Di bawah sinar bulan purnama, burung phoenix berbulu hitam, terbang melewati daratan. Membelah langit malam dengan kepulan asap berasal dari pembakaran. Daratan hijau berubah kering kehitaman, hangus, akibat tembakan meriam dari kaum manusia. Bersama sisa tulang belulang monster kegelapan, bercampur darah merah para prajurit. Barisan depan seakan menjadi sosok nyata dari gambaran neraka. Untuk kedua kalinya Hinata melihat pemandangan mengerikan ini.
Mata peraknya bergetar pelan, ia memejamkan mata, mengeraskan rahang. Hinata memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkraman kuat sang burung raksasa. Monster itu menukik tiba-tiba, kemudian melempar Hinata jatuh ke tanah, membuatnya terguling beberapa kali.
Hinata mengangkat wajah, iris perak membulat saat menyadari sosok di depan. Seorang wanita cantik berambut putih dengan gaun abu-abu kusam. Mata perak bersinar di bawah bulan purnama dengan raut datar, Hinata mengingat jelas wajah itu.
"Kaguya!" desisnya tertahan.
Wanita itu memiringkan kepala, mengerut samar. "Kau tahu namaku ternyata," sudut bibirnya tertarik sinis. "Seperti yang dikatakannya, kau penuh misteri, Nona Hinata."
Sebelah alis Hinata terangkat heran, siapa yang wanita itu maksud. Terlebih mengapa Kaguya menculiknya, bukankah seharusnya yang menarik perhatian ratu iblis adalah Naruto? apakah masa lalu telah berubah tanpa ia sadari? Namun terlepas dari semua itu, saat ini ia harus fokus terhadap musuh terakhir di depannya.
Hinata menekuk kedua kaki, mengepalkan kedua tangan, menitik beratkan kekuatan sihir di kedua tinjunya. Aura sekitar berubah, dari tubuhnya yang dibalut seragam akademi Beauxbaton terlihat samar-samar sebuah asap keunguan mengelilingi. Ketika ledakan sihir terjadi, dari kedua kepalan tangan muncul kobaran api membentuk dua kepala singa berwarna ungu tua bermata putih.
" Hakke Sojishi Hogeki!"
Hinata berlari menyerang Kaguya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Hal itu mengejutkan ratu iblis, ketika tiba-tiba saja putri duke ada di sisi kanan, menyerang dengan tinju. Pukulan meleset, mengenai tanah, detik berikutnya retakan terjadi bersama ledakan dengan daya sebar cukup luas.
Kaguya berhasil menghindar dari serangan kejutan Hinata, mengerutkan kening. Kemampuan gadis berusia tujuh belas tahun di depannya ini, tidak bisa diremehkan. Apa benar dia masih berumur belasan tahun, melihat kekuatannya yang lebih seperti hasil latihan puluhan tahun. Terlebih kemampuan yang diperlihatkan sang gadis cukup unik.
"Kau menggabungkan kekuatan sihir dengan ilmu bela diri?" Kening sang ratu mengerus samar, namun tak lama senyum miring terlihat. " Mengesankan," pujinya.
Putri duke mengibaskan rambut panjangnya. Ia menatap tajam dengan raut serupa prajurti terlatih. Tatapan dari mata perak yang seharusnya tidak terlihat dari seorang murid. Aura misterius itu berhasil membuat Kaguya sedikit bergidik ngeri.
Mata perak berubah mendung, menatap kedua tangan ramping yang dulu penuh luka gores. Mengingat kembali masa-masa dimana Hinata berlatih keras. Ia terlahir dengan kemampuan sihir yang tidak bisa digunakan untuk serangan dekat. Namun dengan kerja keras bersama Naruto dan teman-temannya dimasa lampau, putri duke berhasil menciptakan kemampuan miliknya sendiri.
Hakke sojishi Hogeki adalah bukti nyata dari hasil keringat dan air mata yang Hinata curahkan puluhan tahun. Meski pada nyatanya, kemampuan ini masih belum cukup untuk melindungi orang-orang terkasih. Ingatan ketika Naruto mati, kemudian dibangkitkan kembali, lalu membunuh teman-teman dan juga dirinya hadir. Menghantarkan rasa sesak di dada, hingga ia terpejam.
