Darker Than Night~
Chapter Sebelumnya
(-)
Malam itu Kiba terbangun tiba-tiba karena ingin buang air kecil. Diliriknya, Shino dan anjingnya Akamaru yang tengah tertidur lelap. Tidak ingin membangunkan keduanya, Kiba pelan-pelan beranjak dari tempatnya berbaring dan menuju ke arah semak-semak. Usai menuntaskan panggilan alamnya itu, pemuda dari klan Inuzuka memutuskan untuk kembali.
Disepanjang perjalanan, Kiba menguap lebar. Wajahnya masih terlihat mengantuk. Namun kantuknya itu sedikit berkurang ketika tanpa sengaja ia melihat dua orang sosok yang dikenalnya dari kejauhan. Seorang pria bersurai perak dengan gadis manis berambut indigo panjang.
"Itu kan Hinata dan Kakashi-sensei? Sedang apa mereka berdua malam-malam begini di tepi sungai?" Tanya Kiba dalam hati.
Dari kejauhan ia memperhatikan keduanya duduk begitu dekat. Terlihat begitu akrab di mata sang Inuzuka. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.
Apa yang sedang mereka berdua bicarakan?
Merasa penasaran pemuda itu mengambil jarak lebih dekat.
Ia baru saja ingin menghampiri keduanya sebelum matanya melihat sesuatu yang luar biasa terjadi -nyaris di luar akal sehat. Bola mata Kiba membulat lebar ketika tanpa sengaja ia melihat Kakashi yang tidak pernah membuka maskernya itu kini telah menanggalkan masker hitam yang biasa dikenakan secara sempurna.
KIba nyaris tidak bisa menutup kembali rahangnya yang menganga lebar. Karena keterkejutan yang ia alami saat ini.
Tidak mungkin!
Kakashi-sensei, dia….
Pemuda dari klan Inuzuka itu membatu seketika. Melihat wajah asli Kakashi yang terkenal misterius itu ternyata jauh berbeda dari rumor yang selama ini dia dengar. Terlihat begitu tampan, elok dan juga rupawan. Bagaimana bisa, jounin tersebut memiliki wajah sebagus itu?! Sungguh sulit untuk dipercaya.
Rupa-rupanya wajah asli Kakashi bukan satu-satunya hal yang bisa membuat Kiba tercengang. Tapi yang membuat Kiba lebih terkejut saat ini adalah sosok Kakashi yang tiba-tiba memeluk Hinata sahabatnya. Sekali lagi saya ulangi, tengah memeluk Hinata –sahabatnya dari tim delapan.
"A-APA-APAAN ITU?!" Kiba melonjak kaget. Kantuknya pun seketika sirna.
"Hmm?" Kakashi seperti mendengar sesuatu, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan.
Tidak ingin terpergok oleh jouninnya itu, Kiba buru-buru bersembunyi di belakang pohon.
DEG DEG DEG
Tidak mungkin.
Ini benar-benar tidak mungkin….
Kiba berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri yang berdegup sangat keras.
"Ini tidak mungkin! Kakashi-sensei dan Hinata. Jangan-jangan, mereka berdua…?"
Ingatan Kiba kemudian kembali ke beberapa hari yang lalu. Saat itu ia baru saja pulang dari misi dengan Akamaru dan juga Shino. Tanpa sengaja ia mendengar beberapa orang penduduk desa yang tengah bergosip. Sebelumnya Kiba sama sekali tidak tertarik dengan rumor apapun yang ada di Konoha. Tapi untuk kali ini adalah pengecualian. Karena gosip yang sedang hangat dibicarakan itu adalah mengenai sahabat satu timnya, yaitu Hyuuga Hinata.
Kabar burung tersebut mengatakan kalau gadis keturunan souke itu tengah menjalin hubungan dengan seorang pria di desa. Dan orang itu bukanlah Naruto, pemuda yang selama ini dia sangka sebagai satu-satunya pemuda yang gadis Hyuuga itu cintai.
Ya, bukan Naruto, melainkan orang lain.
Dan orang itu tidak lain adalah….
Kakashi?
Mustahil!
"Ja-jadi gosip itu benar?"Kiba terperangah tidak percaya.
"Kalau Hinata berpacaran dengan Kakashi-sensei?" Pemuda tersebut menarik kesimpulan sendiri.
.
.
(-)
Inspirasi dari berbagai sumber :
Warning : Reverse Harem, Semi Canon, abal, typo, dll
Don't Like Don't Read
~Darker Than Night by Lightning Chrome
I do not own Naruto
.
.
Xxxx
.
Happy Reading
.
Xxxx
.
(-)
Semalaman Kiba tidak bisa tidur. Apalagi semenjak ia mengetahui perihal Hinata berpacaran dengan Kakashi-sensei. Semua seolah tidak masuk akal. Kalau dipikir-pikir lagi bagaimana bisa seorang jounin elit yang berusia kepala tiga itu menjalin kasih dengan muridnya sendiri yang masih berusia belasan? Sungguh tidak layak untuk dilakukan. Yah, meskipun Hinata sudah menginjak usia dewasa yaitu tujuh belas tahun, tapi tetap saja hal ini terdengar ganjil mengingat perbedaan umur keduanya.
Merasa frustasi karena terus menerus memikirkan soal ini, Kiba memutuskan untuk bertanya sendiri pada sang gadis Hyuuga. "Hei, Hinata." panggil Kiba tiba-tiba dari belakang.
"Ki-kiba-kun kau mengagetkanku." Gadis bermarga Hyuuga itu menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Saat ini mereka berdua tengah menunggu Kakashi dan Shino yang pergi mencari ikan di tepi sungai. Sebuah kesempatan yang baik bagi Kiba untuk mengetahui kebenaran soal hubungan kedua orang itu. Tanpa membuat seorangpun curiga.
Tapi melihat wajah Hinata yang polos seperti itu, untuk sesaat Kiba merasa ragu untuk bertanya.
"Kiba-kun?"
Pemuda dari klan Inuzuka itu berdeham sebentar sebelum akhirnya memantapkan diri.
"Aku sebenarnya bingung untuk menanyakannya tapi-"
Gadis Hyuuga itu mengambil air minum dan meneguknya. Sambil mendengarkan cerita Kiba.
Wajah Kiba berubah serius. "Hinata, apa benar kau menjalin hubungan dengan Kakashi-sensei?"
BRUSH!
Hinata tanpa sengaja menyemburkan air minumnya mendengar pertanyaan Kiba. Wajahnya berubah merah. "A-apa yang kau tanyakan itu Kiba-kun?" Gadis itu terbatuk-batuk. Betapa kagetnya ia mendengar pertanyaan seperti itu melayang dari mulut Kiba sahabatnya.
Dia dan Kakashi-sensei? Berpacaran? Jelas-jelas itu tidak mungkin.
Siapa orang yang berani menyebarkan rumor tersebut?
Kini giliran Kiba yang meneguk ludah.
"Itu, aku tanpa sengaja mendengar gosip yang mengatakan kalau kau tengah menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku benar-benar kaget mendengarnya. Kau tahu kan selama ini aku sangat jarang berada didesa? Karena sibuk dengan misi. Tapi-"
"Gosip? Ki-kiba-kun kau bergosip dibelakangku?" Gadis itu tampak kecewa.
"Tidak, jangan salah paham Hin. Aku kebetulan mendengarnya ketika sedang lewat di jalan. Aku benar-benar tidak percaya dengan gosip itu awalnya. Karena yang kutahu kau menyukai Naruto. Tidak mungkin kan kau berpacaran dengan orang lain terlebih lagi dia itu senseimu sendiri?"
