Disclaimer : I do not own Naruto


"Jadilah aku, jadilah penggantiku, Naruto. Kaulah yang seharusnya berada di posisiku. Kau bebas bersikap apa pun menggunakan namaku. Tapi, tolong, jaga Sarada dan Sasuke-kun. Buat mereka bahagia karena hanya kau yang bisa melakukannya. Sebulan, sebulan saja, aku mohon. Perbaiki keluargaku."

"Terima kasih atas kesempatan yang telah kauberikan padaku untuk membangun keluarga yang kuinginkan. Tolong, istirahatkan aku seperti kesepakatan kita. Sembunyikan kematianku ... untuk sebulan ke depan. Aku selalu percaya padamu, Naruto."

Sepasang kelopak mata terbuka dengan tiba-tiba. Di tengah gelapnya ruang, Sakura menatap nanar udara kosong. Hangat air mata mengumpul di sudut matanya. Ia mengerjap, membiarkan air mata itu jatuh.

Sudah hampir seminggu sejak ia kembali dari rumah sakit. Di hari pertama, ia menginap di rumah Ino untuk menenangkan diri. Di hari kedua, barulah ia mendapatkan kontrol dirinya lagi dan siap untuk kembali menghadapi Sasuke. Sejak saat itu, ia mulai tinggal di atap yang sama dengan sang suami.

Sakura lupa suasana yang dulu pernah ia rasakan ketika tinggal bersama Sasuke. Tapi, satu hal yang pasti, Sasuke tidak pernah membiarkan Sakura melihatnya tidak terjaga. Sasuke selalu tidur setelah Sakura terlelap dan bangun sebelum Sakura bangun.

Namun, beberapa hari lalu, Sakura mendapati Sasuke berada di sampingnya ketika pagi menjelang. Ia hendak membangunkan Sasuke ketika lelaki itu terbangun dengan sendirinya. Sorot mata Sasuke masih sayu, tetapi Sakura yakin Sasuke menatapnya lama selagi bergumam sesuatu seperti, "Tidurlah, lagi. Ini masih pagi," dan menarik pergelangan tangannya agar menuruti permintaan itu.

Sakura secara refleks memanggil nama Sasuke. Di detik itu, segala suasana hangat yang sempat dirasakan Sakura segera lenyap. Sasuke terbangun sepenuhnya. Ia menyipitkan mata dan menatap Sakura lekat sebelum mengumpat pelan—hal yang sudah lama tidak Sakura lihat.

Ketika Sakura tersadar, Sasuke sudah melepaskan genggaman dari pergelangan tangannya dan bergegas keluar kamar. Kejadian itu tidak lagi terjadi setelahnya. Sasuke pulang larut setelah mengurusi masalah desa dan ketika Sakura terbangun, ia akan mendapatinya sedang bersama Itachi dengan pakaian kotor—seolah mereka baru saja berlatih di pagi buta.

Satu kejadian tak biasa itu memenuhi kepala Sakura berhari-hari. Tapi, kini, dengan hadirnya memori itu dalam mimpinya, Sakura mengerti.

Sasuke salah mengenalinya sebagai Naruto yang dulu pernah memiliki rupa yang sama dengannya.

Sakura meminta Naruto menyamar menjadi dirinya. Ia meminta Naruto memperbaiki rumah tangganya. Itulah mengapa Sasuke sempat salah mengenalinya.

Untuk suatu alasan, sengatan sakit di dadanya terasa familier. Tapi, tidak sebesar realisasi yang seolah menampar Sakura. Realisasi bahwa ialah yang membawa Naruto kembali ke Konoha dan kembali pada … Sasuke.

Kenapa aku baru mengingatnya?

Ia meminta Naruto untuk menggantikannya.

Ia meminta Naruto menjaga Sarada dan Sasuke.

Ia meminta Naruto untuk membuat Sarada dan Sasuke bahagia.

Semua tindakan Naruto—alasan Naruto kembali ke Konoha—berasal darinya.

Ialah yang memulainya.

Sakura sendiri yang memulainya.

