Disclaimer : I do not own Naruto


Gelap.

Dingin.

Sesak.

Sakit.

Perih.

Sakit.

Sakit.

Sakit….

"Whoa, tidurmu nyenyak, Nona Medis?"

Sepasang mata mengerjap pelan. Silau cahaya terasa menusuk, membuatnya menyipit. Tubuhnya berusaha bergerak, ingin bangkit dan terbebas dari jerat yang membuatnya kesulitan bernapas. Namun, di detik saat ia sedikit bergerak, perih itu kembali mendera—menyayatnya dalam-dalam.

Hela napas itu sedikit memburu.

Derai tawa bebas terdengar samar di telinganya.

"Cairan itu memalsukan kematianmu, tapi tidak dengan rasa sakitmu. Sayang sekali, kau tidak memiliki kemampuan penyembuhan kilat seperti wanita rubah itu, ya."

Indra penglihatnya belum mampu menangkap petunjuk yang berarti. Ingatan terakhirnya berakhir di bukit itu, bukit tempat pelariannya ketika ia gagal menjalankan misi—sebuah misi penyusupan yang membawanya pada kematian. Kematian yang diakibatkan oleh pertarungan ... sebuah pertarungan di tengah malam, pertarungan dengan guyuran sinar jingga.

Naruto.

Naruto masih hidup.

Dia membantuku.

Naruto.

"Segel di dahimu itu masih lemah. Sepertinya kau harus dipersiapkan sedikit lebih lama lagi."

Rasa dingin dari jarum suntik terasa menyegat kulit. Sepasang mata tertutup sebelum ia dapat melihat lebih banyak hal. Hanya kurang dari tiga detik, kegelapan kembali menelannya.

Beberapa hari kemudian dan minggu-minggu selanjutnya ia mengalami hal yang sama, yakni rasa dingin jarum suntik dan kegelapan yang seolah tak ada habisnya.

oOo

"Si pengkhianat membuat koneksi dengannya! Bah! Pemuja Hamura Sialan! Rubah itu akan tahu semuanya. Dia akan tahu semua rencanaku. Kenapa hanya mengurus kerikil kecil itu saja kau tidak becus?"

"Momoshiki-dono, aku sudah memenjarakan Toneri sesuai perintahmu. Dia bisa membuat koneksi dengan si jinchuuriki karena janin yang dikandungnya. Chakra janin itu memberi Toneri akses. Kalau dipikir ulang sebenarnya kau juga bersalah karena secara tidak langsung mendorong hadirnya janin itu."

"Kinshiki, gantikan Urashiki. Dia harus bertanggung jawab atas ketidakbecusannya."

"Baik, Momoshiki-dono."

"Apa yang kautunggu, Urashiki? Pergilah ke tanah sialan itu! Hancurkan semua desa, terutama Konoha. Bawa wanita rubah itu ke hadapanku. Kekuatannya sedang melemah sekarang."

Bentakan lain terdengar.

Sepasang netra terbuka. Temaram cahaya menyambutnya.

Di hadapannya, berdirilah sesosok pria bertubuh tambun. Pakaiannya serba putih. Sebuah benda menyerupai tanduk tampak melingkupi dahinya.

Ketika membuka mulut untuk berbicara, ia segera mengurungkan niatan tersebut karena rasa nyeri dari tusukan jarum kembali menerpa kulit. Hawa dingin mengaliri sepenjuru tubuh. Tubuhnya menjadi kaku. Ia mati rasa.

Netra zamrud mengerjap, mengerling pada sesosok pria asing berambut putih panjang yang kini juga berdiri di sisinya. Ia menunggu rasa kantuk itu tiba. Ia menunggu kegelapan kembali menelannya.

Lima detik berlalu.

Ia masih terjaga—dengan tubuh lumpuh, sama sekali tak dapat digerakkan.

"Kau cukup menakjubkan juga," gumam pria berambut putih itu. Tangannya terulur. Dagu Sakura dibelai pelan dan sedikit diangkat agar manik mata mereka bertemu. "Aku tidak mengira tubuhmu benar-benar bisa menahan obat yang telah dicampur dengan darahku."

Mulut Sakura terbuka, hendak berbicara.

Tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

"Kau akan jadi wadah yang cukup sempurna. Tapi, tidak sekarang." Laki-laki itu menjauh darinya. Ia pergi dari tempat entah apa itu. Sebelum sosoknya ditelan pusaran hitam di tengah udara, ia melambaikan tangan dan berujar, "Perbesar dosisnya, Kinshiki. Kita harus benar-benar melihat apakah dia bisa menampung kekuatanku."

Sakura sempat melihat ke sekeliling sebelum kegelapan kembali menelan.

Kala itu, pandangannya memburam. Namun, ia mampu menangkap area sekeliling mereka yang dilapisi warna mozaik—sebuah tempat asing yang sudah pasti tidak ada di dimensi dunia shinobi.

oOo

"Dia mengkhianatimu, kaulihat?"

Tubuhnya kaku akibat jeratan rantai tak kasat mata. Kedua mata Sakura berkilat marah. Ia membentak, "Hentikan omong kosongmu. Aku ingat kau, kau adalah Ōtsutsuki Momoshiki, makhluk asing yang dulu telah menghancurkan dunia kami! Satu-satunya musuhku adalah kau, bukan para shinobi, apalagi Naruto!"

Tawa Momoshiki terdengar begitu bebas. Ia meloncat turun dari meja yang tengah didudukinya sebelum kemudian melayang bebas di udara. Kedua tangan diretangkan. Dari masing-masing ujung tangan, tercipta dua titik gambar yang mulai membesar. Gambaran cahaya itu memperlihatkan sosok Naruto dan Sasuke yang masih berumur dua belas tahun, umur di mana mereka masih menjadi seorang genin dalam satu tim yang sama.

