Disclaimer : I do not own Naruto


Naruto tidak bisa tidur.

Perawatannya di rumah sakit memang tinggal satu hari. Ia hanya perlu tinggal di tempat berdominasi cat putih ini sehari lagi, bahkan malah tidak sampai satu hari karena sekarang sudah pukul satu pagi. Yang perlu Naruto lakukan adalah menutup mata dan membiarkan dirinya beristirahat. Daya tubuhnya belum pulih betul. Naruto tahu dan merasakannya. Tapi, ia juga tahu, sejak empat jam lalu ia sudah mencoba beristirahat. Naruto sudah memaksa kedua matanya untuk tertutup, tetapi usahanya sia-sia.

Pikiran Naruto dipenuhi oleh apa yang dilihatnya kemarin. Nasihat Itachi juga terus merongrong kepalanya. Naruto tidak bisa tenang. Pikiran bahwa Sakura dan Sasuke akan melanjutkan hidup bersama membuat dadanya bergemuruh tidak nyaman. Naruto sudah menolak Sasuke dengan berkata bahwa mereka tidak bisa bersama. Jadi, pastilah Sasuke lebih memilih Sakura.

Naruto hanya perlu menunggu pagi tiba sampai ia bisa bertemu dengan Sasuke untuk bicara. Tapi, rasa khawatir yang tidak masuk akal terus menerus mengganggunya—memberi tahu bahwa ia akan terlambat jika terus menunda-nunda.

Satu hal lagi yang membuatnya menyumpahi dirinya sendiri adalah ketakutan yang tiba-tiba ia rasakan seandainya ia benar-benar kehilangan pria itu.

Pemandangan kemarin memengaruhinya lebih banyak dari yang ia kira. Naruto mendadak tidak yakin dengan ide bahwa ia bisa hidup seorang diri. Segala keyakinannya musnah. Ia tak ingin lagi menahan sesak seperti sore kemarin.

Sepasang mata terbuka lebar, menatap langit-langit kamar dengan nanar. Tiap detik yang berlalu meresahkannya. Naruto tidak suka dengan rasa ini. Ketidaknyamanan ini seolah mencekiknya. Waktu tidak akan bergulir dengan cepat hanya karena Naruto menginginkannya. Ia bukan pengendali waktu seperti Urashiki.

Oleh karena itu, Naruto memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia bangkit dari tempat tidur. Matanya memindai selang infus yang masih terpasang lekat di tangannya. Hampir sepuluh detik Naruto terdiam selagi menatap selang infus itu. Segala pertimbangan bersahutan di kepalanya, sampai kemudian tangan Naruto yang lain meraih selang infus dan menariknya lepas.

Gerakan kasar tersebut meninggalkan luka. Darah segar merembes di area tempat infus tadi terpasang. Nyerinya akan membuat orang-orang meringis kesakitan, tetapi Naruto hanya mengernyit samar sebelum meraih sebuah tisu untuk menyeka noda merah darah.

Membuang bekas tisu ke tempat sampah, Naruto bergegas keluar dari kamar. Penjagaan di rumah sakit tidak cukup ketat untuk menahannya. Ia berhasil menyusup keluar dari sana tanpa membuat curiga para petugas medis yang berjaga.

Pintu jendela dibuka dengan satu tangan, Naruto meloncat keluar. Ketiadaan alas kaki membuat Naruto seketika merasakan dingin lantai di luar gedung. Ia mengaktifkan henge biasa—yang cukup menguras tenaga karena aliran chakranya belum kembali normal—dan bergegas menjauh dari rumah sakit.

Jalan-jalan yang dilalui Naruto teramat sepi. Ia tak mendapati banyak orang selain beberapa chuunin yang tengah berpatroli selagi mengobrol ria, tak memedulikan Naruto yang tengah berpenampilan sebagai salah satu dari mereka.

Kedua kaki Naruto mengantarkannya ke pintu keluar area bawah tanah. Dua shinobi yang berjaga di pintu tangga itu berhasil dikelabui hanya dengan sebuah genjutsu sederhana. Mereka tidak melihat Naruto sehingga membiarkannya pergi begitu saja.

Naruto menarik napas dalam selepas sampai di permukaan. Matanya memindai area sekitar yang dipenuhi pepohonan. Kemudian, ketika ia melangkahkan kaki ke area permukiman, matanya dikejutkan oleh berbagai bangunan yang telah kembali. Tempat yang sekarang ia lihat adalah Konoha, bukan lagi tanah lapang dengan banyak bekas pohon tumbang.

Seruak hangat memenuhi rongga dadanya.

Sasuke berhasil membangun ulang desa….

Naruto menahan tawa, tawa yang menertawai dirinya sendiri.

Tentu saja dia berhasil. Apa yang kupikirkan? Dia selalu … membuatku takjub sehingga aku….

Napas dalam diambil. Naruto kembali melangkah hingga ia tiba di gedung pusat desa—gedung administrasi yang sekaligus menjadi pusat regulasi desa ini.

Sasuke adalah orang gila kerja. Naruto sekalipun bisa menebak keberadaannya tanpa harus diberi tahu.

Melepaskan henge di tubuhnya, Naruto mencoba mengumpulkan chakra di kedua telapak kaki. Alisnya mengernyit samar saat merasakan sengatan nyeri di tubuh. Namun, rasa itu hanya sesaat. Naruto segera mengabaikannya. Ia menolakkan kaki di atas tanah dan mulai meloncat ke arah atap.

Tanpa perlu banyak waktu, Naruto sampai di lantai tiga—lokasi kantor hokage.

Jendela di sana tampak terbuka. Tirainya sedikit bergoyang akibat embusan angin. Naruto mendekati jendela, hendak langsung meloncat ke dalam begitu akal sehatnya kembali.

Apa yang nanti akan ia katakan?

Apakah ia memang ingin merebut Sasuke dari Sakura?

Apakah ia ingin menyakiti Sakura?

Kenapa ia sangat terburu-buru kemari?

Rasa gamang kembali merasuki.

Naruto terpaku di tempatnya. Kedua mata menatap kosong langit malam yang sedang dipenuhi bintang. Ia termangu cukup lama hingga keputusan akhir diambilnya.

