Author's note: Corona, Corona, Coronaaaaaa~~~. Penulis mau curhat, pokoknya harus dengar. Serius, penulis tinggal sedikit lagi untuk melakukan penelitian di pertengahan Maret. Surat izin meneliti sudah ditangan. TAPI TERNYATA... Covid-19 melanda dunia. Universitas diliburkan! Penelitian terpaksa ditunda! Disitu, penulis benar-benar bingung. Disisi lain, libur memang keputusan tepat sementara nasib penelitian jadi mengambang. Pusing 7 keliling.

Karena libur dan tak ada yang mau dikerjakan, penulis pun beralih untuk menyelesaikan chapter ini. Namun, kesialan datang melanda. Tangan kanan penulis digigit anjing T_T! Huaaaaa, sakiiiiit sekali! Saya sampai dirawat di rumah sakit! Untung saja anjing itu tidak rabies! Kalau iya... goodbye, world. Padahal chapter ini tinggal sedikit lagi selesai, hiks hiks.

Penulis minta maaf sekali kepada para pembaca yang mungkin berspekulasi fanfic ini tidak akan ditamatkan. Gomen, minna.

Semoga chapter ini bisa mengobati kejenuhan kalian semua yang mengurung diri di rumah seharian. INGAT! JANGAN KELUAR KALAU BUKAN KARENA KEPERLUAN PENTING! NONGKRONG DENGAN TEMAN-TEMAN, ITU LUPAKAN SAJA! JAGA DIRI KALIAN SEMUA! Love you~~

Berikut adalah balasan review dari anda semua.

.

Oplovers

Hmmm... bagian komedi di chapter ini tampaknya akan sedikit berkurang. Lebih fokus ke bagian ganasnya kali, ya? But thanks for your review. Love you~

Ginri

Ohoooo, terima kasih pujiannya! Bahkan sampai mengulang membaca chapter dari awal? Love you, love you~! Muach!

Blue Light

Makanya jangan beritahu Shirohige soal ini. Sssst, ini cukup menjadi rahasia diantara kita. Thanks for your review! Love you so much!

Kanaechan

Oh, penggemar baru!? Selamat datang, selamat datang di dunia fanfic gaje kita! Maaf kalau lama update, ya. Penulis sedang sakit dan banyak pikiran tentang penelitian. Maklumilah mahasiswa tingkat akhir, hiks hiks. Dan terima kasih telah setia sampai saat ini. Love you~

.

Oke! Semua balasan komentar pembaca telah dibalas. Bagi yang telah memiliki akun, sudah penulis balas lewat PM. Sekarang, mari kita baca saja chapter 28!.

.

Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Twenty Eight: For The Girl I Love

By Josephine Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC (Out of Character)= artinya kalau tokoh di fanfic ini banyak memiliki sifat yang tak sama dengan anime aslinya. Jadi jangan protes kalau tak suka. Kemudian miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER TWENTY EIGHT

FOR THE GIRL I LOVE

By Josephine Rose99

.

.

.

Suara deruman sebuah sepeda motor CBR putih terdengar melewati jalan tol di pagi hari. Masih sunyi, hanya beberapa kendaraan bermotor berpapasan dengan si pengendara. Dibalik helm yang menutupi wajahnya, seorang laki-laki berekspresi super serius tidak bisa menutupi kegelisahannya. Pukul 6 pagi dia berangkat dari rumahnya menuju tempat yang sudah ditentukan tempo hari. Sebuah panggung berdarah telah disiapkan dan dia diminta memastikan semuanya aman.

Dia menggeretakkan gigi. Kesal terus diperintah oeh orang yang tak memiliki pola pikir konyol. Terngiang di kepalanya percakapan telepon setengah jam lalu dengan sang 'Bos'.

..

FLASHBACK

..

"Apa!? Sepagi ini!?"

"Ya, pastikan tidak ada polisi disana. Oh, jangan lupa tidak ada penonton lain tak berkepentingan. Aku tak ingin momenku menghancurkan hidup perempuan sial itu diganggu."

"...Kenapa harus aku? Kenapa kau tak minta salah satu pelayanmu saja?"

"Corazon sialan itu mengancam akan merebut paksa setengah sahamku di perusahaan cabang yang ada di Kyoto. Kalau kuminta pelayan, pasti akan ketahuan. Dia belum tahu dimana lokasinya, jadi akan lebih aman jika kau yang tinggal tidak jauh dari Gym itu yang pergi, Crocodile."

Crocodile berdecak kesal. Dia bangkit dari ranjangnya, membuka tirai jendela, melihat langit pagi masih kemerahan. Benar-benar mengganggu jadwal tidur. Walau ada hal lain yang membuatnya lebih kesal, "Hentikan ini semua, Doflamingo! Aku lelah dikaitkan dengan obsesi bodohmu pada perempuan itu!"

Terdengar suara tawa mengejek dari seberang telepon, "Sejak kapan kau membela wanita itu? Atau jangan-jangan kau menyukainya seperti adik Ace?"

"Bodoh, bukan itu! Kau sekarang mirip psikopat daripada pemimpin Shichibukai! Relakan dia dan cari wanita lain, dasar maniak!" sergah Crocodile murka, "Lagipula kau bukan benar-benar menyukainya, 'kan? Kau hanya tak rela dia bisa lolos dari rumahmu, sementara kau tak bisa menyiksanya lagi!"

"Simpan omongan cerewetmu, kawan. Sekarang, pergilah kesana. Aku tak punya waktu seharian." Setelah berkata begini, Doflamingo memutuskan telepon. Crocodile terkejut dan menatap kesal pada ponselnya, kemudian melemparnya ke kasur. Amarahnya memuncak.

"Brengsek!" begini rutuknya sambil mengepalkan tangan erat.

..

END FLASHBACK

..

Genggamannya pada stang gas menguat. Ingin sekali dia melemparkan motornya tersebut ke wajah Doflamingo yang tak pernah berhenti mencari masalah. Crocodile sudah cukup muak terus berurusan dengan kepolisian sejak mengenal laki-laki itu.

Entah apa yang akan terjadi nanti, namun Crocodile sudah memutuskan meninggalkan Doflamingo jika aparat keamanan datang. Persetan 'Shichibukai for life'.

