MY JERK WIFE

HUNHAN (GS)

GS FOR UKE, MAFIA-AU, KINGDOM-AU, TYPO(s), RATE M, ABAL-ABAL

NOTE :

Selamat menikmati chapter terakhir menuju epilog.

WARNING :

Word terlalu jebol, 16k+

Kalau jenuh, skip aja dulu, wkwkwk...

.

.

.

.

.

Eighteen : My Pain is Your Recovery

"Sudahlah, Hyung! Bagimu, orang jahat pantas dihukum namun bagiku... Semuanya kembali pada niat masing-masing dan kebenaran di dalamnya."

—Xi Shixun or Oh Sehun jr.—

.

.

.

.

.

Oh Sehan.

Aihara Shika.

Xi Shixun.

Ketiga anak kandung Sehun dan Luhan tersebut masih terlalu muda untuk memahami arti kehilangan. Visual mereka sangat menggemaskan dalam pakaian berduka, berteduh di bawah satu payung dengan Sehan menopang gagang. Kondisi ini memberitahu semua pihak, bahwa Oh Sehan harus bekerja ekstra keras demi menopang kekuatan keluarga kecilnya.

Sehan hanya menangis tanpa isakan. Shika terus menangis sesenggukan. Ingus beningnya bolak-balik dihirup saking banyaknya. Shixun lain lagi. Dia justru datar menatap peti ayahnya dikubur berdampingan dengan makam ibunya.

Teringat satu peristiwa di mana Shixun menangis sangat kencang dan keras, seolah tangisannya bisa menggetarkan dunia. Kedua kakaknya menangis memeluk tubuh ayahnya yang waktu itu berada di rengkuhan Jongin, sedangkan Shixun memukul-mukul bahu tegap ayahnya.

"Ap—hkkss... APPA...!"

"Bangun, pak tua! BANGUN...!"

"THITHUN BENCI APPA KALAU APPA TELUTH TIDUL...!"

Setelah Shixun mengetahui sang ayah menyusul ibunya, Shixun pikir, air matanya sudah kering untuk sekedar menangisi mayat.

Baginya, menangis tidak akan berefek apapun.

Apalagi jika diingatkan kalau Triple Twin tidak menemani upacara pemakaman sang ibu. Mereka bertiga khususnya Shixun sangat terguncang.

Oh Sehan melirik adik bungsunya. Kemudian adik keduanya. Lalu kembali pada makam sang ayah yang siap 'ditinggali' para pelayat.

Orang tua kami adalah orang tua terbaik sepanjang masa.

Kami sangat menyayangi mereka...

Sehan mengeratkan gagang payungnya. Dia membatin lirih, ini menyakitkan, Tuhan...

Jongin menegur Sehan, meminta izin kalau dirinya saja yang menggenggam gagang payung. Tapi Sehan hanya menggelengkan kepala. Dia berkata, "Sehan masih kuat."

Bahkan, ketika Sehan ditinggal pergi kedua orang tuanya, dia tetap tegar.

Seusia Sehan seharusnya lebih ekspresif, entahlah... Psikisnya cukup abnormal jika ditelisik.

Usai pemakaman, Sehan mencari-cari Guru Pribadinya yakni Park Chanyeol. Biasanya pria itu ada di sekitarnya atau Shixun, tapi kali ini Chanyeol seolah menghilang ditelan bumi.

Saat Triple Twin berjalan menuju mobil, Chanyeol ada di depan pintu mobil sambil tersenyum lirih pada Triple Twin.

"Mari, kita pulang..."

Sehan mengangguk sambil tersenyum teduh, Shika masih terisak-isak, sedang Shixun memalingkan pandangan.

Ketiganya bergantian memasuki mobil.

Shika duduk diapit kedua saudara lelakinya. Shixun bersandar pada pintu mobil, genggaman tangannya mengerat pada sabuk pengaman. Si bungsu memutuskan tidur. Sepanjang prosesi pemakaman ayahnya, dia tak pernah bicara sepatah kata pada siapapun.

Sehan sendiri menawarkan pundak kecilnya untuk Shika.

"Oppa tidak lelah? Dari tadi oppa memegangi payung untuk meneduhi kita bertiga dari hujan."

"Oppa kuat! Lihat... Tangan oppa berotot seperti para pengawal Xi!" Sehan nyengir sambil mempertunjukkan lengan kurus berlapis lengan jas hitam. Setelahnya, dia menepuk bahunya. "Apa salahnya tinggal bersandar, eoh?"

Shika menghapus kasar air matanya, "mian..."

"Kenapa pula minta maaf?"

"Appa dan eomma sudah bersama Tuhan jadi... Shika sebagai adik tidak akan merepotkan oppa lagi!"

"Hm hm!"

Shika bersandar di bahu kakaknya. Dia tersenyum lega, setidaknya dia masih memiliki dua saudara lelakinya. Mereka kembar dengannya. Diikat satu ikatan batin sangat kuat. Shika cukup percaya diri di masa depan, bahwa dia masih bahagia bersama Sehan dan Shixun meski tidak bersama kedua orang tua tersayangnya.

Sepanjang perjalanan, Shika tertidur. Shixun kembali terjaga, pandangannya datar pada ketukan-ketukan hujan di kaca pintu mobil.

Sesampainya di Mansion Xi, Chanyeol membukakan pintu di sisi Sehan. Kemudian Shika dan Shixun menyusul turun dari mobil.

"Annyeong haseo..."

Triple Twin menengadah pada seorang wanita muda nan cantik, rupanya sedikit mirip sang eomma meski wanita muda itu punya aura kekanakan nan imut.

Wanita itu lebih mirip gadis remaja.

Dia berdiri di depan pintu Mansion Xi, menyapa Triple Twin, dengan seorang gadis kecil di samping kaki jenjangnya.

"Nugu?" Tanya Sehan. Shika hanya memandang gadis kecil yang malu-malu, bersembunyi di balik kaki si wanita.

Shixun menghela nafas jengah.

"Namaku Byun Baekhyun. Aku..." Si wanita—ternyata Byun Baekhyun—melirik Chanyeol ragu-ragu. "Aku adiknya ayah kalian. Itu berarti, aku bibi kalian."

"Dia adalah kekasih Chanyeol-saem," aku Chanyeol. Dia begitu bangga saat mengatakannya. Sehan dan Shika terperangah. Shixun hanya bersedekap.

Perkenalan singkat itu memberi satu tanda,

Setidaknya... Triple Twin tidak benar-benar kehilangan sosok orang tua.

.

.

.

.

.

Lima belas tahun kemudian...

Tepat usia Triple Twin 18 tahun...

.

.

.

.

.

"Keluarga Bangsawan Song?"

"Ya."

"Mengapa saya harus membantai mereka, Pyeha?"

"Mereka terbukti sebagai keluarga kriminal, keluarga mafia. Bisnis 'bawah' mereka terlalu berbahaya jika dibiarkan berkembang di kerajaan ini. Selain itu, Keluarga Bangsawan Song hendak melakukan kudeta, karena Song Jongki tidak terpilih dalam pemilihan Perdana Menteri periode ini. Keluarga Song juga punya riwayat buruk dengan keluarga kerajaan. Kau tahu? Sempat ada perselisihan antara nyonya Song Jihyo dengan kedua orang tua kita."

"'Song Jihyo'? Penasihat Kerajaan di masa kekuasaan Woo Kris?"

"Benar."

Seringai pun terbit.

"Satu lagi 'hama' dari masa lalu yang akan kumusnahkan."

"Hama apa yang kau maksud? Song Jihyo sudah mati dibunuh appa kita."

"Anda pasti tahu maksud saya, Pyeha..."

"Shixun, berhentilah formal pada kakak tertuamu sendiri."

"Hahaha, mian Hyung..."

"Jadi, kau setuju melakukannya?"

"Selama perintah didapat darimu, aku akan melakukannya tanpa ragu."

Pembantaian Keluarga Bangsawan Song.

Adalah kegiatan yang Xi Shixun lakukan saat ini.

Kedua kaki jenjangnya menginjak lantai di tengah ruang keluarga Mansion Song. Tatapannya menyebar ke segala arah, kakinya menggiring tubuhnya berputar badan. Shixun menurunkan kedua tangannya yang sama-sama menggenggam satu revolver. Senyumnya cerah, pertanda satu kepuasan.

Mayat bergelimpangan di sekitarnya cukup untuk membuktikan bahwa, hidup mati puluhan orang bisa Shixun tentukan sesuka hati.

Shixun meringis tepat di ujung bibirnya yang sobek dan lebam. Untuk membantai satu keluarga, dibutuhkan nyali dan perlawanan tak main-main. Tiap keluarga memiliki pengawalan masing-masing, karena itulah luka dan lebam menaungi muka tampan Shixun.

Seorang pemuda datang menghampiri Shixun. Pemuda itu tanpa izin menyentuh pipi Shixun hanya untuk menempelkan plester di luka pipi akibat goresan.

Pemuda itu bertanya,

"My Lord, apa perintah anda selanjutnya?"

Taeyang—anak sulung Kim Jongin dan Kim Kyungsoo—menegur sang majikan. Pemuda yang berusia beberapa bulan lebih muda dari Shixun itu hanya terfokus pada majikannya. Taeyang benci darah melebihi apapun, sialnya, dia menjadi asisten dan pengacara pribadi dari majikan penyuka darah.

Taeyang tidak membicarakan vampir, melainkan kesukaan majikannya dalam hal membasmi dengan keji.

Shixun melirik asistennya datar, "kau sudah menyisakan Song Jongki, kan?"

Taeyang mengangguk. Tak lama kemudian, pria berbadan binaraga menggendong seorang pria parubaya yang pingsan. Pria parubaya tersebut dibaringkan begitu saja di dekat kaki Shixun. Shixun menunduk. Kakinya menendang-nendang pinggang pria parubaya tersebut.

Pria parubaya itu bernama Song Jongki.

"Sesuai perintah anda sebelumnya," Taeyang menjelaskan. "Jika anda membantai seluruh anggota Keluarga Bangsawan Song, maka anak buah anda lainnya membius lalu menyekap Song Jongki ke ruangan lain di Mansion Song ini. Sekarang, pria ini pingsan."

Shixun mengangguk. Dia jongkok, lalu meletakkan kedua revolvernya, tepat di dekat tangan Song Jongki yang terkulai lemah di lantai.

Karena tangan Shixun dilapisi sarung tangan tipis persis selaput, dia aman menggenggam tangan Song Jongki tanpa meninggalkan sidik jarinya. Shixun mengarahkan tangan Song Jongki agar menyentuh revolvernya, khususnya di bagian pelatuk. Itu dilakukan supaya sidik jari Song Jongki tertinggal di pelatuk revolver.

Usai menegakkan badan, Shixun melepas dua sarung tangan selaputnya. Taeyang menerima sarung tangan tersebut dan membuangnya ke kantung plastik hitam.

"Bakar sarung tangan tersebut."

"Yes, My Lord."

Shixun, Taeyang, dan rombongannya keluar dari Mansion Song.

Setelah memasuki mobil pribadinya, Shixun menjelaskan beberapa hal pada Taeyang.

"Song Jongki adalah satu-satunya anggota Keluarga Bangsawan Song yang hanya mengalami beberapa luka dan lebam ringan. Dia juga satu-satunya yang selamat dan hidup. Aku sengaja membuat skenario seperti itu untuk mengkambinghitamkan dirinya."

Taeyang mengangguk paham.

"Kedua, dengan gagalnya dia meraih posisi Perdana Menteri Korea Selatan serta menjadi bahan tertawaan seluruh anggota Keluarga Song, sudah jadi motif kuat bagi polisi untuk mencurigainya." Shixun menyandarkan punggungnya. "Jeno, kita ke pusat kota, sekarang!"

"Yes, My Lord..." Ujar sang supir yang merangkap sebagai salah satu pengawal pribadinya.

Mobil Porsche Cayman merah Shixun terhenti di depan gedung-gedung pencakar langit, yang mempertontonkan berbagai video mengenai pemberitaan atau iklan produk terkenal di Korea Selatan. Suasana di sini pun lumayan ramai karena ini pusat perekonomian Korea Selatan.

"Biarkan aku menunjukkan sesuatu yang menarik untukmu, Taeyang."

"Tentu, Lord Shixun."

Taeyang masih kurang nyaman dengan tindak-tanduk Shixun. Apalagi seringai Shixun saat melihat layar-layar besar di tiap gedung pencakar langit Kota Seoul.

Taeyang mengernyitkan dahi, karena tiba-tiba Shixun menggunakan jemari dan bibirnya untuk menghitung.

"Satu...dua... Tiga..."

Dahi Taeyang mendadak berkeringat. Mukanya pasi, tepat saat Shixun mendekati angka tertentu.

"...enam...tujuh...delapan...

...it's show time..."

["Breaking news. Kali ini kami memberitakan tentang kematian seluruh Keluarga Bangsawan Song di Mansion Utama Song.

Pihak kepolisian awalnya mendapatkan laporan dari salah satu pekerja Mansion Song. Pekerja tersebut mengatakan Keluarga Bangsawan Song mengalami Pembantaian. Seluruh anggota keluarga serta para pekerja mati ditembak, hanya beberapa pekerja yang selamat karena mereka berhasil bersembunyi dari pelaku pembantaian.

Diduga, Song Jongki menjadi tersangka atas kejadian tersebut. Polisi masih berusaha menyelidiki—]

Mendadak, pikiran Taeyang blank.

Seluruh layar gedung pencakar langit mempertontonkan berita terpanas dan paling mencengangkan hari ini, di jam ini. Yaitu berita Pembantaian Keluarga Bangsawan Song.

Taeyang menatap visual samping Xi Shixun.

Shixun adalah pembantai mereka, tapi Shixun pula yang mengatur siapa 'kambing hitam'nya.

Serupa sekali pukul, dua tiga nyamuk mati di tangan.

Shixun melakukannya.

Dia membantai Keluarga Bangsawan Song, menghancurkan karir Song Jongki, sekaligus mengamankan diri Shixun dengan mengkambinghitamkan orang itu.

Dengan melakukan hal semacam ini, Shixun tidak menambah catatan hitam dalam dirinya.

Shixun beroperasi bersih, tidak seperti mendiang ibunya—Lady Luhan—yang cukup bar-bar dalam bertindak hingga seringkali melakukan sidang-sidang tak berguna.

"Kita ke rumah Taeyang. Kemudian kembali ke Mansion Xi, Jeno."

"Yes, My Lord."

Taeyang menyanggah, "anda sendiri terluka dan mengapa saya harus pulang lebih awal?"

"Kyungsoo-imo demam, kan? Aku tidak bisa menjenguknya jadi untuk opsi lain, aku memulangkan anaknya lebih awal agar anaknya bisa merawatnya."

"Itu tidak perlu, Lord Shixun. Somi bisa menjaganya. Dia libur sekolah semester ini."

"Bukan masalah, tenang saja."

"Lalu, luka anda sendiri? Saya akan mengobatinya."

Taeyang memangku kotak obat, namun Shixun menepuk-nepuk pucuk kepalanya.

Sontak pipi Taeyang memerah karena tidak enak hati.

"Lukaku tidak separah biasanya. Aku bisa mengobatinya sendiri."

"Jika Nona Muda Shika mencecar anda, bagaimana?"

Shixun menurunkan tangan. Dia terkekeh jahat, "kuacungkan dua jari tengah di depan mukanya."

Ternyata,

Kepala Keluarga Bangsawan Xi Kedelapan tidak ada bedanya dengan pendahulunya.

.

.

.

.

.

Belasan tahun terlewati begitu saja, cukup lama untuk menempa karakter setiap manusia yang diizinkan hidup.

Khususnya Byun Baekhyun.

Sudah belasan tahun nama Baekhyun tertulis sebagai Wali Triple Twin bersama Chanyeol. Mengenai hubungan Baekhyun dan Chanyeol, keduanya resmi menikah tepat ketika usia Byun Hana lima tahun. Mereka tinggal di Mansion Byun. Chanyeol pun resmi menyematkan marga istrinya di depan namanya, mengingat marga 'Park' bukanlah marga resminya, sedangkan marga 'Xi' tak bisa lagi disandangnya.

Semenjak Baekhyun menjadi wali dari Sehan, Shika, dan Shixun, dia belajar mengontrol emosinya. Wanita itu bermental lebih tenang dan bijak. Itu karena secara tidak langsung karakter Triple Twin yang berbeda satu sama lain membuatnya harus banyak-banyak bersabar. Terlebih Xi Shixun, SI bungsu, dikenal pembangkang akut. Melihat karakter Shixun, Baekhyun selalu teringat Xi Luhan sang kakak perempuan tersayangnya.

Baekhyun baru saja selesai memasak sarapan untuk Shika. Ada Hana juga ikut membantu ibunya memenuhi kebutuhan Shika di Mansion Xi. Maklumi saja, diantara Triple Twin, hanya Sehan alias si sulung yang bisa memasak.

"Enak sekali, Baekhyun-imo!"

"Benarkah?"

Shika mengangguk cepat. Ujung sumpitnya tertuju pada sepotong sushi. "Kapan-kapan buatkan lagi, ne?"

Cengiran Shika sangat mencerahkan hari bagi siapapun yang melihatnya. Baekhyun jadi ikut tersenyum.

"Eonni harus merasakan masakan eomma lainnya!" Hana berseru senang setelah menggigit sepotong salmon mentah. Tingkahnya imut, mengingatkan kita pada Baekhyun versi remaja. "Ugh... Aku suka ikan laut!"

"Sayang, jaga etika makanmu," Baekhyun mengingatkan anaknya.

Hana hanya nyengir.

Shika tersenyum lirih. Di depannya, tersaji pemandangan seorang anak gadis yang begitu diperhatikan ibunya. Shika kembali mengunyah sushinya. Tiba-tiba makanannya hambar.

Aku rindu eomma...

"Noona."

Shika, Baekhyun, dan Hana menoleh ke arah sama. Tepat pada si sumber suara.

