Warning : Typo(s), Alur berantakan, OOC, Dan lain-lain

Gently Spring Breeze

Luka Route - Chapter 2

The Student Council President is So Cute

.

.

Bagian 1

Sudah dua bulan berlalu sejak saat itu.

Dan kini aku, Kagamine Len, memegang status sebagai salah satu anggota osis.

Aku masih ingat saat itu. Betapa hebohnya sekolah ketika mengetahui aku bergabung dengan osis.

Tentu saja. Osis dengan hanya senpai di dalamnya adalah pakem bagi sekolah ini. Sudah hal wajar jika mereka terkejut dengan perubahan yang terjadi tiba-tiba.

Rasa terkejut berubah menjadi rasa penasaran, dan rasa penasaran berubah menjadi rumor.

Aku melonjak dari kursiku ketika Kisaragi mengatakan ada rumor bahwa aku mengincar Megurine-senpai. Dan aku sedikit kewalahan ketika menghadapi penggemar Senpai, sampai-sampai aku menjadi terbiasa dengan tatapan mereka yang menusuk punggungku.

Dan hal itu masih berlaku sampai sekarang.

Mari ambil sisi baiknya, klub olahraga itu kini tidak mengusikku lagi.

Tapi masa bodo, yang lalu dengan yang sekarang pun tidak ada bedanya.

Keduanya sama menjengkelkan.

Mungkin jika aku dan Megurine-senpai berstatus resmi sebagai kekasih, dan Senpai melakukan sesuatu kepada penggemarnya, hal ini mungkin akan mereda.

Justru aku harus membuktikan kalau aku adalah orang yang layak berada di samping Senpai.

–Tunggu dulu.

Kenapa aku memikirkan hal semacam itu?

"Len-kun, apa yang sedang kau lakukan?"

Suara dari belakangku membuyarkan lamunanku. Itu Megurine-senpai, dan kami saat ini sedang berada di ruang osis.

Aku menghentikan jari-jemariku di atas keyboard, "membuat website…" jawabku seraya mengerenyitkan dahi.

Len-kun?

Ini bukan pertama kalinya, tapi mendengarnya yang memanggil nama depanku cukup berbahaya. Aku sudah melarangnya, karena takut jika terdapat rumor aneh, terutama jika hal itu terdengar oleh penggemarnya. Namun Senpai tetap memaksa.

Senpai melihat monitor dari bahuku. Wajahnya sangat dekat, dan aku bisa mencium wangi shampoonya.

Terlebih, sensasi berbahaya menyerang bagian belakangku.

Senpai terlihat berpikir sejenak sebelum menatapku seraya memiringkan kepalanya, "apa itu website?"

Ugh… karena imut maka akan kumaafkan.

"Ini sama seperti poster." Jawabku seraya menampilkan website yang kubuat, tulisan mengenai festival hari ulang tahun sekolah berada di sana. "Tapi aku belum selesai membuatnya, sehingga desainya masih membosankan."

"Ah, jadi kau membuat poster milikmu juga?"

"Iya, tapi ini bukan poster, melainkan website –lupakan, apa maksudmu juga?"

"Hm...hm…" Senpai berdiri dengan tegak dan meletakan kedua tangannya di pinggang, "dengar, seluruh komite yang terlibat membuat desainnya masing-masing dan yang terpilih akan keluar sebagai pemenangnya."

"Pemenang?"

"Ya, desain pemenang lah yang akan disebar luaskan."

"Dan aku tebak Senpai juga ikut dalam hal ini."

"Eh? Kenapa kau bisa tahu?"

Tentu aku tahu jika ia sudah berlagak seperti itu. Setelah mengenal Senpai lebih dekat aku mulai mengetahui kebiasaannya yang seperti ini.

"Sayang sekali tapi apa yang kubuat tidak kumasukan dalam kontes."

"Kenapa?!"

"Sudah kubilang bukan, meskipun aku bilang mirip, tapi ini bukan poster. Tujuanku adalah memberi informasi ke luar lingkungan sekolah dengan mudah. Setiap orang bisa mengaksesnya dan hal ini tidak perlu memakan biaya yang mahal. Ini berbeda dengan poster yang harus kalian cetak dan sebar di mana-mana. Aku hanya perlu menyebarkan link website, melalui social media atau semacamnya."

