The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 20

.

Kedua bola mata Jaemin membulat, rahangnya mengeras dengan pandangannya yang penuh amarah mengarah pada siswa di hadapannya yang sedang memasang tampang menantang, Haechan. Ia ingin mencekik bahkan menusuk teman sekelas yang ada di depannya sekarang. Namun, karena situasi yang benar-benar tidak memungkinkan, Jaemin mencoba menahan diri. Ia hanya tak mau mendengar nama Jisung disebut-sebut lagi. Oleh siapapun.

Berdiri begitu saja, Jaemin langsung menyeret kasar Haechan agar pergi dari tempat tersebut. Ia tidak peduli Haechan sudah meronta minta dilepaskan dan bahkan memukul-mukul tangan dan lengan Jaemin sekeras yang ia bisa. "Jaemin! Sakit bodoh! Kuadukan Renjun tau rasa kau! Aww! Jaemin!" Pergelangan tangannya ngilu dan nyeri karena cengkeraman kuat Jaemin yang sukses menghentikan aliran darah di area tersebut hingga muncul memar keunguan.

Melemparkan boneka Moomin ke seat belakang dan Haechan di seat depan, Jaemin mengantar Haechan pulang tanpa sepatah katapun. Setelah anak itu menyebutkan nama Jisung, raut wajah Jaemin berubah. Haechan bisa melihat ekspresi wajah si siswa tercerdas seangkatan itu yang biasanya tenang dan ramah, wajahnya kini diselimuti ekspresi marah, sedih, cemas, takut dan sedikit rindu.

Jaemin menyetir dengan sangat ugal-ugalan seolah tak peduli dengan kendaraan lain yang melintas melewati mereka. Beberapa bunyi klakson mobil, truk bahkan hingga bus besar tak mengganggu pendengaran Jaemin yang berubah tuli dari suara-suara di sekitarnya. Wajahnya masih sama, ekspresi yang campur aduk dan syarat akan kerinduan tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir tipis siswa berambut pink itu.

Haechan berusaha mengomel seperti biasa untuk membangun obrolan dan mencairkan suasana, mencoba membuat Jaemin merubah ekspresi wajahnya yang terlihat menyeramkan di mata Haechan. Tapi semua usahanya gagal. Jaemin tak tertarik pada satu pun kata yang keluar dari mulut Haechan yang sibuk mengoceh dan mengomel bahkan hingga menjadi uring-uringan tak jelas. Ia fokus menyetir, pikirannya hanya tertuju pada Jisung.

Jika Haechan pernah bertemu Jisung. Itu artinya Jisung pernah ke Korea dan bertemu dengan Renjun.

Jaemin hanya ingin tahu kebenarannya sesegera mungkin. Ia ingin bertanya langsung pada Renjun. entah bagaimanapun caranya, Jaemin hanya ingin tau kebenaran dari mulut anak itu.

Setelah melewati jalanan ramai dengan kecepatan di atas rata-rata dan ditemani omelan Haechan yang semakin menjadi-jadi, Jaemin sudah mengantarkan anak itu pulang dengan selamat ke depan rumah. "Jaemin, bagaimana dengan tugas seni musiknya?!" Haechan menggedor kaca mobil Jaemin yang sudah tertutup, berteriak kencang setelah keluar dari Tesla model X Jaemin. Sang pengemudi tidak peduli, ia mulai menyalakan mesin mobilnya, hingga suara mesin mengalahkan teriakan Haechan.

Tak menjawab dan tak pamit sama sekali, Jaemin langsung menginjak gas, segera meninggalkan tempat Haechan. Seni musik bisa dipikirkan lagi nanti, menembak Renjun bisa dilakukan besok. Yang jelas, ia harus bertemu Jeno sekarang juga.

Dalam perjalanan, tangan kiri Jaemin sibuk mengendalikan stir mobil, sedangkan tangan kanannya meletakkan ponsel ke telinga, menelfon Mark karena Jeno daritadi tak mengangkat telfonnya. "Halo, hyung, Jeno di rumah?"

"Belum, katanya ada ekskul sepakbola hari ini."

"Hmm."

"Hey, disini ada Renjun, kalau mau kesini tidak papa."

"Tidak hyung. Aku ada urusan dengan Jeno."

Setelah mematikan panggilan dan melempar ponselnya begitu saja ke sembarang arah, Jaemin menginjak gas semakin dalam, melajukan mobilnya semakin kencang. Ia merasa buru-buru hingga dadanya bergemuruh. Sesampainya di depan sekolah Jeno, Jaemin masuk. Sekolah Jeno sepi dan tidak lebih besar dari sekolahnya dan Renjun. Anak itu berlari ke lapangan sepak bola sekolah dan berhasil mendapati sahabatnya sedang menjadi kipper, bermain sepak bola dengan teman-teman yang lain.

