Hi, kamuu~

First of all, I'd like to thank everyone who kindly read and review this fanfic. I need you to know I'm doing my best not to abandon this fic for you all. I love you. Thank you so so so muuuch for giving the reviews. Saya kira tak ada Manusia satupun diluar sana yang baik hati membaca fanfic ni, but you did. I love u guys.

And for reminding you that this fic is a slow burn, I mean, really sloww for the relationship development, but maybe it will change soon ;)

So, enjoy the new chapter!


Suara decitan burung membuatnya terbangun dari mimpi. Kakashi mencoba duduk di atas futonnya yang berantakan. Ia menggaruk rabut putih platinanya yang berantakan sambil menguap lebar. Ia bergerak untuk menyambar kaos oblong abu-abu serta masker putih favoritnya. Kakashi menggeser pintu kamarnya dan segera disergap dengan bau tanah yang basah oleh hujan semalam. Ia duduk di pinggir lantai kayu, membiarkan kakinya menginjak rerumputan yang basah karena embun pagi-pagi buta.

Kakashi menggosok kepalanya lagi. Ia tak bisa berhenti menatap ke arah kamar Hinata yang berada di samping kamarnya. Pesta semalam merupakan sebuah bencana, dan Kakashi mengakui kalau itu salahnya.

Suara depar langkah kaki mengagetkannya saat Hanabi berlari keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. Tapi meskipun bocah itu sangat angkuh dan ceroboh, Hanabi benar-benar mirip Hinata dalam soal kesopanan.

"Selamat pagi, orang tua!" seru Hanabi membungkukkan badannya sebentar saat melihat Kakashi yang sedang melamun.

"Kau akan latihan karate sampai sore lagi hari ini?" tanya Kakashi balik.

Hanabi merapihkan seragamnya yang sangat tidak pas pada tempatnya. "Yeah, kurasa akan sampai malam." Ujarnya sambil berkutat memakai kaos kaki.

Kakashi mengagkat seblah alisnya heran. "Kau sudah mau berangkat? Kenapa tidak meminta Hinata menolongmu berpakaian dengan benar? Karena rokmu terbalik kurasa." Kata Kakashi menyadari resleting rok Hanabi ada di depan.

"Sial," ujar Hanabi. "Ini semua karena Hinata-nee sakit, ugh, aku tidak bisa merawatnya karena sudah bolos latihan karate tiga kali. Sekarang aku harus ke toko untuk membeli roti. Arhhh, aku lapar~" ucapnya entah pada siapa. Gadis kecil itu sudah beranjak pergi tanpa berpamitan pada Kakashi.

Kakashi tertegun, ia tidak mungkin salah dengar saat bagian Hinata sedang sakit. Ia bangkit beridri dan menuju rumah utama dan memasuki dapur. Neji sedang berkutat memakai dasinya yang kedodoran sambil memakan sebuah pisang dengan terburu-buru.

"Sensei, Selamat pagi!" seru neji saat menyadari keberadaan Kakashi di dapur. "Maafkan aku terburu-buru karena bangun kesiangan. Hinata sedang sakit dan aku harus cepat-cepat ke kantor lalu membelikannya obat."

"Tidak perlu," potong Kakashi. "Kau bekerjalah seperti biasa. Biar aku yang merawat Hinata."

Neji tampak berbinar. "Benarkah? Astaga terimakasih sensei, aku akan pulang secepat mungkin meskipun sepertinya lemburanku masih banyak. Shit! Aku telat! Sampai jumpa!" seru Neji nyaris berlari keluar rumah.

Keheningan melandanya. Tidak biasanya rumah sehening ini. Setiap pagi Hinata akan membangunkan satu isi rumah, suara kelontangan di dapur, dan masih berlanjut saat malam gadis itu akan membersihkan seisi rumah.

Kakashi menghela napas. Ia berjalan ke meja pantry dan segera membuat satu-satunya resep bubur yang ia tahu.

Kakashi menggeser pintu dan melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Ini pertama kalinya Kakashi melihat kamar Hinata. Begitu bersih dan rapi. Kamar Hinata sama sekali tidak menunjukkan penghuninya yang seorang perempuan kecuali beberapa boneka hewan yang ada di samping tempat tidurnya. Hinata terbaring di atas futon. Tampak tersiksa dalam tidurnya. Kakashi bergerak mendekat lalu duduk di samping futon Hinata, meletakkan nampan berisi makanan serta obat yang dia ambil dari kamarnya. Bagaimanapun ia pengembang obat-obatan, tidak mungkin Kakashi tidak tahu obat mana yang harus ia bawa.

Ia ingin membangunkan gadis itu tapi tidak tega. Kilas balik kejadian semalam menghantamnya lagi. Kakashi tidak pernah melihat Hinata semarah itu, atau lebih tepatnya sebegitu kecewa. Bahkan gadis itu menangis. Tentu saja Kakashi buru-buru kembali ke pesta Naruto untuk mencari tahu lebih banyak dan mendapati alasan mengapa Hinata menjadi seperti itu. Kakashi benar-benar menahan diri untuk tidak memukul Naruto karena Minato dan Kushina ada di sana. Astaga, ia hanya kesal pada pemikiran bocah-bocah itu. Mereka semua kini tahu kalau Hinata menyukai Naruto sejak kelas satu. Kini Kakashi paham mengapa gadis itu begitu marah, ia tak suka harga dirinya direndahkan orang lain yang tidak benar-benar paham akan situasinya. Mengapa semua bocah-bocah itu tidak ada yang seperti Hinata? Mengapa Hinata begitu dewasa dari orang lain? Mengapa Hinata begitu berbeda?

