Kuhhhhhhhhh! Halo lagi dan gak ada pernyataan atau statement di kolom Review jadi, itu menandakan bahwa cerita yang saya buat baik-baik saja dan hanya bertambah Favorite termaksud Follow, bagi saya itu sudah cukup untuk tetap menulis karena hanya untuk kesenangan belaka, dan juga apalagi yah, yang saya ingin bicarakan? ohhh ya lupa ada niatan untuk bikin Fic RWBY karena saya cukup tertarik cuman masih belum bisa karena belum lihat animasinya, dan ngomong-ngomong ada situs yang nyediain anime itu? karena sudah saya cek Google isinya link mati semua atau berkas rusak -_- kan asem padahal saya ingin nonton klo di YT boros kuota dan saya tak ada waktu ke warnet karena sudah kerja dan mustahil ada waktu luang.

P.s : untuk saat ini anime musim ini masih ongoing jadi untuk penikmat batch, saya rasa harus bersabar setengah tahun lagi terlebih jika anime itu 25 episode wohhh, pasti bakal lama dan bakal bertevaran tukang spoiler asemm emang :v

.

...

.

- Tempat Parkir

Sekarang adalah Malam hari yang sangat panjang sekali di Negara Jepang yang dulunya menjadi Negara sangat sibuk dan penuh kepadatan ditambah aktifitas yang selalu ramai setiap hari dengan banyak cahaya lampu, kini telah berubah menjadi udara dingin, dengan suasan gelap mencekam tanpa penerangan, dan seperti tak ada sama sekali orang-orang atau bisa dibilang Negara Mati.

Karena semua kejadian yang mengerikan dan musibah ini masih belum diketahui penyebab asal usulnya makanya kondisi Jepang berubah menjadi malapetaka, tapi bukan cuma Jepang saja yang terkena dampak wabah virus ini melainkan hampir setengah Negara yang ada di Dunia juga merasakan musibah yang terjadi sekarang ini.

Dan musibah itu sendiri mirip sekali dengan apa yanh terjadi di Dunia Game meski terdengar gak logis dan cuma khayalan tapi, memang seperti itulah adanya karena semua orang-orang berubah menjadi Zombie atau lebih jadi monster lainnya dan juga yang tergigit bakal terinfeksi virus lalu pada akhirnya juga menjadi Zombie.

PPSN atau dijelaskan Perserikatan Persatuan Seluruh Negara telah mengumumkan Amnesti bahwa semua masalah urusan pribadi atau permusuhan apapun itu ditiadakan atau dihilangkan dan diganti dengan menyelamatkan jutaan nyawa lalu mengusung tuntas masalah yang terjadi dan wabah penyakit yang hingga saat ini belum ada obatnya. jadi semua Negara kini bersatu dan saling membantu untuk mengungkap siapa dalang di balik banyaknya nyawa yang melayang.

Dan mereka semua sudah melakukan itu dengan saling mengirim bantuan dan membantu Negara yang sangat susah sekali dalam hal pakaian, makanan, obat-obatan, termaksud semua yang diperlukan untuk bertahan hidup dan juga Asosiasi terbesar di Dunia itu saat ini sedang melakukan proyek mendadak yang mana membuat sebuah tempat besar dan sangat aman untuk ditinggali makanya seluruh Negara mengevakuasi warganya yang masih belum terkena virus ke tempat itu.

Meski cuma setengah dari seluruh Negara yang terkena efek virus ini cuman, Negara yang masih normal sekarang lebih waspada karena bisa saja ada salah satu yang membawa penyakit hingga akhirnya tertular ke semua orang dan mirip sekali dengan penyakit Ebola atau Flu Burung yang sangat cepat menyebar penyakitnya itu.

Dan itu adalah serangkaian kejadian yang terjadi sekarang di seluruh dunia yang mana virus Zombie ini sudah menyebar dan mungkin saja mereka akan menghadapi hal yang buruk lagi, tapi tak ada yang tau ke depannya seperti apa.

Lalu sekarang beralih kembali ke Jepang tepatnya di sebuah kota kecil yang terkena juga efeknya virus Zombie ini dan dengan kondisi sekarang berkat Radiasi ledakan cahaya Nuklir membuat semua listrik dan barang-barang yang berhubungan juga mati total jadi, ini sangat merugikan sekali bagi yang masih bertahan hidup khususnya untuk malam hari karena pandangan sangat terbatas dan juga munculnya banyak bahaya di depan.

Dan juga di sebuah Mall tepatnya di tempat khusus parkir mobil terdapat empat orang anak muda yang sangat berani sekali dalam survival dari serangan Zombie ini sebut saja mereka Saya, Hisashi, Rei, dan juga kakak kelas Saeko yang sekarang bersembunyi dalam bak mobil truck bersembunyi dari kejaran mahluk cepat yang hanya muncul pada malam hari.

Sebenarnya mereka ini membuat kelompok atau regu dengan banyak orang namun terpisah karena kejaran monster ini yang memaksa mereka untuk berpencar lebih dahulu lalu bertemu lagi di lokasi yang sudah di janjikan yaitu SMP Fujikato 4, tempat dulu Saya Takagi dan Takashi Komuro pernah bersekolah dulu.

Cuma saja saat ini mereka dalam kondisi yang bisa dibilang tak menguntungkan karena harus menghadapi musuh monster yang sangat cepat, jumlah gerombolan, dan tidak mati walau tiga kali tembak karena kulitnya keras, dan beruntung berkat Takashi yang mengalihkan perhatian monster itu mereka bisa kabur, cuman tak bisa menyembunyikan rasa khawatir terhadap Ketuanya ini tapi, semoga saja tak ada masalah apalagi mereka sudah berjanji untuk ketemu lagi.

Dam juga tak ada yang tau nasib teman-teman yang lainnya berpencar itu tapi, mengingat mereka sudah cukup kuat dan menjadikan pengalaman mengerikan ini sebagai awal untuk bisa bertahan hidup ke depannya.

Semuanya masih tetap bersembunyi dalam bak Mobil truck tanpa bersuara karena pendengaran para monster itu lumayan peka jadi, jangan berisik ditambah senjata mereka kurang memadai untuk melawan dan kondisi sekarang yang bakal merugikan sekali.

Hisashi sedikit mengintip untuk melihat keadaan lalu balik lagi "sepertinya mereka tak mengetahui kita dan cukup menguntungkan bagi kita yang gelap seperti ini karena langsung sembunyi dalam kegelapan" untuk sekarang dia yang memimpin kelompok ini karena cuman satu-satunya lelaki ketika Takashi tak ada.

"Apa kau benar-benar yakin?" ucap Saya sedikit ragu, meski mendengar suaranya saja mereka tak bisa sama sekali melihat apapun itu karena kondisinya sangat gelap tanpa ada sama sekali penerangan setelah ledakan reaksi Nuklir itu.

"Kalau begitu kenapa tak cek saja menggunakan Korek? karena masih bisa berfungsi untuk penerangan?" Rei memberi saran namun, agak khawatir juga dengan kondisi Ibunya yang terpisah berkat kejaran mahluk tadi.

"Aku bawa, cuman kita tak begitu tau kondisi di luar dan mungkin saja para Zombie di sekitar sini" ucap Saeko menolak karena ide itu membahayakan untuk keselamatan semuanya "kita tau kondisi di luar sana karena gelap gulita dan juga ini menjadi kelemahan kita, selagi mereka ada di luar sana mustahil untuk bertindak seenaknya"

"Tck" Rei menyerah dan menurut saja.

"Kita berharap pada Takashi-kun untuk segera ke sini dan menyusul karena dia sudah berjanji untuk bertemu lagi di sini lalu kembali sesuai rencana" ucap Saeko dengan suaranya agak berbeda dan bukan normal melainkan seperti perempuan yang menaruh harapan pada lelakinya.

Saya mendengarnya sangat tak senang "dan kenapa nada suaramu seperti itu?"

"Ohhh ada masalahkah dengan itu Takagi?" Saeko dengan nada menggantung dan jika kondisinya terang berani bertaruh bahwa gadis rambut ungu ini memasang seringai mengejek yang sengaja ditunjukan untuk membuat anak Souichirou kesal.

"Sudahlah, hentikan ini untuk sekarang" ucap Hisashi menengahi mereka karena tau gadis berambut pink ini temperamental dan agak sensitiv jika disinggung "baiklah, mungkin aku akan mengecek lalu kita bergerak lagi?"

"Kemana?!" tanya Saya sewot.

"Kita ke atas setidaknya ada cahaya terang dari Bulan purnama jadi sedikit penglihatan tak masalah daripada harus gelap bahkan tak bisa melihat apapun" jawab Hisashi menjelaskan rencananya.

"Tapi, bukankah Takashi menyuruh kita untuk menunggu di lantai bersembunyi?" ucap Rei yang sedikit ragu tentang rencana pacarnya ini.

"Tapi, dia tak menjelaskan secara spesfiki harus di mana bukan?" ucap Hisashi yang mendapat anggukan setuju dari semuanya meski tak terlihat "jadi, kita akan ke atas dan juga aku yakin Takashi akan langsung faham tentang rencananya"

"Tapi, kau tau kita tak bisa berjalan seenaknya karena kau tau sendiri.." Saeko mengingatkan meskipun mahluk baru sudah muncul tapi, tak bisa melupakan kawanan Zombie yang berkeliaran di setiap sudut bahkan sangat banyak.

"Kita cukup menggunakan Korek buat penerangan dan jangan bersuara saja" jawab Hisashi dan dia harus tetap menjaga kelompok ini sampai Takashi kembali karena sudah diberi kepercayaan "dan semoga saja kita tak bertemu monster seperti tadi karena Takashi bilang mereka suka ruangan gelap minim cahaya dan sering bersarang di sana"

"Oke" Saya sudah siap dan semuanya juga sudah melakukan persiapan untuk keluar dari Bak mobil truck.

