Disclaimer : I do not own Naruto
Pintu kamar pasien ditutup dari luar, Sasuke berdiri memunggungi pintu, berdiam diri sejenak untuk mengulang percakapannya dengan Sakura, dan mengembuskan napas pendek. Kedua kakinya melangkah menjauhi ruangan. Ia berhenti begitu tiba di depan ruangan dokter utama, Senju Tsunade. Pintu tersebut ia ketuk pelan. Sahutan Tsunade dari dalam memberi izin Sasuke untuk masuk.
Di dalam ruangan, Tsunade tengah berkutat dengan dokumen yang tampaknya berisikan perkembangan perawatan kesehatan para pasien rumah sakit. Matanya masih belum beralih dari sana hingga Sasuke duduk di kursi di depan meja kerja Tsunade. Fokus sang Sannin Medis segera mendarat pada Sasuke. Tumpukan dokumen ditutup dan dipinggirkan. Tsunade menyandarkan diri pada punggung kursi dan berujar, "Sepertinya kau sudah menemuinya."
"Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?" tanya Sasuke tanpa basa-basi.
Tsunade menumpukan siku di lengan kursi dan menopang sebelah pipinya. Tanpa sepercik pun ketertarikan, ia bergumam, "Bukankah seharusnya kau menemaninya lebih lama?"
Hanya tatapan datar Sasuke yang menjadi jawaban. Tsunade mendengkuskan tawa.
"Kau tidak mengucapkan hal-hal bodoh padanya, 'kan?"
Apakah mengakui perasaannya terhadap orang lain tepat di depan istri sendiri adalah hal bodoh?
Sasuke memilih untuk bungkam. Reaksi tersebut tentu saja memancing kecurigaan untuk Tsunade. Sang senior dunia medis tersebut kehilangan senyum sarkastisnya. Ia segera menegakkan diri dan menatap Sasuke lurus-lurus.
"Apa yang kaukatakan padanya?"
Tatapan Tsunade terasa begitu mengganggu. Sasuke membalas, "Bukan apa-apa."
Tsunade tampak menahan kedongkolannya dalam-dalam.
"Keadaannya masih sangat rentan," tukas Tsunade. Pandangannya menajam. "Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Kau tahu kenapa?" Ekspresi Tsunade semakin kusut. "Dia dimanipulasi oleh musuh. Otaknya dicuci."
Pernyataan Tsunade tidak mengejutkan Sasuke. Sasuke sendiri berujar, "Aku sudah tahu." Ketika pandangan Tsunade masih menusuknya, ia menambahkan, "Dia tidak bersalah. Aku tahu."
"Kalau begitu, kau tidak seharusnya menambah beban pikiran untuknya. Jangan memperparah kondisi mentalnya yang sedang sedikit terguncang."
Sasuke mengatupkan mulut. Ia terdiam sesaat sebelum kembali menanyakan kondisi Sakura pada Tsunade. Meski merasa jengkel pada sang hokage, Tsunade tetap memberi tahu Sasuke kondisi Sakura. Menurut Tsunade, Sakura bisa meninggalkan rumah sakit empat hari lagi. Setelah beristirahat total selama empat hari itu, kondisi fisiknya bisa kembali pulih.
"Aku hanya dapat memastikan kesehatan fisiknya, tidak dengan trauma yang dialami," jelas Tsunade saat itu.
Sasuke beranjak setelahnya. Ia berpesan agar Tsunade segera kembali memeriksa kondisi Sakura sebelum benar-benar pergi dari ruangan. Ia keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah. Kondisi lampu rumah yang menyala menandakan keberadaan orang lain di rumahnya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak merasa awas. Pintu utama ia tutup dan ia bergegas ke ruang kosong yang telah ia jadikan sebagai kantor.
Berdiri memunggungi Sasuke, Itachi tengah membaca-baca dokumen entah apa yang diambilnya dari rak buku Sasuke. Kebiasaan ini telah berlangsung hampir selama tiga minggu—sejak peperangan berakhir.
Akibat ketiadaan Orochimaru, para edo tensei seolah terperangkap di dunia ini. Wajarnya, jurus edo tensei bisa dikendalikan oleh siapa saja yang menguasai segel tangan dari jutsu tersebut. Namun, belajar dari Kabuto yang gagal menggunakan jutsu itu dengan baik, Orochimaru telah kembali memodifikasinya. Ia memberi kunci segel pada Kakashi—yang mampu membangkitkan para jiwa di masa lalu—tetapi menyimpan kunci pelepasan segel hanya untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, jutsu ini telah menjadi jutsu andalannya sejak dulu. Ia tidak ingin lagi kecolongan. Bahkan Madara sekalipun tidak bisa mengendalikan atau melepas ikatan edo tensei yang mengikat jiwanya.
Selain itu semua, modifikasi teknik ini juga seolah benar-benar menghidupkan para jiwa yang telah mati. Perbedaan mencolok yang dapat dilihat dengan mata telanjang adalah bentuk edo tensei itu sendiri. Jika dulu seorang edo tensei memiliki tubuh dengan kulit yang seolah bisa terkelupas kapan saja, sekarang rupa mereka tampak lebih hidup dan nyata. Retakan di permukaan kulit tidak lagi terlihat. Mereka benar-benar seperti manusia—dengan jantung yang berdetak di dalam dada dan darah yang mampu mengucur ketika terluka parah.
Fungsi tubuh mereka menyerukan kata manusia. Satu-satunya indikasi yang menandakan bahwa mereka hanya seorang edo tensei adalah warna matanya—warna mata gelap yang tidak lagi memancarkan binar kehidupan, mata yang dimiliki oleh seseorang yang telah dinyatakan mati.
