WHITE MARRIAGE

by Gyoulight

.

.

.

.

CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Marriage Life/?

RATING: T/?

.

.

.

.

Dua hari berselang, semua kesunyian terasa sama rasanya. Baekhyun kembali disambut mualnya sendiri tanpa bisa ia hindari. Di pagi buta ia harus terbangun dengan muntah dan pusing yang tidak tertahankan. Pelariannya selalu berakhir di kamar mandi, memuntahkan apapun yang berada di dalam lambungnya. Lengkap dengan beberapa sakit yang mendera.

Terkadang bibi Gong membantunya, menemaninya sampai ia benar-benar mampu untuk makan dengan baik. Tapi hari ini Baekhyun tersadar bahwa Chanyeol tidak pernah ditemuinya pulang. Pun tidak pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya harus berpikir jika pria itu tengah sibuk dengan pekerjaan.

Chanyeol menghilang, entah kemana. Tapi anehnya Baekhyun tidak pernah tenang. Ingin menelpon untuk memastikan, tapi ada sesuatu yang terlampau tinggi dan berhasil membuatnya urung. Ia merasa berat untuk menyentuh tombol panggil pada sederet nomor Chanyeol di layar ponselnya. Entah sebuah harga diri atau mungkin sebuah rasa yang selalu tidak ia pahami.

Sebuah bel pintu akhirnya menggema sebelum ia meletakkan ponselnya. Dengan cepat Baekhyun menyambar pintu depan tanpa menyaksikan layar intercom. Terlalu membingungkan rasanya. Dipikirnya Chanyeol yang datang, tapi sosok tinggi lainnyalah yang ia temukan.

"Aku mencari Chanyeol─"

Jongin dengan setelan kantornya berbicara di depan pintu. Berbicara to the point sebelum Baekhyun menawarkan masuk. Belum lagi dengan wajahnya yang pucat, lengkap dengan nafasnya yang tidak beraturan.

Baekhyun diserang bingung, hal rumit menghinggapi kepalanya yang pening. Ia bahkan tidak tahu tepatnya keberadaan Chanyeol dimana. Dan sempat berpikir Chanyeol sibuk dengan urusan kantor sampai tidak pulang adalah kesalahan fatal dalam tebakannya.

"Kami harus melakukan sesuatu, tapi sampai hari ini dia sama sekali tidak bisa dihubungi," ujar Jongin kembali menenggelamkan Baekhyun dalam kecamuknya sendiri. Tidak ada yang akan menyelamatkannya, hanya saja ia merasa tengah dibuang.

"Baekhyun?"

Baekhyun tergerus ombak. Ia mematung memikirkan bagaimana kesimpulannya berulang kali. Entah, bagaimana mungkin hatinya berubah menjadi sakit dengan hanya mengetahui bahwa Chanyeol pergi. Meninggalkannya sendiri tanpa bicara sedikitpun.

Menatap Baekhyun yang pucat, kini Jongin berubah kalut. Pria itu kehilangan waktu, kehilangan seluruh planing yang seharusnya ia selesaikan hari ini. Sementara semua karyawan dan petinggi telah menunggu di meja rapat.

"Jadi Chanyeol tidak di rumah?"

Linangan mata Baekhyun kembali mengaburkan suasana. Dengan sigap ia membuka habis pintu rumahnya, mempersilahkan Jongin masuk sambil merapus air matanya sendiri. Diam-diam, tanpa harus Jongin tahu.

"Ada yang kau butuhkan? Aku bisa mencarikan beberapa hal di ruangannya," tawar Baekhyun memaksakan bibirnya tersenyum. Menutupi pertanyaan Jongin yang tiba-tiba saja jadi ingin bertanya tentang banyak hal yang terjadi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin mengekorinya. Mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja Chanyeol yang berada di sisi kiri rumah. "Dimana Chanyeol?"

Namun Baekhyun tidak kuasa menjawab. Ia sendiri tidak tahu kemana perginya seorang Chanyeol. Kenapa pria itu pergi tanpa bicara padanya pun ia tidak tahu alasannya.

"Baek?"

Baekhyun menghentikan lengannya yang menarik dua map di atas meja. Tidak juga membukanya untuk memeriksa lembaran di dalamnya. Karena percuma, Baekhyun pun tidak akan paham tentang isinya.

"Aku tidak tahu─"

Kalimat itu gemetar. Tetesan air mata Baekhyun lalu terjatuh begitu saja di punggung tangannya. Menyadari itu, Jongin lantas ikut terdiam dalam beku. Hingga ia memutuskan sesuatu.

"Aku akan menyuruh Kyungsoo untuk datang."

