Chapter 10
Kamis. Tiga hari menjelang kunjungan mereka ke kediaman Dagworth. Dan hari itu jugalah Hermione dibebaskan dari sayap rumah sakit.
Dia sedang dalam perjalanan ke Menara Gryffindor. Hatinya was-was. Karena dia akan memasuki asrama yang sama sekali berbeda dari asrama lamanya. Karena dia tidak akan mengenali satupun penghuninya, bahkan teman sekamarnya.
Saat dia menemukan lukisan Nyonya Gemuk, dia mendekat dan membisikkan kata sandi.
"UnicornHorn," bisiknya.
Tapi lukisan itu tidak bergerak. Dan dia melihat Nyonya Gemuk hanya menatapnya seolah dia gila.
"My.. my.. my.. apa yang terjadi padamu, sayang? Bagaimana kau bisa melupakan sesuatu yang sepenting itu?" Olok wanita itu.
Hermione memerah malu. Dia lupa kemungkinan bahwa kata sandinya juga akan berbeda. Kenapa itu tidak terpikirkan olehnya sebelumnya? Dia bisa saja bertanya pada Madam Pomfrey sebelum kesini tadi.
Dia hanya berdiri di sana seperti orang bodoh, sampai sebuah suara memanggil namanya.
"Hermione!"
Dia menoleh, melihat seorang gadis dengan rambut pirang berjalan mendekat dan melambai padanya.
"Apa yang kau lakukan berdiri di sini? Tidak ingin masuk?"
Hermione berdehem sebelum menjawab, "Aku lupa kata sandinya."
Gadis itu hanya mengeluarkan 'oh' ringan sebelum mengucapkan kata sandinya, "Be Brave."
Lukisan mulai bergerak dan membuka jalan bagi mereka.
"Kata sandi yang bagus," komentar Hermione pelan sambil mengingat.
Gadis itu tersenyum menanggapi dan mengajaknya masuk.
Asrama itu tidak banyak berubah saat Hermione mengamati sekelilingnya. Semua dipenuhi dengan warna merah tentu saja, dinding, tirai, sofa, dan hal-hal kecil lainnya. Hanya saja barang-barang itu terlihat agak jadul.
'Karena kau pada dasarnya memang terjebak di masa lalu, bodoh.' Dia memarahi dirinya sendiri.
Dia terus mengikuti penyihir pirang itu sampai menyadari bahwa mereka memang teman sekamar. Mereka baru saja masuk kesana dan menemukan sudah ada dua penghuni lain yang hadir.
"Gracelle! Hermione!" Sapa kedua gadis itu.
"Hey," balas Hermione canggung.
Mereka menatapnya dengan bingung, "Kau baik-baik saja?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku.."
"Tentu saja dia tidak. Dia baru saja dibebaskan dari sayap rumah sakit," sahut Gracelle, yang saat ini telah duduk di tempat tidurnya sendiri.
"Oh, benar! Maaf kami lupa. Jadi, apa yang salah?"
"Aku.."
"Gegar otak ringan." Sahut Gracelle lagi.
"Gracelle! Berhentilah memotong perkataan seseorang," tegur gadis dengan rambut merah.
"Maaf. Kebiasaan buruk," katanya. Lalu menoleh pada Hermione, "Sorry, Hermione."
Hermione hanya mengangguk bodoh.
"Hermione, duduklah! Kenapa hanya berdiri disitu, itu melelahkan." Kata gadis berambut gelap.
Dia lalu memutuskan untuk bergerak mendekat ke tempat tidur yang tersisah (karena mereka duduk di kasur masing-masing), tapi dia bingung yang mana miliknya karena ada dua yang masih kosong.
Teman-temannya sepertinya melihat ekspresi bingungnya, "Oh, astaga, apa kau lupa?"
Dia meringis, merasa tidak berdaya.
"Dia bahkan melupakan kata sandi asrama," tambah Gracelle.
Mereka saling pandang sebelum berbalik menatapnya dengan simpatik.
"Kasihan," komentar mereka. "Apa kau bahkan mengingat nama kami?"
Hermione menggeleng, tidak ingin berbohong. Dia menggigit bibirnya gugup.
