Warning : Typo(s), Alur berantakan, OOC, Dan lain-lain
Gently Spring Breeze
Luka Route - Chapter 3
The Definition of Friendship
.
.
Bagian 1
"Aku mencintaimu."
Di ruang osis yang hanya ada kami berdua, Senpai baru saja mengatakan kalimat penuh makna tersebut. Suasana menjadi hening seketika, deru nafas kami terdengar samar-samar. Sedangkan aku,
"Ulangi lagi."
"Eeeehhhhh?! Bukankah yang tadi itu sudah sempurna?!" Protes Senpai kepadaku.
"Iya. Tapi kau seharusnya mengatakan itu seraya menghadapku." Aku menghela nafas panjang, sudah berapa kali kami melakukan ini?
"A-aku sangat malu melakukannya. Lagipula! Bu-bukankah itu baik-baik saja. Kau tahu, seperti putri yang malu-malu saat mengutarakan perasaannya sehingga ia tidak bisa menatap pasangannya."
"Mungkin. Tapi putri yang menghadap dinding saat mengutarakan perasaannya adalah sebuah lelucon."
"Be-berisik! Itu tidak apa-apa kan?! Aku sudah bisa berakting dengan baik!"
Senpai mulai membelot sekali lagi.
Tiga hari tanpa istirahat kami melakukan ini. Sungguh mengikis jiwa dan raga.
Aku bisa memakluminya jika ia memberontak seperti ini.
"Senpai, Senpai." Ujarku seraya mengisyaratkan Senpai untuk mendekat.
"Ada apa?"
"Aku mencintaimu." Ujarku seraya mengangkat dagu Senpai dengan tangan kananku.
"Gyaaaaa!"
Senpai berteriak seraya melangkah mundur.
"Apa itu, tidak sopan sekali."
"Kau yang tidak sopan karena bermain-main dengan kalimat itu!"
"Aku hanya menunjukkan kepadamu bagaimana caranya."
"I-itu tidak bagus bagi jantungku tahu…"
"Sudahlah, lagipula Senpai ada benarnya. Jika dibandingkan dengan pertama kali, kau sudah bisa memainkan drama ini dengan sangat baik sekarang. Aku sangat bangga padamu loh, Senpai."
Aku tersenyum hangat seraya memuji Senpai dengan tulus. Bagaimanapun, usaha keras Senpai sangat patut untuk diapresiasi. Kau sangat hebat, Senpai. Aku paham jika ini tidak mudah, tapi kau tetap berjuang melakukannya.
Kurasa kami harus merayakannya nanti.
"L-Len-kun…" Gumam Senpai seraya menggenggam kedua tanganku, "j-jika bukan karena Len-kun, aku tidak akan berkembang seperti ini! Meskipun sedari awal aku sudah bisa memainkan drama ini dengan sangat baik!"
Aku mengerenyitkan dahiku ketika mendengar Senpai mengatakan hal barusan. Senpai, kau merusak segalanya.
"Jadi kurasa aku harus berterima kasih kepadamu. Aku akan memastikan kalau aku akan menjadi bintang paling bersinar saat pentas nanti!"
"Kalau begitu, aku sangat menantikan pentas dramanya, Senpai."
"Tentu, sudah sepatutnya kau menantikannya. Kelasku akan memastikan kalau pertunjukkan kami akan berjalan dengan sangat baik!"
Aku tersenyum mendengarnya.
Kurasa ini akhir dari momen menyenangkan kami berdua bukan?
Sejujurnya, meskipun melelahkan, tetapi aku sangat menikmati setiap detiknya.
Aku juga dapat mengenal Senpai lebih dekat lagi. Dan fakta bahwa kami berdua menjadi semakin dekat membuatku merasa sangat senang.
Aku tidak ingin hal ini berakhir.
Oh iya, ada satu yang membuatku penasaran,
"Senpai, siapa yang berperan sebagai ahli strategi?"
Karena aku kerap membantu Senpai dalam berlatih sebagai putri, aku memainkan peran sang ahli strategi sebagai lawan mainnya. Aku hanya penasaran, siapa yang akan menggantikan posisiku ketika berada di atas panggung nantinya.
Tidak, aku tidak penasaran akan hal itu. Aku hanya ingin tahu siapa yang akan merebut momenku bersama Senpai.
Pada akhirnya peran sang ahli strategi akan digantikan dengan orang lain.
Dan sejujurnya itu membuatku cemas sekaligus cemburu.
"Mungkin sebaiknya kau ikut ke kelas kami."
"Eh?"
"Kami tentu harus melanjutkan latihan bersama dengan yang lainnya. Aku ingin kau melihatnya." Senpai mengalihkan pandangannya dengan sesaat, "tidak, bukan itu. Aku ingin memperkenalkan kau dengan temanku."
Kalau tidak salah Senpai pernah mengatakannya bukan?
Aku penasaran, seperti apa 'teman' yang Senpai bicarakan.
"Senpai punya teman?"
"Kasar sekali. Tentu aku punya!" Seru Senpai seraya mengembungkan pipinya.
"Aku hanya bercanda."
.
Bagian 2
Kelas 3B. Aku berakhir ke sini setelah Senpai menyeretku. Sadar bahwa aku harus masuk ke ruang kelas senior membuatku gugup.
"Ayo masuk." Senpai sekali lagi menarikku menuju ke dalam ruangan.
Setelahnya aku bisa menyaksikan siswa senior kelas 3B berjalan kesana-kemari dengan sibuk.
Mempersiapkan properti, panggung, kostum. Bahkan aku bisa melihat beberapa dari mereka sedang berlatih untuk drama.
"Ah, itu Megurine-san!"
