Chapter 11


Keesokan harinya, Hermione berkeliling Hogwarts untuk mencari Abraxas.

Di Aula Besar saat sarapan.

Di kelas Ramuan yang mereka hadiri bersama.

Di lapangan Quidditch saat jam isthirahat berlangsung.

Di sayap rumah sakit tempatnya dirawat dua hari yang lalu.

Di kandang burung hantu milik sekolah.

Di perpustakaan yang notabene sepi.

Di rumah kaca Herbologi.

Bahkan di rumah Hagrid! (Tidak. Hanya bercanda. Karena Hagrid masih siswa juga disini)

Sampai akhirnya, tujuan terakhirnya adalah asrama Slytherin itu sendiri. Yang sudah jelas dimana itu adalah tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Hermione hanya berhasil sampai di pintu depan sebelum para Slytherin menyuruhnya pergi, karena dia menghalangi jalan mereka.

Kesal karena menemukan Malfoy bersembunyi di kamar asramanya seharian, Hermione menyerah dan pergi ke kelas berikutnya.

"Ada apa dengan wajah masam itu?" Tanya Caleste.

Saat ini mereka tengah duduk semeja untuk kelas Ramalan. Ellena dan Gracelle berada tepat di belakang mereka.

"Aku-"

"Pasti bertengkar dengan Malfoy." Sahut Gracelle dari belakang, dengan tenang membuka buku-buku milik Ellena.

"Heyy sudah kubilang-"

"Gracelle, itu tidak sopan."

Caleste dan Ellena dengan serempak menegur.

"Maaf," kata Gracelle, mendongak dari bukunya.

"Jadi, apa yang terjadi Hermione?" Tanya Ellena menyambung.

Hermione menatap teman-temannya tidak yakin. Apa itu pilihan yang bijak untuk menceritakan masalahnya pada mereka, yang sebenarnya orang asing.

Caleste yang melihat pikiran Hermione menyelanya, "Ceritakan saja agar kami bisa membantumu. Kita teman, bukan?" katanya dengan senyum meyakinkan.

'Benar. Mereka teman-temanku sekarang,' pikirnya.

"Aku sebenarnya tidak tau," katanya.

"Hah?" Caleste dan Ellena saling pandang bingung.

"Well.. hari rabu kemarin Abraxas dan aku, kami masih baik-baik saja. Tapi.." jelasnya, matanya menatap ke teman-temannya sampai tiba di Gracelle. "By the way, Gracelle, apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukannya kau tahun ke 4?" Tanyanya bingung, baru sadar akan hal itu.

"Oh! Abaikan saja dia Hermione." Kata Caleste.

"Kadang-kadang dia akan ikut dengan kita saat dia tidak punya jadwal-" jelas Ellena.

"Daripada sendirian di asrama," sahut Gracelle.

Mendengar kata asrama membuat mood Hermione memburuk.

"Lihat. Kau hanya akan bertambah buruk jika tidak membicarakannya Hermione. Ceritakan saja," kata Ellena bijak.

Siang itu mereka habiskan dengan mendengar cerita Hermione dan mengabaikan Profesor aneh yang sedang mengoceh tentang bola Kristal di kelas.

.o0o.

Pukul 4 sore. Saat kelas terahkir yang dihadiri Hermione selesai hari itu. Tubuhnya terasa gerah dan berkeringat, dan dia berpikir untuk mandi di kamar mandi asrama.

Kakinya segera membawanya melangkah ke Menara Gryffindor.

Sesampainya di sana dia hanya melihat Ellena yang sedang menata isi kopernya, sepertinya gadis itu baru saja selesai mandi. Sedangkan Gracelle dan Caleste tidak terlihat sama sekali.

"Hey, Ellena." Sapa Hermione, agak canggung karena baru kali ini dia berada di ruangan yang sama hanya dengan gadis Potter itu.

Dalam pikirannya, dia masih menjerit 'Nenek buyut Harry!'

Ellena yang sudah selesai dengan kegiatannya mendongak dan berdiri. Dia tersenyum saat melihat Hermione dan menjawab sapaannya. "Hey, Hermione."

"Well.. di mana Gracelle dan Caleste? Aku tidak melihat mereka berdua," kata Hermione, mencoba membuat sebuah percakapan.

"Caleste sedang menemui kakak laki-lakinya, urusan keluarga kau tau. Dan Gracelle sedang menjemput Minerva di kantor Kepala Sekolah. Program pertukaran siswa sudah berakhir dan Minerva dijadwalkan pulang hari ini. Sekedar informasi karena mungkin kau lupa, mereka benar-benar teman dekat. Minerva dan Gracelle," jelas Ellena.

Hermione hanya menjawab 'oh' saat mendengar hal itu. Well, dia baru saja tau bahwa Profesor masa depannya itu ternyata bersahabat baik dengan gadis Ollivander.

