Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
.
Breathe
By. I Sunshine
.
Fajar baru saja menyingsing saat gerbang penghubung hutan hollow dan Soul Society terbuka. Matahari sudah tidak malu-malu lagi menampakkan diri. Silau cahaya menerangi, memamerkan bahwa awan pun tidak mampu menyembunyikan pesona jingganya.
Tersenyum lebar, Ichigo menarik napas, menghirup udara sebanyak mungkin. Perasaan bahagia mekar tidak pernah sirna, gembira jantung berdebar mengetahui akhirnya bisa kembali ke tempat yang sama di mana kekasihnya bernaung. Perempuan itu pasti akan sangat bahagia apabila tahu dia sudah tiba di Soul Society.
Ya, mereka kembali lebih cepat dari perencanaan.
Dari dua minggu perhitungan, telah dipangkas menjadi tiga hari. Bayangkan—pertarungan seperti apa yang mereka lakukan untuk mempersingkat misi?
Siang malam tanpa henti melakukan pembantaian. Meskipun menahan derita kurang istirahat, tetapi tetap mementingkan kondisi stamina. Yah, bukan berarti pula kapten divisi lima tersebut memaksakan tiap anggotanya untuk bertarung gila-gilaan. Malah apabila harus jujur, sang kapten sendiri yang masuk dalam mode bertarung menggila. Tidak lagi memandang strategi, sang kapten menghadapi sekumpulan hollow dengan mengandalkan insting. Mendekati akhir, tersisia hanya sebagian kecil untuk ditangani oleh anggota yang lain.
"Istirahatlah, Kapten." Tepukan ringan di pundak dari wakil kapten membuat Ichigo menoleh. Sang wakil kapten tersenyum dengan membetulkan letak posisi kaca mata berkata, "Dari sini serahkan saja padaku untuk membuat laporannya."
Sang wakil kapten melabai sekilas, senyum tipis tersungging sebelum menghilang dengan langkah kilat.
Ichigo mendesah lega.
Setidaknya dia beruntung memiliki wakil kapten yang hebat—Sousuke Aizen. Sosok yang begitu ramah, dan selalu bisa diandalkan. Perlu diketahui bahwa sesungguhnya dulu pemimpin gotei tiga belas memberikan opsi antara Aizen atau Ichigo untuk mengambil bangku kepemimpinan. Namun, pada sesi penunjukkan Aizen mengutarakan pendapat bahwa dia lebih bersedia menjadi wakil dari seorang kapten seperti Ichigo.
Ichigo tahu Aizen tidak pernah salah dalam memberi pandangan. Hasilnya, berdua mereka bisa menjadi tim yang hebat. Sifat Ichigo yang spontan bisa lebih fleksibel karena dia adalah seorang kapten, dan kesalahan kecil yang dirasa mengganggu akan diperbaiki segera oleh wakil kapten. Contohnya pada kejadian kali ini. Ichigo tahu pemimpin tertinggi akan sedikit murka karena pilihan ceroboh Ichigo memforsir tenaga membantai hollow, tetapi Aizen berada di sisinya untuk meredakan amarah sang pemimpin tertinggi.
Bagi Ichigo, Sousuke Aizen sudah seperti teman dan paman sendiri.
Kembali perasaan bahagia menghampiri. Terlepas dari pendapat mengenai Aizen, Ichigo ingat ke mana seharunya dia pergi. Mungkin Aizen akan sedikit menegurnya karena tidak langsung beristirahat, tetapi Ichigo tidak begitu memusingkan. Rasa senangnya berhasil memberi energi cadangan memikirkan sosok pujaan hati yang akan dipeluk saat berjumpa nanti.
Nah—Rukia, tunggulah.
.
.