Gadis itu sangat istimewa.

"Hinata," ucap Kakashi pelan. Ia menyentuh bahu Hinata. Gadis itu hanya bergerak tidak nyaman di dalam selimutnya. Dia pasti sakit karena berjalan dalam hujan semalaman.

"Bangunlah," tambahnya. Kakashi menggoncangkan bahu Hinata pelan. Akhirnya gadis itu membuka matanya. Kakashi menyentuh pipi Hinata, menyingkirkan rambut-rambut yang menempel karena keringat. Badannya sangat panas.

Hinata menyadari bahwa Kakashi yang membangunkannya. Matanya terbelalak, namun sepertinya ia masih marah dan badannya terlalu sakit untuk memberikan repson. Dia hanya membalikkan tubuhnya hingga memunggungi Kakashi.

"Kau masih marah?" tanya Kakashi, ia menyentuh bahu Hinata sekali lagi. "Aku meminta maaf. Sungguh. Kau boleh marah padaku lagi, setelah kau makan."

Hinata tidak bergeming, membuat Kakashi tidak sabar.

"Aku marah..." ucap Hinata lemah. "Marah pada diriku sendiri. Karena menyesal telah membentak sensei. Aku sudah memikirkannya semalaman. Karena sesungguhnya aku sangat berterimakasih pada sensei, jika aku tidak datang ke pesta kemarin, aku hanya tidak akan melangkah kemana-mana lebih jauh. Itu semua lebih baik kalau aku mengatakannya langsung pada Naruto-kun. Membuatku lega, meskipun sakit. Sekarang aku benar-benar tidak merasakan apapun lagi padanya, pada orang-orang lain."

Kakashi tertegun sebentar. Sekali lagi Hinata membuatnya takjub akan sikapnya. Mungkin jika gadis SMA lain akan menangis dan merajuk selama seminggu dengan alasan tidak masuk akal. Tapi bagaimana mungkin gadis ini...

"Kakashi-sensei tidak perlu merawatku. Aku bisa sendiri."

Kakashi dengan sigap membalik tubuh Hinata dan mengangkatnya sampai ke pangkuan Kakashi. Ia mendekap tubuh Hinata dari belakang, memaksanya duduk dalam pangkuannya. Hinata menoleh terkejut dan mendongak, "A-apa-?!"

"Bukankah dulu sudah pernah kubilang. Kalau bisa berbagi, kenapa tidak? Kau tidak harus melewati semuanya sendiri Hinata. Tidak harus. Ada orang lain di sini, dan aku ingin membantumu," ujar Kakashi sambil tersenyum.

"T-tidak perlu—mm!" perkataan Hinata terpotong saat Kakashi memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya dengan paksa. Ia menyuapi Hinata.

"Kau harus makan," kata Kakashi sambil tersenyum.

Wajah Hinata memerah dan Kakashi tidak bisa membedakan hal itu karena suhu tubuhnya atau gadis itu merasa malu. Mungkin keduanya. Yang pasti hal itu membuat wajah Hinata tampak begitu manis.

Hinata bergerak memberontak dalam dekapannya. "A-aku bisa makan sendiri, sensei."

Kakashi menolak melepaskan Hinata. "Kau tahu, demammu akan cepat turun jika suhu dilingkunganmu lebih panas. Kurasa aku bisa membantumu menghangatkan badanmu."

Warna merah menjalari seluruh wajah gadis itu. Dia tampak kesusahan bernapas. Hinata masih berusaha memberontak tapi sepertinya dia tak ada tenaga. Kakashi menyuapinya lagi.

Hinata tampak lemas kemudian menyandarkan kepalanya pada dada Kakashi. Astaga apa yang Kakashi pikirkan. Gadis itu hanya mengenakan kaos putih kebesaran dan celana santai yang sangat pendek. Dia tampak seperti gadis remaja pada umumnya dan membuat Kakashi menjadi sedikit panik.

"Aku tidak perlu dibantu. Aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri, sensei. Nanti akan sembuh sendiri jika aku tidur."

"Kenapa kau keras kepala sekali?" tanya Kakashi heran.

Wajah Hinata merona. "Karena rasanya aneh jika orang lain melakukan sesuatu untukku. Aneh... tapi entah mengapa aku merasa senang. M-meskipun aku tahu aku harus melakukannya sendiri—"

"Tidak apa-apa untuk bergantung pada orang lain, Hinata. Kau harus melakukannya sesekali, tetapi tidak sering. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa melakukan semuanya sendirian. Kau tidak sehebat itu. Dan aku akan membantumu," potong Kakashi sambil menyuapkan sendok terakhir bubur itu.

"A-aku takut." Ucap Hinata menundukkan kepalanya. "Aku takut kalau terlalu bergantung pada orang lain, rasanya akan sakit jika orang itu pergi."

Kakashi terdiam sebentar. "Aku tidak akan kemana-mana. Kau bisa mengandalkanku." Ucap Kakashi entah pada siapa. Karena sesungguhnya ia tahu pasti hal yang dirasakan Hinata saat ini. Kehilangan keluarga sangatlah menyakitkan.

