Disclaimer : I do not own Naruto
Memindai beberapa lembar kertas yang berisi dokumen pribadi, Sasuke mulai membacanya satu per satu—terutama pada bagian pengajuan surat perceraian.
Ya, surat perceraian yang diberikan Sakura padanya.
Sehari yang lalu, tepat sebelum operasi pemulihan Naruto dimulai, Sakura benar-benar berbicara dengan Sasuke mengenai keputusannya. Mereka mendiskusikannya di ruang kerja Sakura di rumah sakit. Sasuke tidak terkejut saat itu, sama sekali tidak. Ia sudah memprediksikan, mengingat segala percakapannya dengan Minato beberapa hari sebelumnya.
Ingatan Sasuke masih cukup segar untuk mengingatnya. Selama ini, ia masih diliputi kebimbangan atas keputusan yang hendak diambil meskipun ia sendiri sudah berniat untuk menyerahkan segala keputusan di tangan Naruto. Namun, entah dirasuki setan apa, Sasuke nekat melakukan saran dari Itachi—saran yang diberikan secara tiba-tiba dan tanpa pertimbangan matang karena Itachi lebih mementingkan dango dibandingkan daya hidup adiknya.
Spontanitas itu dilakukan setelah Sasuke selesai mengunjungi Iwagakure bersama dengan Sandaime dan Yondaime. Selagi Sandaime memilih tinggal di sana untuk bercakap-cakap dengan Ohnoki, Tsuchikage sebelum Kurotsuchi, Sasuke dan Yondaime pulang terlebih dahulu.
Hanya berdua dengan seorang mantan kage yang kebetulan adalah ayah dari perempuan yang kauhamili tentunya tidaklah menyenangkan. Ketegangan di udara terasa begitu mencekik dan Sasuke sadar bahwa itu adalah kali pertama ia merasa terpojok untuk mencoba memulai pembicaraan. Biasanya, orang lainlah yang segan padanya. Mereka akan mencoba mencari-cari topik pembicaraan agar suasana terasa lebih ringan.
Saat itu, Sasuke berada di posisi tersebut.
Ia serasa ingin segera menguburkan wajah atau berteleportasi langsung menggunakan rinnegan supaya tidak perlu bicara empat mata dengan Minato. Seluruh topik pembicaraan di benaknya hanya tinggal mengenai Naruto. Sasuke sendiri sadar dengan konsekuensi yang akan ia dapat jika memulai topik itu.
Segala pembahasan tentang perpolitikan desa dan berbagai macam misi sudah selesai dikupas. Sasuke sudah dalam keadaan deadlock. Padahal, jarak untuk sampai Konoha masih cukup jauh.
Satu hal yang seolah menambah ketidakberuntungan Sasuke—saat itu, cuaca di Amegakure memengaruhi desa-desa di sekitarnya akibat kesalahan teknis dari jutsu yang digunakan Nagato, alhasil Iwagakure dan Konoha yang tidak pernah diguyur hujan badai tiba-tiba merasakannya.
Sasuke terpaksa menepi dengan Minato di sebuah kedai tradisional dan di sanalah sugesti petaka dari Itachi mengambil alih kesadarannya.
"... sudah pulih. Tapi, Godaime melarangku untuk menekannya lebih jauh karena kondisi mentalnya masih rentan. Menurutnya, lebih baik dia tidak terlalu dipojokkan," tutur Sasuke sebelum menyesap segelas sake yang disediakan.
Ia menuangkan Minato segelas sake selagi menunggunya merespon ucapan tadi.
"Kenapa dia merasa dipojokkan? Bukankah dia adalah petugas medis yang memang harus menjalankan kewajibannya?" Minato bertanya dengan lugas. Ia menerima gelas minuman dari Sasuke. "Selain itu, Sakura dan Naruto berteman baik. Dia cukup sering menyelamatkan nyawa Naruto. Jadi, kenapa?"
Sasuke merasa ragu untuk beberapa saat. Ia yakin, gosip mengenainya, Sakura, dan Naruto sudah dihafal oleh seluruh warga Konoha. Sehari yang lalu, ia sempat mendengar para edo tensei Uchiha—yang hampir didominasi pria—membicarakan sesuatu tentang Sasuke dan putri Yondaime. Padahal, lelaki Uchiha tidak pernah tertarik dengan gosip macam itu. Jadi, ketidaktahuan Minato sedikit diragukan Sasuke.
Ia mengerling sesaat pada Minato. Ketika gelasnya diisi ulang oleh sang hokage keempat, Sasuke tiba-tiba mengerti bahwa Minato sedang memancingnya untuk berbicara.
Sake di gelas itu segera ia minum dalam sekali teguk.
"Anda mungkin sudah sedikit mendengar beberapa kabar tentang kami," awal Sasuke. Ia mengisi minumannya sendiri sebelum kembali mengisi gelas milik sang lawan bicara. "Segalanya berkaitan dengan Ōtsutsuki, dia merencanakan kematian palsu Sakura begitu mendapati keberadaan Naruto…."
Cerita itu pun mengalir hingga Minato mengetahui secara jelas bahwa hubungan antara Sasuke dan Naruto benar-benar dimulai saat Naruto menyamar menjadi Sakura. Dalam ucapannya, Sasuke juga menyiratkan bahwa jikalau ternyata Naruto datang bersama Sakura, bukan sebagai Sakura, semua rentetan kejadian ini takkan berakhir serumit ini karena Sasuke tentunya tidak akan secara sengaja merusak keluarganya sendiri.
Naruto juga tidak mungkin mengkhianati sahabatnya. Pendirian Naruto terlampau kuat dan mereka hanya akan terlibat perkelahian yang tidak penting jika Sasuke memaksakan diri. Terpojoknya Sakura tentang topik pengobatan Naruto berkaitan dengan ketakutannya jika ia digantikan oleh Naruto. Singkat kata, Sakura takut keluarganya berantakan.
Minato menyerap informasi itu lamat-lamat. Ia mendengarkan Sasuke hingga efek sake mulai mengambil alih.
