Chapter 26
warn: typos/ gaje/ super overpower ernemies/chapter super paaannnjjjaaaaannnnnggggg/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe).NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc
Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"
Perubahan usia chara:
Naruto: 20 tahun
Konan: 22 tahun
Yugao: 23 tahun
Tayuya: 20 tahun
Shizuka: 20 tahun
Guren: 22 tahun
Hinata: 20 tahun
Hanabi: 18 tahun
Kaguya: 22 tahun
Sara: 20 tahun
Spesifik tentang OC:
Jun: Dia adalah seorang perempuan cantik yang memiliki surai hitam panjang sepunggung dan iris mata berwarna hitam. Tinggi Jun berkisar antara 160cm dan memiliki usia sekitar 20-23 tahun(dalam usia manusia). Dia memilki sepasang sayap berwarna putih di punggungnya yang bisa dia sembunyikan sesuka hatinya. Dia juga adalah seorang dewi ruang dan waktu yang memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan ruang dan waktu. Jun memiliki sifat ceria dan suka bercanda(mempermainkan orang lain terutama Naruto jika pemuda tersebut tidak mau mendengarkannya). Saat ini tujuan perempuan cantik ini adalah memberi petunjuk untuk Naruto. Dia merupakan adik kembar dari Messiah.
Messiah: Dia seorang perempuan cantik dengan surai hitam selutut dan iris mata berwarna merah ruby. Tinggi Messiah berkisar antara 166-170cm dan memiliki usia tidak beda jauh dari Jun. Dia memiliki paras yang mirip dengan Jun. Yang membedakan dia dengan Jun adalah iris matanya yang berwarna merah seperti sepasang ruby yang indah serta sebuah ruby berukuran kecil yang berada di dahinya seperti mata ketiga. Iris indahnya akan seperti menyala apablia dia sedang dikuasai kebenciannya atau mengeluarkan kekuatannya. Tidak lupa sayap hitam di punggungnya yang bisa ia sembunyikan atau dia dikeluarkan sesuka hatinya. Sayap hitam di fanfic ini memiliki arti jika sosok tersebut adalah seorang dewa atau dewi yang telah berkhianat atau telah dikuasai oleh kebencian yang sangat kuat. Dia memiliki sepasang sayap berwarna hitam seperti sayap seekor burung gagak. Dia dulunya adalah seorang dewi cinta yang penuh dengan kasih sayang. Akan tetapi semua sifatnya berubah akibat kekasihnya yang dikeluarkan dari kayangan atas perintah Kami sama. Hal tersebut membuatnya tertelan kebencian hingga merubah sayapnya yang awalnya juga berwarna putih seperti milik Jun.
Raja iblis (?): Dia adalah sosok yang memliki kulit coklat gelap dan wajah yang menyeramkan. Jika dalam dunia manusia, dia memiliki usia sekitar 40 tahun dengan tinggi badan antara 180-183cm. Dia juga memiliki kekuatan besar dan tubuh yang sangat kekar. Dia selalu mengenakan baju khas petarung berwarna hitam dengan lengan yang dirobek dan robekan di bagian ujung celananya yang berarna senada(seperti seragam para atlet karate bedanya ini berwarna hitam). Dia memilki surai merah yang selalu dia ikat ke atas seperti para samurai jaman dulu. Iris matanya berwarna merah darah bahkan, bagian mata yang seharusnya berwarna putih juga berwarna merah. Dia memiliki sifat yang tempramen dan sangat ringan tangan terutama pada adik iparnya. Dia menjadi raja iblis karena dia berhasil membunuh raja iblis sebelum dirinya di ajang turnamen dunia iblis yang diadakan setiap beberapa tahun sekali.
Rin(Istri sang raja iblis): Rin adalah sosok perempuan cantik yang selalu mengenakan kimono formal kemanapun dia pergi. Perempuan ini jika dikategorikan sebagai manusia, dia memiliki usia sekitar 21 tahunan dan memiliki tinggi antara 160cm. Wanita ini memiliki dada yang terbilang kecil untuk wanita seusianya. Dia juga selalu menutup kedua matanya. Meskipun begitu, dia mampu berjalan tanpa menabrak benda apapun seolah dia bisa melihat sekitarnya seperti orang normal. Wanita ini memiliki sifat yang cenderung tenang dan kalem. Kekuatan wanita ini masih misterius. Dia adalah kakak kandung dari iblis yang bernama Ryoji.
Ryoji(Adik ipar sang raja iblis): Ryoji adalah sosok iblis yang memiliki perawakan kurus tinggi dengan tinggi mencapai 198 cm(lebih tinggi dari kakak iparnya). Dia memiliki kulit putih pucat dan iris mata berwarna biru langit. Jika dikategorikan manusia usianya berkisar antara 17-18 tahunan dengan surai hitam panjang yang selalu dia ikat pony tail. Pemuda ini memiliki sifat tenang akan tetapi sifat tenangnya tersebut lebih condong ke arah santai(berbeda dengan kakaknya yang kalem). Kekuatannya juga masih misterius. Salah satu kekuatannya saat ini adalah dia memilki kemampuan regenerasi yang luar biasa cepat. Bahkan dia mampu menyembuhkan sekujur tubuhnya yang terluka akibat dihempaskan oleh sang kakak ipar hanya gara-gara satu tong sake.
The owner of Naruto is Masashi Kishimoto
Let the story begin...
Dini hari di desa Konoha, tepatnya di dalam kediaman megah milik Naruto lebih tepatnya di dalam kamar yang terlihat luas yang berada di dalam kediaman megah tersebut...
Tiba-tiba seorang pemuda bersurai kuning jabrik dengan paras tampan muncul di tengah kamar tersebut. Pemuda tersebut terlihat melepaskan haorinya dan menaruhnya di atas kasur king size yang ada di dalam kamar dengan asal.
Setelah menaruh haorinya dengan asal, pemuda tampan tersebut terlihat langsung menghempaskan tubuh bagian atasnya ke atas kasur dan langsung menutup iris birunya dengan kelopak matanya.
Ingatan pemuda tampan tersebut memutar kembali pembicaraannya dengan sosok perempuan yang mengaku sebagai dewi ruang dan waktu beberapa saat yang lalu saat mereka berada di kantor Hokage...
Flashback
"Baiklah Naruto kun, tujuanku kemari tidak lain adalah untuk menanyakan apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?" Tanya Jun yang terlihat sedang duduk di kursi tempat Naruto bekerja dengan kedua kaki yang berada di atas meja.
"Hwai'." Jawab Naruto singkat. "Awku swudah ywakin dwengan kweputuswan itwu." Lanjut Naruto dengan nada yang terdengar mantab meskipun dengan ucapan yang kurang jelas.
Keadaan Naruto saat ini benar-benar mengenaskan. Wajah tampannya terlihat sangat babak belur dan penuh lebam. Bajunya serta haorinya terlihat compang camping seperti orang gembel. Beberapa luka juga terlihat masih mengeluarkan darah segar dari sumbernya.
Kelihatannya Jun tanpa ragu langsung memberi sebuah pelajaran yang takkan Naruto lupakan karena telah menghina seorang dirinya yang notabene adalah seorang dewi.
"Hah... Baiklah kalau begitu..." Ucap Jun setelah menghela nafas panjang. "Baiklah, besok aku akan langsung menjemputmu dan kita bisa langsung berangkat setelah acara yang telah kau siapkan untuk para istrimu." Lanjut Jun sambil tersenyum manis kepada lelaki yang ada di depannya yang telah ia hajar habis-habisan.
'Padahal dia habis menghajarku habis-habisan, tapi kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu?' Tanya Naruto dalam hati. 'Apa benar dia ini seorang dewi?' Lanjtunya masih dalam hati.
"Apa kau mau bukti lagi, Naruto kun?" Wajah cantik Jun yang awalnya dihiasi sebuah senyuman manis langsung digantikan dengan seringai mengerikan yang kembali terukir di wajah cantiknya.
Naruto lupa jika sosok di depannya ini bisa membaca isi hatinya. Pemuda tersebut langsung menggelengkan kepalanya yang dipenuhi keringat dingin dengan sangat cepat setelah mendengar pertanyaan Jun barusan.
Ctak
"Baiklah, sekarang kau bisa pulang, Naruto kun." Ucap Jun setelah ia menjetikkan jarinya.
Tepat setelah suara jentikan jari Jun, keadaan Naruto kembali seperti sedia kala seolah tidak ada yang terjadi padanya sebelumnya. Bukan hanya keadaan fisiknya saja, pakaian yang dikenakan Naruto yang tadinya compang camping juga ikut kembali seperti baru.
"Jun san-" Saat Naruto hendak mengucapkan sesuatu, iris biru indahnya yang seindah langit sudah tidak melihat keberadaan perempuan cantik bersurai hitam yang tadi berada di sana.
Naruto terlihat mengedarkan pandangannya pada sekitarnya untuk memastikan jika Jun sudah benar-benar meninggalkan kantor tempatnya bekerja.
"Hah... Sepertinya dia tidak keberatan dengan keputusan yang aku buat." Ucap Naruto pada dirinya sendiri sebelum ia meninggalkan kantor Hokage menggunakan hiraishin.
End of flashback
Setelah mengingat kejadian tersebut, Naruto langsung berdiri dari posisinya saat ini dan langsung duduk bersila di atas lantai kamarnya.
Kemudian pemuda berparas tampan tersebut terlihat membuat sebuah handseal.
"Kage Bunshin no Jutsu" Ucap Naruto dengan nada yang pelan. Setelah itu mengucapkan nama jutsunya, sekumpulan asap muncul dihadapan Naruto. Beberapa detik kemudian asap tersebut menghilang meninggalkan dirinya serta seorang bunshin yang terlihat duduk bersila dihadapan pemuda tampan bersurai kuning cerah tersebut.
Setelah melihat adanya sosok yang mirip dengannnya berada dihadapannya, Naruto lalu menutup kedua matanya lalu berkonsentrasi lagi. Beberapa detik kemudian, chakra berwarna merah menguar dari sekujur tubuh Naruto. Chakra tersebut terlihat mendekati sosok bunshin yang ada dihadapan Naruto saat ini.
Chakra tersebut lalu terlihat langsung menyelimuti seluruh tubuh bunshin buatan Naruto sebelum menghilang atau lebih tepatnya merasuki tubuh bunshin Naruto. Kedua iris bunshin Naruto yang awalnya berwarna biru seindah langit perlahan berubah menjadi merah darah dan pupil matanya juga ikut berubah menjadi vertikal.
"Tumben sekali kau menaruhku kedalam wadah bunshin seperti ini, Naruto." Tanya sosok bunshin Naruto dengan suara berat dan jauh berbeda dengan suara asli Naruto. Ternyata bunshin yang dipanggil Naruto ia jadikan sebagai wadah sementara untuk partnernya Kurama. "Bukankah jika kau ada perlu denganku, kau tinggal masuk saja kedalam alam bawah sadarmu?" Lanjut Kurama yang berada di dalam tubuh bunshin Naruto bertanya pada sosok di depannya.
"Tidak ada apa-apa, Kurama..." Jawab Naruto dengan nada yang terdengar kurang bersemangat. "Dan juga, aku sedang malas untuk berkonsentrasi kalau hanya untuk menemui dirimu di dalam alam bawah sadarku." Lanjut Naruto menjawab pertanyaan sang partner. Sepertinya pemuda tampan bersurai kuning tersebut sangat asal dalam memilih jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan sang partner padanya.
"Dari jawabanmu barusan, aku bisa menyimpulkan jika kau masih memikirkan tentang keputusan yang kau buat, kan?" Tanya Kurama yang ada di dalam tubuh bunshin Naruto. "Atau mungkin tepatnya kau masih ragu dengan keputusan yang kau buat sendiri." Lanjut Kurama seolah berusaha memojokkan Naruto.
Naruto hanya bisa diam seribu bahasa setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Kurama padanya. Ia tidak menyangkal sama sekali jika perkataan sang partner benar adanya. Sepertinya sang karakter utama dalam fanfic ini benar-benar bingung harus membuat keputusan seperti apa.
"Apakah menurutmu keputusan yang aku buat sudah benar, Kurama?" Tanya Naruto pada bunshin yang ada dihadapannya.
Kurama yang berada di dalam tubuh bunshin Naruto terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Naruto..." Ucap Kurama dengan nada yang terdengar tenang dan serius. "Jika kau menganggap ini adalah keputusan terbaik, maka lakukanlah tanpa keraguan. Akan tetapi jika kau ragu dengan keputusanmu, maka kuatkanlah tekadmu dan yakinlah jika keputusan yang kau buat memang benar-benar akan menjadi jalan keluar terbaik." Lanjut Kurama panjang lebar menasehati Naruto.
Naruto langsung termenung setelah mendengar nasehat dari sosok yang ada dihadapannya. Keraguan yang bersemayam di hati Naruto tentang keputusan yang ia buatpun sedikit memudar berkat ucapan Kurama barusan. Cahaya di mata birunya yang seindah langit siang hari mulai sedikit terpancar kembali.
"Begitu ya..." Ucap Naruto yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. "Arigatou, Kurama." Lanjut Naruto berterima kasih dengan nada tulus kepada sosok yang berada dihadapannya.
Kurama hanya menampilkan seeringainya setelah melihat perubahan di wajah Naruto yang sejak tadi terlihat murung lalu berubah menjadi dipenuhi oleh semangat lagi. Setelah itu dia terlihat mengangkat tangan kanannya yang terkepal kehadapan Naruto.
Naruto yang melihat hal tersebut langsung tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan kanannya yang juga terkepal untuk tos dengan sang partner yang saat ini berada di depannya.
"Apapun yang akan terjadi, kita akan menghadapinya bersama." Ucap Naruto dan Kurama secara bersamaan sambil menyatukan kedua kepalan tangan kanan mereka.
Setelah melakukan hal tersebut, Naruto langsung berdiri dari posisi duduknya di atas lantai dan langsung berjalan menuju kasur king size yang berada dikamarnya. Dia langsung membaringkan dirinya dan langsung menutup iris yang seindah langit cerah dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya.
Bunshin Naruto yang kerasukan oleh Kurama terlihat berdiri sambil memandangi senyuman yang terukir di wajah tampan Naruto. Beberapa saat kemudian, chakra berwarna merah mulai menguar dari seluruh tubuh bunshin tersebut lalu secara perlahan masuk kedalam tubuh Naruto.
POOF
Setelah semua chakra Kurama telah masuk kedalam tubuh Naruto, bunshin Naruto langsung meghilang dari tempat tersebut dalam kepulan asap.
Sementara itu di tempat lain yang berada lumayan jauh dari rumah Naruto...
Terlihat seorang wanita cantik dengan usia sekitar 30 tahunan berwajah cantik dengan iris coklat dan surai berwarna senada yang dicepol dua sedang berjalan sendirian menyusuri jalanan desa Konoha yang terlihat semakin sepi.
Sesekali perempuan cantik tersebut terlihat menyapa beberapa penduduk desa yang terlihat akan mengakhiri aktifitas mereka karena hari yang sudah mulai larut. Meskipun berjalan sendirian di jalanan desa yang mulai gelap dan sepi, langkah kedua kaki jenjang perempuan tersebut terlihat anggun dan tenang. Wajahnya yang cantik terlihat menatap lurus kedepan sambil sesekali menoleh ke arah suara yang menyapanya.
"Hai, Tenten san." Sapa seorang perempuan yang terlihat memakai pakaian berwarna ungu dan bersruai kuning yang dikuncir ponytail pada Tenten ketika iris biru pucatnya melihat Tenten yang berjalan sendirian di jalanan desa Konoha.
"Hai, Ino san." Jawab Tenten sambil mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja menyapanya. "Tumben sekali kau buka sampai larut malam begini, Ino san?" Lanjut Tenten bertanya pada wanita cantik yang terlihat sedang memasukkan buket bunga dalam keranjang yang ia jual kedalam kediamannya.
"Ah iya, aku sekalian menunggu suamiku kembali dari patroli rutinnya." Jawab Ino saat ia telah menaruh keranjang yang dipenuhi bunga kedalam kediamannya. "Kau sendiri darimana sehingga baru pulang larut malam begini?" Lanjut Ino yang melontarkan pertanyaan balik pada wanita cantik bersurai coklat tersebut.
Semenjak pertarungan tidak seimbang antara Naruto dengan kakak Jun tempo hari, jam malam pun jadi diberlakukan secara rutin. Beberapa rookie dan para shinobi sekelas jonin, jonin elite, dan anbu ditugaskan langsung oleh Naruto untuk melakukan patroli malam secara rutin.
Hal ini hanya untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terulang kembali. Saat ini Konoha telah memasuki tahap siaga dan meningkatkan keamanannya hingga maksimum.
"Aku tadi sedang berjalan-jalan untuk mencari udara segar dan tanpa terasa ternyata sudah selarut ini." Jawab Tenten jujur. "Oh iya, bagaimana kabar Sai san?" Lanjut Tenten saat ia mendengar Ino membahas lelaki tampan berkulit pucat yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
"Dia baik-baik saja." Jawab Ino singkat sambil memasukkan keranjang terakhir kedalam kediamannya. "Mari masuk, kita lanjutkan pembicaraannya di dalam saja."lanjut wanita cantik dengan iris biru pucat tersebut sambil mempersilahkan Tenten untuk masuk kedalam kediamannya bersama sang suami yang masih belum terlihat batang hidungnya.