"I-itu..." Hinata merasa kehabisan kata.
Sepertinya gosip itu menjurus pada dirinya dengan Kuro-sensei.
Tapi Kiba tidak tahu itu, karena dia jarang berada didesa. Haruskah Hinata bilang yang sesungguhnya pada Kiba? Apalagi kini setelah ia sadar, kalau dirinya tidak lagi mencintai Naruto. Dan telah menolak pernyataan cinta dari pemuda pirang tersebut. Apa yang akan sahabatnya itu katakan?
"Sebenarnya, tadi malam aku ingin menanyakannya padamu. Tapi kenyataannya situasinya sangat tidak memungkinkan. Kita berdua dihadapkan dengan misi ditambah lagi dengan keberadaan Kakashi-sensei dan Shino. Aku tidak mungkin menanyakan hal ini didepan mereka berdua. Bisa-bisa kau pingsan karena malu."
Apa yang dikatakan Kiba benar sekali. Hinata pasti akan pingsan jika itu terjadi.
"Ta-tapi kenapa kau malah menuduhku menjalin hubungan dengan Kakashi sensei?" Tanya gadis itu lagi tidak habis pikir. Karena seingatnya, belum pernah ia melakukan sesuatu dengan jounin bermasker itu yang membuat semua orang sampai salah paham.
"Karena tadi malam tanpa sengaja aku melihat kalian berdua berpelukan di tepi sungai." Jawab Kiba jujur.
BLUSH
Wajah Hinata langsung memerah menyerupai kepiting rebus.
"I-itu tidak seperti yang kau duga, Kiba-kun. A-aku bisa menjelaskan." Gadis itu terlihat panik. Buru-buru ia menjelaskan peristiwa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
"Sudahlah Hinata. Aku mengerti." Kiba menepuk pundak gadis tersebut.
"Kiba-kun?"
Dia mengerti kalau itu hanya salah paham?
Pemuda itu melebarkan senyumannya. "Kalau itu Kakashi-sensei jangan khawatir. Aku merestuimu." Ujarnya ringan seraya mengacungkan jempol.
"E-eh?" Hinata langsung membatu.
"Awalnya aku tidak setuju kau berhubungan dengannya. Selain karena Kakashi sensei itu berusia jauh lebih tua darimu dan agak menyebalkan. Dia itu juga suka terlambat dan sedikit mesum. Aku khawatir apa yang akan terjadi padamu jika berhubungan dengannya. Tapi setelah berpikir lagi, aku berubah pikiran-" Ada jeda panjang sebelum Kiba melanjutkan kalimatnya, kali ini dengan penuh keyakinan.
"Dari wajahnya aku bisa tahu kalau Kakashi-sensei benar-benar menyukaimu." aku Kiba pada akhirnya.
"Huh." Hinata nyaris tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
Kakashi-sensei….
Me-menyukaiku?
"A-apa yang kau katakan itu, Kiba-kun?" Gadis Hyuuga itu semakin tidak mengerti.
Kiba menaikkan senyumnya mengingat bagaimana Kakashi menolong Hinata yang terjatuh dari pohon. Ia juga mengingat dengan betul bagaimana raut wajah Kakashi ketika menatap sahabat Hyuuganya itu. Terlihat begitu lembut, dan juga penuh rasa sayang.
Seumur-umur ia mengenal jounin tersebut belum pernah ia melihat Kakashi menampilkan ekspresi lunak seperti itu pada orang lain. Kecuali pada Hinata. Pria itu bahkan membiarkan gadis tersebut melihat wajah aslinya, sesuatu yang tidak pernah orang itu perlihatkan pada kelompok tujuh maupun dirinya dan Shino. Dan hal itu ia lakukan demi Hinata seorang.
Dari ketulusannya itu Kiba bisa membaca satu hal kalau Kakashi benar-benar jatuh cinta pada Hinata.
"Meskipun memiliki beberapa sifat buruk tapi setidaknya Kakashi-sensei juga memiliki sifat yang baik. Ia adalah seorang tipe pelindung dan tidak pernah mengkhianati teman-temannya. Ia juga ninja yang sangat kuat. Pria yang digadang-gadang akan menjadi Hokage selanjutnya menggantikan Tsunade. Pria yang juga bertanggung jawab, dan berjiwa pahlawan. Setidaknya kalau kau bersamanya, aku dan Shino bisa tenang."
"A-ano, Kiba-kun-" Gadis itu merasa tidak enak untuk memotong tapi kesalahpahaman ini perlu segera untuk diluruskan. "Bisa kau dengarkan aku?"
"Daripada si bodoh Naruto, aku tidak setuju kau bersama dengan biang onar itu. Apalagi jelas-jelas ia menyukai Sakura. Aku tidak ingin kau tersakiti Hinata." Kiba terus-terusan pendapatnya tanpa mendengar penjelasan apapun dari Hinata.
Hinata, gadis itu merasa letih, ia harus mengakhirinya saat ini. Harus! Sebelum kesalahpahaman ini semakin luas dan Kiba makin menjadi-jadi. Dia harus mengatakannya sekarang kalau dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kakashi-sensei. Dan gosip-gosip itu hanyalah sebatas rumor. Kesalahpahaman semata.
"Kiba-kun tolong dengarkan aku. Aku dan Kakashi-sensei tidak-"
GRAUK!
"WAAAAA! Hentikan Akamaru. Baik-baik aku berhenti bicara. Kau puas sekarang?" Tiba-tiba Akamaru muncul dan menggigit pergelangan tangan majikannya itu. Dibelakangnya muncul sosok Kakashi yang datang terlebih dahulu dari Shino. Membawa beberapa ekor ikan untuk sarapan mereka di pagi hari.
'Celaka, kalau begini bagaimana caraku mengatakan kebenarannya pada Kiba-kun?' Hinata bertanya dalam batinnya.
"Hinata ada apa? Kenapa wajahmu memerah?" Tanya Kakashi cemas, tangannya ia dekatkan pada kening gadis itu.
"Ti-tidak ini..." Hinata tanpa sadar bergerak mundur. Mencoba menjauhi jounin tersebut.
Jantungnya berdegup begitu kencang. Matanya diam-diam melirik pada sahabatnya Kiba. Seolah memberikan sinyal kalau semua itu bukanlah seperti yang dikira oleh pemuda Inuzuka. Rupa-rupanya sinyal tersebut ditangkap juga oleh Kiba. Melangkah maju, pemuda tersebut dengan bangganya berdiri berhadap-hadapan dengan seorang Hatake Kakashi.
"KAKASHI-SENSEI!" Kiba berteriak tiba-tiba.
Kakashi menatap bingung pada Kiba. "Ya?"
GREP
Kiba mencengkram erat pundak Kakashi. "Aku percayakan Hinata padamu."
"Huh?"
"Huh?"
Keduanya, baik Hinata maupun Kakashi menatap cengo Kiba. Pemuda itu makin bersemangat.
"INGAT KALAU SAMPAI KAU MEMBUAT HINATA MENANGIS, AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU. MESKIPUN KAU ADALAH JOUNIN TERBAIKPUN, AKU TIDAK TAKUT! KAU MENGERTI ITU KAN KAKASHI?!"
Jounin hebat yang merupakan mantan ketua ANBU tersebut mengedip-ngedipkan matanya.
Untuk sesaat ia tidak mengerti pada maksud ucapan Kiba. Tapi begitu memikirkan kembali soal kalimatnya, dan juga rona merah dan kepanikan yang muncul di wajah sang Hyuuga, yang menyuruhnya untuk membantah. Pria tampan tersebut akhirnya mengerti.