Semuanya kembali turun cuman Hisashi terlebih dahulu sambil mengamati sekitar tapi, dia masih dengar suara para Zombie yang sangat banyak dari helaan nafas murutnya karena mereka buta jadi, masih mengutungkan mereka dan dia menyalakan korek api untuk membuat pandangan sedikit jelas karena bisa gawat jika mereka salah jalan dan malah bertemu Zombie.

Setelah mengecek beberapa menit lalu mengamati sekitaran cahaya api Hisashi berjalan dan bicara pelan "ayo jalan, ikuti aku dan jangan sampai ada yang terpisah" dia memegang tangan Rei dan menuntun mereka karena cuma dia yang punya penerangan meski minim.

"Berharap kita tak bertemu monster itu" ucap Saeko cukup cemas dan dia merasakan merinding di bagian belakang karena dia berjalan paling belakang dengan tingkat perasaan waspada yang paling dan mungkin saja pasti ada serangan tiba-tiba dari belakang.

"Tapi, kemunculan mereka sekarang rasanya mustahil untuk tak bertemu cuma kita berjalan lewat sisi saja dan tak usah bersuara" ucap Saya dan bisa terdengar bahwa suaranya yang paling berisik di antara ketiga orang lainnya.

"Bisakah kalian tak bicara sekarang? itu yang ada bakal mengundang perhatian mereka?" ucap Rei memohon karena mendengarnya saja sangat menjengkelkan sekali "dan si bodoh itu lama sekali sihh! setidaknya berhenti membuat orang lain kesusahan"

Saya mendengarnya itu tak senang dengan hinaan yang tak langsung "begitukah, cara bicara orang yang bahkan jarang melakukan apapun dan cuman bisa mengharapkan bantuan dari pacarnya saja?"

Rei mengangkat sebelah alisnya tak suka sekali dengan bicara itu "ohhh bukankah seharusnya yang ngaca sana? dan juga siapa yang mau menyelamat putri manja yang cuman bisa cengeng dan hanya berteriak menjengkelkan saja?"

"Kau!..." Saya mengerang sangat emosi sekali dan ingin marahnya meledak jika kondisinya bukan seperti ini tapi, beruntung sudah sedikit stabil mengendalikan emosi daripada dulu masih labil.

"Cukup kalian berdua!" ucap Hisashi menghentikan pertikaian ini karena akan berakhir buruk lagipula Rei dan Saya sejak dulu bahkan dari kecil memang terlihat kurang akrab dan dia tau masalahnya cuma satu yaitu sahabatnya Takashi meski sudah tak dianggap karena dirinya disebut Perapor (Perebut perempuan orang) dan hingga saat ini masih belum memperbaiki hubungannya sama seperti dulu.

"Sekarang dunia sudah hancur dan setidaknya singkirkan sifat kekanakan kalian mulai sekarang dan kita harus tetap membantu satu sama lain demi tujuan kita" ucap Saeko yang akhirnya bicara karena tak tahan lagi "dan juga jika seperti ini terus apakah kalian akan siap melihat teman-teman lainnya perlahan menghilang satu persatu lagi arena sikap kita yang tak dewasa?"

Saya cuma menghela nafas yang terdengar sedih dengan kata-kata itu karena mengingat kedua orang tuanya beserta orang-orang yang di sayang dan ucapan kakak kelas ini benar jika terus sikapnya seperti ini dan tak mau memiliki keinginan yang kuat untuk maju maka bakal ada lagi yang jadi korban apalagi jika itu Takashi, dia sudah tak mau kehilangan seseorang lagi makanya dia berlatih untuk menembak meski tak terbiasa dan sangat ketakutan terhadap darah karena dikira membunuh orang jadi, dia akan merubah sikap takut dan manjanya untuk jadi mandiri.

"Memang apa yang kau tau tentang seperti apa Dewasa?" balas Rei yang tak mau kalah membuat Hisashi menghela nafas panjang dan perlu waktu banyak untuk bisa merubah sifatnya.

"Setidaknya aku bersikap tenang dalam mengambil keputusan dan tak gegabah meski situasi kita terdesak, juga aku sudah melakukannya" jawab Saeko dengan tenang dan tak terpancing lalu gadis Miyamoto itu tak bisa membalas lagi 'Takagi benar, gadis ini lebih menjengkelkan makanya aku kasian pada Igou-kun yang jadi pacarnya dan Takashi yang pernah mengejarnya'

"Sudahlah, kita lanjutkan perjalanan lagi-..." ucap Hisashi tapi belum selesai dia bicara saat mengarahkan korek ke depan lagi tiba-tiba muncul monster yang tadi dengan wajah mengerikan di depan wajahnya dan posisi mereka sangat dekat sekali cuma beberapa inci bahkan seperti dalam game yang muncul Jumpscare "sialan... nasibku benar-benar gak bagus sekali" dia bisa melihat struktur wajah monster itu hancur cuma kulit mengelupas dengan campuran daging nerah dan monster itu meraung kencang.

*Ruarghhhhhhhhhh!"

Hisashi sangat terganggu dengan teriakan itu karena menusuk ke Telinganya tapi, memilih mengabaikan itu "ubah rencana sekarang!" dia menarik pacarnya Rei keluar dari Area parkir karena suara berisik itu sudah pasti mengundang banyak perhatian para Zombie dan monster ke sini.

"Keluar dari sini sekarang!" teriak Saya yang malah mengundang perhatian banyak Zombie dan langsung menarik

"Bagaimana dengan Komuro-kun?" tanya Saeko karena prinsipnya jika sudah berjanji maka tak boleh dilanggar.

"Fikirkan keselamatan kita lebih dahulu dan cari tempat aman!" jawab Hisashi lalu melihat 3 monster yang bergerak cepat mengejar mereka dan bersiap menembak dengan senjata Mini Shotgun 23MI "lagipula aku yakin Takashi akan mengerti dan setidaknya tujuan kita sekarang sudah tau bukan!?" dan tak lama ketiga monster tadi mendekat lalu dia menembak cepat karena repleks bahaya mendekat.

*jdorrr! *jdorrrr! *jdorrr!

Saeko melihat beberapa Zombie mendekat lalu menyiapkan Katana miliknya "baiklah, izinkan aku membantumu juga" dia berputar seperti gangsing dan menebas bagian kepala sangking cepatnya hingga tak terlihat dan hanya nampak blur saja.

"Cepat kabur dan kita harus bersembunyi!" ucap Saya yang berlari memimpin dan disusul yang lainnya "mustahil mengalahkan mereka dengan persenjataan seperti!"

"Memangnya kita mau lari seperti ini terus!?" ucap Rei berlari juga namun agak protes karena kedua kakinya benar-benar lelah dan tak terbiasa jika lari terus-terusan "memangnya kita mau pergi arah mana?!"

"Kita bersembunyi istirahat sebentar lalu lari lagi hingga tujuan kita sampai" ucap Saya menjelaskan rencanan cadangan karena mustahil harus menunggu Takashi disaat situasi tak mendukung untuk menunggu seseorang "yah, tentu saja ke SMP Fujikato 4 idiot!" gara-gara gadis mantan Takashi ini rencana mereka untuk kabur sedikit terhambat, tapi dia berharap Rei tinggal dan ikut warga yang mengungsi lalu separuh kelompok lainnya melanjutkan rencana mereka.

"Terus lari!" teriak Hisashi yang berada paling belakang untuk menahan pergerakan monster itu karena cepat "dan kita cari jalur yang aman dan tak terlalu banyak Zombie meski harus memutar sekalipun!" dia kembali menembak lagi ketika monster itu dan nyaris tergigit salah satu Zombie jika tak repleks gila tadi.

Saeko tetap berlari sambil menebas Zombie yang menghalangi jalan "kita, tak bisa begini terus adakah yang punya rencana untuk memperlambat mereka?" dia ingin membantu menggunakan Senapan tapi, dia belum bisa karena selalu bertarung dengan jarak dekat.

'Memang benar,lagipula peluruku tinggal beberapa butir lagi dan mustahil untuk melawan atau membunuh mereka' Hisashi menghitung beberapa amunisi dan tak ingin membuang banyak peluru untuk sesuatu yang berguna karena ke depannya masih panjang 'lagipula kita harus cari cara untuk menghalangi gerakan mereka tapi, aku punya Mini Shotgun dan Uzi Ripple dan dua Grenade dengan dua Smoke Bomb saja' tapi, muncul ide brilian disaat genting seperti ini.

*Tinggg!

Rei menyadari ekspresi pacarnya yang aneh "ada apa Hisashi? apakah ada yang aneh?"

Hisashi menggeleng kepala "tidak, bukan apa-apa" lalu matanya beralih ke depan sambil teriak "Takagi!"

Saya menoleh ke belakang sambil tetap berlari "ada sesuatu Igou? kita tak punya waktu untuk bicara normal sekarang"

"Tidak, bisakah kau arahkan kita ke sebuah jalan yang terhalang mobil atau apapun itu?" Hisashi meminta pertolongan pada gadis itu dan seperti mengambil sesuatu di tas pinggangg.

Saya sedikit diam beberapa saat tapi, langsung mengerti tanpa beberapa saat karena sadar mungkin ini bagian dari rencana "baiklah, aku mengerti itu" dia tak tau apa yang direncanakan cuman berharap saja terbebas dari kejaran mereka untuk sekarang lalu mengambil alih pimpinan.

'Begitu rupanya' Saeko menyadari juga rencana mantan pacar Hisashi ini.

