WHITE MARRIAGE
by Gyoulight
.
.
.
.
CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Marriage Life
RATING: T
.
.
.
.
Pagi itu, Baekhyun masih menatap korden jendelanya yang meliuk-liuk di kamar. Tatapannya jatuh pada pepohonan besar yang semakin rindang di halaman. Masa dirasa ikut berlalu, bersama akhir musim semi sebelum semua daun mereka menguning. Udara hangat akan segera hilang diganti dingin. Menyatu bersama alam yang memperkenalkan falls kepada bumi.
Untuk sesaat, Baekhyun mengusap perutnya yang membuncit. Merasakan pergerakan janinnya yang aktif di dalam sana tanpa memperdengarkan keresahannya sendiri. Namun janinnya mungkin tahu jika ia tengah mengkhawatirkan sesuatu. Jadi si kecil di dalam sana seakan berusaha untuk bicara padanya, hendak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Di belakang, Chanyeol sibuk memindahkan banyak pakaian ke dalam tas besar. Pria itu masih berkonsentrasi dengan pekerjaannya, tidak perduli jika ia bolos lagi dalam bekerja. Karena menurutnya, Baekhyun selalu nomor satu. Pria itu akan melakukan apapun untuk suaminya. Sama dengan ketika Baekhyun mengidam sesuatu di pertengahan malam, ia tidak akan kenal gelap mencarikannya tteokbokki. Dan pria tinggi itu selalu mengabulkan apapun yang Baekhyun inginkan, seperti genie─entah bagaimana caranya.
Baekhyun lalu beralih memperhatikan kesibukan Chanyeol di lemarinya. Si tinggi itu rupanya masih dilanda kebingungan, mungkin masih memikirkan apa lagi yang harus ia masukkan sebagai tambahan.
Mengetahui dirinya diperhatikan sedemikian rupa, Chanyeol jadi kikuk sendiri. Sambil menggaruk kepala, pria itu tersenyum manis pada suaminya. Dan Baekhyun selalu terpikat pada senyum itu. Selama ini tidak akan pernah menyangka jika ia bisa kecanduan pada senyum lebar Chanyeol yang khas.
"Apa kita melupakan sesuatu?" tanyanya lembut. Mendekat pada sosok Baekhyun yang masih betah duduk di tepi ranjangnya. Menikmati sinar pagi yang masuk, sampai kulit putihnya semakin bercahaya menyilaukan.
Jemari cantik itu bertumpu pada dagunya. Anggukan Baekhyun selalu berhasil dalam meyakinkannya. "Sepertinya sudah cukup."
Mendengar jawaban Baekhyun, Chanyeol kemudian ikut duduk di sampingnya. melegakan sejenak kebingungannya. Siapa tahu setelah beristiahat sejenak, ia bisa mengingat hal lain yang harus ia bawa.
"Ini pertama kalinya kita melalui ini," ujar Chanyeol memindahkan jemari Baekhyun ke pangkuannya. Ditatapnya cincin mereka yang bersinar di bawah silau, hingga tidak percaya sendiri bahwa sudah tiba saatnya mereka untuk memulai kisah sebagai orang tua.
Menatap Chanyeol yang tidak kalah resah, Baekhyun pura-pura kuat untuknya. Namun mau disembunyikan bagaimanapun, Chanyeol selalu tahu jika ia takut. Karena menurut Chanyeol adalah wajar jika seseorang khawatir menjelang hari kelahiran anak pertama mereka. Kakaknya pun demikian, jadi Chanyeol sedikit lebih paham bagaimana menanganinya.
"Semuanya akan baik-baik saja." Chanyeol meyakinkan Baekhyun seperti suami kakaknya beberapa bulan yang lalu. Ia mungkin pemula, tidak memahami bagaimana melalui ini semua. Tapi Chanyeol jauh lebih dari yakin bahwa mereka berdua dapat melalui segalanya dengan versi mereka sendiri.
Mata Baekhyun yang bersinar berkedip beberapa saat. Menyentuh relung hati Chanyeol yang gusar tanpa suara. Pria itu sejujurnya dilanda takut jika suatu saat mata itu tidak dapat berpendar lagi padanya.
Namun dengan senyum yang sederhana, Chanyeol mulai bercerita bagaimana gambaran peristiwa menyenangkan kakaknya─yang hari itu membuatnya takjub bukan main. "Ketika dia lahir nanti, kita akan mendengar tangisan pertamanya."
Baekhyun beralih menjauhkan maniknya dari pandangan Chanyeol yang dibutuhkannya. Chanyeol tahu benar jika ia gelisah, ada banyak perasaan di dalam dirinya yang mengganggu. Bahkan ketika tidur pun ia jadi tidak lelap karena terbayang sesuatu yang tidak diinginkan.
"Aku belum mengabari ibuku," ucapnya pelan. Untuk saat ini mungkin memang pelukan ibunyalah yang Baekhyun butuhkan.
"Aku akan menelponnya nanti." Tubuh itu Chanyeol rengkuh dalam pelukannya. Jika beberapa bulan lalu ia bisa merapatkan diri lebih erat dengan Baekhyun, kini sesuatu sudah hadir di antara mereka. Mau tidak mau pelukannya dikendurkan sedikit, karena perut itu juga butuh ruang untuk dibagikan kisah.
"Aku takut sekali, Chanyeol."
Baekhyun melirih. Entah mengapa mendengar hal itu membuat Chanyeol semakin khawatir dengan suaminya. "Ada aku. Jangan terlalu dipikirkan."
"Aku jadi teringat sesuatu," lanjut Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun di bawah dagunya. Wajah si mungil itu kemudian mendongak. Mencari maniknya yang jernih untuk mendapatkan jawabannya.
Tidak tahan dengan gemas yang dilihatnya, Chanyeol malah tersenyum jenaka. Mengantarkan rajukan Baekhyun yang masih belum mendapatkan ketenangan yang diharapkannya. "Kau belum mandi."