Jounin bermasker itu menaikkan senyumnya keatas. "Baiklah." Ujarnya singkat. Berpura-pura tidak melihat Hinata yang mengirim sinyal SOS dari jauh. "Aku janji tidak akan membuat Hinata menangis." Pria tersebut berkata dengan sungguh-sungguh. "Kau bisa pegang kata-kataku."
Berbeda dengan wajah Hinata yang seolah ingin menangis, Kakashi justru merasa bersyukur. Di dalam hatinya, ia merasa beruntung dapat diterima oleh teman-teman gadis itu secepat ini. Bahkan sebelum dirinya menyatakan cintanya pada sang gadis pujaan. Setelah kejadian ini ia berjanji akan mentraktir Kiba untuk makan sepuasnya di Ichiraku.
"Bagus kalau begitu. Sekarang aku akan mencari Shino!" Kiba berlari menjauh. "Aku titip Hinata padamu, Kakashi-sensei! Ayo Akamaru!"
GUK GUK GUK
"Tu-tunggu dulu, Kiba-kun!" HInata mencoba menahan. "Kau sudah salah paham!"
Tapi sahabatnya itu sudah menghilang.
Gadis itu jatuh terduduk dari posisinya berdiri. Hilang sudah kesempatannya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini pada Kiba. Bagaimana bisa ia melihat wajah teman-temannya sekarang? Gadis souke itu kemudian menoleh pada Kakashi, menuntut penjelasan. Tapi wajah Kakashi yang seolah tanpa dosa itu membuat Hinata seolah ingin mati saat itu juga.
Gadis itu menjerit tidak karuan dalam hati.
"KIBA-KUN, INI SEMUA HANYALAH SALAH PAHAM! KAU TAHU SALAH PAHAM!"
.
.
Oh Hinata, andai pemuda itu bisa mendengar suara hatimu sekarang….
.
.
Lightning Chrome Present
~Darker Than Night~
Rate : T
Genre : Angst, Romance, Hurt-Comfort, etc
Warning : Semi Canon, Reverse Harem, abal, typo dll
Character : Sasuke, Hinata, Kuro (OOC), Gaara, Kakashi, Naruto
Dedicated For Hinata Centric
.
.
Chapter 23 : Confession
(-)
Hari sudah menginjak waktu siang ketika Kakashi, Hinata dan dua orang lainnya tiba di desa Suna. Berbeda dengan desa Konoha yang terlihat hijau dengan pepohonan. Desa Suna justru berbanding terbalik dengan desa para Kage. Wilayah desa tersebut mayoritas hanya diisi dengan padang pasir dan tanah tandus. Tumbuhan jarang terlihat disana. Kecuali tanaman tertentu yang sengaja di tanam untuk keperluan pengobatan.
Sesampainya di gerbang masuk, tim delapan telah disambut oleh Temari. Kakak kandung dari Kazekage Gaara sekaligus teman mereka semenjak ujian di Chunin lalu.
"Silakan masuk kami sudah menunggu kalian." Sapa Temari hangat sembari menjabat tangan keempatnya. Wanita itu kemudian mengajak para tamunya memasuki wilayah desa.
"Kali ini Hokage kelima menugaskan tim kalian?" Wanita berkuncir itu bertanya memastikan.
"Benar." Kakashi menganggukkan kepalanya. "Maaf kali ini Shikamaru tidak bisa ikut."
Wajah Temari seketika memerah.
"A-APA? SI-SIAPA JUGA YANG INGIN DIA DATANG KEMARI?!" Temari berusaha untuk menyangkal. Namun sikapnya yang berbanding terbalik dengan perkataannya itu justru memancing gelak tawa dari tim delapan. Rupa-rupanya mereka sudah tahu kalau gadis dari Suna ini memiliki hubungan yang spesial dengan salah satu teman seangkatan mereka yaitu Shikamaru Nara.
"Cih, menyebalkan." Temari yang salah tingkah memilih untuk membuang mukanya dan menjauh. "Diam dan ikuti aku! Aku akan membawa kalian bertemu dengan Gaara." lanjutnya.
"Baiklah." Kakashi tersenyum dari balik topengnya.
Mereka kemudian berjalan memasuki desa yang lebih dalam lagi. Sementara di belakangnya, tim delapan tengah sibuk melihat-lihat pemandangan sekitar.
"Jadi, bagaimana kabar desa ini?" Tanya Kakashi di sela-sela perjalanan.
"Tidak banyak yang berubah. Kecuali bagian keamanan di desa." Temari menjawab. "Semenjak diculiknya Gaara oleh Akatsuki. Kami memutuskan untuk memperkuat pintu masuk sekaligus menambah jumlah penjaga. Kankurou saat ini tengah memeriksa keadaan pasukan pertahanan. Sementara Baki-sensei bertugas mengumpulkan para jounin elit untuk di garda terdepan. Kalau kalian? Bagaimana dengan Konoha?"
Kakashi untuk sesaat terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan dengan gamblang kalau Konoha saat ini tengah disusupi oleh musuh yang tidak dikenal. Seorang iblis berbahaya bernama Kuro Karasu. Yang kemungkinan besar turut andil dalam membantu Madara Uchiha dan Akatsuki. Yang lebih parahnya lagi merupakan guru dari Hyuuga Hinata. Anggota dari kelompok delapan yang saat ini dipimpinnya.
Pria tersebut melirik Hinata dari ujung matanya.
Mendapatkan tatapan tajam tersebut gadis tersebut hanya bisa meneguk ludah, kepalanya tertunduk. Tidak berani memandang Kakashi secara langsung. Pasti saat ini Kakashi ingin mengatakan soal Kuro-senseinya.
Tapi Kakashi memilih untuk tidak membahas. Ia justru menutupinya. "Sama seperti kalian, Temari. Kami juga memperkuat penjagaan desa kami. Dan Naruto sekarang juga sedang berlatih bersama dengan Killer Bee disuatu tempat."
"Killer bee? Maksudmu jinchuriki dari Hachibi itu?"
"Benar, dengan begitu ada peluang bagi kita untuk bisa memenangkan perang jika Naruto bisa menaklukkan Kyuubi."
"Ya, aku kira juga begitu. Aku harap peperangan ini tidak berlangsung lama."
Tidak terasa mereka telah sampai ke tempat tujuan. Sebuah gedung besar dan tinggi yang diketahui merupakan kantor dari Kazekage Suna yaitu Gaara. Dipintu masuk, telah berdiri seorang perempuan cantik bersurai coklat pendek yang diketahui bernama Matsuri.
"Oh, kalian? Lama tidak berjumpa." Gadis cantik itu menyapa teman-teman barunya dari Konoha.
"H-hai, Matsuri." Hinata lebih dulu membalasnya. "A-apa kami bisa bertemu dengan Kazekage?"
Matsuri menggelengkan kepalanya. "Gaara-sensei saat ini sedang rapat dengan para tetua desa. Mungkin memakan waktu agak lama. Kalian tidak apa-apa jika harus menunggu?" Gadis tersebut merasa tidak enak menyuruh teman-temannya menunggu, terlebih lagi mereka sudah jauh-jauh datang dari Konoha demi bertemu dengan Gaara.
Disisi lain Temari tampak kesal. Ia sudah mewanti-wanti para tetua itu untuk menggeser rapat dadakannya ke hari lain, karena saat ini para tamu kehormatan dari Konoha sudah datang. Tapi mereka justru dengan semena-mena memaksa Gaara untuk mengikuti perintahnya. 'Para tetua itu sudah keterlaluan!' Temari memaki dalam hati.