Saya memimpin mereka lalu berlari mencari tempat yang dimaksud lalu menemukan sebuah Distrik yang mana jalannya cuma muat untuk mobil satu arah dan akhirnya yang dicari ketemu karena jalan itu terhalang satu mobil sedan dalam keadaan utuh dan menghalangi semua jalan cuma ada sedikit masalah karena ada beberapa kumpulan Zombie.

"Bingo!" Saya ketemu orang yang dicari cuman agak sedikit bingung apa hubungannya dengan rencana yang dimiliki Hisashi tapi, dia masih bisa mengira-ngira 'mungkinkah ledakan?'

Rei yang paling tak faham lalu meneriaki pacarnya "apa yang kau lakukan bodoh!? kau ingin membuat kita semua mati hahhhh?!"

Hisashi mengabaikannya saja "Zombienya cuma sedikit dan Busujima-senpai, kita habisi mereka lalu lompat atau lewati mobil ini karena ukurannya cukup mudah untuk dilewati"

"Baiklah" Saeko siap kembali untuk menghabisi mangsanya.

Saeko menebas Zombie tepat di bagian kepala sementara Hisashi terus menembaki dengan beberapa senjata yang dimiliki dengan sekuat tenaga sementara Saya dan Rei terus berlari melewati tempat para Zombie yang sudah terbaring karena serangan.

"Lewati mobil itu!" teriak Saya yang mengerti lalu berusaha melompat mobil di bagian depannya dengan cepat disusul oleh Rei meski terlihat kesulitan.

"Cepat, Igou-kun!" ucap Saeko yang menyusul mereka.

Hisashi menunggu momentum setelah cukup dia berlari sambil melompati mobil dan tentu menarik pelatuk Granat dan benda berbahaya itu langsung dilemparkan ke arah kolong mobil karena menurutnya cara ini cukup berhasil untuk menahan mereka.

'Meskipun semua peralatan tak bisa digunakan termaksud mobil namun, itu bukan berarti tak ada bahan bakar di dalamnya' Hisashi melihat sejenak ke belakang lalu buru-buru berlari sebisanya menyusul yang lainnya karena dayakan ledakannya tinggi.

*Booooommmmmmmm! *jduarrr!

Terdengar suara dentuman ledakan sebanyak dua kali dengan sekala besar hingga daya besar itu membuat ledakan api ke atas alhasil para monster dan Zombie yang ada di sekitaran sana terkena itu langsung hangus termakan ledakan api yang Bom bercampur Bensin dengan memiliki sifat saling menyatu. Dan Hisashi terdorong karena efek ledakan angin itu karena larinya tak begitu jauh.

Saeko berhenti berlari karena melihat temannya sedikit ada masalah "Igou-kun? kau baik-baik saja?" dia mengabaikan Saya dan Rei yang terus berlari tanpa menoleh ke belakang.

Hisashi langsung berdiri dan menjawab "tak usah khawatirkan aku, kita harus memanfaatkan moment ini selagi sempat" dia berlari lagi meski sedikit sakit juga tapi, dipaksakan.

"Oke"

.

.

.

.

.

- Gorong-gorong

Sedangkan itu sang character utama kita seorang lelaki yatim piatu dan bekerja paruh waktu untuk menghidupi kebutuhannya Takashi Komuro yang sekarang tengah berada di Saluran Pembuangan Air terakhir atau Jalur bawah tanah yang mana tempat itu berasal dari pembuangan Air yang ada diseluruh rumah lalu dikelolah dan airnya dibuang kembali ke laut atau singkatnya jalan Gorong-gorong.

Takashi saat ini berada di bawah jalan karena kondisinya sekarang di luar sana sangat gelap dengan banyak Zombie dan kejaran para monster yang sangat beringas di malam hati apalagi melawan akan sangat besar kemungkinan mati langsung mengingat situasi malam hari gelap total, tak ada penerangan memadai karena berkat radiasi itu cuma sedikit dari cahaya bulan, dan yang terpenting senjata dengan amunisi minim jadi tak ada pilihan lain cuma kabur saja.

rencana Takashi sudah benar memancing para monster itu untuk mengikutinya apalagi mustahil melawan mereka meski sudah keroyokan karena tubuh fisik mereka keras jadi, dia mengorbankan diri janjinya dia akan bertemu dengan mereka di Area parkir Mall Shezo cuman sepertinya tak jadi karena situasi di luar sana tak memungkinkan karena banyak monster dan Zombie di sana, jadi dia cukup yakin teman-temannya pasti akan mengerti untuk langsung ke tujuan utama yaitu ke SMP Fujikato 4 tempat pernah dia bersekolah dulu sekaligus satu-satunya tempat pengungsian terdekat.

Situasinya Takashi tak begitu bagus karena dia cukup gegabah membawa Alice bersamanya lengkap dengan seekor Anjing segala seharusnya dia titipkan pada Saya waktu itu karena lebih aman daripada dibawa oleh dirinya yang cuma mengundang bahaya saja, dan setelah serangan gerombolan monster itu yang tadinya satu kelompok kini terpencar cuman satu hal yang pasti mereka akan ke sana dan tak ada salah lagi.

Dan ketika masuk ke dalam Saluran Bawah Air Takashi dikejutkan bahwa semua lampu atau listrik di bawah jalan raya ini masih menyala malahan normal cuman ada beberapa yang mati karena rusak dan sedikit terhalang bercakan darah dan ini cukup membingungkan seharusnya jika Radias itu melumpuhkan semua listrik bahkan mobil saja tak bisa berjalan jadi, dari mana asalnya listrik di sini masih menyala.

Memang benar bahwa Saluran Bawah Air yang ada di bawah jalan ini sudah diberi penerangan karena ada beberapa pekerja yang tinggal di sini karena tugas mereka jika ada masalah cuman dari mana asalnya karena pusat pembangkit listrik yang ada di Okinawa pasti mati juga, apa mungkin mereka punya suatu alat cadangan jadi listrik di Gorong-gorong ini masih berfungsi tapi untuk sekarang bukan itu yang harus dipentingkan.

Takashi tak terkejut ketika turun ke bawah sudah mendapati Saluran pembuangan Air yang warnanya sudah keruh hinau kemerahan karena darah dan bau amis sangat menyengat, dan ketika melihat ke depan bahwa ada sekumpulan mayat berserakan di Gorong-gorong ini dengan darah banyak berceceran dan menempel di tembok, suasana seperti ini mirip seperti film genre Pyschological Horror dengan suasana mencekam yang membuat siapapun tertekan ketakutan.

'Mereka yang bekerja di sini terkena juga' Takashi bisa melihat jelas dari jauh lalu menurunkan Alice dari gendongannya "tunggu di sini sebentar yah? kak Takashi akan periksa tubuh mereka siapa tau kita bisa menemukan sesuatu yang berguna" gadis kecil itu mengangguk faham dan Takashi langsung berjalan dengan diikuti Zeke.

"Iyah!"

Takashi memeriksa salah satu mayat yang terdekat dan melihat warna pucat kebiruan, dengan kedua tangan banyak darah, baju kotor parah, lalu dia memegang bagian kepalanya dan diangkat lalu mendapati sesuatu yang sangat mengerikan.

"Ini, sangat gila sekali" Takashi mengomentari salah satu mayat karena kondisi bagian leher hampir sangat putus dengan daging dalam yang rusak dan seperti gumpalan daging, lalu yang jelas seperti terus digigit oleh para Zombie hingga seperti dan sangat menjijikan sekali "jika, aku makan di depan seperti ini, percayalah aku takkan nafsu makan lagi selama seminggu"

Takashi juga sadar salah satu ini tak bangun mengejarnya padahal seharusnya setiap orang yang tergigit bakal berubah namun, yang dia hadapi cuman mayat-mayat yang mati seperti dimangsa hewan buas daripada Zombie dan anehnya tak ada yang bangkit sama sekali atau tetap bangun.

Mungkin saja sudah ada orang-orang yang selamat lewat sini lebih dahulu lalu menghabisi mereka semua, atau mungkin ada satu hal yang mana jika Zombie terlalu brutal memakan seseorang malah menyebabkan kematian, atau mungkin juga sudah jadi mangsa monster itu hingga seperti dimakan sangat parah sekali karena besar kemungkinan daerah bawah yang hangat, lembap, dan gelap itu jadi tempat yang cocok.

"Takashi-niichan!" bicara Alice seperti sangat takut dan panik.

"Houggg! Houggg! Houggg!"

'Padahal baru saja dibilangin' Takashi berbalik ke belakang mendapati beberapa Zombie mendekati mereka dengan biasanya jika menggunakan cara itu percuma karena Zeke tak perni berhenti menggonggong lalu bergegas mendekati gadis kecil itu.

"Mereka benar-benar menakutkan Takashi-niichan!" ucap Alice yang sangat erat memegang telapak tangan kakaknya.

"Ayo kita pergi dari sini" ucap Takashi menyuruh gadis kecil itu berlari lebih dulu dan mustahil untuk menembak karena berbuat kegaduhan apalagi suasan hening dan ruangan minim udara bisa membuat gelombang suara lebih besar lagi.

"Houggg! Houggg! Houggg!"

Tapi, sayangnya mereka disisi lain dicegat sekumpulan Zombie juga hingga kondisi mereka terpojok dari dua arah hingga tak bisa kabur kemanapun sebenarnya Takashi bisa menghabisinya cuma dia memikirkan kondisi Alice yang harus aman terlebih dahulu.

"Yang benar saja, kita benar-benar tak diberi bernafas sebentar saja" Takashi benar-benar mengutuk nasib sialnya, saat situasi wabah Zombie menyerang dirinya tak bisa tidur dengan nyaman bahkan setiap hari harus berjaga agar tetap bisa bertahan hidup.

*rarghhhh! *aurrrhhhh! *Grahhh!

