Disclaimer : I do not own Naruto
Hari demi hari berlalu begitu saja. Naruto tidak menyadarinya atau mungkin waktu saja yang berjalan terlalu cepat. Ia telah keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah hampir minggu kedua sejak ia diperbolehkan pulang. Kondisi tubuh Naruto sudah pulih. Namun, ia belum diperbolehkan untuk bertarung. Tsunade memintanya melakukan aktivitas ringan saja. Ia tidak perlu ikut repot urusan desa.
Bukan hanya karena titik-titik chakranya yang masih lemah. Tetapi juga ia perlu memulihkan diri agar hormon tubuhnya stabil. Pola makannya harus dijaga. Ia juga tidak boleh kekurangan tidur. Semua tindakan itu dilakukan agar ia mampu memberi asi pada sang kembar, juga agar aliran chakranya kembali normal.
Bagi sebagian besar ibu muda, hal yang demikian mudah saja. Diam di rumah tidaklah berat. Duduk manis selagi merawat bayi tidaklah sulit.
Tapi, kita sedang menceritakan Uzumaki Naruto di sini. Sosok yang tidak pernah diam sejak kecil. Sosok yang akan mati bosan jika tidak dihadapkan pada misi ataupun pekerjaan.
Naruto tidak membenci rutinitas barunya, sungguh. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama kedua putranya—Kazuki dan Kazuo. Mereka sudah diberi nama setelah perdebatan singkat Naruto dengan Sasuke—dan merawat mereka dengan kedua tangannya sendiri. Naruto belajar banyak selama dua minggu ini. Ia sekarang mengerti bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah.
Tetapi, hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk tetap merawat kedua putranya.
Yang menjadi masalah adalah fakta bahwa ia tidak diikutsertakan dalam keperluan desa.
Dua minggu yang lalu, Minato menyarankan Naruto untuk tinggal dengan Kakashi. Naruto sendiri tidak keberatan karena sebelumnya ia juga sudah menumpang di rumah sang sensei. Bahkan, untuk suatu alasan yang tidak diketahui Naruto, Sasuke menyetujui saran Minato. Ia membiarkan Naruto dan kedua putranya tinggal bersama Kakashi alih-alih dirinya sendiri.
Pembangunan desa berkembang cepat berkat bantuan para edo tensei dan shinobi yang telah pulih. Bangunan-bangunan baru telah kembali bertengger tegak, tak hanya kantor pusat administrasi, tetapi juga permukiman warga. Kakashi sendiri telah mendapatkan rumahnya lagi sehingga kini Naruto ikut tinggal di permukaan. Mereka tak perlu khawatir dengan udara pengap atau lingkungan yang tidak kondusif bagi bayi. Semua ini berkat lokasi rumah Kakashi yang memang jauh dari pusat keramaian.
Jadi, bisa disimpulkan, selama dua minggu Naruto terjebak di sini—dengan kehadiran ayah dan ibunya yang senantiasa memastikan ia tidak ke mana-mana.
Kesibukan untuk menjaga kedua putranya sudah cukup membuatnya sibuk. Ia juga tak bisa menyelinap pergi ketika sang kembar tidur. Bukan hanya karena kondisi rumah yang kosong, tetapi juga karena ia belum mampu membuat kage bunshin untuk menduplikasi diri.
Singkat kata, Naruto uring-uringan. Ia sering ikut tertidur bersama sang kembar. Tapi, tak jarang, ia merasa frustrasi karena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa.
Mungkin, kalian bertanya, bagaimana dengan Sasuke?
Naruto berjanji untuk menendang kepala lelaki itu jika ia bisa menemuinya. Yang menjadi masalah adalah … sudah seminggu ia tidak menemuinya. Kakashi berkata bahwa Sasuke selalu mampir ke tempat mereka setiap hari untuk sekadar melihat kedua putranya—ternyata, kebiasaan ini sudah sering dilakukan Sasuke sejak Naruto koma—tetapi, selama seminggu ini Naruto belum melihatnya sama sekali.
Ia datang ketika Naruto tidur dan tak ingin repot membangunkannya. Di sisi lain, Naruto tak punya waktu untuk keluar. Ia harus menjaga dua buah hatinya, sementara mereka tidak boleh berada di bawah terik matahari secara langsung. Ia tak bisa berjalan-jalan sesuka hati selagi membawa serta sang kembar.
