" Hyung, maaf kami datang semalam dan semendadak ini." ujar Yixing pada Minseok yang tengah menaruh tiga gelas kopi panas di atas meja. " Maaf juga kami menahan waktu pulangmu, kau pasti lelah mengurus cafe seharian."

Minseok menggeleng pelan seraya tersenyum lembut. " Tidak masalah, Yie. Melihat kondisi Chanyeol, aku tahu sesuatu tengah terjadi."

Yixing terkekeh canggung. Ia kemudian melirik ke sampingnya, tempat dimana Chanyeol tengah berada. Memang benar, dalam sekali lihat saja semua orang akan tahu kalau laki-laki itu sedang bermasalah. Aura gelap yang dikeluarkannya terlalu mencekam bagi siapapun yang berada di dekatnya. Chanyeol seolah sedang menunjukan pada dunia bahwa siapapun yang hendak mengganggunya saat ini akan musnah detik itu juga.

" Apa yang membuat kalian mendatangiku disini?" tanya Minseok setelah mereka cukup lama terdiam dalam sunyi. " Jelas ini bukan hal sepele, kan?"

Yixing menyesap kopinya sebelum menjawab. " Kami butuh informasi darimu, Hyung."

" Informasi?"

" Betul.." ucap Yixing. Lalu ia melirik ke arah Chanyeol lagi. " Kau mau aku yang menjelaskan atau kau sendiri? Karena jelas kau lebih mengenalnya daripada aku, Boss."

Chanyeol berdecak, namun dengan segera ia membetulkan posisi duduknya sehingga ia kini menghadap tepat ke arah Minseok. Ada jeda cukup lama sebelum Chanyeol bersuara. " Ini tentang Baekhyun."

Minseok menautkan alisnya. " Baekhyun? Ada apa? Kenapa kau harus menanyakan tentang mendiang temanku?"

" Karena dia kekasihku." aku Chanyeol.

Hal itu sontak saja membuat Minseok dan bahkan Yixing membelalakan mata seketika. Bagaimana tidak? Chanyeol yang selama ini begitu apatis pada cinta dan tak pernah benar-benar mencintai siapapun selain Irene tiba-tiba saja mengklaim seseorang sebagai kekasihnya. Selama ini mereka kira Chanyeol tak akan lagi sanggup menaruh hati pada seseorang setelah banyak hal menyakitkan ia lalui, namun ternyata mereka salah. Yang paling membuat mereka syok adalah sosok yang Chanyeol akui sebagai kekasihnya itu adalah seorang lelaki. Sama seperti mereka.

Sementara itu, Yixing sendiri memang tahu hubungan antara bossnya dengan Baekhyun cukup tidak wajar, namun ia tak pernah benar-benar menduga kalau Chanyeol akan mengakuinya segamblang ini. Terlebih di situasi sekarang dimana Baekhyun bisa saja membelot jadi musuh mereka. Yixing hanya takut kalau segalanya akan jauh lebih berantakan dan yang terparah,

Ia takut Chanyeol kembali hancur.

" Apa maksudmu Baekhyun itu kekasihmu, Chanyeol? Jangan mengada-ngada. Baekhyun telah lama mati."

Chanyeol menggeleng. " Bocah itu tidak pernah mati. Dia hanya memalsukan segalanya untuk sebuah tujuan yang aku sendiri belum mengerti."

Minseok menatap Chanyeol tidak percaya. Dia tahu Chanyeol tak pernah berbohong, namun ucapannya kali ini jelas sulit untuk ia terima. " Aku tidak mengerti, Chanyeol. Jelaskan!"

" Byun Baekhyun, atau mungkin Kim Baekhyun…

Dia belum mati. Dia tak pernah membunuh dirinya sendiri. Dia selama ini bersembunyi di Jepang dan tiba-tiba saja dia menemuiku beberapa bulan yang lalu dengan alasan ingin melindungiku, entah dari apa. Baekhyun yang kau kenal selama ini bersamaku, Hyung."