"Tidak apa-apa. Kami tidak keberatan untuk menunggu." Jawab Kakashi ringan sekaligus mewakili tim delapan. Mendengar jawaban tersebut, gadis bersurai pirang itu menghembuskan nafas lega.
"Baiklah, kalau begitu ikuti aku."
Temari kemudian mengantarkan mereka masuk ke kantor Gaara. Seperti yang dikatakan oleh gadis berkuncir pirang tersebut. Sosok Gaara belum terlihat di ruangannya. Mereka kemudian dipersilakan menunggu di kursi para tamu.
"Silakan diminum semuanya. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh." Matsuri muncul menyuguhkan minuman kepada para tamu dari desa seberang. Tidak lupa ia memberikan air minum juga untuk anjing Kiba yang bernama Akamaru. Dan beberapa buah cemilan ringan.
"Terima kasih, Matsuri." ujar Hinata sembari tersenyum.
"Sama-sama, Hinata-san. Kalau begitu aku pamit dulu." Gadis tersebut kemudian pergi menyusul temannya. Disisi lain kelompok delapan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobrol dengan Temari. Seputaran desa Suna.
"Jadi begitu, kalian juga pasti sangat repot ya." Kakashi menghela nafas panjang.
"Ya, saat ini desa kami sedang kekurangan orang. Para jounin yang hebat pun kebanyakan telah tewas. Semua karena Akatsuki. Baki-sensei bahkan keluar dari perbatasan demi mencari tahu gerak gerik musuh. Dan sekarang tidak ada yang mengawasi para chunin itu berlatih." Wanita tersebut menghela nafas panjang. "Andai saja ada seseorang yang hebat yang mampu mengawasi mereka…."
"Kalau begitu mau kubantu?" Di luar dugaan Kakashi menyodorkan tangannya.
"Benarkah kau bisa membantu?"
"Ya, selama ada disini. Tidak ada salahnya untuk membantu sekutu bukan?" Pria tampan itu beralasan.
Temari sontak gembira. Ia kemudian mengajak Kakashi menuju tempat para ninja dari Suna berlatih. Sementara Hinata dan kedua orang lainnya mengekor dari belakang.
Benar, dugaan mereka. Desa Suna kuat tapi dari segi kekuatan mereka masih kalah jauh dibandingkan ninja Konoha. Kakashi menganggukkan kepalanya. Ia kemudian berbalik menghadap timnya. "Kalian kembalilah dulu. Aku akan segera menyusul." Perintah Kakashi.
"Tapi Kakashi-sensei."
"Berikan aku waktu beberapa menit. Ini tidak akan lama." Pria tersebut tersenyum dari balik topengnya. "Anak-anak ini hanya perlu satu kalimat saja untuk bisa menjadi kuat." Kakashi menambahkan. Entah kenapa, aura di sekitar mereka berubah mencekam ketika jounin bermasker itu memasuki arena latihan. Kiba yang melihatnya tanpa sadar meneguk ludah.
"Ba-baiklah, kalau begitu. Kami ke atas dulu." Kiba menarik-narik lengan Hinata dan Shino untuk mengikutinya. Menoleh ke belakang, Hinata mendapati wajah Kakashi yang sepintas melirik kearahnya sembari tersenyum. Wajah Hinata memerah. Ia kemudian membuang mukanya dan memilih menunggu di ruangan Gaara.
0-0-0-0
Satu jam telah lewat tapi baik Gaara maupun Kakashi masih belum terlihat batang hidungnya. Kiba mulai kesal karena terus menerus menunggu. Harusnya ia tidak percaya pada Kakashi ketika menyuruh mereka menunggu beberapa menit. Karena menurut perhitungan Kakashi. Beberapa menit sama dengan beberapa jam. Dan beberapa jam bisa berlangsung sampai harian. Dahi Kiba mulai berdenyut, ia tidak tahan lagi.
Pemilik dari Akamaru itu berdiri dari kursinya. Ia harus keluar sekarang juga untuk menghirup udara bebas. Ia tidak suka duduk berdiam di satu tempat dalam waktu yang lama. Baginya itu sama saja dengan penjara.
"Hinata, Shino, aku keluar dulu. Ayo Akamaru."
GUK GUK GUK
"A-apa tunggu dulu Kiba, kita sedang menunggu Kazekage-sama. Kita tidak bisa meninggalkan ruangan ini. Bagaimana kalau Sabaku-san mencari kita?" Hinata beralasan.
"Aku bosan menunggu di ruangan. Aku ingin berjalan-jalan sebentar, tenang saja aku tidak akan lama."
"T-tapi, Kiba-kun." Hinata ingin menahan tapi suara dari Shino menghentikannya.
"Biarkan dia Hinata. Kiba tidak bisa duduk diam dalam waktu yang lama. Sebentar lagi juga dia akan kembali."
"Hah, baiklah." Hinata menarik nafas panjang.
Tidak lama setelah itu Kankurou muncul dan menemui keduanya.
"Hai, lama tidak bertemu ya?" sapa pemuda pengendali boneka itu. Matanya tidak lepas menatap kearah Shino.
"Ya," Pemuda dari klan Aburame itu mengangguk. "Lama tidak bertemu."
Hinata meneguk ludah, matanya berpindah mengawasi keduanya. Shino dan Kankurou secara bergantian. Seperti yang Hinata tahu, keduanya adalah teman sekaligus rival semenjak berdiri di ujian chunin yang sama. Saat penyerangan Konoha oleh Suna terjadi, keduanya nyaris saling bunuh-membunuh. Namun beruntung, keduanya yang sekarat berhasil sembuh. Dan sekarang justru berbalik menjadi teman.
Hinata tersenyum. Merasa tidak ada masalah lagi yang akan muncul di antara keduanya.
"Sepertinya tidak ada jalan lain." Di luar prediksi Hinata, serangga milik Shino tiba-tiba muncul di kedua lengan pemuda tersebut. Bersiap untuk menyerang. Gadis itu membelalakkan matanya, nyaris tercengang. "Shino-kun, apa yang kau-"
"Hehehe, benar-benar hebat seperti sebelumnya." Kankurou menyeringai dari tangan-tangannya muncul benang-benang kecil yang terbentuk dari cakra. "Kau selalu tanggap."
Shino memandang datar Kankurou. "Dan kau selalu curang seperti sebelumnya." Nampak dibelakang Shino, sebuah boneka muncul dengan pedang yang terhunus.
Sejak kapan? Hinata bahkan tidak sempat untuk berkedip.
Pengendali boneka itu tertawa. "Jangan khawatir, aku hanya bercanda. Aku tidak berniat melukai kalian berdua. Aku tidak akan melakukan itu pada sekutu kami. Tapi Shino…." Kankurou memandang tajam rivalnya dari Konoha itu.
"Sebelum perang besar ini dimulai. Bagaimana kalau kita berdua bertarung sebentar? Kau dan aku." Saudara laki-laki dari Gaara itu menunjuk dirinya sendiri. "Diantara kita berdua disini, kita tentukan siapa pemenang sebenarnya."
0-0-0-0
Hinata kembali menghela nafasnya untuk kesekian kali. Setelah Kiba pergi sekarang adalah Shino. Dan dia, Hyuuga Hinata ditinggal seorang diri untuk menunggu di ruangan Kazekage. Sampai mereka kembali. Merasa letih, gadis itu memutuskan untuk kembali duduk di kursinya.
Untuk sesaat ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu. Mengenai rumornya dengan Kakashi-sensei. Sejak itu Hinata merasa gugup setiap kali berada didekat Kakashi-sensei.
"Ini semua karena Kiba-kun. Mengatakan hal yang tidak masuk akal." Hinata diam-diam berkomentar.