Baekhyun bukannya tidak mau bertemu Kyungsoo. Hanya saja ia belum siap bercerita. Apalagi merepotkan sepupunya, rasanya selalu seperti ia tidak ingin lagi menyusahkan banyak orang. "Tidak perlu."

Dan sebelum Jongin kembali bersuara, Baekhyun buru-buru memotong, menyerahkan beberapa map di atas meja. "Ini yang kau butuhkan?"

Jongin berubah membatu. Tidak kunjung mengambil map di tangan Baekhyun, tapi lebih memilih menatap iba sosok itu sebentar. "Aku akan mencarinya. Aku janji akan bicara padanya."

e)(o

Baekhyun terus mengaduk makanannya. Bukannya ia kenyang atau yang lain, hanya saja tidak berselera membuatnya tercenung di atas meja makan. Bibi Gong dengan baik hati menemaninya sampai makan malam tiba. Menemaninya makan dengan tenang, tapi Baekhyun tidak juga kunjung menyuap makanannya. Hal itu tentu membuat wanita paruh baya itu semakin khawatir.

"Apa Chanyeol tidak pulang lagi?"

Sebuah bom pertanyaan yang sama kembali menghias lamunan Baekhyun yang sepi. Setelah Jongin, kini bibi Gong-lah yang merasa iba padanya.

"Mungkin besok," jawabnya tetap sama seperti yang lalu. Namun hati Baekhyun hampa, tidak tahu pasti apa yang harus ia lakukan. Mengapa pula ia tetap tinggal di rumah Chanyeol sementara sang pemilik tidak lagi terlihat sepanjang hari? Jika Chanyeol pergi meninggalkannya, apakah ia akan tetap tinggal disini?

Selesai membereskan dapurnya, bibi Gong kemudian buru-buru pamit. Ia tentu tidak bisa berlama-lama disana. Dan Baekhyun sangat berterima kasih pada sosok itu karena telah banyak membantunya. "Chanyeol pasti akan kembali. Dia orang yang bertanggung jawab."

"Makanlah dengan baik untuk bayi kalian."

Mendengar itu, Baekhyun kembali melamun. Melayang pikirannya pada kehidupan kecil di dalam perutnya. Tanpa sadar, tangannya dengan lembut mengusap perut datarnya. Terngiang bagaimana kejadian hari itu, dirinya bersama Chanyeol menggenapi malam yang mereka bagi.

Hanya sekali, dan Tuhan seakan ingin menghukumnya. Seakan begitu marah karena merasa dipermainkan dengan janji mereka di altar. Dan kini permainan bohong mereka mencari tuannya. Mengikat mereka pada suatu ikatan yang tidak akan pernah bisa dilepas.

Bibi Gong kini pergi. Meninggalkannya seorang diri sekali lagi. Malam ini, hujan datang mendera kediaman Chanyeol yang sepi. Listrik padam dengan sangat tidak kenal waktu. Meninggalkan laptopnya di atas meja, Baekhyun bergerak dengan lampu darurat di ponselnya. Berjalan menuju dapur dengan sangat berhati-hati.

Dijuputnya salah satu lilin di dalam lemari. Mencari pematik setelah membuka korden jendela. Dan sialnya, kilat baru saja menyambar bersama gemuruh di luar. Baekhyun hampir membuang pemantiknya karena terkejut. Buru-buru ia mengusap wajahnya dengan tangan.

Sesaat ia mengambil duduk dengan cahaya lilin di depannya. Menatap seberang kursinya yang kosong dengan sebuah nama yang baru saja disebut dalam pikirannya. Hampir tiga hari Chanyeol hilang, dan ia baru saja mengerti seberapa penting kehadiran pria itu dalam hidupnya.

Nyatanya Baekhyun merasa kehilangan. Merasa sepi seperti hari dimana ia ditinggal kakaknya. Baekhyun ingin bilang jika ia merindu. Ia bahkan bisa tidak menginginkan apapun dalam hidupnya. Cukup Tuhan mengirimkan Chanyeol kembali, maka ia akan berhenti meminta banyak hal. Ia bisa bersumpah.

Tidak ingin air matanya kembali tumpah, pemuda itu akhirnya beranjak dari sana. Membawa lilinnya masuk ke dalam kamar, lalu meletakkan benda itu di atas nakas. Ia lantas menarik selimutnya. Meninggalkan jurnal setengah jadi yang masih bersarang di laptopnya.

Baekhyun akhirnya terjaga dalam suara hujan di luar jendela. Bunyi petir menjadi semakin ribut, sangat menakutkan melihat bayangan pepohonan bergerak di belakang kordennya. Maka ia memeluk dirinya sendiri. Memejamkan matanya yang panas untuk tidak menangisi pikirannya yang berlarian kesana-kemari.

