"Siapa yang menelepon?" Suara halus itu membuat Mingyu mengalihkan pandangannya.

Mingyu baru saja ditelepon oleh sang hyung yang menanyakan keberadaannya. Ketika Mingyu menjawab ia sedang ada di Angelus Café, telepon langsung dimatikan sepihak.

"Hyung." Jawab Mingyu.

Mingyu dan Chaeyeon memesan dua potong tiramisu dengan strawberry mojito dan milkshake coklat.

Perpaduan yang nikmat dengan suasana cafe yang tenang.

"Bagaimana permintaan appa, Gyu-ah? Kau sudah memikirkannya?"

Mingyu menggeleng sebagai jawaban.

"Masih terlalu cepat untukku menikah, Chae. Aku belum siap."

Crling.

Suara pintu café yang terbuka membuat fokus kedua orang itu teralihkan.

Disana terlihat Soonyoung yang masuk dengan langkah lebar.

"Hyung? Kenapa kau disi-"

Buagh.

Sebuah tinjuan mendarat di wajah Mingyu.

"Oppa!" Chaeyeon berteriak saking kagetnya.

Para pelanggan lainnya juga menatap penuh tanda tanya dan keterkejutan.

Mingyu tersungkur ke lantai. Ia bisa merasakan darah yang keluar dari dalam mulutnya.

Mata Soonyoung terlihat menggelap dan tajam. Tangannya masih mengepal wajahnya merah.

Jeonghan dan Myeongho yang mendengar teriakan keluar dari pantry dengan tergesa-gesa.

Jeonghan langsung menuju Mingyu yang tersungkur dan menatap Soonyoung dengan penuh tanda tanya.

"Hyung. Tolong kosongkan café." Ucapan Soonyoung yang penuh geraman itu terdengar mengerikan.

Jeonghan menatap Myeongho dan kini bangun sambil mendudukan Mingyu di kursi semula.

Myeongho langsung menuju ke pelanggan lainnya dan meminta mereka untuk menempati meja yang ada di luar ruang café. Ia juga menutup seluruh tirai agar kondisi di dalam tidak dapat terlihat dari luar.

Setelah ruangan dalam café sepi dan menyisakan mereka, Soonyoung langsung mengangkat kerah kemeja Mingyu. Tak peduli Mingyu yang lebih tinggi daripada dirinya.

"Kau manusia hina! Menemui Wonwoo hanya untuk melampiaskan beban dan membuatnya sebagai objek seks hah!"

Soonyoung menghempaskan tubuh jangkung itu ke kursi.

Mingyu tak melawan karena ia tahu sang hyung marah besar.

"Apa yang terjadi Soon? Tolong kendalikan emosimu…" Ucap Jeonghan yang mencoba menahan tubuh Soonyoung.

"Kau tahu hyung?! Setan ini menghamili Wonwoo walau ia sudah punya tunangan!"

Soonyoung menunjuk Mingyu dengan kasar.

Chaeyeon yang mendengar ucapan Soonyoung terkejut dalam diamnya.

"Dan tahu yang lebih parah? WONWOO MENCOBA BUNUH DIRI DAN IA SEKARANG ADA DI RUMAH SAKIT!"

Bentakan super kencang itu mampu membuat pelanggan yang ada di luar café menengok.

Jeonghan, Myeongho, Chaeyeon, bahkan Mingyu membelalakan mata mereka.

Buagh…

Sebuah tinjuan melayang kembali di wajah Mingyu. Untuk kedua kalinya Mingyu tersungkur di lantai.

"Dan kau anak tunggal keluarga Jung! Aku heran kenapa ayahmu sebegitu inginnya menjadi mertua Mingyu hingga memohon pada Wonwoo melepaskan pertunangannya dengan Mingyu!"

Kini Mingyu yang menyerit dan Chaeyeon yang menatap dengan ketakutan.

"Mau tidak mau, suka tidak suka, Mingyu harus bertanggung jawab. Dan untukmu, Jung Chaeyeon-ssi. Kau tetap bersikukuh dengan Mingyu dan menjadi istri keduanya ATAU kau pergi dengan sukarela?!"