"Kaupikir aku tidak bisa melihat isi hatimu?" seru Momoshiki.

Ia melambaikan telapak tangan. Gambaran cahaya tersebut memperlihatkan interaksi Naruto dan Sasuke dalam sudut pandang Sakura. Interaksi tentang pertengkaran kecil mereka, rivalitas mereka, keakraban mereka, hingga kepedulian mereka pada satu sama lain.

Sakura kembali melihatnya—melihat dengan kedua matanya sendiri saat-saat Sasuke masih mau memerlihatkan sepercik emosinya, saat ketika Sasuke mampu membuka diri dan menunjukan rasa khawatirnya hanya pada seseorang yang tak lain adalah Uzumaki Naruto, saat ketika matanya tak pernah melihat Sakura karena satu orang yang mendominasi pikirannya hanyalah si remaja berambut pirang.

"Kau jengkel pada Naruto. Kau ingin berada di posisinya."

Sakura memalingkan wajah. Ia menghindari pemandangan tersebut, tetapi suara Naruto dan Sasuke dalam citra memori tadi masih bergema di sana.

"Mereka tidak membutuhkanmu. Kau hanya penganggu untuk mereka." Momoshiki menambahkan. Ia melambaikan tangan, kali ini memperlihatkan pertarungan keduanya di atas atap, pertarungan yang tak bisa dihentikan Sakura jika Kakashi tidak datang menginterupsi. "Mereka tidak mendengarmu dan kau tidak lebih dari perempuan tidak berguna dibandingkan dengan Naruto yang sudah sekuat itu di usia yang sama denganmu."

Telapak tangan Sakura mengepal. Ia menatap tajam Momoshiki.

"Kau tidak tahu apa pun mengenai kami. Aku dan Naruto bersahabat—"

"Bahkan ketika dia tidak mendengarkan permintaanmu untuk berhenti mengejar si Uchiha? Atau ketika dia menyembunyikan identitas aslinya darimu karena dia tidak mempercayaimu? Sikapnya menunjukkan seolah dia tidak ingin berada di posisi yang sama denganmu yang juga seorang perempuan. Bukankah dia sangat menjengkelkan karena ingin menarik perhatian si Uchiha dengan berpenampilan sebagai laki-laki? Agar bisa lebih dekat dengannya?"

Suara hentakkan rantai terdengar.

Tubuh Sakura kembali tertarik ke belakang, gagal untuk melawan jeratan keras yang menahan pergerakannya.

"Bukan seperti itu—"

"Oh, jadi kau tahu alasan kenapa anak rubah itu memanipulasi penampilannya?"

Mulut Sakura terkatup. Detik selanjutnya, Momoshiki memperlihatkan memori lain—memori ketika mereka sudah sedikit beranjak dewasa. Saat itu, dunia shinobi sedang dalam pemulihan pasca perang melawan Madara. Naruto berhasil membawa Sasuke pulang dan ia tengah aktif dalam misi-misi baru yang ditujukan khusus untuknya. Sementara itu, Sasuke tengah mengembara di luar sana guna membayar kesalahannya.

Citra memori yang diperlihatkan Momoshiki adalah saat Sakura selesai bercakap-cakap dengan Naruto sepulang misi. Tawa renyah Naruto menggelitik telinga Sakura.

"Dia akan segera kembali, Sakura-chan. Kau benar-benar merindukannya, ya? Kenapa, sih, kau sangat menyukainya? Dia jauh di sana, tapi di sini ada aku yang—pukulanmu sakit, Sakura-chan!"

"Bodoh! Berhenti berkata tidak jelas seperti itu!"

"Woah, kau merona! Kau merona!"

"Tutup mulut, Naruto-baka!"

"Aduh, ya, aku menyerah. Tapi, kenapa kau sangat mengkhawatirkannya? Dia baik-baik saja—maksudku, dia baru saja mengirimiku surat, memberi tahu bahwa lawan yang dihadapinya cuma bandit-bandit kelas rendahan. Kau lihat? Dia masih sombong seperti biasa. Benar-benar berengsek menjengkel—"

"Dia mengirimimu surat?"

"E-eh? U-uhm, iya? Memangnya kau tida—uh, aku tahu! Dia pasti membalas suratku karena aku mengiriminya terlalu banyak surat! Dia pasti terganggu dan kesal sehingga memilih untuk membalasnya! Kau harus melakukan hal yang sama denganku, Sakura-chan! Sasuke memang menyebalkan, 'kan?"

Dalam memori tersebut, Sakura tidak membalas ucapan Naruto. Ia hanya tertawa pelan sambil menyeretnya ke kedai makan terdekat selagi Naruto memprotes sesuatu tentang kendai non-ramen yang takkan dikunjunginya lagi.

Ketika mengerjap, Sakura tersadar akan banyak memori getir yang kembali diperlihatkan oleh Momoshiki padanya—terutama memori ketika Naruto meninggal, memori yang mengingatkan Sakura pada momen-momen kembalinya Sasuke dalam kegelapan.

Kegelapan yang tidak dapat diraihnya.

Memori tersebut mengingatkan Sakura pada berbagai emosi negatif yang ia rasakan. Emosi nagatif berupa rasa bersalah karena tak mampu membantu Naruto, rasa tak berdaya karena tak dapat kembali meraih Sasuke, hingga perasaan campur aduk yang membuatnya bingung karena detik itu—ketika ia melihat Sasuke kembali menyakiti dirinya sendiri dengan menjalani hidup tanpa arah—ia mulai menyalahkan Naruto atas kematiannya, menyalahkan Naruto karena ia membuat Sasuke kembali terpuruk.

