"Tidak, dia bukan ahli pedang atau apa pun itu. Dia juga tidak memiliki kecenderungan apa pun dalam seni bela diri," balasnya dengan jujur sambil membayangkan Naruto.
"Lalu, bagaimana bisa dia dapat mengajari dasar-dasar untuk menciptakan teknikmu itu?"
Jujur saja, Sasuke sendiri tidak memiliki sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Erza.
Saat ia memikirkan kembali tentang gaya bertarung Naruto, yang terlintas dalam benaknya adalah sebuah gaya bertarung serampangan yang umum digunakan oleh para preman jalanan. Namun, di balik gaya bertarungnya yang serampangan itu, juga terdapat sebuah perhitungan dan perencanaan yang sangat cermat. Selain itu, kemampuannya dalam menggunakan pisau juga membuatnya terlihat seperti seorang assassin.
Jadi, pada intinya, Naruto adalah tipe orang yang tidak terikat pada sebuah gaya bertarung tertentu.
"Entahlah. Dia hanyalah seorang idiot yang bertarung sesuai dengan apa yang ia pikirkan saja," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. "Akan tetapi, dia adalah orang nomor satu yang ingin kukalahkan suatu saat nanti."
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 15 : Sepintar Apa Pun Mereka Menyembunyikannya, Bau Busuk Tetap Akan Tercium Juga.
XxxxX
Jika ada yang bertanya padaku tentang aroma apa yang paling aku sukai, mungkin beberapa akan menebak bahwa itu adalah bau dari oshiruko. Yah, tidak salah, sih. Karena memang oshiruko adalah salah satu makanan favoritku. Akan tetapi, bukan itu jawabannya. Aroma yang paling aku sukai di dunia ini adalah bau-bau dari tumpukan buku, apalagi jika itu adalah buku baru.
Karena itulah, setiap kali aku berada di perpustakaan ini, rasanya seperti seakan-akan aku sedang berada di dalam surga kecil milikku sendiri. Tidak banyak yang dapat mengerti tentang sensasi menyenangkan ini, tetapi itu bukan masalah bagiku. Karena memang ini adalah sebuah kesenangan yang benar-benar aneh bila dilihat dari kacamata orang normal.
Perpustakaan milik akademi Shouka Sonjoku berisi kurang lebih sekitar 10,000 buku dengan tinggi bangunan setinggi enam lantai. Bangunan ini memiliki desain arsitektur yang mirip seperti tabung. Jadi, bisa dibilang bentuk bangunan ini sangat berbeda dengan kebanyakan bangunan lain yang masih mengusung gaya bangunan-bangunan pada umumnya.
"Berapa kali pun aku memasuki perpustakaan ini, aku tidak bisa untuk tidak takjub saat melihat semuanya," gumamku tanpa sadar.
Aku berdiri tepat di pintu masuk dengan senyumku yang mengembang lebar. Kedua tanganku yang sedang berkacak pinggang, seakan berusaha mengekspresikan betapa bahagianya suasana hatiku sekarang.
Lupakan sejenak tentang berbagai buku yang mengisi rak-rak yang telah tersusun rapi. Bahkan, ukiran-ukiran yang terpahat pada pada pintu yang terbuat dari kayu jati ini sangat mengesankan. Selain itu, batu-batu marmer yang ditempelkan di permukaan lantai, menambah nilai estetika yang ditonjolkan oleh gedung ini.
Meskipun aku termasuk orang yang buta akan seni, tetapi aku tidak bisa menolak fakta betapa mewahnya perpustakaan ini.
"Iya. Pemandangannya benar-benar luar biasa untuk orang desa seperti kita. Aku penasaran, berapa banyak uang yang mereka gunakan untuk membangun ini semua?"
Indra pendengaranku menangkap sebuah suara feminim yang berasal dari belakangku. Suara tersebut sangat familiar bagiku, sehingga aku tidak perlu menengok untuk memastikan pemilik suara tersebut.
Lagi pula, aku pun datang ke tempat ini bersama dengan sang empunya suara feminim itu.
"Kita ini orang miskin, kau tahu? Logika kita tidak akan sampai untuk menaksir seluruh uang yang mereka gelontorkan. Tidak, lupakan itu. Bahkan, bukankah ini sebuah keajaiban bagi kita untuk bisa bersekolah di sini, Megumi?"
Jika bukan karena koneksi yang dimiliki oleh kakek dan nenekku, rasanya sangat tidak mungkin bagiku untuk bisa berada di sini.
"A- ah, tolong jangan sebut itu sebagai keajaiban, Naruto-kun," ucap Megumi dengan masam ketika ia telah sampai di sebelahku.
Benar juga. Takdir aneh yang membawanya bersekolah di sini, bukanlah sebuah keajaiban bagi Megumi. Atau setidaknya, seperti itulah yang ia katakan ketika bercerita tentang perjalanannya hingga bisa terdampar di sini.
Omong-omong tentang itu, aku sampai sekarang pun masih tidak paham. Dia pernah bercerita, kalau tiga tahun yang lalu—atau lebih tepatnya saat pendaftaran junior high—dia sebenarnya tidak mendaftar di sekolah ini.
Ia justru mendaftar di salah satu sekolah memasak yang berada di Edo. Dari desa tempatnya tinggal, ia mengirim surat pendaftaran itu melalui jasa pengantar barang. Namun, saat dia melakukan pendaftaran ulang, namanya tidak ada di sana. Ketika ia telusuri lebih lanjut, ternyata surat pendaftaran yang ia kirim justru sampai di bagian tata usaha akademi Shouka Sonjoku.
Entah bagaimana caranya, namanya lolos sebagai salah satu penerima beasiswa.
Dilihat dari sisi mana pun, bukankah ini sangat tidak masuk akal? Aku sempat curiga bahwa Megumi mengarang seluruh cerita ini. Akan tetapi, melihat wajahnya yang begitu tertekan, aku tidak lagi bisa mencurigai gadis malang ini lebih lanjut.
Sona yang juga mendengar cerita itu pun dibuat kebingungan dengan alur yang sama sekali tidak bisa dicerna itu. Tidak mungkin untuk sekolah prestisius seperti ini, salah melakukan penilaian dalam hal administrasi untuk penerimaan siswa baru. Jadi, satu-satunya kesimpulan yang kami dapat adalah, kemungkinan adanya suatu konspirasi yang mungkin berusaha dibangun oleh para petinggi.