"Kemampuan ini tidak tercipta dalam semalam. Butuh ratusan malam dengan air mata perjuangan untuk membuatnya." Hinata kembali memanggil ledakan sihir di kedua tinju. Ia membuka mata, menatap penuh tekad pada ratu kegelapan.
"Semua demi hari ini, untuk membunuhmu, Kaguya!"
...
Puluhan tebasan pedang membelah monster-monster. Naruto bergerak cepat, melompat, menghindari, kemudian menebas. Semua ia lakukan dengan terburu-buru, membabi buta, hanya dengan satu keinginan, yaitu sampai di barisan depan secepatnya.
Sasuke mengikuti di belakang, agak kewalahan, namun gengsinya lebih tinggi hingga tidak ia perlihatkan. Putra Earl tidak pernah menyangka kekuatan yang tersembunyi dari rekan satu party-nya. Selepas berduka atas kematian Kushina, Naruto mengambil pedang tipis bermata ruby milik Kepala Komandan Batalion Dua. Remaja pirang itu berdiri kokoh, menatap bulan purnama di atas langit.
"Aku akan maju dan menyelamatkan Hinata!"
Itulah kata-kata terakhir Naruto ucapkan, sebelum ia melesat maju ke barisan depan. Putra Kushina dan Minato seakan hilang kesadaran, ia tidak memedulikan sekelilinginya, semua monster yang menghalangi ia tebas. Mata biru itu berkilat teguh, seakan yang ia lihat hanyalah sosok Hinata di depan sana.
Sakura ikut maju, membantu Sasuke yang berada di belakang Naruto. Keduanya berperan sebagai pendukung, mereka bertiga nekat menerobos ke barisan depan. Saat berada di barisan tengah, tiba-tiba saja Kakashi datang dan ikut berlari di samping Sasuke. Mata hitamnya menatap punggung murid pirangnya, sebelum melirik putra earl.
"Seingatku, aku menyuruh kalian untuk bertahan hidup. Bukan malah menantang maut!"
Sakura menggelengkan kepala, "Mana bisa kami diam, ketika Hinata berada di barisan depan!"
Kakashi membulatkan mata, tidak percaya mendengar jawaban Sakura. "Apa yang dipikirkan ketua kelompok kalian?!"
"Dia disambar burung phoenix dan dibawa pergi ke barisan depan." Sasuke menyahut, membuat Kakashi terdiam. "Karena itu, seperti yang kau lihat. Naruto berusaha menyelamatkan Hinata, dan kami mencoba membantu."
"Kalian gila."
Sasuke dan Sakura sama-sama mengedik bahu, tidak peduli. Orang yang telah menyatukan serta membuat party yang terdengar mustahil ini, tengah berada diujung tanduk. Mana mungkin mereka berdiam diri, tentu saja walau dilarang sekalipun Naruto, Sakura, dan Sasuke akan maju menyelamatkan.
Setiba mereka di barisan depan, pemandangan mengerikan yang tadi dilihat Hinata juga mereka lihat. Sakura menutup mulut, Sasuke mengerutkan kening, dan Naruto, remaja itu tidak berkedip. Mata biru seluas samudra mengedar, mencari sosok gadis berambut biru gelap dengan lambang Hyuuga di sisi kanan mantel. Ketika atensinya berhasil menemukannya, ia terpaku.
Gerakannya cepat, anggun, dan kuat. Hinata menyerang Kaguya bertubi-tubi, membuat kerusakan di beberapa titik di tubuh sang ratu. Namun bukan hanya ratu kegelapan yang terluka, sang gadis juga menderita lebam dan sayatan di beberapa bagian tubuh. Rok hitamnya bahkan sedikit terbakar, dengan darah di lutut, serta di pelipis kanan.
"HINATA!" panggil Naruto sebelum berlari menghampiri.
