Disclaimer : I do not own Naruto
"Semua racun itu akan segera menghabisimu."
Gema suara terdengar, memantul melalui dinding gelap tak kasat mata, dan seolah berembus menyapu genangan air yang membasahi kaki.
Di sebuah ruang gelap dan dingin, seorang perempuan berpenampilan kusut tengah terduduk lemah. Rambut pirangnya lepek. Wajahnya pucat pasi, seakan-akan tidak ada aliran darah di sana. Kondisi tersebut semakin parah dengan genangan air racun keunguan di sekitarnya. Menggenang mengelilingi tempatnya duduk, secara perlahan menghanguskan tempatnya bernaung.
Berdiri di seberang sana—di tengah genangan air racun—berdirilah seorang wanita yang serupa dengan si wanita pirang. Satu hal yang membedakan mereka adalah mata gelapnya alih-alih safir. Ia tengah menatap si wanita pirang yang tengah terduduk dan bersandar pada jeruji besi raksasa di belakangnya.
"Dia juga tidak akan bangun. Kau tidak punya pertolongan," lanjut kembaran si pirang.
Naruto tidak tahu alasan mengapa alam bawah sadarnya selalu menyerupai gua bawah tanah yang dipenuhi air. Tempat ini gelap dan dingin. Ia tidak tahu mengapa ia mempertahankan tempat semacam ini.
Rasa dingin yang dirasakan sudah sangat keterlaluan. Naruto menggigil dibuatnya. Kenapa ia harus hadir di sini lagi?
"Kurama akan baik-baik saja. Dia hanya memulihkan kekuatannya," gumam Naruto. Kepalanya menengadah, ia menatap dirinya yang lain. "Lagi pula, kenapa kau senang sekali menyumpahiku untuk mati dengan berkata kalau aku tidak punya pertolongan?"
Sosok yang dikenali Naruto sebagai sisi gelap-nya itu mendengkus keras. Dengan santainya, ia duduk di tengah genangan racun yang selama ini mati-matian dihindari Naruto.
"Karena kelihatannya kau memang akan mati, seperti dulu. Kau selalu bertemu denganku ketika nyawamu sudah di ambang batas," balas si kembar.
Berbeda dengan penampilan kusut Naruto, manifestasi lain dari dirinya ini terlihat begitu fit. Ia memang hanya memakai celana pendek—yang menutupi setengah paha—dan bebatan perban di dada. Jaket hitam kejinggaan yang dipakainya dibiarkan terbuka, membuat penampilannya begitu terbuka di mata Naruto. Namun, secara fisik ia tidak terlihat lemah ataupun pucat, berbanding terbalik dengannya.
"Aku tidak suka tempat tinggalku diganggu. Kenapa kau harus menumpang di sini lagi?" tutur si kembar.
Naruto segera bergumam, "Siapa juga yang bersedia tinggal di tempat buruk ini."
Kalimatnya cukup memancing emosi si kembar. Bentakan itu sedikit membuat Naruto berjengit.
"Kau sendiri yang tidak punya daya kreativitas dan memberi kami tempat di sini!"
Naruto hanya mampu menggerutu pelan. Kata Paman Bee, sisi gelapnya ini telah pergi setelah ia berhasil mengontrol Kurama. Tapi, nyatanya ia tetap hadir.
"Dengar, aku adalah hasil dari gambaran mentalmu. Aku adalah dirimu yang mati-matian ingin kausembunyikan. Jangan sok memusuhiku seperti itu," ungkap si kembar dengan sinis. "Salahmu sendiri tidak membunuh si pinky. Kau terpaksa menggunakan seluruh kekuatan tanpa bantuan Kurama sehingga kehilangan daya untuk memulihkan diri. Akibatnya, racun itu berhasil melumpuhkanmu sampai titik ini! Bayangkan kalau kau tidak menitipkan sedikit daya hidupmu pada Toneri. Kau pasti sudah mati."
"Nyatanya, aku tidak mati."
"Sebentar lagi kau akan mati tersedak racun itu."
Naruto mengembuskan napas pendek. Ia memeluk kedua kakinya sebelum menyembunyikan wajah di sana.
"Enyahlah," gumam Naruto pelan. Nada suaranya terdengar lelah.
Kesunyian segera merambat di udara, menggantikan percakapan sinis yang selama ini mendominasi. Naruto sendiri tengah tenggelam dalam lamunan. Ingatan terakhirnya sebelum terbangun di alam bawah sadar ini adalah kedatangan Sasuke. Pandangannya sangat buram saat itu. Napasnya sangat berat. Seluruh tubuhnya menyerukan sakit. Mulai dari ngilu di seluruh tubuh, hingga perihnya luka bakar di tiap permukaan kulit.
Meskipun sekilas, Naruto masih sempat menangkap ekspresi kaku Sasuke. Ia masih mampu melihat sorot khawatir yang bercampur dengan ketakutan. Terdapat banyak hal yang bisa dipikirkan Naruto. Namun, selama berada di ini, pikirannya akan selalu kembali pada ingatan terakhir itu.
Naruto teringat janjinya pada Sasuke untuk tetap hidup. Kehadiran Sasuke saat itu begitu menghancurkannya. Kekhawatiran dan ketakutan itu … Naruto sangat menyesal bahwa ia tidak sempat memberi tahu bahwa ia akan kembali.
Sekarang, bukannya langsung pulih, ia malah terperangkap di dalam sini—dengan genangan racun yang semakin mengancam dari hari ke hari.
Percakapannya dengan si hitam ini juga tidak membantu. Ia hampir selalu menanyakan motif Naruto yang memilih untuk menyelamatkan Sakura alih-alih membunuhnya. Setelah bertanya demikian, ia akan mulai bertanya tentang keinginan Naruto pasca terbangun nanti.
Naruto teringat kedua putranya. Ia masih cukup ingat wajah polos itu. Ia masih merasakan betapa ringannya tubuh individu baru yang belum sempat ia beri nama itu.