...

Kediaman Monkey.

Pukul 07.03 pagi waktu Jepang.

...

..

Umumnya di waktu yang terlalu pagi ini, sangat tidak mungkin bagi kelompok pesuruh Kuina bangun. Terutama trio badak alias Sabo, Kid, dan Marco. Drama mimpi mereka masih di episode 12, belum episode 25. Tentunya tidak lupa air liur menetes dari sudut bibir disertai wajah cengengesan bodoh. Oke, umumnya. Nah, saat ini terjadi yang tidak 'umumnya'.

Konferensi persiapan perang sedang dilaksanakan di ruang audio visual milik keluarga Monkey. Well, Kuina memang memohon (tepatnya mengancam) agar Marco, Kid, dan Bonney menginap. Alasannya agar pasukan bantuan mudah dikoordinir. Makanya mereka berenam ada disini sekarang. Duduk melingkar pasang wajah serius.

Namun tampaknya sedikit ditunda akibat perintah sang ketua karena tak tahan mencium semerbak bau badan bak kentut sigung, "Mandi, teman-teman. Kalian tidak lupa hari ini kita mau ke Gym di distrik Koutou, 'kan? Shichibukai sialan itu menunggu kita."

Begitu menyebut nama geng motor buronan polisi itu, seketika atmosfer ruangan makin berat. Terutama Kid dan Bonney yang memang bermusuhan dengan mereka sejak lama. Lihatlah ekspresi serius mereka serta ketegangan menyertai. Tak ada dari mereka yang ingin cepat mandi saat ini.

Sabo berdiri dari posisinya. Dia berjalan menuju pintu sembari berucap, "Aku akan membangunkan Hancock dan Luffy. Kalian hubungi teman-teman mereka."

"Tak perlu, Sabo. Dua orang itu pasti sudah bangun. Terutama Hancock. Dia tak mungkin tidur tenang menunggu hari ini." Sergah Ace memberi pendapat logis. Begitu logisnya sehingga Sabo mengurungkan niatnya. Dia batal melangkah menuju kamar kedua ketua OSIS tersebut.

(Catatan : Jangan lupa kalau Hancock dirawat di rumah Luffy).

Ketika nama ketua OSIS HAS disebut, ketua geng Supernova teringat akan sesuatu. Dan itu adalah laporan Hawkins padanya tentang penyerangan Hancock di tempat bisnis keluarganya. Ya, Hawkins bisa mengetahuinya karena dia tak sengaja melihat teman-teman Luffy serta Hancock berkelahi brutal disana. Tangan kanannya langsung menepuk jidat. Dia baru sadar bahwa situasi saat ini sangat tidak menguntungkan. Hancock tak bisa berdiri, apalagi berjalan kemudian bertarung! Harus bagaimana? "Lalu apa yang akan kalian lakukan? Meminta penundaan?" nada serius terdengar dari setiap kata-katanya.

Ada beberapa hal tidak bisa diubah semudah membalikkan telapak tangan. Istilah itu berlaku untuk ini. Bonney mendengus kesal seraya memberikan tatapan sinis pada Kid, "Huh, maniak itu tak mungkin mau! Apalagi ini juga hal yang dia inginkan! Ketua OSIS itu sudah tamat sejak dia masuk rumah sakit!"

"Hei, Bonney!" Sabo menyahut tak suka.

"Aku benar, 'kan? Kali ini dia takkan bisa apa-apa melihat koran kota membahas dirinya," ah, benar-benar memusingkan sampai Bonney menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Selanjutnya bisa ditebak. Permintaan pemotretan majalah menurun, bisnis keluarganya tak laku, dan semua orang akan mengejeknya." Bonney melipat bibirnya. Menyilangkan tangan dan berwajah kesal. Oh, betapa inginnya dia mendaratkan satu pukulan telak di wajah pemimpin Shichibukai.

"Hah? Bukannya kalau informasi itu bocor, keluarga Donquixote akan tamat? Seharusnya Hancock senang hal itu bocor ke media, 'kan?" Kid tak mengerti akan spekulasi teman-temannya.

Bonney melirik cepat pada ketuanya yang tak tahu apa-apa tentang kenyataan, "Bodoh! Di kalangan pejabat pemerintah, memiliki budak itu hal biasa! Paling-paling judul headline news adalah 'Boa Hancock rela menjadi budak Donquixote demi uang dan ketenaran'."

Kid melotot tak percaya. Dia menoleh pada Bonney dan Kuina bergantian, seolah menanyakan kepada dua perempuan itu 'apakah itu benar?'. Demi menjawab kebingungan yang sedang melanda dalam diri ketua geng motor Tokyo tersebut, Kuina pun berkata singkat, "Mereka bisa menyuap orang-orang media."

Masih belum puas dengan jawaban tadi, cowok itu membalas kesal, "Hei, keluarga Monkey ada di pihak kita! Apa susahnya membayar wartawan agar tak membocorkan itu!?"

"Ya ampun, inilah kenapa aku ingin segera berganti geng karena punya pemimpin bolot sepertimu!" akhirnya Bonney mengamuk memamerkan deretan gigi Hiu sambil menunjuk Kid, "Setelah berpose nyaris telanjang dan mabuk, sekarang kau malah telat mikir! Apa waktu kau masih kecil, kau pernah terjatuh dari pohon lalu kepalamu mendarat duluan!?"

"Kau cari masalah denganku, perempuan sialan!?"

"Kalau memang bisa begitu, kau pikir untuk apa kita repot-repot dikumpulkan begini, hah!? Justru karena para wartawan brengsek itu tak bisa disuap oleh kita, makanya kita akan maju pakai kekerasan!"

"Hah?"

"Maksud Bonney tadi itu, Kid..." sela Ace muak mendengar suara 'raungan' dua monster, "... ada pihak keluarga Donquixote bekerja sebagai wartawan. Loyalitas mereka tinggi sampai tidak bisa disuap oleh keluarga politikus manapun, bahkan keluarga kami. Makanya aku ingin bantuan geng motormu." Kid membulatkan bibirnya pertanda paham tentang situasi panas ini. Ternyata begitu, ya?