Oleh karena itulah selama hampir sebulan ini mereka hidup seperti manusia. Itachi, Shisui, dan orang tua Sasuke memilih tinggal di rumah ini, sementara Obito lebih ingin mengganggu kehidupan tenang Kakashi dengan bergabung di rumahnya. Para edo tensei Uchiha telah membuat tempat tinggal sementara di permukaan—bukan bawah tanah. Mereka tinggal di sana dengan para hokage terdahulu dan juga Madara—yang begitu menikmati momennya untuk kembali hidup tanpa sesuatu yang dinamakan Kutukan Kebencian.
Kondisi yang demikian terasa salah.
Sasuke jelas menikmati kehadiran keluarganya, tetapi bagaimana perasaan mereka ketika kembali menikmati sebuah kehidupan hanya untuk kembali dikirim kepada kematian?
Jawaban dari pertanyaannya bisa langsung ia dapatkan dari Itachi, tetapi Sasuke memilih diam.
"Semua itu pekerjaanku, kau tidak perlu mencoba membantu."
Sasuke berjalan mendekati sang kakak. Ia duduk di pinggir meja, menatap Itachi yang masih berdiri menghadap sebuah rak buku, memunggunginya.
Menoleh pada sumber suara, Itachi membalas, "Oh, ya? Kau tidak mau memanfaatkan kehadiran kakakmu ini?"
"Kakashi dan Shikamaru sudah cukup untuk membantuku." Sasuke terdiam sesaat, bayangan para edo tensei segera membanjiri kepalanya. "… dan para hokage terdahulu."
Sebuah map berisikan dokumen-dokumen tersebut segera ditutup. Itachi meletakkannya kembali di dalam rak.
"Aku yakin kau tidak seakrab itu untuk menceritakan semua masalahmu pada para hokage terdahulu." Ia berbalik untuk menghadap Sasuke. Tatapannya begitu tenang, seperti biasa. "Bagaimana dengan kunjunganmu?"
Sasuke beranjak duduk di kursi kerjanya. Ia menghela napas pendek selagi menyandarkan diri di punggung kursi.
"Akan lebih mudah jika aku memanipulasi mereka dengan genjutsu," ungkap Sasuke terang-terangan. "Para penjilat itu sangat memuakkan."
"Itulah politik."
"Terima kasih telah mengingatkan," balas Sasuke sarkastik. Ia mengalihkan pandangan pada langit-langit ruangan.
Selama ini, ia tidak pernah menceritakan masalahnya pada orang lain secara bebas, bahkan pada Kakashi atau Naruto sekalipun. Jika masalah tersebut sudah begitu personal, Sasuke memilih untuk menyimpannya sendiri. Yang ia diskusikan semata-mata hanya masalah pekerjaan. Ia tidak merasa 'benar' untuk membeberkan konflik batinnya. Tapi, dengan keadaan sekarang….
"Operasi Sakura berjalan lancar. Aku sudah menemuinya."
Itachi adalah kakaknya, orang yang bisa ia andalkan, orang pertama—yang dulu ketika kecil—akan mendengarkan segala keluh kesahnya.
Itachi sendiri mengerti. Ia menarik kursi di depan meja kerja Sasuke dan duduk di sana. Kedua kaki bersilangan, tangannya terlipat di depan dada.
"Kau sudah membuat keputusan?"
Pandangan Sasuke masih terpatri di langit-langit ruangan.
"Bukan semacam keputusan," timpal Sasuke. Bayangan percakapan beberapa saat lalu kembali membanjiri pikirannya. Sasuke melanjutkan, "Aku hanya menegaskan sesuatu, seperti yang kausarankan."
"Baguslah."
Kini, Sasuke mengerling pada Itachi. Nada tenang yang dilontarkan Itachi seolah mengganggu Sasuke.
"Bagus?" tanyanya heran sekaligus kesal. "Lebih baik aku menutup mulutku karena kondisinya masih belum stabil."
"Dan membiarkannya terus menerus salah paham?"
Detik itu, Sasuke tak mampu menjawab Itachi. Ia menumpukkan kedua siku di atas meja dan mengusap wajah dengan kasar.
"Tak pernah sekalipun aku ingin terlibat masalah dengan wanita."
Itachi menahan tawa geli atas nada putus asa di suara Sasuke. Sosok lelaki dewasa di depannya tiba-tiba berubah menjadi citra seorang anak lelaki yang umurnya tak lebih dari sepuluh tahun. Tanpa sedikit pun beban, ia berkata, "Begitukah? Kurasa tidak. Jika kita menjalani kehidupan normal, aku tetap bisa membayangkanmu terlibat dalam masalah ini."
Dari sela jemari, Sasuke menatap Itachi tajam.
"Apa pula maksudmu?"
Pertanyaan Sasuke tidak mendapatkan jawaban. Itachi tidak ingin menambah beban pikiran Sasuke dengan menyatakan bahwa adiknya … well, bagaimana mengatakannya?—sejak dulu mempunyai potensi untuk menjadi seorang player?
Penjelasan atas pemikiran itu juga akan panjang, jadi Itachi memilih untuk tidak mengatakanya. Alih-alih menjawab Sasuke, ia malah mengembalikan topik pembicaraan mereka.
"Tindakanmu sudah benar. Yang perlu kaulakukan sekarang hanya menunggu." Itachi menatap Sasuke lurus-lurus. Dengan tenang, ia bertanya, "Bukankah kau hanya ingin kembali melihatnya hidup?"
Sehari setelah pembicaraannya dengan Tsunade mengenai operasi Sakura, Sasuke telah menceritakan ini pada Itachi. Ia sempat berkata bahwa satu-satunya hal yang ia inginkan sekarang adalah melihat Naruto kembali hidup. Ia, dengan enggan, telah menceritakan masalah keluarganya pada Itachi—mengenai Sakura dan Sarada. Kembali meninjau keadaan itu membuat Sasuke sadar bahwa kini yang perlu ia utamakan adalah tanggung jawab—tentang ia yang dulu sempat berpikir untuk memperbaiki kondisi rumah tangganya.
