Enjoy Reading~


"Bagaimana?"

Iruka berdiri menggaruk tengkuknya. Tsunade menatap Iruka lekat dengan dagu menopang pada sebelah telapak tangan.

"Yah... Ku rasa perkembangannya cukup baik. Kakashi-san sudah cukup lama tidak kambuh."

Tsunade mengangguk-angguk. "Sepertinya perkiraan ku memang benar."

"Maaf?"

"Emosi Kakashi stabil, ia tak merasakan tekanan batin, dan ku rasa cukup bahagia makanya sharingan miliknya baik-baik saja. Aku sudah lama tidak memberinya misi berat demi mencari jawaban apakah hipotesis ku benar. Dan ya! Semuanya sesuai dugaan ku."

"Tsunade-sama melakukan percobaan?"

Wanita berambut pirang panjang itu mengangguk bangga. "Mungkin hal ini agak aneh. Sejak dulu aku hanya belajar medis secara fisik, untuk kondisi psikis aku tak punya ilmu yang cukup selain hanya mengandalkan buku-buku di perpustakaan Konoha."

"Lalu Kakashi-san baik-baik saja karena dia tidak stress?"

Tsunade mengangguk. "Aku cukup lega karena partner Kakashi adalah kau. Meski kalian berdua sangat berlawanan, itulah yang membuat semuanya berjalan lancar. Aura ceria mu sedikit-sedikit mempengaruhinya. Aku kira Kakashi tak akan mengatakannya, tapi aku yakin dia senang berada di dekat mu."

"B-benarkah?"

"Ya. Kau harus tetap menjaga perasaannya. Lubang di hatinya berangsur-angsur tertutup dan ku harap hati anak itu tak kembali jatuh dalam kegelapan."

Iruka mengangguk. "Kalau begitu aku permisi dulu, Tsunade-sama."

Tsunade mengangkat sebelah alisnya. "Buru-buru sekali? Biasanya kau di sini cukup lama."

Iruka tertawa sembari mengusap tengkuknya. "A-Ano, Kakashi-san nengajak ku berlatih hari ini, katanya sebagai penebusan yang waktu itu. Dia juga berjanji tidak akan terlalu keras padaku."

"Begitu? Baguslah. Berjuanglah, Iruka."

"Terimakasih, Tsunade-sama."


Iruka berjalan santai seperti biasa. Ia memang tak akan telat, lagipula mengingat reputasi telat Kakashi, rasanya Iruka tidak perlu khawatir jonin bermasker itu akan sampai lebih dulu. Setidaknya begitulah pikiran Iruka sebelumnya. Tapi ketika ia sampai di lapangan latihan ketiga, sosok yang diragukannya akan datang tepat waktu malah sudah ada di sana. Berdiri bersandar dengan novel favorit miliknya.

"Kakashi-san sudah sampai? Maafkan aku, ku kira kau akan..."

"Telat?" Kakashi tertawa di balik maskernya. "Tenang saja, aku memang biasanya begitu jadi tak heran kalau kau juga menganggapnya begitu."

"Eh? Bu-bukan maksud ku begitu Kakashi-san, aku hanya mengira..."

"Sudahlah tenang saja, tidak masalah kok."

"Benar?"

Kakashi mengangguk. Ia memasukkan novelnya ke dalam kantung senjata. "Kau mau latihan apa dulu dengan ku, kali ini aku akan mengikuti mau mu agar kejadian terakhir kali itu tak terulang."

"Lupakan saja yang waktu itu, Kakashi-san. Aku memang lemah, makanya sampai terluka."

Kakashi maju dan memegang kedua pundak Iruka. Ia mendekatkan wajahnya, membuat kedua bola mata mereka saling bertatapan lekat.

Wajah Iruka terasa panas, ia tak tahu apa maksud perlakuan Kakashi padanya. "K-Kakashi-san?"

Kakashi mengangguk. "Aku suka sorot matamu, tampak sangat meyakinkan." Ia menjauhkan wajahnya.

Iruka bernapas lega meski juga bingung. Hanya untuk melihat sorot matanya tak perlu sampai sedekat itu 'kan? Seandainya Kakashi tau kalau Iruka sudah terlanjur sport jantung karena perlakuannya.

"Baiklah, apa yang mau kau pelajari?"

"Bi-bisakah kau mengajari ku katon? Atau raiton? Jurus andalan mu tampak sangat keren."

"Kau bisa menggunakan katon atau raiton?"

Iruka mengangguk. "Tapi tak terlalu kuat. Aku hanya mengerti teknik dasarnya saja."