Hinata mendongak, wajahnya masih tampak kemerahan. "Kenapa sensei selalu membuatku merasa aman. Bahkan saat sakit seperti ini. Orang terakhir yang merawatku adalah ibuku. Sensei mengingatkanku padanya, mungkin karena itu aku sangat merasa nyaman jika dekat dengan sensei."

"Ibu?" Kakashi terkekeh pelan. "Tetap saja aku laki-laki, Hinata. Hmm. Bagaimana jika kau menganggapku... Daddy long-legs?"

"Daddy long legs?" tanya Hinata balik.

"Semacam orang yang akan selalu ada untuk membantumu setiap kau merasa ada masalah?"

Hinata bungkam agak lama. "Apa aku boleh berpikir seperti itu?"

Kakashi tersenyum di balik maskernya. Gadis ini begitu polos, terlalu baik untuk dunia ini. "Kau pegang kata-kataku."

"K-kalau begitu sensei juga bisa bergantung padaku!" ucapnya bersemangat.

"Hm?"

"Sensei harus menganggapku sebagai rumah sensei. Sensei pernah bilang kau tidak ada yang namanya rumah untukmu. Yang ada hanya kenangan yang buruk. Tapi aku ingin sensei menganggapku rumah barumu. Sama seperti ketika kau lelah bekerja seharian, dimarahi atasanmu, mendapat hari yang buruk sehingga kau ingin istirahat. Tolong pulanglah kepadaku, pulanglah ke rumahmu dan kau akan merasa lebih baik."

Udara seakan menyusut saat Hinata menyatakan hal itu. Untuk beberapa saat Kakashi tidak berkedip, dadanya dipenuhi oleh rasa hangat yang tak pernah dirasakannya selama bertahun-tahun. Seakan seseorang benar-benar ada untuknya dan mungkin memang benar.

Kakashi tak bisa menyembunyikan senyumnya yang melebar meski ada di balik masker. Ia mengacak rambut Hinata gemas. "Kalau begitu aku mengandalkanmu. Sekarang, minumlah obat ini. Aku akan menjagamu sampai tertidur."

Hinata meneguk pil yang diberikan Kakashi dan tidak sampai sepuluh menit gadis itu terlelap. Dia tidur dengan menyandarkan kepalanya pada dada Kakashi.


Hawa panas mengalir bersama angin musim panas yang berhembus kencang. Sinar matahari menyengat begitu terik meski hari belum memasuki siang. Kakashi duduk di pinggir lantai kayu, menghadap halaman belakang yang terasa begitu menyejukkan, melindunginya dari musim panas yang menyebalkan. Ia duduk sambil kegerahan, menggulung kedua lengan kaos putihnya hingga mengekspos lengan polos Kakashi yang basah oleh keringat. Suara serangga berdengung dari pohon-pohon di dekatnya. Ia memutuskan menghabiskan akhir pekannya dengan berdiam diri di dekat kipas angin yang menyala sambil memandangi langit biru tak berawan.

Seseorang baru saja keluar dari dalam rumah. Hinata tampak berkutat dengan seember penuh pakaian setengah kering. Seorang gadis kecil mengikutinya dari belakang dengan bersemangat, Hanabi membawa sebuah piring dengan semangka di atasnya.

"Hei, orang tua!" sapa Hanabi dengan mulut penuh semangka.

Dia menaruh semangka yang telah di potong-potong itu dan duduk di samping Kakashi.

"Makanlah semangka itu, sensei. Bisa mengurangi hawa musim panas ini," ujar Hinata sambil mulai mengibas-ngibaskan baju-baju basah dan kain seprai untuk dijemur.

Kakashi memandanginya sebentar dan menggangguk pelan setuju akan pikirannya sendiri yang baru saja terlintas. Ia segera menyambar sepotong semangka dan mengunyahnya cepat sebelum bangkit dan membantu Hinata menjemur pakaian.

"Tidak perlu, sensei! Aku bisa sendiri," kilah Hinata.

Kakashi kini bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu hanya mengenakan celana hitam pendek dan kaos merah jambu yang tipis. Kakashi bahkan bisa melihat apa yang Hinata kenakan dibaliknya dengan jarak sedekat ini. Dia mengikat rambut indigo panjangnya ke atas, tampak kegerahan.

"Bukankah kita sepakat untuk saling memabantu, Hinata." Ucap Kakashi sambil menggelar kain putih di atas tali jemuran, tepat di depan Hinata. "Kau tahu, aku memutuskan bahwa musim panas adalah musim favoritku," tambahnya.

Hinata mengintip dari balik kain yang dijemur. "Kenapa begitu?"

"Oh, tentu saja karena aku bisa melihat sisi seksi darimu saat kau kepanasan." Kakashi tersenyum dibalik masker putihnya.

Wajah Hinata memerah dan dia memukulkan kain basah pada wajah Kakashi. "Sensei mesum!"

Kakashi tertawa keras. "Tidak perlu malu, Hinata. Aku heran mengapa kau bisa tidak punya pacar sampai sekarang."

"Oh, mungkin karena keponakanmu yang sangat mempesona itu membuatku lupa kalau populasi laki-laki masih sangat banyak. Well, dulu." Hinata mendengus.