Suara panggilan kepada Senpai mengajak beberapa dari mereka menghentikan kegiatannya seraya melihat kemari.
Aku bisa melihat beberapa dari mereka berjalan menghampiri kami.
"Megurine-san, terima kasih atas kerja kerasnya. Berlatih sendirian di ruang osis pasti menyusahkan bukan? Apa kau sudah menghafal dialog dan siap berlatih di depan kelas?"
"T-tidak, itu tidak menyusahkan. Asistenku kerap membantuku, jadi aku sudah siap untuk segalanya."
"Asisten?"
Mendengarnya Senpai langsung menyingkir agar mereka bisa melihatku lebih jelas. "Ini asistenku, Kagamine Len. Ia salah satu anggota osis."
Keadaan kelas menjadi hening sekali lagi. Aku menjadi pusat perhatian sekarang.
"Bukankah itu si Kilat Kuning?" Ujar salah satu dari mereka dari sudut kelas.
Siapa yang kau panggil kilat kuning?!
"Eh, Len-kun kau orang terkenal rupanya?"
"Hentikan, Senpai. Aku tidak senang dengan panggilan itu sama sekali."
"Heeehhh… meskipun itu terdengar sangat keren?"
Apanya yang keren?
"Oh iya, dimana Kamui-san?" Tanya Senpai seketika. Kamui-san? Apa orang itu teman yang Senpai bicarakan. Kupikir orang dihadapan kamilah yang ia maksud.
"Kurasa Kamui-san sedang keluar... Ia pasti akan kembali sebentar lagi. Ah itu dia, kebetulan sekali."
"Hm, ada apa, ada apa?"
Aku bisa merasakan ada orang di belakang kami tepat berada di pintu masuk.
Aku menoleh dan mendapati perempuan berparas cantik di sana.
Sungguh, kecantikannya tidak kalah dari Senpai, meskipun ia memberikan kesan yang berbeda. Dengan rambut berwarna violet panjangnya yang diikat ponytail, ia memberi kesan dewasa. Perawaknnya terlihat sedikit liar yang mengingatkanku kepada Narusawa. Jika Senpai adalah gadis literatur, maka orang ini adalah gadis olahraga.
"Kamui-san!" Senpai sedikit sumringah ketika melihatnya.
Apa ini orang yang Senpai maksud sebagai temannya?
"Luka, apa kau sudah selesai dengan kegiatan osismu?"
Aku sedikit tersentak ketika mendengarnya berbicara. Suaranya yang tegas terdengar jantan. Ia pasti tipe yang populer dengan perempuan lainnya.
Tapi tunggu, orang ini yang akan berperan menjadi ahli strategi bukan?
Begitu rupanya, meskipun ia perempuan namun aku bisa setuju dan merasa ia pantas mengambil peran tersebut.
Meskipun ia seorang perempuan.
"Aku sudah menyelesaikannya."
Kamui-senpai mengangguk puas mendengarnya, "bagus, seperti yang diharapkan dari Luka. Ia bisa mengatasi semuanya!"
Mendengarnya membuatku meringis.
Meskipun ia tidak mengetahui sisi lain dari Senpai. Senpai menganggap orang ini temannya?
Terlebih… ia yang memberikan peran utama kepada Senpai bukan? Meski mengetahui Senpai cukup sibuk, apa ia melakukannya karena menganggap Senpai bisa melakukannya?
Ini tidak baik… Jika aku terus berpikir seperti ini…
Aku bisa membencinya.
"Hm? Kau… siapa kau?" Mungkin merasakan tatapanku kepadanya, Kamui-senpai mengalihkan perhatiannya kepadaku.
"Kamui-san, perkenalkan. Ini asistenku di osis. Kagamine Len!" Mengingat tujuan Senpai membawaku ke sini, ia segera memperkenalkanku dengan senyum di wajahnya.
"Kagamine… nama itu tidak asing…" gumam Kamui-senpai sebelum memukul telapak tangannya, "Ah! Siapa yang sangka kalau orang itu adalah si Kilat Kuning. Perkenalkan, namaku adalah Kamui Gakuko!"
"Tolong panggil aku dengan Kagamine."
"Hei, panggilan itu cukup keren bukan?" Kamui-senpai tersenyum lebar seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Sudahlah… Karena Luka sudah di sini mari kita mulai latihannya!"
Kelas 3B bersorak mendengar seruan Kamui-senpai. Semua segera menghentikan aktifitasnya sejenak. Setiap aktor berjalan menuju depan kelas sedangkan sisanya mencari posisi untuk menonton. Aku berjalan menuju sudut kelas karena merasa terasingkan.
Aku sempat menahan nafasku saat melihat Senpai tiba untuk membaca dialognya. Namun sepertinya kekhawatiranku berujung sia-sia.
Sempurna! Pikirku.
Aku bernafas lega ketika melihat Senpai bisa melakukan akting yang sudah kami peragakan di ruang osis. Itu dia Senpai yang kubanggakan.
"Seperti yang diharapkan dari Megurine-san…"
"Ia juga bisa melakukan akting sebaik ini rupanya? Bukankah ia terlalu sempurna?"
"Bahkan ia bisa berakting lebih bagus dari anggota klub drama."
"Megurine-san bisa melakukan segala hal. Ia benar-benar berada di level yang berbeda dengan kita."
Suara kagum memenuhi ruang kelas begitu mereka melihat Senpai. Apa yang membuat kalian terkejut? Hasil ini sudah jelas jika kalian melihat Senpai berjuang dengan keras tanpa kenal lelah.
Aku memang memiliki pandangan yang sama pada awalnya seperti kalian.
Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian memperlakukannya seolah-olah ia adalah dewi!
Jangan meremehkan kerja keras Senpai!
Meskipun aku memang sudah menduga ini. Tapi melihatnya langsung membuat moodku menjadi buruk.
Hm?
Sudut mataku bisa melihat Kamui-senpai menekuk kedua alisnya hanya untuk sesaat.
Apa cuma perasaanku saja?
Aku menggelengkan kepalaku sedikit lebih kuat untuk menghilangkan prasangka buruk dalam benakku. Untuk saat ini aku membiarkan mataku fokus kepada Senpai. Senyum kecil langsung terutas di wajahku.
Aku tidak mengerti kenapa. Tapi belakangan ini ketika melihat Senpai jantungku terasa berdegup sangat kencang. Dan wajahku mau tidak mau segera tersenyum dibuatnya.
Ini baru pertama kalinya. Tapi apa perasaan ini yang dinamakan cinta?
Sebentar lagi memasuki adegan terakhir.
Aku melihat Senpai dan Kamui-senpai berdiri berhadapan. Mata mereka tertuju satu sama lain.
"Aku mencintaimu." Tegas Senpai yang membuatku reflek menahan nafas.
Tunggu.
Kenapa Senpai bisa melakukannya dengan baik-baik saja tanpa merasa malu?
Apa yang terjadi?
.
Bagian 3
"Megurine-san kau luar biasa! Gakuko juga berakting dengan sangat baik!"
"Itu tadi sangat menarik!"
"Terimakasih atas kerja kerasnya semua!"
Begitu pentas ditutup suara tepuk tangan dan pujian memenuhi ruang kelas. Aku yang merasa terhibur ikut memberikan tepuk tangan kepada pemain di ruang kelas. Terutama untuk Senpai. Itu tadi luar biasa, Senpai.
Aku bisa melihat semuanya tersenyum puas.
Kecuali satu orang.
"Len-kun!"
Aku mengalihkan pandanganku kepada Senpai yang berjalan ke arahku dengan senyum lebarnya. Kini akulah yang menjadi pusat perhatian. Sudah kubilang bukan, jangan panggil aku dengan nama depanku.
"Bagaimana penampilanku tadi?"
"Luar biasa, Senpai." Mendengar pujianku senyum Senpai mengembang semakin lebar seraya bergumam "ku..ku.."
Aku bisa membayangkan ia mengatakan, 'apa yang kau katakan. Bukankah itu sudah jelas bagi seorang Megurine Luka?'
Mungkin ia akan benar-benar mengatakannya jika tidak ada seseorang yang menghampiri kami,
"Luka, itu tadi sangat menakjubkan!"
"Terimakasih, Kamui-san juga luar biasa."
"Tidak-tidak, itu tidak seberapa." Ujar Kamui-senpai seraya mengibaskan tangannya di depan wajahnya, "eh, ada apa ini? Kau sudah ingin pergi?
Melihat Senpai yang menenteng tasnya Kamui-senpai bertanya dengan nada kecewa.
"Maaf, tapi aku harus melakukan sesuatu." Tukas Senpai seraya menarik tanganku.
"Begitu… kau benar-benar sangat sibuk bukan? Tapi…" Kamui-senpai melihatku dengan tatapan curiga sebelum tersenyum dengan nakal, "nak, kau cukup dekat dengan Luka bukan? Apa hubunganmu dengannya"
Mendengarnya yang menggodaku aku ingin segera mengelaknya, terutama ketika ia mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Hm?
Aku kini justru menatap wajah Kamui-senpai. Melihatku yang menatapnya membuat ia sedikit kebingungan seraya menjauhkan wajahnya dengan perlahan.
Kamui-senpai… orang ini…
"Kau terlalu dekat dengannya." Senpai menarik lenganku dengan kuat sehingga membuatku sedikit terhuyung, "Len-kun hanyalah asistenku!"
"Asisten ya?" Kamui-senpai tersenyum nakal sekali lagi.
"Ayo, Len-kun!" Senpai menarikku dengan kuat menuju keluar ruang kelas. Ah, aku tidak sempat ingin mengatakan apa yang ingin kukatakan kepada Kamui-senpai.
Kami sudah menjauh dari kelas tapi Senpai tidak melepaskan genggamannya dari lenganku.
"Ano, Senpai… apa ada pekerjaan osis yang belum selesai?"
"Eh, tidak ada kok?"
"Lalu, ada apa dengan ini?" Ujarku seraya memperlihatkan lenganku yang digenggam oleh Senpai.
Dengan wajah memerah Senpai segera melepaskan genggamannya.
"T-tidak ada, aku hanya berpikir untuk mentraktir mu."
Aku terkejut mendengarnya. Ini tidak biasa.
Aku memang berencana untuk merayakannya sih.
"Ada apa ini tiba-tiba?"
"Tidak apa, aku hanya ingin membalasmu karena sudah menemaniku berlatih."
"Begitu rupanya… ngomong-ngomong Senpai, teman yang ingin kau perkenalkan itu…"
Senpai menghentikan langkahnya seketika, "Oh iya, Len-kun… kenapa kau menatap Kamui-san seperti itu?" Tanya Senpai dengan nada kelam.
Eh? Kenapa udara sekitar terasa dingin?
Ini berbahaya, dengan sedikit panik aku mengambil satu langkah mundur.
Gawat, aku tidak menduga fase berbahaya milik Senpai keluar di saat seperti ini.
"Kau melihatnya dengan seriiiiuuuussss sekali. Apa kau tertarik kepadanya?"
"B-bukan begitu Senpai! Dengarkan dulu! Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepada Kamui-senpai."
"Ara, apa itu pernyataan cinta?"
