Hei, hei kita kembali lagi untuk tetap update di fanfiction ini yang masih berjalan 20 persen jadi bisa dipastikan masih lama untuk tamat apalagi saya membuat jalan cerita ini sesuai dengan yang ada di manga atau jalan cerita aslinya meskipun ada beberapa yang sedikit berubah setidaknya saya mengcopy saja jadi itu dibolehkan karena saya nyebutin referensi dari aslinya jadi bukan terkena hak cipta atau plagiatrisme apalagi mengaku-ngaku itu ide sendiri dan terinspirasi dari jalan-jalan apalagi saya di awal cerita sudah menjelaskan serinci-rincinya jadi jangan banya pertanyaan lagi, meskipun ada yang membingungkan biasanya saya beritau di setiap A/N per-chapter so begitulah penjelasannya.

P.s : huuuuuu, drama lagi di Youtube dengan kasus yang saya sebutin tadi di atas yang mana ambil comot tanpa referensi lalu diedit sedikit sehingga mengira itu adalah miliknya dan akhirnya dapat duit karena hasil maling makanya tak heran indonesia gak maju-maju karena mentalnya cuma copypaste dan tak mau sendiri tapi, itulah sisi negatifnya tapi Negara tercinta ini lebih banyak sisi positif jadi jangan diambil hati (maaf yah!)

Chapter 42 : Rescue Wendy & Meeting Old Enemy

.

...

.

- Hutan Belantara

*duarrrr! *duarrrr! *duarrr!

Sebuah ledakan terus menerus terdengar di kedalaman Hutan yang seharusnya sunyi dan hanya terdengar suara burung saja, lalu juga terdengar teriakan dari manusia kesakitan, ditambah seperti benda sesuatu yang beradu menambah kesan bahwa Hutan ini tak sepi dari penghuninya.

Dan keributan itu dibuat oleh tiga orang bringas yang selalu mengandalkan otot daripada otak dalam melakukan masalah yang membuat kekacauan ini lebih parah dari sebelumnya, lalu terlihat mereka masih tetap bertarung dengan sekelompok orang yang banyak tapi tak bisa menahan mereka sama sekali.

Natsu, Gray, dan Erza yang tengah menghajar orang-orang ini tanpa bersalah malah selalu menunjukan senyum senang sekali di wajahnya dan mereka gila, lagipula orang stress macam apa yang mampu menghentikan ketiga orang ini ketika melakukan persaingan? yang ada akan berakhir dengan bonyok jika mencoba meleraikan atau ikut campur dan contohnya orang-orang tergeletak di tanah.

Erza memutar beberapa pedang seperti sebuah gasing yang melindungi dirinya sendiri menebas tubuh beberapa bandit yang mendekatinya, Gray hanya menembakan tombak es yang mengubah mereka membeku menjadi es bahkan dia membuat lantai tanah membeku hingga beberapa bandit ini terpleset, Natsu sepertinya yang tak begitu sulit dan cukup membuat sekumpulan bandit ini pingsan dengan Haoshoku Haki karena kekuatan ini berguna tanpa harus banyak bergerak.

"Tch, kau hanya membuang waktu dan tenaga saja" Natsu tersenyum meledek ke rivalnya itu yang sedikit kerepotan mengatasi musuhnya dan sementara dirinya cukup mudah tanpa berkeringat yang saat ini tengah duduk sombong di atas para korbannya.

Gray mendecak kesal dengan penghinaan ini tapi tak bisa berbuat sesuatu "tch, kalau kau cuma ingin menyombongkan sesuatu mending tak usah bicara saja!" dia tau si bodoh ini memiliki kekuatan gila bahkan di luar nalar namun anehnya Natsu belum pernah menunjukan semuanya dan herannya bagaimana Natsu belum Penyihir tingkat S? itu hanya dewa saja yang tau.