Keinginan Naruto tentu saja berkaitan dengan dua putranya. Ia ingin hidup dengan mereka.
Namun, selanjutnya ia ditanya mengenai Sakura dan Sasuke. Apa yang Naruto inginkan dari dua sosok itu?
Dengan Sakura yang telah kembali, Naruto tidak mungkin meneruskan apa yang telah ia jalin dengan Sasuke….
Hawa dingin ini semakin membuat Naruto menggigil. Ia sedikit berjengit ketika merasakan kehadiran orang lain di sampingnya.
Si hitam—Naruto akan menyebutnya si hitam—telah duduk di sampingnya.
"Suara batinmu bisa kudengar dengan jelas," ungkapnya tiba-tiba. Ia mengerling malas pada Naruto. "Kau masih memikirkannya? Bukankah semuanya sudah jelas?"
Naruto menoleh. "Tentu saja masih kupikirkan."
"Kau hanya perlu bangun dan membesarkan kedua putramu dengan Sasuke. Mudah, 'kan?"
Kening Naruto segera mengerut dalam.
"Kau gila? Mana bisa aku melakukannya." Naruto memalingkan wajah. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di sela kedua lengan. "Sakura mencintai Sasuke. Aku melihat hampir semua memorinya. Dia masih menginginkan Sasuke."
Si hitam mendengkus.
"Jadi?"
Apakah kau pernah ingin memukul citra dirimu sendiri?
Naruto sedang merasakannya.
Ia menoleh dan menatap si hitam dengan sorot kesal.
"Jadi, tentu saja aku tidak bisa melakukan sesuatu yang tadi kaukatakan. Membesarkan kedua putraku dengan Sasuke, kaubilang?" Suara Naruto sedikit meninggi. "Mana mungkin aku melakukannya," lanjut Naruto dengan suara yang lebih lirih.
Si hitam hanya menatap Naruto, melihat ekspresi kosongnya. Ketika Naruto hendak mengalihkan pandangan, ia tiba-tiba berucap dengan begitu lugas, "Oh? Sayang sekali. Kemampuan seksnya sangat hebat. Aku akan merindukannya. Atau mungkin kau bisa tetap tidur dengannya meski dia bersama dengan Sakura."
Naruto hampir tersedak oleh ludahnya sendiri.
Ia mendengkus dan menatap nyalang sosok yang begitu serupa dengannya.
"Lebih baik aku mati daripada melakukannya," tutur Naruto kaku. Ia mengerlingkan mata, mengalihkan pandangan ke tengah genangan racun di sekitar mereka. "Keputusanku sudah final. Aku bisa tinggal sendiri bersama kedua putraku. Pada dasarnya, aku tidak berasal dari dimensi ini. Tidak seharusnya aku kembali mencampuri urusan mereka."
Netra gelap si hitam menyipit. Berbeda dari beberapa saat lalu, suaranya kini terdengar lebih dalam. Naruto merasakan rasa dingin yang berlipat ganda. Ia kembali menoleh pada si hitam. Mulutnya segera mengatup ketika mendapati ekspresi kaku di wajahnya—ekspresi dingin yang tidak akan mungkin tercipta di wajah Naruto, setidaknya itulah yang Naruto pikirkan.
"Berhentilah mengorbankan dirimu sendiri untuk orang lain. Pikirkan keselamatan dan kebahagiaanmu sendiri."
Mulut Naruto terasa kering. Ia berusaha menelan saliva sebelum berucap, "Aku tidak harus bersamanya. Aku bisa bahagia tanpanya, seperti dulu. Asal dia tidak menyakiti dirinya sendiri dengan berbuat hal-hal bodoh lagi."
Si hitam mengerutkan kening, tampak tidak mengerti.
"Bukankah kau mencintainya?"
Naruto sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia mengerjap pelan. "Ya?"
Sorot bingung di mata itu sedikit membuat sisi lain dari diri Naruto ini jengkel. Kenapa mereka begitu bertolak belakang?
"Kalau begitu, kenapa kau tidak ingin bersamanya?"
Sekarang Naruto terlihat semakin bingung.
"Siapa yang tidak ingin?" Naruto mengerjap. "Tentu saja aku ingin. Tapi, kami memang tidak bisa bersama dan aku tidak akan memaksakan keadaan. Menurutmu, mencintai itu harus bersama? Kurenai-san tetap mencintai Asuma-sensei meski mereka tidak bisa bersama. Jadi, aku juga pasti bisa melakukannya dan aku akan bahagia, kau tenang saja."
Si hitam semakin mengerutkan dahi, masih tidak mengerti. Selama ini, Naruto selalu diliputi kebimbangan jika menyangkut hubungannya dengan Sasuke. Ia sendiri yakin bahwa Naruto sangat ingin membangun keluarga yang tak lain harus melibatkan Sasuke. Jadi, kenapa ia begitu yakin….
Di tengah puluhan pertanyaan yang masih belum terjawab, genangan racun di sekitar mereka tiba-tiba menguap. Titik-titik cahaya mulai muncul di sekitar mereka.
Saat itu, baik Naruto ataupun si hitam langsung mengerti. Mereka mengerti bahwa pertolongan yang telah dinanti setelah sekian lama pada akhirnya datang. Naruto akan mendapatkan kesadarannya. Ia akan kembali pulih.
Titik-titik cahaya mulai bertambah banyak dan kian membesar. Si hitam masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Namun, ketika cahaya kian membanjiri, tubuhnya secara refleks segera memeluk dirinya itu. Ia memeluk Naruto erat selagi berbisik bahwa semua yang Naruto lakukan sudah cukup—semua pengorbanannya sudah cukup.
"Jangan sampai kita bertemu lagi—"
Karena kita hanya bertemu ketika kau di ambang kematian. Jadi, jangan sampai kita bertemu lagi.
Gelap ruangan telah diliputi oleh cahaya terang. Eksistensi si hitam mulai memudar, kembali tenggelam dan tersembunyi di dasar diri Naruto.