Suara mereka bertambah keras seperti melihat mangsanya Takashi berfikir keras dengan sangat cepat karena kematian perlahan mendekat cuman sepertinya Kami-sama masih sayang terhadap orang-orang yang masih bertahan hidup ini dari Zombie.

'Sepertinya lewat situ juga bisa' Takashi melihat jalan Ventilasi corong udara yang terbuka jika dilihat dari ukurannya masih muat meski harus merangkak lalu menoleh ke Alice lagi "Alice-chan kakakmu ini akan masuk ke sana tapi, kau harus lebih dulu dan merangkak terus ya"

"Tapi, kenapa?" Alice bertanya memiringkan kepalanya bingung.

"Nanti akan Nii-chan jelaskan" jawab Takashi tanpa basa-basi lagi mengangkat Alice lalu melemparkan ke lubang Ventilasi itu berikut disusul oleh Zeke "cepat merangkak dulu ke sana Nii-chan juga akan menyusul"

"Tidak mau!" balas Alice berteriak memunculkan kepalanya dari lubang Ventilasi itu "karena Takashi-niichan berbicara seperti itu sama dengan Ayah! jadi aku akan menunggu di sini!"

'Ahhh, benar juga' Takashi lupa bahwa Alice memiliki pengalaman buruk mengerikan tentang kematian ayahnya yang berada di depan mata, jadi hal seperti itu masih membuatnya trauma apalagi dia masih kecil yang mana pasti akan selalu mengingat apapun apalagi sebuah janji "baiklah, Alice-chan menjauh sedikit aku akan melompat masuk"

"Okay!"

Takashi melompat lalu berhasil meraihnya dan berusaha masuk ke dalam hingga akhirnya berhasil tanpa harus kesulitan menghadapi mereka semua karena hemat tenaga dan peluru, apalagi kabur adalah salah satu hal baik untuk bertahan hidup karena perjalanan masih panjang.

"Takashi-niichan kita akan kemana?" tanya Alice.

"Kita belok kiri dan mencari jalan keluar" jawab Takashi lagipula dia tau pasti Ventilasi ini terhubung ke suatu tempat atau ruangan tertentu dan semoga menemukan jalan keluar agar kembali bertemu dengan teman-temannya yang saat sama-sama memiliki kondisi yang sama.

Mereka tetap merangkak terus untuk mencari jalan keluar dari Ventilasi karena cukup sempit minim udara dan bisa membuat nafas sesak.

Alice menunjuk ke depan "Takashi-niichan lihat, aku menemukan sebuah cahaya meski kurang terang"

"Pasti itu jalan keluar, cepat ke sana" ucap Takashi masih terus merangkak "tapi, Alice periksa dahulu keadaannya tapi jangan sampai berisik dan ketahuan yah"

"Oke"

Alice memunculkan kepalanya lalu memeriksa dan tak lama kembali lagi "cuman ada dua orang tergeletak tak bergerak, yang satu tergeletak di lantai, satu lagi bersandar tembok, lalu lampu yang mau habis baterainya, dan ada dua pintu"

'Begitu, sepertinya salah satu dari pintu itu menuju jalan keluar' Takashi sedikit melamun dan kembali tersadar lagi "nah Alice dan Zeke turun lebih dahulu nanti Nii-chan akan membantumu, tapi jangan bersuara dulu yah?"

"Baiklah!"

"Houggg!"

Zeke turun lebih dulu disusul dengan Alice yang mendapat sedikit bantuan dari Takashi, lalu lelaki berambut coklat ini langsung turun juga mendapati suasana ruangan yang tidak terang dan juga tidak gelap sambil memegang Stick Baseball yang sudah diikat dengan kawat besi panjang karena sebelum masuk gorong-gorong dia sudah membuatnya.

Lalu memeriksa dua mayat itu takut ada kebangkitan mendadak cuma dengan cara apapun tetap saja tak bergerak dan dipastikan mereka berdua mati lalu mencari sesuatu pentunjuk atau sesuatu yang berguna di ruangan ini.

"Pisau Bergigi, 10 butir peluru untuk Hand Gun, Senter Mati, dan Stick Pemukul" Takashi mendapat barang berharga setelah menggeledah salah satu mayat dan dia ambil beberapa yang berharga "sekarang kita coba periksa kedua pintunya"

Takashi mencoba salah satunya tapi tak bisa karena terkunci atau terhalang banyak benda karena didorong seperti ada yang mengganjal dan ketika membuka pintu yang satunya lagi ternyata terbuka dan itu adalah jalan kembali ke Gorong-gorong cuma kali ini suananya sunyi dan hanya terdengar suara riakan air.

"Takashi-niichan! Zeke menemukan ini disalah satu kantung mereka" ucap Alice memberikan kertas kotor karena darah.

"Ohhh makasih" ucap Takashi menerimanya lalu membuka kertas itu yang ternyata sebuah Map atau Peta Gorong-gorong ini dengan tulisan tangan seseorang mungkin dari salah satu yang mati di sana 'struktur gambaran peta Gorong-gorong ini sangat detail sekali cuman masalahnya tidak lengkap atau separuh untuk wilayah sekitaran sini saja' dia memilih membawanya karena cukup berguna juga untuk menyusuri Gorong-gorong yang sangat luas ini dan mencari jalan keluar lain apalagi memang tak ada pilihan lain cuma melewati Gorong-gorong saja.

"Takashi-niichan apakah ini bisa digunakan tidak?" Alice tak mau diam saja dan ingin membantu orang yang telah dianggap kakaknya sendiri dan tak ingin merepotkan juga.

"Lentera mati huh?" Takashi mencoba memeriksanya siapa tau berguna 'semuanya berfungsi cuma kekurangan Minyak Tanah dan Korek saja' dan entah kenapa rasanya mirip di game karena seperti menemukan Drop Item atau apapun yang berharga di sekitaran dan menemukan lagi sebuah pakaian Tactical Vest di salah satu mayat.

'Ini memang benar-benar seperti dalam game cuma versi asli yang mana kalau mati gak bisa respawn'

Setelah mengenakan pakaian tambahan itu Takashi, Alice dan Zeke melanjutkan perjalanan mereka menyusuri Gorong-gorong untuk mencari jalan keluar dan bertemu lagi dengan teman-temannya.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Apotek

Bisa dilihat di tempat yang berukuran sedang dan tempat yang mana para Apoteker menjual berbagai macam obat di sini namun, sekarang tempat itu bukan menjadi sehat lagi melainkan menjadi sarang penyakit dengan darah berceceran dan kondisi kotor yang sangat terpaksa ditinggal pemiliknya karena suatu sebab.

Sekarang Toko yang menjual obat-obatan berubah menjadi sarang mahluk ganas tak punya fikiran dan selalu mengigit atau memakan daging manusia yang disebut dengan Zombie dan sudah pasti banyak obat-obatan berserak di mana-mana tanpa terurus karena mungkin saja pemiliknya sudah berubah juga.

Namun yang terpenting di sini adalah terlihat banyak sekali para Zombie yang memenuhi Toko Obat itu yang mana tengah banyak berbaris seperti sedang mengantri sebuah sumbangan sembako dan tujuan mereka seperti ke arah sebuah pintu yang mana itu adalah pintu masuk ke dalam Gudang dengan tersimpan banyak obat-obatan dan sepertinya para Zombie ini mencoba memaksa masuk ke dalam dengan mendobrak pintu karena terkunci dari dalam.

Bukan tanpa alasan bisa terkunci di dalam karena memang sengaja dikunci untuk membuat aman sementara dari gerombolan Zombie dan di dalam Gudang itu memang masih ada orang-orang yang masih selamat dari wabah virus Zombie ini yang rupanya orang-orang selamat ini adalah salah satu kelompok Takashi yang terpisah dan semuanya perempuan saja.

Dan semuanya adalah 4 orang wanita cantik dan memiliki daya tarik tersendiri yang terpancar dari tubuh mereka lalu yang terpenting adalah ketiga dari empat orang itu rata-rata sudah berumur di atas 24 tahun dan sisanya cuma gadis sekolah SMA lalu orang-orang itu adalah Riruka Miyamoto, Shizuka Marikawa, Liona Hayashi, dan Yuuki Miku.

Lalu kenapa mereka bisa terjebak dalam sini adalah singkatnya setelah mereka lolos dari kejaran monster itu dengan cara bersembunyi di bawah kolong mobil truk semuanya berjalan lancar hingga Shizuka yang sangat ceroboh membuat suara gaduh hingga akhirnya memancing kembali para Zombie dan monster itu mengejar mereka jadi, keempat perempuan ini tak punya pilihan lagi selain kembali berlari menyelamatkan diri.

Dan saking paniknya hingga mereka tak sadar dan berfikir rasional karena mementingkan keselamatan sambil berlari hingga akhirnya pelarian mereka membawa ke dalam Gudang ini dan menguncinya dengan berbagai barikade seperti lemari besi dan barang-barang yang bisa digunakan, namun meski sudah aman ini cuma bersifat sementara karena suatu saat pintu itu akan jebol dan harus segera cari cara agar bisa terbebas dari sini dan berkumpul kembali lagi dalam satu kelompok.

"Sepertinya semuanya sudah selesai untuk sementara" ucap Ibu dari Rei ini menarik nafas panjang mengambil nafas karena hampir setiap detik bergerak cepat membuat Jantungnya berdetak lebih cepat dan dia sudah lama tak seperti ini semenjak pensiun lalu menikah "dan apa yang kau sedang lakukan Marikawa-san?"

Shizuka menoleh ke belakang dengan wajah seperti tak tau apa-apa "uhhh? hmmn! Apa yah? ahhh mungkin saat ini aku sedang mencari beberapa obat dan peralatan lainnya yang mungkin berguna ahhhh, meski ini ilegal karena aku mengambilnya tanpa izin!" dia malah ngambek tanpa alasan yang jelas.