"Terima kasih atas keramah tamahanmu, Ino san." Jawab Tenten saat ia melihat Ino mempersilahkannya masuk kedalam. "Tapi kurasa lain kali saja aku akan mampir ke kediamanmu." Lanjut Tenten dengan nada yang terdengar ramah dan sebuah senyuman yang terukir manis di wajah cantiknya.
"Begitu ya..." Jawab Ino dengan nada yang terdengar sedikit kecewa. Sepertinya wanita cantik ini merasa kesepian di dalam kediamannya karena harus menunggu kepulangan suaminya seorang diri. Anak wanita tersebut juga tidak terlihat sama sekali. Sepertinya lelaki remaja berusia belasan tahun berkulit pucat tersebut sudah terlelap lebih dulu.
"Sekali lagi aku minta maaf, Ino san." Ucap Tenten sambil membungkuk 90 derajat. "Kalau begitu aku pamit undur diri dulu." Lanjut Tenten berpamitan pada wanita di depannya.
"Tidak usah merasa bersalah begitu, Tenten san." Jawab Ino sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. Ia jadi malah merasa bersalah karena seperti menyusahkan Tenten demi menemaninya. "Kalau begitu, hati-hati selama di jalan, Tenten san." Lanjut wanita cantik tersebut.
Tenten hanya mengangguk sambil tersenyum manis untuk menjawab perkataan Ino padanya. Setelah itu, wanita cantik setengah baya tersebut terlihat melangkahkan kakinya dan terlihat mulai menjauh dari kediaman Ino.
Beberapa saat kemudian...
Tenten terlihat melanjutkan perjalanannya seperti sebelumnya. Dia terlihat berjalan dengan irama yang tenang dan anggun. Wanita cantik tersebut terlihat berjalan menyusuri jalan desa Konoha yang sangat sepi dengan langkahnya yang tenang.
WUSSSHHHH
Terpaan angin malam yang menusuk kulit menerpa wajah cantiknya dan membuat rambut cepol kepangnya berkibar kebelakang. Terpaan angin yang lumayan kencang dan tiba-tiba tersebut membuat Tenten menghentikan langkah kakinya yang sejak tadi terus berjalan menuju kediamannya.
"Aku tidak menyangka jika malam ini akan sangat dingin." Ucap Tenten pada dirinya sendiri. "Seandainya saja aku membawa pakaian yang tebal, pasti aku tak akan kedinginan." Lanjut wanita cantik tersebut merutuki dirinya sendiri sambil memegang kedua lengan bagian atasnya menggunakan telapak tangannya untuk mendapatkan kehangatan.
Saat Tenten sibuk menggosok kedua lengannya ia terlihat mengalihkan pandangannya kesana kemari untuk melihat daerah sekitarnya.
"I-itu kan..." Tiba-tiba Tenten menghentikan gerakan kepalanya dan menggosok tangannya saat iris coklatnya melihat sesuatu yang membuatnya tertarik sekaligus sedikit ketakutan.
Yang dilihat Tenten saat ini adalah sebuah kediaman berukuran sedang yang terlihat dalam masa perbaikan. Wanita cantik tersebut terlihat melangkahkan kakinya untuk melihat lebih dekat apa yang dilihatnya saat ini. Ia terlihat seolah penasaran dengan rumah berukuran sedang yang masih dalam perbaikan yang ada di depannya.
Ini bukanlah kali pertama Tenten melihat rumah diperbaiki. Akan tetapi yang menarik perhatian wanita tersebut adalah bekas lubang di pagar dan tembok yang ada di depannya. Benar, rumah tersebut adalah salah satu saksi bisu tentang betapa mengerikannya lawan yang akan dihadapi Naruto nantinya.
Tenten terlihat menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di depan tembok yang terlihat memiliki lubang yang masih menganga. Iris coklatnya bisa melihat dengan jelas meskipun dengan penerangan yang minim apa yang ada di depannya. Sebuah lubang di dinding rumah dan sebuah jejak bekas sesuatu atau seseorang yang diseret atau mungkin berusaha menahan sesuatu yang mendorongnya dengan sangat kuat.
"Naruto kun..." Ucap Tenten dengan nada khawatir saat ia menunduk untuk melihat dengan lebih jelas jejak bekas Naruto yang terseret akibat serangan lawannya.
Entah mengapa perasaan takut bercampur khawatir tiba-tiba menyelimuti hatinya yang sejak tadi tenang. Setelah beberapa detik menunduk untuk melihat jejak tersebut, wanita cantik bersurai coklat tersebut terlihat menolehkan wajah cantiknya ke kanan dan kiri. Sepertinya ia berusaha untuk menepis rasa khawatir dan takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Plok plok
"Naruto kun pasti baik-baik saja." Ucapnya pada dirinya sendiri sambil menepuk kedua pipi di wajah cantiknya. Setelah itu, ia terlihat menegakkan tubuhnya lalu mulai berjalan menjauh dari tempat tersebut.
Meskipun wanita berparas cantik tersebut mencoba berpikir positif, akan tetapi sepertinya hal tersebut tidak bisa membohongi hatinya yang gelisah akibat insiden beberapa waktu yang lalu. Hal itu terbukti dari wajah cantiknya yang berubah muram ketika ia mengingat hal yang baru saja ia lihat
Tenten memang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Naruto seperti suaminya yang tidak lain adalah Rock Lee. Akan tetapi entah mengapa wanita cantik tersebut tidak bisa mengusir perasaan buruk yang terus merayapi hatinya jika dia berpikir tentang apa yang telah menimpa Naruto tempo hari.
Akan tetapi ingatannya tiba-tiba mengulas balik tentang ingatannya saat ia pertama kali bertemu Naruto yang saat itu dalam wujud perempuan. Saat itu dia tiba-tiba lepas kendali dan memperkosa Naruto di dalam gudang penyimpanan di rumah sakit desa Konoha.
Wajah cantiknya langsung berubah memerah padam saat ia mengingat pernah memperkosa Naruto akibat dikuasai nafsu birahi yang tiba-tiba menggebu akibat melihat senyuman cantiknya. Hawa dingin yang sejak tadi menusuk kulit putihnya langsung tak ia rasakan saat ingatannya mengingat hal yang menurutnya memalukan tersebut.
"Aduh, kenapa aku malah mengingat hal itu sih..." Ucap Tenten pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya yang berubah menjadi merah padam. Saking malunya, ia bahkan sampai berjongkok di tengah jalan yang akan ia lalui untuk menuju kediamannya.
Saat Tenten masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tidak sadar jika ada seorang perempuan yang sedang berjalan dari arah belakangnya. Perempuan tersebut terlihat menghentikan langkahnya beberapa meter dari Tenten saat ia melihat wanita cantik tersebut sedang berjongkok di tengah jalan sambil menutupi wajahnya.
Dia berpikir jika perempuan tersebut tengah menangis di tengah jalan sendirian. Kemudian perempuan tersebut terlihat mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa wanita yang ada di depannya.
"Onna san, anda baik-baik saja?" Tanya sebuah suara perempuan yang muncul entah darimana yang berasal dari belakang Tenten yang masih berjongkok sambil menutupi wajah cantiknya.
Karena daerah di sekitar dua perempuan tersebut, sang penyapa jadi tidak bisa melihat dengan jelas sosok Tenten yang sedang berjongkok membelakanginya.
"HA-HAI', A-AKU TIDAK APA-APA KOK." Jawab Tenten dengan suara lantang sambil berdiri dari posisi jongkoknya dan memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang barusaja mengejutkannya.
Orang yang tadinya menyapa hanya memandangnya dengan tatapan biasa dan terlihat tidak begitu terkejut dengan jawaban Tenten meskipun suaranya cukup lantang karena daerah di sekitar mereka telah sunyi.
"Tenten san?" Ucap sang penyapa saat ia mengenali suara Tenten. "Apa yang kau lakukan dini hari disini? Apakah kau sedang menangis?" Lanjut sang penyapa yang melontarkan pertanyaan secara beruntun.
"Yu-Yugao san?" Tanya Tenten untuk memastikan sosok yang ada di depannya saat iris coklatnya tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang ada di depannya.
"Hai', ini aku Yugao." Jawab sang penyapa yang tidak lain adalah Yugao yang sedang memakai pakaian anbu tanpa topengnya. "Apa yang kau lakukan disini, Tenten san?" Lanjut Yugao yang mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.
Entah sejak kapan Yugao jadi sering bertugas tanpa menggunakan topeng anbunya. Bahkan para penduduk desa sudah banyak yang tahu tentang salah satu istri Naruto yang memiliki paras cantik dengan surai ungu panjang tersebut yang dulunya selalu bertugas di balik topeng nekonya saat ia masih menjabat sebagai anbu terpercaya Hokage.
"Aku-aku tidak sedang menangis, Yugao san." Jawab Tenten dengan nada sedikit terputus-putus sambil mengalihkan wajahnya yang memerah padam kesana kemari. Ia berpikir jika wanita cantik bersurai ungu tersebut bisa melihat wajahnya yang saat ini sedang memerah padam.
"Kalau begitu, kenapa kau sedang berjongkok di tengah jalan seperti seorang anak kecil yang sedang menangis, Tenten san?" Tanya Yugao dengan nada yang terdengar tenang. Sepertinya wanita cantik ini berusaha menenangkan wanita cantik yang saat ini terlihat lebih tua darinya tersebut.
"Aku baik-baik saja, Yugao san." Jawab Tenten dengan nada yang ia usahakan terdengar normal. "Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan disini, Yugao san?" Lanjut Tenten bertanya balik.
"Oh, aku kebetulan sedang berpatroli di daerah sekitar sini, Tenten san." Jawab Yugao dengan nada tenang.
"Oh begitu..." Ucap Tenten yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. "Baiklah kalau begitu aku akan langsung melanjutkan perjalananku untuk pulang. Selamat bertugas kembali Yugao san." Lanjut Tenten sambil membungkuk untuk berpamitan pada wanita cantik di depannya.
"Apakah kau perlu kutemani, Tenten san?" Tanya Yugao dengan nada suara yang terdengar berubah khawatir.
"Tidak perlu, Yugao san." Jawab Tenten cepat sambil membalikkan badannya dan langsung melangkahkan kakinya yang indah untuk melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
Yugao yang hendak mengucapkan sesuatu langsung mengurungkan niatnya saat melihat Tenten langsung meninggalkan dirinya sendirian.
"Hah..." Wanita cantik tersebut hanya menghela nafas panjang sambil mengangkat kedua bahunya setelah itu ia langsung terlihat melompat ke atas atap salah satu rumah penduduk yang ada di sekitarnya. Setelah itu ia terlihat melompat dari satu atap ke atap yang lain dan menjauh dari tempat tersebut.
Tanpa kedua wanita cantik itu sadari, sebenarnya ada sosok lain yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Sosok tersebut terlihat berjongkok di ujung atap rumah yang berada tidak begitu jauh dari sana. Sosok tersebut memperhatikan dalam gelap dan keheningan malam.
"Menarik sekali." Ucap sosok tersebut sambil memperhatikan Yugao yang mulai menjauh. "Sebuah perasaan yang tidak tersampaikan bisa menjadi sebuah bumerang yang sangat mematikan." Lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya dari Yugao yang mulai terlihat samar ke arah Tenten yang mulai melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, sosok tersebut langsung meninggalkan tempatnya mengawasi Tenten dan Yugao tanpa suara.
Kembali ke Tenten...
Wanita berparas cantik ini terlihat kembali kedinginan setelah pikirannya sudah mulai berhenti memutar balik kejadian yang pernah ia lakukan pada Naruto. Kini ia terlihat berjalan sambil mengelus kedua lengan atasnya seperti sebelumnya.
Tap tap tap
Setelah beberapa langkah berjalan, Tenten kembali menghentikan langkahnya. Kali ini dia berhenti karena dia melihat sosok bayangan yang sedang berdiri beberapa meter di depannya. Sosok tersebut tidak terlihat begitu jelas karena pencahayaan di jalan yang akan dilalui Tenten memang sangat minim.
Tenten merasakan sesuatu yang tidak enak langsung merayapi hatinya saat ia melihat sosok tersebut. Kedua kaki jenjangnya langsung bergetar ketakutan.
'Ken-kenapa kakiku tiba-tiba bergetar dan terasa berat?' Tanya Tenten dalam hatinya saat ia merasakan kakinya yang bergetar dan seperti terpaku di tempatnya berdiri saat ini.
DEG DEG DEG DEG
Di saat yang bersamaan jantung wanita cantik bersurai coklat tersebut tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
'A-aku harus segera pergi dari sini.' Ucap Tenten dalam hatinya lagi saat jantungnya mulai berdegup kencang karena perasaan takut yang merayapi hatinya semakin menjadi-jadi.
Setelah itu, wanita berparas cantik tersebut terlihat mengatur nafasnya untuk mengumpulkan keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya sekaligus berusaha untuk memfokuskan semua tenaganya di kakinya.
WUSSSSS
Setelah merasa cukup, Tenten langsung mengerahkan semua kekuatannya untuk melesat meninggalkan tempat tersebut.
Saat ia berada persis di depan sosok yang membuatnya ketakutan, ia memberanikan diri untuk melirikkan iris coklatnya untuk melihat siapa orang yang berani iseng atau ingin mengganggu dirinya yang notabene adalah salah satu jonin elite di desa Konoha.
Akan tetapi Tenten langsung terkejut bukan main saat ia tidak melihat sosok tersebut di tempatnya tadi berdiri. Sosok tersebut telah hilang dari sana. Tenten juga tidak mau ambil pusing dia yang masih melesat tidak mau memikirkan kapan sosok tersebut menghilang dari tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu.
Tap
Setelah kaki Tenten menapak tanah, wanita berparas cantik tersebut langsung menoleh kebelakang, ke kanan, lalu ke kiri untuk memastikan jika dia tidak salah lihat. Setelah itu dia terlihat mengucek kedua bola matanya lalu menoleh sekali lagi ke tempat dimana sosok tadi berdiri.
Dan benar saja, sosok misterius itu tidak ada disana.
'Mungkin aku sudah terlalu lelah karena jalan-jalan berkeliling desa Konoha hingga lupa waktu tadi.' Ucap Tenten dalam hati sambil memegang dahinya lalu menolehkan wajah cantiknya ke kanan dan ke kiri dengan mata terpejam.
Tanpa wanita cantik itu sadari, sosok misterius yang tadi membuatnya merasakan ketakutan tiba-tiba sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.
Sosok tersebut langsung membentuk sebuah handseal menggunakan kedua tangannya. Dan beberapa detik kemudian sekitar 1 meter di depan Tenten yang masih belum sadar muncul sebuah lubang hitam yang cukup untuk seseorang masuk kedalamnya.
"Room: Mirror of World" Ucap sosok yang berada di belakang Tenten dengan suara yang sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar bahkan oleh Tenten yang berada tepat di depannya.
Setelah itu, sosok misterius tersebut melepaskan kedua tangannya yang membuat handseal lalu melangkahkan kakinya kedepan.
Secara ajaib sosok tersebut terlihat menembus tubuh Tenten yang berada di depannya dan mulai memasuki lubang hitam yang ada di depannya.
Saat setengah tububuhnya sudah mulai masuk, sosok tersebut terlihat berhenti sejenak dan mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Tenten yang masih memegangi dahinya.
Tep
Tenten langsung tersadar saat jari-jari sosok tersebut memegang pergelangan tangannya. Wajah cantiknya langsung terlihat ketakutan saat ia melihat setengah wajah sosok tersebut yang masih belum masuk kedalam lubang hitam.
Meskipun Tenten tidak bisa melihat dengan jelas sosok di depannya, tapi dia yakin jika sosok tersebut adalah sosok yang tadi sempat membuatnya bergetar ketakutan.
"Si-siapa-" Kalimat yang akan dilontarkan Tenten langsung terputus saat sosok di depannya langsung menghentakkan tangannya yang telah memegang erat tangan Tenten.
Tenten langsung menuruti insting untuk bertahan hidupnya dan ia mulai berusaha memberontak saat sosok tersebut hendak menariknya kedalam lubang misterius yang entah sejak kapan ada disana.
"SIAPAPUN TO-" Sret tep
Saat Tenten hendak berteriak meminta pertolongan, sosok tersebut langsung menunjukkan dirinya yang sempat masuk kedalam lubang. Dengan gerakan yang sangat cepat, sosok tersebut langsung membekap mulut manis Tenten menggunakan tangannya yang lain.
"Jangan takut, Tenten chan." Ucap sosok tersebut yang ternyata adalah seorang wanita. "Aku tidak akan menyakitimu." Lanjut sosok tersebut tepat ditelinga kanan Tenten.
Slurppp
Setelah mengucapkan kalimat penenang, tiba-tiba sosok tersebut langsung menjilat daun telinga Tenten yang tadi dia beri bisikan.
Pandangan Tenten yang awalnya penuh ketakutan tiba-tiba berubah menjadi kosong seolah pikirannya menghilang meninggalkan dirinya. Gerakan memberontak wanita berparas cantik tersebut juga terlihat sudah berhenti beberapa detik setelah sosok tersebut menjilat telinganya.
Kemudian sosok tersebut membalikkan badannya dengan posisi yang masih sama dan mulai memasuki lubang misterius yang saat ini berada di belakangnya dengan langkah mundur sambil terus membekap mulut Tenten.
"Aku pastikan sebentar lagi kita pasti akan bersenang-senang, Tenten chan." Ucap sosok tersebut kembali di telinga Tenten.