Eit, tunggu dulu.

Bantuan apa maksud Ace tadi?

"Bantuan apa sampai geng motorku terlibat?" begini polosnya Kid bertanya yang nyaris mengundang jurus-jurus tinju dari tiap-tiap orang di ruangan itu.

"KAU TIDAK INGAT SEMALAM AKU MENJELASKAN RENCANA KITA!?" Kuina menahan urat-urat emosi sebelum mendaratkannya pada wajah Kid. Namun, Kid dengan santainya menggeleng. Walhasil sang Dewi cinta makin mengamuk, "JADI, BIBIR SEKSIKU SAMPAI ROBEK 1 CM DAN BERBUIH MENJELASKAN PANJANG LEBAR... KAU TIDAK INGAT APA-APA!?" kembali Kid menggeleng. Oke, dia berhasil memanggil Dewi kematian.

Dua tanduk di kepala Kuina mendadak tumbuh. Aura api menyelimuti dirinya disertai gemuruh petir sebagai backsound agar suasana lebih greget. Intinya dia masuk mode iblis. Tangannya sudah siap melayangkan pentungan ala hansip ronda yang entah dapat dari mana.

Sebelum Kid tidak bisa melihat sinar mentari lagi, dia langsung berdalih memberi alasan tepat, "AKU MABUK SEMALAM, MAKANYA AKU TIDAK INGAT, OI!"

Kuina berhenti.

Angin seketika berhembus.

"Konferensi meja bundar kembali diulang." Tidak usah heran pada Kuina yang mendadak autis alias duduk bersila, menyilangkan tangan, dan pamer wajah sok serius. Sebuah ekspresi dan wibawa yang hanya dia keluarkan di misi-misi 'penting'.

Tentu saja keempat anggotanya masih sayang nyawa, 'kan? Mereka tidak mau mati tragis sepagi ini. Terkadang terselip juga rasa heran pada sikap Kuina yang bisa seserius ini. Soalnya dia tak pernah mengeluarkan kekuatan seriusnya ini saat sedang belajar. Hanya keluar demi hal tak penting bagi mereka, bukan baginya.

Kuina berdeham sebentar, memastikan suara 'manis'nya tidak seperti suara kodok karena kebanyakan minum sake beras. Dia menatap intens Kid, sementara yang ditatap berusaha bersikap normal walau hatinya was-was jika Kuina jatuh cinta pula padanya (Apa sih?), "Dengar, Kid. Luffy, Corazon, Law dan KAU adalah penentu nasib misi kita ini." saat mengatakan 'KAU', Kuina menunjuk Kid.

Wow. Penentu nasib? Segitu besarkah perannya kali ini?

"Aku?" tanya Kid lagi sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ya." Jawab Kuina tegas, "Aku ingin kau menyusup ke rumah Doflamingo untuk mengambil semua bukti yang memberatkan posisi Hancock. Kau tahu kalau Doflamingo menyimpan semua dokumen dan foto-foto Hancock saat masih jadi budak disana, 'kan?" Kid mengangguk, "Ambil semua dan bawa kemari, ke rumah ini. Kita akan menggunakan semua bukti itu untuk menghancurkan keluarga mereka. Tapi kalau ada situasi dimana semua bukti itu tak bisa dibawa keluar, hancurkan saja disana. Paham?"

Kid tak langsung menjawab. Dia memagut dagunya tampak masih berpikir. Kemudian dia menyipitkan kedua matanya, "Aku masih belum paham kenapa Corazon dan Law ikut dalam misi kita ini."

"Corazon sudah mengirimkan file blueprint rumah mereka pada Ace-san semalam. Ace-san,"Ace segera memberikan cetakan blueprint rumah Doflamingo pada Kid. Selagi Kid memperhatikan dan mengingat semua letak ruangan, Kuina melanjutkan lagi, "Aku menemuinya dua hari lalu dan berdiskusi tentang ini. Corazon setuju bekerja sama dengan kita. Dia berperan sebagai pengalih perhatian."

"Pengalih perhatian?"

"Waktu Ace-san datang ke rumahnya tempo hari, dia tak bisa masuk dan malah menunggu diluar, 'kan? Itu karena gerbang itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari anggota keluarga Donquixote. Ada semacam sistem yang akan meng-scanning sidik jari mereka sebagai password." Kuina mengingatkan soal Ace menantang Doflamingo di kediaman mereka sampai berkelahi hebat. Kid pun manggut-manggut paham.

"Beruntung sekali Corazon ada di pihak kita..." gumam Bonney tak habis pikir kalau saudara Doflamingo sendiri mengkhianatinya.

"Dia muak melihat semua sikap keluarganya itu. Makanya dia ingin sesekali membelot." Ucap Sabo.

"Berarti, Corazon bertugas mengalihkan perhatian penjaga gerbang, kemudian membuka gerbang itu untuk kami dan... misi penyusupan dimulai. Begitu?" tanya Kid mulai mengerti.

"Tepat sekali!" jawab Kuina tersenyum.

"Lalu, Law bagaimana? Apa urusan dia?"

"Kau tahu persis hubungan Law dan Mingo itu buruk, 'kan? Dia ingin balas dendam. Jadi dia dan Corazon akan membereskan para penjaga agar memudahkan kalian menyusup. Karena kata Corazon, Law akan menginap disana sebagai tamunya walau Mingo protes. Kita beruntung hari ini tidak ada anggota keluarga Donquixote disana selain Corazon, mengingat Mingo akan datang ke tempat perjanjian."

"Oke, sampai disini aku paham..." ucap Kid sembari mengembalikan cetakan blueprint tersebut pada Ace. Dia menoleh lagi pada Kuina dan bertanya kembali, "Kami tidak dibantu oleh keluarga Monkey, nih?"

Sabo menjawab pertanyaan tersebut dengan celetukan, "Maaf, kami ingin membantu, tapi tidak bisa, Kid."

Oke, itu aneh. Duo Monkey yang biasanya tak pernah ragu menurunkan pasukan besar untuk hal sepele malah berkata begitu, "Katakan padaku kenapa."