Sakura terus menerus menyangkal pemikiran tersebut. Ia tidak mengakui rasa yang demikian … setidaknya hingga ia membuat keputusan terbesar dalam hidupnya—keputusan untuk menawarkan konsep 'keluarga' pada Sasuke, keputusan untuk merealisasikan impian masa kecilnya yang begitu ingin hidup bersama lelaki yang 'ia cintai'.

Meskipun demikian, keputusan itu juga membawanya pada kenyataan bahwa ia takkan dapat memiliki sosok itu seperti ketika Naruto memilikinya. Ia takkan dapat meraihnya sebesar apa pun ia berusaha untuk mendapatkannya.

Sakura takkan dapat melakukannya selagi nama Uzumaki Naruto masih tersemat dalam pikiran suaminya.

Sakura tetap tidak bisa bahagia bahkan setelah Naruto tidak lagi berada di antaranya dan Sasuke.

Pada detik itu, Sakura mulai memahami rasa khusus yang dimiliki oleh sang suami pada sahabat mereka. Realisasi itu mengingatkan Sakura pada identitas asli Naruto yang merupakan perempuan, membuat Sakura memikirkan hal-hal tentang apa yang terjadi jika Sasuke mengetahui bahwa Naruto adalah perempuan.

Jika dulu aku memberi tahunya, apakah dia masih mau menerima tawaran pernikahan ini?

Sakura terus memikirkannya, bahkan hingga ia kembali melihat sosok jingga tersebut di malam itu, di sebuah bukit di mana segalanya berakhir.

Melihat ulang semua memori tersebut mengingatkannya bahwa ia telah menyerah. Ia telah kalah sejak dulu. Ia takkan dapat memenangkan hati sosok yang dicintainya.

Tubuh Sakura melemas. Ia sedikit gemetar.

Citra memori yang diperlihatkan Momoshiki memudar secara perlahan, meninggalkannya dengan rasa putus asa yang mencekam.

oOo

Perubahan dirinya dimulai dari transformasi warna kulit.

Ia mengamati kedua telapak tangannya, menatap nanar warna putih abnormal yang mulai melingkupi tubuh. Telapak tangan tersebut mengepal. Napas dalam diambil. Isakan rendah terdengar, diiringi oleh derai air mata yang berjatuhan membasahi kulit pucat tersebut.

"Aku hanya akan meminjam tubuhmu untuk membunuh Naruto. Tujuanku hanyalah bayi itu dan juga kematian ibunya. Setelah tujuanku tercapai, kau bisa kembali hidup dengan si Uchiha, tanpa gangguannya. Kali ini dia akan benar-benar mati."

Kalimat Momoshiki terngiang di kepala Sakura. Ia menunduk, mengepalkan tangan, dan menahan isak yang masih belum mereda.

"Apa? Kau benar-benar menerima perilaku kurang ajarnya? Lihat dan hadapilah kenyataan, Haruno. Dia sama sekali tidak menghargaimu. Sahabat mana yang langsung menggoda lelaki milik sahabatnya yang baru saja dinyatakan meninggal? Dia sangat busuk, bukan? Dia tidak pernah memikirkanmu. Dia bahkan tidak peduli dengan putrimu yang masih kecil. Apalagi yang kauharapkan darinya?"

Tenggorokannya terasa nyeri. Sepadan dengan nyeri dalam dadanya.

"Mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan jiwamu. Jauh di dalam sana, kau membencinya. Kau ingin dia pergi dan berhenti mengganggumu. Tunggu saja, Haruno, kau akan mulai menerima kebencianmu padanya bersamaan dengan perubahan fisik yang akan kaualami."

Kepala Sakura berdentum-dentum. Ia mengernyit dalam dan mengerjap. Ketika membuka mata, netra zamrud telah berganti warna menjadi keemasan.

Ingatan mengenai percakapannya dengan Momoshiki menghilang. Kini digantikan dengan suara nyata Momoshiki dalam kepalanya, bergema dengan jelas dan begitu nyata.

"Kita telah menyatu."

Suara dalam Momoshiki berdisonasi dengan Sakura. Sakura mengerjap, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi yang terdengar adalah tawa bernada dalam yang amat berbeda dari suara aslinya.

"Oh, kau masih memegang kontrol dirimu, ya, ternyata?"

Tiba-tiba saja Sakura berdiri. Ia menatap sebuah titik di tengah udara. Tanpa mengetahui penyebabnya, Sakura mulai merasakan rasa terbakar di kedua matanya. Ia hendak mengerang sakit, tetapi mulutnya tidak mengeluarkan keluhan tersebut. Ketika mengerjap, pusaran hitam telah muncul di depannya, sesuatu yang dikenali Sakura sebagai portal antar dimensi.

"Tidak masalah. Saat ini aku lebih mendominasi dan akan terus begitu. Para makhluk rendahan itu sudah mulai muncul. Kita harus segera membuat formula ampuh untuk melenyapkan wanita rubah itu."

Dalam kegelapan, Sakura merasakan tubuhnya terisap. Nyeri di sekujur badannya tidak tertahankan. Akan tetapi, makhluk lain dalam dirinya tidak merasakan hal yang sama. Ia tetap bergerak tanpa beban, berjalan menuju sebuah tempat menyerupai labolatorium bawah tanah dan bercakap-cakap dengan seseorang yang dikenali Sakura sebagai Shin. Di sana mereka mulai meracik formula yang akan menjadi titik henti kehidupan Uzumaki Naruto.

