Ujian akhir semester genap sudah berhasil terlewati oleh para mahasiswa di bawah nama Quattuor Coronam ini.
Jika ada yang bertanya bagaimana dengan status studi Jihoon, namja itu akan menjawab bahwa ia malas mengulang masa sekolah menengah atas.
Jihoon sudah jenius, jadi baginya gelar pendidikan bukanlah sarana untuk menggapai apa pun.
Ia lebih memilih fokus kepada pekerjaannya di Alligator yang sempat ia kosongkan dan menjadi pendamping yang baik untuk Soonyoung.
Lain Jihoon, lain juga sang hyung.
Wonwoo walau dalam keadaan hamil 10 minggu, ia tetap melanjutkan studinya. Masa bodoh dengan Mingyu yang memohon kepadanya untuk melepaskan pendidikan, yang penting pendidikannya tuntas.
Bahkan Wonwoo berkata pada Mingyu kalau ia baru mau menikah dengan pria tinggi itu kalau sudah mendapat gelar sarjananya dan Mingyu juga harus sudah mendapat gelar magisternya.
Ada kabar gembira dari Seokmin dan Jisoo. Apalagi kalau bukan Jisoo yang sudah mengandung. Kandungannya memasuki minggu pertama dan berita itu jelas membahagiakan banyak pihak.
Kihyun sebagai eomma keempat keluarga merasa perlu diadakan sebuah perayaan. Ia memang suka sekali merayakan keberhasilan dan momen penting Quattuor Coronam.
Jadi perayaan yang malam ini diadakan adalah untuk merayakan berhasilnya mereka semua melewati ujian akhir semester, ucapan syukur atas kehamilan Jisoo dan Wonwoo, bentuk suka cita karena dibukanya tiga buah cabang baru Angelus Café, menangnya Myeongho dan Chan dalam lomba dance nasional, dan jatuhnya perdagangan manusia 'No Exit' di tangan Alligator.
Memang banyak momen yang dirayakan. Itu semua karena waktu senggang mereka yang selalu saja bertabrakan.
Kihyun jelas sangat kesal karena terlalu banyak jadwal anak-anak dan suaminya yang bentrok. Tanpa bisa dilawan, sang Nyonya Besar Choi akhirnya mengeluarkan ultimatum yang mengatakan bahwa tanggal 10 di bulan Juni ini adalah libur nasional untuk Quattuor Coronam.
Memang terkesan memaksa, padahal memang memaksa.
Maka para anggota Quattuor Coronam harus menyesuaikan jadwal dan kesibukan mereka agar pada 10 Juni mereka bisa berkumpul.
Hyunwoo dan Seungcheol bahkan mengambil lembur setiap hari dalam seminggu sebelum hari h diadakan agar pada hari h mereka bisa santai. Ini adalah contoh pemimpin yang baik.
Soonyoung dan Mingyu menggunakan power mereka untuk meliburkan diri tanpa bisa diganggu gugat oleh para bawahan mereka. Ini adalah contoh pemimpin yang tidak baik.
Lain halnya dengan Seokmin yang hanya meminta sekretarisnya untuk menghilangkan jadwal rapat di tanggal 10 yang sebenarnya ingin ditolak oleh sang sekretaris karena rapat di tanggal itu adalah rapat antar pemegang saham. Ini adalah contoh pemimpin yang kurang ajar.
Tapi ya mau bagaimana, Seokmin lebih takut pada ibu mertuanya dibanding orang atau lembaga yang ikut memegang saham di St. Carat Foundation.
Quattuor Coronam yang tidak masuk dalam leader line tentu dapat tenang-tenang saja.
Seperti Myeongho dan Chan yang memilih membeli beberapa hadiah.
Mereka menaiki mobil milik Chan yang Chan kemudikan sendiri. Rencana kedua mahasiswa jurusan tari itu ingin membeli buket bunga untuk para ibu hamil dan mengambil hadiah untuk Jeonghan yang berhasil mengembangkan sayap Angelus Café.
Beberapa saat lalu mereka telah mengambil hadiah untuk Jeonghan yang berupa pigura foto berukuran 2x1 meter. Pigura itu memuat foto Jeonghan yang amat sangat cantik dengan pakaian serba putih dan ornamen bulu putih yang bertebaran dimana-mana.
Chan dan Myeongho ingin agar Jeonghan memasang foto itu di cabang utama Angelus Café karena Jeonghan benar-benar terlihat seperti malaikat di foto itu.
Mereka akhirnya memarkir mobil di area parkir. Myeongho dan Chan turun dari mobil dan mulai berjalan.
Lokasi yang mereka datangi adalah deretan pusat perbelanjaan kota Seoul berada. Mereka akan membeli buket di area ini.