Kala itu, serpihan diri Naruto itu pun paham. Ia pada akhirnya mendapat jawaban dari pertanyaan tadi.
Kami menjadi individu yang berbeda di dalam sini. Itulah mengapa dia begitu yakin pada pilihannya. Dia tidak terpengaruh olehku. Dia tidak merasakan keinginanku yang juga masih merupakan keinginannya. Itulah mengapa definisinya tentang rasa itu begitu murni, tak bercela, tak melibatkan keegoisan. Tapi, sekarang, ketika kami sudah kembali menyatu….
Sebelum benar-benar ditelan kegelapan, si hitam menahan senyumnya.
Semoga kau beruntung, Naruto. Melawan perasaan terdalammu sendiri tidaklah mudah.
Seruak cahaya memburamkan pandangan. Sepasang mata yang baru terbuka tampak kesulitan menyesuaikan keadaan baru yang dihadapinya.
Telinga Naruto sedikit berdenging. Bisik-bisik rendah menghampiri indra pendengarnya.
Ia mengerjap dan berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih sedikit tertinggal di alam bawah sadarnya.
Kedua mata mengerjap.
Percikan ingatan menghampiri—tentang fakta bahwa ia telah mendapat pertolongan.
Pandangannya kini mulai membaik. Ia mampu. Melihat langit-langit bercat putih—langit-langit kamar rumah sakit.
Netranya mengerling ke bawah, menatap selang oksigen yang terpasang rapi di hidungnya. Udara bersih dari selang itu terasa dingin dan selangnya sedikit menggelitik hidung Naruto. Satu hal lain yang ia rasakan adalah lemas di seluruh tubuh, seolah ia tak memiliki sedikit pun daya untuk menggerakan telapak tangannya.
Akan tetapi, paling tidak semua indikasi ini telah membuktikan bahwa ia telah terbangun. Ia berhasil mendapatkan kesadarannya, tidak lagi terperangkap di gua bawah tanah yang digenangi air racun itu.
Kedua mata Naruto terbuka lebar.
Indra pendengarnya mulai berfungsi sebagaimana mestinya.
"Kelihatannya dia baik-baik saja."
Suara pelan itu segera menarik perhatian Naruto. Pandangan mata dialihkan ke arah suara. Ketika mendapati sosok perempuan berambut merah muda, Naruto membuka mulut, hendak berbicara. Namun, suara yang diharapkan itu tidak kunjung terdengar.
Alih-alih berhasil menyuarakan isi pikirannya, ia malah terbatuk setelah merasakan tenggorokan yang begitu perih.
Segelas air segera hadir di depannya. Naruto mengerling pada seseorang yang memberinya segelas air itu.
"Tenggorokanmu masih kering. Jangan banyak bicara dulu."
Naruto mendapati Tsunade, satu-satunya orang yang sejak satu dekade lalu tetap terlihat sama tanpa perubahan apa pun.
Tsunade membantu Naruto meminum air hangat itu. Kepala Naruto ditopang dengan sedemikian rupa sebelum kembali ditidurkan. Efek minuman tadi segera dirasakan Naruto. Suaranya keluar dengan cukup jelas meskipun masih sedikit parau.
"Berapa lama aku pingsan?"
Kedua alis Tsunade menyatu. Kilat tidak suka tampak menari-nari di matanya.
"Pingsan? Kau hampir mati, Bocah," timpal Tsunade. Ia menatap Naruto sejenak hingga ia tak dapat menahan air mata yang telah ditahan sejak entah berapa lama. "Jangan pernah mengambil risiko besar seperti itu lagi."
Kalimat yang dikatakan Tsunade sengaja ditekankan dengan keras. Tiga orang perawat di belakang Sakura dan Tsunade segera menunduk dalam, merasa segan untuk melihat sisi lain dari atasannya.
Alih-alih ikutan menangis, Naruto malah melengkungkan senyum lemah.
"Aku punya sembilan nyawa, Bāchan. Kau lupa?" guraunya dengan lugas.
Ketidakacuhan Naruto membuat Tsunade menghela napas pendek.
"Jangan bilang kau sudah memprediksi semuanya, termasuk kematian palsu-mu dan kondisi sekaratmu ini."
Naruto mengerjap pelan.
"Uhm…."
Tidaklah mungkin jika Tsunade memukul pasien yang baru saja bangun dari koma. Rasa gemasnya memuncak setelah mendapati reaksi Naruto. Namun, ia berhasil menahan gemas itu dengan kembali mengembuskan napas.
Seseorang mengetuk pelan pintu kamar pasien dari luar. Tsunade mengerling sekilas, ia kemudian berdecak pelan dan berujar, "Dia sama keras kepalanya denganmu."
Naruto belum mampu memahami ucapan Tsunade saat Tsunade memerintahkan Sakura dan tiga perawat lain untuk memberi pemeriksaan akhir dari kondisi Naruto. Selama melakukannya, baik Naruto ataupun Sakura tidak menuturkan sepatah kata pun. Sakura memeriksa denyut nadi, aliran darah, dan kondisi mata Naruto dalam diam. Tiga perawat lain sempat membenarkan selang oksigen dan infus yang dipasang di tubuh Naruto. Mereka juga mencatat hasil pemeriksaan itu sebelum kembali berjejer ke belakang Tsunade.
"Tenagamu belum sepenuhnya pulih karena efek samping dari antidot. Tubuhmu juga masih sulit untuk digerakkan karena kau sudah terbaring di tempat ini selama satu setengah bulan. Jadi, pastikan kau tidak memaksakan diri atau melakukan tindakan bodoh lain. Kau mengerti?"
Pertanyaan Tsunade terdengar bagaikan ancaman untuk Naruto, seolah ia akan kembali membuat Naruto koma jika ucapannya tidak dipatuhi dengan baik.
Naruto merasakan ngeri di sepanjang tulang belakangnya.
"Kapan aku bisa pulih sepenuhnya?"
"Dua bulan."
Naruto kontan membeliak.
"Tidak mungkin! Pemulihan diriku cepat!"
