Halo semua!
Love to see u all again
Just enjoy reading~
Suara gemericik air terdengar ketika Hanabi berlari dengan tergopoh-gopoh ke arah Hinata yang sedang duduk di atas salah satu batu yang cukup besar.
"Lihat, Hinata-nee! Ikan ini berukuran jumbo!" seru Hanabi dengan bangga memamerkan ikan yang memang sangat besar bergeliat pasrah di tangan Hanabi yang masih berseri.
Hinata memberikannya senyum lebar. "Wow, itu akan cukup untuk makan malam nanti!" seru Hinata.
Ikan itu menggelepar mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Hanabi, ikan itu hampir terselip dari tangannya ketika sebuah tangan besar membantu Hanabi menangkap ikan itu kembali. "Don't get youself too high, little girl." Ucap Kakashi datang tepat waktu.
Hanabi protes dan segera berlari untuk memamerkan hasil tangkapannya pada Neji yang tampak seperti biksu di atas batu paling tinggi di sungai ini tak bergerak sedikitpun. Neji selalu jadi terobsesi tiap kali kegiatan memancing berlangsung. Mereka memutuskan menghabiskan siang ini untuk memancing di sungai dekat rumah mereka setelah berkeliling kota pagi tadi.
Suara aliran air terdengar begitu tenang, mengalir melewati batu-batu kecil yang ada di sungai ditambah gesekan daun-daun yang ada di hutan belakang sungai menambah ketenangan yang ada di sini.
Kakashi tampak tersenyum di balik maskernya, kemudian memutuskan untuk duduk di samping Hinata dan melemparkan kail pancingnya asal ke dalam aliran air.
Keheningan melanda mereka dan Hinata tahu ia harus segera mengatakan sesuatu. Mereka tidak bicara sejak semalam dan ia terlalu takut untuk membuka topik setelah apa yang ia dengar tentang sebagian kecil masa lalu Kakashi. Ujung mata Hinata mencoba melihat ke arah Kakashi yang hanya terduduk tenang sambil menunggu ikan. Kaki telanjang Hinata bergerak-gerak pelan di dalam air. Sungai ini sangat jernih hingga Hinata bisa melihat dengan jelas kakinya yang berada di dalam air.
"Spit it out, girl. Kau ingin mengatakan sesuatu?" ucap Kakashi mengagetkannya.
Hinata menyelipkan rambutnya yang terjuntai ke belakang telinganya gugup. "Jadi, sensei bertemu ayah Naruto tadi malam?"
"Yeah," jeda sebentar. "Dia CEO perusahan kami."
"Dari yang kutahu, seharusnya sensei yang menduduki jabatan itu bukan?" tanya Hinata hati-hati.
"Kau benar," Kakashi tersenyum. "Tapi kurasa Minato lebih cocok di kursi itu, kau sependapat?"
Hinata mengigigt bibirnya. "Kenapa kau pikir sensei sendiri tidak layak?"
Kakashi kini menoleh ke arahnya. "Aku pernah bilang kalau aku melakukan banyak hal buruk di masa lalu."
"Contohnya? Selain kau merusak wajah sabahatmu? Apa sensei pernah... korupsi?"
Kakashi tertawa keras mendengar hal itu. Dia tak berhenti tertawa sampai beberapa saat. Tangannya menyentuh dan mengacak pelan rambut Hinata. "Well, kurasa itu sangat menggoda. Tapi, tidak. Aku tidak pernah korupsi Hinata. Hmm, mungkin memaksa klien dengan mengancam dan menghajarnya, membakar gudang pasok perusahaan sainganku, atau semacamnya aku pernah."
Entah kenapa Hinata tidak bergitu terkejut mendengar hal ini. ia tahu perusahan-perusahaan besar memakan satu sama lain untuk bertahan menjadi produsen nomor satu, tapi mengetahui seorang Kakashi melakukan itu semua... terasa begitu sedih.
"Kenapa sensei tidak mau menceritakan semuanya. Alasan sesungguhnya sensei menutupi wajahmu..." Hinata menundukkan wajahnya, merasa malu bersikap ofensif. "Aku... hanya ingin memahami sensei."