"Kau salah paham!" Aku bersusah payah meyakinkan Senpai. "Tolong sampaikan ini kepada Kamui-senpai, katakan kepadanya 'jangan bekerja terlalu keras.'"
Mungkin Kamui-senpai tidak ingin memperlihatkannya. Tapi aku cukup menyadarinya ketika aku melihatnya dengan dekat. Bersembunyi di balik makeup yang tipis, wajahnya terlihat pucat dengan lingkar hitam di bawah matanya. Bibirnya kering dan deru nafasnya terdengar berat.
Ia jelas sangat kelelahan.
"Eh?" Senpai melihatku dengan terkejut.
"Apa kau mendengarnya. Jika kau mendengarnya tolong sampaikan kepadanya. Ia terlihat kelelahan loh."
"Benarkah? Kenapa kau bisa menyadarinya."
"Aku melihatnya saat ia mendekatkan wajahnya ke arahku." Aku menjelaskannya kepada Senpai. Ia menjadi sedikit lebih tenang sekarang.
"Baiklah, aku akan mengatakannya kepada Kamui-san nanti."
Dengan sedikit khawatir, Senpai membawa kami ke café Tridoron setelah itu.
.
Bagian 4
Hari festival sudah di depan mata dan aku tengah melakukan persiapan akhir untuk festival. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya aku terlihat seperti anggota osis. Senpai tengah sibuk dengan persiapan pentas dramanya, ia memaksa ingin membantu awalnya, namun aku bersikeras jika ia cukup mengawasi saja dan memfokuskan diri pada latihannya.
Aku tidak mungkin lagi-lagi membiarkan Senpai bekerja keras menyelesaikan semuanya.
Aku memegang buku untuk mencatat laporan, seraya melihat anggota komite yang sibuk berjalan kesana-kemari seraya memberikan instruksi kepada mereka.
"Kagamine, draft untuk pengisi panggung sudah dicetak."
"Apa sudah semuanya?!"
"Belum! Tiga formulir belum diserahkan!"
"Bicarakan lagi dengan mereka! Lalu untuk jaga-jaga taruh urutan mereka di belakang!"
"Kagamine, poster dan peta sekolah sudah disebarkan!"
"Kerja bagus! Pastikan kita memiliki sisa untuk dibagikan kepada pengunjung dari luar sekolah! Nakajima, apa setiap kelas dan klub sudah mempersiapkan acara mereka untuk festival?"
"Semua berjalan dengan baik! Tidak ada masalah dengan pembagian kelas atau semacamnya, begitu pula dengan anggaran dana, semua berkat draft milik Megurine-senpai!"
"Seperti yang diharapkan dari Senpai. Nakajima, kau akan memimpin Komite Disiplin saat festival berlangsung. Untuk saat ini lanjutkan persiapan festival dan bantu kelas kalian masing-masing jika ada waktu!"
"Baik!"
Aku menghela nafas lega ketika mendengar semuanya berjalan dengan baik. Kurasa aku bisa merasa bangga dengan diriku sendiri yang bisa menjalankan tugas sebagai anggota osis semestinya, meskipun aku belum lama bergabung.
"Kagamine, kerja bagus. Kau melakukan tugas dengan baik, sejujurnya ini mengejutkan mengingat kau baru saja bergabung. Kukira kau ikut osis hanya untuk mendekati Kaicho."
"Kagamine, kau mengarahkan kami dengan sangat baik sekali. Semuanya dapat berjalan dengan lancar karena kau."
Aku mengalihkan perhatianku ke arah dua siswa yang datang menghampiriku dengan senyum lebarnya.
"Kalian dari staff yang bertugas mempersiapkan panggung…" Gumamku.
"Kau mengenal kami…?"
"Aku mengenal semua anggota komite. Kurasa hal ini sudah sewajarnya mengingat kita bekerja dalam satu tim." Ucapku enteng namun rasa terkejut terlihat jelas di wajah mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan tidak biasa, Kagamine." Celetuk Nakajima yang mendengarku, "sungguh, kau yang saat ini tidak terlihat seperti saat kita pertama kali bertemu. Mungkin ini yang dinamakan jangan melihat dari sampulnya?"
"Kau berlebihan, hal ini masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Senpai."
Aku bisa melihat dua siswa dari Komite mencoba membuka mulutnya beberapa kali, sebelum Nakajima memutuskan sebagai orang yang menjelaskannya kepadaku.
"Aku mengerti jika Megurine-senpai orang yang luar biasa, tapi begitu pula juga denganmu. Mungkin ini alasan Megurine-senpai mengijinkanmu bergabung." Tidak, bukan seperti itu alasannya. "Tapi Kagamine, jika kau terus membangun reputasi seperti ini, maka aku yakin kau akan menjadi kandidat ketua osis selanjutnya. Dan anggota komite yang lain pasti setuju akan hal itu."
"Menjadi ketua selanjutnya? Sejujurnya aku tidak begitu memikirkannya." Aku membalas Nakajima seraya menutup buku laporanku. "Nakajima, kalau kau tidak keberatan aku ingin berbicara tentang sesuatu."
Aku juga memberi instruksi kepada siswa dari staff panggung untuk beristirahat dan mereka menjawab dengan senyum lebar seraya berseru, "baik!"
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Apa kau mengenal Kamui-senpai? Kamui Gakuko-senpai?"
Nakajima terlihat berpikir sejenak –tangannya diletakan di dagu. "Kurasa tidak ada siswa di sekolah ini yang tidak tahu dirinya. Dia memang sepopuler itu. Tapi sejujurnya aku tidak begitu mengenalnya."
Aku mengisyaratkan Nakajima untuk melanjutkan.