Minseok menggeleng-gelengkan kepalanya, kedua matanya melebar bersamaan dengan kedua alisnya yang berkerut. Hatinya bergemuruh karena rindu juga rasa bersalah bersamaan dengan perasaan lega yang tiba-tiba saja muncul. Ia memang menyangkal kemungkinan itu, namun diam-diam Minseok jelas mengharapkan kalau ucapan Chanyeol memang benar adanya. Hingga kemudian sosok seseorang terlintas dalam benaknya.

" Jangan bilang…. Jangan bilang kalau Kazuto itu Baekhyun. Jangan bilang kalau selama ini aku memang tak salah mengira dia temanku?!"

Chanyeol tersenyum kecil. " Kirigaya Kazuto itu memang temanmu, Hyung. Dia Baekhyun."

" Astaga!!" Minseok mengerang. " Apa yang terjadi padanya?"

" Dia telah menjadi sosok yang luar biasa Jenius, Hyung. Terlalu Jenius hingga kami semua dapat dia kelabui dengan mudah. Dia muncul ke hadapan Chanyeol dengan identitas baru yang benar-benar tampak nyata. Namun selama ini dia memang melindungi Chanyeol seperti janjinya, dia membantu kami semua. Tapi beberapa hari yang lalu, dia tiba-tiba saja pergi tanpa jejak sedikitpun. Terakhir yang kami ketahui, dia berada di Bucheon." jelas Yixing sambil menyodorkan beberapa berkas tentang Kirigaya Kazuto kepada Minseok.

" Kau benar, dia memang pintar mengelabui. Aku saja tertipu. Lagi pula kalian mengatakan kalau dia itu bocah berusia dua puluh tahun sementara Baekhyun temanku jelas bukan seorang anak bocah."

Chanyeol menaikan sebelah alisnya. " Maksudmu? Dia juga memalsukan usianya?"

Minseok mengangguk. " Jelas sekali. Kalau dia memang Baekhyun temanku, maka kau dan dia berada di usia yang sama, Chanyeol. Dia bukan bocah berusia dua puluh tahun."

" Sialan!" Chanyeol mengumpat keras. Emosi membakarnya seketika tapi dia berusaha untuk tetap tenang.

" Lalu apa lagi yang bisa kau beritahu kami tentang dia?" Yixing bertanya mewakili Chanyeol, ia juga terlalu penasaran akan sosok anak muda berbakat yang selama ini ia kenali dengan nama Kazuto itu.

" Sudah kubilang aku hanya akrab dengannya saat kami masih kecil. Terakhir yang kutahu, dia jadi anak yang cukup nakal. Itupun karena kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Perusahaan ayahnya berada di ambang batas kehancuran dan oh, aku mendengar sesuatu tentang perusahaan ayahnya yang hancur karena- Astagaaa Chanyeol…" Minseok tiba-tiba saja menghentikan ucapannya sambil menatap Chanyeol dengan sorot ketakutan.

Chanyeol menatap minseok keheranan. " Kenapa?"

" Perusahaan ayah Baekhyun hancur karena…. The Black Company."

--o0o--

Luhan memberontak ketika Sehun menarik tangannya kemudian menyeret tubuhnya hingga mereka berdua kini berada di pelataran parkiran tempat dimana mobil Sehun berada. Luhan benar-benar ketakutan disisi lain ia juga tak terima diperlakukan dan dituduh sedemikian rupa oleh Sehun.

" Kau bersekongkol dengan Kim Jongin untuk menghancurkan Chanyeol, kan?" tuduh Sehun. " Kau selama ini menghilang bukan karena sedang ada project dengan temanmu seperti yang kau katakan padaku waktu itu, Hyung. Kau berbohong!"

Luhan menggeleng. " Ini tidak seperti yang kau kira, Sehun-ah segalanya jauh lebih rumit lagi!"