"Natsu, bisa kau bantu kita sekarang?" Erza bertanya dengan memohon kepada orang yang dia sayang ini terkadang suka gemas sendiri ama Natsu yang selalu bisa tenang dalam situasi apapun itu dan dia tau juga Natsu memiliki kekuatan lebih yang sekarang masih disembunyikan meskipun penasaran dia tak bertanya karena tau bahwa DragonSlayer Api ini bakal memberi taunya sendiri.

Natsu menopang dagunya dengan tersenyum "bukankah kita saat ini sedang taruhan? jika seperti itu jadinya maka aku yang menang berarti?"

"Enak saja, mana sudi aku mengakuimu!" balas Gray yang tak mau mengakui rivalnya ini lebih kuat dari dirinya meskipun kenyataanya yang ada seperti itu.

"Tuh lihat, Gray saja tak mau jadi aku yakin tantangan ini masih tetap berlanjut?" Natsu menatap salah satu gadisnya ini dengan seringai jahil di wajahnya dan menjilati mulutnya penuh tertarik kepada Erza "lagipula, kau masih harus melakukan sesuatu denganku jika kalah taruhan"

Wajah Erza sangat merah seperti rambutnya jika mengingat taruhan pribadi dengan Natsu yang sangat memalukan itu tapi dalam hati pribadinya yang mesum itu cukup membuat tubuhnya menggelora panas jika membayangkannya dan dia berharap sesuatu seperti itu terjadi tapi, dengan buru-buru dia menggelengkan kepala menyingkirkan fikiran gila seperti itu karena situasinya sedang begini.

"Diam!" teriak Erza merasa sangat malu dan Natsu tertawa karena cukup lucu menggoda atau bermain perasaan dengan gadis ini.

"Gezzz, jika kalian ingin pacaran cari tempat lain" Gray memutar bola matanya dan dia sudah tau bahkan gurunya terkena juga meskipun jengkel tapi, asalkan Ur itu senang dan baik-baik saja jadi dirinya tak protes lagi.

Setelah beberapa saat akhirnya ketiga orang ini akhirnya membasmi beberapa bandit ini yang sudah tepar babak belur dan akhirnya semuanya sudah selesai, Erza dan Gray sedikit terluka babak belur sedangkan Natsu sendiri masih normal karena dia monster jadi jangan heran bisa menangani para bandit dengan mudah.

"Aku menang!" ucap Natsu dengan tersenyum memasang pose peace damai.

"Tch, beruntung saja kau" Gray menggerutu sebal tapi kenyataanya dia kalah saing dengan rivalnya.

Erza diam saja dengan tertunduk memerah malu nampaknya dia kalah taruhan dan setelah misi ini dia akan mendapatkan sesuatu yang memalukan dan tak cocok untuknya yang memiliki sifat keras penuh kebanggaan.

Carla keluar dari persembunyiannya "bagaimana bisa kalian mengalahkan mereka secepat itu? padahal jumlah mereka lebih banyak dan kuat?!" dia fikir mereka ini orang-orang bodoh yang cuma mengandalkan otot saja.

"Dalam kemenangan jumlah itu bukan suatu hal yang terpenting" ucap Erza tersenyum.

"Bagaimana lokasi Wendy sekarang?" Gray bertanya pada indra penciuman Natsu yang sangat kuat.

Natsu mengendus ke udara "ke sini, tak lama lagi kita akan sampai" dia menunjuk ke arah yang dituju lalu berlari disusul yang lainnya.

Dan setelah itu mereka sampai di atas sebuah tebing melihat ke bawah yang di mana ada suatu gua pertambangan tua yang tak sudah terpakai.

"Dia ada di sana?" Gray bertanya.

Natsu mengangguk yakin "jelas sekali, baunya sangat kuat di sana lagipula ada beberapa bau orang lain yang menyebalkan dan terlebih lagi..." dia menahan bicaranya di akhir sambil mengepalkan tangannya seperti menahan amarah dan kesal jadi satu "di antara mereka kenapa harus ada orang itu lagi?" dia mengerang emosi.