Mengerling pada jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas malam, Naruto memaksakan diri untuk tidur. Matanya menatap lurus dua keranjang bayi yang berada di depan tempat tidurnya. Mereka biasanya akan terbangun di tengah malam. Naruto sering kewalahan karena ketika salah satu dari mereka terbangun, maka yang satunya lagi akan mengikuti.
Selama ini ia merepotkan ayah, ibu, Kakashi, dan bahkan Obito. Mereka menawarkan diri untuk membantunya ketika ia kesulitan menenangkan sang kembar.
Menjadi ibu lebih sulit dari yang kukira.
Kedua mata Naruto mulai memberat. Ia terlelap hanya dalam hitungan detik.
oOo
Naruto pernah dibangunkan oleh berbagai peristiwa mengejutkan. Salah satunya peristiwa di malam itu, ketika Urashiki menyerang desa hanya dalam kejapan mata. Naruto ingat, ia baru saja terbangun dari tidur dan belum sepenuhnya sadar kala ledakan besar tercipta. Desa yang sebelumnya aman langsung porak poranda. Kerusakan tercipta di sana sini. Kekacauan menyelimuti.
Dunianya dijungkir-balikkan. Serangan di malam itu adalah peristiwa terburuk yang pernah membangunkan tidurnya. Naruto sangat terkejut.
Keterkejutan ini akan selalu membekas dalam dirinya.
Namun, malam itu, Naruto merasakan keterkejutan yang sama—rasa awas yang langsung membuatnya waspada, rasa awas yang seketika membangunkan refleksnya untuk bersiap siaga.
Kedua mata Naruto masih terpejam ketika ia mengangkat sebelah tangannya untuk mendaratkan pukulan pada siapa pun orang di belakangnya.
Ia hendak memfokuskan aliran chakra di sana, tetapi langsung terhenti ketika pergelangan tangannya dicengkeram dan dikembalikan ke tempat semula. Tangan yang mencengkeram pergelangan Naruto ikut melingkari perut, memeluknya dari belakang. Kedua mata Naruto mengerjap, rasa awasnya masih belum padam hingga ia merasakan helaian lembut di sela lehernya, disertai embusan napas hangat yang berhasil membuatnya terjaga secara penuh.
Ketika kesadaran menghampiri, ia mampu mengenali keberadaan sosok di belakangnya. Harum musk dan mint itu terasa familier, diikuti suara dalam yang begitu akrab di telinga.
"Ini aku."
Bisikannya menggelitik telinga Naruto.
Kenapa aku tidak bisa mendeteksi chakranya?
Menoleh ke arah bahunya sendiri, Naruto kembali mendengar suara Sasuke.
"Kelihatannya kau sudah bangun."
Naruto hendak membalas. Tapi, telapak tangan Sasuke telah menangkup rahangnya dari belakang. Sebelum sempat mengantisipasi, bibirnya telah mendarat di bibir lelaki itu. Kedua mata Naruto konstan terpejam. Sebelah tangannya terulur meraih sisi wajah Sasuke. Ia sedikit meremas surai gelap itu di sela jemarinya.
Berbagi cumbuan sudah menjadi hal biasa. Harusnya Naruto tidak lagi terkejut. Harusnya ia mulai terbiasa. Namun, apa daya. Sasuke selalu membuatnya kesulitan bernapas. Ia selalu berhasil memukaunya. Ia selalu bisa membuatnya berhenti berucap, berhenti menolak, dan berhenti berpikir tiap kali memperlakukannya seperti ini.
Mereka sudah sering berbagi rasa melalui cumbuan. Mulai dari kali pertama, yang dipenuhi keterkejutan pekat oleh Naruto, hingga kini. Semua rasa itu berbeda. Naruto selalu mampu menebak emosi yang tersirat di dalamnya. Ia pernah merasakan keputusasaan pekat, seperti saat dulu Sasuke memojokkannya agar ia mau melepaskan penyamarannya sebagai Sakura. Rasa menuntut, ketika mereka kehilangan pegangan di penginapan itu—hingga luapan kasih yang memenuhi rongga dadanya ketika mereka melakukannya setelah saling menerima perasaan satu sama lain, rasa yang tercampur dengan panas hasrat di dalam dirinya.