Kaki lemah meniti tangga, menapak berjalan menuju tempat di mana rasanya bisa bersembunyi. Punggung yang biasa berdiri tegap dengan bangga kini membungkuk terpaku pada langkah. Jemari mungil memijat belakang leher pelan, melakukan peregangan agar sedikit saja rasa kaku bisa lenyap. Napas sesekali akan berembus berat. Bahkan setelah membuka pintu ruangan paling unjung dan bersembunyi di dalam, perasaan sesak tetap tidak kunjung lenyap. Kaki-kaki si perempuan mungil bergegas menghampiri beranda, menyibak jendela hingga terbuka lebar. Setidaknya, dia butuh udara untuk bernapas.
Kuchiki Rukia kembali menghela napas berat.
Hari ini adalah hari yang terburuk dari hari kemarin.
Sudah diputuskan ada tiga kandidat sebagai calon suami masa depan Rukia. Setelah kepulangan sang kakak, bergantian tiga orang pelamar datang memberi salam. Di waktu yang ditentukan, Rukia akan memperlihatkan diri beberapa menit untuk menyambut, menyuguhkan teh, serta sedikit berbincang. Pada hari pertama fokus bisa terjaga, memprioritaskan para tamu dengan memberi sapaan terbaik. Namun, hari berikutnya mulai seperti bencana saat semakin tersadar bahwa hari pernikahan kian dekat karena pada akhirnya Byakuya akan menentukan pilihan. Pikiran Rukia mulai buyar. Rasa takut mulai menghantui, dan lagi sosok kapten divisi lima yang tergambar penuh kekecewaan membayangi. Pada akhirnya, Rukia semakin tidak mampu berkonsentrasi.
Hari ini bahkan Byakuya lebih banyak mendengus dari hari-hari sebelumnya. Rukia sadar semua kesalahannya. Kakak iparnya terus-menerus melipat kedua tangannya tidak suka. Mata kelabu yang jeli pasti sadar meskipun Rukia terlihat melakukan semua dengan benar, ada banyak kesalah yang telah dilakukan. Mulai dari cara menuangkan teh, hingga membungkuk memberi hormat. Semua.
Kuchiki Byakuya positif merasa terganggu.
Ah—semua akan lebih mudah apabila seandainya bisa menghapuskan fakta bahwa dia tidak menyerahkan diri pada Kurosaki Ichigo. Setidaknya, Rukia tidak merasa berat karena sudah menghianati satu-satunya pria yang begitu menginginkannya. Bukankah dia tahu Ichigo sulit apabila harus memberikan pernikahan untuknya meskipun mereka sudah saling mencumbu? Jelas Ichigo tengah terikat dengan yang lain.
Semua kesalahannya.
"Aku akan sangat senang apabila Rukia menentukan pilihan padaku."
Ada suara tawa menyusul.
Rukia memutar bola mata jengah. Suara pembicaraan itu datang dari lantai bawah tepat di bawah ruangan tempatnya bersembunyi saat ini. Tidak ada terdengar suara Byakuya yang menimpali, tetapi Rukia tahu kakak iparnya berada di sana mendengar kandidat calon suaminya membujuk secara halus untuk memberatkan pilihan padanya. Perasaan mual bergemuruh melilit perut, Rukia menggeram kesal. Emosi tidak tertahan hingga mencengkeram kipas di tangan terlampau kuat, tidak sadar sisi keras kipas menggores jari menciptakan jejak segaris darah merembes.
Ya, tertawalah dengan puas. Mereka pantas memupuk harapan karena salah satu di antara mereka memang akan memilikinya kelak. Tidak ada yang akan menghalangi, terlebih masih tersisa seminggu lebih bagi seseorang di ujung hutan hollow untuk kembali menghancurkan pengaturan pernikahan.
Detik bergerak. Menenggelamkan Rukia dalam tumpahan kekesalan. Daya hanya sampai batas lontaran makian serta sumpah serapah di dalam hati, mengekspresikan rasa sakit tertelan bisu. Tubuhnya lemah bertumpu pada beranda. Lelah mata melempar pandang pada suasana ramai jalanan yang padat terlihat dari tempat berdiri, membiarkan pikiran larut pada pemandangan acak—
Rukia terkesiap.