"A..aku…"

"JAWAB!"

Chaeyeon tidak pernah sekali pun dibentak bahkan oleh ayahnya. Kini bentakan Soonyoung membuat seluruh kesadaran gadis itu membeku.

"Soonyoung, cukup. Kita bicarakan dengan kepala dingin." Ucap Jeonghan dengan lembut.

Ia memeluk tubuh Soonyoung yang terasa panas. Ini pasti karena emosinya yang meluap.

Soonyoung perlahan menurunkan bahunya yang tegang. Tubuhnya bergetar dan air mata mulai turun dari pelupuk matanya.

"Hyung… Wonwoo sangat menderita… Ia sa..habatku dan aku tidak bisa ada untuknya… Ma..malah adikku sendiri yang menghancurkan dirinya.. …"

Tangis Soonyoung pecah.

Sosok penuh semangat itu kini berurai air mata. Isakannya terdengar menyakitkan.

Mingyu perlahan bangkit berdiri kala menyasikan hyungnya yang menangis di pelukan Jeonghan.

Myeongho yang sempat menghilang kini hadir dengan membawa kotak p3k.

"Tidak perlu, Myeongho-ya." Ucap Mingyu sebelum Myeongho berbicara.

Dengan lebam dan darah di wajahnya, Mingyu mendekat dan menyentuh bahu Jeonghan. Jeonghan yang mengerti lalu membiarkan Soonyoung jatuh dalam pelukan Mingyu.

"Hyung… Aku tahu hatiku dan maafkan aku karena caraku menunjukan rasa cintaku salah. Aku akan bertanggung jawab karena bagaimana pun, aku menginginkannya. Hanya ini caraku untuk terbebas dari pertunangan. Hyung… Aku akan mengantar Chaeyeon dan membatalkan pertunangan. Tunggu aku di rumah sakit."

Bisikan lirih itu diucapkan Mingyu tepat di telinga Soonyoung menyebabkan sang hyung semakin tenang.

"Jeonghan hyung, Myeongho… Pergilah ke rumah sakit bersama hyung. Aku akan mengantar Chaeyeon pulang."

Tanpa menunggu apapun, Mingyu menarik lengan Chaeyeon yang sudah sedingin es, meninggalkan Soonyoung, Jeonghan, dan Myeongho di dalam café.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Quattuor Coronam lainnya akhirnya berkumpul di ruang rawat Wonwoo.

Soonyoung dan Jihoon terlihat bagaikan bom waktu yang hampir meledak. Mereka benar-benar ingin membunuh Mingyu.

Di sisi lain Hansol hanya terduduk sambil melihat ke arah luar jendela. Menyaksikan pemandangan malam kota Seoul dari sini.

Ketiga orang yang amat dekat dengan Wonwoo itu hanya diam dengan aura mereka masing-masing.

Seokmin tengah berada di ruang direksi rumah sakit karena urusan alat medis baru yang dibeli St. Carat Hospital.

Jisoo, Chan, Seungkwan, Jeonghan, dan Myeongho duduk di sofa dan berbicara banyak hal mengenai kasus yang menimpa Wonwoo.

Di samping ranjang Wonwoo, Seungcheol dan Kihyun duduk dan terlihat berbincang juga. Hyunwoo tidak ada karena masih ada pertemuan bisnis.

Mereka semua sudah tahu permasalahan Wonwoo dan memilih menahan amarah karena baru diberitahu beberapa saat lalu.

Kihyun dengan sayang mengusap surai hitam Wonwoo sambil tersenyum kecil.

Pintu terbuka dan disanalah Mingyu terdiam sambil menatap ke depan.

Seluruh pasang mata menatap kehadiran sang tersangka utama tanpa berniat melakukan apa pun. Terlebih Jihoon, Soonyoung, dan Hansol yang tak ada niat untuk melirik sedikit pun.

"Biarkan sekali saja."

Setelah mengucapkan itu, Seungcheol membanting tubuh tinggi Mingyu ke lantai.

"Akh." Mingyu mengerang menahan rasa sakit.

Kihyun berdiri dari duduknya dan dengan melipat kedua tangannya di dada, ia berdiri tepat di depan Mingyu yang tersungkur.