Si sumber suara adalah pemuda berhoodie coklat, hidung hingga dagunya ditutupi masker hitam, topi baseball abu-abu tersemat di kepalanya, mata tajamnya melirik Baekhyun dan Hana sekilas.

Hana menyapa pemuda tersebut,

"Annyeong, Shixun-oppa..."

"Shika-noona."

"Ya, Xunxun? Oh iya, makanlah dulu! Ini enak. Baekhyun-imo bilang appa suka sekali sushi."

Pemuda itu—Xi Shixun—tidak menggubris sapaan Hana.

Hana pun tersenyum murung.

"Aku tidak mau makan apapun. Aku kenyang." Shixun mengendikkan dagu, "jika kau ingin menemuiku, aku ada di ruang kerja Kepala Keluarga. Aku hanya ingin bilang itu saja."

Nada ucapannya terlampau datar. Shika mengerutkan kening saat melihat Baekhyun bangkit dari kursi dan mendekati Shixun.

"Shixun-ah..."

"Aish!"

Shixun langsung berbalik namun Baekhyun memberanikan diri meremas bahunya.

"Lepas."

"Nak, kau—"

"Tcek!"

Shixun menyentak tangannya kasar hingga Baekhyun terhuyung mundur. Tangannya mendadak 'tremor'.

"Kau ingin bicara apa?"

Ujar Shixun jengah.

"Apa yang terjadi padamu, nak?"

"Bukan urusanmu."

"Tapi imo khawatir, nak... Kamu belum pulang dari kemarin dan pagi-pagi ini, imo sudah melihat sekitar matamu bengka—."

"Sial, sudah kubilang, ini bukan urusanmu! PAHAM...?!"

Bahu Baekhyun terguncang. Hana berinisiatif mendekati lalu merangkul bahu ibunya. "Oppa... Tolong jangan terlalu kasar pada eomma..."

"Jangan sok memerintahku, oke? Mentang-mentang dia..." Shixun menunjuk muka Baekhyun. "...Waliku, lantas? Aku harus meladeninya, begitu? Melihatnya saja aku mau muntah."

"Oppa! Jaga sikapmu!"

"SIAPA KAU BERANI-BERANINYA MEMERINTAHKU, HAH?!"

Urat amarah timbul dari pelipis sampai leher Shixun.

Hana tidak tahan dibentak. Baekhyun menggelengkan kepala pada anaknya, mengkode dirinya untuk mengalah pada Shixun seperti sebelum-sebelumnya. Namun Hana tidak tahan. Dia tidak mau kedua orang tuanya terus-menerus dihinakan oleh Xi Shixun.

"Kau seharusnya sadar, Shixun-oppa, kalau tanpa kedua orang tuaku, kau dan kedua kakakmu tidak akan tumbuh sebesar dan sesehat sekarang!"

"Kau mencoba menantangiku, hah? Gadis kecil, dengar ya..."

Hana hanya bisa melihat mata tajam Shixun. Tapi itu cukup mengintimidasinya. Hana menelan ludah kelu. Tubuhnya merinding tatkala Shixun sudah beberapa sentimeter di hadapan tubuhnya.

"...seumur hidupku, aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dan Sehan-hyung. Terlepas dia mencintaimu atau tidak. Jika pada akhirnya jalang sepertimu menikahinya, dan kau memiliki anak darinya, aku tidak akan pernah menganggap anak itu keponakanku dan aku bersumpah anak itu merasakan kebencian TERAMAT BESAR DARIKU!"

"Shixun-ah, cukup!" Mata Baekhyun memerah. Dia berdiri membentengi anaknya. "Tolong jangan katakan itu. Kau tidak tahu rasanya kau dan kekasihmu saling mencintai namun terhalang restu."

Hana terpaku pada ibunya. Dia tahu sedikit tentang percintaan Baekhyun dan Chanyeol.

Di masa lalu, Luhan sama seperti Shixun. Luhan tidak merestui hubungan Baekhyun dan Chanyeol. Bedanya, jika Luhan tidak merestui karena tidak ingin Baekhyun dan Chanyeol sakit akibat cinta...

...Shixun justru tidak merestui karena membenci ibu dari Hana.

Maka bisa dimaklumi kadar kewas-wasan Baekhyun. Dia tidak mau anaknya merasakan hal menyakitkan seperti dirinya dulu.

"Aku tidak tahu rasanya karena aku memang tidak ingin mencintai siapapun," ujar Shixun remeh.

"Tapi..." Hana memberanikan diri bicara, "apa salah Hana sampai Shixun-oppa tidak merestui hubunganku dan Sehan-oppa?"

Shixun menaikkan sebelah alis, "masih belum paham juga? Tanyakan pada ibu pelacurmu itu!"

"Oppa, berhenti hina eomma kumohon..."

"Persetan!"

"Shixun!"

Shika menghampiri adiknya. Shixun memandang kakak gadisnya sinis.

"Apa? Kau mau mengomeliku juga, noona?"

Shika awalnya tidak mau ikut campur karena tahu sekalinya dia ikut campur, Mansion Xi akan diisi teriakan dan adu debat. Masalahnya, adik lelakinya ini sudah sangat keterlaluan!

Shika menarik bahu tegap adiknya, lalu menurunkan masker dari wajah Shixun. Shika mendecih melihat lebam di sudut bibir dan mata Shixun, serta plester di pipi kanannya.

"Sekarang, karena apa?"

"'Karena apa' apanya?"

"Tidak usah mengelak. Ini karena kau bertugas sebagai 'anjing' kerajaan, kan? Siapa lagi yang kau bunuh dan bantai, heum?"

"Sudah kodratnya seorang Kepala Keluarga Bangsawan Xi melakukan hal-hal semacam itu, Noona." Jawab Shixun santai.

"Kau tidak belajar dari pengalaman, eomma, hah?!" Amarah Shika sudah ada diubun-ubun "Menjadi mafia tidak harus membunuh siapapun!"

"Aku menjalankan tugas dari hyungie, PUAS?!" Bentak Shixun. "Jadi stop menasihatiku bunuh tidak bunuh jika kau saja seorang Kepala Yakuza, Noona!"

Bahu Shika tersentak.

Baekhyun merasa sangat bersalah.

Dia tahu penyebab amarah Shixun .

Yaitu karena Shika sebenarnya ingin membela Baekhyun, dengan mengalihkan amarah Shixun dari Baekhyun kepadanya.

Shixun jelas membenci pembelaan Shika untuk Byun Baekhyun.

Semua pertengkaran ini adalah akibat dari permasalahan antara Baekhyun dan Luhan di masa lalu. Shixun merasa, dia layak membenci Baekhyun.

Semenjak Triple Twin berusia enam belas tahun, Yeonseok menceritakan segalanya pada mereka. Bagaimanapun juga Yeonseok adalah paman mereka, dan Triple Twin berhak mengetahui apa yang terjadi pada sang eomma.

Parahnya, setelah mengetahui alur kejadian di masa lalu antara Luhan dan Baekhyun, Shixun menjadi sangat membencinya.

Baekhyun merasakan kebencian si bungsu sejak ulang tahun Triple Twin ke-16. Waktu itu, Shixun bertengkar dengan kakak sulungnya mengenai rencana pertunangan Sehan dengan Hana.

"Sebagai adik bungsumu, aku tidak mau merestui hubungan kalian."

"Mengapa, Shixun?" ujar tenang Sehan. Ya, si sulung berusaha tenang walaupun si bungsu suka sekali memantik saraf amarah.

"Karena dia anak dari Byun Baekhyun."

Baekhyun yang mendengar pertengkaran dua keponakannya langsung menegur.

"Maaf, Shixun-ah... Imo ingin tahu, apa yang membuatmu begitu membenci imo?"

Mungkin diawal Shixun bersikap dingin pada Baekhyun. Tapi sekarang? Shixun menunjukkan kebenciannya secara terang-terangan.

Maka dari itu, Baekhyun bertanya dan Shixun menjelaskan,

"Usiaku waktu itu masih tiga tahun, tapi dipaksa untuk mengerti keadaan! Aku ingat sekali bagaimana Sehan-hyung menangis diam-diam di kamar mandi agar aku dan Shika-noona tidak ikut sedih. Aku pun ingat tangisan Shika-noona setiap hari bila ada yang membahas eomma, dan aku juga ingat rasa rindu membuncah tak terbendung tapi hanya dibayar suara dari telepon beberapa detik. Tak lama kemudian, datang pemberitaan kematian eomma!"

Saat itulah, Baekhyun menangis.

Dia menangis karena kebencian Shixun.

"Semua itu karena dirimu, Byun Baekhyun!" Shixun mencecarnya, menimpuki Byun Baekhyun dengan segelintir kesalahan yang menyesakkan. "Jika seandainya kau tahu dengan siapa kau memihak, SEANDAINYA KAU TIDAK MERASA BEGITU SUCI, menganggap eomma yang PENDOSA berhak dihukum, mungkin eomma masih ada bersama kami terlepas eomma dipenjara belasan tahun atau seumur hidup!"

"Tapi—"

"AKU MEMBENCIMU, BYUN BAEKHYUN! Kau bukan bibiku atau siapapun untukku!"

Baekhyun meratapi situasi sekarang.

Hana merangkulnya, berusaha menenangkannya. Tapi percuma. Baekhyun tersungkur dalam rasa bersalah. Dia menangis terisak pelan tiap melihat Shixun begitu membencinya. Dia menyesali perbuatannya pada Luhan, dia menyesal berada di pihak salah, dan rasa bersalahnya ditumpuk kebencian Shixun padanya.

Ini hukuman psikis yang sangat memukul telak dirinya.

"Noona, lepas. Aku sangat sibuk!" Shixun mencoba melepas cekalan kakak gadisnya. "Aku juga harus menghadiri Rapat Keluarga Bangsawan Oh."

"Makan dulu atau obati wajahmu dulu!"

Shixun tidak menurut. Dia menyentak cekalan tangan Shika hingga sang kakak terhuyung dan nyaris jatuh, kalau bukan karena dirangkul Hana.

Melihat Hana, tangan Shixun mengepal kuat. Urat-uratnya timbul di lengannya, seolah bersemangat meninju seseorang.

"Eonni, tidak apa-apa, kan?" Tanya Hana. Shika mengangguk.

"Terus saja bela orang asing, Noona," cecar Shixun. Shika memandangnya tak habis pikir. "Tapi lain kali, sadari tempat karena Noona berada di Mansion Xi, teritorialku. Jadi, sebelum mengizinkan dua pelacur ini ke Mansion Xi, pikirkan aku yang begitu alergi bercengkrama dengan mereka." Shixun meringis, bergantian melirik muka sedih Baekhyun dan ekspresi amarah Hana. "Ini terakhir kalinya, jika lagi-lagi Shika-noona mengizinkan mereka memasuki Mansion Xi dan Mansion Oh, mereka akan kubunuh."

"Jika kau lupa, mereka anak dan istri Chanyeol-saem, Shixun! Dan percayalah, kelakuanmu ini membuat eomma dan appa kecewa."

Shixun mendengus. Kalau sudah menyangkut dua orang tuanya, Shixun membisu. Dia melengos pergi menuju pintu Mansion Xi.

Shika mengejarnya. Mengabaikan Baekhyun dan Hana yang hanya diam di ruang makan.

"Shixun, Noona belum selesai bicara. Shixun-ah! Shixun-ah! Shixu—"

"Oh Sehun junior!"

DEG...!

Shixun mematung di tempat.

Mata hitam jelaga turunan ayahnya menatap tajam pada pemuda di depannya.

Pemuda yang berdiri gagah di ambang pintu Mansion Xi.

"Kau memanggilku apa, tadi?"

Pemuda itu—Sehan—memasukkan telapak tangannya ke saku. Kepalanya sedikit dimiringkan, memperhatikan si bungsu yang kini tingginya lebih dua sentimeter darinya.

"Sehun."

"Sudah kubilang, panggilan itu digunakan hanya jika aku berperan sebagai 'Oh'." geram rendah Shixun.

"Nama koreamu adalah pemberian eomma..."

"Aish! Sekarang kau berkhotbah apalagi, Hyung!"

"...dan yang eomma harapkan adalah kepribadianmu seindah appa. Tidak sejahat ini."

Shixun tersenyum sinis, "sayangnya aku bukan 'Oh Sehun'."

"Kau—" Sehan menarik nafas, berusaha menetralkan amarahnya. "—benar-benar rusak, Xi Shixun. Kau memang perlu didisiplinkan."

"Apa? Hei! Berhenti menarikku, aku ada urusan penting, Hyung!"

"Tunda saja."

Sehan mencekal pergelangan tangan kanan adiknya. Dia cukup kuat menyeret Shixun menuju ruang kerja Kepala Keluarga Bangsawan Xi.

"Tapi ini menyangkut Keluarga Bangsawan Oh. Aigoo... Lepas!"

"Kau Kepala Keluarga Bangsawan Oh. Semua anggota keluarga Oh akan menurutimu. Lagipula, siapa yang berani membangkang pada Raja, kecuali dirimu?"

Shixun merotasikan bola matanya.

Sekilas pandang Sehan bertemu Hana. Sehan memberi senyum kecilnya untuk tunangannya, lalu kembali menarik Shixun.

Shika menghela nafas.

Eomma... Tanpa dirimu, Shixun lebih tidak terkendali.

Kami merindukan kalian, sangat...

.

.

.

.

.

Sehan dinobatkan sebagai Raja Korea Selatan selanjutnya, menggantikan Woo Sehun—sang ayah. Maka dari itu, namanya pun dikenal sebagai 'Woo Sehan'.

Karena Raja Sehun meninggal saat penerusnya (yaitu Sehan) masih berusia tiga tahun, pengganti Raja Sehun ditiadakan sampai kepercayaan rakyat bisa kembali diambil alih oleh Keluarga Woo. Rakyat hanya mempercayai keturunan Woo Sehun sebagai raja mereka. Maka, rakyat Korea Selatan menunggu anak dari Woo Sehun, yakni Sehan, cukup umur untuk menjadi raja. Kesepakatan ini pun sudah disetujui oleh Keluarga Bangsawan, antar pejabat, tetua, serta kuisioner resmi untuk menyuarakan aspirasi rakyat korea.

Sekitar belasan tahun Korea Selatan berdiri tanpa diduduki sang raja, sang kaisar. Tiap pertemuan kepala kerajaan di organisasi internasional, Woo Sehan turut hadir sejak dirinya berusia sepuluh tahun. Meskipun begitu, Perdana Menteri Oh Yeonseok dan dua perdana menteri setelah dirinya berusaha bekerja diposisi ganda selama Sehan belum cukup umur. Ini untuk sementara.

Awalnya, pemimpin di tiap Kerajaan luar Korea Selatan skeptis terhadap eksistensi si kecil Woo Sehan. Namun, berkat kejeniusan Sehan, bocah itu dijadikan panutan para orang-orang tua.

Setelah Sehan berusia tujuh belas tahun, dia diangkat menjadi raja. Sebagian besar rakyat bersukacita. Mereka mempercayai buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Mereka percaya si sulung dari Woo Sehun bisa memimpin kerajaan.

Sulit dibayangkan bagaimana Putra Mahkota—kini seorang Raja—dengan usia sangat muda mampu menghadapi intimidasi para penguasa kerajaan lain.

Kini, Raja Woo Sehan—sebagai Raja termuda dalam sejarah kerajaan modern—berhadapan dengan 'anjing' kerajaannya.

Woo Sehan duduk berhadapan dengan Xi Shixun. Dia melirik pada jajaran foto-foto para Kepala Keluarga Bangsawan Xi dari generasi satu hingga generasi ke delapan—generasi yang dikepalai Xi Shixun. Ketika mata hazelnya menyapu potret Kepala Keluarga Bangsawan Xi Ketujuh yakni Xi Luhan, Sehan tersenyum lirih.

"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kematian eomma bukan sepenuhnya kesalahan Baekhyun-imo." Sehan kembali memandang adik bungsunya, "tindakanmu menyakiti perasaan orang lain. Berhenti bertindak seperti itu. Kendalikan emosimu."

"Kyungsoo-imo saja membela eomma, bahkan begitu cerdas mengetahui niat busuk pihak kerajaan dibawah kuasa Woo Kris!" Shixun menahan tinjunya di atas permukaan meja kaca. "dan Byun Baekhyun begitu bodoh, membela pihak yang jelas-jelas membohonginya."

"Eomma kita juga salah karena membunuh keluarga Baekhyun-imo."

"Kau tidak mengerti perasaanku, kah? Atau minimal tahu rasanya berada di posisi eomma?" Shixun akan terus bersikeras jika menyangkut sang ibu. "Aku tahu, eomma sangat menyayangi Byun Baekhyun persis adik sendiri, namun apa balasannya? 'adik'nya tega menjebloskan eomma dalam penjara. 'Adik'nya begitu bodoh memilih pihak yang jelas-jelas hanya memanfaatkan kematian keluarganya. Belum lagi, niat Byun Baekhyun memenjarakan eomma hanya agar eomma berhenti menjadi jahat. Byun Baekhyun sempat berpikir eomma berbuat jahat karena eomma gila, kurang waras, psikopat sinting!"

Shixun mengacak rambutnya sendiri, "sudahlah, Hyung! Bagimu, orang jahat pantas dihukum namun bagiku... Semuanya kembali pada niat masing-masing dan kebenaran di dalamnya."

"Kau juga seharusnya paham, alasan eomma meninggal tidak semuanya karena Baekhyun-imo." Sehan memberi adiknya pengertian. Dia menggenggam tangan kanan Shixun yang menegang tiap membicarakan eomma mereka yakni Xi Luhan. "eomma yang memutuskan untuk menyerah pada hukum, membiarkan semua kebenaran terungkap, padahal, Lady Xi Luhan bersama pengacaranya—Kim Jongin—selalu bermain-main dengan hukum. Mereka membuat seolah-olah hukum Korea Selatan tak bisa menyentuh Keluarga Xi. Eomma kita luar biasa, namun pada akhirnya eomma harus menyerah dan pasrah dirinya dihukum ma—."

"Berhenti bicara, Hyung!"

