Ruang aula sekolah Beauxbaton hari ini lebih ramai daripada biasanya. Meski sebagian guru sudah mencoba menenangkan murid-murid, rasa cemas, gelisah tak kunjung surut dari raut anak-anak. Bagaimana tidak, jika rumor mengenai para murid sekolah ternama di kerajaan Aralle akan ikut berperang. Siapapun jelas gundah, walau kabar itu masih simpang siur, ditambah lagi hari ini kepala sekolah secara khusus mengadakan pertemuan seluruh penghuni akademi.

Disalah satu barisan, Hinata berdiri tegak dengan jubah kebesaran akademi dengan lambang Hyuuga di sisi kanan. Mata lavendel itu menatap ke arah podium di mana Profesor Hiruzen nantinya akan berpidato. Tatapan gadis itu mengambang, melamun, memikirkan jika rumor itu menjadi fakta. Apa yang harus dia lakukan ketika peperangan terjadi lebih cepat dari sebelumnya?

Sebuah jemari mengetuk pelan ujung jari Hinata, menghentak sang gadis untuk menoleh ke kanan. Di sampingnya, Uzumaki Naruto tersenyum penuh keyakinan. Rambut pirangnya yang cepak serta pakaian pelindung lengkap membuatnya terlihat gagah. Itu adalah sosok Naruto saat mereka berusia dua puluh tahun. Dan kini bayangan itu memudar menjadi sosok remaja sang pemuda pirang. Pakaian berjubah berubah menjadi seragam, rambut pirang yang agak panjang, namun senyum yakin itu tetaplah sama.

"Apa yang kau lamunkan?" bisiknya pelan.

Hinata memiringkan badan, balas berbisik. "Memikirkanmu."

Naruto terbatuk keras, ia mendapat tatapan peringatan dari Obito-Sensei. Hinata terkekeh pelan, tidak merasa bersalah telah membuat teman pirangnya ditegur. Kemudian ia berbisik lagi, "Maaf, aku bercanda."

Mata biru laut itu melotot kesal, "Candaan yang tidak lucu."

"Ah~ hatiku sakit mendengarnya. Kau jahat Naruto-kun," gadis itu kembali menggoda, hingga ia mendapat sikutan dari Naruto.

"Jangan bercanda, aku tahu kau sedang memikirkan . ." Ia memberi penekanan diujung kata. "Kau tidak bisa membohongiku, Hinata."

Hinata mengulas senyum pahit, ia memalingkan wajah, mengabaikan Naruto. Saat pemuda itu hendak berkata lagi, suara keras dari arah podium menghentikannya. Sosok profesor Hiruzen terlihat berdiri menjulang, dengan pengeras suara ia membuka pertemuan siang ini.

"Saya rasa kalian sudah mendengar rumor yang beredar saat ini, bahwa Kerajaan kita sedang dalam situasi tidak baik." Suara Hiruzen terdengar tenang dan tegas. "Seperti yang dilansir oleh pihak Keamanan kerajaan, Tuan Shikaku memberitahu bahwa kaum iblis tengah membentuk pasukan untuk memulai perang dengan Aralle yang merupakan rumah dan juga tanah kelahiran kita."

Kericuhan terjadi seketika, para murid menunjukkan sikap cemas mereka. Hiruzen berseru keras, menyuruh anak-anak untuk diam. Setelah keadaan tenang, ia kembali membuka suara. "Sebagai seorang guru, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan para murid. Namun ketika bahkan kerajaan membungkuk, meminta bantuan dengan segala rendah hati, mampukah kita untuk menolak?"

"Saya tahu, sebagian dari kalian tentu tidak ingin melakukan peperangan. Sebagian dari kalian pastilah takut untuk menghadapi para monster-monster kegelapan. Namun perlu saya ingatkan kembali, tujuan kalian bersekolah di Akademi Beauxbaton adalah untuk menjadi pribadi yang hebat, menjadi salah satu tokoh yang akan mengukir sejarah di luar sana. Karena itu saya tidak akan memaksa, kalian sendiri lah yang menentukan pilihan. Ikut berperang atau tidak."

Hiruzen menutup pidato singkatnya dengan membungkuk dalam, tindakan paling sopan untuk meminta bantuan pada seseorang. Para guru mengikuti tindakan dari kepala sekolah. Membuat Naruto mengedarkan pandangan, salah tingkah dengan tindakan mereka. Sementara itu Hinata tetap berdiri tegak, tatapan matanya bergetar dengan kedua tangan terkepal erat. Apa yang ia takutkan telah terjadi.

