Enjoy Reading~


Iruka membungkuk, bertumpu pada kedua lututnya. Napasnya putus-putus dan keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Seluruh pakaiannya nyaris basah oleh keringat. Ini sudah kesekian kalinya ia berlatih raiton dengan Kakashi, dan sampai saat ini ia belum bisa memusatkan raiton miliknya agar bisa lebih kuat dan membentuk raikiri.

Kakashi hanya diam, memandang Iruka yang kelelahan. Sejak tadi Kakashi sudah menyuruh Iruka istirahat, karena chakra milik guru akademi itu juga menipis. Berlatih elemen membutuhkan banyak chakra, tapi Iruka tak menggubris dan mengatakan dia masih kuat. Sedikit lagi ia memaksakan diri, ia bisa pingsan karena kelelahan.

"Aku hhhhh... Pasti bisa, Kakashi-san hhh... Lihat saja nanti."

Kakashi menghela napas. "Jangan memaksakan diri, bersemangat itu perlu tapi daya tahan tubuh yang utama. Kau bisa pingsan jika terus-terusan seperti ini."

"Tapi aku harus menguasainya."

Kakashi mengaruk tengkuknya, kenapa Iruka mendadak jadi keras kepala seperti Naruto?

"Iruka-sensei, teknik elemen tidak bisa dikuasi dalam sekali latihan, kau pasti tau itu 'kan?"

Iruka ambruk, jatuh terduduk dengan dada yang semakin sesak. Tentu saja ia tahu. Chunin rendah yang sudah mengalami berbagai macam penghinaan karena kelemahan tentu sudah mengerti bahwa jurus apapun tak akan bisa dikuasi hanya dalam sehari. Apalagi untuk Iruka yang chakra nya lebih lemah dari Kakashi.

Kakashi mendekat, menarik tangan kanan Iruka dan membuatnya berdiri. "Ayo istirahat di bawah pohon itu."

Iruka mengangguk, tak lagi melawan. Bagaimana pun yang dikatakan oleh Kakashi memang benar.

Kakashi memberikan minumannya kepada Iruka yang dalam sekejap langsung habis diminum. Kulit tan Iruka tampak bersemu merah, mungkin karena kepanasan. Rambut panjangnya acak-acakan, bahkan ikat rambutnya nyaris lepas saking berantakannya.

"Maaf, Kakashi-san aku hanya... KAKASHI-SAN!"

"Ha? Ada apa?"

Iruka beranjak, memegang kedua pipi Kakashi dengan tangannya sendiri.

"M-Matamu..."

Kening Kakashi mengerut. "Mataku kenapa?"

Iruka menarik ikat kepala Kakashi, membuat surai peraknya berantakan. Ia segera melonggarkan rompinya sendiri, mempertontonkan lehernya.

"Kau harus segera menghisap chakra ku Kakashi-san."

"HAH?"

Iruka mengangguk. "Ayo! Sebelum mata mu kembali kambuh, ini untuk pencegahan. Cepat Kakashi-san."

Kakashi menahan kedua bahu Iruka, membuatnya berhenti mendekat. "Kau ini kenapa Iruka-sensei? Mataku baik-baik saja kok."

Iruka mendekat, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan. "Sharingan milik mu bercahaya seperti waktu pertama kali kita bertemu di dekat gerbang desa Kakashi-san. Memang belum terasa sakit 'kan? Tapi bagaimana jika yang waktu itu terulang lagi? Dan memang kali ini sudah cukup lama kau tidak meminta asupan chakra dariku. Maka dari itu aku..."

Kakashi meletakkan telunjuknya pada bibir Iruka membuatnya berhenti meracau dalam kepanikan.

"Oke oke, aku akan menghisap chakra mu jadi berhentilah panik dan membuat ku semakin bingung."

Iruka menunduk. "Ma-Maafkan aku." cicitnya pelan.

Kakashi menghela napas, ia menarik maskernya turun memperlihatkan ekspresinya yang sebenarnya. Iruka tak mengerti, kenapa wajah Kakashi selalu tampak lelah, atau begitu datar dalam situasi apapun. Ketika pria itu tersenyum cerah pun, senyum itu tampak hanya topeng saja tak ada yang benar-benar tulus. Hingga saat ini.

"Kemari."

"Eh?"

Kakashi menepuk pahanya. Dia duduk bersandar pada batang pohon besar, dengan kedua kaki berselonjor.

"Ayo kemari, Iruka-sensei."

Iruka menatap paha Kakashi dan wajahnya secara bergantian. Raut bingung tampak sangat jelas di wajahnya.

"Maksudnya?"

Kakashi menepuk dahinya. "Bagaimana aku bisa menghisap mu kalau kau berada di sana? Kemari dan duduklah di pangkuan ku."

Wajah Iruka kontan memerah. Mungkin dirinya hanya berpikir berlebihan, padahal Kakashi tampak normal dan biasa saja.

