WHITE MARRIAGE

by Gyoulight

.

.

.

.

CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Marriage Life/?

RATING: T/?

.

.

.

.

Jajaran karyawan berlalu-lalang mendahului. Beberapa hilang menaiki lift, sementara Chanyeol baru saja duduk dari sibuk pekerjaannya mengantar beberapa dokumen ke dalam ruangan managernya. Anehnya, ini adalah hari berat dimana semua kepala menghadapi keberantakan besar karena dirinya. Tapi ia kembali tidak dilibatkan dalam rapat. Tidak pula disinggung soal pemecatan seperti yang Chanyeol perkirakan.

Jongin yang super berantakan sudah menumpuk berbagai dokumen di mejanya. Menimbang beberapa data lalu tidak sempat menyapanya karena alasan kesibukan. Chanyeol sendiri duduk santai di kursinya dengan sangat tidak enak hati. Hanya bisa menatap sekelilingnya dengan menggaruk tengkuk. Tidak punya tugas sama sekali.

Sampai pada akhirnya sebuah pintu dibuka dengan tidak sabar. Sosok pamannya datang dengan raut sekusut keset di tiap pintu. Membuat semua orang menghentikan aktifitas, termasuk Jongin yang akhirnya dapat melepaskan pekerjaannya sejenak. Pria tan itu lantas menatapnya bergantian dengan pamannya di ujung sana.

"Chanyeol, ke ruanganku!" perintah pamannya yang selaku CEO perusahaan keluarga Park. Gurat-gurat ekstrim di wajahnya lalu membuat seluruh jajaran karyawan yang ada di dalam sana menelan ludah. Sudah berpikir yang tidak-tidak soal masa depan Chanyeol dalam pekerjaannya.

Chanyeol dengan santai beranjak dari sana. Mengabaikan Jongin yang masih ternganga-nganga. Sempat berpikir, jika temannya itu dipecat bagaimana hari-harinya? Namun dengan CEO yang datang memanggil keponakannya sendiri, jauh-jauh menuruni lantai empat, bukankah ada sesuatu yang lebih besar dari pada proses pemecatan?

Chanyeol tidak berbicara apapun. Membiarkan pamannya membawa dirinya jauh menaiki beberapa lantai dengan lift. Tidak juga mengawali beberapa hal dengan senyuman hingga Chanyeol berpikir jika ia memang benar-benar hendak dipecat.

"Mulai besok pindahkan barang-barangmu ke meja direktur," bicara pamannya membuka pintu ruangannya. Tidak mempersilahkannya duduk, alih-alih membiarkannya duduk dimanapun yang ia sukai.

"Tidak perlu, pak," tolak Chanyeol mengambil duduk di sofa. Walau bagaimanapun, pamannya adalah pimpinan dimana ia bekerja. Jadi tidak baik baginya membawa hubungan keluarga ke dalam urusan pekerjaan.

Pamannya menghela nafas panjang. Tidak lupa memijit pangkal hidung di dekat tumpuan kaca matanya. "Kau tidak bisa terus berada disana dengan keras kepalamu itu."

"Ada beberapa hal yang─"

"Kau pernah menghilang dua hari lamanya saat rapat itu dimulai."

Chanyeol terdiam ketika kalimatnya dipotong. Sedangkan pamannya lebih dahulu mengambil sebuah note kecil di atas mejanya. Sekertarisnya ternyata sudah menitipkan setumpuk laporan penting pagi ini.

"Karenamu, kita kehilangan beberapa hal penting." Komentar adik mendiang ayahnya itu mengambil ponsel. Berniat ingin mengirim pesan pada ibu sang keponakan, tapi ada perasaan yang tidak pas saja baginya. "Aku ingin kau keluar dari sana."

Chanyeol berkedip. Sedikit sadar diri bahwa kelalaiannya pada tugas hari itu adalah bencana bagi perusahaannya. Walaupun tidak sebesar krisis perusahaan tahun lalu, tapi bagaimanapun semua itu mampu menggulingkan sistem perusahaan keluarga Park jika Jongin tidak menggantikan kehadirannya. Pamannya mungkin sudah menyimpan amarah pada suatu tempat, tapi sayangnya, semua amarah itu seolah sengaja dihilangkan. Tak lain adalah karena alasan klasik─hubungan keluarga.

"Kau tidak cocok berada disana."