Saat itu, kepala Sasuke terasa lebih ringan. Jadi, ia tidak terlalu terkejut ketika Minato tiba-tiba bertanya, "Singkatnya, kau mencintai putriku?"
Sasuke menikahi Sakura tanpa cinta. Ketika mereka menikah, kedua orang tua Sakura juga sudah tiada sehingga Sasuke tidak perlu menghadapi pertanyaan semacam ini. Mendapatkan pertanyaan itu adalah pengalaman pertama di hidup Sasuke. Tanpa minuman keras, ia tidak akan mampu menjawabnya dengan mudah, tidak seperti sekarang.
Jujur saja, ketika ingat dengan percakapan itu, Sasuke benar-benar ingin menguburkan wajahnya dalam-dalam ke bawah tanah. Ia terdengar begitu putus asa dan menyedihkan.
"Sangat," balas Sasuke singkat. Ia menatap gelas kosong di genggamannya. "Aku bahkan tidak tahu mengapa. Rasanya salah, tapi juga terasa benar."
Minato mengangguk saja waktu menanggapinya.
Namun, detik berikutnya ia berujar, "Bukankah dulu kalian sering berkelahi? Kau hampir membunuhnya berkali-kali."
Sasuke akan segera tersedak salivanya sendiri kalau otaknya tidak sedang dipengaruhi alkohol. Tetapi, akibat dorongan sake, Sasuke mudah saja berkata, "Minato-san, masa gelapku banyak dikarenakan oleh Itachi. Dia memintaku membunuh sahabat terdekatku, Naruto, untuk bisa mendapatkan kekuatan mata yang baru. Nyatanya, aku tidak berhasil meski saat itu Naru berhasil kukalahkan."
Sasuke menarik napas pendek. "Dia terlalu gigih, membuatku frustrasi karena kata menyerah tampaknya hilang dari kamus hidupnya. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membunuh—yang lagi-lagi gagal kulakukan karena dia mengalahkanku."
Minato bergumam rendah, "Jadi, kapan kau mulai menaruh perasaan lebih padanya?"
Pertanyaan ini terasa sulit. Sasuke berakhir dengan menggelengkan kepala.
"Entah. Dia sudah memengaruhiku bahkan sejak genin—atau mungkin sejak kami baru masuk akademi, saat aku melihatnya berjalan di tepi sungai Nakano sendirian karena semua teman-temannya sudah pulang bersama orangtua mereka."
Bagian ini membuat Minato terdiam. Ia memandang guyuran air di luar sana sebelum kembali menatap Sasuke. Matanya mengamati jemari si hokage muda yang bebas dari segala bentuk simbol ikatan. Secara hukum, Sasuke masih terhubung dengan Sakura karena kematian Sakura ternyata tidak benar. Namun, lelaki ini tampaknya tidak ingin menunjukkan simbol tersebut.
Pemandangan itu membuat Minato bertanya, "Apakah kau akan menikahi Naru?"
Guyuran air dan sambaran petir di luar sana tiba-tiba terdengar begitu jelas di telinga Sasuke. Efek alkohol yang sejak beberapa saat lalu menyokongnya entah mengapa hilang begitu saja. Sasuke mengalihkan pandangan ke atas meja. Ia mengerjap pelan.
Ide tentang melegalkan ikatannya dengan Naruto memang berhasil membuat darahnya berdesir. Namun, rasa itu dibarengi oleh berbagai penghalang lain yang didominasi oleh masalah rumah tangganya yang sekarang.
Bahkan, saat ini pun ia masih gamang untuk menentukan nasib hubungannya dengan Naruto.
Keraguan Sasuke dirasakan oleh Minato. Ia menghela napas pendek dan menenggak minuman di gelasnya.
"Aku tidak memberimu opsi lain," ungkap Minato lugas. Ketika perhatian Sasuke kembali padanya, ia menambahkan, "Dia hanya kuperbolehkan menjalin hubungan resmi, bukan kucing-kucingan yang membuat namanya menjadi bahan gosip di sana sini."
Kalimat Minato bagaikan pembatas besar yang telah mengatur langkah Sasuke ke depannya. Jawaban ini segera menutup mulut Sasuke. Namun, ketenangannya kembali terusik ketika Minato meneruskan pembicaraan.
"Artinya, kau harus benar-benar serius atau tidak bersamanya sama sekali. Jika kau tidak melegalkan hubungan kalian, kau tidak akan mendapatkan hak asuh dari kedua putramu. Naru mungkin bisa merawat mereka sendiri, tapi aku akan menyarankannya untuk menjauh dari Konoha dan mungkin dia bisa kutitipkan pada Kazekage yang juga bersedia membantunya."
Kini, efek alkohol itu benar-benar lenyap. Mata Sasuke terbuka sepenuhnya.
"Menurut Anda, Kazekage jauh lebih pantas bersanding dengannya?" tanya Sasuke spontan, tidak menyadari nada suaranya yang sedikit meninggi. "Tidak mungkin aku membiarkannya."
"Kalau begitu, ikrarkan perasaanmu padanya di hadapan dewa." Minato menatap Sasuke lurus-lurus, kali ini terasa cukup menusuk. "Bukankah kau yang menyeretnya ke lingkaran masalah ini, Sasuke? Dia tidak akan mengkhianati temannya, katamu. Dari sini jelas sekali bahwa kau yang memulainya meski dia juga menginginkannya. Tapi, sebagai lelaki, kau tidak mau memberinya nama baik melalui hubungan resmi?"
Untuk pertama kalinya, Sasuke tidak bisa membantah apa pun. Ia sering mendengar tentang betapa baik, lemah lembut, dan penyabarnya seorang Yondaime Hokage, Namikaze Minato. Namun, orang yang berada di hadapannya … membuatnya bungkam seperti saat ia dinasihati habis-habisan oleh ayahnya dulu—pria paling kaku, arogan, dan keras yang pernah Sasuke kenal.