Slurppp
Untuk yang kedua kalinya sosok tersebut menjilati daun telinga Tenten dari belakang sambil terus melangkah mundur. Bahkan sosok tersebut memasukkan lidahnya kedalam lubang telinga Tenten dan terus melakukan hal tersebut sampai dirinya masuk sepenuhnya kedalam lubang yang tadi dia buat.
"Mari kita bersenang-senang bersama dan mencoba saling mengenal satu sama lain, Tenten chan." Ucap sosok tersebut saat dirinya sudah tertelan oleh lubang hitam yang ia buat.
Sementara Tenten sendiri terlihat seperti orang yang telah kehilangan akal sehatnya. Pandangan iris coklatnya yang tadi penuh ketakutan dan kepanikan kini terlihat kosong seolah tidak ada kehidupan.
'Siapapun, kumohon, tolong aku!' Ucap Tenten dari lubuk hatinya yang paling dalam saat ia mulai masuk kedalam lubang misterius itu secara perlahan-lahan.
'Lee, kumohon tolong aku!' Ucapnya dalam hati sekali lagi kali ini air mata wanita cantik tersebut terlihat menetes dari iris coklatnya yang saat ini terlihat kosong. Sepertinya wanita cantik bersurai coklat tersebut tidak bisa menggerakkan tubuhnya saja. Akan tetapi pikiran dan hatinya masih sadar.
'NARUTO KUN, TOLONG SELAMATKAN AKU!' Teriak wanita cantik tersebut dalam hatinya dengan air mata yang berlinang dari iris indahnya yang saat ini terlihat lebih deras sebelum ia benar-benar masuk kedalam lubang hitam misterius karena sosok yang sedang menariknya.
Akan tetapi sepertinya nasib sial sedang bersama wanita cantik tersebut. Hal itu karena tidak ada seorangpun yang datang ke tempatnya bahkan anbu atau para shinobi yang sedang berpatroli malam itu tidak ada yang kebetulan lewat sana.
Setelah Tenten dan sosok tersebut tertelan oleh lubang misterius tersebut, lubang itu langsung menghilang tanpa bekas dari tempat itu.
Sementara itu di tempat yang lumayan jauh dari penculikan Tenten barusan...
Terlihat 5 orang shinobi yang terdiri dari 4 orang yang terlihat memakai setelan jonin dan seorang perempuan berpakaian anbu sedang melompat dari atap ke atap para penduduk desa.
Tap
"Hm?" Gumam seorang wanita bersurai ungu panjang yang memakai pakaian anbu tanpa topeng saat ia berpijak di atas sebuah rumah penduduk. Wanita cantik tersebut tidak lain adalah Yugao. Ia mendadak berhenti saat dirinya merasa indra pendengarannya seperti menangkap sebuah suara teriakan minta tolong yang terputus.
Setelah beberapa saat berhenti, wanita cantik tersebut terlihat menolehkan kepalanya ke arah tempat yang telah ia lewati sebelum ia berkumpul dengan team yang ia pimpin.
Para jonin yang bersamanya secara refleks langsung ikut berhenti di bangunan yang tidak jauh dari Yugao saat mereka melihat sosok yang memimpin mereka tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Yugao san?" Tanya seorang shinobi yang memakai jaket jonin hijau yang melihat wanita cantik tersebut menoleh ke suatu tempat.
"Tidak, tidak ada apa-apa." Jawab wanita tersebut yang tidak lain adalah Yugao. "Mari kita lanjutkan patrolinya." Lanjut wanita berparas cantik tersebut memberi perintah 4 Jonin yang bersamanya.
"Hai'." Ucap ke 4 jonin yang bersamanya secara bersamaan setelah itu, mereka langsung melompat ke bangunan yang lain meninggalkan tempat itu.
'Sepertinya aku mendengar teriakan seseorang barusan.' Ucap Yugao dalam hati yang terdengar ragu. 'Atau mungkin hanya perasaanku saja ya?' Lanjut wanita berparas cantik tersebut masih dalam hati sambil terus melompat di atas bangunan dengan pandangan yang terus menatap kedepan.
Yugao sesekali terlihat menoleh kebelakang, lebih tepatnya ke tempat ia bertemu Tenten beberapa saat yang lalu.
"Kalian ber empat lanjutkan patroli sesuai dengan arahan Hokage." Ucap Yugao yang memberi perintah 4 jonin yang bersamanya dengan nada yang terdengar tegas. "Aku baru ingat jika aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan saat ini juga." Lanjut Yugao sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Setelah itu, wanita cantik tersebut langsung meninggalkan 4 jonin yang berpatroli bersamanya tanpa mendengar jawaban dari para jonin tersebut.
'Seharusnya aku tak meninggalkan Tenten san sendirian disana.' Ucap wanita cantik tersebut sambil terus melompat dari atap ke atap dengan sangat cepat atau lebih tepatnya terburu-buru. 'Semoga saja ini hanya perasaanku saja.' Lanjutnya masih dalam hati sambil terus melompat.
Beberapa saat kemudian...
Tap tap
Yugao langsung menapakkan kedua kaki jenjangnya ke tanah atau lebih tepatnya ke tempat tadi dia bertemu Tenten.
Wanita cantik tersebut langsung menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekitarnya atau lebih tepatnya mencari sesuatu yang mencurigakan dari tempat tersebut.
Iris coklatnya terlihat bergerak cepat untuk melihat sekitarnya.
Yugao benar-benar bergerak dengan kecepatan penuh karena jarak dari tempatnya tadi berhenti ke tempat ini memang lumayan jauh. Meskipun begitu, perempuan tersebut tidak terlihat terengah-engah meskipun telah menempuh jarak yang bisa dibilang jauh tersebut.
Setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, wanita berparas cantik tersebut langsung melesat menuju ke arah yang mungkin akan membawanya ke kediaman Lee aka suami Tenten.
Yugao berlari dengan kencang menembus gelapnya malam itu. Ia tidak mempedulikan betapa dinginnya angin malam yang menusuk wajah cantiknya atau anggota tubuhnya yang tidak tertutup kain atau sarung tangan anbunya.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja bagi Yugao untuk sampai di kediaman wanita yang ia cari. Selain karena dia berlari dengan kecepatan penuh, hal itu juga disebabkan karena jarak rumah Tenten dengan tempat bertemunya memang tidak begitu jauh.
Saat ini di depan wanita berparas cantik tersebut terpampang sebuah toko yang menjual berbagai peralatan shinobi. Di bagian pintu toko tersebut terlihat tulisan 'tutup' yang menggantung tepat di bagian tengah pintu toko.
Yugao langsung mengarahkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu yang ada di depannya.
Tetapi tangan tersebut berhenti tepat di depan pintu. Sepertinya ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu di depannya.
'Mungkin aku terlalu berpikiran buruk.' Ucapnya dalam hati sambil menurunkan tangan kanannya yang hendak mengetuk pintu rumah yang ada di depannya.
Setelah itu wanita cantik tersebut pergi dari sana dengan cara melompat dari atap ke atap kediaman penduduk desa Konoha.
Di tempat lain...
Tempat ini terlihat seperti desa Konoha. Akan tetapi tempat ini terlihat sangat gelap dan tidak ada tanda kehidupan disana. Bangunan-bangunan yang terlihat berdiri kokoh terlihat sangat sunyi. Bahkan suara lolongan anjing atau suara burungpun tidak terdengar di tempat ini.
Di atas sebuah jalan umum yang ada di desa ini, tiba-tiba terlihat sebuah lingkaran hitam aneh yang muncul.
Dari dalam lingkaran tersebut terlihat sesosok misterius yang muncul dengan langkah mundur sambil menyeret seorang wanita.
Sosok tersebut terlihat menghentikan langkahnya saat ia dengan wanita yang dia bawa sudah berada beberapa langkah di depan lingkaran misterius yang ada di depannya. Setelah itu, lingkaran misterius itu menghilang begitu saja seperti kemunculannya beberapa saat yang lalu.
Sosok misterius tersebut terlihat melepaskan wanita yang ia peluk sekaligus ia bekap setelah lingkaran di depannya benar-benar menghilang.
Brukkk
Wanita yang dibawa sosok tersebut langsung terjatuh ke atas tanah saat sosok tersebut melepaskan kedua tangannya. Iris coklat wanita tersebut terlihat kosong dan sembab. Apapun yang dilakukan sosok tersebut pastilah sangat menyakiti hati dan harga diri wanita berparas cantik ini.
Bukan hanya iris coklatnya saja yang terlihat tidak wajar. Telinga wanita berkulit putih dengan surai coklat yang dicepol dua tersebut juga terlihat dipenuhi oleh saliva. Mulutnya manisnya terlihat menghembuskan nafas yang terkesan memburu dan tidak teratur. Dari mulutnya pun juga terlihat saliva yang masih keluar dengan perlahan.
"Ara, maafkan aku Tenten chan jika aku memperlakukanmu dengan sedikit kasar." Ucap sosok misterius yang terlihat masih berdiri dengan tegap di depan wanita yang terjatuh di depannya.
Meskipun sosok misterius itu meminta maaf, akan tetapi nada suara yang dikeluarkan sosok tersebut yang tidak lain adalah seorang perempuan tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun pada wanita yang ia jatuhkan ke atas tanah begitu saja yang tidak lain adalah Tenten. Bahkan nada suaranya lebih berkesan mengejek lawan bicaranya.
Tatapan Tenten yang awalnya kosong mulai bercahaya kembali secara perlahan. Setelah itu, wanita berparas cantik tersebut terlihat berusaha menggerakkan jari-jari lentiknya lalu menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.
Sret tap
Setelah benar-benar sadar, Tenten langsung menggerakkan kedua tangannya untuk mendorong dirinya ke atas udara dan mendarat beberapa meter dari sosok yang tadi menyeretnya dan langsung mengeluarkan kedua gulungan berukuran kecil dari dalam saku celana yang ia kenakan.
Iris coklatnya yang mulai kembali bercahaya dan sedikit sembab terlihat mulai menunjukkan kilatan tajam yang menunjukkan amarah sang pemiliknya. Setelah itu, wanita berparas cantik tersebut terlihat memasang kuda-kuda bertarung khas miliknya.
Wanita cantik bersurai coklat tersebut terlihat menatap tajam sosok yang tadi menyeretnya dan seenaknya menjilati daun telinganya hingga penuh dengan saliva seperti saat ini.
"Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dariku?! Dan dimana ini?!" Tanya Tenten secara beruntun pada sosok yang ada di depannya.
"Ara, Tenten chan, jangan marah begitu, kau membuatku ketakutan." Jawab sosok misterius itu dengan nada yang terdengar takut yang dibuat-buat. "Lagipula, aku kan jadi bingung jika kau langsung melemparkan banyak pertanyaan seperti itu, Tenten chan." Lanjutnya dengan nada yang terdengar mengejek.
"HIAAHHH!" Tenten yang merasa dirinya dihina oleh sosok di depannya langsung membuka kedua gulungan yang berada di genggamannya. Setelah itu, puluhan bahkan ratusan kunai dan shuriken langsung meluncur dari kedua gulungan yang ia genggam dan mengarah kepada sosok yang ada di depannya.
Sosok yang ada di depan Tenten terlihat hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun meskipun ada ratusan kunai dan shuriken mengincar dirinya. Sosok tersebut malah terlihat melangkahkan kakinya untuk memperpendek jarak antara dirinya dengan Tenten.
Saat shuriken dan kunai yang dilemparkan Tenten pada dirinya tinggal beberapa centimeter dari dirinya, benda-benda tajam tersebut terlihat terpental ke segala arah seperti telah menabrak sesuatu yang sangat keras.
"Apa yang terjadi?" Tanya Tenten pada dirinya sendiri yang sangat terkejut saat ia melihat shuriken dan kunai yang ia lemparkan terpental ke segala arah. Beberapa diantaranya ada yang menancap ke atas tanah atau bangunan yang berada di sekitar sosok perempuan misterius tersebut yang terlihat masih berjalan mendekati Tenten.
"Hihihi..." Sosok perempuan misterius tersebut terlihat terkikik geli saat ia melihat ekspresi terkejut bercampur rasa tidak percaya di wajah cantik Tenten. Setelah beberapa saat terkikik geli, dari sosok tersebut terlihat sebaris gigi yang terdiri dari taring semua terlihat melebar di area wajahnya. Sepertinya saat ini ia sedang menyeringai ke arah Tenten.
DEG
Tenten langsung merasa jika jantungnya akan lepas dari tempatnya saat iris coklatnya melihat seringaian sosok di depannya. Kedua kaki jenjangnya yang awalnya terlihat tegap dan kokoh terlihat mulai bergetar karena ketakutan akibat melihat seringaian sosok di depannya.
'Ap-apa-apaan dia ini? Apakah dia ini manusia? Atau mungkin dia ini adalah reinkarnasi iblis?' Tanya Tenten bertubi-tubi dalam hatinya saat ia merasakan ketakutan luar biasa yang pertama kali ia rasakan selama hidupnya.
"Aku bukanlah sosok seperti itu, Tenten chan." Ucap perempuan misterius tersebut. Sepertinya ia bisa membaca isi hati Tenten.
"Ap-apa maksudmu? Siapa sebenarnya dirimu?!" Tanya Tenten yang mencoba memberanikan dirinya. Kedua kaki jenjangnya terlihat masih bergetar karena iris coklatnya yang indah melihat sosok tersebut semakin mendekati dirinya.
"Perkenalkan..." Ucap sosok tersebut menggantung saat ia benar-benar berada di depan Tenten sambil memegang dagu Tenten dengan lembut menggunakan jari lentik tangan kanannya dan mendekatkan paras cantik Tenten pada wajahnya yang masih tidak terlihat begitu jelas untuk Tenten. "... Namaku adalah, Messiah. Aku dulunya adalah seorang dewi cinta yang penuh dengan kasih sayang." Lanjut sosok tersebut dengan nada tenang.
Beberapa detik kemudian, diwajah sosok tersebut terlihat sepasang mata seperti ruby yang terlihat seperti menyala dalam kegelapan dan menatap jauh kedalam iris coklat Tenten. Tidak lupa juga dari punggung sosok tersebut terlihat aura kebencian yang sangat kuat terpancar dari sana.
DEG DEG DEG DEG
Detak jantung Tenten langsung berdetak dua bahkan tiga kali lebih cepat dari normal. Ia benar-benar dipaksa merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama hidupnya.
Iris coklat indah milik Tenten yang awalnya dipenuhi oleh tekad dan keberanian langsung dipenuhi oleh ketakutan sekali lagi saat iris ruby di depannya menatapnya lekat-lekat. Lidahnya terasa kelu bahkan untuk mengucapkan sepatah kata saja. Kedua tangannya yang awalnya terlihat kuat juga terlihat terkulai lemas di samping tubuh rampingnya. Kedua gulungan yang tadinya ia genggam kuat terlihat terjatuh begitu saja di tanah dengan kakinya.
"Jangan takut Tenten chan." Ucap sosok tersebut sambil mengarahkan tangan kirinya untuk memegang tangan kanan Tenten yang terlihat terkulai lemas di samping tubuhnya dengan gerakan lembut. "Setelah ini kau pasti akan mengerti nikmatnya surga dunia yang sesungguhnya." Lanjut sosok tersebut sambil mengarahkan tangan kanan Tenten yang ia pegang ke arah selakangannya yang terlihat celana hitam ketat seperti milik seorang jonin.
Kedua iris coklat Tenten langsung membelalak karena terkejut saat tangan kanannya yang berada di selakangan sosok di depannya menyentuh sesuatu yang menonjol di balik celana yang dikenakan sosok tersebut. Akan tetapi ia terlalu takut walaupun sekedar untuk menarik tangan kanannya yang di genggam dengan lembut oleh sosok di depannya atau sekedar menolehkan wajah cantiknya ke arah lain.
"Bukankah kalian para perempuan manusia sangat menyukai hal ini?" Tanya sosok tersebut yang tidak lain adalah Messiah sambil menjauhkan wajah cantiknya yang masih belum begitu terlihat karena gelapnya malam dari wajah cantik Tenten yang masih menatapnya dengan tatapan ketakutan.
"Oh maafkan aku, Tenten chan. Mungkin kalau begini kau tidak bisa melihat parasku dengan jelas ya?" Ucap Messiah sambil melepaskan tangan kanan Tenten yang ia genggam dengan lembut.
Setelah itu, Messiah terlihat mundur dua langkah untuk membuat jarak dengan Tenten.
"Room: Decoration Mirror of World: Moon" Ctak
Messiah mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Tenten, setelah itu terlihat dia menjetikkan jari lentik salah satu tangannya.
Beberapa detik kemudian, sebuah bulan purnama yang awalnya tidak ada, tiba-tiba muncul di atas kedua sosok perempuan cantik yang berbeda ekspresi tersebut. Bulan tersebut terlihat lebih dekat dari biasanya dan terlihat lebih indah.
Bulan itu langsung menyinari area sekitar Tenten serta Messiah dengan cahayanya. Indra penglihatan Tenten langsung bisa melihat bagaimana sosok yang ada di depannya dengan bantuan cahaya bulan yang baru saja muncul di atasnya.