Tangan Sakura membuatnya dan sekeras apa pun ia berusaha menyangkal, ia memang ikut berkontribusi atas penciptaan formula itu.

oOo

Mungkin, ia memang tidak sepeduli itu dengan Naruto.

Mungkin, ia memang tidak menyukainya.

Mungkin, ia memang berpikir bahwa Naruto adalah pengganggu.

Semua perkataan Momoshiki sepertinya memang benar. Sakura tidak menyukai kedekatan Naruto dengan Sasuke. Ia tidak menyukai Naruto yang seolah terus mencari perhatian Sasuke dengan cara sok menganggunya. Ia tidak menyukai segala atensi yang ditujukan Sasuke hanya untuk Naruto.

Kenapa Sasuke hanya ingin menemui Naruto? Kenapa hanya Naruto yang terus mendapatkan kontak dengannya? Mereka berdua adalah teman dekat Sasuke. Kenapa Sasuke hanya menganggap Naruto? Mengapa Sasuke hanya akrab dengan Naruto dan tidak dengannya? Mengapa ketika mereka bersama, topik pembicaraan mereka akan selalu kembali lagi pada Naruto?

Kenapa Sasuke tidak melihatnya?

Sakura muak.

Benar, ternyata ia memang muak.

Bahkan mendapat status istri dari Sasuke tak membuatnya bahagia. Sepuluh tahun sudah ia mendampingi lelaki itu. Tapi, apa yang didapatnya?

Sasuke tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya.

Sasuke tidak pernah berinisiatif untuk menyentuhnya.

Sasuke begitu jarang mencium bibirnya bahkan ketika secara harfiah tubuh mereka menyatu.

Tidak ada kata bercinta di antara Sasuke dan Sakura. Pergumulan mereka hanyalah kegiatan seks belaka, sebuah kebutuhan dasar makhluk hidup.

Sakura telah memberi putri untuk Sasuke.

Tapi, kemudian apa?

Kenapa Sasuke tidak pernah menatapnya?

Kenapa dia selalu menerawang?—seolah ingin mencapai sesuatu yang telah tiada?

Pikiran tentang kalau saja Naruto tidak mencoba dekat dengan Sasuke pun kembali menelusup dalam pikiran Sakura.

Netra keemasannya memandang sekitar, menatap sebuah ruangan bercat putih dengan sebuah tempat tidur yang bercorak warna sama.

Tempat ini tidak seburuk yang dibayangkan Sakura. Ia bebas melakukan eksperimen. Ia bebas menguji kemampuan medisnya.

Jika dengan berperilaku biasa ia tidak mendapatkan pengakuan dari Sasuke, maka bagaimana jika ia mencoba dengan perilaku yang tidak biasa?

Naruto mendapatkan pengakuan dari Sasuke karena kekuatan yang dimilikinya—meski kekuatan itu berasal dari sang rubah chakra, kemudian ia juga ternyata putri dari Yondaime Hokage. Naruto seolah mendapatkan segalanya, bukankah ironi ini menjengkelkan? Ia membenci takdir, tetapi ternyata ia ditakdirkan untuk berhubungan darah dengan orang-orang hebat—maka haruskah Sakura mencoba hal yang sama?

Kekuatan besar telah mengalir dalam dirinya. Ia bisa merasakannya—sangat nyata dan memacu adrenalin.

Ia harus mencobanya.

Ia akan bertarung—melawan Naruto dan membuktikan bahwa ia juga pantas diakui.

Ia akan menang dan ia akan merealisasikan kemenangan itu..

oOo

Apa—apa yang baru saja kulakukan?

Apa—bagaimana bisa—

Kilat cahaya terasa menusuk mata. Sakura merasakan sakit di ulu hati. Angin panas menerpa, begitu besar dan kuat, melayangkan tubuhnya di udara. Saat itu ia mampu merasakan segalanya. Dengingan kuat di telinga, aroma darah dan asap, warna putih cahaya, hingga permukaan kasar sebuah tongkat yang digenggamnya.

Sakura terpental jauh.

Rasa pening dan nyeri menerpa kepalanya.

"Terkutuklah kau, Uzumaki Naruto!"

Raungan tersebut keluar dari tenggorokannya.

Sakura belum mencerna hadirnya kesadaran diri tersebut ketika ia bertatapan langsung dengan sepasang manik safir yang telah lama tak ia lihat.

Binar mata Naruto meredup, tak setajam biasanya, tak secerah biasanya.

Penampilannya berantakan—kusut dan menyedihkan dengan kulit terbakar dan darah segar yang menyelimuti tubuh.

Sakura takkan mengenalinya jika ia tidak melihat manik safir itu. Ia takkan mengenalinya jika ia tidak melihat kegigihan dalam sorot tersebut.

"Dia akan mati bersamaku jika kau membunuhnya! Kau tidak akan bisa membunuhku!" raung suara dalam diri Sakura.

Tangan Naruto menciptakan sebuah segel. Di sela kejatuhan mereka di udara, Naruto meraih tangan Sakura. Jemarinya mengelilingi pergelangan tangan Sakura. Cekalan tersebut cukup kuat. Sakura merasakan kekuatan hebat dalam dirinya mulai hilang secara perlahan. Naruto kemudian menghentakkan telapak tangannya di lengan Sakura. Sebuah segel berpola kunci muncul di sana.

"Sasuke akan datang. Kau akan baik-baik saja."