Sorot mata Minato berhasil mengirimkan rasa ngeri yang teramat nyata.
Sasuke kembali teringat pengandaian jika Saradalah yang berada di posisi Naruto.
Kini, ia tiba-tiba mengerti.
"Aku akan mengingatnya," balas Sasuke dengan teramat jelas.
Hujan deras masih mengguyur di luar sana. Percakapan mereka sudah memakan waktu lebih dari satu jam, tetapi hujan badai masih belum saja reda. Keadaan ini membuat Sasuke dan Minato memutuskan untuk menerobos hujan. Lapisan chakra di tubuh mereka berhasil menjaga tubuh agar tetap kering. Setidaknya sampai mereka tiba di perbatasan desa, tepatnya lembah akhir.
Selama perjalanan, ketegangan di antara mereka masih belum reda. Sasuke merasakan sesak di dadanya akibat konfrontasi kecil itu. Setidaknya, sampai Minato menghentikan perjalanan di area hutan berpohon tinggi. Ia meminta Sasuke mengikutinya hingga mereka menemukan sebuah area lapang. Minato berdiri di depan Sasuke, membelakanginya. Kemudian, sebelum Sasuke sempat bertanya, sebuah kunai khusus telah melayang tepat ke arahnya.
Refleks Sasuke menyelamatkannya. Ganggang kunai khas yang digunakan sebagai perantara jutsu hiraishin ini mendarat sempurna di genggaman Sasuke. Minato menoleh ketika merasakan tangkapan akurat itu.
Tanpa sedikit pun rasa takjub, ia berujar, "Maukah kau sparring denganku?"
Suaranya terdengar tenang. Tetapi, sorot mata biru gelap itu mengartikan sebaliknya.
Sasuke percaya dengan kemampuannya. Ia tidak menahan diri untuk mengangguk.
"Tapi, yang kuinginkan bukan sparring biasa," tambah Minato. Ia menarik kunai lain dari kantung ninjanya dan memutar gagangnya di tengah jemari. "Kau sudah mempelajari teknik andalanku, benar? Aku ingin kita sparring dengan gaya bertarung itu. Artinya, kau tidak boleh menggunakan kekuatan matamu melebihi sharingan biasa."
Sudah hampir sebulan sejak pertarungan besar dalam peperangan. Sasuke cukup merindukan tantangan. Tawaran Minato pun mengaktifkan adrenalin di diri Sasuke. Ia cukup memahami niat Minato. Ia tahu alasannya menawarkan sesi latihan ini. Geram di mata itu tidak dapat dipungkiri dan Sasuke sendiri ingin membuktikan bahwa ia memang pantas untuk mendapatkan pengakuan dari sang Hokage Keempat, ia memang pantas bersanding dengan putri dari pria itu.
Tantangan Minato disetujui Sasuke begitu saja—dan saat itu, Sasuke menyadari tentang kebenaran ucapan Itachi.
Sifat arogannya masih menetap cukup banyak dan ia jatuh karenanya.
Selama ini, Sasuke terbiasa menggunakan kekuatan Mangekyou Sharingan beserta Rinnegan. Ia memang masih menggunakan teknik-teknik dasar ninja dalam bertarung, tetapi seringkali ia memilih jalan instan dengan menggunakan kekuatan matanya. Tak hanya untuk efisiensi waktu, tapi juga karena efek samping dari Eternal Mangekyou Sharingan hanyalah kelelahan, bukan kebutaan permanen. Sasuke masih mampu menanggungnya.
Jadi, ketika bergerak, Sasuke dikejutkan dengan kecepatan super tinggi Yondaime. Mereka pernah bertarung bersama-sama saat melawan Madara, tetapi ini adalah kali pertama Sasuke bertarung bersama sebagai lawan.
Sebutan bahwa Namikaze Minato bagaikan kilat cahaya tidaklah mengada-ada. Sharingan di mata kanan Sasuke tidak mampu menyaingi gerakan Minato. Ia hanya mampu melihat gerak lambatnya, bukan menebak gerakan seperti yang biasanya ia lakukan.
Secara teknis, pengalaman bertarung kedua orang itu sama banyaknya. Namun, selama ini Sasuke bertarung untuk misi dan mempertahankan diri. Ia tidak terlalu mengutamakan teknik dasar. Satu-satunya hal yang ia lakukan adalah menciptakan gaya bertarung baru yang efisien, tetapi melenceng dari kaidah taijutsu asli.
Asalkan cepat dan menang, aturan itu tidaklah penting.
Sasuke bukanlah Minato yang mendedikasikan hidupnya sebagai guru. Ia bukanlah Minato yang telah menciptakan jutsu sepotensial rasengan yang dulu digunakan Naruto untuk mengalahkannya.
Gaya bertarung Minato mengingatkannya pada Obito dan Kakashi. Kecepatannya menyerupai Tobirama dan variasi rasengan yang digunakan olehnya cukup setara dengan Naruto. Taijutsu khas sage katak juga begitu lekat dengan gaya bertarung Naruto. Tanpa kekuatan penuh matanya, Sasuke terpojok.
Kunci kemenangan Sasuke kini hanya berada dalam jutsu perubahan alam. Guyuran air hujan dan petir di sana cukup menguntungkan Sasuke. Ia tidak perlu memanipulasi cuaca untuk menciptakan Kirin.
Akan tetapi, untuk seseorang yang mampu memindahkan bijuu-dama, Kirin milik Sasuke bukanlah apa-apa. Jutsu petir itu dilenyapkan dengan mudah oleh Minato sedangkan ia kembali melancarkan serangan pada Sasuke melalui teknik hiraishin andalannya dan teknik segel.
Segel buatan Minato berhasil menahan sisa chakra Sasuke hingga titik kritis. Kekuatan Sasuke lenyap begitu saja selagi sebuah rasengan raksasa menghantamnya hingga ia terpental menabrak deretan pohon. Keras hantaman itu berhasil menyebabkan batang pepohonan retak.