Sosok itu kembali memeluknya. Tidak memperdulikan kikikannya yang renyah, lalu bersandar pada dadanya untuk bersembunyi. "Airnya dingin."
"Oh, maaf, aku lupa memperbaiki keran air panas kita." Chanyeol masih terkikik. Beralih mengusap punggung suaminya beberapa kali, sebelum ia lepaskan untuk membuat sepanci air panas dengan kompor. "Aku akan mendapatkannya untukmu."
e)(o
Memasuki priode akhir mungkin sedikit mengerikan bagi para ibu. Mama Park datang dengan begitu sering membawakannya banyak buah. Dengan beberapa nasihat dari mertuanya itu, Baekhyun lalu paham bagaimana suka-dukanya menjadi orang tua. Ada segurat ingin segera ia peluk ibunya. Ingin berterima kasih dengan layak karena telah melahirkannya ke dunia.
"Oh, kenapa Chanyeol belum pulang?" Mama Park resah sendiri di kursinya. jemarinya tidak lepas dari ponselnya yang tidak bersalah. Wanita itu terus saja mendial nomor putranya kalang-kabut. Tidak tahu harus bagaimana jika perasaannya tiba-tiba kacau.
Baekhyun membiarkan mertuanya berjalan mondar-mandir di depannya. Sementara ia menikmati apelnya dengan lahap. Mencari kesibukan, selagi Chanyeol sibuk dan juga akan terlambat membawanya ke rumah sakit.
"Chanyeol bodoh, suaminya mau melahirkan dia belum juga pulang," omel mama Park tidak kenal menyerah. "Anakku atau bukan, sih?"
Baekhyun pun terkekeh dibuatnya. Sudah berapa kali bulan Chanyeol menceritakan hidupnya yang tersiksa akibat omelan ibunya. Semenjak ia hamil pun Chanyeol-lah yang menjadi bulan-bulanan ibu mertuanya. Meski terkadang itu adalah kesalahannya, Chanyeol melulu yang disalahkan. "Sebentar lagi pasti datang, bu."
"Tidak bisa. Kalau kau kontraksi sekarang, ibu bisa panik." Mama Park lalu mendial banyak nomor yang ia kenal di ponselnya. Salah satunya mungkin Jongin. Salah satu pria yang akan sangat ia percaya untuk memata-matai putranya. Bukannya tidak percaya kalau Chanyeol itu setia pada Baekhyun, hanya saja ibunya sering khawatir tentang kesehatan putranya yang selalu gila kerja.
Baekhyun kembali terkekeh, sampai lupa kalau ia bisa mudah tersedak karena sesuatu akhir-akhir ini. Dan benar saja ketika Baekhyun berhenti tertawa, kerongkonganya mendadak ingin meledak. Bukan hanya karena efek tersedak, ia pun merasakan nyeri yang tidak tertahankan di perutnya.
Mama Park buru-buru berlarian ke arahnya. Memapahnya untuk berpindah ke sofa depan, sedikit menunggu Chanyeol yang terlambat datang dengan mobilnya. Sementara Baekhyun menekan bagian bawah perutnya. Tidak dapat merasakan apapun ketika dirinya kesulitan bernafas.
Tidak punya pilihan, sang ibu mertua menelpon nomor taxi di ponselnya. Membawakan segelas air dari dapur untuk Baekhyun minum. Tapi setelah meminumnya sekali teguk Baekhyun masih mengeliat sakit.
"Ibu, sakit," lirihnya berkeringat dingin.
Belum panggilan taxi itu tersambung, kini Chanyeol sudah muncul di halaman. Berniat membuka pintu dengan hati riang, ia malah disemprot oleh ibunya yang panik. Sebelum otaknya bekerja, sebelum matanya melotot keluar, Chanyeol langsung paham mengapa ibunya marah ketika ia baru saja pulang. Baekhyun tidak baik-baik saja.
Segera ia mengangkat tubuh Baekhyun masuk ke dalam mobilnya. Memasang sabuk pengaman, bersiap dengan kecepatan penuh tanpa ingat semua perlengkapan yang seharusnya ia bawa dari kamarnya. Untuk pertama kalinya, Chanyeol merasa dunianya segera berakhir. Ia ceroboh. Tidak seharusnya ia meninggalkan suaminya di kala serius seperti ini.
e)(o
Sepanjang perjalanan, mama Park memeluk Baekhyun yang menahan sakit. Jemari menantunya itu ia genggam kuat-kuat di kursi belakang. Ucapannya meracau, mulai dari omelan menyuruh Chanyeol untuk lebih cepat, sampai beberapa bait doa yang ingin dilantunkannya ketika ia menangis.
Chanyeol bersumpah tidak bisa mendengar semua itu. Pikirannya kosong, wajahnya pucat, lelah sendiri mendengar degupan keras jantungnya di telinga. Maka saat semuanya terlihat sudah dekat, Chanyeol berhambur menggendong Baekhyun di lengannya. Membawanya berlarian di koridor rumah sakit. Ibunya pun tak berhenti mengekorinya pergi.
Petugas medis berlarian menjemput mereka, meletakkan Baekhyun pada matras beroda yang kemudian pergi meninggalkannya. Chanyeol kembali berlarian menggenggam jemari Baekhyun yang pucat. Sampai akhir pria itu menemaninya memasuki lorong yang lain. Dan tiba dimana pintu operasi dibuka, genggaman mereka terlepas. Mata berair Baekhyun lalu menjadi satu-satunya yang Chanyeol lihat dari bahu medis yang menahannya untuk tidak masuk.
Chanyeol lalu berakhir membeku di depan pintu yang tertutup. Menyaksikan yang tercintanya digotong semakin jauh. Menghilang di antara lorong gelap di dalam sana. Setetes air matanya jatuh. Tubuhnya limbung mundur. Degupan keras jantungnya sendiri masih bertalu-talu. Entah bagaimana ia mendeskripsikan kondisinya kini.