"Pemulihanmu terhadap luka fisik luar memang cepat. Tapi, tidak dengan racun."
Untuk pertama kali, Naruto akhirnya mendengar suara Sakura. Ia mengerling, melihat Sakura yang tengah membaca hasil pemeriksaan yang dicatat oleh seorang perawat tadi.
"Sekitar satu minggu ke depan kau sudah bisa keluar rumah sakit. Tapi, selama dua bulan, kau dilarang melakukan aktivitas fisik berat yang biasa dilakukan shinobi. Selama itu pula kau harus memeriksakan diri dua kali dalam seminggu selagi mengonsumsi obat yang akan disediakan."
Mulut Naruto kian menganga.
Ia sudah cuti selama hampir lima bulan dan sekarang ia harus memperpanjang masa cutinya ini?
Tsunade kembali memperingati Naruto untuk tidak bertindak nekat. Ia tidak menjawab pertanyaan Naruto tentang kondisi desa dan segera berbalik pergi sebelum Naruto bertanya lebih banyak perihal pekerjaan.
Tiga perawat lain mengikuti langkah Tsunade, mendahului Sakura yang masih berada di samping tempat tidur pasien.
"Kami hanya ingin kau segera pulih," ujar Sakura tiba-tiba, berhasil memudarkan kejengkelan Naruto. Ia menatap Naruto lurus-lurus, bibirnya melengkungkan senyum tipis. "Aku ingin kau segera pulih karena kau telah berbuat banyak untukku."
Bibir Naruto sedikit kaku saat mendengarnya.
Ini dia.
Naruto mencoba menelan salivanya.
Kami harus bicara.
"Sudah seharusnya aku melakukannya. Kau sudah kuanggap sebagai—"
Pintu yang terbuka menginterupsi ucapan Naruto. Perhatian Naruto segera beralih pada sumber suara itu. Ia mematung ketika mendapati seorang wanita berambut merah marun panjang yang tengah berdiri memegang kenop pintu dari luar.
Mulut Naruto setengah terbuka. Segala rangkaian kata yang hendak ia sampaikan pada Sakura pun segera lenyap.
"Kami-sama! Naru, Sayang, kau akhirnya bangun!"
Tiba-tiba saja Naruto sudah berada dalam rengkuhan seseorang. Rambut kemerahan panjang Kushina terasa menggelitik pipinya. Kepala Naruto masih mencoba memproses segala informasi ini. Ia semakin bingung ketika melihat seorang pria berambut pirang menyusul masuk ke dalam ruangan. Sakura tampak pamit beranjak begitu Minato menyusul masuk.
Tiba-tiba saja kepala Naruto menjadi pening.
Kesadaran baru menghampirinya saat ia merasakan sesak akibat pelukan.
Dengan napas tertahan, Naruto berujar, "'Kāsan … e-erat, terlalu e-erat," dengan terbata.
Kushina mengerjap pelan. Ia baru melepaskan pelukan ketika mendengar ucapan Minato yang memperjelas ungkapan Naruto.
Selagi membantu Naruto untuk kembali berbaring, Kushina berkata, "Oh, maafkan aku. Melihatmu bangun membuatku sangat lega!"
Naruto menatap ekspresi khawatir Kushina. Ia kemudian mengerling pada Minato. Dua sosok itu ia pandangi cukup lama hingga tawa rendah terdengar dari mulutnya. Kushina dan Minato saling berpandangan. Mereka kelihatan bingung dengan reaksi antik putrinya.
"Kalian nyata."
Tawa Naruto mereda. Suaranya tadi terdengar begitu lirih.
Kushina melihat erat genggaman Naruto di ujung selimut. Kepalan tangan itu sedikit bergetar.
"Aku sudah merelakan kalian. Aku juga sudah tidak sedih. Tapi, akhir-akhir ini, kupikir mungkin akan melegakan kalau aku bisa mengadu pada seseorang … menanyakan berbagai hal yang harus kulakukan ketika aku bukan lagi remaja tanggung, bahwa aku sudah mempunyai sosok lain yang menjadi tanggung jawabku."
Nada suara Naruto sedikit pecah. Kushina mengembuskan napas pelan sebelum meraih telapak tangan Naruto, menguraikan erat genggamannya dari ujung selimut yang tengah ia cengkeram.
"Aku ingin menceritakan segalanya, semua kegagalanku di dimensi itu, semua kesalahan yang kulakukan sampai perang ini kembali terjadi, semua ketidakmampuanku untuk menyelamatkan orang-orang. Aku bukan seorang shinobi hebat seperti kalian. Aku gagal dan aku takut jika aku juga tidak bisa menjadi panutan yang baik nantinya."
Air mata telah menggenangi mata Naruto. Ia mengerjap pelan dan seketika air mata itu berjatuhan.
"Kalian pasti sudah dengar tentang … kedua putra kembarku," ungkap Naruto dengan nada parau. "Aku—bahkan aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya."
Naruto kemudian terisak pelan.
Baik Kushina maupun Minato membiarkan Naruto meluapkan emosinya. Mereka duduk di samping tempat tidur Naruto selagi menunggu Naruto tetap tenang. Begitu Naruto menyeka air matanya dan kembali menatap kedua orangtuanya dengan malu yang amat sangat, barulah mereka kembali berbicara.
"Kegagalan yang kausebut bukanlah kegagalan. Segalanya sudah teratasi," ungkap Minato pelan. Ia mengelus pelan kepala Naruto. "Aku dan Kushina membantumu. Kami semua berjuang bersama. Jadi, jangan sebut semua itu sebagai kegagalan."
"Tetap saja—"
"Kau senang sekali menangis tiap kali bertemu dengan kami, ya?" tanya Kushina main-main. Ekspresi masam Naruto menuai tawa Kushina. "Sekarang kau sudah secantik ibumu ini. Kau tidak boleh menangis."
"'Kāsan!"