Sasuke merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuh. Ia tidak mampu bergerak akibat kemungkinan tulang punggung yang bergeser. Rasa sakitnya luar biasa.
Ketika terbatuk pelan, rasa dan aroma anyir segera memenuhi mulutnya. Kabut chakra yang melindunginya dari hujan pun ikut pudar. Sasuke kini menggigil akibat guyuran air deras itu—air deras yang menghantam luka segar di tubuhnya, mengalirkan nyeri yang tak terperi.
Penyabar kata mereka?
Sasuke kesusahan untuk bangkit terduduk.
Lebih tepatnya monster selevel Madara—atau Itachi.
Realisasi itu tiba-tiba menghantam Sasuke. Ia menahan rasa kesalnya selagi mengumpati Itachi dengan sepenuh hati.
Itachi Sialan, dia pasti merencanakannya.
Prediksi tersebut terkonfirmasi setelah Minato menghampirinya bersama dengan Obito, Itachi, dan Shisui. Ia meminta maaf pada Sasuke—hanya keformalan belaka, Sasuke yakin. Minato sama sekali tidak terlihat menyesal—dan berkata bahwa ia menanti Sasuke untuk makan malam bersamanya dan Kushina esok hari. Sasuke belum sempat mencerna undangan itu ketika Minato berpamitan pergi setelah meminta Obito dan yang lain untuk membantu Sasuke.
Ketiga lelaki Uchiha itu memandangi sang Hokage Ketujuh yang secara teknis adalah seorang Uchiha Termuda di antara mereka.
Shisui memandang Sasuke sesaat dan dengan terang-terangan meledakkan tawa. Obito mencoba menahan tawa, tetapi gagal total. Kemudian, Itachi, ia hanya tersenyum simpul. Tapi, senyum itu sangat menjengkelkan dan membuat Sasuke membutuhkan seluruh kekuatan tekad—yang tidak tersisa banyak—untuk menahan diri agar tidak melayangkan hantaman pada sang kakak.
"Orang-orang menyebutmu sebagai ninja terkuat di masa ini," gumam Itachi dengan menyebalkan. "Kelihatannya kau terlalu percaya diri seperti biasa, Sasuke."
Obito dan Shisui membantunya duduk. Sasuke mengernyit ketika merasakan ngilu yang luar biasa di seluruh persendiannya.
"Tutup mulut, Itachi," tukas Sasuke, datar.
"Ninja Iwa takut padanya bukan tanpa alasan, kau tahu," timpal Obito. Ia menyeringai lebar pada Sasuke. "Tapi, yeah, kau patut mendapatkannya setelah menyakiti banyak wanita."
Komentar-komentar meledek lain berdenging keras di telinga Sasuke. Kalah adalah hal biasa. Ia telah merasakannya beberapa kali, mulai dari kekalahannya dari Kakashi hingga Naruto. Namun, dibandingkan dengan seluruh kekalahan yang pernah ia rasakan, hanya kekalahan ini yang amat membuatnya malu.
Sasuke mencoba menata diri untuk memenuhi ajakan makan malam dari Yondaime di keesokan harinya. Mereka kemudian kembali membahas topik itu hingga sampai pada keputusan bahwa Kushina akan mencoba berbicara pada Sakura. Kata Kushina, rumah tangga Sasuke sudah diujung tanduk. Baik Sasuke maupun Sakura akan menderita jika memaksakan diri untuk mempertahankannya.
"Naru memang anak yang kuat, tetapi akan lebih baik kalau dia punya teman hidup juga," kata Kushina saat itu. Senyum simpul kemudian tersemat di bibirnya. "Serahkan padaku, Sasuke-kun."
Saat itu, Sasuke tidak percaya bahwa Kushina benar-benar mampu merealisasikan ucapannya. Tapi, mengingat kemampuan persuasi Naruto … Sasuke akhirnya tidak heran bahwa Kushina berhasil membujuk Sakura hanya dengan bicara. Itulah mengapa Sasuke tak terlalu terkejut ketika Sakura menyatakan keputusannya.
"Ingatanku sudah sedikit jernih sekarang. Aku ingat, saat itu aku sengaja menawarkan diri untuk menjalankan misi agar bisa menjaga jarak dengan desa ataupun denganmu. Ino sudah berulang kali menyarankanku untuk melakukan sesuatu terhadap masalah kita," ujar Sakura mengawali. Kebimbangan dan sorot perih tampak kentara di matanya. Tetapi, Sakura cukup menguasai diri, tak lagi terbawa emosi seperti beberapa minggu lalu.
"Jika aku selamat dari insiden itu, mungkin aku akan mengambil keputusan yang sama." Sakura menundukkan pandangan. Kedua tangannya saling meremat di atas meja. "Aku tidak bisa terus menjalani hidup bersama orang yang mencintai perempuan lain."
Sakura menatap Sasuke, mengamati sorot bertanya-tanya di wajahnya. Senyuman lemah segera tersimpul di bibir Sakura.
"Sebelum bersamaku pun kau sudah mencintainya, 'kan?" tanya Sakura retoris. "Mungkin kau tidak menyadarinya, Sasuke-kun. Itu karena kau masih belum tahu Naru adalah perempuan, jadi kau mungkin tidak memahami perasaanmu. Selain itu, kalian hampir selalu bersama sehingga tidak menyadari mulai kapan cara pandangmu padanya berubah." Sakura kemudian mengerjap. Ia tampak terkejut pada ucapannya sendiri. Detik berikutnya, ia mengembuskan napas lelah. Kedua tangannya mengusap wajah dengan kasar. "Kenapa aku malah semakin menyakiti diriku sendiri dengan mengatakannya?"
"Kau … sejak kapan kau tahu identitas aslinya?" tanya Sasuke.
Sakura menarik kedua tangannya dari wajah. Ia kembali menatap Sasuke.
"Sejak kita kehilangan dia?"
Kening Sasuke sedikit mengerut. "Dan kau tidak memberi tahuku?"