"Jika aku dan Ace tidak muncul di gym, justru akan memancing kecurigaan Mingo. Yah, mengingat kami selalu ikut campur dalam masalah Adik kami. Selain itu, kami tidak bisa membahayakan nyawa agen kami yang tak ada urusannya dengan ini semua."

"Jadi kau lebih mudah mengorbankan nyawa kami daripada nyawa agenmu sendiri!?" yah, wajar saja Kid mengamuk ala monster. Apa-apaan alasan Ace barusan? Padahal kalau soal beginian, seharusnya minta saja bantuan veteran perang, bukan geng motor Kid.

Melihat Kid masih tidak terima karena tak ada bala bantuan, Kuina menengahi, "Apa, sih? Bukannya kau setuju mau bekerja sama? Lagipula kau punya dendam pada maniak Mingo itu karena menyeret nama kalian dalam masalah."

Sebuah kenyataan sekaligus sebuah informasi rahasia dari penulis.

Sebenarnya geng motor Supernova bukan geng motor jahat. Mereka bukan tipikal geng motor yang selalu mengadakan balap motor ilegal di jalan. Well, namun karena geng motor tak lepas dari arena balap, mereka biasanya mengikuti sirkuit balapan resmi agar tak berurusan dengan polisi. Tapi itu semua berubah sejak negara api menyerang, ah maksud penulis, sejak Shichibukai menyerang.

Tepatnya sih Doflamingo, Moria, Teach dan Crocodile saja berulah kembali. Kalian bisa sebut itu sebagai kebanggaan geng motor terapik yang bisa melakukan semuanya seenaknya. Mereka berempat menghasut beberapa anggota Kid untuk melakukan balapan liar, tentu saja dengan iming-iming uang jumlah besar. Anggota Kid terhasut dan ya, begitulah. Mereka datang ke tempat perjanjian untuk balapan, namun nyatanya tak ada seorang Shichibukai pun disana. Justru sekumpulan personil kepolisian sedang mengacungkan pistol.

Kid sangat terkejut mendengar kabar itu dari Bonney yang kebetulan mendengar berita di radio. Maka ketika para polisi di tengah perjalanan membawa 'para tahanan' menuju kantor polisi, seluruh anggota Supernova menyerang demi membebaskan mereka. Sejak saat itulah, geng motor Supernova menjadi buronan polisi selain Shichibukai. Tapi bedanya Supernova benar-benar diburu, sementara Mingo and the others tidak. Ya, kalian tahu... the power of money.

Back to the story.

"Aku mau ikut dalam rencana ini, Kuina. Aku hanya tak mengerti kenapa mereka jadi pecundang begini." Kilah Kid menunjuk wajah Ace dengan raut wajah kesal. Bukannya Ace sendiri mengakui Hancock adalah calon Adik iparnya? Masa' dia tidak turun tangan?

Sambil garuk-garuk kepala, Kuina menghela napas berat persis Nenek-Nenek nyaris dipanggil usia. Ekspresi malasnya itu dia berikan pada ketua geng Supernova kemudian berucap, "Kemarin Luffy meminta padaku agar tidak menurunkan agen Dragon-sensei. Makanya hanya kau dan teman-temanmu yang kesana."

Luffy meminta hal tersebut? Benarkah? "...Kenapa?"

"Ah, itu..."

.

"Aku akan menolong Hancock dengan tanganku sendiri. Itu janjiku padanya sebagai seorang laki-laki... dan seorang laki-laki tidak akan menarik kata-katanya. Aku akan pastikan hari ini adalah hari Hancock akan bebas dan bahagia."

.

Seketika suasana hening. Hanya bunyi detak jam dinding menjadi latar. Tak butuh beberapa lama bagi dua Supernova memahami kemudian membuka mulut mereka seperti keledai bodoh.

Sabo adalah orang pertama yang terkekeh geli melihat wajah melongo Bonney dan Kid. Ya, sebagai seorang Kakak Luffy, dia tahu pasti bahwa kalimat semacam itu takkan mungkin keluar dari mulutnya. Oh, ayolah! Adiknya itu bukan tipe cowok yang bakal bicara keren, terutama untuk cewek!

Bonney sesaat lepas dari kecengoannya. Walaupun dia belum sepenuhnya lepas dari rasa kagum, terpesona atau mungkin... shock? Entahlah, "Wow... dia ternyata pria sekali..."

"Huh..." Kid tersenyum sok keren, "...ternyata dia mirip sepertiku kalau soal cewek..."

What? Hello, Kid! Kau masih belum bangun dari mimpi, ya? Spontan Bonney tak terima dengan gumaman tak masuk akal tersebut, "Mirip kepalamu! Kau pikir dia mau tampil di depan cewek hanya pakai celana boxer!?" Kid skak mat. Dia mengerucutkan bibir, menggerutu. Bonney tak peduli melihat tingkah ketuanya mendadak girly, dia lebih memilih bertanya memastikan pada Sabo, "Apa itu benar, Sabo? Luffy benar-benar mengatakan itu?"

Cukup satu anggukan pelan dari Sabo berhasil membuat Bonney percaya.

"Berarti mungkin dia sekarang..."

"Ya..." Kuina memotong gumaman spekulasi Bonney, "... Mungkin sekarang dia sedang menenangkan sang putri dengan kata-kata gentleman-nya..."

...

~chaptertwentyeight~

...

Sesuai spekulasi Kuina dan Bonney, Luffy benar-benar sudah bangun dan sekarang sedang duduk di dekat Hancock yang berbaring di tempat tidur. Sorot mata ketua OSIS HAS masih sayu menunjukkan semangat yang memudar. Sulit tidur semalaman karena memikirkan hari ini. Beragam akhir buruk berputar di pikirannya. Kepalanya sakit jika memikirkan itu.

Biasanya Luffy tidak peka, tapi entah kenapa tidak hari ini. Dia ikut merasakan apa yang dirasakan Hancock. Diperbudak sejak kecil, dihajar sampai masuk rumah sakit, dan sekarang kebebasannya terancam pula. Dia tak bisa memaafkan Doflamingo kali ini walau orang itu memohon sekalipun. Dia takkan mundur.

"Hancock..." panggilnya pelan, "Kau tak perlu memikirkan apapun. Semua akan baik-baik saja..."

