WHITE MARRIAGE
by Gyoulight
.
.
.
.
CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Marriage Life/?
RATING: T/?
.
.
.
.
Pagi yang dingin segera membuka lembar-lembar kesadaran yang ditemuinya. Matahari belum juga muncul saat Baekhyun menjadi orang yang pertama kali bangun. Rasa mual di perutnya lagi-lagi membuatnya harus berlarian ke kamar mandi. Tidak sempat menemukan ibu mertuanya yang entah sejak kapan sudah membuka mata. Bersandar di ranjangnya dengan hanya menyaksikan putra dan menantunya terlelap dalam damai.
Tak lama, Chanyeol yang merasa kehilangan, pada akhirnya selalu ikut terbangun. Mengerjab beberapa kali sebelum bangkit dari posisi. Pria itu ingin mengikuti Baekhyun yang bergegas ke kamar mandi, tapi lebih dahulu pria itu dikejutkan dengan kesadaran ibunya.
"Ibu─" gumamnya tanpa sadar. Kakinya melenggang cepat untuk menggapai. Hendak memeluk sosok ibunya karena terlalu bahagia.
Namun sang ibu malah sibuk mengusirnya pergi. Melepaskan pelukannya dengan segera sampai Chanyeol kebingungan. "Baekhyun. Kau harus melihat Baekhyun!" ujar ibunya panik.
Chanyeol yang kebingungan lantas teringat kembali dengan Baekhyun yang menghilang. Kakinya yang panjang kini berlarian ke dalam kamar mandi. Tidak lupa merogoh saku untuk menelpon kakaknya, memberitahukan saudara perempuannya itu bahwa ibu mereka sudah bangun.
Penampilan Chanyeol yang berantakan kemudian menemukan mual Baekhyun yang tidak tertahankan. Dan seperti biasa, Chanyeol akan menemani Baekhyun hingga selesai. Menjaganya agar tidak terjatuh, membantunya merapikan diri, sampai siap menuntunnya keluar dari sana.
"Astaga, ini memalukan!" tutur Baekhyun mengusap bulir-bulir air yang membasahi dagunya. Sesekali ia menyugar surainya yang coklat sambil bersandar pada dinding. Tidak memperdulikan Chanyeol yang mulai khawatir padanya. Menunggu dengan sabar di sampingnya, hingga semuanya terkendali.
"Apanya?" tidak mengerti Chanyeol.
Baekhyun merengek ingin menangis. Wajahnya tidak berhenti ia tutupi dengan telapak tangan. Chanyeol sendiri memahami bagaimana kondisinya yang menjadi lebih sering memperturutkan emosi. Membuatnya gemar membesar-besarkan masalah sederhana yang ia ketahui sendiri akan menjadi kekanak-kanakan ketika ia coba memikirkannya. "Ibu melihat kita tertidur di sofa."
Chanyeol menyernyit. Untuk beberapa saat otaknya mulai bekerja keras. Rupanya ia sama sekali tidak memahami mengapa Baekhyun tiba-tiba merasa sangat malu dengan ibunya. "Memangnya kenapa? Kita sering melakukannya."
Tapi nyatanya Baekhyun tidak pernah setuju tentang itu. Sebab ia hidup dengan selalu mengedepankan kata 'image' dibandingkan dengan rasionalitas sikap.
"Ini memalukan, Chanyeol," tuturnya masih bersikeras. Masih menolak untuk pergi keluar menemui sang ibu mertua.
"Tidak, Baek. Ini tidak memalukan." Chanyeol mengambil lengan-lengan Baekhyun yang menutupi wajah pucat itu. Berusaha menenangkannya meski ia sendiri diluputi khawatir.
"Kau tidak merasa pusing? Atau kau mau mendapatkan morning kiss-mu?"
Baekhyun memijit keningnya sebentar, merasa semakin frustasi mendengarnya. Pemuda itu kembali merengut, kalau bisa ia ingin segera memukul kepala Chanyeol yang kelebihan bodoh itu. Bagaimana mungkin dalam situasi begini suaminya itu menawarkan ide sinting sekelas morning kiss?
Namun jauh dari perkiraan Chanyeol, Baekhyun justru melakukan hal yang sebaliknya. Setelah ia mendapatkan cubitan di pinggang yang sangat menyakitkan, Chanyeol sama sekali tidak sempat mengeluh sakit.
"Aku sedang tidak ingin mendapatkannya, tapi kurasa tidak masalah."
Dengan cepat Baekhyun menarik rahang Chanyeol mendekat padanya. Mencium pria itu secepat mungkin. Sedangkan Chanyeol balas memeluk pinggangnya, membalas menciumnya tak kalah tergesa.
Mereka akhirnya disibukkan dengan kegiatan pagi mereka. Sebuah rutinitas sederhana yang begitu terburu-buru sebelum pada akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka. Menyisakan sosok Yoora yang hampir menggelindingkan kedua bola mata indahnya ke atas lantai.