Peperangan terjadi empat tahun lebih cepat dari sebelumnya.

...

Halaman akademi Beauxbaton adalah lapangan yang dua kali lipas lebih luas dari lapangan sepak bola. Di kejauhan terlihat Sakura mengenakan pakaian olah raga, tengah berlari sambil membawa tumpukan karung yang terlihat berat. Gadis itu berlari tanpa berkeringat sedikitpun, mengingat memang inilah porsi latihan yang Hinata berikan padanya.

Setelah selesai melakukan jogging, Sakura menghela napas pelan. Mengelap wajah dengan handuk basah, kemudian menengok ke kanan ke kiri, mencari pelatihnya.

"Kemana perginya Hinata-san?"

Di lain tempat, Naruto tengah sibuk berlatih pedang dengan Sasuke di area berpedang. Keduanya menyerang dengan gesit dan bergerak efisien. Sang pemuda pirang menyerang, kemudian pemuda raven menangkis serangan, ia memelintir tubuhnya, kemudian melancarkan tendangan pada sisi kanan Naruto, membuat lawannya tersungkur beberapa meter.

Setelah selesai berlatih, Sakura menghampiri, masih dengan kedua atensi mencari sosok Hinata. ketika ia sampai di samping Sasuke, akhirnya gadis itu bertanya pada kedua temannya.

"Hei! Apa kalian melihat Hinata-san? Dia tidak datang untuk melihatku berlatih seperti biasanya."

"Mungkin dia berada di perpustakaan?" Sasuke balik bertanya, "Dia selalu menghabiskan waktu luangnya di sana."

"Tidak, aku sudah mengecek ke sana sebelum kemari," kali ini Naruto yang angkat bicara. "Kalau dipikir lagi, terakhir aku bertemu dengannya saat pertemuan di aula sekolah tiga hari yang lalu."

Keheningan menyelimuti untuk beberapa saat. Sasuke yang lebih dulu memecah keheningan dengan nada angkuhnya. "Mungkin dia sedang ketakutan, memikirkan sebentar lagi kita akan berperang."

Pukulan di belakang kepala Sasuke rasakan. Mata hitamnya menatap tajam pada pelaku yang telah memukulnya. Sakura mengangkat dagu, menunjukkan sikap tidak takut pada tuannya. "Tidak seharusnya Tuan berbicara seperti itu. Hinata-san bukan orang yang akan ketakutan seperti yang Anda tudingkan!"

"Aku hanya menerka. Seharusnya kau tidak segampang itu melayangkan pukulan pada Tuanmu!"

Diam-diam Naruto tertawa, jika mengingat bagaimana takutnya Sakura dulu pada Sasuke. Apa yang sedang ia lihat saat ini merupakan hasil kerja keras Hinata yang menempa Sakura menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tentunya galak. Mendapati dirinya dilirik sinis oleh Sasuke, pemuda pirang itu bungkam, walau sudut bibirnya masih tertarik sedikit.

"Baiklah, aku akan memutari sekolah untuk mencari Hinata!" tanpa menunggu tanggapan teman-temannya, Naruto sudah berlari menuju koridor sekolah.

Sementara itu Sakura berbalik, membuat Sasuke tanpa sengaja berjengit kaget. "Apakah Tuan sudi untuk bertanding denganku?"

"Heh! Jangan menangis jika kau kalah."

Sakura tersenyum lebar, "Terima kasih, My Lord."

...

Suara langkah bertalu terdengar menggema di sepanjang koridor sekolah. Naruto mencari Hinata ke setiap pelosok bangunan megah. Mulai dari perpustakaan, laboratorium, bahkan sampai ke kantin. Namun sosok sang gadis belum juga terlihat batang hidungnya. Sampai ketika matahari tepat di atas kepala, pria pirang itu melangkah menuju ke salah satu menara tertinggi Akademi.

Di tengah ruangan bebatuan dengan atap mengerucut, Naruto menemukan Hinata duduk bergeming. Sang pemuda perlahan duduk di sampingnya, mencoba mengikuti ke mana atensi sang gadis. Mata birunya bertemu dengan pemandangan luasnya laut kaspia yang mengelilingi kerajaan Aralle.

"Damai sekali, bukan?" ujar Hinata memecahkan keheningan. Naruto bergumam, menyetujui. "Terkadang aku berharap mampu menghentikan waktu."