"JENO-YA!" teriak Jaemin lantang. Suaranya terdengar di sepanjang penjuru lapangan, membuat para pemain bola di tim Jeno dan lawan, bahkan pelatih mereka menoleh ke arahnya.

"Nana?" ujar Jeno pelan saat mendapati sesosok laki-laki memakai seragam yang bukan dari sekolahnya. Jika Jaemin sampai datang ke sekolahnya, pasti ada hal mendesak yang ingin dia bicarakan. Tak mempedulikan panggilan pelatihnya yang terdengar marah karena Jeno meninggalkan gawang tanpa penjagaan, Jeno berlari begitu saja meninggalkan permainan, mengambil tasnya dan menjauh dari lapangan bola menuju Jaemin.

Perbuatan Jeno yang tiba-tiba saja kabur memancing rasa kesal dari salah satu adik kelasnya. Siswa berwajah bulat dengan kepala besarnya, terlihat angkuh ketika diam saja. Tak lupa bibirnya yang lebar dan mata sipitnya yang memicing tidak suka melihat Jeno, kakak kelasnya, kabur begitu saja tanpa pamit. Tidak sopan. Anak itu benar-benar tidak suka sikap kakak kelasnya yang terkenal berandalan.

Masih mengunyah permen karet dan menatap arah pergi Jeno, siswa tersebut memecah fokusnya karena panggilan dari pelatih mereka. "Zhong Chenle! Gantikan Jeno di kipper!"

"Siap pakl!" Wajah sinis dan penuh dengki adik kelas Jeno pun berubah riang dengan senyuman lebar terukir di wajahnya, berlari kecil menuju gawang dengan manisnya, menggantikan Jeno yang baru saja pergi.

X

X

"Kenapa?" tanya Jeno yang saat ini sudah berada di hadapan Jaemin, keringat mengucur deras karena baru saja berlatih sepak bola dan berlari sekuat tenaga menuju sahabatnya yang satu itu. "Masuk mobilku, kuceritakan disana." Dan dengan itu keduanya berlari kencang menuju ke Tesla model X Jaemin, terburu-buru seperti dikejar setan.

Saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil Jaemin, sang pemilik langsung saja menginjak gas, jauh meninggalkan wujud sekolah Jeno yang mulai mengecil karena mobil semakin menjauh meninggalkan tempat tersebut. Sampai sekolah Jeno benar-benar tak terlihat lagi, Jaemin bicara ke inti. "Jisung pernah kesini," ucap Jaemin, pandangannya fokus ke depan dan rear-view-mirror karena sedang menyetir.

Lelaki yang sedang meminum minuman isotonik di samping seat kemudi langsung tersedak. Ia terbatuk sebentar kemudian mengelap air minum yang membasahi mulut sampai lehernya menggunakan punggung tangan. Dengan matanya yang melotot dan mulutnya yang masih terbuka, Jeno meminta penjelasan. "Mwo?!"

Jeno belum bisa lolos dari keterkejutannya atas perkataan Jaemin. Anak itu tiba-tiba saja membahas Jisung, nama yang sangat terlarang disebut di hadapan Jaemin bahkan olehnya. "Kapan? Bagaimana bisa?" tanyanya setelah akhirnya berhasil meneguk minumannya lagi, wajahnya kebingungan sekarang.

"Aku tidak tahu, Haechan yang bilang padaku," ucap Jaemin sepatah-patah, membuat Jeno semakin bingung. Ia masih menuntut penjelasan dari Jaemin.

"Haechan? Darimana dia tahu?"

Jaemin kemudian menceritakan apa yang sudah ia dengar dari Haechan tadi saat mereka berada di mall, membuat Jeno menoleh ke seat belakang dan mengerti bahwa boneka Moomin yang baru saja dibeli anak itu adalah untuk menembak Renjun, menyatakan perasaan dan meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.

"Kita harus menyelidiki tetangga Renjun yang bernama Chenli itu," ujar Jaemin, menyelesaikan ceritanya.