Sayup-sayup, suara langkah lalu mendekati kamarnya. Bergerak menaiki ranjangnya yang kecil, bersama lengan dingin yang baru saja melingkari pinggangnya. Deru nafas seseorang yang tidak begitu bisa Baekhyun tebak lantas menerpa kulit lehernya. Namun aroma mint yang selalu Baekhyun ingat membuatnya membuka mata.

Baekhyun mengerjab. Ia dapat melihat selingkar cincin yang familiar di jemari itu. Membuatnya teringat kembali pada cincin pernikahan yang masih ia sembunyikan di laci nakasnya. Sempat terlupakan, dan nyaris ia lenyapkan─sebagai keputusan─jika Chanyeol tidak kembali.

"Kau sudah tidur?"

Dan benar, suara berat itu tidak lain, dan tidak bukan adalah milik Park Chanyeol.

Hal itu memberi Baekhyun konfirmasi. Membuat jantungnya begitu mudah berdebar dengan tidak beraturan. Berbenturan dengan sesak di dadanya yang telah tertahan cukup lama. Sampai pada Baekhyun yang berhasil menangisi dirinya sendiri, menumpahkan semua emosinya yang tertahan sejak Chanyeol pergi.

"Kau bisa pergi─" Kalimat Baekhyun bergetar. Terasa sulit ketika ia mulai memaksa. Tetapi bukan hal yang salah jika Baekhyun berbohong untuk tidak terluka. Ia sendiri tidak punya hak untuk menahan Chanyeol di sisinya. Tidak pernah punya hak, selalu begitu.

"Aku akan bicara pada ibuku soal perceraian kita." Baekhyun merapus air matanya diam-diam. Berusaha setenang mungkin menghadapi rasa pahit yang tertelan dalam hatinya. Dan ia telah siap dengan semua keputusan Chanyeol perihal pernikahan mereka yang seharusnya tidak pernah ada.

"Tidak," jawab Chanyeol cepat. Tidak pernah terbantahkan baginya soal bicara.

Dan Baekhyun berubah sedih mendengar itu. Bahkan menyadari pria tinggi itu masih hening memeluk pinggangnya, semakin menciptakan luka di hati. "Aku hanya tidak ingin memaksamu karena hal ini. Aku tidak ingin kau terbebani dengan pernikahan kita. Jika kau tidak mau menerimanya, aku tidak apa─"

Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya, mendengar seluruh debaran Baekhyun yang tenggelam dalam tangis.

"Bagaimana mungkin aku pergi?" Chanyeol berujar dengan hatinya yang pilu. Melihat Baekhyun yang tidak pergi saat ia meninggalkannya sendirian adalah sesuatu yang semakin membuatnya menjadi seorang bajingan. Karena bagaimanapun ini adalah kesalahannya. Salahnya yang menjebak Baekhyun ke dalam rumit kehidupannya.

Baekhyun berbalik. Mencoba menemukan raut Chanyeol yang dirindunya. Memastikan bahwa semua yang didengarnya adalah nyata. Memastikan bahwa semua yang ia temukan ini adalah bukan mimpi yang menghias tidurnya.

Dan sungguh, semua yang ia harapkan adalah sebuah kenyataan. Chanyeol menatapnya. Berada di hadapannya tanpa sekat. Bahkan linangan manik hitam itu menamparnya untuk sadar, bahwa ini bukanlah sekadar mimpi dari Tuhan untuk menyenangkannya. Pria itu benar-benar kembali. Park Chanyeol kembali padanya.

Chanyeol menyingkirkan helaian rambut Baekhyun yang memanjang dengan perasaan setengah gila. Dahulu ia sendiri tidak yakin ketika ia memutuskan pernikahannya sendiri. Namun entah, kali ini Chanyeol begitu yakin. Ia sangat yakin, jika keputusan yang ia buat dahulu tidak akan menjadi salah. Ia tetap ingin mencoba mencintai Baekhyun untuk menepati janjinya. Mempertanggung jawabkan seluruh perlakuannya yang penuh salah dengan tidak ingin mengulangnya.

"Kau adalah tanggung jawabku. Aku sudah berjanji pada Tuhan, apapun yang terjadi padamu aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Air mata Chanyeol lolos di pipinya. Menyinari keburaman Baekhyun yang menatapnya penuh sedih. "Janji pernikahan kita, kau ingat?"

Baekhyun tergugu. Masih meresapi bagaimana jemari itu menyusuri pipinya. Pun tidak berkedip matanya menenggelamkan wajah Chanyeol yang didapatkannya. Karena sungguh, Baekhyun tidak ingin sosok itu kembali menghilang saat ia terpejam.