Kipas jatuh dari genggaman. Refleks berdiri dengan benar, cepat membalik tubuh menjauhi beranda agar bergegas masuk. Namun, pelarian hanya membuat wajah berakhir dengan menabrak sesuatu yang kuat. Meringis langkah Rukia sedikit mundur, hampir terjatuh, tetapi lengannya sudah dipegangi seseorang.
"Kau memiliki penjelasan tentang apa yang sudah kudengar, Kuchiki Rukia?"
Dingin suara menusuk. Penuh amarah terbaca tanpa perlu penaikan intonasi. Gemetar Rukia ingin menarik diri menjauh, tetapi tangan itu amat kokoh mencengkeram. Tertunduk ketakutan, mata Rukia menatap tatami tempat pemilik sihakusho kotor bercampur lumpur berpijak. Jantungnya melompat tidak karuan, memberikan sensasi dingin di sekujur tubuh meskipun disaat bersamaan keringat mulai mengaliri pelipis.
"Berhenti lari, Rukia. Tatap mataku sekarang dan katakan kebenarannya."
Tidak bisa.
Dia tangguh, juga berhati kuat. Namun, Rukia tidak memiliki keberanian sebesar itu. Terlebih dialah yang bersalah saat ini. Tidak mampu menghadapi, Rukia hanya bisa menggeleng kuat. Terdengar dengusan dari sosok menjulang tinggi di hadapan, cengkeramannya semakin kuat.
"Bisa-bisanya kau menipuku. Kau bahkan berkata manis bahwa kau adalah milikku. Tapi lihat apa yang sedang kau mainkan sekarang, kau—"
"Aku tidak berbohong ketika mengatakan aku milikmu." Suara berbisik pelan ketika Rukia memberi jawaban spontan, si surai orange bahkan cukup takjub telinganya dapat menangkap sehingga menghentikan amarah yang siap dilontarkan.
Bibir kapten divisi lima terkatup rapat, tegang urat leher dalam pengetatan menahan emosi. Wajah Kurosaki Ichigo kaku menancapkan tatapan pada kekasihnya, menunggu penjelasan paling logis sebelum akalnya hilang membawa mati si gadis violet bersamanya.
Tubuh mungil Rukia bergetar, tangannya sendiri terangkat tanpa sadar menggigit kuku ibu jari. Dahi Ichigo mengernyit, terganggu melihat ada luka gores di sana. Tidak menyukai ide bahwa kekasihnya melukai diri sendiri tanpa sadar.
"Ya. Aku sudah bersedia memberikan semua untukmu." Rukia memulai dengan suara sedikit tersendat, tenggorokan kering tercekat perih. Serak susah payah berkata, "Tetapi, tubuhku ini bahkan bukan milikku sendiri."
Citra dingin dan tenang yang dulu selalu mengisi kekaguman satu per satu sirna, sosok asli yang hancur mulai tampak ketika pertahan yang dulu tangguh bagai benteng besi keropos oleh rasa frustasi.
Tidak kalah frustasi, kerutan di dahi Ichigo kian menekuk dalam. Kalau saja bisa, Ichigo ingin membungkam semua omong kosong dan menganggap ini hanya sekedar gurauan. Namun, bibir yang dipoles pewarna itu terus melontarkan kata meskipun terlihat gemetar melanjutkan, "Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat nii-sama mencoba menepati janjinya pada mendiang kakakku untuk memberikan pernikahan yang layak untukku. Aku tidak bisa menolaknya. Sudah aku katakan sejak awal bahwa aku tidak bisa hidup tanpa pernikahan."