"Jangan buang-buang waktu," ucap Jeno mantap. "Haechan bilang anak itu masih dua tahun di bawah kita kan? Tidak mungkin jika Chenli tetangga Renjun ada hubungannya dengan ZC." Tangan kanan Jeno menggulung kaos panjangnya sampai lengan. "Aku yakin si ZC ini bukan orang biasa. Jika bukan pembunuh terlatih, dia tetap orang yang berbahaya. Tembakannya lebih akurat dibandingkan—" Jeno tak melanjutkan perkataannya. Ia ingin menyebut nama Jisung tapi tidak mau membuat Jaemin yang sudah terlihat tidak fokus menjadi semakin marah.

"Bagaimana bisa Jisung menemui Renjun di Korea tanpa memberi tahuku?! Apa sebenarnya yang dia rencanakan!"

Jaemin memukul-mukul stir dengan tangan kanannya, membuat Jeno berusaha menenangkan emosi sahabatnya yang memang mudah meledak-ledak, mirip dengan ibunya, Jaemin punya anger issue dalam mengontrol amarahnya. Sering sekali Jaemin akan kehilangan kontrol diri jika sudah benar-benar marah dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya tanpa pandang bulu.

"Tenanglah, Jaemin.." Jeno mengelus lengan Jaemin, mencoba sebisanya untuk membuat Jaemin lebih tenang.

Mencari topik lain agar tak membahas Jisung, Jeno mencoba berpikir. "Hey, apa tak sebaiknya kau membuka diri pada Haechan? Kupikir dia bisa dipercaya seperti Mark hyung."

Bukannya tenang, Jaemin malah semakin marah. Ia bahkan menoleh ke samping dengan otot-otot wajahnya yang terlihat jelas sekali karena menahan amarah, membentak Jeno. "Kau gila?! Mulut Haechan itu seperti tempat sampah! Dia tidak bisa menjaga rahasia sama sekali!"

Jeno yang menerima semprotan Jaemin hanya bisa tersenyum kaku, matanya menyipit takut jika Jaemin semakin menjadi-jadi.

"Walaupun dia sudah pernah bertemu dengan si ketua mafia itu, aku tetap tidak mau mempercayakan urusanku pada Haechan," lanjut Jaemin, matanya memicing membayangkan jika Haechan merusak rencana dan misinya.

"Jeongin tahu identitasmu, kenapa Haechan tidak boleh?"

Merasa dipojokkan oleh Jeno, Jaemin mendecak kesal. "Kau ingin aku menambah jumlah teman?"

Akhirnya tujuan Jeno untuk mengalihkan fokus Jaemin dari Jisung pelan-pelan berhasil. Sahabatnya itu kini mulai masuk ke dalam alur pembicaraan yang Jeno pancing daritadi. "Kenapa tidak? Haechan sahabat Renjun sekarang kan? Kita hanya sahabat Renjun di masa lalu."

Membenarkan perkataan sahabatnya, Jaemin hanya mendecih lalu tersenyum remeh. "Kau gila ya? Ibuku akan memarahiku habis-habisan jika temanku disini semakin banyak. Kau tau sendiri, ibuku hanya mengizinkanku berteman denganmu dan Mark hyung."

"Hey, ibumu sedang tidak di Korea sekarang. Kau tak perlu takut, Nana."

Jaemin hanya diam. Ia terus membenarkan perkataan Jeno dari tadi tanpa bisa menyanggahnya. Selama ibunya tak ada atau ayahnya tak mengawasinya, Jaemin merasa lebih bebas. Ia bisa menjadi dirinya sendiri dan berbuat sesukanya tanpa takut dihukum ataupun dipukul. Ketika di Korea, tak sekalipun ibu Jaemin pernah memberi pujian untuk anaknya sendiri. Wanita paruh baya yang mengandung dan melahirkan Jaemin tersebut benar-benar tak pernah puas dengan apapun yang sudah Jaemin capai.

Jeno sendiri sadar betul bahwa kehidupan Jaemin penuh dengan kekangan. Anak itu masih berada dalam cengkeraman ayah dan ibunya, dikendalikan dari kecil hingga sekarang. Tak seperti ayah Jeno yang membebaskan anaknya berbuat apa saja atau membunuh siapa saja, keluarga Jaemin memiliki aturan super ketat yang tak boleh dilanggar. Hukumannya pun tak main-main jika Jaemin sudah melanggar dan tidak patuh pada kedua orang tuanya.

Tak bisa menjawab perkataan Jeno, mereka larut dalam keheningan masing-masing sampai akhirnya keduanya tiba di depan rumah lelaki bermarga Lee tersebut. Ketika sahabatnya turun dari mobil, Jaemin hanya diam di dalam, ia ingin segera mencari tahu dan menyelidiki siapa sebenarnya sosok ZC. Jeno terlihat tidak sependapat dengannya maka Jaemin memutuskan untuk melakukan penyelidikannya sendirian.