Dahi Sakura mengernyit dalam ketika rasa ngilu yang teramat sangat menyerang kepalanya. Sakit kepala ini sudah mendera sejak ia kembali dari rumah Ino. Saat itu, hanya Ino yang bisa mengobatinya. Menurut Ino, sakit kepala ini merupakan efek samping trauma yang dialami Sakura ketika berada dalam sandera musuh. Karena memang hanya Ino yang mampu mengobati, maka secara otomatis Sakura menjadi rutin menemuinya.

Selama itu pula, berbagai serpihan ingatan yang seolah terpendam kembali muncul melalui mimpi, menggantikan rentetan mimpi buruk lain mengenai hal-hal negatif yang ia rasakan pada orang-orang—terutama Naruto.

Sakura menyibak selimut, menyeka air mata yang membasahi pipi, dan bergegas keluar kamar. Sinar matahari telah terbit di luar sana. Ia membersihkan diri dan hendak menyiapkan makanan ketika keberadaan wanita paruh baya di dapur membuatnya berhenti. Tanpa melihat wajahnya secara langsung, Sakura tahu siapa sosok itu. Hanya ada satu wanita berambut hitam panjang yang akan dibolehkan Sasuke memasuki rumahnya.

Selama ini, Sakura sudah tahu mengenai keberadaan para edo tensei Uchiha. Mulai dari Madara, Obito, Itachi, hingga Shisui. Nama ayah dan ibu Sasuke juga sering disebut Sarada dalam ceritanya. Namun, Sakura belum pernah berhadapan langsung dengan mereka. Dua edo tensei Uchiha yang tinggal di sini hanyalah Itachi dan Shisui. Ayah dan ibu Sasuke tidak tinggal di sini karena para Uchiha lain ditugaskan untuk membantu pembangunan desa di luar sana dan mereka—sebagai ketua klan—dipercaya untuk mengawasi para anggota klan.

Melihat sosok ibu dari lelaki yang berstatus sebagai suaminya membuat Sakura gugup. Itachi dan Shisui memang menerimanya dengan baik. Tapi, bagaimana dengan….

Kekhawatiran Sakura lenyap ketika Mikoto menoleh padanya. Hangat senyuman itu membuat Sakura tergugu untuk beberapa saat.

"Maaf karena telah mengambil alih dapurmu. Aku dengar kau sudah kembali dari rumah sakit. Jadi, aku ingin sedikit memberi ucapan selamat datang padamu lewat sarapan meskipun aku sudah sangat terlambat."

Lembut suara sang wanita Uchiha membuat Sakura tergugu. Sakura segera menggelengkan kepala dengan sopan seraya berkata, "Ah, tidak. Anda tidak perlu memasak sarapan untuk saya. Biar saya—"

Mikoto menaikkan sebelah alisnya. Ia menahan senyuman.

"Ada apa dengan bahasa formal itu?" tanya Mikoto. Kerjapan bingung Sakura membuatnya menambahkan, "Kau adalah ibu dari cucuku. Kemarilah, Nak. Sepertinya kita memang perlu bicara. Sejak kecil, Sasuke adalah anak keras kepala, mirip seperti ayahnya. Hidup mendampinginya pasti bukan hal mudah. Hanya segelintir orang yang bisa bertahan dan benar-benar memahaminya."

Sakura ingin menyangkal ucapan Mikoto. Ia ingin memberi tahu bahwa hidup mendampingi Sasuke bukanlah sebuah beban, hidup bersama Sasuke adalah impiannya yang sekaligus merupakan kebahagiaannya. Akan tetapi, sorot teduh di mata Mikoto membuat rangkaian kalimat itu tertahan di tenggorokan Sakura. Tatapan teduh itu seolah mengerti apa yang benar-benar dirasakan Sakura.

Ucapan Mikoto terngiang di telinganya selama beberapa kali, mengenai Sasuke yang sulit dipahami dan hanya terdapat segelintir orang saja yang mampu bertahan menghadapinya.

Bertahan tanpa merasa disakiti. Bertahan tanpa ada penyesalan. Bertahan karena benar-benar memahami semua alasan di balik tindakan berbahaya yang dilakukan Sasuke. Bertahan karena memang mengerti dan mempercayainya.