Tidak. Tidak sekarang.

Naruto bergerak. Ia hendak beranjak turun, tetapi terpaku di tempat ketika sebuah kunai meluncur tepat beberapa inci saja dari sisi wajahnya. Kedua mata Naruto seketika melebar dengan waspada. Pikirannya telah mengantisipasi gerakan refleks, tetapi tubuhnya yang masih lemah menahan pergerakannya. Naruto terlalu lambat untuk menghadapi … Sasuke yang telah berteleportasi tepat di hadapannya.

Detik saat Naruto mengerjap, bilah pedang panjang telah bertengger di lehernya. Dingin bilah besi itu menyengat kulit. Naruto menahan napas selagi terpojok oleh dinding. Detak jantung Naruto masih berpacu akibat serangan tiba-tiba yang sudah lama tidak ia rasakan.

Embusan angin malam menerpa.

Figur Sasuke di depannya menunduk. Telapak tangannya menyibak rambut Naruto yang sedikit menutupi wajah. Nada suara heran campur terkejut terdengar kentara di perkataannya.

"Naru?"

Naruto menahan diri untuk tidak menelan saliva. Sasuke menyarungkan pedang. Kedua tangannya meremas pelan bahu Naruto. Air wajah lelaki itu jelas sekali tidak menerima tindakan sembrono Naruto.

"Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau masih di rumah sakit?" tegas Sasuke.

Satu hal yang tidak diantisipasi Naruto adalah omelan Sasuke.

Naruto sama sekali tidak kepikiran.

Ah, sial.

Otakku rusak.

Mulut Sasuke mengatup tidak suka. Ia kelihatan kesal.

Naruto hendak mengelak dengan berbicara bahwa ia hanya mencari udara segar. Namun, alasan itu hanya akan menambah rasa jengkel Sasuke.

Pada akhirnya, Naruto berujar, "Aku tidak bisa tidur, jadi…." Ia sedikit mendongakkan kepala untuk menatap lurus mata Sasuke. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. K-kau … uhm, tidak ke rumah sakit tadi, jadi kukira sebaiknya aku menemuimu saja."

Kekesalan Sasuke tampak meredup. Ia mengembuskan napas rendah dan menyelentik pelan dahi Naruto hingga membuatnya mengaduh.

"Aku diperbudak pekerjaan," timpal Sasuke masam. "Kau tidak bisa menunggu sampai besok? Aku pasti mengunjungimu."

Bekas selentikan Sasuke di dahinya masih sedikit perih. Ia menggosoknya pelan seraya berucap, "Tidak bisa. Aku perlu membicarakannya sekarang—"

Kalimat Naruto menggantung begitu saja akibat tarikan Sasuke di tangannya. Sepasang mata memindai nanar rembesan darah di titik infus Naruto.

"Kenapa kau terus-terusan menyakiti diri?" tukas Sasuke tidak percaya.

Naruto mencoba menarik tangannya kembali.

"Tidak sakit. Aku tidak apa-apa—" Kedua mata Naruto melebar kala Sasuke membopongnya tanpa aba-apa. Lelaki itu membawanya masuk ke dalam kantor melalui jendela yang terbuka. "Hei, aku bisa berjalan sendiri!"

Protes Naruto tidak diacuhkan. Sasuke baru menurunkan Naruto setelah menghampiri sebuah sofa.

Sarung pedang dilemparkan ke kursi kerjanya. Sasuke mengambil kotak obat darurat sebelum kembali menghampiri Naruto.

"Kecerobohanmu bukan main," tutur Sasuke datar. Ia berlutut di depan Naruto dan kembali menarik tangan Naruto yang terluka. "Chakramu masih belum stabil. Hanya karena lukamu bisa sembuh dengan sendirinya bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya."

Naruto menahan rengutan. Ia hendak protes, tetapi ia tahu tindakannya memang salah. Jadi, ia pun mencari alasan lain dengan berujar, "Luka ini tidak akan membunuhku atau semacamnya…."

Gerak jemari Sasuke yang tengah membersihkan rembesan darah itu berhenti. Ia memandang tangan ringkih Naruto selama beberapa saat. Kemudian, ketika Naruto mengira bahwa kalimatnya tadi tidak akan dibalas, suara Sasuke terdengar—terdengar rendah, tetapi cukup membuat Naruto terpaku.

"Kau tahu apa yang kupikirkan saat tidak dapat merasakan denyut nadimu?" Sasuke mendongak. Ekspresinya sedikit menggelap. "Aku ingin membunuh diriku yang sangat tidak berguna. Kematianmu bukan candaan. Aku hampir kehilanganmu untuk kedua kalinya."

Kilat mata Sasuke menunjukkan rasa perih yang menyengat batin Naruto. Mulut Naruto segera terkatup. Ia menundukkan pandangan.

"Maaf," bisiknya.

Sasuke lanjut membersihkan noda darah di tangan Naruto. Ia memberi antiseptik sebelum merekatkan plester untuk menutup luka itu.

"Kau masih saja seperti anak-anak," komentar Sasuke, seketika menambah rasa kesal Naruto. "Berapa usiamu? Dua belas?"

Naruto merengut tidak terima.

"Dua satu, hendak dua dua. Jangan mentang-mentang di sini kau lebih dewasa dariku terus kau bisa mengejekku seenak mulutmu," sergah Naruto. "Masih menjengkelkan saja," gumamnya lagi.

Di hadapan Naruto, Sasuke menahan tawa. Ia berdiri untuk mengembalikan kotak obat. Dari kejauhan, ia berujar, "Lagi pula, kau tidak peduli dengan kemarahan Godaime dan malah ke sini. Sangat merindukanku?"

Kedua mata Naruto kontan melebar. Wajahnya mulai memanas.

"Yang benar saja," gerutunya. Ia menatap Sasuke jengkel. "Aku hanya ingin bicara. Selain itu…." Sasuke tengah berjalan kembali menghampiri Naruto saat melihat ekspresi masam perempuan itu. "Kau—berhentilah berbicara seenak matamu. Jangan terus menerus mengatakan sesuatu seperti tadi jika kau sudah dengan orang lain!"