"Bagaimana semua akan baik-baik saja kalau aku begini?" tanpa melihat wajah Luffy, Hancock balik bertanya frustasi. Andai saja dia tidak lumpuh...

"Jangan khawatir. Aku akan bertarung untukmu. Aku sudah janji akan melindungimu, 'kan?"

Hancock menoleh padanya, terkejut.

Terkejut? Why? Penulis saja ikut terkejut karena tumben bocah itu bicara lembut! Mungkin kepalanya terbentur sebelum bangun. Eh, tidak. Mereka 'kan tidur bersama. Lalu, terbentur karena apa? Argh, lupakan! Intinya Luffy berkata begitu lembut sampai-sampai hati Hancock meleleh karenanya.

Oh, muncul. Degup jantung itu muncul lagi.

Hei, ini terlalu cepat! Apa Hancock salah makan? Tapi dia makan bubur nasi telur, salad dan jus buah saat sarapan. Ketiga jenis makanan itu tak mungkin menyebabkan darah tinggi sampai ritme detak jantungnya meningkat. Apa mungkin hormon tiroidnya berlebih? Tidak, tidak, tidak! Mana mungkin, 'kan!? Dia sudah bertekad membuang semua perasaannya! Dia tahu tak mungkin meraih hati Luffy! Masa' harus kambuh di saat seperti ini? Kalau begini, tekadnya bisa goyah!

Tapi... tembok pertahanannya hampir runtuh melihat wajah Luffy yang so shining, shimmering, and splendid. Wajar saja, bukan? Luffy adalah pria yang menunjukkan sebuah dunia baru padanya. Persahabatan antar sekolah, cinta, kekonyolan anak muda disertai tawa dan duka. Bersamanya, tak pernah ada orang yang berani mengatakan 'No!', atau kemana mereka harus pergi, or say they're only dreaming. Luffy benar-benar memberikan sebuah tempat khusus untuknya. That's where they always be. A wondrous place for her and him.

(Catatan penulis: awas saja kalau kalian bernyanyi!).

Gawat, wajah Hancock memerah. Dia segera menoleh ke arah lain supaya Luffy tak menyadarinya. Walau sebenarnya itu sia-sia, sih. Tak mungkin Luffy tak melihat sirat malu-malu merah merona itu di kulit putih Hancock.

Hancock terkesiap merasakan telapak tangan Luffy berada di dahinya. Terutama mendengar suara Luffy, "Kau tak apa-apa, Hancock? Wajahmu memerah. Kau demam?" lagi-lagi cowok bodoh ini tidak peka.

"E-eh, i-itu.. bo-bodoh! Te-tentu saja tidak! Aku baik-baik saja!" seseorang, siramkan air padanya! Wajahnya memanas! Ini gawat. Harus cari topik pengalih perhatian, "Da-daripada itu, apakah kau sudah menghubungi teman-teman kita?"

"Oh..." Luffy spontan menarik tangannya dari dahi Hancock, "Aku sudah menghubungi mereka semalam. Aku meminta mereka langsung kesana jam 10 pagi ini. Jadi mereka tak perlu singgah kemari dulu."

"Kenapa?"

"Aku ingin pastikan kita tidak dijebak. Makanya mereka akan memastikan keamanan disana. Tak mungkin aku membiarkanmu dijebak si bedebah itu lagi." Ah, senyum manis itu lagi! Ya ampun, Luffy, kau selalu saja bisa membuat jantung Hancock tak pernah mendengarkan hatinya.

Disisi lain, Hancock asyik membaca mantra dalam hati yang so pasti tak ada efeknya, "Oke, tenang. Tenang... stay cool. Jangan terbawa perasaan. Jangan terbawa perasaan. Itu cuma senyum, Hancock. Abaikan senyumnya yang menyilaukan itu. Memangnya kau pikir Luffy adalah bintang iklan pasta gigi, ya? Tahan, tahan... TAHAN!" beginilah mantra alias jampi-jampinya sambil memberikan senyum kalem pada Luffy. Padahal rasanya dia ingin kabur jauh-jauh dari Luffy supaya cowok itu tak lihat dirinya mau meledak, ck ck ck.

Tck. Cowoknya bodoh, sementara ceweknya tsundere. Pasangan luar biasa.

Tiba-tiba, momen tersebut harus terganggu ketika Marco masuk tanpa mengucapkan salam. Dia bersandar pada dinding kamar sambil menyilangkan tangannya. Hal itu disadari Luffy berkat Hancock bergumam, "Marco-san...". Dia pun menoleh ke belakang mendapati Marco tersenyum sumringah.

"Yo, Luffy. Lama tak bertemu." sapa Marco.

"Marco..."

"Jadi, apakah tuan putri baik-baik saja? Sebaiknya kau harus mengumpulkan mental, karena kita akan melewati badai besar hari ini."

"Aku baik-baik saja, Marco-san. Dan aku tahu akan ada badai besar yang datang. Itulah yang membuatku cemas..." Hancock belum berhenti menunjukkan wajah gusarnya. Dia benar-benar sangat khawatir. "Aku menyeret teman-temanku dalam masalahku. Mungkin semua akan jadi lebih baik jika aku tak bertemu kalian.."

"Apa yang kau katakan?" sergah Luffy tak suka. Dia muak Hancock terus menyalahkan dirinya sendiri, "Saat sudah jadi teman, masalahmu adalah masalahku juga. Iya, 'kan?"

Speechless.

Tiga kali. Tiga kali sudah Luffy membuatnya bersemu merah di hari ini. Apakah itu sudah menjadi hobinya? Apa-apaan sih Luffy ini? Hancock benci dia bersikap sok gentle... tapi dia suka - _-'.

Marco melongo disana seperti keledai. Tak menyadari jumlah gagak yang lewat. Itupun kalau tidak dipanggil Luffy lagi, "Oi, Marco. Dimana kedua Kakakku?"

"Hah? Eh, i-itu mereka sedang diluar menunggu semua anak buah Kid."

"Supernova? Apa hubungannya mereka dengan ini?" tanya Hancock.