"Oh, astaga! Kalian tidak mengunci pintunya!" Sang kakak pun bergeming sebentar melawan rasa syoknya di dada. Sempat melirik keduanya yang tengah panik sebelum akhirnya mengambil langkah seribu setelah menutup pintu.
"Demi Tuhan, Chanyeol─" Baekhyun dirundung malu yang hebat ketika pintu itu kembali tertutup. Kepalanya kini ia tenggelamkan pada pelukan Chanyeol. Tidak punya wajah, seakan ia baru saja kehilangannya.
Chanyeol ingin terkikik, tapi tidak punya nyali, karena ia tahu benar jika Baekhyun akan marah. Lantas ia hanya memeluk pundak Baekhyun dengan senyum jenaka miliknya. Kemudian berbisik, "Tidak apa-apa. Kita kan sudah menikah."
"Aku malu," rengek Baekhyun tidak mau lepas memeluknya.
"Tapi mereka menunggu─" Chanyeol kembali membujuk. Mengambil lengan-lengan kecil Baekhyun di pinggangnya. Ingin membebaskan diri tapi Baekhyun sama sekali tidak mau melepaskannya. "Baekhyun?"
Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya. Menggeleng sedih dalam tangisannya yang terlanjur tumpah. Ia sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya dari sana. "Tidak, aku tidak ingin keluar."
e)(o
Setelah menunggu lebih dari 30 menit akhirnya Chanyeol dan Baekhyun keluar dari kamar mandi yang penuh misteri itu. Kedatangan mereka disambut senyum manis Yoora dan ibunya di sudut. Baekhyun yang menemukan senyum kakak iparnya itu kini mendadak tidak punya muka untuk membuka dialog. Memilih bersembunyi di balik punggung Chanyeol yang sukses menelan habis bayangan kehadirannya.
Yoora mungkin selalu senang menjahili Baekhyun sejak dahulu. Wanita itu akan menyempatkan diri menyapa dengan ramah atau mungkin menggodanya saat bertemu di jalan─ketika dahulu menghabiskan waktu dengan Jongin. Lalu siapa yang menyangka kini Yoora menjadi kakak iparnya? Memergokinya di kamar mandi dengan adiknya pula. Siapa yang tidak tebal muka menghadapinya?
"Sudah berapa lama?" tanya sang ibu membuka pertanyaan kecil. Dan itu berdampak sebesar bom bagi Baekhyun. Entahlah, mengapa ia harus repot bersembunyi seperti anak kecil ketika menghadapi ibu mertuanya begini?
Tapi anehnya, Chanyeol mengetahui maksud pertanyaan ibunya dengan cepat. Seperti benda elektronik yang saling terhubung dengan jaringan nirkabel. Mereka kadang tidak tertebak, dan keanehan keluarga Park sebenarnya semakin membuat Baekhyun curiga jika mereka semua adalah penduduk planet Mars. Tertarik hidup di bumi karena suatu penelitian besar, dan Baekhyun tidak ingin hayalannya ini semakin bodoh mempengaruhi janinnya.
"Mungkin hampir dua bulan," jawab Chanyeol yang dirasa tepat bagi Baekhyun. Dan Baekhyun sendiri berubah tidak percaya jika Chanyeol mengetahui banyak hal soal kehamilannya. Tidak heran kalau pria itu sering menasehatinya soal ini dan itu. Mengatur menu makanannya atau melarangnya memakan sesuatu.
"Ibu senang mendengarnya. Ibu akan mendapatkan dua cucu," ujar mama Park senang luar biasa. Beliau dengan riang melirik ke belakang punggung putranya. Berusaha menemukan Baekhyun yang masih saja tidak terlihat. "Kau harus menjaga Baekhyun, Chanyeol."
Chanyeol mendadak tersenyum canggung. Ia sebenarnya juga tidak punya muka untuk bertemu dengan kakaknya setelah kejadian tadi. Mengingat dahulu kesehariannya dengan sang kakak di rumah saja sudah begitu riuh. Ia dan kakaknya bahkan sering membongkar aib satu sama lain untuk memenangkan hati ibunya.
Tapi lain halnya dengan sekarang. Kakaknya jadi jauh lebih tenang setelah menikah. Kepribadiannya berubah banyak, lebih mirip ibunya malah. Jadi Chanyeol harus tetap waspada pada mulut kakaknya yang tenang. Siapa tahu menghanyutkan.
"Kalian ini kenapa? Keluar dari kamar mandi wajah kalian langsung merah begitu," goda Yoora terkikik. Masih ingin menjahili adiknya yang ternyata sudah dewasa.
Sang ibu mendadak terserang bingung. Ia ingin bertanya 'ada apa', tapi lebih dahulu diinterupsi oleh pertanyaan Chanyeol tentangnya.