Ia menoleh, tersentak kaget melihat Naruto di depan mata. Remaja pirang itu bergerak cepat, merengkuh tubuh mungil sang gadis yang terlihat kehabisan tenaga. Sementara itu Sasuke dan Kakashi berdiri di depan mereka berdua. Sakura ikut menghampiri Hinata, ia segera mengumpulkan kekuatan untuk menggunakan Healing Magic.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" tatapan biru itu terlihat cemas, ia bahkan menyeka darah di pelipis sebelum menggunakan kekuatan sihir penyembuh level satu. "Untunglah aku tidak datang terlambat," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
Jika ia datang terlambat dan melihat sosok Hinata tinggal raga. Entah apa yang akan ia lakukan kelak. Ia tidak sanggup membayangkan dirinya kehilangan lagi orang terkasih. Cukup sang bunda pergi meninggalkannya, jangan sampai gadis dalam pelukannya juga pergi. Saat tubuh mungil itu disambar oleh burung keparat itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Aku baik-baik saja, Naruto-kun." Deru napas Hinata perlahan mulai stabil. Ia kembali berdiri, mendorong pelan dada bidang yang menompangnya. "Terima kasih, aku tahu kalian pasti akan datang."
"Kalian hanyalah kaum rendah! Kaum Iblis tidak akan kalah!" Kaguya berujar lantang tanpa rasa takut sama sekali. Manik perak itu berkilat, kemudian mata ketiga di kening terbuka, memerlihatkan iris pusaran berwarna ungu. "Sudah cukup aku bermain-main."
Kaguya mengangkat kedua tangan, seakan menarik tali penggerak. Dari dalam tanah muncul gumpalan hitam membentuk prajurit-prajurit berpakaian lengkap. Kemampuan dari seorang Necromansis, kemampuan sihir untuk membangkitkan jiwa yang telah dibunuh untuk dijadikan prajurit kematian.
Para undead berteriak nyaring, membuat bulu kuduk meremang. Hinata menelan ludah gugup melihat puluhan pasukan kematian. Ini adalah pertarungan penentu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kelak, karena itu sebelum mereka menyerang. Ia telebih dahulu menarik tangan Naruto. Kedua mata berbeda warna itu bertemu, bersitatap agak lama.
"Dengar Naruto-kun, kau tidak boleh ragu. Kita harus mengalahkan Kaguya, apapun yang terjadi." Ia meremas pelan tangan pemuda di depannya. "Meski itu artinya kau harus membunuhku, jika Kaguya mendapatkan nyawaku."
Kata-kata Hinata jelas mengejutkan Naruto. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" sambil menggenggam erat tangan sang putri duke, ia bersumpah. "Aku pasti akan melindungimu, Hinata."
"Aku tahu, begitu pula denganku, Naruto-kun." Seulas senyum manis, Hinata berikan dengan tulus. "Aku akan melindungimu dengan mempertaruhkan nyawaku juga."
Keduanya saling mengangguk mengerti, menghantarkan tatapan saling mempercayai. Keduanya menoleh menatap ke arah Kaguya, siap untuk pertarungan hidup dan mati. Naruto melangkah ke depan, memposisikan dirinya untuk menjadi pelindungi Hinata. Ia menarik pedang, mengarahkan ujung bilah ke arah Kaguya.
"Mari kita selesaikan ini, lalu pergi makan-makan!"
Sasuke mendengkus pelan, "Aku akan tidur jika ini selesai."
"Ha ha ha..., kalau aku sepertinya akan pergi ke pemandian air panas." Sakura ikut menimpali.
Naruto berdecak pelan, "Tidak bisakah kalian kompak sedikit denganku?!"
Sakura, Sasuke, dan Hinata dengan kompak menggelengkan kepala mereka. Hal itu membuat Naruto semakin memajukan bibirnya kesal.
"Kami tidak akan kalah darimu, Kaguya!"
Teriakan Naruto seakan menjadi penyemangat bagi mereka berempat. Detik berikutnya mereka menghilang. Dari arah kanan, Naruto bersama Hinata menyerang. Sang gadis meluncurkan tembakan bola listrik, sementara sang pria mengayunkan pedang.