Dagunya disentuh oleh sebuah tangan, Kakashi mengangkat dagu Hinata perlahan agar menatapnya. "Kau tak perlu memahamiku, kau hanya perlu ada di sisiku."
Hinata ingin merespon tadi matanya terpaku pada mata hitam Kakashi. Ia tak pernah menyadari sebelumnya bahwa mata Kakashi ternyata bukan hitam biasa, melainkan abu-abu yang mengkilap. Begitu jernih hingga membuat Hinata tak bisa bergerak sebentar.
Tangan yang pada mulanya ada di dagu Hinata kini mulai bergerak untuk menyentuh pipi Hinata. Hinata tidak bisa mencegah rona merah menjalari pipinya yang kini ada di bawah sentuhan Kakashi. Ia pernah merasa pipinya di sentuh laki-laki lain, seperti Neji, bahkan Shikamaru ataupun Chouji secara tidak sengaja. Namun tidak pernah ada yang menyamai kehangatan dari tangan Kakashi. Tangannya terasa begitu besar hingga mencakup seluruh sisi kanan pipi Hinata.
"K-kenapa... kenapa sensei ingin aku di sisimu?" ucap Hinata. Kakashi adalah seorang penyewa. Seorang penyewa. Hinata berulang kali mengucapkan itu dalam potaknya namun tetap tidak bisa mengurangi intensitas debaran jantungnya yang semakin cepat saat Kakashi mengusap pelan pipi Hinata.
Orang itu begitu dewasa, begitu hangat, begitu baiknya, begitu sempurna. Begitu...
"Karena kau pernah bilang kau adalah tempatku untuk kembali. Kau begitu... nyaman," ucapnya dengan suara berat.
Tangan Kakashi kini bergerak untuk mengusap pipi Hinata lagi, kemudian beralih ke awah bawah. Jempolnya menemukan bibir Hinata, menyentuhnya.
Hinata terperanjat karena sentuhan itu.
Kakashi segera melepas tangannya seakan wajah Hinata adalah sebuah pot yang panas.
Hinata nyaris berteriak terimakasih ketika tepat saat itu Hanabi datang dan menghujani mereka dengan cipratan air, mendeklarasikan perang air dan menyeret Neji turun dari pertapaannya. Mereka bermain air hingga langit mulai berubah merah.
Keesokan harinya matahari bersinar terik siang itu. Mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah untuk menonton sebuah film lawas komedi ditemani dengan kipas angin yang menyala kencang. Tiba-tiba Neji mengumumkan keberadaannya dengan derap langkah yang cepat.
"Aku akan menemui temanku di dekat kota sebentar," ujarnya sembari sibuk mengancingkan kemejanya yang tampak kusut.
Hinata bergerak ke arahnya untuk membantu membenarkan kancing baju Neji yang semuanya salah tempat. "Kau ingin bertemu dengan siapa?"
"Lee, kau ingat?" tanya Neji.
Wajah Hinata menjadi cerah mendengar teman dekat kakaknya itu. Mereka sering menghabiskan libur musim panas bersama saat kecil hingga remaja dulu.
"Aku ingin ikut!" seru Hinata bersemangat.
"Tidak!" seru Neji mengagetkan semua orang. Wajahnya tampak berkutat untuk mengeluarkan argumen, dan karena seumur hidup Hinata habiskan dengan Neji, ia jelas mengetahui saat-saat dimana Neji ingin minum-minum dan bersenang-senang. Hinata tersenyum, kakaknya sangat berhak untuk menikmati waktu luangnya.
"Baik, aku mengerti. Tapi kalau kalian ingin makan di restoran mahal, kau harus membawa Hanabi," kata Hinata sambil terkekeh. Hanabi memang selalu nomor satu bagi Hinata. Adiknya harus selalu mendapat semua hal yang terbaik yang bisa dia dapat.
Hanabi bangkit dari tidurnya dengan bersemangat. "Apa Neji-nii berniat makan makanan enak tanpa membawaku?!"
Neji mengelap wajahnya sendiri frustrasi sebelum akhirnya mengalah dan membawa Hanabi untuk pergi.