"Cantik sekali sampai bisa memukau seorang hokage." Kushina tidak mengindahkan wajah Naruto yang semakin pucat akibat ucapannya. "Ne, Naru-chan, selera ibu dan anak ternyata tidak jauh berbeda, ya?"
Dulu, ketika sempat bertemu Minato pertama kali, ia sempat diberi tahu pesan-pesan yang diungkapkan Kushina padanya. Pesan itu berupa larangan besar seorang ninja yang terdiri dari, uang, minuman keras, dan wanita. Untuk kasus Naruto, kata wanita tentu saja berganti menjadi pria. Jadi, Kushina berpesan padanya untuk tumbuh sebagai perempuan bermartabat sesuai dengan nilai dan norma berlaku dan tidak jatuh dalam perangkap pria.
Sedangkan sekarang….
Dengan was-was, Naruto mengerling pada Minato, menanti segala bentuk ancaman yang menghadang.
Nyatanya, Minato malah berkata, "Artinya, seleramu memang bagus meski dia tidak akan lebih baik dari ayahmu ini."
Naruto mengerjap.
"Err—kau tidak marah?"
"Kau sudah bersamanya sejak dulu. Aku sudah tahu. Jadi, kenapa aku harus marah?"
Rasanya aneh. Namun, entah mengapa Naruto merasa lega.
"Kau bebas memilih dengan siapa kau ingin bersama, selagi orang itu tidak menyakitimu," lanjut Minato dengan lugas.
Kushina mengerling pada Minato.
"Kalau kau tidak marah, untuk apa sparing selama sehari penuh itu? Obito sampai harus membantunya pulang."
Kening Naruto mengerut.
"Dia agak membutuhkannya," timpal Minato pendek. "Sekalian untuk menguji keseriusannya. Uchiha selalu berego tinggi. Aku ingin lihat apakah dia mau mengorbankan egonya jika memang ingin bersama putriku."
Penyebutan nama Uchiha seketika membuat Naruto paham.
Menguji keseriusan? Apa-apaan?
Naruto segera menyela, "Aku tidak akan bersamanya. Kalian tidak perlu melakukan pengujian apa—"
Kepala Minato langsung menoleh. Matanya menyipit, "Tidak bersamanya?"
Naruto mengangguk.
"Semua ini..." Naruto merasakan kelu di lidahnya. "Yah, semua ini lebih rumit dari yang kaubayangkan. Tapi, intinya, aku akan mempermudah segalanya dan aku sudah menemukan solusi yang paling efektif."
Tatapan Minato mulai tampak khawatir. Ia menegakkan punggungnya.
"Naruto—"
"Putri kita bebas memilih jalan hidupnya. Benarkan, Minato?" tukas Kushina cepat. Bibirnya mengulumkan senyum palsu. "Dia bebas memutuskannya."
Naruto merasakan kejanggalan. Namun, ketika Minato menghela napas dan mengangguk, situasi janggal ini tiba-tiba segera hilang.
Naruto memilih untuk menghentikan percakapan tentang topik ini. Jujur saja, ia merasa tidak nyaman untuk membicarakannya. Sesuatu dalam dirinya menolak untuk membawa konflik internal ini ke permukaan.
Oleh karena itu, Naruto mulai menanyakan keadaan kedua putranya. Kushina memberi tahu bahwa kedua putra Naruto dalam keadaan sehat. Mereka sempat demam akibat kekacauan kondisi pasca perang, tapi darah Uzumaki yang mengalir kental di diri mereka tampak berhasil menangkal penyakit itu dengan mudah.
Informasi bahwa kedua putranya dalam keadaan sehat sangatlah melegakan Naruto. Kushina juga memberi tahu bahwa Naruto tak perlu khawatir mengenai asupan si kecil. Meskipun memberi susu formula pada seorang bayi merah sangat berisiko, kedua putra Naruto tampak tidak bermasalah dengannya. Selama ini mereka mampu bertahan dengan jenis asupan itu meski Kushina menganjurkan supaya Naruto segera memberi mereka asi setelah kondisinya stabil.
Kalimat yang demikian terdengar asing di telinga Naruto—kalimat mengenai berbagai hal yang harus dilakukan seorang ibu.
Ia, Uzumaki Naruto, perempuan yang selama hidupnya berperan sebagai lelaki tiba-tiba saja telah menjadi seorang ibu.
Ia, Uzumaki Naruto, perempuan yang bahkan tidak tahu bagaimana menjadi perempuan yang benar ternyata telah bertanggung jawab untuk mendidik dua orang anak sekaligus.
Mereka tengah bercakap-cakap tentang keluarga besar Kushina yang memiliki gen anak kembar ketika pintu pasien terbuka lebar, memperlihatkan … Jiraiya yang membawa sebuah kursi roda.
Naruto tahu segala rencana tentang penggunaan Edo Tensei. Namun, siapa yang menyangka bahwa Jiraiya menjadi salah satunya?
Kedua mata Naruto melebar. Ia merasakan seruak hangat dalam dadanya kala berseru, "Ero Sennin!"
Naruto kemudian menangis tersedu-sedu. Ia memarahi Jiraiya yang dulu tidak berpamitan padanya. Ia memarahi Jiraiya yang secara bodoh pergi menjalankan misi seorang diri dan tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk kabur, terutama ketika keadaan sudah begitu mendesak.
Naruto mengatakan segalanya, tentang ia yang berlatih mati-matian demi menguasai senjutsu—chakra alam—termasuk tentang makanan menjijikan khas Gunung Myoboku. Juga tentang kesulitannya dalam berlatih berbagai jenis jutsu segel serta rantai chakra. Tak ketinggalan, Naruto juga menyombongkan diri tentang novel ciptaannya yang jauh lebih berharga dan populer dibandingkan Icha-Icha Paradise.
"Penghasilan shinobi tidaklah seberapa. Aku bisa langsung membeli apartemen baru setelah menerbitkan novel," pamer Naruto.
Jiraiya tertawa dan tersenyum mengejek.