Kakashi mengangguk. Ia membentuk segel dengan kedua tangannya, mengalirkan chakra membentuk aliran listrik kuat yang mengalir dari salah satu telapak tangan miliknya.

"Ini raikiri, kau pasti tau aku sering memakai ini."

Kedua bola mata Iruka berbinar-binar. Sudah sejak lama ia ingin sekali melihat jutsu itu secara langsung dan dekat seperti ini, ia juga ingin sekali bisa melakukannya.

Kakashi kembali memusatkan aliran listrik di telapak tangannya, kemudian aliran listrik itu semakin besar dan berubah menjadi bentuk lain.
"Semakin kuat kau mengendalikannya, semakin kuat pula daya serang raikiri. Aku bisa mengubah-ubah bentuknya sesuai kebutuhan serangan." Kakashi melepas segelnya. Aliran listrik di telapak tangannya menghilang.

Iruka mengangguk antusias. "Hebat sekali, aku tidak tau apakah aku mampu, tapi aku akan berusaha. Kakashi-san, mohon bantuannya." Iruka menggenggam telapak tangan Kakashi dengan kedua bola mata berbinar cerah. Kakashi tertegun, tak pernah sekalipun melihat sorot mata secerah milik Iruka. Ia jadi merasa bingung.

"Y-Ya, asal kau belajar dengan serius."

"Pasti!"

"Jutsu ini sering ku pakai, tapi juga telah banyak melukai dan membunuh, termasuk membunuh teman ku sendiri."

Iruka mendongak, sorot mata Kakashi yang tampak lebih hangat kembali dingin. Kakashi tak boleh dibiarkan larut dalam kesedihan atau monster dalam sharingan miliknya kembali mengambil alih kesadarannya.

Iruka mendekat, melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuh Kakashi, menyandarkan kepalanya pada bahu Kakashi. Iruka bisa merasakan dekat jantung Kakashi yang tak stabil, juga detak jantungnya sendiri yang semakin cepat.

"Kakashi-san hanya tidak sengaja. Berhentilah menghakimi dirimu sendiri."

Kakashi memejamkan mata, menikmati suhu tubuh Iruka yang menempel di tubuhnya sendiri. Kepalanya terkulai di pundak Iruka, persis seperti ketika dirinya dalam keadaan tak terkendali, bedanya kali ini ia dalam kesadaran sepenuhnya.

"Terimakasih dan maafkan aku."

Iruka melepaskan pelukannya, berjinjit pelan dan mengusap surai keperakan milik Kakashi. "Aku akan berlatih dengan serius, nanti kalau Kakashi-san butuh bantuan, aku sudah cukup kuat untuk melindungi mu."

"Tentu. Sesekali aku juga ingin ada seseorang yang melindungi ku."

Iruka tersenyum lebar. "Pasti! Aku yang akan melindungi Kakashi-san!"

Kakashi tertegun sejenak, tetapi kemudian menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran aneh yang bersarang di kepalanya. Kenapa Iruka selalu membuatnya terpana?

"Baiklah. Sekarang, kau keluarkan raiton sebisa mu dulu, lalu ikuti instruksi ku."

Iruka mengangguk. Ia memposisikan dirinya, menarik napas sebentar. Kedua tangannya memasang segel dengan cepat meski tentu tak secepat Kakashi yang bisa sampai tak terlihat. Iruka bisa menggunakan raiton, tapi tak mahir. Yang keluar dari telapak tangannya tampak berantakan, Iruka sendiri bahkan kecewa melihatnya.

"A-Aku benar-benar tak mahir." ujarnya lemah.

Kakashi menggeleng. "Tenang saja, ini sudah cukup baik untuk awalan. Kau tak mahir tapi aliran raiton mu cukup kuat. Dalam pertarungan kau masih bisa menggunakannya."

Iruka merasa bahwa Kakashi memberikan semangat padanya. Kalimat-kalimatnya terdengar halus, sorot matanya menghangat, benar-benar berbeda dari terakhir kali mereka berlatih dan ia berakhir di rumah sakit.

"Mungkin akan memakan waktu cukup lama, tapi tak masalah. Tsunade-sama sepertinya tak berniat memberiku misi dalam waktu lama, jadi daripada aku bosan, aku akan melatih mu agar kau lebih hebat dari sekadar guru akademi."

Wajah Iruka berbinar senang, menjadi lebih kuat dan dilatih oleh orang yang ia impikan adalah berkah. Ia tak akan menyia-nyiakannya.

TO BE CONTINUE


A/N: Kalau aku absen update berarti ada beberapa kemungkinan. Aku riweuh tugas, aku sakit, atau aku mati. Dah itu aja. Bye bye!