Ah, selain itu, Megumi sekarang telah bergabung dengan klub Perkumpulan Masyarakat Modern. Karena aku dan Sasuke yang merupakan temannya, itu memotivasi dirinya untuk bergabung dengan kami. Tetntu saja, Megumi tidak tahu tujuan sebenarnya yang kami susun di balik berdirinya klub tersebut.
"Be- benar juga, haha. Ja- jangan murung, Megumi. Di sini ada aku, Sasuke, dan Phenex-ojou, ingat? Kita adalah temanmu. Selain itu, Sona dan Tsubaki kurasa juga ramah denganmu, 'kan?" ucapku yang berusaha untuk menghibur suasana hati Megumi.
"Hmm, benar sekali. Kagura-chan dan Shinpachi-kun juga sangat baik dan lucu. Kakashi-sensei pun ternyata orang yang baik," ucap Megumi ceria. "Sayang sekali, Ravel-san tidak ingin bergabung dengan kita."
Aku tidak begitu yakin tentang bagian mana yang menggambarkan bahwa Kagura-chan adalah bocah yang lucu. Bagiku, dia adalah gadis bar-bar yang bahkan akan memakan sebuah pipa jika dia kelaparan.
"Yah … bagaimanapun juga, Phenex-ojou sangatlah tidak suka dengan Sona," balasku.
"hehe … begitulah," ucap Megumi singkat.
Aku terdiam sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk membalas kembali ucapan Megumi.
"Aku akan ke lantai tiga, mau ikut denganku?" tawarku.
"Lantai tiga? Bukankah buku tentang bercocok tanam bukan di sana?" tanya Megumi bingung.
"Aku tahu, aku memang berniat mencari buku lain."
Megumi menampilkan raut wajah seolah mengerti dengan niatku. Karena itulah, dia hanya mengangguk sembari mengucapkan beberapa patah kata.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke bagian bercocok tanam seperti biasa, Naruto-kun."
Sepenggal kalimat itu pun mengakhiri perbincangan singkat kami. Kami berpisah dan menuju ke masing-masing bagian rak yang kami tuju. Sebenarnya, aku merasa tidak enak hati meninggalkan Megumi sendirian karena memang akulah yang mengajaknya kemari. Namun, jika dia memang tidak mau ikut denganku ke lantai tiga, maka aku tidak bisa memaksanya.
Selangkah demi selangkah, kedua kaki ini membawaku pergi ke lantai tiga gedung perpustakaan. Sesungguhnya, aku tidak memiliki ide sama sekali tentang buku apa yang ingin aku baca. Hanya saja, saat aku mengingat bahwa di lantai ini terdapat rak yang berisi buku-buku tentang ilmu kimia dan fisika, itu membuat rasa penasaran timbul di dalam diriku.
Aku tahu ini aneh, tetapi memang seperti inilah dunia para penggila buku sepertiku.
Saat akhirnya aku sampai ke lantai tujuanku, aku pun mulai berkeliling untuk melihat-lihat calon buku yang akan menemaniku sepanjang malam. Membayangkan buku baru dan pengalaman dari sensasi ketika membacanya, membuat napasku menjadi semakin menderu.
Ketika aku berkeliling sana-sini, kedua mata ini menangkap sebuah pemandangan yang cukup tidak biasa. Aku sangat sering berkunjung ke perpustakaan ini, sehingga membuatku hafal tentang suasana di sini. Jika boleh jujur, dari sekian banyak murid di Akademi Shouka Sonjoku, hanya beberapa dari mereka yang akan mengunjungi perpustakaan besar ini.
Bahkan, meskipun tempat ini memiliki jumlah buku yang luar biasa banyak, itu tidak dapat menarik minat banyak warga akademi untuk datang kemari. Karena itulah, suasana di gedung yang sangat besar ini selalu relatif sepi setiap harinya.
Bukan hanya itu saja. Kebanyakan pengunjung perpustakaan ini adalah siswa yang telah berada di tingkat senior high sepertiku. Sangat jarang murid dari junior high yang berkunjung kemari. Tidak, tunggu dulu—memangnya, aku pernah melihat anak-anak dari junior high kemari, ya?
Karena itulah, saat aku melihat seorang gadis yang memiliki tinggi yang kurang dari tinggi badan Kagura-chan, aku seketika menganggap bahwa itu adalah pemandangan yang langka.
Gadis itu terlihat sangat serius ketika membaca buku sambil berdiri seperti itu. Tubuh mungil yang ia miliki benar-benar tidak cocok dengan aura dewasa yang ia tunjukkan.
Tidak, tunggu dulu. Bukankah dari dulu aku selalu memimpikan memiliki adik kelas yang manis? Jika aku melihat kembali gadis dengan surai pirang panjangnya itu, bukankah dia sudah memenuhi standard adik kelas idamanku?
Raut wajahnya yang terlihat serius seperti itu, membuatku yakin bahwa dia juga menyukai buku, sama sepertiku. Kondisi ini semakin mempermudahku untuk menunjukkan nilai lebih pada diriku.
Hei, jangan salah, ya! Meski aku adalah pecundang, aku tetaplah seorang cucu dari Jiraiya-sama yang katanya penakluk wanita saat dia muda.
Kudekati gadis itu dengan langkah pelan. Semakin aku mendekat, semakin jelas pula sosoknya di mataku. Selain rambut pirangnya yang mencolok, ternyata ia juga mengenakan sebuah pita yang terpasang di kedua sisi rambutnya. Jika diperhatikan lebih baik, kedua pita itu justru terlihat mirip dengan sepasang telinga anjing Labrador Retriever di mataku.
Kepala pirang yang berada tidak jauh di depanku itu mendongak dan kemudian menatapku. Kurasa, suara langkah kakiku yang cukup pelan ini masih mampu menggoyang konsentrasinya.
Pandangan mata kami bertemu satu sama lain dan itu membuatku sedikit gugup. Tidak, itu bukan berarti aku suka dengan gadis yang lebih muda atau semacamnya Aku hanya menginginkan adik kelas yang normal, itu saja.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya kepadaku dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Melihat dirinya yang justru lebih pro-aktif dalam mengatasi rasa canggung yang ada di sekitarku, itu membuat kepercayaan diriku menjadi turun drastis. Aku yang seharusnya menjadi kakak kelas yang bisa diandalkan, justru menjadi orang kikuk di depannya? Ini benar-benar menyedihkan.