Senyum Sakura meluruh. Sebuah nama yang menyerukan deskripsi itu segera muncul di kepalanya.

Satu hal yang pasti, nama itu bukanlah dia.

Sesuatu yang mengganjal tenggorokannya semakin kentara. Sakura memaksakan senyum selagi serpihan memori yang sempat dimimpikannya kembali. Kedua matanya serta-merta memanas. Sakura hendak izin untuk beranjak dari sana ketika ia dirangkul oleh Mikoto dengan tiba-tiba.

Tangisan Sakura pecah seketika. Uraian memori tentang ketidakpuasannya terhadap rumah tangganya sendiri segera bermunculan tanpa henti—mengenai rasa tak berbalas dan hampa yang selalu ia lihat di mata suaminya meski mereka sedang bersama.

Sakura menangis ketika mengingat segala beban yang seolah ia tanggung sejak ia … mencoba bertaruh pada sesuatu yang begitu sulit dimenangkan.

Ia menangis ketika pertanyaan Sasuke terngiang di kepalanya. Tentang ia yang membenci Naruto atau tidak, tentang ia yang tak perlu memaafkan Sasuke dan ia yang tak seharusnya menyimpan dendam pada Naruto—orang yang sama sekali tidak bersalah dalam konflik rumah tangga mereka.

Sakura menangis karena tersadar bahwa bahagia bukanlah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan kehidupannya.

Sakura menangis karena ia ingat bahwa di malam itu, ia sudah menyerah—sekaligus menyerahkan Sasuke pada orang lain….

Air mata Sakura masih mengaliri pipi. Ia juga masih menahan isak ketika bisikan pelan Mikoto terdengar di telinganya.

"Terima kasih atas segalanya, Nak Sakura. Terima kasih karena sudah menemani dan mencoba bertahan untuk putraku sehingga dia tidak sepenuhnya jatuh. Terima kasih karena telah memberinya sedikit harapan untuk hidup melalui Sarada. Terima kasih banyak. Tapi, ketahuilah, kau juga berhak bahagia."

oOo

Gelas-gelas khas laboratorium berjejer di sebuah meja keramik yang tampak bersih. Tiap gelas dan tabung di sana berisikan cairan kimia yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu saja.

Sakura, dengan tangan berbalut sarung tangan lateks, mengambil sebuah tabung berukuran satu ruas jari yang dilabeli kata sampel. Tabung tersebut terbuat dari kaca dan berwarna bening seperti warna cairan yang berada di dalamnya. Sakura membuka penutup tabung itu dan meneteskan sedikit dari cairan tersebut ke sebuah wadah yang berisikan cairan berwarna keunguan.

Tiga tetes cairan bening dari sampel yang diteteskan berhasil mengubah warna cairan ungu pekat yang berada dalam wadah besar secara perlahan. Warna ungu tersebut memudar sedikit demi sedikit. Sakura menambahkan dua tetes lagi hingga cairan keunguan dalam gelas itu sepenuhnya berubah warna menjadi bening.

Tiga orang di masing-masing sisi Sakura melebarkan mata. Mulut mereka setengah terbuka. Seruan antusias yang didengar Sakura terdengar sangat nyaring.

"Kita berhasil! Sakura-san, kita berhasil membuat penawar racun itu!"

Sakura mengembalikan tabung kecil bertuliskan sampel itu pada tempatnya. Ia melepas sarung tangan lateks yang tadi digunakan sebelum membuangnya ke tempat sampah yang tersedia.

"Kita perlu dosis yang lebih banyak," ungkap Sakura kepada ketiga asisten labnya. Ia mengedikkan dagu pada jejeran tabung di samping tabung berlabel sampel. "Buatlah dengan takaran yang baru saja kuracik. Kita perlu satu botol sedang untuk benar-benar membersihkan efek racunnya."

Ketiga asisten tersebut mengangguk. Mereka segera berkutat dengan bahan-bahan yang tersedia untuk menduplikasi penawar racun yang berhasil diciptakan Sakura.