Erza melihat reaksi Natsu yang berbeda sekali bahkan bukan dari biasanya ketika menyebut seseorang meski tak tau namanya lagipula siapa yang di maksud itu? terlebih Erza sangat tau Natsu itu tak bisa berbohong apalagi tentang perasaan karena ciri khas DragonSlayer itu melampiaskan perasaan mereka lewat emosi jadi, dia cukup tau DragonSlayer Api ini sedang menahan amarahnya.

"Tenanglah" Erza tersenyum dan menenangkannya dengan memegang erat telapak tangan Natsu karena cuma itu yang bisa dia lakukan.

"Maaf" balas Natsu membalas memegang erat balik dan dia merasakan sesuatu cepat datang ke sini berkat Kenbun miliknya dan melihat seperti sesuatu yang berkilat datang ke sini "awas!" dia langsung menarik Erza ke dalam tubuhnya melingkarkan tangan kanannya ke pinggul gadis berambut scarlet itu.

*wushhh!

"Na...Natsu?!" Erza gagap gak karuan karena posisi mereka berdekatan seperti ini dan wajahnya sangat panas sekali.

Natsu menahan kaki seseorang karena itu sebuah ancaman "apa ini? sebuah penyambutan yang gak baik untuk tamu seperti kita ini?" dia mencengkram kaki musuhnya agar tak bergerak.

"Tckk..." Racer mendecak kesal tapi posisinya seperti ini tak memungkinkan melakukan sebuah serangan balik.

Natsu menoleh ke temannya dengan seringai grin "hoi, kau ingin mangsamu bukan?"

Gray mengepalkan tangannya penuh semangat "kebetulan sekali, aku masih memiliki urusan pribadi dengannya" dia langsung meninju Racer tepat di bagian pipi membuatnya terdorong jauh "kalian pergilah selamatkan Wendy, soal orang ini biar aku urus" dia masih kesal dengan dipermalukan tadi.

"Oke, hancurkan mereka" Natsu langsung turun ke bawah sambil menggendong Erza yang berteriak protes malu.

"Ohh, kau fikir bisa menahanku dalam berlari?" ucap Racer mereganggkan telapak tangannya.

"Aku cukup membuatmu terpleset saja bukan?" balas Gray.

.

.

.

.

.

- Pertambangan Tua

Wendy tak tau kenapa dia harus seperti ini untuk situasinya tapi sudah sangat jelas posisinya saat ini tengah tak bagus, apalagi dia antara senang atau sedih. senangnya dia akhirnya bertemu lagi dengan orang yang sudah lama dicari dan sedihnya saat ini orang ini sedang dalam keadaan mati suri dan perlu bantuan kekuatan penyembuhannya.

Jellal adalah orang yang membantu Wendy saat dirinya tengah sendirian karena mencari Gradeeney yang hilang tiba-tiba begitu saja, laki-laki berambut biru itu selalu menolongnya hingga akhirnya bisa bertemu dengan Guild Calt Shelter dan setelahnya Jellal menghilang tanpa jejak hingga cukup membuat Wendy sedih.

Dan tak lama akhirnya takdir mempertemukan mereka di sini kembali dalam situasi yang tak bagus karena harus menyembuhkannya, bukan dia tak senang cuma Jellal saat ini tubuhnya dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang saat ini menjalankan rencana jahat mereka.

"Jellal?..." Wendy tertegun penuh terkejut karena melihat lelaki itu terikat banyak Rantai di dalam Peti.

"Kau mengenalnya Wendy?" Happy bertanya karena seingat dia Jellal itu sudah tewas di Menara Surga oleh Natsu dan juga ditambah dengan ledakan Etherion yang mustahil selamat.