Gumaman tersebut begitu lirih dibandingkan dengan suara ledakkan di sekitar mereka.

Panasnya udara mulai membuat kulit Sakura perih.

Kesadarannya mulai timbul tenggelam akibat ketidakstabilan diri Momoshiki dalam dirinya.

Naruto kembali membentuk segel tangan. Kala itu, rantai chakra miliknya menjerat erat tiap pergelangan tangan dan kaki Sakura. Naruto tampak terbatuk keras. Sudut mulutnya mengeluarkan darah segar.

Raungan murka kembali berdengung di telinga Sakura.

"Chakramu sudah habis! Jika kau menanamkan teknik lain padaku, kau akan mati bersamaku! Camkan itu, Uzumaki Naruto!"

Naruto tidak mendengarnya.

Ia tidak mendengarkan.

Gerakan tangannya masih belum terhenti.

Dalam beberapa detik yang amat cepat itu, Sakura merasakan hantaman keras di ulu hati. Detik selanjutnya, segala indranya lumpuh. Ia mati rasa. Ia tidak dapat mendengar ataupun melihat. Kegelapan kembali menelannya dengan citra samar Naruto yang tersenyum lemah dan berujar bahwa ia memenangkan pertarungan karena dapat kembali mendapatkan Sakura yang merupakan saudarinya.

Baik Naruto dan Sakura jatuh ke arah yang berlawanan.

Hanya saja, Sakura tidak merasakan sakit akibat segel yang telah ditanamkan Naruto dalam dirinya. Segel ini seolah melindungi Sakura dari efek pertarungan hebat yang baru saja terjadi, melindungi Sakura agar ia tak perlu merasakan segela jenis sakit yang mendera dan membuatnya merasa berada di ambang kematian untuk kedua kali.

Naruto kembali melindunginya dan Sakura tidak menyukai fakta itu.

Ia tidak menyukainya karena Naruto membuatnya kembali meragukan emosi dan perasaan yang ia rasakan terhadap sosok tersebut.

ooOoo

Helaan napas pelan terembus dari mulutnya. Sepasang mata menatap nanar dinding bercat putih di hadapannya. Aroma obat-obatan menusuk hidung. Aroma ini familier. Ia terbiasa dengan aroma ini. Ia tidak terganggu olehnya.

Sakura mencengkeram ujung selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Selang infus di pergelangan tangannya sedikit bergeser, menyebabkan sengatan nyeri yang tidak ia pedulikan. Rembesan darah di selang infus tersebut juga tidak ia permasalahkan. Segala sokongan medis ini tidak penting. Segala rasa sakit yang masih menerpa tubuhnya ini tidak penting.

Satu jam yang lalu, Sakura mendapatkan kesadaran. Ia membuka mata dan segera mendapatkan pemeriksaan awal dari Shizune yang mati-matian menahan segala emosi. Air mata Shizune telah bercucuran ketika ia selesai memeriksa Sakura. Sakura sendiri masih belum sepenuhnya tersadar. Pikirannya kosong. Ia hanya mampu mengangguk dan menatap Shizune tanpa arti yang jelas. Reaksi Sakura membuat Shizune tersenyum lemah. Ia memberi tahu Sakura untuk beristirahat dan menunggu pemeriksaan selanjutnya malam nanti, pemeriksaan yang akan dilakukan langsung oleh Tsunade.

Ketika keluar ruangan, Sakura sempat mendengar Shizune mengatakan sesuatu tentang Sasuke yang harus segera diberitahu akan keadaan Sakura.

Informasi ini seketika membuat kepala Sakura berdenyut sakit. Gelombang memori menghantamnya, membuatnya termenung lama selagi menatap nanar dinding bercat putih itu. Seruak emosi seolah meluluhlantakkannya. Ia serasa hancur—dengan segala hal yang telah terjadi, dengan segala hal yang telah ia lakukan, dengan segala emosi negatif yang ia curahkan pada Naruto.

Naruto yang kembali menyelematkannya.

Cengkeraman Sakura di ujung selimut pun mengencang.

Dadanya nyeri akibat sesuatu yang membingungkan. Ia merasa bersalah, sangat bersalah. Namun, di saat yang sama ia belum bisa mengonfirmasi bahwa segala tuduhan Momoshiki pada Naruto memang salah. Ia belum bisa menyangkal ucapan Momoshiki mengenai ia yang memendam ketidaksukaan pada Naruto.

Sakura merasa begitu buruk.

Ia adalah orang terburuk yang pernah ada.

Kedengkian dan kecemburuan ini menghancurkannya.

Kepala Sakura berdentum-dentum oleh suara hati yang menyalahkannya beribu-ribu kali, mengingatkan pada segala kesalahan dan sikap buruknya. Ia tenggelam dalam nestapa. Jatuh dalam lamunan hingga tak menyadari kedatangan seseorang sejak beberapa saat lalu.

Suara sosok itu sama sekali tidak menggugahnya.

Sakura baru tersadar ketika sebuah tangan menguraikan cengkeraman kuatnya dari ujung selimut. Kuku jemari Sakura menekan telapak tangannya sendiri, menciptakan sebuah bekas yang amat kentara. Selang infusnya telah dipenuhi darah.

Mata Sakura tertuju pada telapak tangan yang baru saja menghentikannya. Ia menoleh dan mendongak. Sorot obsidian yang begitu lama tak ia lihat pun balik menatapnya. Sakura menangkap garis lelah di bawah mata Sasuke. Meskipun begitu, hitam mata itu masih sama. Gelapnya netra Sasuke masih sama—tak terbaca.

Sakura mengerjap.