Untuk sesaat, Jongin muncul di sana bersama Kyungsoo dan putra kecil mereka. Ibunya disambut ramah oleh Kyungsoo. Suami temannya itu ikut duduk di sebelah ibunya, ikut menenangkan ibunya. Sementara Jongin menepuk pundaknya yang terduduk di lantai.
"Kau seperti bukan Chanyeol yang ku kenal," canda Jongin tidak kenal waktu. Dan itu sungguh tidak selucu perkiraan Jongin tentangnya. "Tenanglah, kau akan mendengarnya menangis sebentar lagi."
Alhasil Chanyeol memukul kaki Jongin tanpa perasaan. Terserah, Kyungsoo akan suka atau tidak soal suaminya yang dianiaya. Yang jelas saat ini ia kesal. Sedang tidak ingin diganggu siapapun selain berdoa.
e)(o
Hampir dua jam Chanyeol menunggu di depan pintu. Pintu itu masih tidak kunjung terbuka. Belum ada kabar sama sekali selain sunyi yang terdengar dari dalam sana. Tangisan Taeoh dalam gendongan Kyungsoo lalu menjadi satu-satunya yang memenuhi lorong. Anak itu pasti sudah mulai haus. Bosan dengan penantiannya yang dipaksa sabar oleh kedua orang tuanya.
Alhasil Jongin pamit menemani Kyungsoo untuk pergi ke suatu tempat. Semua orang kemudian hilang digantikan dirinya bersama sang ibu yang masih resah di kursi tunggu. Tidak lama, ibu dan ayah Baekhyun akhirnya tiba. Bersama Luhan yang tak kalah cemas menghampirinya. Semua orang lalu berbaur membagi harap cemasnya. Hanya Chanyeol yang memisahkan diri. Masih diam memperhatikan pintu yang tidak kunjung terbuka.
Lima menit meniti ketakutannya, hingga kemejanya tidak layak dipandang, bayangan para medis mulai terlihat di ujung sana. Chanyeol dengan degupan yang semakin keras lelah menahan dirinya. Buru-buru ia menghambur, mendengar dengan jelas bagaimana tangisan keras dari sosok kecil dalam gendongan itu.
Semua orang mendekat. Sementara si dokter membawa kabar. "Operasinya berhasil."
Haru dan lega bercampur menjadi satu. Teraduk dalam malam yang begitu sejuk. Ditambah dengan tangisan sosok kecil yang membuat semua orang terpana. Sang perawat kemudian menyerahkan sosok kecil itu pada ayahnya.
Chanyeol dengan tangan gemetar membawa sosok kecil itu ke dalam dekapannya. Menatap kulit putih yang mulai memerah itu menangis, dengan sejuta rasa. Chanyeol tidak mengerti hendak mengatakan apa, tidak tahu harus melakukan apa pada sosok yang digendongnya. Hanya menatapnya dalam tangisan syukur saja Chanyeol bingung bagaimana melakukannya.
Tangan kecil itu bergerak kecil. Membuat tangisan Chanyeol semakin menjadi karena terlalu bahagia. Ciuman kecil lalu ia daratkan di dahi kecil itu. Sebelum semuanya berjalan dengan lambat, gotongan lain datang tepat di depannya. Untuk sejenak ia teringat dengan kehadiran Baekhyun. Lantas kakinya membawa kejarannya. Cepat-cepat menyusul dengan kerumunan.
Selesai dipindahkan ke ruangan pemulihan, Chanyeol dapat menyaksikan Baekhyun terbaring lemah di ranjangnya. Kedipan takjub dari suaminya itu langsung menerpa kala tangisan kecil yang ia bawa diserahkan padanya. Pelukan Baekhyun lantas meredakan tangisan itu. Membuat bayinya terhanyut, begitu tenang dalam pelukannya.
"Lihat dia, Chanyeol," ucap Baekhyun mengajaknya semakin dekat. Menunjukkannya sepasang mata yang begitu jernih. Lengkap dengan bibir mungil merah muda yang menguap.
Semua layaknya sebuah mimpi. Chanyeol ingin menangis lagi menyaksikan semua peristiwa itu. Kelegaan di dadanya bagai terendam air hangat. Nyaris tidak menapak rasanya. Ia merasa dirinya telah terbang disambut awan. Terlalu jauh terbang menggapai bahagia yang bak banjir bah ditampung di hatinya.
Untuk pertama kalinya, Chanyeol merasakan degupan jantungnya yang hidup. Bukan karena degupan yang menandakannya hidup, melainkan hal luar biasa yang membuatnya lupa diri. Ia terlalu bahagia mendapatkan ini semua. Terlalu luar biasa sampai tidak mampu dirinya diseret untuk berkata-kata.
"Matanya seperti milikmu," bisik Baekhyun memelan. Tahu benar bahwa bayi mereka akan terbuai kantuk. "Selamat datang ke dunia."
Senyum indah Baekhyun terlukis di wajah pucatnya. Terlihat sangat berbeda dari yang pernah ia saksikan. Chanyeol bahkan bisa bersumpah, bahwa ia belum pernah melihat senyum semanis itu. Yang kemudian ia hadiahkan sebuah kecupan bangga di bibir tipis itu. Tidak berpikir jika semua orang menonton mereka di belakang. Ingin lupa, bahwa Luhan sudah iri setengah mati menyaksikannya.
Baekhyun menatap manik suaminya yang berair. Ikut menangis pula saat salah satu jemari itu menelusuri pipinya. Memberi kehangatan yang jauh lebih sempurna.
"Dia luar biasa sepertimu," lirih Chanyeol tak berhenti tersenyum bahagia. "Aku bahagia sekali sampai tidak bisa mengatakan apapun padamu."
Baekhyun tergugu. Tangisnya pecah tidak tertahankan. Untuk sejenak manik mereka kembali bertukar. Menyatakan cinta yang tak terhitung lewat buraman air mata, ditemani kedipan halus buah cinta keduanya. Belum pernah Baekhyun merasa selengkap ini.