"Apa kau sibuk setelah ini?" Tanya Ellena tiba-tiba.

Hermione menggeleng dan menjawab tidak.

"Aku berencana untuk pergi ke perpustakaan. Hanya bertanya-tanya apakah kau ingin ikut?"

"Tentu, kenapa tidak." Hermione bersemangat, jarang sekali dia memiliki teman yang suka pergi ke tempat yang dianggap oleh kebanyakan orang 'membosankan' itu. "Tapi sebelum itu, aku harus mandi terlebih dulu."

"Baiklah. Aku akan menunggu," kata Ellena setuju.

10 menit kemudian.

Begitu dia selesai mandi, mereka segera pergi menuju perpustakaan.

Mereka sampai di sana dan segera mencari meja. Hermione menatap sekeliling ruangan dan matanya mendarat pada sosok Tom Riddle yang menempati meja bagian sudut perpustakaan.

Di sisi lain, Ellena yang telah menemukan meja yang tepat untuk mereka memanggil Hermione, mengisyaratkan padanya untuk bergabung.

Hermione duduk dan mulai menata bukunya.

"Apa dia selalu berada di sini? Setiap sore?" Tanya Hermione, tatapannya masih tertuju pada Riddle.

Ellena mengikuti arah pandangannya, dan menemukan Riddle yang tampak sibuk dengan salah satu esainya. "Kurasa begitu," katanya.

Hermione menoleh padanya, meminta penjelasan.

"Dia adalah siswa tercerdas di angkatan kita, disusul dengan Gracelle dan Abraxas. Lalu ada Minerva, meskipun dia lebih yang ke non akademik. Tidak heran jika perpustakaan menjadi tempat singgahnya bukan?" jelas Ellena.

"Lalu kenapa dia tidak seperti Gracelle yang melakukan loncatan kelas, jika dialah yang terpintar nomor satu. Dan tunggu! Tadi kau bilang Abraxas?!" pekik Hermione. Dia segera menutup mulutnya setelah menyadari betapa keras suaranya.

"Memang," Ellena terkekeh geli, "Dan untuk Riddle sendiri, dia menolak. Tidak ada yang tau apa alasannya." katanya sambil mengangkat bahu.

'Well.. itu cukup mengejutkan.' Pikir Hermione.

Dia tidak mengira kakek Draco begitu pintar. Sayang dia tersaingi oleh Riddle untuk menjadi yang pertama.

Tiba-tiba dia tersentak saat mengingat kata 'pertama' itu. Dia menoleh ke Ellena dan menunjuk dirinya sendiri, "Lalu aku? Ada di peringkat berapa aku saat ini?" tanyanya panik.

Ellena membenarkan letak kacamatanya dan berpose seperti orang yang sedang berpikir, "Seingatku, kau berada di urutan ke 7." Katanya.

"Tujuh!" seru Hermione protes.

Jujur dia tersinggung. Orang macam apa sebenarnya Hermione Dagworth-Granger ini? Jiwa pintarnya merontah-rontah karena tidak berada diurutan pertama lagi.

Ellena mengangkat jarinya ke bibir dan menyuruhnya untuk diam.

"Maaf," kata Hermione setengah hati. Dia berdehem sejenak, "Kenapa bisa begitu? Maksudku.." dia membuang nafas kasar, benar-benar kesal.

"Jangan terlalu kesal akan hal itu. Setidaknya kau masuk sepuluh besar," hibur Ellena.

"Tapi aku masih tetap kalah dari Abraxas." Katanya masam.

Ellena tertawa pelan mendengar hal itu. "Well, bukan hal yang buruk aku rasa."

Hermione manatapnya bingung, "Bagaimana itu bisa tidak buruk? Aku masih tidak percaya Malfoy lebih pintar dariku."

"Kau harus lebih bersyukur, Hermione." Ellena menasihati, "Dari apa yang aku dengar, ayahmu menjodohkanmu dengan Abraxas karena pria itu sangat mahir dengan Ramuan," jelasnya.

Hermione tercengang, "Ayahku melakukan itu? Hanya karena Malfoy mahir membuat Ramuan?"

"Agak lucu saat mengatakannya, tapi ya. Itulah yang kudengar," kata Ellena.

"Wow," Hermione tidak bisa berkomentar lagi, matanya hanya menatap kosong pada bukunya.

Saat dia mendongak dari bukunya, dia mendapati Riddle tengah menatapnya dari sudut terjauh meja.

Hermione berdehem dan menegakkan punggungnya, sebelum kembali ke bukunya.

.o0o.

Sabtu datang dengan cepat.

Dia belum bertemu dengan Malfoy dan harus memastikan apakah pria itu benar-benar akan datang bersamanya ke kediaman Dagworth atau tidak.