"Bagaimana kondisi ibu?"
"Mendengar kau akan punya anak, ibu yakin langsung sembuh," jawab Ibunya terkekeh mendapati Baekhyun yang mengintip. Membuatnya jadi terlihat jauh lebih sehat dibandingkan dengan figurnya yang tidak sadarkan diri semalaman.
"Kemari Baekhyun, kau tidak merindukan ibu?"
Baekhyun perlahan mengembulkan kepalanya dari punggung Chanyeol. Menyunggingkan senyum kakunya sebelum mendekat pada ranjang ibu mertuanya.
"Ya Tuhan, kenapa kau menjadi semakin cantik dari Baekhyun yang biasanya?"
Dengan wajah tersipu, Baekhyun menyambut pelukannya. Lama tidak bertemu sang ibu mertua seketika membuatnya rindu dengan ibunya yang jauh disana. "Kenapa ibu tidak menghubungiku?"
"Ibu tidak mau merepotkan kalian," jawab mama Park melepaskan pelukannya. Wanita itu lantas beralih mengelus surai menantunya dengan lembut. "Ibu hendak pergi ke rumah sakit sebelum dibawa kemari."
Melihat wajah sedih kedua anaknya yang berada di belakang Baekhyun, mama Park kembali tersenyum bangga. Berhasil mengantar kedua buah hatinya menemukan tujuan hidup, membuatnya sedikit mengingat mendiang suaminya. "Jangan khawatir, ibu akan baik-baik saja setelah operasi. Lagipula hanya usus buntu, tidak parah."
Chanyeol mengambil jemari ibunya. Mengusapnya sayang setelah ia ikut mendudukkan diri di kursi. "Aku tidak pernah ada untuk ibu," ucapnya menyesal.
Sang ibu menggeleng. Mengusak surai putra kebanggaannya dengan penuh kasih. Berlinang air matanya melihat bagaimana putranya telah tumbuh dewasa. Berbeda dari Chanyeol yang dahulu selalu membuatnya sakit kepala. "Ibu tidak percaya, kini kalian sudah dewasa. Kalian punya tanggung jawab yang lebih besar sekarang."
Yoora akhirnya berhambur memeluk ibunya. Menangis menyembunyikan ibunya yang ikut berderai air mata. "Ibu, maaf─"
e)(o
Ribuan mahasiswa berkumpul dalam satu ruangan yang ditata dengan kursi. Auditorium dihias sedemikian rupa dengan bunga-bunga ucapan selamat berjejer dari pintu masuk. Beberapa rangkaian acara pun dengan cepat berlalu beberapa menit yang lalu. Baekhyun akhirnya siap dengan toganya di depan sana. Menjadi yang paling lega setelah tali toga disampirkan ke sisi kanannya.
Chanyeol dengan bangga menyaksikannya di kursi terdepan, bersama dengan ibu, ayah dan kakaknya yang memeluk bunga. Tepukan bangga dapat Baekhyun saksikan dari jauh sana. Walaupun ia terlambat, ia tidak pernah sedih soal itu. Yang terpenting adalah menyaksikan ayah dan ibunya tersenyum bangga padanya.
"Hyung, selamat! Kau meninggalkanku sendirian di kampus sekarang," celoteh Sehun datang memberi selamat. Tak lupa pemuda itu membawa hadiah kumpulan bunga di lengannya.
"Terima kasih, Sehun."
Tak lama, Chanyeol muncul merangkulnya. Menjemputnya untuk segera mengambil posisi sambil mengajak Sehun untuk bergabung. Jongin dan Kyungsoo ternyata sudah menunggu dengan kameranya. Semua telah siap dengan beberapa persiapan. "Kau tidak berterima kasih padaku?"
"Kau tidak menemaniku sidang seperti Sehun," ejek Baekhyun mencubit pinggang suaminya. Seperti biasa. Membuat pria itu sedikit menjauh darinya namun tidak benar-benar melepaskannya.
Kikikan mereka kemudian berdebur bersama. Tersimpan dalam memori foto yang terbidik dalam kamera. Baekhyun kemudian tenggelam dalam pelukan ibunya. Bermanja-manja seperti anak kecil sebelum semua orang kembali. Singkat cerita, Luhan yang kadang terganggu dengan kehadirannya segera memutuskan untuk berhenti bekerja di Seoul. Meninggalkannya seorang diri karena harus pindah bekerja.
"Aku pikir kalian menikah kontrak," bicara Luhan menembus sepi.
"Luhan!" interupsi ayahnya yang tidak terima. Lagi pula pria itu tidak mau menantu luar biasanya, Chanyeol, tersinggung dengan perkataan putranya.