Chanyeol mencium kening suaminya yang berpeluh. Berterima kasih yang besar pada sosok itu karena telah menghadirkannya sebuah cinta. Mengenalkannya sebuah kasih yang luar biasa, lalu melengkapi hidupnya sekali lagi, untuk memulai babak baru dalam kisah mereka yang lain. "Aku mencintaimu, Baekhyun. Sangat-sangat mencintaimu."
e)(o
9 Months Later
Semburat kemerahan menghias langit yang biru kala Chanyeol memarkir mobilnya di halaman. Hendak ia masukkan ke dalam garasi nanti malam kalau ia sempat. Ia membongkar bagasi mobilnya. Mengambil bingkisan rapi berpita─yang katanya oleh-oleh─dari kakaknya itu masuk ke dalam rumah.
Menekan beberapa digit kode rumahnya, Chanyeol buru-buru masuk ketika pintu berhasil terbuka. Serunya lalu riang mengatakan, "Aku pulang," dengan lantang. Ia disambut oleh Baekhyun yang sibuk menggenggam botol berisi bubuk susu di tangan kirinya. Lelaki itu mengintip dari dapur sambil menunggu jerang air. Tidak mampu berpindah kemana pun selagi sibuk membuat sesuatu.
Sementara Chanyeol berlarian menghampiri sosok kecil di lantai ruang tengahnya. Jasnya dilepas di ujung sofa, melempar semua yang pria itu bawa sembarangan. "Oh, lihat, Yuanie main sendiri." sapanya mengecup si pipi gempal yang asik menggigit robot mainan di tangan mungilnya.
Sedangkan yang diciumnya hanya mematung menatapnya. Tidak berkedip dan masih sibuk dengan gigitan pada tangan robotnya. Sama sekali tidak perduli dengan kehadirannya yang sudah kepalang gemas ingin menggendongnya pergi.
"Kau benar-benar mirip papamu, huh?" Chanyeol segera merebut mainan robot itu dari putranya. Mencegahnya memakan benda-benda yang tidak baik untuknya, lengkap dengan menggeleng-geleng.
Namun Yuan menangis. Putranya menangis keras sekali setelah disembunyikan robotnya. Chanyeol berubah panik, nyaris pecah ruang tengahnya dengan tangisan si kecil. "Yuanie tidak boleh makan robot, tidak boleh─"
"Chanyeol, kau belum cuci tangan!" Kini teriakan Baekhyun yang melalang buana di telinga lebarnya. Suaminya itu datang tergopoh-gopoh dengan botol susu. Tentu setelah tahu Yuannya menangis, suaminya itu segera berlari seakan dapur dan ruang tengahnya terpisah sejauh dua kilometer. "Kau pulang membawa virus, kuman dan bakteri. Itu tidak baik untuknya."
Baekhyun buru-buru membawa Yuan ke dalam gendongannya. Memberi si kecil itu botol susunya sampai yang digendongnya berhenti menangis. Tapi terkadang sikap posesif Baekhyun pada putranya yang seperti itu membuat Chanyeol gemas sendiri. Selain pintar mengurusi rumah, ia terkadang sangat ingin memuji bagaimana telatennya Baekhyun mengurusi bayi mereka.
"Sudah ku bilang kan, letakkan barang-barangmu dengan benar!" Baekhyun beralih menendang-nendang jas suaminya yang tergeletak di lantai. Menyuruh Chanyeol yang hanya mendongak bodoh menatapnya di lantai untuk segera bergerak.
"Baek, aku baru saja pulang," keluh Chanyeol memasang wajah merajuk, minta diperhatikan. Tapi mau mendapatkan gelar imut dari mana kalau Baekhyun sudah memasang wajah masam ingin mengulitinya. Terakhir kali mungkin Baekhyun selalu mendengarnya, namun entah mengapa sekarang jadi tidak berhasil begini?
"Lalu?"
"Kau tidak mengurusku," jawab Chanyeol masih mencurutkan bibirnya walaupun tidak dianggap lucu.
Baekhyun mendadak kesal melihat suami besarnya itu merajuk tidak lucu di dekat kakinya. Kemeja suaminya itu bahkan terlalu kusut, dasinya tidak tentu bentuknya dan jangan lupakan rambut berantakan Chanyeol yang sudah pasti habis dari lelah menemui klien menyebalkannya. Ugh, terlalu banyak yang harus Baekhyun urus selain penampilan Chanyeol yang tidak layak dipandang itu.
"Apa yang harus aku urus? Memandikanmu?"
Chanyeol kini beranjak. Menyadari bahwa usia pernikahan mereka hampir memasuki dua tahun, memang menjadi cerita tersendiri. Wajar kalau dibumbui kesan menyebalkan satu sama lain. Entah dirinya, entah Baekhyun, sama-sama imbang jika mau adu pertandingan menjadi pelaku sabar.
"Tapi terakhir kapan kau mandi denganku," bisik Chanyeol mendekat pada suaminya. Mencuri cium pipi Baekhyun yang tak berhenti mengerutu karenanya.
Baekhyun menyingkir. Kesal sekali menghadapi perlakuan Chanyeol yang tidak tertebak. Bukan apa-apa, dirinya gampang sekali merona kalau diperlakukan begitu. "Aku memperingatkanmu untuk segera mandi dan merapikan barang-barangmu."
Satu kecupan lagi mendarat di pipi Baekhyun. Manis sekali, sampai Baekhyun berhenti marah. "Iya, sayang," jawabnya segera merapikan banyak hal.
e)(o
Bagi Baekhyun, Chanyeol masih saja pria yang tidak romantis. Pria itu masih berlaku semena-mena padanya. Berbicara sesukanya, tapi tidak sejelas bagaimana awal pernikahan mereka yang menyebalkan. Singkatnya, Chanyeol berubah menjadi suami yang jauh lebih pengertian untuknya dan juga Yuan.
Pernah suatu ketika pria itu datang dengan kumpulan bunga. Saat itu Baekhyun masih belajar memasak, sampai lupa memasukkan garam atau gula ke dalam supnya. Alih-alih masakannya berakhir kering karena terlalu lama tercengang dengan kehadiran Chanyeol yang menyodorkannya kumpulan bunga cantik di dapur.