Kening Sasuke mengerut samar.

"Dengan orang lain?" beonya.

Naruto semakin menekuk wajah masam.

"Dengar, Berengesek," tutur Naruto jengkel. "Kau memintaku untuk tetap bersamamu dan semacamnya. Tapi, kau malah—" Lidah Naruto terasa kelu. Sasuke menatapnya heran. Lantas saja, rasa geram pun kembali menghampiri Naruto. "—kau malah … tetap bermesraan dengan orang lain. Apakah satu wanita saja tidak cukup buatmu sampai kau mau bersama dengan kami sekaligus? Begitu? Lebih baik aku menemani Gaara—"

Sasuke mengerjap.

"Apa yang kaubicarakan?" ungkapnya. Ia mengernyit sebelum menatap Naruto tidak suka. "Kenapa juga kau membawa-bawa nama Kazekage itu? Ayahmu mengatakan sesuatu?"

"Tentu saja tidak. Untuk apa ayah ikut campur urusanku?" tanya Naruto tanpa tahu segala hal yang telah terjadi di antara lelaki di depannya ini dengan sang ayah. "Aku membicarakanmu, yang dengan menjengkelkan tetap bersama Sakura-chan meski kau berjanji ini itu padaku. Kalau kau memang ingin bersamanya, katakan saja. Jangan membohongiku dengan ini itu tapi tetap—"

"Kau melihat sesuatu?" potong Sasuke. "Kau melihat kami?"

Tiba-tiba saja, Sasuke sudah duduk di sebelahnya. Naruto terpaku untuk sesat. Ia sedikit tergagap.

"A-aku tidak sengaja melihatnya," gumam Naruto spontan. Ia mengalihkan wajah, enggan menatap Sasuke. "Kemarin sore. Di ruang kantor Sakura-chan. Waktu itu, kau…." Naruto mengembuskan napas kasar. Ia mengusap dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Lupakan saja."

Wajah Naruto panas, sama seperti gemuruh di dadanya. Ia menunggu Sasuke bicara atau setidaknya membalas ucapannya tadi. Namun, hanya keheningan yang menguasai. Kalimat Naruto seolah meninggalkan jejak pekat, secara tidak langsung turut mendukung keheningan ini.

Paling tidak hingga Naruto mendengar dengkusan tawa seseorang. Telapak tangan ditariknya dari wajah. Naruto mengerling dan mendapati Sasuke yang sedang menahan tawanya dengan sekuat tenaga.

"Kau … cemburu?" tanya Sasuke, masih dengan wajah yang tersenyum geli. "Jadi, kau memerlukan dua kali perang untuk bisa cemburu pada orang lain yang mendekatiku?"

Mulut Naruto sedikit terbuka. Ia menahan keinginan untuk memukul kepala lelaki di hadapannya.

"Kau meledekku?" seru Naruto tidak terima. Mulutnya mengatup. Ia memalingkan wajah. "Manusia es tidak berperasaan," tutur Naruto.

Perlu beberapa detik bagi Sasuke untuk meredakan keinginannya untuk tertawa. Ia berdeham rendah sebelum menyenderkan bahunya di punggung sofa. Sasuke duduk menghadap Naruto yang masih memasang wajah masam, kentara sekali tidak senang diledek atas penderitaan yang dirasakannya.

Manik obsidian menatap si pirang lekat. Mengamati rupa yang selama ini hanya mampu ia pandang dalam kondisi pucat dan tidak berdaya. Kini, sosok yang selama ini terlelap telah kembali hadir di depannya—sepenuhnya hidup dengan berbagai macam ekspresi yang sejak dulu selalu mudah dibacanya, berbagai ekspresi yang selalu hadir di kepala Sasuke.

"Itulah yang kurasakan jika kau bersama dengan Gaara atau pria lain," ujar Sasuke pada Naruto. Ia meraih tangan Naruto yang tidak terluka dan menggenggamnya. "Rasanya mengesalkan, 'kan? Aku selalu ingin melenyapkan nyawa laki-laki lain yang dengan kurang ajar menyentuhmu…."

Kepala Naruto seketika menoleh.

"Aku tidak berkeinginan untuk membunuh Sakura. Kau juga tidak boleh menghakimi orang lain hanya karena mereka berinteraksi denganku—"

"Seperti bedebah daimyo yang dengan terang-terangan menyatakan ketertarikannya padamu ataupun Gaara yang dengan idiot menyatakan perasaannya padamu meski kau sudah bersamaku?" tukas Sasuke cepat. Ia mengusap pelan jemari Naruto dan mengembuskan napas rendah. "Mereka bukan hanya orang lain buatmu."

Naruto menatap jemari Sasuke yang masih memainkan jemarinya. Tindakan ini … Naruto tidak mengerti.

"Sama seperti Sakura-chan. Dia juga bukan orang lain. Dia istrimu dan dia mencintaimu. A-aku, tidak seharusnya aku marah padanya. Tapi…."

"Apa yang kaulihat?" tanya Sasuke lagi.

Naruto menarik tangannya dari Sasuke. Ia memeluk dirinya sendiri sembari mengalihkan wajah.

"Kau … menciumnya, 'kan?" gumam Naruto dengan pahit. "Kau memeluknya juga. Kalian tidak bersalah. Mungkin, aku saja yang belum benar-benar siap melihatnya. Aku saja yang belum bisa menuruti ucapanku sendiri untuk menyudahi semua ini denganmu."

Gelitik terhibur itu lenyap. Rasa frustrasi di suara Naruto terdengar pekat. Sasuke merasakan kebimbangannya, konflik batinnya, dan berbagai gejolak emosi yang dirasakan Naruto. Menyatakan semua itu pasti sulit untuk Naruto. Dengan nilai yang dipegangnya, ia akan selalu merasa salah karena kesal pada Sakura—karena menganggap bahwa dirinya mengkhianati Sakura.