"Sejak awal aku sudah bilang bahwa aku serius ingin menikahimu. Aku tidak pernah ingin bercerai denganmu," sambung Chanyeol merapus air mata Baekhyun yang menghujaninya. Sekaligus menatap wajah suaminya dengan penuh permohonan. "Tolong beri aku kesempatan,"

"tinggallah di sisiku."

Baekhyun membisu. Air matanya kembali berjatuhan. Mengalir dengan bebas melintasi kedua pipinya yang dingin. Chanyeol kemudian menarik tubuh rapuh itu ke dalam sebuah pelukan. Didengarnya seluruh tangisan pedih Baekhyun di dadanya. Meresapi luka si pemuda yang ikut menelisik sampai ke ujung jurang perihnya.

e)(o

A Day Ago

Dengan ragu, Chanyeol mencoba mengetuk pintu di depannya. Tengah malam yang dingin tentu bukan sesuatu yang sopan untuk membangunkan si tuan rumah. Namun setelah melihat Luhan dengan setelan piamanya keluar dari pintu, barulah Chanyeol memaksa memberanikan dirinya. Bahwa semua yang diputuskannya ini adalah sesuatu yang benar.

Luhan yang terkejut mempersilahkannya masuk. Kantuk di wajah bantalnya mendadak hilang begitu saja. Segera sosok itu berlarian setelah menyuruhnya duduk. Maka tak sampai lima menit untuk Chanyeol bisa menatap kedua orang tua Baekhyun yang sama tercengangnya dengan putra sulungnya.

Ibu Baekhyun yang begitu cantik duduk di sebelah Chanyeol. Memeriksa kondisinya yang diserang dingin malam. Dan sosok itu menjadi satu-satunya yang bertanya mengapa ia bisa datang semalam ini tanpa pemberitahuan. Sementara ayah mertuanya duduk dengan tenang di sofa tunggal. Namun pria paruh baya itu sebenarnya tengah bingung, karena tidak menemukan putranya dibawa ikut serta.

Luhan baru saja mengambil duduk ketika Chanyeol memutuskan untuk turun dari sofa dengan berlutut. Membuat semua orang kebingungan dalam kantuk yang tiba-tiba hilang. Ibu mertuamya lantas menyuruhnya kembali duduk, tapi Chanyeol kekeh mempertahankan simpuhnya.

"Maafkan saya," buka Chanyeol dalam rasa penyesalan yang luar biasa. Dan hal itu membuat tiga orang di depannya semakin tidak mengerti mengapa ia bisa jauh-jauh datang ke Guangzhou untuk bertemu dengan keluarga Byun.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Luhan penasaran. Kakak Baekhyun satu-satunya itu bahkan sampai beranjak dari sofa demi menariknya bangkit.

"Saya berbohong," aku Chanyeol masih berlutut, tidak perduli dengan lengannya yang sudah ditarik Luhan. Dengan ragu ia melanjutkan, "Saya dan Baekhyun berbohong soal pernikahan kami."

Maka berubahlah raut semua orang yang memandangnya. Terutama ayah Baekhyun yang sudah memasang raut keras, hendak begitu ingin menghajar wajahnya.

Chanyeol sedikitpun tidak gentar. Ia terus menahan simpuhnya sampai Luhan menyerah. "Kami tidak saling mencintai. Sayalah yang memaksa Baekhyun untuk menikah. Saya─"

"Chanyeol, apa yang sedang kau coba katakan?" Luhan memotong kalimat itu dengan begitu tega. Sosoknya bahkan lebih tahu keadaan sekitar. Lebih paham figur ayahnya yang begitu tegas. Bahkan untuk putra-putranya. Lantas saat Luhan mengetahui bahwa pernikahan adiknya adalah palsu, ia menjadi satu-satunya yang khawatir pada kemarahan ayahnya di pertengahan malam. "Ini sudah lewat tengah malam dan kau pergi ke Guangzhou seorang diri demi─"

"Maafkan saya. Saya harus mengatakan ini." Chanyeol tidak mau dengar. Ia tetap melanjutkan kalimatnya. Dan kali ini ia memberanikan diri utnuk menegakkan kepalanya, menemukan bayangan ayah mertuanya yang sudah dibakar emosi. "Saya tidak mencintai Baekhyun."

Luhan panik dengan segera. Ibu Baekhyun bahkan sudah lebih dahulu membekap mulutnya. Berdiam lemas di sofa, terlalu syok dengan semua penuturan menantunya.

"Dan sekarang Baekhyun hamil. Ini semua salah saya."

Sampai pada ayah Baekhyun yang beranjak dari kursinya. Melayangkan tamparan keras pada pipi Chanyeol yang berada tak jauh darinya. Emosinya terbakar api. Jauh lebih murka setelah mendengar putranya dihancurkan oleh pria yang tidak dicintainya.