Kaguya kembali menghindari bola listrik, menggunakan lengan yang telah diperkuat dengan sihir untuk menangkis pedang Naruto. Kuku panjangnya berhasil memerikan sayatan di pelipis sang remaja pirang ketika menghindar. Lalu dari belakang, Sasuke muncul dengan tiga lingkaran sihir kemerahan, ia meluncurkan serangan bola api, siap membakar musuh.
Lagi-lagi ratu iblis berhasil menangkis, salah satu prajurit mengorbankan diri untuk melindunginya dari lautan api. Tidak sampai disitu, dari balik kobaran api Sakura muncul dengan tinju terkepal. Gadis merah muda menyerang perut prajurit, tembus mengenai dada kaguya, melempar sang ratu beberapa meter.
Ratu iblis mengerut samar, rambut panjangnya berkibar, ujungnya meruncing membentuk tombak, kemudian menyerang bertubi-tubi. Keempat murid akademi Beauxbaton melompat menghindar. Naruto tetap menjaga jarak dengan Hinata, ia merapal mantra, memperkuat pedang Kushina.
"O'dewa , bakar bara api, tempa pedangku hingga panas membara, bruciare!"
Sinar kuning keemasan menyelimuti seluruh pedang. Kemampuan dari Swordmage, Naruto berhasil menempa pedangnya hingga sangat tajam, dengan panas bara api yang mampu melebur apapun. Mata biru laut sang remaja pirang berubah keemasan, pupil menyipit seperti binatang buas.
"Kita lakukan lagi, Hinata!"
Putri duke mengangguk, kembali menggunakan Hakke sojishi Hogeki. Mereka menyerang bersama-sama, pukulan kemudian tebasan. Keduanya memberikan Kaguya beberapa luka sebelum ratu iblis berhasil mendaratkan pukulan pada Hinata. Gadis berambut biru gelap terlempar beberapa meter, dengan sigap Naruto menangkap tubuhnya.
Sasuke ikut menyerang, menggunakan sihir untuk memperkuat pedang. Katana hitam legam itu mengeluarkan percikan listrik kebiruan. Mata hitam berubah menjadi merah, putra earl melompat menyerang, memotong rambut Kaguya yang menjadi tombak.
Ketika pertarungan semakin sengit, perasaan buruk Hinata kian menguat. Ketika mata peraknya mendapati seekor monster anjing berlari hendak menerkam Naruto. Gadis itu menembakan sihir, ia berhasil menyelamatkannya. Namun ia lengah, tidak melihat sebuah tombak hitam melesat ke arahnya, menikam tanpa ampun tepat di jantung.
"HINATA!"
Teriakan nyaring itu berasal dari Naruto. Kedua mata laki-laki itu membulat, air mukanya memucat ketika melihat sosok Hinata tertusuk tombak hitam tepat di dada. Gadis manis itu memuntahkan darah segar, terbatuk keras dan jatuh ke tanah.
Sakura segera berlari untuk menolong, namun serangan tiba-tiba dari tiga ekor anjing membuatnya mundur. Naruto sudah berlari ke arah Hinata, memeluk tubuh lemah putri duke dengan wajah kian memucat. Di dadanya tombak hitam masih bersemayang di sana, membuat sang pria tidak tahu harus melakukan apa.
"Tidak, tidak, tidak..., Hinata, apa yang harus aku lakukan?!" Naruto panik, haruskah ia mencabut tombak terlebih dahulu, ataukah menggunakan sihir penyembuh. "Tetap bersamaku, Hinata! jangan tutup matamu!"
Tangan seputih susu itu meremas pelan tangan besar Naruto. Hinata tersenyum lemah, mata peraknya bergetar pelan. "..., Jangan ragu Naruto-kun. Aku tahu kau mampu," susah payah ia mengulurkan tangan, membawa wajah sang pria untuk mendekat.
Kecupan singkat Hinata berikan di bibir, kemudian tersenyum manis. "Aku mencintaimu, Naruto-kun."
