" Ia mengoceh tanpa henti, membuat telinga Jaemin panas.
Sedikit tersulut emosi ketika mendengar kalimat terakhir Hyunjin, kini Jaemin paham apa yang Mark maksudkan sejak awal. Ia terlalu naif jika berpikir bahwa hubungannya dengan Renjun akan tetap berjalan baik-baik saja tanpa hambatan. "Kau benar.." ucap Jaemin akhirnya. "Aku harus menembak Renjun," lanjutnya.
Mark dan Hyunjin menghembuskan nafas lega. Keduanya lalu melakukan high-five dengan menyatukan kepalan tangan kanan masing-masing. "Aku belum pernah berpacaran sebelumnya. Apa yang harus kulakukan?" tanya Jaemin polos, membuat Hyunjin dan Mark gemas melihat wajahnya yang memelas.
"Astaga, tinggal cari saja apa yang dia suka dan serahkan padanya lalu tanyakan, 'hey, Renjun, kau mau jadi pacarku?' begitu saja tidak bisa!" Hyunjin memperagakan cara menembak dengan menekuk kedua lututnya, kedua tangannya membuat gesture sedang membawa bunga di hadapan Jaemin.
Mark kurang setuju dengan usul Hyunjin. "Hey, jangan dengarkan Hyunjin. Jadilah dirimu sendiri. Lakukan apa yang ingin kau lakukan karena kau yang lebih tau Renjun seperti apa," ucapnya bijak. Jaemin bahkan terkagum-kagum dengan ucapan Mark yang biasanya bodoh itu.
"Hyung, you are so special.." ucap Jaemin tanpa sadar, matanya berbinar menatap Mark seolah mendapat pencerahan dari Tuhan. Yang ditatap hanya bergidik ngeri dan menempel pada Hyunjin memeluk lengan temannya itu.
X
X
Di sisi lain, walau Renjun diam. Sebenarnya anak itu menyimpan pertanyaan besar kapan Jaemin akan menembaknya, menanyakan apakah dia mau menjadi pacarnya. Dalam hati, Renjun tetap cemas. Mereka sudah berbuat sejauh ini, cintanya sudah sedalam ini, bagaimana jika Jaemin hanya main-main dengannya?
Pemikiran terburuk itu ia tepis jauh-jauh. Tak mungkin Jaemin tega mengkhianatinya atau bahkan mempermainkan dirinya. Renjun meyakinkan diri sendiri kalau Jaemin bukan orang sejahat itu. Wajah manis dan sorot matanya yang penuh perhatian ketika menatap Renjun lah yang menjadi kekuatan Renjun untuk tetap bertahan dengannya sampai sekarang.
Bagaimana dengan Nana?
Pertanyaan itu masih ada di dalam benaknya. Ia tak tahu dimana Nana sekarang dan separuh hatinya masih tertinggal pada Nana. Pertemuannya kembali dengan Nono membuat keinginannya bertemu dengan Nana semakin besar. Harapannya yang tadinya kandas kini memiliki alasan yang kuat untuk tetap ada. Renjun ingin bertemu dengan Nana walau hanya sekali saja. Ia hanya ingin bertanya pada anak itu.
Kenapa Nana membunuh kedua orang tuanya?
"Renjun.." Suara berat Mark memecahkan lamunannya. Tanpa Renjun sadari, kelasnya sudah sepi, semua orang sudah pulang, bahkan Haechan dan Jaemin sudah meninggalkannya tanpa pamit.
"Mark, dimana Jaemin dan Haechan?" tanya Renjun. Ia ingat betul bahwa tadi kedua orang yang disayanginya masih ada di kelas saat semua siswa berlomba keluar dari ruangan setelah bel pulang berbunyi.
"Haechan dan Jaemin mengerjakan tugas seni musik di luar. Kelihatannya mereka ke café dekat sekolah," ujar Mark. "Kau tidak lupa kan kalau hari ini kita juga harus mengerjakan tugas seni musik?" lanjutnya, meminta kepastian dari siswa yang lebih muda.
Renjun ingat bahwa seminggu lagi tugas mereka harus segera dikumpulkan. Tugas dari guru seni musik mereka juga cukup merepotkan, yaitu membuat lagu. "Iya Mark, kau di gitar dan aku di vocal kan?" tanya Renjun balik. "Mau ke apartemenku?"
Mark menggeleng, bibirnya mengerucut. "No, gitarku di rumah, lebih baik kita ke rumahku."
"Baiklah kalau begitu."
X
X
"Jinjja, kau baru sadar kalau kau harus menembak Renjun terlebih dahulu baru bisa tenang? Kau ini otak udang atau bagaimana sih!? Apa perlu aku memberi tahumu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam hubungan percintaan?! Aish, jinjja, ternyata otakmu itu tidak ada isinya ya, Na Jaemin?!" Haechan menyeruput americanonya, mulutnya sibuk mengomel dan mencibir.