Itachi sempat bertanya, apa yang akan dilakukan Sasuke jika saat itu Sakura tetap ada ketika Naruto memunculkan diri. Sasuke, tanpa basa-basi, langsung menjawab bahwa ia takkan melakukan apa pun. Yang artinya, ia takkan mencoba untuk memperumit kondisinya dengan terlibat lebih jauh dengan Naruto.
Jawaban ini membawa Sasuke pada satu jawaban—yang selama ini selalu dilontarkan Naruto selagi menolak perasaannya sendiri.
Sasuke menyadari perasaannya pada Naruto karena mereka sempat berada di posisi sebagai seorang pasangan—saat ketika Naruto memerankan Sakura.
Mungkin, Sasuke memang melihat diri Naruto meski ia berpenampilan sebagai Sakura. Namun, dengan melihat sisi Naruto yang dulu tidak sempat ia lihat, Sasuke seolah baru tersadar atas rasa yang selama ini menjeratnya—rasa yang membuatnya tak mampu kembali pada kehidupan normal karena merasa sangat kehilangan.
Jadi, sebenarnya, ia tetap menjunjung tanggung jawabnya kalau saja Sakura tetap ada. Kesadaran itu mungkin akan tetap muncul seiring ia mendapati kehadiran Naruto. Namun, Sasuke sendiri yakin, ia takkan mengkuti hasrat tersebut. Cahayanya akan tetap kembali tanpa harus benar-benar bersama. Hanya dengan mengetahui bahwa Naruto tetap hidup seperti dulu seolah sudah cukup. Melihatnya kembali hidup dengan sepenuh hatinya seperti dulu sudah lebih dari cukup—ia takkan memaksakan keinginannya untuk memiliki.
Itulah alasan atas jawabannya pada Itachi.
Jadi, kenapa pula ia ragu?
Realita seolah telah terpampang di depannya. Ia telah memprediksi jawaban Naruto dan ia telah mendengar keinginan Sakura. Ia akan membiarkan Naruto pergi dan hidup dengan kedua putra mereka, suatu keputusan yang begitu terdengar seperti Naruto.
Sasuke akan menerimanya—jadi, mengapa ia tetap mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin? Bukankah ia orang dewasa?
Konflik batin itu terlihat jelas di mata Itachi. Ia mengalihkan perhatiannya pada sebuah novel yang terletak di ujung meja sebelum mengambilnya. Membiarkan Sasuke tenggelam dalam lamunan, Itachi memindai isi novel tersebut dan menemukan fakta bahwa penulis dari novel itu berinisial U.N—Uzumaki Naruto?
Di sana tertera tanggal terbit yang telah berlalu sekitar sebelas tahun dari sekarang. Itachi mengira bahwa Naruto melanjutkan hobi gurunya untuk menulis sebagai bentuk penghormatan. Ia sama sekali tidak heran. Pertanyaannya adalah mengapa buku berusia lebih dari satu dekade ini masih terlihat begitu bagus?
Pertanyaannya terjawab setelah memindai kertas buku tersebut menggunakan sharingan. Di sana terdapat segel pengawetan sederhana bercorak chakra Sasuke.
Tindakan kecil ini menyerukan banyak hal, salah satunya mengenai alasan keraguan Sasuke atas pemikirannya sendiri.
Itachi masih membaca-baca isi buku itu ketika sepenggal kalimat terucap dari bibirnya—kalimat yang segera memecah lamunan Sasuke.
"Keputusanmu memang sudah ditetapkan, tapi kau tidak melupakan orang lain yang juga merasa terlibat dengan masalah ini 'kan?"
Perhatian Sasuke segera terarah pada sang kakak.
Itachi, masih dengan mata terpatri pada deretan kata-kata di depannya, melanjutkan, "Yondaime," kata Itachi dengan ringan. "Apa yang dipikirkan Yondaime tentang putrinya? Menurutmu dia akan tinggal diam jika putrinya menanggung dua orang anak seorang diri?"
Di depan Itachi, Sasuke mengerjap. Itachi masih belum selesai bicara. Ia kembali melontarkan pertanyaan.
"Kau belum pernah berbicara empat mata dengannya, 'kan?" Pertanyaan tersebut begitu retoris. Mereka berdua tidak perlu jawaban karena keduanya telah tahu jawabannya. "Yondaime sangat protektif. Menurutmu siapa orang yang pertama kali memberi segel henge sekuat itu pada Naruto?"
Itachi menatap Sasuke yang tampak tidak dapat membalas ucapannya.
"Sandaime bahkan mengira bahwa Naru adalah anak laki-laki," ungkap Itachi. "Sampai umur empat tahun ketika dia harus tinggal sendiri, aku ditugaskan untuk … mengawasinya. Yang kulihat di apartemen kecil itu adalah seorang anak perempuan berambut pirang panjang yang sangat mirip dengan Naru."
Realisasi seolah memasuki kepala Sasuke.
"Kau—" Sasuke mengernyit samar. "Sejak dulu, kau sudah tahu kalau dia perempuan?"
Itachi tidak mengindahkan pertanyaan Sasuke.
"Setelahnya, Sandaime memeriksa segel itu dan dia berasumsi bahwa Yondaime secara sengaja menanamkan segel itu bersamaan dengan segel Kyuubi. Kemungkinan karena di masa itu, hidup menjadi laki-laki pasti jauh lebih aman—dengan banyak musuh yang dipunyai Yondaime di luar sana dan juga desa lain yang menargetkan bijuu. Dia mungkin memperkirakan kesulitan Naru jika hidup sebagai perempuan, seperti kemungkinan jenis perundungan yang akan didapat olehnya sebagai perempuan."
Itachi meletakkan buku tersebut. Ia kemudian menaikkan sebelah alis dan bertanya, "Jadi, bagaimana kalau kau mencoba menemui Yondaime? Setidaknya, pastikan bahwa dia tidak membunuhmu setelah membuat putrinya menderita."
Percakapan mereka terinterupsi oleh seruan seseorang dari luar—seseorang yang dikenali Sasuke sebagai Shisui. Seruannya tidak begitu penting, hanya mengenai dango yang harus dihangatkan, tetapi tetap membuat Itachi bergegas keluar, meninggalkan Sasuke sendiri dengan kecamuk pikiran.