"A- ah, tidak ada. Aku hanya ingin melihat-lihat," balasku dengan sedikit gugup.
"Begitukah?"
Kali ini, aku tidak membalasnya. Tentu saja, aku teramat malu karena tertangkap basah sedang memperhatikannya tadi. Bagaimana jika dia berpikir aku ini adalah seorang lolicon?
Akan tetapi, saat kuperhatikan dirinya sekali lagi, aku menyadari bahwa dia memakai setelan seragam yang sangat berbeda dengan murid lainnya. Tidak, dia tidak sama dengan Kagura-chan yang selalu mengenakan seragam olahraga kemana pun ia pergi.
Gadis ini, ia mengenakan sebuah rok hitam yang panjangnya hingga mata kaki dan kemeja putih dengan lengan panjang yang memiliki renda di ujung lengannya. Juga, pita yang menggantung di kerah kemejanya itu, memberikan kesan manis pada dirinya.
Gaya berpakaiannya yang terkesan begitu anggun dan dewasa itu sangat berbanding dengan usianya. Tunggu, apakah mungkin dia adalah seorang guru? Tidak, itu tidak mungkin. Aku sudah membaca profil staff dan guru yang bekerja di sini. Meskipun aku tidak begitu mengingat nama dan wajah mereka, tetapi aku yakin bahwa tidak ada staff atau pun guru yang bertubuh mungil di antara mereka.
"Apa kamu butuh sesuatu? Namaku Mavis Vermillion, aku anggota pengurus perpustakaan," tawar gadis itu sambil memperkenalkan diri.
Sekelebat ingatan menghampiri kepalaku. Entah kenapa, tetapi aku pernah merasa mendengar namanya. Tidak, jika dipikirkan lagi, aku pun merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Namun, sekeras apa pun aku mengingatnya, aku tidak kunjung mendapat jawabannya.
Bukan bermaksud sombong, tetapi aku ini memiliki ingatan yang sangat tajam. Bahkan, aku bisa mengingat dengan baik seluruh isi buku yang selama ini selalu kubaca. Hanya saja, jika sudah berhubungan dengan orang asing, otak sialanku ini tidak pernah bisa mengingat nama dan wajah mereka dengan benar.
Yah, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, kau tahu? Meskipun dalam kasusku, kelebihan dan kekurangan itu sedikit identik dan terdengar konyol.
"Sungguh? Aku tidak pernah melihatmu selama ini."
"Tolong maafkan aku, akhir-akhir ini aku sangat sibuk," balasnya kembali.
Begitu, ya? Jadi, dia adalah tipe orang yang sangat rajin. Dia pasti belajar dengan keras. Sungguh, adik kelas idaman. Berbeda sekali dengan seorang bocah perempuan yang kukenal yang kerjaannya hanya makan dan tidur saja.
"Ah, tidak-tidak. Selagi kau masih junior high, memang bagus memulai semuanya lebih awal dan lebih keras dari yang lainnya," pujiku segera agar ia merasa nyaman.
"Junior high? Aku—."
Sebelum ia selesai melengkapi isi kalimatnya, aku sudah terlebih dahulu memotongnya dengan antusias.
"Namaku Naruto, Naruto Namikaze. Mavis-chan, kau bisa memanggilku Naruto-senpai—tidak, kau bisa memanggilku Naruto-san!"
Hal yang ingin kudengar—setidaknya sekali dalam seumur hidup—adalah ada yang memanggil namaku dengan honorofik -san. Aku sudah pernah sedikit memberikan kode kepada Megumi agar ia memanggilku menggunakan -san, tetapi ia tidak menangkap kodeku sama sekali dan itu membuatku sedih.
Karena itulah, kali ini aku akan secara terang-terangan meminta kepada adik kelas yang baru kutemui ini.
"Ahahaha … aku tahu itu, Naruto-kun. Namamu dan Sasuke-kun menjadi terkenal setelah kalian berdua memenangkan battle of justice dua minggu yang lalu."
Tu- tunggu, apa barusan Mavis-chan memanggilku Naruto-kun? Tidak, seharusnya itu tidak berakhir seperti ini, 'kan? Aku mengutarakan niatku secara langsung dan aku pun mendapat penolakan juga secara langsung. Bahkan, tanpa basa-basi sama sekali.
Memikirkannya saja, sudah membuatku ingin mati saat ini juga. Apa aku memang seburuk itu?
"Naruto-kun, kamu baik-baik saja?" tanya Mavis-chan dengan dengan mata lebarnya yang terlihat penasaran itu.
"Ti- tidak— maksudku, aku baik-baik saja," ucapku lirih.
"Be- begitukah? Kalau kamu baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang kamu butuhkan, aku permisi dulu. Aku masih memiliki beberapa urusan setelah ini."
Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang itu, akhirnya Mavis-chan benar-benar pergi meninggalkanku yang depresi seorang diri di sini.
Jika saat ini aku sedang berada di desa, nenek pasti sudah memelukku dan mengusap kepalaku agar rasa sedihku bisa menghilang dengan cepat. Akan tetapi, aku sendirian di sini dan aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga.
"Naruto-kun?"
Ughh … entah kenapa sekarang aku menjadi lebih depresi ketika mendengar orang memanggilku seperti itu. Namun, aku tidak dapat mengabaikan panggilan itu. Dengan leher yang terasa sangat berat karena beban mental yang tiba-tiba menghantamku, aku menolehkan kepala ini untuk menengok ke arah sumber suara itu berasal.
Di sana, aku mendapati sosok gadis dengan rambut biru tua yang dikepang menjadi dua bagian. Dia adalah gadis yang sangat kukenal. Lagi pula, aku datang ke tempat ini bersamanya hari ini.
"Megumi, bisakah aku memelukmu?" tanyaku dengan nada seperti orang yang akan mati.
"Eh? Ehhhh!" teriaknya kaget dengan muka yang sedikit memerah.
XxxxX
Gedung administrasi, bangunan yang sangat luas dengan tinggi hingga lima lantai ini merupakan pusat dari berputarnya roda administrasi akademi Shouka Sonjoku. Segala kegiatan yang dilakukan para staff hingga kepala sekolah, semuanya berpusat pada tempat ini.
Bila ruang kepala sekolah dengan seluruh staff ahlinya berada di lantai lima. Maka, lantai keempat adalah lantai yang sengaja dikhususkan untuk sepuluh dewan siswa akademi ini agar mereka dapat bekerja secara maksimal. Elite Ten Council, seperti itulah sebutan resmi yang disematkan kepada mereka. Sepuluh murid terkuat akademi yang dipercayai menjadi perwakilan suara dari 1,800 murid di akademi—mulai dari jenjang junior high hingga senior high.