"Aku senang kau memutuskan untuk melupakan keponakanku yang sangat tidak berguna itu. Tapi demi Tuhan, kenapa kau menyukainya? Jujur, aku masih tidak mengerti."

Hinata berhenti bergerak sebentar, kemudian melanjutkan kegiatan menjemurnya. "Naruto-kun sangat baik."

Kakashi mendengus, tapi ia tidak bisa menyangkal hal itu. "Tapi tidak cukup baik untukmu."

Angin berhembus kencang, menghantarkan hawa panas melewati mereka.

Hinata tertawa samar. "Well, aku senang aku tidak perlu melihatnya selama liburan musim panas ini. Hmm, kau pasti sangat baik soal perempuan dengan tatomu itu, sensei?"

Kakashi menunduk untuk melihat tato abstrak berbentuk api di bagian atas lengan kanannya. Ia bahkan lupa memilikinya.

"Apakah tato ini membuat hatimu bergetar? Semacam keinginan untuk menyentuh lenganku yang kekar?" goda Kakashi.

"Sebenarnya, hatiku memang bergetar... untuk menanyakan alasan konyolmu memiliki tato?"

Kakashi tertawa, ia sudah menduga Hinata sangat berbeda dari kebanyakan gadis remaja lainnya. "Kebodohan masa lalu. Fantasi fana tentang definisi lelaki sejati. Masa muda yang berantakan. Tapi cukup membuat semua perempuan di sekolahku dulu antre padaku."

"Jadi sensei dulu nakal?" tanya Hinata mengubah nadanya menjadi serius. Gadis itu kini berdiri di depannya.

"Dan apakah definisi sesungguhnya dari kata 'nakal' versi Hinata?"

"Entahlah. Tidak berpikir logis, berkelahi tanpa alasan masuk akal, berpesta bersama wanita yang lebih tua di club?"

Kakashi tak bisa menahan tawanya. "Nakal memang bagian dari masa muda, Hinata. Tapi, tidak. Aku tidak nakal seperti kriteria yang kau sebutkan tadi. Hanya... berpikir tidak dewasa adalah satu-satunya penyesalanku. Membuat orang lain terluka, ayahku, misalnya."

Hinata kembali membuat ekspresi wajah yang sama tiap kali Kakashi menyinggung soal ayahnya. Wajah yang menyiratkankan... bukan kasihan, tapi lebih pada ikut merasakan.

"Apa... kematian ayahmu ada kaitannya dengan keputusan sensei menutupi wajah?" tanya Hinata lambat-lambat.

"Ya," jawab Kakashi. Sekali lagi ia membuka satu persatu lapisan masa lalunya yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun tentang kaitan antara ayahnya dan wajah Kakashi, kecuali Minato. Bagaimana bisa gadis SMA ini membuatnya bercerita begitu banyak?

Hinata hanya menatapnya dalam diam, namun sungguh, tatapan Hinata seakan lebih berarti dari ratusan kata-kata keprihatinan yang didengarnya dari orang lain selama ini. Iris ungu milik Hinata benar-benar indah, begitu cemerlang ditimpa sinar matahari.

Tangan Kakashi bergerak tanpa dikomando, ia menyentuh pipi Hinata tanpa sadar. Hinata agak terkejut, namun gadis itu rupanya sedang berusaha menunjukkan bahwa dia mendukung Kakashi ketika sedih. Kakashi tersenyum, ia mengelus pelan pipi mulus Hinata. Gadis itu memejamkan sebelah matanya karena perlakuan Kakashi pada pipinya yang merona. Astaga. Bukankah gadis itu sangat manis.

"Apa sensei sedang menggoda adikku?"

Mereka dikagetkan dengan seruan Neji yang datang tiba-tiba, dia berdiri sambil memakan semangka di samping Hanabi. Kakashi buru-buru melepaskan tangannya dari pipi Hinata. "Well, jangan salah paham, adik-ipar, hahaha." Ia tertawa demi menutupi pikiran kalau kata-kata Neji adalah benar.

Mereka duduk berjajar sambil mengunyah semangka yang begitu menyegarkan, menatap ke halaman yang begitu hijau ditimpa terik sinar matahari musim panas. Tidak sendirian lagi seperti waktu yang ia habiskan selama bertahun-tahun belakangan ini. Namun bersama bawahannya dan dua gadis yang masih sekolah.

Siapa sangka ia bisa menemukan teman-teman tak umumnya ini di sebuah rumah sederhana.

"Yosh! Aku akan segera mengepak baju-bajuku!" seru Hanabi mengagetkan. Gadis itu berdiri dengan mata berbinar-binar.

Neji mengangguk pelan sambil memejamkan mata. "Koperku sudah rapi sejak tadi malam. Apa kau sudah mengepak barang-barangmu, Hinata?"

Hinata menggelengkan kepalanya pelan. Kakashi menaikkan alisnya heran. "Kalian mau pergi?"

Hanabi menabrak punggung Kakashi dan bergelantungan pada lehernya. "Kami akan ke Hokaido!"

"Setiap musim panas kami selalu ke rumah di Hokaido," tambah Neji melanjutkan sambil mengibaskan kipasnya berulang kali.

"Oh," respon Kakashi datar berusaha mengesampingkan pikiran bahwa ia tetap akan sendirian selama musim panas ini. "Aku tidak tahu kalian begitu kaya?" tambahnya.