"Hentikan bodoh, tingkah kekanakanmu kau yang paling diperlukan di sini sebagai Dokter" balas Liona sewot karena seumur hidupnya tak pernah merasakan hal yang seberat ini, tapi dia bersyukur masih bisa hidup hingga sekarang dibandingkan teman-teman Guru di SMA Fujimi lainnya yang sudah tewas dan berubah jadi Zombie.

Shizuka menggembungkan pipinya dengan wajah kekanakkan dan itu lucu sekali "moh, kau benar-benar gak asik sama sekali Yona-chan, aku kan cuma ingin bergurau saja"

Wanita berkulit Albino ini pokerface "kau bisa katakan itu di depan para Zombie sekarang" meski kelakuannya mengesalkan tapi, dia sangat senang Perawat dengan wajah seperti orang polos ini masih aman.

"Apakah tak ada cara kita untuk bisa keluar dari sini?" ucap Miku sangat cemas karena kondisi mereka belum sepenuhnya aman dan terpisah, jika saja ada Takashi mungkin orang itu bisa menemukan cara dalam masalah ini meski terlihat biasa saja tapi, lelaki rambut coklat itu sangat cocok seperti seorang pemimpin dan dia menyukai tipe lelaki seperti itu.

Riruka menatap sekeliling Gudang ini mencari sesuatu atau apapun itu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi sekarang lagipula dia pernah jadi kepala patroli kepolisian lalu lintas jadi, mengerti bagaimana rasanya dalam situasi panik atau terpojok yang mana mustahil bisa berfikir jernih sekarang.

*buaghhhh *buaghhh! *buaghhh!

"Sial! brikade ini tak mungkin bisa menahannya lebih lama lagi" ucap Liona yang memasang barang tambahan untuk menahan pintu itu agar tak didobrak lebih lama apalagi Zombie itu semakin ganas untuk memaksa masuk "dan Yuuki tolong bantu bawakan sesuatu yang berat atau apapun itu untuk jadi penghalang!"

"Aku mengerti!" balas Miku mencari sesuatu.

"Kita akan mati yah?" ucap Shizuka yang seperti orang linglung dan tak ada rasa takut.

"Serius dikit napa!" balas Liona sangat jengkel sekali dan ingin terus marah-marah tak jelas.

Riruka melihat ke atas dan akhirnya menemukan Lubang Ventilasi yang menuju ke jalan keluar 'ahhhh, sepertinya Kami-sama masih menginginkan kita untuk tetap hidup sampai batasnya' dia memperkirakan ukuran lubang itu sangat pas untuknya.

Liona menyadari ekspresi dari nyonya Miyamoto ini "uhmmm, Miyamoto-san apakah kau memiliki sesuatu rencana untuk bisa keluar dari sini?" dia sangat berharap sekali karena belum siap untuk mati karena masih belum jauh perjalanan hidupnya.

Riruka menunjuk ke atas "kita bisa menggunakan Ventilasi udara yang ada di bangunan ini dan itu terhubung dengan jalan keluar, cuman ada sedikit masalah yaitu.?" dia mencoba meloncat ke atas untuk menggapainya namun tak bisa "sepertinya terlalu tinggi jadi, aku sangat sulit untuk menggapainya"

Liona mengerti maksudnya setidaknya masih bisa sedikit bernafas lega karena ada harapan "tapi, kita harus butuh sesuatu seperti Tangga atau kursi untuk bisa menggapainya" dia tau lubang itu pas cuman pasti sesak karena sesuatu yang 'itu' membuatnya terhalang.

"Uhhh! Ini sulit" ucap Shizuka melompat-lompat, sehingga kau bisa melihat Payudara seperti melon itu memantul di balik bajunya yang ketat itu.

"Mungkin, kalian butuh ini?" ucap Miku yang memegang Tangga Besi "dan mungkin saja kita bisa naik ke atas sana meski harus sedikit usaha untuk masuk"

"Ohhhh yesss!" Riruka berteriak kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan "kalau kau suamiku sudah aku cium tadi, karena nasib baik kita masih menghampiri"

*Brakkk!

Pintu sudah mau terdobrak dan terlihat penyok karena terus digedor tanpa henti bahkan penghalang cuma bisa menahan sementara.

"Cepat naik!" Liona berteriak panik dan terdengar suara gedoran lebih keras lagi dan mereka sepertinya memaksa untuk masuk.

"Yuuki-san kau lebih dulu dan aku yang terakhir!" ucap Riruka sangat penuh emosi yang bercampur dalam tubuhnya.

Miku mengangguk faham lalu naik dengan bantuan ibunya Rei yang mendorong ke atas dan berhasil.

"Cepat ikuti jalannya saja!" ucap Riruka sedikit berteriak karena pasti takkan mendengarnya jika suara biasa.

"Mengerti!" balas Miku mendengar itu lalu merangkak melalui Lubang Ventilasi udara itu dan dia agak sulit karena tak biasa.

Kini giliran Shizuka yang naik dengan bantuan Liona juga yang sangat buru-buru menunggu gilirannya tapi, terlihat perawat sekolah ini sangat kesulitan masuk bahkan didorong juga cuma masuk setengah badannya saja.

"Cepatlah! waktu kita tak banyak tau!" Liona sangat jengkel sekali dan kenapa sangat susah sekali untuk masuk.

"Susah! lubangnya terlalu kecil!" balas Shizuka merintis sakit sekali terutama di bagian Payudaranya yang tergencet di antara kepala dan besi bawahnya, apalagi dia paksakan menggecet Payudaranya sendiri biar bisa masuk dan juga mungkin itu menjadi pemandangan mata karena dua kancing di bajunya tercopot sehingga menunjukan belahan dada, tapi situasi seperti itu malahan tak dipedulikan.

"Payudara kau yang terlalu besar! kenapa lubang juga yang disalahkan?" ucap Liona heran tapi, tetap terus mendorong wanita pirang itu.

*Brakkkk!

Melihat beberapa barang penghalang rubuh dan pintu timbul penyok lebih besar membuat Riruka berteriak "cepatlah!"

"Aku sudah masuk!" teriak Shizuka memaksakan diri untuk tetap merangkak meski sakit karena demi keselamatan diri dengan cara menahan Payudaranya dengan tangan kiri dan merangkak pakai tangan kanan meski agak sulit karena ukurannya cuma pas untuknya.

"Kau dululah, aku akan menyusul" ucap Riruka dan dia sudah hafal saat situasi terdesak mementingkan keselamatan orang lain meskipun pernah dikhianati sekali.

"Baiklah" Liona ikut masuk juga tapi kesulitan namun tak begitu berarti walaupun dadanya sesak akhirnya bisa masuk tanpa waktu yang lama 'tch ini karma huh? sekarang aku tau rasanya tadi Shizuka seperti apa?' dia benar-benar tak peduli tentang sakit ini yang terpenting adalah dirinya selamat apalagi Payudaranya tergesek dengan benda besi itu, lalu tak lama terdengar dobrakan lagi yang lebih keras.

*Gruakkk!

'Sial mereka menghancurkannya' Riruka melihat pintu sudah hancur dan tembok pertahanan terakhir sudah hancur total menyisakan barang-barang penghalang yang berserakan di bawah dan para Zombie sudah terlihat di sana dengan mata merah pucat menyala di balik kegelapan malam "maaf saja, tapi ini bukan keberuntungan kalian" dia langsung melompat ke atas dengan lihai lalu masuk ke dalam dan akhirnya bisa terbebas untuk sebentar.

Keempat perempuan ini terus merangkak melewati Ventilasi udara ini dan bisa bebas sementara lalu entah kemana tujuannya yang terpenting bisa selamat sudah cukup.

"Sepertinya aku melihat jalan keluar!" ucap Miku yang berjalan paling depan.

"Tolong periksa dulu, sebelum kau ingin turun" balas Riruka mendengar suara raungan Zombie yang mengamuk di belakang, setidaknya mereka sedikit bisa bernafas lega untuk sementara sebelum bertemu mimpi buruk lagi.

Miku mencoba membuka bagian pintunya tapi, sudah terbuka sendiri dan dia melihat sekeliling cuma banyak Zombie namun jauh dari tempat mereka berada lalu, gadis rambut pendek itu memberi tanda baik-baik saja dan segera turun ke bawah secara perlahan dengan disusul yang lainnya

"Berharap mereka tak menyadari kita" ucap Miku membetulkan pakaiannya

"Aku benar-benar tak ingin ke sana lagi" Shizuka mengeluh sambil memegang dadanya yang sakit dan membiarkan pemandangan belahan itu yang memantul ketika turun ke bawah dan dia memeriksa Tas berisi banyak obat-obatan berguna "fiuhhh! bagus lah kalau aku benar-benar membawa semuanya

"Setidaknya kau tak mati sekarang" balas Liona membantu ibunya Rei ini turun.

"Kita sudah aman untuk sekarang" ucap Riruka melihat sekeliling dan melanjutkan tujuan mereka "dan kita harus ke SMP Fujikato 4 lalu bertemu dengan Takashi dan yang lainnya karena, aku yakin mereka semua pasti akan ke sana?"

"Lalu bagaimana caranya kita ke sana, sementara Amunisi sedikit dan cuma 2 atau 3 senjata yang berguna" Liona bertanya dan dia juga cuma bisa memakai beberapa senjata sebagai perlindungan diri "apalagi bakal kemungkinan kita bertemu monster seperti itu lagi dan kau mengerti seperti apa mereka Miyamoto-san?"

Riruka menaruh tangannya di dagu "memang benar, setidaknya kita meminimalisir keributan dan amunsi sebisa mungkin sebelum sampai ke sana" dan dia baru melihat monster seperti itu karena sewaktu belum bertemu dengan kelompok anaknya, Ibunya Rei ini hanya bertemu banyak Zombie saja dan monster seperti itu baru pertama kali dilihat.