Pemuda itu dengan seenak jidatnya memutuskan secara sepihak kalau Hinata telah menjalin hubungan dengan Kakashi-sensei. Berita miring dari mana yang menyebutkan kalau Hinata tengah berpacaran dengan Kakashi? Gadis itu bahkan tidak pernah berpacaran. Tidak dengan siapapun. Tidak dengan Naruto, Kakashi atau bahkan Kuro-sensei yang saat ini mendiami hatinya.
Tidak ada!
Gadis itu mengepalkan jemarinya. Mengingat Kuro-senseinya. Benar, Hinata mengakui kalau sekarang ia telah menaruh hati dengan senseinya itu. Tapi karena situasi yang pelik, senseinya itu memutuskan untuk pergi menjauh dari Hinata. Entah sampai kapan. Gadis itu tidak tahu. Tapi satu hal yang Hinata tahu, senseinya itu pasti akan kembali dan HInata memutuskan untuk menunggunya.
Sampai saat itu tiba….
Ia tidak akan membuka hatinya untuk siapapun.
"Benar, Kiba-kun pasti salah sangka. Tidak mungkin Kakashi-sensei menyukaiku." Gadis itu berbisik pelan. "Semua ini hanyalah salah paham. Ya, salah paham."
Meski begitu kenapa kau ragu?
Hinata mengingat kembali kejadian di tepi sungai, dimana Kakashi saat itu memeluknya setelah berjanji untuk mengajaknya melihat kunang-kunang. Sorot matanya yang begitu lembut, juga suaranya yang terdengar begitu teduh. Seolah mampu menghipnotis gadis manapun untuk takluk. Meski hanya sebentar tapi pikiran Hinata tentang Kuro sesaat teralihkan.
Benarkah seperti yang dikatakan Kiba kalau Kakashi-sensei menyukainya?
Menyukainya?
BLUSH
Seakan tersadar dari khayalannya, Hinata sontak menggelengkan kepala. Wajahnya memerah.
"Tidak, apa yang sudah kupikirkan? Sikap baik yang ditunjukkan Kakashi-sensei semata-mata karena aku adalah muridnya. Ya, pasti begitu. Kakashi-sensei peduli padaku karena sebatas murid. Tidak lebih."
Gadis itu memantapkan diri. Ia akan menjelaskan kembali pada Kiba setelah pulang dari Suna.
Merasa jenuh karena terus-terusan duduk, gadis itu kemudian berdiri dan melihat-lihat sekeliling ruangan. Kantor Gaara terlihat begitu bersih, dan tersusun rapi. Di belakangnya, terdapat jendela terbuka yang menampilkan pemandangan desa Suna. Di bagian rak terdapat buku-buku ninja yang tersusun secara sistematis.
Pandangannya jatuh pada sebuah foto yang ada di lemari. Foto Gaara dan dua saudaranya, Kankurou dan Temari. Dimana untuk pertama kalinya Gaara dinobatkan sebagai seorang Kazekage. Gadis itu tersenyum, ia ingat pembicaraan para penduduk mengenai Gaara.
Pertama kali bertemu dengan Gaara, saat itu ia sedang mengikuti tahap ujian Chunin di hutan. Mereka bertiga tanpa sengaja melihat Gaara membunuh salah satu genin. Hinata saat itu pasrah, jika harus mati. Tapi entah kenapa, Gaara membatalkan niatnya dan berbalik meninggalkan mereka.
Sejak itu, Hinata merasa takut pada pemuda bersurai merah itu. Namun entah kenapa semenjak Naruto datang dan memberitahu diri Gaara yang sebenarnya, semenjak itulah Hinata mulai menekan rasa takutnya. Dan mempercayai Gaara.
Gadis itu tersenyum sedih. "Naruto-kun, apa kau masih marah padaku?"
Hinata ingin cepat-cepat kembali untuk meminta maaf kepada Naruto. Dan juga mencari Kuro sensei.
BRUK!
Tanpa sadar, Hinata menjatuhkan sesuatu, ia pun membungkuk dan mengambilnya.
Matanya membulat menyadari benda tersebut adalah sebuah boneka berbentuk beruang.
Jantung Hinata berdegup kencang menyadari boneka itu.
"Bo-boneka ini?"
Untuk sesaat Hinata merasakah dejafu. Jantungnya berdetak semakin kencang.
Ini hadiah untuk ulangtahunmu yang ketiga
I-ini kan, boneka?
Ya, dia akan menjadi temanmu…
Hyuuga-san…..
Temanku?
Sampai kau bertemu dengan teman pertamamu, dialah yang akan menemanimu
Teman pertamaku?
Ya, teman pertamamu.
"Hyugaa-san…"
Hinata menolehkan wajahnya ke belakang. Tampak wajah sang Kazekage Suna, Gaara Sabaku. Tengah memandangnya dengan tatapan heran. Gadis itu gugup bukan kepalang diliriknya boneka yang ia pegang.
Gawat,
"A-ano, ini a-aku tidak sengaja menjatuhkannya." Hinata buru-buru menjelaskan. Tangannya dengan cepat bergerak dan menaruh boneka tersebut ke tempatnya semula. Sebelum kemudian membungkuk beberapa kali. Memohon maaf.
Gaara yang melihatnya hanya tersenyum dan mendekati Hinata. Pandangannya lembut memandang boneka itu.
"Tidak apa-apa." Ujarnya pelan kemudian mengambil kembali boneka itu. Memandangnya lembut seolah itu adalah barang paling berharga yang dimilikinya.
Hinata yang melihatnya tertegun. Meski agak ragu ia memilih bertanya. "A-ano Gaara-san, boneka ini?"
"Hyuuga-san, apa kau benar-benar lupa?" Bukannya menjawab Kazekage muda itu justru bertanya balik. Membuat Hinata bingung.
Gadis itu merasakan deja fu untuk kedua kalinya, pertanyaan yang sama ketika ia sempat berpapasan dengan Gaara di jalan dulu. "M-maaf tapi apa maksudmu?"
Gaara menjawab. "Soal boneka ini. Seorang teman memberikannya padaku."
"Teman?"
"..."
"Be-begitu ya, maaf aku menjatuhkan benda yang penting untukmu." Hinata semakin gugup.
Teman katanya? Boneka beruang ini? Entah kenapa, Hinata merasa memiliki suatu keterkaitan dengan boneka ini. Dulu ibunya sempat menghadiahinya mainan berbentuk boneka beruang di hari ulang tahunnya yang ketiga. Tapi anehnya ia tidak bisa mengingat kembali kejadian tersebut.
Dimana dan apa yang dilakukannya pada boneka itu juga ia tidak ingat. Bahkan ia tidak bisa menemukan kembali boneka pemberian ibunya itu. Dan sekarang boneka yang mirip dengan miliknya itu berada di tangan Gaara. Benarkah ini adalah sebuah kebetulan? Atau boneka Gaara itu memang pemberian ibunya?
"Tapi Gaara bilang ini pemberian temannya. Tidak mungkin Gaara-san berbohong." Hinata berkata dalam hati.
"Hyuuga-san?" panggil sang Kazekage.
"I-iya?"
"Dimana teman-temanmu yang lain?"
"A-ano mereka sedang keluar. Katanya sebentar lagi kembali."
"Baiklah kalau begitu kita tunggu mereka."
"A-apa Kazekage-sama tidak keberatan?"
"Tidak apa-apa. Rapatku sudah selesai. Lagipula sekarang aku tidak sedang sibuk."
Gaara kemudian mengambil teko berikut cangkir di atas meja.
"A-ano biar aku saja." Hinata menawarkan diri.