Tenten langsung diam terpaku saat melihat sosok Messiah tanpa sayap yang berada tepat di depannya. Bedanya saat ini dia diam terpaku bukan karena ketakutan yang merayapi hatinya, melainkan karena dia melihat kecantikan paras Messiah yang luar biasa dan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Can-cantik sekali..." Ucap Tenten tanpa sadar dengan nada pelan bahkan hampir tak terdengar saat iris coklatnya melihat paras Messiah yang menurutnya luar biasa cantik.
Messiah langsung tersenyum manis saat indra pendengarannya mendengar ucapan Tenten barusan. Meskipun Tenten mengucapkan kekagumannya dengan nada pelan ucapan tersebut masih sampai ke daun telinga Messiah karena sepinya daerah sekitar mereka.
Kemudian perempuan dengan surai hitam panjang selutut tersebut terlihat mengibaskan tangan kanannya dari bawah ke atas.
Beberapa saat kemudian, tanah yang ada beberapa langkah di belakangnya terlihat sedikit bergetar lalu dari tanah tersebut muncul sebuah kursi yang terbuat dari batu yang terlihat kokoh dan hanya pas untuk satu orang. Kursi yang muncul tersebut terbuat dari batu berwarna hitam legam dengan sandaran yang tingginya melebihi bangunan di sekitarnya.
Messiah langsung duduk di kursi tersebut dengan kaki jenjangnya yang ia silangkan sambil menatap Tenten yang masih terkagum lekat-lekat menggunakan iris indahnya yang berwarna merah ruby.
"Kemarilah, Tenten chan~" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar manja sambil memberi isyarat menggunakan jari tangannya pada Tenten.
Tenten terlihat seperti terhipnotis dengan ucapan Messiah barusan. Ia terlihat melangkahkan kedua kaki jenjangnya tanpa ragu ataupun takut untuk mendekati Messiah yang duduk di singgah sananya dengan anggunnya.
Tenten langsung menghentikan langkah kakinya ketika lututnya menyentuh kaki jenjang Messiah yang masih tersilang. Setelah itu, wanita berparas cantik tersebut terlihat menatap Messiah dengan pandangan bingung.
Messiah yang mengerti dengan pandangan bingung Tenten langsung membuka kedua kakinya yang tersilang dan memberi isyarat pada Tenten menggunakan tangannya agar wanita cantik bersurai coklat tersebut mendekati dirinya yang masih duduk.
Kelihatannya Tenten tidak mengerti dengan maksud Messiah barusan. Hal itu dibuktikan dari diamnya dan hanya menatap Messiah dengan pandangan bingung.
"Hah..." Messiah hanya mendesah panjang setelah itu ia menjulurkan tangan kanannya untuk menarik Tenten yang masih berdiri di dekatnya kedalam pangkuannya.
"Ah..." Tenten langsung sedikit terkejut saat Messiah menariknya kedalam pangkuannya. Wajah cantik wanita cantik bersurai coklat tersebut langsung terjatuh kedalam buah dada Messiah yang berukuran proporsional.
Setelah itu, Messiah terlihat mendongakkan wajah cantik Tenten dengan cara memegang dagunya menggunakan dua jari lentiknya agar menatap dirinya sekali lagi.
Warning: "Lemon start from now. Futanari inside, Futa domination female." (Bagi yang berusia di bawah 21 atau yang tidak suka lemon atau ilfeel dengan futa(Perempuan yang memiliki penis dan vagina dalam satu tubuh), silahkan dilewati bagian ini sampai pemberitahuan berikutnya.)
Phoenix: "Ngotot, DOSA ATAU KESAL, TANGGUNG SENDIRI!"
Cup
Messiah mencium lembut bibir manis Tenten dengan tiba-tiba.
Wajah cantik Tenten langsung berubah memerah setelah Messiah menciumnya barusan. Ia merasakan bibirnya merasakan sebuah rasa manis yang belum pernah ia rasakan.
"HMMMPPPPHHHH~" Tiba-tiba Tenten langsung menarik wajah cantik Messiah dan membawanya kedalam ciuman yang sangat dalam dan panas. Saat ini Tenten terlihat seperti ketagihan akibat perlakuan kecil dari Messiah barusan.
Tenten terlihat menjilati bibir Messiah dengan gerakan erotis untuk meminta ijin agar lidahnya diperbolehkan memasuki mulut Messiah.
Messiah sendiri terlihat menampilkan senyuman jahatnya saat Tenten berusaha memasukkan lidahnya kedalam mulutnya yang memang sengaja ia tutup rapat.
Tenten terlihat berusaha lebih keras agar lidahnya bisa memasuki mulut Messiah yang seperti menjadi candu bagi dirinya saat ini. Wanita cantik ini terlihat meraba dada dan memainkan nipple Messiah agar perempuan bersurai hitam panjang tersebut mau memberikan akses lidahnya untuk masuk kedalam mulutnya.
Sementara Messiah masih terlihat menutup rapat mulutnya sambil terus menampilkan senyuman jahatnya yang tidak Tenten sadari.
"Muaaccchhhh~ Hah~ Hah~ Hah~" Setelah terus mencoba dan berujung gagal, akhirnya Tenten menyerah dan menarik wajahnya menjauh dari wajah cantik Messiah. Nafas wanita cantik tersebut terlihat terengah-engah dan wajah cantiknya terlihat lebih merah dari sebelumnya.
Saat Messiah melihat Tenten yang menarik wajahnya menjauh darinya, dalam sekejap mata ia langsung menghilangkan senyuman jahatnya dari wajah cantiknya.
"Kenapa kau berhenti, Tenten chan?~" Tanya Messiah dengan nada yang terdengar manis dan dia buat seolah dirinya kecewa dengan keputusan Tenten yang memutuskan untuk berhenti.
"Ha-habisya, Messiah san tidak mau membuka mulut..." Jawab Tenten dengan nada yang terdengar manja sambil memanyunkan bibir manisnya. Sepertinya wanita ini benar-benar dikendalikan oleh Messiah. Hal itu diperkuat dengan seringaian yang muncul di wajah cantik Messiah saat ia mendengar jawaban dari Tenten barusan.
"Kemarilah..." Ucap Messiah yang menarik wajah Tenten dan langsung mencium bibir wanita cantik bersurai coklat tersebut dengan panas.
Messiah langsung melesakkan lidahnya untuk mengobrak-abrik isi mulut Tenten.
Sementara Tenten sendiri terlihat langsung hanyut dalam ciuman tersebut hingga ia tidak menyadari aura jahat yang terus menguar dari balik punggung Messiah sejak mereka memulai adegan panas yang kurang pantas tersebut sejak beberapa saat lalu.
"Muahhh~" Setelah puas bermain dengan mulut Tenten, Messiah langsung menjauhkan cantik wanita bersurai coklat tersebut dari dirinya. Setelah itu, perempuan bersurai hitam tersebut terlihat berdiri dari singgah sananya dan mendorong pundak Tenten dengan lembut agar wanita cantik tersebut berlutut di depannya.
Tenten terlihat langsung menurut begitu saja ketika ia diperlakukan demikian oleh Messiah. Saat ini wajah cantiknya berada tepat di depan selakangan Messiah yang masih terlihat tertutup celana jonin yang ia kenakan.
Sretttt
Tanpa banyak bicara Messiah langsung melepaskan celana jonin yang ia kenakan di depan Tenten. Ia melepaskan benda tersebut tanpa malu dan langsung melemparkannya secara asal ke atas tanah.
Sebuah penis dengan ukuran yang terbilang sangat besar terlihat mengacung dan beberapa kali berdenyut dihadapan wajah cantik Tenten.
Tenten yang melihat ukuran penis di selakangan Messiah langsung terkejut bukan main. Wanita cantik tersebut langsung menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangannya.
Messiah yang melihat ekspresi terkejut Tenten semakin melebarkan seringaian di wajah cantiknya dan iris merah rubynya yang awalnya meredup terlihat kembali di bawah siraman bulan purnama yang ada di atasnya.
"AHHHHHHH~" Dan tanpa aba-aba, Messiah langsung menggenggam kedua pergelangan Tenten yang masih menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya dan membukanya untuk memberikan akses masuk untuk penisnya. Ia langsung melesekkan penis berukuran besar serta panjang tersebut kedalam mulut Tenten sambil menahan tangan wanita cantik tersebut di belakang tubuhnya.
Hal itu membuat Messiah mendesah sangat keras karena ia merasakan kehangatan mulut Tenten. Setelah itu, ia terlihat membebaskan kedua tangan Tenten yang sempat ia tahan.
Perempuan cantik ini terlihat menikmati kehangatan mulut Tenten. Hal itu dibuktikan dari wajah cantiknya yang mendongak dan iris rubynya yang terlihat terpejam lalu terbuka kembali sambil melihat bulan purnama di atasnya.
Iris coklat indah milik Tenten langsung membelalak dan kemudian berputar kebelakang saat penis berukuran besar serta panjang milik Messiah langsung menusuk tenggorokannya dan berdenyut beberapa kali di dalam sana. Saking besar dan panjangnya penis tersebut, benda itu terlihat hingga bagian luar leher Tenten yang terlihat membesar dan otot-otot lehernya yang terlihat dengan jelas.
Pikiran Tenten yang sempat menghilang dan diisi oleh keinginan dunia kembali terisi oleh insting bertahan hidupnya. Ia langsung berusaha memberontak dengan mendorong kedua kaki jenjang Messiah menggunakan kedua tangannya yang telah bebas agar penis yang menusuk tenggorrokannya serta membuatnya kesulitan bernafas keluar darisana.
Tenten berusaha mati-matian mendorong kaki Messiah. Wajah cantiknya menunjukkan sedikit kelegaan saat penis Messiah yang menusuk tenggorokkannya mulai perlahan mundur.
"AHHHHHHHH~" Tiba-tiba Messiah mendesah sekali lagi saat ia dengan tiba-tiba meremas rambut bagian belakang milik Tenten dan sekali lagi melesakkan penisnya untuk menusuk tenggorokan hangat milik wanita cantik tersebut.
"HMMPPPPHHH HMPPPHHHHH" Tenten hanya bisa bergumam tidak jelas sambil memukul kaki jenjang Messiah yang terlihat berdiri kokoh di hadapannya untuk memberi isyarat pada perempuan bersurai hitam panjang tersebut jika dia kesulitan bernafas.
Messiah yang merasakan pukulan-pukulan Tenten langsung menundukkan wajah cantiknya untuk melihat Tenten yang saat ini terlihat sangat tersiksa akibat perbuatannya.
"Mari kita mulai pestanya, Tenten chan~" Ucap Messiah sambil menunjukkan seringaiannya dihadapan wajah cantik Tenten yang iris coklatnya sudah hampir menghilang.
Tenten hanya bisa diam dan perlahan pukulan Tenten di kaki jenjang Messiah terlihat semakin melemas.
Mata ruby Messiah terlihat menyala lebih terang dari sebelumnya sebelum ia memaju mundurkan pinggangnya dengan brutal dan kasar.
Setelah itu, dia terlihat melepaskan tangan kirinya dari kepala Tenten dan langsung meraba ke bagian bawah tubuhnya. Jari lentiknya terlihat seperti memainkan sesuatu yang basah dibawah sana. Ternyata dia memainkan vaginanya sendiri.
"HMMMMPPPPHHH GROOOKKKK" Tenten yang diperlakukan demikian hanya bisa bergumam dan sesekali terbatuk tertahan saat penis panjang serta besar milik Messiah menusuk tenggorokannya terlalu dalam dan tanpa ampun. Kedua tangannya yang tadi sempat melawan kini terlihat terkulai lemas di samping tubuh rampingnya. Iris coklat indahnya terlihat mulai meneteskan air mata yang menunjukkan betapa tersiksanya wanita cantik bersurai coklat tersebut akibat perlakuan sosok di depannya.
"AHHHHHH~ Mulut seorang manusia perempuan ternyatahhhh~ Tidaaakkk~ Bhuuruukkk~" Ucap Messiah yang meracau sambil terus menyodok mulut hangat milik Tenten dan terus memainkan vaginanya sendiri dengan tempo yang semakin cepat dari waktu ke waktu.
Beberapa saat kemudian...
Beberapa menit telah berlalu, kini Messiah terlihat mempercepat tempo sodokannya. Bahkan saat ini perempuan cantik tersebut terlihat menyodok tenggorokan Tenten sambil membungkuk. Gerakan tangannya yang berada di vaginanyapun juga terlihat semakin cepat.
"UAAHHHHHHH~ AKUUUHHHH~ KELUAARRRR~" Messiah langsung berteriak sangat keras saat ia telah mencapai klimaksnya. Ia langsung menekan kepala Tenten untuk melesakkan penisnya lebih dalam dan mengeluarkan semua spermanya kedalam mulut wanita cantik tersebut. Vaginanya sendiri juga terlihat mengeluarkan cairan cinta yang sangat banyak. Saking banyaknya cairan cintanya, cairan tersebut terlihat membasahi pakaian serta celana yang masih dikenakan Tenten saat ini.
"GRROOKKKK GRROOKKKKKK" Tenten langsung terbatuk berkali-kali saat ia merasakan penis Messiah yang menusuk tenggorokannya berdenyut dan mengeluarkan spermanya di dalam tenggorokannya.
Sepertinya sebagian besar dari sperma Messiah tertelan oleh Tenten. Hal itu terbukti dari perutnya yang tiba-tiba saja membuncit dengan cepat.
Messiah mendiamkan penisnya yang ia rasakan masih berdenyut di dalam mulut Tenten selama beberapa saat. Sementara itu cairan cintanya yang keluar dari vaginanya telah berhenti sejak beberapa saat yang lalu.
Setelah puas dengan klimaksnya dan merasa jika penisnya tak berdenyut lagi, Messiah menarik keluar penisnya yang saat ini terlihat sudah lemas dari mulut Tenten.
"UAHHHHH... UHUK... UHUK... UHUK... HAH... HUAHHHH..." Tenten langsung terbatuk sesaat setelah Messiah mengeluarkan penisnya dari mulutnya. Ia juga terlihat menarik nafas dengan memburu untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan oksigen karena ulah sosok di depannya.
Warning: Lemon berhenti sesaat disini.
Dari mulut Tenten terlihat bekas sperma yang tidak tertelan olehnya masih menetes beberapa kali. Setelah itu, iris coklat wanita cantik ini terlihat memandang horror ke arah perempuan yang telah seenaknya menculiknya serta memperkosa mulutnya barusan. Entah sebanyak apa sperma yang telah tertelan oleh wanita cantik tersebut. Sepertinya hal itu membuat wanita cantik ini kembali ketakutan dengan sosok yang menculiknya.
'Ap-apa yang telah terjadi? Sejak kapan aku malah hanyut kedalam permainan orang ini?' Tanya Tenten dalam hatinya sambil terus memandang horror kepada sosok yang masih berdiri tegap di depannya.
"Hypno Eyes: Paradise of World" Ucap Messiah dengan nada manis sambil menyeringai ke arah Tenten yang memandangnya dengan pandangan horror.
"Ap-apa itu?" Tanya Tenten dengan nada yang terdengar takut sambil menjauhkan dirinya dari sosok di depannya dengan menggeser tubuhnya menggunakan kedua tangannya secara perlahan. Ia terlihat kesulitan dalam bergerak karena tenaganya yang memang belum pulih total akibat perbuatan sosok di depannya serta perutnya yang membuncit.
"Itu adalah jutsu spesial yang aku kembangkan sejak aku meninggalkan kayangan." Jawab Messiah sambil melangkah mendekati Tenten. "Siapapun yang memandang kedalam mata rubyku entah dia perempuan, laki-laki, manusia, binatang, ataupun dewa dan dewi sekalipun, dia akan dikuasai oleh nafsu birahi yang menggebu-gebu dan akan mencintaiku melebihi apapun, bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri." Lanjut Messiah menjelaskan sambil menghentikan langkah kaki jenjangnya saat ia sudah berada di depan Tenten yang menatapnya dengan ketakutan.
"Sayangnya jutsu ini hanya berlaku kepada mereka yang tak memiliki sosok yang benar-benar mereka cintai sepenuh hati mereka atau memiliki perasaan kasih sayang yang tak tersampaikan." Ucap Messiah sambil berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Tenten. "Dan juga efek jutsu ini akan hilang jika orang yang terkena jutsu ini mengalami kontak fisik yang terlalu keras seperti yang aku lakukan padamu beberapa saat yang lalu." Lanjut Messiah panjang lebar sambil menunjukkan seringaiannya yang mengerikan pada Tenten.
"Tu-tunggu dulu..." Ucap Tenten setelah ia mendengar penjelasan Messiah barusan. "Bagaimana bisa aku terpengaruh jutsu tersebut padahal aku memiliki sosok suami yang sangat aku cintai sepenuh hatiku? Bukankah tadi kau bilang jika jutsu tersebut tidak akan mempan pada mereka yang memiliki sosok yang benar-benar mereka cintai dengan sepenuh hati mereka?" Lanjut Tenten yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Messiah yang saat ini berada di depannya dengan nada yang terdengar geram. Ia berpikir jika sosok di depannya saat ini tengah membohonginya dan mempermainkannya.
"Aihhhh... Takutnya aku..." Ucap Messiah dengan nada takut yang dibuat-buat sambil menjauhkan dirinya dari Tenten setelah mendengar nada geram dari wanita cantik bersurai coklat tersebut. "Bercanda deh..." Lanjutnya sambil menjulurkan lidahnya pada Tenten serta menutup sebelah matanya untuk mengejek wanita cantik bersurai coklat yang ia buat lemas.