Sasuku mengerti maksud kejadian yang diucapkan Naruto. Sore itu, ia memang menemui Sakura untuk menyerahkan dokumen perceraian yang sudah ditandatanganinya. Sakura berterima kasih sekaligus meminta maaf karena selama ini telah begitu egois. Ia mengaku bahwa pada saat itu pun ia masih merasa egois karena masih ingin memeluk Sasuke untuk terakhir kali. Permintaan itu terdengar sederhana saja bagi Sasuke. Namun, bagi Sakura, pelukan yang ia minta adalah hal yang amat berharga.

Sasuke melihat kilas putus asa di mata itu, jadi ia pun melakukannya, sekaligus sebagai rasa terima kasihnya pada Sakura karena telah memberi mereka jalan.

Sasuke tidak mengerti mengapa Naruto mengasumsikan bahwa mereka melakukan kontak lebih dari pelukan. Kalau tidak salah, saat itu Sakura secara tidak sengaja menjatuhkan map berisi dokumen. Sasuke menyudahi pelukan dengan maksud hendak mengambil map yang terjatuh.

Setelahnya, tidak ada kontak fisik lain yang terjadi.

Lagi pula, Sasuke juga tidak akan berkenan jika diminta untuk memberi kecupan terakhir di bibir sang istri. Bukan hanya karena ketidakinginan, tetapi juga karena Sakura tidak berhak mendapatkan kepalsuan bentuk kasih semacam itu lagi. Ia tidak ingin memberi Sakura harapan lebih yang tidak bisa dipenuhinya.

Sasuke beringsut mendekati Naruto. Ia mengulurkan tangan, menangkup sebelah pipi sang perempuan agar mau kembali menatapnya. Bibir pucat Naruto mengatup. Ia tampak enggan berbicara. Matanya pun masih mencoba menghindari mata Sasuke.

"Hei," tutur Sasuke. Jemarinya mengusap lembut kulit wajah Naruto. "Katakan, kau tidak ingin menyudahi semua ini denganku? Apa yang kauinginkan?"

Naruto menatap nanar jendela yang terbuka, memperhatikan tirai yang terembus oleh angin malam alih-alih mencoba memfokuskan diri pada ucapan Sasuke.

Kembimbangan itu kembali menerpanya saat Sasuke memperlakukannya seperti ini. Bukan karena ia yang tak senang melihat sisi Sasuke yang demikian, tetapi karena rasa bersalah yang kembali mencengkeram akibat bisikan bahwa ia mengkhianati Sakura.

Beberapa bulan lalu, Naruto perlu waktu lama untuk menerima perasaannya tanpa rasa bersalah. Ia mampu menerimanya karena Sakura memang telah tiada. Kini, dengan kembalinya sang sahabat, berat bagi Naruto untuk menyatakan keinginannya….

Kalaupun aku ingin, apa yang bisa kami lakukan? Aku tidak mungkin meminta Sasuke meninggalkan Sakura-chan dan Sarada. Aku tidak mungkin—

Kedua mata Naruto sedikit melebar ketika hangat bibir Sasuke menerpa bibirnya. Aroma musk khas sang pria segera dirasakan Naruto, dengan singkat mendominasi indra penciumnya. Naruto masih belum sepenuhnya sadar. Ia hanya merasakan telapak tangan Sasuke di belakang kepalanya. Juga hidung bangir yang sedikit menekan pipinya.

Ide bahwa Sasuke tengah menciumnya baru tiba di kepala Naruto saat ia merasakan sesapan pelan di bibirnya. Diikuti oleh lumatan dan usapan lidah sebelum Sasuke menarik dagu Naruto agar ia membuka mulutnya.

Ketika ciuman diperdalam, napas Naruto pun terengah. Ia perlu meremas pelan bahu Sasuke agar mereka menyudahinya.

"Untuk apa itu?" tanya Naruto dengan sirat tidak menyangka. "Sudah kubilang, kau harus berhenti bertindak semaumu jika memang ingin bersama dengan—"

"Akhirnya kau mau melihatku juga," gumam Sasuke, memotong ucapan Naruto. "Apakah aku harus selalu menciummu dulu agar kau mau melihatku?"

Rona kemerahan cukup kentara di wajah pucat Naruto.

"Sasuke…." keluh Naruto.

Yang dipanggil menatapnya sesaat sebelum mengembuskan napas rendah. Ia menarik tangannya dari Naruto dan memberi sedikit jarak di antara mereka.

"Jawab pertanyaanku."

Naruto menatap Sasuke ragu. Rasanya begitu ingin kembali menghindar, tetapi nasihat Itachi terngiang di kepalanya. Permintaan Naruto mungkin akan sangat terdengar egois hingga ia tidak ingin mengakuinya. Namun, ia juga tidak ingin menyesal. Ia tidak ingin terganggu oleh rasa tidak menyenangkan yang ia rasakan tiap melihat Sasuke bersama dengan Sakura. Ia tidak ingin membiarkan kedua putranya … hidup tanpa kehadiran figur ayah.

Aku tidak ingin mereka merasakan apa yang kurasakan ketika kecil dulu.

Jika nantinya mereka tahu bahwa ayah mereka ternyata meninggalkan kami….

Jejak hidup seorang Uchiha tidak pernah baik. Kutukan kebencian itu sudah diputus di tangan Sasuke. Meskipun begitu, tidaklah mustahil jika kedua putra Naruto nanti menyimpan ketidaksukaan pada ayahnya sendiri akibat keputusan sepihak yang diambil Naruto. Bagaimana jika ia tidak mampu mendidik mereka seorang diri? Bagaimana jika mereka mengharapkan figur ayah sebagai panutan?

Selama ini, Naruto memang menyamar sebagai pria. Tetapi, bukan berarti ia benar-benar tahu cara berpikir makhluk itu. Terutama Uchiha yang begitu gemar memasang topeng datarnya.

Membasahi tenggorokannya, Naruto pun mengatakan itu. Ia mengutarakannya di depan Sasuke, memberi tahu bahwa sebenarnya ia ingin melanjutkan hubungan mereka, bahwa ia ingin Sasuke bersamanya sehingga mereka mampu membesarkan si kembar bersama-sama.

