Menurut kalender akademik St. Carat University, hari ini adalah hari pertama pembelajaran reguler di semester ganjil.

Semester ganjil berarti awal bagi mahasiswa baru. Maka dari itu sejak akhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus ini, Seokmin disibukan oleh beragam kegiatan yang berhubungan dengan kemahasiswaan.

Seperti hari ini Seokmin harus menghadiri upacara penyambutan mahasiswa baru dan menyebabkan Jisoo sendirian di mansion Lee.

Jisoo tidak punya jadwal di hari senin, maka dari itu ia memilih merelaksasikan dirinya di mansion.

Kandungannya memasuki usia 11 minggu. Dibanding Wonwoo yang memasuki usia kandungan 5 bulan, tentu saja perut Jisoo belum terlalu menonjol.

"Jisoo-ya…."

Itu suara Jeonghan.

Jisoo segera menuju ke ruang depan dan terlihat Jeonghan yang membawa berbagai macam produk kesehatan dan kecantikan.

"Jeonghanie… Siapa yang ada di belakangmu?"

Ucapan Jisoo itu membuat Jeonghan menyerit. Pasalnya ia sendirian dari apartemen untuk menuju ke mansion Lee.

"Aku sendiri. Siapa yang kau maksud?"

Jeonghan menolehkan kepalanya dan ia terkejut kala sesosok pria terlihat memandang ke arah mereka dari luar pagar.

Jujur saja, jarak antara pintu utama dan pagar lumayan jauh. Namun Jeonghan dan Jisoo dapat melihat sosok yang berdiri dengan mencurigakan itu.

Pria itu menggunakan pakaian serba hitam dan terlihat menggunakan kacamata serta topi bundar.

Dor.

"Mwoya?!"

Kedua namja itu tersentak kaget kala melihat sosok pria itu menembak ke arah security yang berjaga di pos depan mansion.

Rumah keluarga Lee tidak seperti keluarga Choi yang memang memiliki basic di pertahanan. Siapa coba yang mau menjadi musuh St. Carat Foundation? Mungkin ada, namun kemungkinan untuk bersaing dan punya banyak musuh seperti RED Corporation itu sedikit.

Jeonghan langsung menarik tangan Jisoo dan menuju ke area belakang mansion.

Keempat mansion Quattuor Coronam didesain untuk memiliki pintu keluar yang lebih dari satu. Lama mengenal Jisoo serta Quattuor Coronam yang lain membuat Jeonghan paham dimana letak pintu keluar lain.

Sambil berlari, Jeonghan menghubungi Seungcheol dengan agak panik begitu pula dengan Jisoo yang menghubungi Seokmin.

"Shit. Seungcheol tidak mengangkat."

"Yeoboseyo. Seokmin, aku dan Jeonghan dikejar oleh seseorang. Ia menembak security dan mungkin sudah masuk ke mansion. …. Baik kita bertemu disana."

Sambungan telepon diputus.

"Jeonghan, kita cari lokasi yang ramai. Seokmin akan menjemput kita di depan Redish."

Kedua namja cantik itu berlari ke area pertokoan yang padat akan pejalan kaki.

Dor.

Seluruh pejalan kaki disana otomatis berteriak dan menunduk begitu pula dengan Jeonghan dan Jisoo.

"Apa itu?"

"Tembakan?"

"Ada yang terluka?

"Ada apa ini?"

Keributan mulai terjadi.

Dor.

Dan pada tembakan kedua, seluruh pejalan kaki mulai berlarian tak tentu arah. Teriakan penuh kepanikan menghiasi sekitaran.

"Sial. Ia tak peduli tempat ramai! Dimana pula polisi di jam segini?!" Ucap Jeonghan.

Ia kembali menarik lengan Jisoo dan mereka menembus kerusuhan yang terjadi.

"Kandunganmu baik-baik saja, Jisoo?" Tanya Jeonghan.

Mereka sudah ada di pinggir jalan yang agak sepi. Jeonghan membawa Jisoo untuk bersembunyi di balik vending machine.

"Kuharap. Aku sudah lama tidak berlari seperti ini." Kata Jisoo dengan senyuman tipisnya.

Tak lama mereka bisa melihat mobil Seokmin terlihat berhenti di sebrang jalan.

Jalan ini adalah jalan besar sehingga jarak mereka sangat jauh.

Suut…

Jeonghan dan Jisoo bisa merasakan sebuah jarum menusuk leher mereka.

Dengan segera Jeonghan menarik jarum itu dan terkejut kala ia sangat tahu bahwa itu adalah bius.

"Si..al…"

Brukk…

Tubuh kedua namja itu terjatuh tak sadarkan diri.

"Hei!" Teriak Seokmin saat ia melihat istri dan temannya dibawa masuk ke dalam sebuah mobil hitam.