"Kau bisa mengulur waktu, setidaknya—kau bisa memberiku kesempatan untuk—"
"Cukup." Rukia menggeleng kuat, tegas menolak apa saja yang hendak si surai orange katakan. "Kumohon hentikan. Ini terakhir, Kapten. Cobalah menerima. Bukankah hadiah perpisahan yang kuberi sudah sebanding—"
Kata-kata Rukia terhenti. Cengkeraman yang sejak awal sudah ketat berubah menguat. Rukia meringis, kembali gemetar ketika bertemu tatap dengan sepasang iris kuning madu yang dulu kerap memancarkan kehangatan sekilas menampakkan perubahan warna ternoda hitam. Sudah rahasia umum bahwa kapten divisi lima memiliki sisi gelap karena pernah terkontaminasi energi hollow. Namun, tidak pernah Ichigo memperlihatkannya untuk mengintimidasi. Rukia paham, tampaknya amat besar luka yang dia buat hingga mampu mengubah seseorang menjadi memiliki tatapan sedemikian ngeri.
"Aku bisa meniduri Orihime kalau memang hanya sekedar memuaskan hasrat." Tidak hanya tatapan, bahkan warna suara juga terdengar sedikit berubah. Napas Ichigo terus menusuk mengembuskan hawa dingin, tatapan tajam menyertai tidak pernah melepaskan kontak mata berkata, "Kau bahkan tahu sejak awal aku bisa menodaimu apabila memang tubuhmu yang aku inginkan. Kau seharusnya mati kalau memang ingin menganggapnya sebanding."
Tidak ada kata sebagai balasan dalam beberapa detik. Bibir Rukia membuka-menutup lantaran kehilangan kata. Semua yang dituding terasa kebenarannya. Bagiamana mungkin menyangkal apabila hanya memperdalam luka. Bahkan terasa raga tanpa jiwa ketika terkumpul tenaga untuk berkata, "Baik. Ayo bunuh saja aku sekarang. Setidaknya aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi padamu atau nii-sama. Aku lelah."
Cengkeraman di lengan Rukia melonggar, mengakibatkan tubuh mungil nan ringkih tersebut merosot terduduk di lantai. Ichigo terdiam menatap sosok tidak berdaya kekasihnya. Merasa asing, terlebih isak tangis yang mulai terdengar. Dia membuat Rukia menangis.
Tidak—Ichigo tidak mengenali perempuan itu. Dia bukan Rukia-nya
"Kau hanya membutuhkan pernikahan bukan?"
Samar pertanyaan terlontar. Rukia terlalu sibuk menangis hingga tidak cepat memberi jawaban. Ketika tangisnya reda dan menguatkan hati bersiap memberi jawaban, sosok Ichigo sudah menghilang saat wajahnya mendongak ke atas.
.
.
Sekitar dua hari, Rukia menolak melakukan kegiatan rutin menyapa para calon suaminya. Memilih mengurung diri di kamar dengan alasan kondisi tubuh yang kurang sehat. Lagi pula tidak ada bedanya apabila dia tidak muncul, Byakuya tetap bisa menentukan pilihan meskipun Rukia tidak memberi suara.
Rukia duduk meringkuk—bersandar pada dinding memeluk lutut. Gantungan angin berdenting terembus angin, terlalu hening hingga napas sendiri pun tenggelam oleh suara angin. Kosong iris violet melempar pandang pada langit cerah pagi yang begitu kontras dengan suasana hati. Tidak ada perasaan yang bisa menggambarkan suasana hati si perempuan mungil selain rasa hampa, terlalu takut untuk membentuk perasaan baru setelah efek dari rasa trauma karena cinta yang begitu mudah dipatahkan.
Dia mencintai, dengan segenap hati. Namun, cintanya tidak bisa terwujud.
Genangan terbentuk di pelupuk, nyaris mengalir jatuh tetapi tertahan begitu terdengar bunyi ketukan tiga kali di pintu.
Tersentak, dua aliran sempat mengalir. Rukia tersadar dari lamunan, lekas menghapus jejak air mata, lalu membenahi posisi duduk. Kuchiki Byakuya masuk beberapa saat kemudian begitu Rukia memberi izin.
