Buket bunga yang dibelinya memang sangat cantik. Bunga-bungannya merekah segar dan harum khas bunga tercium menyejukan rongga dada.

"Terima kasih, Myeongho-ssi. Semoga kedua ibu itu selamat dalam kehamilannya." Ucap Solar sambil membungkuk hormat ke Myeongho.

Myeongho menerima kedua buket yang diletakan pada tas kertas itu lalu ikut mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Terima kasih juga. Selamat malam."

Tap.

Langkah kaki Myeongho berhenti di depan gedung.

"Ada apa ini?" Bisiknya dengan suara kecil.

Suasana di jalan ini amat sangat ramai.

Terlihat banyak polisi dan mobil ambulance yang berhenti di depan toko perhiasan.

Pikiran Myeongho langsung menuju pada Chan.

Tanpa menunggu lama, ia menuju parkiran dan meletakan kedua buket itu di dalam mobil. Setelah itu, Myeongho berlari menyebrangi jalan.

Jalanan macet karena polisi memblokade area di sekitar.

"Apa yang terjadi?" Tanya Myeongho pada pria yang terlihat berdiri di kerumunan orang-orang dengan keingintahuan tinggi.

"Ada perampokan! Kawanan yang lain kabur dan berhasil ditangkap tapi satu lagi masih di dalam dan memiliki sandera. Ia juga bersenjata! Hei!"

Tanpa kata, Myeongho menerobos masuk ke dalam toko perhiasan berlantai dua itu.

Para polisi dan masyarakat yang baru tahu Myeongho melewati mereka, kaget bukan main. Polisi kecolongan sehingga Myeongho dengan mudah masuk ke dalam toko itu.

Di lantai 1 cukup aman sebenarnya dan terlihat 3 pegawai yang terikat. Myeongho membuat gesture untuk menyuruh para sandera tidak membuat keributan.

Dengan segera, Myeongho melepaskan ikatan mereka satu persatu.

Estalase kaca yang seharusnya berisi perhiasan beraneka rupa terlihat pecah dan hancur lebur tanpa menyisakan sisa perhiasan satu pun.

Myeongho bisa melihat cctv yang terkena tembakan dan bergelantungan tanpa niat.

"Masih berapa orang yang disandera?" Tanya Myeongho ketika melepaskan ikatan orang terakhir.

"Ha.. h..10 orang..h... 4 pegawai dan hh..6 pengunjung. Hanya satu perampok yang tersisa." Jawab sang pegawai.

Myeongho mengangguk paham lalu menatap tangga yang ada.

"Pelan-pelan saat keluar." Pesan Myeongho.

Setelah tiga orang sandera keluar dengan selamat, Myeongho menaiki anak tangga dengan perlahan.

Ia benar-benar mencoba meredam suara dari gesekan sepatunya dengan lantai.

"Kupikir harus ada yang mati terlebih dahulu agar mereka mau menyiapkan helikopter."

Suara pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu menggelegar disertai pekikan ketakutan.

Myeongho menurunkan badannya dan mengintip dari anak tangga terkahir. Ia bisa melihat perampok yang membelakanginya dan para sandera yang terikat, duduk di lantai.

"Kau! Ya kau! Berdiri!"

Sesosok namja yang sangat Myeongho kenal berdiri dengan tampang datarnya.

Itu Chan!

"Baiklah. Kau akan mati terlebih dahulu…"

Sang perampok mengarahkan pistolnya ke arah si bungsu keluarga Lee tersebut.

Dor.

"KYAAAA!"

Teriakan dari para sandera terdengar nyaring.

Semua mata terkejut akan apa yang terjadi di depan mata mereka semua.

Terdapat tiga buah pergerakan secepat kilat yang terjadi sebelum peluru ditembakan.

Chan yang sudah akan menghindar, Myeongho yang berlari ke arah Chan, dan sesosok namja yang tiba-tiba muncul dari langit-langit dan memeluk Myeongho agar melindungi Myeongho dari peluru panas.

Wangi peppermint dan lemon yang sangat Myeongho kenal membuat Myeongho terdiam dalam keterkejutannya.

Ia memandang sosok yang memeluknya dan yang didapatkan Myeongho adalah tatapan tajam dari manik berwarna abu-abu jernih.

"J..junhwi.. hyu..hyung?" Gagap Myeongho kala sosok yang memeluknya itu tersenyum lembut ke arahnya.

Chan yang tersungkur di belakang Myeongho juga menatap kaget ke arah orang yang melindungi mereka.

Chan melihat bahwa peluru panas mengenai punggung orang itu namun tak ada reaksi kesakitan yang ditunjukan olehnya.

"Apa-apaan ini?!" Murka sang perampok kala melihat adegan penyelamatan di depannya.

Sosok yang menyelamatkan Myeongho adalah Selene. Seseorang yang memiliki mata abu-abu dan rambut hitam yang dibawa ke atas menampilkan dahinya.

Selene bangkit dan menghadap ke arah sang perampok.

Pakaian jumpsuit hitam khas X Clan yang Selene gunakan berhiaskan berbagai senjata di pinggangnya.

