Crime and Punishment
-30-
Sbux. 11.05
Do Kyungsoo meminum teh panas yang dipesannya perlahan-lahan, hanya menghisap sedikit. Uap panas karena air mendidih membuat kacamatanya berembun. Ia mengusap layar kacamatanya dengan tisu yang disediakan kafe.
Di sampingnya, Xi Luhan sibuk chatting dengan Sehun, saling memberi informasi. Keduanya duduk bersebelahan, menunggu sepasang sejoli yang masih belum menampakkan hidung mereka sama sekali.
Beberapa saat kemudian, Chanyeol dan Baekhyun muncul dengan senyum sumringah mereka. Seperti biasa, tatapan memelas meminta maaf karena terlambat.
"Kalian telat satu jam dan berani cengengesan seperti dulu? Wah, apa kata bos kalian karena telat setiap hari?" kata Kyungsoo.
Baekhyun dan Chanyeol duduk di hadapan mereka. "Bosku sudah menyerah. Dia diam saja meski aku suka telat setengah jam," jawab Chanyeol santai.
"Yah, beruntungnya Chanyeol dapat jam kerjanya bisa fleksibel. Kalau aku, sudah dapat surat peringatan. Jadi, aku minta request ganti shift jadi malam," lanjut Baekhyun.
Kyungsoo menaikkan alis. "Memang boleh? Bukannya shift malam di restoran tempat kerjamu lebih capek?"
Baekhyun mengangguk lemas. "Kerja malam lebih sibuk, tapi aku tidak mau dipecat dalam waktu dekat. Aku masih menunggu panggilan wawancara lain dan penerimaan kerja lainnya."
Chanyeol mengelus kepala Baekhyun. "Kasihannya anjing kecilku. Masih berusaha keras untuk dapat pekerjaan tetap."
"Huhuhu… Kenapa bekerja itu susah sekali…" Baekhyun berekspresi seolah-olah ia benar-benar menangis.
"Sabar, kau masih proses pelatihan untuk dapat sertifikat resmi public speaking trainer kan," ujar Kyungsoo. "Setelah itu, pelan-pelan kau bisa dapat pekerjaan dengan sendirinya. Akan kubantu promosi."
"Tetap saja… sulit sekali bagiku untuk bekerja tanpa bermain."
Keluhan Baekhyun direspon dengan gelengan kepala Kyungsoo maupun Luhan. Baekhyun dan Chanyeol memesan minuman favorit mereka. Setelah pesanan mereka keluar, Chanyeol memulai pembicaraan, "Apa kita hanya akan di sini sepanjang hari? Atau pergi bermain?"
Luhan mengangkat bahu. "Mungkin saja hanya nongkrong. Toh, sudah lama kita tidak berkumpul."
Do Kyungsoo membesarkan matanya pada Baekhyun yang justru menyarankan bermain bowling. "Katamu bulan ini uangmu kurang. Berhenti main!"
Baekhyun cemberut. Ia memandangi Chanyeol, berharap mendapat pencerahan. Namun, Chanyeol pun tersenyum kaku. "Maaf, Baekkie. Bulan ini tabunganku juga menipis untuk membayarimu juga."
Byun Baekhyun akhirnya menyerah. Ia manyun sepanjang hari meski sudah dihibur dengan segala macam cara.
-o-
Usai reuni singkat itu, Kyungsoo mengantar Baekhyun ke restoran tempat ia bekerja. Meninggalkan Luhan bersama Chanyeol.
Kedua orang itu memang sahabat, namun tetap ada kecanggungan di antara mereka. Chanyeol tak bicara banyak, begitu pula dengan Luhan. Karena ada topik saja mereka akan bicara. Selebihnya, hening. Seperti sekarang, menyusuri jalan ke halte bus pun tidak ada yang membuka mulut. 10 menit berlalu, akhirnya Chanyeol bersuara, "Luhan, kau suka minum alkohol, kan?"
Xi Luhan memandang aneh Chanyeol. "Kenapa?"
"Dipikir-pikir lagi, kita tidak pernah minum berdua saja. Sebenarnya, aku sedang ingin minum. Tapi aku takut aku minum tanpa ingat batas, di luar kendaliku. Kalau kau mau menemaniku, rasanya lebih aman," kata Chayeol.