Luhan terkikik. Teringat kembali pada kejadian malam itu. Dimana ayahnya menampar Chanyeol dengan penuh emosi. Efek horror itu bahkan masih tersimpan dengan baik di memorinya. Bahkan setelah semua itu, lucunya mereka malah mengobrol banyak hal bersama sampai pagi. Mendadak akrab seperti ayah dan anak sungguhan sampai ia terabaikan.
"Aku mau keponakan laki-laki," celetuk Luhan memainkan kakinya. Lebih tepatnya, menendang-nendang kaki kursi depan yang diduduki adiknya.
"Bagaimana kalau kau saja yang menikah?" celetuk ibunya memasuki percakapan. Tidak lupa menekan sikap Luhan yang masih kekanak-kanakan dengan kakinya. Ia pun lelah sendiri menunggu putra sulungnya itu menyusul sang adik.
Luhan berakhir mencebik. Inilah mengapa dahulu ia tidak setuju adiknya menikah mendahuluinya. Karena ia akan ditodong pertanyaan serupa soal menikah selama melajang. "Nanti saja kalau keponakanku sudah lahir," jawabnya masam.
"Curang," Baekhyun mengajukan protes. Segera memukul Luhan dengan buket bunga yang ia bawa dalam pelukan.
Luhan berubah protes. Bunga pemberiannya mendadak hancur berkeping-keping. "Sial! Aku membeli bunga ini mahal-mahal untukmu, sekarang kau hancurkan begini?"
Sementara Chanyeol hanya bisa tertawa dengan kemudinya. Bukan tengah canggung karena kehadiran ibu dan ayah mertuanya, ia hanya berusaha tetap berkonsentrasi membawa mobil itu menuju bandara.
e)(o
Setelah menempuh satu jam perjalanan di udara, kini Baekhyun sampai di vila dengan setumpuk lelah. Pemandangan langit di Jeju kali ini adalah yang terindah dalam sejarah perjalanan Baekhyun. Ini adalah kali pertama ia berlibur di awal musim dingin. Setelah terbang dengan pesawat, mereka berakhir dengan bersantai di vila. Tempat dimana mereka tinggal saat sebelumnya hari libur mereka harus berantakan.
Tapi kali ini mereka memutuskan untuk tidak menerima layanan untuk makan, jadi Chanyeol sendiri yang akan memasakkannya sesuatu selama di Jeju. Dan selama dua hari pula, Chanyeol akan mengurus sesuatu di hotel perusahaannya. Meski lumayan sibuk, tapi Chanyeol selalu pulang tepat waktu.
Seperti saat ini, saat semua pekerjaan Chanyeol selesai, pria itu menyiapkan sesuatu untuknya. Seperti rencana, akhir pekan mereka akan dihabiskan untuk bersenang-senang. Diawali dengan pesta makan hanya berdua dengan pemandangan laut di halaman belakang, ditemani suara debur ombak yang tenang.
Chanyeol yang banyak diam, ada di sudut sana untuk membakar daging. Tak lupa Baekhyun bernyanyi sambil menunggu. Dan itu mengundang tawa keduanya di dekat pantai.
Chanyeol lalu mengambilkannya potongan daging yang berukuran kecil. Memastikannya matang dengan tepat, ia kemudian meniupnya. Memanggil Baekhyun yang sibuk dengan musik di ponselnya setelah irisan daging sapi itu mendingin.
Baekhyun pun datang dengan riang. Membuka mulutnya dengan lucu lalu menerima suapan dagingnya. Chanyeol sempat terkikik menunggu respon Baekhyun. Pandangannya tak lepas dari kunyakan Baekhyun yang mencicip. Karena sungguh, ia selalu senang dengan komentar jujur Baekhyun tiap kali ia memasakkannya sesuatu.
Dan pria itu kemudian lega saat Baekhyun tersenyum senang mengunyah dagingnya. Memberinya anggukan sebagai pengganti komentar rasa puasnya.
"Apa ada lagi?" tutur pemuda itu memperhatikan panggangan dagingnya yang setengah matang. Berharap ada beberapa yang bisa ia santap sebelum semuanya matang.
"Tunggu sebentar," saran Chanyeol membolak-balikkan potongan dagingnya. Ia juga tengah berharap sesuatu yang dimasaknya itu akan lebih cepat matang karena ia pun tengah lapar.
Baekhyun duduk dengan patuh di kursinya. Sembari menunggu dalam lamunannya, ia kembali bersenandung. Benar-benar sabar menunggu sampai sepiring daging itu datang bersama Chanyeol di seberang kursinya.
e)(o
Salju pertama turun saat malam semakin larut. Menghujani udara dengan bulir-bulir putih yang cepat sekali mencair. Seperti anak kecil, Baekhyun keluar dari balkon besar kamarnya. Tidak berhenti mendongak mencari butiran halus itu menghujani rambutnya. Lupa jika ia tengah diserang dingin yang berhasil menembus jaket tebalnya.