Hinata baru saja menutup pintu saat menyadari bahwa Kakashi adalah satu-satunya orang yang tertinggal dirumah, bersamanya. Hinata mulai panik, ketika ia mengintip ruang tengah, ia bisa kembali bernapas lega melihat Kakashi tertidur pulas di depan kipas angin dengan hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana tidur. Hinata bergerak mendekat untuk menyelipkan sebuah bantal kecil di bawah kepala orang itu.
Hinata terdiam sebentar, memutuskan untuk duduk danmengamati wajah tidur orang di hadapannya. Tangannya bergerak untuk menyentuh masker putih yang menutupi sebagian wajah orang itu, sungguh, Hinata ingin tahu segala hal yang Kakashi tidak bisa ceritakan. Ia ingin tahu lebih dalam tentang kehidupan Kakashi karena ia sungguh ingin membantu orang itu sebagaimana Kakashi selalu ada untuknya.
Tangannya digenggam secara tiba-tiba, menghentikannya bergerak tepat di depan wajah Kakashi. Mata abu-abu gelap itu menatapnya secara intens. Kakashi terbangun tepat ketika Hinata akan melakukan hal bodoh.
"S-sensei, aku..."
Kakashi bangkit untuk duduk tepat di depannya, tangan Hinata masih berada dalam cengkeramannya. Kakashi yang masih bungkam sama sekali tidak memberikan Hinata apapun selain rasa takut kalau orang itu marah.
"Jangan pernah menyerangku saat aku tidur, Hinata. Kau tidak akan pernah tahu apa yang seorang laki-laki bisa lakukan dalam situasi barusan," ujar Kakashi datar.
Jantung Hinata mulai berdetak melebihi kecepatan normal. "Jadi sensei seorang laki-laki dan aku perempuan sekarang?" tanya Hinata berniat untuk bercanda.
Namun sepertinya Kakashi menangkap gurauan Hinata sebagai hal yang lain. Matanya menjadi lebih gelap, dia mendekatkan tangan Hinata yang masih ada dalam cengkeraman menuju ke arah mulutnya yang ditutupi oleh masker.
Jantungnya terasa meluncur turun dari tempatnya untuk kedua kali karena tindakan Kakashi. Hinata jelas bisa merasaka bibir Kakashi yang mencium telapak tangan Hinata meskipun terhalang oleh kain penutup masker orang itu.
"Jika aku bukan laki-laki, Hinata. Kau anggap apa aku selama ini?" tanyanya.
Hinata menggigit bibirnya. "Kau, e-entahlah. Orang yang membuatku..." Hinata kesulitan untuk melanjutkannya, ia hanya tenggelam sesaat dalam mata Kakashi yang begitu jernih. "Merasa aman," lanjutnya dalam sebuah bisikan.
Kakashi tak bergerak untuk beberapa saat, tapi Hinata bisa melihat pupil mata orang itu yang melebar. Kemudian orang itu berdecak sedikit frustrasi, dia memejamkan matanya. "Hinata," dia memanggil namanya dan entah bagaimana nama Hinata selalu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut Kakashi. Entah karena suara berat dan tegas khas orang dewasa, atau sesederhana alasan karena namanya disebut selalu dengan penekanan di akhir.
Dia menatapnya lagi, lebih gelap. "Aku tidak pernah kehilangan kontrol denganmu," jelasnya. "Jadi, please, jangan membuatku mengikuti hatiku dan melewati batas padamu."
Hinata merasa perutnya berputar hebat ketika Kakashi menyelipkan tangannya pada pipi Hinata, kemudian menyelipkan sebagian rambut ke belakang telinganya. Tangan Kakashi selalu terasa sama ketika menyentuh kulitnya. Begitu kuat, panas, dan menangkup sebagian wajah Hinata dengan pas.
Ia jelas bisa merasakan panas mulai menjalari pipinya dan untuk pertama kali dalam hidupnya, wajahnya tidak memerah seperti yang ia rasakan pada Naruto dahulu, bukan hanya perasaan suka, namun kali ini begitu berbeda. Seakan... seakan Hinata ingin Kakashi selalu ada untuknya.