Naruto sudah mengenali emosi-emosi itu. Juga rasa marah yang pernah diperlihatkan melalui gestur ini. Naruto mengerti, oleh karenanya ia tahu bahwa sekarang … sekarang sentuhan ini tidaklah baik. Kefrustrasian Sasuke mampu dirasakan Naruto. Kemarahannya dapat ia rasakan. Semua ini tergambar dari kontrol diri Sasuke yang begitu tipis, dari gerak menuntut yang mendominasi.
Napas Naruto terengah karenanya.
Ia ingin berhenti, tetapi Sasuke tampak tak seide. Bibirnya masih memagut bibir Naruto, merasakan halus bibirnya, merasakan rasa yang akan selalu menjadi candu untuknya.
Naruto meremas pelan surai gelap di jemarinya. Cumbuan sang lelaki tak lagi dibalas. Ia membalikkan badan perlahan agar dapat berhadapan dengan Sasuke. Tangannya terulur meraih wajah sosok itu. Ia balik menangkup rahangnya dan menyeka rambut panjang yang menutupi sisi wajah Sasuke, menahannya sedemikian rupa hingga mata itu tak lagi tertutupi.
Gerakan Sasuke mampu ia tahan. Dalam keremangan cahaya, Naruto mampu melihat dua mata tak sewarna itu. Hela napasnya berat, sama seperti Naruto. Pandangannya pun tidak fokus. Naruto memastikan bahwa Sasuke balik menatapnya ketika ia berujar, "Hey, kau kelihatan tidak baik-baik saja."
Trik itu tidak berhasil. Sasuke meraih telapak tangannya dan menautkan jemari mereka. Ia kemudian menunduk dan mulai mendaratkan kecupan ringan di lekuk leher Naruto. Tindakannya begitu tiba-tiba, seketika membuat Naruto sedikit terkesiap.
"Sasuke," desis Naruto rendah.
Dengan suara parau yang sedikit teredam, Sasuke berujar, "Aku baik-baik saja." Ia menyapukan lidahnya di balik daun telinga sang perempuan, tak mengindahkan kesiap yang tercipta. "Hanya ingin merasakanmu. Aku merindukannya."
Tangan Sasuke mengusap pelan pinggang Naruto. Ia menyusupkan telapak tangannya ke balik piyama yang dikenakan sang kekasih, mengusap perut datar yang terasa kencang di bawah sentuhannya.
"Kau selalu terasa menyenangkan, kau tahu?" gumamnya rendah. Naruto merasakan sesapan ringan di lehernya, begitu menggelitik hingga membuatnya menggigit bibir secara refleks. "Bersamamu seperti berada di alam bebas, melepaskan kekangan yang menahan hidupku. It heals me."
Wajah Naruto terasa panas seketika. Ia memeluk kepala Sasuke, merasakan pening yang mulai merayapi kepalanya.
"Berhentilah meracau," protes Naruto, menyadari semburat merah yang sudah pasti merayapi pipi. "Kau pasti mabuk. Aku tahu kau tidak bisa menoleransi banyak alkohol. Pikiranmu mulai menguap di udara."
"Aku tidak mabuk," tukas Sasuke tak acuh. Ia menarik wajahnya untuk berhadapan dengan wajah Naruto. "Menurutmu aku bau alkohol?"
"Tidak. Tapi, kau meracau," timpal Naruto. Ia kembali menangkup rahang Sasuke dan mengalihkan sisi rambut yang menutupi wajahnya. Naruto menatap lurus dua manik yang berbeda warna itu. "Perilakumu tidak biasa."
"Tidak biasa? Salahkah kalau aku menginginkanmu?"
Nada merajuk itu membuat Naruto gemas, berbanding terbalik dengan kalimat Sasuke yang membuat darah Naruto berdesir dengan kurang ajar.
Tolong, jangan biarkan jenis lelaki tembok seperti Sasuke—yang biasanya berbicara dengan sangat irit dan cenderung membuatmu naik darah—tiba-tiba berubah haluan seperti ini.
Naruto belum terbiasa—atau mungkin tidak akan pernah terbiasa.
Sepertinya aku lebih bisa menghadapi dia yang bermulut pedas, keluh batin Naruto.
Mencoba mengembalikan fokusnya, Naruto berucap, "Aku tidak mengatakan kau salah." Ia mengerutkan kening. "Aku hanya tidak mengerti. Beberapa waktu lalu, kau menolak tawaranku dan sekarang tiba-tiba kau begini."