"Beraninya!"

Sang perampok menatap nyalang ke arah Selene.

Semua mata tercekat saat pistol itu kini siap ditembakan lagi.

Sreggh…

Buagh…

Gerakan cepat itu luput dari pandangan sang perampok.

Sebuah tendangan di alat vital mengenai si perampok dengan telak.

"AARGH!" Teriakan pilu itu terdengar membahana.

Buagh.. Brughh..

Duuagh…

Selene merampas pistol yang ada di tangan perampok itu lalu menendang perampok yang sudah tak berdaya itu ke arah jendela.

Praannkkk…

Jendela besar itu pecah bersamaan dengan tubuh berdosa yang melayang ke bawah sana.

Seluruh sandera yang ada disana tak ada yang mengeluarkan suara saking tegangnya suasana.

Selene kini menatap Myeongho.

Ketahuilah bahwa Myeongho sudah berurai air mata walau ia tak bersuara.

"Lee Chan-ssi, bantu lepaskan para sandera."

Chan akhirnya kembali ke alam nyata lalu melakukan apa yang Selene minta.

Selene mensejajarkan tubuhnya dengan Myeongho yang terduduk.

Tangan yang dibalut sarung tangan kulit hitam tanpa jari itu menangkup wajah Myeongho.

"Jangan pernah berada dalam bahaya lagi. Aku pergi."

Sebuah kecupan di dahi diberikan Selene kepada Myeongho.

Myeongho meraih jemari Selene sebelum Selene menembakan pistol pengait ke atas.

"H..hyung…" Lirih Myeongho sambil menatap Selene dengan deraian air mata.

Derap langkah kaki terdengar di bawah sana. Selene tahu bahwa para polisi pasti sudah masuk ke dalam gedung.

"Selam..at ulang tahun… A..aku…"

Myeongho bagai tenggelam dalam pandangan mata kelabu itu. Menghanyutkan dan dirinya tak ingin lepas dari pancaran penuh kerinduan itu.

"Aku tahu, aku juga mencintaimu."

Selene melepaskan kaitannya dengan Myeongho lalu menghilang di lubang pada langit-langit. Menyisakan Myeongho dengan luka dalam hatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seokmin menyerit kala mendapat pesan masuk dari Chan yang mengatakan bahwa dirinya dan Myeongho akan telat untuk hadir karena masih di kantor polisi.

Untuk apa kedua orang itu berurusan di kantor polisi segala? Itu adalah isi pikiran Seokmin.

Acara memang belum dimulai namun Quattuor Coronam sudah mulai berkumpul.

"Ada perampokan dan melibatkan Myeongho hyung dan Chan. Tapi tenang saja, mereka sudah aman." Kata Hansol yang lebih dulu membagi informasi.

"Mwoya? Dimana mereka sekarang?" Tanya Kihyun.

"Di kantor polisi, eomeoni. Tenang saja, mereka sudah akan kembali kesini." Kini Jihoon yang berbicara.

Seokmin hanya mengangguk maklum karena kedua orang ini adalah gudang informasi kriminal sehingga lebih tahu detail kejadian.

Acara perayaan dilakukan di mansion Choi dan bertempat di meja makan.

Meja makan persegi panjang yang biasanya hanya diisi oleh empat orang (lima sebelum Jisoo menikah) kini bisa hampir penuh.

Inilah suasana yang sangat disukai oleh mereka semua, suasana meja makan yang ramai dan hangat.

Tak lama, Myeongho dan Chan hadir dengan sebuket bunga di masing-masing lengan mereka. Di belakang mereka juga ada beberapa pelayan yang membantu membawa pigura besar yang terbungkus kertas berwarna biru lembut.

"Mian kami telat." Kata Myeongho dan Chan secara bersamaan.

"Gwaenchana. Semuanya baik kan?" Ucap Seungcheol.

"Ne. Aman terkendali. Hyung, ini buat hyung."

"Dan ini untuk hyung. Selamat menjadi calon ibu ya."

Chan menyerahkan buket lili dan mawar kuning ke Jisoo sedangkan Myeongho memberikan buket lili dan mawar merah ke Wonwoo.

Kedua calon ibu itu menerima dengan senang hati buket yang cantik itu.

"Gomawo…" Balas Wonwoo sambil menghirup wangi segar dari buket itu.

"Dan Jeonghan hyung, ini untuk hyung." Kata Myeongho sambil menunjukan pigura besar itu,

"Aigoo.. Benda apa yang ada di dalamnya? Bagaimana pun, gomawo Chanie, Myeongho-ya…"

Jeonghan tersenyum sambil memeluk Myeongho dan Chan secara bergantian.

"Ayo kita mulai…"

Acara akhirnya diawali dengan makan bersama.

Begitu banyak makanan dan minuman yang dibuat oleh Kihyun dan dibantu oleh beberapa chef. Semua ini demi merayakan kebahagiaan mereka semua.

"Baiklah semuanya, bersulang untuk kita semua." Suara Seungcheol terdengar dan memimpin momen toast itu.

"Cheers…"

"Cheerssssssss…"