Tenten yang merasa jika dirinya dipermainkan oleh sosok di depannya langsung geram bukan main. Kedua tangannya langsung meremas tanah yang menjadi tumpuannya dan menatap Messiah dengan tatapan penuh amarah.
"Bukannya aku sudah bilang, jika jutsu ini juga berlaku untuk mereka yang memiliki perasaan yang tidak tersampaikan?" Tanya balik Messiah dengan nada ceria yang tidak sepantasnya dilontarkan di saat seperti ini. Ia juga menekankan kalimat 'mereka yang memiliki perasaan yang tidak tersampaikan' di akhir kalimatnya barusan.
"Aku tidak memiliki perasaan seperti... Itu..." Ucap Tenten yang memelan saat mendekati kalimat akhir yang ia ucapkan barusan saat ingatannya mengingat perasaan yang ia pendam untuk Naruto. "Jangan-jangan..." Tenten tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Wanita cantik tersebut terlihat menundukkan wajahnya dan pandangannya yang awalnya dipenuhi oleh amarah digantikan dengan pandangan yang berisi kesedihan.
"Ding-ding..." Ucap Messiah sambil melompat ke atas udara saat mendengar ucapan Tenten barusan.
Tepat setelah ucapan tidak jelas Messiah barusan, tiba-tiba muncul kertas warna-warni berjatuhan yang muncul entah darimana di sekitar Tenten yang masih memandang tanah di bawahnya dengan pandangan sedih. Bahkan beberapa langkah di belakang wanita tersebut muncul tulisan 'JACKPOT' yang terlihat membesar kemudian mengecil secara berulang-ulang.
Beberapa saat kemudian, benda-benda aneh tersebut menghilang begitu saja seperti kemunculannya.
"Aku ucapkan selamat untukmu atas perasaan yang tak tersampaikan tersebut, Tenten chan." Ucap Messiah dengan nada yang terdengar ceria dan senyuman manis seperti anak-anak di wajah cantiknya sambil berjongkok kembali di depan Tenten.
"Aku..." Ucap Tenten menggantung dengan nada pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Apa ada yang ingin-" "AKU TAKKAN MEMAAFKAN SESEORANG YANG MEMAINKAN PERASAAN ORANG LAIN SEPERTI DIRIMU!" Messiah yang hendak mengucapkan sesuatu langsung dipotong oleh teriakan Tenten yang juga langsung menusukkan sebuah kunai yang ia ambil dari tas ninja di belakangnya dengan gerakan cepat.
"SIALAN!" Teriak Messiah yang terlihat terkejut saat melihat kunai yang ditusukkan ke arah wajah cantiknya.
TANG
Seperti sebelumnya. Kunai tersebut berhenti tepat beberapa centimeter di depan wajah cantik Messiah. Kunai yang ditusukkan Tenten seperti membentur sesuatu yang sangat keras.
"Bercanda deh..." Ucap Messiah lagi dengan nada mengejek sambil menjulurkan lidahnya ke arah Tenten dengan satu matanya yang tertutup.
"Tidak mung- Hmmppphhh HOEEKKKK..." Tenten tidak sanggup melanjutkan kalimat tidak percayanya saat tiba-tiba dia merasakan mual yang luar biasa menyerang dirinya. Wanita cantik bersurai coklat tersebut langsung muntah didekat kaki Messiah yang berada didepannya.
Wanita cantik tersebut terlihat memuntahkan cairan berwarna putih beserta makanan yang belum sempat tercerna sepenuhnya oleh perutnya dalam jumlah yang sangat banyak dari mulutnya. Ia bahkan terlihat membelalakkan matanya karena hal yang terjadi pada tubuhnya yang secara tiba-tiba tersebut.
"Uh, sampai muntah dihadapan musuhmu, bukankah itu adalah hal yang tidak sopan?" Tanya Messiah yang entah sejak kapan sudah berpindah di belakang tubuh Tenten dengan nada yang terdengar santai.
"Hmmppphhhhh HOEEEKKKKK HOEEEKKKKK..." Saat Tenten hendak menolehkan wajahnya kebelakang, ia kembali merasa mual dan muntah kembali. Perutnya yang awalnya membuncit terlihat perlahan mulai mengecil sebelum akhirnya mulai kembali seperti sedia kala.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Setelah perutnya kembali seperti semula, Tenten terlihat terbatuk beberapa kali. Lalu ia mengusap mulutnya menggunakan tangannya yang tidak memegang kunai secara kasar. Kemudian, dia terlihat membalikkan badannya untuk melihat Messiah yang entah sejak kapan berada disana lalu memasang kuda-kuda bertarungnya.
"Mari kita lanjutkan pestanya, Tenten chan." Ucap Messiah yang tiba-tiba berada di depan Tenten.
Tenten langsung membelalakkan kedua iris coklatnya saat ia melihat Messiah yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
'Ge-gerakan itu, seperti jutsu milik Naruto kun...' Ucap Tenten dalam hati saat melihat perpindahan Messiah yang sangat cepat.
"Sayangnya ini bukan jutsu hiraishin, Tenten chan." Ucap Messiah yang tiba-tiba sudah berada di belakang Tenten dengan penekanan pada kata hiraishin seolah ia bisa membaca isi pikiran wanita cantik tersebut. Bahkan ia sudah mengunci tangan Tenten yang memegang kunai ke belakang punggungnya.
"ARRGHHH..." Tenten langsung meringis kesakitan saat Messiah tiba-tiba mengeratkan kunciannya pada tangannya.
Tang
Tenten secara refleks melepaskan kunai yang ia genggam akibat tidak kuat menahan kuncian serta cengkraman Messiah pada tangannya yang memegang kunai.
"Mari kita lanjutkan pestanya, Tenten chan~" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar mesra sambil menggosokkan penisnya yang lemas ke sela kaki Tenten yang dibalut stocking jaring. "Karena malam disini masih sangat panjang." Lanjut Messiah masih dengan nada yang sama.
Tenten langsung membelalakkan kedua iris coklatnya kembali saat ia merasa ada sesuatu yang mengeras di bagian belakang rok merah pendek yang ia kenakan saat ini.
WARNING: LEMON START AGAIN FROM HERE!
"Lepaskan aku! LEPASKAN AKU BRENGSEK!" Ucap Tenten sambil meronta dan menghina Messiah yang masih menguncinya sambil menggosokkan penisnya yang mulai ereksi kembali di sela kakinya yang dibalut stocking jaring.
"Segitu tidak sabarkah kau, Tenten chan~?" Tanya Messiah dengan nada yang berubah menggoda saat ia merasakan paha Tenten yang dibalut stocking jaring menggosok penisnya yang terlihat sudah mulai keras kembali.
"DASAR WANITA JALANG SIALAN!" Maki Tenten sambil menghentikan gerakan merontanya setelah sadar jika yang ia lakukan hanya berujung pada memojokkan dirinya sendiri.
BRUKKK
"ARGHHH..." Tenten langsung berteriak kesakitan saat tubuh atasnya menghempas ke atas tanah secara mendadak. Hal tersebut diakibatkan Messiah yang mendorong tubuh bagian atasnya hingga ia terjatuh ke atas tanah dengan tiba-tiba. Posisi Tenten saat ini terlihat menungging dihadapan Messiah.
Tenten langsung menolehkan kepalanya untuk melihat Messiah dan menatap makhluk tersebut dengan tatapan murka dan penuh amarah.
"Maafkan aku jika aku terlalu kasar, Tenten chan~" Ucap Messiah dengan nada menggoda. Sepertinya ia tidak peduli sama sekali dengan tatapan penuh ancaman atau makian yang dilontarkan Tenten padanya.
SRINGGG SREKKK SREKKK
Tiba-tiba tangan kuku jari lentik Messiah yang bebas terlihat memanjang. Kemudian dengan kuku panjang tersebut, Messiah menelanjangi bagian bawah tubuh Tenten.
"BERHENTI SAMPAI DISANA, DASAR MAKHLUK BRENGSEK!" Teriak Tenten yang diisi kemurkaan dan amarah yang tak terbendung sesaat setelah Messiah mengoyak rok merah, tas ninja miliknya, serta bagian belakang stocking jaring yang ia kenakan.
Isi dari tas ninja milik Tenten langsung berhamburan disekitar dirinya saat benda tersebut terkoyak akibat kuku tajam milik Messiah.
"Bagus Tenten chan~ Bagus~" Ucap Messiah dengan nada menggoda sambil menjilat bibirnya dan semakin memamerkan seringaiannya yang terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya. "Terus lampiaskan amarah dan murkamu~" Lanjut Messiah dengan nada yang sama sambil mengangkat tangannya yang bebas dengan kuku yang masih memanjang dan tajam.
Tenten yang masih menolehkan kepalanya kebelakang langsung melotot saat Messiah akan mengayunkan tangannya yang bebas sekali lagi. Hanya saja tangan Messiah kali ini di arahkan ke arah tubuhnya. Wanita cantik tersebut langsung menutup kedua iris coklat indahnya karena ia tak mau melihat apa yang akan dilakukan Messiah padanya kali ini.
SREK SREK SREK
Messiah langsung mencabik-cabik pakaian atas Tenten hingga menjadi potongan kain kecil-kecil yang terlihat berhamburan di atas tanah sekitar mereka. Setelah itu, kukunya yang memanjang terlihat kembali ke ukuran semula.
Tenten langsung membuka kedua irisnya setelah telinganya mendengar sesuatu yang robek. Ia terlihat melirikkan iris coklat indahnya untuk memastikan jika cakaran barusan tidak mengenai anggota tubuhnya atau punggungnya.
"Sayang sekali, Tenten chan~" Ucap Messiah dengan nada mengejek Tenten. "Tapi aku belum berniat untuk membunuhmu~" Lanjut Messiah sambil menjilati punggung putih Tenten yang tersinari cahaya bulan.
"Ughhhh~ Berhentiiii~ To-toloonggg~ Le-lepaskan akuuuhhh~" Ucap Tenten sambil berusaha menjauhkan punggungya dari jilatan Messiah yang semakin liar.
"ARRGGHHH~" Tenten seketika mendesah sedikit keras saat Messiah menancapkan gigi tajamnya di punggung Tenten untuk membuat sebuah kissmark. Setelah itu, perempuan bersurai hitam selutut tersebut langsung menjilati area yang ia gigit barusan.
"ARRRGGHH~ Ku-kumohoooonnnnn~ Berhen-berhen- AAARRRGGGHHH~" Ucap Tenten tidak jelas saat Messiah semakin gencar membuat kissmark disekitar punggung Tenten.
Punggung Tenten yang awalnya putih bersih, kini dipenuhi oleh kissmark dari Messiah. Hampir di sekujur tubuh wanita cantik tersebut ada kissmark Messiah (kecuali di dekat area tangannya yang masih dikunci Messiah).
"Hah~ Hah~ Hah~" Nafas Tenten terdengar mulai kacau akibat perbuatan Messiah pada punggungnya.
Setelah itu, perempuan bersurai hitam panjang tersebut terlihat melepaskan tangan Tenten yang ia kunci sejak beberapa waktu yang lalu.
Tangan Tenten yang tadi dikunci Messiah langsung terkulai lemas di samping tubuhnya. Di pergelangan tangan wanita berkulit putih tersebut terlihat bekas sedikit memar akibat cengkraman Messiah yang sepertinya terlalu kuat baginya.
Setelah melepaskan tangan Tenten, Messiah terlihat membungkuk lalu mendekatkan wajah cantiknya pada telinga Tenten yang terlihat masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Mari kita mulai pesta utamanya, Tenten chan~" Bisik Messiah tepat di daun telinga Tenten yang naik turun akibat mengatur nafasnya.
Setelah berbisik, perempuan bersurai hitam panjang tersebut terlihat mengatur penisnya yang telah tegang kembali sejak beberapa waktu lalu dari balik tubuh Tenten yang masih menungging.
"Ku-Kumohon... Berhenti..." Ucap Tenten sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. Wajah cantiknya terlihat sangat memerah dan dibanjiri oleh peluh.
"Mari kita mulaaaiii~" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar senang dan penuh antusias. Perempuan cantik ini benar-benar tidak peduli dengan permohonan dari wanita tidak berdaya yang ada di depannya.
"ARRRGGHHHHH!" Tenten langsung berteriak kesakitan saat Messiah mulai mencoba memasukkan penisnya kedalam tubuh Tenten.
"HE-HEI, ITU-ITU LU- ARRRGGGHHHHH!" Ucapan Tenten yang hendak mengeluarkan protesannya langsung berubah menjadi teriakan kesakitan kembali.
Ternyata Messiah sedang berusaha menerobos lubang anus Tenten yang masih sangat sempit dan tidak siap menggunakan penisnya yang berukuran tidak masuk akal miliknya. Sepertinya ia menulikan indra pendengarannya dari teriakan kesakitan Tenten yang kerasnya bukan main.
"BER-BERHENTIIII! ARRRGHHHHH!" Tenten kembali memohon dengan suaranya yang berubah serak sekeras mungkin saat ujung penis Messiah mulai membuka jalan di lubang anusnya. Akan tetapi ia kembali berteriak saat ujung penis Messiah yang berukuran besar dan panjang tersebut mulai memasuki anusnya yang kering.
"AUGGHHH~ SEM-SEMPIT SEKALIIIHHHH LUBAAANGG ANUSMU, TENTEN CHAAANNN~" Desah Messiah dengan suaranya yang terdengar keras sekaligus erotis saat ia merasakan ujung penisnya mulai masuk kedalam lubang anus Tenten lalu perempuan tersebut terlihat mendiamkan dirinya selama beberapa saat.
Seolah tidak mau memberi ampun, Messiah langsung kembali berusaha mendorong penisnya kedalam anus Tenten.
"ARRRGGHHH~ ARRGGHHHH~" Tenten hanya bisa kembali berteriak kesakitan saat lubang anusnya dipaksa melebar oleh penis Messiah. Iris coklat indahnya terlihat dibanjiri air mata akibat ulah Messiah. Wanita cantik ini terlihat menolehkan wajah cantiknya yang berlinang air mata ke kanan dan ke kiri berulang-ulang seperti berusaha menolak kenyataan jika lubang anusnya sedang dibuka paksa oleh orang yang bahkan tidak ia kenal.
Beberapa saat kemudian...
BLESS
"ARRGGGHHHH~" "AHHHH~" Raungan kesakitan yang meluncur dari Tenten dan desahan nikmat yang meluncur dari mulut Messiah terdengar secara bersamaan saat penis Messiah yang berukuran sangat besar telah masuk sepenuhnya kedalam tubuh Tenten.
Tenten merasa jika dirinya saat ini telah dibelah menjadi dua bagian. Ia terlihat menangis histeris sambil mencakar-cakar tanah yang menjadi pijakannya. Sepertinya ia ingin menjauhkan dirinya sekaligus mengeluarkan benda berukuran tidak masuk akal milik Messiah dari dalam tubuhnya.
Messiah terlihat mendiamkan dirinya selama beberapa saat sambil menatap bulan yang ada di atasnya dengan mata tertutup. Sepertinya ia sedang menikmati pijatan anus Tenten yang kering dan panas pada penisnya.
Messiah langsung menurunkan wajahnya lalu membuka kedua iris rubynya yang tertutup saat ia merasakan jika penisnya keluar secara perlahan dari anus Tenten.
Beberapa saat kemudian sebuah seringaian jahat, lebih tepatnya seringaian yang sangat jahat terukir di wajah cantiknya. Dia terlihat memandang Tenten yang berusaha merangkak menjauhi dirinya sekaligus mengeluarkan penisnya dari anusnya.
Saat setengah penisnya telah keluar, Messiah langsung mengarahkan kedua tangannya ke pinggang langsing milik Tenten. Setelah itu, dia terlihat membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajah cantiknya ke daun telinga Tenten.
"Maaf karena membuatmu menunggu, Tenten chan~" Bisik Messiah tepat di daun telinga Tenten dengan nada yang terdengar mesra dan seringaian sangat jahat yang masih terukir di wajah cantiknya.
"UAAAGGGHHH ARRRGGHHH" Teriakan kesakitan kembali meluncur dengan mulus dari mulut Tenten saat Messiah menarik tubuhnya dengan hentakan yang cukup keras dan membuat setengah penisnya yang awalnya sudah keluar kembali menerobos anusnya yang tidak siap.
"AGHHHH~ AHHHH~ AHHHHH~ HMMPPPMMHHH~" Messiah langsung mendesah sekeras-kerasnya saat ia menggoyangkan pinggulnya untuk menyodok anus Tenten. Desahannya berubah menjadi tertahan saat ia meraup telinga Tenten.
Tidak berhenti disitu, Messiah mengarahkan kedua tangan nakalnya untuk memainkan nipple Tenten yang terlihat bergoyang maju mundur akibat sodokannya.
"ARGGHHH ARGGHHH AHHHH~ ARGHHHHH" Tenten hanya bisa berteriak kesakitan saat Messiah menghajar anusnya dengan penisnya yang memiliki ukuran tidak masuk akal. Sesekali ia terdengar mendesah saat tangan nakal Messiah memainkan nipple buah dadanya yang bergoyang atau akibat telinganya yang diraup dengan rakus oleh perempuan yang berada di belakangnya.
Seolah tidak puas mempermainkan Tenten, salah satu tangan Messiah terlihat meraba perut langsing wanita berparas cantik dibawahnya dan terus meluncur kebawah.