Wendy mengangguk "iyah, dia yang menolongku waktu aku sendiri"

"Apapun yang kau lakukan jangan menyembuhkannya!" ucap Happy menunjuk karena tak suka lelaki ini yang telah menyakiti Erza dan termaksud orang jahat "bahkan mengorbankan dan menipu para Dewan agar membangkitkan Etherion"

Wendy menatap ke figure lelaki itu "aku tak mengira bisa bertemu dengannya lagi tapi, jika kau katakan itu benar maka Jellal benar-benar orang jahat"

"Yah, kami menemukannya di pantai karena tubuhnya ini sudah dirasuki" ucap Brain yang tak begitu peduli ucapan mereka "dan yang kau lakukan gadis kecil adalah, menyembuhkannya agar kita bisa membangkitkan kembali Nirvana"

"Tunggu jangan!" Happy menahan gadis kecil ini.

*slashhh.

Brain memberi luka kecil ke tangan Jellal "jika, kau menolak maka aku bisa melakukan apapun dengan tubuh ini bahkan memotongnya menjadi kecil" dia tersenyum mengancam karena tau gadis kecil ini memiliki hubungan khusus dengan Jellal.

Wendy mengepal tangannya posisinya saat ini benar-benar tak bagus sama sekali untuk memilih jadi, tak ada pilihan lain "baiklah, akan aku lakukan sekarang" dia akhirnya memilih menyembuhkan Jellal dan tak ingin lelaki berambut biru terluka apalagi disiksa seperti itu.

Brain melihat ke belakang dan mengerang jengkel "benar-benar sampah yang sangat menggannggu sekali" dia menatap pria hiu itu "Kisame, bisa kau urusi mereka sekarang?"

"Yah, aku ingin bermain daripada diam saja karena bosan" balas Kisame menopang senjata besar itu dan berjalan keluar menyambut tamu tak diundang ini.

Sedangkan di luar Erza sudah sampai bersama dengan Natsu sementara Gray menahan musuh di atas agar tak ada yang menyusul karena prioritas sekarang adalah membawa Wendy dengan selamat.

"Ayo cepat!" Erza berlari dengan tergesa-gesa.

Natsu merasakan sesuatu berbahaya datang lalu dia maju menarik Erza mundur lagi dan tak lama muncul sesuatu seperti pedang besar dan panjang tapi tak tajam karena seperti dilapis oleh perban yang berputar-putar dengan cepat ke arah mereka berdua.

*bangg!

Natsu bisa menahannya dengan kedua tangan meski sedikit terseret mundur 'bagus, sekali aku menemukan lawan yang sedikit tinggi' dia merasakan kekuatan yang kuat sekali dari lemparan senjata besar ini.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Erza khawatir.

"Yah, tak masalah" balas Natsu tapi sadar sesuatu yang berbahaya lalu tak lama muncul sesuatu tajam berduri banyak seperti sisik jarum muncul dari senjata besar itu, DragonSlayer Api ini yang sedikit telat bereaksi langsung melemparkan itu ke jauh "sial, orang ini"

"Hati-hati" ucap Erza

Natsu melihat kedua telapak tangannya yang terluka "kau tetap di belakangku biar aku yang urus ini" dia tak bisa membiarkan Erza ke dalam karena berbahaya musuh ini dan sedikit beda.

Kisame berjalan mengambil senjatanya "cukup bagus menahan Samehada milikku jadi, aku sangat beruntung bertemu lawan yang kuat bahkan memiliki banyak makanan di tubuhnya" dia menjilati mulutnya dengan penuh rasa tertarik.

"Biar aku bantu!" Erza tau lelaki ini berbahaya dan mustahil ditangani Natsu sendiri.

"Tak usah, urusanmu adalah Wendy sekarang" balas Natsu dengan wajah serius dan Erza melihat ekspresi itu tau bahwa tak bisa dibantah lagi.

Kisame membuat segel tangan dan menempatkan di depan mulutnya "baiklah aku mulai!" dia menarik nafas.

"Mundur!" Natsu memasang kuda-kuda yang sama dan menarik nafas.

"GOKKA MEKYAKU!"

"SUIRYUUDAN SUKYAKU!"

*Booommmmmmm!