Tiba-tiba saja tombak hitam dicabut paksa, membuat Hinata kembali terbatuk keras. Bersama sebuah bola cahaya berpendar putih keluar dari dadanya, putri duke menghembuskan napas terakhir.
"TIDAK! HINATA!"
Naruto berteriak keras, memanggil nama yang telah pergi. Wajahnya basah oleh air mata, masih tidak terima dengan kenyataan, bahwa gadis dalam pelukannya kini terkulai tanpa nyawa.
Benda yang telah merengut nyawa putri Hiashi kembali kepada sang pemilik, Kaguya. Wanita itu tertawa mengerikan, mengambil benda bundar seperti inti jiwa. Matanya berbinar senang, bibirnya tersenyum lebar.
"Baru kali ini aku melihat jiwa seindah ini," katanya. Kemudian dengan sekali lahap, Kaguya memakan jiwa Hinata.
Mata perak itu berkilat, "Bangkitlah!"
Tubuh Hinata yang semula pucat, perlahan berubah hitam. Dari seluruh tubuhnya keluar asap keabuan. Naruto terpaku melihat sosok yang semula terpejam perlahan membuka mata. Tidak ada lagi mata perak yang memancarkan kehangatan. Rembulan itu membalas tatapannya dengan dingin, hampa, dan kosong. Ia berdiri, kemudian menyerang Naruto tiba-tiba.
Beruntungnya Naruto berhasil menghindar. Wajahnya masih terlihat tidak memercayai apa yang telah terjadi. Di depannya bukan lagi Hinata yang ia kenal, gadis itu telah menjadi boneka Kaguya. Ia bergerak sesuai perintah ratu kegelapan.
"Seperti yang kau katakan, Hyuuga Hinata adalah pilihan yang tepat." Kaguya tersenyum miring, mata peraknya melirik sosok laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. "Kerja bagus, Kakashi."
Naruto, Sakura, dan Sasuke membulatkan mata. Mereka terdiam membeku saat melihat laki-laki yang mereka kenali sebagai guru, ternyata adalah seorang penghianat. Kakashi berlutut satu kaki di samping Kaguya, kemudian sosoknya berubah ketika ia berdiri. Rambut peraknya masih sama, namun kulitnya berubah gelap dengan kedua mata merah menyala.
"Pantas saja kau tidak seperti guru-guru yang lain," Sasuke berdecak pelan, "Ternyata kau salah satu dari mereka."
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Sakura menutup mulut, menatap sendu kenyataan di depannya.
Kakashi mengedik bahu, "Karena memang sudah rencana kami, untuk mencari boneka terkuat untuk Ratu Kaguya." Mata merahnya kini beralih pada sosok Hinata yang masih bergeming tidak jauh dari mereka. Saling bersitatap dengan Naruto yang tak kunjung sadar dari keterkejutannya.
"Hinata, kemarilah!" panggil Kaguya.
Gadis itu melompat cepat, berdiri di samping Kaguya dengan patuh. Ratu kegelapan membelai pelan pipi gembil Hinata. Ia tersenyum miring, "Kau adalah boneka ku yang paling sempurna. Sekarang, habisi mereka!"
Hinata mengangguk, ia mengeluarkan kemampuannya bersama hewan suci miliknya, Byakko. Mereka berdua menyerang Naruto dan kawan-kawan. Pertarungan sengit antara Hinata dan teman-temannya terjadi. Kekuatan luar biasa yang tidak pernah sekalipun diketahui oleh orang-orang, termasuk sang pemuda pirang.
"Inikah kekuatan Hinata yang sesungguhnya?" Sakura menyeka darah di sudut bibir, akibat pukulan telak di perut. "Bagaimana caranya kita mengalahkan Hinata?"
"Bagaimana caranya? Kita harus membunuhnya, walaupun dia sudah ..., mati." Sasuke menyahut pelan, merasa sudut hatinya tercubit. Manik hitam melirik Naruto di samping, "Apa kau sanggup, Naruto?"