Akhirnya tangan nakal Messiah berhenti saat menemukan lubang vagina milik Tenten yang ternyata sudah sangat basah.
Seolah sudah ahli dalam melakukan hal ini, Messiah langsung melesakkan 3 jari tangannya yang berada di depan vagina Tenten kedalam vagina wanita yang masih mengerang kesakitan tersebut lalu mengaduk-aduk area kewanitaannya tanpa ampun.
"Ahhhh~ AHHHH~ ARGGHHHH~ AHHHHH~" Teriakan Tenten yang awalnya didominasi oleh rasa kesakitan, kini diselingi oleh desahannya akibat ulah Messiah yang terus mengaduk-aduk area kewanitaannya tanpa ampun.
Setelah terlihat puas dengan telinga Tenten, Messiah terlihat menjauhkan wajahnya dari telinga wanita cantik tersebut. Lalu ia terlihat menggigit area sekitar bahu atau punggung Tenten untuk meninggalkan beberapa kissmark disana.
"AHHHH~ AHHHH~ AHHHH~" Hal itu tentu saja membuat Tenten merasakan kenikmatan luar biasa yang bahkan belum pernah ia rasakan saat ia berhubungan dengan suaminya. Teriakan kesakitan wanita tersebut kini digantikan dengan desahan-desahan keras oleh suaranya yang masih agak serak.
"AHHHH~ AHHHHH~ UGGHHHHH~" Messiah sendiri sepertinya terlalu fokus dengan anus,nipple, dan vagina Tenten. Ia terus melakukan aktifitasnya tersebut tanpa mengurangi tempo sodokannya atau gerakan tangannya pada vaginanya.
Beberapa saat kemudian...
"AAHHHH~ AHHHH~ AH-AKUHHH~ KEELUUUUARRR~" Tenten yang diberi kenikmatan bertubi-tubi oleh Messiah langsung mencapai klimaksnya dalam kurun waktu yang cukup singkat. Lenguhan wanita cantik tersebut terdengar sangat keras disertai dengan cairan cintanya yang terlihat mengalir deras dan membasahi tangan Messiah yang masih memanjakannya.
Setelah mendengar lenguhan Tenten, Messiah terlihat menghentikan sodokannya. Setelah itu, perempuan tersebut menarik tangannya yang berada di vagina Tenten lalu menjilati cairan cinta wanita tersebut tanpa jijik sedikitpun.
"Mari mulai lagi~" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar ceria setelah ia puas menjilati cairan cinta Tenten yang ada ditangannya. Setelah berucap demikian, ia kembali memposisikan tangannya yang masih ada sisa cairan Tenten kembali ke depan vaginanya dan bersiap untuk mengaduk-aduk sekali lagi lubang surgawi wanita tersebut.
"Cu-cukup... A-aku sudah ti-tidak kuat la-AHHHHH~" Ucapan permohonan Tenten pada Messiah langsung berubah menjadi lenguhan saat Messiah kembali menyodok anusnya serta mengaduk-aduk vaginanya lagi menggunakan tangannya.
"Ta-tapiiihhhh Akuhhh~ Be-belum mencapaihhhh~ Puncak~ Tenten chaaannnn~" Ucap Messiah diselingi desahan sambil terus menyodok anus perempuan tersebut dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya.
"Ak-akuhhh~ moh-mohonnnn~ ber-hentttihhhh~" Ucap Tenten yang memohon pada Messiah agar perempuan tersebut menghentikan aktifitasnya.
"Ugghhhh~ AHHHHHH~ AHHHHH~" Kali ini Messiah seolah menjadi tuli dengan permohonan Tenten. Bukan hanya semakin mempercepat sodokannya atau acara mengaduk vagina Tenten yang terlihat lebih liar dari sebelummya, ia bahkan mengeraskan suara desahannya yang menandakan bahwa ia tidak peduli dengan permohonan dari wanita yang saat ini ia perkosa.
Beberapa menit kemudian...
"UGGHHHH~ AK-AKUHHH KELUARRRR~" Sekali lagi Tenten melenguh saat ia merasakan vaginanya mencapai puncaknya dan mengeluarkan cairan cintanya sekali lagi. Wanita cantik tersebut terlihat mencengkram tanah yang berada dibawahnya untuk menahan tubuhnya yang ia rasakan sudah hampir kehabisan tenaga akibat ulah Messiah.
"AAHHHHHH~ AKUUHHHH TI-TIDAK TAHANNNN LAGIIHHHHH~" Selang beberapa detik saja, terdengar lenguhan Messiah yang sepertinya juga mencapai puncaknya.
JLEBBB
"UAHHHHH~" Tidak lama setelah teriakan Messiah barusan, terdengar lenguhan yang tidak kalah keras meluncur dari bibir perempuan cantik bersurai hitam selutut tersebut. Setelah lenguhan kerasnya barusan, Messiah langsung melesakkan seluruh penisnya kedalam anus Tenten. Perempuan cantik tersebut terlihat menahan pinggang Tenten menggunakan kedua tangannya agar perempuan cantik dibawahnya tidak bisa merangkak menjauh darinya sebelum ia benar-benar selesai dengan klimaksnya.
Untuk yang kedua kalinya perut Tenten dibuat membuncit akibat ulah Messiah. Bahkan saking tersiksanya wanita cantik tersebut, iris coklatnya terlihat membalik hingga ke atas sampai tidak terlihat.
Warning: Lemon end here...
"HAH~ HAH~ HAH~" Messiah terlihat terengah-engah setelah orgasmenya barusan. Ia terlihat masih mendiamkan penisnya di dalam anus Tenten.
BRUKKK
"AWWW" Tenten langsung berteriak kesakitan saat Messiah tiba-tiba ambruk menindih tubuhnya yang notabene lebih besar dari dirinya. Ditambah lagi perutnya yang membuncit membuatnya merasakan sakit luar biasa di area tersebut.
Setelah beberapa saat terdiam, Tenten terlihat melirikkan iris coklatnya yang telah kembali seperti semula untuk melihat Messiah yang sedang menindih tubuhnya.
'Ini kesempatanku!' Ucap Tenten dalam hati saat melihat Messiah yang berada di atas tubuhnya sepertinya sudah sangat kelelahan dengan peluh disekujur tubuhnya yang indah.
"Ughhhh..." Terlihat Tenten yang meringis kesakitan saat ia mencoba merangkak untuk menjauh dari Messiah sekaligus mengeluarkan penis perempuan itu dari anusnya yang memberinya rasa sakit luar biasa hebat.
Srettt srettt sretttt
Tenten terlihat sangat tersiksa dan terlihat berusaha sangat keras untuk merangkak menjauh. Ia juga sesekali terlihat meringis kesakitan.
BRUKKK
"HAH HAH HAH..." Tenten langsung mengambil nafas sebanyak mungkin menggunakan mulut serta hidungnya untuk mengisi paru-parunya setelah ia berhasil mengeluarkan penis milik Messiah dari anusnya yang saat ini terlihat mengeluarkan darah segar.
Setelah merasakan jika paru-parunya telah cukup terisi oksigen, wanita berparas cantik dengan iris coklat tersebut terlihat mengalihkan pandangannya untuk melihat sekitarnya sekaligus mencari jalan keluar dari sana.
"Sebenarnya dimana ini?" Tanya Tenten pada keheningan tempat tersebut sambil terus mengalihkan pandangannya untuk melihat sekitarnya.
"Tempat ini terlihat seperti tempat aku dibawa oleh wanita itu." Ucap Tenten sekali lagi pada dirinya sendiri setelah puas melihat area sekitarnya. "Tapi kenapa sepi sekali seolah tidak ada kehidupan disini?" Lanjutnya yang bertanya pada dirinya sendiri sambil terus menggeser tubuhnya menggunakan kedua tangannya.
Benar, tempat ini memang desa Konoha. Akan tetapi tempat ini berada di dimensi yang berbeda. Dengan kata lain ini adalah desa Konoha yang dibuat meggunakan jutsu Messiah yang bernama Room: Mirror of World yang memiliki arti 'cermin dunia'. Maka dari itu Messiah bisa sesuka hati memunculkan atau menghilangkan sesuatu di tempat ini dengan jutsu bernama Room: Decoration seperti yang ia lakukan saat memunculkan bulan purnama di atas mereka.
"Karena desa Konoha ini adalah buatan jutsuku, Tenten chan~" Ucap Messiah yang entah sejak kapan sudah berada di depan Tenten.
BRUKKK
"HAH!" Tenten langsung terjengkang kebelakang akibat Messiah yang mengejutkannya barusan. Kemudian, wanita cantik tersebut terlihat mengalihkan pandangannya ke tempat tadi ia meninggalkan Messiah. Dan benar saja, disana sudah tidak ada siapa-siapa.
"Dan juga waktu di dimensi ini tidak terpengaruh oleh dimensi sebelumnya." Ucap Messiah. "Jadi seberapa lama pun kita berada disini, maka di dimensi tempat Naruto kun berada atau tepatnya di desa Konoha yang kau kenal hanyalah satu detik saja." Lanjut perempuan cantik dengan surai hitam selutut tersebut.
"AP-APA?!" Sontak saja Tenten langsung membelalakkan kedua iris coklat indahnya saat mendengar fakta tentang tempatnya terjebak saat ini.
"Oh ya aku juga lupa mengatakan jika di tempat ini aku bisa merubah tubuhku semauku~" Ucap Messiah santai. "Contohnya benda ini~" Lanjut Messiah sambil memegang penisnya yang awalnya lemas tapi secara tiba-tiba kembali ereksi.
"Ka-kau hanya bercanda kan?" Tanya Tenten dengan nada yang terdengar sangat ketakutan.
"Mari kita lanjutkan pestanya, Tenten chan." Ucap Messiah sambil memamerkan senyuman manisnya di wajah cantiknya yang terlihat memerah karena horny lagi. "Karena aku belum puas bermain tubuhmu~" Lanjut perempuan cantik tersebut dengan suara yang terdengar berat karena horny.
"TIDAAKKKK!" Tenten sontak saja berteriak sekeras yang ia bisa saat Messiah hendak menerkamnya sekali lagi dan mengulangi kejadian beberapa saat yang lalu.
Skip time beberapa jam kemudian...
Brukkk
"Ughhhh... Ugghhhh..." Terlihat Tenten yang sudah lemas terjatuh ke atas tanah dengan nafasnya yang terdengar terputus-putus dan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya. Wanita cantik tersebut terlihat sudah sangat lemas dengan perutnya yang membuncit lebih besar daripada sebelumnya.
"AHHHHH~" Sementara wajah cantik Messiah sendiri yang juga dibanjiri oleh peluh terlihat sangat cerah dan berseri-seri. Sepertinya ia sangat menikmati permainan sepihaknya dengan Tenten sejak pertama.
"Messiah san... Ku-kumohon kembalikan a-aku ke de-desa Konoha yang aku ke-kenal..." Ucap Tenten terputus-putus dengan nada yang terdengar sudah sangat putus asa dan sangat kelelahan.
Sepertinya Messiah tidak hanya menyiksa fisik wanita berparas cantik tersebut. Akan tetapi. Ia juga menyiksa mentalnya. Hal itu dibuktikan dari suaranya yang terdengar putus asa dan sudah tidak ada nada murka lagi dikalimat yang barusaja ia ucapkan.
Kondisi fisik Tenten sendiri juga sudah sangat mengenaskan. Perutnya terlihat membuncit karena menerima sperma penis Messiah berulang-ulang, area sekitar matanya terlihat membengkak karena terus menangis, bekas air mata yang belum sepenuhnya mengering juga terlihat di wajah cantiknya yang saat ini terlihat sangat kelelahan dan penuh dengan peluh. Ditambah lagi dengan nafasnya yang terdengar sangat berat yang menandakan bahwa wanita tersebut sudah kesulitan untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen.
Sepertinya amarah dan kemurkaan wanita cantik tersebut benar-benar telah lenyap akibat siksaan yang diterima fisik serta mentalnya yang dilakukan oleh Messiah secara berulang-ulang selama beberapa jam yang lalu.
"Aduh-aduh sepertinya Tenten chan sudah tidak kuat lagi~" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar gemas sambil memegang kedua pipi Tenten menggunakan jari lentik tangan kanannya.
Tenten sudah tidak sanggup lagi membalas perkataan dari ejekan Messiah barusan. Kini wanita cantik yang biasanya ceria tersebut sudah benar-benar tidak sanggup melakukan apapun lagi. Bahkan untuk menggerakkan jarinya saja, ia terlihat sangat kesulitan.
"Kenapa kau hanya di-" Ucapan Messiah tiba-tiba terputus tanpa alasan. Mata rubynya yang awalnya dikuasai oleh nafsu dan terlihat sangat sexy tiba-tiba terlihat membelalak seolah terkejut.
"UUGGHHHH... ARRRRGGGHHH..." Tiba-tiba saja perempuan cantik dengan surai hitam panjang tersebut terlihat mengerang kesakitan sambil memegang puncak kepalanya menggunakan kedua tangannya.
DUARRR DUARRR DUARRR
Setelah mengerang kesakitan tanpa sebab yang jelas, Messiah terlihat membenturkan kepalanya pada bangunan-bangunan sekitarnya. Bangunan-bangunan yang menjadi sasaran tandukan tanpa alasan Messiah langsung rata dengan tanah.
Tenten yang awalnya terlihat sudah lemas dan tidak berdaya kini dibuat kebingungan dengan perubahan sikap yang dilakukan perempuan yang sejak tadi terus mengejeknya atau mempermainkannya.
Sementara kejanggalan Messiah sendiri terlihat semakin menjadi-jadi saat iris rubynya terlihat bercahaya lalu kehilangan cahayanya. Dan hal itu terjadi berkali-kali.
"UGGHHHH ARRGGGGGHHHH" Setelah puas membenturkan kepalanya pada area sekitarnya, Messiah saat ini terlihat tertelungkup di atas tanah tepat di depan Tenten yang hanya bisa memandangnya dengan pandangan bingung bercampur takut dengan suara erangan yang terdengar mengerikan.
Suara erangan Messiah saat ini tidak terdengar seperti suaranya yang tadi. Tapi lebih mengarah ke suara erangan seekor hewan buas yang terluka.
Beberapa saat kemudian, aura hitam muncul dari balik tubuh Messiah yang tertelungkup di depan Tenten. Aura hitam tersebut terlihat terus menguar dari sana.
"Ten-Tenten chan, ma-maafkan perbu-perbuatanku padamu." Ucap Messiah terputus-putus serta suaranya yang terdengar lemah lembut.
Tenten langsung merasakan ketenangan merayapi hatinya yang sejak tadi gusar dan dipenuhi rasa takut setelah mendengar suara Messiah barusan. Suara Messiah yang didengar Tenten barusan terdengar sangat berbeda sejak pertemuan pertama mereka hingga saat ini. Suara Messiah barusan terdengar... tulus.
Setelah itu, Messiah terlihat mengarahkan salah satu tangannya ke arah Tenten yang masih tidak bisa bergerak dari tempatnya seperti hendak meraih wanita cantik tersebut.
Tanpa sadar Tenten langsung mengulurkan tangan kanannya dengan sisa tenaga yang ia miliki saat itu untuk meraih tangan Messiah terulur di depannya.
Sayangnya tangan Tenten tidak sampai untuk meraih tangan Messiah yang terulur padanya. Sementara Messiah sendiri terlihat terus mengeluarkan erangannya yang kembali terdengar mengerikan sambil terus memegang kepalanya.
Tenten terlihat berusaha lebih keras untuk meraih tangan Messiah. Akan tetapi wanita cantik tersebut hanya bisa menyentuh ujung jari Messiah saja.
Tap
Tepat saat salah satu jari tangan Tenten menyentuh ujung jari tangan lentik Messiah, tiba-tiba sebuah cahaya muncul diantara jari Tenten dan Messiah.
Cahaya tersebut terlihat semakin terang dari waktu ke waktu, setelah itu cahaya tersebut terlihat menyelimuti tubuh Tenten serta Messiah dan menghapuskan aura hitam yang masih menguar dari punggung Messiah.
Tenten terlihat menutup kedua iris coklatnya saat cahaya yang keluar dari jarinya dan jari Messiah mulai menyelimuti dirinya serta Messiah.
Sementara itu di desa Konoha...
Tiba-tiba di tempat penculikan Tenten beberapa saat yang lalu muncul sebuah cahaya putih yang sangat terang. Saat cahaya tersebut menghilang, di tempat tersebut hanya terlihat Tenten dan Messiah yang masih menyatukan jari lentik mereka.
Tenten langsung membuka kedua iris coklatnya saat ia merasa cahaya yang mengelilingi dirinya telah lenyap meninggalkan dirinya. Setelah itu, wanita cantik tersebut terlihat menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekitarnya selama beberapa saat.
"Hah... Te-terima kasih ba-banyak, Messiah san." Ucap Tenten dengan semua kekuatan yang ia miliki saat itu kepada sosok di depannya saat ia mengenali area sekitarnya sebagai desa Konoha yang ia tahu bukan desa Konoha buatan jutsu sosok di depannya.
Messiah sendiri saat ini terlihat seperti sosok yang sedang sekarat. Perempuan berparas cantik tersebut terlihat menggeser tubuhnya dengan sisa kekuatan yang ia miliki untuk mendekatkan dirinya ke arah Tenten.
Setelah berada di dekat Tenten, perempuan cantik tersebut terlihat mendekatkan wajahnya ke arah wanita cantik bersurai coklat di depannya.