"Untukmu," ucapnya datar. Tidak ada senyum manis, kata-kata manis atau tambahan manis lainnya, sampai Baekhyun berpikir untuk menuangkan setoples gula di atas kepala Chanyeol sebagai pelengkap.
Lalu setelah ia menerima buket bunga warna-warni yang harumnya semerbak, pria itu malah melenggang masuk ke kamarnya. Menutup pintu rapat-rapat seolah benar takut ditaburi setoples gula olehnya. Padahal demi Tuhan, Baekhyun belum mengucapkan apapun.
Bukannya tidak suka, Baekhyun tidak habis pikir saja darimana pria itu mendapatkan ide konyol memberinya bunga sepulang kerja suntuk. Dapat saran dari film, kah? Dari buku, kah? Dari cerita orang, kah? Tidak mungkin kan kalau ide konyol itu keluar begitu saja dari kepala si tiang itu? Kok, random sekali?
Dan hari ini, Chanyeol betah duduk di ranjangnya ketika Baekhyun selesai mandi. Suami anehnya itu masih bergelut dengan dokumen seperti saat awal ia memasuki kamar mandi. Padahal Baekhyun sudah berjam-jam berendam air panas. Plus mengeringkan rambut dan memakai pakaiannya di dalam sana dengan benar, tapi posisi pria itu sama sekali tidak berubah. Masih terfokus pada kertas-kertas yang entah apa isinya.
Namun sebelum Baekhyun bersuara, ia menemukan sesuatu di samping suaminya. Bungkusan rapi yang sempat hendak ia buang karena berantakan, tapi masih berada di tempat yang tidak ia setujui juga. "Apa ini?"
"Oleh-oleh dari noona," jawab suaminya tidak menoleh. Pria itu masih memasang fokus dengan baik rupanya.
Baekhyun ber'o'ria, menyesal karena tidak bertanya sejak sore tadi. Seharusnya ia cepat-cepat merespon, lumayan kan dapat oleh-oleh dari Eropa?
"Ngomong-ngomong, apa Yuan sudah tidur?" tanyanya yang entah mengapa sudah bisa meninggalkan bacaannya. Digantikan oleh pria itu yang menatapnya tanpa berkedip. Cukup serius seperti petinggi yang ingin mengajaknya rapat dadakan.
Baekhyun mengangguk. Kalau dipikir-pikir, ia memang lebih dekat dengan Yuan sejak Chanyeol naik ke kursi direktur. Suaminya itu jadi lebih sering kelelahan, lebih sering lembur di tempatnya bekerja. Baekhyun sendiri terkadang selalu merasa jika Yuan menjadi jauh dari ayahnya yang kini jarang berada di rumah. Karena ia sendiri pun merasakan hal yang sama dalam dua bulan terakhir.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," lanjut Chanyeol kemudian menutup mapnya. Ia lebih kentara melakukan rutinitasnya membaca hanya karena menunggu Baekhyun selesai dengan semua pekerjaannya.
Maka Baekhyun menaiki ranjang mereka. Duduk bersila di hadapan Chanyeol dengan piama yang jelas sama dengannya. Ia berjanji hendak mendengar dengan patuh, meski bukan seperti dirinya. "Aku juga punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu."
Chanyeol berdehem sebentar. Memutar posisinya dengan baik, agar bisa berhadapan langsung dengan Baekhyun. "Menurutmu, apa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"
Sebagai pendengar, Baekhyun kikuk menggaruk tengkuknya. Pembicaraan serius semacam ini mungkin selalu mereka lakukan sebagai pillow talk, tapi kali ini nampaknya berbeda dari sebelumnya. Cukup serius kalau mereka mau menamainya dengan embel-embel rapat orang tua. "Ya, kau begitu akhir-akhir ini."
"Kau tidak suka?" Sampai pada Chanyeol yang menelisik sepasang mata Baekhyun yang dipenuhi lelah. Yang wajar karena seharian ini sibuk mengurusi pekerjaan rumah dan Yuan. Selalu begitu.
"Bukannya aku tidak suka. Aku tahu kau sedang melakukan tanggung jawabmu. Tapi Yuan masih kecil, jadi aku hanya mengkhawatirkan dirinya yang menjadi asing denganmu," jawab Baekhyun tenang. Tidak menyangkutkan gejala apapun, bahkan ketika jemarinya berpindah ke dalam genggaman Chanyeol sekalipun.
"Kau tahu? Aku baru memikirkan itu saat aku pulang tadi," bicara Chanyeol pelan. Keresahan terpancar dari wajah lelahnya. Ia pun segera dibakar rindu untuk duduk manis lebih banyak dengan keluarga kecilnya. "Yuan tidak lagi menyambutku. Mungkin dia marah karena si daddy melupakannya."
Chanyeol berakhir menghela nafasnya. Hirau dengan pemikiran Baekhyun yang mulai bekerja. Dan mungkin akan jauh dari pemikirannya sendiri jika suaminya itu mulai mengkhwatirkannya. "Aku mungkin harus membatalkan perjalananku ke Jepang."
"Kenapa?" Baekhyun bertanya.
"Aku ingin di rumah saja dengan Yuan," jawab Chanyeol tersenyum pahit memainkan jemari suaminya. Mencari letak cincin mereka yang selalu berada disana, tidak terganti dan berpindah kemana pun. Sedangkan pikirannya sibuk memikirkan rencana untuk hari esok.
Lantas Baekhyun mengusap punggung tangan Chanyeol yang dingin. Paham benar bagaimana perasaan resah Chanyeol selama ini. Ia pun sebenarnya tidak tega menyaksikan Chanyeol yang jatuh lelah setiap kali ia pulang. Lelah menemukannya terlelap begitu saja tanpa menyapanya yang menunggu. "Berhentilah mengacaukan perusahaanmu sendiri. Kau punya peranan penting bagi mereka."