"Eh? T-tapi..."

Kakashi menarik pergelangan tangan Iruka hingga membuatnya oleng dan jatuh menimpa tubuh Kakashi.

"Ayo Iruka-sensei, katanya kau mau memberikam chakra mu agar mataku tidak kembali kambuh?" Ia membantu Iruka bangun dan terus memaksanya untuk duduk di pangkuannya.

Iruka membuang napas berat. Dengan tubuhnya yang bergetar dan panas dingin karena grogi, ia memposisikan dirinya duduk di pangkuan Kakashi. Ia tak berani menatap mata Kakashi sehingga Iruka hanya memandang dahi Kakashi. Iruka segera melepas hitai-ate dan ikat rambutnya, menarik rambutnya menuju sisi kiri sehingga leher kanannya terekspos lebih jelas.

"Si-Silahkan." cicitnya sangat pelan.

Kakashi melepaskan sarung tangannya, ia melingkarkan tangan kirinya di sekitar pinggang Iruka dan tangan kanannya memegangi kepala belakang Iruka.

Ini pertama kalinya selama mereka saling berbagi chakra dengan keadaan sadar. Biasanya Kakashi dalam keadaan setengah sadar atau bahkan dalam keadaan lepas kendali total. Iruka dengan sadar merasakan bagaimana Kakashi meremat pakaiannya di bagian belakang dan menarik tengkuknya lebih dekat ketika ia menghisap leher Iruka.

Iruka menggigit bibirnya, menahan suara-suara yang mungkin bisa saja ia keluarkan saat Kakashi terus menarik chakra melewati hisapan di lehernya.

Iruka bisa merasakan bahwa jantung Kakashi bertalu-talu lebih cepat, dan begitupun Iruka. Tubuhnya terasa lemas karena sebelumnya pun ia telah kelelahan saat latihan.

"K-Kakashi-san..." Iruka menyandarkan kepalanya pada bahu Kakashi dan jatuh tertidur.

Kakashi melepaskan hisapannya, ia mengusap leher Iruka dan menaikkan kerahnya seperti semula. Posisi tidur Iruka dan posisi duduk Kakashi membuatnya tak bisa bangkit berdiri. Ia harus membuat satu klon untuk mengangkat Iruka sementara dirinya yang asli berdiri.

Wajah merona samar dan rambut terurai acak-acakan. Iruka tampak benar-benar berbeda dari yang selalu diperlihatkannya.

Seulas senyum tipis tersungging di wajah Kakashi. Ia membawa Iruka di punggungnya dengan keadaan tertidur pulas.

"Apakah ini kemajuan? Memberikan chakra dalam kondisi sadar?" gumam Kakashi pada dirinya sendiri.

Kasashi berjalan santai. Apakah benar sharingan miliknya bercahaya seperti yang Iruka katakan? Tapi kenapa Kakashi tak merasakan apapun, seperti sakit kepala atau nyeri di matanya? Tapi melihat raut panik dan sorot mata ketakutan itu, jelas tidak mungkin jika Iruka berbohong.

Lagipula, untuk alasan apa juga kalau misalnya Iruka benar berbohong? Membagi chakra bukan hal yang menyenangkan. Bagi chunin yang chakra nya terbatas, tentu sangat tidak bagus jika dilakukan terlalu sering, apalagi tadi mereka baru saja latihan.

Kakashi menghela napas. Merasa aneh karena memikirkan orang lain. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memikirkan tentang orang lain semenjak tragedi bertahun-tahun silam.

Tanpa sadar, ia telah sampai di depan pintu ruang Hokage. Pengobatan Iruka hanya kepada Tsunade atau Shizune, makanya dia tidak membawa Iruka ke rumah sakit kecuali atas perintah Tsunade sendiri.

"Tsunade-sama? Boleh aku masuk?" seru Kakashi. Ia tak bisa mengetuk pintu karena kedua tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh Iruka di punggungnya.

"Masuklah!"

"Iruka pingsan, sepertinya kelelahan karena transfer chakra."

Tsunade menghela napas. "Sudah cukup lama mata mu tidak kambuh, apa kali ini terjadi lagi?"

Kakashi menggeleng. "Kami sedang latihan hari ini, lalu Iruka bilang sharingan milikku bersinar dan dia mendesak ku untuk menghisap chakra nya karena ia takut kejadian seperti pertama kali kami bertemu terjadi lagi."

Tsunade mengangguk-angguk. "Kau tidak merasakan keluhan seperti sebelumnya?"

Kakashi menggeleng pelan.

Tsunade mencatat semua keterangan Kakashi pada jurnal pengobatan miliknya. Hingga saat ini, ia terus mempelajari apa yang sebenarnya terjadi pada Kakashi dan chakra Iruka.

"Bawa dia ke rumah sakit, aku akan kesana. Dan juga, aku ingin bicara dengan mu setelah itu."

"Baik."

TO BE CONTINUE


A/N: Mind to review?