Naruto masih menatap Sasuke ketika ia menyadari maksud kalimatnya sendiri. Realisasi itu menamparnya dengan rasa malu. Ia segera memalingkan wajah.
"Jangan mempermainkanku lagi, Berengsek," gerutunya pelan.
Untuk sesaat, tidak ada jawaban yang terucap dari bibir Sasuke. Naruto tidak melihat ekspresi terpaku sosok di depannya. Yang ia rasakan hanya embusan napas pendek Sasuke dan pelukan erat yang datang tanpa ia antisipasi.
Sasuke mendekapnya selagi menyenderkan dagu di bahu Naruto. Ia menarik tangan yang tadi telah menyusup ke dalam piyama Naruto dan kini lebih memilih untuk merengkuh sosok itu saja. Kepala Naruto semakin diliputi tanya. Ia tidak mengerti, bahkan ketika ia melingkarkan tangan di lengan Sasuke.
"Kau tahu, aku sedang memprediksi bahwa kau berada dalam genjutsu Itachi," gumam Naruto pelan.
"Mungkin," balas Sasuke tak acuh.
Kening Naruto semakin mengerut heran. Ia semakin yakin bahwa lelaki yang sedang mendekapnya ini tidaklah baik-baik saja.
"Sudah berapa hari kau tidak tidur?" tanya Naruto lagi.
Sasuke membalas dengan gumaman rendah. Naruto tidak bisa menangkap kata yang diucapkannya. Namun, ia cukup yakin barusan Sasuke mengucapkan kata empat. Artinya, sudah empat hari orang ini terjaga. Naruto sekarang tahu alasan di balik kantung mata bak mayat hidup itu.
"Bahkan ketika misi pun shinobi tetap harus beristirahat," cibir Naruto.
"Aku sudah mencobanya." Kalimat Sasuke mengalun di telinga Naruto. "Tapi, aku tidak bisa. Aku bahkan sama sekali tidak mengantuk."
Naruto menarik diri dari pelukan. Ia meletakkan sebelah tangannya di dada sang lelaki sedangkan tangan yang lain kembali menangkup sisi wajahnya. Dalam keremangan cahaya, Naruto bisa melihat gurat lelah di sana.
"Apa yang terjadi?" tutur Naruto. Ia mengamati Sasuke lekat. "Sekarang kalian hanya perlu memfokuskan pembangunan, 'kan? Kau sendiri bilang kalau para pejabat itu sudah mau bekerja sama. Selain itu, Baachan juga memberi tahuku, kita tinggal merawat sisa shinobi yang masih terluka parah, termasuk Karin, Suigetsu, dan Juugo yang bisa membawa kembali Orochimaru untuk melepaskan jutsu edo tensei."
Gelap di ekspresi Sasuke semakin kentara. Ia menutup matanya selagi kembali menarik Naruto dalam pelukan.
"Aku tidak ingin membicarakannya," ungkap Sasuke kaku.
Penyangkalan itu hanya semakin memupuk keingintahuan Naruto.
"Kita sudah menghadapi hal yang paling buruk sekalipun. Masalah ini tidak akan separah itu."
Sasuke tidak menjawabnya. Ia malah mengeratkan dekapan mereka.
Beberapa menit berlalu tanpa jawaban. Naruto bisa merasakan napas teratur Sasuke. Namun, ia tahu lelaki ini belum tidur. Tadi ia mungkin tidak bisa merasakan aliran chakranya karena belum sepenuhnya bangun, berbeda dengan sekarang. Naruto bisa merasakan aktivasi chakra Sasuke yang menandakan bahwa ia pun masih terjaga.
"Sasuke," panggil Naruto, menahan gemas. "Jangan pura-pura tidur!" bisiknya dengan nada menghentak yang tertahan.
Ketika tetap tidak ada jawaban, pipi pucat sang lelaki pun ditarik dengan semena-mena. Sasuke tampak tidak mengantisipasinya, ia membuka mata secara refleks. Indra penglihatannya segera dihadapkan dengan wajah masam Naruto.
"Kau akan memabangunkan mareka kalau tetap berisik," komentar Sasuke tanpa perasaan.
Sudut mata Naruto seolah berkedut.
"Mereka belum tidur sejak tadi sore. Kalau sudah begini, mereka tidak akan bangun sampai pagi."