"... aku tidak pernah hidup bersama keluarga sedarah. Semua ini baru buatku. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, bagaimana cara mendidik anak-anak supaya bisa menjadi orang yang membanggakan. Kau mengajari Sarada banyak hal dengan caramu sendiri sehingga dia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Aku … tidak terlalu mengerti cara menghadapi balita atau mengajari hal-hal dasar selain kemampuan ninja pada mereka. Itu karena aku sendiri—kau tahu—payah dalam urusan belajar. Jadi…."

Naruto tak bisa menahan tatapannya di mata Sasuke. Di detik terakhir, pada akhirnya ia mengalihkan pandangan juga. Kedua tangannya mengepal pelan.

"Kau … aku ingin kau tetap bersamaku."

Ucapan Naruto menggantung di udara, merambat memenuhi kesunyian, dan terputar selama beberapa kali di kepala Sasuke.

Netra obsidian mengamati figur perempuan di depannya lekat-lekat. Ia melihat raut khawatirnya, raut bersalah yang begitu ingin dilampaui. Naruto berhasil melakukannya. Untuk pertama kali, ia mau mengutarakan keinginannya atas dasar kepentingannya sendiri, bukan untuk orang lain. Untuk pertama kali, ia mau mengutamakan dirinya, bukan lagi orang lain.

Tak ada alasan bagi Sasuke untuk tidak merasa senang. Tidak ada alasan baginya untuk tidak menghargai perjuangan Naruto yang telah berhasil melawan prinsip moral yang sedari dulu menjeratnya.

Rongga dada Sasuke penuh oleh kehangatan. Ia tak bisa untuk tidak merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa untuk tidak merasakan hangat tubuh itu di tangannya.

Naruto menahan panas di pelupuk matanya selagi merasakan dekapan erat Sasuke. Jemari Sasuke mengusap pelan rambut panjang Naruto. Embusan napasnya menggelitik lekuk lehernya.

"Idiot, kenapa kau tidak mengatakan ini sejak kemarin?" gumam Sasuke di sela pelukan. "Kukira aku akan gila karena terlalu lama menunggumu."

Naruto pada akhirnya menangis juga—menangis sesenggukan seperti anak kecil.

"Jangan bilang seperti itu, Sialan. Jangan memberi harapan palsu," oceh Naruto sambil mencengkeram kemeja yang dikenakan Sasuke. "Kalau begini, aku semakin sulit menjauh—hey!"

Sasuke merasa sangat gemas pada Naruto. Ia segera mengangkat perempuan itu agar terduduk di pangkuannya.

Pelukan diuraikan. Ia melihat Naruto menyeka air matanya dengan kasar sebelum berusaha mencoba untuk turun dari posisi duduknya.

Kedua tangan Sasuke yang bernaung di masing-masing pinggang Naruto berhasil menahannya.

"Diam di tempat," perintah Sasuke, tidak mengerti dengan Naruto yang masih saja berusaha menolak kontak fisik mereka.

"Tidak. Jika seseorang melihatnya—"

"Tidak orang lain di sini selain kita," sergah Sasuke. Ia menatap Naruto lurus-lurus. "Kau sudah menjelaskan keinginanmu. Sekarang, giliranku."

Naruto menyipitkan mata. Kedua tangannya bertumpu di masing-masing bahu Sasuke.

"Aku sudah tahu. Kau juga ingin bersamaku dan omong kosong lainnya. Tapi, kau tetap akan bersama Sakura-chan karena kau tidak bisa meninggalkan keluargamu—"

Suara Naruto hilang dengan tiba-tiba bersamaan dengan bergantinya warna manik mata Sasuke menjadi kemerahan.

"Bukankah sudah kubilang untuk diam dulu?" ungkap Sasuke tanpa sedikit pun rasa bersalah. Ia mengabaikan kedua mata Naruto yang telah membeliak terkejut. "Dengar, pertama, ucapanku bukan omong kosong," tandas Sasuke, mengklarifikasi tuduhan Naruto padanya. "Kedua, aku tidak akan melanjutkan pernikahanku dengan Sakura. Sampai sini, kau paham?"

Naruto mengerjap. Matanya tak membeliak, tetapi sorotnya berubah bingung. Banyak pertanyaan tak terjawab di mata itu.

"Karena aku ingin bersamamu. Atau mungkin kau ingin aku tetap bersamanya selagi bersamamu juga?" tanya Sasuke datar.

Kedua mata Naruto sedikit melebar. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.

Sasuke mengangguk pelan. Ia menangkup rahang Naruto dengan sebelah tangannya, mengusap sosok itu pelan.

"Good girl," komentarnya selagi menyematkan senyuman miring.

Di hadapannya, wajah Naruto langsung bersemu kemerahan. Ia memukul bahu Sasuke keras dengan mata menyuarakan satu hal yang dimengerti Sasuke.

Tangan Naruto ditangkapnya. Ia menggenggam telapak tangan itu dan menautkan jemari mereka.

"Kurasa lebih baik kau diam dulu," gumam Sasuke selagi menarik Naruto mendekat. Tangannya yang lain meraih tengkuk Naruto dengan kasual. "Kau sangat manis saat menurut."

Detik berikutnya, Sasuke kembali menyatukan bibir mereka. Erang protes Naruto tertahan di mulutnya. Ia menyapu bibir Naruto pelan dan memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman.

Tangan Naruto yang lain meremas bahu Sasuke. Protesnya mereda seiring waktu. Ketika mereka menyudahinya, napas Naruto sedikit memburu. Ia melihat pupil mata Sasuke yang sedikit membesar dari beberapa saat lalu. Setidaknya, ia masih melihat hal itu hingga warna mana sang lelaki berubah menjadi kemerahan selama beberapa saat.

"Sakura mengajukan perceraian. Dia sendiri yang memintanya. Segala hal di antara kami sudah selesai. Tadi pagi, secara sah kami sudah tidak lagi terdaftar sebagai suami-istri," tutur Sasuke sambil lalu, tidak memperhatikan raut terkejut di wajah Naruto. Ia menggenggam masing-masing sisi pinggang Naruto untuk menurunkannya dari pangkuan. "Segalanya sudah beres. Sekarang, sebaiknya kau kembali ke rumah sakit sebelum Godaime tahu dan mengomeli—"

"Tunggu." Naruto masih berpegangan di kedua bahu Sasuke. Ia mengerjap ketika merasakan suaranya lagi. Keterkejutan itu ia redam. Naruto memfokuskan diri pada pernyataan Sasuke tadi. "Kenapa kau baru mengatakannya?" tutut Naruto.