"Ayah!" Luhan berlari menahan ayahnya. Mencegah ayahnya untuk melakukan hal yang lebih buruk dari itu.

"Beraninya kau!" kutuk pria paruh baya itu ingin kembali memukulnya.

Chanyeol menahan sakit di pipinya. Namun ia tetap tidak bergerak dari posisi. Tidak juga punya nyali untuk menatap bagaimana berkilatnya tatapan ayah mertuanya di depan sana. "Saya ingin meminta restu," lanjut Chanyeol tanpa takut. Ia benar-benar tidak perduli sekalipun ia kembali ke Korea dalam keadaan penuh luka. "Sekali lagi saya ingin meminta restu anda."

"Saat saya menikahinya, saya belum mencintainya. Saya bahkan menjanjikannya banyak hal yang tidak mampu saya lakukan. Dia melakukan tanggung jawabnya dengan baik, tapi saya terus memperlakukannya dengan buruk. Saya gagal mencintainya─" Chanyeol menjeda sebentar. Kembali menggenggam jemarinya yang gemetar takut di atas lutut.

"Tapi kali ini saya menginginkannya tinggal di sisi saya. Saya ingin hidup dengannya. Meski sangat terlambat, izinkan saya membawanya."

Sebuah air mata lolos di pipi Chanyeol. Rasa bersalahnya pada Baekhyun terus menggerogoti hatinya hampir tak tersisa. "Saya ingin menjaganya dengan tangan saya. Saya ingin─"

"mencintainya."

Raut ayah Baekhyun melunak. Mengantarkan lega pada Luhan, alih-alih sosok itu malah tersenyum dalam haru. Dan tidak seperti yang ditakutkan Chanyeol, ibu Baekhyun yang terus mendengarnya bicara, perlahan mendekat padanya. Menepuk pundaknya pelan sambil memeluknya hangat seperti sosok ibunya.

"Terima kasih," lirihnya tak kuasa menahan tangis.

e)(o

Setelah listrik menyala, Chanyeol bergerak menyelimuti Baekhyun. Mengelus surainya sayang sebelum pada akhirnya mematikan api lilin untuk Baekhyun.

"Selamat malam," salam Chanyeol begitu manis sebelum keluar dari pintu. Baekhyun sendiri sudah diluputi canggung dengan segudang debaran gila. Tak luput kelopak-kelopak bunga imajiner menghujaninya penuh cerita. Ia sebenarnya tidak tahu, jika menatap Chanyeol yang tersenyum manis begitu bisa membuat jantungnya mendadak sinting. Senyumnya bahkan sudah merekah diam-diam, membuat pipinya tertarik melebar. Nyaris tersenyum selebar Joker.

Kantuk dan lelah Baekhyun hilang entah kemana. Digantikan dengan ia yang lagi-lagi tidak bisa terlelap di ranjang itu. Ia berakhir dengan terjaga, menatap dentingan jam yang berdiri di atas nakas. Kemudian dengan jelas kembali teringat soal kemarin-kemarin.

Jantungnya kembali berpacu dengan gila. Wajahnya memanas tanpa alasan. Ia sungguh tidak tahu mengapa. Terlebih ketika Chanyeol mengatakan tidak akan meninggalkannya, rasanya ia ingin pergi saja dari kamarnya. Bertemu dengan Chanyeol sekali lagi, menatapnya diam sampai pagi menjelang. Sungguh konyol keinginannya.

Dengan ragu ia beranjak dari sana. Menyibak selimutnya yang hangat untuk turun ke luar dari kamar. Ia tidak tahu pasti dengan apa yang ia lakukan kali ini. Memilih mendekati pintu kamar Chanyeol yang sepi. Yang mungkin saja si pemilik sudah terlelap di dalam sana.

Perlahan Baekhyun menyentuh daun pintu itu. Begitu bimbang apakah ia harus mengetuknya atau tidak. Lagipula untuk apa yang dilakukannya ini? Untuk apa ia mencari Chanyeol di pertengahan malam? Lantas saat Chanyeol keluar nanti apa yang akan ia katakan?

Bodoh sekali.

Terlalu lama menimbang, akhirnya pintu itu terbuka lebar. Menyisakan sosok Chanyeol yang berdiri di hadapannya dengan potongan piama yang terlihat pas dengannya. Pria itu menatapnya heran, atau mungkin terkejut karena mendapatinya belum juga tertidur setelah baru saja diantar.

Dan yang lebih aneh lagi, Baekhyun ditemukan berdiri terlalu lama di depan pintunya. Chanyeol sampai berpikir jika Baekhyun mengalami sleep walking dari pada terlihat ingin meminta bantuan.