Hinata tertawa pelan. "Yah, itu hanya rumah kecil untuk liburan. Sebenarnya dulu kami berniat pindah ke sana jika jadi menjual rumah yang ini. Terimakasih pada sensei mencegah hal itu tejadi," ujar Hinata.

Kakashi tersenyum mendengarnya. "Well, kalau begitu serahkan saja rumah padaku. Aku tidak akan mengacaukan rumah selama kalian pergi."

Hanabi memukul punggung Kakashi. "Tentu saja kau ikut bersama kami, orang tua!"

Alis Kakashi terangkat, agak bingung. "Yeah? Itu liburan keluarga kalian, kau tahu."

"Kau bagian dari keluarga kami sekarang, sensei. Tentu saja kau harus ikut," kata Hinata menatapnya.

Kakashi terdiam agak lama. Butuh waktu untuk memproses kalimat Hinata yang entah bagaimana membuat hatinya berdebar. Menjadi bagian dari sebuah keluarga adalah hal yang sangat asing ditelinganya. Kakashi selalu hidup sendiri selama belasan tahun. Tak pernah sekalipun ia ikut andil dalam sebuah kegiatan yang bertemakan kekeluargaan. Tidak pernah.

"Kecuali kau memiliki jadwal liburan lain? Kudengar petinggi perusahaan selalu pergi berlibur sendiri tiap tahun?" singgung Neji tampak berharap Kakashi berkata lebih ingin ikut bersama mereka.

Kakashi tersenyum. "Aku hanya pernah ikut sekali liburan membosankan perusahaan itu dan aku berniat untuk tetap membiarkannya tetap jadi membosankan tanpaku."

Mereka tiba di Hokkaido keesokan harinya dengan menggunakan mobil Kakashi. Setelah melewati jalanan berkelok-kelok yang membelah hutan lebat di sini, mereka sampai di sebuah rumah. Rumah itu berdiri kesepian di tengah hutan, rumah lain berjarak sama jauhnya satu sama lain. Rumah itu tampak begitu sederhana, namun lebih modern daripada rumah Hinata di Tokyo yang bergaya klasik. Rumah ini tampak seperti rumah keluarga normal lainnya. Tidak begitu besar, memiliki halaman berumput yang sangat luas dengan sedikit bunga dan semak yang kini sudah merambah ke pagar kayu di samping rumah. Pohon-pohon besar menjulang di sekeliling rumah.

Hinata merasa dadanya dipenuhi rasa hangat yang menyakitkan mengingat betapa ia merindukan tempat ini, atau lebih tepatnya kenangan bersama ayahnya bahkan ibunya dulu yang ia rindukan. Sekarang mereka hanyalah tiga bersaudara yang berusaha melanjutkan hidup.

Bahunya ditepuk seseorang, "Jangan melamun," ucap Kakashi berdiri di sampingnya.

Hinata tersadar akan keberadaan Kakashi. Neji sudah mulai membersihkan isi rumah dan Hanabi menghambur masuk dengan bersemangat. Hinata tersenyum merasa jika keluarga mereka tidak pernah berkurang, meskipun ayahnya telah tiada, kini seseorang yang sama-sama baiknya datang sebagai gantinya.

Hinata menyelipkan tangannya pada lengan kekar Kakashi dengan senyum yang mengembang. "Aku senang sensei ada di sini," ucapnya sambil mendongak.

Kakashi agak terkejut dengan sikap Hinata, tapi dia tidak menolak. "Aku senang kau mulai bersikap manja padaku."

Hinata tersenyum, tapi sungguh Kakashi adalah figur yang sangat tepat sebagai tempat bergantung. "Aku bersikap seperti ini karena Sensei harus membantu membersihkan rumah," ujarnya sambil tersenyum jahil kemudian melesat masuk ke dalam rumah. Mereka tidak meninggalkan rumah sampai matahari mulai tenggelam.


Suara hembusan angin terdengar begitu jelas melewati tembok kayu rumah ini. Meski kecil, tapi rumah ini sangat nyaman. Kakashi bisa melihat rumah ini kembali hidup setelah mereka membersihkan setiap sudut ruangan hingga mengkilap, lampu meja bersinar terang di dekat ruang tengah yang kini penuh karena mereka semua berkumpul di sana. Hanabi berguling ke sana kemari di depan televisi yang sedang menyiarkan pertandingan tinju. Suara kipas angin mengisi udara di dalam ruangan. Neji sedang fokus pada tayangan televisi.

Kakashi masih membaringkan tubuhnya di atas lantai kayu yang mengkilap terkena sinar lampu ketika Hinata mengumumkan sudah waktunya makan malam. Hatinya bergetar hebat. Sekian lama ia tinggal bersama keluarga Hyuuga, hatinya masih saja terkejut atas kegiatan sepele seperti makan malam keluarga ini.

Bukankah hal yang sangat dirindukan untuk mendengar seseorang menyuruhmu segera makan malam? Bahkan dulu Kakashi tidak pernah merasakan seorang ibu yang menyuruhnya segera makan.

Mereka duduk di meja makan tepat di sebelah dapur. Hinata benar-benar mengadakan pesta dengan hidangan yang sangat menggoda. Bermangkuk-mangkuk ramen, kari, ayam panggang kini mengeluarkan aroma yang membuat Kakashi ingat betapa laparnya dia hari ini. Mereka menikmati makan malam dengan udara malam yang masuk ke dalam rumah mengingat pintu geser di sebelah dapur terbuka lebar. Beberapa kunang-kunang muncul dari kebun menambah pemandangan yang luar biasa malam ini.