Medengar itu, Chanyeol mulai menindak tegas pamannya. Ia sendiri bosan mendengar alasan sekelas 'tidak cocok' seperti barusan. Terlebih ia sudah berusaha keras dengan tugasnya selama ini. Mengorbankan banyak waktu hidupnya, sampai ia berubah menjadi manusia robot. Pulang bekerja ia menjadi seonggok mesin yang butuh bahan bakar. Bahkan menjadi orang yang emosional. Bagaimana mungkin seluruh kinerjanya itu masih saja dikatakan tidak cocok untuk disandingkan dengan posisinya?

Chanyeol sendiri tidak ingin hidupnya berantakan karena urusan pekerjaan yang memancing emosi. Sudah cukup masalahnya dengan Baekhyun waktu lalu. Dan kini Chanyeol hanya ingin hidup tenang dengan sedikit pergerakan. Tidak masalah tidak punya jabatan tinggi, asal ia bisa pulang cepat.

"Jika saya tidak cocok disana, bagaimana mungkin saya cocok di kursi direktur?" Chanyeol membalas dengan tenang. Ditatapnya gurat tegas pamannya yang mulai mengendur. "Saya tidak suka menjadi sibuk."

Namun pamannya tetap bersikeras. Ingin meletakkannya tepat di suatu posisi yang seharusnya, walaupun Chanyeol tidak akan pernah suka. "Aku mengerti dirimu. Tapi kau adalah orang yang penting bagi kami. Bagaimanapun kau adalah orang yang akan─"

"Terima kasih, tapi saya tidak tertarik. Saya punya hal yang jauh lebih penting dari pada itu." Chanyeol memotong. Segera beranjak dari sana seperti yang selalu ia lakukan. Tak lupa ia membungkuk lalu menarik pintu tanpa mendengar seruan pamannya.

Menelusuri lorong, Chanyeol akhirnya ditangkap bingung. Kakinya ia arahkan pada dinding kaca yang menghias tiap sisi gedung. Memandang pemandangan luas tentang gedung lainnya yang tidak lebih tinggi. Sesekali ia mencapai jalanan yang terlihat kecil di bawah sana. Melegakan pikiran-pikiran kusut soal ia yang terus ditawari untuk mengisi posisi penting.

"Jadi kau menolaknya lagi?"

Jongin datang dengan dua gelas kopi dingin. Jam makan siang rupanya sudah datang. Pantas saja beberapa lantai sudah dihambur oleh banyak karyawan.

Chanyeol menerima kopi itu dengan cuma-cuma, sementara Jongin kembali menikmati kopi miliknya. Tidak perduli dengan apa yang tengah ia pikirkan. "Menolak apa?"

"Alasan apa lagi sekarang?" tanya Jongin paham benar bagaimana alur hidupnya. Dan ajaibnya, walaupun tidak diberitahu, pria tan itu selalu tahu masalah yang dihadapinya.

Maka seulas senyum miring milik temannya itu menghias. Membuatnya sedikit ingin berkomentar karena terganggu. "Tidak tertarik hanya karena tidak ingin sibuk?"

Chanyeol berdecih. Entah darimana pria tan itu mendapatkan alasan terbarunya. Kalau menguping, Jongin mungkin saja sudah dipanggil untuk ditegur. "Kali ini berikan tinjauannya padaku."

Jongin menoleh. Menikmati kopinya sekali lagi, tanpa khawatir perutnya akan kembung karena belum makan siang. "Jadi sekarang kau menyukai Baekhyun?"

"Jongin─"

"Aku pernah bertanya mengapa kau melamarnya. Apa jawabanmu sekarang tetap sama?" potongnya tidak perduli. Ia lantas terkekeh sampai Chanyeol benar-benar berubah kesal. "Lihat, kau jadi berubah tidak konsisten karena akan menjadi ayah."

Chanyeol bergerak dari posisinya. Malas mendengar ocehan Jongin, lantas berlalu melenggang panjang.

"Kau harus lebih mengenal Baekhyun," sambung Jongin masih diam di belakang sana. Sedangkan Chanyeol sudah tersenyum kecil dalam pelariannya. Tidak ada alasan soal itu, hanya saja perkataan Jongin sangat dibenarkan oleh tekadnya yang lain.

"Aku jadi tidak suka kau yang lebih mengenalnya dari pada aku."

Jongin yang mendengar itu, akhirnya ikut menyusul dengan langkah panjang miliknya. "Aku kira kau tidak perduli," gumamnya terkikik sendiri.

e)(o

Pulang malam kembali dilakukan Chanyeol hari ini. Kesibukannya di perusahaan membawa dirinya hampir lembur sekali lagi. Kalau saja dia tidak mengajukan diri untuk membantu Jongin, ia mungkin sudah pulang pukul tiga tadi. Jongin bahkan sudah berterima kasih padanya, karena berkatnya ia bisa pulang cepat tanpa siksaan lembur di bahu.