"Eh?! Jadi ada hal semacam itu?!"

"Aku justru terkejut kenapa kalian tidak melakukan hal ini."

"Perlihatkan padaku caranya!"

Aku hanya melihatnya dengan ragu sebelum melakukan perintahnya. Kemudian baris demi baris kode memenuhi layar.

"W-waw-awawa-" Senpai terlihat kebingungan, dan aku bisa membayangkan asap yang keluar dari kepalanya. "a-apa ini, ada apa dengan teks ini? Kenapa ini bisa berubah menjadi gambar?!"

Sudah kuduga.

Aku hanya menghela nafas sebelum tersenyum lemah.

"Memang begini cara membuatnya. Lalu bagaimana cara Senpai membuat posternya?"

Ah.

Ini dia, Senpai dengan senyum sombongnya.

"Hmhmhm… jika kau ingin melihatnya maka akan kuperlihatkan."

Masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, Senpai menuju meja kerjanya sebelum mengambil kertas berukuran A3 dari sana.

Gambar manual. Tentu saja.

"Lihat ini!" Ujar Senpai seraya membentangkan gambarnya ke arahku.

Huh?

Apa ini?

"Bagaimana?"

Bagaimana?

Apanya yang bagaimana?

Mari kita lihat… jika aku mempunyai sekotak pensil crayon, dan selembar kertas untuk menggambar, dan aku memberinya kepada anak berusia lima tahun seraya mengatakan 'berikan aku sesuatu yang liar!'

Maka aku yakin hasilnya tidak akan berbeda.

"Senpai…"

"Ya?!"

Arrggghhh… menunjukan wajah yang polos itu tidak adil sekali! Aku tidak tahu harus mengatakan apa!

"Apa Senpai pernah memenangkan kontes ini?" Aku memilih untuk bermain dengan aman.

"Hmmm… kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah memenangkannya. Aku tidak tahu apa yang salah…"

Semuanya!

Tunggu, aku lebih terkejut kalau ia bahkan tidak menyadarinya.

"Senpai… apa yang dikatakan oleh orang-orang komite?"

"Tentu mereka tidak mengatakan apa-apa, karena setiap poster dikirim secara anonim."

Ah begitu rupanya.

Aku tidak mau membayangkan reaksi anggota komite begitu mereka mengetahuinya.

"Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai ini, Len?!"

Dia masih memaksaku untuk mengatakannya.

"Umm… bagaimana aku mengatakannya…"

"Katakan dengan jujur!"

Kau justru membuatnya semakin sulit Senpai.

"Kalau aku harus jujur…" Aku memegang daguku seraya melihat posternya sekali lagi. "ini benar-benar mengerikan, Senpai."

"eh?"

Uwah… aku merasa bersalah sekarang.

Raut wajah Senpai yang tadinya penuh ekspektasi dan tersenyum lebar menjadi hancur seketika. Seolah-olah ia tidak percaya dengan kenyataan yang aku ucapkan.

Tapi tidak ada jalan mundur lagi.

"Hmm… pertama-tama, tulisan 'Ulang Tahun Hoshioka' ini terlalu kecil. Seharusnya kau membuat tulisannya lebih besar agar mudah dilihat. Kemudian warna latar belakangnya benar-benar mengerikan, merah dan kuning? Apa ini tahun baru cina?"

"Kh…" Senpai mengeluarkan nada frustrasi.

"Kemudian…"

"Masih ada lagi?!"

"Aku tahu kita mengadakan festival untuk perayaan ulang tahun tapi kau hanya memasukan konsep 'perayaan', tolong jangan lupakan 'ulang tahun'nya. Coba lihat, kue ulang tahun, tanabata, kembang api, kau memasukan semuanya. Tunggu… apa ini kuil? Kenapa ada di sini?"

"Gugugugugu…" Aku bisa mendengar senpai bergumam dengan kesal.

"Kemudian, di sebelah sini…"

"Sudah cukup!"

"Eh?"

"Kubilang sudah cukup!" Senpai menyingkirkan posternya dari hadapanku.

Aku bisa melihat wajahnya yang memerah. Ah, apa ia merasa kesal?

Senpai yang mengembungkan pipinya adalah tanda bahwa ia sedang kesal sekarang.

Satu lagi kebiasaan Senpai yang aku cukup ketahui.

"Len-kun jahat..."