Udara masih dingin karena salju, dan karena itu masih pagi juga, saat dia berjalan menuju asrama Slytherin. Hermione benar-benar bertekad kali ini. Dia akan berjaga di depan pintu masuk asrama sampai Abraxas menunjukkan dirinya.

Dia benar-benar melakukannya. Selama 15 menit. Sampai pintu itu terbuka dan seorang gadis muncul.

Hermione sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

Gadis itu, yang tampaknya adalah Slytherin tahun ke 2, mengangkat alis padanya.

"Kau melakukannya lagi?" tanyanya, "Serius, kalian Gryffindor sangat bodoh. Kau hanya membuang-buang waktumu dengan berdiri seperti orang tolol di sini," cibirnya.

"Kalau begitu, berhentilah mencibir dan bawakan aku Abraxas." Kata Hermione, memandang datar pada gadis di depannya.

Wajah gadis itu memerah karena penghinaan, "Berani sekali kau membuat perintah. Kalian Gryffindor-"

"Aku sudah selesai dengan semua omong kosong tentang Gryffindor ini, nona muda. Masuk. Dan bawakan aku Abraxas!" tekan Hermione.

"Ugh," keluh gadis itu sebelum menjawab, "Anak laki-laki sedang bermain Quidditch sekarang. Tunanganmu mungkin juga ada disana," jelasnya dengan setengah hati.

"Well, itu lebih baik. Terima kasih.. er, siapa namamu?"

"Black. Druella Black," kata gadis itu.

"Ya, ya, terima kasih Miss Black." Lanjut Hermione, "Lain kali, katakan itu lebih cepat sehingga aku tidak harus memblokir pintu masukmu." Katanya, berusaha menjaga dagunya tetap tinggi sebelum melenggang pergi.

Gadis Black itu hanya ternganga pada sikap arogannya.

Setelah meninggalkan area ruang bawah tanah, Hermione cepat-cepat menuju lapangan Quidditch. Dia menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

"Sialan Malfoy," umpatnya. "Aku benar-benar terlihat seperti orang tolol sekarang. Beraninya dia bersenang-senang dengan sapunya sementara aku membeku di luar pintu asramanya!" serunya marah.

Saat dia sudah mendekati lapangan, matanya menangkap kilatan pirang yang terbang di udara. Malfoy yang sepertinya menyadari keberadaannya menurunkan ketinggian sapunya.

"Malfoy!" katanya begitu dia memasuki pinggiran lapangan Quiddicth.

Malfoy segera mendarat dengan anggun dari atas sapunya. Sebuah keterampilan yang membuat Hermione iri, jika dia ingin jujur.

"Granger," sapa Abraxas.

Hermione melangkah mendekatinya dan menunjuk-nunjuk dada bidang Malfoy. "Apa-apaan kau ini. Kau sedang asyik bermain disini sementara aku mati membeku menunggumu diluar pintu asramamu!" pekiknya.

Suaranya menarik perhatian beberapa teman Malfoy yang sedang sibuk dengan sapu mereka. Abraxas hanya melambai pada mereka, mengisyaratkan untuk mengabaikannya.

"Easy, Granger." Kata Abraxas, sambil menangkup jari Hermione yang menusuk-nusuknya.

"Tidak!"

"Terserah." Abraxas memutar mata pada kekeras kepalaannya, "Apa maumu?" tanyanya kemudian.

"Kau benar-benar menyebalkan. Kau tidak bisa hanya marah, diam, lalu mengabaikan semuanya dengan bersembunyi di kamarmu!" Hermione merengut padanya.

"Aku sudah katakan jika itu bukan urusanmu, Granger." Kata Abraxas.

"Kau tidak bisa serius!" protes Hermione.

Abraxas hanya menghela nafas ringan, "Apa kau kesini hanya untuk ini? Memarahiku?"

"Tidak. Tentu saja tidak," kata Hermione. "Aku hanya ingin memastikan apakah kau akan tetap datang bersamaku? Ke kediaman Dagworth?"

"Tentu saja." Jawabnya singkat, setelah jeda beberapa saat.

"Well, bagus kalau begitu." Gumam Hermione, matanya menatap Abraxas. Dia tidak melihat sedikitpun lecet di wajahnya, pasti mantra penyamar. "Kau masih berhutang penjelasan padaku tentang masalah ini."

Abraxas balas menatapnya. "Baik. Tapi jangan sekarang, Aku tidak punya mood untuk menjawab semua pertanyaanmu," katanya.

Mereka saling berdiam dan menatap selama beberapa saat, sebelum Abraxas berbalik menuju lapangan.

"Masuklah. Disini terlalu dingin. Tubuhmu sering demam saat bermain di luar terlalu lama," kata Abraxas saat dia mulai menaiki sapunya lagi.

Hermione hanya tersentak mendengarnya. Matanya mengikuti Malfoy yang mulai terbang mengudara.