Tidak jauh, mereka sampai di perempatan. Karena sudah menunjukan pukul 6 sore, lampu-lampu sudah mulai menyala dan kerumunan manusia sudah memadati area perbelanjaan ini.
"Chan, kau duluan saja ke toko perhiasan. Aku yang akan membeli buket bunganya. Siapa pun yang lebih dulu selesai, dia yang menyusul oke." Kata Myeongho.
"Baik hyung. Aku duluan." Kata Chan.
Chan terlihat menyebrangi jalan untuk menuju ke toko perhiasan yang ada di sebrang jalan. Berhadap seberang dengan floristry yang Myeongho akan kunjungi.
Ia ingin membelikan hadiah tambahan untuk Jisoo karena sudah menjadi kakak iparnya dan mencintai Seokmin dengan sepenuh hati.
Bagaimanapun, Seokmin sangat berarti bagi Chan.
Kita fokus kembali ke Myeongho.
"Selamat malam. Perkenalkan saya Solar yang akan menjadi guide Anda. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap sosok florist wanita yang berjaga di depan pintu masuk.
"Selamat malam, Solar-ssi. Aku Myeongho. Aku butuh dua buket bunga untuk ibu hamil. Kira-kira apa yang bagus ya?"
Sang florist tersenyum sambil memandu Myeongho masuk ke dalam toko.
Floristry dua lantai ini terlihat sangat menyegarkan mata karena bunga berwarna-warni menghiasi setiap jengkal toko.
"Anda ingin bunga yang seperti apa, Myeongho-ssi?"
Myeongho terdiam sebentar.
"Aku tidak paham bahasa bunga, tapi aku ingin yang cocok untuk seorang ibu."
Sang florist mengangguk paham.
"Karena untuk ibu hamil, bagaimana kalau didominasi warna putih? Putih melambangkan kesucian dan ketulusan. Cocok untuk calon ibu. Bagaimana?"
"Aku setuju. Bagaimana dengan lily putih?" Tanya Myeongho.
"Wah insting Anda luar biasa, Myeongho-ssi. Lily putih melambangkan kesucian dan kemulian. Cocok sekali untuk seorang ibu. Mari saya antar untuk memilih bunga."
Sang florist membawa sebuah keranjang di tangan kirinya dan mengajak Myeongho ke area lily.
Terlihat banyak sekali pengunjung di toko ini dan masing-masing pengunjung diguide oleh satu orang florist.
Sambil mengambil beberapa tangkai lily putih, Myeongho teringat akan satu hal.
"Aku ingin menambahkan kisah cinta mereka di dalam buket ini."
"Oh tentu saja, itu ide yang bagus sekali." Kata Solar yang masih memilih bunga.
"Yang satu dari persahabatan dan yang satu penuh gairah."
Penjelasan singkat dari Myeongho tentu langsung bisa ditangkap oleh Solar.
"Untuk persahabatan, mawar kuning adalah yang pas. Untuk cinta yang penuh gairah, ku pikir mawar merah adalah pilihan yang pas. Apa Anda setuju atau ingin yang lain?"
Myeongho tersenyum kecil.
"Itu perpaduan yang cocok."
Langkah kaki Solar mengantar Myeongho ke area mawar. Beraneka macam mawar ada di hadapan mereka.
Setelah memilih mawar yang dirasa cocok, Solar mengantar Myeongho ke area pembayaran.
"Selamat malam, Anda ingin pengemasan yang seperti apa?"
Pada monitor yang ada di hadapan Myeongho terpampang beraneka macam jenis pengemasan buket. Karena Myeongho orang yang simple, ia memilih karangan yang sederhana juga.
Setelah membayar dengan kartunya, Myeongho di arahkan untuk menunggu di area tunggu yang berada di lantai dua.
D...r.
Suara itu terdengar tipis dan samar-samar namun sangat jelas di telinga Myeongho.
Myeongho menatap sekelilingnya dan tidak ada yang sadar akan suara itu. Pengunjung lain masih terlihat santai dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Memilih untuk tetap diam, Myeongho menunggu beberapa saat.
Kala layar monitor yang tergantung di setiap sudut uangan menampilkan namanya di bagian ready, Myeongho turun dari ruang tunggu itu.
"Terima kasih, Myeongho-ssi. Semoga kedua ibu itu selamat dalam kehamilannya." Ucap Solar sambil membungkuk hormat ke Myeongho.
Myeongho menerima kedua buket yang diletakan pada tas kertas lalu ikut mengangguk.
"Terima kasih juga. Selamat malam."
Tap.
Langkah kaki namja itu terhenti tepat setelah ia menginjakan kakinya di luar pintu.
"Ada apa ini?"