"Oh," gumam Sasuke. "Aku tidak tahu." Suaranya memelan. Ia mengembuskan napas rendah. "Aku harusnya di sini juga, 'kan? Bersamamu untuk merawat mereka. Bukan berkeliaran di luar sana untuk mencari para bedebah tidak tahu diri."
Naruto mengerjap. Ia sekarang sedikit lebih mengerti.
"Dengar, Sasuke, kau menjalankan tugasmu dan kau tidak perlu memikirkan keadaanku ataupun mereka karena kami baik-baik saja."
"Aku merasa seperti sampah," balas Sasuke secara spontan. Ia menyelipkan helaian rambut Naruto ke belakang telinga. "Aku bisa melakukannya dengan lebih baik, tidak seperti ini."
"Jadi, ini yang mengganggu pikiranmu?"
Sasuke terdiam sesaat. Tapi, tak seperti tadi, ia pada akhirnya menjawab, "Bukan cuma ini."
"Ceritakan padaku."
Sasuke kelihatan enggan. Naruto segera menambahkan, "Bukankah kau mempercayaiku?"
Detik itu, Sasuke tahu ia tak bisa lagi menyembunyikannya.
Mulutnya terasa pahit ketika ia berkata, "Ini tentang para Uchiha." Ia mengalihkan pandangannya dari Naruto. Gejolak panas memenuhi dadanya. "Mereka menculik Karin, Suigetsu, dan Juugo agar Orochimaru tidak bisa mencabut edo tensei. Keberadaan mereka sekarang tidak diketahui. Mereka kelihatannya ingin melepaskan jutsu itu supaya bisa kembali hidup."
Perlu beberapa detik bagi Naruto untuk benar-benar mencerna informasi yang diutarakan Sasuke.
Kedua matanya mengerjap. Ia menatap Sasuke sesaat, mengamati gelap ekspresi yang menghiasi wajah rupawan itu.
Saat melihatnya, Naruto paham. Ia kini mengerti alasan di balik kemarahan dan rasa frustrasi yang dirasakan Sasuke. Ia mengerti alasan di balik keinginannya untuk lari, untuk menyangkal bahwa hal yang demikian tidaklah terjadi, untuk menyangkal indikasi yang menyatakan bahwa para anggota klan Uchiha baru saja melakukan perbuatan memalukan dan sembrono.
Selama ini, Sasuke telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kehormatan nama klan Uchiha. Selama ini, ia mati-matian mencoba membayar segala kesalahannya pada desa supaya desa dapat kembali menerima marga Uchiha yang melekat di namanya. Demi menjaga kehormatan nama klan itu, ia bahkan rela untuk tetap menutupi kebenaran hidup Itachi. Sampai sekarang, alasan rencana kudeta itu masih tersimpan rapi sebagai rahasia. Sasuke bahkan membatasi akses informasi terkait nama Uchiha di perpustakaan. Ia mencoba menutup sejarah gelap yang dipunyai klannya.
Semua itu dilakukan agar konflik antar klan tidak lagi muncul. Juga agar anak cucunya nanti tidak malu menyandang marga itu.
Amanah Itachi telah dijaga Sasuke dengan baik. Ia juga ikut memperbaiki kesalahan para leluhurnya dengan mendedikasikan diri kepada Konoha.
Sasuke menerima mandat sebagai pemimpin desa. Ia rela melepaskan kebebasannya. Ia rela kembali terperangkap di dalam tempat yang selama ini memberikan banyak luka untuknya. Ia telah bertahan selama ini, bahkan ketika ia tahu bahwa Konoha hanya akan mengingatkannya pada Naruto yang pada saat itu telah tiada.
Segala sakit yang harus ditanggung Sasuke seolah menjadi tak bernilai setelah melihat kelakuan para Uchiha yang lain.
Naruto bisa membayangkan kemarahan Sasuke. Ia bisa merasakan kekecewaan sekaligus rasa malu yang harus ditanggung oleh lelaki itu.
Kekuatan mata Uchiha membuat mereka menjadi sebuah klan yang sangat kuat. Arogansi itu telah terpupuk sejak dulu, mengakar kuat dalam diri tiap anggotanya. Rasa bangga yang berlebihan dalam kelompoknya sendiri membuat mereka lupa pada aturan untuk mematuhi desa—pernyataan yang telah dikatakan oleh Itachi sendiri.