"Jika aku berhenti, lalu kapan kau sadar? Berhenti menyalahkan orang lain atas kematian eomma. Hyungie mohon, Shixun-ah..."

Shixun mengerang kesal. Dia memutuskan bangkit lalu pergi meninggalkan kakak sulungnya. Sehan memanggilnya bahkan mengejarnya, namun Shixun acuh tak acuh.

Sepersekian detik Shixun membuka pintu ruang kerjanya, dia melihat Chanyeol berdiri dengan pandangan datar ke arahnya.

"Pagi, My Lord..."

"Ada apa Chanyeol-saem datang kemari?" Ujar Sehan sopan. Dia berdiri di balik bahu Shixun. "Apakah ada sesuatu pada urusan istana?"

"Istana baik-baik saja, Pyeha," Chanyeol membungkuk hormat pada rajanya. Mengingat dirinya bekerja sebagai Penasihat Kerajaan yang dipilih langsung oleh Sehan. "Saya datang kemari ingin bicara pada kalian bertiga."

"Kami bertiga?" Shixun menaikkan sebelah alis. "Berarti Shika-noona juga?"

Chanyeol mengangguk.

"Memangnya menyangkut apa?" Shixun mengecek jam di tangannya. "Aku tidak punya banyak waktu.

"Ini menyangkut kedua orang tua kalian."

Saat itulah Byun Baekhyun muncul ragu-ragu di balik bahu suaminya, Byun Chanyeol. Tak hanya wanita itu, Oh Yeonseok juga ada di belakang Chanyeol.

Shixun dan Sehan saling beradu pan,dang.

Hingga Shixun memutuskan memanggil Shika lewat interkom mansion yang terhubung dengan ruang Pelayan Mansion Xi. Shixun menekan tombol kotak interkom di dinding samping pintu ruang kerjanya.

"Yuri-ahjumma, panggilkan Shika ke ruanganku."

["Ne, My Lord."]

Setelah Shixun mematikan sambungan, dia bertanya,

"Ada apa dengan appa dan eomma?"

Chanyeol memandang Baekhyun. Istrinya hanya menunduk, terbesit kesedihan mendalam di sana. Chanyeol menghela nafas.

Dia pun berujar satu kalimat, disusul skenario cerita dari masa lalu...

.

.

.

.

.

Lima belas tahun lalu...

Dimulai dari beberapa jam setelah vonis hukuman Luhan diputuskan...

.

.

.

.

.

["Kau sesibuk itu sampai tidak menghadiri sidang vonis hukuman Lady Luhan?"]

Chanyeol tertegun kala di earphone-nya, terdengar ucapan lemas Jongin. Chanyeol mengangkat tangannya dari laptopnya. Dia menengadah pada langit-langit ruang kerja CEO XiLu Corporation.

"Dari suara lemasmu, aku tahu kalau pihak Lady Luhan kalah."

["Kau mengenalku dengan baik, dude."]

Bagi pihak Luhan, hukuman penjara seumur hidup atau penjara belasan tahun sudah merupakan kemenangan. Sayangnya, Chanyeol harus menelan pil pahit seakan pil itu dapat menyobek kerongkongannya berkat ucapan Jongin,

["Lady Luhan divonis hukuman mati."]

Pernyataan itu terlalu menyakitkan.

Satu pikiran menyentil otak dan nurani Chanyeol. Pikiran itu berupa satu nama. Byun Baekhyun. Pemilik hatinya. Chanyeol memutuskan pergi ke Mansion Byun, menjenguk anak gadisnya sekaligus menemui ibu dari anaknya.

"Sudah dulu, Jongin. Aku ada urusan dengan Nona Baekhyun."

Komunikasi ponsel diputus, Chanyeol langsung keluar dari gedung XiLu Corporation menuju basemen. Langkahnya cukup cepat, tergesa-gesa, mengundang rasa penasaran para karyawan XiLu Corporation. Awalnya ingin menyapa, mereka justru mengurungkan niat.

Mobil dimasuki, dikendarai menuju Mansion Byun. Chanyeol bolak-balik menggigit bibir bawahnya, memikirkan ucapan Luhan satu jam setelah sidang pertama.

"Jangan menghadiri sidang untuk vonis hukuman. Nantinya, kau akan sangat syok mendengarnya dan aku tidak sanggup melihat kesedihanmu, Yeolli."

"My Lady..."

"Bisa kau panggil aku Luhan-noona? Aku rindu panggilan itu keluar dari mulutmu."

"Hm, Luhan-noona."

"Aku senang mendengarnya. Ingat ya, jangan datang. Fokuslah pada XiLu Corporation saja."

Hubungan Xi Luhan dan Park Chanyeol tidak sesederhana kelihatannya. Meski mereka bukan sepasang kekasih atau saudara sekandung, ikatan mereka cukup kuat. Sehingga, kala salah satunya terlihat begitu sekarat, maka pihak lainnya akan merasakan hal sama.

Mengapa demikian?

Latar belakang Park Chanyeol sangat buruk dan suram. Luhan merasa berkaca pada Chanyeol. Berkat semua itu, ketika Luhan memberinya pembebasan, Chanyeol tentu mematenkan diri sebagai pria Luhan yang setia.

Sampai akhirnya... Kesetiaan Chanyeol ternodai oleh cintanya pada Byun Baekhyun.

Byun Baekhyun...

...apakah mencintaimu adalah sebuah kesalahan?

Penyelamat hidupnya dihukum mati. Chanyeol tidak bisa menerima itu.

Sesampainya di Mansion Byun, Chanyeol mendapati Hana berlari keluar dari mansion. Baekhyun mengejarnya, lalu tersenyum cerah saat Chanyeol datang ke tempat tinggalnya.

"Selamat datang, oppa..."

Sudah tiga hari berturut-turut, dijam sama, Chanyeol datang menjenguk Byun Hana. Sang anak pun sudah hafal kebiasaan sang ayah. Sehingga, jam makan siang kantoran selalu menjadi waktu paling ditunggu Hana.

"Appa!"

Chanyeol tersenyum tipis. Dia hanya berdiri di depan mobil, menunggu Hana memeluk kakinya. Setelahnya, Chanyeol menggendong Hana.

"Masih musuhan dengan sayur?" Goda Chanyeol.

Hana nyengir, "masih!"

"Kenapa begitu? Sayur itu sehat, nak..."

"Soalnya, kalau Hana masih musuhan sama sayul, itu belalti appa akan telus menyuapi Hana."

Baekhyun merasa, momen sederhana anak dan ayah dari anaknya sangat menggemaskan. Hati Baekhyun menghangat. Senyumnya merekah setelah Chanyeol hanya setengah meter di hadapannya. Baekhyun menengadah, dia berkata, "oppa... Ayo makan siang bersama..."

"Ternyata anda masih sanggup tersenyum secerah itu disaat hidup Lady Luhan resmi berakhir."

Senyum cerah Baekhyun urung. Mata cantiknya memerah sebelum air matanya meluruh setetes. Buru-buru Baekhyun mengusapnya sebelum sang anak menyadarinya. Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata, "itu dibicarakan nan...nanti, oppa... Kita makan du-dulu, ne? Demi Hana..."

Hanya karena nama anak semata wayang, Chanyeol mentolerir keadaan.

Makan siang berlangsung tegang bagi Baekhyun. Chanyeol hanya berceloteh dengan Hana dan menyuapinya di meja makan. Atensi Chanyeol sama sekali tidak mengenai visual Baekhyun di depannya. Nafsu makan Baekhyun menghilang.

Usai makan siang, Hana ingin mendengar dongeng dari ayahnya sebelum dia tidur siang.

"Kemudian, Julliet menyusul Romeo di pembaringan terakhirnya sendiri..." Chanyeol baru saja menyelesaikan bacaan dongengnya. Dia mengusap dahi anaknya lalu menciuminya lembut. "...selamat tidur, cantik."

Chanyeol langsung keluar dari kamar Hana. Ketika dia membuka pintu, Baekhyun sudah ada di depannya dan memandangnya pasi.

"Kita perlu bicara, oppa..."

"Memang itu tujuan saya datang kemari."

"Berhenti bicara formal padaku, oppa!"

"Anda juga jaga intonasi bicara anda. Hana baru saja tidur."

Mereka duduk dengan hening di teras belakang Mansion. Hamparan bunga Krisan dan lavender langsung memanjakan mata. Chanyeol merasakan angin musim semi kontras dengan dilema hatinya. Apakah dia harus menjauhi kekasihnya karena berhasil mencelakai penyelamat hidupnya?

Baekhyun tidak berani menatap muka Chanyeol. Dari sudut matanya, dia paham kemarahan Chanyeol padanya. Baekhyun meremas kain kemeja di dadanya. Dia meringis, mengingat kesalahpahamannya pada Luhan.

Bagi Baekhyun, Luhan membunuh dan berbuat jahat karena dirinya gila dan tak bisa mengendalikan nafsu jahatnya. Tapi ternyata?

Luhan bar-bar karena itulah caranya menyelesaikan tugasnya sebagai 'anjing' kerajaan serta pemimpin organisasi mafia.

Baekhyun paham, Luhan tidak benar-benar berniat mempermainkannya lewat Keluarga Byun. Lagipula, sesalah apapun Luhan padanya, memihak kubu yang jelas-jelas memperalat kematian Keluarga Bangsawan Byun sudah dikatakan sangat bodoh.

Ya, Baekhyun merasa dirinya masih bodoh dan kekanakan.

Hanya demi dendam dan cinta, Baekhyun menjadi sok menghakimi Luhan.

"Aku merasa sangat bersalah pada Luhan-eonni..." Baekhyun terisak. Kedua tangannya gemetar di pangkuannya. "Aku...aku minta maaf tapi aku terlalu pengecut untuk mendatanginya...hkkss... Eonni... Maafkan Baekki... Oppa... Aku minta maaf telah menyakiti penyelamat hidupmu...hkkss...mian..."

"Seharusnya anda ingat, tanpa Lady Luhan, mungkin anda hidup terlunta-lunta karena dibodoh-bodohi para petinggi Byun Hospital. Anda pun harusnya paham, bahwa tanpa Lady Luhan, saya pasti tidak bisa bertemu dengan anda, dan anda takkan pernah bisa mencintai saya. Mengapa anda tidak ingat kebaikan-kebaikan Lady Luhan saja untuk meredakan amarah anda padanya? Saya yakin, Lady Luhan tengah berusaha membayar lunas kesalahannya pada anda perlahan-lahan."

"Aku kalut oppa... Aku memiliki Hana namun tidak bisa memberitahunya siapa ayah kandungnya. Aku dibayang-bayangi akan dibunuh Luhan-eonni melalui dirimu. Aku kalut, oppa! Aku takut! Tidak bisakah kau mengerti?!" Baekhyun menyugar rambutnya yang lepek oleh keringat dan air mata. "Aku ingin Luhan-eonni dihukum tapi tidak dengan hukuman mati... Aku... Aku tidak mau Luhan-eonni meninggalkanku, meninggalkan kita... karena aku masih menyayanginya."

Chanyeol masih diam. Matanya mengerling dari Baekhyun.

Baekhyun semakin keras terisak.

"Tidak adakah yang mengerti posisiku? Mentalku? Psikisku? Hkkss... Aku hanya ingin Luhan-eonni berhenti berbuat jahat, hanya itu oppa... Sungguh..."

Baekhyun menunduk dalam. Menangis lagi. Kali ini lebih keras sampai nafasnya tersengal.

Sebuah pelukan hangat memayungi Baekhyun dari cahaya mentari. Baekhyun menengadah, mendapati perut seksi berlapis kemeja Chanyeol berdiri di hadapannya. Baekhyun menenggelamkan wajahnya di perut kekasihnya. Baekhyun terisak keras walau teredam.

"Saya bahagia anda benar-benar menyayangi Lady Luhan. Jadi, bisakah anda membantu saya?"

Isakan Baekhyun terhenti, "Bantu apa, oppa?"

"Sebelum menjawab, kita akan bertemu Perdana Menteri Oh Yeonseok dan dokter Hyoyeon."

.

.

.

.

.

"Sudah jadi kah, Hyo?"

"Yup!"

"Kau bersungguh-sungguh mengatakan ini berhasil?!"

"Benar sekali!"

"Aku senang mendengarnya. Ini akan sangat membantu adikku!"

Byun Biological Center.

Adalah tempat di mana Yeonseok senang bukan kepalang atas jawaban Hyoyeon.

Yeonseok dan Hyoyeon memakai baju serba putih, steril khas laboran pada umumnya. Hyoyeon menunjukkan sebotol kecil, kira-kira dapat menampung cairan sepuluh mililiter, di hadapan hidung Yeonseok. "Aku membuat stok sedikit. Jika banyak dan tidak ada gunanya, itu akan disalahgunakan pihak tertentu."

"Hm, memang itu mauku."

Interaksi dua orang itu diperhatikan secara langsung oleh Baekhyun. Disamping gadis imut itu, Chanyeol, hanya tersenyum lirih.

"Mereka baru mengenal beberapa Minggu lalu, tepat sebelum sidang pertama Lady Luhan dilaksanakan. Dokter Hyoyeon dan Perdana Menteri Oh Yeonseok langsung akrab begitu saja." Chanyeol mengendikkan bahu, "mungkin saja... Di masa depan, mereka jadi sepasang kekasih." Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar ikut memasuki ruang laboratorium berdinding kaca tersebut.

"Permisi, Dokter Hyoyeon, Perdana Menteri Yeonseok."

Yeonseok dan Hyoyeon berhenti bicara setelah Chanyeol menegur mereka. Yeonseok tersenyum simpul melihat Baekhyun, "sempurna!"

Baekhyun melebarkan mata imutnya, tidak paham apa maksud Yeonseok.

"Kau pasti menyesali keberpihakanmu pada pihak Kris, kan?" Tanya Yeonseok pada Baekhyun.

"Y-ya, Perdana Menteri."

"Tidak usah terlalu tegang, Nona Muda Baekhyun..." Hyoyeon merangkul bahunya. Sebagai sesama wanita, Baekhyun menjadi lebih rileks. "...bisakah anda membantu kami dengan keahlian anda?"

Byun Baekhyun punya banyak keahlian. Contohnya menyanyi dan memainkan berbagai alat musik. Tapi tidak mungkin Hyoyeon dan Yeonseok memintanya menyanyi, kan?

Yeonseok terkekeh geli, seolah mengerti isi pikiran nyeleneh Baekhyun. "Keahlian anda yang kami maksud adalah mampu berdandan."

Hanya dari satu kalimat tersebut, Baekhyun teringat Sehun pernah menyuruhnya mendandaninya agar menyerupai Rowoon, pun sebaliknya. Baekhyun hanya membantu lewat tangan lihainya memainkan alat-alat make up serta beberapa teknik khusus ajaran ibunya.

Mendiang ibu Baekhyun seorang model dan Baekhyun sendiri adalah pemain musik belia pada masanya. Maka dari itu, Baekhyun dituntut cantik kemanapun dia berada. Jadi keahlian berdandannya patut diacungi jempol.

"Jadi, anda mau?" Tanya Hyoyeon memastikan.

Baekhyun mengangguk kaku.

.

.

.

.

.

Daniel dan Krystal.

Atas permintaan Yeonseok, Raja Willis—Raja Inggris—mengizinkan pria dan gadis koleksi pertama Luhan itu mendatangi Korea Selatan. Selama bertahun-tahun pergi dari kampung halaman, akhirnya Krystal bisa merasakan udara musim semi Korea. Dia berharap rasa rindunya pada Luhan segera terobati, sedangkan Daniel mulai membayangkan akan semenggemaskan apa visual Triple Twin.

Namun, kesedihan menaungi keduanya setelah Yeonseok menjemput mereka secara langsung hanya untuk menyampaikan,

"Luhan divonis hukuman mati atas kasus Pembantaian empat Keluarga Bangsawan."

Yeonseok menjelaskan segalanya tanpa ditambah dan dikurangi. Mengetahui Byun Baekhyun terlibat dalam rencana Kris menjatuhkan Luhan, Krystal marah.

"Kenapa aku harus bertatap muka dengan pengkhianat sepertimu, hah?!" Cecar Krystal pada Baekhyun. "Dan lagi, sebaiknya kita menjenguk Lady Luhan ke penjara dan memikirkan cara agar beliau bisa kabur!"

"Krystal..." Tegur Daniel. "Kau lupa? Lady Luhan memutuskan menyerah atas hidupnya. Jika sudah begitu, kita bisa apa?"

"Tapi jangan menyuruhku menginjakkan kaki di Mansion Byun apalagi bertemu si Byun Bitch Baekhyun ini!"

"Berhenti menghinanya, Krystal!" Geram Chanyeol tak sabar lagi. "Dia sudah menyesali semuanya."

"Hei, Chanyeol!" Sinisme Krystal berkembang lebih pesat. "Kau boleh jadi budak cinta, tapi jadilah budak di hati yang tepat, bukannya wanita kekanakan sepertinya. Bagaimana pun juga, dialah yang membuat Lady Luhan dihukum mati. DIHUKUM MATI, PARK CHANYEOL!"

"Tahan kebencian kalian padaku, aku memohon pada kalian.." Baekhyun menunduk, memainkan sepuluh jemarinya di bawah pinggang. "A-aku ingin menolong Luhan-eonni dan Sehun-oppa. Mungkin ini tidak bisa membayar kebodohanku, tapi beri aku kesempatan... Kumohon..."

"Tapi—"

"Krystal..."

Daniel dan Krystal berpandangan. Daniel mengangguk, matanya menunjukkan rasa empati sementara Krystal masih bersungut-sungut.

"Terserahlah!" Ketus Krystal. Atensinya beralih ke Byun Baekhyun. "Kau tidak ada salah padaku jadi untuk apa kau memohon padaku? Jika kau bisa membantu Lady Luhan dan Tuan Besar Oh, buktikan!"