"Tetap saja, tidak ada yang bisa menggantikan keindahan tulisanku. Teknik menulismu masih kurang polesan, Naruto! Kau harus menambahkan banyak kisah cinta pemeran utama dan menggambarkan malam panas yang dihabiskan oleh—"
"Mana mungkin aku menuliskan hal kotor seperti itu!"
"Hey, novel erotis bukan hal kotor. Novel erotis adalah mahakarya dari manifestasi kisah romansa tingkat tinggi sepasang insan manusia yang telah terikat oleh benang takdir—"
"Atau mungkin itu semua cuma angan-anganmu kisah cintamu tidak berakhir bahagia."
Jiraiya melebarkan mata. Ia menunjuk Naruto, "Hey, Bocah. Aku akan menceritakan pengembaraan asmara yang kuarungi."
Kemudian, Naruto pun terjebak dalam omong kosong yang disebut Jiraiya sebagai pengembaraan asmara. Kushina dan Minato hanya tersenyum geli melihatnya. Mereka masih melanjutkan cerita entah apa itu selagi membawa Naruto ke ruang rawat bayi karena Naruto begitu ingin melihat kedua putranya. Jiraiya mendorong kursi roda yang ditumpangi Naruto sementara Minato memegangi sangga infus yang tersambung dengan selang infus di pergelangan tangan Naruto.
Kushina kemudian berbicara tentang perasaannya terhadap kedua cucu. Percakapan mereka kemudian berpusat pada kiat-kiat merawat seorang bayi setelah Kushina selesai menyesali hidupnya yang tidak sempat menggunakan ilmu itu kepada Naruto.
Sekitar satu jam kemudian, seorang chuunin mendatangi mereka. Chuunin itu memberi berita tentang keadaan ketiga pengikut Orochimaru yang saat ini di bawah pengawasan Minato dan Jiraiya sendiri. Mereka mengatakan sesuatu tentang sedikit kejanggalan dari perkembangan kesehatan ketiga orang itu dan meminta Minato untuk melihatnya secara langsung.
Informasi ini segera diterima Minato dengan baik. Ia dan Jiraiya segera mengurus hal tersebut, meninggalkan Kushina dan Naruto di ruangan tersebut.
Mereka melanjutkan percakapan yang sempat terpenggal.
"... belum mampu. Kau baru boleh melihatnya," tutur Kushina.
Naruto merengut kecewa.
"Aku ingin menggendong mereka…."
Kushina berdecak pelan, "Tidak boleh, Naru. Bagaimana kalau sebaiknya kau menyiapkan nama untuk mereka berdua?"
Naruto mengerjapkan mata. Binar antusias tampak menari-nari di kedua manik safirnya. Ia hendak mulai berbicara ketika pintu ruangan kembali terbuka.
Kemampuan pendeteksi chakra yang selama ini dimiliki Naruto belum mampu digunakan lagi sehingga ia tak bisa menebak identitas si pendatang. Naruto mengira bahwa Minato dan Jiraiya telah kembali—tetapi, perkiraan tersebut runtuh begitu mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu itu.
Pandangan Naruto jatuh pada setelan hitam yang tampak kusut. Ia melihat seperangkat perlengkapan ninja yang menggantung di sabuknya dan memandangi figur itu selama beberapa saat hingga netranya mendarat di netra sang pria.
Manik berwarna merah dengan pola unik itu segera meredup menjadi warna obsidian begitu mata mereka bertemu. Ekspresinya tak terbaca dan Naruto merasakan denyut jantungnya seolah berhenti berdetak—hanya untuk kembali berdetak tiga kali lebih cepat dari ritme normal.
"Ah, Sasuke-kun. Kau sudah kembali," seru Kushina tanpa beban.
Sasuke mendaratkan pandangan pada Kushina yang berdiri di samping Naruto. Ia kemudian mengangguk sebelum melangkah menghampiri mereka.
"Kakashi membantu kami. Dia memintaku kembali lebih awal." Pandangan Sasuke kemudian kembali pada Naruto sekilas. "Bagaimana dengan kondisi—"
"Oh, kau bisa bertanya sendiri pada Naru," timpal Kushina. Ia mengerling pada Naruto yang tiba-tiba saja menjadi sangat diam. Ketika pandangan mereka bertemu, Kushina segera berkata, "Ayahmu akan memerlukan bantuanku untuk membaca segel di tubuh Karin. Ibu pergi dulu, ya, Naru."
Senyuman yang tampak dibuat-buat itu segera terlukis di bibir Kushina. Ia mengabaikan mulut Naruto yang sudah setengah terbuka, hendak protes.
Kushina menegakkan diri. Ia menatap Sasuke dengan senyuman simpul.
"Tolong jaga dia. Dia belum bisa banyak bergerak."
Dengan begitu, Kushina beranjak, meninggalkan Naruto bersama dengan Sasuke di ruang kamar bayi yang berisi kedua putra mereka yang tengah tertidur.
Jika dihitung sejak perang dimulai, maka sudah hampir tiga bulan mereka tidak berinteraksi. Selama persiapan perang pun mereka cukup jarang bersama karena kesibukan Sasuke.
Sudah lama sekali mereka kembali mendapatkan momen berdua. Suasana ini … Naruto merasakan dadanya sesak—oleh antisipasi dan juga oleh realisasi bahwa ia telah berkomitmen untuk tidak melanjutkan apa yang telah mereka mulai dulu.
Selama ini, ia sudah yakin dengan keputusan itu. Tapi, kenapa perasaannya menjadi begitu campur aduk ketika berhadapan langsung dengan lelaki ini? Kenapa ia tak bisa berperilaku biasa seperti dulu?
Naruto sedang tenggelam dalam konflik batinnya ketika Sasuke berlutut tepat di depannya, menyeimbangkan tinggi mereka supaya ia … mampu merengkuh Naruto dalam pelukan.
Embusan napas beratnya menerpa daun telinga Naruto. Geletar tubuhnya juga dapat dirasakan Naruto—seolah ia tak dapat menahan gejolak rasa yang selama ini merongrongnya hingga membuatnya begitu lega ketika mendapati Naruto kembali.