Chanyeol yang mendadak merasakan udara malam menembus dirinya, kini ikut menyusul keluar. Pria itu rupanya telah menimbang banyak hal seharian. Dan mungkin karena tidak punya banyak persiapan sehingga ia gugup sendiri. Tapi tetap, tangannya ragu-ragu mengambil sesuatu dari sakunya.
"Baekhyun?"
Ketika Baekhyun beralih menatapnya, Chanyeol mendekat padanya. Berlutut dengan salah satu lututnya lalu mengeluarkan kotak beludru dari saku. Keterdiaman mereka kemudian saling berjelajah. Chanyeol yang diliputi gugup dan Baekhyun yang tergugu. Sebuah paket lengkap untuk malam mereka yang belum disambut tidur.
Chanyeol berdehem sebelum melanjutkan, "Kau tahu aku bukan orang yang menarik. Bukan pula seseorang yang bisa membahagiakanmu. Tapi─"
Baekhyun membisu, irisnya terpana pada kilau cincin yang dihujani salju putih. Menatap Chanyeol yang berlutut di hadapannya pun seperti sebuah mimpi. Seperti dongeng dalam buku-buku cerita, yang tidak akan diduganya berakhir indah begini.
Bayangannya lalu tergerus dalam cerita masa lalu mereka. Berawal dari mereka yang dipertemukan sebagai tetangga hingga bisa memutuskan menikah untuk alasan kebebasan. Dan entah sejak kapan Chanyeol yang kaku, tidak menarik dan membosankan bisa berakhir berlutut di depannya. Memohon seperti seseorang yang tidak bisa kehilangan dirinya, seperti kisah film romansa yang ia nikmati sebelum tidur.
"hiduplah denganku. Terus berada di sampingku, menemaniku makan di meja makan kita lagi, menonton film, bertemu dengan pagi yang lain, lalu memperbaiki semua hal yang pernah kita sesalkan─" Chanyeol menjeda. Meminta dingin di sekitarnya untuk tidak membuatnya semakin gugup.
"Maukah kau melanjutkan kisah ini denganku?"
Baekhyun merasakan matanya memburam. Sukses mengaburkan bayangan Chanyeol di hadapannya. Dentuman di dadanya pun semakin keras terasa. Melupakan fakta bahwa lutut Chanyeol bisa sakit dan lengan itu bisa pegal, ia jadi ingin segera menjawab. Tapi hatinya seakan tidak pernah siap. Ia sendiri yakin jika cintanya berlabuh pada Chanyeol, dan Chanyeol pun tengah mencintainya. Namun jika ia mengiyakan, apa Chanyeol tidak akan menyesal?
"Kau mau, kan?" tanya Chanyeol menatapnya penuh permohonan. Dan sekali lagi, tatapan bulat itu begitu tulus mengharapkannya. Tidak bercanda, tidak seperti awal mereka jumpa yang segalanya masih terasa buram tanpa tujuan.
"Kau tidak akan menyesal?" lirih Baekhyun menahan linangan air matanya. Ia sendiri ingin sekali tinggal. Ingin menghabiskan banyak waktu yang menyenangkan dengan Chanyeol. Kembali menulis kisah dalam penikahan mereka yang awalnya putih sampai berjejak, dan ia sendiri tidak ingin menghitung halaman yang pernah mereka tulis.
Chanyeol tersenyum tanpa kenal pegal. Posisinya masih belum berpindah di hadapan Baekhyun. Telah memutuskan untuk tidak akan pindah sampai yang ditanyainya menjawab. "Kau adalah orang yang tepat, jadi aku tidak akan menyesal," jawabnya.
Air mata Baekhyun tumpah. Menyaksikan itu, air wajah Chanyeol berubah khawatir. Pria itu nyatanya tidak tahu mengapa ia bisa menangis diluputi bahagia yang membah.
Chanyeol beranjak dari sana. Memastikan yang dilamarnya baik-baik saja seperti orang bodoh. Baekhyun bahkan lupa jika Chanyeol tidak pernah mengerti bagaimana cara melamar dengan baik. Pria itu tidak tahu jika yang dilamarnya bisa saja menangis tersedu karena senang hati luar biasa. Chanyeol yang kaku, melamar Baekhyun saja entah ia dapatkan saran dari mana.
"Asal kita tidak menikah ulang─aku mau," jawab Baekhyun akhirnya.
Chanyeol bisa tersenyum lega soal itu. Lagi pula menikah ulang juga tidak masalah, tapi kalau dipikir-pikir akan menghabiskan banyak uang juga. Jadi mungkin tidak akan perlu, di samping semua akan syok mendengar mereka yang dahulu tidak serius menikah. Terutama ibunya, Chanyeol tidak ingin mengambil resiko. "Kita kan sudah menikah, kenapa harus menikah ulang?"