"Ng!" Baekhyun mengangguk antusias. Matanya memanas dan air mata kelegaan meluruh cuma-cuma. Lalu dia mematung dengan jantung terpacu kencang saat tangan Chanyeol menghapus air matanya. Tangan pria kecintaannya sungguh hangat.

"Aku bersamamu, Baekhyun-ah..." bisik menenangkan Chanyeol merengkuh kekalutan Baekhyun.

"Oke..." Yeonseok memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "aku meminta tolong agar Willis mengizinkan Daniel dan Krystal kemari karena satu hal yaitu, minta tolong pada kalian untuk menyamar menjadi sipir penjara yang menjaga bilik Luhan."

"Lapas tempat Lady Luhan dipenjara itu khusus perempuan, Tuan Oh." Ucap Daniel meragu. "Apakah saya harus jadi wanita jadi-jadian?" Dia bergidik saat membayangkannya.

"Ya."

"Kalian bisa ikut aku," ucap Baekhyun. "Butuh perlengkapan lengkap agar penyamaran kalian lebih baik dari sebelum-sebelumnya." Senyum Baekhyun sungguh imut. Sontak pipi Chanyeol dan Daniel memerah. Krystal melirik Daniel lalu lengannya menyodok perut partner kerjanya.

"Argh! Sakit, wanita bar-bar."

"Mati sajalah kau."

Daniel mengerang kesal sambil mengelus perut berototnya.

"Ayo..."

Baekhyun mulai memimpin Chanyeol, Yeonseok, Daniel, dan Krsytal ke kamar riasnya. Kamarnya sangat luas, dipenuhi banyak sekali koleksi tas dan pakaian mahal, serta alat rias super lengkap.

Daniel dan Krystal duduk berdampingan di depan kaca rias. Permukaan meja rias di depan mereka ditutupi banyak sekali alat-alat kecantikan. Baekhyun mengacungkan krim wajah dan selembar selaput yang tak begitu dimengerti orang-orang selain Baekhyun.

"Kita butuh selaput ini untuk membuat pipi Krystal-eonni sedikit bergelambir."

"A-apa kau bilang?!"

Krystal berkaca. Wajah cantiknya akan dibuat jelek!

"Kau ada dendam denganku, ya?!"

Baekhyun menggelengkan kepala. Ekspresi polosnya sangat imut, menutupi fakta kalau dia ibu beranak satu.

Lebih dari setengah jam berjalan, Baekhyun masih berkutat dengan wajah Krystal. Dia kini membubuhkan eyeliner ke bawah mata Krystal. Dengan telaten, ujung jarinya mengusap-ngusap bagian bawah mata Krystal.

Suara ponsel bergetar mengejutkan seisi ruang rias kecuali Baekhyun yang masih fokus pada wajah Krystal. Chanyeol beranjak dari sofa, dia mengambil ponsel milik Baekhyun yang tergeletak di atas meja rias. Chanyeol mengaitkan earphone ke telinga kiri Baekhyun. Gadis imut itu tersenyum cantik pada Chanyeol, "terima kasih oppa..." Dia mencium pipi Chanyeol.

"Annyeong haseo..." Sapa Baekhyun sambil melukis alis Krystal.

["Baekhyun, ini aku, Sehun."]

Baekhyun menghentikan pekerjaannya sebentar. Dia menegakkan badan, semakin menempelkan earphone-nya ke lubang telinga. "Ada apa oppa memanggil Baekki? A-ekhem... apa sesuatu terjadi pada Luhan-eonni, oppa, atau Triple Twin?"

["Sejauh ini keluarga kami baik-baik saja, yah... Baik-baik saja."]

Hati Baekhyun kembali sesak. Secara tidak langsung, dia juga turut andil menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil HunHan.

["Bantu oppa menyamar menjadi wanita, kau bisa, Baekki-ya?"]

Dahi Baekhyun mengernyit dalam. Chanyeol menatapnya penasaran.

"Untuk apa, oppa?"

["Kencan dengan Luhan untuk terakhir kalinya..."]

"Kapan?"

["Lusa."]

Dan dengan itu, Baekhyun juga berperan dalam kesuksesan kencan yang Sehun maksud.

Setelah Sehun mengakhiri sambungan, Baekhyun kembali fokus pada Krystal.

"Sehun-oppa akan menjenguk Luhan-eonni lusa nanti." Ucap Baekhyun.

Yeonseok melipat majalahnya. Dia berkata, "Krystal dan Daniel, kalian menemui Luhan lusa. Sekarang, kalian menyamar untuk mengawasi sekitar bilik Luhan saja."

"Baik, Tuan Oh!"

.

.

.

.

.

Jika Sehun dan Luhan kencan dalam keadaan terluka parah di hati masing-masing, Baekhyun dan Chanyeol harus berkutat dengan mayat. Keduanya berada di Byun Hospital cabang Jongno-gu. Baekhyun berkacak pinggang pada Rowoon, sedang Chanyeol hanya terkekeh geli melihat muka bingung Rowoon..

"Mencari postur tubuh dan wajah yang mirip Tuan Besar Oh cukup sulit, Nona Muda. Tuan Besar Oh itu punya segelintir persen gen Eropa. Sedangkan sulit kita menemukan rupa blasteran semirip Tuan Besar Oh di Korea ini. Anda yakin kami—para Mafioso Xi—mampu mendapatkannya?"

"Ya!" Ucap Baekhyun penuh optimisme. "Aku saja bisa mendandani Rowoon-oppa mirip Sehun-oppa sewaktu mengantar barang Mafia Xi dengan Truk Es Krim. Yah, walaupun kemiripan kalian sekilas sih. Lagipula... Sehun-oppa tetap lebih tam—"

"Baekki sayang..." Potong Chanyeol. "Cukup sampai di sana bicaranya..."

"Ooppssie!" Baekhyun nyengir.

Rowoon menaikkan tudung hoddienya. Dia bersiap keluar dari kamar mayat. "Baiklah, saya dan Mapo-gu team akan berusaha lagi."

Baekhyun mengangguk, "tolong ya, oppa..."

Seperginya Rowoon, Baekhyun kembali berbalik badan sambil memperbaiki posisi masker dan penutup rambutnya. Sebagai penata rias mayat sementara, Baekhyun dituntut memakai masker dan sarung tangan, agar penyakit yang dibawa si mayat tidak menularinya. Chanyeol hanya sibuk memperhatikan gelagat kekasihnya dalam mendandani seonggok mayat.

"Apakah dia akan semirip Lady Luhan?" Chanyeol menunjuk mayat seorang wanita yang kini alisnya dilukis secantik mungkin oleh Baekhyun.

"Mirip sekilas." Jawab Baekhyun di balik maskernya. "Wanita seperti Luhan-eonni jarang sekali disamai, oppa harus tahu itu."

Chanyeol tersenyum simpul, "Kau tidak takut mendandani mayat?"

Baekhyun mulai membubuhkan blush on ke tulang pipi si mayat.

"Tidak," dia tersenyum di balik maskernya. "Aku seberani ini karena ada oppa di sampingku!"

"Kau menggemaskan, Baekhyun-ah... Boleh aku memelukmu?"

Baekhyun menggoyangkan jari telunjuknya, "jangan dulu. Aku masih fokus pada gadis ini."

Usai mendandani mayat gadis bersurai coklat tersebut, Baekhyun mundur kemudian menyatukan kedua tangan di perut. Dia membungkuk dalam, hormat pada si mayat.

Chanyeol melihat tingkah kekasihnya dalam kekaguman berlebih.

"Mohon bantuannya..." Baekhyun berucap dalam bungkukannya.

Kami berharap rohmu di surga sana tidak marah...

...terima kasih sudah membantu kami.

.

.

.

.

.

Hari-hari selanjutnya...

.

.

.

.

.

Beberapa jam sebelum penobatan, Chanyeol menemui Sehun dalam rangka jamuan minum teh pribadi. Sehun hanya mengundang Jongin dan Chanyeol. Sang calon raja mengucapkan beberapa kalimat yang sejujurnya sedikit menyakitkan.

"Kalian sudah berusaha keras. Loyalitas kalian pada istriku tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun juga. Akupun yakin, seluruh kekayaanku dan kekayaan istriku tidak akan sanggup membayarnya. Maka dari itu, atas nama istriku, aku berterimakasih. Sangat... Sangat berterimakasih..."

Bagi sebagian orang, tindakan Sehun sebagai raja terlalu berlebihan. Namun pendapat itu akan disanggah jika kita tahu sebesar apa peran Park Chanyeol dan Kim Jongin untuk Luhan dan Sehun.

"Pertolongan dan pembebasan yang Lady Luhan lakukan pada kami pun sangat besar, Pyeha..." Jongin teringat peristiwa Luhan membelinya dari pelelangan manusia. "Saya rasa, saya akan menjadi pria paling tak tahu diri, jika loyalitas saya pada Lady Luhan ditanggalkan demi ambisi dan obsesi semata."

Chanyeol menimpali sambil tersenyum cerah, "latar belakang saya mengajarkan saya, 'apabila saya menemukan penyelamat yang mampu mengeluarkan saya dari kesakitan ini, saya akan setia pada penyelamat tersebut'. Itu sudah menjadi janji saya dengan diri saya sendiri."

Jongin memandang Chanyeol. Pria bermata belo itu bicara sambil sibuk memperhatikan secangkir teh milik Sehun. Atensi Chanyeol terlalu serius pada secangkir teh.

Jongin mengerutkan kening.

Dia kenapa?

Jongin mengendikkan bahu acuh tak acuh.

"Kalau begitu, ayo... Diminum tehnya."

Dalam kegetiran hati, mengingat hari ini adalah kematian istrinya, Sehun mengajak bawahan sang istri minum teh bersama.

Sambil menyeruput secangkir teh, Jongin melirik Chanyeol.

Sekali lagi, tatapan Chanyeol jatuh pada aktivitas Sehun meminum teh.

.

.

.

.

.

Hari yang sama,

Krystal dan Daniel menyuguhkan menu sarapan untuk Luhan sebelum hukuman mati dilaksanakan. Luhan hanya sanggup memakan beberapa suap nasi goreng kimchi. Selebihnya, Luhan ingin muntah.

Krystal menahan sesaknya melihat sekaratnya sang majikan. Dia menatap Daniel penuh makna. Tersirat harapan besar setelah semua ini, sang majikan mendapat kebahagiaannya.

"Sudah cukup makannya... Kita selesaikan ini secepatnya, Daniel... Krystal..."

Kedua pemilik nama mengangguk mantap, "yes, My Lady..."

Sesampainya di Ruang Eksekusi, kepala Luhan ditutupi kain hitam oleh Krystal. Daniel hanya berjaga di belakang punggung Luhan. Setelah Luhan siap ditembak mati, Daniel menarik tangan Krystal menjauh.

Luhan berada di tengah ruangan yang luasnya persis lapangan indoor. Di sekitarnya diawasi oleh para polisi. Di depan Luhan teracung pistol laras panjang super berat dan rumit. Di balik teropong pistol, mata si penembak jitu tajam membidik titik sasarannya.

Titik sasarannya bukanlah jantung atau kepala Luhan melainkan—

DOR...!

—Lengan kiri Luhan.

Tubuh Luhan ambruk. Tubuhnya sedikit gemetar. Darah mengalir deras dari lengan atasnya. Kakinya menekuk lemah. Melihat itu, Krystal langsung membopong tubuh ringkih Luhan. Membawanya keluar dari ruang eksekusi. Para polisi di dalam ruangan langsung sigap mengejar Krystal, namun Daniel—dalam setelan polisi wanita—menyerang polisi penjaga yang sebagian besar pria. Daniel mencegah para polisi mengejar Krystal dan Luhan.

Daniel cukup kewalahan menghindar dari tembakan para polisi, atau bogeman mentah mereka. Daniel meringis karena pahanya tergores peluru. Dia berteriak lantang,

"ROWOON... SEKARANG...!"

Si Penembak Jitu langsung mengganti pistol laras panjangnya dengan pistol modifikasi. Dia membidik lalu menembak tiap polisi, menyebarkan obat bius melalui peluru berbentuk dart yang biasa digunakan pemburu hewan di hutan.

Para polisi itupun pingsan.

Si Penembak Jitu—Rowoon—melepas kacamata pelindung dan masker hitamnya dari wajah. Dia berlari dan bertos ria dengan Daniel.

"Kita berhasil, Daniel-hyung!"

"Aku tahu, sekarang, tolong aku..." Roowon memapah Daniel. "Dan kalian..." Daniel memerintah tiga Mafia Oh yang merangkap sebagai sipir wanita. Mereka berada dipilih dan dibawah perintah Oh Yeonseok. "...cuci otak mereka. Hipnotis mereka. Apapun lah. Buat mereka ingat kalau Lady Luhan sudah mati dan dibawa ke rumah sakit untuk didandani lalu dimakamkan."

"Baik, Tuan Daniel!"

.

.

.

.

.

"AP—hikks...APPA...!"

Shixun menangis histeris melihat ayahnya ambruk dalam rangkulan Jongin. Tak peduli Sehan dan Shika terisak sembari menenangkannya, Shixun menangis keras kemudian berlari ke arah ayahnya.

"Bangun, pak tua! BANGUN...!"

Tangan kecil Shixun meremas keras lengan ayahnya.

"THITHUN BENCI APPA KALAU APPA TELUTH TIDUL...!"

Yeonseok maju untuk memeluk keponakan bungsunya. Dia menatap lemah pada tubuh Sehun yang begitu tenang dirangkul Jongin. Sang raja sudah terlalu lelah menahan kesakitan akibat kemalangan Permaisurinya.

Yeonseok akan mengakhiri semua ini.

"Kita bawa Raja Woo Sehun ke rumah sakit Byun cabang Jongno-gu. Karena rumah sakit tersebut dekat dengan istana."

•~Jongno-gu adalah nama distrik di Kota Seoul yang merupakan lokasi istana Kerajaan Korea Selatan

Jisung dan Jennie mengangguk setuju, Jongin membopong Sehun di punggung.

"Ambulance sudah siap," Yeonseok memberitahu Jongin.

Jongin, Jisung, dan Jennie masuk ke dalam ambulan khusus keluarga kerajaan. Mereka mendampingi Sehun yang jejak kehidupannya semakin menipis.

Sedangkan Perdana Menteri Oh Yeonseok menyampaikan beberapa himbauan kepada seluruh anggota Keluarga Bangsawan Oh dari mulai Oh Anhee sampai Oh Yoona, tamu-tamu kerajaan, para pejabat, serta Triple Twin selaku anak kandung Raja Sehun.

"Anda semua harap tenang, jika saya dan yang lain mendapat kabar baik atau buruk mengenai raja maka akan saya sampaikan secepatnya."

"Tolong jaga anakku, Yeonseok-ah..." Ucap Yoona lemas. Tatapannya lalu jatuh pada Shixun yang terus menangis di gendongan Kyungsoo, sementara Sehan dan Shika hanya memandangi sang adik sambil meremas rok gaun Kyungsoo. Yoona pun melanjutkan, "Triple Twin sangat membutuhkannya..."

"Saya tahu, Nyonya Yoona."

Beralih pada titik lokasi Byun Hospital cabang Jongno-gu. Ambulans yang membawa Sehun sudan sampai ke rumah sakit tersebut.

Sehun direbahkan di atas ranjang beroda kemudian didorong menuju ruang gawat darurat. Seorang perawat menginterupsi orang-orang sekitar lorong untuk memberi jalan. Perawat lainnya mendorong ranjang. Jongin, Jennie, dan Jisung berlari mengekori pada perawat. Beberapa dokter dan penjenguk, juga pasien, hanya memandang penasaran pada eksistensi Oh Sehun dalam balutan seorang kaisar. Mereka saling beradu pandang, mempertanyakan kondisi raja mereka.

Seorang dokter sudah berdiri di depan ruang gawat darurat. Dari tulang hidung sampai dagu ditutupi masker. Tangannya disembunyikan di saku jas dokter.

Setelah para perawat masuk bersama ranjang yang membawa Sehun, dokter itu mencegah Jennie, Jisung, dan Jongin memasuki ruangan.

"Silahkan menunggu di luar ruangan. Harap jaga suara demi ketenangan pasien, terima kasih..." Dokter itupun masuk ke dalam ruang gawat darurat tersebut.

Jennie terisak. Dia meremas kuat lengan atas Jisung, "bagaimana ini, Jisung-ah? Sehun-oppa baik-baik saja, kan? Ya kan?"

Jisung hanya memeluk Jennie, memberi dukungan moral meski tidak seberapa. Cukup syok baginya melihat hal ini. Sebelumnya, sang raja masih sehat walaupun perasaannya diliputi kekalutan akan kondisi istrinya.

"Kita sebaiknya menenangkan diri," Jongin bersuara. "aku yakin Raja Sehun baik-baik saja."

"Tapi... Tapi...hkss! Kau lihat tadi?" Jennie menunjuk pintu ruang rawat Sehun. "Mukanya sudah pucat persis orang mati."

"Jaga bicaramu, Jennie!" Geram tertahan Jisung. "Semua akan baik-baik saja."

Sedetik kemudian, Yeonseok datang sendirian. Seolah sengaja tidak mengikutsertakan pengawal atau orang-orang istana agar tidak terjadi kehebohan di Byun Hospital. Pria itu berkata, "kita ke kantin rumah sakit. Aku tahu kalian tidak nafsu makan tapi, setelah Raja Sehun sadar, aku yakin dia tidak senang melihat pucatnya kondisi kalian."

Jennie menggeleng kencang.

"Ayo..." Jisung membujuk. "Kau tidak sarapan kan tadi? Ayo makan, atau Raja Sehun marah padamu."

Mau tak mau Jennie mengangguk murung.

Jongin hanya mengikuti langkah Jisung dan Jennie yang berangkulan menuju kantin. Sedangkan Yeonseok sedikit menoleh ke belakang. Dia tersenyum penuh makna pada si dokter.

Tanpa suara, Yeonseok berkata, "semoga berhasil, Nona Muda Byun..."

Si dokter tersenyum di balik maskernya.

.

.

.

.

.