Harum musk yang telah lama tidak dirasakan Naruto pun segera menerpa indra penciumnya begitu ia menarik napas di sela pelukan. Kedua lengan Sasuke merengkuhnya erat, tetapi tidak sampai membuatnya sesak. Sasuke mengusap pelan rambut panjang Naruto sementara tangan yang lain melingkari punggung sang perempuan yang entah mengapa terasa begitu kecil dalam rengkuhannya.
Naruto hanya dapat mematung. Kedua tangannya sedikit mengepal. Ia menarik napas dalam, mencoba mematrikan ingatan pada aroma ini karena kesempatan semacam ini takkan ia dapatkan lagi jika ia benar-benar mengikuti keputusan yang telah ia tetapkan.
Dengan perlahan, Naruto melingkarkan kedua lengannya di punggung sang pria. Secara refleks, ia ikut mengusap rambut hitam Sasuke yang terasa lembut di sela jemarinya. Ketika melakukan ini, dada Naruto kembali sesak. Ia menghentikan gestur tersebut sesegera mungkin.
"Aku baik-baik saja," bisik Naruto pelan, tepat di bahu Sasuke. "Aku selalu menepati janjiku," lanjut Naruto.
Kau tidak perlu khawatir. Aku di sini.
Adalah kalimat lain yang tidak diucapkan Naruto.
Setelah beberapa saat, Naruto bisa merasakan Sasuke yang mulai merileks. Meskipun begitu, rengkuhannya belum juga diuraikan.
Selama beberapa bulan terakhir, Naruto semakin mengenali sisi lain di diri lelaki ini. Sejak dulu, ia mengira bahwa Sasuke selalu anti pada kontak fisik. Namun, sekarang ia tahu dan begitu mengerti bahwa perkiraannya salah besar.
Sasuke sangat—atau mungkin maniak—dengan kontak fisik, bukan hanya yang mengarah pada aktivitas seksual, tapi juga pada hal-hal yang lebih ringan seperti sekarang.
Ingatan ini membuat Naruto ingin menangis. Ia tidak ingin ingat atau tahu tentang fakta-fakta itu. Ia tidak ingin ingat dengan momen-momen itu. Kenapa pula ibunya meninggalkan ia di sini seorang diri?
"Tidurmu terlalu lama," gumam Sasuke pelan.
Naruto menggigit bibir bawahnya. Ia hanya bergumam tanpa arti.
Beberapa saat kemudian, rengkuhan diuraikan. Sasuke masih berlutut di depannya. Ia menahan kursi roda Naruto selagi memandang lekat perempuan itu. Telapak tangannya telah menggenggam kedua tangan Naruto begitu merasakan manik safir yang berusaha menghindari tatapannya.
"Kau hampir membunuh dirimu sendiri tanpa memenuhi janji yang sudah kaubuat."
Naruto menatap kedua telapak tangannya yang berada dalam genggaman Sasuke, bertanya-tanya alasan Sasuke mampu bertindak begitu bebas seperti ini, seolah tidak ada yang terjadi, seolah mereka memang mampu kembali melanjutkan semua ini.
"Aku di sini, kaulihat? Janjiku terpenuhi." Suara Naruto masih sedikit parau. Ia terdiam sesaat, kemudian berujar, "Maaf."
"Untuk apa?"
Naruto mengerling pada Sasuke. Ia kembali mengalihkan pandangan ketika merasakan campuran emosi yang menyerangnya begitu menatap mata itu—mata yang memandangnya dengan sorot itu.
Sorot penuh kerinduan dan kasih yang membuat perasaan Naruto bercampur aduk.
"Tentu saja untuk segala kesalahan yang sudah kuperbuat," tutur Naruto pelan. Ia menarik tangannya dari Sasuke secara perlahan. "Untuk membiarkanmu mengatasi seluruh kekacauan ini sendirian sementara aku malah tertidur tanpa guna."
Sasuke menyadari gestur kecil itu. Spekulasi dari tindakan remeh tadi sedikit menyengat Sasuke. Ia merasakan ketakutan dan kekecewaan mulai merambat naik ke udara.
"Aku tidak lagi sendirian. Seluruh anggota klanku ada di sini."
Sasuke berusaha mengikuti skema percakapan Naruto, menunggu Naruto memulai topik krusial mereka.
Biasanya, Naruto akan langsung tertarik untuk mengomentari hal-hal mengenai Uchiha. Namun, kecamuk pikiran dalam kepalanya menghalangi ia untuk mempertahankan percakapan normal itu.
Naruto tampak terganggu dan pada akhirnya kehilangan jejak untuk mempertahankan percakapan kasual tadi. Ia tampak tengah mengumpulkan tekadnya untuk mengutarakan sesuatu.
Sasuke masih menunggu, hingga ia memutuskan untuk memancing Naruto agar dapat mengatakannya.
"Apakah kau keberatan jika tanganmu kugenggam?" tanya Sasuke langsung. Ia sedikit menegakkan diri selagi membiarkan tangannya tetap berada di pangkuan Naruto. "Tanganku bersih dari racun."
Kalimatnya berhasil menarik perhatian Naruto. Matanya melebar, ia kemudian memandang Sasuke aneh, "Kenapa juga kau membicarakan racu—" Naruto segera paham bahwa Sasuke sedang menyindirnya. Ia menghela napas pendek. "Kau tidak bisa berperilaku seenakmu terus, Sasuke. Kau dan aku tidak bisa begini."
"Begini?" Sasuke meraih dagu Naruto dengan jemarinya dan mengusapnya pelan.
Naruto sedikit berjengit. Ia segera menarik tangan Sasuke menjauh.
"Berhenti mempermainkanku," tutur Naruto jengkel. Ia menahan tangan Sasuke di genggamannya dan mengalihkan pandangan. "A-aku tidak bisa bersamamu."
Sengatan sakit di dadanya itu pada akhirnya terasa nyata.