Naruto menoleh, memerhatikan lekat-lekat bagaimana rupa Hinata. ketika semilir angin berhembus pelan, membelai anak-anak rambut serupa langit malam, mengapa pemuda itu baru menyadarinya sekarang. Bahwa gadis di sampingnya ini begitu menawan, membuat waktu seakan melambat, hingga ia mampu terpaku begitu lama.

"Hm, seandainya saja waktu berhenti," tanpa sadar Naruto ikut menanggapi. Namun kemudian ia tersadar ketika Hinata menoleh ke arahnya. "Eh! I-iya, ma-maksudku tidak! tidak baik jika waktu berhenti karena kita tidak akan bisa menikmati waktu yang berharga!"

Melihatnya gelagapan seperti itu, membuat Hinata tertawa pelan. Ujung telinga Naruto memerah malu. Kicauan burung gereja kini mengisi keheningan di antara mereka. Damainya hari seperti saat ini adalah yang Hinata harapkan. Namun ketika waktu untuk berperang semakin dekat, hatinya malah berubah gundah.

"Laut indah dengan hamparan padang bunga. Jika peperangan pecah, yang akan tercium adalah bau pembakaran, bubuk mesiu, sampai anyirnya darah para pejuang." Ucap Hinata pelan membawa desiran aneh bagi Naruto.

Tidak dapat dipungkiri, bulu kuduk pemuda itu meremang, membayangkan apa yang akan terjadi saat perang nanti. Ia meraih tangan Hinata, menggenggamnya hingga membuat sang gadis bergantian menatap tangan dan mata birunya.

Naruto menyeringai lebar, "Kau sudah pernah pergi ke pasar kota?" Hinata menggeleng, "Ayo, akan aku tunjukkan keseruan pasar!"

Pria itu berdiri, menarik tangan Hinata untuk mengikuti, kemudian keduanya mulai berlari menuruni tangga menara menuju lantai dasar. Naruto mengeluarkan kuda berwarna coklat tua dari kandang kuda, hewan berkaki empat pemberian sang ayah setelah ia diterima sebagai murid sekolah sihir.

Ia naik terlebih dahulu, kemudian membantu Hinata untuk duduk di depannya. Setelah itu Naruto menghentak tali pengengkang, dan kuda pun mulai berlari. Mereka menyusuri jalan setapak, melewati hamparan padang rumput menuju perkotaan di mana pasar menjadi tujuan mereka siang ini.

Sesampainya di pasar yang merupakan pusat kota dari kerajaan Aralle, Naruto membawa Hinata menuju stand-stand makanan dan juga pernak pernik. Mereka berdua melihat keramaian seperti acara sulap, teater, kemudian menikmati makanan pinggir jalan yang jarang disentuh para bangsawan. Sepanjang hari sang gadis tersenyum lebar, pipinya merona dengan mata berbinar kagum juga bahagia.

Hingga tanpa mereka sadari senja mulai hadir membawa beberapa bintang-bintang di langit. Ketika mereka hendak pulang, dari arah pintu gerbang kerajaan terlihat sekelompok petualang. Salah satu dari mereka menyadari Naruto, segera belari sambil melambaikan tangan.

"Naruto!"

Sang remaja menoleh, senyumnya melebar saat menyadari siapa yang memanggil. "Ayah!"

Hinata yang mendengar tersentak pelan, ia dengan cepat ikut menoleh. Manik rembulannya mengerjap, tiba-tiba saja ia diserang rasa gugup, mengingat ini kali pertama ia bertemu dengan sang calon mertua –dikehidupannya yang dulu, tentunya-. Namun tentu saja di kehidupan inipun sang gadis tetap menganggapnya calon mertua.

"Apa yang kau lakukan di sini? memang sudah waktunya libur sekolah?" pemuda pirang dengan pakaian berbalut pelindung baja itu mengacak pelan rambut sang putra.

Naruto menggeleng, "Aku sedang mengajak temanku jalan-jalan," kemudian ia menarik tangan Hinata, untuk mempertemukannya dengan sang ayah. "Kenalkan, ayah! Dia Hyuuga Hinata, teman satu party dan ketua kami."

"Se-selamat sore, saya Hyuuga Hinata. Senang bertemu dengan Tuan." Hinata memberi salam seperti layaknya seorang gadis bangsawan.