"Aku tidak terbiasa dengan jam kerjaku." Chanyeol mengeluh sekali lagi. Selama ia menjadi karyawan biasa, ia tidak pernah sepenat ini walaupun sering lembur. Tapi untuk kali ini entah mengapa rasanya ingin segera menyerah saja. "Dan bisa aku tebak, pekerjaanmu di rumah pasti bertambah dua kali lipat."
"Dengar Chanyeol, aku melakukannya karena mereka adalah tanggung jawabku. Sama dengamu," Baekhyun berusaha mendirikan kembali mood Chanyeol yang terjatuh. Sekali lagi ia ingin Chanyeol tidak menyerah. "Kau itu penerus keluarga Park, kau akan punya tanggung jawab yang jauh lebih besar nantinya."
Chanyeol berakhir menatapnya serius. Sambil memainkan jemarinya, pria itu tersenyum manis penuh bangga. Dan entah mengapa ditatap begitu sering masih membuat Baekhyun berdebar-debar. Apalagi dengan senyum luar biasa Chanyeol yang menawan, silahkan buang dia ke lautan kalau Baekhyun menolak pesona seorang Chanyeol yang tidak pernah luntur.
"Aku tidak tahu sejak kapan kau berubah banyak begini," tuturnya mendobrak semua pintu pertahanan Baekhyun yang damai. Lelah sekali memang dihajar kasmaran. Belum lagi dengan usakan di kepala. Ditambah dengan pertanyaan semesra, "Kau tidak merindukanku?"
Habis sudah wajah Baekhyun merona.
"Aku baru saja ingin membicarakan itu denganmu," jawab Baekhyun santai. Berusaha keras menyembunyikan jantungnya yang ingin melesak keluar. "Sudah dua bulan sejak terakhir kita berbicara berdua begini."
"Aku punya akhir pekan yang baik sebelum pergi ke Jepang sendirian." Manik Chanyeol membekukan semua yang dilihatnya. Kini raut itu penuh ingin, berbeda dari raut biasanya yang segera hilang diganti kantuk.
"Jadi minggu ini?" tanya Baekhyun gugup. Bodoh kalau dirinya tidak tahu kemana arah pembicaraan Chanyeol yang seperti ini. Sudah nyaris dua tahun, tidak mungkin dia tidak bisa membaca animo suaminya.
"Aku harap kau sedih," kikik Chanyeol pelan. Tidak mau Yuan yang terlelap di sebelah kamarnya terganggu. Dan itu akan sangat tidak tepat baginya.
Baekhyun merebut jemarinya. Terlalu lama digenggam menurutnya. "Kenapa aku harus sedih? Suamiku sedang berusaha mencari uang."
"Aku sudah punya banyak ngomong-ngomong," respon suaminya asal. Kembali ke dalam mood tidak kreatifnya.
Baekhyun berdecih. Segera masuk ke dalam selimut untuk menjemput kantuknya. "Punya banyak uang tapi tidak punya waktu."
Melihat itu, Chanyeol mengikutinya berbaring di sebelah bantalnya. "Sekarang aku punya banyak waktu, mau menemaniku?"
Baekhyun mematung. Ia tiba-tiba jadi banyak berpikir soal itu. Pun ia sendiri sadar jika ia dan juga Chanyeol memang sering melupakan hal penting dalam hubungannya. "Maksudmu─"
Chanyeol mendekat padanya. Mengukungnya diam-diam tanpa ia sadari. "Membuatkan Yuan adik," bisiknya dengan suara baritonnya.
Hal itu membuat Baekhyun menyingkir dari Chanyeol. Lebih tertarik untuk menjauhkan Chanyeol dari jangkauannya, sebelum jantungnya meledak sembarangan. "Satu saja tidak terurus olehmu, sekarang mau tambah lagi?"
"Kan kita tidak tahu akan berhasil atau tidak," kekeh Chanyeol tetap mengejarnya. Kali ini ia menarik Baekhyun, membuatnya diam di bawah kungkungannya.
Baekhyun yang merona parah malah memukul bahu Chanyeol yang tiba-tiba menjadi dekat dengannya. "Oh, bicaramu ini!"
e)(o
Baekhyun segera mendapatkan kesadarannya saat silau sudah memancar dari jendela. Siang rupanya sudah menyingsing. Menjemputnya dari kesadaran yang entah sejak kapan telah hilang. Maka dirinya bergerak, menelusuri sisi ranjangnya yang lain. Tahu-tahu ia menemukan sosok raksasa di sebelahnya.
Tidak terkejut, Baekhyun menemukan senyum itu terlukis indah dalam buraman mata. Chanyeol dengan pakaian rapi, rupanya memilih menungggunya terbangun. Dengan sabar pria itu mengelus rambutnya penuh kasih. Memberinya ciuman selamat pagi berkali-kali sampai Baekhyun protes.
"Kalau aku tahu seperti ini rasanya, mengapa tidak dari dulu saja aku menikah denganmu?" ucap Chanyeol yang sialnya mendayu-dayu dalam kesadarannya. Suara berat itu bahkan sudah seperti zat adiktif yang selalu membuat Baekhyun ketagihan.
"Kau sudah mau pergi?" balas tanya Baekhyun menarik selimutnya. Menggulung benda itu ke sekitar tubuhnya yang polos. Dan itu mengundang senyum nakal Chanyeol yang lain.
"Menurutmu aku harus pergi?" Pria itu rupanya masih betah memandanginya. Tidak bergerak dari posisi, walaupun pakaiannya sudah sangat rapi.
Baekhyun pura-pura kesal. Ia sebenarnya senang menemukan Chanyeol di sampingnya ketika ia terbangun. Sangat malah. Sayangnya, ia tidak boleh egois untuk memerintahkan pria itu melupakan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Mau makan apa dia nanti kalau suaminya dipecat? "Kau ini bagaimana?"
"Kau bisa menahanku," bisiknya mencuri cium pipinya.
"Oh, bagaimana caranya?" Baekhyun mencubit pipi tirus itu. Lebih dari sedih karena Chanyeol menjadi semakin kurus dengan beban pekerjaannya akhir-akhir ini. "Apa aku harus menelpon pamanmu?"