Dikatakan bahwa level kekuatan mereka setidaknya berada pada tingkatan yang sama dengan pasukan elite yang dikepalai langsung oleh panglima perang kerajaan Codafata.
Lantai empat ini dapat diibaratkan sebagai teritorial khusus bagi Elite Ten Council. Hanya mereka yang berwenang dan memiliki izin saja yang dapat menginjakkan kaki di lantai ini.
Para anak bangsawan yang menduduki kursi panas ini, pastilah dengan mudah mendapatkan kursi kepemimpinan di keluarga mereka masing-masing di masa depan. Sedangkan mereka yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, pasti akan dapat kedudukan penting saat mereka bergabung dengan kesatria sihir kerajaan.
Dengan kata lain, Elite Ten Council adalah sepuluh orang jenius yang di tangannya telah menggenggam erat masa depan yang sangat cerah.
Masing-masing dari anggota Elite Ten Council, mendapatkan ruangan mereka sendiri-sendiri di lantai empat ini. Selain sepuluh ruangan yang disediakan untuk mereka bekerja, masih ada sebuah ruangan lagi. Ruangan dengan ukuran yang jauh lebih luas dari ruangan pribadi mereka. Tempat itu menjadi sebuah tempat yang mereka gunakan untuk mendiskusikan urusan-urusan dan isu-isu yang sedang berkembang.
Di dalam ruangan tersebut, tersusun sebuah meja bundar dengan kursi-kursi yang telah tertata sedemikian rupa. Tepat berada di setiap sandaran masing-masing kursi, terdapat angka satu hingga sepuluh di sana yang telah diurutkan mengikuti arah jarum jam. Angka tersebut menjadi tanda kepemilikan dari kursi tersebut. Bukan hanya itu, di atas meja itu juga terdapat sepuluh papan nama yang telah tertulis nama serta kelas masing-masing dari anggota Elite Ten Council.
Tiga dari sepuluh kursi yang tersedia, nampak telah terisi oleh pemilik sah dari kursi-kursi tersebut. Mereka bertiga duduk dalam diam, tanpa mengindahkan satu sama lain. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat berniat membuka sebuah obrolan meski itu hanya sepatah kata sekali pun.
Keheningan itu lenyap ketika suara decitan dari satu-satunya pintu masuk itu menggema di dalam seluruh ruangan. Dengan spontan, tiga kepala yang berada di sana menoleh mengikuti sumber suara tersebut berasal.
Dari balik pintu, masuklah sesosok gadis bersurai pirang dengan perawakan tubuhnya yang mungil. Melihat kaki dan tangannya yang sangat ramping, pasti kebanyakan orang tidak akan percaya bahwa gadis ini adalah salah satu murid terbaik di akademi yang sangat terkenal ini.
Dengan langkah yang anggun, gadis itu berjalan menuju salah satu sisi meja bundar yang berada di dalam ruangan. Ia menggeser pelan sebuah kursi yang memiliki tanda berupa angka enam pada sandaran kursi tersebut. Gadis pemilik kursi keenam itu duduk tepat di sebelah kiri dua orang yang telah menunggunya sejak tadi.
"Kau terlambat, Mavis," ucap seorang laki-laki dengan suara maskulinnya.
Dengan angkuhnya, laki-laki tersebut duduk tidak jauh dari gadis yang ia panggil Mavis itu. Di depannya, terdapat sebuah papan nama yang bertuliskan Gilgamesh Yazid Codafata, seorang siswa tahun kedua senior high dan berasal dari kelas 2-A.
Dia yang merupakan pemegang kursi keempat, sudah dapat melambangkan betapa tingginya kedudukan laki-laki itu di akademi ini. Terlebih, statusnya yang merupakan putra mahkota kerajaan Codafata, membuat posisinya semakin tak tergoyahkan.
"Maafkan saya, yang mulia. Buku-buku di perpustakaan sempat menyita waktu saya," balas gadis yang duduk di kursi keenam itu.
Mavis Vermillion, seperti itulah nama yang tertulis di papan nama yang berada tepat di depan gadis itu. Seorang siswi tahun kedua yang berada di kelas 2-B. Di balik tubuh mungilnya, dia memiliki kekuatan yang cukup untuk memberikan perasaan ngeri bagi lawan-lawannya.
"Jika kamu memiliki tugas, seharusnya kamu lebih memperhatikan waktu yang kamu miliki, Mavis-chan" ucap seorang gadis di sebelah kanannya yang juga memiliki rambut berwarna pirang panjang.
"Kamu yang memintaku kemari secara tiba-tiba. Jadi, aku rasa kamu tidak memiliki hak untuk menghakimiku, Lavinia-senpai."
Meskipun mendapat balasan yang terkesan sedikit kasar, itu tidak membuat gadis dengan nama lengkap Lavinia Reni itu menjadi marah atau semacamnya. Sebagai seorang murid tahun ketiga dan menempati kursi kelima, tentu saja dia memiliki penguasaan emosi yang bagus.
Terlebih lagi, sebuah senjata kelas longinus yang dianugerahkan dewa padanya, membuat kepercayaan diri yang dimiliki siswi dari kelas 3-B itu tidak tergores sama sekali meskipun mendapat sindiran halus seperti yang baru saja ia terima. Selain itu, statusnya yang merupakan siswi perwakilan dari gereja, tentu membuatnya harus menampilkan sosok wanita pemaaf dan murah hati kepada siapa pun.
Satu-satunya orang yang memiliki rambut merah di ruangan ini nampak cemas karena melihat interaksi kakak kelasnya yang sedikit tidak bersahabat. Meskipun pemandangan ini sudah biasa, tetapi sebagai sesama anggota Elite Ten Council sekaligus pemegang kursi kesepuluh, ia tetap merasa khawatir setiap kali melihatnya.
"Bukankah ada sesuatu yang lebih penting yang harus dibahas?" ucap Erza untuk melerai keadaan.
Mavis yang mendengar ucapan Erza, akhirnya menurunkan sedikit tensi yang sedari tadi ia keluarkan. Meski begitu, ia tidak begitu saja menanggapi junior-nya tersebut.
