"Aku sampai sekarang, tak tahu orang tuamu." Naruto berujar, dia saat ini tengah duduk sembari menikmati teh hangat yang disediakan oleh sang Istri. "Maksudku, beberapa tahun menikah denganmu, aku tak pernah mengetahui siapa orang tuamu."

Tubuh Nozomi menegang sesaat setelah mendengar perkataan Naruto, dia meletakkan gelas berisi teh hangat ke atas meja. Sebuah senyuman kosong tercipta di wajah cantik Nozomi. Naruto mengerutkan dahinya, dia bisa melihat senyuman yang nampak tak ada artinya sama sekali, tercetak di wajahnya.

"Nozomi?" pria itu memanggil nama Istrinya. Wajah sang Istri sedikit tak bisa ia tebak, tapi firasatnya sedikit tak enak saat ini.

"Ikutlah bersamaku, akan kuantar Naruto-kun ke tempat orang tuaku." Nozomi beranjak dari tempat duduknya, dia menggenggam lengan Naruto, dan menarik pria itu untuk mengikuti dirinya.

Mereka berdua keluar dari rumah tradisional itu, Naruto masih bingung kemana dia akan di ajak. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Nozomi, wanita itu terlihat diam saat dia menarik Naruto. Ada sebuah perasaan yang mengganjal di hati Naruto saat dirinya ditarik Nozomi.

"Kita sampai."

Naruto diam, mulutnya terkunci seolah dirinya tak bisa mengeluarkan suara. Dia langsung menatap Nozomi yang saat ini sedang menunduk disertai dengan wajah sedihnya, sejurus kemudian, Naruto memeluk bahu Nozomi lalu mencium kepala ungu milik istrinya itu.

Dia menatap dua buah batu nisan yang bertengger di belakang kuil yang dijaga Nozomi. Letakknya jauh ke belakang, dan hampir masuk ke dalam hutan. Naruto tak menyangka jika kedua orang tua istrinya itu sudah tiada, dia merasa bersalah saat bertanya kemana orang tua dari Nozomi.

"Maafkan aku."

"Tak apa ,Naruto-kun. Kau tak salah, aku juga salah karena tak memberitahumu sejak awal kita menikah." Nozomi membalas pelukan yang diberikan Naruto, dia merasakan sedih yang amat ketika kedua orang tuanya tak ada disisinya saat pernikahannya bersama Naruto. Tapi dia cukup beruntung ada kedua orang tua dari Naruto yang menerima dirinya dengan suka cita. "Lagipula masih ada kedua orang tuamu yang juga menjadi mertuaku. Aku beruntung saat orang tuamu menerimaku apa adanya. Mereka seolah mencari sosok anak perempuan sepertiku."

"..."

"Okaasan, dan Otousan, mereka berdua sudah seperti orang tuaku sendiri, Naruto-kun. Aku memang wanita yang beruntung ya?" Nozomi menatap Naruto dengan sebuah senyuman bahagia, air matanya keluar dari pelupuk kelopak mata Nozomi.

Naruto mengusapnya, dia menyentuh dahi Nozomi dengan dahinya, lalu mengelus rambut Nozomi dengan lembut. "Kau memang wanita yang sangat beruntung. Wanitaku yang sangat beruntung." Naruto menyunggingkan sebuah senyuman. "Lebih baik kau perkenalkan diriku pada kedua orang tuamu." Kedua tangan Naruto mengusap air mata milik Nozomi.

Wanita itu mengangguk disertai dengan sebuah senyuman manis yang terpatri di wajahnya. "Baik, danna-sama!"

Saat itu juga, Naruto bertekad untuk menjaga senyuman itu.

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Love Live by Kimino Sakurako