Ucapan Itachi terngiang di dalam telinga. Saran yang dikatakannya tidaklah salah. Sejak beberapa hari, Sasuke sempat memikirkan opsi untuk menemui Yondaime—tidak, bukan Yondaime, tetapi Namikaze Minato, ayah dari Uzumaki Naruto. Ia perlu menghadapi Minato sebagai bentuk tanggung jawab atas segala kecerobohan yang telah dilakukannya.
Namun, selain karena kesibukan, Sasuke masih terus mempertimbangkan opsi tersebut begitu memikirkan penjelasan apa yang hendak diberikan pada Minato. Apakah ia harus meminta maaf karena telah … memaksa Naruto untuk bersamanya? Minta maaf karena sejak remaja hingga sekarang ia selalu membuat Naruto menderita? Atau meminta maaf karena telah … membuatnya mengandung tanpa status yang legal?
Kesalahan Sasuke seolah bertumpuk-tumpuk. Penyesalan itu menggumpal dalam dada. Pemikiran bahwa Minato takkan memaafkannya juga membuatnya semakin bimbang. Jika Sarada berada dalam posisi Naruto, Sasuke takkan memaafkan lelaki kurang ajar yang membuat putrinya hidup di neraka seperti itu. Pengandaian saja telah membawanya pada kesimpulan tersebut. Bagaimana mungkin ia nekat untuk berharap?
Detak jarum jam serasa menggema di kepala Sasuke. Ia bangkit berdiri dan bergegas ke kamar mandi. Semoga saja, guyuran air dingin mampu mendinginkan kepalanya.
oOo
Pulih—kondisinya sudah pulih.
Sakura berdiri di samping tempat tidur, mencoba membereskan ranjang pasien sebelum meninggalkan kamar inap itu. Sudah empat hari sejak ia membuka mata. Selama empat hari itu, Tsunade membuatnya beristirahat total dan melarangnya bertemu dengan siapa pun termasuk Sasuke. Kata Tsunade, Sasuke harus belajar untuk menutup mulutnya, sedangkan Sakura sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Tsunade.
Akan tetapi, apa yang telah berlalu biarlah berlalu. Sakura tidak lagi dipusingkan oleh maksud ucapan Tsunade. Sekarang ia sudah pulih dan bebas bertindak.
Ketukan pintu membuat Sakura menoleh. Melalui kaca buram di daun pintu, ia mendapati siluet lelaki yang tak lain adalah Sasuke. Kedua mata Sakura mengerjap. Ia segera bergegas untuk membukanya. Sorot terkejut langsung terpampang di kedua mata Sakura begitu memastikan bahwa prediksinya benar.
Sasuke menjemputnya.
Seulas senyum segera terlukis di bibir Sakura.
"Sasuke-kun," ungkap Sakura dengan nada pelan. "Kau datang."
Sebelah tangan Sakura masih menggenggam kenop pintu erat-erat. Ia hendak melepasnya dan menghambur ke pelukan Sasuke ketika Sasuke menoleh ke arah koridor dan melambaikan tangan pada seseorang, seolah memberi isyarat.
Dua detik kemudian, seruan seseorang yang amat dirindukan Sakura terdengar.
"Mama!"
Sarada berlari ke arahnya. Ia menelusup di antara Sasuke dan Sakura untuk memeluk pinggang sang bunda tercinta.
"Mama! Mama! Kau kembali!"
Ekspresi terkejut tampak kentara di wajah Sakura. Namun, ia segera menguasai diri. Kedua tangannya meraih lengan Sarada dan ia segera berlutut—menyamakan tingginya dengan sang putri. Air mata telah mengalir deras dari kedua mata Sarada. Sakura sendiri tak dapat menahan tangis. Ia segera mendekap putrinya erat, merasakan hangat dan ringkih tubuh sang putri tercinta.
"Rambutmu sudah mulai panjang, ya," ungkap Sakura di sela pelukan. Telapak tangannya mengusap pelan punggung Sarada. "Maafkan mama karena sudah meninggalkanmu."
Sarada masih sesenggukkan di pelukan Sakura.
"Aku tahu Mama tidak akan meninggalkanku." Sarada menahan isakan. "Aku tahu kau akan kembali. Aku tahu!"
"Ya, mama tidak akan meninggalkanmu," balas Sakura. Ia mengeratkan pelukan hingga membuat Sarada menepuk bahunya dan memprotes pelukan yang terlalu erat. Sakura tertawa rendah. Ia menguraikan dekapan itu dan mengusap air mata dari pipi Sarada setelah mengusap air matanya sendiri. "Karena aku rindu pada Sarada. Memangnya Sarada tidak?"
Pelukan terurai. Sarada masih mencebikkan bibir.
"Tentu saja aku merindukan Mama. Tapi, aku perempuan kuat," ungkap Sarada dengan yakin. "Naru-san bilang perempuan juga harus kuat agar tidak diremehkan oleh laki-laki."
Disebutnya nama Naruto dari bibir Sarada seketika membuat Sakura mematung. Lengkungan senyumnya terurai. Tatapan hangatnya menjadi kosong.
Sarada tidak menangkap perbedaan dari ekspresi sang ibu. Ia lanjut berbicara tentang keberadaan para Uchiha lain yang merupakan paman, kakek, dan neneknya. Nada bicara Sarada terdengar antusias, matanya pun berbinar-binar-pemandangan yang cukup kontras dari kondisi sang ibu.
Sasuke melihat kejanggalan itu. Ia segera berlutut di samping Sarada dan menggendongnya, seketika membuat Sarada berhenti berbicara.
"Ibumu masih sedikit lelah. Kita sebaiknya segera kembali," jelas Sasuke.