Minato menatap sang gadis dengan mata tidak berkedip, kemudian ia berdehem pelan. Ia membungkuk sedikit, menaruh kepalan tangan di dada kiri, sikap hormat seorang kesatria. "Selamat sore, Nona Hyuuga. Perkenalkan saya Minato, ayah dari Naruto dan terima kasih telah berteman dengan putra saya."

Hinata tersenyum manis, "Tidak masalah, Tuan. Sebenarnya..., saya berharap anda tidak perlu bersikap formal terhadap saya."

"Begitukah, jika tidak keberatan Nona bisa memanggilku dengan Minato, atau paman, atau bisa juga ayah?"

Naruto menyikut pinggang ayahnya keras saat candaan tidak lucu itu keluar begitu saja. Keningnya telah mengerut dengan kuping memerah. "Apa yang ayah katakan, sih?!"

"Ahaha..., hanya bercanda, bercanda."

Meski Minato mengatakannya sebagai candaan, namun Naruto dan Hinata sudah terlanjur memerah. Hal itu tentu saja tidak lepas dari perhatian sang pria paruh baya. Bibirnya tertarik membentuk senyum kecil. Ia lalu mengacak pelan rambut putranya, berniat meninggalkan mereka agar tidak mengganggu kencan putranya.

"Baiklah, Ayah pergi dulu. Jangan lupa antar Nona Hinata sebelum terlalu malam, mengerti?"

Naruto menepis tangan sang ayah, bibirnya mengerucut lucu. "Aku mengerti. Ayah juga cepat pulang dan beristirahat!"

"Baiklah, sampai jumpa lagi, Nona Hinata!"

Hinata membungkuk singkat dan tersenyum manis, "sampai jumpa lagi, Minato-san."

"Ba-baiklah, seperti yang ayahku katakan. Sebelum terlalu malam, ayo kita pulang!" selepas perginya sang ayah dan kelompoknya, Naruto segera menarik kuda. Ia kembali membantu Hinata untuk naik, kemudian mulai mengentak kuda untuk kembali ke akademi Beauzbaton.

Selama di perjalanan, langit senja telah mencair sepenuhnya. Malam penuh bintang dengan rembulan di atas langit malam. Sepanjang perjalanan Hinata memerhatikan bulan sabit dengan hati yang mulai tenang. Lalu tiba-tiba Naruto memecah keheningan.

"Kau tahu, aku selalu menganggumi pekerjaan ayah yang seorang petualang rank A." Katanya membuat Hinata mengalihkan fokus untuk mendengarkan. "Setiap beliau pulang dari petualangannya, aku selalu suka mendengarkan kisah-kisah heroiknya melawan bandit, ataupun monster-monster di luar sana."

"Bersama kelompoknya, mereka melawan monster-monster yang menghancurkan ladang pertanian, atau melawan bajak laut ketika menjadi pengawal pedagang. Tidak hanya itu, kadang juga mendengarkan kisah legenda dari berbagai kota yang mereka datangi." Mata biru laut yang tengah bercerita itu terlihat bersinar terkena bias cahaya rembulan. "Karena itu aku ingin secepatnya lulus dari akademi dan mendaftarkan diriku menjadi salah satu petualang, dan berpetualang bersama anggota partyku sendiri."

Ketika kedua mata berbeda warna itu bersitatap, Naruto tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Aku senang kau mengajakku membuat party, Hinata! terima kasih telah membentuk party pertamaku!"

Rasa hangat tiba-tiba saja menyelusup masuk dalam dada. Hinata tidak pernah menyangka akan merasa terharu seperti ini. Mungkin apa yang telah ia lakukan selama ini memang ada artinya. Hinata tersenyum lebar, ia meraih pipi sang pemuda, merasakan goresan di pipinya yang membentuk seperti kumis kucing.

Naruto memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan dari telapak tangan Hinata, kemudian membuat mata untuk bertemu dengan sepasang rembulan. "karena itu jangan kamu simpan sendiri, apapun kegelisahanmu, kau tidak sendiri. Ada aku, Sasuke dan Sakura bersamamu!"

"Um, terima kasih Naruto-kun."

Meski peperangan terjadi lebih cepat, namun apa yang telah Hinata lakukan juga membawa dampak baik. Mereka berempat berkumpul bersama lebih cepat, belajar bersama dan menjadi kuat. Meski tidak sampai satu minggu lagi sampai pertarungan antara Aralle dan Kaum Iblis pecah, Hinata yakin. Kali ini semua akan baik-baik saja.

...