Ia memperhatikan rambut hitam Sasuke yang tampak sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia melihatnya.

Batin Sakura serasa diremas keras-keras.

Sengatan di dadanya … mengapa Sakura masih merasakan hal yang sama?

Kenapa harus selalu Sasuke?

"S-sasuke-kun…."

Sasuke menarik sebuah kursi untuk duduk di samping tempat tidur Sakura. Ia menyandarkan diri di punggung kursi. Helaan napasnya terdengar cukup jelas di telinga Sakura. Saat itu, Sakura menyadari Sasuke yang masih mengenakan jubah berpergiannya—lengkap dengan perlengkapan ninja yang menggantung di pinggang.

"Kau bisa bertahan." Sasuke bergumam, kedua matanya terpejam. "Aku tahu kau bisa melewatinya."

Bekas telapak tangan Sasuke masih terasa hangat di tangan Sakura. Secara tidak sadar, Sakura meraba tangannya. Ia menatap Sasuke sekilas sebelum menundukkan kepala.

"Memangnya kenapa?" Suara Sakura terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar di ruangan senyap tersebut. "Kau … mengkhawatirkanku?"

Sasuke masih memejamkan mata, tampak enggan untuk membukanya.

"Godaime mempertaruhkan operasimu."

Hanya itu jawaban Sasuke. Ia tidak mengatakan hal yang lain.

Sakura sendiri tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa. Berbagi tubuh dengan Momoshiki membuatnya mampu melihat segala hal yang terjadi melalui sudut pandangnya. Dengan keadaan sekarang, Sakura mampu memenyimpulkan bahwa kondisi mereka telah aman. Perang telah usai dan desa sedang memulihkan diri.

Kehadiran Sakura sudah pasti memunculkan banyak tanya. Sakura menunggu Sasuk berbicara, menunggunya menanyakan segala hal terkait insiden Momoshiki yang menggunakannya sebagai wadah, menunggunya memulai pembicaraan tentang Naruto.

Akan tetapi, selama lebih dari sepuluh menit, hanya kesenyapan yang melingkupi. Sasuke tidak bertanya ataupun memulai pembicaraan. Ia hanya berada di sana, di samping tempat tidur Sakura, duduk dengan kedua mata tertutup dan kedua lengan terlipat di depan dada.

Sasuke tak pernah terlihat serileks itu. Sakura tidak pernah melihat Sasuke menurunkan pertahanan dirinya. Ia tak pernah secara sengaja tidur di hadapan Sakura.

Paling tidak, Sakura menganggap Sasuke memang tertidur kalau saja ia tidak angkat bicara di detik selanjutnya.

"Titik-titik chakramu rusak oleh chakra Momoshiki sehingga operasimu berlangsung sehari penuh." Sasuke membuka matanya. Ia membenarkan posisi duduk dan menoleh pada Sakura. "Bagaimana kondisimu?"

Sakura menatap Sasuke ragu.

"Untuk pasien yang baru menjalani operasi, keadaanku baik-baik saja."

Manik Sasuke masih menatapnya, seolah menunggunya memberi reaksi lain.

Sakura mengerjap. Ia sedikit tergagap, "A-apakah ada yang salah kalau aku baik-baik saja?"

Detik itu, Sasuke sedikit melebarkan mata, seolah tersadar oleh sesuatu. Ia segera mengalihkan pandangan dan menarik napas pendek.

"Tidak," balasnya singkat.

Jemari Sakura meremat satu sama lain. Ia menatap bekas tancapan kuku di telapak tangannya, mengingatkannya pada segala pemikiran berat yang tadi sempat menghampirinya.

Ketika fokus pada hal tersebut, kalimat dari bibir Sakura meluncur dengan lancar. Segala rasa khawatir dan takut dipendam dalam-dalam.

"Apakah tidak ada yang ingin kautanyakan, Sasuke-kun?" Sakura menoleh pada Sasuke, menahan gejolak emosi dalam dirinya. "Segala hal yang terjadi—apakah kau tidak ingin mengetahuinya?"

"Aku tidak akan menginterogasi pasien."

Sakura menahan senyuman lemah. "Sasuke-kun, kau sudah bisa bercanda." Pandangan Sakura sedikit beralih dari Sasuke. Ia kini memandang pintu kamar yang tertutup. "Apakah karena Naruto?"

Nama Naruto membuat Sasuke terdiam. Tapi, ia hanya diam sesaat. Sakura tidak membayangkan Sasuke yang mendengkuskan tawa dan dengan lugas berkata, "Mungkin dia memang terlalu memengaruhiku."

Sakura segera menoleh dan menatap Sasuke lurus-lurus. Ia tidak berharap banyak dari Sasuke. Namun, ia juga tidak menyangka bahwa Sasuke akan seterbuka ini. Dengan daya pikir yang tajam, Sasuke pasti cukup memahami konsep 'wadah' suatu jiwa. Ia sudah mengerti bahwa Sakura mampu melihat segala hal yang dilihat Momoshiki karena mereka berada di tubuh yang sama. Jika memang begitu, artinya Sasuke menganggap Sakura tahu dengan segala hal yang terjadi, mulai dari perang hingga fakta bahwa tujuan perang itu adalah kematian Naruto dan direbutnya … bayi yang dimaksudkan Momoshiki—putra dari Naruto dan Sasuke.

Faktanya, Sakura memang tahu keadaan mereka sekarang, termasuk kenyataan bahwa Sasuke telah bersama dengan Naruto.

Akan tetapi, Sakura masih tidak menyangka bahwa Sasuke akan bersikap semudah ini—menerima fakta itu tanpa mencoba menutup-nutupinya.