"Baiklah, kenapa kita tidak melakukan perkenalan ulang? Kita teman, bukan." Mereka dengan ramah menawarkan, yang dia balas dengan senyum bersyukur.
"Kita akan mulai darimu, Gracelle!" kata si rambut merah, setelah memberitahunya yang mana tempat tidurnya, dan dia akhirnya bisa duduk.
Gadis itu akan protes tapi akhirnya menurut, "Gracelle Ollivander. Tahun ke empat Gryffindor, dan sepupu dari Albert Ollivander."
Hermione tersentak, "Ollivander? Tahun ke empat?"
Mereka terkekeh saat melihat reaksinya.
"Yeah, keluarga Gracelle adalah pembuat tongkat sihir terkenal. Pamannya Garrick, adalah pemilik tokoh saat ini. Sepertinya kau belum melupakan segalanya." Canda mereka, "Dan Gracelle di sini seumuran dengan kita, tapi dia telah melakukan loncatan kelas."
"Wow, itu.. mengesankan." Kata Hermione kagum. Dia belum pernah mendengar ada yang loncat kelas sebelumnya, di masanya sendiri.
"Memang," Gracelle tersenyum.
"Sekarang giliranku," kata si berambut merah. "Caleste Prewett. Tahun ketiga tentu saja, dan aku punya seorang kakak laki-laki di tahun ketujuh. Dan dia.." gadis itu menunjuk ke temannya yang berambut gelap tadi.
"Dan aku Potter, Ellena Potter." Katanya.
Hermione berusaha untuk tidak tersentak kali ini, 'Nenek buyut Harry!' tapi suara di dalam kepalanya menjerit.
"Kita masih melewatkan satu orang, tapi dia sedang ada urusan saat ini." Kata Caleste.
Ellena hanya mengangguk, dan Gracelle sudah sibuk dengan bukunya.
"Dia orang yang sibuk, memang." Tambah Caleste.
"Siapa?" Hermione bertanya, penasaran.
"Minerva McGonagall." Sahut Gracelle dari balik bukunya.
Hermione tidak bisa berkata-kata.
Well.. hari Kamis yang benar-benar penuh dengan kejutan bukan?
.o0o.
Setelah sesi obrolan antar teman sekamar yang sangat bermanfaat (mengingat situasinya saat ini), Hermione terlalu lelah untuk memproses, dan memilih untuk merilekskan diri di perpustakaan sore hari itu.
Dia menghabiskan berjam-jam waktunya untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan pembalik waktu. Jika dia beruntung, dia mungkin bisa kembali pulang.
Jarinya membolak-balikkan halaman, berkonsentrasi penuh pada kalimat yang tertulis di dalamnya. Dia tidak akan menyadari ada seseorang di dekatnya, jika suara ketukan di meja tidak menarik perhatiannya.
"Granger." Kata laki-laki yang berdiri di depan mejanya.
Dia meletakkan bukunya dan fokus pada tamu yang tak di undang. Dengan ragu-ragu dia berkata, "Siapa?"
Tapi dia menemukan bahwa laki-laki itu hanya menatapnya, seolah sedang mengamati sesuatu.
"Tom Riddle." Jawabnya tenang setelah beberapa saat keheningan, dan mulai menarik kursi untuk duduk tepat dihadapannya.
Hermione langsung tegang. Tangannya entah kenapa tiba-tiba mulai gemetaran. Dia tidak membayangkan akan bertemu dengan Riddle seperti ini. Secepat ini.. saat dia sedang sendirian pula.
Riddle masih menatapnya. Dingin.
"Ada perlu apa kau denganku?" Dia memberikan diri untuk bertanya.
"Kudengar kau gegar otak ringan. Dan sepertinya memang begitu, mengingat kau bahkan tidak mengenaliku." Jelasnya.
Hermione mengerutkan keningnya, "Darimana kau tau?"
"Abraxas, tentu saja."
"Oh."
Keheningan mengisi lagi saat itu.
Dia mencoba untuk kembali lagi ke bukunya, tapi itu mustahil rasanya, karena ada psikopat gila yang sedang duduk dengannya. Matanya masih menatap buku tapi dia bisa mendengar Riddle yang sibuk membuka isi tasnya.
Akhirnya dia mendongak lagi, dan melihat Riddle telah menata semua buku, tinta, dan pena bulu di meja.