"Selesaikan secepat yang kalian bisa," ujar Sakura selagi melepas jas lab yang dipakainya. "Kutunggu sampai lusa."

Tidak ada yang menolak permintaan Sakura. Respon ketiga asisten lab itu membuat Sakura mengangguk. Ia keluar dari lab rumah sakit dan berjalan melalui koridor.

Cahaya matahari tidaklah tampak dari bawah tanah. Tapi, tanpa melihat keadaan di luar ataupun jam yang tersedia, Sakura bisa menebak bahwa saat itu sudah larut. Ia berada di laboratorium sejak pagi tadi, tepat setelah ia kembali dari rumah Ino. Peracikan antidot ini sudah ia lakukan sejak empat hari lalu. Ingatan Sakura memang sedikit buram, tapi ia berhasil menerka bahan-bahan pembuat racun untuk kemudian memikirkan bahan apa yang dapat mematikan efek dari racun itu.

Berkerja sama langsung dengan Tsunade, Sakura berhasil mendapatkan bahan dasar antidot tanpa kesulitan yang berarti. Proses pembuatan antidot ini berjalan dengan lancar—persis sama seperti yang diperkirakan Tsunade.

Satu hal yang sekarang perlu dilakukan hanyalah menunggu. Setelah antidot itu diselesaikan sepenuhnya, barulah operasi dapat dilaksanakan. Tsunade tampak puas dengan jalan terang ini. Matanya berbinar-binar ketika mengetahui bahwa Naruto akan kembali. Para staf medis yang mendengar berita ini juga turut bersuka cita. Mereka semua bahagia atas proses pengobatan Naruto yang mencapai titik terang. Mereka bersyukur karena sang pahlawan benar-benar masih memiliki harapan.

Mereka semua bahagia—tidak seperti Sakura yang diliputi rasa gamang.

Langkah kaki terhenti. Sakura menarik napas dalam.

Naruto akan hidup.

Aku akan menolongnya.

Aku akan tetap menolongnya.

Bisikan negatif dengan serentak menimpali suara batin Sakura—mengingatkan atas segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika Naruto kembali, menyerukan ketakutan besar Sakura jika Naruto dapat diselamatkan.

Semua bisikan itu membuat kepalanya pening. Sakura mengepalkan tangan dan hendak memukul dirinya sendiri ketika suara lembut seseorang menggelitik telinganya.

Begitu menolehkan kepala, Sakura mendapati sesosok wanita muda berambut merah marun panjang. Bayangan seorang perempuan lain dengan rambut pirang panjang segera tergambar di kepala Sakura, begitu mirip dan cukup menyerupai sosok wanita di hadapannya.

"Kau pasti Sakura, sahabat perempuan yang sangat diidolakan Naruto."

Sakura mengerjap. Suaranya terdengar ragu dan canggung ketika berucap, "Ah, ya, saya Sakura."

Tawa renyah terdengar dari lawan bicara Sakura. Senyuman separuhnya begitu mirip dengan dia. Sakura semakin tergugu dibuatnya.

"Tidak usah terlalu kaku-ttebane. Ada apa dengan kalian, Anak-anak Muda?" Decakan pelan mengikuti ucapannya.

Dari penampilan fisik, sosok itu kelihatan sama mudanya dengan Sakura. Tapi, ia tampak sangat lugas ketika berkomentar tentang tingkah anak-anak muda.

Sakura mengabaikan kejanggalan familier itu. Ia menyunggingkan senyum untuk menanggapi ucapan dari lawan bicaranya.

"Anda—maksudku, kau—kau sendiri pasti Uzumaki Kushina."

Menebak identitas Kushina tidaklah sulit. Bukan hanya karena Sakura sudah mendengar berita mengenai keberadaan Yondaime Hokage beserta istrinya. Namun, kemiripan Kushina dengan Naruto juga menjadi petunjuk lain yang memudahkan Sakura mengenali sosok tersebut.

Mendengar ucapan Sakura, Kushina mengulum senyuman. Ia mengangguk.