"Kau sendiri yang memintaku untuk jujur."

Dan satu lagi kebiasaan Senpai yang kuketahui. Jika ia sudah seperti ini maka ia akan menjadi sangat merepotkan.

"Hmmm… aku tahu, Len-kun pasti merasa dia lebih hebat dariku bukan?"

Benarkan?

"Begitu rupanya?! Len-kun sangat ahli dalam membuat poster!" Seru Senpai seraya mengangguk pelan.

"Senpai. Memberi kritik bukan berarti kau harus ahli dalam melakukannya."

"Heee… meski Len-kun mengatakan hal seperti itu, tapi ia berlagak seperti pro. Ia pasti hanya ingin bermain-main dengan Megurine Luka. Nakal sekali."

Ia hanya tidak ingin kalah.

Kekanak-kanakan sekali.

"Baiklah aku akan melakukannya!"

Senpai tersenyum melihatku yang menerima tantangannya. "Hehe… aku akan pastikan memberi kritik pedas untukmu."

Saat itu aku –Kagamine Len, menghancurkan seluruh rasa percaya diri yang ada pada Senpai.

.

Bagian 2

Ruang osis terasa sangat sepi. Aku hanya bisa mendengar suara jari-jemariku di atas keyboard. Hal ini sudah berlangsung semenjak sedari tadi. Aku mencoba melihat Senpai dari sudut mataku. Ah, mata kami sempat bertemu sebelum Senpai mengalihkan pandangannya dengan cepat seraya begumam 'Hmph!'. Kurasa ia masih kesal akan kejadian tadi.

Aku menghela nafas pendek. Setidaknya aku tahu kalau ini bukan pertama kalinya hal ini terjadi. Aku harus melakukan sesuatu.

Seperti mentraktirnya.

Mudah sekali bukan?

Perilaku Senpai yang tidak terduga ini masih kerap membuatku tersenyum kecil.

Kalau kau tanya apa kesan pertamaku terhadap Senpai yang dulu sudah tidak ada? Sejujurnya kesanku pada waktu itu masih ada sampai sekarang. Justru melihat sisi lain Senpai yang seperti ini semakin membuatku senang.

Ia terlihat sangat menggemaskan bukan?

Tapi apa perasaan aneh dalam diriku ini?

Aku tidak ingin orang lain melihat sisi menggemaskan dari Senpai.

Apa aku tidak ingin Senpai terlihat tidak berwibawa seperti biasanya di kalangan siswa lain.

Sebagai asistennya aku harus tetap menjaga martabat Senpai bukan?

Tidak, bukan seperti itu.

Perasaan ini… lebih dari itu. Seperti rasa ingin memonopoli.

Aku hanya ingin Senpai menunjukan sisinya itu kepadaku.

Itu karena aku merasa jika aku adalah orang yang spesial baginya.

Sisi Senpai yang tidak diketahui orang lain. Rahasia bagi kami berdua.

Aku tidak ingin orang lain memilikinya.

Aku bisa cemburu karenanya.

Sungguh, apa yang terjadi kepadaku?

Tak lama setelah tenggelam dalam lamunan, aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu.

Nakajima tebakku.

"Permisi Senpai." Ya, benar –Nakajima melangkah masuk menuju ruangan.

Lebih baik aku fokus dengan pekerjaanku. Aku hampir menyelesaikannya sebentar lagi. Aku memang cukup percaya diri dalam hal ini, maka dari itu kalian tidak perlu terkejut jika aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.

"…mengenai poster kau bisa membicarakannya dengan Len-kun."

Eh?

Aku bisa mendengar suara Senpai dengan samar di belakangku. Apa yang ia katakan barusan?

"Kau tahu. Ia cukup ahli dalam membuatnya."

Apa itu pujian? Tentu saja tidak. Kau tidak akan berpikir itu sebuah pujian jika mendengar nada bicaranya yang sedikit kelam.

Aku bisa melihat Nakajima mengangkat sebelah alisnya sebelum ia melangkahkan kakinya ke arahku. "Kagamine, kau mendengarnya?"

"Um… biar kutunjukkan apa yang aku kerjakan kepadamu."

Nakajima mengangguk puas mendengar penjelasanku. Ia terheran awalnya, namun setelah aku memperlihatkan pekerjaanku ia langsung menerimanya dengan senang hati. Ia sangat menyetujui perihal laman web yang aku jelaskan.