"Maafkan aku," hanya kata itu pertahanan terakhir Hinata. Ia tak ingin lagi merasakan sesuatu yang akan menyakitinya di kemudian hari.
Kakashi terdiam, menghela napas dan memijat pelipisnya. "Tidak, aku yang minta maaf."
Orang itu bangkit berdiri, dan Hinata menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan dari tadi.
"Aku akan terlambat untuk acara kantor yang kujanjikan pada Kushina," dia berkata setelah matanya melirik ke arah jam di dinding. Matahari sudah hampir tenggelam, langit mulai berubah dari warna jingga ke ungu gelap.
Kakashi berhenti melangkahkan kakinya saat menyadari tak ada teriakan dari Hanabi maupun suara Neji yang sering berbicara di telepon. Dia menoleh pada Hinata yang masih terduduk, kakinya masih bergetar.
"Dimana saudaramu yang lain?"
Hinata mencoba terdengar santai. "Neji-nii akan bertemu sebentar dengan Lee, sahabatnya sejak masih sekolah, dia membawa Hanabi."
Penjelasan Hinata seakan hanya membuat Kakashi lebih frustrasi. Orang itu bergerak untuk melangkah pergi, kemudian berhenti, melangkah lagi, kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Hinata. Kakashi tampak seperti orang sedang ingin mengaku kalau dia mencuri uangnya.
"Ikutlah denganku," ucapnya pelan. Matanya menghindari tatapan bingung Hinata sebagai respon. Dia berhedem. "Aku tidak ingin membiarkanmu kesepian."
Hinata tidak suka ini. Ia tidak menyukai fakta bahwa perasaannya meluap-luap karena setiap kalimat yang keluar dari Kakashi membuatnya merasa dibutuhkan, dihargai, dan dianggap. Bahkan mungkin sebenarnya karena Kakashi sangat baik padanya, Hinata nyaris merasa ingin melompat ke dalam pelukannya dan pergi bersenang-senang.
"Aku sudah terbiasa menjaga rumah sendiri," ucapnya lirih sambil menyunggingkan senyum.
"Hinata," panggilnya. Hinata tidak akan pernah bisa menghentikan aliran darahnya yang mengalir lebih cepat tiap kali namanya disebut oleh Kakashi. "Aku tahu kau juga ingin pergi. Ini adalah liburan musim panas. Aku sudah pernah bilang kau tidak perlu menahan semuanya sendiri bukan?"
Hinata melemparkan pandangan protes, namun lengannya segera ditarik Kakashi untuk segera berdiri dan mendekatkan tubuhnya pada Kakashi. "Kau bisa bergantung padaku, kau ingat."
Suara alunan musik klasik yang berasal dari panggung penuh alat-alat orkestra terdengar memenuhi hall hotel yang luar biasa luar ini. Aroma manis dari kue-kue yang baru saja diletakkan di meja menyergap penciumannya begitu Kakashi melangkahkan kaki memasuki hall ini. Semua tampak bersinar namun tetap elegan dan klasik dengan warna pastel dan gold, jauh berbeda dengan pesta ulang tahun keponakannya yang terlalu berlebihan. Kakashi melonggarkan dasi navy miliknya, setelan tuxedo hitam miliknya teasa gerah, merasa agak panas karena sudah lama sekali ia tidak menghadri sebuah pesta formal. Ia merasa semua orang menatapnya meski ia tahu bahwa mereka hanya bisa menerka apa yang ada di balik masker putih yang Kakashi selalu kenakan.
Lengannya terasa agak sakit, ia menunduk dan menyadari kalau tangan Hinata menegang di lengannya. Gadis itu tampak gugup, namun sama sekali tidak mengurangi keindahannya. Tiap kali Kakashi melihat gadis yang menggenggam lengannya, ia merasa pusing. Hinata terlalu bersinar. Kulit gadis itu memang sudah seputih porselin, ditambah dress ungu pastel yang menutupi hingga ujung kakinya dan dengan lengan bahu terbuka menambah kecantikan gadis itu. Lagipula mungkin Hinata gadis paling muda di ruangan ini, dia begitu cantik.