"A-aku tidak bisa tidur," jelas Baekhyun memberi alasan seadanya. Matanya bergerak gelisah. Jemarinya bisa saling menautkan diri ketika ia gugup. Padahal Baekhyun ingin ditemani. Terlalu kentara saja kalau dia bilang yang lainnya.

Chanyeol yang mendapati kepolosan itu menjadi tidak tega untuk menyuruhnya kembali. Ia sebenarnya juga tidak bisa tidur. Ingin mencari udara segar di luar setelah segala hal terjadi beberapa hari ini. Yang mungkin saja bisa membuatnya mengantuk atau minimal menghibur hatinya yang lelah meribut.

"Aku─"

Menyadari Baekhyun yang berlaku terlalu manis di depannya, membuat Chanyeol kacau sendiri. Ia mendadak tidak bisa bicara banyak. Canggung seperti biasa, saat ia menghadapi Baekhyun di meja makannya.

Namun entah pikiran darimana, ia kini meraih jemari Baekhyun. Mengejutkan si pemuda sampai sepasang mata bulan sabit itu menatapnya penuh bingung. Chanyeol pun lelah menahan dirinya untuk tidak mengusak surai lembut suaminya yang coklat. Lantas segera menarik Baekhyun masuk ke dalam kamarnya yang tenang dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Canggung kembali mendera. Sunyi mengisi degupan jantung keduanya yang semakin bertabu menjadi-jadi. Baekhyun menunduk dalam gurat gugupnya. Chanyeol sendiri sudah melepaskan tarikan tangannya untuk mendapatkan sebuah bantal. Membuat sebuah batas seperti pertama kali mereka melakukannya.

"Pembagian wilayah," tutur Chanyeol merapikan ranjangnya. Membuat Baekhyun ingat kali pertama ia mengisi pasangan bantal Chanyeol hari itu. Rasanya seperti baru kemarin. Canggungnya pun masih terasa sampai detik ini pula. Tidak ada yang berubah.

Baekhyun menaiki ranjang empuk itu setelah dipersilahkan. Tidak lama, Chanyeol pun melakukan hal yang sama di sebelahnya. Mereka kembali membisu, padahal lampu sudah berhasil dimatikan. Digantikan dengan nyala lampu tidur yang temaram, berselimut dingin dari luar.

"Hari itu aku tidak membagi selimutnya denganmu," balas Baekhyun menatap selimut yang melingkupinya. Tidak juga dibagi pada Chanyeol, tepat seperti dahulu. Namun kali ini ia rasa harus membaginya dengan sang empunya.

Chanyeol tersenyum kecil. Bernostalgia dengan pengalaman pertama mereka dalam mengarungi kebersamaan. Ia sedikit mengingat pelukan Baekhyun pada lengannya dahulu, dan itu berhasil menyangkutkan kikikan kecil dalam pikirannya. "Itu karena kita tidak bisa melewati batas."

Senyum Baekhyun melalang-buana. Begitu manis ditambah dengan sipit yang tenggelam di antara pipinya yang semakin berisi. Jemarinya menunjuk pembatas mereka, disusul dengan tatapan lembut dari Chanyeol yang rupanya sudah menatap dirinya di tepi.

"Keberatan kalau disingkirkan?"

"Tentu saja tidak," jawab Chanyeol membalas senyumnya.

Semburat hangat kini menjalar di kedua pipinya. Tapi asalkan gelap, Baekhyun tidak keberatan kalau pipinya memerah seperti habis terkena pukulan. "Jadi kenapa kau buat pembatasnya?" sementara kita pernah melakukan hal yang lebih dari itu.

Dan Chanyeol menjawabnya dengan kejujuran yang ia miliki. "Karena aku pikir kau akan pergi lagi."

Baekhyun tergugu. Tenggelam dalam pesona Chanyeol yang begitu bersinar dari sebelumnya. Ia bahkan bertanya kemana semua kekagumannya pada Chanyeol setelah sekian lama baru mendapatkannya kembali. "Kau takut kalau aku pergi?"

Chanyeol tak menjawab. Memilih menyelami jernih manik Baekhyun yang bersinar di bawah remang. Baginya, Baekhyun terlalu menarik sampai hatinya diluputi kembang api. Terlalu manis, terlalu ingin ia puji. Dan Chanyeol tidak pernah punya kesempatan untuk memuji. Jadi ia hanya menikmati bagaimana wajah manis itu menatapnya tulus. Tidak pernah berhenti hingga waktu semakin dalam menyelam.

"Boleh aku memelukmu?" tawar Chanyeol tanpa sadar. Namun sedikit manusiawi. Salahkan Baekhyun yang membuatnya begitu gemas ingin memeluknya.