Duda berparas dingin tersebut masuk membawa hawa yang membuat Rukia tidak nyaman, seolah mantan kapten divisi enam itu sedang mengeluarkan tekanan roh tinggi untuk mengintimidasi. Pertanyaannya, untuk siapa? Mungkinkah Rukia berubah menjadi musuh sang kakak ipar?
Sebisa mungkin Rukia mengenyahkan segala prasangka, namun batin tidak bisa berhenti membentuk berbagai macam pikiran buruk. Terlebih—Kuchiki Byakuya masih berdiri angkuh bersedekap tanpa repot menyinggahi bantal di atas tatami untuk duduk. Iris kelabunya terus menusuk tajam, total membawa aura kapten divisi enam yang dulu begitu terkenal taat pada peraturan. Hati terus bertanya, kesalah apa yang sudah diperbuat hingga membuat orang setaat Byakuya tampak tidak senang?
"Besok upacara pernikahanmu akan dilangsungkan."
Ya, Rukia tahu. Karena itu dia tetap diam—menunggu putusan yang harus diikuti, berpikir Byakuya akan mulai menyampaikan sejumlah aturan pernikahan. Namun, hatinya kembali resah. Byakuya tampak sengaja diam untuk beberapa detik. Seolah menunggu Rukia untuk berbicara. Bahkan suasana mulai terasa mencekik bagi Rukia.
"Kurosaki Ichigo."
Kaku.
Disaat hendak mengkonfirmasi kembali maksud kunjungan, Byakuya melontarkan sebuah nama dengan amat dingin dan menusuk. Membuat Rukia lebih merasa tercekik. Batin terus menjerit untuk mulai melakukan pembelaan, berspekulasi bahwa tidak mungkin sang kakak ipar mengetahui apa yang telah dilakukan. Tidak mungkin.
"Nii-sama ..."
"Jadi benar?"
Tamatlah sudah. Tidak perlu pemanipulasi untuk mengelabui, Byakuya yang tajam tidak akan tersesat ketika sudah memiliki keyakinan di tangan.
"Apa yang sudah membutakanmu? Aku katakan berulang kali untuk tidak terlalu terjerat olehnya. Katakan padaku, bagaimana orang seperti dia bisa bertanggung jawab?"
Rukia tidak tahu.
Rukia ingin memberi jawaban, setidaknya untuk membuat Byakuya mengerti kenapa dia bisa mengabil keputusan yang salah. Namun, kakak iparnya berada dalam jalur opini yang benar. Beribu kali lipat kebenarannya. Berhubungan dengan Kurosaki Ichigo seperti menempatkan masa depan ke terowongan gelap tanpa ujung. Sangat tidak pantas Rukia keberatan saat mendengar ada keluhan atas tindakan lalai yang telah diperbuat. Napas Byakuya yang kian tertahan serta merendah intonasi menggambarkan jelas bagaimana bentuk kekecewaan mantan kapten divisi enam begitu mendalam.
"Aku berat memberikanmu padanya,tapi mana mungkin aku membiarkanmu menikah dengan yang lain saat kau dengannya sudah ..." Sulit bagi Byakuya menyelesaikan apa yang ingin diungkapkan. Baginya, sang adik ipar pasti sudah mengerti. Didikan ketat penuh aturan, bukan tiada hari terlewat tanpa memantau perilaku. Sayang, kini apa yang telah dilakukan sungguh membuat pria marga Kuchiki sangat kecewa.
"Demi Kami-sama, Rukia. Pikirkan seperti apa orang-orang menyebutmu nanti."
Perempuan perebut kekasih orang lain.
"Kumohon, Nii-sama"
Menggeleng. Tentu—Byakuya juga lelah menahan emosi. Segala bentuk penyesalan tetap sia-sia. Pada akhirnya duda berparas dingin hanya mampu memberi solusi jauh dari pengharapan awal. "Persiapkan dirimu. Mulai dari sekarang, kehidupan pernikahanmu akan sulit."