"Sejujurnya ini tidak terpikirkan olehku. Tidak ada anggota komite yang ahli dalam melakukannya. Kau cukup hebat. Kupikir kau dari klub olahraga, namun apa kau rupanya dari klub komputer?"

"Tidak keduanya. Aku hanya hobi dalam melakukannya."

"Begitu. Tapi ini tetap menakjubkan. Hasilnya terlihat sangat bagus. Terlebih halaman ini bisa dicetak dan dijadikan poster bukan? Aku yakin tidak ada yang keberatan jika kami menggunakan karyamu."

"Kh…"

Ada satu yang keberatan.

Tapi untuk saat ini mari kita abaikan gurauan putus asa milik Senpai.

"Aku tidak berniat untuk menjadikannya selembaran poster yang akan disebarkan. Tapi jika kau menginginkannya, aku akan mengirimmu alamatnya nanti."

"Maaf merepotkan."

"Tidak-tidak, ini sudah pekerjaanku. Sejujurnya Senpai hampir melakukan semuanya, jadi aku hanya bisa melakukan hal seperti ini sebagai sedikit bantuan."

"Ah benar juga…" Gumam Nakajima sebelum ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, aku sedikit terkejut karenanya dan sedikit mundur karena refleks. "Sejujurnya aku masih terkejut ketika mendengar kau bergabung dengan osis, tapi apa yang sebenarnya terjadi?"

Bisik Nakajima ke arahku.

Apa yang terjadi? Untuk saat ini lebih baik aku tidak menceritakan semuanya.

"Kau ingat tentang klub olahraga itu? Aku bergabung dengan osis untuk membuat mereka bungkam."

"Begitu rupanya… tapi tetap saja ini mengejutkan. Kenapa Megurine-senpai bisa menerimamu menjadi asistennya?"

"Kenapa kau tanya? Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya memintanya dan ia menyetujuinya. Bergabung dengan osis lebih mudah dari yang kau bayangkan."

Nakajima membelalakkan matanya, "apa benar semudah itu?"

"Aku tidak tahu. Tapi keputusan ada di tangan Senpai bukan? Jadi kurasa semuanya tergantung Senpai."

Nakajima yang masih tidak percaya ingin segera membuka mulutnya sebelum suara dari belakang menghentikannya,

"Nakajima…" Suara tajam milik Senpai membuat Nakajima tersentak, "jika kau sudah selesai dengan urusanmu silahkan keluar."

Nakajima segera berdiri dengan tegak sebelum berseru, "B-baik! Maaf mengganggu Senpai!" Ia segera meninggalkan ruangan dengan cepat sebelum membungkuk 90 derajat dan menutup pintu dengan perlahan. Aku hanya bisa melihat kejadinya yang tiba-tiba itu dengan sedikit kebingungan.

"Len-kun…"

Eh? Kali ini giliranku?

Aku bisa melihat tatapan Senpai sedikit menggelap dengan nada tajam disetiap perkataannya.

"I-iya?" Aku menelan ludahku.

Jangan-jangan...

Ini adalah fase berbahaya milik Senpai!

Aku hanya melihatnya sekali setelah ia melihatku berjalan berdampingan dengan Hatsune. Mungkin ia berpikir jika aku menganggu Hatsune saat itu.

Sikap Hatsune yang menjauh dariku setelah itu membuktikan jika teoriku benar.

"Kau cukup dekat dengan Nakajima."

"Kami tidak begitu dekat."

"Apa hubunganmu dengannya?"

"Ummm… Kami hanya teman. Ada apa sebenarnya, Senpai?"

"Tidak ada apa-apa. Hmph!" Ia memalingkan wajahnya dengat cepat seraya menyilangkan tangannya didepan dada.

Ano… apa sebenarnya yang terjadi?

Bukankah moodnya menjadi semakin buruk sekarang?

Aku menghela nafas panjang. Sepertinya aku harus mengosongkan isi dompetku nanti.

"Senpai, setelah ini mau mampir ke café Tridoron?"

.

Bagian 3

Hari bergerak dengan cepat dan hari festival semakin dekat. Pada saat ini setiap kelas sudah memutuskan akan berpartisipasi dalam bentuk apa. Hiasan-hiasan sudah dipersiapkan, dan panggung sudah mulai dipasang.

