Setelah bertanya dimana Myeongho dan Chan membeli buket bunga yang mereka berikan padanya beberapa bulan lalu, Wonwoo langsung membangunkan Mingyu untuk mengantarkannya kesana.
Di minggu pagi ini harusnya Mingyu dapat bergelung di kasur lebih lama lagi. Namun berkat guncangan kecil yang Wonwoo berikan untuk membangunkannya, Mingyu tentu harus segera bangun.
Wonwoo sudah sebulan berada di mansion Kwon. Ia sebenarnya masih ingin tinggal di rumahnya sendiri namun berkat kekeraskepalaan Mingyu dan atas ijin Hansol serta status baru yang melekat pada dirinya, ia diboyong ke mansion Kwon.
Bukan tanpa alasan. Selain karena ia sudah resmi menjadi pasangan Mingyu dalam ikatan pernikahan, semua ini agar Wonwoo mendapatkan penjagaan ekstra dari Mingyu.
Hansol amat sangat setuju agar Wonwoo dapat setidaknya menjauh dari urusan di Alligator. Hansol tentu saja ingin hyung dan keponakannya baik-baik saja.
Walau semua ini membuat jarak antara mansion Kwon dan kampusnya menjadi jauh, Wonwoo harus menerimanya.
"Hyung…"
Mingyu memeluk Wonwoo yang sedang akan keluar kamar dari belakang. Ia meletakan dagunya ke pundak Wonwoo dan menghirup wangi tubuh yang sangat ia sukai itu.
"Ne?"
Sebuah senyuman kecil terpantri di wajah Mingyu. "Selamat pagi untukmu… Juga untuk anak kita."
Wonwoo mengusap surai Mingyu.
"Selamat pagi juga Gyu-ah. Mandi dulu oke, aku tunggu di meja makan." Ucap Wonwoo sambil mengecup pipi Mingyu.
Banyak perubahan sifat yang terjadi di diri Wonwoo. Salah satunya bahwa ia sudah tidak malu untuk menunjukan kasih sayangnya pada Mingyu. Ketahuilah bahwa sosok yang sedang mengandung itu tipe tsundere akut yang pendiam.
Mingyu tersenyum lebar saat menyaksikan Wonwoo yang berjalan keluar kamar dengan semburat merah yang menghiasi telinganya.
"Neomu kyeopta…"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pasangan Kwon itu sudah sampai di depan gedung florisity yang didominasi warna pastel, tempat Myeongho dan Chan membeli buket bunga waktu itu.
Mingyu dengan tangan yang setia berada di pinggang Wonwoo, membantu 'ibu' hamil itu untuk menaiki beberapa anak tangga. Pintu kaca otomatis terbuka dan mereka langsung masuk ke dalam.
Wangi segar khas bunga tercium dari segala penjuru.
"Selamat pagi Tuan. Perkenalkan saya Wheein yang akan menjadi guide Tuan sekalian. Ada yang bisa saya bantu?"
Florist cantik itu menghampiri pasangan Kwon dengan senyum manisnya.
"Aku ingin membuat buket bunga untuk eommaku." Ucap Wonwoo.
Mingyu tersenyum kecil karena ia akhirnya tahu alasan Wonwoo memintanya pagi-pagi ke floristry ini.
Lima belas menit kemudian, di tangan Wonwoo sudah ada buket bunga matahari yang amat sangat cantik. Pasangan Kwon itu lalu melaju ke pemakaman yang jelas kalian ketahui adalah makam Jeon Minhyuk.
Sampai di lokasi, mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan melintasi jalan setapak yang dihiasi bermacam bunga di sisi kanan-kirinya.
Kedua tangan Wonwoo membawa buket bunga matahari dan jangan tanyakan posisi tangan Mingyu dimana, karena tangan kanannya tetap setiap di melingkar di pinggang Wonwoo.
"Ada acara apa hari ini, hyung?" Tanya Mingyu.
Wonwoo tersenyum tipis sambil menatap Mingyu.
"Hari ini adalah hari dimana mom mengadopsiku. Bisa dibilang, hari ulang tahunku yang kedua."
"Kau memang benar-benar menggemaskan." Ucap Mingyu sambil mencubit kecil ujung hidung Wonwoo.
Entah angin dari mana hingga tiba-tiba Mingyu berucap seperti itu. Wonwoo jadi bingung sendiri karena ia memang merasa tidak melakukan apa pun yang menggemaskan.
"Maksudmu?"
Mingyu hanya terkikik kecil lalu mengecup pipi sang pujaan hati.
"Tak ada. Nah hyung, sudah sampai. Ayo beri salam ke mom."
.
.
.
.
.
.
.
"Seungkwan hyung. Ini tak bisa dibiarkan."
"Ya Chanie. Hal ini tak bisa kita diamkan begitu saja."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, hyung? Ini akan membuat perpecahan di Quattuor Coronam terlebih antara Alligator dan Monteen Stage."
"Menelepon Jihoon hyung atau kita labrak saja langsung?"