Kini hal yang pertama dicari Chanyeol adalah sosok Baekhyun yang genap 16 jam ini tidak ia temui. Ia pun menjadi sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya itu selama ia pergi.

Melewati ruang tengah, ia mendapati Baekhyun yang tertidur di sofa. Lengkap dengan televisi yang masih menyala ribut─seperti biasa. Perlahan Chanyeol menjuput remote televisi dari tangan yang terlelap. Mematikan benda elektronik itu hingga tidak lagi bersuara.

Dipandangnya wajah lugu itu sejenak. Menyingkirkan helaian rambut Baekhyun yang berantakan. Dan dengan hanya memandangi paras itu, sebuah getaran asing lalu melintasi dadanya. Menyangkutkan detakan aneh pada bongkah jantungnya. Yang membuatnya kembali memikirkan pertanyaan Jongin soal ia yang mungkin saja menyukai sosok itu.

Tanpa sadar senyumnya mengembang kala jemarinya melintasi pipi halus itu. Dahulu mungkin ia tidak pernah sebegini betah memandang kesan dari Baekhyun. Chanyeol pun tidak pernah menemukan bagian menyenangkan dari menatap Baekhyun yang terlelap seperti ini. Tidak pernah sekalipun.

Chanyeol lalu menggerakkan lengannya. Menyelipkan lengannya pada tengkuk dan kaki Baekhyun yang terjaga. Segera ia mengangkat tubuh itu ke dalam gendongannya. Dan ia sempat ingin terkikik ketika menimbang dengan baik kemana ia harus membawa tubuh Baekhyun yang bertambah berat. Kamarnya atau kamar Baekhyun?

Tapi pada akhirnya, Chanyeol mendorong pintu kamarnya dengan salah satu kaki. Membawa Baekhyun masuk ke dalam sana tanpa mengganggu tidur pulasnya.

Baekhyun pun bergerak. Kelopaknya mulai mengisyaratkan rasa tidak nyamannya. Maka Chanyeol segera meletakkan tubuh itu di atas ranjangnya. Hendak mengambil kembali lengannya, tapi sipit itu sudah mengerjab menggapai kesadaran. Lalu tiba dimana biner itu hadir menyejukkan malamnya. Mengundang kebatuan Chanyeol yang masih saja belum bergerak dari posisi.

"Aku sudah bilang, jangan tidur di sofa," bisik Chanyeol masih mengamati. Tidak juga beranjak dari dekatnya wajah Baekhyun yang sudah ingin memerah.

Baekhyun lantas bergerak dari posisinya. Sedikit menggeser tubuhnya untuk mengamati kemana ia dibawa. Dan ketika ia mengetahui bahwa tempat itu bukanlah ruang kamarnya, rasa canggung segera mencegahnya bernafas dengan benar.

Namun Chanyeol menariknya kembali. Membaringkannya nyaman pada salah satu bantal miliknya yang selalu tersedia. "Tidurlah."

Baekhyun bergeming melawan kantuknya. Masih menatap dengan lekat bagaimana Chanyeol berlalu, meninggalkan maniknya yang sejak tadi menunggu kedatangan pria itu. "Aku kira kau pulang cepat."

Mendengar itu Chanyeol urung pergi. Ia betah terduduk di samping Baekhyun yang masih menatapnya dengan lensa kantuk. Batinnya tersenyum senang, mengetahui bahwa Baekhyun menunggunya adalah sesuatu yang mampu membuang lelahnya.

"Kau sudah makan?" tanyanya kemudian.

Chanyeol semakin tersentuh. Ia bahkan tidak pernah tahu jika ia bisa diluputi bahagia ketika mendengar pertanyaan begitu saat ia pulang. "Sudah. Kalau kau?"

Baekhyun mengangguk kecil. Tidak berkedip maniknya membayang dalam pandangan Chanyeol. Dan kembali, pria itu mengelus surainya dalam senyum yang mengembang.

Sebuah tarikan lalu menahan lengan kemejanya ketika Chanyeol hendak berpaling. Ditatapnya sekali lagi manik bulan sabit itu dengan heningnya sendiri. Bayangan Baekhyun lalu bersinar dalam kegelapan kamarnya. Pancaran indah itu bahkan sanggup membuat Chanyeol luluh. Membuatnya urung pergi, alih-alih ikut berbaring di sisinya tidak perduli dengan penampilan yang harus segera diganti.