"Kamui-senpai adalah orang yang berbakat, ia anggota andalan klub drama loh. Sama seperti Megurine-senpai, ia juga memiliki sejumlah fans. Dan juga, selain kau, mungkin ia orang yang dekat dengan Megurine-senpai. Kurasa orang berbakat menarik orang berbakat lainnya."
Ah, begitu. Kurasa aku sudah menyelesaikan kepingan puzzlenya.
Kamui-senpai benar-benar orang yang rumit. Kurasa aku harus berbicara dengannya nanti.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Kamui-senpai?"
"Tidak, hanya saja–"
"Kagamine, Megurine-senpai mencarimu!" Aku segera menutup mulutku –menggantung kata yang ingin kuucapkan. Aku bisa melihat Senpai tergesa-gesa berlari ke sini dengan kostum untuk pentasnya. Ia terlihat susah payah berlari dengan gaun yang ia kenakan.
Aku ingin memuji gaun yang ia kenakan, dan betapa cocoknya ia mengenakan itu. Tapi melihat raut wajah Senpai aku sadar bahwa ada yang salah.
"Len-kun! Kamui-san jatuh pingsan saat latihan drama!"
Rasa khawatirku yang kemarin kini datang.
.
Bagian 5
Aku segera ikut dengan Senpai ke ruang kesehatan seraya meminta Nakajima mengambil alih dalam mengawasi persiapan festival. Aku bisa melihat raut khawatir sekaligus sedih dari wajah Senpai, dan sejujurnya ini pertama kalinya aku melihat ia berekspresi seperti itu.
Dan aku membencinya.
Tidak butuh waktu lama bagi kami tiba di ruang kesehatan. Aku melihat Kamui-senpai terbaring lemah di kasur. Aku tidak mungkin meminta penjelasan mengenai hal ini dari Senpai karena ia terlihat sangan syok, namun Sensei yang berada di sini bersedia menjelaskan.
Singkatnya, Kamui-senpai terjatuh karena kelelahan, dan ia wajib untuk istirahat dan tidak melakukan kegiatan apapun. Aku bisa bernafas lega karena tidak ada hal yang serius menimpanya. Namun dengan kondisinya ini ada satu masalah yang besar.
Kamui-senpai jelas tidak bisa ikut dalam pentas drama.
Meskipun ia bersikeras nantinya, Sensei tetap tidak akan mengijinkannya. Dan akupun tidak ingin keadaannya semakin memburuk.
Terlebih hal yang paling membuatku khawatir adalah perasaan Senpai saat ini.
"I-ini salahku…"
Aku mengigit bibir bawahku begitu mendengar racauan Senpai.
Apa yang kau katakan, Senpai? Ini bukan salahmu.
"Meski Len-kun sudah memperingatkan mengenai Kamui-san… seharusnya aku lebih berusaha meyakinkan Kamui-san…"
"Hentikan Senpai. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu. Ini bukan salahmu."
"Tapi–"
"Sudahlah… menyalahkan dirimu sendiri tidak membuat segalanya menjadi lebih baik." Aku berusaha meyakinkan Senpai dengan memasang senyum terbaik yang aku punya. Senpai menjadi lebih tenang sekarang, tapi hal itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa khawatir yang ia punya.
"Ughhh… kepalaku…" Selagi aku menenangkan Senpai, aku mendengar erangan milik Kamui-senpai.
Ia sudah sadar sekarang.
"Kamui-san!"
"Lu..ka..? Ini… Ruang kesehatan…?"
"Kau jatuh pingsan sebelum dibawa ke sini." Sensei menjelaskannya kepada Kamui-senpai. "Bagaimana perasaanmu?"
"Aku… merasa sangat lelah… kepalaku terasa sakit…"
"Kau sangat kelelahan. Dan aku mewajibkanmu untuk istirahat sampai benar-benar pulih."
"Tidak, dramanya…"
"Maafkan aku, tapi kau tidak berada pada kondisi untuk melakukannya."
"Tidak! Aku baik-baik saja! Aku harus melakukannya!"
"Jangan keras kepala! Aku tidak akan membiarkan kondisimu semakin memburuk!"
Mendengar bentakan Sensei, Kamui-san mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi terlihat jelas di wajahnya.
"Sial…"
"Kamui-san…" Senpai mendekati Kamui-senpai dengan khawatir.
Ah, Senpai. Sebaiknya kau berhati-hati, karena Kamui-san…
"Kurasa aku memang tidak sebanding denganmu ya, Luka…"
… Dalam kondisi mental yang tidak stabil.
"Eh? Apa yang kau katakan, Kamui-san?"
"Ini benar-benar menyebalkan… padahal aku sudah berjuang dengan sangat keras. Berjuang keras setiap harinya, tapi kenapa kau masih tidak bisa menggapaimu?"
"Itu tidak benar Kamui-san! Kau orang yang cukup hebat, dan aku tahu kalau kau sudah berjuang dengan keras, maka–"
"Jangan mengasihaniku, Luka! Kau… kau tidak tahu apa-apa! Kau yang sempurna dalam segala hal tidak akan bisa mengerti diriku! Apa yang kau tidak bisa? Bahkan dalam akting, kau benar-benar menghancurkan kepercayaan diriku!"
Emosi yang ada pada Kamui-senpai meledak sekeitka dan aku melihat Senpai terkejut karenanya.
"M-ma-maafkan aku…"
Senpai yang tidak tahan dengan cacian itu segera melarikan diri dari ruang kesehatan. Bulir air mata membasahi pipinya disertai perasaan yang hancur.
Ini pertama kalinya aku melihat Senpai bersedih.