Kini, arogansi mereka kembali mengambil alih, bahkan mereka tidak peduli bahwa dengan bertindak demikian berarti mereka telah mengkhianati desa sekaligus pemimpin klan mereka sendiri.
Masalah ini memang tidak seburuk peperangan. Namun, masalah ini sangat personal bagi Sasuke. Rasa malu yang ditanggungnya hampir setara dengan rasa benci yang ia rasakan kepada para Ōtsutsuki.
Naruto menyandarkan kepalanya di lengan Sasuke. Ia beringsut mendekat hingga wajahnya beristirahat di dada bidang itu. Detak jantung Sasuke bisa didengar Naruto dengan jelas—berdetak cepat akibat rasa marah. Embusan napasnya berat. Telapak tangannya menjadi dingin.
Meremas pelan bahu Sasuke, Naruto berujar, "Kau tidak bersalah. Tindakan mereka tidak ada hubungannya denganmu."
"Aku lengah dan terlalu memberi kebebasan pada mereka."
"Itu karena kau percaya pada mereka dan mencoba memberi mereka kesempatan," balas Naruto. Ia mendongak, kembali meraih wajah Sasuke agar Sasuke mau menatapnya. "Tidak ada yang salah dari tindakanmu."
Sasuke mengembuskan napas pelan sebelum menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Naruto. Menghirup aroma khas sosok itu dalam-dalam demi menghilangkan kemarahan yang kembali muncul di permukaan.
"Dengan kecerobohan ini, aku tidak bisa menghadapi siapa pun sekarang. Ayah dan Itachi telah menyerahkan mereka padaku selagi mereka ikut membantu desa lain. Tapi—"
"Kau sudah melacaknya?" potong Naruto.
"Sejak seminggu lalu. Tidak ada perkembangan."
"Apakah semua pihak mengetahuinya?"
"Hanya kami para Uchiha dan edo tensei yang lain. Shikamaru mungkin juga sudah tahu. Selain dia, berita ini belum tersebar."
Naruto sedikit menarik diri dari Sasuke, menatapnya lekat selagi berkata, "Lihat? Kau sudah mencoba yang terbaik."
Kalimat Naruto tidak mendapatkan reaksi. Naruto kemudian menambahkan, "Lagi pula, kau harus ingat, kita masih punya Madara. Dia pasti akan menghukum mereka di alam kubur. Setan sekalipun takut padanya. Kutebak, dia sama marahnya sepertimu, 'kan?"
"Lebih tepatnya murka."
Naruto langsung melebarkan mata. Suaranya meninggi ketika berujar, "Benar, 'kan! Aku sekarang kasihan dengan nasib orang-orang itu." Naruto berdecak pelan. Sebelum Sasuke menimpali, ia berkata, "Ah, aku akan membolehkannya menemui kedua putra kita kalau dia berhasil menemukan para pelaku."
Ide itu segera ditolak oleh Sasuke.
Naruto tentunya tidak terima.
"Kenapa?" tuntutnya spontan. "Dia berhak mendapatkan balasan jasa."
"Tidak dengan menawarkan mereka berdua padanya." Sasuke menjentik dahi Naruto, tak mengacuhkan keluhan sakitnya. "Sudah cukup dengan Sarada. Kau tidak boleh mengekspos mereka pada idealis keji seperti dia atau kau ingin dia mendoktrin mereka berdua untuk menguasai dunia lagi."
Naruto tahu Sasuke mengada-ada. Pasalnya, mana mungkin anak bayi usia kurang dari tiga bulan menerima doktrin semacam itu?
Sasuke hanya tidak suka jika Madara mendekati anak-anaknya. Mungkin semua itu dikarenakan trauma masa lalu. Pria ini pernah membuatnya sekarat. Sasuke mungkin masih sedikit memendam jengkel pada Madara. Jadi, sebesar apa pun keinginan sang legenda Uchiha untuk menemui generasi penerusnya, Sasuke selalu melarangnya.
Naruto mencibir alasan Sasuke yang tidak masuk akal. Tapi, Sasuke tentu saja tidak mengindahkannya. Ia ingin menutup pembicaraan dan meminta Naruto untuk kembali tidur ketika Naruto mulai menanyakan perkembangan masalah ini.