Baekhyun merapus air matanya sendiri. Ia sebenarnya tengah menunggu kapan Chanyeol memasangkan cincin itu untuknya. "Kapan kau pasangkan cincinnya?"
"Pasang sendiri." Chanyeol menyodorkan kotak itu. Kembali dengan cepat ke dalam mood tidak romantisnya yang Baekhyun sering kesalkan.
"Mana ada yang begitu," delik Baekhyun protes. Rusak sudah suasana hatinya yang berbunga-bunga. "Kau ini sedang melamarku, kan?"
"Cium dulu," bisik Chanyeol mendekat pada telinganya.
Baekhyun berubah mencebik. Kusut sudah alam pikirannya, digantikan kesal yang tidak tertolong menatap senyum kelebihan lebar milik Chanyeol.
Tampan darimananya coba si Chanyeol ini?
"Enak saja!"
Lantas Chanyeol yang lagi-lagi tersenyum kini meraih lengannya. Menariknya masuk ke dalam vila yang sunyi. Sambil membersihkan salju yang menempeli rambutnya, Baekhyun masih berkedip, meresapi melodi indah yang entah datang dari mana. Mengiringi lembut genggaman manis Chanyeol padanya. Dengan senang hati pria itu membukakannya jaket tebal yang melekat di tubuhnya.
Chanyeol kembali menariknya untuk semakin memasuki kamar mereka. Tanpa kata, pria itu menutup rapat pintu sebelum menghampirinya tanpa kata. Baekhyun mendadak diserang gugup ditatap suaminya. Sedangkan Chanyeol seakan menunggu sesuatu yang mungkin disetujuinya barusan dengan menatap tanpa bosan wajahnya yang mulai memerah.
Chanyeol lalu menghimpitnya di sudut, meraih rahangnya sebelum menunduk. Dan tanpa sempat menghitung detik, pria itu menciumnya dalam. Membawanya lebih dekat untuk menghalau dingin yang ikut masuk. Jemari Baekhyun yang membeku lalu bergerak menggapai lengan Chanyeol dalam degupan keras jantungnya.
Nafas mereka berlarian panik mencari pasokan. Sebelum paru-paru sesak, jantung lelah meribut, Chanyeol memilih melepaskannya. Menatapnya dengan raut terbakar, dan dahi yang masih saling bersandar.
Baekhyun sibuk mengatur nafas, menyelami keterdiaman lama mereka. Lantas siapa yang tidak jatungan, jika mereka hanya menghabiskan waktu berdua dengan beradu tatap. Tidak melakukan apapun sampai Baekhyun bosan mencari kurang Chanyeol dimana.
"A-aku mau tidur," gugup Baekhyun susah payah bicara. Ia buru-buru menyingkir dari sana. Wajahnya yang merah padam tentu akan meruntuhkan rasa percaya dirinya. Namun lengannya sukses ditahan, kembali digenggam jemarinya.
Baekhyun berubah menciut. Tidak tahu mengapa ia bisa selemah ini menghadapi Chanyeol. "P-pasang cincinnya," bicaranya kembali mencoba mengalihkan suasana berat di sekitarnya.
"Kau bahkan belum menciumku," jawab Chanyeol sedatar tembok. Dan itu membuat Baekhyun mendadak malas.
Lalu yang tadi itu apa?
Chanyeol bagi Baekhyun sebenarnya bukan pria yang romantis. Tidak mahir merangkai sesuatu yang membuat jantungnya terus berdegup gila. Ia kadang hampir merasakan semua itu, nyaris malah. Namun pada akhirnya Chanyeol akan kembali pada dirinya yang biasa. Jujur dan apa adanya.
Tapi sebenarnya Chanyeol yang seperti inilah yang Baekhyun suka. Ia tidak perlu suami yang pintar membual. Ia hanya perlu yang bisa membuatnya tersenyum senang.
"Jangan marah begitu," sahut Chanyeol menyaksikannya naik ke atas ranjang. Meringkuk ke dalam selimut sampai tidak terlihat.
"Aku tidak marah," respon Baekhyun mati-matian mengatasi panas di wajahnya.
Ranjang itu kini bergerak saat Chanyeol ikut menaikinya. Pria itu mendekat pada punggungnya. Menarik-narik selimut yang ditahan Baekhyun. "Coba kulihat."
Semburat merah semakin menampar pipi Baekhyun. Jantungnya sudah lebih dulu memprotes ingin keluar dari dadanya. Sungguh berdekatan dengan Chanyeol saat ini malah lebih mendebarkan dari sebelumnya. Membuatnya tidak punya nyali untuk sekedar menatap.
"Lampunya belum mati."
Chanyeol terkikik. Ia senang membuat suami mungilnya itu merona. "Memangnya kenapa kalau terang?"
"Pokoknya harus matikan lampu," rengek Baekhyun tidak kunjung keluar dari dalam selimut.