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Kemudian

Erza Scarlet berlari masuk ke dalam Hutan lagi bersama dengan Carla mencari Wendy tapi, sebuah masalah kecil yang akhirnya penyelamatan Wendy jadi sia-sia jadi bisa dibilang dia berlari ke sini berkat ucapan dari Natsu yang mencium baunya yang ke sana karena setelah sampai di Pertambangan tiba-tiba ledakan besar karena dua kekuatan yang beradu, dan itu cukup untuk menghancurkan Pertambangan itu beserta mementalkan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Gadis berambut scarlet ini berlari masuk ke dalam setelah ledakan tadi meskipun dia ingin membantu Natsu dalam menghadapi orang itu tapi, DragonSlayer Api ini seperti biasanya menolak karena bisa mengatasinya sendiri apalagi sejak awal Erza masih sangat yakin bahwa Natsu masih banyak menyembunyikan kekuatannya dan belum banyak diketahui.

Jadi tugas dia sekarang adalah menyelamatkan Wendy terlebih dahulu baru mementingkan misi apalagi beberapa Anggota Oracion Seis masih ada di sekitar sini jadi, semoga saja dia bertemu dengan salah satu dari mereka terutama yang memiliki Ular besar itu karena dia masih memiliki hutang balas dendam yang terjadi waktu pertemuan pertama.

"Kau yakin, membiarkannya sendiri seperti itu menghadapinya?" ucap Carla terbang dan masih khawatir tentang keselamatan gadis kecil itu.

"Dia itu orang yang tak bisa kau perkirakan seperti apa kekuatannya jadi, jika musuh seperti itu saja tak ada masalah" balas Erza tersenyum percaya dan dulu dia selalu saja membuat hatinya selalu nyaman dengan kelakuan konyolnya.

Carla diam sejenak beberapa saat "aku ingin tau bagaimana bisa kau bisa sembuh dari Racun ini yang terlebih lagi apa maksudnya yang memiliki tanda saja?" dia tau Natsu bukan tipe yang bisa menyembuhkan luka atau racun.

Erza blush malu seperti rambutnya dan menjawab "mungkin kau sudah tau bahwa ada masanya seorang DragonSlayer memasuki musim kawinnya dan mencari pasangan untuknya?" dan Carla mengangguk faham karena Wendy bicara seperti itu sebelumnya "jadi bisa dikatakan aku dan Natsu sudah menjadi satu, intinya saling berbagi rasa yang asatu sama lain yang berarti kekuatan kita juga berbagi"

"Ehh, begitu" Carla hanya mengangguk faham.

"Ada saatnya Wendy akan mengalami hal sama tapi agak sedikit berbeda karena dia perempuan jadi, aku tak seperti apa menanganinya waktu dalam musim kawin" ucap Erza.

"Aku tau itu hanya saja aku takkan menahannya karena itu akan menyakiti tubuhnya sendiri dan yang lakukan hanya perlu memberi pengajaran pada gadis polos itu" balas Carla meski terdengar menjijikan tapi Wendy memang harus belajar soal itu karena seiring bertambah waktu dia akan dewasa.

Lalu setelah beberapa saat berlari akhirnya mereka menemukan yang dicari Wendy tengah berbaring lemas kecapekyan ditemani Happy.

"WENDY!"

Wendy membuka matanya karena ada suara berisik memanggil namanya lalu menyadari siapa itu "Carla!, Erza-san! kalian datang!" dia berlari ke arah mereka karena sangat senang bisa selamat dari orang-orang jahat itu dan memberikan pelukan cepat.

"Tenanglah, kau sudah aman di sini!" Erza mengusap rambut birunya memberikan rasa aman dan nyaman kepada gadis kecil yang ketakutan itu.

Wendy mengusap air matanya penuh terharu tapi sadar ada seseorang yang tak ada di sini "uhmmmm, ngomong-ngomong di mana Nii-san?!"

"Nii-san?" Erza mengangkat sebelah alisnya dan tak tau apa maksud gadis kecil ini.