"Apakah dengan memberi tahumu akan kembali menghidupkannya?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura. Ia hanya mengambil napas pendek sebelum berkata, "Kau mengambil risiko besar dengan menawarkan pernikahan denganku. Bahkan kalaupun bukan karena dia, aku bukan orang yang patut kaupertimbangan sebagai suami."
Sudut bibir Sakura melengkungkan senyum masam.
"Dulu kau mengatakan hal yang sama." Wajah dipalingkan. Sakura tampak menahan segala gejolak emosi dalam dirinya. "Mungkin aku memang terlalu bodoh karena sangat menginginkanmu."
Kesunyian menggantung di udara akibat ketiadaan respon dari Sasuke. Kala itu, Sakura masih merasa berat untuk benar-benar melepaskan. Semua keberaniannya sudah dicurahkan. Ia tak lagi mempunyai sisa tenaga untuk meneruskan pembicaraan ini.
Sasuke, yang sudah lebih baik dalam memahami perasaan orang lain, pun cukup melihat kondisi Sakura. Ia menghilangkan kesunyian itu dengan berterima kasih pada Sakura yang tidak membiarkannya tetap tenggelam dalam penderitaan pasca kematian Naruto.
"Jika tidak kembali ke desa dan mencoba membangun keluarga denganmu, mungkin aku sudah mati tanpa arti," gumam Sasuke. Ia menatap Sakura lurus-lurus. "Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi orang yang kau mau, versi idealmu. Tapi, nyatanya yang kulakukan hanya semakin menyakitimu dan mungkin diriku sendiri."
Kalimat Sasuke tidak mendapatkan jawaban. Sakura menundukkan pandangan, tak mampu lagi berhadapan langsung dengan sosok yang hendak dilepasnya.
"Aku tidak akan menyalahkan keputusanmu dulu karena pada dasarnya kau tetap membantuku," tambah Sasuke, berniat untuk menyelesaikan semua ucapan yang hendak diutarakan. "Kau juga tidak perlu memaafkanku atas semua kesalahan yang kuperbuat. Aku memang bersalah, tapi kuharap, semua kesalahanku tidak membuatmu ikut memutus hubungan dengan Naruto. Dia … sangat menghargaimu."
Sakura seolah kehilangan kemampuan bicaranya. Ia diam saja hingga Sasuke beranjak setelah mengatakan kalimat terima kasih yang terasa perih untuk Sakura. Beberapa saat setelah percakapan itu berlangsung, operasi pemulihan Naruto dimulai. Sebelum memulainya, Sakura melihat Sasuke tengah menunggu di kursi depan. Ia duduk bersama dengan Yondaime, bercakap-cakap tentang suatu hal yang tidak ingin diketahui Sakura.
Rasa perih itu masih ada, tetapi Sakura memberanikan diri untuk menjanjikan pengurusan administrasi perceraian begitu ia selesai melakukan operasi. Pagi hari tadi, ia mengambil berkas itu di Divisi Administrasi dan segera menyerahkannya pada Sasuke setelah memberi serum pemulihan terakhir untuk Naruto.
Semua tekad di mata Sakura, Sasuke dapat melihatnya. Setelah ini, mungkin mereka berdua tidak bisa lagi berteman seperti biasa. Setelah ini, tidak ada lagi keluarga Tim Tujuh yang selalu diidam-idamkan Naruto. Kehadiran Sasuke di antara mereka akan menyebabkan ketegangan yang tidak menyenangkan. Naruto juga akan kecewa karena bagaimanapun juga hubungannya dengan Sakura tidak akan sama lagi seperti dulu.
Sakura memang tidak membenci Naruto. Tapi, ia tentunya belum dapat berperilaku biasa pada Naruto—sosok yang lebih dipilih oleh Sasuke.
Apa pun hasilnya, selalu terdapat konsekuensi yang harus ditanggung.
Sasuke kembali membaca dokumen-dokumen di tangannya. Mulai dari hal-hal terkait hak asuh hingga pembagian kekayaan. Semua isi ketentuan dalam kertas itu tidak ada yang merugikan Sasuke. Satu hal yang membuatnya khawatir hanyalah kesedihan Sarada. Namun, Sasuke tidak berada dalam posisi untuk menenangkannya. Ia sendiri tak bisa membayangkan jika rumah tangganya dengan Sakura tetap bertahan dan ia diharuskan untuk meninggalkan Naruto serta kedua putranya.
Detak jarum jam terdengar nyaring di ruangan itu. Sasuke meraih sebuah pena. Ia membubuhkan beberapa tanda tangan di kolom yang telah disediakan.
Ketika menyelesaikannya, beban tak kasat mata seolah terangkat dari kedua bahu. Sasuke menyenderkan diri di punggung kursi seraya mengembuskan napas rendah.
Keputusan ini sudah benar. Aku tidak akan menyesalinya. Tidak akan pernah.
oOo
Menurut pemberitahuan Shikamaru, rekontruksi desa memang mulai membaik. Rancangan tata letak desa terbaru telah diselesaikan Sasuke—dengan tambahan jalur transportasi darat berupa kereta listrik dan lokasi kompleks perumahan yang mengelilingi pusat desa.
Suatu kali, Sasuke pernah meminta saran pada Naruto mengenai cara menghindari konflik internal desa yang mungkin terjadi. Ia tidak mau lagi tragedi Uchiha kembali hadir hanya dikarenakan rasa ketidakadilan yang dirasakan para klan ini. Naruto menyarankan agar pembagian perumahan masing-masing klan disamaratakan saja. Buat pusat kegiatan berada di tengah permukiman sehingga tidak ada klan yang merasa dikucilkan.
Percakapan itu terasa sudah lama sekali. Naruto termenung ketika mendengarnya. Kenyataan bahwa Sasuke masih mempertimbangkan masukan darinya untuk mengambil kebijakan desa….
Perhatian Naruto kembali pada Shikamaru yang sedang memberi tahu kesibukan Sasuke selama sepekan terakhir.