"!"
Gawat. Aku tidak sengaja mengeluarkan amarahku untuk sesaat. Apa ekspresiku berubah saat itu?
Hm? Kamui-senpai membelalakkan matanya ke arahku. Kurasa ia melihat perubahan pada diriku. Tidak ada waktu untuk berbicara mengenai hal ini. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya.
"Tunggu, apa kau tidak mengejarnya?" Pinta Sensei seraya melihatku dengan tatapan khawatir.
"Untuk saat ini mari biarkan ia sendiri dulu." Kini raut wajah Sensei menjadi terkejut ketika mendengarku berbicara dengan tenang.
Aku berjalan menuju Kamui-senpai yang kini terduduk lemas di atas tempat tidur.
"Apa… apa kau marah kepadaku? Apa kau ingin membalasku?"
"Tidak… aku memang merasa kesal ketika melihat Senpai menangis tapi… aku tidak membenci Kamui-senpai."
"Apa maksudmu?"
"Hmmm… mari kita lihat. Kesanku terhadap Kamui-senpai adalah orang yang merepotkan." Ia melihatku dengan tajam sebelum aku melanjutkan. "Kau terlalu memikirkan banyak hal, selalu memperhatikan sekitarmu dengan berlebihan. Tapi satu hal yang pasti, kau tidak pernah membenci Senpai."
"Eh?" Kamui-senpai terkejut mendengar ucapanku.
"Kenapa Kamui-senpai tidak jujur saja?"
"Kau tidak mengerti…" Gumamnya seraya menundukkan kepalanya, "Luka… ia… saat aku melihatnya aku sudah tahu bahwa ia berada di dunia yang berbeda. Ia sangat cantik, anggun, pintar, dan ia bisa melakukan segala hal. Ia sempurna"
Aku terdiam mendengar Kamui-senpai yang berbicara dengan lesu.
"Tapi karena ia berada di tingkat yang berbeda tidak ada orang yang menggapainya. Maka dari itu ia selalu sendiri. Aku awalnya berpikir kalau orang-orang di kelas itu salah."
"Maka dari itu kau mencoba berteman dengan Senpai?"
Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku, "tapi semakin aku mengenalnya semakin aku paham betapa menakjubkannya ia. Aku selalu berpikir 'apa aku benar-benar berteman dengannya'. Aku tidak akan pernah bisa berjalan di sampingnya. Maka dari itu, untuk kali ini, aku ingin menunjukkan hal yang aku unggulkan. Aku bahkan berusaha keras untuk ini."
"Drama ya?"
Kamui-senpai mengangguk sekali lagi. "Aku tahu ia akan bisa melakukan perannya dengan baik. Tapi setidaknya aku ingin menjadi bintang yang lebih bersinar dari pada Luka. Tapi coba lihat kenyataannya. Aku mendapat kekalahan telak. Maksudku, aku tidak pernah melihat Luka melakukan akting sebelumnya, tapi ia sekali lagi membuktikan bahwa ia berada di tingkat yang berbeda."
Sebuah pertemanan yang tidak didasari dari sekedar saling mengenal satu sama lain. Tapi pertemanan yang didasari keinginan untuk bisa berjalan beriringan, untuk bisa sepadan. Kamui-senpai hanya ingin menggapai Senpai di tempatnya berada agar ia bisa dengan bangga menyebut dirinya sebagai teman. Agar Kamui-senpai bisa menunjukkan kepada orang sekitar bahwa ia layak menjadi teman dari sesosok Megurine Luka.
Tapi karena hal itu…
"Makanya sudah kubilang kau adalah orang yang merepotkan. Kau pikir aku bisa dekat dengan Senpai dengan memikirkan hal itu?"
"Andai semudah itu…"
"Tentu saja. Karena aku tidak pernah berpikir orang yang sempurna itu ada."
"Huh?"
"Kamui-senpai apa kau percaya kalau aku bilang Senpai sangat buruk dalam akting? Sungguh, aku yang melihatnya untuk pertama kali bahkan sampai kesal."
"Kau berbohong…" Kamui-senpai terlihat tidak percaya dengan ucapanku.
"Aku tidak berbohong. Bahkan anak umur lima tahun bisa melakukan hal yang lebih baik dirinya." Aku tersenyum mengingat kejadian pada hari itu. "Tapi… Senpai berusaha keras setiap harinya. Aku yang membantunya berlatih merasa sangat kelelahan."
"Kau… membantunya… berlatih…?"
"Benar! Jadi aku sangat tahu seberapa keras Senpai berusaha. Habisnya kau yang memintanya untuk memainkan peran utama."
"Kagamine… aku…"
"–Masih tidak percaya?" Kamui-senpai mengangguk mengiyakan, "dengar Kamui-senpai… tidak ada salahnya dengan dirimu yang mencoba mengejar Senpai. Tapi kau terlalu berusaha melakukannya, kau terlalu sibuk meraihnya hingga kau hanya melihat Senpai yang berdiri di atas. Singkatnya… pandanganmu terlalu sempit, kau tidak melihat sisi lain dari Senpai. Dan orang seperti itu kau sebut sebagai teman?"
Kamui-senpai beberapa kali membuka mulutnya, namun tidak ada kata yang dilontarkan. Lidahnya kelu dan tidak ia merasa sulit menerima apa yang didengarnya. Aku melihatnya dengan tatapan mengejek, 'rasakan itu.' gumamku dalam hati.
Untuk saat ini aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan kepada Kamui-senpai. Aku membalikkan tubuhku –menunjukkan punggungku kepada Kamui-senpai dan Sensei seraya meninggalkan ruangan kesehatan.
Aku harus segera menyusul Senpai sekarang.