Baekhyun tergugu sebentar. Matanya yang berkilauan segera berkedip. Pemuda itu akhirnya mengangguk setelah Chanyeol memastikan banyak hal.

Chanyeol lalu menyingkirkan banyak bantal yang memisahkan mereka. Membuangnya ke lantai dengan sangat tidak perduli. Dan ketika semua penghalang pergi dari keduanya, Chanyeol mendekat. Meraih Baekhyun yang masih bergeming tidak melakukan apapun.

Jantung Baekhyun kembali berpacu. Takut ketahuan setelah ia terbenam dalam pelukan suaminya. Chanyeol sendiri melingkarkan lengan di pundaknya. Mengelus surainya sesekali sambil memperdengarkan detak jantungnya yang berdebar. Sama seperti miliknya.

"Wanita yang kau lihat waktu itu. Dia seorang investor yang diincar perusahaanku. Dia tinggal lama di Amerika, jadi baginya─" Ada jeda dengan penjelasan kecil itu. Chanyeol sendiri terdengar meragu tapi tidak pernah berniat ingin berhenti. Dan ia ingin meluruskan sisa permasalahan mereka dan berniat menggantikannya dengan hal baru yang lebih baik.

"Sehun juga temanku. Dia seperti adik kecil yang ku temukan di lemari," tak mau kalah, Baekhyun ikut memberi penjelasan. Ia pun sebenarnya tidak memahami mengapa mereka mendadak jadi saling meluruskan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka perdulikan. "Dia banyak membantuku."

"Maaf," mohon Chanyeol sekali lagi.

"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku bahkan menyebutmu seorang murahan."

Chanyeol tersenyum kecil padanya. Semakin mengeratkan pelukannya ketika matanya mulai memberat. Ia sendiri merasakan ketenangan manis yang belum pernah ia rasakan ketika beredekatan dengan Baekhyun. Belum pernah dirinya merasa selega ini sebelumnya.

Baekhyun sendiri terbuai. Rasa nyaman terselip dalam seluruh inderanya. Aroma mint dari Chanyeol menguar menggoda paru-parunya. Memberikan perasaan rileks, sampai kelopaknya memberat mendengar nafas Chanyeol di dekatnya.

"Terima kasih, karena kau tidak pergi─"

e)(o

Empat hari berselang membawa atmosfir mereka yang biasanya diluputi canggung seketika berubah berbalik menjadi 360 derajat. Keduanya lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan berbagi banyak cerita. Sesekali Chanyeol harus berbagi tempat dengan kantuk Baekhyun yang tidak tertahankan. Pria itu─entah mengapa─merasa jauh lebih tenang dengan kehadiran Baekhyun di sisinya.

Seperti pagi yang lain, Chanyeol bergerak ketika ia tidak mendapati Baekhyun di sisinya. Mengalami trauma efek ditinggalkan membuat Chanyeol gusar. Tidak tenang, lalu segera turun dari ranjangnya demi mencari keberadaan Baekhyun yang hilang. Ia hampir saja pergi keluar dari pintu kamarnya, setelah mendengar suara mual yang menyakitkan di dalam kamar mandinya.

Tanpa berpikir ia berlarian memasuki kamar mandi. Menemukan Baekhyun yang berlutut di depan kloset membuatnya semakin bersalah. Ia kemudian memegangi tubuh lemah itu. Menemaninya hingga selesai, sambil membantu memijit tengkuk suaminya.

"Maafkan aku," mohon Chanyeol yang berhambur memeluk Baekhyun. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher itu diam. Tidak juga membiarkan Baekhyun beranjak setelah membasuh wajahnya.

"Kau terlalu banyak minta maaf," bisik Baekhyun mengelus pundak suaminya yang memohon dengan menyesal setiap kali ia muntah. Pemuda itu tersenyum lembut lalu berusaha sebaik mungkin untuk menahan pusing di kepala. Ia sendiri merasa tenang karena Chanyeol selalu berada di sampingnya saat ia mual. Menjaganya dengan tulus, bahkan melebihi perhatian ibu dan kakaknya.

Chanyeol mengejutkan Baekhyun ketika sosok itu meraih jemarinya yang pucat. Menggenggamnya hangat sambil menyaksikan wajah pucat Baekhyun yang menghias sisa kantuknya. "Kau merasa pusing? Mau aku buatkan sesuatu?"

Baekhyun merasakan sesuatu yang menghangat di dalam dadanya. Turun ke hatinya lalu meletup bersama senyum yang perlahan mengembang. Tanpa sadar dirinya memuja bagaimana Chanyeol begitu perhatian padanya. "Aku tidak tahu, tapi kupikir aku ingin makan sesuatu yang manis."