"Kau tidak ingin?" tanya Sasuke dengan nada rendah.
Naruto mengatupkan mulut, memberi jeda yang cukup lama hingga berucap, "Tidak bisa, bukan tidak ingin."
"Bagaimana dengan putra kita?"
Lidah Naruto kelu, tapi ia tetap berusaha untuk berbicara.
"Aku akan merawatnya dengan seluruh kemampuanku."
"Kau ingin menjauhkanku dari mereka?" tanya Sasuke lagi, nada suaranya semakin kaku.
Naruto pada akhirnya menatap Sasuke juga.
"Tentu saja tidak," tukas Naruto cepat. Ekspresi Sasuke membuatnya kembali terbata. Ia menarik napas kasar dan berujar, "Kau bebas menemuinya kapan pun kau mau."
"Terdengar berat untukku," komentar Sasuke datar. "Kau ingin aku mengunjungi kedua putraku tanpa hidup bersamamu?"
Naruto merengut kecil. Ia berseru, "Hanya ini yang bisa kulakukan. Berhentilah mengeluh." Matanya terpatri di mata Sasuke. Dengan yakin, ia berkata, "Kau sudah punya keluargamu sendiri dan aku tidak akan mengganggunya. Kau dan aku tidak akan melanjutkan apa pun yang terjadi di antara kau dan aku. Aku tidak ingin kau merusak keluarga yang sudah kaubangun selama ini."
Terdapat keheningan yang terasa mengganggu di udara. Sasuke tak kunjung membalas Naruto. Ia hanya menatap lekat perempuan itu selagi kembali meraih telapak tangannya. Naruto merasakan denyut jantungnya bertalu-talu.
Ia merasakan badai itu datang. Ia bisa membayangkan kemarahan Sasuke dan sorot dinginnya yang selalu mampu membuatnya ingin mati saja.
Naruto sudah mengantisipasi luapan emosi itu—bukannya sebuah pertanyaan sederhana yang dikatakan dengan sedikit heran.
"Tidakkah kau mencintaiku?"
Eh?
Naruto pernah mendengar pertanyaan semacam ini.
Ia membuka mulutnya, hendak menjawab—bertepatan dengan kedua mata yang mendapati kedatangan orang lain ke tempat mereka.
Sakura berdiri di ambang pintu dengan sebuah map di tangannya. Pandangannya jatuh pada dua insan dewasa di sana, Sasuke yang tengah berlutut di hadapan Naruto dengan tengah menggenggam tangannya.
Naruto segera menyadari kondisi ini. Ia buru-buru menarik tangannya dari Sasuke dan mendorong kursi rodanya ke belakang.
Sasuke menoleh, dengan jelas melihat Sakura yang masih memandangi mereka sebelum kemudian kembali menoleh pada Naruto.
Tangan kursi roda itu ditahan Sasuke. Naruto menengadah, menatap Sasuke dengan sorot yang seolah menyerukan kalimat lepaskan-tanganmu-berengsek dan secara refleks menendang tulang kering Sasuke dengan cukup keras hingga membuatnya mengaduh dan melepaskan cengkeramannya dari tangan kursi roda.
Penyangga infus itu ia genggam. Naruto menjalankan kursi roda otomatis tersebut dan berujar, "Aku harus ke kamar kecil. Kuserahkan mereka padamu," selagi keluar melalui Sakura yang masih belum mampu berekasi apa pun.
Jantung Naruto bertalu-talu. Ia mengumpati dirinya sendiri atas keteledoran itu, sama sekali tidak peduli dengan Sasuke yang telah jatuh terduduk akibat tendangan tadi. Tulang keringnya berdenyut nyeri. Ia mendengkus keras selagi merutuki Naruto.
"Dia sedang lemah, wanita rubah itu," desis Sasuke dongkol.
Suara tawa tertahan membuat Sasuke menoleh. Saat itu, untuk pertama kali, ia melihat senyum lepas di wajah Sakura.
"Sepertinya kau tidak mengada-ada," ungkap Sakura lugas. Ia berjalan mendekati Sasuke yang tengah bangkit berdiri. "Pasti sangat memusingkan."
Kilat meledek di mata itu hanya dibalas embusan napas oleh Sasuke. Ia menepuk celananya dan bertanya, "Ada apa?"
Sakura menunjuk map cokelat di tangannya. Ia menyerahkannya pada Sasuke.
"Kau hanya perlu menandatanganinya."
Sasuke membuka map tersebut, melihat beberapa dokumen yang berada di sana.
"Kita harus membicarakannya dengan Sarada."
Sakura mengangguk pelan.
"Dia akan langsung mengerti."
Pahit dalam suara Sakura masih kentara. Sasuke tidak membalas ucapannya. Ia hanya mengikuti Sakura yang tengah menatap dua orang bayi yang tengah tertidur pulas di sana, entah mengapa mampu menebak campuran emosi yang terpancar di mata Sakura.
Sakura segera membalikkan badan, menatap daun pintu di depan sana.
"Kau akan jadi ayah yang baik," gumam Sakura pelan.
Detik berikutnya, ia melangkah menjauh, meninggalkan Sasuke di ruangan itu.
"Kembalikan padaku kalau kau sudah membaca dan menandatanganinya."
Sasuke menatap map cokelat itu. Ia kemudian mengerling pada kedua putranya—tiba-tiba saja teringat ucapan Sakura tentang ia yang akan menjadi seorang ayah yang baik.
Napas pendek berembus dari mulutnya. Sasuke menyempatkan diri memberi kecupan ringan di dahi kedua putranya itu sebelum bergegas keluar.
Selama ini, ia tidaklah menjadi figur ayah yang baik untuk Sarada. Namun, sekarang ia akan memperbaikinya, baik untuk Sarada ataupun untuk kedua putranya ini karena mereka semua tetaplah keturunannya. Satu hal yang pasti, ia sangat berterima kasih pada Sakura yang telah memberinya kesempatan untuk tetap menjadi ayah dari Sarada. []
TBC