Lorong tempat ruangan Sehun berada sudah sepi dari lalu-lalang perawat, dokter, petugas rumah sakit, bahkan pasien dan penjenguk.

Seperginya Yeonseok, si dokter membuka pintu ruang rawat darurat lebar-lebar. Tak lama kemudian, para perawat dari dalam ruang gawat darurat mendorong kembali ranjang beroda. Sehun masih ada di atas ranjang, tertidur pulas dan begitu tampan. Setelahnya, si dokter menekan earphone di telinga kirinya.

"Bawa mayatnya kemari..."

Ranjang beroda dengan mayat ditutup kain putih pun muncul. Ranjang itu didorong para perawat berpakaian steril. Usai memasuki ruang gawat darurat, si dokter menyebar pandang. Merasa aman, si dokter mengangguk mantap.

Si dokter memasuki ruang gawat darurat, mempersiapkan si mayat dan dengan teliti mengamati visual dan postur tubuhnya. Dirasa pas, si dokter berbalik dan melihat dokter lain memasuki ruangan.

"Kau tahu apa yang kau lakukan, kan?"

"Ya, Nona Muda Baekhyun..."

Si dokter adalah Byun Baekhyun. Ibu muda berbalut setelan dokter itu langsung menepuk bahu dokter lain tersebut. "Jangan sampai semua orang tahu kalau mayat ini bukanlah mayat Sehun-oppa," kelopak mata Baekhyun menurun. "Maaf harus memaksamu menyalahi kode etik kedokteran..."

"Saya tidak terpaksa. Saya justru senang bisa membantu adik dari Bos Sehun. Sekarang, gih... Susul Bos Sehun..."

"Ng!"

Baekhyun langsung berlari keluar ruang gawat darurat tanpa melepas setelan dokternya. Jasnya sedikit berkibar, langkahnya serupa menari di atas awan.

Dokter lain itu, pengganti posisi Baekhyun, adalah salah satu Mafioso Oh. Baekhyun mengetahui namanya, namun menyebut nama anggota Mafia Oh cukup terlarang bahkan ditempat sesteril Byun Hospital. Dokter itu menatap mayat 'Oh Sehun' sambil tersenyum tipis di balik maskernya.

"Setelah ini, semoga anda selalu bahagia, Bos Sehun..."

.

.

.

.

.

Byun Baekhyun begitu setia mengawasi dan menemani Sehun di perjalanan. Di dalam mobil ambulans, Byun Baekhyun berganti pakaian kasual. Syukurlah perawat yang menemani Sehun saat ini sekelamin Baekhyun.

Baekhyun mengeluarkan isi tas ransel besarnya. Di dalam tas tersebut terdapat banyak sekali perlengkapan rias. Dia lalu mendandani Sehun agar wajah suami Luhan itu lebih polos dan pucat persis pengidap kanker.

Riasannya ini hanya sementara, agar orang yang tak sengaja melihat Sehun tidak akan curiga.

Earphone-nya berkedip-kedip di telinga kanannya. Sembari membereskan pekerjaannya, Baekhyun mendengar interupsi dari Oh Yeonseok di Byun Hospital cabang Jongno-gu.

Yeonseok berbisik yang dijamin hanya bisa didengarnya dan Baekhyun.

["Semua orang, termasuk pihak istana dan orang terdekat Raja Sehun, berhasil kita tipu. Mereka tidak tahu mayat di ruang gawat darurat itu bukanlah Raja Sehun asli."]

"Benarkah, Tuan Oh?" Atensi Baekhyun memburam. Meski perbuatannya salah, Baekhyun semata melakukannya demi kebahagiaan dua kakak tersayangnya. "Lalu, bagaimana dengan Luhan-eonni?"

["Daniel mengatakan padaku, bawahan dan orang terdekat Luhan, serta kepolisian, sudah mempercayai fakta kematian 'Luhan'. Semua aman terkenda— hei, keponakan tersayang Samchon, peluk Samchon, menangislah..."]

Sementara waktu Yeonseok mengabaikan Baekhyun.

["Yeonseok-samchon, appa benar-benar menjemput eomma lalu hidup bersama Tuhan, ya?"

"Hkkss... Appa! Shika butuh appa... Apakah appa menjemput eomma? Mengapa tidak mengajak kami? Hkkss... Appa!"

"Appa...eomma... Thithun nangith nih! Thithun tak bitha menghaputh inguth Thithun..."]

Baekhyun bisa mendengar tangisan Triple Twin di seberang. Refleks dia membekap bibirnya sendiri.

Ternyata, Oh Yeonseok masih berada di rumah sakit, tempat Sehun palsu berada. Pria itu terdengar sibuk menenangkan Triple Twin dari kedukaan atas meninggalnya 'Sehun'.

Tangisan Triple Twin terlalu menyayat bagi hati Baekhyun. Keraguan kini menggelayutinya.

Apakah tindakanku sudah benar, Luhan-eonni... Sehun-oppa?

["Kau sudah bekerja keras, Baekhyun-ah... Sedikit lagi, jangan ragu."]

"Ne, Tuan Oh."

Byun Hospital cabang Gwangjin-gu.

Park Chanyeol menunggu kedatangan ambulans yang membawa Sehun. Dia tersenyum cerah kala sebuah ambulan sudah berjalan memasuki baseman Byun Hospital. Ambulans terparkir rapi, pintu belakang terbuka, ranjang beroda mulai didorong para perawat. Baekhyun pun menuruni ambulans. Dia tampil begitu cantiknya saat mengulas senyum lembut untuk Chanyeol.

Chanyeol berlari mendekati Baekhyun. Pria itu memeluknya sayang. Baekhyun terkekeh geli merespon ciuman Chanyeol bertubi-tubi menimpa wajahnya. Baekhyun mengecup bibir Chanyeol sebagai balasan, "oppa... Baekki berhasil..."

"Hm! Eomma dari Hana berhasil."

Eomma dari Hana?

Oppa romantis sekali...

Baekhyun tersipu.

"Ekhem!"

Sepasang sejoli itu menoleh pada si sumber suara dehaman.

Dokter Hyoyeon.

"Sebaiknya kita bergerak cepat. Waktu kita tidak banyak."

Di dalam ruang inap biasa, Sehun terbaring tenang. Baekhyun dan Chanyeol menunggu dengan was-was. Dokter Hyoyeon bersama seorang perawat memeriksa kondisi kesehatan Sehun.

"Kondisi Tuan Besar Oh sudah stabil." Hyoyeon memasukkan stetoskopnya ke saku jasnya.

Lusa kemudian, Baekhyun tetap setia menunggu Sehun siuman. Sedangkan Chanyeol mengawasi Luhan di ruang inap lain yang sengaja bersebelahan dengan Sehun. Kedua tangan Chanyeol merengkuh tangan Luhan. Rengkuhannya terlampau lembut. Seakan Chanyeol merawat benda paling rapuh.

"Lady Luhan... Saya tahu dari Dokter Hyoyeon, kalau pasien koma bisa mendengar ucapan orang lain yang bicara di dekatnya. Apakah... Anda mendengar ucapan saya?"

Chanyeol terkekeh lirih penuh rasa sakit. Dia menempelkan tangan Luhan ke keningnya.

"Mau ikut denganku?"

"Namamu, Park Chanyeol." [Chapter Three]

Chanyeol takkan pernah melupakan peran Luhan di hidupnya. Namanya saja, 'Park Chanyeol', akan selalu dilekati kenyataan bahwa Chanyeol tidak akan pernah bisa lepas dari kendali Luhan.

"Setelah ini, saya akan benar-benar menuruti anda. Saya akan berhenti mencintai Baekhyun jika itu mau anda. Saya tidak akan membangkang lagi. Anda..." Chanyeol menarik nafas dalam. "...anda jangan khawatir. Ne?"

Chanyeol mencium tangan Luhan, memejamkan matanya erat-erat.

"Cepatlah siuman, My Lady..."

Entah karena ucapan Chanyeol bagai mantera, atau penyebab lain, jemari Luhan mulai bergerak kecil di rengkuhan tangan Chanyeol. Air muka Chanyeol berbinar-binar. Dia semakin bahagia tatkala Luhan menggumam samar dengan mata perlahan terbuka.

"Sehun..."

.

.

.

.

.

"Luhan..?"

Sehun tersadar.

Dia siuman.

Dokter Hyoyeon sudah memeriksanya. Hasilnya sangat baik. Sehun memandang lemas orang-orang di hadapannya. Dari mulai Dokter Hyoyeon, seorang perawat, lalu...

...Byun Baekhyun.

"Baekki? A-aku... Apa yang terjadi...pa...padaku?"

Baekhyun merangkul bahu Sehun. Membantu pria itu bangkit agar duduk bersandar pada kepala ranjang. Sehun menelan ludah kelu. Air muka pucatnya mempertanyakan apa yang terjadi di sini. Sedetik kemudian, matanya membelalak.

"Ku... kupikir aku—"

"Mati?" Yeonseok maju mendekati Sehun. "Bagaimana bisa kau berpikir begitu, Sehun? Kau merasa tubuhmu kesakitan atau memang ingin sekali mati?"

Sehun menggeleng lemah, "aku melihat Luhan begitu cantiknya menyuruhku pergi... Luhan... Dia ingin aku bersamanya..." Suami sah Luhan itu meracau. Matanya tak lagi fokus pada objek manapun. Kosong. Seperti pria setengah waras. "Luhan tidak mau sendirian tanpaku, Hyung... setelah Hannie melahirkan Triple Twin pun, badannya sakit semua, dan yang dia cari lalu peluk adalah diriku." Sehun menangis lirih. Hidung mancungnya memerah. "Lulu-ku sangat bergantung padaku, Hyung... Tolong bantu aku pergi kepadanya... Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi raja atau apapun... Tolong bantu aku pergi dari sini. Dari dunia ini..."

"Oppa bicara apa?!" Seru Baekhyun membuat bahu Sehun tersentak. Baekhyun menahan air matanya. Yeonseok mundur dan membiarkan Baekhyun mencecar pemikiran bodoh Sehun. "Oppa tidak boleh menyerah. Oppa punya tanggung jawab besar di sini!" Baekhyun memeluk Sehun. Erat sekali. "Apakah dengan menjemput Luhan-eonni, dia akan senang menyambut oppa?"

"Tentu!" Sehun menguraikan pelukan Baekhyun. Dihiasi tangisan, ekspresinya persis Shixun yang suka merengek pada Luhan. "Luhan pasti senang kutemani, Baekki-ya... Luhan selalu bilang, dia sangat bergantung padaku, pada suaminya..."

Baekhyun dan Yeonseok beradu pandang.

Kemudian Yeonseok mengangguk.

"Baiklah..." Baekhyun kembali memandangi ketampanan kakaknya. "...ayo kita jemput Luhan-eonni."

"Menjemputnya?" Kecerahan menaungi muka sekarat Sehun. "Kita akan menjemput istriku?"

Baekhyun mencium kening Sehun saking gemasnya, "tentu, oppa..."

Muka cerah Sehun berganti bingung, "Tapi, bagaimana?"

Yeonseok merangkul Sehun, membantunya menduduki kursi roda.

Baekhyun mendorong kursi roda dengan Sehun di atasnya. Sehun dituntun ke ruang rawat sang istri.

"Luhan-eonni menunggu Sehun-oppa..."

Sehun tertegun melihat istrinya duduk lemah di atas ranjang sambil mendengarkan ucapan Chanyeol. Setengah terisak Sehun menegur istrinya,

"Sayangku..."

Luhan, penghuni kamar inap di samping kamar Sehun, menolehkan atensinya ke ambang pintu. Air matanya langsung meluruh, meninggalkan kecantikan murni seorang Lady. Luhan bergumam lirih,

"Hunnie..."

Sehun tahu dirinya masih lemah, entah disebabkan apa. Namun tubuhnya tak bisa menahan gejolak ingin memeluk istrinya. Dan, Sehun melakukannya. Dia tertatih menghampiri istrinya. Memeluknya. Menciumi seluruh wajahnya. Menempelkan kening mereka. Menangis lirih bersamaan.

Sampai akhirnya Luhan terisak keras,

"Kupikir... Kupikir aku akan mati... Aku... Hkkss... Aku tidak mau meninggalkanmu dan anak-anak... Aku takut, Sehun..."

Xi Luhan tak pernah mengeluh ketakutan menghadapi sesuatu. Berkat adanya cinta dan harapannya kepada sang suami, Luhan mempercayai satu hal :

Dia bisa menjadi begitu lemah, sesuai keadaannya, tanpa perlu bersandiwara. Dia hanya bisa melakukan itu di depan sang suami seorang.

Ah... Betapa Luhan sangat bergantung pada eksistensi Sehun.

Sehun melirik lengan Luhan yang diperban. Kemudian dia mencium tengkuk istrinya.

"Kau bersamaku, Lu... Kau tidak perlu ketakutan lagi..."

Atau terluka lagi...

.

.

.

.

.

"Saya membuat racun dengan sifat seperti racun yang Julliet gunakan untuk berpura-pura mati." Jawab Hyoyeon setelah Luhan menanyainya. "Karakteristik racun itu tidak berbau, tidak berwarna, berbentuk serbuk, menyebabkan peminumnya sedikit berhalusinasi sebelum jatuh pingsan. Tak hanya itu, ada pula efek lain seperti tenggorokan memanas dan seluruh otot tubuh nyeri."

"Racun itu ampuh mempertemukan Julliet dengan Romeo. Tapi Romeo sudah bunuh diri saat Julliet terbangun," Yeonseok menimpali. Semua mata memandangnya aneh, Yeonseok melirik Sehun. "Asal kau tahu, Luhan... Suamimu ingin mengakhiri hidupnya sebelum dia tahu kau masih hidup. Jika itu terjadi, kisah 'Romeo and Juliet' terulang lewat kehidupan nyata."

Sehun dan Luhan duduk selonjoran di atas ranjang. Luhan sibuk merebahkan diri di pangkuan Sehun, bersandar nyaman di dada bidang suaminya. Pipinya menggembung lucu.

"Aku senang kalau Yeonseok-oppa berhasil mencegah perbuatan bodoh suamiku."

"Aku mencintaimu, sayang..." Sehun mencium pucuk kepala istrinya.

"Aku tahu."

"Syukurlah Sehun tidak lebih bodoh dari Romeo." Ejekan Yeonseok memanyunkan bibir Sehun.

Tak lama setelah itu, Krystal dan Daniel memasuki ruang rawat Luhan. Krystal terisak keras setelah melihat Luhan siuman. Sayangnya, dia tak berani memeluk Luhan karena wanita itu asyik bermesraan dengan suaminya. Bukannya cemburu atau marah, Krystal tersenyum simpul. "Lady Luhan... Saya senang anda siuman..."

Daniel hanya mengangguk.

Luhan menangkup pipi kanan Krystal, "kerjamu dan Daniel selalu memuaskan. Terima kasih, Krystal..."

"Em! Sama-sama, My Lady..."

"Tapi..." Sehun bersuara, "kapan kami meminum racun itu—tunggu? Apakah aku meminumnya saat sebelum Upacara Penobatan dimana aku, Jongin-hyung dan Chanyeol-hyung minum teh bersama di ruanganku?"

"Bingo!" Respon Chanyeol.

"Apa itu berarti, makanan yang disuguhkan Krystal dan Daniel padaku juga dibubuhi racun?" Selidik Luhan.

"Benar, My Lady..." Jawab Daniel. Dia menggaruk kepala tak enak hati.

"Aku ucapkan terima kasih pada kalian..." Luhan menegakkan badan. Dari atas ranjang, dia berucap tulus, "...apakah setelah ini, aku dan Sehun tidak bisa menemui Triple Twin?"

"Niat kami adalah membebaskanmu dan Sehun dari segala kerumitan hidup, Luhan..." Yeonseok mengelus pucuk kepala adik seayahnya, memberikan pengertian untuknya. "...kalian berhak bahagia. Kalian sudah terlalu lama menghadapi banyak bahaya. Pernikahan kalian setelah ini haruslah dijalani lebih baik lagi. Lebih membahagiakan. Untuk melakukannya, maka banyak yang harus dikorbankan."

Baekhyun mengangguk. Dia menggenggam kedua tangan Luhan, "eonni... Sekarang, aku memahami arti dari mencintai. Itu bukanlah sekedar mencintai, tapi lebih! Lebih daripada yang diketahui banyak orang. Eonni dan Sehun-oppa berhak bahagia setelah melewati banyak hal hanya untuk mencintai dan dicintai. Sudah cukup kalian memikirkan bawahan, keluarga, kerajaan, kebangsawanan, apapun itu! Ini adalah hidup kalian, biduk rumah tangga kalian. Kalian yang menjalani, kalian juga yang merangkai rumah tangga kalian seindah mungkin..."

Derasnya air mata Luhan membuktikan betapa dia terharu pada ucapan Baekhyun.

"Kami memohon pada kalian berdua..." Chanyeol bersuara. Matanya beradu pandang dengan Sehun lalu Luhan. "...Berbahagialah. berbahagialah..."

Luhan menengadah pada Sehun. Suaminya... Akan selalu menuruti apapun keputusan Luhan meski itu menyakitkan. Lihat senyum teduh Sehun padanya? Terlalu meluluhkan hati Luhan. Wanita yang dulunya dikenal 'jalang', kini menunjukkan satu keanggunan lewat tutur kata tulusnya.

"Hyoyeon... Terima kasih..." Luhan meraih pipi gadis koleksi ke-sepuluhnya. Menangkupnya lembut. "...jangan sampai racunmu jatuh ke oknum tidak benar. Bisa-bisa, akan ada kasus penipuan besar-besaran. Sebaiknya, formulanya tetap kau jaga namun produknya hanya kau buat jika benar-benar butuh. Paham?"

"Yes, My Lady."

"Daniel..."

Luhan sedikit mendengus saat Daniel meraih tangannya untuk diciumi. Tak tahukah Daniel kalau di belakang Luhan, Sehun menahan kecemburuannya yang terlampau posesif?

"...kau menyukai Krystal, kan?"