"Apa kau yakin?"
Gadis itu mengangguk.
Gaara kemudian membiarkan Hinata membuatkannya teh. "Ini silakan Gaara-san."
Gaara mengesap tehnya. Mereka berdua duduk diam sambil menikmati minumannya.
"Dulu ketika aku masih berusia empat tahun, seorang anak perempuan memberikan bonekanya padaku." Ujar Gaara tiba-tiba. Hinata yang tercengang sontak mengangkat wajahnya. Menatap bingung pemuda bertatto 'Ai'.
"Empat tahun?"
Kazekage muda itu mengangguk.
"Saat itu, untuk pertama kalinya ada seseorang yang menganggapku sebagai teman."
Sorot mata Gaara melunak, ia lalu memandang ke luar jendela.
"Sebelum bertemu dengannya, aku selalu bermain seorang diri di ayunan. Kadang-kadang jika senggang Yashamaru menemaniku. Tapi itu jarang sekali. Ia selalu sibuk berlatih dengan Kankuro dan Temari. Dan terkadang juga dengan murid di akademi. Kadang-kadang aku merasa iri. Aku ingin cepat besar dan bisa bermain dengan semuanya. Sampai saat itu terjadi. Dimana semua harapanku musnah ketika menyadari ada monster dalam diriku."
Hinata menegang. Seperti yang dikatakan Naruto. Gaara merupakan jinchuriki Ichibi.
"Saat itu tanpa sengaja aku membunuh seseorang di desa. Berita cepat menyebar. Semua orang tua melarang anak-anaknya untuk bermain denganku. Aku mulai frustasi, dan menutup diri. Berpikir kalau sampai akhir aku tidak akan memiliki teman satu orang pun. Sampai aku bertemu dengannya. Anak perempuan dari desa Konoha." Sinar kebahagiaan muncul dari wajah Gaara yang terlihat sedih itu.
"Awalnya aku melihat dia tanpa rasa tertarik. Dari luar aku melihatnya sebagai anak yang pemalu dan lemah. Anak-anak disekitarnya mengejeknya. Karena kekurangannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi melihat seseorang dihina membuatku kesal. Aku memaki mereka, dan menolong anak itu. Awalnya kupikir dia sama seperti yang lain. Melihatku sebagai monster, tapi ternyata kebalikannya."
"Kebalikannya?"
"Dia bertanya apakah aku mau menjadi temannya?"
"!"
"Dia bilang di Konoha ia tidak memiliki seorang pun teman. Ayahnya melarangnya untuk keluar dari rumah. Untuk sesaat aku merasa kami memiliki kesamaan. Semenjak itu kami berteman. Kupikir kami akan terus bersama namun ternyata tidak. Beberapa hari kemudian, ayahnya memaksanya untuk kembali."
Gaara-kun, aku harus kembali.
Apa, kenapa?
Sudah waktunya kami pulang.
Tidak bisakah kau disini saja?
Kau adalah satu-satunya teman yang kupunya
Gaara-kun
Tidak ada yang mau berteman denganku...
Kumohon kau harus kembali
Gaara-kun, ini.
Ini?
Boneka kesayanganku. Ini adalah kado ulang tahun dari ibuku. Ambillah.
Kenapa kau memberikan benda kesayanganmu padaku?
Karena aku ingin kau menjaganya sampai kita bertemu lagi.
...!
Sampai saat itu tiba, boneka beruang ini yang akan selalu ada disisimu
Kau janji akan datang?
Ya, aku janji.
Gaara tersenyum, mereka berdua melingkarkan kelingkingnya.
Baiklah aku janji akan menjaga boneka ini sampai kita bertemu lagi,
Gaara-kun...
Sampai saat itu tiba, kita akan bermain bersama lagi...
Ya.
"Saat itu aku percaya kalau kami akan bertemu lagi. Boneka itu yang akhirnya menjadi satu-satunya temanku. Meskipun anak-anak lain mengucilkanku bahkan ketika aku mengetahui Yashamaru dan Ayah mengkhianatiku, dan aku benci pada mereka semua. Ada satu orang yang tidak pernah bisa kubenci." Gaara menoleh pada Hinata. "Dia, temanku satu-satunya."
Aku menunggu dan terus menunggu….
Bertahun-tahun aku menunggu, tapi dia tetap tidak kunjung datang.
"Gaara-san…" Hinata merasakan air matanya mengalir.
"Karena itu ketika ujian chunin diselenggarakan di Konoha, diam-diam aku merasa senang. Karena ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya lagi. Prediksiku benar, aku melihatnya ada di ujian chunin yang sama. Kukira dia akan menyapaku, namun ternyata tidak. Dari ekspresinya aku tahu kalau ia tidak mengenaliku, justru yang ada hanya ketakutan." Gaara tersenyum pahit.
"Aku bisa melihat wajah penuh ketakutan dalam dirinya. Terutama ketika di hutan. Saat aku membunuh seorang ninja genin disana. Aku tahu dia bersama kelompoknya sedang bersembunyi. Kebencian dan amarah menguasaiku. Saat itu aku ingin membunuhnya. Kenapa dia tidak mengingatku? Padahal bertahun-tahun aku terus menunggu agar bisa berjumpa kembali dengannya. Dan kini saat aku berada di Konoha, ia malah menjauhiku menganggapku sebagai monster."
"!" HInata melebarkan matanya.
Tidak mungkin, teman yang dimaksud Gaara ini.
"Tapi bagaimanapun aku kecewa dan membenci sikapnya itu, sampai diakhir aku tetap tidak bisa membunuhnya di hutan. Bahkan ketika gadis itu hampir dibunuh oleh sepupunya, aku benar-benar emosi. Hampir saja aku membunuh Neji Hyuuga karena perbuatannya itu."
"Gaara-kun!" Hinata berteriak.
Kali ini ia membiarkan Gaara melihat wajahnya yang telah bercucuran dengan air mata.
"Kau mungkinkah..."
Gaara menaikkan senyumannya. "Nama temanku itu adalah Hyuuga Hinata."
"Bahkan saat ini, meskipun dia tidak mengingatku. Aku terus mengingatnya."
Hinata merasakan air matanya mengalir lebih deras. Ia tidak menyangka perbuatan jahat apa yang sudah dilakukannya selama ini. Ia sudah melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Teman pertamanya.
"Aku, maafkan aku. Hiks, Aku benar-benar-" Gaara mengelus puncak rambut Hinata.
"Tidak perlu minta maaf. Yang berlalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kita sudah bertemu."
"Gaara-kun..."
Sorot mata Gaara seketika melembut. Dengan penuh perhatian ia mengusap air mata Hinata yang tumpah. "Ga-gaara-kun?" Wajah Hinata sontak memerah.
"Ehem." terdengar suara Kakashi dari depan pintu. Keduanya langsung mundur menjaga jarak.
"Maaf, apa aku mengganggu?" Jounin tersebut tersenyum namun sorot matanya terlihat gelap.
"Pintunya tidak terkunci, jadi aku masuk saja tanpa mengetuk pintu. Kuharap kalian tidak keberatan."
"A-ano itu-" Hinata menundukkan wajahnya, terlihat gugup.
"Kami tidak keberatan." Jawab Gaara datar. Ada sedikit ketidaksukaan ketika jounin bermasker itu berdiri disamping Hinata. Namun pemimpin dari Suna itu memilih untuk diam dan menunggu kedatangan tamunya yang lain. Tidak menunggu lama Kiba dan Akamaru kemudian muncul. Disusui oleh Shino, Temari, beserta Kankurou.