"Karena aku ingin mendengar keinginanmu dulu. Sekarang, kau akan kembali ke rumah sakit—"

Naruto menolak untuk turun. Ia ikut menggenggam tangan Sasuke selagi mempertahankan posisinya.

"Tidak, tidak. Kau masih harus menjelaskan banyak hal tentang apa yang terjadi padamu dan Sakura di kantor itu kalau kalian memang bercera—"

Suara Naruto menghilang secara perlahan begitu ia merasakan … keras sesuatu yang didudukinya. Sorot mata Naruto langsung kosong. Ia mengerjap dengan mulut setengah terbuka.

Sasuke menyugar kasar rambutnya. Wajahnya sedikit memanas saat Naruto bergumam, "Kau … terangsang? Di saat seperti ini?"

Kedua tangan Sasuke semakin erat menggenggam pinggang Naruto.

"Turun," tukas pria itu selagi kembali mencoba menurunkan sosok di hadapannya.

"Uh, kau memang benar-benar mesum, Hokage-sama."

Sasuke tidak menyangka bahwa ia akan balik diejek begini. Ia sudah tahu bahwa mencicip bibir Naruto barang sedikit saja akan menimbulkan konsekuensi besar. Ia juga tahu bahwa membawa Naruto ke pangkuannya bukanlah hal bijak. Tapi, ia juga tak bisa menahan refleksnya sendiri. Pernyataan Naruto akan perasaannya sudah cukup mematik kebahagiaan Sasuke. Tapi, ciuman dan ekspresi perempuan ini….

"Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bersama," tutur Sasuke datar. "Sebagai pria, reaksiku sepenuhnya normal. Sekarang, turun—"

"Tidak. Kau masih harus menjelaskan—"

"Sakura berkata bahwa dia sudah menyerah dengan pernikahan kami dan akan tetap memilih perceraian ini kalaupun insiden di bukit itu tidak menimpanya. Dia juga memberi tahuku bahwa dialah yang memintamu menggantikannya. Dia yang memulai awal hubungan kita. Sudah cukup jelas? Kau sebaiknya turun dari pangkuanku sekarang."

Naruto membalas, "Aku akan turun, tapi aku tidak mau langsung kembali ke rumah sakit."

Sasuke mengernyit samar.

"Kau menyusup keluar selarut ini. Godaime akan murka—"

"Aku sering kena marah olehnya. Konsekuensi ini aku tanggung sendiri," tukas Naruto. Ia memandang Sasuke sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke sembarang arah asal bukan kedua netra lelaki itu. "Selain itu, jika memang kau sudah tidak terikat lagi dengan Sakura-chan, aku ingin … menemanimu di sini. Pekerjaanmu menumpuk. Kau pasti lelah dan aku tidak bisa membantu sejak bulan lalu. Jadi, setidaknya aku ingin menemanimu."

Kalimat Naruto tidaklah diantisipasi Sasuke. Nada rendahnya menggelitik telinga. Sasuke mengerjap dan mengumpat di dalam hati saat merasakan bahwa kondisinya tidaklah membaik.

Dengan duduk di pangkuan Sasuke, Naruto pasti merasakannya juga. Kenapa ia tidak kunjung mengerti?

"Aku sudah selesai malam ini," tutur Sasuke pelan. Ia meraih pergelangan tangan Naruto, menggenggamnya. "Aku akan mengantarmu kembali rumah sakit."

Pada akhirnya, Naruto mengangguk.

Sasuke membereskan ceceran dokumen di mejanya dan menyimpan beberapa senja ninjanya di sana. Naruto berdiri mengekori Sasuke yang hendak keluar melalui jendela alih-alih pintu. Naruto tidak memprotes karena ia juga lebih senang memakai jendela dengan alasan keefisienan waktu.

Akan tetapi, ketika ia hendak meloncat keluar, Sasuke yang sudah di luar sana menghentikannya. Ia mengedikkan kepala ke arah punggungnya sendiri.

Naruto mengerjap. Ia perlu beberapa detik hingga benar-benar mengerti.

Reaksinya adalah seruan penolakan.

"Aku bukan anak kecil. Jadi, tidak. Terima kasih banyak."

Sorot mata Sasuke terlihat menjengkelkan.

"Ini perintah dari hokage."

Naruto merengut sebal. Ia hendak beralasan bahwa ia lebih dari mampu untuk berjalan. Tetapi, sebelum ucapannya terealisasi, ia sudah terhuyung akibat rasa pening di kepalanya. Kemungkinan besar akibat keputusannya tadi yang memaksakan diri menggunakan chakra.

Sasuke yang melihatnya pun menaikkan sebelah alis.

"Jadi?"

Kenapa Sasuke selalu berhasil mempermalukannya?

"Kau tidak akan menjatuhkanku di tengah jalan lagi seperti dulu," awas Naruto.

Sasuke mengangguk dengan tidak meyakinkan.

Naruto memelototkan mata.

"Kau akan mati kalau melakukannya lagi. Aku serius, Sasuke!"

"Ya, ya, kau bisa membunuhku kapan saja. Sekarang, cepatlah."

Naruto menggerutu pelan perihal perilaku menjengkelkan Sasuke. Namun, ia tetap melakukan permintaannya. Kedua tangan Naruto memeluk leher sang lelaki dari belakang. Ia menghirup pelan harum khas musk yang menggelitik hidung sebelum kemudian menyandarkan kepalanya di punggung bidang Sasuke.

Tubuh Naruto merileks. Sasuke menahan senyum saat merasakannya. Ia memegang erat kedua kaki Naruto dan meloncat menuruni gedung pusat tersebut.

Ketika berjalan, Naruto mengistirahatkan kepalanya di bahu Sasuke. Rambut pirangnya sedikit menggelitik telinga Sasuke, tetapi cukup mampu ditoleransi oleh sang Uchiha.