"Kau gugup?" tanya Kakashi lembut. Ia lupa bahwa gadis di sampingnya jauh lebih tidak terbiasa dengan situasi macam ini dibandingkan dengannya. Entah mengapa hal ini membuatnya tersenyum. Mungkin Kakashi selalu menikmati bagaimana Hinata berusaha keras tidak bergantung padanya, namun ia tahu kalau gadis itu ingin. Begitu lucu melihatnya berkutat dengan dirinya sendiri.
Hinata menatapnya dalam diam. Matanya begitu indah, iris ungu pucatnya bersinar di bawah cahaya lampu raksasa di tengah ruangan.
"Kenapa sensei tidak bilang kalau ini pesta—pesta yang ada di film-film!" Hinata tampak frustrasi.
Kakashi tidak bisa menahan tawa pelan keluar dari mulutnya. Ia menepuk pelan ujung kepala Hinata. "Dan pesta di film ini tentu ada banyak makanan, huh. Nikmatilah, Hinata."
Kakashi segera menarik tangannya. Astaga, ia sudah bersumpah untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat dirinya memikirkan Hinata sebagai sesuatu yang lain.
Mereka berjalan di antara orang-orang yang sibuk berbincang maupun mendekati partner bisnis baru. kebanyakan adalah pemimpin perusahaan yang sudah lanjut usia maupun sekertaris mereka.
"Hatake?" sapa salah seorang orang tua berambut putih.
"Tuan Sarutobi," sapanya kalem sambil menjabat tangan orang tua itu.
Sarutobi tesenyum lebar hingga keriput di wajahnya terangkat. "Sudah berapa tahun kau tidak menunjukkan dirimu!"
Kakashi tersenyum di balik maskernya.
Sarutobi, pemilik perusahaan percetakan buku pendidikan itu tersenyum ramah. Dia mengintip di balik bahu Kakashi. "Jadi kau menghilang selama ini karena sudah menikah?"
Hinata yang terkejut di sampingnya buru-buru menggelengkan kepalanya panik. Kakashi tertawa pelan, yang ada Kakashi malah mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu Hinata. "Jika aku menikah, anda pasti akan ku undang," ujarnya sambil terkekeh.
"Aku akan memberikan hadiah pernikah yang paling mahal." Mereka tertawa bersama. "Enjoy the party, huh. Juga, kau harus segera naik ke tahtamu lagi," ucapnya sambil menepuk pelan bahu Kakashi.
"Thank you, sir."
Kakashi meringis saat merasakan lengannya ditarik kencang. "Hei, kau mau mematahkan lenganku?" ujar Kakashi saat Hinata masih mencengkeramnya erat.
"Apa sensei baru saja menyuruh Menteri Pendidikan untuk memberimu hadiah pernikahan yang mahal?" ucapnya tak percaya.
"Yeah, tapi aku tidak menikah. So," Kakashi mengangkat bahu asal. "Relaks, Hinata. Ayo kita cari puding, kau sangat menyukai makanan itu, akan mengurangi stress berlebihanmu."
Mereka berjalan ke arah meja panjang yang di atasnya terdapat hidangan yang tak terhitung jumlahnya dan tampak sangat sayang untuk dimakan. Alunan musik mulai berhenti dan mereka mendengarkan sambutan dari penyelenggara acara sebentar sebelum kembali menyantap makanan.
Hinata yang dari tadi tampak tak nyaman, sudah berubah total saat menikmati puding favoritnya. Matanya tampak berbinar, "Seharusnya Hanabi ku ajak ke sini," ucapnya lirih bicara pada dirinya sendiri kemudian bergerak ke arah hidangan berat, meninggalkan Kakashi.
Kakashi berjalan asal sambil meminum segelas wiski, mengamati pesta tahunan yang sangat megah ini. apakah semua ini miliknya? Sama sekali terasa asing.
"Kakashi!"
Minato dan Kushina mendatanginya, senyum wanita berambut merah itu merekah saat dia menerjang tubuh Kakashi dalam pelukan. "Akhirnya kau datang!"
"Tentu saja dia datang, ini pesta perusahaan miliiknya." Minato tersenyum nakal.
"Kakashi," sapa seseorang muncul dari belakang Kushina.