"Tepat sekali," balas Kushina. Ia menatap Sakura sesaat sebelum berucap, "Kelihatannya kau sudah tidak sibuk. Apakah kau berkenan menemaniku mencari udara segar untuknya?" Kushina mengerling pada sosok yang tengah menggeliat pelan dalam buaiannya. "Kakaknya sudah tidur. Tapi, adiknya ini tidak mau tidur sejak tadi. Sepertinya dia ingin menghirup udara segar, bukan udara pengap bawah tanah seperti ini."

Kedua netra Sakura jatuh pada sesosok bayi dalam gendongan Uzumaki Kushina. Secara tiba-tiba, tenggorokan Sakura terasa kering. Mulutnya sulit berucap—sulit untuk mengeluarkan kalimat penolakan yang sudah tersusun rapi dalam kepalanya.

Keraguan Sakura diketahui Kushina. Ia tersenyum lembut.

"Udara di luar sana sangat segar. Kurasa kau juga perlu merasakannya setelah berhari-hari berkutat di laboratorium."

Sakura menatap Kushina sesaat. Ia mengamati senyum hangat dan sorot teduhnya—sorot yang sama seperti yang dipancarkan Uchiha Mikoto.

Kushina menawarkan kenyamanan. Ia tak bermaksud buruk padanya. Hanya dengan menatap, Sakura tahu. Ia juga tahu bahwa meskipun mereka tidak pernah bertemu atau mengenal satu sama lain, mereka memang butuh bicara.

Selama ini, Sakura terus menghindar.

Ketika terbangun di rumah sakit, ia memang sempat berkeinginan untuk melihat kondisi Naruto. Namun, begitu keluar dari rumah sakit, Sakura selalu mengurungkan niat itu. Ia tidak menemui Naruto secara langsung dan lebih memilih untuk menggunakan bantuan para asisten guna memeriksa serta mengambil sampel racun di tubuh Naruto.

Suara-suara buruk dalam kepalanya membuat Sakura memutuskan untuk tidak melihat Naruto secara langsung. Ia tidak percaya pada dirinya sendiri. Ia tidak percaya bahwa ia takkan berbuat buruk jika melihat Naruto seorang diri.

Kondisi itu juga berlaku untuk … kedua putra Naruto.

Yang berarti juga putra Sasuke.

Emosi negatif yang dirasakannya pada dua sosok tak berdosa itu membuatnya sangat terpukul. Kecamuk rasa yang memenuhi dada seolah mampu membuatnya lumpuh. Sakura tidak menyukai rasa itu.

Tapi, apakah ia akan terus-terusan menghindar?

Selain itu, bukankah semua ini dimulai oleh ia sendiri?

Kehadiran Kushina di antara ia dan putra Naruto ini akan menahan Sakura dari segala tindakan buruk yang tidak diinginkan.

Sesak yang ia rasakan tidaklah seberapa dengan keinginan untuk mengobati dirinya sendiri agar ia mampu mendapatkan jawaban yang tepat.

Sakura pada akhirnya menganggukkan kepala. Ia melangkah mendekati Kushina dan seketika terpaku begitu mendapati sosok kecil yang tengah menatapnya dengan polos. Iris biru terangnya begitu kentara. Mata itu mengerjap, ia menggeliat dan tampak berusaha menggerakkan tangannya, seolah ingin meraih sesuatu.

Erang tangisan tiba-tiba terdengar.

Sakura tertegun. Kecamuk dalam dadanya memuncak. Ia mengulurkan tangan pada sosok kecil itu. Tanpa selang waktu lama, jemarinya segera digenggam oleh tangan mungil sang bayi.

Emosi Sakura terasa bercampur aduk.

Di hadapan Sakura, Kushina tersenyum samar. Ia mengajak Sakura berjalan dan mulai bercakap-cakap ringan dengan wanita medis itu. Mereka membicarakan banyak hal, tak terkecuali Naruto. Meskipun demikian, Kushina sama sekali tidak menyinggung topik mengenai Sasuke. Ia tidak membicarakan rumah tangga Sakura ataupun hubungan antara Naruto dan Sasuke. Yang ditanyakan Kushina hanya mengenai kehidupan Naruto—dan itu saja sudah cukup.