Hanabi sedang tertawa terbahak-bahak oleh leluconnya sendiri saat Hinata menyadari kalau dia belum membeli buah untuk pencuci mulut.

"Aku akan segera kembali," ujarnya segera berdiri setelah makan malam selesai, sembari menumpuk pirang kotor dalam cucian.

Kakashi memandangnya dari belakang, "Mau kemana?"

"Ke supermaket di dekat jalan utama, sensei lebih memilih semangka atau pear?" katanya sambil menyambar jaket putih untuk menutupi kaos biru terang yang dia kenakan.

"Aku akan menemanimu," kata Neji menawarkan diri.

Kakashi memotong. "Tidak, tidak. Kita sudah sepakat bahwa malam ini tugasmu cuci piring," sela Kakashi menyunggingkan senyum di balik maskernya. Ia sudah menularkan sedikit kedisiplinan dalam hidupnya untuk diterapkan pada keluarga ini. Karena sesungguhnya ia kasihan pada Hinata yang mengerjakan hampir semua urusan rumah.

"Kalau begitu ayo, Hinata." Ajak Kakashi yang sudah menanti gadis itu bergerak di depan pintu.

"Tidak perlu—baiklah," jawabnya mengalah karena Kakashi hanya berdiri menunggunya.

Mereka berjalan dalam diam, bukannya apa, namun pemandangan malam ini terlalu indah untuk diabaikan. Mereka berjalan menelusuri jalanan kecil beraspal yang cukup panjang sampai akhirnya menemukan jalanan utama daerah ini. Jalan utama tepat bersebelahan pantai.

Angin berhembus kencang membuat Kakashi memijat bahunya yang pegal terkena angin.

"Apa sensei kedinginan?" tanya Hinata khawatir.

Kakashi menoleh dan tersenyum. "Pada situasi umum lainnya adalah laki-laki yang melontarkan pertanyaan itu, Hinata."

Hinata menaikkan sebelah alisnya. "Pada umumnya orang yang nekat tidak mengenakan jaket malam-malam yang memang seharusnya merasa kedinginan, sensei." Katanya menyindir Kakashi yang hanya mengenakan kaos putih tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Kakashi tertawa agak keras. "Kau ini memang lain." Ujarnya kemudian mengacak pelan rambut Hinata.

Wajah gadis itu memerah, "H-hentikan."

"Hmm? Kenapa? Kau tidak suka?"

"Aku bukan anak kecil," jawabnya menahan semburat merah yang terlanjur menjalar di pipinya.

Wajah Hinata terlihat begitu putih, pucat seperti bulan yang bersinar di atas sana. Ditambah rona merah yang menghiasi pipinya. Iris ungu pucatnya tampak bersinar terkena cahaya bulan.

"Kau itu memang masih kecil," ujar Kakashi mencoba mengembalikan kesadarannya. Hinata adalah anak SMA, kau idiot. Ia menghalihkan pandangannya fokus kembali pada jalanan di depan. Supermarket kecil sudah tak jauh lagi di depan mereka.

Kakinya menghantam jalanan yang tidak rata, Kakashi hampir saja terjatuh ke depan.

"Astaga, sensei baik-baik saja?" tanya Hinata cemas yang dengan sigap menahan lengan Kakashi agar tidak jatuh.

"Sori, jika malam mataku mulai rabun," ungkapnya jujur. Penglihatannya memang parah. Apalagi...

"Mata kiriku sangat merepotkan," tambahnya tanpa sadar dan segera menyesal telah mengatakannya.

Hinata jelas tahu nada bicara Kakashi berubah, tentu berhubungan dengan penghilatannya. Gadis itu seharusnya sudah hafal jika Kakashi selalu memakai kacamata ketika membaca. Namun mata kirinya memiliki cerita yang berbeda.

"Kalau begitu sensei berpegangan saja pada lenganku, aku tidak mau kau kesandung lagi," ucapnya sambil tersenyum.

Hinata menawarkan lengannya dengan sedikit mengangkatnya untuk Kakashi. Tapi ia tidak ingin hanya lengan gadis itu. Kakashi menyambar telapak tangan Hinata, kemudian menggenggamnya erat. Lalu menyeretnya terus bejalan.

"S-sensei," ucapnya pelan. Sekali lagi wajahnya memerah.

Kakashi tersenyum. "Dulu salah seorang temanku pernah meleparkan sebuah komputer padaku, yah, itu menghantam wajahku dan pinggirannya mengenai mata kiriku hingga berdarah. Syukurlah aku tidak buta sebelah," jelasnya tertawa kosong. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia tetap menceritakan hal itu pada Hinata.

"Teman?" tanya Hinata pelan. Kakashi bisa merasakan tangan Hinata yang sangat kecil itu meremas tangan Kakashi lebih erat.

"Teman. Rival. Apapun itu tidak bisa menjelaskan hubunganku dengan Obito Uchiha."

"Uchiha?" tanya Hinata heran.