Kedua netra hijau tua yang ia miliki memandangi dua kursi kosong secara bergantian dengan tatapan bertanya. Angka tiga dan sembilan terukir jelas di masing-masing kursi yang dipandangi oleh Mavis.
Gilgamesh yang mengerti arti dari tatapan itu pun akhirnya angkat suara.
"Mereka berdua berhalangan hadir. Jadi, kita tidak perlu menunggu kedatangan mereka. Kau bisa memulai menjelaskan hasil pengamatanmu."
Dari ketiadaan, tiba-tiba muncul lingkaran sihir di depan setiap orang yang berada di dalam ruangan ini. Dari lingkaran sihir tersebut, muncul sebuah hologram yang menampilkan tiga buah foto beserta beberapa tulisan kecil di bawahnya.
"Aku tidak tahu kenapa kalian ingin aku menampilkan profil, kemampuan, dan kemungkinan perkembangan dari tiga siswa tersebut selama ini. Akan tetapi, sebagai sesama Elite Ten Council, aku akan mencoba melihat dari sisi positif untuk menyikapinya," ucap Mavis.
Sebagai seseorang yang menduduki kursi keenam, Mavis memiliki tanggung jawab untuk terus memantau kemampuan dan berbagai kemungkinan yang bisa dimiliki oleh siswa-siswi akademi ini, khususnya bagi murid yang telah ditandai sebagai murid potensial. Tentu saja, dalam menjalankan tugasnya, ia tidak bekerja seorang diri. Ia bekerja bersama asistennya dan juga staff-staff guru yang terkait.
Mavis mengedarkan kembali pandangannya ke ketiga orang yang berada di ruangan ini. Merasa bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang berniat menimpali perkataannya, akhirnya ia pun memulai penjelasannya.
"Yang pertama adalah Sasuke Uchiha," Ucap Mavis dan secara otomatis menampilkan wajah Sasuke di sihir hologram yang ia keluarkan.
"Ia mendaftar ke jenjang senior high menggunakan jalur tes dan mendapatkan beasiswa penuh dari akademi. Dengan kata lain, ia mempunyai kemampuan yang hebat meskipun tidak memiliki sharingan. Selama pelatihan dungeon yang dilaksanakan kelas 1-G, ia pergi berburu seorang diri dan berhasil mengalahkan sekitar 50 goblin yang berada di sarangnya. Meskipun di sana tidak ada king goblin, tetapi membantai goblin seorang diri bukanlah pekerjaan mudah bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan," terangnya.
Lavinia mengangguk paham, kemudian bertanya, "Bagaimana dengan potensinya?"
"Sebagai seorang Uchiha, dia jelas memiliki jumlah mana yang sangat besar. Selama ini, kelemahan Uchiha yang paling mencolok adalah konsumsi mana pada sharingan yang terlalu boros. Jadi, pada kasus Sasuke, dia mengalokasikan sejumlah mana-nya untuk menggunakan sihir api dengan skala yang besar dan kuat tanpa perlu khawatir kehabisan mana. Sihir Hiken yang dia gunakan saat pertandingan lalu, termasuk ke dalam kategori rank A bawah jika kita melihat dari segi kerusakannya."
Dalam sekali tarikan napas, Mavis melanjutkan, "bukan hanya sihir api miliknya yang bersifat sangat ofensif, tetapi juga ketrampilan berpedangnya berada di atas rata-rata. Dia memiliki dasar bela diri dan seni berpedang yang kuat dan agresif. Mengingat dia menganut seni bertarung para samurai seperti Erza dan cara bertarungnya yang sama-sama agresif, maka tidak heran bila Sasuke Uchiha akan menguasai aliran battou-jutsu suatu saat nanti."
"Bukan Battou-jutsu dan tidak perlu menunggu hingga suatu saat nanti," potong Erza dengan segera. "Pagi ini, aku melakukan latih tanding dengan Sasuke. Perkembangannya sangat pesat dari terakhir kali aku melawannya. Bukan hanya itu, bahkan dia telah menciptakan teknik yang mungkin akan menjadi sesuatu lebih kuat dari Hiten Mitsurugi jika ia berhasil menyempurnakannya."
Ingatan Erza kembali pada saat ia sedang berada di ujung kekalahan ketika melawan Sasuke. Meskipun pada akhirnya ia berhasil membalikkan keadaan, tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa serangan terakhir Sasuke memiliki arah serangan yang sangat presisi dengan kecepatan serta kekuatan yang mengagumkan.
'Sangat jelas, bahwa itu tidak termasuk ke dalam dasar-dasar aliran Battou-jutsu. Agresifitas dan kecepatan adalah senjata utama dari Battou-jutsu dan aliran ini tidak begitu memikirkan tentang akurasi. Karena selama kekuatan, kecepatan, dan arah dari mata pedangmu terjaga, maka perisai setebal apa pun bisa dibelah jika itu menggunakan aliran battou-jutsu.' imbuh Erza dalam hati.
"Begitukah? Aku belum meninjau hasil kegiatan belajar-mengajar untuk hari ini. Jadi, aku rasa ini adalah data baru yang harus ditambahkan," ucap Mavis mengangguk.
"Jadi, maksudmu adalah bahwa dia memiliki potensi yang bagus meskipun ia adalah Uchiha yang cacat?" tanya Gilgamesh.
Telinga Mavis sedikit memanas ketika mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya. Baginya, setiap manusia pasti memiliki potensi yang berbeda tanpa perlu memandang kekurangannya. Namun, ia tidak ingin memperkeruh suasana hanya karena opini-opini yang tidak berharga seperti itu,
"Tepat. Meskipun fakta bahwa ia justru menciptakan teknik baru yang memiliki potensi yang dapat melebihi aliran Battou-jutsu, itu sedikit melenceng dari prediksiku sebelumnya."
'Mungkinkah faktor dari lingkungan pertemanannya benar-benar berpengaruh dalam kasus ini?' tanya Mavis dalam hati.
"Untuk Sasuke, aku rasa cukup sampai di sini saja. Ia baru begabung dua bulan yang lalu dan dengan waktu yang sependek itu, data yang aku miliki sangat terbatas," imbuh Mavis kemudian.
Merasa bahwa penjelasan tentang Sasuke telah cukup, ia pun mengganti tampilan sihir hologramnya. Jika sebelumnya menampilkan profil seorang Sasuke Uchiha, sekarang bergeser menjadi sebuah foto yang memperlihatkan sosok seorang gadis dengan wajah datar dan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.