Kedua remaja itu terlihat serius sambil menatap ke meja café di ujung sana. Dari meja mereka, posisi ini sangat strategis untuk mengintai karena tertutup oleh beberapa pelanggan.
Mereka ada di Angelus Café untuk menunggu shift Myeongho selesai karena ketiga mahasiswa Art House itu akan pergi untuk berbelanja bersama. Istilahnya, chill out sebelum tahun ajaran baru muncul dan kewajiban sebagai mahasiswa harus mereka laksanakan lagi.
"Kalau kita labrak, kita sangat tidak mencerminkan Quattuor Coronam yang anggun, hyung." Kata Chan mengemukakan pendapatnya.
"Aku akan foto dulu."
Seungkwan mengeluarkan handphonenya lalu langsung memotret dua insan yang duduk di meja ujung.
Katakan saja Seungkwan dan Chan terlalu berlebihan dalam percakapan mereka karena melihat Soonyoung dengan pakaian santai sedang duduk bersama seorang wanita seksi di meja ujung.
Seungkwan sudah akan mengirim foto yang ia ambil ke Jihoon namun Jihoon sudah terlebih dahulu mengirimkannya pesan.
'Aku tahu. Yeoja itu bos dari agensi tetangga. Bilangnya ingin menjalin kerjasama tapi hanya memiliki waktu di luar jam kantor. Padahal busuknya udah ketahuan. Kalian tak perlu khawatir, sudah ada beberapa masalah yang aku kirimkan ke agensi itu.'
Seungkwan menelan liurnya sendiri. Ia bisa merasakan aura panas dari chat yang dikirimkan oleh Jihoon.
"Channie, Jihoon hyung sudah tahu." Kata Seungkwan.
Tak disangka Chan malah mengangguk tak terkejut.
"Kau tidak kaget?" Tanya Seungkwan.
"Hyung, Jihoon hyung itu otak teknologi. Dia pasti mengakses cctv. Lihat hyung, cctvnya gerak seolah melambai ke kita." Kata Chan sambil menujuk cctv yang kini bergerak ke kanan dan ke kiri beberapa kali
"Ternyata percuma kita khawatir."
Tapi bagaimana pun, Seungkwan tetap risih melihat Soonyoung yang seolah digerayangi oleh tatapan yeoja itu.
Dia jadi membayangkan bagaimana jika yang berada di posisi Soonyoung itu adalah Hansol. Bagaimana jika ada boss mafia lain yang mencoba pdkt dengan kekasihnya itu, oh Seungkwan tidak bisa tinggal diam.
Dengan segera Seungkwan menempelkan handphonenya ke telinga.
"Ne JIHOON HYUNG. Oh aku ada di Angelus … Ice Americano? Oke, siap dipesankan …"
Suara Seungkwan menggelegar di seluruh café. Ia bahkan terlihat tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Sedangkan Chan hanya pura-pura tidak peduli dan terlihat menikmati cakenya.
Tentu saja suara menggelegar itu sampai di telinga Soonyoung.
Soonyoung langsung menolehkan kepalanya kala mendengar nama Jihoon disebut oleh suara yang ia kenal.
Kala pandangan Soonyoung bertemu dengan Seungkwan, Seungkwan terlihat melambaikan tangannya dan menyapa Soonyoung sambil tetap pura-pura mendengarkan orang yang berbicara di seberang telepon.
"Pesanan hyung aku titipkan ke Soonyoung hyung saja ya. Kebetulan ia juga ada di Angelus." Ucap Seungkwan masih dengan suara yang keras.
Soonyoung bisa melihat sebuah smirk muncul di wajah Seungkwan.
Oke, Soonyoung paham apa yang Seungkwan coba terangkan ke dirinya. Sinyal wifi Seungkwan sangat kuat kali ini.
"Aku permisi dulu, Jung-ssi. Tunanganku sedang memerlukanku. Jika masih ada yang perlu dibicarakan, kau bisa menghubungi sekretarisku." Ucap Soonyoung dengan senyum bisnisnya.
Yeoja itu tersenyum perih sambil mengangguk ketika Soonyoung beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu pura-pura lagi, Seungkwan-ah." Kata Soonyoung sambil terkekeh. Ia sudah berada di meja Seungkwan dan Chan.
Seungkwan segera menurunkan handphonenya sambil tersenyum licik.
"Hyung, Jihoon hyung itu sudah mengirim masalah lebih dulu sebelum aku melapor. Mungkin hyung akan terkena masalah juga." Ucap Seungkwan.
"Jihoon hyung mengerikan." Kata Chan menanggapi.
Soonyoung jelas tahu bahwa tunangannya itu punya otak yang sangat bisa digunakan untuk strategi perang. Maka ia sudah kebal jika nanti ia bertemu dengan Jihoon, ia akan dibantai.
"Baik aku pergi dulu. Aku harus menenangkan bom waktu yang sebentar lagi meledak." Kata Soonyoung.
Mari doakan keselamatan kepala keluarga Kwon tersebut.
