Apa kalian pernah bertanya-tanya, mengapa korban pelecehan bertingkah berlebihan ketika trauma mendera mereka?
Pernahkah kalian merasa risih, bagaimana bisa mereka terlalu bergantung pada ingatan masa lampau yang tak perlu disemayamkan dalam otak?
Tapi, pernahkah kalian bertanya pada sanubari kalian masing-masing jikalau mereka sebenarnya tak ingin terbelenggu ingatan mereka sendiri?
Jadi, siapa yang egois?
Mereka yang terpuruk, atau kalian yang menunjuk?
.
.
.
Ohayou, Taiga-chan~
riryzha
Kuroko no Basuke
Fujimaki Tadatoshi
THE TRUTH - THE LAST
Warning: OOC, typo, dan segala ke-absurd-annya
.
.
.
Kagami Taiga, 26 tahun, seorang pelatih bela diri olahraga muay thai, tengah menunjukkan gerakan dasar pada murid tahun kedua yang diajarnya di sebuah kota tak banyak populasinya, namun tak bisa dianggap kecil di negara Jepang, yakni Shibuya. Perempuan enerjik itu dengan celana olahraga yang longgar serta sport bra yang melekat di tubuhnya bergerak meninju udara dan sesekali bergerak memutar dengan kakinya.
"Kita tidak akan mulai dengan gerakan yang sulit. Tapi saya harap kalian mulai mencari tahu gerakan-gerakan yang ada untuk evaluasi singkat minggu depan."
Anak-anak remaja dan beberapa perempuan seumurannya mengerang frustasi karena mereka mendapatkan pekerjaan rumah dalam ilmu bela diri ini. Kagami yang serta merta acuh dengan respon tersebut pun bertepuk tangan.
"Kalian bisa mencobanya sebelum pulang. Karena dengan ini, sesi bebas dimulai."
Beberapa remaja laki-laki dan perempuan pun memulai latihan mandiri mereka dengan kuda-kuda. Sementara yang lebih dewasa saling bertukar pendapat tentang teknik yang mereka kuasai. Melihat aktifnya anggota klub, Kagami pun tersenyum puas dan meraih ponsel yang sedaritadi ia abaikan deringannya.
17 panggilan tak terjawab
50 pesan belum dibaca
Kagami tersenyum pias dan mengabaikan semua notifikasi yang sudah jelas siapa pengirimnya. Ia pun lebih memilih untuk menekan tombol panggilan di sebelah kontak dengan nama Satsuki. Beberapa kali suara sambungan telepon terdengar, akhirnya Satsuki menjawab panggilan dengan suaranya yang khas.
"Tai-chan!!! Kenapa kau tidak datang?!"
Kagami menghela napas, "aku malas."
Suara dengingan memenuhi telinga ketika Momoi Satsuki berteriak.
"MALAS KATAMU?! GEEZZ, SEMUANYA SUDAH MENUNGGU REUNI TAHUN INI! INI HARUSNYA MENJADI DEBUTMU SETELAH DUA KALI TIDAK HADIR DI REUNI SEKOLAH!"
Kagami tertawa hambar, "terima kasih. Tapi aku tidak perlu debut atau apapun itu."
"Ugh, Tai-chan~"
"Lagi pula hariku sudahlah berat meski tidak hadir dalam reuni sekalipun, Suki-chan."
Satsuki tanpa ragu tertawa puas.
"Baguskan? Itu tandanya mereka konsisten!"
"Konsisten?! Mereka gila! Itu sudah pasti!" Maki Kagami. Beberapa muridnya menoleh dan menatap lamat Kagami yang tersenyum sambil menggelengkan kepala kearah mereka. Para murid pun kembali pada kegiatan masing-masing, meninggalkan Kagami yang kembali fokus pada ponselnya.
"Aku kira bertahun-tahun berpisah menurunkan keinginan ataupun minat mereka padaku. Aku mungkin sudah bisa menghilangkan ketakutanku berkat apa yang kutekuni saat ini. Tapi untuk menuju jenjang lainnya? Tidak, terima kasih. Aku tahu mereka posesif dan hal itu sudah sangat mengerikan."
"Tai-chan~ suatu saat kau harus menikah~" ujar Satsuki dengan nada bahagia. Kagami menggerutu.
"Menikah? Aku seperti hendak berperang."
Satsuki tertawa dengan jawaban Kagami.
"Mereka yang berperang kok. Kau jadi hadiah utamanya!"
"ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTUKU!"
"Itu Taiga kan?" Tanya sebuah suara dari seberang telepon. Kagami yang jelas sekali mengenal suara tersebut segera memutus panggilan telepon dan mematikan ponselnya. Dan ponsel satunya.
"Ugh, bertambah usia itu buruk."
.
.
.
Jika kalian kira dengan pesan yang dikirim Taiga dulu dapat memadamkan tekad sebuah grup dengan warna rambut pelangi, kenyataan itu harus dibuang sejauh mungkin. Itu terlalu klise bagi mereka yang sudah menemukan tujuan hidup di masa muda. Sebuah rasa trauma, berapa lama waktu yang harus dijalani, dan bagaimana pembatas jarak di antara mereka dibentangkan pun nyatanya tidak bisa memadamkan tekad yang berkobar kuat. Api keinginan, sebuah hasrat takkan mudah padam meski banyak rintangan yang menghadang.
Taiga kira dengan pergi sejauh mungkin dan mulai fokus menyembuhkan traumanya dengan belajar bela diri membuat mereka bisa menemukan hal lain yang lebih pantas dari pada dirinya. Memang benar, mereka menemukan orang-orang baru, tekad baru, tujuan baru dalam hidup mereka. Namun sialnya- atau beruntung?, nama Taiga tak pernah dihapus dari tujuan hidup mereka. Taiga tidak salah mengatai mereka gila, bukan?
Taiga dulu dengan yang sekarang sudah berbeda. Ia tidak lagi meringkuk ketakutan dan menangis begitu berhadapan dengan lelaki di ruang terbatas. Ia tidak lagi menunjukkan sisi menyedihkannya pada lawan jenis. Berterima kasihlah pada beberapa teknik bela diri yang ia pelajari murni untuk memberikan ketenangan pada dirinya.
Awal berlatih bela diri merupakan masa-masa sulit bagi si penakut Taiga. Ia akan merasa takut ketika tangan pelatih pria terarah padanya. Ia tidak bisa berlatih privat atau hanya ditinggal berdua. Ia harus menyamankan pikiran dan hatinya bahwa tidak selamanya orang yang berada di dalam ruang tertutup bersamanya itu adalah orang jahat. Dan masih banyak lagi hal yang harus dibenarkan dalam otaknya untuk tidak terfokus pada trauma ataupun ketakutannya.
Dan dengan begitu instingnya pun terasah seiring waktu. Ia dipaksa dan akhirnya terbiasa membaca gerak-gerik mereka yang tidak memiliki niatan apapun dengan mereka yang jahat. Dan tentu, ia menyadari intensitas keinginan para anggota pelangi untuk memilikinya tidak pernah padam. Dan itu mengerikan untuk disadari sedari awal.
Memangnya Taiga punya apa untuk diberikan pada mereka?
TAMAT