Buagh.

Seseorang memukul bagian belakang kepala Seokmin, menyebabkan pria itu pingsan seketika.

"Saatnya pembalasan dendam…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Boss, ada berita gawat. Lee Buseok berhasil melarikan diri."

Hansol langsung menegakan tubuhnya yang sebelumnya menyandar pada kursi kerjanya.

Ucapan Teen bukanlah ucapan main-main. Tidak seperti Seven yang suka bercanda, Teen bukanlah sosok yang akan mengucapkan lelucon mengenai hal genting.

"Bagaimana bisa?"

"Sepertinya kita kemasukan mata-mata yang menyamar. Ia menukar dirinya dengan Buseok dan Buseok kabur menggunakan penyamaran."

"Alligator sampai kecolongan, pasti ada sesuatu yang tidak beres bukan? Sudah sampai mana penyelidikan?"

Seven menyerahkan sebuah berkas.

"X Clan adalah dalang dari semua ini. Mereka bahkan menyediakan kendaraan untuk Buseok kabur."

Alligator bisa kebobolan? Hal yang tak pernah terpikirkan dan terbayangkan. Dengan segala SDM dan teknologi, Alligator masih bisa dicurangi seperti ini?

Satu hal yang Hansol pahami bahwa rencana X Clan kali ini bukanlah hal biasa.

Handphone Seven menampilkan pemberitahuan panggilan dari Jihoon.

Seven segera memencet tombol accept dan seketika muncul video call dari Jihoon di layar komputer di hadapan Hansol.

"Hansolie. Aku mendapat laporan kepolisian bahwa terjadi penembakan di area Gangnam. Ketika aku melihat cctv di area itu, aku menemukan Jeonghan hyung dan Jisoo hyung berlari. Ketika aku mengecek cctv di persimpangan, mereka terkena bius dan dibawa oleh sebuah mobil. Seokmin yang sepertinya menjemput Jisoo hyung juga ikut dibawa... Ini deklarasi perang, Hansolie."

Suara Jihoon di sebrang sana terdengar serius.

"Kau bisa melacak chip Jeonghan hyung, hyung?" Tanya Hansol.

Jihoon terlihat duduk di sebuah kursi dengan cahaya tamaram. Ia mengotak-atik laptop yang ada di samping kirinya dan memicingkan mata.

"Chip Jeonghan hyung terakhir aktif 10 menit lalu di area pantai Incheon. Jika dalang dibalik ini adalah X Clan, berarti chip Jeonghan hyung dipaksa keluar dari tubuhnya, karena tidak mungkin Selene mengnonaktifkan chip hyungnya."

Hansol terlihat memicingkan matanya.

"Seven hyung, kirim Seungkwan, Chan, Wonwoo hyung, Mingyu hyung, Soonyoung hyung, dan kalau bisa Myeongho hyung juga ke tempat yang aman. Aku tak ingin mereka mengalami luka terlebih Wonwoo hyung dan keponakanku. Dan jangan sampai Seungkwan melihat darah."

Seven langsung mengangguk dan terlihat menelepon seseorang.

"Jihoon hyung, hubungi aboeji-eomeoni, Seungcheol hyung, dan Selene. Katakan untuk bertemu di markas sekarang juga."

Jihoon yang diberi perintah langsung menurut.

"Teen, kerahkan seluruh agen untuk mencari tahu dimana mereka bertiga disekap."

Teen langsung bergerak meninggalkan ruangan.

Hansol menekan beberapa nomor dan langsung menampilkan sesosok pria dewasa di layar monitor.

"Sawadee khrub." Ucap Hansol yang menyapa menggunakan bahasa Thailand.

"Sawadee Vernon! So rare you call directly. Need something?"

"Brother Kao, I need a maximum supply of weapons from UWMA Corp as soon as possible. Code Red."

"Where are you?"

"South Korea. I sending the location."

Sosok yang dipanggil Kao itu mengangguk mengerti lalu terlihat memberikan sinyal.

"Weapons from Korea branch have been sent. If not enough, I'll send the ones from Shandong and Fukuoka."

"Thanks brother. Everything all right in Thailand?"

"Yeah, everything good….. Vernon, whatever the case, I hope Alligator survive."

Hansol mengangguk.

"That all, brother. See you."

"Yeah see you."

Sambungan video terputus.

Pemasok senjata utama Alligator adalah buatan UWMA Corp yang memiliki cabang di seluruh dunia.

Dan untuk perang, senjata adalah aspek penting yang diperlukan oleh Alligator.

Beberapa saat telepon Hansol berdering. Ia langsung mengangkatnya kala tahu siapa yang menelepon.

"Selene ada bersamaku. Kami akan menuju markasmu segera."