Chanyeol semakin mendekatinya. Mengukungnya sekali lagi, kemudian mencium perpotongan lehernya yang bebas. "Tidak perlu repot, yang lebih sederhana pun kau lebih dari mampu melakukannya," bisiknya membawa turun selimut itu dengan sapuan halus jemarinya. "Kau hanya perlu menyerangku seperti semalam─aw, aw sakit, sayang!"
Baekhyun mencubit pinggang Chanyeol sekuat yang ia bisa. Berhasil membuat tubuh itu tumbang jauh ke sampingnya. Mengaduh dengan hebat, sampai memohon pengampunan untuk tidak lanjut menendangnya sampai terguling ke lantai. Tapi Baekhyun mana tega melakukannya. Siapa pula yang tega melukai suami sendiri?
"Apa Yuan sudah bangun?"
"Oh, disana. Dia baru saja berhenti menangis." Chanyeol menunjuk Yuan yang sangat tenang bermain di dalam pagar bermainnya. Sibuk memainkan boneka beruang coklat yang berbunyi dengan baik saat ditekan tombolnya. Tapi bukannya menekan tombolnya, si mungil itu malah menggigit apapun yang ditemuinya.
"Sungguh, aku tidak suka dia yang selalu menggigit mainan."
"Itu karena pertumbuhan giginya." Baekhyun terkikik geli melihat tingkah suaminya. Sedikit tidak ia senang karena Chanyeol berhasil menangani Yuan yang selalu rewel saat bangun tidur. "Aku kadang merasa dia mirip sekali denganmu. Dia selalu tenang dan penurut."
Chanyeol menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Menjadi tenang karena pinggangnya sudah tidak merasakan sakit. "Tapi sikap menyebalkannya sama denganmu."
"Kau terlambat," ujar Baekhyun kembali menggulung selimutnya. Hendak beranjak dari sana demi menemukan bathrobe atau hal lainnya yang bisa ia pakai. Karena kalau tidak begitu, Chanyeol bisa khilaf menyerangnya kapan saja.
"Aku mau temani Yuan sampai kau selesai mandi."
Mendengar itu Baekhyun menoleh. Tidak baik baginya membiarkan Chanyeol membolos kerja. "Ibumu akan datang hari ini. Kau bisa diomel habis-habisan kalau tidak segera pergi."
Chanyeol malah bergerak memeluk punggungnya. Tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Aku tidak mau pergi," rengeknya.
Dan itu menjadi sangat menyebalkan bagi Baekhyun. Sebenarnya, ia juga cukup frustasi menghadapi sikap kekanakan Chanyeol yang seperti ini. "Chanyeol?"
"Iya, sayang?" jawabnya lembut di telinga.
"Tidak ada cium kalau begitu." Baekhyun mengancam ketika sosok itu kembali mencarinya. Berusaha menggapai bibirnya yang kerng.
Tapi Chanyeol malah tersenyum jenaka mendengarnya. Tidak mempan baginya diancam begitu. Mau bertaruh pun Chanyeol sudah pasti menang kalau masalah demikian. Baekhyun tentu cepat sekali kalah kalau digoda. "Asal yang seperti semalam masih ada aku tidak masalah."
Baekhyun mendorong tubuh itu kuat-kuat. Sekuat tenaga ia menarik selimutnya untuk pergi bersamanya. "Yang seperti semalam juga tidak akan ada!"
"Oh, lucunya suamiku kalau marah."
Serius, Chanyeol yang digertak begitu malah semakin menyebalkan.
e)(o
Sore jingga lainnya kemudian datang mengahiri akhir pekan Chanyeol yang padat. Pria itu datang setelah mandi dengan pakaian santainya. Berganti shift dengan Baekhyun untuk menjaga Yuan. Yang kemudian suaminya itu buru-buru mandi untuk acara makan malam mereka.
Yuan baru saja dimandikan oleh Baekhyun. Masih beraroma sabun bayi, lengkap dengan aroma bedak yang membuatnya tambah menggemaskan. Rambutnya yang lebat kini sudah disisir rapi. Sudah siap dengan mainan bebek yang ia tangisi saat mandi.
Chanyeol yang menyadari kebiasaan putranya yang akan menggigit mainan kini buru-buru menyembunyikannya di punggung. Tidak menyisakannya satupun sampai Yuan merangkak mencari sesuatu yang harus ia mainkan. Sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah bola karet yang mengganggur di dekat kaki meja. Wajahnya riang menemukan bola itu lalu melemparnya pada Chanyeol.
Chanyeol yang senang karena Yuan tergerak untuk main dengannya, malah menangkap bola itu dan tidak mengembalikannya. "Yuanie, daddy pinjam mainannya."
Yuan merangkak menuju Chanyeol. Hendak mengambil bola yang ditemukannya, tapi tentu, Chanyeol tidak akan pernah memberikannya. Dan akhirnya, Yuan berakhir berteriak kesal. Hendak menangis karena tidak dituruti keinginannya.
"Kau benar-benar seperti papamu." Chanyeol lalu membuang jauh bolanya. Memilih tengkurap di hadapan Yuan yang menangis padanya. "Tidak baik berteriak begitu, sayang."
"Pappa~" rengeknya mencari-cari keberadaan Baekhyun. Pipinya yang gembul sampai memerah karena menangis.
Chanyeol malah mengelus rambut Yuan sayang. Mencium anak itu sambil memberinya tepukan. "Papa mandi dulu, jadi Yuan harus menunggu papa bersama daddy."
"Pappa~" Yuan masih merengek. Menangis dengan sangat tidak bersahabat. Chanyeol sendiri lelah mencari solusi. Dan ia sudah menebak bagaimana frustasinya Baekhyun di dalam kamar mandinya setelah mendengar Yuan menangis. Bisa-bisa setelah ini Chanyeol diusir dari rumah karena tidak becus menjaga anak.