"Selanjutnya adalah Sona Sitri. Dia telah mendaftar sejak tahun pertama junior high. Secara keseluruhan, dia adalah siswi dengan peringkat rata-rata. Jika tidak ditolong dengan nilai-nilai pelajaran teori miliknya yang sempurna, mungkin peringkatnya akan terjun bebas. Bisa dibilang, dia hanya bagus dalam teori dan buruk dalam praktik. Atau setidaknya, seperti itulah yang akan dipikirkan kebanyakan orang."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Mavis, membuat tiga orang lainnya menjadi sedikit tertarik. Mereka memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan perkataan gadis mungil itu selanjutnya.
"Meskipun aku tidak memiliki bukti, tetapi aku merasa bahwa dia sengaja menyembunyikan kemampuannya. Meskipun ia terkenal memiliki rasa keadilan yang tinggi, dia tetaplah adalah seorang Sitri. Kita tidak tahu siasat apa yang ingin ia mainkan kali ini," imbuhnya.
"Jadi, maksudmu adalah bahwa yang kamu katakan barusan itu tidak memiliki dasar?" tanya Lavinia dengan nada yang anggun.
"Mavis benar, Lavinia. Meskipun dia tidak memiliki bakat sihir, Sitri tetaplah Sitri. Mereka adalah keluarga dengan pengaruh politik yang besar," sangkal Gilgamesh. "Sudah tidak terhitung banyaknya siasat yang mereka mainkan sejak zaman dulu untuk naik hingga ke posisi ini. Karena itulah, menurutku dia adalah orang yang paling berbahaya yang harus diperhatikan."
"Tidak. Anda salah, yang mulia," bantah Mavis dengan cepat. "Naruto Namikaze adalah orang paling merepotkan dari mereka bertiga,"
"Hah? Bukankah dia hanya healer? Bahkan, meskipun dia dapat bertarung, tetapi gaya bertarungnya itu hanya gaya bertarung berandal jalanan. Satu-satunya yang membuatku tertarik, adalah saat ketika racun dari sihir cursed magic milik Ukon tidak bekerja pada dirinya," respon Gilgamesh dengan nadanya yang sedikit menaik.
Gilgamesh adalah seorang putra mahkota. Dia adalah orang yang merasa dirinya berada di atas orang lain dengan segala anugerah yang telah diberikan dewa padanya. Karena itulah, dia tidak suka bila ada orang lain yang menyanggah perkataannya. Namun, karena lawan bicaranya kali ini adalah Mavis yang memiliki pemikiran yang sangat objektif, ia pun memilih diam terlebih dahulu dan mendengarkan alasannya.
"Tepat sekali. Dia tidak memiliki dasar seni bela diri atau sihir dengan tingkat ofensif yang tinggi seperti Sasuke. Bahkan, meskipun nilai-nilai teorinya sempurna, tetapi kinerja otaknya masih berada satu tingkat di bawah Sona. Satu-satunya yang menonjol dari lainnya adalah ia memiliki kekuatan fisiknya yang jauh di atas manusia normal," jelas Mavis.
"Kau bahkan mengakui hal itu. Sekarang, Bagian mana yang membuatnya lebih merepotkan dari mereka berdua?" tanya Gilgamesh sekali lagi.
Erza yang sedari tadi mendengar pembicaraan ini, merasa dadanya sedikit berkecamuk ketika mendengar Naruto terus direndahkan. Selama ia mengenal Naruto, Erza mengambil kesimpulan bahwa laki-laki itu adalah orang yang seharusnya dapat dihargai melalui kerja keras dan dedikasinya.
"Justru karena itulah yang membuatnya merepotkan," balas Mavis.
"Berhenti basa-basi, Mavis-chan," tegur Lavinia yang juga sedikit tidak sabar.
Jika Mavis hanya melihat Naruto saat bertarung melawan Sakon dan Ukon, mungkin ia akan memiliki pikiran yang sama seperti mereka. Namun, dia telah memperhatikan anak itu semenjak pelatihan dungeon yang dilakukan kelas 1-G. Seluruh aksi yang telah Naruto tunjukkan, mengubah sudut pandang Mavis terhadap bocah itu.
Mavis menghela napas lelah dan berkata, "dia tidak memiliki jiwa kesatria seperti Sasuke. Sehingga dia tidak akan pernah bertarung satu sama lain hingga salah satunya tumbang. Kebanggaan yang dia miliki bukanlah kebanggaan seorang kesatria. Kebanggaan yang ia miliki adalah kebanggaan seorang dokter. Itu membuatnya tidak akan ragu kabur dari medan pertempuran meski ia dicap sebagai pengecut sekali pun. Karena baginya, keselamatan adalah nomor satu."
Lavinia menyipitkan kedua matanya. Sepasang netranya terus membaca rangkaian-rangkaian yang tersaji di sihir hologram milik Mavis.
"Itu masih belum menjelaskan alasan dari kesimpulanmu, Mavis-chan," ucap siswi tahun ketiga itu.
"Seperti yang kalian lihat di tampilan. Itu adalah rangkuman dari pencapaiannya yang berhasil mengalahkan empat kobold dan satu king kobold seorang diri," jelas Mavis. "Yang menjadi sorotanku, dia berhasil membawa kabur rekan-rekannya seorang diri, merawat mereka, dan kemudian kembali lagi memburu kobold itu dengan rencana yang matang."
Saat Mavis mulai menampilkan data tersebut, mereka semua menjadi terdiam seketika. Bahkan, Erza yang telah mengenal Naruto pun tidak menyangka bahwa seorang healer sepertinya dapat melakukan hal gila seperti itu.
"Sesungguhnya, daripada kembali ke tempat para kobold tersebut, Naruto-kun memiliki pilihan lain untuk mencari tempat berburu yang lebih aman. Akan tetapi, dia justru memilih untuk kembali ke para kobold tersebut.
Sama seperti kalian, aku pun awalnya bingung dengan keputusannya. Namun, ketika aku meneliti lebih lanjut, aku mendapat kesimpulan, bahwa dia yang lebih memilih kembali itu karena ia memiliki informasi yang cukup tentang jumlah monster dan formasi yang monster itu gunakan." Jelas Mavis.
Belum cukup, ia melanjutkan, "daripada memilih tempat lain secara acak dengan minimnya informasi dan risiko bertemu monster yang lebih merepotkan, ia memilih keputusan yang tepat untuk kembali ke sesuatu yang sudah pasti dan datang dengan rencana yang matang."