"Kwon Mingyu, ikut denganku. Hansol, Jihoon, Soonyoung, kalian juga ikut." Titah dari Nyonya Besar Choi itu keluar dengan suara dingin.

Kihyun menggiring empat anak muda itu menuju ruangan Seokmin. Mereka masuk begitu saja lalu mendudukan diri di sofa yang ada disana.

"Aku akan langsung saja, Kwon Mingyu. Aku sangat marah saat ini. Aku berpikir apa aku salah dalam melaksanakan mandat Sungjae hyung dan Sooyoung noona dalam merawat kalian. Jelaskan padaku apa yang ada di otakmu sebenarnya?!"

Lama Mingyu terdiam. Ia sejujurnya merasa terbebani oleh padangan menusuk dari keempat orang yang ada di sekitarnya kini.

"Mian eomeoni. Eomeoni dan abeoji sudah berusaha keras dalam mendidik dan menyayangiku. Aku yang salah eomeoni."

Mingyu menunduk dalam ketika mengatakannya. Ia kini paham bahwa apa yang ia perbuat bukan saja berpengaruh pada Wonwoo dan Chaeyeon, namun juga kepada sosok yang sudah menjadi ibunya ini bahkan berpengaruh pula pada hyungnya, Jihoon, dan Hansol.

Soonyoung dan Jihoon masih terlihat membara sedangkan Hansol terdiam dengan wajah datarnya.

"Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Chaeyeon. Ini adalah keputusanku. Aku-"

Mingyu bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan keempat orang lainnya.

"Ijinkan aku untuk membuat Wonwoo hyung bahagia."

"Apa yang kau lakukan hanya sekedar penebusan dosa? Tak sadarkah bahwa kau yang menjadi sumber kesengsaraan Wonwoo hyung?" Ucapan tajam itu berasal dari Jihoon.

"Tidak. Kalian tahu bahwa aku adalah sumber kebahagiaan Wonwoo, sebagaimana Wonwoo adalah sumber kebahagiaanku." Kata Mingyu dengan penuh keyakinan.

Tak ada yang berbicara setelah itu.

Hingga akhirnya Hansol bangkit dan berdiri di hadapan Mingyu yang masih berlutut.

Dengan itu Hansol meninju dengan keras wajah namja itu.

Suara tinjuan terdengar dengan keras disertai dengan tubuh Mingyu yang tersungkur untuk kesekian kalinya.

Mingyu dapat merasakan pening yang hebat dan darah yang keluar di dalam mulutnya.

"Fuhh…"

Mingyu mengeluarkan gigi gerahamnya yang patah berkat tinjuan itu.

"Eomeoni, aku memberikan restuku." Kata Hansol sambil kembali duduk ke posisinya.

"Berdiri." Ucapan itu keluar dari mulut Jihoon.

Dengan sekuat tenaga, namja tinggi itu bangkit dan berdiri. Tubuhnya bergetar dan terlihat darah yang keluar dari sudut bibirnya.

Buagh…

Untuk kesekian kalinya, Mingyu tersungkur kembali. Kali ini oleh tendangan Jihoon yang mengenai perutnya.

"Eomeoni, aku juga memberikan restuku." Kata Jihoon yang lalu meraih tangan Soonyoung.

Kihyun menatap Soonyoung dan Soonyoung mengangguk sekali. Setelah itu, Soonyoung dan Jihoon berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Kini tersisa Kihyun, Hansol, dan Mingyu yang masih mengerang kesakitan.

Sang Nyonya Besar Choi dan Boss Alligator tersenyum kecil kini. Mereka bangkit dari duduk mereka lalu membantu Mingyu untuk berdiri.

"Aku juga merestui kalian, Mingyu-ah. Tolong jaga Wonwoo dengan hidupmu." Bisik Kihyun sambil memeluk Mingyu.

"Tolong jaga hyungku. Kupercayakan ia di tanganmu." Kini Hansol yang berbicara.

Hansol, Kihyun, dan Mingyu kembali menuju ruang rawat Wonwoo.

Dengan wajah penuh lebam dan bercak darah di tubuhnya, yang lain menatap Mingyu dengan tatapan kasihan namun pantas.