Yang ditanya hanya diam membisu. Mata biru laut itu tidak pernah melepaskan tatapannya terhadap gadis di depannya. Ia sama sekali tidak berbicara sedikitpun, raut wajahnya datar, seperti saat kematian Kushina. Naruto seakan tenggelam ke dalam danau hitam di dasar hati. Hal itu membuat Sasuke dan Sakura mengerutkan kening.
"Aku akan menyelamatkan Hinata."
Naruto berujar pelan, ia menggenggam erat pedang merah di tangan. Mata biru lautnya kemudian melirik pada seorang laki-laki berambut perak yang tidak jauh darinya. Berdiri bersisian dengan perempuan yang telah menyebabkan semua tragedi ini terjadi.
"Kau ini tidak dengar?!" Sasuke menarik pundak Naruto, mata hitamnya berkilat gusar. "Bagaimana caranya kita menyelamatkan, Hinata?"
"Aku sudah berjanji pada Hinata," Naruto menepis tangan Sasuke, tatapan biru laut itu tegas tak gentar. "Aku tahu, apa yang harus ku lakukan, Sasuke. Demi janjiku pada Hinata."
Naruto melesat pergi, tanpa memedulikan panggilan Sasuke dan Sakura. Remaja pirang itu sudah lebih dulu menghampiri Hinata. Sang gadis mengeluarkan dua buah belati yang sudah diperkuat dengan sihir. Ia kemudian menyerang pemuda di depannya, gerakannya luwes, dan tajam. Memaksa lawan untuk bertahan dari serangan.
Naruto dan Hinata, mereka bertarung dengan kekuatan penuh, seakan berniat saling membunuh. Pedang api berkilat di langit malam, beradu dengan kedua belati perak. Sampai akhirnya di bawah bulan purnama, hunusan pedang menembus kulit dan menarik nyawa pemilik raga.
Mata biru laut itu tidak berkedip, lurus menatap lekat-lekat sepasang rembulan di depannya. Perlahan darah segar menetes di sudut bibir, Hinata memuntahkan darah kehitaman. Mata perak melirik turun, melihat pedang perak menembus dada, kemudian kembali melihat Naruto di depan. Air mata sudah membasahi wajah sang pemuda, keningnya mengerut samar, ia menggigit bibir, mencoba menahan isak tangis.
Tidak lama tubuh sang gadis terkulai, kehilangan tenaga, jatuh pada dada bidang di depannya. Naruto merengkuh tubuh kecil dalam pelukan, bersama bahu yang bergetar menahan tangis. Ia membelai pelan rambut panjang Hinata. Bibirnya mengecup pelan puncak kepala sang gadis, kemudian berbisik samar.
"Kau bebas, Hinata...,"
Suara teriakan kesakita terdengar bergemuruh. Sasuke dan Sakura tersentak kaget, mata mereka membulat kaget. Sosok Kaguya terlihat bercahaya kebiruan, di bagian dada terdapat luka menganga dengan. Kemudian ia terbatuk keras, memuntahkan darah kehitaman.
Tiba-tiba saja dua buah lingkaran sihir tercipta di dada Kaguya dan Hinata. Raga tanpa nyawa milik Hinata terangkat, melayang di udara. Lingkaran sihir di dada tiba-tiba mengeluarkan segaris cahaya, melesat menuju dada Kaguya. Kemudian sihir yang terbentuk di dada sang ratu iblis retak perlahan, sebelum hancur sepenuhnya.
Ketika llngkaran sihir itu hancur, tubuh Kaguya ikut melebur menjadi debu. Semua orang terkejut dengan kejadian mencengangkan yang telah terjadi. Sampai suara tawa keras mengalihkan perhatian mereka pada Kakashi.
Pria berambut putih yang sejak tadi diam, kini tertawa seperti orang gila. Pundaknya bahkan bergoyang keras akibat kuatnya ia terbahak. Sampai akhirnya Kakashi menghela napas panjang, tersenyum mengerikan. Ia menepuk tangan seakan baru saja melihat pertunjukan luar biasa.