"Dengar, Princess. Semua berada di bawah kendali. Kau cukup tenang dan melihat saja. Percayalah pada kami, oke?" Marco memberi kedipan mata dan satu acungan jempol.

Ya, benar.

Semua akan baik-baik saja.

...

SKIP TIME

...

Pukul 09.25 waktu Jepang...

Kediaman Roronoa...

.

"Zoro, sudah saatnya. Ayo pergi!" ajak Robin setelah melirik jam di ponselnya. Waktu perjanjian tinggal sedikit lagi. Zoro pun memberikan sebuah helm pada Robin. Setelah bersiap-siap, kedua insan itu sudah duduk di motor Zoro dimana Zoro sedang memamerkan deru suara motornya.

Namun melihat wajah Ibunya yang khawatir di pintu pagar rumah mereka, mau tak mau Zoro memberikan beberapa kalimat supaya wanita yang melahirkannya itu bisa tenang, "Ibu tak perlu khawatir. Aku dan Robin akan baik-baik saja. Aku janji akan pulang dengan selamat."

"Bagaimana Ibu tidak khawatir? Lawan kalian keluarga Donquixote! Tentu Ibu tak mau anak Ibu satu-satunya terluka!"

"Bibi..." sergah Robin. Kemudian dia memberikan sebuah senyuman manis padanya, "Bibi cukup percaya pada anak Bibi yang keras kepala ini. Selain itu, kami takkan kalah."

Ibu Zoro tertegun. Dia tak membalas kata-kata Robin lagi dan memilih melihat mereka berdua pergi dari sana.

.

.

Kediaman Nefertari...

.

"Apa? Kenapa Robin memilih pergi dengan Zoro dibanding kita?" Nami mengajukan protes berat setelah tahu Robin memilih menunggu untuk berangkat bersama di rumah Zoro, daripada berkumpul di rumah Vivi.

"Tujuan kita tetap sama, 'kan? Lagipula kau nyaris tidak mau berkumpul disini karena bujukan setan mesum Vinsmoke itu. Untung saja Kaya langsung menyeretmu kemari." Oke, kalimat Vivi barusan berhasil menohok hati Nami yang sekarang bersemu merah.

"Jadi, bagaimana? Kita berangkat sekarang? Robin baru saja mengirim SMS padaku kalau dia dan Zoro sudah berangkat." ucap Kaya tidak sabar ingin berangkat untuk mendamprat Doflamingo.

"Baiklah..." Vivi mengambil jaket dari sofa, kemudian memberi perintah pada salah satu ajudan keluarganya yang sudah menunggu mereka di pintu rumah, "Paman, antar kami sekarang juga kesana! Cepat!"

"Baik, Vivi ojou-sama!"

.

.

Kediaman Vinsmoke...

.

"Sampai segitunya kalian ingin membela gadis tercantik itu, Sanji? Kau bisa tamat kalau berurusan dengan keluarga politikus kotor itu." tampak Reijuu masih khawatir dengan rencana gila Sanji dan teman-temannya. Tapi itu semua percuma saja. Sanji tetap kukuh dan terus mengikat tali sepatunya. Mobil sedan hitam di depan rumahnya sudah tak bisa menunggu lama lagi.

"Aku tak bisa membiarkan seorang lady menunggu..." lagi-lagi keluar kata khasnya. Dia kemudian berdiri dan sedikit menoleh pada saudarinya itu, "Dia menunggu untuk bebas. Kami tidak mungkin diam saja, 'kan?"

"... Sanji..."

"Katakan pada Ibu. Dia tak perlu menyiapkan makan siangku hari ini. Sampai jumpa, Reijuu!"

.

.

Kediaman Kouza...

.

"Mau sampai kapan kau membuatku menunggu, Kouza? Jenggotku nyaris tumbuh disini karena kau terlalu lama, cowok siput!" teriak Usopp dari balik gerbang rumah Kouza. Entah sudah berapa kali dia membunyikan klakson motornya, namun Kouza belum keluar juga.

"Ya, ya, tunggu! Kau cerewet sekali!" Kouza akhirnya keluar terburu-buru dari rumahnya sambil terus memakai helm. Dia membuka gerbang, duduk di motor Usopp lalu menepuk pundaknya, "Let's roll!"

"Oke! Pegangan, Kouza! Karena kita tak bisa membuang waktu disini!" motor Usopp melaju kencang meninggalkan rumah Kouza.

.

.

Pukul 09.38 waktu Jepang...

Kediaman Monkey...

.

"Bagus! Kalian semua sudah berkumpul disini!" datang juga waktu ketika Kid berpidato di hadapan anak buahnya. Di halaman rumah keluarga Monkey, disana dia berdiri tegak penuh wibawa, sementara para 'petinggi' geng berdiri disampingnya seperti Bonney, Hawkins, Apoo, dan yang lainnya. Maklum, selama ini dia kebagian scene nista alias diperbudak Kuina. Jadi, sekali-kali dia bersikap keren.

"Dengarkan aku karena aku takkan mengulanginya dua kali! Kita semua tak mungkin menyusup ke rumah Doflamingo! Itu sama saja dengan misi gagal! Jadi aku ingin kita dibagi dua! Bagi berpangkat prajurit, Letnan, Kapten, dan Mayor, ikut bersama Luffy ke Gym di distrik Koutou! Sementara yang berpangkat Jenderal, ikut aku menyusup ke rumah bedebah itu! Kalian yang akan ke Gym, pastikan kawanan Doflamingo tidak bisa menyusul kami ke rumah Donquixote, sampai kami berhasil mengambil semua bukti yang memberatkan posisi Boa Hancock! Ada pertanyaan!?"

"Apa-apaan itu? Kenapa geng motor punya pangkat layaknya tentara segala?" bisik Kuina yang merasa geli akan fakta tersebut pada Bonney yang berdiri di depannya.

"Aku sudah melarangnya sebelum geng ini dibentuk. Tapi sepertinya dia suka hal-hal seperti ini. Ck, kau tahulah seperti apa maniaknya Kid pada pangkat..." balas Bonney juga ikut merasa geli, tepatnya sih jijik.

"Kalau kau sendiri pangkat apa?" tanya Kuina lagi.

"Jenderal. Makanya aku ikut menyusup ke rumah maniak pink itu."