Dengan tangan kiri menggendong Sarada, Sasuke mengulurkan tangan untuk membantu Sakura berdiri. Sakura sendiri mendongak. Ia menatap uluran tangan Sasuke dan segera menggenggamnya erat. Suaranya sedikit parau ketika bertanya, "Kembali ke mana?"
"Rumah."
"Rumah kita?" tanya Sakura lagi. Mulutnya mengatup. "Rumah kita sudah hancur di atas sana."
Terdapat implikasi lain dari ucapan Sakura. Sasuke menyadarinya, tapi ia tidak ingin berbicara lebih lanjut ketika Sarada berada di sini.
Oleh karena itu, Sasuke segera menuntun Sakura untuk ikut berjalan. Genggaman tangan mereka masih belum terlepas karena … Sakura tampak enggan untuk melepaskan.
Beberapa tenaga medis sempat menyapa dan memberi ucapan selamat atas kesembuhan Sakura. Segalanya dijawab dengan sopan, tetapi percikan ketegangan tadi masih belum enyah. Keberadaan Sarada seolah menjadi penengah. Anak berumur tujuh tahun itu sibuk membicarakan berbagai pengalaman baru yang dilaluinya selama Sakura tidak ada. Ia juga sempat menyebut nama Naruto beberapa kali—tindakan yang membuat Sakura diliputi rasa tidak nyaman.
Bahkan Sarada pun….
Sebelum benar-benar keluar dari rumah sakit, Sarada dihampiri oleh Miyo—putra dari Kiba dan Hinata. Miyo menyapa Sasuke dan Sakura sebelum meminta Sarada ikut bersamanya untuk melihat perbaikan Akademi Ninja yang sedang dilakukan langsung oleh Shodaime Hokage, Senju Hashirama.
"Kau harus melihatnya! Chocho dan yang lain sudah di sana!"
Sarada kelihatan bimbang. Sejak usia empat tahun, ketika ia mulai mahir membaca, ia selalu diajak Sasuke ke perpustakaan daerah. Di sana, ia membaca banyak hal tentang sejarah dunia ninja, termasuk mengenai Hokage Pertama. Seluruh idealisme dan keheroikan sang pendiri desa Konoha itu tentunya membuat anak seusia Sarada takjub. Ia menyukai Shodaime! Tawaran Miyo jelas-jelas menakjubkan.
Tapi, di sisi lain. Ia masih ingin bersama dengan ibunya….
Usapan lembut sang bunda di kepalanya seolah memberi jawaban untuk Sarada.
"Kita bisa bertemu lagi nanti, Sarada," tutur Sakura.
Sarada mengerjap. Ia yang beberapa saat lalu sudah meminta turun dari gendongan Sasuke pun terpaksa mendongak untuk melihat Sakura dengan lebih jelas.
"Kita bisa bertemu kapan saja. Aku tidak akan pergi lagi," lanjut Sakura, meyakinkan sang putri.
Pada akhirnya, Sarada mengangguk. Ia melambaikan tangan selagi berlari mengikuti Miyo yang terpaksa lari karena ditarik oleh ninja anjing yang dipeliharanya.
Perginya Sarada membuat Sakura kembali berdua dengan Sasuke. Sakura masih terngiang dengan segala cerita Sarada mengenai Naruto. Juga tentang pembicaraan awalnya dengan Sasuke mengenai Naruto empat hari lalu.
Sakura kira, ia sudah lupa.
Hatinya kembali mencelis ketika mengingatnya. Ia mengerling pada telapak tangan yang tadi sempat digenggam oleh sosok yang ia cinta.
Apa arti tindakannya?
Sakura tidak berharap banyak. Tapi….
"Sasuke-kun, kenapa kau membiarkanku hidup kembali?"
Kenapa kau tidak membuatku meninggalkan dunia ini saja kalau posisiku memang menyulitkanmu?
Sasuke menoleh. Ia tampak tidak menyangka bahwa pertanyaan semacam itu akan keluar dari mulut Sakura.
"Sarada membutuhkanmu."
Bukankah Sarada sudah cukup bersama dengan Naruto?
Sakura mengerjap. Kedua matanya sedikit panas.
Beberapa hari lalu ketika ia masih dalam masa pemulihan, ia sempat mendengar percakapan para perawat. Mereka membicarakan mengenai kondisi kritis Naruto akibat daya racun yang menggerogoti tubuhnya. Menurut mereka, Tsunade berusaha keras untuk memecahkan komponen racun tersebut agar dapat menciptakan antidot yang tepat. Namun, sejauh ini usahanya belum membuahkan hasil. Satu-satunya harapan mereka hanya Sakura—ninja medis pertama yang berhasil melampaui kemampuan Tsunade.
Entah mengapa ingatan tentang percakapan para perawat tersebut kembali muncul di kepala Sakura. Namun, ia yakin bahwa Sasuke tidak semata-mata menghidupkannya hanya untuk Sarada.
Tenggorokan Sakura terasa perih.
"Karena Naruto, 'kan?" tutur Sakura pahit. Ia mendongak, menatap Sasuke lurus-lurus. "Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Naruto adalah aku. Kau membiarkanku hidup karena dia."
Kening Sasuke mengerut samar. Lagi-lagi ia tidak menyangka dengan tindakan Sakura. Mulutnya terbuka, hendak berbicara menurut refleksnya. Namun, Sasuke terdiam sesaat. Ia seolah tidak mengerti dengan maksud kalimat yang diucapkan Sakura, tidak mengerti dengan dirinya sehingga perlu menilik lebih jauh agar bisa memahami.
Ketika Sakura berpikir bahwa Sasuke takkan menjawabnya, jawaban itu datang.
Mungkin, bukan sepenuhnya jawaban karena Sasuke malah balik bertanya.
"Apakah kau benar-benar membencinya karena aku?" ungkap Sasuke tidak percaya. Reaksi Sakura yang hanya diam selagi memalingkan wajah dengan bibir bergetar menahan emosi sudah memberi jawaban yang cukup untuk Sasuke. Ia mengerjap, kembali tak habis pikir. "Dia tidak bersalah," bisiknya selirih angin.