"Ne, Sasuke," panggil Naruto.

Angin malam berembus pelan. Naruto mengeratkan pelukan.

Di depannya, Sasuke bergumam rendah sebagai tanda bahwa ia mendengarnya.

"Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi kalau dulu perang besar itu tidak terjadi dan aku dari dimensi ini akan tetap hidup."

"Yang pasti, kau akan berada di posisiku sebagai hokage."

Senyuman lebar tersemat di bibir Naruto.

"Tentu saja. Aku akan menjadi hokage karena aku hebat dan kau payah."

Sasuke mendengkus mengejek.

"Ucapkan itu setelah kau terjebak di kantor dengan gunungan dokumen desa dan ratusan undangan pertemuan politik."

"Ha! Kau menganggapnya sulit karena kau tidak lebih hebat dariku. Aku bisa mengatasi dokumen-dokumen itu dengan mudah menggunakan kage bunshin. Pertemuan politik juga tidak seburuk itu, tahu."

"Menurutmu aku tidak bisa menggunakan kage bunshin? Kau juga akan menarik perkataan tadi kalau sudah benar-benar menghadiri jamuan para daimyo dan para pejabat penjilat itu."

"Alasan…." balas Naruto dengan nada mengalun.

Sudut mata Sasuke berkedut.

"Kalau begitu, sebaiknya di periode pemerintahan ini kau mulai membantuku."

"Tentu saja. Aku akan bekerja lebih baik darimu."

Decakan Sasuke membuat Naruto tertawa. Mereka masih lanjut berjalan menuju pintu bawah tanah.

Naruto melanjutkan percakapan mereka.

"Selain aku yang mungkin menjadi hokage, kira-kira apalagi yang bakal terjadi kalau perang itu tidak ada?"

Langkah Sasuke memelan. Ia merasakan embusan napas Naruto di telingangya. Juga hangat tubuhnya di belakang sana.

Matanya menutup sesaat. Ia kemudian berujar, "Kita akan terus menjalani misi bersama dan kau akan terus-terusan memasangkanku dengan Sakura."

Untuk sebuah alasan, Naruto tidak mengelaknya.

"Yeah, karena dia sangat mencintaimu sejak dulu."

"Bagaimana denganmu?" tanya Sasuke tiba-tiba. "Apakah kepedulianmu sejak dulu hanya karena kau menganggapku teman?"

Setahun yang lalu, Naruto akan langsung menganggukkan kepalanya tanpa menunggu banyak waktu. Naruto yakin bahwa kepeduliannya pada Sasuke dikarenakan ikatan pertemanan mereka. Juga karena ia yang sudah menganggap Sasuke sebagai keluarganya, saudaranya.

Namun, sekarang, ketika memikirkannya lagi ia jadi tidak yakin. Hatinya selalu sakit saat mendengar segala tindakan kriminal Sasuke, saat ia disalahkan oleh orang lain dan dicap sebagai penjahat. Naruto tahu Sasuke tidaklah begitu. Ia percaya pada Sasuke. Tapi, kenapa ia begitu percaya pada Sasuke ketika teman-temannya yang lain mulai meragukannya? Bahkan Sakura sekalipun. Bukankah mereka adalah teman Sasuke juga?

Naruto termenung lama hingga ia menyadari sesuatu.

Sesuatu yang sudah berulang kali dikatakan oleh Kurama.

Mengembuskan napas pelan, Naruto bergumam, "Entahlah. Mungkin di antara kita, akulah yang lebih dulu menyukaimu. Menyebalkan sekali. Kau selalu terlihat keren. Aku sangat iri."

Sasuke mendengkuskan tawa ketika mendengar nada merajuk Naruto.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak jujur saja sejak awal?"

"Maksudmu sejak genin? Kau gila? Mana mungkin aku melakukannya. Kau hanya akan semakin membenciku karena aku bertingkah seperti para penggemarmu."

Sasuke mengeratkan pegangannya di masing-masih kaki Naruto.

"Siapa yang tahu? Mungkin kalau kau tidak menyamar sebagai laki-laki akan sedikit ada perubahan."

Wajah Naruto tampak masam.

"Aku sering menunjukan jutsu oiroke padamu! Kau jelas tidak doyan pada perempuan," gerutunya.

"Karena aku bukan bocah mesum, Idiot." Sasuke berdecak pelan. "Aku juga tidak suka melihat versi palsumu. Ilusimu di sana sangat jelek. Tubuhmu kurang proporsional, tidak seperti kenyataan. Misalnya saja, bagian dada—"

Kepala Sasuke mendapatkan pukulan keras di belakang sana.

"Lanjut bicara dan hidupmu selesai," ancam Naruto garang.

Sasuke melengkungkan senyuman separuh selagi mengejek muka memerah Naruto.

"Aku sudah sering melihatmu tanpa pakaian. Sampai kapan kau akan malu?" tanyanya.

Naruto hanya bergumam tidak jelas selagi menyurukkan kepala di lekuk leher Sasuke, menyembunyikan wajahnya di sana.

Mereka berjalan melewati penjaga dengan mudah berkat teknik mata Sasuke. Menyusup ke rumah sakit juga bukan masalah besar untuk seorang ninja dengan tingkat kemampuan tinggi sepertinya.

Sasuke membawa Naruto kembali kamarnya. Ia memberi tahu Naruto untuk beristirahat. Lampu kamar yang tidak menyala membuat Sasuke tidak melihat jelas wajah Naruto. Namun, ia masih sempat mengusap pelan kepala perempuan itu sebelum berjalan kembali ke arah pintu.

Menghabiskan sedikit waktu dengan Naruto berhasil sedikit mengangkat beban di pundaknya. Ia tak lagi kepikiran dengan pemberontakan kecil ataupun tentang garis kerabatnya yang masih saja membuat masalah. Cukup dengan berinteraksi dengan Naruto, pekat di kepalanya sedikit menjernih.

Sasuke hendak memutar kenop pintu ketika suara pelan Naruto menghentikannya.

"Apakah kau tidak bisa di sini lebih lama lagi?"