Luhan ingin membalas kalau Chanyeol bisa minum dengan Baekhyun, tapi ia baru sadar kalau Baekhyun kerja malam dan Kyungsoo sudah pasti tidak mau.
Chanyeol melanjutkan, "Sebenarnya, aku juga punya sesuatu yang ingin kuberitahu, tapi aku tidak bisa bilang sekarang. Lebih tepatnya, saat aku sadar penuh."
"Apa itu? Kau punya masalah?" tembak Luhan langsung.
Chanyeol menggigit bibir. "Saat aku sedikit mabuk… akan lebih mudah untuk mengatakannya. Jadi, tolong temani aku minum."
"Haruskah kau mabuk supaya kau bisa mengatakannya?" tanya Luhan.
Agak ragu, Chanyeol mengangguk. "Bisakah kau ke rumahku? Kalau pun kau tidak minum, menemaniku saja cukup."
Luhan melirik jam tangannya. Belum terlalu malam. "Baiklah, menemani saja tidak masalah."
Chanyeol tersenyum lebar. "Thanks, Luhan."
-o-
Park Chanyeol membukakan pintu rumahnya. "Masuklah, Lu."
Luhan mengikuti Chanyeol yang langsung melepas sepatunya, menutup pintu dibelakangnya. "Dipikir-pikir, ini juga pertama kalinya aku ke rumahmu tanpa yang lainnya."
Chanyeol tertawa hampa. "Kau benar."
Ia mengambil sebotol soju dan dua gelas kecil. Chanyeol tetap menuangkan soju untuk Luhan meski pemuda itu menolak. "Tidal apa-apa. Siapa tahu kau akan berubah pikiran."
Hening. Chanyeol sibuk meminum soju sampai ia merasa agak mabuk sementara Luhan menunggui Chanyeol bercerita. Hanya suara air dan gelas yang berdentingan yang terdengar.
Sekitar 10 menit berlalu, Chanyeol mulai melirik Luhan. Sahabatnya masih sabar menungguinya. Chanyeol akhirnya mendesah panjang sebelum membuka mulut.
"Sebenarnya, aku lagi kesulitan uang," mulainya. "Aku memang sempat menyinggung ini sebelumnya, tapi aku tak mau memperbesar masalah. Cukup lama aku begini, tapi pada Baekhyun pun aku tak berani bercerita."
Luhan mendengarkan serius. "Lalu?"
Sambil memainkan gelas kecil itu, Chanyeol melanjutkan. "Kalian tahu aku kuliah karena beasiswa, kan? Aku juga pernah bilang kalau nenekku sempat membesarkanku." Chanyeol kembali meneguk soju.
"Kupikir setelah kuliah, aku bisa bekerja normal dan mulai menabung serius, tapi kenyataannya…" Chanyeol menatap Luhan sedih. "Ayahku yang di penjara dilaporkan terkena kanker dan aku satu-satunya keluarga yang tersisa. Mereka menghubungiku dan menanyakan banyak hal. Mereka bertanya kenapa aku tidak pernah berkunjung, apa aku tahu soal penyakit ayahku sebelumnya yang menjadi kanker, dan bagaimana aku akan membiayai pengobatannya."
Luhan cukup terkejut. Tanpa sadar, tangannya meraih gelas soju dan juga meneguknya, bahkan menuang kembali ke gelasnya.
"Bukankah orang tuamu sudah meninggal?" tanya Luhan.
"Benar, tapi mereka sebenarnya hanya orang tua angkat. Aku tidak pernah tahu siapa orang tua kandungku. Tiba-tiba saja, aku mendapat telepon dari kepolisian mengenai… orang yang tiba-tiba muncul dan dinyatakan sebagai ayah biologisku."
Luhan bisa melihat tangah Chanyeol yang gemetar. Ia mulai prihatin pada Chanyeol yang nampaknya selalu ceria bersama pasangannya.
"Tiga bulan lalu, aku mendatangi rumah sakit tempat ia dirawat. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok ayahku sendiri. Saat itu, yang kulihat hanyalah laki-laki kurus yang terbaring karena sakitnya. Katanya, ia selalu kesakitan dan diobati di klinik penjara. Hanya saja, mereka belum sadar kalau itu gejala kanker. Pihak kepolisian yang kemudian sadar bahwa aku tidak pernah tahu keberadaannya sama sekali menjelaskan kasusnya secara perlahan padaku."