Tidak punya pilihan, akhirnya Chanyeol beranjak mematikan saklar lampu. Kembali menghampiri Baekhyun yang bersembunyi, menunggu pemuda itu mengembulkan kepalanya. "Sudah."
Maka muncullah surai coklat yang berantakan itu di hadapannya. Berkedip polos sipitnya diterangi remang. Sungguh, tidak bohong Chanyeol dapat melihat wajah itu begitu bersinar di matanya.
"Terus?"
"Terus?" ulang Chanyeol tidak bosan menatapnya.
"Kapan kau akan tidur?"
Kedipan malu-malu itu lantas membuat Chanyeol gemas. "Kalau kau?"
"Sekarang," jawab Baekhyun kembali bersembunyi. Merentangkan selimutnya dengan cepat sampai tidak terlihat kembali.
Chanyeol lalu tak menyerah mendekat padanya. Menarik selimut itu dalam sekali tarikan sampai mendapati paras yang dicarinya. Wajah merah Baekhyun bahkan sudah tidak tertolong untuk terkejut. Jantungnya mencengkram kuat ketika Chanyeol bergerak mengukungnya. Menatapnya teliti seakan mengabsen dirinya yang sudah lama hilang.
Mungkin Baekhyun pernah menyaksikan Chanyeol sebelumnya. Bagaimana pria itu berbisik padanya, menuntunnya terbang, serta menciumnya dalam debaran yang menggila. Ia tahu benar semua itu. Tapi sungguh, kali ini perasaannya dua kali lipat lebih mendebarkan dari sebelumnya.
"Chanyeol?" Baekhyun kehabisan akal dalam mengatasi kegugupannya. Pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghindari Chanyeol─selain mengajaknya bicara.
"Ngomong-ngomong, kau mau dia laki-laki atau perempuan?" gugup Baekhyun meraba letak perutnya. Ia dirundung cemas, pun tidak mampu menatap manik itu lama-lama. Tidak seperti tadi, tidak sebiasa kemarin-kemarin. Sungguh Baekhyun tidak pernah siap menghadapi ini.
Dengan senyum terbaiknya, Chanyeol menjawab, "Laki-laki atau perempuan aku tidak masalah."
Chanyeol rupanya paham jika ia gugup. Pria itu lalu meraih pipinya lembut. Menuntunnya kembali pada maniknya yang bersinar dalam gelap. Pria itu tengah meyakinkannya dengan senyum paling manis yang ia punya.
Namun sebelum membawa Baekhyun ke dalam ciumannya, Baekhyun lagi-lagi menahannya.
"Tunggu, kita tidak akan melakukannya, kan?"
Chanyeol terkekeh. Gemas sendiri menghadapi Baekhyun yang gugup setengah mati. "Kalau iya, memangnya kenapa?"
Baekhyun membola. Rahangnya mendadak sulit untuk bicara. "A-aku belum siap, bisakah kita melakukannya besok?"
Chanyeol menggeleng.
"Atau besok pagi saja?" dan Chanyeol kembali menggeleng.
"Chanyeol, aku─"
Belum melanjutkan kalimatnya, Chanyeol sudah bergerak menciumnya. Lengan-lengan itu menyingkirkan jemarinya ke samping, bertaut dengan miliknya begitu pas. Siap untuk mengajaknya berpetualang dalam kisah malam yang berbeda dari sebelumnya.
e)(o
Chanyeol membuka sekali lagi pintu kamar mereka dengan sekelumit perasaan. Ini kali kedua ia menyambangi kamar itu setelah menyiapkan sarapan. Tidak ada yang berubah, Baekhyun masih terjaga dalam tidur panjangnya. Tidak juga berganti posisi sejak ia bangun dari sana.
Pria tinggi itu lantas mendekat, tidak berani mengusik. Diam-diam ia mengambil kursi di dekat jendela sambil menatap punggung Baekhyun yang masih ditutupi selimut. Perasaannya diluputi bersalah yang besar. Tidak tahu hendak mempersiapkan kalimat apa selepas suaminya bangun.
Semenit kemudian tubuh itu bergerak dalam selimutnya. Mengembulkan kepalanya lucu lalu berbalik menghadapnya. Chanyeol tersenyum tanpa sadar. Ia bahkan tidak tahu, bisa sebegini menyenangkannya menatap Baekhyun dikala terlelap. Dan entah, sejak kapan pastinya, menunggu mata itu mengerjab sudah menjadi sesuatu yang candu baginya.
"Kau tidak ingin bangun?" tanyanya lembut menatap sipit yang mulai terbuka. Kerlingan mata bulan sabit itu lalu menangkapnya. Menerjemahkan berbagai cahaya yang mulai masuk lewat jendela di belakangnya.
Sosok itu menguap. Tidak kuasa bergerak dari posisinya. "Mungkin tidak."