"Kau tidak masuk?" tanya Jeno, melongokkan kepala dan setengah badannya ke mobil.

Jaemin menoleh, matanya tajam menatap Jeno. "Aku ada urusan," ucapnya tegas.

Jeno hanya memejamkan matanya dan memasang senyum lima jari, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan hal itu sukses membuat Jaemin ingin menonjok wajah sahabatnya sendiri. "Urusan apa? ZC atau apa?" tanya Jeno tepat sasaran.

"Kau ingin tahu sekali ya Lee Jeno?" cibir Jaemin memasang senyum remeh. Jeno memang suka sekali ikut campur urusannya. Ia bahkan sering bertanya apa saja aktivitas dan rencana Jaemin beberapa hari terakhir.

Yang lebih mencurigakan lagi, Jeno juga sering bertanya apakah Jaemin akan pergi ke rumahnya atau tidak di hari-hari tertentu. Jika dipikir-pikir, hampir setiap hari Jaemin ditanya oleh Jeno apa rencana selama sehari penuh dan itu benar-benar membuat Jaemin pelan-pelan menumbuhkan perasaan curiga pada sahabatnya itu.

"Hey, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Jaemin, matanya memicing ke arah Jeno yang masih berkeringat. Entah itu adalah keringat karena gugup atau keringat sisa olahraga tadi. Jaemin tahu bahwa Jeno tak bisa membohonginya. Dengan melihat jelas ekspresi wajah sahabatnya yang tiba-tiba diam tak bisa menjawab pertanyaannya, Jaemin semakin memicingkan matanya menatap Jeno, mencari kejujuran yang sedang disembunyikan anak itu.

"Jeno-ya, jangan sembunyikan apapun dariku. Kalau aku tahu kau berbohong. Kubunuh kau."

Dengan itu, Jaemin mendorong Jeno agar segera keluar dari mobil Jaemin. Belum sempat membalas perkataan Jaemin, Jeno menarik sebagian atas tubuhnya untuk kemudian berdiri di samping mobil Jaemin yang mulai mundur, memutar dan kemudian melaju kencang meninggalkan halaman luas rumah Jeno dan Mark.

Setelah mobil Jaemin tak terlihat lagi, Jeno berbalik dan melangkah gontai memasuki rumahnya sendiri. Ia merasa lemas tak bertenaga. Pencegahan dan antisipasi agar Jaemin tak mencurigai dia dan Renjun sudah tercium busuknya oleh Jaemin. Ia sadar bahwa Jaemin tidak bodoh untuk tahu bahwa Jeno sedang menyembunyikan sesuatu darinya, ditambah lagi keduanya sudah berteman sejak masih sangat kecil.

"Hey, kau diantar siapa?" Jeno yang sejak tadi menunduk, mengangkat kepalanya, mendapati sosok lelaki bertubuh mungil dengan senyuman manis menyambutnya di pintu masuk rumah. Itu Renjun yang sedang mengerjakan tugas seni musik di rumah mereka karena sekelompok dengan Mark.

"Aku diantar teman, dia langsung pulang," dusta Jeno yang dipercaya begitu saja oleh si polos Renjun. "Kau sedang apa disini?" tanya Jeno. Wajahnya yang kusut karena Jaemin mencurigainya kini berubah sedikit bersemangat, darah mengalir ke pipinya hingga tanpa sadar melengkungkan senyuman lebar melihat betapa manis dan imutnya tingkah Renjun yang sudah menyambutnya pulang.

Bagaimana tidak? Renjun berdiri menatapnya intens dengan menyimpan kedua tangannya di belakang. Anak itu juga sesekali berjinjit-jinjit untuk menyamai tinggi tubuhnya dengan Jeno. "Mengerjakan tugas seni musik dengan Mark. Dia sedang ke supermarket sekarang, katanya ingin jus semangka." Jeno dan Renjun kini masuk ke dalam rumah dan berjalan beriringan menuju ke sofa untuk menonton televisi bersama, acara kesukaan Renjun, Cartoon Moomin.

"Oh, begitu ya. Mau kutemani nonton kartun badak putih?" tanya Jeno yang sekarang sudah meletakkan pantatnya di atas sofa empuk bersama dengan Renjun. Ia melihat gitar Mark, beberapa kertas berserakan di lantai dan tv layar datar di ruang keluarga sudah menampilkan opening kartun Moomin. Anak itu tak pernah lupa apa hal apa saja yang menjadi favorit Renjun.