Tapi Baekhyun tidak keberatan dengan keberantakannya, penampilannya atau aroma letih dirinya sepulang dari bekerja. Sosok itu hanya diam menawannya. Masih menyentuh lengan kemejanya yang kusut tanpa bicara.

"Perlu aku hidupkan lampunya?" tanya Chanyeol yang mulai berpikir jika Baekhyun tidak suka gelap. Namun Baekhyun masih terdiam. Masih menelusuri dirinya dalam bayang-bayang remang. Entah apa yang tengah pemuda itu pikirkan.

Chanyeol pun berujar dengan memainkan lembut jemari Baekhyun di lengannya. "Baekhyun, aku berantakan. Belum mandi─"

"Aku suka," jawab Baekhyun yang sukses mengejutkan Chanyeol. "Entah mengapa aku suka melihatmu berantakan."

Yang mendengar akhirnya terkikik gemas. Bukan hanya besar kepala, tapi juga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Menurutnya, Baekhyun akhir-akhir ini lebih sering memujinya. Menatapnya begitu sering dan lebih banyak bicara. Tapi hal itu selalu menjadi hal unik setiap kali Chanyeol mendapatinya. Seperti sesuatu yang akan membahagiakan relung hatinya.

"Kenapa kau tidak menceraikanku?"

Pertanyaan yang lain akhirnya muncul. Chanyeol sendiri sudah mengantisipasi banyak hal mengenai pertanyaan aneh itu. Dan entah, apa mungkin karena bawaan kehamilan sehingga suaminya lebih banyak bertingkah aneh?

"Karena─kau adalah tanggung jawabku?"

Mendengar jawaban itu, ternyata membuat Baekhyun tidak puas. Maniknya berkedip lalu mengarah pada yang lain saat Chanyeol menyelaminya sekali lagi. Bukan apa-apa, ia hanya merasa putus asa karena berharap Chanyeol akan memiliki perasaan lain untuknya. Bukan hanya karena sebuah tuntutan tanggung jawab, tapi sesuatu yang membuatnya lega jika mereka memutuskan untuk tetap tinggal.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku sudah mencintaimu?" Dan kini Chanyeol dapat menyaksikan Baekhyun yang kembali menatapnya. Merasa menang, pria itu kemudian tersenyum. Namun sama sekali tidak bisa menular pada suaminya.

"Entahlah," jawab Baekhyun gugup. Sosok itu dengan cepat kembali beralih. Menggaruk lehernya sebentar, lalu merubah posisinya untuk menjauhi Chanyeol yang semakin meresahkan dadanya. Hanya saja, ada rasa yang canggung ketika Baekhyun hendak menjawab, "mungkin aku juga akan mencintaimu."

Chanyeol yang terkikik akhirnya semakin mendekat. Mengalungkan lengannya pada pinggang ramping itu, lalu membenamkan wajahnya pada tengkuk Baekhyun yang memunggunginya. "Kalau begitu, mulai besok aku akan mencintaimu," bisiknya.

Baekhyun yang merona parah segera membuang lengan Chanyeol yang menjeratnya. Berusaha menjauh dari pria itu dengan bergeser ke tempat yang lebih luas. "Pergilah mandi. Kau bau─"

Tapi Chanyeol tidak perduli. Pria itu kembali menangkap suaminya dengan perlakuan yang sama. Sampai Baekhyun lelah berpindah posisi, dan akhirnya mendapatkan kecupan singkat di pipi.

"Chanyeol!" delik Baekhyun memukul lengan Chanyeol yang memenjarakannya.

e)(o

Setelah bel pintunya berbunyi ribut puluhan kali, Baekhyun kini dapat melihat raut datar Kyungsoo di layar intercomnya. Ia ragu-ragu membuka pintu karena berpikir jika raut itu terlalu seram untuk ia jamu. Baekhyun mau tidak mau memilih menyambut sepupunya yang kusut. Tidak tahu harus tersenyum seperti apa saat Kyungsoo hanya menatapnya sinis.

"Kau masih bisa tersenyum seperti itu?"

Baekhyun bergidik ngeri mendengar pertanyaan Kyungsoo yang dingin. Ia bisa saja menelpon polisi sekarang untuk mengusir sepupunya pergi. Karena sungguh sepupunya itu lebih mirip singa kelaparan dengan matanya yang menatap tajam.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?!" Kini Kyungsoo merengek seperti anak kecil. Sangat bertolak belakang dari imejnya yang super galak di menit pertama.

"Memberitahu apa?" tak mengerti Baekhyun membuka lebar pintunya. Membiarkan Kyungsoo masuk dengan menghentakan kaki. Tidak perduli sekalipun perutnya yang semakin buncit itu akan mendapatkan gangguan.