Lupakan bisik-bisik gaje Kuina dan Bonney. Karena tiba-tiba salah seorang anggota Kid mengangkat tangan.

"Ya, apa itu?" tanya Kid.

"Jenderal Ketua, bagaimana dengan polisi? Kita 'kan buronan. Kalau sebanyak itu ke distrik Koutou, bukannya itu akan mencolok?"

Kuina sweatdrop mendengar pangkat Kid yang disebut tadi. Jenderal ketua, katanya? Pangkat konyol. Ternyata Kid senorak itu dalam menciptakan silsilah pangkat.

"Untuk masalah polisi, Ace dan Sabo akan mengurusnya. Jadi, kalian nanti tak perlu menahan diri. Intinya, kalian cukup melihat pertarungan Luffy dan Doflamingo disana. Tapi, kalau pertarungan besar tak terelakkan, habisi Doflamingo dan kawanannya! Paham!?"

"PAHAM, JENDERAL KETUA!"

"YOSSHAA! SEMUANYA, KUATKAN TEKAD KALIAN! KITA AKAN MEMBALASKAN DENDAM KITA PADA SHICHIBUKAI HARI INI! KITA AKAN TUNJUKKAN SIAPA GENG MOTOR TERKUAT DI TOKYO!" Kid mengacungkan tinju semangat masa muda ke udara yang spontan diikuti oleh semua anggotanya.

Teriakan semangat berkumandang di halaman itu. Kid sangat benar-benar senang. Senyumnya mengembang tatkala berhasil menaikkan bara api semangat anggota geng motornya. Dia kemudian berbalik menatap Kuina yang juga memberikan senyum unjuk gigi.

"Oi, Kuina! Ayo, kita berangkat!"

"Aku tahu itu, Kid!" Kuina menoleh pada Sabo dan Ace yang berdiri di kirinya, "Oke, Monkey bersaudara! Panggil Luffy dan pacarnya itu! Katakan pada mereka, misi kita dimulai!"

...

~chaptertwentyeight~

...

Pukul 09.55 waktu Jepang...

Gym Motomura, blok 10 nomor 3 distrik Koutou...

.

.

"Doflamingo-sama, kita sudah sampai." ucap supir pribadi ketua Shichibukai tersebut ketika memakirkan mobil limousine itu di depan sebuah Gym. Doflamingo tidak bergerak dari posisinya sampai pelayannya keluar dan membuka pintu mobil untuknya.

Begitu kakinya menginjak halaman tempat bertarung terkenal di distrik Koutou itu, dia disambut pandangan tajam dari banyak orang yang sudah berdiri di hadapannya. Ya, dia bisa melihat keberadaan mereka dari jauh sebelum sampai. Five Princes, Angels, serta orang-orang yang suka ikut campur. Beruntung dia tidak sendirian kesana. Dia sudah menduga akan begini. Makanya dia membawa banyak bodyguard keluarganya serta beberapa anggota Shichibukai.

Tak perlu waktu lama bagi Teach, Crocodile, dan Moria ikut berdiri di dekatnya. Sayang sekali Mihawk dan Jinbe tidak ikut. Dia mencoba menghubungi mereka pagi ini, namun ponsel mereka tidak diangkat. Yah, sudahlah. Bukan berarti kekuatan pasukannya melemah drastis.

"Jadi ini?" kalimat pembuka sinis dari Doflamingo, "Harga kepalaku adalah nyawa dari orang-orang tak berguna seperti kalian?"

Emosi Luffy tersulut. Jari telunjuknya segera diangkat mengarah Doflamingo, "Jaga bicaramu, Doflamingo! Kaulah yang tak berguna disini!" beginilah amarahnya yang belum mereda, "Kau akan kuhabisi di tempat ini dan takkan ada lagi orang-orang yang kau sakiti!"

"Hahahaha, kau sekarang dalam mode Superman, ya? Baiklah, baiklah. Aku bisa memaklumi penyakit hero complexmu. Tapi..." pandangan Doflamingo beralih pada Hancock yang duduk di kursi roda, "... Urusanku adalah dengan perempuan itu.."

Hancock tak bisa menahan diri untuk menggeretakkan giginya. Sama seperti Luffy, emosinya membara. Kakinya sudah tak sabar menendang wajahnya kalau bukan karena kondisinya sekarang. Tapi yang paling membuat emosinya membara adalah bukan karena itu. Dan 'itu' adalah...

"He? Areeee~? Ada apa ini? Ketua OSIS HAS sedang sakit rupanya? Duduk di kursi roda seperti wanita usia lanjut. Kau tidak sedang pura-pura sakit untuk meminta belas kasihanku, 'kan? Ne, Hancock?" benar-benar tidak kenal takut. Dengan santainya dia mengejek tanpa menghiraukan pandangan membunuh dari orang-orang di hadapannya.

Nami nyaris saja maju kalau tidak ditahan Kuina, "Tahan, Nami. Bukan sekarang. Tenangkan dirimu."

Kepalan tangan Nami makin mengerat. Dia menggeram marah lalu berteriak marah, "BAJINGAN KAU, DOFLAMINGO! KAULAH YANG MEMBUATNYA BEGITU AGAR KAU BISA MENANG TARUHAN! KAU TIDAK AKAN PERNAH KUMAAFKAN!"

"Hah? Apa yang kau bicarakan? Aku tak tahu apa-apa. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku sedang bersantai di rumahku saat itu, 'kan?" Doflamingo masih menjawab santai dengan wajah lugu. Dia mengangkat bahunya seolah tidak mau tahu. Hal itu semakin membuat teman-teman Hancock marah.

"BRENGSEK! BERHENTI PURA-PURA BODOH! KAU MENYURUH ANAK BUAHMU UNTUK MENGHANCURKAN USAHA MEREKA! KAU MEMANG BUKAN MANUSIA!" teriak Vivi kasar.

"Ah, sudahlah. Hentikan semua ini..." gumam Doflamingo pelan. Setelah itu, ekspresi jahatnya muncul diikuti senyum setan mengarah pada Hancock yang masih menatap dirinya tajam, "Hancock... kau masih ingat taruhan kita, 'kan?"