Pandangan Hinata beralih menatap Kakashi sensei. Jounin itu tersenyum, namun sorot matanya masih saja menggelap. GLEK! Tanpa sadar Hinata meneguk ludah.
Ada apa dengan Kakashi-sensei?
Mungkinkah dia marah karena kejadian barusan?
"Selamat siang, Gaara-san."
Sang Kazekage muda mengangguk. Ia pun duduk dikursi kerjanya. Kakashi sebagai wakil dari desa Konoha kemudian menyerahkan gulungan surat tersebut pada Gaara untuk dibaca. Selesai membaca, pemimpin muda itu meminta waktu sendiri dan menyuruh Temari serta Kankurou menyiapkan makan siang untuk para tamu dari jauh.
0-0-0-0
Hinata menatap kursi disebelahnya dengan pandangan kosong. Didepannya Kiba, Shino serta Akamaru makan dengan lahap.
"A-ano Temari-san, Gaara-san tidak ikut makan dengan kita?"
"Semenjak menjadi Kazekage, Gaara selalu makan diatas jam 2."
"...B-begitu."
"Ngomong-ngomong apa yang tadi kalian berdua bicarakan?" tanya Kiba disela-sela makannya.
"Bisakah kau tidak makan sambil bicara? Jorok sekali." sindir Kankurou disela-sela suapannya.
Kiba merasakan keningnya berkedut. "Kau sendiri juga makan sambil bicara."
"Tapi tidak seberantakan dirimu."
"APA KAU BILANG?!"
"Bisakah kalian berdua diam? Para seranggaku membutuhkan waktu untuk makan."
"Baik." Anehnya baik Kankurou maupun Kiba, keduanya malah kompak kali ini. Tidak ingin membantah Shino. Ya meskipun pendiam, tapi Shino merupakan ninja yang sangat kuat dan menyeramkan.
"Kiba-kun, kemana Kakashi-sensei?" Tanya Hinata penasaran ketika tidak melihat jounin tersebut.
Kiba menoleh, "Entahlah aku sendiri juga tidak tahu. Tapi tadi sensei bilang dia ingin mencari udara segar."
"Oh, begitu." Gadis itu merasakan dadanya terasa sesak.
PIring Kakashi masih terlihat kosong.
"A-ano Temari-san. Apa boleh aku meminta onigirinya lagi?"
0-0-0-0
Kakashi memilih berada di atap. Ia benar-benar terkejut ketika mendengar Hinata dan Gaara sudah saling mengenal jauh sebelumnya. Bahkan sebelum ia bertemu dengan gadis itu. Melihat Gaara menyentuh puncak rambut Hinata. Untuk sesaat Kakashi merasa iri dan juga cemburu. Emosinya meluap.
"Apa yang kupikirkan? Hinata mau berteman dengan siapapun itu tidak ada hubungannya denganku." Kakashi berkata dalam hati. "Dia adalah murid, tidak lebih dari itu."
Meskipun menyangkal tapi Kakashi tahu, kalau kata-katanya itu tidak lebih dari kebohongan.
Ia menyukai Hinata, bahkan sangat menyukainya.
Dan ia tidak suka ada pria lain yang mendekati gadis itu.
"Bodoh." Kakashi menyindir dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perasaannya.
"Kakashi sensei?" panggil seseorang dari belakang.
Kakashi tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
"Ada apa Hinata?" tanyanya, masih memandang awan yang berarak.
Gadis itu mendekat dan menyodorkan bungkusan.
Kakashi menoleh, mendapati beberapa buah onigiri didepannya. "Ini..."
"Aku khawatir, Kakashi-sensei belum makan sedikitpun. Jadi aku membawakan beberapa buah onigiri." Gadis itu menjelaskan. "Makanlah."
Disisi lain Kakashi memandang kosong makanan itu. "Terima kasih Hinata. Tapi aku tidak lapar. Kau bawa saja kembali makanannya." Di luar dugaan Hinata, jounin itu menolak makanannya.
Hinata merasakan dadanya kembali sesak.
"Kenapa?"
"Huh?"
"Kenapa Anbu-san? Apa kau ada masalah? Kau tampak begitu murung?"
Kakashi membulatkan matanya. Hinata, dia menghawatirkannya?
"Tidak, bukan apa-apa." Kakashi berkilah. "Perutku sedang kenyang. Nanti setelah lapar aku akan memakannya."
"Benarkah?"
"Ya,"
"Syukurlah." HInata menghembuskan nafas lega.
Keduanya kembali diselimuti dengan keheningan. Hinata memutuskan untuk bersuara lebih dulu. "A-ano Kakashi-sensei…"
"Hmm…"
"So-soal yang kemarin..." Gadis itu tampak gugup. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu saat mereka berdua duduk di tepi sungai.
"Aku ingin mengajakmu ke Ame untuk melihat kunang-kunang. Hanya kita berdua."
"Ka-kakashi-sensei. Ta-tapi…"
Kakashi menempelkan telunjuknya pada bibir Hinata. "Aku tidak ingin mendengar jawabannya sekarang. Tapi nanti setelah perang usai. Kuharap kau mau mempertimbangkannya."
Kakashi kemudian memeluk tubuh gadis tersebut. "Ka-"
"Sebentar saja, biarkan aku memelukmu."
Hinata merasakan pipinya kembali merona. Mengingat kejadian semalam.
Tenang-tenangkan dirimu Hinata. Katakan dengan sejujurnya dan semua akan baik-baik saja.
"A-ano, Kakashi sensei. Bisakah kau mengatakan pada Kiba-kun hal yang sesungguhnya terjadi?"
"Apa?" Kakashi menaikkan alisnya.
"Maaf tapi Kiba sempat melihat kita berpelukan semalam. Dan sekarang dia mengira kita tengah berpacaran. Aku mencoba untuk menjelaskannya tapi dia tetap tidak mau dengar. Dan sekarang ia malah mengatakan Kakashi-sensei jatuh cinta padaku. Kumohon Kakashi-sensei, kau harus meluruskan kesalahpahaman ini!"
"Apanya yang salah paham?"
"Huh."
"Itu bukan salah paham." Senyum Hinata seketika memudar.
"A-apa maksudmu?"
Bukannya menjawab, Kakashi justru melangkahkan kakinya mendekati gadis tersebut. Kemudian membuka maskernya.
"Semua yang dikatakan Kiba benar. Aku menyukaimu."
"Eh?"
"Aku benar-benar menyukaimu."
HInata merasa seolah kehilangan nafas. "Ka-kau pasti bercanda kan sensei?"
"Aku tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu dari dulu. Bukan sebagai guru dan murid. Juga bukan sebagai ketua dengan anak buah yang dipimpinnya. Melainkan sebagai pria kepada wanita. Aku menyukaimu." Kakashi meraih wajah Hinata kemudian mengecup bibirnya.
"!" Iris bulan itu membulat lebar.
Karena aku menyukaimu…. Jadi aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain. Bahkan meskipun itu adalah Kazekage sekalipun. Aku tidak suka. Aku tidak suka kau dekat dengan Naruto, Gaara dan siapapun termasuk iblis bernama Kuro itu. Aku hanya ingin kau berada di dekatku. Aku hanya ingin kau menjadi milikku, Hinata. Aku….
"Kakashi-sensei!" Hinata mendorong Kakashi kuat-kuat agar menjauh darinya.
Pria tersebut tergoncang. Sadar telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Wajah Kakashi berubah pucat. "Hi-hinata maaf. Tadi aku…"
Hinata yang ketakutan kemudian memilih kabur dari tempat itu. Mengabaikan Kakashi yang tengah berdiri membatu seorang diri.
"Aku…" Pria tersebut mengacak-acak rambutnya.