"Yang kukatakan benar, 'kan?" balas Sakura dengan serak. "Kau membiarkanku hidup karenanya."
Kali ini Sasuke menyipitkan mata. Ia ingat betul saat ketika Tsunade meminta izin operasi itu padanya. Saat itu, ia bahkan merasa tidak punya sedikit pun hak untuk memutuskan nasib hidup Sakura. Tsunade berkata bahwa operasi itu begitu riskan dan nyawa Sakura bisa melayang kapan saja. Untuk masalah Naruto, mereka masih bisa mengusahakannya tanpa Sakura.
Lalu-lalang orang di sedikit mengganggu Sasuke. Mereka sempat melemparkan pandangan penasaran ketika mendengar ucapan Sakura secara tidak sengaja. Sasuke yakin, hampir seluruh orang di desa ini pasti telah mendengar berita tentang hubungan Sasuke dan Naruto—berita yang dulu sempat heboh akibat pertengkaran Shikamaru dan Ino.
Dengan kembalinya Sakura, masalah personal Sasuke akan kembali menjadi camilan empuk para tukang gosip di sela jam makan mereka. Kenapa orang luar sangat senang membicarakan masalah pribadi orang lain?
Sasuke segera menarik Sakura ke tempat yang lebih sepi.
Setidaknya di gang kecil dekat rumah sakit ini tidak banyak dilalui oleh masyarakat umum.
"Sarada sangat sedih ketika kau pergi. Baginya, tidak ada yang bisa menggantikanmu." Sasuke menahan suaranya senetral mungkin. Ia mengerti dengan kondisi Sakura. "Semuanya untuk Sarada."
Hidung Sakura sedikit memerah. Ia jelas sekali menahan tangis.
Sakura mengangguk.
"Baiklah," ujar Sakura pelan. "Aku bertanya karena kupikir aku tidak bisa menyembuhkan dia."
"Apa?"
"Momoshiki mengontrol tubuh dan pikiranku ketika meracik racun itu. Aku tidak tahu penawarnya."
Wajah Sasuke tampak lebih pucat dari biasanya, seolah seluruh aliran darah baru saja meninggalkan tubuhnya. Ia tampak ingin mengutarakan sesuatu. Mungkin meluapkan gejolak panas di dadanya. Tapi, mulutnya tetap terkunci rapat.
Ia mengangguk kaku.
"Bukan salahmu bahwa kau tak bisa ingat apa pun." Nada bicara Sasuke tidak setenang tadi. Sakura mengenalinya. "Jika kau memang tidak bisa ingat, aku ataupun yang lain tidak akan memaksa. Tapi, aku akan sangat kecewa kalau kau membenci dan menginginkan kematiannya hanya karena masalah kita ini. Dia sangat menyayangimu dan akan melakukan segalanya untukmu. Kau tak sepantasnya membalas semua itu dengan kebencian."
Tatapan tajam dan nada tegas Sasuke bagaikan godam yang dihantamkan tepat di dada Sakura. Ia melihat Sasuke berbalik pergi. Matanya menatap punggung itu dari belakang, melihatnya semakin menjauh.
Nyeri di dadanya tak terperi.
Tangan Sakura mengepal. Pipinya telah basah oleh air mata.
Sebelum Sasuke benar-benar menjauh, ia berseru, "Apakah kau akan tetap bersamaku kalau aku menyembuhkannya?"
Di depan sana, Sasuke menarik napas dalam. Gejolak marah ditekan dalam-dalam. Ia tidak pernah bisa berpikir lurus jika sudah berbicara tentang kondisi kesehatan Naruto. Tiap kali membicarakannya, ia selalu teringat dingin tubuh sang perempuan pirang di malam itu. Malamnya tidak pernah tenang akibat berbagai mimpi buruk yang selalu hadir. Semua citra mimpi buruk itu sama—tubuh tak bernyawa Naruto.
Semua nasihat Tsunade tentang trauma yang dialami Sakura masih diingat jelas oleh Sasuke. Ia tahu bahwa ia tak seharusnya berkata seperti tadi. Tak seharusnya pula ia terpancing emosi. Tapi, tiap kali berhadapan dengan orang yang membenci Naruto ketika orang tersebut begitu dihargai dan begitu dilindungi olehnya … Sasuke sulit untuk tidak terpancing marah.
Ia perlu mendinginkan kepala sejenak.
"Sebaiknya kau segera kembali ke rumah dan beristirahat. Aku ada janji dengan para kage."
Tanpa memberi jawaban pada Sakura, Sasuke bershunshin. Jejaknya hanya berupa embusan angin.
Di bawah langit senja, Sakura berdiri dengan luka menganga. Rentetan kalimat Sasuke berdentum ngilu dalam dada. Menelusuk tepat ke dalam ketakutan terdalamnya. Ketakutan untuk ditinggalkan, ketakutan untuk dibuang. Tremor di tubuhnya tak kunjung hilang. Ia menumpukan beratnya pada dinding gang, berharap beton yang dijadikan sandaran mampu menopang segala beban yang ditanggungnya.
Kesedihannya tak masuk akal. Tindakannya tadi jelas tak dapat dimaafkan.
Sasuke pergi tanpa ragu–masih sama seperti dulu.
Sakura tidak tahu bahwa saat itu Sasuke baru saja menghentikan langkah kakinya. Ia menatap nanar udara. Embusan napas kasar terdengar.
Sasuke berbalik pergi—tidak untuk kembali pada Sakura, tapi untuk mencari seseorang yang mungkin mampu menyembuhkan Sakura sepenuhnya.
Langkah kaki Sasuke lebar-lebar. Ia berjalan ke area pemukiman warga dan mendatangi sebuah rumah di sana. Pintu kayu diketuk. Jeda yang ada sedikit mengkhawatirkan. Namun, ia tahu si penghuni rumah sedang berada di dalam.