"Takashi bilang bahwa monster seperti itu cuma keluar malam hari dan kelemahan mereka cahaya yang sangat terang dan cahaya matahari karena langsung membakar mereka seketika" ucap Miku memberi informasi karena siapa tau berguna.

'Begitu ya' Riruka mendapat informasi yang berguna jadi, dia memiliki dua pilihan yang pertama menunggu atau bertahan di suatu tempat hingga matahari terbit jadi, sedikit bisa melanjutkan perjalanan dengan sedikit aman. dan yang kedua terobos langsung dengan tehknik mengendap-ngendap tanpa suara.

"Untuk sementara kita-..." Liona belum selesai bicara karena matanya mendapati dua cahaya merah terang di atas sebuah rumah dan itu terlihat jelas seperti mata dan tatapannya jelas diarahkan ke sini "ini, hanya penglihatanku saja atau memang melihat sesuatu seperti mata merah"

"Hmmm! aku juga melihatnya!" ucap Shizuka dan sebelum itu sesuatu yang tak bagus terjadi

*Ruaargghhhhhhhhaaarrrhhhhhh!

Tiba-tiba sebuah teriakan sangat keras sekali dan melengkinkan telinga dan sangat gila sekali suara itu seperti sedang memanggil.

"Apapun itu telingaku sangat sakit sekali!" teriak Miku menutup Telinganya jika, seperti ini terus niscaya gendang Telinganya hancur dan muncul darah.

"Aku gak kuat!" ucap Shizuka yang paling parah karena tubuhnya lemah atau tak biasa dengan sesuatu yang menguras fisik.

*Banggg!

Dan tak lama suara teriakan itu hilang yang rupanya itu ulah Ibunya Rei yang menembak mahluk yang berteriak "bajingan!" dia mengumpat jengkel sekali dan menutup Telinganya cuma sebelah saja dan satunya lagi langsung seperti rusak membuat Telinganya tuli beberapa detik "kita, harus segera cepat pergi dari sini!" dia menarik lengan Yuuki Miku karena tau itu bukan sekedar teriakan saja.

Tapi, sayangnya nasib mereka kurang beruntung karena sebelum berlari menjauh sudah terhalang banyak Zombie yang datang mendekat menghampiri mereka karena suara teriakan tadi.

"Brengsek, lewat jalan lain" ucap Liona yang mengumpat kata kasar meski seorang guru dan sayangnya mereka kembali tak bisa kabur karena semua jalan sudah terkepung dengan banyak Zombie "brengsek! kita tak bisa menerobos!" dia tak punya pilihan lain untuk melawan.

"Sepertinya teriakan tadi adalah bertujuan memanggil mereka" ucap Shizuka yang berada paling belakang karena dia seorang perawat sudah seharusnya jadi prioritas utama untuk dilindungi.

"Kita tak punya pilihan lain dan melawan agar bisa menerobos" ucap Miku menyiapkan senapan yang bisa digunakan dan dia belum terbiasa makanya akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu.

Riruka tak berfikir demikian untuk melawan balik agar bisa kabur karena amunisi mereka minim sekali dan belum ada pengganti apalagi mereka masih dalam situasi kurang menguntungkan dan monster cepat yang seperti itu masih di luar sana akan sangat bagus jika kabur dan meminimalisir tenaga karena tujuan mereka masih jauh jadi, tugas mereka hanya kabur dan menghindari sesuatu yang gak perlu.

'Tapi, bagaimana caranya bisa kita keluar dari sini?' Riruka berfikir dengan cepat karena sudah tak ada waktu lagi apalagi para Zombie semakin mendekat dan mengurung mereka sehingga keempat perempuan ini mundur terus hingga terpojok ke tembok.

"Bagaimana ini" Shizuka cukup cemas dan khawatir.

"Miyamoto-san apa saranmu!" teriak Liona yang belum siap menyerang karena menunggu aba-aba dan dia juga sangat panik tak karuan.

Riruka menemukan sesuatu yang bagus selagi melihat ke bawah 'ahhh bingo' dia rasa cuma ini saja satu-satunya cara "kita harus kabur dan tak usah melawan mereka"

"Caranya?!" Liona bertanya.

Riruka menarik penutup lubang jalan yang menuju ke Saluran pembuangan air akhir "kita akan lewat Gorong-gorong sekarang dan lewat jalur itu saja atau setidaknya menunggu sampai besok!" dia cuma ini satu-satunya rencana karena tak pilihan lain.

"Anda yakin?" Miku terlihat ragu.

"Cepat lakukan saja!" Ibunya Rei ini membentak dengan sangat keras.

"Okay" Shizuka menurut saja, biasanya dia orang yang pertama menolak saran itu karena Gorong-gorong itu kotor, lembab, basah, dan bau namun karena kondisi hidup dan mati dia tak menolak "ugghhhhh, baiklah!" dia menutup hidungnya berusaha menahan bau dan memaksakan diri untuk turun ke bawah.

"Cepat kau turun juga" ucap Liona yang ikut turun dan disusul Miku.

"Aku tau" balas Riruka melemparkan dua bom asap untuk menghalangi pandangan dan segera turun ke bawah sambil menutup lubang jalan itu kembali.

*fushhhhhh!

.

.

.

.

.

- Clause Store

Ini ada sebuah Toko tempat yang mana menjual berbagai macam jenis Senjata atau disebut senapan angin yang mana ini adalah senjata umum atau yang dijual sering dijumpai dan dipegang oleh beberapa orang, dan tentu saja Toko ini legal karena sudah mendapat izin karena peraturan di Jepang melarang penjualan senjata Ilegal dan untuk keperluan pribadi contohnya membunuh.

Sama seperti Toko-toko yang ada di beberapa tempat, Toko ini sudah jelas sepi atau sudah tak berpenghuni lagi karena ditinggal oleh pemiliknya karena wabah Zombie yang sudah menyebar sejak seminggu yang lalu menyerang dan menyebabkan bencana besar ke seluruh Jepang, tentu saja semua barang yang ada di Toko itu dibiarkan begitu saja tak terurus.

Sekarang kelompok Takashi yang terpisah terakhir Kohta, Asami, Morita, Yoshino, dan Immamura sekarang berada di dalam Toko senjata ini melindungi diri mereka dari sergapan para Zombie setelah sempat sebelumnya mereka dikejar tanpa henti hingga akhirnya memilih untuk mengamankan diri dan istirahat karena suasananya tak mendukung untuk membalas balik.

Dan tentu saja bertahan di Toko seperti ini sangat menyenangkan terutama untuk orang maniak Senjata seperti Kohta Hirano karena Toko ini adalah surga sepertinya karena di sini banyak jenis senjata meski tak komplit tapi, siapa tau dari beberapa senjata itu bisa berguna untuk bertahan hidup.

"Sepertinya untuk sekarang kita bisa aman sebentar" ucap Immamura mengecek kondisi Pintu dan beberapa Jendela Toko ini karena pasti akan dijebol dengan mudah "dan bagaimana dengan kondisi pintu belakang dan beberapa jalan yang dimungkinkan Zombie sudah masuk'

" sudah, semuanya sudah terkunci dengan rantai dan teralis besi lalu aku tambahan kayu penghalang" jawab Morita yang mengecek sekali lagi "lalu kita harus segera pergi secepat mungkin dari sini dan bereuni kembali dengan Takashi"

"Kalau tak salah SMP Fujikato 4 itu kan?" Asami mendengar ketika rencana tadi selepas pelarian mereka.

"Aku tau tempat itu, cuma bagaimana caranya kita ke sana?" ucap Immamura karena sudah berteman dengan Takashi cukup lama waktu SMP "mustahil menerobos dengan ceroboh sementara monster gila itu berada di luar sana dengan jumlah banyak dan sukar sekali dibunuh"

"Kita banyak senjata di sini, kenapa tak pakai semuanya?" balas Morita sangat enteng.

"Dangkal sekali pemikiranmu" Immamura sweatdrop dan nada suaranya seperti menyindir.

Morita menyipitkan matanya "dan maksud kau bicara seperti itu apa?"

"Lupakan" Immamura mengabaikan saja sebenarnya dalam hati dia sangat jengkel karena harus mengikuti grup yang berjumlah ganjil terlebih cuma dia satu-satunya laki-laki yang tak punya partner seorang perempuan bahkan dia bingung bagaimana si bejat Morita mendapat Kouhai seimut ini bahkan Hirano yang gendut otaku juga bisa dapat cewek cakep anggota patroli keamanan seperti Asami 'bajingan, banget aku benar-benar yang paling tertinggal di sini'

Kohta kembali memegang dua senjata Magnum Eagle 42E dan RMP-453 "hey, lihat aku menemukan barang yang bagus di sini!" dia berteriak penuh kegirangan sambil memeluk dua barang itu seperti anak kecil yang sangat senang diberi permen.

"Bisakah itu digunakan?" tanya Yoshino meski tak melihat apapun.

Kohta mengangkat bahunya "entahlah, mungkin saja bisa" suaranya sendiri terlihat seperti ragu-ragu.

"Kau lupa, apa yang dikatakan Takagi sebelumnya?" ucap Morita yang mengingat reaksi ledakan itu yang membuat seluruh benda atau apapun yang berhubungan dengan listrik.

"Mengingat senjata yang dijual legal di sini biasanya tipe dulu dan kebanyakan digunakan cuma buat berburu atau khusus Polisi" ucap Asami mencoba berjalan cuma kondisi gelap gulita jadi sulit "meski, mustahil juga pasti ada juga menjual beberapa senjata yang dilarang meski tak ditunjukan ke publik dan secara sembunyi"

"Bagaimana kau bisa yakin seperti itu?" Yoshino bertanya lagi.