"Hey, badak putih itu punya nama, Nono." Renjun mencubit pinggang Jeno yang kini sudah duduk merangkul bahunya.

"Iya, iya!" Jeno mengacak rambut Renjun gemas hingga anak yang bertubuh lebih kecil memeluk Jeno lebih erat dari sebelumnya. Inilah posisi favorit Renjun sejak dulu. Ia suka memeluk Jeno, apalagi saat Nana atau Jisung menjahilinya dan membuatnya menangis. Jeno selalu ada disana untuk memeluk dan menenangkan tangisan Renjun.

"Hey, Nono.." panggil Renjun, masih menyandarkan kepalanya pada dada Jeno, ia duduk dengan nyaman dan merasa memiliki perlindungan penuh dari rengkuhan tangan besar dan lengan berotot teman masa kecilnya itu.

"Apa Injunnie?" sahut Jeno, tangannya yang besar dan kuat sibuk mengelus rambut halus yang melindungi kepala kecil Renjun, siap menghajar siapa saja yang berani menyakiti sahabatnya.

"Bagaimana jika Jaemin memintaku menjadi kekasihnya?" Renjun akhirnya mengungkapkan apa yang sejak tadi ia pendam. Rasa khawatir yang bahkan tak mampu ia bagi dengan Haechan. Tapi dengan Jeno, ia bahkan sangat jujur dan terbuka. Jika Jeno bertanya apa warna celana dalam Renjun, anak itu akan menjawab jujur dengan senang hati.

"Menerimanya lah. Dia sudah berjuang banyak untukmu kan?"

"Tapi bagaimana dengan orang itu? Aku masih menunggunya. Aku tak bisa melupakannya Nono."

X

X

Meninggalkan Jeno dan Renjun yang tenggelam dalam topik pembicaraan mereka dan sibuk memeluk satu sama lain, kedua siswa itu tidak menyadari kehadiran sosok lelaki tinggi berambut pink yang berdiri di ambang pintu. Sosok tersebut terlihat shock. Bibir bawahnya ia gigit kencang, matanya berair karena menyaksikan penghianatan di depan mata kepalanya sendiri secara langsung. Telinganya memerah menahan ledakan amarah yang sudah membuncah minta dikeluarkan.

Sosok tersebut adalah Jaemin. Anak itu mendengar semuanya. Ia sengaja memarkir mobilnya jauh di pinggir jalan dan berlari kembali ke tempat Jeno untuk membuktikan bahwa Jeno tak menyembunyikan apapun di belakangnya. Ternyata dugaan yang ia harap salah adalah kenyataan yang pahit. Semua dugaannya benar. Jeno menyembunyikan sesuatu dan hal tersebut adalah penghianatan besar yang Jaemin terima untuk pertama kali sejak ia lahir ke dunia.

Jaemin begitu percaya pada Jeno. Tak pernah sedikitpun ia berpikir Jeno akan menghianatinya. Tapi apa yang ia lihat dan dengar sekarang? Jeno saling memeluk dengan orang yang menjadi sumber kebahagiaannya di dunia, Renjun. Keduanya bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Ditambah lagi, Renjun bilang bahwa ia tak bisa melupakan seseorang.

Siapa?

Kenapa Renjun tidak jujur sejak awal jika ia menyukai orang lain?

Jika ia tak bisa melupakan orang itu, kenapa Renjun menerima segala perlakuan Jaemin padanya dan bertingkah seolah ia membalas cinta Jaemin?

Kenapa Renjun memberinya harapan? Jika pada akhirnya harapan darinya berakhir sangat menyakitkan dan membunuh perasaan Jaemin perlahan.

Kenapa Renjun sangat pintar berpura-pura di hadapannya hingga membuat Jaemin percaya bahwa anak itu juga mencintainya?

Dan yang paling menyakitkan, kenapa Jeno, orang yang ia percaya sejak kecil, satu-satunya tempatnya berbagi keluh kesah, satu-satunya teman penceritanya, tega berkhianat dan membocorkan identitasnya sendiri pada Renjun?

Jaemin tidak mengerti. Ia sakit hati. Tak ada apapun yang menusuk dadanya, namun rasanya perih dan nyeri. Kelakuan Renjun dan Jeno di belakangnya membuat air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya mengalir sealiran. Anak itu kemudian berbalik pelan, melangkah cepat tanpa suara meninggalkan kediaman sepi keluarga Lee.

"Kubunuh kau, Lee Jeno.."

.

.

.

To be continued.