Dugaannya benar begitu pintu kayu dibuka. Sosok wanita berambut pirang pucat segera menyambutnya. Di buaian sosok itu, tampaklah seorang individu mungil yang tengah tertidur pulas. Pipinya basah, seolah sejak tadi ia sedang menangis dan sekarang baru sempat tertidur.
Ino Yamanaka menatap Sasuke penuh tanya.
"Eh, Sasuke? Ada apa?"
Melihat keberadaan bayi membuat dada Sasuke ngilu karena ia seolah diingatkan oleh impian yang sebentar lagi karam.
"Bisakah kau menemui Sakura sekarang?" ungkap Sasuke tanpa basa-basi.
Ino mengerjap, seolah baru teringat.
"Astaga, sekarang sudah hari keempat!" serunya tidak percaya. Ia segera berbalik, hendak menidurkan anaknya di dalam ketika alarm peringatan berdentang keras di kepalanya. Ino kembali menghadap Sasuke. "Kenapa kau memintaku untuk menemuinya?"
Sasuke tampak enggan untuk menjawab. Tapi, pada akhirnya ia menjawab juga.
"Karena hanya para Yamanaka yang bisa diandalkan untuk menyembuhkan trauma."
Sasuke kemudian memberitahukan lokasi terakhir Sakura sebelum berpamitan pergi pada Ino. Sepercik pun kecuriagaan tidak menelusupi kepala Ino sampai ia menemui Sakura.
Ketika menemukan sang sahabat baik di bangku samping rumah sakit—dengan wajah pucat, mata memerah, dan tubuh gemetar—Ino menyumpahi Sasuke dalam-dalam. Ia menyesal tadi tidak menyempatkan diri memberi cap tangan di pipi lelaki itu.
Reuni Ino dengan Sakura seharusnya tidak seperti ini. Ia seharusnya meluapkan kemarahan pada Sakura yang sudah begitu ceroboh dan tidak mengikuti nasihatnya dari dulu. Ino ingin protes banyak pada Sakura. Tapi, sekarang Sakura malah sudah dibuat begini. Jadi, mana bisa Ino marah-marah juga?
Pantas saja Sasuke memilih angkat tangan dan pergi. Ia sama sekali tidak cocok untuk membantu menangani orang depresi—dengan segala ucapan yang selalu setajam kunai cetakan terbaru.
Merangkul Sakura dalam pelukan, Ino membiarkan Sakura menangis. Ia tidak berucap atau menuntut pertanyaan apa pun. Yang dilakukan Ino hanya ada di sana. Tak berusaha menasihati, mengkritik, ataupun memberi penilaian yang akan semakin memperparah kondisi mental Sakura.
Ketika tangis Sakura reda, Ino mengajaknya ke rumah. Ia memberi teh hangat kesukaannya dan menceritakan kelahiran putri bungsunya dengan maksud mengalihkan perhatian Sakura. Metode yang dilakukan Ino cukup berhasil. Pikiran Sakura tidak lagi berpusat pada kesedihan, sampai pada akhirnya ketika malam datang, Ino menawarkan Sakura untuk bermalam di rumahnya.
"Inojin dan anak-anak akademi lainnya sedang berkemah dengan Konohamaru."
Begitu kata Ino.
Sakura pun menurut. Ia tidak banyak bicara dan segera tertidur pulas begitu berbaring di kamar tamu. Aroma terapi menyelimuti ruangan tersebut, begitu harum dan menenangkan—membuatnya begitu berbeda dengan udara pengap khas bawah tanah.
Ketika berhenti bekerja di Divisi Investigasi dan Interogasi, Ino melanjutkan jasa neneknya yang dulu biasa mengobati para veteran perang yang terjebak dalam trauma pasca perang.
Menjadi seorang ninja membawa depresi berat untuk mereka. Bagaimanapun juga, para ninja tetaplah manusia. Ino tidak terlalu memikirkannya sampai ia mendapati banyak shinobi yang selamat dari peperangan hidup tanpa makna. Mereka hidup, tapi kematian orang lain selalu membayangi. Rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan para rekan juga membebani hidup mereka.
Tak banyak dari mereka yang berakhir bunuh diri—mengakhiri hidup dengan cara menopang misi di luar batas kemampuan agar bisa ikut mati bersama orang yang tak dapat ditolongnya.
Salah satu orang yang mengalami trauma semacam ini adalah Sasuke. Ino bisa sedikit membantunya, tapi jika si penderita tak mau dibantu, apa yang bisa Ino lakukan?
Untungnya, Sasuke masih punya cukup pegangan untuk tetap bertahan—hingga kemudian pusat hidupnya kembali dan ia bisa berfungsi normal lagi secara total.
Dengan semua trauma masa kecil, menjalani hidup itu tidaklah mudah. Ino sebenarnya cukup takjub dan terkesan pada Sasuke. Ia memang benar-benar orang kuat. Baik secara fisik maupun jiwa.
Sedangkan Sakura—hatinya jauh lebih rapuh dari dua teman satu tim geninnya.
Sakura tidak memiliki pengalaman masa kecil yang membentuk mentalitas baja semacam Sasuke ataupun Naruto.
Ia rapuh dan perasaannya pada Sasuke seolah menjeratnya, memenjarakannya.
Ino tidak perlu membantu Naruto atau Sasuke.
Ia hanya perlu membantu Sakura.
Itulah mengapa ia meminta Sakura bermalam di rumahnya.
Menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Sakura, Ino duduk di tepi tempat tidur. Ramuan relaksasi tampaknya bekerja dengan cepat pada Sakura. Sekarang, yang perlu ia lakukan tinggal melihat kerusakan yang telah dibuat iblis itu.
Sebuah gulungan perkamen tergenggam di tangan. Ino membukanya di sisi tempat tidur yang masih kosong sebelum membentuk segel tangan. Pengaktifan jutsu tersebut membuat sisi ketidaksadaran Sakura terbuka perlahan. Dengan begini, Ino akan lebih mudah untuk melihat segala isi pikirannya—baik pikiran asli maupun rekayasa.