"Len-kun, apa yang kelasmu lakukan saat festival nanti?"

Hari ini sekali lagi aku berada di ruang osis bersama Senpai.

"Café. Aku tahu itu terdengar sangat biasa. Bagaimana dengan Senpai?"

"Hm…Hm…" Senpai berkacak pinggang seraya tersenyum ke arahku. Ah kebiasan yang ini ya, aku paham aku paham. "Drama!"

"Pentas drama? Apa Senpai memainkan peran?"

Melihat senyum Senpai yang semakin lebar, aku tersadar bahwa aku tidak seharusnya menanyakan hal itu.

"Tentu saja! Aku akan berperan sebagai tokoh utamanya!" Seru Senpai seraya menyibakan rambutnya ke belakang. "Bagaimana? Hebat bukan?"

Heeehhhh…

"Apa Senpai bisa melakukan akting?"

"Kau bilang apa? Tentu aku bisa! Aku juga sudah latihan sendiri di depan cermin!"

"Kalau begitu perlihatkan kepadaku."

"E-eh? A-aku malu."

Kemana sikap percaya dirimu barusan?!

"Kau harus tampil di depan banyak orang bukan? Kenapa kau harus malu?"

"Benar juga! Baiklah Len-kun, silahkan lihat penampilan menakjubkan dariku!"

Melihat Senpai dengan mood yang berubah-ubah seperti ini kerap membuatku lelah.

Namun aku tidak keberatan sama sekali.

Sekali lagi aku dibuat tersenyum oleh perilaku Senpai.

Senpai, mengambil lembaran kertas dari mejanya, yang kupercaya adalah naskah drama. Ia mengambil nafas panjang sebelum menghembuskannya dengan perlahan.

"oH TuAn aHLi StraTegi!"

Eh?

"PeRKenaLKaN aKu adAlAH tUaN Putr–bffh!"

Aku bisa melihat Senpai menggigit lidahnya seraya bergumam 'kyuuunnn'.

Menggemaskan.

Tidak! Bukan itu!

Kita sedang membicarakan Megurine-senpai di sini! Tentu aku yang sudah mengenal baik dirinya tidak seharusnya terkejut mengenai ini!

"Bagaimana?" Tanya Senpai dengan percaya diri.

Apanya yang bagaimana?!

"Apa kau ingin aku jujur?"

"Tentu saja."

"Mengerikan."

"E-eh?"

"Senpai, apa yang terjadi dengan rasa percaya dirimu itu?! Apa yang kau katakan ketika kau berlatih di depan cermin?!"

"K-kau tidak harus berteriak…"

"Intonasimu sangat berantakan! Kau berbicara seperti robot! Wajahmu sangat datar! Kau melakukan gerakan yang sangat tidak berhubungan dengan dialogmu! Apa ini?! Apa kau meremehkan dunia akting?!"

Haaahh… haaahh…

Gawat, aku terlalu jujur dalam menyampaikannya.

"Gnununuu…" Aku bisa melihat Senpai mengembungkan pipinya dengan wajah yang memerah disertai mata yang berkaca-kaca. "Uwwaaahhh… Apa yang harus kulakukan?!"

Sedetik kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke arahku seraya berteriak histeris.

"Aku sudah berakting dengan sangat bagus, tapi dunia akting butuh lebih dari itu!"

Jadi itu yang kaupikirkan?! Kau tetap tidak mau mengakui kesalahanmu, bukan?!

"S-senpai… T-tenang, tenang! Jangan mengguncangku!"

"Hiks… Hiks…"

Merepotkan sekali…

Jika teman sekelasnya melihatnya yang seperti ini, apa kata mereka?

Aku yakin, pasti, mereka memberinya peran utama karena tidak tahu sisinya yang ini.

"Kau tinggal memberi peranmu kepada yang lain."

"Apa itu?! Tidak mau! Aku ingin melakukan drama!"

"Meski kau sangat buruk dalam hal itu?!"

"Aku tidak seburuk itu!" Tidak, kau sangat buruk. "Temanku sudah memberiku peran ini! Tidak mungkin aku membuangnya!"

Senpai melepas cengkramannya padaku dengan perlahan. "Banyak yang berharap banyak dariku mengenai peran ini. Aku harus menjawab kepercayaan mereka."