Seminggu kemudian, hari yang ditunggu dan juga tidak diharapan datang. Hari dimana malam nanti akan terjadi bulan penuh, malam bulan purnama. Barisan paling depan diisi oleh para prajurit kerajaan, kemudian dibarisan tengah para petualang yang dikumpulkan untuk membantu. Dan terakhir barisan paling belakang adalah barisan para murid akademi beauxbaton.

Tidak disangka, jumlah murid yang siap ikut berperang mencapai sembilan puluh persen dari keseluruhan. Naruto bersama anggota party-nya berada di barisan kedua bersama anggota batalion dua yang dipimpin oleh komandan perempuan.

Ditengah perbatasan antara Aralle dan Noir Land, hamparan rerumputan dengan langit memerah. Di depan barisan anggota batalion dua, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian lengkap. Rambut panjangnya yang berwarna merah dikuncir satu, terhembus angin hingga terlihat seperti kobaran api. Untuk sejenak mata biru laut itu terpaku, dadanya berdebar keras ketika menyadari siapa wanita di depannya.

"Kaa-san?" bisiknya pelan.

Mata hitam itu sempat tertegun, sama halnya dengan Naruto yang terdiam. Namun wanita paruh baya itu dengan cepat menguasai diri. Ia berdiri tegak, menunjukkan sikap dari kepala komandan pasukan kerajaan, dan sikap seorang bangsawan.

Setelah memberikan sepatah dua kata penyemangat, kemudian membubarkan barisan sebelum memulai peperangan. Wanita yang bernama Uzumaki Kushina itu berjalan cepat menghampiri kelompok Naruto. Bahkan belum sempat remaja pirang itu bereaksi, Kushina lebih dulu memeluknya dari belakang, mengejutkan Hinata dan yang lain.

"Naruto..., putraku, putraku sayang...,"

Hinata yang menyadari pertemuan haru antara ibu dan anak itu, memilih untuk mengajak teman-temannya untuk memberi ruang. Saat mereka pergi menjauh, ia sempat melirik sedikit, melihat bagaimana Naruto tertawa renyah dan membalas pelukan hangat dari sang ibu.

"Hei, bukankah Kushina-san itu kepala komandan Pasukan Kerajaan, sekaligus seorang Marquis?" tanya Sasuke yang sejak tadi sudah penasaran dengan pertemuan haru ibu dan anak itu. "Mengapa dia memanggil Naruto, putra? Apa mereka memang ibu dan anak? Kenapa Naruto tidak memiliki nama belakang Uzumaki jika dia seorang bangsawan?"

Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat Sakura gemas ingin mencubit pinggang Tuan Mudanya. Bagaimana bisa Tuan Muda yang selalu ia eluk-elukkan karena kepintarannya ini bersikap lambat untuk hal-hal tertentu.

"Itu pertanyaan yang harus Naruto jawab sendiri, dan jika dia memang mau menjawabnya."

Sasuke menoleh ke arah pelayan pribadinya, kening mengerut tidak mengerti. "Jika dia mau menjawabnya? Memang hal tabu apa yang membuatnya tidak bisa mengatakannya? Ah! maksmudmu seperti dia itu anak haram? anak diluar nikah?"

Perkataan itu sukses membuat Sasuke mendapatkan pukulan dari Sakura dan Hinata. Sungguh, perkataan angkuhnya itu terkadang sulit sekali untuk disaring. Sasuke yang mendapat pukulan telak di kepala hanya bisa meringis pelan.

...

Sebelum peperangan dimulai, Kakashi yang merupakan pengawas di barisan batalion dua memanggil Hinata dan kelompoknya. Mereka berlima berada di salah satu tandu berwarna putih kusam. Maksud dari Kakashi memanggil mereka adalah untuk menanamkan mantra pelindung yang ditugaskan oleh Profesor Hiruzen.

"Demi para dewa yang melindungi jagat raya, atas kuasamu O'Dewa Gaia berikanlah perlindunganmu, BeschĂĽtzer!" sebuah cahaya muncul dari kedua telapak tangan Kakashi. Dua lingkaran sihir dengan cahaya putih kehijauan menghantam masuk ke dalam dada Hinata, Naruto, Sasuke dan Sakura.

Hinata memejamkan mata, merasakan tiap aliran sihir yang masuk dalam tubuh bersama rasa panas. Gejolak dari aliran itu berpusat pada jantung sebelum menyebar ke seluruh pembuluh darah. Setelah rasa seperti tersengat itu mulai menghilang, ia membuka mata. Manik rembulannya mengerjap melihat tubuh teman-temannya bersinar putih sebelum lenyap.