"Back to First" Ucap Messiah dengan nada yang terdengar lemah. Kemudian, perempuan dengan surai hitam selutut tersebut terlihat mencium kening Tenten dengan lembut. Seketika itu juga, tubuh Tenten langsung dimandikan oleh cahaya yang terang dan terlihat menenangkan.
Tenten sendiri merasa jika seluruh tubuhnya diselimuti oleh kehangatan yang sangat nyaman. Wanita cantik tersebut terlihat menutup kedua iris coklatnya untuk menikmati rasa hangat yang saat ini sedang menyelimuti dirinya.
Secara perlahan, tubuh Tenten mulai kembali seperti sedia kala. Perutnya yang membuncit mulai mengempis, darah kering yang berasal dari anusnya mulai menghilang, bekas air mata di sekitar wajahnya juga mulai memudar secara perlahan, serta area matanya yang membengkak juga terlihat mulai kembali normal. Bukan hanya fisiknya saja yang menjadi seperti sedia kala, tubuh Tenten yang sudah telanjang bulat juga kembali ditutupi oleh pakaiannya yang hancur hingga berkeping-keping.
BRUKKK
Setelah beberapa saat mencium kening Tenten, wajah cantik Messiah tiba-tiba langsung terjatuh menghempas tanah.
Tenten langsung membuka kedua iris coklatnya yang kembali seperti sedia kala saat telinganya mendengar sesuatu yang terjatuh dihadapannya.
Tenten langsung terlihat panik saat melihat Messiah yang kini terengah-engah dihadapannya.
"Messiah san, kau tidak apa-apa?" Tanya Tenten dengan nada suara yang terdengar panik sambil menggoyangkan tubuh perempuan yang ada dihadapannya.
"Ak-aku baik-ba-" Sebelum ucapan Messiah benar-benar selesai, kegelapan telah merenggut kesadaran perempuan cantik bersurai hitam selutut tersebut.
"Messiah san? Messiah san?!" Tenten mencoba menyadarkan perempuan tersebut dengan memanggilnya berulang-ulang. Setelah itu, ia memeriksa denyut nadi perempuan cantik tersebut untuk memastikan apakah perempuan tersebut masih hidup atau sudah meninggal.
"Ternyata dia pingsan." Ucap Tenten pada dirinya sendiri saat jari lentiknya merasakan denyut nadi Messiah tapi sangat lemah. "Aku harus sesegera mungkin membawanya ke rumah sakit." Lanjut wanita cantik bersurai coklat tersebut sambil berusaha menggendong Messiah yang telah pingsan ke atas punggungnya.
"Bertahanlah, Messiah san." Ucap Tenten yang terlihat mulai melangkahkan kedua kakinya untuk menuju rumah sakit desa Konoha yang terbilang lumayan jauh dari tempatnya saat ini.
Skip time...
Pagi hari di desa Konoha...
Pagi yang cerah terlihat menyelimuti langit desa Konoha saat ini. Di sebuah kamar yang cukup besar, terlihat seorang pemuda bersurai kuning jabrik mulai membuka matanya secara perlahan.
Pemuda tersebut melirikkan irisnya yang berwarna biru safir ke arah jam dinding yang menempel di kamarnya yang saat ini menunjukkan pukul 07:44.
'Lebih baik aku segera mempersiapkan diriku.' Ucap pemuda tersebut dalam hatinya sambil bangun dari tempatnya tidur. Setelah itu, pemuda dengan iris kuning tersebut terlihat berjalan menuju ruangan yang berada di sudut kamarnya dengan handuk yang berada di pundak kanannya. Sepertinya pemuda tampan tersebut akan memulai hari ini dengan ritual mandi terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian...
Pemuda tersebut keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Beberapa tetes air terlihat berjatuhan dari rambut serta tubuhnya yang masih basah. Setelah itu, ia melangkahkan kedua kakinya menuju lemari pakaiannya yang berada tepat di seberang kamar mandinya.
Setelah beberapa saat memilih dan mengira-ngira pakaian mana yang menurutnya pantas, pemuda bersurai kuning jabrik tersebut kini terlihat sudah rapi. Sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, pemuda tersebut terlihat bercermin di depan cermin lemarinya yang setinggi dirinya selama beberapa saat hanya untuk memastikan jika tidak ada yang kurang darinya.
Setelah yakin tidak ada yang kurang, pemuda tersebut terlihat melangkahkan kakinya untuk menuju pintu keluar kamarnya.
"Jarang sekali aku melihatmu sudah siap pagi-pagi begini, Naruto kun." Ucap suara seorang perempuan yang berasal dari belakang pemuda bersurai kuning tersebut.
Pemuda bersurai kuning jabrik tersebut yang tidak lain adalah Naruto terlihat langsung menghembuskan nafas panjang setelah mendengar suara perempuan yang berada di belakangnya. Ia terlihat tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan tiba-tiba sang pemilik suara yang entah sejak kapan berada disana.
"Bisakah kau bertamu dengan cara yang sopan, Jun san?" Tanya Naruto dengan nada yang terdengar lelah dengan kebiasaan Jun yang suka sekali tiba-tiba muncul di dekatnya atau di dalam kamarnya. Pemuda tersebut berkata tanpa membalikkan badannya untuk melihat lawan bicaranya. "Aku tidak merasa risih jika kau seperti itu, hanya saja aku tidak mau jika salah satu istriku yang tiba-tiba melihatmu berada disini dan mereka berpikir jika kau adalah selingkuhanku." Lanjut pemuda tersebut dengan nada yang masih sama dan masih tanpa melihat lawan bicaranya.
Akan tetapi hanya keheningan yang menjawab ucapan Naruto barusan. Naruto yang tidak mendapatkan jawaban dari sosok dibelakangnya langsung membalikkan badannya untuk melihat lawan bicaranya yang tidak lain adalah Jun sang dewi ruang dan waktu sekaligus adik kembar dari Messiah.
Setelah membalikkan badannya dan melihat sekitar kamarnya dengan seksama, Naruto tidak menemukan keberadaan sang lawan bicaranya. Ia yang memang sedang tidak mau berpikir panjang, hanya mengendikkan bahunya setelah itu, ia terlihat membalikkan badannya lalu membuka pintu kamarnya.
Cklek
Naruto langsung menutup pintu kamarnya setelah ia berada di luar kamar. Setelah itu, pemuda berparas tampan tersebut terlihat melangkahkan kedua kakinya untuk menuju dapur saat indra penciumannya mencium sesuatu yang sedap yang berasal darisana.
Naruto terlihat melongokkan kepalanya dari lorong untuk melihat siapa yang sedang memasak di dapur. Wajah tampan Naruto langsung dihiasi senyuman yang menawan saat iris birunya melihat anak-anaknya yang bergender perempuan sedang saling membantu di dapur.
Setelah puas memandang kegiatan anak-anaknya yang bergender perempuan tersebut, terlihat pemuda ini berjalan meninggalkan tempatnya tadi mengintip dengan langkah sepelan mungkin karena ia tidak mau menganggu mereka.
Tok tok tok
Saat Naruto melangkahkan kedua kakinya untuk menuju ke bagian depan rumahnya, tanpa sengaja ia mendengar suara pintu rumahnya diketuk oleh seseorang.
"Ryuuki chan, bisakah kau membuka pintu depan? Sepertinya ada seseorang yang sedang bertamu..." Ucap suara seorang perempuan yang berasal dari dapur.
"Hai', Rin chan..." Sahut suara perempuan lain yang berasal dari tempat yang sama.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis cantik dengan surai merah dengan iris mata berwarna hijau terlihat berjalan keluar dari dapur.
"Tou chan?" Ucap gadis tersebut saat melihat Naruto yang tidak lain adalah ayahnya yang juga melangkahkan kakinya untuk menuju ke pintu rumahnya.
Naruto yang mendengar suara seorang gadis dari belakangnya langsung menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya untuk melihat sang pemanggil. Naruto yang melihat Ryuuki sedang berdiri di lorong rumahnya hanya tersenyum lembut lalu melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati gadis remaja tersebut.
"Biar tou chan saja yang membuka pintu, Ryuuki chan." Ucap Naruto dengan nada lembut saat ia sudah berada di depan Ryuuki. "Ryuuki chan kembali saja ke dapur untuk membantu yang lain." Lanjut Naruto sambil mengelus puncak kepala Ryuuki.
Ryuuki terlihat memejamkan kedua iris hijaunya saat Naruto mengelus puncak kepalanya. Ia terlihat seperti seekor kucing yang sedang menikmati sentuhan majikannya.
"Baiklah, Tou chan." Ucap Ryuuki setelah Naruto menarik tangannya dari puncak kepalanya yang memiliki surai berwarna merah seperti ibu Naruto aka Kushina.
Setelah itu, gadis cantik tersebut terlihat berjalan kembali ke arah dapur.
Naruto yang telah melihat salah satu putrinya telah kembali ke dapur langsung membalikkan badannya dan mulai berjalan kembali untuk menuju pintu depan rumahnya.
Tok tok tok
"Hai', Hai'." Ucap Naruto sambil sedikit mempercepat langkah kakinya saat ia mendengar suara diketukan pintu rumahnya untuk yang kedua kalinya.
Setelah sampai di depan pintu rumahnya, Naruto langsung membuka pintu rumahnya dan tidak menemukan seorangpun berada di depan atau dihalaman rumahnya.
'Mungkin, anak kecil yang sedang iseng.' Ucap Naruto dalam hati saat iris birunya tak melihat siapapun kemudian, ia terlihat menutup pintu rumahnya kembali.
"Aku bukan anak kecil yang sedang iseng, Naruto kun." Ucap Jun setelah Naruto menutup pintu. Entah sejak kapan perempuan cantik bersurai hitam sepunggung tersebut sudah berada di belakang Naruto.
"HIII..." Naruto terlihat berjengkit saat ia hendak membalikkan badannya karena mendengar suara Jun yang tiba-tiba saja berada di belakangnya. Kali ini Naruto benar-benar terkejut karena dia sedang dalam keadaan lengah tidak seperti biasanya.
"Hah... Hah... Hah... Kau membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya, Jun san." Ucap Naruto sambil ngos-ngosan.
DUK DUK DUK DUK
Tidak lama setelah itu, terdengar suara gaduh dari arah belakang rumah megah Naruto. Dan beberapa saat kemudian, terlihat 4 gadis remaja yang terlihat berdiri dengan posisi kuda-kuda bertarung masing-masing di lorong rumah Naruto.
Ternyata suara gaduh barusan berasal dari suara langkah kaki 4 gadis remaja yang tadi sempat sibuk di dapur atau anak-anak Naruto yang bergender perempuan.
"Tou chan, siapa perempuan itu?!" Tanya seorang gadis dengan nada suaranya yang ia buat setegas mungkin. Gadis yang barusan bertanya memiliki surai berwarna kuning emas sepunggung. Gadis tersebut juga terlihat berdiri paling depan di antara gadis yang lain saat iris birunya melihat Jun yang berdiri di dekat Naruto.
"Tenang saja Minna, dia adalah teman tou chan yang berasal dari luar Konoha." Jawab Naruto yang terlihat sudah mulai tenang kembali dari rasa terkejutnya akibat ulah Jun.
"Hallo semuanya..." Ucap Jun dengan nada ceria serta senyuman manis yang terukir di wajah cantiknya sambil melambaikan tangannya pada para gadis yang ada disana.
Semua anak gadis Naruto langsung terpukau saat melihat senyuman manis Jun. Mereka seolah tersihir dan tanpa sadar mereka sudah tidak memasang gaya bertarung mereka.
"Perkenalkan minna, dia adalah teman tou chan, dan namanya adalah Jun." Ucap Naruto yang mengembalikan pikiran para anak gadisnya yang sempat terpukau dengan kecantikan Jun.
"Salam kenal, minna." Ucap Jun lagi dengan nada ceria seperti anak-anaknya.
"Ha-hai'..." Jawab semua anak gadis Naruto secara bersamaan dengan nada yang terbata karena mereka masih mengagumi kecantikan perempuan bersurai hitam sepunggung tersebut.
WUSSSHHHH
Tiba-tiba saja sebuah angin berhembus kencang berasal dari dalam kediaman Naruto. Angin barusan membuat rambut para anak gadis Naruto langsung berkibar dan mereka terlihat menutup kedua iris mereka karena terkejut dengan angin yang entah muncul darimana tersebut.
"Perkenalkan, nama saya adalah Shin, Uzumaki Shin. Saya adalah anak dari Uzumaki Naruto yang juga Hokage di desa Konoha serta tuan rumah kediaman ini." Ucap seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berada di depan Jun dengan gaya berlutut dan nada suaranya yang ia buat sekeren mungkin.
Sepertinya pemuda inilah penyebab angin yang mendadak berhembus barusan.
"Namaku adalah Jun, aku adalah teman tou chanmu." Ucap Jun yang seolah tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan pemuda bersurai biru tersebut. "Salam kenal, Shin san." Lanjut Jun sambil memamerkan senyuman manisnya ke Shin yang masih berlutut di depannya.
"Oh... Sungguh nama yang indah seperti-" PLETAK PLETAK PLETAK PLETAK PLETAK Ucapan Shin langsung terputus karena ia dihadiahi sebuah jitakan oleh 4 anak gadis Naruto serta salah satu istri Naruto yang tiba-tiba juga sudah berada disana.
"Ma-maafkan kelakuan anak saya yang memalukan..." Ucap salah satu istri Naruto yang tidak lain adalah Konan sekaligus ibu kandung dari sang pemuda yang mendapatkan hadiah(?) jitakan barusan. Perempuan berusia sekitar 20 tahunan tersebut terlihat membungkuk berkali-kali sambil memegangi kepala anaknya yang terdapat benjolan besar dikepalanya agar juga ikut membungkuk dihadapan Jun.
"Hadeh, yare-yare..." Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memegang dahinya yang terlihat berkerut saat ia melihat adegan super cepat barusan.
Sementara sang tamu yang tidak lain adalah Jun hanya terkikik geli saat melihat kelakuan unik dari keluarga Naruto.
"Ada ribut-ribut apa sih?" Tanya seorang pemuda bersurai kuning panjang yang terlihat berjalan keluar dari salah satu ruangan yang ada di dalam rumah megah Naruto dengan suaranya yang terdengar tenang. Langkah pemuda terlihat setenang ucapannya barusan. Pemuda ini tidak lain adalah Reiga. Dia adalah anak dari Naruto dan Hanabi yang juga merupakan saudara kembar dari Reiji.
Pemuda tersebut terlihat menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di tempat asal keributan barusan. Setelah itu, pemuda yang terkenal tenang dan cenderung dingin tersebut langsung sweetdrop saat melihat salah satu ibunya yang masih membungkuk berkali-kali sambil memegangi kepala salah satu saudara laki-lakinya.
'Lebih baik, aku tidak ikut campur.' Ucap Reiga dalam hatinya saat iris biru indahnya melihat adegan gaje antara salah satu ibunya serta salah satu saudara laki-lakinya disana. Setelah puas melihat adegan gaje di depannya, pemuda berparas tampan tersebut terlihat memperhatikan seorang perempuan yang menurutnya asing baginya.
Setelah puas terkikik geli, Jun terlihat mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang baru saja datang. Perempuan berparas manis tersebut langsung tersenyum ke arah Reiga saat ia melihat pemuda berparas tampan tersebut sedang melihat ke arahnya dengan pandangan dingin serta tenangnya.
Wajah tampan Reiga langsung merona saat iris birunya melihat senyuman Jun. Ia juga merasakan jika wajahnya terasa memanas.
"Ter-ternyata ada ta-tamu ya..." Ucapnya dengan nada yang terdengar gugup sambil membalikkan badannya agar wajah tampannya yang memerah tidak terlihat oleh para saudarinya yang masih terlihat masih marah.
"HAH?!" Para anak gadis Naruto langsung menganga saat telinga mereka tanpa sengaja mendengar nada gugup dari Reiga barusan. Reiga seorang pemuda yang terkenal tenang dan dingin berucap dengan nada yang terdengar gugup? Begitulah mungkin isi kepala para anak gadis Naruto yang menganga saat ini.
Bukan hanya para anak gadis Naruto yang terkejut dengan nada suara tersebut. Bahkan Naruto sendiri terlihat sangat terkejut saat mendengar nada suara Reiga barusan.
"Re-Reiga? Kau-kau, Reiga kan?" Tanya Naruto dengan nada yang terdengar tidak percaya. Setelah itu ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Reiga yang berdiri tidak jauh darisana.
"A-apa kau sedang sakit?" Tanya Naruto dengan nada yang terdengar khawatir sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Reiga yang saat ini wajahnya terlihat memerah karena ronanya.
"Ah, iya aku lupa jika aku ada urusan yang harus aku selesaikan." Ucap Reiga seolah mengingat sesuatu. "Tou san, aku pamit dulu." Lanjut pemuda tampan tersebut sambil berlalu menuju kamarnya dengan wajahnya yang masih memerah.
Para anak gadis Naruto terlihat langsung saling pandang dengan mulut menganga masing-masing saat iris mereka melihat kelakuan Reiga barusan yang sangat jauh dari biasanya.
"Mau sampai kapan kau akan 'menahan tamumu' disana, Naruto kun?" Tanya seorang wanita cantik bersurai putih panjang yang terlihat barusaja keluar dari salah satu kamar yang ada di rumah megah Naruto. Ia tidak lain adalah Kaguya. Kaguya juga menekankan kata 'menahan tamumu' di kalimat yang ia ucapkan barusan untuk memberi isyarat pada Naruto.