'Apa dia serius akan mengerjakan apapun itu di sini? Di mejaku?' pikirnya heran.
Riddle yang menyadari tatapannya, langsung berkata, "Kau keberatan?"
"Hah?"
"Soal aku yang duduk di sini," lanjutnya.
"T-Tidak," Hermione manggeleng dengan ragu-ragu.
"Bagus." Katanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Dan begitulah sore hari itu berlalu. Dia pasti sudah gila. Menghabiskan waktunya di perpustakaan ditemani oleh Riddle.
.o0o.
Malamnya, dia menemukan dirinya berada di tengah-tengah meja Gryffindor, sedang menyantap makan malam.
Pikirannya masih belum mencerna dengan baik interaksi yang baru saja dia lakukan dengan Riddle. Tapi perutnya menuntut terlebih dulu, dia makan dengan agak lahap saat itu.
"Hermione, kau makan banyak hari ini." Kata Caleste.
Ellena dan Gracella juga ikut menatapnya.
"Biarkan saja dia. Orang yang baru pulih memang selalu butuh asupan tambahan," Gracella menanggapi.
"Benar juga," Caleste menepuk dahinya. "Makanlah, Hermione. Makan yang banyak dan jadilah lebih sehat." Katanya, menyuruhnya untuk melanjutkan makannya.
Dia tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh teman-teman barunya.
Ellena lalu mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di piringnya, "Makanlah, Hermione." Katanya dengan senyum.
'Nenek buyut Harry!' pikirannya menjerit, masih belum terbiasa dengan semua keanehan situasinya ini.
"Terima kasih." Tapi dia tetap tersenyum, membalas keramahannya.
Dia makan dengan tenang setelah itu.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat dia dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke asrama.
Mereka berempat berjalan bersama keluar dari Aula Besar dan akan menaiki tangga menuju Menara Gryffindor, saat dia melihat kilatan rambut pirang yang sedang menuruni tangga dari lain arah.
"Malfoy!" panggilnya.
Teman-temannya yang kaget dengan teriakannya, mengikuti arah pandanganya. Beberapa saat sebelum mereka bertingkah aneh dan cekikikan tidak jelas.
"Kalian kenapa?" Tanyanya polos.
"Tidak ada," kata Ellena. Meraih kedua tangan temannya yang lain dan menyeret mereka pergi, "Kami duluan, Hermione."
Hermione hanya memandang mereka heran sebelum berbalik dan menemui Malfoy.
Saat dia mendekat, dia bisa melihat gelagat Malfoy yang seperti ingin menghindarinya. Pria itu bahkan menghadap ke samping, seolah tidak ingin menatapnya.
"Malfoy?"
"Apa?" Tanya Abraxas.
"Darimana saja kau? Kenapa tidak ikut makan malam? Dan kenapa kau menghadap ke sana, tidak ingin menatapku?" Tanyanya bertubi-tubi.
Abraxas hanya mengerang kesal, "Ck. Bukan urusanmu," katanya dan bermaksud untuk pergi. Tapi Hermione menahan lengannya, dan menariknya untuk berhadapan dengannya.
"Sungguh Malfoy, apa kau marah pada-"
Nafasnya tercekat saat dia melihat wajah Abaxas lebih dekat.
"Abraxas, apa yang salah? Bagaimana kau bisa mendapatkan luka ini?" Tanyanya ngeri. Jari-jarinya secara tak sadar meraba wajah Abraxas yang memar dan berdarah.
Abraxas langsung menyentakkan tangannya menjauh dari wajahnya. "Kubilang.. Ini. Bukan. Urusan. Sialanmu. Granger!" Teriaknya, dan bergerak untuk pergi lagi.
"A-Abraxas.."
Langkahnya panjang dan cepat, membuat Hermione harus berlari untuk bisa mengejarnya.
"Abraxas!" Teriaknya, tapi laki-laki itu tidak mau mendengar, terus berjalan sampai ke area bawah tanah.
"Abraxas! Tunggu!" Hermione berusaha meraihnya, tapi terlambat.
Abraxas berhasil masuk ke asrama Slytherin, meninggalkannya di luar pintu sendirian.
"Abraxas!"