" Aku menolak mempercayai ucapanmu lagi, Hyung. Kukira kita berteman, tapi ternyata kau-"

" Aku diculik!!!!!" Luhan menjerit frustasi. Lengannya sakit karena cengkraman Sehun yang enggan melonggar, ia lelah dan yang paling membuatnya hampir gila adalah tatapan mata Sehun yang jelas memancarkan kebencian. Hatinya sakit melihat itu, Luhan tahu dia baru saja melakukan kesalahan, namun bukan berarti dia ingin melakukannya. " Mereka membawaku begitu saja ke mansion itu, Sehun-ah. Aku disekap disana selama ini dan aku baru bisa bebas jika aku membantu mereka. Aku tidak bisa menolak karena mereka mengancam akan membunuhku jika aku enggan membantu!"

" Kenapa kau tidak mengatakannya padaku kalau begitu? Kim Jongin jelas bermusuhan dengan Park Chanyeol, tapi Chanyeol itu temanku, Hyung. Saat kau bertemu denganku waktu itu, seharusnya kau meminta bantuanku kalau kau memang tidak ingin terlibat. Aku pasti bisa menyelamatkanmu, hyung. Kau harus tahu, aku benar-benar tak habis pikir saat aku mendapatkan informasi tentang kau yang bersekongkol dengan Jongin. Aku sangat mempercayaimu selama ini makanya aku terkejut! Aku tak ingin percaya tapi buktinya memang ada!"

Luhan mendesah lelah. Ia kemudian menundukan kepalanya saat ia merasakan air matanya mulai membendung. " Aku takut, Sehun-ah. Jongin menceritakan banyak hal buruk tentang Chanyeol. Aku tidak tahu pihak mana yang harus kupercaya. Aku ingin menyelamatkan nyawaku dan dalam fikirku, selama aku menuruti Jongin, aku akan aman. Aku tidak berniat menyerang siapapun. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri."

" Hyung…"

" Sehun-ah, aku minta maaf. Demi tuhan, aku tidak bermaksud terlibat dalam masalah kalian. Aku tidak berniat mengkhianatimu. Aku minta maaf." Luhan memohon dengan lirih. Setelahnya ia mendongak, kembali memberanikan diri untuk menatap Sehun dengan matanya yang basah dan memerah. " Kalau memang ada yang harus disalahkan, ini semua salah Baekhyun. Dia sumber masalah sebenarnya."

Sehun turut menatap Luhan sambil menautkan alisnya. " Jelaskan padaku, Hyung. Bantu aku!"

Luhan mengangguk. " Aku akan membantumu, Sehun-ah."

--o0o--

Langit sudah menggelap dikuasai mendung sejak beberapa menit yang lalu. Suara gemuruh samar terdengar bersahut-sahutan. Tak lama setelahnya hujan benar-benar turun, perlahan namun pasti. Baekhyun membuang nafasnya perlahan, membiarkan titik-titik air yang berjatuhan mulai membasahi bajunya. Ia memandangi gundukan tanah di depannya sambil berdiri tanpa rasa lelah selama beberapa jam terakhir.

Ada hantaman rasa nyeri yang luar biasa setiap kali Baekhyun membaca nama mendiang ibunya terpahat rapi di atas nisan marmer hitam itu. Memori lama menyakitkan yang telah lama ia kubur dalam-dalam itu seolah kembali memaksa naik ke permukaan. Begitupun saat ia membaca namanya sendiri terpahat di atas nisan lain tepat di samping ibunya.

Beberapa tahun yang lalu, saat kehancuran itu datang. Baekhyun yang sudah terlalu putus asa memang hampir membunuh dirinya sendiri. Ia sudah merasa dunia bukanlah lagi tempat yang cocok untuknya dan ia tak lagi punya tujuan yang harus ia gapai. Apalagi setelah hal keji yang ia lakukan. Namun seseorang muncul, menyelamatkannya secara tidak langsung dan sejak saat itu Baekhyun kembali merasa memiliki harapan.