"Se-sepertinya aku me-mencium bau masakan yang go-gosong?" Ucap seorang perempuan lain yang terlihat berjalan mengikuto perempuan bersurai putih tadi dengan nada gugup yang menjadi ciri khas dirinya ketika ia berada di dekat Naruto. Perempuan tersebut tidak lain adalah Hinata.
"GAWAT!" Para anak gadis Naruto yang baru sadar jika mereka tadi tidak mematikan kompor langsung terlihat panik dan sesegara mungkin meninggalkan tempat tersebut dan berlari menuju dapur.
"Hah..." Naruto hanya bisa menghembuskan nafas lelah setelah melihat para anak gadisnya berlari meninggalkan bagian depan rumahnya dan menuju dapur.
Skip time...
Beberapa saat kemudian para istri Naruto yang lain terlihat keluar dari kamar masing-masing dengan wajah cantik mereka yang terlihat sudah segar. Sementara Naruto sendiri langsung mengajak Jun ke ruang tamu kediaman megahnya setelah memperkenalkannya dengan para istrinya serta acara gaje telah lewat sejak beberapa saat yang lalu.
Saat ini para istri Naruto sudah menggantikan para anak gadis mereka untuk menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang di kediaman megah tersebut. Para anak gadis Naruto sendiri terlihat berjalan menuju kamar mereka dengan aura suram karena mereka merasa gagal untuk memberikan kejutan kepada orang tua mereka.
"Baiklah Jun san, apakah keperluanmu pagi ini hingga kau bertamu pagi-pagi sekali?" Tanya Naruto to the point sambil menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia duduki.
"Hihihi... Santailah sedikit, Naruto kun..." Ucap Jun setelah dirinya terkikik geli akibat kejadian gaje beberapa saat yang lalu. "Kan tadi kau sendiri yang menyuruhku untuk bertamu secara normal..." Lanjut perempuan cantik tersebut mengingatkan Naruto dengan kalimatnya yang ia ucapkan beberapa waktu yang lalu.
"Jadi kau menemuiku hari ini tanpa tujuan, begitu maksudmu?" Tanya Naruto sambil menegakkan tubuhnya dan menatap Jun dengan pandangan intens.
"Begitulah..." Jawab Jun dengan nada santai sambil mengalihkan pandangannya untuk melihat ruang tamu rumah Naruto yang terbilang luas.
Setelah jawaban Jun barusan, terlihat seorang perempuan cantik bersurai hitam yang diikat pony tail berjalan masuk kedalam ruang tamu dengan nampan berisi dua gelas teh yang ada di atasnya.
"Silahkan diminum tehnya, Jun san." Ucap Shizuka saat ia menaruh secangkir teh hijau di atas meja di depan tempat duduk Jun.
"Hai', terima kasih, Shizuka chan." Ucap Jun dengan nada manisnya yang senantiasa bersamanya sejak awal ia bertamu.
Shizuka hanya tersenyum pada Jun sebelum meninggalkan perempuan berparas manis tersebut bersama suaminya sambil memeluk nampan yang ia bawa.
"Naruto..." Ucap Shizuka dengan nada yang terdengar manis sambil memamerkan senyuman penuh arti pada Naruto dengan aura gelap yang muncul dari punggungnya seolah memberi tahu agar Naruto tidak berbuat macam-macam dengan perempuan tersebut.
"Ha-hai', Shizuka chan... Aku mengerti..." Ucap Naruto sambil bergidik ngeri saat iris birunya melihat senyuman penuh arti dari Shizuka barusan.
"Hei Naruto, bisakah aku bertanya sesuatu?" Tanya Jun setelah Shizuka berlalu dari ruang tamu dengan suaranya yang terdengar misterius.
"Apa itu, Jun san?" Tanya balik Naruto dengan nada yang terdengar tidak kalah serius dari lawan bicaranya.
"Apakah..." Ucap Jun terdengar menggantung. Hal tersebut tentu membuat Naruto semakin penasaran. "...Kau dulu..." Kini perasaan Naruto mulai dirayapi perasaan tidak enak setelah mendengar ucapan Jun. Ia merasa seperti de javu dengan hal ini. "... Tidak perkasa di atas ranjang?" Tanya Jun yang akhirnya selesai sambil menatap pemuda di depannya dengan pandangan penasaran.
DUARRR
Naruto bagai disambar petir disiang bolong setelah mendengar pertanyaan Jun barusan. Dan beberapa detik kemudian, lelaki berparas tampan tersebut terlihat pundung di pojok ruang tamu sambil mematahkan sebuah ranting yang entah dia dapat dari mana lalu mengorek lantai ruang tamunya menggunakan patahan ranting tersebut dengan aura suram yang menggelayuti dirinya.
Jun langsung sweetdrop saat melihat hal tersebut. Kelakuan Naruto saat ini benar-benar melenceng dari perkiraannya. Ia berpikir jika Naruto akan mengelak atau berbohong dengan nada suara yang dia buat sebijak mungkin karena dia adalah sang pemimpin desa Konoha.
"Kenapa hikss... Kenapa semua orang bilang begitu hikss..." Ucap Naruto yang pundung dengan aura suram dengan nada suara yang sangat pelan akan tetapi Jun masih bisa mendengar ucapan Naruto barusan.
"Naruto kun, Jun san, mari kita sarapan bersama..." Ucap seorang perempuan bersurai ungu gelap yang terlihat barusaja sampai di ruang tamu.
Perempuan cantik tersebut langsung ikut sweetdrop seperti Jun saat iris coklat indahnya melihat Naruto yang pundung dengan aura suram.
'Sepertinya aku pernah melihat hal ini, tapi entah kapan...' Ucap perempuan bersurai ungu gelap tersebut dalam hatinya sambil terus melihat ke arah Naruto. Setelah puas memandang Naruto yang pundung, perempuan cantik tersebut mengalihkan pandangannya pada sang tamu dengan tatapan tanya.
Sang tamu yang tidak lain adalah Jun yang dipandang penuh tanya oleh salah satu istri Naruto hanya bisa mengendikkan bahu pertanda bahwa ia tidak tahu menahu. Jun mengendikkan bahu karena ia merasa jika pertanyaannya barusan adalah hal yang wajar.
Tapi setelah beberapa detik pundung, Naruto terlihat berdiri dan berlalu dari ruang tamu tersebut untuk menuju ruang makan yang berada di bagian belakang rumahnya dengan aura suram yang masih menggelayuti dirinya.
"Jun san, mari ikut sarapan bersama kami." Ucap perempuan cantik bersurai ungu yang tersadar dari sweetdropnya setelah Naruto berjalan melewatinya.
"Ha-hai', Yugao san." Ucap Jun sedikit terbata karena baru sadar dari sweetdropnya juga.
Setelah itu Jun terlihat berdiri dan berjalan mengikuti Yugao yang telah berjalan lebih dulu.
'Ternyata Naruto kun orang yang menarik.' Ucap Jun dalam hatinya saat melihat pemuda tersebut bisa berjalan menuju ruang makan dengan aura suram.
Skip time...
Setelah acara sarapan pagi bersama, Naruto dan Jun terlihat berjalan keluar dari rumah megah tersebut bersama. Para istri Naruto yang mengantarkan dirinya hanya bisa melihat hal tersebut sambil tersenyum penuh arti(Baca: tersenyum paksa) pada Naruto dengan aura angker yang keluar dari punggung mereka masing-masing.
Naruto yang melihat hal tersebut hanya bisa bergidik ngeri setelah itu ia terlihat berangkat meninggalkan kediamannya untuk menuju kantor Hokage.
Sementara Jun sendiri terlihat tenang-tenang saja saat ia meninggalkan kediaman Naruto. Sepertinya perempuan berparas cantik tersebut tidak terpengaruh dengan aura angker para istri Naruto barusan.
Kedua makhluk berbeda gender tersebut terlihat berjalan beriringan saat menuju tujuan masing-masing. Hal itu karena jalan yang mereka lewati memang searah.
Naruto akan menuju kantor Hokage, sementara Jun akan kembali ke kediaman sementara miliknya selama ia berada di desa Konoha. Mereka berdua terlihat menembus keramaian penduduk desa Konoha yang sudah mulai beraktifitas pagi itu dengan hening.
"HOKAGE SAMA... HOKAGE SAMA..." Teriak seorang wanita cantik beriris coklat dengan surai senada yang dicepol dua saat iris indahnya melihat Naruto diantara aktifitas penduduk desa. Ia terlihat berteriak sambil berlari menembus aktifitas penduduk desa untuk mendekati Naruto. Perempuan tersebut berteriak karena jaraknya dengan Naruto memang terpantau lumayan jauh.
Naruto yang merasa dipanggil langsung menghentikan langkahnya dan langsung membalikkan badannya untuk melihat sang pemanggil yang notabene berasal dari belakangnya.
Jun sendiri secara refleks ikut menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara wanita yang memanggil Naruto barusan.
Wanita yang memanggil Naruto tadi tidak lain adalah Tenten. Wanita tersebut terlihat menghentikan larinya saat ia sudah berada dihadapan Naruto dan Jun.
"Ada apa, Tenten chan? Kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?" Tanya Naruto dengan nada yang terdengar tenang.
"Ada seseorang yang ingin menemuimu di rumah sakit, Hokage sama." Ucap Tenten dengan nada yang terdengar formal.
"Jangang formal begitu, Tenten chan." Ucap Naruto yang merasa kurang nyaman dengan nada formal Tenten. "Ngomong-ngomong, siapa yang ingin menemuiku di rumah sakit, Tenten chan? Apakah Sakura?" Lanjut Naruto dengan nada yang terdengar penasaran.
"Bukan." Jawab Tenten singkat. "Dia adalah seorang perempuan asing. Dan juga dia bilang ingin bertemu dengan..." Tenten terlihat menggantung kalimatnya saat iris coklat indah miliknya melihat Jun yang sedang berdiri tidak jauh dari Naruto.
"Me-Messiah san?" Tanya Tenten dengan nada bingung saat melihat Jun yang berdiri dalam diam di dekat Naruto. "Bu-bukannya kau sedang berada di rumah sakit saat ini?" Lanjut Tenten bertanya pada Jun yang ia kira sebagai sosok yang ia temui dini hari tadi.
Iris indah Jun langsung terlihat membelalak saat telinganya mendengar panggilan Tenten untuknya. Setelah itu sebuah kilatan tajam terlihat di iris hitam perempuan cantik tersebut yang ia arahkan ke Tenten. Pandangan Jun saat ini seolah meminta penjelasan pada Tenten bagaimana wanita berusia 30 tahunan tersebut bisa mengetahui nama kakak kembarnya.
Tenten yang dipandang dengan kilatan tajam iris Jun hanya bisa berdiri membeku di tempatnya. Kata-katanya seolah berhenti di tenggorokannya.
"Tenanglah, Jun san." Ucap Naruto setelah melihat ekspresi ketakutan di wajah cantik Tenten lalu mengikuti arah pandang wanita cantik tersebut.
"EH?!" Jun seolah terkejut setelah mendengar ucapan Naruto barusan. Setelah itu, ia terlihat menundukkan wajah cantiknya karena rasa bersalah.
Tenten langsung bernafas lega saat iris coklatnya tidak melihat Jun menatapnya dengan tatapan tajam lagi.
"Siapakah perempuan asing tersebut, Tenten san?" Buru Naruto yang sepertinya sudah sangat penasaran ingin mengetahui siapa orang yang ingin menemuinya.
"Tapi dia berpesan padaku, sebelum kau melihatnya, dia ingin kau membawa seseorang bernama Jun untuk kau ajak bersama untuk melihatnya." Ucap Tenten yang sudah tenang dengan penekanan pada kata 'Jun' dalam kalimat yang ia ucapkan barusan.
"Dia adalah Jun san, Tenten chan." Jawab Naruto sambil memberi isyarat menggunakan tangannya. Setelah itu, Jun terlihat membungkukkan badannya 90 derajat dihadapan Tenten. "Siapa sebenarnya orang yang ingin menemui diriku, Tenten chan?" Buru Naruto lagi yang terlihat semakin tidak sabar dengan seseorang yang ingin menemuinya.
"Beliau adalah Messiah san. Sang dewi cinta." Jawab Tenten dengan penekanan pada kata 'sang dewi cinta'.
DUARRR
Naruto dan Jun langsung membeku di tempat mereka berdiri setelah mendengar jawaban dari Tenten barusan. Jutaan pertanyaan langsung muncul dikepala Naruto dan Jun setelah mendengar hal tersebut.
Akan tetapi setelah terkejut selama beberapa saat, Naruto dan Jun langsung menghilang secara bersamaan menggunakan jutsu masing-masing untuk meninggalkan tempat tersebut. Naruto menghilang menggunakan hiraishinnya, sementara Jun menghilang menggunakan jutsu ruang dan waktunya.
Sementara itu di tempat lain yang terlihat seperti desa Konoha...
Tempat ini terlihat seperti desa Konoha. Akan tetapi di tempat ini tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali berbanding terbalik dengan tempat Naruto barusan. Yang membuat tempat ini lebih aneh adalah waktu di tempat ini masih malam hari. Hal itu dibuktikan dari cahaya bulan purnama yang menerangi langit tempat ini.
Tepat dibawah siraman cahaya bulan purnama di tempat ini, terlihat sesosok bayangan yang sedang melayang. Jika dilihat lebih dekat, sosok tersebut merupakan seorang perempuan. Sosok tersebut terlihat memiliki sepasang sayap berwarna hitam di punggungnya yang saat ini terlihat terbuka.
Sosok misterius itu terlihat terengah-engah seperti telah melakukan sesuatu yang sangat berat. Jari-jari tangannya yang lentik terlihat membuka dan menutup seiring dengan nafasnya yang terdengar berat. Di dahi sosok tersebut ada sebuah ruby yang terlihat memancarkan cahaya berwarna merah yang perlahan meredup sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.
"SIALAN KAU MESSIAH!" Teriak sosok tersebut sambil menatap bulan yang berada diatasnya. Beberapa saat kemudian, kuku-kuku jari tangan sosok tersebut terlihat memanjang beberapa centi.
SRING SRING SRING SRING DUARRR DUARRR DUARRR
Setelah berteriak, sosok tersebut terlihat menyerang area di bawahnya dari tempatnya melayang saat ini dengan membabi buta. Kemudian, dari ruby yang berada di dahinya, terlihat cahaya laser panjang yang menghancurkan semua bangunan yang berada dibawahnya menjadi tanah.
"BUKAN HANYA MENGGAGALKAN RENCANAKU UNTUK MEMBALAS DENDAM, TAPI KAU JUGA MENGURUNGKU DI TEMPAT TERKUTUK INI!" Teriak sosok tersebut sekali lagi dengan suara yang kerasnya bukan main.
"HUAAA" Tiba-tiba sosok perempuan misterius itu terlihat berteriak sekali lagi. Bedanya kali ini dia mengarahkan kepalanya ke arah bulan purnama yang ada di atasnya.
DUARRR
Bulan purnama yang ada di depan sosok tersebut langsung hancur berkeping-keping setelah cahaya laser yang keluar dari ruby di dahinya menghantamnya.
"Tunggu saja, Kami brengsek..." Ucap sosok tersebut pada kekosongan. "... Setelah keluar dari tempat ini, aku pasti akan menghancurkan semua ciptaanmu meskipun tanpa tubuh Messiah!" Lanjut sosok tersebut yang lebih mengarah pada dirinya sendiri.
"Karena bagaimanapun juga, aku telah menyerap sebagian besar kekuatan dari si jalang itu." Ucap sosok tersebut masih pada kekosongan hanya saja kali ini ucapan ini terdengar sangat pelan. Setelah itu, sosok misterius itu terlihat mengeluarkan seringaian jahatnya.
TBC
Wah akhirnya chapter ini bisa saya selesaikan setelah waktu yang cukup lama. Sekali lagi saya sebagai penulis 'WHMB: The New Trouble' yang tidak lain adalah Akuma no Phoenix mengucapkan maaf sebesar-besarnya kepada para readers sekalian. Lagi saya mohon maaf kepada pecinta chara Tenten sekalian jika saya membuatnya terlalu menderita di chap ini. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada readers sekalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Oh ya sedikit spoiler dari saya, nanti saya akan menyingkirkan beberapa istri serta anak dari Naruto di cerita ini. Jadi jika kalian tidak ingin chara kesukaan kalian disingkirkan, kalian bisa menuliskannya dalam review.
Dan saya ucapkan terima kasih banyak kepada "nelaA q". Berkat review dari anda saya bisa mengembangkan cerita ini menjadi demikian.
Jadi musuh Naruto nanti bukanlah Messiah tapi sosok misterius yang tadi marah-marah di akhir chapter. Oh ya sedikit spoiler lagi, nanti istri Naruto hanya tinggal 3 atau 4 orang saja.
Sekali lagi saya mohon maaf karena perkiraan saya jika chapter ini akan menjadi akhir dari cerita ini ternyata masih meleset lagi. Tapi semoga para readers sekalian tidak kecewa dengan karangan saya dan tetap mau bersabar untuk menunggu kelanjutannya.
Sekali lagi, jangan lupa tinggalkan dukungan kalian dalam bentuk review setelah membaca fic ini. :D
Akuma Phoenix say, see you in next chapter, minna.