Chanyeol lalu merapikan surai Baekhyun yang berantakan. Mengajaknya keluar dari kamar mandi sambil memikirkan sesuatu yang bagus. "Mau aku buatkan pancake?"

Baekhyun berpikir sebentar. Ia seperti ingin memakan sesuatu yang diinginkannya, padahal ia tidak lapar. Dan ia merasa sedikit ganjil, karena ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. "Chanyeol, apa ini karena aku hamil?"

Terpikirkan begitu saja dalam dirinya. "Aku tidak lapar, tapi aku terus menginginkan sesuatu."

Chanyeol terkikik mendengarnya. Sedangkan Baekhyun tercenung menatap bagaimana pria itu terus menggenggam jemarinya. Kali ini suaminya itu malah terlihat jauh lebih menawan dengan rambut kusut seperti itu. Terlebih ketika Chanyeol hanya mengenakan piama berantakan, entah mengapa Baekhyun menjadi lebih terhibur untuk menatapnya akhir-akhir ini.

"Chanyeol kau berantakan," gumam Baekhyun tanpa sadar. Dan Chanyeol sukses terdiam mendengarnya. Masih menggenggam tangannya lembut, seakan tidak mau dilepas.

Menyelami manik hitam Chanyeol membuat Baekhyun tak berkedip. Ia mengabsen fitur wajah itu sampai selesai. Tidak melewatkannya satupun, sambil memujinya dengan indah diam-diam. "Matamu lebih besar dari yang aku kira. Kulitmu juga bagus," puji Baekhyun pelan. Terserah Chanyeol akan mendengar racauannya atau tidak.

"Oh, Chanyeol, bagaimana ini? Aku berubah jadi aneh─"

Chanyeol lalu tersenyum gemas. Jauh tidak paham mengapa ia ingin sekali memeluk Baekhyun pagi ini. Dengan sabar Chanyeol menunggu sosok itu bersuara. Mendengar banyak ocehannya, yang tanpa ia duga semua itu menjadi candu baginya.

"Aku jadi menginginkan sesuatu yang lain." Mata sipit itu bergerak gelisah. Gerakan tangan Baekhyun yang menggaruk hidungnya malah membuat Chanyeol semakin tidak sabar.

"Apa itu?" tanya Chanyeol menunggu.

Pipi Baekhyun yang kini lebih berisi terlihat begitu mengemaskan di matanya. Suarainya yang halus masih beraroma sampo. Kedipan mata bulan sabitnya pun tak kalah mampu membuyarkan kesadaran Chanyeol akannya. Chanyeol sendiri akhirnya terbuai, tidak percaya jika Baekhyun nyatanya selalu manis untuk menjadi pemandangan paginya.

"Itu─"

Dan ketika jemari kecil itu hendak menunjukkannya sesuatu, Chanyeol sudah mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibirnya. "Yang ini?"

"Bukan!" jawab Baekhyun merengut. Tidak terima dengan perlakuan suaminya yang tiba-tiba mengguncang ketenangan jantungnya di pagi hari. Bukan apa-apa, hanya terlalu singkat saja kalau menurut Baekhyun.

Seakan dapat membaca semua pikiran suaminya, Chanyeol menarik pinggang Baekhyun mendekat padanya. Menangkup rahangnya pelan, lalu kembali meraih bibir mungil itu dengan lembut. Sedikit mengulumnya, sampai Baekhyun melotot karena terkejut.

"Kalau yang ini?"

Rona merah di wajah Baekhyun semakin mengembang hebat. Refleks kedua tangan pemuda itu membekap mulutnya sambil melotot. Dan sebelum Chanyeol kembali terkikik gemas, Baekhyun sudah berlari menjauh. Kabur dari hadapannya sampai Chanyeol khawatir sendiri.

"Jangan berlari begitu," seru Chanyeol mengejarnya. "Kau tidak boleh terjatuh."

Lalu yang didengar Chanyeol sebelum pintu kamar Baekhyun tertutup mendahuluinya adalah suara teriakan Baekhyun yang seakan membelah rumahnya.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Nah gimana gimana?

Buat yang gak paham gimana baek hamidun, coba baca chap sebelumnya deh. Sebelum itu yang kemaren mereka udah itu... #kalianpastikonek #akupercaya Jadi ya begitulah. Kenapa langsung jadi? Ya aku mau pakek realita aja. Biasanya yang 'iseng' nyobain gitu ada aja gitu akibatnya.

Dan ini bentar lagi mau end ya. mungkin mingdep, apa mingdep yang berikutnya. Gak tau juga.

Makasih banyak teruntuk kalian.. Jaga kesehatan dan selalu berdoa. Semoga badai yang menimpa kita ini cepat berlalu. Sekali lagi #kalianpastikonek #akupercaya