"Kagamine, tunggu –!"
"Kamui-senpai." Aku memotong ucapan Kamui-senpai dengan nada tegas. Ia menutup mulutnya seketika saat mendengar nadaku yang tidak menerima interupsi. "Aku akan membantumu kali ini, jadi aku menginginkan imbalan."
Aku masih menunjukkan punggungku kepadanya. "Kau tahu, aku tidak memiliki nomor ponsel Senpai. Apa kau mempunyainya?"
"Aku…tidak punya…"
"Kalau begitu aku menginginkannya. Tolong, pinta kontak Senpai untukku." Setelah itu aku meninggalkan ruang kesehatan –meninggalkan Kamui-senpai yang melihatku dengan tatapan bingung.
Ya, aku sendiri sudah tahu apa yang diinginkan Kamui-senpai.
Hm?
Kalau dipikir-pikir, jika aku tidak membantu Senpai dalam berlatih akting mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
Kurasa sebagiannya adalah salahku.
.
Bagian 6
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang osis karena aku tahu jika Senpai pasti berada di sana. Aku mengetuk pintu di hadapanku namun suara balasan tidak kunjung datang. Apa dugaanku salah? Dengan hati yang sedikit merasa cemas aku membuka pintu perlahan-lahan yang kemudian diikuti suara derit pelan.
Pandangan familiar ruang osis menyambut pengelihatanku, dan aku bisa melihat Senpai di sana. Dengan tangan yang dilipat di atas meja serta wajah yang dibenamkan di atasnya–aku tidak yakin jika Senpai sadar bahwa aku berjalan menghampirinya.
"Senpai…" Panggilku pelan.
Bahu Senpai sedikit tersentak mendengarnya dan ia mengadahkan kepalanya secara perlahan.
"Senpai, kau merusak makeupmu." Ujarku ketika berhasil melihat wajah Senpai dengan jelas. Aku tahu jika ia habis menangis sedari tadi karena matanya yang memerah dan lembab. Seperti yang kubilang, air mata merusak makeupnya, namun kecantikan Senpai masih terlihat jelas.
"L-Len-kun…?"
"Apa kau baik-baik saja, Senpai?"
"Aku tidak tahu… aku merasa kacau…" Lirih Senpai seraya membenamkan wajahnya sekali lagi. "Kamui-san yang sampai seperti itu… kurasa ini salahku…"
"Iya benar. Itu salahmu, Senpai."
Mendengar ucapanku yang tidak diduga, Senpai mengadahkan kepalanya lagi dengan cepat. Ia membelalakan matanya seraya ingin terlihat menangis. Aku segera melanjutkan ucapanku sebelum ia benar-benar melakukannya.
"Senpai, apa kau benar-benar merasa kalau Kamui-senpai adalah temanmu?"
"Tentu saja!"
"Kenapa?"
"Karena ia mengatakan kalau kami berteman! Kemudian kami sering berbicara satu sama lain! Selalu bersapa setiap paginya, dan.. dan…"
"Senpai, semua hal itu bisa dilakukan siapa saja. Itu menunjukkan hubungan kalian sebagai teman patut dipertanyakan. Karena hal itu Kamui-senpai beranggapan kalau kau tidak mau berteman dengannya. Karena itu pula Kamui-senpai mencoba mengejarmu agar bisa sepadan, sehingga kau bisa melihatnya sebagai temannya."
"… Mengapa?" Senpai tidak percaya mendengar ucapanku.
"Senpai, apa kau pernah menceritakan masalahmu kepada Kamui-senpai?"
Meski terlihat ingin menangis, Senpai terlihat mengingat-ingat tentang hal yang kutanyakan.
"… tidak pernah." Lirihnya sekali lagi.
"Mengapa? Apa itu artinya kau tidak pernah mendapatkan masalah seumur hidupmu?"
"Itu tidak mungkin! Aku pun juga pernah mengalaminya!"
Aku sudah tahu. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami masalah dalam hidupnya.
"Lalu kenapa? Kenapa kau tidak pernah menceritakan masalahmu kepada Kamui-senpai? Kenapa kau tidak pernah meminta bantuan kepada Kamui-senpai?"
"… itu karena… akan merepotkannya…"
"Bagaimana kalau Kamui-senpai meminta bantuanmu?"
"Tentu aku akan berusaha melakukannya!"
"Karena kalian teman?"
"Iya! Karena kami berteman!"
Aku menghela nafas panjang begitu mendengarnya.
"Senpai… kau tidak paham apa arti seorang teman. Ini parah sekali, dan itulah mengapa kukatakan kalau ini salahmu."
"Eh?" Senpai kebingungan mendengar ucapanku.
Kurasa Senpai tidak mempunyai seseorang yang bisa dipanggil temannya sebelumnya. Ini hal yang kusadari ketika ia menerima peran utama dalam drama tanpa berpikir panjang.
Tidak pernah mengatakan tidak, dan tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi di balik itu semua, Senpai berusaha dalam hal yang ia lakukan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Senpai pun memiliki cacatnya.
Tapi itu lebih baik. Bukankah dari segala kekurangan manusia, mereka harus menemukan orang lain untuk melengkapi satu sama lain?
"Selain menerima peran yang diberikan Kamui-senpai tanpa pikir panjang, kau juga tidak meminta bantuannya untuk berlatih akting karena takut merepotkannya."
"Guuuu…." Senpai terlihat frustrasi ketika mendengar ucapanku yang tepat sasaran. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Cobalah untuk lebih mengandalkan Kamui-senpai. Apa kau memiliki masalah yang ingin kau bicarakan untuk saat ini?"