"Mudah saja, karena mereka wajah pembisnis yang mencari untung disetiap jualan" jawab Kohta dia mencoba senjata ini tapi kondisi buta gelap "dan femikiran seorang pembisnis akan melakukan apapun yang menghasilkan keuntungan meskipun beresiko sekalipun"

"Dan kenapa kita tak coba cari senjata yang hebat? mungkin mereka menyembunyikan disuatu tempat" ucap Morita menyarankan dan mungkin sesuatu yang berguna.

"Bagaimana caranya? bahkan kita tak melihat apapun?" ucap Immamura menujuk keluar "dan penerangan yang tersisa cuma kobaran api besar yang ada di luar sana"

"Kita butuh Senter yang masih berfungsi atau Lentera mungkin Petromax juga bisa dan jika tak ada mungkin kita bisa membuat Obor" ucap Morita memeriksa sesuatu seperti peti.

"Benar, sangat sulit sekali mencari sesuatu dalam keadaan gelap" Asami menyetujuinya.

"Apakah kita sudah memeriksa ini Toko?" ucap Yoshino yang sedikit cemas "bukankah, aneh rasanya ketika kita masuk ke sebuah tempat tapi tak ada serangan atau Zombie sama sekali di sini?"

"Seperti itu juga yah" ucap Morita membenarkan ucapan Kouhainya "tapi, selama aku mengecek tadi kita sama sekali tak diserang atau mendengar suara mereka?"

"Sifat Zombie biasanya tak berotak dan menyerang apapun itu yang berisik jadi, mungkinkah ada orang-orang lain yang lebih dulu dari kita sudah di sini?" Kohta sedikit berfikir dan lagipula dia seperti menginjak mayat orang yang sudah mati namun, tak ada gerakan jadi bisa dipastikan itu mati tanpa berubah jadi Zombie.

Immamura mengambil sesuatu yang kedap-kedip dari kolong Rak karena menyadari itu dan kembali ke temannya "hei, aku menemukan senter kecil yang masih berfungsi dan ini cukup berguna juga" dia mengecek itu dan masih berfungsi cuma perlu mencari baterai saja.

Morita mengambilnya dan mengarahkan ke segala arah "yang kita butuhkan adalah baterai cadangan saja untuk tetap bisa bertahan"

Lalu dia memeriksa sekitar dengan senter itu dan memang benar sepertinya sudah ada orang yang lebih dulu sampai di sini buktinya beberapa mayat terkapar dengan bekas tembak yang tepat dibagian kepala, jadi jangan heran ketika mereka masuk sudah tak mendapat serangan terlebih, pintu Toko ini sudah terbuka seharusnya terkunci dari dalam karena kebanyakan orang memilih mengunci diri dan bertahan di rumah karena dirasa aman.

Morita tetap menyenter dan mengarahkan ke beberapa senjata "Hirano, Immamura kau mungkin bisa periksa senjata yang ada di sana, mungkin ada beberapa yang masih berfungsi"

"Baiklah!" jawab mereka berdua kompak.

Morita memang sedang mencari sesuatu tapi sepertinya tak ketemu 'sepertinya cuma senjata saja sama peluru yang dijual tapi, apakah ada bensin juga?' dia ingin membuat sesuatu dengan bensin dengan jumlah banyak tapi, dia sekarang menyorot ke sebuah pintu yang mana pasti itu adalah Gudang penyimpanan senjata lainnya.

"Sepertinya itu ada pintu mungkin, Gudang?" ucap Yoshino.

Morita memberikan senter ke gadis dengan warna mata beda itu "kau ikut denganku dan tetap di belakang lalu tetap soroti senter" dia merasakan sesuatu yang curiga di balik pintu itu lalu mungkin saja bahaya jadi, dia memegang Katana milik Immamura lalu berjalan ke arah pintu itu.

"Hati-hati" ucap Kohta yang ada di belakang Morita dengan mode bersiap menembak setelah mengumpulkan senjata yang masih bisa digunakan.

Morita maju secara perlahan lalu memegang gagang pintu dan menyadari tak terkunci karena tau sudah ada seseorang di sini lalu menempelkan Telinganya ke pintu namun, yang dia dengar cuma hawa angin seperti hembusan nafas tapi dia tak menutup kemungkinan untuk cemas karena bisa saja di dalamnya ada bahaya.

Lelaki berambut mohawk ini menoleh ke belakang "setelah aku buka pintu dan kuhitung sampai tiga, siapkan kuda-kudamu dan jika ada bahaya di dalam segera tembak"

"Oke"

"Satu"

Morita menekuk gagang pintu sambil menempelkan tubuhnya ke pintu dan Kohta menarik kokein.

"Dua"

Morita masih seperti itu dan Kohta tetap dalam posisi terbaiknya, Yoshino masih menyoroti dari belakang.

"Tiga!"

Morita langsung mendorong pintu memaksa masuk ke dalam sambil menyabetkan katana ke sembarang arah, Kohta belum menarik pelatuknya karena yang ditakutkan sahabat Takashi ini tak terjadi namun yang ditemukan adalah.

"Ini..." Kohta tak tau harus berbicara seperti apa karena matanya menangkap sesuatu yang tak lazim.

"Malangnya" ucap Yoshino menutup merasa kasihan.

Morita yang tak terkejut "gak mengherankan, cuman cukup mengerikan untuk dilihat"

Dan terlihat ada seorang anak kecil yang duduk dengan wajah mengerikan tanpa ekspresi, mulut terbuka dan mata memutih, lalu yang terpenting wajahnya pucat seperti sudah jadi Zombie meski cuman setengah, bahwa dia sudah kehilangan jiwanya meski dunia ini sudah rusak, tapi tetap saja ini benar-benar terkutuk dan tak adil untuk anak kecil sepertinya.

"Sepertinya ini anak dari pemilik Toko itu atau ayahnya sudah meninggalkannya" ucap Kohta yang melihat bekas tembak di leher dan dia membantu mayat yang tak bernyawa itu dengan menutupinya pakai kain putih, setelah dicek lebih dulu karena mungkin saja bisa jadi serangan dadakan.

"Sepertinya dengan berat hati ayahnya meninggalkannya seperti itu karena sangat mustahil ada penawarnya" Morita tak tau rasanya jadi ayah cuma dia tau bagaimana sakitnya harus kehilangan seseorang yang berarti untukmu..

"Yah, lupakan tentang itu dan cari beberapa senjata yang bisa digunakan dan setelah itu kita akan pergi dari sini" ucap Kohta yang selesai berdoa

"Apa yang sedang kau buat?" tanya Asami menghampiri salah satu teman Kohta.

"Obor dan Bom Molotov, karena di sini aku menemukan beberapa Drijen berisi bensin yang mudah terbakar" jawab Immamura sudah mengumpulkan semuanya dan tinggal mencari beberapa botol saja namun, itu mudah karena banyak sekali berserakan "lagipula kita butuh sesuatu penerangan cadangan selain senter, karena berguna sekali"

"Kau pintar sekali" Yoshino memujinya.

"Tentu saja" Immamura membusungkan dadanya penuh kebanggaan dan bisa terdengar dumelan Morita yang cemburu karena temannya dipuji bukan lelaki berambut mohawk itu.

"Kohta-san, semuanya sudah kita ambil!" ucap Asami dan jika terang maja kau bisa melihat gadis itu sedang hormat.

"Jika sudah, kita pergi dari sini" ucap Kohta yang baju pelindung dan Armor lengkap sekali ditambah beberapa senjata yang menempel jika, Asami melihatnya mungkin sudah blushing tak karuan karena keren "ambil sebisanya saja dan jangan terlalu boros untuk hal yang tidak perlu"

"Lalu jalan mana yang akan kita lewati?" Morita bertanya.

"Di sana" jawab Kohta yang menyoroti sebuah pintu lain yang terbuka menuju suatu tempat "sepertinya ada yang sudah lewat sini jadi, mungkin ini adalah jalan keluar dan jalannya saling terhubung"

"Kita semuanya sudah siap!" teriak Asami meski begitu tak ada yang mempermasalahkan.

"Kita berangkat, aku yang akan memimpin paling depan dan Immamura yang paling belakang dan gunakan Obor buatanmu untuk melihat hal-hal kejutan dari belakang" ucap Kohta menyusun rencana.

"Aku mengerti" jawab Immamura faham.

"Kita berangkat sekarang!"

"Yahhh!"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Gedung Tua

Terdengar suara rentetan peluru yang ditembakan dari balik pistol itu saking kencangnya hingga terdengar jauh keluar dan hal seperti itu wajar saja karena kawasan sekitaran sini sudah tak ada penghuni atau jadi daerah mati yang ditinggali maka itu pantulan gelombang suara lebih menggelegar dari biasanya.

Sekarang di dalam sebuah Gedung yang memiliki 5 lantai ini terdengar suara tembakan beruntun yang tanpa henti, lebih tepatnya berada di lantai 4 tengah terjadi suatu bencana besar yang mana melibatkam orang-orang normal, Zombie, dan mahluk menyeramkan lainnya.

Souta saat ini bersama dengan Nanami dan kedua anaknya tengah berlari sebisa mungkin dari serbuan Zombie yang mengepung mereka terlebih mereka cuma bisa seperti ini karena beberapa senjata yang Souta bawa tak berfungsi semenjak ledakan cahaya itu jadi, tak heran mereka hanya berlari karena kondisi tak memungkinkan untuk melawan.

Saat siang semuanya berjalan normal dengan langkah hati-hati dan tak terlalu banyak membuat keributan jadi tujuannya menuju ke Posko pengungsian sedikit terlaksana meski berjalan kaki, namun saat malam hari semuanya menjadi rusak semua karena bukan lagi Zombie biasa yang muncul melainkan mahluk aneh hitam, kurus kering, mata melotot menyeramkan dengan kaki panjang dan tangan pendek.