"Maksudnya Natsu" jawab Happy dan dia bisa menebak saat ini partnernya tengah bertarung di suatu tempat.

"Ahhh begitu.." Erza faham sekarang dan siapa yang menyangka bahwa di mata gadis kecil ini Natsu adalah seorang figure kakak yang baik meskipun baru pertama kali bertemu tapi, Natsu memberi kesan baik terhadap gadis kecil ini dan dia senang baik-baik saja "ahhh, jika kau tanya kakakmu saat ini dia sedang menyelamatkan teman-temanmu yang lain"

"Kita harus segera kembali dan beri tau yang lainnya" ucap Carla.

'Kasih tau enggak yah?' Happy bingung pada dirinya sendiri dan apa reaksi Erza jika tau bahwa Jellal masih hidup mungkin depresi? kecewa? atau ketakutan? dia berharap Natsu segera datang dan mempercepat urusannya.

Wendy teringat sesuatu lalu mendorong Erza "maaf Erza-san, aku harus pergi sekarang!" dia tak ingin lelaki itu dimanfaatkan oleh orang-orang jahat seperti mereka dan harus menyelamatkannya.

Erza menahan lengan gadis kecil ini "kenapa kau begitu terburu-buru, jika itu penting biarkan kita ikut membantu juga" dia tersenyum.

Wendy menggeleng kepala "maaf tapi, tolong aku ingin menyelamatkan Jellal dengan kekuatanku sendiri!"

"A-apa!?" Erza tersentak hening ketika Wendy berbicara nama itu lagi dan apa maksudnya jika Jellal masih hidup padahal sangat diyakini sudah mati sewaktu insiden Menara Surga yang sempat membuatnya trauma bahkan merasa bersalah tapi, sekarang itu sudah tak lagi.

"Dia masih hidup sekarang dan saat ini sedang kabur karena tubuhnya mau dipakai sesuatu dan orang itu menyebutnya Nirvana" jawab Happy.

"Oh, begini rupanya" Erza sedih tau tentang informasi rencana musuhnya sebelum melakukan serangan balasan.

"Kau tak khawatir?" Happy bertanya.

Erza melirik ke samping "soal Jellal kah? untuk apa aku khawatir lagipula itu bukan urusanku lagi karena semuanya sudah selesai" dia tak mau terlalu terbayang-bayang di masa lalu karena itu akan menganggunya "namun, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan terutama bagaimana Wendy bisa mengenalnya"

"Erza-san mau ikut membantu mencarinya?" Wendy bertanya.

Erza mengangguk "tentu, lagipula kau tak boleh sendiri karena aku yakin musuh pasti masih akan memanfaatkan kekuatanmu itu"

"Ayo!" Wendy tersenyum senang.

"Tapi, sebelum itu kita hubungi Hibiki lebih dahulu karena misi sudah selesai" ucap Erza membuat komunikasi sihir.

.

.

.

.

.

- Pertambangan Tua

Sekarang situasi Pertambangan yang ada di sini bisa dikatakan hancur lebur tak tersisa cuma menyisakan tanah yang rata saja karena itu disebabkan oleh dua orang yang memiliki kekuatan besar yaitu Kisame dengan Natsu yang sekarang saling berhadapan satu sama lain dan tengah berdiri di atas bebatuan kecil.

Lokasi masih tetap sama cuma yang berbeda karena ada Laut buatan besar yang dibuat Kisame sendiri dengan kekuatan Air bah miliknya jadi bisa dikatakan posisi di sekitar sini tenggelam karena air besar ini tapi bagi dua orang yang bertarung tempat seperti ini tak menyulitkan bahkan hal biasa apalagi mereka berdua bisa berdiri di atas air.

Natsu sendiri cukup terkejut dengan kekuatan sebesar ini yang mampu membuat laut buatan padahal perlu kekuatan banyak untuk menciptakan jenis seperti itu apalagi bukan sembarang orang yang membuat seperti ini jadi, bisa dibilang dia berhadapan dengan musuh yang tak biasa.