Hancock terdiam, membiarkan Mingo melanjutkan kata-katanya lagi.

"Berarti... aku menang, 'kan? Kau sudah kalah telak setelah duduk santai di kursi itu, HAHAHAHAHA!"

"Kauuuuu..." kepalan tangan Hancock mengeras. Urat-urat kemarahan terlihat jelas di wajahnya.

"SEANDAINYA KAU MAU BERTUNANGAN DENGANKU, KAU TAKKAN BERAKHIR BEGITU, WANITA BODOH! KAU ITU BUDAK! DAN SEKALI BUDAK, TETAP BUDAK! ITU STATUSMU SELAMANYA, HAHAHAHA!"

Doflamingo masih puas menertawai ketua geng Angels. Merendahkan harga diri perempuan itu serendah mungkin. Dia tak peduli jika pada akhirnya perempuan itu menangis.

Tapi saat itu, Doflamingo tidak menyadari raut muka Luffy berubah total.

"RATAPILAH NASIB BURUKMU, IDIOT! SEKARANG, BAGAIMANA KAU AKAN BERTARUNG DENGANKU SEMENTARA KAU SENDIRI TAK BISA BERJALAN!? APA KAU INGIN AKU JUGA DUDUK DI KURSI RODA, LALU KITA BERTARUNG MEMAKAI TONGKAT!? HAHAHAHA!"

"... Tidak..."

"HAHAHA-hah?"

Baiklah, sudah cukup telinganya mendengar omong kosong ketua Shichibukai. Apalagi omong kosong tentang Hancock. Luffy melangkahkan kakinya, dia maju ke depan. Sikapnya tenang, namun sorot matanya benar-benar tajam menusuk. Dia maju diiringi tatapan tertegun oleh orang-orang. Hingga kemudian dia sudah berdiri tepat dua meter dari Doflamingo.

Tawa Doflamingo lenyap, digantikan atmosfer tegang di antara mereka. Mereka sekarang saling menatap tajam satu sama lain.

"Apa maumu?" tanya Mingo setelah keheningan terjadi.

"Apa mauku?" gumam Luffy penuh penekanan, "Mauku adalah kau... bertarung denganku."

"... Hah? Kenapa aku harus menurutimu?"

"Jika aku kalah, kau bisa memiliki sahamku di perusahaan keluargaku."

Sungguh benar-benar diluar dugaan! Luffy mempertaruhkan sahamnya! Tentu saja itu diluar rencana Kuina! Ace dan Sabo saja juga terkejut mendengar hal tersebut. Karena mereka tahu saham bukanlah hal yang begitu mudahnya diletakkan di meja pertaruhan.

"Oi, Luffy! Apa kau sudah gila!? Kenapa kau pertaruhkan sahammu, bodoh!?" teriak Ace tak terima. Ya ampun, Luffy benar-benar kelewatan!

"Ayah benar-benar akan marah padamu, bocah! Tarik ucapanmu sekarang!" sambung Sabo marah.

Disisi lain, Hancock seketika merasa bersalah sampai Luffy mempertaruhkan hartanya deminya. Dia tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Luffy sudah banyak berkorban untuknya, tapi dia tak mau lebih dari ini, "Luffy, apa yang kau katakan?! Kau tak perlu mempertaruhkan sahammu untukku! Doflamingo itu kuat! Kalau kau kalah, kau bisa—"

"Hancock benar, Luffy! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, bocah bodoh!?" sergah Kuina tak habis pikir dengan kenekatan Luffy.

"Berisik! Kalian tidak perlu ikut campur!" Luffy balas teriak.

"Tidak ikut campur, katamu!? Beraninya kau—" omongan Ace langsung disela dengan satu kalimat keyakinan dari Adik bungsunya itu.

"KARENA AKU PASTI MENANG!"

Semuanya kehilangan kata-kata. Entah karena ketegangan atau wibawa Luffy begitu mengatakan kalimat tersebut. Tak ada satupun yang membalas perkataannya.

Ace tertawa pelan. Astaga... dia lupa Adiknya itu punya sikap percaya diri yang terlalu berlebihan. Well, sepertinya kali ini dia harus menaruh kepercayaan sekali lagi pada Luffy.

Sementara itu, Doflamingo tersenyum sinis pada Luffy yang begitu percaya diri dia akan menang. Tentu saja bagi Mingo, itu sangat omong kosong, "Kau pasti menang, huh? Baiklah. Kalau itu maumu, Ayo, kita bertarung!"

Tantangan diterima.

"Berjanji padaku, brengsek. Jika aku menang, jangan pernah ganggu Hancock atau siapapun orang-orang terdekatku!

"Baik, aku pegang janjiku. Tapi kalau kau kalah, tepati janjimu."

"Aku selalu menepati janjiku. Sekarang, bisa kita masuk ke arena? Aku tak sabar untuk mematahkan lehermu."

"Akulah yang tak sabar untuk mematahkan lehermu, bocah. Khu khu khu..."

.

Kuina harus mengakui rencana mereka untuk membuat Luffy menggantikan Hancock berjalan lancar, walau tak menyangka saham menjadi taruhan. Namun dia yakin rencananya yang lain bisa menambah tingkat kesukesan misi mereka. Karena itulah, tanpa sepengetahuan Five Princes dan Angels, dia diam-diam menghubungi rekan-rekannya yang lain dengan ponsel.

"Hei, Corazon. Tak ada siapapun disampingmu, 'kan?"

"Tak ada selain Law. Bagaimana keadaan disana?"

"Sesuai rencana. Kid dan teman-temannya sudah berada di sekitar rumahmu. Kita bisa memulai rencana kita sekarang."

"Baiklah, aku mengerti." Corazon memutuskan telepon.

Begitu terputus, Kuina menatapi layar ponselnya. Wajahnya serius sekali sampai tak menyadari orang-orang disekitarnya mulai bergerak masuk ke Gym.

"... Aku mengandalkan kalian, teman-teman..." gumamnya pelan.

.

.

TO BE CONTINUED...

.

.

Author's note: Chapter berikutnya sudah pasti pertarungan Luffy dan Doflamingo serta penyusupan geng Supernova. Jangan lewatkan! Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!