Jeda dari Chanyeol dimanfaatkan Luhan untuk kembali bertanya, "Apa ayahmu melihatmu? Kanker apa? Kejahatan apa yang dilakukannya sampai ia dipenjara?"
Park Chanyeol tersenyum tipis. "Laki-laki itu… dia langsung menyapaku saat melihatku. 'Kaukah itu, Chanyeol?' Aku benar-benar terkejut. Dia tidak mengenaliku, melainkan diberitahu oleh polisi saat itu. Tapi, kenapa dia nampak bahagia sekali meski sakit?"
"Aku tidak menyangka bahwa ayahku masuk penjara karena membunuh lima orang yang saat itu sedang saling membacok karena pertengkaran antar geng. Dia bahkan masih punya koneksi dari luar sampai-sampai masih bisa selalu merokok setiap harinya. Kanker paru-paru itu sepertinya karena rokok."
Pemuda itu sudah menghabiskan 3/4 soju. Biasanya, Luhan akan mulai memperingati Chanyeol untuk tidak lepas kendali dan membuka dua botol lagi. Kali ini, ia membiarkan sahabatnya meminum habis botol soju itu. Dan Luhan mulai sensitif ketika mendengar kata "membunuh" yang keluar dari mulut Chanyeol.
"Luhan, aku… Aku sangat bingung. Aku tidak merasakan apapun selain kasihan padanya. Aku bahkan tidak yakin kalau aku menerimanya sebagai ayah biologisku. Aku sebenarnya marah saat uangku harus habis pada pengobatan laki-laki yang baru kukenal. Aku ingin sekali meninggalkannya saja, tidak peduli padanya. Bahkan lebih baik kalau pihak kepolisian tidak mengubungiku sama sekali!"
Suara Chanyeol yang mengeras dan bentakkan tangannya pada meja jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sedang emosi. Luhan hanya terdiam, membiarkan sahabatnya meluapkan semuanya.
"Maksudku, selama 22 tahun ini aku hidup damai, Lu! Aku sudah sangat bahagia meski tidak mengenal orang tua asliku. Saat diberitahu bahwa ayahku seorang pembunuh dan sedang sekarat, aku pikir ini bohongan. Kupikir mereka sedang mempermainkanku, memanfaatkanku! Tapi pihak kepolisian dan medis mendatangiku secara personal, menyatakan bahwa ini benar ayahku dan benar ia butuh pengobatan."
"Aku… aku tidak tahu Luhan… Aku merasa bodoh sudah sempat membiayainya dua kali dan menguras tabungan yang kukumpulkan setengah mati, aku tidak rela karena aku tidak merasa punya koneksi apapun, Luhan! Dia orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupanku dan mengacaukan semuanya! Aku merasa dipermainkan oleh takdir!"
Xi Luhan memang mendengarkan curhatan Chanyeol dengan seksama, namun ia semakin tidak tenang. Perilaku dan cara bicara Chanyeol seolah-olah membicarakan dirinya juga, bahkan merasakan trigger di mana V kemungkinan akan muncul atau ia akan terkena serangan panik lagi.
Ia menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan Chanyeol bersamaan. "Chanyeol… apa yang akan kau lakukan jika kau menolak untuk membiayainya lagi? Memutuskan koneksi?" Luhan mempertanyakan dirinya apa ia berhak untuk menanyai Chanyeol seperti ini sementara dirinya sudah memutus hubungan pada keluarganya.
Chanyeol terlihat sangat marah. Ia menggenggam botol soju yang tinggal sedikit, meminum langsung dari botolnya sampai habis, lalu membantingnya ke lantai sampai pecah berkeping-keping. Luhan membelakakkan matanya.
"Chanyeol, tenang," Luhan menahan tangan Chanyeol di udara yag siap membanting lagi botol soju yang bahkan belum dibukanya.