"Hanare," Kakashi membalasnya.
"Bagaimana kabarmu? Kau tampak berbeda belakangan ini," tanya Hanare. Rambut hijau gelapnya disanggul ke atas. Tampak sangat elegan
"Berbeda bagaimana?" tanya Kakashi tertawa kecil.
"Tampak lebih bersinar? Seperti seseorang yang baru saja kembali dari kematian," uajar Hanare tersenyum.
Kakashi tertawa.
Wanita itu memang tipikal wanita yang berwajah cantik dan memikat laki-laki pada umumnya. Namun setelah hampir dua tahun mereka berkencan, Kakashi tidak pernah menemukan hal lain dari Hanare selain wajahnya yang memikat. Tak ada keinginan untuk bersamanya.
Kushina dan Hanare sangat dekat, mereka segera berbincang lagi mengenai gaun pesta istri pemilik perusahaan lain yang kelihatan kuno.
"Kakashii~!" seru seseorang mengagetkannya, tubuhnya dipeluk dari belakang.
"Guy, astaga!" serunya. Guy dan Asuma tampak jauh lebih rapi malam ini, bahkan Asuma tampak mencukur jenggotnya tipis. Asuma menawarinya segelas minuman dan Kakashi mengambilnya. Mereka tertawa bersama setelah beberapa lelucon Guy tampak dibalas dengan bentakan dari Kushina.
Saat itulah Minato menyeret lengan Kakashi agak menjauh. "Kau datang sendiri?"
Kakashi mencari keberadaan Hinata yang ternyata berada agak jauh, dia masih tampak berkutat untuk memilih minuman tanpa menyadari sekelilingnya. Minato mengikuti pandangannya dan menemukan Hinata.
"God, harus kuakui kalian terlihat sangat cocok," komentarnya.
Kakashi hanya tertawa. Minato memasang wajah jengkel. "Mungkin kau memang harus menikah saja, dengan Hinata?"
"Berhentilah bersikap seperti peramal," kekeh Kakashi.
"Tidak, dengarkan aku. Rapat tahunan pemegang saham akan diadakan satu bulan lagi, dan aku bersumpah Kakashi, mereka akan memecatmu jika kau tidak segera kembali!"
Jantungnya berdetak cepat. "Aku masih pemegang saham tertinggi, kau tahu."
"Tidak lagi, fraksi luar tahu kelemahanmu, mereka tahu kau lah yang menyebabkan kebangkrutan temporer tiga tahun lalu, bukannya ayahmu!"
Kakashi menatapnya, mendadak seperti darahnya mengalir keluar dari tubuhnya hingga terasa dingin. "Bagaimana—"
"Orochimaru menadatangi kantorku beberapa hari lalu, berbelit-belit membual tentang masa depan investasinya pada perusahaan kita, dan dia membawa bukti dokumen yang membuktikan kesalahanmu dulu. Mereka punya orang yang melakukan pekerjaan kotor untuk mendapat informasi itu. Godammit, Kakashi. Mereka akan menendangmu keluar, kau tahu jika pemilik perusahaan akan bisa dipecat dari dalam dengan hanya satu kesalahan fatal, ditambah kau bekerja dibalik layar tiga tahun terkahir hanya akan menambah ketidakbecusanmu!"
"Shit," umpatnya sembari mencoba bernapas. "I'm so fucked up!"
Minato menarik kerah tuxedo Kakashi mendekat hingga dahi mereka nyaris berbenturan. " .Kembali."
"Minato," ucapnya nyaris bergetar. "Kau tahu aku mungkin bisa membuat kesalahan lagi—"
"Deal with it!" Minato nyaris berteriak. "Kakashi, please. Mungkin sebelum melangkah kembali ke perusahaan, kau harus memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam rumahmu sendiri tanpa harus pingsan!"
Mereka terengah-engah, tangan Minato masih mencengkeram kerah baju Kakashi.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Kushina membuyarkan ketegangan.
Minato melepas cengkeramannya. Kakashi menghapus sedikit keringat dari dahinya. "Yeah," ia berdehem. "Kalian harus kembali menikmati pestanya, aku permisi dulu."