"Kau tidak memberitahuku kalau kau hamil," Kyungsoo menginvasi kediamannya. Mengambil duduk di sofa tanpa permisi, lalu menghidupkan televisi dan mengganti salurannya sesuka hati. "Aku bahkan mendengarnya dari Jongin. Kenapa kau tidak memberitahuku?"

Dan Baekhyun mendadak vertigo dengan keberantakan ruang tengah yang sudah diacak oleh sepupunya itu. Percuma saja merapikan rumah Chanyeol. "Ya Tuhan, Kyungsoo, kau marah karena itu?"

"Bagaimana aku tidak marah? Kau lebih memilih Jongin dari pada aku!"

Baekhyun lalu ikut duduk di kursi. Mengambil kembali majalah Chanyeol dari tangan Kyungsoo demi sebuah perhatian. "Oke, maafkan aku."

Tapi Kyungsoo malah semakin aneh di mata Baekhyun. Sosok itu kini meraih lengannya. Mengontrol suaranya dengan baik sehingga suara kerasnya mengecil dengan sempurna. "Kau benar-benar melakukannya dengan Chanyeol, kan? Berapa kali kalian melakukannya?"

Baekhyun tercengang. Lebih tepatnya menjadi tidak nyaman dengan semua pertanyaan itu. "Kau ini Kyungsoo sepupuku, kan?"

Kyungsoo kini memiringkan kepalanya. "Kau bilang tidak suka Chanyeol, tapi kau hamil anaknya. Ini kontroversi─"

Baekhyun menyerah, tidak sanggup lagi mendengar beberapa penuturan sepupunya. Mungkin benar Kyungsoo telah berubah, berubah menjadi semakin gila saat usia kehamilannya bertambah. Lalu tiba dimana Baekhyun harus mengambil ponselnya yang menganggur di atas meja. Memilih salah satu kontak seseorang yang dapat ia percaya.

"Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo mengintip. Ia mungkin tidak suka diabaikan ketika ia bicara.

"Aku harus menelpon Jongin untuk membawamu pulang."

Dan seperti yang Baekhyun duga, Kyungsoo langsung merampas ponsel itu dengan cepat. Segera mematikan panggilan yang nyaris saja diterima oleh Jongin dengan dada naik turun. "Jangan hubungi si hitam itu!"

Baekhyun menyernyit. Entah apa yang terjadi pada sepupunya itu. Seingatnya, Kyungsoo adalah orang yang tidak akan menghina suaminya sendiri, lalu mengapa kini sepupunya itu bisa melotot dengan menyebut bahwa Jongin itu 'si hitam'?

"Kau bertengkar dengannya?"

Kyungsoo mendelik. "Aku marah padanya karena kalian bersekongkol," jawabnya ketus. Dan Baekhyun menjadi merasa bersalah soal itu. Siapa tahu, Kyungsoo tengah berpikir hal yang tidak-tidak soal dirinya dengan Jongin.

"Maafkan aku, Kyungsoo. Aku tidak bermaksud apapun. Jongin hanya menolongku saat─"

"Aku tahu," balasnya memotong. Kali ini sorotnya lebih lunak dari pembicaraan meledak-ledak miliknya. "Aku tahu kalian sangat dekat sebelumnya. Jongin bahkan masih menyimpan hadiahmu."

Baekhyun terdiam. Kehilangan kalimatnya sendiri. Tidak tahu harus mengatakan apa saat rahasia besarnya ternyata benar-benar diketahui Kyungsoo sejak lama.

"Tapi itu justru membuatku lega," jawabnya tersenyum. Sangat tulus, tidak terpaksa saat melakukannya. "Aku lega karena Jongin mengantarmu hari itu."

"Lagipula kisah kalian hanya masa lalu. Kita bahkan berteman baik semenjak aku datang."

Rasa syukur terselip. Baekhyun mengangguk dengan senyum manisnya. Tidak akan menyangka jika semua persepsi buruknya hilang begitu saja, tidak diberi kesempatan untuk berkeliaran. "Dia sangat mencintaimu, Kyungsoo."

Alhasil Kyungsoo terkikik mendengarnya. Aneh sekali. Tapi itu membuat Baekhyun ingat, harus bergegas untuk menyuguhkan sesuatu. "Kau mau teh?"

"Teh? Siang bolong begini?" Salah satu alis tebal Kyungsoo terangkat. Membuat Baekhyun kehilangan senyum manisnya. Terlebih ketika wajah itu kembali berubah masam. "Aku mau ice cream."