Erza terus memperhatikan layar hologram tersebut yang kini menampilkan Naruto yang dengan mudahnya menghabisi para kobold itu menggunakan pisau aneh sebagai senjatanya.
"Dia sangat cepat, akurasinya juga bukan main-main," gumam Erza
"Tunggu, tidakkah mereka terlalu mudah dikalahkan oleh orang yang menggunakan pisau kecil itu?" tanya Gilgamesh.
"Itu adalah pisau bedah, senjata utama yang digunakan Naruto. Aku juga sudah memeriksa mayat-mayat kobold itu, mereka semua mati karena keracunan," terang Mavis. "Bukan hanya itu, luka-luka yang diderita kobold itu tepat di pembuluh darah, sehingga racun lebih mudah menyebar dengan cepat."
'Dengan kecepetan seperti itu, dia bisa tepat mengenai pembuluh darahnya?' gumam Erza dalam hati.
"Tepat sekali. Jika kalian memperhatikan lebih lanjut, bagaimana caranya bersembunyi, menyerang, kemudian bersembunyi lagi merupakan sebuah teknik yang mirip seperti seorang assassin. Hanya saja, cara bertarungnya yang terlalu ceroboh itu, membuatnya terlihat serampangan di waktu yang sama."
Sekarang, mereka bertiga mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Mavis. Naruto bukanlah seseorang yang tubuhnya telah ditempa oleh bela diri seperti Sasuke. Tidak, bahkan Gilgamesh pun yakin bahwa siswa jabrik itu tidak pernah belajar sama sekali tentang seni bela diri. Apa yang ia lakukan adalah sebuah bentuk dari adaptasi dari berbagai pengalaman yang telah didapat oleh tubuhnya sendiri.
"Hal tersebut juga ia lakukan terhadap Ukon. Naruto-kun menyanyat otot-otot di bagian lengan, paha, dan lehernya sehingga membuat Ukon kehilangan tenaga untuk bergerak dan berbicara," lanjut Mavis.
Jika ia kembali mengingat bagaimana cara bocah jabrik itu bertarung melawan Sakon dan Ukon dan bagaimana caranya menyelamatkan Sasuke Uchiha dari sihir yang dimiliki Ukon, itu membuat semuanya semakin masuk akal di kepala Gilgamesh.
Naruto Namikaze, ia tidak datang dengan kebanggaan dan kepercayaan diri yang tinggi seperti layaknya kesatria, dia justru kebalikan dari itu semua. Di dalam kepalanya, dia sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Sehingga dia dapat beradaptasi dengan baik terhadap itu semua.
Erza yang masih terfokus kepada layar pun akhirnya mengeluarkan pendapat yang sedari tadi ia tahan.
"Yang ada di pikiran Naruto bukanlah sesuatu seperti bagaimana cara mengalahkan musuh. Melainkan lebih seperti bagaimana cara agar ia tetap bisa hidup," ucap Erza. "Jika tekad untuk meraih kemenangan melekat pada diri kesatria karena tuntutan atas kebanggaan yang dimilikinya. Maka, tekad untuk bertahan hidup hanya akan muncul terhadap mereka yang telah mengetahui betapa kerasnya dunia serta orang-orang yang telah berkali-kali menghadapi keadaan hidup dan mati."
Erza mampu memahami nilai-nilai tersebut dengan baik. Bagaimanapun juga, dia dulunya adalah seorang budak yang dapat bertahan hidup sehari saja sudah seperti anugerah. Bahkan, meski setelah ia tinggal di panti asuhan, kerasnya dunia yang terasa seperti berada di alam liar selalu menghantuinya.
Gilgamesh tertawa dengan lirih setelah mengetahui seperti apa kondisinya saat ini. Tawanya tersebut begitu memekikkan telinga meskipun suaranya tidak keras. Ia tidak dapat berhenti tertawa ketika memikirkan seperti apa tiga siswa yang ingin ia jadikan mainannya.
"Mereka memang kelompok yang merepotkan. Namun, itu justru semakin bagus. Aku ingin melihat reaksi mereka saat predator sejati mulai menampakkan taringnya pada kelinci-kelinci kecil itu," ucap Gilgamesh.
Lavinia yang mengerti pun tersenyum miring mendengar pernyataan rekannya tersebut.
"Anda benar-benar suka bermain-bermain dengan mangsa anda, yang mulia," ucap gadis tersebut.
"Aku ingin memberi kesempatan mereka agar dapat sedikit bernapas. Hingga saatnya tiba, akan kuambil itu semua dan kubuat para Sitri sialan itu untuk menunduk di bawah kakiku."
'Jadi, pada akhirnya dia ingin mengambil keuntungan dari situasi ini untuk membawa paksa Marquess Sitri berlabuh ke pihaknya, ya?' batin Mavis.
Bahkan, meskipun setelah pengangkatan Gilgamesh menjadi putra mahkota, Lord Sitri masih belum mengambil langkah politik apa pun. Hal itu membuat dukungan politik yang dimiliki Gilgamesh tidak begitu kokoh meski ia telah mengamankan posisi putra mahkota.
Karena itulah, dia harus membawa Marquess Sitri ke pihaknya, apa pun caranya. Walaupun adik perempuannya bukan sosok yang dicintai oleh dewa sepertinya, tetapi ia ingin membawa kemenangan pasti untuk takhtanya. Dengan begitu, ia akan menjadi penguasa mutlak untuk kerajaan ini.
Pada akhirnya, dunia ini adalah sebuah panggung politik kecil yang diperankan oleh orang-orang dengan kuasa yang tinggi. Sebuah tipu daya, konspirasi, pengkhianatan, pengorbanan, dan air mata adalah sesuatu yang dianggap lumrah untuk pertunjukan ini. Hal-hal yang berbau busuk, seperti itulah pondasi yang membangun dunia politik di negeri ini.
"Perkumpulan Masyarakat Modern yang ingin meningkatkan kepercayaan diri para rakyat jelata? Heh, jangan konyol. Akan kutunjukkan pada mereka akibat bermain-main menjadi pahlawan keadilan seperti itu. Akan kuhancurkan satu-satunya harapan yang mereka miliki," ucap Gilgamesh dengan seringainya.
Gilgamesh memandang Erza dengan tatapan tegas dan berkata, "Erza, sebentar lagi, keluarga Sitri akan mengadakan debutante ball untuk memperingati ulang tahun ke-17 dari Sona Sitri. Hingga saat itu tiba, kuperintahkan kau agar membeli waktu untukku."
