Early notes :
Terima kasih dan mohon maaf atas keterlambatan yang sangat untuk update cerita ini. Saya mengalami kekakuan dalam melanjutkannya dan melakukan peningkatan gaya penulisan yang sering kali berubah-ubah jika kalian mengikuti setiap karya saya termasuk yang terbaru.
Semoga update kali ini dapat melegakan dahaga kalian yang menantikan dan menanyakan kelanjutan cerita ini. Dan saya sempat menarik semua cerita dari platform wattpad dikarenakan saya sempat berkeinginan untuk meninggalkan karya saya ini. Tapi untungnya, tidak saya lakukan *cry*
Akhir kata, selamat membaca.
.
.
.
Taiga berlari sekuat yang ia bisa. Selama bertahun-tahun yang lalu ia berlari dari masalah seolah menjadi satu dengan dirinya di masa kini. Ia tahu tindakannya sama seperti para pengecut lainnya. Hanya saja ia tak yakin bisa melakukan suatu tindakan yang masih bersemayam dalam jiwa dan raganya. Ketakutan dan keegoisan.
.
.
.
Ohayou, Taiga-chan~
riryzha
Kuroko no Basuke
Fujimaki Tadatoshi
RUN
Warning: OOC, typo, dan segala ke-absurd-annya
.
.
.
Pada akhirnya Taiga memilih bungkam sekembalinya ia kekelas. Ia tidak hendak bertanya apapun dan tidak ingin tahu hal apapun. Ia juga tak mau menjawab apapun meski tatapan penuh tanya lagi harap terlayang kearahnya di sisa jam sekolah. Seolah berpacu dengan waktu; begitu bel berbunyi dan guru jam pelajaran terakhir baru saja meninggalkan ruang kelas beberapa langkah, Taiga segera melaju kencang meninggalkan sekolah. Tidak mengindahkan mobil sang ayah yang terparkir di depan sekolah.
"Apa dia masih shock dengan kemunculan Himuro?" Tanya Ryouta yang berpangku tangan di atas jendela kelas dengan malas. Pemandangan langit yang mulai penuh akan warna oranye menjadi fokus manik kecokelatannya.
"Aku tidak yakin itu masalahnya." Baru kali ini Seijuurou menanggapi lebih awal seokah tidak ingin memunculkan spekulasi lainnya di antara mereka.
"Dia masih trauma." Ujar Tetsuya dalam menuntun alur percakapan mereka.
"Dan sepertinya semua kejadian hari ini memberikan dampak yang menakutkan baginya." Sambung Shintaro.
"Jadi niat kita berdampak terbalik dengan kenyataannya?" Tanya Daiki tak percaya.
"Itu adalah kemungkinan terburuk yang nyatanya terjadi." Jelas Seijuurou.
"Apa setelah ini akan menjadi kacau? Taigachin jelas menarik diri." Tanya Atsushi sedih.
"Kita tidak bisa memaksa untuk mendekat lagi. Hanya Taiga sendiri yang harus menentukannya sekarang." Papar Seijuurou.
Keenamnya tertunduk lesu. Perasaan mereka jelas tertolak. Dan niat memberikan perlindungan bagi Taiga jelas jauh dari harapan. Dan sekarang mereka juga semakin susah untuk berinteraksi kecuali Taiga yang mau kembali membuka diri.
"Kita tidak tahu selama apa Kagami akan sembuh dari ketakutannya. Maka dari itu, kita juga tidak perlu menunggunya." Ujar Shintarou tegas.
"Menunggu itu pilihan masing-masing, Shintarou." Sahut Seijuurou sembari tersenyum miring.
"A-aku tahu! Hanya saja banyak di antara kita yang memiliki sifat tidak sabaran. Hari ini adalah bukti bahwa ketidak sabaran itulah yang kembali mengguncang Kagami." Jelas Shintaro disertai semburat merah di wajah dan sedikit terbata ketika berbicara.
Semua yang ada di sana merengut tidak suka atas kebenaran tersebut.