Chanyeol lalu mencoba menenangkan Yuan dengan menggendongnya. Membawanya keluar halaman. Menyaksikan dedunan yang semakin lebat daunnya. "Yuanie sama daddy dulu."
"Pappa," racau Yuan masih mencari sosok Baekhyun yang belum juga muncul di punggungnya. Anak itu masih meminta untuk diturunkan. Belum tenang jika belum menemukan papanya.
"Daddy," koreksi Chanyeol menunjukkan sebatang daun mapel pada putranya. Menggerakkannya lucu seolah daun itu adalah pesawat yang terbang.
Dan hal itu berhasil membuat Yuan tenang. Sosok kecil itu kemudian berusaha menggapai daunnya. Lalu menyunggingkan senyum karena tertarik. "Pappa," ejanya.
"Coba bilang, daddy."
Yuan pun kembali mengeluarkan racauan lucunya. "Pappa."
Chanyeol terkikik, tapi tidak akan menyerah sampai putranya bisa memanggilnya. "Daddy, sayang. Dad-dy."
"Pap-pa," tiru si kecil menatapnya lucu. Anak itu seolah tengah menganalisa wajah ayahnya. Alisnya langsung tertarik ke atas ketika Chanyeol mengulangi ucapannya.
"Daddy."
Namun Yuan semakin berteriak memanggil papanya. Ia sampai meremas kaos yang dikenakan Chanyeol sebagai pelampiasan. "Pappa, papa, pappa!"
"Daebak." Chanyeol berakhir tercengang. Ia buru-buru membawa Yuan masuk setelah menyaksikan langit yang semakin gelap. Tidak baik membiarkan angin dingin menyentuh putranya. "Sayang, kau tidak mengajarkannya memanggilku?"
Baekhyun yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk malah menghidupkan televisi. Tidak mau tahu dengan kesulitan yang dihadapi Chanyeol, karena menurutnya, sudah saatnya ia mengajarkan Yuan untuk tidak selalu bergantung padanya. "Sudah aku ajarkan tapi dia tidak mau mengatakannya."
"Apa yang salah dengan daddy, hm?" Si kecil itu akhirnya mendapatkan ciuman lainnya. Chanyeol yang gemas memangku Yuan di atas sofa. Menunggu Baekhyun selesai dengan dirinya sebelum makan malam dimulai. "Daddy juga sayang Yuanie."
"Dadda~" ucap Yuan mulai tertarik.
Hal itu membuat Chanyeol senang bukan kepalang. Baekhyun sampai terkikik melihat interaksi keduanya yang begitu lucu. "Daddy, sayang. Dad-dy."
"Dadda, diddi, dadda, diddi!" Yuan berseru dengan kikikannya. Mulai memainkan kaos Chanyeol dengan senang karena itu warna biru.
"Oh, lucunya." Chanyeol gemas. Lelah menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi gempal Yuan yang lucu. "Lihat, Baek, dia sudah punya banyak gigi."
"Dadda," sebutnya lagi.
"Dad-dy," koreksi Chanyeol yang tidak menyerah.
"Diddi~"
Ya, tapi mau bagaimana lagi. Chanyeol rasa latihan Yuan harus cukup untuk hari ini. Pria itu kini beralih memeluk Yuan yang terkikik sendiri. Mencium pipi putranya tanpa bosan lalu menyanyikannya lagu tiga beruang.
"Ya Tuhan, kenapa kau lucu sekali?"
Baekhyun sendiri sampai terharu bahagia menyaksikannya.
"Besok kalau dia sudah besar, dia akan jadi apa ya?"
Tiba pada Chanyeol yang tenggelam dalam lautan imajinasinya. Pria itu menatap Yuan dengan penuh kasih sayang. Membiarkan putranya menarik pakaiannya dengan jemari kecilnya. Hampir menggigit kaosnya kalau tidak Chanyeol cegah.
"Jadi anakmu-lah, mau jadi apa lagi?" Baekhyun terkikik. Merasa aneh sebenarnya menonton suaminya yang sibuk sendiri.
"Maksudku, setelah dia besar nanti," koreksinya menoleh dengan wajah datarnya.
"Kita tanyakan padanya saat dia besar nanti," balas Baekhyun mendekat. Ikut mengelus surai putranya yang halus, sambil menyandarkan kepalanya nyaman di bahu Chanyeol. "Dia bisa menjadi apapun yang dia suka."
Chanyeol berakhir tersenyum setuju. Dikecupnya dahi Baekhyun yang bersandar di bahunya. Belum pernah ia merasa sedamai ini dalam hidup. Dan yang lebih penting, ia merasa begitu lengkap karena kehadiran dua orang yang dicintainya di rumah. Mungkin ia pernah salah jika dahulu ia mengatakan tidak membutuhkan sebuah pernikahan. Jika ia tidak menikah, mungkin ia sudah jadi seseorang yang tidak pernah bahagia.
"Baek, aku jadi ingin memiliki satu lagi yang mirip denganku."
Baekhyun berubah masam. Tapi ia sebenarnya tidak benar-benar kesal. Alih-alih ia semakin melingkarkan lengannya di pinggang Chanyeol. Memeluk suaminya sambil memperhatikan Yuan yang mulai menarik rambut basahnya. "Boleh, tapi buatnya jangan sekarang."
Dan Chanyeol mau tidak mau harus patuh pada jawaban suaminya.
.
.
.
.
.
FIN
.
.
.
.
.
Hola!
Aku balik kesini gara-gara gabut haha Extra chapter panjang untuk kalian. Semoga suka.
Serius, selama aku rebahan ada banyak ide yang muncul. Cuman pas aku tulis, jadinya setengah-setengah terus, gak bisa selesai. Dari pada aku kesal, mending aku buat ini aja. Kebetulan lagi suka liat Yuan. Awalnya bingung mau kasi nama apa, jadi tak pakek aja langsung. #imsorry
Dramatis sekali, ternyata aku belum move on. Maaf kalau ada typo dkk.
Jadi beneran selesai sampai disini ya kawan-kawan..
Thank you karena sudah mau balik kesini lagi. Bye, bye...