Praktik ini terbilang ilegal karena ia belum mendapatkan persetujuan pasien. Namun, Ino tidak memikirkan etika sekarang. Ia hanya ingin Sakura sembuh.
Jutsu identitas Yamanaka diaktifkan. Berkat modifikasi jutsu, Ino tak lagi kehilangan kesadaran sampai pingsan seperti dulu. Ia hanya menutup mata selagi menyalurkan chakranya pada Sakura.
Kesadaran Ino tiba dalam kepala Sakura. Di sana sangat gelap. Ino perlu turun lebih dalam hingga ia mendapati pertahanan mental yang telah dibangun begitu tinggi oleh Sakura. Dinding ini sudah rapuh dan retak, membebaskan asap gelap yang tertahan di bawahnya.
Hadir hanya sebagai kesadaran, Ino mampu melewati bagian permukaan diri Sakura itu dengan mudah. Ia turun hingga mencapai si sumber masalah—pusat ketidaksadaran yang biasanya dihuni oleh nilai, sebut saja nilai hitam dan putih, si insting hitam dan moral putih. Keduanya selalu berebut wilayah agar dapat mendominasi. Pengontrol mereka tinggal di area dinding mental tadi—dinding yang kini telah rapuh.
Ketika sampai di bawah sini, Ino mengerti mengapa Sakura menjadi sangat kacau sampai-sampai tak bisa berpikir jernih. Asap hitam itu telah menguasainya berkat keberadaan citra-citra memori yang dihadirkan secara berlebihan di sana.
Citra memori itu bagaikan tumbuhan merambat—memaksa masuk ke daerah putih guna memperbanyak asap hitam di sana.
Ino menahan jarak dari kepulan asap itu. Siapa pun yang menanamkan hal terkutuk berbentuk tumbuhan rambat itu….
Meluncur ke dalam sana, berbagai macam suara segera menusuk telinga Ino. Hanya dalam tiga detik, kepalanya terasa berat. Ino mendengar tangis, jerit, dan tawa tak lazim dari sana. Tangisnya begitu pilu, jeritnya amat dalam, dan tawanya membuat ia meremang.
Jejak kedua kaki dipertahankan sekuat tenaga. Cahaya terang tercipta di telapak tangannya. Ino berjalan semakin dalam dan menemukan gumpalan asap yang membentuk hewan buas berkepala tiga—representasi dari bagian tergelap seseorang yang biasanya dapat berubah-ubah dan berbeda antara satu sama lain.
Manifestasi asap hitam itu segera menyerang Ino. Biasanya, mereka hanya akan menunggu dan mengintai, sesuatu yang satu ini….
Ino segera memutuskan jutsunya. Ia membuka mengembalikan kesadaran pada tubuhnya sendiri. Napasnya menderu. Keringat menetes dari dahi.
Ino mengerling pada Sakura. Sekelebat ingatan dalam pikiran—mind—Sakura tadi segera dimunculkan.
Keadaannya sudah lebih parah dari yang dibayangkan.
"Apa yang sudah kaulalui?" gumam Ino pelan. Ia menggertakkan gigi, geram. "Dia merusak jiwamu." Jutsu dalam gulungan perkamen diuraikan. Ino menghela napas pelan. "Pasti sangat sakit, 'kan, Sakura?"
Ino keluar dari kamar tamu untuk segera duduk di sofa. Kedua kakinya bersila. Ia bermeditasi untuk mengembalikan energinya.
Keputusan Sasuke untuk menemuinya tidaklah salah. Ino sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia perlu mengalihkan tanaman merambat itu dan mengembalikab si asap ke tempatnya agar ia tidak mendominasi. Setelahnya, ia tinggal memberi terapi dan ramuan pada Sakura agar pertahanan mental-nya kembali pulih. Dengan begitu, si penjaga dinding takkan membiarkan si asap keluar dengan bebas.
Jika segalanya sudah beres, barulah Ino—ataupun yang lain—memberi masukan pada Sakura. Yang perlu ia benarkan hanya sisi ketidaksadaran itu.
"Mendalami proses mental hampir membuatku ikut gila," gerutu Ino setelah menyelesaikan meditasinya. "Untung saja aku sudah melahirkan. Paling tidak, kondisiku sendiri sudah lebih stabil tanpa hormon-hormon tambahan yang menjengkelkan."
Ino bergegas memeriksa putrinya. Ia menemani sang putri untuk tidur selagi memikirkan segala kondisi yang ada.
Citra wajah Sakura hadir dalam kepalanya. Tanpa sadar, Ino mengangguk.
Dulu, Ino menganggap bahwa ia telah terlambat.
Kini, ia mengerti bahwa kesempatan kedua kembali mendatanginya.
Oleh karena itu, ia tidak akan menyia-nyiakannya. Ia akan membantu Sakura keluar dari lingkaran setan itu. Ia akan membantu Sakura mendapatkan kebahagiaan seperti yang dulu mereka berdua cita-citakan.
Ia akan membantu Sakura sadar.
—sadar bahwa kebahagiaan itu tidak akan ia dapatkan dari Sasuke. Kebahagiaan itu tidak terikat pada Sasuke, melainkan dirinya sendiri dan orang yang suatu saat akan mencintainya. Karena sebenarnya, Sakura juga berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Sasuke. Seseorang yang mampu menerimanya dan yang pasti mencintainya.
Ino akan melakukannya dan kali ini ia tidak akan gagal lagi. []
TBC
a/n
chapter kemarin kan bikin ribut nih yak. saya mau bikin beberapa keterangan.
1) gak ada poligami karena sy bukan pecinta poligami/harem/sejenisnya :v
2) perilaku sakura yg begono ada alesannya, bos. mohon dinikmati dramanya dengan baik /tengok genre/ /plak
udah, gitu aja sih.
makasih yang udah nuangin unek-unek di kolom review. saran dan kritik yang membangun sangat dipersilakan.
salam!