Sasuke yang dikenal Sakura tidak akan membawa masalah ini ke permukaan. Ia akan menutup pembicaraan sehingga selalu membuat Sakura bertanya-tanya, berbeda dengan sekarang.

Sasuke tidak menyangkal fakta bahwa ia memang bersama dengan Naruto—ia mengakuinya, tepat di depan Sakura, seolah….

Dia sudah memilihnya.

Dia akan selalu memilihnya.

Hantaman keras menerpa ulu hati.

Sakura merasakan panas di kedua mata. Ia mengerjap. Buliran hangat segera meluncur melalui pipinya. Senyuman di bibirnya terasa getir.

"Dia benar-benar berharga untukmu, huh?" tanya Sakura dengan nada mengambang. Senyumannya mulai pudar seiring dengan kata yang ia tuturkan. "Sasuke-kun, kau … mencintainya, benar?"

Pandangan mereka masih mengunci. Sasuke berujar, "Bagaimana menurutmu?"

Sakura kemudian tertawa. Air mata mengalir deras dari matanya. Sejak dulu, Sakura selalu menyembunyikan perasaan ini. Ia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya. Ia selalu tersenyum dan mencoba memahami Sasuke.

Namun, setelah berulang kali melihat memori tidak menyenangkan yang ia miliki selama sepuluh tahun terakhir, Sakura tidak dapat lagi menahannya.

Pertahanan dirinya pecah berkeping-keping begitu melihat sorot mata Sasuke yang tidak menyangkal pertanyaannya. Hatinya serasa diremas oleh fakta bahwa Sasuke, suaminya, bahkan tidak repot-repot mencoba untuk tidak menyakitinya.

Kenapa pula aku berharap?

Sakura menelan rasa getir. Ia masih tertawa hambar.

"Kau sangat … kejam, Sasuke-kun," tutur Sakura dengan lugas. "Apakah dia mendapatkan segala hal yang tidak kudapat darimu? Apakah kalian tidur di kamar kita?"

Air muka Sasuke tidak berubah. Sorot matanya sama sekali tidak goyah. Tidak ada percikan emosi apa pun di sana. Ia terjaga dan tenang—terlampau tenang untuk menghadapi seorang perempuan yang tampak siap membunuhnya.

Mungkin karena Sasuke tahu bahwa Sakura tidak akan mampu membunuhnya—kecuali Naruto.

Sakura kembali menelan pil pahit.

Sesak di dadanya semakin mendera.

Ia memalingkan wajah, membiarkan air mata mengaliri pipinya tanpa henti.

"Tidak pernah."

Suara rendah Sasuke seolah bergema di kepala Sakura.

"Dia tidak pernah melakukannya setelah penyamarannya sebagai kau terungkap."

Sakura merasakan sengatan dalam dadanya, hanya sekali, tetapi sangat nyeri.

"Kami bertengkar dan bertarung karena dia lari, memaksa diri menjauh dari desa karena kehadirannya membuat hukum alam tidak stabil sehingga membuat para bijuu menargetkannya yang berada di Konoha." Sasuke melanjutkan. Nada suaranya amat terkontrol. "Kau bertanya apakah dia tidur di kamar kita. Menurutmu, apakah seseorang—yang rela mati untuk teman-temannya—akan melakukan itu ketika dia tahu bahwa aku adalah milik sahabat terbaiknya?"

Mulut Sakura terkatup. Ia menolak untuk kembali menatap Sasuke.

"Jawab aku, Sakura, apakah kau membencinya?"

Sasuke tidak menekan ataupun memaksanya berbicara dengan nada tegas. Kalimat Sasuke tidak menghakimi. Ia seolah murni bertanya.

Hal yang seperti ini membuat dada Sakura sesak.

Bagaimana mungkin Sasuke meminta jawaban itu dari Sakura?

Keheningan Sakura sudah diantisipasi Sasuke. Embusan napasnya tak repot-repot disembunyikan. Ketika mengerling pada Sasuke, Sakura melihatnya yang baru saja menyugar rambut. Sebelah tangannya masih bertahan menutup kedua mata selagi ia menumpukkan kedua lengan di atas paha.

"Satu-satunya orang yang harus kaubenci adalah aku," gumamnya rendah. Sasuke memalingkan wajah, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. "Tidak seharusnya aku membicarakan ini. Terkutuklah Itachi."

Gumaman Sasuke membuat Sakura mengerjap. Ia menoleh, menatap Sasuke yang masih memandang pintu kamar, seolah pintu tersebut tiba-tiba begitu menarik perhatiannya dan perlu diobservasi lebih jauh lagi.

"Aku tidak membencinya," ungkap Sakura tanpa disangka-sangka. "Aku hanya—"

"Bukankah menerima perasaan aslimu jauh lebih baik daripada membohongi dirimu terus menerus?" potong Sasuke tiba-tiba. Kedua telapak tangannya mengusap wajah dengan kasar. Melalui sela jemari, Sasuke berujar, "Saingan memang saling membenci. Dulu aku sangat membencinya." Kemudian, Sakura mendengar embusan napas Sasuke. Ia terdengar ingin mengumpat ketika berkata, "Bahkan aku tidak mengerti kenapa kau menganggapnya saingan. Dia takkan ingin bersaing untuk hal ini. Hanya dengan mendengar keinginanmu, dia akan langsung menyerah, mengingat kebodohannya."

Sasuke mendongak, ia pada akhirnya kembali menatap Sakura yang tengah tercenung oleh segala keterkejutan.