Tok tok tok.

Pintu terbuka kembali dan terlihat Seokmin datang bersama dua orang perawat.

"Jangan berpikiran aneh-aneh oke. Mereka akan merawat luka Mingyu." Kata Seokmin kala menyaksikan pandangan penuh tanya yang dilayangkan kepadanya.

Mingyu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Wonwoo, tepat di samping Seungcheol.

Sembari kedua perawat yang dibawa Seokmin mengobati luka-luka Mingyu, Mingyu terdiam sambil menatap ke Wonwoo.

Wonwoo terlihat sangat cantik walau wajahnya pucat. Mingyu tak melakukan apa pun selama beberapa saat.

Bahkan ketika kedua perawat itu undur diri, Mingyu tak bergeming sama sekali.

Ketika sebuah pesan masuk, Mingyu akhirnya tersadar dan mengambil handphonenya.

'Kami pergi dulu. Jaga Wonwoo hyung.'

Itu dari Jihoon.

Benar saja, tak ada siapa pun di ruang ini kecuali dirinya dan Wonwoo.

Ruangan yang luas ini terasa sepi namun tidak dengan hati dan pikiran Mingyu yang dipenuhi oleh sosok yang amat sangat dicintainya ini.

"Aku tak mencintaimu, Kwon Mingyu. Jadi lebih baik kita akhiri pertunangan kita."

"Keluarga Jung mengirimkan proposal pertunangan untukmu. Kau ingin mengambilnya?"

"Kenapa kau tega?! Baik, kita berakhir. Namun jangan harap aku akan berhenti mengejarmu."

Mingyu tahu cara yang ia ambil salah. Namun cara inilah satu-satunya jalan pintas untuk kembali ke rengkuhan Wonwoo.

"Ngh…"

Erangan kecil terdengar dari mulut Wonwoo.

Secara perlahan kedua kelopak mata itu terbuka.

"Wonwoo hyung…" Ucap Mingyu yang langsung berdiri dan menatap Wonwoo.

Wonwoo terdiam dan mencoba mencerna apa yang terjadi.

"A..ku tidak mati?"

Hancur hati Mingyu kala mendengar pertanyaan Wonwoo. Sebegitu inginnya Wonwoo meninggalkan segala macam bebannya, hingga pertanyaan itu terlontar?

"Hyung… Apa aku bisa menerima maafmu?" Lirih Mingyu.

Wonwoo terdiam dengan wajah datar nan pucat.

"Untuk apa Mingyu-ya? Kau tidak salah."

"Aku bersalah hyung. Aku tidak peka untuk sadar bahwa kau di bawah tekanan untuk melepaskan pertunangan kita. Aku dengan keinginan untuk membuatmu cemburu menerima pertunangan keluarga Jung. Aku brengsek karena melampiaskan seluruh hal padamu dan membuatmu menderita. Aku salah hyung!"

Kali ini tak ada balasan yang keluar dari mulut Wonwoo.

Namun tangan kanan Wonwoo yang tidak terbalur gips meraba area perutnya.

"Ia masih ada?" Tanya Wonwoo.

Mingyu mengangguk sebagai jawaban. Sebuah senyuman kecil ia berikan ke Wonwoo.

Tangan Mingyu terdiam di atas tangan Wonwoo.

"Anak kita masih ada. Ia akan lahir ke dunia dan menjadi sosok yang membanggakan appa dan eommanya."

Tak tahukah Mingyu, ucapannya itu membuat Wonwoo tersakiti? Setetes air mata turun dari manik hitam sosok yang tengah mengandung itu.

"Kau sudah bertunangan Mingyu-ya… Jangan berikan harapan padaku, ku mohon…"

"Aku membatalkan pertunanganku. Aku hanya ingin dirimu."

"Ming… tapi…"

"Aku akan fokus pada dirimu dan anak kita. Sekarang istirahatlah, hyung."

Kedua pasang mata itu saling membaca satu sama lain. Mengekspresikan cinta membara yang akhirnya tidak perlu ditahan juga dengan rasa rindu yang luar biasa.

"Aku pulang."