"Lepas, Luhan! Aku benar-benar kesal setiap kali mengingat laki-laki itu! Padahal ia baru saja diperkenalkan padaku, tapi setiap kali aku mengunjunginya ia berperilaku seolah-olah kami memang ayah-anak yang sangat akrab! Itu menjijikkan dan memuakkan!" Chanyeol menghempaskan Luhan ke samping, membuat tubuh Luhan terjatuh ke lantai.
Meringis sedikit, Luhan sigap membalikkan tubuhnya ketika Chanyeol tiba-tiba mengarahkan pukulan ke tubuhnya. Jika ia tidak menghindar, pukulan itu akan mengenai rusuknya dan Luhan tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Namun, Luhan masih bisa memprediksi arahan serangan Chanyeol berkat latihan bela dirinya selama dua tahun terakhir ini.
"Kenapa kau tiba-tiba mengamuk padaku? Park Chanyeol!" seru Luhan. Ia segera berdiri dan menahan Chanyeol sebisanya. Ia tidak pernah melihat Chanyeol mengamuk karena marah. Luhan kebingungan untuk menanganinya karena perbedaan ukuran fisik di antara mereka. Chanyeol jelas-jelas dua kali lipat darinya.
"Aku kesal, Luhan… Kenapa dia harus tiba-tiba muncul…!"
Chanyeol memukul ke sembarang arah. Meski Luhan sering tantrum dan bermasalah, selalu ada Yixing dan sekarang Sehun yang membantunya. Tapi ia sendiri tidak pernah menangani seseorang yang lepas kendali karena emosi berlebih.
"Park Chanyeol, sadarlah! Kau sedang tidak berpikir logis! Tenanglah, Chanyeol!" Luhan mulai berteriak dengan harapan Chanyeol akan mendengar sedikit.
Kenyataannya, itu langkah yang salah. Luhan tidak tahu apa masalah Chanyeol sampai membuatnya dikendalikan emosi. Alkohol kah? Pelampiasan emosi yang kurang? Ataukah trigger yang sama dengannya? Luhan tidak tahu.
Yang ia tahu, ini tidak masuk akal. Chanyeol selalu berperilaku tenang meski marah. Apakah ini artinya ia terlalu marah melampai toleransinya? Padahal sejauh pembicaraan baik-baik saja. Chanyeol tidak berkata kasar meski sedikit membentak. Sungguh, Luhan tidak tahu sama sekali apa penyebabnya. Ia juga tidak dalam posisi yang bisa berpikir logis.
Sial, ia sungguh berharap ada Yixing atau asisten pribadi Sehun di sini. Mereka lebih bisa diandalkan.
"Kumohon, Park Chanyeol, tenanglah!"
Xi Luhan berhasil berdiri di belakang Chanyeol, berniat menahannya dari bawah ketiak Chanyeol. Namun, tenaga yang dimiliki Chanyeol terlalu besar. Meski Luhan terlatih, energi Chanyeol tetap membuat Luhan terhempas.
Kali ini, Chanyeol benar-benar mengenai pukulannya pada ulu hati Luhan saat pemuda itu hampir terjatuh. Luhan terkejut atas rasa sakit yang tiba-tiba dan ia tidak bisa bernafas. Chanyeol seolah-olah tidak sadar bahwa ia melukai Luhan. Chanyeol memberi serangan lanjutan pada Luhan di tempat yang sama, lalu mencekiknya.
Luhan yang tidak siap sudah kehilangan tenaga dan setengah sadar. Tidak butuh waktu lama bagi Luhan tidak sadarkan diri. Pandangannya langsung menggelap begitu Chanyeol mencekiknya di lantai.
-o-
Kerja bagus, R," ucap seseorang.
Siapa?
"Kau benar-benar membawaku padaku tepat waktu," lanjut orang tersebut.
Siapa itu yang sedang berbicara?
Sosok yang dipanggil sebagai R hanya membalas, "Ya."
Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kenapa semuanya gelap?
"Bayaranmu sudah ditransfer."
Kalian mendengarku? Kubilang aku tidak bisa bergerak!
"Hei, kau ingin langsung pergi? Tidak ingin menyaksikan sesuatu yang seru?" orang tersebut menanyakan R yang sudah membalikkan badan.
"Pertunjukkan?" balas R.
Hei, aku kenal suara itu. Tapi, siapa? Sial, tubuhku seperti mati rasa.