"Kekekek! Sepertinya sudah sangat lama sekali aku tak bertemu dengan lawan yang seimbang" ucap Kisame tertawa yang menunjukan gigi tajamnya "karena kau kuat maka sebagai lawan aku, hormati dirimu dengan berkenalan dengan Samehada kepunyaanku"

Kisame langsung melemparkan Samehada ke depan dengan berputar-putar sangat cepat sementara dia langsung maju berlari ke depan, Natsu memiringkan kepalanya menghindari benda besar itu lalu menembakan laser yang langsung tembus ke tubuh Kisame yang nyatanya itu cuma sebuah clone Air saja.

Tak lama Samehada kembali lagi ke arah Natsu seperti sebuah Boomerang dan lelaki berambut itu langsung meloncat ke atas karena gaya serangannya itu vertikal dan merepotkan, tapi tak lama muncul Kisame asli berada di depannya yang sudah menangkap Samehada lalu mengayunkan ke depan dengan sekeras tenaga dan mustahil bagi Natsu untuk menghindar dalam posisi seperti itu.

*Brakkkk!

Natsu masih bisa menahannya dengan Haki Bushou jadi luka yang diterima tak begitu parah karena senjata itu berbahaya karena bisa mengeluarkan duri banyak dan DragonSlayer Api ini terdorong mundur, tapi sepertinya Kisame belum selesai karena muncul lagi sekumpulan kloning air yang mengelilingi Natsu secara tiba-tiba dan langsung meledak seperti Bom.

'Boleh juga kekuatan orang ini' Natsu sudah bereaksi lebih cepat dengan melompat ke atas dan melihat Kisame yang asli berdiri beberapa meter dari tempatnya 'saatnya giliranku untuk menunjukannya'

Muncul gumpalan sesuatu merah yang berair dengan kabut asap dari kedua tangannya dan tak lama meledak hingga membentuk gumpalan lava merah, lalu kedua tangannya ditarik ke belakang seperti ingin menembakan sesuatu.

"RYUUSEI KAZAMI!"

Natsu langsung melepaskan tembakan tinju lava secara beruntun dengan kecepatan tinggi hingga mirip sekali dengan hujan meteor yang begitu banyak dari kedua tangannya tanpa henti bahkan jika dilihat dari jauh warna merah gelap seperti itu benar-benar menciptakan pandangan hujan merah yang begitu indah tapi aslinya itu sesuatu yang bisa membunuhmu.

"Sungguh luar biasa" komentar Kisame menyeringai tertarik dan tak tertekan takut karena kekuatan besar ini lalu malah membalas serangan dengan mengigit jempolnya "coba kita adu sekarang!" dia menghantam telapak tangan kanan ke air.

Kisame membuat pusaran air yang memutar hingga membentuk bola air raksasa di depannya lalu tak lama muncul segerombolan cloning Hiu air buatan dengan jumlah banyak dari bola itu tanpa henti dan serangan seperti itu mirip sekali dengan gaya serangan Natsu tadi yang tak henti menembakan sesuatu.

Dan kedua kekuatan besar itu saling berbenturan satu sama lain tanpa henti bahkan itu seperti sebuah kembang api yang membuat percikan di langit ditambah jika Air dengan Magma berbenturan maka membuat gumpalan uap yang memenuhi are itu hingga membuat jarak pandangan sedikit terganggu.

Natsu sudah terbiasa jika bertarung dalam kondisi seperti ini karena pernah latihan sebelumnya ditambah pernah dipraktekan sewaktu lawan Zabuza dan itu cukup lama tapi dia masih mengingatnya apalagi dengan memiliki Haki pengamatan sesulit apapun pandangan itu bakal mudah apalagi jika bisa meningkatkannya lebih.

Dalam pandangan ini Natsu tau bahwa musuhnya memanfaatkan moment situasi pandangan terbatas seperti ini berkat kabut putih dan memang benar sebuah bola air panjang langsung mengarah ke arahnya, tapi Natsu sedikit menggeserkan tubuhnya saja untuk menghindari itu.