"Beri tahu aku atau aku yang akan mencari tahu sendiri," ancam Naruto saat itu.
Gertakkan tersebut berhasil menggoyahkan pendirian Sasuke. Pasalnya, Naruto memang nekat. Ia bisa benar-benar merealisasikan gertakannya kalau sudah sangat geram dengan ketidaktahuan. Misalnya saja ketika ia ingin mengonfirmasi sesuatu pada Sasuke yang mengharuskannya menyamar sebagai Madara. Saat itu, Naruto sedang hamil delapan bulan. Tetapi, ia tetap nekat menjadi Madara dan ikut perjalanan antar dimensi agar bisa mendapatkan jawaban.
Pertengkaran di dimensi penghubung itu masih sangat lekat di memori Sasuke. Sampai sekarang, ia berjanji untuk tidak memancing emosi wanita hamil lagi.
Khawatir bahwa Naruto akan mengulang tindakan nekat semacam itu, Sasuke pun memberi tahunya. Ia mengatakan bahwa pelacakan para penculik ini telah dilakukan olehnya, Madara, dan bahkan para hokage sebelumnya.
Hashirama telah mencoba melacak menggunakan chakra alam, tetapi batasan kekuatan edo tensei menyulitkannya untuk menemukan mereka. Chakra alam yang dimiliki Minato dan Jiraiya memiliki efek yang sama. Mereka tidak bisa menjangkau keberadaan buron. Opsi terakhir berada di tangan para Uzumaki—Kushina dan Nagato.
Klan Uzumaki dikenal dengan kemampuan sensornya, seperti yang dimiliki Karin. Namun, dari dua orang Uzumaki, hanya Nagato yang mempunyai kemampuan itu. Nagato sendiri tak bisa melacak mereka karena ia hanya bisa melacak chakra seseorang yang terhubung dengannya—entah itu orang yang mendapatkan batang pemancar chakra maupun si pengontrol edo tensei, Kakashi dan Sasuke.
Nagato tidak dapat melacak chakra sembarang orang, kecuali jika chakra mereka begitu kuat seperti chakra para bijuu.
Urusan pelacakan bisa diserahkan pada para Inuzuka, tetapi mereka tidak bisa menyebarkan informasi ini lebih jauh lagi. Kondisi pasca perang sedang begitu rentan. Mereka tidak butuh kepanikan lain.
Naruto mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Begitu Sasuke selesai bicara, ia segera menanyakan kadar kepintaran Sasuke.
"Kau selalu mengaku lebih pandai dariku," tutur Naruto dengan kurang ajar. Sasuke sudah mengerling curiga saat mendengarnya. Naruto melanjutkan. Ia menepuk dadanya sendiri. "Di sini. Solusi atas masalah itu ada di sini, tepat di depanmu."
Sasuke tahu, Naruto akan menyombong tepat di hadapan wajahnya.
Ia ingin menahan ocehan itu, mengatakan bahwa tentu saja ia sudah mempertimbangkan opsi untuk meminta bantuan Naruto, tetapi Naruto sudah kunjung berbicara panjang lebar.
"Mereka semua yang tadi kaumintai bantuan punya dua karakteristik. Pertama, seorang sage. Kedua, seorang Uzumaki. Kenapa kau mengabaikan seorang Uzumaki yang telah menjadi sage? Solusi atas semua masalahmu ada di sini. Kau tidak melihatnya, Hokage-sama?"
Sasuke menjepit hidung Naruto di sela jemarinya.
"Tidak semudah itu, Idiot," ucap Sasuke datar.
Naruto menarik tangan Sasuke yang barusan menganiaya hidungnya.
"Sampai kapan kau mau membatasi aktivitasku?" Naruto bertanya dengan menahan kecewa.
"Bukan aku yang membatasi. Tapi, kondisimu sendiri," timpal Sasuke. Ia berbaring miring selagi memainkan surai pirang yang menghiasi wajah perempuan di depannya. "Bagaimana kalau kau belum dibolehkan mengaktifkan chakra?"
Biasanya, Naruto akan langsung menyanggah dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Tidak seperti sekarang. Ia tidak serta merta menyalahkan ucapan Sasuke karena sebulan lalu ia sudah merasakan seberapa parah kerusakan di tubuhnya. Gelap alam bawah sadar itu masih melekat di ingatan Naruto. Ia juga ingat sakit yang menerpanya ketika mengakhiri pertarungan dengan Momoshiki.