"Kau ini masih saja menyebalkan," celetuk Baekhyun sebal.

"Bayiku maunya ice cream!"

Baekhyun sukses menyernyit. Kehilangan sabar dalam menjamu sepupunya yang hamil besar. "Oh, sial─"

"Hilangkan kebiasaan mengumpatmu itu," komentar sepupu rambut hitamnya. "Anak itu harus mirip Chanyeol. Kalau dia mirip denganmu, bisa berantakan rumah ini."

Baekhyun terkekeh. Tidak tahu pasti mengapa Kyungsoo selalu memiliki selera humor yang tidak menarik. "Oh, tapi aku tidak sudi bayiku mirip si kaku tiang listrik itu."

"Setidaknya Chanyeol itu tampan. Dia akan memperbaiki keturunanmu, sialan."

"Kau juga pintar memaki-maki," balas Baekhyun menunjuk sosok itu dengan salah satu jemarinya. "Aku berharap bayimu juga tidak akan mirip denganmu."

Kyungsoo menggertakkan gigi, "Aku tidak sudi kalau dia mirip si hitam itu."

"Setidaknya Jongin itu baik, berbeda denganmu."

"Aku jadi ingin melemparmu," ancam Kyungsoo benar-benar mengambil remote televisi di meja. Dan itu mengundang tawa keras Baekhyun di ruang tengah.

e)(o

Ketika libur tiba, Chanyeol tetap menghabiskan seluruh waktunya di rumah. Seperti rutinitasnya, membaca buku atau menonton televisi. Tapi akhir-akhir ini nampak berbeda saat Baekhyun ikut duduk menemaninya. Pemuda itu akan menyalakan televisi dengan volume sedang, mencoba menghormati aktivitasnya yang membutuhkan fokus ekstra.

Suaminya lalu akan berbagi cemilan dengannya. Menyeduhkannya kopi atau menanyakan sesuatu yang ia butuhkan. Nyaris seperti bukan Baekhyun yang biasanya.

Namun Baekhyun tetap membuat jarak dengannya. Masih diserang canggung luar biasa meski sesekali mereka setuju untuk saling berbagi ranjang mereka. Baekhyun pun masih belum terbiasa dengan kamarnya. Jadi Chanyeol membiarkan pemuda itu terlelap di sampingnya. Menemaninya di sisi, sebelum akhirnya mengambil tidur memeluknya.

Kali ini Chanyeol lebih memilih menutup bukunya. Mencoba menikmati film yang diputar Baekhyun sejak 20 menit yang lalu. Bukan suatu alasan, ia hanya ingin menghargai waktu yang mereka bagi bersama. Mencoba menikmati setiap detiknya, tanpa rasa tidak enak hati yang terlalu sering mendera.

"Oh, ceritanya mudah ditebak," seru Baekhyun bersorak riang. Mengambil kacang polong di dalam toples lalu kembali duduk bersila di dekatnya. Rautnya begitu cerah, lebih bersahabat dari beberapa cerita kelam mereka sebelumnya.

"Aku tahu mereka akan saling jatuh cinta."

Chanyeol menyilangkan lengannya. Pura-pura tidak tertarik sama sekali dengan tebakan Baekhyun yang tidak masuk akal. "Bagaimana dengan seseorang yang baru saja dikenalnya?"

"Dia pasti akan mengabaikannya," jawab Baekhyun menoleh dengan kunyahan lucunya. Persis seperti kelinci memakan wortel dengan pipi kembung.

Chanyeol kadang menahan gemas menyaksikan pemandangan lucu itu dalam hari-harinya. Pria itu akhirnya menyadari bahwa semua yang dilakukan Baekhyun selalu berakhir menarik di matanya.

"Ngomong-ngomong, setelah acara wisudamu nanti kau mau ikut aku ke suatu tempat?"

Sekali lagi Baekhyun menoleh dengan kunyahannya. "Kemana?"

Chanyeol menyugar surainya yang kusut. Cukup menyadari jika ia belum juga sempat keramas dalam empat hari terakhir. Salahkan pengakuan Baekhyun yang selalu senang melihatnya berantakan. Ia jadi lebih senang berantakan demi pujian Baekhyun setelah pengakuan itu. "Aku punya sedikit tugas di Jeju. Dua hari sebelum akhir pekan─"

Baekhyun menimbang. Ia sebenarnya akan sangat senang bepergiaan. Sudah lama sejak liburan mereka yang pertama batal karena kakinya sakit. Terlebih terlalu banyak berdiam di rumah. Meski sesekali bolak-balik mengurus sesuatu di kampus, masih membuatnya dibunuh bosan. "Apa aku tidak mengganggumu?"