"Dia jengkel sekali karena tidak sempat menunggumu sadar," tutur Shikamaru. Pucat di wajahnya menunjukan rasa lelah. "Seorang chuunin dengan mendadak melaporkan keributan kecil di perbatasan. Dia sedang menunggu proses pemeriksaanmu yang terakhir, tapi laporan itu mengharuskannya pergi ke tempat kejadian. Aku kasihan pada chuunin tak bersalah itu. Dia kelihatan ingin pingsan waktu berbicara dengan Sasuke."
Naruto mengembuskan napas rendah.
"Kenapa kau memberi tahuku ini?"
"Karena kau minta penjelasan tentang keadaan terkini dan semua keadaan itu berkaitan dengan Sasuke," balas Shikamaru dengan tak acuh. "Dia belum bisa menemuimu karena masalah ini."
Naruto ingin bertanya tentang masalah yang dimaksud Shikamaru. Namun, otaknya masih terpaku pada nama Sasuke, membuatnya sulit berpikir. Kali terakhir Naruto mendapati lelaki itu adalah lima hari lalu—hari ketika ia memutuskan untuk tidak lagi bersama dengan Sasuke.
Keabsenan Sasuke tidak terlalu mengganggunya. Paling tidak, hingga Shikamaru membawa cerita ini. Ia mengingatkan Naruto tentang Sasuke yang seolah masih peduli padanya. Rasa yang membuat Naruto semakin dicengkeram oleh rasa bersalah dan kebimbangan.
"Hari ini mungkin dia bisa berkunjung, kau tunggu saja," ungkap Shikamaru. Lagi-lagi tidak melihat konflik internal di mata Naruto. "Fokuslah pada pemulihanmu. Aku harus menghadiri rapat evaluasi divisi bersama dengan para perwakilan desa."
Naruto mengangguk lemah.
"Semoga beruntung. Jangan lupa pulang kalau kau tidak mau dimarahi Temari lagi."
Reaksi Shikamaru menunjukan bahwa tebakan Naruto memang benar. Ia melambaikan tangan tanpa niat dan bergegas keluar dari ruang kamar pasien.
Naruto termenung selepas kepergian Shikamaru. Selama lima hari ini, ia hanya berada di sini untuk mengonsumsi obat-obatan pahit yang sangat tidak enak. Shizune merupakan perawat utamanya, bukan Sakura ataupun Tsunade. Naruto belum bertemu Sakura selama lima hari ini. Ia belum … berbicara dengan benar padanya.
Rasa tidak nyaman masih memenuhi rongga dadanya.
Naruto bersyukur bahwa keadaannya mulai membaik. Ia sudah mampu berjalan tanpa bantuan kursi roda. Satu hal penting lain, ia sudah dibolehkan menggendong putranya meski belum bisa memberinya asi akibat kondisi hormon yang belum sepenuhnya stabil. Di waktu senggang, Naruto sempat memikirkan nama yang mungkin hendak ia berikan pada kedua putranya. Namun, sebelum ia menetapkan nama itu, batinnya selalu berbisik bahwa Sasuke harus turut andil dalam pemberian nama mereka.
Kau sudah ingin mengambil kedua putranya untuk dirimu sendiri. Satu-satunya hal yang bisa kaulakukan sekarang adalah memberinya kesempatan untuk turut menamai mereka.
Kira-kira begitulah suara batin Naruto—suara yang seolah menggantikan Kurama yang sedang bermeditasi entah sampai kapan.
Naruto begitu mengerling pada jarum jam yang menunjukan pukul lima sore. Selama ini, ia menghabiskan waktu bersama orang-orang yang mengunjunginya. Entah itu Kushina, Minato, Jiraiya, maupun Kakashi. Sejauh ini hanya mereka yang seolah memiliki akses untuk menemuinya. Naruto tidak keberatan. Ia tetap bersyukur karena ia sendiri tidak mau mengganggu kesibukan teman-temannya yang lain.
Menuruni ranjang, Naruto berdiri dan berjalan keluar kamar selagi menyeret tiang penyangga infus. Sore hari selalu ia gunakan untuk mengunjungi si kembar. Naruto begitu ingin melihat wajah polos mereka yang selalu berhasil menyejukkan hatinya.
Kazu–yang pertama. Aku akan menamainya Kazu. Kemudian, untuk si bungsu….
Lamunan Naruto terhenti ketika ia melihat siluet dua orang yang cukup ia kenali. Naruto mengerling pada papan kecil bertuliskan dokter utama yang terpasang di daun pintu. Netranya kembali pada dua figur di dari balik kaca.
Seorang wanita berambut merah muda dan seorang lelaki berambut gelap—Sakura dan Sasuke.
Langkah kaki Naruto terhenti seketika. Ia mengerjap pelan, tak menyadari gerak refleks yang menyembunyikannya dari arah pandang mereka berdua. Naruto bersandar pada dinding di persimpangan koridor itu. Ia menarik napas pendek saat merasakan detak jantungnya mulai bertalu-talu.
Kenapa aku bersembunyi?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya. Ia menggeleng pelan dan hendak melangkahkan kaki. Namun, tubuhnya kaku, menolak untuk beralih dari sana.
Naruto menggenggam tiang infus erat-erat, mencoba mengalihkan rasa tidak nyaman di rongga dada.
Mereka hanya Sakura-chan dan Sasuke. Aku tidak takut.
Kedua kaki dipaksakan bergerak, Naruto hendak berjalan melewati koridor untuk sampai di tempat tujuan ketika lagi-lagi tubuhnya tak mau berkoordinasi. Kali ini, ia berhenti akibat pemandangan yang tertangkap langsung oleh kedua indra penglihatnya.
Naruto terpaku saat melihat sepasang suami-istri itu … berpelukan dengan amat akrab.
Hanya dengan melihat, Naruto bisa merasakan hangat pelukan Sasuke. Hanya dengan melihat, ia teringat dengan berbagai kehangatan yang dibagikan oleh sang pria.