Kakashi menghela napas pelan, ia menyeka keringat dingin di pelipis. "Setidaknya berusahalah untuk bertahan hidup di luar sana."

Naruto tertawa renyah, "Tentu saja Sensei!"

...

Malam purnama datang dengan pasukan naga hitam di langit malam, siap untuk menyemburkan larva panas pada pasukan kerajaan. Sementara itu di daratan, para tanker berbaris di depan, bersiap melindungi dengan pelindung baja andalan mereka. Sementara itu barisan tengah, para pemanah telah lebih dulu melepaskan busur panah, menyerang barisan depan kaum iblis.

Raungan dari para monster bergemuruh, membuat daratan seakan mengalami gempa. Namun para pejuang Aralle tidak gentar, mereka membalas dengan seruan lebih keras, seakan menantang para monster untuk beradu raungan.

"SERANG!"

Teriakan dari para komandan pasukan bergemuruh di langit malam. Cahaya dari kobaran api membuat langit terkadang berubah terang. Bau pembakaran dengan anyirnya darah bercampur menjadi satu. Mereka bertarung dengan sekuat tenaga, demi mempertahankan dan merebut daerah kekuasaan, semua demi tujuan yang sama, yaitu demi masa depan yang lebih baik.

Naruto menghunuskan pedang, memenggal leher dari monster banteng. Hinata melompat, menendang pasukan monster bekulit kehijauan yang merupakan evolusi dari para Goblin, yaitu Hobgoblin. Dengan pedang serta kemampuan 'pedang ganda' Hinata menebas puluhan Hobgoblin di depannya.

Sementara itu Sasuke tidak kalah dari Naruto dan Hinata. Ia bersama pedang hitamnya menikam jantung para monster kadal tanpa kenal ampun. Gerakannya seperti sebuah tarian yang membuat pada murid dan pasukan kerajaan dibuat kagum olehnya.

"Medis, kemari! di sini ada yang terluka!"

Suara teriakan meminta tolong terdengar dari dua orang yang terkapar. Tidak sampai dua menit, sosok Sakura muncul di hadapan mereka. Ia menggunakan kemampuan healing untuk menyembuhkan yang terluka. Lalu tiba-tiba dari arah belakang muncul monster banteng, siap menerjang Sakura yang sibuk menyembuhkan orang.

"Berisik, jangan mengangguku! Shannaroh!" dengan sekali pukulan, gadis berambut merah itu meninju monster banteng, membuatnya terpental berpuluh-puluh meter. "Aku akan membawa kalian kembali kebarisan belakang!" Sakura menggendong dua orang murid yang terluka, kemudian melompat untuk mundur.

Ketika pertarungan semakin panas, dari arah langit muncul seekor burung besar berwarna hitam bermata merah. Burung yang menyerupai Phoenix itu melesat turun, seakan sudah menargetkan seseorang. Kedua kaki dengan cakar tajam itu terbuka lebar, dan dengan gerakan tiba-tiba, ia berhasil mendapatkan mangsanya di cengkramannya.

Waktu berjalan begitu lambat, ketika mata biru laut itu melihat bagaimana tubuh Hinata disambar oleh sang burung raksasa dan melesat ke langit malam. "HINATA!" teriaknya histeris.

Naruto berlari cepat, menikam, menghunus para monster yang menghalangi jalannya. Mata biru lautnya terpaku pada sosok besar burung di atas sana. Mencoba menggapai Hinata yang dibawa kabur oleh monster terkutuk itu. Sampai manik matanya dibuat membulat ketika tidak jauh darinya sosok sang ibu tertebas cakar monster banteng hingga kehilangan tangan kanannya.

"KAA-SAN!"

Tebasan demi tebasan Naruto lancarkan, kemudian ia meluncur untuk meraih tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Ia berhasil meraih Kushina yang terkulai lemas di sandarannya. Mata hitam itu bertemu dengan sepasang samudra, bibirnya tersenyum tipis dengan wajah memucat.

"Jaga dirimu baik-baik, Naruto. Kaa-san menyanyangimu...,"

Perlahan kedua mata hitam itu terpejam, napas terakhir pergi bersama angin malam. Meninggalkan raga yang dibiarkan diguncang sang putra agar kembali bangun.

"Tidak, kaa-san! Bangun kaa-san! AAARGHHHH!"

.

.

.

To Be Continue...