"Tentu saja tidak. Lagipula kita bisa melanjutkan liburan kita yang tertunda," balas Chanyeol meletakkan bukunya di atas meja. Rupanya pria itu hendak bangkit untuk sesuatu yang lain.

"Kau mau kemana?" Wajah itu bertanya ketika Chanyeol bangkit. Baekhyun sebenarnya ingin menjawab 'setuju' untuk ajakan suaminya. Ia ingin Chanyeol tahu jika ia akan senang, tapi sepertinya Chanyeol lebih tahu jawabannya.

"Mandi." Jemari itu sempat mengusak surainya. Tapi saat Baekhyun berkedip lama, pria itu malah menatapnya jahil. "Kenapa? Kau mau ikut?"

Baekhyun berdecih. Kesal sekali rasanya menghadapi perubahan drastis pria kaku itu. "Cih, tidak sudi!"

Belum Chanyeol berniat mencubit pipi itu, dering ponsel di atas meja lebih dahulu mengganggu. Dengan sigap Chanyeol menyambar ponselnya. Bersamaan dengan tolehan Baekhyun yang berubah penasaran.

"Halo?" Chanyeol beranjak dari sana. Meninggalkan Baekhyun demi panggilan noonanya.

Penasaran mengapa suasana mendadak hening, Baekhyun pun menyusul di belakang setelahnya. "Apa katanya?"

Keadaan berbalik. Atmosfir rindu yang ditemukan Chanyeol sebelum berbicara dengan kakaknya, kini berubah mencekam. "Kita harus pergi ke rumah sakit,"

Baekhyun ikut merasakan ketakutan yang suaminya rasakan. Sesuatu seperti tebakan buruk kini berkelana dalam benaknya. Dan kalaupun benar, "Siapa yang sakit?"

"Ibu─"

e)(o

Perasan bersalah menguar bersama malam yang pekat. Derai hujan di luar tidak menghentikan mobil yang dikendarai Chanyeol memasuki ruas jalan. Baekhyun harap-harap cemas. Dirinya sendiri tidak kalah cemas dengan Chanyeol yang masih dirundung panik. Bagaimana mungkin pria itu bisa berkonsentrasi dengan setirnya?

Maka Baekhyun tetap mengusap bahu si tinggi dengan segenap keyakinannya. "Ibu akan baik-baik saja," ucapnya lembut menenangkan. Dan Chanyeol pun tahu, bahwa Baekhyun sedang berusaha.

Pria itu dengan perasaan kacaunya tetap berkonsentrasi pada jalan yang dilewatinya. Berusaha untuk tidak menangis, karena ia belum sempat bertemu ibunya setelah sekian lama. Dan ia tidak ingin menyesal dalam hidup. Benar-benar tidak bisa kehilangan ibunya kali ini.

Sesampainya di lobi rumah sakit yang lenggang, mereka segera menaiki lift. Tidak sabar menunggu sampai-sampai salah mencari ruangan gawat darurat. Baekhyunlah yang menyeretnya ketika dirinya mulai lelah. Dan mereka kini menemukan Yoora berdiri kalut besama suaminya yang terus menenangkannya. Tidak ada yang kakaknya katakan selain pelukan takut yang dibaginya.

Tangis kakaknya lalu pecah. "Ibu tidak pernah bilang," isaknya sesak. Tangis wanita itu bahkan sudah sangat mengkhwatirkan suaminya di belakang. Wanita itu tengah hamil besar, tentu tidak baik baginya mendapati pikiran buruk.

"Ibu tidak pernah bilang kalau ibu sakit. Aku tidak pernah ada untuknya bahkan sampai saat ini."

Chanyeol terluka sendiri. Ia bahkan melakukan hal yang lebih buruk dari pada kakaknya. Ia menghabiskan masa mudanya dengan membuat ibunya kesal. Padahal ibunya butuh seseorang yang menemaninya. Ingin melihatnya bahagia seumur hidupnya. Bukan tanpa alasan ibunya begitu cerewet soal dirinya.

"Noona menyesal─"

Langit di luar seperti baru saja runtuh. Air mata Chanyeol akhirnya tumpah tak terbendung. Penyesalannya kini menyelam dalam lautan dirinya yang hanyut.