Di detik tersebut, Naruto sadar bahwa sebelumnya, Sakura dan Sasuke pasti telah sering melakukan hal semacam itu. Sebelum Naruto, Sasuke pasti sering bersama dan menghabiskan waktu dengan Sakura. Sebelum Naruto, Sasuke pasti telah memeluk, menyentuh, dan melakukan berbagai hal yang sama pada Sakura seperti yang ia lakukan pada Naruto.
Cucuran ingatan Sakura yang sempat merongrong isi pikiran Naruto selama ia mengandung tiba-tiba saja hadir. Ingatan itu bervariasi. Namun, kini yang tiba di kepalanya adalah memori-memori itu. Rentetan memori manis yang didapatkan Sakura dari interaksinya dengan Sasuke. Memori tentang pernikahan mereka, kelahiran Sarada, dan bahkan memori berupa luapan emosi menyenangkan yang terpatri di wajah Sakura tiap kali ia dan Sasuke menghabiskan malam bersama.
Napas Naruto tertahan tanpa sadar. Ia melihat pelukan mereka terurai. Ia melihat Sasuke masih menggenggam kedua bahu Sakura. Kemudian, saat figur lelaki itu menundukkan kepalanya mendekati wajah si perempuan, Naruto memalingkan wajah. Kakinya ia seret ke arah berlawanan, sebisa mungkin menjauh dari tempat tadi. Sebelah tangan Naruto menggenggam penyangga infus dengan erat sementara tangan yang lain telah bernaung di dada, seolah mencoba menguraikan jerat tak kasat mata yang membuatnya sesak.
Kedua kaki Naruto membawanya entah ke mana. Yang jelas, Naruto membutuhkan tempat sepi yang berada jauh dari tempat tadi. Ia butuh tempat untuk menenangkan diri. Ia butuh tempat untuk meredakan cengkraman kuat di dalam rongga dadanya ini.
Langkahnya melambat ketika ia tiba di sebuah koridor berlampu temaram. Aroma obat-obatan terasa begitu menyengat. Namun, untuk pertama kalinya, Naruto tidak keberatan. Ia menghampiri sebuah bangku panjang dan segera mendaratkan diri di sana. Tubuhnya seolah kolaps dan Naruto tak mengacuhkan sengatan nyeri di pergelangan tangannya akibat selang infus yang sedikit bergeser, menyebabkan aliran darah menodai cairan bening itu.
Pandangan Naruto kosong. Ia mengambil napas dalam ketika bisik-bisik tidak menyenangkan merongrong pikirannya, memberi tahu bahwa sejak awal ia tidaklah pantas bersama Sasuke dan tidak seharusnya ia mencoba bersama lelaki itu.
Entah sejak kapan Naruto menangis. Ia tidak terisak atau tersedu-sedu. Bukti tangisan itu hadir dalam bentuk aliran air mata di pipinya—mengalir tanpa henti dan terjatuh hingga membasahi piyama rumah sakit yang dipakainya.
Naruto tidak sadar bahwa ia sedang menangis. Sampai pada akhirnya panggilan seseorang menelusupi telinganya, menyadarkan Naruto dari gemuruh panas di dadanya.
Naruto menoleh ke sumber suara. Matanya mengerjap, secara tidak langsung membuat genangan air mata di pelupuk matanya tumpah.
"I-itachi?"
Pikiran Naruto terasa kosong. Ia masih dilanda perasaan asing ini. Namun, di saat bersamaan, ia tidak mengerti bahwa sosok di hadapannya memanglah Uchiha Itachi—Itachi yang terlihat begitu normal dan hidup dengan pakaian kasual, bukan jubah Akatsuki ataupun jubah merah khas Edo Tensei.
Seolah tidak melihat cucuran air mata yang membasahi wajah perempuan di hadapannya, Itachi mendorong pintu agar tertutup.
"Kau … sedang apa kau di sini?" tanya Naruto lagi.
"Memeriksa kondisi seseorang di laboratorium khusus ini," balas Itachi lugas. Ia mendekati bangku panjang yang diduduki Naruto. "Bolehkah aku duduk?"
Permintaan izin itu terdengar aneh di telinga Naruto.
"Eh? Tentu saja." Saat lelaki itu sudah duduk, Naruto bergumam, "Kau tidak perlu minta izin begitu, yang benar saja."
Gumaman Naruto tidak ditanggapi.
"Aku baru berniat mengunjungimu. Tapi, kau sudah di sini." Ia memandang Naruto sesaat. "Kau kelihatan berbeda dari terakhir kali kita bertemu."
Ucapannya membuat Naruto mengerjap. Terakhir kali ia bertemu dengan Itachi adalah enam tahun lalu. Jika dihitung dengan waktu di dimensi ini, maka sudah lebih dari satu dekade sejak kali terakhir ia bertemu dengannya.
"Aku bertambah dewasa, kau tahu. Mana mungkin aku tetap jadi bocah remaja," balas Naruto.
Itachi menyilangkan sebelah kakinya.
"Kau sudah melepas segel henge itu."
Fakta bahwa Itachi mengetahui segel tersebut cukup mengejutkan Naruto. Ia tahu bahwa Itachi adalah Itachi, seorang ninja hebat yang hampir mengetahui segalanya. Tapi, mengenai satu rahasia kecilnya ini?
Naruto mudah sekali dibaca. Ucapannya seolah sudah terlukis di tiap ekspresinya.
"Dulu aku sempat menjadi Anbu yang bertugas memantaumu atas perintah Sandaime."
"Kau pernah menjadi korban jebakan prank-ku?!"
"Tentu saja tidak."
Netra Naruto melebar. Ia menunjuk Itachi lurus-lurus, "Oh! Jadi, kau orang yang membalikkan semua prank itu sehingga aku diharuskan membersihkan apartemenku sendiri dari cat-cat itu!"
"Perangkap yang kaupasang masih sangat sederhana dan punya kemungkinan eror tinggi. Seekor kucing bisa tidak sengaja menyenggol tali kawat yang kaupasang dan merusak perangkap itu."