Ia melangkah pergi dengan cepat, menerobos beberapa orang kemudian menggebrak meja di dekatnya. Ia menyambar gelas wiski sekali lagi dan meneguknya hingga habis. Minuman keras memang selalu bekerja dengan baik padanya, menghangatkan kerongkongannya yang kering setelah Minato menghujaninya dengan masalah baru.
Mungkin Minato benar. Tiga tahun adalah lebih dari cukup waktu untuk bersembunyi. Ia harus kembali.
Matanya menangkap sesosok gadis di dekat meja makanan manis. Gadis itu memang menjadi radar alami karena terlalu bersinar. Kakashi bisa memperhatikan beberapa orang menolehkan kepala mereka hanya untuk sekedar menatap ke arah Hinata.
Ia berjalan ke arah Hinata, dan entah sihir apa yang gadis itu miliki. Emosi Kakashi perlahan memudar setelah ia melihat Hinata tersenyum kepadanya dengan puding di piringnya. Hinata selalu secara tidak langsung mengajarkan Kakashi kebahagiaan itu bisa di dapat dengan cara yang paling sederhana.
"Sensei, ini sangat menakjubkan," ujarnya senang.
Kakashi menjulurkan jempol tangannya untuk mengusap sedikit selai di ujung bibir Hinata, ia tak bisa menjaga janjinya pada diri sendiri untuk tidak menyentuh gadis di sampingnya.
Wajah Hinata merona sedikit.
Astaga, pemandangan itu membuat emosi Kakashi kembali tidak stabil. Entah mengapa Hinata bisa membuat Kakashi kehilangan kontrol, padahal ia sangatlah baik dalam mengontrol apapun.
Ia tidak tahan lagi.
"Apa kau selalu seperti ini?" tanya Kakashi.
"Seperti apa?" tanya Hinata balik, wajah polosnya tidak mengerti.
Demi Tuhan.
"Apa kau selalu bereaksi seperti ini tiap seorang laki-laki menyentuhmu? Mendekatimu? Karena aku bersumpah Hinata, kau bertindak seolah mudah sekali jatuh cinta."
Kalimat itu terlanjur meluncur keluar dari mulutnya begitu saja, dan Kakashi menyesal setiap detik setelahnya.
Wajah Hinata tampak terkejut, kemudian terluka. "Apa maksudnya itu?" ucapnya sengit.
Kakashi memijat dahinya frustrasi. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu—"
"Seperti apa?!"
"Seperti kau sedang menggodaku dengan perilaku polosmu! Karena... dammit Hinata, you act like a holy virgin!" Kakashi nyaris berteriak.
Mereka berdua terdiam. Wajah Hinata memerah karena menahan amarah. Kakashi mengumpat dalam hati. Ia tidak bermaksud seperti yang Hinata kira, tapi ia sudah tidak tahan. Ia malu pada dirinya sendiri, mengakui bahwa ia tidak bisa menahan perasaan yang meluap tiap kali melihat gadis itu.
Ia mengiginkan Hinata. For god's shake, ia sangat menginginkannya. Sikap Hinata yang sangat polos tidak membantu apa-apa selain membuat Kakashi semakin ingin memilikinya. Dan itu tidak benar, tidak bisa. Kakashi adalah sampah, dan Hinata adalah gadis muda yang cerdas dan baik. He's not worthy of her. So, here he is. Menujukkan pertahan terbaiknya, menyalahkan Hinata. Menyalahkan orang lain, dan Kakashi tahu sikapnya ini akan menghancurkan segalanya.
Persis saat Kakashi menyalahkan ayahnya dahulu, push everybody out of his life, tak ada hal baik yang datang karena sikapnya ini. Ia pikir ia sudah dewasa, tapi ternyata kebalikannya.
Mata Hinata tampak berair. Kakashi mengutuk perbuatannya.
"Kakashi?" panggil seseorang. Seseorang yang suranya seperti dikenalnya.
Kakashi membalikkan badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Sial.
Kakashi menahan napas ketika matanya menangkap dua orang yang berjalan ke arahnya dengan lengan terkait satu sama lain.
"Rin," bisiknya.
TBC
Pleasure to have you possible review, please ;)