Celetukan Luhan membuat Daniel dan Krystal mematung. Mata mereka membelalak syok. Baekhyun menahan senyum.

"I...itu..." Respon Daniel terbata-bata.

"Kau ragu mengungkapkan perasaanmu karena Krystal sangat membenci kaum pria. Aku benar lagi, kan?"

Ucapan lembut Luhan ternyata menekan mental Daniel. Pria itu mengangguk patah-patah sambil tangan berkeringatnya meremas tangan Luhan. Luhan berganti menangkup tangan Daniel. Dia berbisik, "maka buat dia percaya, bahwa ada pria baik dari sekian banyak pria brengsek yang pantas dicintai olehnya."

Hati Daniel bergetar. Perutnya bergejolak menyenangkan. Dia menoleh pada Krystal. Gadis koleksi pertama Luhan tersebut membuang muka.

"Saya akan melakukannya, My Lady..." Tekad Daniel.

"Aku tunggu."

"Yes, My Lady."

"Krystal."

Daniel mundur dari Luhan. Kini berganti Krystal yang erat memeluk Luhan.

"Melihat Tuan Besar Oh, aku lebih mempercayai satu hal mengenai kaum pria." Krystal terkekeh, lalu mencium kening Luhan. "Aku percaya, pria seperti Tuan Besar Oh akan segera kutemui."

Tiba-tiba punggung Daniel merinding.

"Jika sudah menemukannya, segera lamar dia..." Luhan memberikan Krystal wink. Krystal sedikit menoleh ke belakang, tersenyum penuh makna pada Daniel.

"Yes, My Lady..."

Luhan kemudian menoleh pada Yeonseok.

"Yeonseok-oppa."

Yeonseok berdiri di sisi Luhan.

"Ya, dongsaeng...?"

"Segeralah menikah. Ingat usiamu."

Yeonseok menggaruk tengkuknya karena salah tingkah, "tentu."

"Yang jelas, kami sangat berterima kasih," ucap Sehun untuk Yeonseok. "Kami yakin kau yang merancang semua rencana ini, Hyung..."

"Tanpa peran lainnya, rencana ini bukanlah apa-apa."

"Peran lainnya?" Luhan menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian, "kalian berdua, kemarilah..."

Chanyeol dan Baekhyun beradu tatap. Kemudian mendekati sisi Luhan. Tangan kiri Luhan menggenggam tangan Chanyeol, sedang tangan kanan Luhan menggenggam tangan Baekhyun.

"Saat aku koma, aku dengar, Chanyeol akan menurutiku apapun perkataanku, termasuk menjauhi Baekhyun. Apa aku benar?"

Baekhyun menunduk dalam. Dia mengeratkan genggamannya di tangan Luhan. Tangannya gemetar.

Chanyeol mengangguk. Ekspresinya sangat menyedihkan.

"Kalau aku ingin kalian bersama, kalian tidak membangkang ucapanku, kan?"

Muka Chanyeol dan Baekhyun terperangah. Keduanya kembali bertatapan. Mereka kemudian menunduk, melihat Luhan menyatukan tangan mereka.

"Aku merestui kalian..."

"Hkkss... Eonni..."

"Baekhyun sayang..." Luhan membiarkan tangan Chanyeol dan Baekhyun bergandengan. Kedua tangan Luhan kini menangkup pipi Baekhyun. Dia tidak malu mencium sekilas bibir Baekhyun. Air mata Baekhyun terasa asin di lidah Luhan. "...aku tahu aku sangat bersalah padamu. Aku tidak jujur mengenai beberapa hal. Gejolak emosiku tidak bisa kutahan tiap melihatmu begitu lemah sebagai seorang gadis. Maka dari itu, aku mengajarimu terlalu kasar menjadi wanita yang begitu kuat di masa depan dengan segala skenario. Agar... Agar kau tidak berakhir sepertiku. Kuharap kau mengerti, kuharap kau mau memaafkan kakakmu ini."

"Eonni... Aku mengerti kok."

"Belajarlah dari alur hidup kita, Baekki... Jangan sampai anak-anak gadis kita merasakan apa yang sudah pernah kita rasakan sebagai wanita. Didik anakmu, Byun Hana, dengan ketulusan seorang wanita, seorang ibu. Ajarkan pada anakmu, menjadi wanita kuat tidak harus berpura-pura tegar. Menangislah saja jika ingin menangis..."

"Ne, eonni..."

"Park Chanyeol, priaku yang sangat menawan. Aku beruntung memilikimu sebagai adikku." Kedua tangan Luhan membingkai ketampanan Chanyeol.

Chanyeol merespon, "saya juga bangga dan beruntung diangkat adik oleh anda."

"Loyalitasmu kepadaku, sampai mengorbankan perasaanmu sendiri, membuatku terenyuh. Kupikir, aku akan jadi wanita paling jahat jika membiarkanmu sekarat akibat kesetiaanmu padaku. Tidak, Park Chanyeol... Tidak... Aku tidak ingin itu terjadi."

Luhan menangkup belah pipi Baekhyun dan Chanyeol.

"Aku mempercayakan sekretarisku, adikku, dan priaku, padamu Byun Baekhyun... Tolong cintai dan hormatilah dia sebagai suamimu dan ayah anakmu."

Baekhyun menangis sesenggukan. Dia tak mampu merespon kecuali anggukan. Bagi ibu muda, cukup sulit mendapat restu Luhan. Dan lihat sekarang? Luhan merestui hubungannya.

"Aku mempercayai adikku, gadisku, padamu Park Chanyeol. Jadikan dia wanitamu satu-satunya. Rengkuh dia bila dia kelelahan mengurusi keluarga. Bisa kau melakukannya? Buktikan pada Baekhyun bahwa priaku sangat gentle sebagai suami."

"Yes, My Lady... Anything for you..."

"Menikahlah... Jadilah orang tua terbaik untuk Byun Hana."

Secara langsung, Luhan melihat betapa ganasnya Park Chanyeol meraih lalu menerkam bibir wanitanya. Baekhyun cukup kecil di rangkulan pria sebesar Chanyeol. Nafas Baekhyun tersengal-sengal namun tetap tersenyum setelah Chanyeol melumat bibirnya.

"Baekhyun-ah... Aku mencintaimu..."

"Ucapkan lagi, oppa!"

"Aku mencintaimu. Sangat-sangat... Mencintaimu!"

Sehun mencium pipi Luhan. Atensi keduanya bertautan intens. Luhan nyengir.

"Kau tahu? Tiba-tiba aku merasa seperti cupid untuk hubungan Chanyeol dan Baekhyun."

Sehun mencium pucuk hidung Luhan, "lalu, siapa cupid kita?"

Luhan mengendikkan bahu, "biarkan semua itu menjadi misteri."

.

.

.

.

.

Di Pemakaman Kebangsawanan Xi...

Kedua orang tua Triple Twin sudah meninggal. Ya, itulah yang diketahui banyak orang.

Orang-orang terdekat Sehun turut hadir di upacara pemakaman Sehun. Ada yang menangis, murung, terisak, diam, dan rata-rata mereka merasa kehilangan.

Korea Selatan pun berduka.

Bagi seluruh rakyat Korea, Woo Sehun adalah raja terbaik meski memimpin belum beberapa jam. Rekam jejaknya sebagai Pangeran Mahkota Kerajaan Korea Selatan tertuang dalam buku biografi. Dijelaskan di sana, perjalanan hidup Sehun (kecuali di bagian ekstrim dan sisi gelap Keluarga Bangsawan Oh dan Keluarga Bangsawan Xi). Setelah membacanya, para rakyat semakin kagum. Apalagi didukung fakta bahwa Sehun dijadikan pengacara tanpa bayaran oleh pihak orang tua korban penculikan di Mapo-gu.

Rakyat Korea Selatan juga mengharapkan Xi Luhan menjadi permaisuri. Mereka tahu wanita itu cerdas dan meski rekam jejaknya dipenuhi rumor dan misteri, tak bisa dipungkiri nama Xi Luhan harum sebagai salah satu orang yang berjasa atas rukunnya Kerajaan Korea Selatan dan Kerajaan China.

Woo (Oh) Sehun dan Xi Luhan.

Keduanya meninggalkan nama indah untuk dikenang seluruh rakyat Korea Selatan.

"'Kematian kita' meninggalkan banyak kesedihan, Lulu..."

"Aku tidak tahu harus merespon apa, Hunhun..."

Jauh di sana, Sehun dan Luhan memperhatikan 'pemakaman mereka' diadakan. Pelayat mulai berhamburan pergi. Hingga tersisa orang-orang terdekat Sehun dan Luhan. Di pemakaman, Irene menangis di pelukan Junmyeon. Irene pun tengah hamil.

Keluarga bangsawan Oh, khususnya Yoona dan Sejeong, berlutut di depan makam Sehun.

Sementara Triple Twin?

Sehan begitu tegar menopang payung untuk kedua adiknya. Shika terus terisak. Shixun memandang datar makam ayahnya.

"Shixun... Ada apa dengannya?"

Sehun mengeratkan genggamannya pada gagang payung. Tangan lainnya merangkul Luhan, "si bungsu kita pasti paling terguncang, sayang..."

"Bukan begitu, Shixun seharusnya menangis atau merengek, apapun yang menunjukkan dia sedih. Tapi... Lihat anak kita, Sehun! Si bungsu kita..."

Luhan punya firasat buruk sebagai seorang ibu.

Intuisi sang istri pun tak bisa Sehun remehkan, "aku akan menghubungi Chanyeol agar menjadi wali anak kita. Aku harap Chanyeol bisa mengawasi psikis anak kita."

"Tuan Besar Oh, Lady Luhan..."

Sehun dan Luhan menoleh pada Krystal. Gadis itu memakai seragam supir.

"Jam penerbangannya satu jam lagi. Kita harus bergegas."

"Aku mengerti," Sehun menempelkan keningnya di pucuk kepala Luhan. "Ayo kita pergi..."

"Bagaimana kalau suatu saat nanti, anak kita membenci kita?" Luhan meremas kerah kemeja suaminya. "Sehun... Aku tidak sanggup me-meninggalkan mereka..."

Sehun menangkup kepala belakang Luhan, menuntunnya dengan lembut dalam pelukannya.

"Aku berani jamin, anak kita tidak akan sanggup membenci kita."

"Dari mana keyakinanmu itu berasal, eoh?"

Sehun kembali memandang Triple Twin. Ketiga anak kembarnya berjalan beriringan di bawah satu payung.

"Karena anak kita adalah anak dari Oh Sehun dan Xi Luhan...

...anak kita lebih dari anak-anak kebanyakan."

Sehun dan Luhan meratapi kepergian Triple Twin. Kemudian mereka berbalik dan memasuki mobil.

Setelah ini...

...Sehun dan Luhan resmi meninggalkan Korea.

.

.

.

.

.

Lima belas tahun kemudian,

Kembali kepada Triple Twin...

.

.

.

.

.

"Lalu, di mana Eomma dan Appa sekarang?!"

Yeonseok bersedekap. Perilaku keponakan bungsunya selalu menyebalkan di matanya.

"Sebelum aku menjawab, kau tidak mau minta maaf pada Baekhyun-imo dan Hana?"

Hana tidak berada di ruang kerja Kepala Keluarga Bangsawan Xi. Jadi Shixun hanya berhadapan dengan Baekhyun. Wanita itu hanya meremas lengan atas suaminya. Kelopak matanya menunduk, tidak berani memandang anak bungsu HunHan tersebut.

Yeonseok menghela nafas jengah. Jika Chanyeol dan Baekhyun duduk berhadapan dengan Triple Twin, maka Yeonseok duduk di lengan sofa. Mantan Perdana Menteri itu menghunuskan tajamnya tatapan pada Shixun. "kau benar-benar keras kepala, anak muda..."

"Tunggu... Tunggu sebentar!" Shixun malu setengah hidup pada Baekhyun.

"Aku...a...aku..." Shixun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas lutut. "Aku minta maaf... Baekhyun-imo..."

Mata sipit Baekhyun berbinar. Melihat kedua pipi si bungsu memerah, Baekhyun gemas. Si bungsu menunduk dalam-dalam. Bibirnya mengerucut persis anak ayam.

"Aku... Aku iri pada kalian berdua, Chanyeol-saem dan Baekhyun-imo. Kalian bahagia sekeluarga dengan Hana sementara kami bertiga?" Shixun menatap Baekhyun. "aku hanya iri... Dan aku melampiaskan rasai iri dengkiku dengan membahas-bahas masa lalu."

"Nak..." Baekhyun memberi dukungan mental berupa senyuman. "...sampai detik inipun aku merasa bahwa aku ikut merenggut kebahagiaan keluarga kecil kalian. Jika saja aku tidak membela pihak Kris, mungkin kalian masih bisa bersama kedua orang tua kalian."

Sehan tertawa kecil, "imo... percaya atau tidak, kami sangat bisa memahami posisi anda sebagai pihak yang disakiti eomma. Baik eomma atau imo, kalian berdua ada plus minusnya."

Si tengah, Shika yang cantik nyaris menyamai sang eomma, mengacungkan telunjuk ke bibirnya sendiri. "Kalian pun berperan dalam kebebasan hidup orang tua kami. Meski orang tua kami terdengar egois dengan meninggalkan kami, kami yakin... Mereka berdua melakukannya untuk menjaga nama baik kami di kehidupan sekarang ini. Kami pun merasa, apa yang eomma dan appa berikan pada kami, termasuk kasih sayang dan cinta mereka, takkan bisa ditukar apapun termasuk kebencian kami pada mereka."

"Sulit untuk membenci orang tua seperti mereka," pandangan Shixun menerawang pada langit-langit. "Eomma selalu kerepotan meladeni sikap posesifku padanya. Appa ikhlas menampung kebencianku padanya. Sekarang, coba jelaskan, bagaimana bisa kami membencinya?"

Yeonseok memandang Triple Twin penuh kekaguman.

Dia teringat sepenggal cerita Krystal mengenai Sehun dan Luhan.

Sehun pernah berkata pada Luhan,

"Karena anak kita adalah anak dari Oh Sehun dan Xi Luhan...

...anak kita lebih dari anak-anak kebanyakan."

Anak kalian sangat menakjubkan... Batin Yeonseok.

"Hei, pertanyaanku belum dijawab!" Ketus Shixun pada Yeonseok. "Samchon, katakan pada kami di mana appa dan eomma?!"

Usai mendapat jawaban Yeonseok, Shixun menarik tangan Shika.

Mereka hendak ke kamar masing-masing.

"Noona! Bantu aku berkemas. Kita akan segera menjenguk appa dan eomma."

"Kalian—" Yeonseok berusaha mencegah sikap gegabah Shixun, namun Sehan memberi pamannya pengertian.

"Tenang saja, Samchon. Kami bisa menyamar..." Ucap Sehan.

Chanyeol mengacak pucuk kepala sang raja. "Anda tidak perlu menyamar. Cukup pakai masker sekali pakai dan orang-orang di sana tidak akan mengenali anda serta kedua adik anda."

Sehan berbalik lalu merangkul bahu lebar Chanyeol, "saem tidak melarangku bepergian?"

"Jadwal pekerjaan anda sebagai raja bisa diatur ulang. Anda bisa mengajukan cuti tiga hari."

"Eh? Hanya tiga hari?!" Bukan Sehan yang berketus ria, tapi Shixun.

Baekhyun tersenyum geli melihat Shixun begitu semangat dengan ransel di punggungnya.

"Ya, nak..."

Tampilan Triple Twin persis remaja pada umumnya. Maklum, usia mereka memang masih delapan belas tahun. Sehan menanggalkan auranya sebagai raja. Shika berubah lebih feminim, melupakan sejenak fakta kalau dia adalah kepala Yakuza Aihara. Shixun lain lagi, dia berpakaian sekasual mungkin ala backpacker.

Meski singkat, Shixun menghargai tiga hari tersebut serupa berlian termahal. Shixun mengangguk mantap. Dia tiba-tiba mencium pipi kanan Baekhyun, "imo... Kami bertiga pergi dulu..."

"Hati-hati..."

"Dan jangan gunakan pesawat jet pribadi Keluarga Bangsawan Xi atau Oh," nasihat Chanyeol. "Lebih baik kalian menaiki pesawat komersial saja."

"Siap, saem!" Ucap Triple Twin kompak.

Shixun berlari lebih dulu menuju pintu Mansion Xi. Sebelum benar-benar keluar mansion, Shixun menemukan Hana tengah membantu Yuri membersihkan pigura foto keluarga HunHan dengan Triple Twin di dalamnya. Shixun menghampiri Hana, Hana melihatnya takut-takut.

"A-ada apa, oppa?"

"Kau harus ikut kami bertiga."

Hana melihat Sehan di balik bahu Shixun. Sehan mengangguk, mengkode Hana untuk mengiyakan ajakan Shixun.

"Ne, Shixun-oppa."

"Bagus!" Shixun lalu berseru lantang, "Noona! Kau sudah pesan tiketnya?!"

"Iya, bawel! Sudah, ayo cepat... Penerbangan setengah jam lagi."

"Wah, cepat sekali. Kau cepat juga ya memesan?"

"Terpaksa membeli dengan harga lebih tinggi," Shika melihat Sehan dan Hana mengekori Shixun. "meminta restu pada kedua orang tua, eoh?" Goda Shika pada Sehan.

Hana hanya memandang Triple Twin kebingungan.

"Sebenarnya, kita mau ke mana, Sehan-oppa?"

Shixun sudah siap menyetir cepat, Shika duduk di sampingnya, Sehan dan Hana duduk di jok kedua.

Setelah Shixun tancap gas, Sehan menjawab pertanyaan dari sang tunangan,

"Kita ke rumah calon mertuamu, sayang..."

.

.

.

.

.

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia...

.

.

.

.

.

"Sialan! Kenapa di sini panas sekali?!".

"Asapnya, uhuk! Aku akan mati, aigoo..."

"Shixun, berhenti berteriak. Shika, itu hanya asap motor, itu tidak akan membunuhmu. Dan lagi, jaga etika kalian. Kita berada di kerajaan (negara) lain. Lihatlah sekitar kita. Orang-orang memandang kita aneh karena kita bicara dengan bahasa Korea."