"Tidak sia-sia aku menanamkan sihir penghubung di jantung Hinata."Pernyataan mengejutkan itu membuat ketiga remaja itu membeku. Kakashi tersenyum lebar, bangga atas apa yang sudah ia perbuat. "Tidak sia-sia aku membuat Hinata kembali ke masa lalu!"
"Apa yang dia bicarakan?" Sakura mendekat pada Sasuke. "Sihir penghubung? Kembali ke masa lalu?"
Sasuke ikut mengernyit tidak mengerti, sampai ingatan ketika Kakashi memasang mantra pelindung menghantamnya. Mata hitam itu melebar, "Kau bukan memasang sihir pelindung di Jantung Hinata, tetapi sihir penghubung?"
"Pintar, bukan?" Kakashi menyeringai puas, "Tidak rugi aku mengorbankan mata untuk membuatku dan Hinata kembali ke masa lalu. Mengarahkan agar sang ratu tertarik pada putri duke, dan menyatukan jantung mereka berdua dengan matra penghubung. Dengan ini Ratu Kaguya berhasil dikalahkan! Dendamku terbalaskan! Ha ha ha!"
"KAU! BERANINYA KAU!"
Satu demi satu misteri dikuak begitu saja oleh si dalang sejati. Amarah terpancar jelas di mata Naruto, Sasuke dan Sakura. Mereka tidak bisa menerimanya, teman mereka, orang yang mereka kasihi, ternyata selama ini dimanfaatkan, dikorbankan. Mereka bertiga berlari, menyerang Kakashi bersama-sama. Sementara sang lawan hanya tertawa, seakan ia tidak peduli lagi, selama tujuannya telah tercapai, yaitu membunuh Kaguya.
...
Bau anyir bersama bau pembakaran, tumpukan-tumpukan bangkai dari monster kegelapan bercampur jasad para prajurit. Di depan sana, bersama matahari terbit, Naruto duduk memeluk tubuh dingin Hinata. Gadis itu tidak terlihat seperti meninggal dunia, ia seakan tengah tertidur. Dengan wajah cantik dan senyum damai, ia menutup mata.
"Hinata..., kita menang, Hinata."
Kerajaan Aralle memenangkan peperangan, dengan banyaknya korban yang berjatuhan. Membawa kabar kemenangan bersama duka. Apa yang telah mereka raih, apa yang telah mereka lakukan. Ketika semua ini sama sekali tidak berarti, jika orang yang terkasih tidak akan pernah ikut pulang, kembali ke tanah kelahiran bersama-sama.
...
Di ruang bawah tanah, tanpa jendela, hanya penerang dari lilin-lilin kecil yang dibuat menyerupai sebuah lingkaran. Di tengah-tengah ruangan, Naruto berdiri diam, ia menggunakan darah dari ibu jari, dituang di dalam sebuah cawan keemasan. Lantunan mantra terdengar mengalun di dalam ruangan, semua itu berasal dari sang remaja pirang.
Tiga kali tepukan tangan, kemudian ia memukul tanah, bersama pukulan itu muncul sebuah sinar kemerahan dari bawah telapak tangan Naruto. Sinar itu bergerak lurus, menabrak cawan berisi darah, kemudian darah itu terbakar sebelum kemudian membakar tanah membentuk lingkaran, mengelilingi sosok sang remaja.
Sebuah upacara dari ilmu terlarang untuk kembali ke masa lalu, dengan mengorbankan salah satu bagian tubuh. Mata biru yang semula berbinar indah, terlihat kosong, hampa, menatap kobaran api dari hasil ritual. Ia kemudian tersenyum tipis, Naruto berujar pelan ketika ritual tabu telah selesai dilakukan.
"Kita akan bertemu kembali, Hinata."
.
.
.
Fin~
Akhirnya Redemption selesai juga! akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita berat ini, meski sempat ada kendala. Terima kasih untuk semua dukungan kalian, yang masih mau mengikuti cerita ini. Aku harap ini cukup menghibur kalian, dengan isi cerita yang pada merapat, semoga masih memberi kesan kepada pembaca sekaian. Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya hingga Redemption bisa selesai.