.
.
Sunyi ruangan dibalut khidmat. Terpaku mata fokus mengikuti pergerakan sepasang langkah menapak lurus memenuhi prosesi. Payung merah terkembang menghalau rintik gerimis, megah mengalihkan fokus mata hingga tidak selalu memperhatikan objek lain di bawah naungan.
Sayang tak semua mata bisa terkelabui. Berita yang tersebar sudah bagai dongeng pengantar tidur yang tidak bisa digubah isi ceritanya, layaknya perintah terdokrin mati bahwa dua sosok di bawah payung adalah pasangan yang salah.
Shiramuku bisa saja menutupi menyembunyikan siluet wajah, tetapi siapa pun akan selalu berasumsi bahwa perempuan dibalut kimono pengantin mendampingi kegagahan pengantin pria seharusnya adalah seorang perempuan yang lebih dulu tersohor namanya ketimbang seorang adik ipar dari mantan kapten yang kini menjadi pemilik kedai teh.
Seperti karakter dongeng yang sejatinya sudah memiliki pasangan yang ditentukan. Beberapa sudut pandang prosesi pernikahan yang tengah berlangsung bagai karakter cerita yang timpang.
Tidak hanya beban dari kimono yang tengah dikenakan, tatapan malas dari beberapa tamu berhasil melunturkan kepercayaan diri perempuan yang sudah terkenal keangkuhannya dengan status bangsawan yang disandang. Semua gelar kehormatan keluarga tidak mampu lagi membuat kepala berdiri tegak, malah memilih menunduk menyembunyikan diri dibalik tudung shiramuku.
Musik khas masih terus mengalun melengkapi suasana. Beberapa langkah lagi akan mencapai altar, mengetatkan rongga mencekik sesak. Upacara hendak memulai pesta sesungguhnya, si pengantin mungil sadar telah memasuki gerbang dunia berbeda yang dia sendiri tidak yakin apakan bisa menjalani tanpa terluka parah.
Pucat wajah tersamar polesan bedak putih, dari balik shiramuku melirik wajah suami sah nya. Mencari kekuatan untuk setidaknya mencari keyakinan bahwa tidak akan dibiarkan menjalani sendiri. Namun—bukan senyum hangat atau kerlingan nakal yang biasa dihadapai dulu. Wajah suaminya kaku, dahinya bahkan berkerut lebih dalam dari biasanya. Pikiran kapten divisi lima tersebut tidak sedang berada di tempat. Berani bertaruh, mungkin isi kepala terbungkus surai oranye sedang mengembara jauh dari kata bahagia dalam ketentuan bagaimana seharusnya sebuah pernikahan.
Napas si mungil tercekat. Lirikan beralih pada tamu-tamu undangan. Berhalusinasi atau tidak, tiap wajah menangkap ekspresi menuding lengkap dengan cibiran.
Dingin merambat. Entah karena rintikan hujan berhasil merembes kimono, atau mungkin suhu tubuhnya sendiri yang mendingin. Sang pengantin wanita sempat mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba fokus pada lantai yang mulai memudar. Sebelum tangannya berhasil meraih lengan suaminya sebagai pegangan, pengantin wanita jatuh tidak sadarkan diri, memancing banyak komentar dengan sebagian besar ungkapan sinis hilangnya kesadaran sang mempelai wanita adalah bentuk hukuman dari langit karena sudah mengambil hak orang lain.
Kuchiki—Kurosaki Rukia.
Ini adalah bentuk adil dari wujud amarah seorang kekasih yang sudah merasa dikhianati. Karena Rukia sudah memulainya, maka ini hanya pembuka kehidupan beratnya.
.
.
To be continued ...
Buah dari tetap di rumah, melanjutkan draf yang berdebu ... hihihi ...
Hayooo ... kasi saya revie kalau mau update cepet (bercanda tapi agak berharap) ...
Sorry for typo, see ya next chapter ...