Senpai melihatku dengan serius setelah aku mengatakan hal itu. Mata kami berpaku untuk beberapa detik sebelum ia mengalihkan pandangannya seraya wajahnya menjadi memerah.
"Kurasa ada."
"Eh? Apa itu barusan? Apa wajahku masalahmu?"
"Aku tidak akan mengatakannya kepadamu!" Seru Senpai sebelum menjulurkan lidahnya.
.
Bagian 7
Aku dan Senpai berada di ruang kelas 3B sekarang. Aku tahu jika Senpai belum benar-benar pulih dan ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Kamui-senpai segera. Tapi kami berdua sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting untuk diselesaikan.
Kamui-senpai tidak bisa memainkan drama saat festival berlangsung.
Saat Senpai mengatakan itu kepada anggota kelas 3B mereka semua jelas terkejut. Rasa khawatir dan resah terlihat jelas di wajah mereka –baik mengenai kondisi Kamui-senpai dan mengenai nasib drama kelas mereka. Rasa khawatir menuju kebingungan dan akhirnya sampai dititik kepanikan.
Aku bisa mendengar beberapa dari mereka mulai saling mendorong peran ahli strategi ke satu sama lain.
"Akaito, kau juga anggota klub drama bukan?! Bisakah kau menggantikan peran Gakuko?!"
"M-maaf, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa menghafal dialognya dalam waktu yang singkat."
"Bagaimana dengan kau, kau menyukai peran ahli strategi bukan?"
"Meskipun begitu, untuk berperan dengan Megurine-san…"
Kejadian ini akan terus berlangsung seperti ini jika mereka tidak bisa menemukan solusinya. Dan akan semakin gawat jika kondisi semakin panas.
"Kurasa aku tahu siapa yang bisa menggantikan Kamui-san!" Seru Senpai yang membuat semua orang terdiam.
Beberapa melihat Senpai dengan tidak percaya, beberapa melihat sekeliling mencari orang yang dimaksud, dan sisanya menanti Senpai untuk melanjutkan. Yang jelas, bagaikan oasis di padang pasir –Senpai memberi secercah harapan untuk mereka.
Tapi entah mengapa kini Senpai berdiri di hadapanku. "Len-kun… kau bilang kalau aku harus lebih sering mengandalkan orang lain bukan?" Senpai yang berkata seperti itu segera membungkukan tubuhnya di depanku. "Hanya kau yang bisa. Aku mohon!"
Suasana kini menjadi semakin hening, dan pandangan mereka sepenuhnya tertuju ke arah kami. Rasa resah menguar di udara sekali lagi. Mereka jelas terkejut melihat Senpai seperti ini untuk yang pertama kalinya.
Senpai yang selalu melakukan sesuatu sendirian, Senpai yang tidak bisa berkata tidak dan menerima permintaan orang lain dengan senang hati.
Kini membungkukan dirinya seraya memohon.
"Hentikan Senpai, angkat kepalamu." Ujarku sedikit panik akan perilaku Senpai yang tiba-tiba. "Lagipula ini bukan pertama kalinya kau meminta bantuanku bukan?"
Senpai memainkan kedua telunjuknya ketika mendengarku, "Um.. awalnya aku hanya menganggapmu sebagai asisten."
"Kejam sekali…"
"T-tapi sekarang sudah tidak kok!" Senpai sedikit panik, tapi ketika ia melihatku tersenyum Senpai menghebuskan nafas legas setelahnya.
Selagi berpikir kalau aku tidak keberatan dengan permintaannya. Senpai bergumam sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas. "Aku… juga tidak ingin jika hanya menjadi teman Len-kun…"
"Maaf Senpai, apa kau bilang sesuatu?"
"T-t-tidak, ti-tidak, aku tidak mengatakan apa-apa!"
Mencurigakan.
Aku ingin memaksanya untuk mengatakan apa ada hal yang salah.
Tapi setelah Senpai melihatku dengan serius aku segera melupakan hal itu.
"L-Len-kun! Aku sadar tentang apa yang kau katakan kepadaku. Aku tidaklah sempurna. Aku mengacaukan hal ini, dan kini aku tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri. Maka dari itu Len-kun, aku ingin kau memberikan bantuanmu!"
"Ta-tapi Megurine-san, ia bukan dari kelas kita bukan?"
"Kau pikir siapa aku? Jika aku mengijinkannya maka tidak ada masalah."
Oh? Aku tahu jika hal ini berujung kepada titik balik Senpai. Tapi melihat Senpai yang sampai berpikir seperti ini untuk mewujudkan keinginannya membuatku terkejut.
Ia seperti orang lain sekarang. Awalnya, ia hanya berpikir bagaimana hal ini akan merepotkan orang lain, dan bagaimana ia menyalahgunakan kekuasaannya.
Tapi sepertinya ia sadar bahwa kekuatan itu tidak semestinya menarik kakinya di tempat.
Senpai yang sekarang ini jauh lebih hebat di mataku.
"Tu-tunggu, meski begitu apa Kilat Kuning bisa melakukannya dengan baik? Aku tidak berniat menolaknya begitu saja, tapi dengan waktu yang singkat aku ragu jika ia bisa menggantikan Kamui-san!"
Siapa yang kau panggil Kilat Kuning!
"Tidak masalah. Ia bisa melakukannya. Hm? Apa kau meragukanku? Bagaimana kalau kau melihatnya sendiri?" Tatapan percaya diri Senpai membungkam mulut semuanya, "bagaimana Len-kun, apa kau ingin melakukannya?"
Aku tersenyum mantap mendengarnya. Aku tidak bisa menolak Senpai jika ia memintaku seperti ini.
"Tentu saja."