Kushina mengerti akan hubungan Sakura dan Naruto. Ia tahu bahwa Sakura peduli dengan Naruto. Ia tahu bahwa sebesar apa pun kepahitan yang dirasakan Sakura pada Naruto, dalam dirinya masih terdapat suatu ruang khusus yang menyimpan kepedulian kepada sang sahabat.

Menyegarkan memori Sakura tentang Naruto akan membuatnya menyadari keberadaan ruang tersebut.

"... dia begitu menginginkan kehadiran keluarga. Jadi, ketika dia mengenalmu dan teman-teman dekatnya yang lain, dia sangat bahagia. Baginya, kau sangat berharga, Sakura. Kau telah memberinya kebahagiaan di masa lalu. Aku sangat berterima kasih karenanya." Kushina berucap selagi memandang hamparan langit malam. Bibirnya melengkungkan senyum masam. "Jika tidak ada kalian, Naruto mungkin akan terjerumus ke jalan yang salah. Menjadi jinchuuriki sangatlah berat. Penerimaan kalian padanya begitu berarti."

Sakura mengerjap. Kepalanya menunduk. Ia menatap rerumputan lamat-lamat, merasakan tiap tutur kata Kushina yang mulai menyerap dalam dirinya.

Angin malam terasa menggelitik kulit. Serpihan memori lain pun terurai dalam kepala—memori saat ia menghabiskan waktu bersama Naruto, Sai, Kakashi, dan Yamato. Memori saat Naruto berlatih keras dan Sakura, tanpa paksaan, bersedia menemaninya sepanjang hari.

Berbagai kenangan lain ikut menyertai, mengenai misi-misi yang mereka jalani, kegiatan remeh di sela hari libur….

Dada Sakura terasa sesak.

"Dia sendiri yang membuat orang-orang bersedia menerimanya," gumam Sakura pelan. Matanya kini menerawang. "Dia bekerja keras untuk mendapatkannya. Aku tidak memberinya apa pun, Kushina-san, kau tidak perlu berterima kasih padaku."

Kushina tertawa pelan.

"Tapi, kau salah satu orang yang sangat dibuat repot olehnya, selain Kakashi. Aku harus benar-benar berterima kasih karena kau sudah bertahan menghadapinya."

Aku tidak sepantasnya mendapatkan terima kasih.

Sakura mengulum senyuman. Ia menoleh dan menatap lekat sosok individu mungil yang telah terlelap. Sesak di dadanya masih ada, tapi kini entah mengapa ia merasa lebih lega. Dengan berbagai refleksi diri yang telah dijalani, Sakura sadar bahwa ia tidak membenci Naruto.

Ia tidak membencinya.

Sesak itu dikarenakan ia yang tidak mampu membenci Naruto. Ia ingin membencinya karena semua kecemburuan yang dirasakan. Tapi, ia tidak bisa. Ia takkan bisa membenci sahabat pirangnya itu.

Sakura mengusapkan jemarinya pelan dan secara tidak sadar berjanji pada sosok kecil ini bahwa ia akan mengembalikan ibunya. Ia akan menyelamatkannya seperti halnya ia yang selalu diselamatkan oleh sosok itu.

Sakura hanya perlu membangunkan Naruto.

Setelah itu….

Sakura menarik napas pelan.

Ia tidak akan memikirkan hal-hal lain yang akan membuatnya kembali bimbang.

Ketika kembali ke rumah, Sakura menemui Sarada terlebih dahulu dan mengantarkannya ke kamar. Ia hendak bersiap-siap untuk beristirahat ketika mendapati Sasuke di depan pintu kamar. Kedua tangan Sasuke menggenggam dua berkas dokumen yang sepertinya hendak ia kerjakan malam ini—yang artinya, Sasuke kembali tidur larut akibat pekerjaan.

Rutinitas itu seolah tiada henti. Mereka jarang bercakap-cakap seperti biasa. Keadaan ini terasa deja vú, atau mungkin Sakura saja yang mulai terbiasa karena ia selalu mengalami keadaan yang demikian.