"Kotbahmu membuatku jengah, Hyung..."

"Asap tidak baik untuk pernafasan, asal oppa tahu saja."

"Argh! Terserah kedua adik bandelku saja."

Demi apapun, Hana tak mampu lagi menahan tawanya melihat Triple Twin berusaha beradaptasi dengan kota yang baru pertama kali diinjaknya.

Kini mereka berempat berada di salah satu kompleks perumahan, kata masyarakat setempat adalah ini adalah perkampungan, yang ada di Kota Surabaya. Berbeda dengan kehidupan Kota Seoul, di sini, interaksi antar tetangga lebih intens. Bahkan ajang bergosip ibu-ibu parubaya lebih dahsyat dari ahjumma-ahjumma korea asli.

Triple Twin sampai ke Indonesia sekitar siang menjelang sore. Mereka memutuskan istirahat di salah satu hotel di Jakarta, sebelum akhirnya terbang ke Kota Surabaya. Kira-kira pagi buta mereka berangkat, dan sekitar jam tujuh pagi mereka sampai ke tempat ini.

Setelah sampai di perkampungan yang dimaksud, Sehan memasuki perkampungan sambil berjalan kaki mengikuti arahan gugle map. Bolak-balik dia menunduk pada ponsel, lalu menengadah pada jalanan.

"Oppa..." Hana menepuk bahu tunangannya. Sehan berhenti melangkah. Diikuti Shika dan Shixun.

"Ada apa, Hana?"

"Dia..."

Hana menunjuk sesuatu—bukan, tapi seseorang. Triple Twin mengikuti arah tunjuk Hana. Mata mereka melebar syok, kemudian memerah haru. Pandangan Shika dan Shixun bertabrakan. Mereka saling tersenyum.

Sehan mendadak melankolis. Ujung ibu jarinya mengusap air mata yang menggenang di pelupuk.

"Appa..."

Di arah tunjukan Hana, terlihat visual Sehun dalam balutan piyama. Sehun tengah menawar harga kepada penjual sayur keliling—orang-orang menjulukinya pedagang gerobak atau pedang kaki lima. Penjual sayur itu kebetulan ibu-ibu. Terlihat dia sangat tertarik memandang visual Sehun.

"Bisakah saya dapat seperempat kilo rawitnya dengan harga lima belas ribu? Sisa uang saya benar-benar segitu, Bu..."

Penjual sayur mengibaskan tangan hendak menolak,

"Sepurane, mas ganteng, lombok saiki larang, mundak gara-gara BBM iku lho! Moso' mas'e gak tahu nonton berita nang TV?" (Maaf, mas tampan, cabe sekarang mahal, naik gara-gara BBM itu lho! Masa' masnya tidak pernah menonton berita di televisi?)

"Mas-nya juga kenapa pakai piyama?" Nyinyir salah satu ibu berparawakan gemuk dengan daster coklat susu motif batik. "Mbak-nya bangun kesiangan ya? Makanya mas buru-buru beli sayur buat dimasak istrinya."

"Kok mau-mau aja sih disuruh-suruh istrinya?" Ibu-ibu lainnya, berjilbab, sibuk memilih-milih tempe yang mana untuk dibeli. "Ngene iki... kudune bojo wedhok sing nak pasar..." (Gini ini... Harusnya istri yang pergi ke pasar).

Seperti karakter Sehun biasanya, dia akan selalu tenang menanggapi ucapan atau nyinyiran orang-orang. Sehun tersenyum kecil, dia memberikan selembar uang lima ribu dan sepuluh ribu pada penjual sayur. "Terserah saja cabenya dapat seberapa. Saya manut ibunya aja wes."

Penjual sayur berdecak miris, "ganteng-ganteng harusnya jadi artis, mas. Tahu kan kalau di sini apa-apa bisa viral? Kan lumayan, mas bisa beli baju-baju bagus buat istri mas. Apalagi cuma seperempat cabe!" Penjual itupun menimbang cabe rawit lalu dimasukkan ke sekantung plastik bening. Setelah Sehun menerima sekantung kecil cabe rawit, penjual sayur memberinya terong. "ini saya kasih bonus terong mas! lumayan buat lalapan atau sambel."

"Matur nuwun, Bu..." Sehun menerima sebuah terong ungu lumayan besar. "ibu gak apa-apa ngasih terong sebesar ini ke saya?"

"Gak apa-apa, mas. Ganteng ngene iki... Senyumnya dulu, mas, biar saya ikhlas ngasihnya."

"Yeee! Ibunya!" Protes ibu berjilbab. "Mbak Luna bisa ngeremes badan sampeyan lho."

"Tapi serius lho, mas... Jangan gampang disuruh-suruh istri. Mas juga harus tegas biar mas dihargai sama istrinya..." Ucap ibu berjilbab lagi. "Lagian, wajib istri hormat dan patuh sama suaminya."

"Ehm... Gimana ya Bu, istri saya biasanya kan beli sayur sendirian. Saya juga, mumpung libur, bantu-bantu istri. Lagipula, hari ini saya yang larang Luna belanja-belanja dulu, Bu... dia kecapekan soalnya."

"Biasa itu, mas... Istri pasti capek ngurus rumah, suami, sama anak. Tapi gak bisa dimanjain begitu, ujung-ujungnya ngelunjak sama suami."

Semua ibu-ibu mengangguk setuju.

"Saya tahu, tapi mau bagaimana lagi?" Sehun menyimpul senyum. Dia menggotong dua tas belanjaan besar. "Istri saya gak bisa bangun dari atas kasur, bu. Dia kecapekan melayani batin saya. Saya rasa, ibu-ibu semua sebagai istri paham lelahnya menjadi istri. Saya aja sampai gak sempet ganti piyama ke baju biasa, saking khawatirnya saya kalau Luna saya tinggalin lama-lama."

Semua ibu-ibu langsung terdiam. Kritikan mereka pada Luhan senyap. Muka-muka mereka memerah tomat. Mereka saling melirik, paham ucapan tersirat Sehun.

Mereka kemudian merutuk, betapa suami mereka tidak bisa menyamai sempurnanya sikap Sehun khususnya pada sang istri.

Ah... Mereka iri pada istri Sehun tersebut.

Ibu lainnya merespon, "suami panutan wes iki." Dia memberi sepotong tempe yang baru saja dibelinya untuk Sehun. "Bilang sama Mbak Luna, sering-sering masak oseng-oseng tempe. Oseng-osengnya enak mas."

"Bisa jadi sumber uang tuh. Bikin warung aja, mas, kalau masakan istrinya enak-enak," timpal ibu lainnya.

"Nah, betul!"

Sehun melihat ibu pemberi tempe memasukkan sepotong tempe ukuran lumayan besar, sebesar kardus ponsel, ke tas belanja Sehun.

"Matur nuwun, Bu... Nanti kalau oseng-osengnya jadi, saya kasih ke ibu..."

"Sama-sama, mas ganteng. Duh kalau mesem-mesem tambah ganteng iki bojone wong..." (Senyum-senyum tambah ganteng ini suaminya orang)

Senyum Sehun benar-benar istimewa bagi orang-orang di perkampungan ini. Tak hanya dikalangan ibu-ibu, Sehun juga digemari para gadis atau ibu muda. Sebagian pria di perkampungan ini cukup iri pada Sehun. Bukan kepada ketampanan dan terkenalnya sikap ramah Sehun, melainkan takdirnya yang beruntung memiliki istri cantik dan awet muda.

"Duluan ya, Bu..."

"Hati-hati di jalan, Mas Seno. Jangan sampai bikin anak orang kepincut sama masnya."

Sehun hanya tertawa kecil menanggapi candaan para ibu-ibu.

Sehun pun meninggalkan gerobak sayur. Dalam balutan piyama, auranya sungguh cerah diguyur mentari pagi.

Sepanjang perjalanan dia ditegur anak-anak kecil, juga beberapa ibu dan remajawati. Sehun pun membalas sebagai norma kesopanan.

Triple Twin melihat semua itu dengan takjub.

"Ayo kita tanya ibu-ibu itu." Shixun mengajak dua kakaknya dan Hana mendekati gerobak sayur.

"Oppa paham bahasa yang mereka pakai?" Tanya Hana sedikit was-was.

Shixun memberi calon kakak iparnya wink, "aku bisa bahasa Indonesia karena XiLu Corporation juga berbisnis di sini. Kau tenang saja, oke?"

Ibu-ibu pembeli sayur masih saja bergosip.

"Mas Seno iku bojo sing yes, yo... Pasti di kasur gak kalah yes, sampai Mbak Luna gak bangun-bangun."

"Hush! Gak baik bilang hal kayak gitu, Bu..."

"Permisi, Bu..."

Semua ibu pembeli, termasuk ibu penjual sayur, memandang Shixun seksama. Kemudian mata mereka membelalak syok.

Apalagi si penjual sayur.

"Lho? Mas Seno? Kok sudah ganti baju?"

Kemudian ibu-ibu memandang Shika, Hana, lalu pada Sehan yang berdiri sejajar dengan Shixun.

"Masya Allah...! Mas Seno-ne onok loro, Bu... Cuma lebih muda yang ini..." (Mas Seno-nya ada dua, Bu)

"Saya dan kakak saya ini bukan Pak Seno, Bu. Di sini saya cuma mau bertanya," tutur sopan Shixun mengejutkan kedua kakak kembarnya dan Hana. Padahal Shixun tergolong remaja tempramental dan kasar. Shixun pantas menyabet penghargaan sebagai aktor terbaik.

"Tanya apa nggih, cah ganteng?" Tanya si penjual sayur.

Shixun berdeham lalu berkata kalem, "rumahnya Pak Seno di mana ya, Bu? Saya dan saudara-saudara saya ini kenalan beliau."

"Oh rumahnya Mas Seno..." Salah satu ibu berjilbab menggerakkan tangan, menunjukkan arah-arah menuju tempat tinggal Sehun alias si Seno ini. "Nanti dari sini lurus... mentok, terus belok kiri... jalan aja terus sampai nemuin rumah nomor 94. Pagar hijau pastel setinggi dada. Itu rumahnya Mas Seno."

"Terima kasih banyak, Bu..."

"Cah ganteng ndak pengen beli sayur?" Tawar penjual sayur.

Shixun sedikit membungkuk, "kapan-kapan aja, Bu... Mari..."

"Duh, cah gantengnya sopan ih.."

Shixun dan lainnya mulai berjalan mengikuti petunjuk si ibu berjilbab. Sehan dan Hana mengekori di belakang, sedangkan Shika beriringan dengan Shixun.

Kira-kira sepuluh menit dengan jalan kaki, Shixun, kedua kakaknya, dan Hana menemukan rumah yang dimaksud.

Rumah Sehun dan Luhan.

.

.

.

.

.

Triple Twin mengetahui kedua orang tua mereka mengubah seluruh identitas mereka.

Sehun dan Luhan tak lagi berstatus bangsawan. Mereka benar-benar menanggalkan keekslusifan diri sebagai Tuan Besar Oh dan Lady Xi.

Sehun mengubah namanya menjadi 'Arseno Hardinata Dermawan', seorang guru TK dan guru bimbingan belajar.

Luhan sendiri mengubah namanya menjadi 'Aluna Hania Dermawan', ibu rumah tangga.

Hana, sebagai calon menantu HunHan, gugup bukan main. Apalagi dia sangat minder melihat kecantikan Luhan dalam balutan dasternya. Kecantikan sang Lady Xi seolah abadi tidak termakan jaman.

Hana menelan ludah kelu. Sehan merangkulnya, menenangkannya. "Aku bersamamu... Mereka baik kok, aku yakin mereka menerimamu karena aku mencintaimu..."

Wajah Hana memerah malu.

Di sana...

Luhan berdiri dari kursi teras rumah. Dia merentangkan tangan untuk memeluk suaminya lalu menciumi wajah tampannya. Sang suami—Sehun—menurunkan tas belanjanya. Dia balas memeluk Luhan. Mencium pucuk kepalanya.

"Katanya kamu lelah, kenapa menungguku di sini, hm?" Ucap Sehun. Ia fasih berbahasa Indonesia.

Luhan semakin mengeratkan pelukannya dalam tubuh Sehun.

"Suamiku pasti kecapekan. Pasti digoda banyak ibu-ibu."

"Aku juga khawatir meninggalkanmu sendirian di rumah."

"Kenapa? Aku bisa jaga diri, kok..."

"Takut kamu digoda bapak-bapak di sini."

"Ish!"

Shixun memandang kedua kakaknya. Sehan dan Shika mengangguk bersamaan. Keduanya tidak tahu dengan cara apa mereka menunjukkan rasa kebahagiaan membuncah ruah ini. Jelasnya, kebahagiaan Triple Twin terlalu menyesakkan.

Mereka terlalu bahagia.

Kedua orang tua kandung mereka ada di depan mereka.

Shixun terbata-bata mengucap sambil menangis. Shika menghapus air mata adik kembarnya.

Sehan tak tahan untuk berseru,

"Eomma! Appa!"

Sepasang suami istri di depan rumah sederhana itu, saling berpandangan. Kemudian mereka menoleh ke pagar rumah.

Sang istri—Luhan—meluruhkan air matanya begitu saja melihat tiga remaja di depan pagar rumahnya. Mata hazelnya bergulir dari muka bahagia Sehan, senyum cerah Shika, dan tangis Shixun.

"Triple Twin...?"

Gumam Sehun menjaga agar air matanya tidak jatuh.

"Ya Tuhan... Mereka benar-benar Triple Twin kita... Lu...? Mereka datang untuk kita..."

"Ng! Tolong buka pagarnya, Hunnie..."

"Iya, sayangku..."

Pinggang Luhan masih pegal sehingga dia meminta tolong suaminya untuk membukakan pagar. Sehun melakukannya. Setelah pagar terbuka, remaja pertama yang memeluknya hangat dan posesif adalah Shixun.

"Eomma! Appa! Shixun rindu kalian..."

"Eomma... Appa... Thithun lindu kalian..."

"Shixun-ah..." Dalam bahasa Korea, Sehun mengelus kepala belakang si kembar bungsunya. "Dulu badanmu tidak sampai selutut appa, kau juga suka sekali mengajak appa bertengkar. Sekarang? Kau hampir menyusul tinggi badan appa. Sudah sampai ke dagu appa. Kau pun memanggil appa begitu lembutnya. Ya Tuhan, nak... Kau dan kedua kakakmu sudah sebesar ini... Ya Tuhan... Terima kasih..."

"Appa..."

"Shika-ya..."

Shika memeluk ayahnya dari bahu kanan, sedangkan Shixun dari kiri. Pernah disinggung sebelumnya, kan? Triple Twin tidak mau bergiliran memeluk orang tuanya. Mereka lebih suka ketiga-tiganya memeluk Sehun bersamaan seperti saat ini.

"Mari masuk, kalian pasti lelah dari Korea ke mari, kan?"

Shixun melepas pelukannya. Dia mendahului kedua kakaknya untuk meraih tubuh sang eomma.

"Eomma! Eomma...!"

"Peluk eomma, Shixun sayang..."

Shixun akan selalu menjadi anak kecil jika menyangkut Luhan. Shixun sangat rakus akan kasih sayangnya. Dalam keposesifan tingkat tinggi, Shixun memeluk erat Luhan. Dia menenggelamkan mukanya ke ceruk leher ibunya. Menangis lirih di sana.

"Eomma...hkkss.. rindu... Shixun rindu eomma...hhkks... Eomma baik-baik saja, kan di sini? Kenapa eomma selalu cantik meskipun memakai baju jelek?"

"Eomma memakai daster, nak..."

"Persetan dengan daster, eomma, hhkks!"

Sehun memperhatikan interaksi Shixun dan Luhan. Hatinya sungguh menghangat. Kemudian dia melihat Shika. Gadis kecilnya tidak mau lepas dari pinggangnya. Shika suka sekali memeluk pinggangnya. Sehun mencium pucuk kepalanya, lalu menempelkan pipinya di sana.

Kemudian Sehun memandang si sulungnya. Sehan merangkul seorang gadis cantik. Sepintas, Sehun melihat gadis itu mirip Baekhyun versi remaja. Hanya saja, mata cantiknya lebih lebar persis Chanyeol.

Tunggu dulu...!

"Sehan."

"Ne, appa?"

"Gadis di pelukanmu itu... Byun Hana? Anak kandung Chanyeol dan Baekhyun?"

Sehan tersenyum lebar. Hana menunduk malu-malu.

"Eomma... Appa... Perkenalkan..."

Luhan memandang si sulungnya sambil pinggangnya dirangkul Shixun dari samping. Luhan menunggu pernyataan Sehan selanjutnya.

"...dia Byun Hana. Tunanganku. Calon istriku. Calon menantu pertama kalian."

Sehun dan Luhan saling berpandangan.

.

.

.

.

.

"Kami mengetahui kabar kalian dari Yeonseok-hyung. Parahnya, dia tidak memberitahu kalau Sehan sudah bertunangan. Appa dan eomma hanya tahu kalian hidup dengan takdir masing-masing. Sehan sebagai raja, Shika sebagai Kepala Keluarga Bangsawan Aihara dan kepala Yakuza, Shixun...? Sudahlah, pekerjaanmu cukup banyak, anak muda. Appa tidak mau menyebutkan semuanya."

"Y-yak!" Shixun mendengus, "appa selalu pilih kasih denganku! Appa membenciku, eoh?"

"Untuk apa appa-mu membencimu?" Tegur Luhan.

"Kurasa..." Shixun mendengus. "...appa ada dendam denganku, karena aku sering memonopoli kasih sayang eomma darinya."

"Bedebah Muda yang brengsek ini..." Sehun melotot saat Shixun menjulurkan lidah ke arahnya.

"Tempe ini gurih, enak!" Shika berseru. Dia bertepuk tangan kecil, "eomma belajar masak dari appa ya? Aku yakin!"

"Eomma belajar segalanya dari appa-mu, nak..."