Dengan titah dari Gilgamesh Yazid Codafata itu, membuat seorang Erza Scarlet yang mendapat julukan The Titania itu berdiri dari kursinya dan bersujud layaknya seorang kesatria. Meskipun ada beberapa yang mengganggu pikirannya, ia tidak bisa menolak perintah tersebut jika ia ingin dianggap berjasa untuk negaranya.
"Akan saya laksanakan, Yang Mulia."
Bersambung
Author Note : Yahallo, chapter 15 sudah datang. Jujur aja, saya tidak memiliki banyak waktu untuk menulis fanfict. Jadi, saat kampus saya melakukan sistem kuliah online, itu membuat saya memilki waktu lebih banyak di rumah dan bisa menulis ini hm.
Pertama-tama, aku ingin menjawab review anonim yang masuk. menggunakan dagger? jujur saja, dulu pernah berpikir seperti. Namun, aku pikir untuk tidak memakainya dan lebih memilih agar Naruto menggunakan pisau bedah saja. alasan terbesarku adalah aku ingin itu menjadi salah satu ciri khas Naruto sebagai seorang ahli medis. selain itu, pisau medis sebenarnya sangat tajam lo. meskipun tidak dapat mengoyak dan daya rusaknya lebih rendah dari dagger, tetapi ukuran pisau medis yang kecil (hanya sebesar dua hingga tiga jari tangan) membuatnya dapat digunakan lebih leluasa. selain itu, pisau medis sudah cukup untuk merobek otot-otot yang melekat. fyi, otot itu beda dengan urat. kalau bahasa sehari-harinya, otot itu adalah sesuatu yang orang-orang sering sebut sebagai daging. meskipun serampangan, gaya bertarung Naruto itu mengutamakan efisiensi, sehingga dia lebih suka melumpuhkan daripada menyerang dengan kerusakan yang besar seperti jika menggunakan dagger. namun, nanti akan datang saatnya Naruto harus menggunakan serangan-serangan yang merusak agar dapat mengalahkan lawannya.
selanjutnya, tentang karakter yang terkesan ampas. ampas atau tidak, itu tergantung pendapat masing-masing. jika itu menurutku, aku lebih suka karakter zero to hero dengan mengutamakan perkembangan step by step pada karakternya (entah itu secara kekuatan atau secara psikis). selain itu, dari dulu sudah kutekankan kalau Naruto itu adalah karakter yang aku buat serealistis mungkin. Jadi, dia akan mengutamakan logika akal sehatnya dalam memilih hampir seluruh keputusannya. selain itu, dari awal sudah dikatakan kalau Naruto itu termasuk karakter yang sangat cerdas dan peka. Jadi, jika dia merasa dimanfaatkan, maka sudah pasti dia akan sadar. faktanya, hingga saat ini ia masih merasa nyaman berteman dengan Sasuke, Sona, Tsubaki, dan yang lain.
keputusan untuk berhenti membaca fanfict ini sepenuhnya adalah hak masing-masing pembaca. karena memang mustahil untuk menyenangkan selera perut semua orang. Bahkan meskipun tidak ada yang membaca, aku akan menulis karyaku selama aku masih punya waktu dan tidak buntu ide (seperti pada kasus fict kehidupan baruku *hiks). oh oh, aku juga mau promosi sedikit, mungkin kalian bisa membaca fict wood samurai milikku di fandom op x naruto karena dalam beberapa hari ke depan akan aku up juga haha.
Di chapter ini, aku membuka dengan keanehan yang dialami oleh Megumi hingga ia berakhir menjadi siswi Shoka Sonjoku. Aneh? Hehee.
Selain itu, aku di sini mengungkapkan hasrat dan keinginan Naruto. Dari dulu, Naruto selalu memiliki keinginan untuk menjadi siswa normal pada umumnya, seperti kebanyakan murid-murid lain di dunia nyata. Maksudku, memangnya siapa yang gak ingin punya banyak teman, adik kelas yang manis, guru yang enjoyable saat mengajar, dan pastinya tidak memiliki kesan buruk?
Nah, di sini aku ingin membuat Naruto menjadi siswa dengan keinginan senormal mungkin. Yah, meskipun akhirnya dia sendiri sangat jauh dari kata-kata normal.
Lalu, part 1 dan part 2 kali ini aku tulis dengan sudut pandang berbeda. Perlu diingat, part 1 itu ditulis menggunakan sudut pandangnya Naruto. Sehingga apa yang ditulis adalah apa yang sedang Naruto pikirkan. Jadi, akan mungkin ada beberapa fakta yang berbeda antara tulisan serta fakta yang ada. Karena memang sudut pandang orang pertama itu murni berisi tentang berbagai pikiran subjektif dari karakter tersebut. Jadi, be careful okay?
Di part 2 ini aku menunjukkan kalau Gilgamesh dan Lavinia—yang sudah dicap sebagai rintangan oleh NaruSasuSona—pun sudah mulai menunjukkan niatnya dan target utamanya adalah pengaruh dari Marquess Sitri yang notabene ayahnya Sona. Btw, ada yang tahu nama ayahnya Sona gak?
Selain itu, ternyata Erza yang sangat dikagumi Naruto itu berada pada sisi yang berseberangan dengan Naruto.
Jika chapter lalu adalah chapter pembuka untuk arc ini. Maka, chapter 15 ini adalah chapter yang akan memulai seluruh saga yang akan tersaji di arc ini. Rencanya, arc ini akan berjalan dengan panjang dan akan aku bagi menjadi dua bagian. Kerangka dan komposisi ceritanya sudah ada, semoga waktu untuk menulisnya juga ada.
Satu lagi, sepanjang cerita ini, gaya bertarung Naruto terkenal dengan kesannya yang serampangan, seperti preman jalanan. Bukan hanya Sona, tetapi Erza dan Gilgamesh pun mengangga seperti itu. Di akhir arc nanti, aku akan menjanjikan gaya bertarung Naruto yang benar-benar brutal sehingga kesan 'serampangan' nya itu benar-benar melekat pada dirinya. Jadi, tetap nantikan kelanjutan ceritanya ya hehe.
Oke, itu saja. Segala pertanyaan yang masuk sudah aku jawab via PM. Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan untuk menaruh review atau mengirim PM secara langsung. Akhir kata, aku ucapkan terima kasih atas review dan segala dukungan yang ada. Terima kasih banyak.