Chanyeol terhenyuh. Rasa bersalah kembali berputar di atas kepalanya. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan selain, "Maafkan aku."
"Kau meninggalkanku dan lebih memilih duduk disitu." ucapnya masih menekan keningnya. Mencoba beranjak dari sana tapi terlanjur malas. Namun walaupun begitu, tubuh pucatnya masih mencoba berlindung dari selimutnya. Tidak sudi muncul di hadapan Chanyeol untuk yang kesekian kalinya.
Chanyeol terkekeh. "Kau harus makan." Ia memberikan saran. Tahu-tahu saran itu terdengar tidak berperasaan bagi Baekhyun.
"Aku lebih harus mandi," balas Baekhyun kesal. Pemuda itu rupanya merasa tidak dihargai. Seakan ditinggal begitu saja setelah melalui malam yang panjang bersama.
Chanyeol yang tidak tahu diri malah tersenyum. "Sehun menelpon."
Baekhyun menggulung selimut itu di sekujur tubuhnya. Mencari letak pakaiannya di sekitar tapi ia rasa percuma. Karena mereka semua sudah lenyap, entah dibawa kemana oleh Chanyeol. "Tentu saja. Aku punya sesuatu yang harus dibicarakan padanya."
"Tapi tidak aku angkat─"
"Chanyeol!" Baekhyun semakin kesal. Sungguh ia benar-benar ingin pergi memukul wajah Chanyeol sekarang. Setelah semua yang mereka lalui, Chanyeol masih saja bisa tersenyum bodoh padanya. Tidakkah canggung rasanya? Dia saja tidak mampu menatap kedua mata itu lama-lama.
Chanyeol tertawa. Entah Baekhyun tengah benar-benar marah atau tidak, yang jelas dalam keadaan seperti ini pun ia tidak bisa menganggap perkataan suaminya itu menjadi serius. "Tidak mual?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak."
"Kau yakin?" tanya Chanyeol beranjak dari kursi. Mengambilkan Baekhyun sebuah bathrobe dari dalam lemari, lalu memasangkannya pada pundak Baekhyun.
Belum Baekhyun membenarkan letak benda itu dan memasangnya, tahu-tahu pria itu sudah menciumnya tanpa permisi. "Morning," bisiknya sangat terlambat.
Baekhyun sebenarnya senang karena Chanyeol selalu memberinya morning kiss walaupun ia mual. Tapi nampaknya, pria itu tetap akan memberikan hadiah walaupun dirinya tidak muntah. Dan ia lebih ingin protes ketika Chanyeol kembali meraihnya. Membawa dirinya kembali terbaring di bawah selimut tebal. Menjelajahinya seperti puppy yang begitu merindukannya.
"Chanyeol, ini sudah pagi," komentar Baekhyun lembut, mengelus surai Chanyeol di atasnya demi mencegah pria itu mengganggu paginya. "Kita cukupkan, okay?"
Namun Chanyeol tidak mau dengar. Ia malah tenggelam memeluk Baekhyun. Meraih jemari suaminya lalu memasangkan cincin yang sempat mereka abaikan semalam. "Aku sampai lupa."
"Aku yakin kau tidak lupa jika sebelum ini aku adalah tetangga asingmu."
"Dan kau tahu yang paling membekas dalam ingatanku?" Chanyeol pun tak kalah membawa cerita lamanya. "Ketika kau menyelamatkan kucing yang terjepit di jendelaku."
Chanyeol pun terkikik. Renyah sekali sampai menular pada Baekhyun. "Kau benar-benar orang yang paling konyol─"
Dan Baekhyun lebih dari bahagia ketika suara berat itu berbisik─
.
"Tapi aku mencintaimu."
.
"Aku juga mencintaimu," jawab Baekhyun balas mencium bibir itu singkat.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
Akhirnya SELESAI.
Aku lega banget karena bisa nuntasin ff ini. Sekali lagi aku mau bilang makasih sama kalian yang gak bisa aku sebutin satu-satu. Terima kasih untuk review, follow, favorite dan masukan untuk ff penuh kurang ini. ILYSM.
Kemudian untuk sequel? Maaf, aku gak bisa janji. Aku mungkin bisa ngasi sequel suatu hari, tapi aku masih gak tau apakah aku akan membuatnya atau tidak. Jadi kemungkinan 'tidak ada'. Tapi aku akan kembali dengan ff yang lain. Tidak akan cepat, tapi suatu hari pasti. Semoga aku bisa cepat balik dengan ff yang lain. ( Hobi aku rebahan soalnya :D )
Untuk yang mau bertanya atau belum paham dengan alur yang aku tulis silahkan PM. Atau kalau kalian mau DM ke IG aku juga gak apa-apa. IG aku gyoulight juga kok hehe.
Akhir kata, semoga kalian selalu bahagia. Jangan lupa jaga kesehatan.
See you next time!