.
.
.
Taiga membanting pintu meski ia tahu tindakannya terlalu kekanakan. Namun perasaannya terlampau kacau balau untuk peduli dengan sekitar. Ia bahkan membiarkan mobil sang ayah melaju di belakangnya sampai ke rumah. Dan sang ayah tampak diam saja tak berniat menghentikan Taiga dari keinginannya untuk menyendiri. Taiga sangat berterima kasih atas tindakan sang ayah untuk itu.
Segera ia melempar tas sekolah kelantai dan masuk kedalam kamar mandi. Dinyalakannya air keran dengan kencang demi menyembunyikan suara tangis karena perasaan menyedihkan akan dirinya sendiri. Luka badan mungkin bisa disembuhkan dengan beribu cara dan obat mujarab manapun. Tapi luka yang tertoreh di ingatan dan batinnya sudah menyatu dengan jiwanya dan hal itulah yang tak bisa ia sembuhkan dalam semalam, seminggu, sebulan, bahkan setahun.
Taiga hanya berharap waktu bisa menghapus luka ingatan tersebut. Atau kecelakaan? Haaaa, kecelakaan terlalu ekstrim untuk menghilangkan sebuah kenangan pahit. Yang ada malah menimbulkan ketakutan yang baru yang tidak diinginkannya.
Pikirannya terlalu berkecamuk untuk peduli seberapa lama ia menangis. Tapi yang jelas ketika ia sadar, ia sudah berganti pakaian dan tertimbun beberapa selimut tebal di atas kasurnya. Di sebelahnya tengah duduk seseorang yang mana tangan kanannya mengeluas lembut helai merah hitamnya sementara tangan kirinya memegang sebuah buku tipis. Taiga tahu sentuhan ini. Sentuhan ibunya.
Seolah menyadari Taiga sudah terjaga, ibunya pun buka suara. Namun matanya masih tertuju pada buku yang dibacanya seolah tahu bahwa Taiga tak ingin ditatap seolah dirinya teramat menyedihkan.
"Kau ingin berlari? Berlarilah sampai kau puas. Kau ingin berbelok? Berbeloklah ketika kau menemukan waktu yang tepat untuk berbelok. Tidak ada yang memaksamu untuk menggerakkan tubuhmu sesuai kehendak mereka, Tai-chan." Bisik sang ibu lirih.
Taiga mengangguk dengan mata mulai basah.
"Orang lain mungkin akan mengkritik setiap langkah yang kau ambil. Tapi kau pasti sudah memikirkan resiko atas langkah yang kau ambil itu. Jadi jangan biarkan kritikan mengaburkan resolusimu." Lanjut Saika.
Pipi Taiga sudah dibanjiri air mata. Saika pun menaruh buku yang ia baca dan merengkuh sang putri kedalam pelukannya.
"Menangislah. Tapi jangan biarkan tangisan menjadi pelarianmu tanpa mewujudkan semua keinginanmu."
Taiga kembali menangis. Namun kali ini hanya sebentar dan ia merasa sudah puas. Beberapa saat setelah air matanya kering, ia pun meminta tolong sang ibu untuk mengambilkan ponsel yang masih berada di dalam tasnya.
"Aku harap mereka paham." Ujar Taiga lirih.
"Mereka punya pilihan, begitupun kau."
Taiga pun mengangguk dan mengirimkan pesan kepada 6 orang sekaligus.
"Aku tahu kalian sudah berekspektasi atas jawabanku. Dan aku hanya ingin mempertegasnya. Terima kasih atas keramah tamahan kalian selama ini dan atas bantuannya. Tapi untuk menjawab perasaan kalian? Maaf sekali aku tidak bisa menerimanya. Semoga kita bisa tetap berteman meski perasaan tidak bisa diisi dengan lebih."
"Semoga dengan ini kita bisa memulai menyembuhkan lukamu lebih dulu, ya." Ujar Saika yang diangguki oleh Taiga.