Ia dan Jaemin kini berada di salah satu stand makanan di mall besar di Seoul. Karena keduanya satu kelompok tugas seni musik, Renjun tak akan sadar bahwa Jaemin sedang meminta pendapat Haechan untuk menembaknya.
Jaemin sendiri sengaja membawa Haechan ke mall untuk membeli sebuah boneka Moomin besar seukuran setengah badannya. Warnanya putih seperti warna cat kamar Renjun. Warna putih sendiri merupakan warna kesukaan Jaemin dan Renjun. Pun boneka Moomin besar yang sudah dibelinya dengan nasehat Haechan ia letakkan di kursi sampingnya yang menghadap ke Haechan.
"Kupikir hanya dengan menciumnya sudah cukup," jawab Jaemin dengan wajah datar. Ia sudah lelah seharian diomeli oleh Mark dan Hyunjin dan sekarang pamungkasnya adalah Haechan. Jika bukan karena tugas seni musik dan Renjun, anak itu pasti sekarang sudah pergi ke rumah Jeno untuk mencari petunjuk tentang ZC.
"Hey, Haechanie, apa kau kenal teman Renjun selain dirimu? Aku tak pernah lihat dia akrab dengan orang lain di sekolah," tanya Jaemin. Wajahnya datar menahan kesal karena tak bisa menyanggah omelan Haechan padanya.
Haechan terlihat bingung dengan pertanyaan teman sekelasnya itu. "Maksudmu?"
"Ya selain kau, apakah dia punya teman lain? Di apartemen atau di negara asalnya mungkin?"
"Entahlah, yang jelas Renjun tidak pernah pulang ke Beijing. Katanya, dia sudah tak punya siapa-siapa disana. Kau tahu kan, Renjun sudah.."
"Tidak punya orang tua. Ya, aku tau itu." Jaemin memotong kalimat Haechan yang terdengar ragu-ragu dan melanjutkannya sendiri. 'Mereka mati di tanganku, Haechanie,' lanjutnya dalam hati.
Wajah Haechan yang tadinya sedikit kesal kini berubah lebih tenang karena mengingat bahwa Renjun sudah tidak punya orang tua. "Kenapa kau bertanya soal teman Renjun?" Haechan memasang wajah ingin tahu.
Belum sempat Jaemin mengeluarkan suara dari mulutnya, Haechan sudah memekik lagi. "Ah! Kurasa dia punya tetangga di apartemennya, kalau tak salah namanya Chong Chenli. Dia juga dari China. Aku sering ke apartemen Renjun dulu saat kelas satu, kau tau, semacam membangun bonding dengan Renjun. Dia orang yang tertutup Jaemin, butuh usaha ekstra untuk menjadi teman dekatnya," ucap Haechan, lalu menyeruput americanonya lagi.
Chong Chenli. Bukan, bukan dia orangnya. Inisial dalam kertas adalah ZC, bukan CC. Jaemin mencoba menggabungkan nama itu dengan inisial penembak bius Haechan beberapa waktu lalu dan sialnya, nama tetangga Renjun tidak ada hubungannya sama sekali. Untung saja Haechan lupa bahwa ia sempat kena bius, jadi Jaemin tak perlu menutupinya dengan kebohongan.
"Chong Chenli?" tanya Jaemin lagi. "Apa dia sama-sama dari Beijing seperti Renjun?"
Haechan mengedikkan bahunya. "Entahlah, dia masih dua tahun di bawah kita."
Setelah mendengar jawaban Haechan, Jaemin diam, menyeruput americano dengan 6 shots espresso yang sudah dipesannya. "Kenapa kau tanya-tanya tentang teman Renjun?" Haechan memicingkan matanya menatap Jaemin.
"Memangnya tidak boleh? Aku kan kekasihnya."
"Calon woy calon!" Haechan menggebu-gebu, tangannya memukul-mukul meja berkali-kali, membuat suara gaduh sehingga beberapa orang menoleh ke meja mereka. "Kurasa selain Chenli, Renjun juga punya teman lain di apartemen, entahlah itu teman atau adiknya karena mereka sangat dekat tapi aku hanya pernah bertemu orang itu sekali. Itupun sudah lama sekali. Rambutnya pink juga, sama sepertimu, hanya saja lebih gelap."
Jaemin menunggu kelanjutan dari kalimat Haechan. "Siapa namanya?" Jantungnya seolah mau lepas. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya karena gugup luar biasa. Dalam hati, Jaemin berdoa, tidak mungkin bahwa dia orangnya.
Haechan berusaha mengingat, matanya menatap kosong pada gelas americano kosong yang ia mainkan di tangannya. "Namanya..
Park Jisung."
.
.
. to be continued