Ketika memaksakan diri menemui Sasuke dan menggunakan chakra, tubuhnya langsung lemas. Padahal ia hanya memakai henge sederhana. Apa jadinya kalau ia memanggil chaka alam ke dalam tubuhnya? Mampukah ia menahannya? Sudahkah ia pulih?
Naruto hampir tidak pernah menuruti saran para dokter. Itulah kenapa ia sering dimarahi Tsunade.
Namun, sejak dua minggu terakhir ia benar-benar mengikuti arahan Tsunade untuk tidak menggunakan chakranya.
Sepasang mata safir mengerjap.
"Aku akan memeriksakan diri untuk mengecek perkembangan kondisiku," ungkap Naruto setelah terdiam beberapa saat. "Kalau kondisiku sudah membaik, aku akan membantumu. Jika belum, aku tidak akan ikut mencari mereka. Paling tidak sampai kondisiku dinyatakan pulih, itu pun kalau ternyata masalah ini belum juga selesai. Bagaimana?"
Sasuke terpaku saat mendengarnya. Naruto menunggu jawaban dengan was-was, khawatir jika mereka kembali berbeda pendapat. Selama ini, sebagian besar pertengkaran disebabkan oleh ketidaksetujuan atas keputusan satu sama lain. Naruto sangat tidak ingin berdebat dengan Sasuke sekarang. Sikap diamnya itu sedikit membuatnya was-was.
Kekhawatiran itu lenyap ketika telapak tangan Sasuke mengacak pelan rambut Naruto. Ia mengusap sisi kepala Naruto dengan gemas.
"Sepertinya sekarang otakmu sudah sedikit berfungsi."
Sulitkah bagi Sasuke untuk memuji kecerdasan Naruto secara langsung?
Memasang wajah masam, Naruto menimpali, "Berada di ambang kematian itu menyakitkan. Aku tidak ingin merasakannya lagi."
Naruto mengira Sasuke akan kembali meledeknya. Namun, yang ia dapatkan adalah tatapan teduh lelaki itu—pemandangan yang amat jarang ia lihat dari kedua mata Sasuke.
Percikan marahnya tidak lagi tampak. Sasuke terlihat lebih tenang. Ia menangkup sisi wajah Naruto dan memberinya kecupan ringan.
"Sebaiknya kau tidak kembali merasakannya. Kau tidak boleh melalui fase seperti itu lagi," gumamnya pelan.
Rongga dada Naruto penuh oleh rasa hangat. Detik itu, Naruto tahu bahwa ia tidak menyesali pilihannya untuk berada di sisi pria ini. Bibir Naruto melengkungkan senyum simpul. Ia mengulang pernyataan bahwa ia akan selalu menepati janjinya, bahwa ia tidak akan kembali dikalahkan oleh kematian—setidaknya untuk sekarang.
Percakapan mereka ditutup dengan janji itu. Sasuke jelas-jelas sudah lelah. Selama seminggu terakhir ia sudah memforsir tenaganya dan ia tidak bisa tidur akibat kondisi pikiran yang selalu tegang. Berada di dekat sosok yang sekarang berada dalam dekapannya ini membuatnya rileks. Pikirannya menjernih. Ia bisa merasakan kedua mata mulai memberat secara perlahan.
Naruto tampak menyadarinya. Ia menahan senyum selagi memainkan surai raven Sasuke, mengusapnya pelan hingga kantuk benar-benar menguasai sang lelaki.
Sepasang mata yang masih terjaga menatap sinar rembulan yang menelusup melalui kaca jendela. Pagi nanti, ia akan meminta ibunya untuk menjaga sang kembar sementara ia mengunjungi rumah sakit. Di rumah sakit nanti ia mungkin akan berpapasan dengan Sakura—sosok yang selama dua minggu terakhir belum ia temui.
Aku perlu berterima kasih padanya atas banyak hal.
Naruto mengerling pada Sasuke. Ia kemudian beringsut mendekat, mengistirahatkan kepalanya di dada sang kekasih.
Sasuke sudah menata hubungannya dengan Sakura-chan. Sekarang giliranku. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin kehilangannya. Kami mungkin terlibat konflik rumit ini, tapi dia tetaplah sahabat terbaik yang kupunya. []
TBC