Mahluk itu bergerak cepat sekali bahkan ditembak tiga kali tak mati malahan seperti kebal peluru dan itu cukup membuat Souta cemas sekali ditambahan tangisan keras kedua anak Nanami yang alhasil memancing Zombie mendekat hingga akhirnya terpojok sama sekali dan tak punya pilihan selain masuk ke Gedung tua milik sebuah perusahaan.

Dan sekarang kondisi dua orang yang masih selamat beserta dua anak tengah berlari menyelamatkan diri sambil main kejar-kejaran itu dengan Zombie dan monster cepat itu yang mana mereka cuma dibekali lampu Petromax saja untuk menerangi pandangan ke depan dengan kondisi gelap total dan listrik tak hidup lagi setelah itu.

kedua anaknya berlari lebih dulu menujua atap dengan wajah berkeringat panik ketakutan karena nyawanya sudah mendekati ajal jika tak ada mantan suaminya ini yang membantu apalagi dia membawa dua anak yang menangis kencang hingga akhirnya membuat Zombie mendekati ditambah ada beberapa mayat yang bangun lagi ketika berlari sehingga tak punya pilihan lain untuk tetap berlari seperti itu.

Sedangkan Souta sendiri berada di belakang tak jauh dari Nanami sambil berlari dan terus menembakan beberapa senjata yang masih bisa dipakai dari serbuan gila Zombie apalagi bukan cuma mereka saja melainkan mahluk cepat yang sangat sukar untuk sibunuh bahkan mustahil dalam kegelapan yang cuma bermodalkan Petromax sangat tidak mungkin bisa menembak dengan tepat.

"Aku takut!" Nanami merengek serasa ingin menjerit karena dunia berubah seperti ini hingga harus membuat susah kedua anaknya.

"Berhenti mengeluh, dan cepat lari saja ke atap!" balas Souta berteriak menahan rasa frustasi di dalam dan terus menembak "jika kau ingin berhenti silahkan saja, aku takkan menghalangimu!"

Nanami sepertinya ingin membalas tapi tak jadi karena memang sepertinya berdebat hanya akan bermasalah dan membuat mereka semua terbunuh lebih cepat.

Setelah beberapa saat dari insiden berlarian itu mereka lebih cepat sampai ke atas lalu mengunci pintu dan tentu saja dengan berbagai macam banyak ganjalan untuk menghalangi karena mustahil jika tak didobrak paksa apalagi jalan satu-satunya cuma pintu ini jadi, memang seharusnya ditahan oleh sesuatu.

"Kita terkepung dan tak bisa keluar" ucap Souta menyadari posisi mereka masih belum aman karena bisa saja pintu itu bakal jebol juga dan harus mutar otak untuk bisa bebas sementara 'tapi, bagaimana caranya? jalannya cuma pintu itu jika loncat? aku rasa mustahil'

"Lantas bagaimana?! kau ini yang mengajakku ke sini bukan!?" teriak Nanami dengan rasa stress tinggi dan frustasi menjadi satu yang membuatnya jadi orang gila.

"Lantas apa?! bersembunyi disitu saja sampai mereka menemukanmu huh!?" Souta balas berteriak lebih kencang membuat mantan istrinya itu seperti mundur ketakutan dan tak lama dia langsung sadar dengan sikapnya itu "ahhh, lupakan saja" dia memilih menjauh sementara untuk menenangkan diri.

Souta melihat ke bawah yang mana Gedung ini sudy seperti terkepung dengan banyak Zombie meski sedikit kurang pandangan namun jelas mereka ini terjebak dan tak ada jalan keluar lagi ditambah mereka tak bisa bersantai lagi karena pintu sudah terdengar didobrak lebih kencang lagi dan pastinya jika tak melakukan apapun mereka tewas.

'Sial, ini benar-benar sangat menjengkelkan sekali' Souta mengigit jempolnya dengan frustasi sekali sambil berfikir dengan melihat sekeliling.

"Bagaimana caranya kita keluar?!" Nanami bertanya penuh kekhawatiran yang sangat mendasar sekali jika dibawah mungkin dia bisa membiarkan kedua anaknya selamat tapi, jika diatas itu sangat mustahil sekali untuk bisa.

Souta tak menggubris pertanyaan itu dirinya masih berfikir untuk bisa bernafas lega sementara waktu dan ketika melihat beberapa saat dan tak lama muncul ide yabg ada di dalam otaknya bahkan kau bisa melihat lampu terang di atas kepalanya meski saat ini listrik sedang mati.

"Ada apa?" Nanami mendengar suara dari lelaki itu tertawa tidak jelas sekali bahkan seperti seorang penjahat yang ada di tv ketika berhasil melakukan rencana jahatnya dan itu terdengar mengerikan.

"Ohhh, cuma sesuatu yang bagus" balas Souta dan jika dalam keadaan terang kau bisa melihat seringai brengsek di wajahnya.

'Entah kenapa, perasaanku gak enak' Nanami mengusap tengkuk leher yang berkeringat.

.

.

.

.

.

- Hutan

"Ugh, sial di mana ini"

Manaka membuka matanya setelah terbangun dan dia menyadari bahwa dia bukan berada di jalan lagi melainkan sedang di dalam hutan dan jika diingat lagi memang saat ini dirinya sedang menjalankan sebuah mjsi dengan pacarnya Satsuki ke sebuah Mansion Tua yang luas dan besar di mana tempat itu berada di kedalaman Hutan yang berada di daerah Jepang.

Sebenarnya mereka masuk ke dalam sebuah Organisasi rahasia yang ternama namun jarang diketahui publik, biasanya organisasi ini bergerak dalam hal yang berbahaya sekali menyangkut Dunia seperti kasus Genosida, Gangster Dunia, Perang sipil dan masih banyak yang lainnya termaksud wabah Zombie yang hingga saat ini masih minim informasi tentang dari mana asalnya.

Dan tentu saja sebagai anggota organisasi mereka ditugaskan misi khusus yaitu mencari tau tentang keberadaan percobaan monster rahasia di Mansion Tua milik Mark yang terletak jauh ke dalam Hutan dan melewati Hutan Tempat bunuh diri massal Aokigahara.

yang namanya misi rahasia sudah pasti berbahaya namun mereka menyuruh dua orang anak muda yang masih belia dengan senjata dan beberapa amunisi minim karena cuma untuk memeriksa atau mengecek bahwa rumor itu benar atau tidaknya.

Sepanjang perjalanan mereka mudah sekali menjalaninya tanpa hambatan dan pada saat itu sudah sampai di lokasi hutan yang dimaksud dengan mana dihalangi oleh pagar kawat besi yang rusak dan ada tulis "Don't Trepassing" yang mana menyuruh orang-orang yang melihat ini agar melarang masuk ke dalam lebih jauh cuman yang mana ada larangan pasti dilanggar.

Seperti kedua orang ini mereka langsung masuk dan mengabaikan larangan itu cuman yang jadi masalah adalah mereka sampai di tempat itu tengah malam dengan kondisi gelap gulita dan penuh waspada karena apapun yang mendekat pasti berbahaya apalagi penerangan cuma obor api mengingat senter tak berfungsi.

Dan yang terjadi mereka seperti diserang sesuatu tak terlihat dengan benda keras hingga akhirnya pingsan di tempat namun, ketika terbangun Manaka mendapati dirinya sendirian saja di kedalaman hutan yang gelap dan ditemani Obor yang tergeletak di tanah sementara Satsuki sama sekali tak diketahui bahkan menghilang secara misterius.

"Satsuki!"

"Satsuki!"

"Satsuki!"

Manaka mencoba memanggil pacarnya itu berkali-kali dan tak ada hasil malahan hanya suara gema saja terdengar di balik gelapnya hutan ini bahkan dia tak tau siapa yang menyebabkan mereka terpisah dan sekarang yang terpenting dia harus menemukan Satsuki terlebih dahulu bahkan situasinya sekarang lebih rumit dan dia tak tau harus ke mana untuk mencarinya.

'Ini benar-benar hari yang buruk untuk orang-orang yang masih waras'

Manaka menghela nafas sepertinya tak punya pilihan lain untuk mengabaikan misi lebih dahulu dan mencari Satsuki dan dia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir itu hingga akhirnya berjalan masuk lebih dalam lagi ke hutan dan beruntung dia tak bertemu sama sekali Zombie di Hutan ini.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Laboratorium

Bisa dilihat disebuah ruangan objek peneletian banyak sekali orang-orang berpakaian serba putih tengah mengelilingi atau sedang membuat sesuatu meski sedikit kurang jelas karena dengan banyak cahaya namun itu sudah jelas bahwa mereka sedang melakukan eksperimen terhadap manusia yang fisiknya sudah berbeda.

"S-Virus tipe SSS sudah dimasukan dan akan menjadi senjata yang sangat menakutkan"

"Aku bingung, kenapa kita membuat monster seperti ini? bahkan lebih gila daripada monster Mutant TMX yang kita buat sebelumnya dan diberi perintah?"

"Mereka pasti kuat dan akan mengacaukannya apalagi jika Boss bilang seperti itu kita harus tetap menjalankan perintahnya"

"So, kali ini siapa yang akan jadi target? mana mungkin orang-orang yang masih selamat bukan?"

"Nah, sudah ada yang mengurusnya apalagi beberapa monster mutasi dan beberapa hewan ganas sudah cukup menghalangi mereka cuman yang ini khusus saja"

"Untuk organisasi itu kan?"

"Yup"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

And cuttt akhirnya beres juga meskipun mengesalkan karena sangat lama sekali dan aku minta maaf atas waktu yang lama itu jadi see ya.

Pm

RnR