Baekhyun memang telah mati, raga nya yang lama telah ia kubur lama dalam gundukan tanah itu. Baekhyun sengaja memalsukan kematiannya karena ia ingin mengubur sosok lamanya. Baekhyun ingin hidup sebagai sosok baru dan ia hampir berhasil melakukannya jika saja 'dia' tidak kembali menampakkan eksistensinya.

" Kau tahu, nak. Hidup tidak pernah adil."

Baekhyun menarik sudut bibirnya, memaksakan sebuah senyuman ketika sebuah suara terdengar di sisinya. " Aku tahu. Aku hanya tak mengerti kenapa harus seperti ini jadinya? Tidak... Maksudku, kenapa harus aku yang memiliki kehidupan seperti ini?"

Sosok di samping Baekhyun itu menatapnya iba. " Itu semua salahku, aku terlalu egois. Namun kau harus tahu, aku selalu melakukannya untuk keluarga kita."

" Benarkah?"

" Tentu, nak." jawab sosok itu sebelum ia meraih bahu Baekhyun dan menepuknya pelan seolah tengah memberikan kekuatan. " Dia yang menghancurkanku, Park Chanyeol yang menghancurkanku. Maka dari itu, kita harus membalaskan dendam kita. Dia yang membunuh ibumu."

Baekhyun tak bersuara. Enggan memberikan reaksi apapun. Ia kemudian menoleh ke sisinya, menatap sosok laki-laki tua yang sejujurnya enggan ia temui lagi. " Segalanya akan segera selesai."

Sosok itu mengangguk. " Ya. Segalanya akan segera selesai. Kau akan membunuh Park Chanyeol. Bayarkan segala dendam ayahmu ini, nak. Bunuh dia dengan cara yang sama seperti saat dia hampir membunuh aku beberapa tahun lalu."

" Baiklah, appa."

--o0o--

Shin MinAh menghampiri Jongin yang baru saja menghabiskan batang rokoknya dengan segelas wine ditangannya. Senyuman secerah mentari tak luntur sedikitpun dari wajah cantiknya yang mulai lelah karena usia.

" Segalanya akan segera selesai, Jongin-ah."

Jongin mengangguk puas. " Benar, eomma. Kita akan segera mendapatkan keadilan yang selama ini kita dambakan dan Park Chanyeol akan segera menemui ajalnya."

" Dia akan segera mendapatkan ganjaran yang setimpal karena meremehkan kita selama ini." Shin MinAh menimpali.

Jongin tersenyum ceria sembari merentangkan tangannya ke udara. Dia merasa senang akan kebebasan serta kepuasan yang akan segera dia dapatkan. Jongin merasa bahagia meskipun disisi lain ada secuil rasa sesal. Andai saja Chanyeol bisa menghargai dia dan ibunya, mungkin segalanya tak harus jadi tragedi seperti ini.

" Beristirahatlah, Nak. Besok adalah hari kemenangan kita. Jangan biarkan rencana eomma selama belasan tahun ini jadi sia-sia. Jangan biarkan kematian ayahmu menjadi sia-sia."

Jongin menoleh cepat, menatap ibunya sambil memasang wajah kebingungan. " Maksud eomma? Kenapa ini harus ada sangkut pautnya dengan kematian ayah kandungku?"

Shin MinAh menyeringai licik. " Biar eomma beritahu kau sesuatu, Jongin-ah… Kita akan menguasai harta keluarga Park karena sejak awal memang itulah rencanaku."

" Eomma, aku tidak mengerti. Rencana ini kita buat karena ketidakadilan appa Park kan?" tanya Jongin. Entah mengapa, ia merasakan sesuatu yang buruk akan segera ia dengar.

" Bukan, sayang." jawab Shin MinAh tenang. " Sejak awal aku menikahinya karena aku memang mengincar hartanya. Kebencian Chanyeol pada kita sebenarnya mendasar, karena memang eomma yang membuat si tua Park itu terbaring lemah seperti sekarang."

" Apa??!!!"

--o0o--