Apa yang sudah kulakukan?
0-0-0-0
Hinata memilih mengurung diri di kamar khusus para tamu yang sudah dipersiapkan Temari untuk para tamu yang menginap. Sudah 3 jam berlalu semenjak peristiwa di atap terjadi. Dimana Kakashi menciumnya secara tiba-tiba. Jantung Hinata berdentum semakin kencang. Wajahnya terus saja memerah.
Kenapa? Kenapa Kakashi-sensei menciumnya? Temannya, Anbu-san yang selalu berada disisinya itu. Kenapa ia melakukannya? Tanpa sadar HInata menyentuh bibirnya. Kemudian menggelengkan kepala.
'Tidak! Tidak ! Tidak! Apa yang kupikirkan? Dalam hatiku hanya ada Kuro-sensei sekarang. Dengar Hinata, kau tidak boleh suka pada siapapun. Terlebih lagi dengan Kakashi-sensei. Bukankah kau sudah berjanji untuk tetap setia menunggu Kuro-sensei?' Hinata mencoba berdiskusi dengan dirinya sendiri.
Merasa lelah, Hinata merebahkan diri di kasur. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sekarang dirinya bingung jika harus bertemu muka dengan ketuanya itu. Apa yang harus ia lakukan? Gadis itu merasa bimbang.
"Hinata?" Terdengar suara pintu diketuk.
Tanpa perlu membukanya, gadis itu sudah tahu siapa orang di balik pintu tersebut. "Pergilah, untuk sekarang aku tidak ingin bicara denganmu."
"…." Pria tersebut berhenti mengetuk.
Tentu saja, Hinata pasti masih marah padanya karena kejadian tersebut.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelumnya aku ingin memberitahumu. Kalau perasaanku padamu itu benar. Aku sungguh-sungguh menyukaimu, Hinata. Dan aku juga ingin minta maaf. Pertama atas kelancanganku barusan dan kedua karena ketidaksopananku sebelumnya yang sudah berani menciummu tanpa izin. Kuharap kau akan memaafkanku. Oh ya satu lagi, makan malam sudah siap. Keluarlah jika kau lapar." Tapi gadis itu tidak menyahut.
Kakashi menghela nafas panjang. "Baiklah, aku mengerti. Makanannya aku taruh disini."
Setelah memastikan pria tersebut pergi, Hinata membuka pintu kamarnya. Benar, Kakashi pasti meminta tolong Temari untuk menyiapkan makan malam untuknya. Mengetahui hal tersebut, Hinata tersenyum kecil. Sorot matanya seketika melunak.
"Bodoh." Bisiknya pelan.
Kalau begini caranya bagaimana bisa ia membenci Kakashi-sensei?
Sementara itu, Kiba yang penasaran karena tidak melihat Hinata di meja makan. Memutuskan untuk mengikuti Kakashi sampai di pintu kamar Hinata. Mengintip dari kejauhan.
"Sudah kuduga, Kakashi sensei pasti memiliki perasaan pada Hinata. Ya, kan Akamaru?"
GUK
"Hush, jangan keras-keras. Nanti ketahuan."
0-0-0-0
Gaara meletakkan penanya di atas meja. Akhirnya seluruh dokumen tersebut selesai ia tanda tangani. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari ketika sang Kazekage Suna selesai mengerjakan pekerjaannya. Pemuda itu menyenderkan punggungnya ke kursi. Mencoba menghilangkan kepenatan di tubuhnya setelah berjam-jam duduk di ruangan. Matanya kemudian melirik boneka beruang. Tangannya bergerak meraih boneka tersebut. Kemudian bergumam.
Dia benar-benar tidak ingat ya?
Terdengar suara pintu yang diketuk. Untuk sesaat Gaara terlihat bingung. Siapa orang yang berani bertamu ke kantornya malam-malam begini. Mengabaikan hal tersebut, pemuda itu kemudian mempersilakan tamu misteriusnya masuk.
"Maaf mengganggumu malam-malam begini. Tapi ada yang ingin kubicarakan. Bisakah kita berdua bicara?"
Gaara melirik jam dinding. "Maaf tapi kalau soal tidak penting lebih baik besok saja-"
"Ini mengenai Hinata."
Gaara terlihat kaget.
Didepannya ia melihat Kakashi yang tersenyum dari balik topengnya. Tapi pancaran matanya justru berkata lain. "Kudengar kalian berdua berteman sejak kecil apa itu benar?"
Gaara menganggukkan kepalanya. "Benar. Lalu kenapa?"
"Bisakah kau tidak mendekatinya?"
"Apa?" Gaara menekuk alisnya.
Didepannya ia bisa merasakan nafsu membunuh dari Kakashi.
"Kubilang bisakah kau tidak mendekatinya? Aku tidak suka ada orang lain yang mendekatinya."
"Kakashi, kau-"
Gaara merasakan tubuhnya membeku. Didepannya Kakashi menampakkan senyum mematikan. Aura disekelilingnya berubah gelap.
Aku ingin Hinata hanya menjadi milikku seorang.
Hanya milikku…
0-0-0-0
Chapter 23 Completed
To be Continued
.
0-0-0-0
A/n : Cinta memang bisa mengubah orang. Dari Kuro yang semula begitu sadis, kejam dan arogan. Benar-benar bisa melunak setelah jatuh cinta pada Hinata. Demikian pula Kakashi yang setelah jatuh cinta malah berpeluang menjadi seorang yandere. Demikian pula dengan Gaara yang terlampau setia menunggu teman pertama sekaligus cinta pertamanya. Dan terakhir Sasuke yang masih bersikukuh dengan perasaannya untuk balas dendam hingga melupakan tunangannya. Inilah kisah romansa, DTN ala reverse harem.
Berikut ini adalah quote dari male pairing :
Kuro : Setelah semua yang terjadi padaku, aku ingin mempercayai seorang manusia lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku merasakan kebahagiaan ini. Berjanjilah padaku Hinata, kau tidak akan mengkhianatiku kan? Kau akan selalu ada di sisiku kan?
Kakashi : Dalam hidupku aku kehilangan semua orang yang kucintai. Dan kali ini aku memiliki seseorang yang ingin kuperjuangkan. Hokage Ketiga sempat mengatakan padaku 'jika aku bertemu dengan cahaya itu janganlah pernah untuk dilepaskan'. Dan cahaya itu adalah kau Hinata. Dengan ini aku bersumpah untuk tidak melepaskanmu. Aku akan memperjuangkanmu sampai akhir. Saat itu tiba, mari kita berdua bersama-sama melihat kunang-kunang.
Gaara : Aku menunggu dan terus menunggu. Ditengah kesendirian itu boneka berharga pemberianmu hanyalah satu-satunya teman yang kupunya. Jika ini adalah cinta. Maka kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Jika perang ini usai, mari kita berdua bertemu lagi untuk kedua kalinya. Kali ini sebagai dua insan yang saling mencintai.
Sasuke : Hari paling bahagia dalam hidupku adalah saat dimana kita berdua pergi bersama melihat festival kembang api. Meskipun hanya sebentar, aku bisa melihat masa depan kita. Namun, kenangan itu hanya tinggal masa lalu. Di saat kau mengusirku kala itu. Semua harapan itu telah musnah! Persetan dengan tunangan! Cincin yang mengikat jemari kita telah menghilang hanya menyisakan duka dan amarah yang membara. Hari ini, akan kubunuh kau dan merestorasi kembali klan Uchiha!
.
.
Jadi seandainya kau di posisi Hinata, yang manakah yang akan kau pilih?
See u next chapter
.
.
Lightning Chrome
07042020