Setelah ayahnya, ia bersumpah tidak ingin kehilangan ibunya.

e)(o

Malam semakin dingin saja rasanya. Kilasan bunyi dari mesin rumah sakit yang tersambung dengan seseorang di dalam bahkan bisa terdengar sampai telinga Baekhyun di luar. Ia membiarkan Chanyeol dan kakaknya masuk. Lebih memberikan leluasa pada kakak beradik itu seperti yang dilakukan suami Yoora di luar.

Bibi Park tidak kunjung bangun padahal hari sudah akan pagi. Kekhawatiran Baekhyun kini sama dengan Chanyeol. Ia pun sama bersalahnya karena sudah membohongi wanita itu. Berbohong soal pernikahannya, dan juga hal lain yang mungkin saat itu pernah menyangkutkan amarah dalam diri wanita itu.

Sesaat pintu itu terbuka. Dipikirnya Chanyeol, tapi Baekhyun salah. Yoora keluar dengan wajah sembabnya. Wanita itu tentu disambut hangat oleh suaminya. Tidak sempat menyapa Baekhyun, tubuh itu segera dibawa pergi suaminya.

Melirik Chanyeol di dalam sana, membuat diri Baekhyun diluputi sedih. Ia membuka pintu itu lalu menghampiri Chanyeol diam-diam. Dalam kesunyian ia mengusap punggung suaminya yang bergetar. Pria itu menangis, begitu malu menghadap dirinya.

"Kenapa dia tidak bangun?"

Baekhyun terhenyuh, namun sangat memahami trauma kehilangan yang Chanyeol rasakan. Batinnya ingin menangis, tapi ia tetap harus kuat untuk Chanyeol. Jadi ia memutuskan untuk tidak menangis. "Sebentar lagi ibu pasti bangun. Kau harus beristirahat."

Chanyeol menggeleng. Masih menggenggam jemari ibunya yang terhubung selang infus.

"Kata dokter ibu akan baik-baik saja." Diusapnya helaian rambut hitam itu di dekatnya. Berusaha menenangkannya selembut yang ia bisa.

Tak lama, Chanyeol akhirnya menerima uluran tangannya. Setuju untuk beranjak dari sana. Berpindah pada potongan sofa yang sudah menunggu di dekat pintu.

"Mau kutemani?" tawar Baekhyun canggung. Kembali malu-malu menghadapi suaminya.

"Kau memang harus menemaniku," jawab Chanyeol menarik lengannya. Tubuhnya sudah menghabiskan seluruh ruang di sofa. Menyisakan sedikit ruang, sampai akhirnya Baekhyun ikut berbaring disana. Berakhir dipeluk sedemikian rupa sampai pipinya merah padam.

Wajah Chanyeol yang begitu dekat membuatnya gugup sendiri. Jantungnya sudah lebih dahulu lancang berdetak membabi buta. Tidak bisa ia pungkiri kalau Chanyeol memang mahir membuatnya berdebar.

"Aku belum berterima kasih pada ibumu," ujar Baekhyun mengalihkan matanya. Lebih tertarik memainkan kain pakaian Chanyeol yang begitu dekat dengannya. "Aku ingin berterima kasih karena sudah dipertemukan dengan putranya yang begitu ngotot ingin menikahiku ini."

Sebuah senyum menghias wajah tampan suaminya, dan entah mengapa itu ikut menular padanya. Ikut menyihirnya, membuatnya terpana berulang kali.

"Aku tahu kau belum mendengar ini," Chanyeol menyentuh dagunya. Membuatnya mendongak untuk menemukan wajahnya. Sekali lagi wajah itu tersenyum padanya. Tak lupa menyampirkan helaian rambut yang menutupi. "aku jatuh cinta padamu."

Darah Baekhyun berdesir kuat. Kedamaian hatinya menghangat bagai awal musim semi. Baekhyun merasa jiwanya terbang ke atas awan, menari bersama burung yang terbang indah. Senyum Chanyeol yang begitu tulus itu lantas membuatnya tak kalah jatuh cinta.

"Bodohnya aku yang tidak perduli padamu."

Bibir itu mencium dahinya. Menyisipkan ketenangan jiwanya yang sudah redup beberapa jam yang lalu. Sekali lagi Baekhyun merasa dicinta. Menikmati bagaimana jantungnya berdebar gila, tepat seperti remaja yang baru mengenal cinta.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Halo, bagaimana kabar kalian? Bagaimana self quarantine Kalian?

Corvid-19 makin horror. Semoga kalian baik baik saja. Tetap jaga kesehatan, jangan keluar rumah dulu. Walaupun daerah kalian aman, tetaplah waspada.

Minggu depan ff ini akan selesai. Aku punya waktu banyak di rumah, jadi mungkin bisa up lebih cepat. See you next chap~