"Ya. Pertunjukkan yang sangat menyenangkan, indah, dan membuatmu terkagum-kagum."
"Apa yang akan anda lakukan pada Luhan?" tanya R.
Padaku? Melakukan apa? Hei, apa kalian bisa mendengarku?
Ctik! Orang tersebut memberi sinyal pada anak buahnya yang berdiri di belakang dan sekelilingnya.
R membelalakkan matanya tatkala para penjaga tersebut melepas paksa pakaian Xi Luhan di hadapannya. "Boss, apa yang kau lakukan?! Ini tidak sesuai perjanjian kita!" seru R.
Apa yang sedang terjadi? Bos? Sial, aku tak bisa merasakan apapun. Semuanya pun masih gelap.
"R, perjanjian kita hanya aku membayarmu saat kau membawakanku Xi Luhan. Tidak ada pasal yang menyatakan aku tidak boleh menyentuhnya."
"Tapi…!" R mengepalkan tangannya. Ia semakin tidak tenang ketika para laki-laki itu sudah menelanjangi Luhan kemudian melepas ikat pinggang mereka.
Merasa geram, R hendak menghentikan mereka, namun beberapa bawahan lain menahannya. "Lepas! Jangan sentuh Luhan!"
"Kenapa kau menggebu-gebu seperti itu? Nikmati saja tontonan yang ada di hadapanmu, R." Sang bos menghirup cerutunya, merendahkan R dan Luhan yang nampaknya tak berdaya di bawah para laki-laki itu.
"Tidak! Setidaknya biarkan aku pergi dari ruangan ini!"
Kenapa? Mereka melakukan apa padaku, R? Aku hanya bisa merasakan sakit sekarang.
Bos tersebut tersenyum miring. "Kalian," tunjukkan pada beberapa orang yang sedang menahan R. "Buat dia diam di sini dan melihat semuanya."
R tertohok ketika mereka membuatnya berlutut, menahan semua pergerakannya hingga memaksanya untuk mengangkat kepala dan menyaksikan semuanya. Bola matanya bergetar ketika melihat Luhan dicambuk dengan ikat pinggang.
Sementara itu, yang lain berusaha menginvasi lubangnya. Melihat Luhan tak bergerak sama sekali, namun terus melenguh setiap kali milik mereka menusuk paksa area genital Luhan membuatnya berteriak histeris.
"Maafkan aku, maafkan aku Luhan!"
R, kenapa meminta maaf? Mereka sedang menyakitiku? Tapi kenapa aku tak merasakan apapun sampai sekarang?
Mereka bergilir memasuki lubang Luhan yang memerah karena terus dipaksa. Luhan tak bereaksi. Seseorang menciumnya secara agresif, menggigit bibirnya hingga berdarah. Seorang lain yang suka memberi tanda sibuk memberi kissmark di sekujur tubuh pemuda itu. Seorang lain memaksa Luhan untuk membuka mulutnya, melakukan blow job yang berakhir dilakukannya sendiri karena pemuda di bawahnya tidak menunjukkan reaksi apapun.
R seolah-olah memandang kumpulan singa buas yang memakan rusa kecil yang sudah setengah mati. Ia meringis melihat Luhan diperkosa secara tak manusiawi dan betapa takutnya ia jika Luhan tersadar di tengah-tengah hal tersebut atau bahkan tak sadar berhari-hari setelah ini.
R tidak tahu berapa lama Luhan bergerak seperti boneka, dimainkan terus menerus secara bergilir tanpa ampun. Tubuh pemuda itu sudah basah bekas sperma bawahan bos tersebut yang nampaknya masih belum puas. Banyak bekas yang merah lalu menjadi biru keunguan dalam waktu singkat.
"Luhan…Luhan!"
Tanpa sadar, ia sendiri sudah menangis melihat situasi yang diakibatkan karena tindakannya sendiri. Saat nampaknya sudah selesai, sang bos menyeret R keluar dari ruangan tanpa membiarkan R mengetahui keadaan Luhan selanjutnya.
Mereka mengusir R? Bagaimana keadaanku sekarang?
"Aku tidak tahu kau mendengarku atau tidak, yang jelas, kau akan menjadi tawananku sekarang."
Tawanan? Ada apa lagi denganku?
.
.
.
Tbc.