Ini cukup mengejutkan.

Tapi Senpai, apa kau tidak pernah belajar untuk menolak sesuatu?

Aku belajar satu hal lagi tentang Senpai. Dan hal itu selalu membuatku tersenyum.

"Mau bagaimana lagi… aku akan membantumu."

"Benarkah?!" Wajah Senpai menjadi cerah seketika. Ya, Senpai yang seperti ini terlihat lebih baik.

"Tentu, kalau kau benar-benar ingin melakukan ini aku akan membantumu. Anggap saja ini sebagai balasan karena kau sudah membantuku, terutama mengenai klub olahraga."

"T-tentu saja, sebagai asisten kau harus membantu seorang ketua."

Aku tersenyum melihat Senpai yang kembali berlagak seperti biasanya.

Mungkin membantunya bukan hal mudah. Tapi mengingat aku bisa menghabiskan waktu dengan Senpai membuatku merasa senang.

Tapi ada satu yang menggangguku.

'Temanku sudah memberiku peran ini!' Kalau tidak salah ia mengatakan hal ini bukan?

Senpai punya teman?!

.

Bagian 4

Singkatnya, naskah ini menceritakan tentang ahli strategi yang berhati dingin dan tuan putri yang keras kepala. Hubungan mereka yang awalnya bagaikan dua kutub magnet yang sama harus berubah 180 derajat karena suatu konflik yang kemudian membuat keduanya jatuh cinta.

Harus aku katakan, ini sangat bagus.

Karakter dan dialognya dibuat dengan sangat baik. Sejujurnya aku sangat menyukainya.

Ini sangat romantis sekali.

"DaSAr AHli sTRateGi BeRHAti DinGin!"

"Ulangi lagi."

"Gugugugu…"

Inilah yang aku lakukan, selagi membolak-balikan naskah aku juga membantu Senpai memperbaiki kemampuan aktingnya. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melakukan hal ini. Selagi membayangkan kejadian dalam naskah dalam imajinasiku, aku menginstruksikan Senpai melakukan apa yang telah kubayangkan.

"DaSAr AHli sTRateGi BeRHAti DinGin!"

"Ulangi lagi."

"Kh!"

Sudah kuduga ini tidak akan mudah.

"…"

"…"

"Hm? Ada apa? Sudah kubilang untuk ulangi lagi."

"Tidak ada. Hanya saja Len-kun bersikap sangat kejam." Ujar Senpai seraya mengalihkan pandangannya.

Mau membelot rupanya.

"Baiklah akan aku tunjukan padamu." Senpai terlihat bingung dengan ucapanku, "kau pasti ingin mengatakan bahwa aku tidak sepatutnya melakukan hal ini karena karena kau tidak pernah melihatku berakting bukan?"

"B-bagaimana kau tahu?!"

"Tentu aku tahu, aku sangat paham denganmu, Senpai. Makanya biar aku tunjukkan kepadamu."

Aku menyingkirkan naskah yang kupegang seraya berjalan menghadapi Senpai. Aku segera memeluk pinggangnya dengan tangan kiriku seraya memegang dagunya dengan tangan kanan. Senpai terlihat 'awawawa' dengan wajah memerah seraya aku menatapnya dengan tajam.

"Dasar putri keras kepala. Bagaimana kalau mendengarkan ucapanku sekali saja?"

"…"

"…"

"EI!"

Aku tersentak ketika Senpai mendorongku dengan kuat, aku juga melepaskan pelukanku karenanya.

"Kenapa kau mendorongku!?"

"Haaahh… Hahhh…" Senpai bernafas dengan berat seraya wajahnya berwarna merah padam. "K-k-kau a-apa yang kau lakukan?!"

"Apa yang kulakukan? Tentu saja akting bukan?"

"Eh?"

"Lihat ini, ada dibagian sini." Ujarku seraya menunjuk satu bagian pada naskah.

"Umumumumu…" Senpai menutup wajahnya dengan kedua tangan, "ini tidak baik bagi jantungku."

"Apa yang kau katakan?" Aku mengangkat sebelah alisku, "Senpai, jika kau sudah bermain-mainnya lebih baik lanjutkan latihannya."

Dan begitulah latihan spartanku kepada Senpai hingga ia bisa melakukan akting.


Author's Note:

Don't bully Senpai.