"Akulah yang bersalah." Berbeda dari beberapa saat lalu, kini ekspresi Sasuke tampak kaku. "Selama ini, semua masalah pribadi kita—" Sasuke menahan kalimat yang hendak diungkapkannya. Ia berakhir dengan tidak melanjutkan ucapan tersebut. "Kau tak perlu memaafkanku. Aku tidak berhak menerimanya."

Sakura memandang Sasuke dengan tidak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, tapi ia tak tahu harus mengucapkan apa.

Sasuke bangkit dari duduk. Ia menilik jam dinding, melihat waktu yang telah menunjukkan pukul delapan malam.

"Godaime akan segera ke sini." Sasuke berbalik ke arahnya. Kemudian, tanpa diduga ia meraih selimut yang menutupi sebagian tubuh Sakura dan membenarkan posisinya. "Beristirahatlah. Besok … aku akan memberi tahu Sarada."

Sengatan dalam dada Sakura menandakan hal buruk—sangat buruk karena … ia merasakan degup familier di dadanya.

Tanpa sadar, Sakura menahan telapak tangan Sasuke. Gestur itu membuat Sasuke berhenti sesaat. Ia mengamati telapak tangan Sakura di atas tangannya dan mengerling pada Sakura. Sepasang mata Sakura meneliti manik lelaki yang tengah menunduk di depannya. Ia kembali merasakan jeratan itu dalam dada, terasa sesak dan menyakitkan.

Genggaman tangannya dieratkan.

Sakura menatap Sasuke lurus dengan sorot menyinarkan harapan.

"Apakah kita—kau dan aku bisa meneruskan rumah tangga ini?"

Sakura tidak menanyakan perasaan Sasuke karena ia sudah tahu jawabannya. Namun, untuk suatu alasan yang begitu egois, ia tetap ingin bersama Sasuke. Jika Sasuke selalu terbuka dan mau membuka diri padanya seperti ini, mungkin … mereka bisa memperbaikinya. Mungkin….

Mulut Sasuke masih mengatup. Kedua matanya tampak berkonflik.

Ketika Sakura mengira bahwa Sasuke takkan mengatakan apa pun, ia mendengar gumaman itu, gumaman yang mematik seribu tanya dalam diri Sakura.

"Siapa yang tahu?"

Tangan Sasuke mengalihkan genggaman Sakura dengan hati-hati. Ia membenarkan posisi selimut tersebut dan menegakkan diri.

"Pikirkanlah dulu kesembuhanmu."

Selanjutnya, Sasuke berbalik pergi.

Langkahnya terhenti ketika Sakura kembali berbicara.

"B-bagaimana dengan kondisi N-naruto?"

Sasuke terdiam sesaat. Ia menoleh pada Sakura, menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

"Kau bisa melihatnya setelah kondisimu pulih."

Sakura ingin kembali bertanya, tetapi Sasuke telah bergerak keluar sebelum Sakura sempat kembali membuka mulutnya.

Sepeninggalan Sasuke, Sakura mencengkeram dadanya—menekan area di mana degup jantungnya berada. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Ia menatapnya lama, memperhatikan gambaran Sarada dan Sasuke di sana—bayangan mereka yang merupakan keluarganya.

Pemandangan tersebut masih bertahan hingga Sakura mengerjap. Ia kini tak hanya melihat Sarada dan Sasuke. Di antara dua orang tersebut, hadirlah sosok perempuan berambut pirang panjang dengan senyuman lebar. Ia merangkul Sarada dan Sasuke dengan begitu natural, tanpa kecanggungan atau batas apa pun.

"Sakura-chan, jangan berdiri saja di sana! Kemarilah! Kita harus membuat kenang-kenangan baru sebelum wajah Kakashi-sensei menua!"

Bayangan suara Naruto bergema dalam kepala Sakura, bersamaan dengan kilasan memori tentang keluarganya yang lain—Tim Tujuh.

Sakura mengerjap. Air mata kembali mengaliri wajahnya.

"Jelek sekali, Sakura-chan! Kau tidak boleh menangis hanya karena novel bodoh itu! Sasuke tidak akan menyukai wanita jelek yang menangis!"

Berbaring miring, Sakura menekan pipinya pada bantal. Dadanya semakin sesak. Segala memori menyeruak.

"Apakah hidup sebagai perempuan menyenangkan, Sakura-chan? Kalau aku perempuan juga, menurutmu apakah aku bisa menjadi perempuan hebat sepertimu?"

Bantal di bawah kepalanya telah diremas erat-erat. Sakura terisak rendah.

"Kau tahu, kita adalah keluarga. Karena kau terus menolakku, aku akan menjadi saudaramu. Ketika kau memiliki anak nanti, aku akan menjadi wali dari anakmu. Aku akan menjadi bagian dari keluagamu dan Sasuke. Kita akan tetap bersama."

Sesak dalam dadanya semakin kentara. Sakura menahan erangan dan makian. Ia menengadah, menatap nyalang dinding bercat putih di depannya.

"Kenapa kau selalu membuatku pusing, Naruto?! Semua kalimat bodohmu membuatku semakin bingung. Aku membencimu karena kau mendapatkan segala yang kuinginkan. Jadi, kenapa? Kenapa aku malah sangat memikirkamu?"

Air mata yang mengalir diusap dengan kasar. Sakura tak bisa mengalihkan pikirannya dari Naruto ataupun Sasuke. Ia masih merasakan konflik dalam dirinya hingga efek obat yang membuatnya mengantuk kembali menerpa. Dalam tidurnya, ia mengharapkan jawaban—jawaban atas pertanyaan mengenai hal apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia putuskan. []

TBC