Kakashi menoleh ke arahnya. "Oh iya, keponakannya satu sekolah denganmu. Si Sasuke. Well, Obito adalah partnerku sejak kuliah hingga ke perusahaan. Kurasa itulah saat ego beralih menjad prioritas utama melebihi hubungan yang sudah kau anggap seperti keluarga sendiri."

Hinata tak bergeming, dia hanya tetap mendengarkan. Suara ombak terdengar samar di dekat mereka.

"Setelah lulus kuliah dan baru beberapa bulan bekerja, sangatlah menyenangkan. Memamerkan kejeniusanku pada seluruh perusahaan. Mereka mengakuiku bukan hanya karena anak pemilik perusahaan Sakumo, tapi karena kemampuanku menjadi direktur utama sekaligus ilmuan. Obito adalah mitraku untuk perusahaan Uchiha karena dia sahabatku. Semua berjalan lancar sampai teman kami sejak kuliah, Rin, well, lebih memilihku. Meskipun aku tidak bisa memilihnya kembali. Mungkin hal itu yang membuat Obito marah, bukan karena wanita yang disukainya lebih menyukaiku, tapi karena aku menyakiti wanita itu dengan mengatakan aku tidak mencintainya."

Jeda sebentar, Kakashi menyentuh mata kirinya yang gatal. "Hanya karena wanita. Obito menghianatiku dari belakang. Merusak kontrak utama kami, membuatku mati-matian digebrak oleh perusahaan lain. Sakumo hampir bangkrut saat itu. Well, karenaku."

Hinata tidak merespon agak lama, tapi ia bisa merasakan tangannya menegang di dalam genggaman Kakashi. "Tapi apakah itu setimpal dengan dia melukai matamu?"

Kakashi mendengus, "Fair enough. Aku menyeret wajahnya melewati pecahan kaca lebih dulu. Wajahnya agak rusak sebelah, kau tahu."

Hinata masih terdiam, namun kini tangannya kirinya mengelus pelan pundak Kakashi. "Apakah hal itu berkaitan dengan keputusanmu menggunakan masker?"

"Ya, sebenarnya kejadian setelahnya semakin bertambah parah. Ayahku..." Kakashi menelan ludah, tenggorokannya selalu terasa sakit ketika menyebut nama ayahnya keluar dari kerongkongan.

"Sudah cukup, sensei," sela Hinata memberikannya senyuman tipis.

"Hinata, aku telah melakukan banyak hal buruk. Jauh lebih buruk dari yang bisa kau banyangkan. Kekuasaan, uang, cinta. Aku tidak sebaik Daddy long-legs pada cerita lain."

Hinata tersenyum. "Aku tidak menilai orang dari kejahatan terburuknya, sensei."

"Mungkin kau harus," kata Kakashi cepat.

Hinata menghela napas pelan. Kakashi terdiam, mendadak tangannya di tarik lebih kencang oleh Hinata. Mereka sampai ke sebuah supermarket kecil yang sepi. Rak-rak kayu berisi bermacam-macam buah berdiri di depan toko. Hinata menawarkan untuk membeli buah pear yang tampak sangat segar, Kakashi hanya mengangguk singkat. Gadis itu kemudian berjalan ke dalam toko untuk membayar meninggalkan Kakashi yang masih melamun memandangi butir-butir apel di depannya.

"Kakashi?"

Jantungnya terasa jatuh dari dadanya untuk sesaat ketika mendengar suara itu. Kakashi memutar tubuhnya dan menemukan hal yang hingga kini ia pilih untuk tidak bertemu.

"Hanare," sapa Kakashi kalem.

Mantan kekasihnya itu tampak terkejut atas pertemuan tidak terduga ini. "Apa yang—"

"Kakashi!" seru orang yang lebih mengejutkannya lagi. Rambut merah wanita itu muncul dari balik bahu Hanare, orang itu menerjang Kakashi dalam sebuah pelukan yang terlalu kuat. "Kenapa kau di sini?" tanya Kushina Namikaze. Dan seperti yang bisa di tebak, Minato muncul tak begitu lama kemudan. Mereka menngenakan pakaian pantai motif bunga yang berwarna terlalu cerah. Orang itu tampak membuka mulut untuk menanyakan hal yang sama sebelum Kakashi memotong.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Kakashi balik.

Kushina masih merangkul bahu Kakashi kencang. "Mungkin kau lupa, atau memang tidak pernah peduli. Kami sedang liburan musim panas kantor. Dan hei! Kantor itu memiliki nama belakangmu di gedungnya, jadi kenapa kau sendiri malah tidak ikut?"

Kakashi memutar bola matanya, terkekeh pelan. Kushina sungguh memiliki spirit yang luar biasa jauh melebihi anaknya sendiri. Wanita itu sungguh cerdas, kuat, dan dominan.

"Well, mungkin kau lupa, tapi aku memang tidak pernah ikut liburan yang berisi orang tua seperti kalian. Apa semuanya ikut?" tanya Kakashi.

Minato menggaruk rambut pirangnya yang berantakan. "Tentu saja, kecuali kau. Serius, apa yang kau lakukan di sini, Kakashi?" tanyanya penuh curiga.

Kakashi menyambar sebuah apel di dekatnya kemudian menggigitnya sedikit. Mengangkat bahu, "Sedang berusaha mencukupi nutrisi tubuhku?". Ia mulai menyesal karena tidak peduli dengan tempat liburan kantornya yang ternyata juga ada di Hokaido. Matanya melirik ke dalam supermarket dan tubuhnya mulai tegang ketika melihat Hinata sudah dalam tahap membayar di kasir.