Ketika baru terbangun di rumah sakit, Sakura merasakan percikan harapan yang muncul di permukaan. Namun, setelah menjalani hari selama seminggu ini, harapan itu seolah sirna. Rentetan nasihat dari Ino seketika membanjiri pikiran Sakura.

Ino selalu mengatakan bahwa Sakura menyia-nyiakan hidupnya karena mempertahankan rumah tangga dengan Sasuke. Ia menyatakan bahwa Sakura tidak akan bisa bahagia dengan Sasuke yang mencintai orang lain.

Rumah tangga harus dijalani oleh dua orang yang sepakat untuk membangun kehidupan itu. Bukan hanya salah satunya. Sakura tidak bisa terus berjuang seorang diri ketika sang pasangan berjuang untuk orang lain.

Apa yang kuinginkan?

Jemari Sakura meraih pergelangan tangan Sasuke, seketika membuat lelaki itu menoleh. Ekspresi Sasuke tidak berubah. Ia hanya menatap Sakura dengan pandangan bertanya.

Mulut Sakura terasa kering. Namun, ketika Sasuke terlihat ingin berucap, Sakura segera mendahuluinya.

"Antidot racun Momoshiki akan selesai lusa," tutur Sakura dengan terburu-buru. Pandangan Sasuke segera jatuh lurus di mata Sakura. Netranya sedikit melebar. "Lusa besok, operasi pemulihannya bisa segera dilakukan."

Sasuke terdiam sesaat sebelum berujar, "Berapa persentase keberhasilannya?"

"Dengan kemampuanku dan Tsunade-sama…." Sakura mengalihkan pandangan, tak kuasa melihat binar harapan dari mata obsidian sang lelaki. "Sudah akan dipastikan berhasil."

Genggaman tangan Sakura di pergelangan tangan Sasuke mulai mengendur.

"Tapi, Sasuke-kun, kau ingat dengan pertanyaanku sebelum aku menyanggupi pembuatan antidot itu?"

Kedua mata Sasuke menyipit samar. Ia mengangguk kaku ketika maksud ucapan Sakura berhasil diingatnya.

Sasuke tidak akan melupakan pertanyaan tersebut dengan mudah—tidak mudah dilupakan karena Sakura secara langsung bertanya tentang kelangsungan hubungan mereka.

"Sebelum operasi dilakukan, aku ingin membicarakannya," lanjut Sakura. Ia menarik napas pelan dan memberanikan diri menatap mata sang suami. "Kau pasti akan ke rumah sakit, 'kan?"

Sorot mata Sasuke penuh kalkulasi. Namun, pada akhirnya ia mengangguk tanpa berucap apa pun.

Sakura segera berbalik pergi ketika tahu bahwa kehadirannya sudah tak lagi diperlukan. Semua interaksi mereka terlalu jauh. Jarak dan dinding di antara mereka ini membuatnya sesak.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang akan berubah.

Langkahnya terasa berat. Sakura terus memaksakan langkah kakinya hingga ia mendengar suara berat Sasuke, suara yang seketika membuatnya menghentikan langkah karena keterkejutan.

"Terima kasih sudah memberi tahuku secara langsung."

Sakura mengatupkan mulut. Rasa pahit itu ia telan dalam-dalam kala membalas, "Kupikir kau tetap berhak mengetahuinya."

Karena dia begitu berharga bagimu.

Sakura tidak mengatakannya. Ia hanya berucap selamat malam dan segera bergegas ke dalam kamar. Sebuah keputusan telah terbentuk dalam benaknya. Sakura akan memperjelas semua kesemuan hubungan ini. Ia akan menyelesaikan permasalahan ini.

Semuanya akan baik-baik saja.

Ia akan mendapatkan keinginannya. Ia akan memenuhi dan segera meraih keinginannya—tidak lagi terus merasakan sakit berkepanjangan.

Di hari yang sama dengan waktu operasi itu, ia akan mengatakan keputusannya dan ia akan sepenuhnya yakin bahwa keputusan tersebut takkan ia sesali. []

TBC