"Begitu juga sebaliknya," ucap Sehun. Luhan tersenyum untuknya.

Luhan memilih duduk di depan Sehun, sedangkan di samping kirinya ada Shika dan samping kanannya duduklah Hana.

"Eomma kalian bekerja keras untuk bisa memasak..." Sehun menyuapi dirinya sendiri sesendok nasi. Di samping kanannya, Shixun, begitu rakus memakan masakan Luhan. Saking rakusnya, Shixun sampai tersedak. Sehun pun menawari anaknya minum. Shixun terburu-buru minum air tersebut hingga beberapa tetesnya tumpah di pangkuannya.

"Shixun-ah, kau begitu jorok..." Sehun dengan telaten merapikan tampilan anaknya. "Si bungsu appa sudah tampan."

Shixun nyengir. "Ini pertama kalinya kami bertiga makan masakan eomma... Jadi aku senang sekali... Sangat senang! Masakan eomma juga enak, Shixun benar-benar candu pada masakan eomma. Ah... Bagaimana ini?"

Sehun terenyuh begitu melihat Shixun kembali menangis.

"Hkkss... selama delapan belas tahun hidupku... Ini pertama kalinya aku makan masakan eomma... Enak... Shixun ingin setiap hari memakan masakan eomma, apapun! Setiap hari... Tapi itu jelas tidak mungkin, hkkss... Mian... Aku mengganggu reuni keluarga kita..."

Sejak di kandungan Luhan, Triple Twin sudah mengalami banyak kesulitan. Mereka nyaris mati keguguran. Sehun dan Luhan nyaris kehilangan mereka. Kemudian, di usia tiga tahun, mereka harus memaksakan diri memahami kondisi eomma dan appa mereka tidak satu rumah. Mereka terus berharap Luhan pulang ke Mansion Xi, namun mereka dapati sang eomma meninggal. Belum cukup, sang appa menjemput eomma mereka.

Triple Twin hidup lima belas tahun tanpa kedua orang tua kandung. Shixun tumbuh dingin dan ekstrim dari segi sifat. Dia menjadi tak tersentuh.

Lalu...hanya karena eksistensi Luhan dan masakannya, Shixun menangis bahkan merengek di usianya yang 18 tahun ini?

Sehun memeluk si bungsunya, "mianhae, nak... Karena kami... Karena terlahir dari orang tua macam kami, kalian harus mengalami semua kemalangan ini..."

Shixun tersenyum cerah pada sang ayah, "appa adalah appa terbaik. Eomma juga adalah eomma terbaik. Kami beruntung memiliki kalian..."

Luhan benar-benar terharu melihat anak bungsunya sebahagia ini bertemu dirinya dan Sehun. Dia kira, Triple Twin membenci mereka. Ternyata?

"Eomma ingin menunjukkan sesuatu pada kalian." Kata Luhan.

"Kejutan?! Aku suka kejutan!" Shika memejamkan mata kala Luhan menggusak-gusak pucuk kepalanya.

"Ya, nak... Sebelum itu, habiskan makanan kalian."

Selepas sarapan meski di jam kurang tepat, Luhan menuntun Triple Twin ke sebuah kamar yang sengaja dikunci dibanding kamar lain. Rumah sederhana ini memiliki empat kamar. Yakni tiga kamar tidur dan satu kamar rahasia.

Kamar rahasia itupun terbuka.

Menunjukkan banyaknya memori-memori Sehun dan Luhan bersama Triple Twin mereka.

Triple Twin terperangah. Di ruangan yang sempit dan kecil ini, terdapat tiga lemari besar. Tersimpan bingkai-bingkai foto Triple Twin dari bayi baru lahir hingga balita tiga tahun. Disusul pakaian bayi Triple Twin di lemari lainnya. Namun, satu lemari besar membuat Triple Twin tertegun.

"Ini adalah kado-kado ulang tahun dari kami untuk kalian, selama lima belas tahun kita tidak bertemu..."

Sehun menunjuk syal rajutan tiga warna yakni merah, kuning, dan hijau. Warnanya persis lirik lagu anak-anak.

"Syal ini buatan tangan eomma kalian. Dihadiahkan untuk kalian pada ulang tahun kalian yang kelima belas. Walaupun rajutannya agak berantakan, eomma kalian membuatnya sepenuh hati sampai kedua tangannya tergores jarum berkali-kali."

Luhan bersedekap bangga, "tak ada yang menyangka, kan? Xi Luhan yang dikenal jalang, ternyata bisa melakukan ini."

Sehan mencium kening ibunya, "aku semakin mencintaimu, eomma..." Luhan balas mencium pipi si sulungnya.

"Boleh kami membawanya pulang?" Shika sudah melingkarkan syal warna kuning ke lehernya. "ini sangat cantik dan hangat... Shika suka, eomma."

Luhan mengangguk lirih.

"Kami juga akan membawa kado-kado lainnya! Shika suka sekali hadiah!"

"Lalu, Hadiah dari appa?" Celetuk Shixun.

"Indah sekali..."

Kekaguman Hana membuat semua mata tertuju pada lukisan kanvas yang masih terpampang angkuh di atas penyangga kayu.

Shixun mendekati lukisan tersebut.

Lukisan itu sederhana.

Bertema seorang wanita cantik di tengah hamparan bunga mawar. Gaunnya putih, pita besar berkibar di belakang pinggangnya, rambutnya melambai oleh angin, mentari pagi menyiraminya seolah wanita itu adalah dewi.

Wanita itu adalah Xi Luhan.

Pelukisnya adalah Oh Sehun.

Shixun memandang ayahnya yang ikut memandang lukisan itu,

"Appa bisa melukis, yah... sedikit bisa sih..."

"Seindah ini kau bilang 'sedikit'?" Tanya jengah Shixun. "Kau merendah atau menyombongkan diri, hei pak tua."

"Shixun, jangan mulai!" Geram Shika mencubit lengan atas adiknya. Shixun mengaduh kesakitan.

"AYAH... BUNDA... HANIA PULANG CEPAT...! Tadi ada rapat guru! Eh? Tidak ada orang, kah? Di mana ayah dan bunda?"

Triple Twin saling berpandangan. Hana tebak, orang yang berseru memanggil 'ayah dan bunda', bukanlah orang jahat yang suka menyusup ke rumah orang lain.

Lalu, siapa?

"Hania pulang, Hunnie..." Ucap Luhan. "Aku akan menyambutnya."

Sehun mengangguk.

Luhan keluar dari ruangan. Triple Twin langsung memandang ayahnya penuh tanya.

Dari tatapan mereka, Sehun lebih tertarik pada Shixun yang sepertinya memahami sesuatu.

Sehun mengayunkan tangan, "kalian harus bertemu seseorang..."

.

.

.

.

.

Seorang gadis remaja, sekitar lima belas tahun, memakai seragam putih abu-abu. Kemeja putihnya berlengan panjang dengan logo-logo yang tak begitu dipahami Triple Twin dan Hana. Rok lipat abu-abunya panjang hingga semata kaki, jauh dari rok sekolah siswa-siswi Korea Selatan.

Shixun menatap ayah dan ibunya bergantian,

Dalam bahasa Korea dia berkata,

"Siapa dia?"

"Adik kandung kalian."

"Mwo?!" Seru Triple Twin bersamaan. Mereka terkejut karena jawaban ayah mereka.

"Adik kalian sudah ada dalam kandungan eomma kalian disaat eomma kalian dihukum mati. Appa mengaku brengsek. Appa bercinta dengan eomma kalian di dalam penjara hingga lahirlah adik kalian ini..."

Luhan terkikik, "sperma appa kalian terlalu manjur. Jadi eomma harus rajin minum pil kontrasepsi."

"Wah... Mereka siapa, ayah, bunda? Artis Korea, kah?" Gadis berseragam putih abu-abu itu merangkul lengan Luhan. "Bunda tahu tidak? Hania suka sekali para idol di bawah naungan Lu Entertainment. Mereka tampan-tampan dan cantik-cantik."

Alis kanan Shixun berkedut. Adiknya ternyata sangat cerewet dan terlampau ceria.

"Aigoo... Kiyowo!" Shika memeluk adik gadisnya. Dia berceloteh dalam bahasa Korea, "Akhirnya aku memiliki seorang adik gadis... kau sangat mirip eomma, dongsaeng... Hei, cantik, siapa namamu?"

Si gadis mengerjap-ngerjapkan matanya. Bingung.

Sehun menepuk ringan bahu Shika, "nak... eomma dan appa tidak mengajarkan bahasa Korea pada adik gadismu. Itu dilakukan agar dia tidak tahu menahu tentang Korea."

"Pada akhirnya anak kita menyukai sesuatu berbau Korea yaitu Lu Entertainment, kita harus hati-hati, Hunnie..." Ucap Luhan dibalas cubitan di pipi oleh Sehun.

"Dek, kalau boleh tahu, siapa namamu?"

Sehun dan Luhan cukup terkejut saat si kembar bungsu mereka bisa bicara bahasa Indonesia dengan fasih. Logatnya pun lumayan mirip.

Si gadis merangsek masuk ke pelukan Luhan hanya karena malu wajah Shixun lumayan dekat dengannya.

"Erina Hunhania Dermawan, kak. Biasa dipanggil Hania."

"Bo—" Sehan belum terlalu lancar berbahasa Indonesia. Jadi dia minta bantuan Gugle Translate. Dia pun membaca hasil terjemahan dari Korea ke Indonesia melalui ponselnya. "bolehkah... Ka-kami bertiga memelukmu, adik?"

Hania melirik kedua orang tuanya bergantian.

"Mereka adalah kakak kandungmu, Hania..." Ujar kalem Luhan. "Peluk mereka."

"Eh? Beneran, bunda?"

"Iya, sayang..."

Seperti biasa, Triple Twin bersamaan memeluk seseorang, yakni sang adik. Sehan memeluk di sisi kiri, Shika memeluk leher Hania di depan, sedangkan Shixun di sisi kanan.

Hania sungguh tidak menyangka tiba-tiba dia didatangi kakak-kakak kandungnya sendiri.

Dia pikir, dirinya anak tunggal.

Triple Twin bisa memaklumi adik mereka masih canggung dan agak risih pada ketiga kakaknya.

"Hania, segeralah ganti pakaian." Perintah Sehun. "Bawa makananmu ke ruang keluarga. Kamu bisa makan sambil mendengarkan cerita ayah dan bunda."

"Iya, ayah..."

Di ruang keluarga, Sehan dan Hana berbagi sepiring kentang goreng buatan Luhan. Shixun dan Shika duduk berdampingan. Mereka selalu ribut dengan kentang mereka. Misalnya, Shika yang menang berkali-kali dalam permainan gunting batu kertas sehingga dia mendapat kentang lebih banyak. Shixun marah. Dia hanya dapat tiga stik kentang goreng dari puluhan stik kentang.

Tak lama kemudian, Hania duduk di antara Sehun dan Luhan. Dia membawa sepiring nasi dan lauk.

"Ayah dan bunda pengen cerita apa?"

Sehun dan Luhan mulai bersiap untuk menceritakan segalanya tentang hidup mereka pada si anak bungsu. Sudah cukup mereka menutupi segalanya dari Hania.

"Dulu, ayah dan bunda adalah Rakyat Kelas Bangsawan dari Korea Selatan..." Kata Sehun.

Hania tertegun.

Shixun sibuk menerjemahkan ucapan Sehun agar kedua kakak kembarnya dan Hana paham.

"Dan..." Luhan mencium pucuk kepala Hania. "Lu Entertainment yang kau kagumi dulunya milik bunda, sebelum akhirnya diturunkan pada kakak perempuanmu, Kak Shika."

"Pemilik Lu Entertainment?"

"Ya, nak?"

"Ayah, bunda... aku bukan kaum-kaum halu, lho..."

"Apa yang dikatakan kedua orang tua kita benar kok," Shixun menunjukkan sebuah foto Shika dengan para produser musik dan pemilik agensi terkenal di Korea Selatan.

Hania langsung percaya. Visual ketiga kakak kembarnya memang layak disebut bangsawan. Hania juga pernah melihat wajahShika sebagai pemilik Lu entertainment dari portal KPop.

Dia benar-benar takjub.

Triple Twin, bersama Sehun dan Luhan, memberikan Hania perhatian dan pengertian mengenai identitas asli ayah dan bunda kandungnya. Triple Twin memberikan kasih sayang besar untuk sang adik karena satu hal :

Lahirnya Erina Hunhania Dermawan adalah simbol kebebasan Sehun dan Luhan dari kerumitan hidup.

Tanpa sadar, cerita yang terlalu panjang membuat Hania tertidur di pelukan ibunya. Shixun berinisiatif menggendong Hania ke kamar.

"Jika diharuskan, aku akan 'mati' demi anak-anakku." [Chapter Ten]

Itu adalah ucapan Luhan di bawah guyuran hujan.

Ucapan yang memang dia laksanakan demi Triple Twin-nya.

Luhan memeluk suaminya.

"Aku mencintaimu, Hunhun..."

"Aku lebih... Lebih mencintaimu, Lulu..."

Kebahagiaan sederhana ini lebih berkilauan dibanding harta berlimpah dan kekuasaan tinggi.

.

.

.

.

.

"Kami akan kembali ke kota ini kapan-kapan!" Ucap Shixun dalam bahasa Indonesia.

"See you, adik lucu... Belajar yang benar ya, di se-sekolah. Pengucapanku benar, kan? Shixun?" Ucap Shika setelah menciumi wajah adik gadisnya.

"Sangat buruk!"

"Sialan!"

Hania hanya tertawa geli hanya karena Shixun mengejek kemampuan bahasa Shika.

Sementara itu, Hana diberi nasihat oleh kedua calon mertuanya.

"Titip salam untuk kedua orang tuamu," pesan Luhan. Dia memeluk sayang tunangan dari anak sulungnya. "Cintai anakku setulus hatimu, Hana-ya..."

"Beruntung kisah cintamu dengan Sehan tidak serumit kisah cinta para orang tua kalian dulu." Sehun mencium kening calon menantunya. "Jadilah istri kuat dan tegar untuk Sehan. Dia adalah Raja Korea Selatan, dan kedua saudara kembarnya menduduki posisi penting, maka dari itu... Kau harus pandai bertahan dan beradaptasi di tengah kekuasaan orang-orang sekitarmu nanti. Jadilah penopang Sehan dikala dia rapuh. Tolong ya, Hana..."

"Terima kasih sudah merestui kami, abonim, eommanim..." Hana memeluk kedua calon mertuanya erat-erat. "Nasihat kalian akan selalu kuingat."

Sementara Oh Sehan...

Dia menerima telfon dari seseorang. Posisinya tepat di dekat pagar rumah. Dia sengaja memisahkan diri dari kedua orang tuanya, tunangannya, dan ketiga adiknya.

Dia mengangkat telfon, bersikap senormal mungkin.

"Annyeong haseo... Luxian-Haraboji..."

.

.

.

.

.

"Annyeong, cucuku..."

Pria tua, pantas disebut kakek-kakek, masih berdiri kokoh di depan hamparan Sungai Han.

Rambutnya sudah dipenuhi uban, tampak lembut berayun-ayun oleh sepoinya angin. Wajah bagian kirinya cacat akibat luka bakar, sehingga mata kirinya ditutup penutup mata hitam persis bajak laut. Sementara mata kirinya cacat, mata kanannya tampak baik-baik saja.

Pria tua itu memasukkan ponselnya ke saku celana. Kemudian mata hazel kanannya melirik pria lain di sampingnya.

"Kau terlambat, Yeonseok-ah..."

"Mian, baba, aku harus meladeni kecerewetan Hyoyeon. Dia kesal karena aku membiarkan anak kami memakan dua mangkuk es krim sekaligus."

"Kau benar-benar ayah yang ceroboh."

Yeonseok terkekeh.

"Akhirnya... Semuanya selesai kan, baba?"

"Yup!"

Pria tua, dengan postur dan gelagat yang masih tegap itu, menyugar rambut putihnya. Dia menengadah pada langit biru.

"Luxian-baba."

"Ne, Yeonseok?"

Yeonseok nyengir, "kau tidak mau menjenguk Yukki-mama?"

"Ayo kita pergi ke makamnya. Aku sangat merindukan wanitaku."

Luxian—pria berpenutup mata di kiri—berbalik meninggalkan sungai Han diekori Yeonseok.

Yeonseok memandang punggung Luxian sambil tersenyum miris.

Sampai akhir pun kau tidak mau mengaku siapa dirimu pada Sehun dan Luhan.

Aku tahu alasanmu melakukannya, baba...

Tiba-tiba Yeonseok terkekeh geli memikirkan satu hal nyeleneh.

Luxian meliriknya, "kau ini kenapa?"

"Tidak ada apa-apa, baba."

'Sehun, jika kau cenayang seperti yang Hyoyeon bangga-banggakan...

...Bukankah seharusnya kau tahu kalau Guru Pribadimu—Tuan Hanadalah mertuamu sendiri?'

.

.

.

.

.

END...!

.

.

.

.

.

AUTHOR NOTE :

Masih ingat nama korea bapak kandungnya Lady Luhan? Oh Sehan. Kupikir kalian paham maksudku #smirklicik

Mian kalau endingnya kurang memuaskan #pundungdipojokan

Perjalanan cinta HunHan versi MJW beneran ending!

Terus epilognya apa'an?

WAIT and SEE...! #smirk

Pada akhirnya, ff ini end dengan meninggalkan misteri.

Ada part bonus tapi aku gak bisa share di sini. Aku share di wattpad aja ya... (alasan, soalnya habis ini, aku mau hiatus nulis ff. jadi cuma repost-repost aja :)

MJW Prolog bakal publish besok di wattpad (siap-siap chap 1-15 kuhapus dari ffn)!

Kukira 7 follower bakalan lama tercapainya, eh ternyata. Mian PHP ya

Makasih buat yang follow akun wattpad-ku, oh My! Aku terharu... :"))

Terima kasih sudah review, follow, favorit...

Surabaya, 07 Maret 2020