"Well, well. Kenapa kalian tidak membiarkanku menikmati liburanku sendiri, melihat wajah kalian membuatku ingat deadline laporan yang harus kutulis." Kata Kakashi cepat sambil mendorong mereka untuk segera menjauh.

Kushina melawannya dengan memukul bahu Kakashi begitu keras. "Hey, hey! Kenapa kau mengusir kami? Kau harus ikut kami ke hotel tempat semua orang menginap, kau tidur dimana by the way?"

"Tidak, terimakasih. Enjoy your vacation—"

Kushina kini meronta. "Aku akan pergi kalau kau berjanji untuk datang di pesta musim panas lusa malam! Bahkan orang-orang penting dari setiap perusahaan mitra akan datang. Pastikan aku bisa melihat batang hidungmu besok, Kakashi!"

"Okay, okay!" seru Kakashi mendorong dua gadis dihadapannya agar segera pergi dan menendang Minato agar menjauh juga.

Mereka akhirnya pergi setelah mengomel dan beberapa lontaran protes. Kakashi menghela napas lega tepat saat itu Hinata keluar dari toko dengan tangan membawa kantong kertas yang tampak penuh.

"Aku membeli beberapa cokelat juga—sensei? Kau baik-baik saja?" tanya Hinata menaikkan alisnya heran melihat Kakashi yang tampak seperti kehabisan napas.

"Ya, ya tentu saja. Ayo segera pulang," ajak Kakashi sambil merebut kantong belanjaan dari tangan Hinata, dan menggunakan tangan satunya untuk meraih tangan Hinata dan menggenggamnya untuk segera menyeretnya pergi. Mereka baru mengambil beberapa langkah ketika suara orang berlari menghampiri mereka.

"Hei, Kakashi aku lupa bilang—" Minato muncul dari belakang dan Kakashi hampir saja kelepasan mengumpat.

Minato berdiri dalam diam mengamati Kakashi dengan mulut terbuka. "Siapa...?"

Hinata tampak terkejut melihat kedatang ajaib Minato ini. Gadis itu segera membungkuk memberi salam. "S-selamat malam." Ujarnya pelan. Ah, tentu saja Hinata pernah melihat Minato di pesta ulang tahun Naruto dulu. Lagipula wajah Minato tersebar di setiap majalah bisnis di seluruh negeri.

"Ah, iya." Sahut Minato masih dengan wajah bertanya-tanya. "Sepertinya aku pernah melihatmu... bukankah kau temannya Naruto?"

"B-benar." Wajahnya merona dan Kakashi bisa merasakan tangannya mulai menegang di dalam gengamannya dan saat itu juga Kakashi baru sadar kalau mereka masih bergandengan tangan. Kakashi buru-buru melepasnya dan menyuruh Hinata jalan duluan meninggalkan dua orang pria berumur ini.

Minato memasukkan tangannya dalam kantong celana. "Explain yourself."

"Explain myself?" balas Kakashi berusaha mengelak.

"Explain youself, please!" seru Minato. "Kau... pacaran dengan anak itu?" tanya Minato wajahnya mulai tampak ketakutan.

"Tidak!" seru Kakashi berlebihan. Ia berdehem keras. "Tidak," ucapnya sekali lagi berusaha lebih kalem.

Minato tampak tidak puas dengan jawaban Kakashi. "Kakashi—"

"Dia adalah adiknya Neji. Dia masih SMA. Dia tinggal serumah denganku, dengan saudara-saudaranya juga pastinya—"

"Hey, hey. Tenang saja. Aku hanya ingin tahu kenapa kau repot-repot menyembunyikannya dari kami tadi."

Hening sesaat. Kakashi mencoba memberikan argumen terbaiknya untuk menyangkal semua kemungkinan-kemungkinan yang berkelebatan di kepalanya, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah. "Entahlah."

Minato tersenyum tipis. "Oh wow," ucapnya pelan. Minato menepuk pundaknya. "Apa dia gadis yang baik?"

"Dari yang terbaik yang pernah ada," jawab Kakashi tanpa sadar.

Minato memejamkan matanya puas. "Tapi kau harus bersabar lebih lama lagi Kakashi. For god's shake, anak itu seumuran dengan Naruto-ku."

Kakashi tertawa tanpa ada keriangan di dalamnya. "Bersabar untuk apa? Dia hanyalah seorang pemilik rumah dan aku seorang penyewa."

"You're in denial. Have always been acting like this when you know you'll lose. Don't get yourself lose this time, Kakashi." Minato mencoba meringis.

Kakashi menghela napas panjang. "There is no win or lose if I wasn't worthy enough to take in."

Minato mendesah kesal. "Terserah padamu. Tapi aku hanya ingin kau ingat bahwa kau tidak akan bisa keluar dari masa lalumu yang menyedihkan itu tanpa seseorang untuk membantumu. Bye, Kakashi. Kau harus datang di pesta musim panas lusa. Jam delapan tepat di hotel Amber tempat kami menginap. Mungkin kau harus mengajak Hinata." Kemudian orang itu berlalu pergi.

TBC

Let me know your opinion, honestly, do you want some next chapters will be rated M (but not too much)? Cause I kinda want it HAHA