Dahi Naruto mengerut samar.
"Aku memang sempat mendengar kucing," gumam Naruto. Ia mengerling pada Itachi. "Bukankah hewan sakral Uchiha adalah kucing?"
Itachi mengangguk. "Kau tahu dari siapa?"
Secara spontan, Naruto berucap, "Sasuke. Siapa lagi? Dia selalu menyombongkan diri tentang kehebatan…." Kesadaran akan disebutnya nama Sasuke membuat suara Naruto kian lirih. Ia memalingkan wajah. "Lupakan."
Itachi tidak terkejut dengan reaksi Naruto yang demikian. Semua percakapan ini memang dengan sengaja ia arahkan agar Naruto mulai membicarakan Sasuke—yang mudah saja, sebab Naruto hampir selalu membicarakan Sasuke.
"Apakah adikku berbuat ulah lagi?" tanya Itachi terang-terangan.
"Tidak." Suara Naruto terdengar berat. Air matanya kini sudah mulai mengering. "Dia tidak melakukan sedikit pun kesalahan."
Kebohongan di mata Naruto begitu kentara. Itachi yang sudah berpengalaman dalam membaca emosi seseorang tentunya mampu melihat kebohongan itu dengan mudah. Akan tetapi, ia memilih jalan aman dan bertingkah seolah tidak menyadari isi pikiran Naruto.
"Syukurlah. Dia sangat beruntung mempunyaimu di sisinya. Tidak seharusnya dia kembali menyakitimu." Itachi menatap koridor kosong di sekitar mereka. "Kehidupan yang dia miliki sekarang didapatkan berkat bantuanmu. Aku merusak hidupnya dan kau berhasil memperbaikinya dengan menepati janjimu. Aku berutang banyak padamu, Naru."
Naruto terdengar tidak berenergi untuk bicara. Ia hanya bergumam, "Aku teman terdekatnya. Sudah seharusnya aku memperjuangkannya."
"Bagaimana dengan sekarang? Kau masih mau memperjuangkannya?"
Kepala Naruto menoleh. Suaranya terdengar ragu.
"Sekarang?" Mengerutkan dahi samar, Naruto kemudian tersenyum masam. "Bagaimana mungkin aku melakukannya? Aku tidak ingin merusak keluarga orang lain."
"Bagaimana kalau dia sangat putus asa untuk tetap bersamamu?"
Naruto menggeleng.
"Dia sudah bersama Sakura. Tidak mungkin aku berada di antara mereka."
Bibir Itachi melengkungkan senyum samar.
"Kau memang terlalu baik untuk Sasuke," gumamnya rendah.
Naruto sedikit mendengarnya.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Itachi balik bertanya, "Kalau kau memang merelakannya. Apakah kau siap untuk melihat mereka bersama? Siap untuk tetap tersenyum untuk mereka?"
Mulut Naruto setengah terbuka. Jawaban itu sudah berada di ujung lidahnya, tetapi tak ada sepatah kata pun yang terucap.
Citra diri Sasuke dan Sakura beberapa saat lalu kembali hadir di kepalanya. Diikuti oleh serpihan ingatan Sakura tentang kebersamaan mereka.
Naruto memaksakan diri untuk bicara. Tapi, suara Itachi menginterupsinya.
"Terus menerus membohongi dirimu tidaklah baik," tutur Itachi. Ia memandang Naruto yang masih bungkam. "Aku telah melakukan kesalahan yang sama dengan membohongi diriku sendiri, menyangkal keinginanku untuk menjadi kakak yang baik untuk Sasuke, bukan menjadi orang yang paling dibencinya. Keputusanku pada akhirnya berakhir pada kesalahan besar. Aku menyebabkan Sasuke meninggalkan desa dan menjadi ninja kriminal." Ketika Naruto balas menatapnya, ia melanjutkan. "Penyesalan ini kubawa hingga mati. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama."
Naruto termenung lama. Itachi membiarkannya. Ia memberi Naruto waktu untuk menyerap kata-kata itu, untuk benar-benar mengerti maksud ucapan Itachi.
Setelah memberi jeda waktu yang tidak sedikit, Naruto pada akhirnya berujar, "Akan kupikirkan." Kemudian, diliputi keraguan ia bertanya, "Tapi, bagaimanapun juga kami tidak bisa bersama. Bagaimana dengan Sarada dan Saku—"
"Kau hanya perlu bicara pada Sasuke tentang keinginanmu, jangan pikirkan masalah lain dulu." Itachi menyenderkan diri di punggung bangku dan mengerling pada Naruto. "Lagi pula, keponakanku bukan lagi hanya Sarada…."
Saat itu, pipi Naruto pun memanas. Ia menyamarkannya dengan dehaman keras selagi mengalihkan topik pembicaraan pada hal lain. Itachi membantu Naruto untuk kembali ke kamarnya dan berjanji untuk menahan Sasuke agar tidak menemui Naruto sebelum Naruto menyakinkan diri untuk bicara.
Tepat setelah kembali ke kamar, Naruto mendengar suara Sasuke dari luar. Ia menanyakan alasan keberadaan Itachi di dekat kamar Naruto sebelum kemudian suaranya semakin terdengar samar karena ia kian menjauh. Entah apa yang diucapkan Itachi hingga membuat Sasuke menggagalkan niatannya untuk mengunjungi Naruto.
Naruto tidak tahu bagaimana cara Itachi menahan Sasuke. Tapi, ia cukup bersyukur karena sempat bertemu dengan lelaki itu. Melihat Sasuke bersama dengan Sakura terasa menyakitkan untuknya. Ia tidak bisa melihatnya. Ia tidak mampu untuk … melepaskan.
Saat itu, di sela detak jarum jam yang begitu kentara, Naruto berpikir bahwa nasihat Itachi mungkin memang benar. Mungkin, ia hanya perlu memberi tahu Sasuke tentang keinginannya tanpa harus memikirkan hal-hal lain yang menghalangi mereka. []
TBC