Gerak tangan Sasuke terhenti.

Apa?

Sasuke menoleh. Ia hanya dapat melihat siluet Naruto yang tengah duduk di tepi ranjang.

"Aku … bukan hanya kau yang merindukanku, tahu. Aku sangat khawatir waktu kau tidak mengabari kami selama sebulan penuh. Saat melihatmu lagi, aku malah jatuh koma. Sekarang, aku—"

"Kau tahu apa yang terjadi kalau aku tetap di sini, Naru?" potong Sasuke parau. Ia mengembuskan napas pendek. "Aku tidak bisa menahan diriku. Lebih baik aku pergi sekarang. Aku akan menemuimu setelah kau diperbolehkan pulang."

Kenop pintu itu Sasuke putar. Pintu kamar sedikit terbuka.

"Kalau begitu, kau tidak perlu menahan dirimu. Apa salahnya? Kau tidak ingin bersamaku malam ini?"

Harusnya Sasuke pergi saja. Tapi, kedua kakinya terpaku.

Ucapan Naruto memengaruhinya lebih banyak dari yang ia kira. Sasuke mencoba menjernihkan kepalanya.

"Kau sedang dalam proses pemulihan. Aku tidak ingin memperlambat pemulihan itu dengan menyakitimu."

Naruto tidak memedulikan alasannya.

"Tubuhku baik-baik saja. Aku hanya belum diperbolehkan menggunakan chakra. Jadi, kau tak perlu menahan diri kalau kau memang ingin—"

Suara pintu yang ditutup dari dalam terdengar cukup nyaring. Diikuti oleh dentang kunci yang diputar.

Naruto melihat Sasuke berbalik dan berjalan menghampirinya. Langkah kakinya tak bersuara, seperti para ninja elit pada umumnya. Namun, ketika melihat ekspresi itu … Naruto serta merta menelan saliva.

Ia ingin mengatakan bahwa tadi ia hanya bercanda. Tapi, apakah Sasuke akan menerima candaan itu sekarang?

Selamat atas kebodohanmu, Uzumaki Naruto. Kau tidak akan bisa berjalan lagi besok.

"Kelihatannya ada yang menyesal dengan keputusannya," komentar Sasuke. Ia menarik dagu Naruto dan memindai wajah pucat yang tampak semakin pucat. "Bukankah tadi kau baru saja menggodaku, Pintar?"

Naruto menggeleng keras.

"A-aku hanya mengatakan isi pikiranku."

"Yeah, benar sekali," balas Sasuke datar.

Ia mengamati Naruto sesaat sebelum merangkak ke atas ranjang pasien. Naruto mengumpati dirinya selagi memandang kosong udara. Jantungnya bertalu-talu. Secara tidak sadar, ia merapatkan kedua pahanya akibat seruak memori yang membuat kedua pipinya memanas. Tentang malam-malam yang mereka lalui. Tentang gelenyar panas yang membakar tubuh. Tetang desiran darah yang menguasai diri….

Pikiran Naruto ke mana-mana. Ingatan itu membuat tubuhnya bereaksi. Naruto sedikit terperanjat ketika mendengar suara Sasuke di belakangnya.

"Berbaringlah. Bukankah kau ingin tidur? Aku akan menemanimu tidur. Sudah sebulan aku hanya tidur dua jam sehari. Sekarang masih pukul dua, aku bisa tidur lebih lama."

Ketika menoleh, Sasuke telah menutup kedua matanya selagi berbaring miring. Tatapan Naruto membuatnya membuka mata. Ia mengerling.

"Kau mengharapkan sesuatu?" tanyanya tanpa rasa bersalah.

Naruto ingin membenturkan wajahnya ke dinding saat itu juga. Inilah yang akan terjadi jika ia menghabiskan waktu terlalu lama dengan orang-orang berpikiran kotor. Terkutuklah novel-novel buatan Jiraiya.

Ekspresi Naruto teramat masam. Ia ingin menendang Sasuke. Tapi, ia juga ingin … berada di sisinya.

Menyebalkan sekali rasanya.

Sebesar apa pun dilema Naruto, ia berakhir tidur di sisi lelaki itu. Sasuke menahan senyumnya. Ia melingkarkan lengan di pinggang sang perempuan selagi menariknya mendekat. Puncak kepala Naruto dikecupnya pelan. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Naruto selagi memeluknya dari belakang.

"Kita masih punya banyak waktu untuk itu," gumamnya pelan.

Naruto masih merasa jengkel karena diledek terus-terusan.

"Kau yang terburuk," gerutunya.

"Sebenarnya aku tidak berjanji untuk tidak menyentuhmu."

"Sasuke!"

Tawa rendahnya mengalun di telinga Naruto.

"Tidak. Aku masih menyayangi nyawaku."

Entah apa maksud dari ucapan Sasuke. Pertanyaan Naruto tidak digubris. Yang didengar olehnya hanyalah ucapan selamat malam yang diikuti dengan napas teratur sosok di belakangnya.

Ucapan Sasuke tentang jam tidurnya tampak bukan sekadar omong kosong. Ia sepertinya memang kelelahan dan butuh istirahat.

Naruto menghembuskan napas pelan. Ia meraih tangan Sasuke yang melingkar di perutnya sebelum meremasnya pelan.

Rasa hangat memenuhi rongga dadanya. Ia kini tak perlu lagi khawatir dengan nasib mereka. Ia tak perlu lagi bimbang atas pilihan yang ada. Selain itu, satu hal yang terpenting, ia tak perlu lagi merasa bersalah karena merebut kepunyaan Sakura. Sebab, sekarang ini lelaki yang tengah memeluknya bukanlah milik siapa-siapa dan Naruto dengan suka rela menerimanya jika ia juga menginginkannya.

Naruto akan jujur dengan perasaannya. Ia akan menerima keinginan bahwa ia memang ingin bersama Sasuke.

Setelah ini, jika mereka memang benar-benar akan menghabiskan hidup bersama, ia tidak akan lagi melepaskannya. []

TBC

a/n

ff ini sebentar lagi bakal ending ya, teman-teman. saya ingin memberi tahu ini aja~