"Benar-benar merepotkan" Natsu mengeluarkan hembusan angin dari mulutnya dan akhirnya suasana pandangannya kembali normal tanpa kabut.

"Kekekeke! kau benar-benar sesuatu sekali" Kisame tertawa maniak.

Natsu turun lalu kedua orang itu mulai berlari sedang saja dengan mengikuti gerakan melingkar sambil saling menatap satu sama lain tanpa mengurangi kewaspadaan mereka. dan setelah lima menit berlalu mereka masih melakukan itu tanpa menyerang sama sekali meskipun sesekali Kisame membuat kloning air dirinya yang selalu muncul di belakang Natsu meski begitu hal yang gak penting seperti tadi mudah diatasinya.

Setelah itu mereka mundur beberapa centi dan langsung maju lagi secara bersamaan, tampaknya mereka ingin melakukan serangan jarak dekat dengan combat tangan ataupun sesuatu serangan yang efektif jika dilakukan dari dekat.

Natsu membuat kedua tangannya berapi lalu melakukan tinju bersamaan namun Kisame menangkisnya dengan Samehada lalu tubuhnya berputar 90 derajat melayangkan tendangan kaki kiri, tapi Natsu menahan serangan yang ke arah wajahnya dengan kedua tangan yang dibentuk menyilang.

Kisame sedikit menggesekan telapak kakinya lalu muncul bor air yang muncrat ke atas namun Natsu membalikan kepalanya ke belakang menghindar dan membuat serangan balasan dengan menyemburkan bola api kecil, tapi pria Hiu ini bisa memblock itu dengan Samehada.

"Sungguh menyulitkan" Kisame menyadari musuhnya tak semudah yang dia kira dan itu malah membuatnya semakin tertarik karena ada sesuatu yang lebih kuat dan dia ingin mengalahkannya.

"Senjata yang menyebalkan" Natsu mengerang kesal karena jika memegang senjata besar itu malah akan jadi senjata makan tua karena jika dipegang malah berisi jebakan saja.

Natsu melakukan Bicycle kick dengan cara terbalik dan ketika hampir mengenai Kisame, lelaki itu mengarahkan Samehada miliknya tepat ke arah serangan Natsu dan hasilnya DragonSlayer Api ini berhenti mendadak diposisi sulit karena muncul lagi Duri tajam dari senjata itu yang mana menyakitkan.

Kisame memanfaatkan moment ini berniat mencengkram Natsu cuma lelaki berambut pink ini langsung tersadar dan dengan cepat membuat pusaran angin kecil dari kedua jarinya dan itu cukup untuk membuat Kisame mundur lagi beberapa inci.

"Sepertinya memang sulit tapi, ini sedikit kurang menyenangkan jika kau tak serius dan harus sedikit ada pengorbanan" Kisame menjentakkan jarinya dengan seringai yang ada maksud lain.

Natsu melihat kloning Kisame muncul tapi jaraknya sedikit jauh, dia sendiri bingung kenapa pria ini melakukan hal seperti itu, tapi tersadar bahwa cloning Kisame membuat kurungan bola air yang di dalamnya ada seorang gadis berambut perak, dengan poni melengkung ke atas dan dia mengenalinya.

"Sial Sorano!" Natsu berteriak lalu memberi glare tajam ke arah Kisame karena ini orang bisa-bisanya melakukan tindakan pengecut seperti ini dan dia juga tak menyangka bahwa Sorano dari sekian banyak orang yang menjadi tawanan "oiii, kau bisa lepaskan dia sekarang!" dia membentak dengan aura kuat yang membuat siapapun tertekan sekali m

Kisame tersenyum senang melihat reaksi ini "jika, kau ingin membebaskannya gunakan semua kekuatanmu untuk mengalahkanku" dia semakin tertarik ketika musuhnya memiliki banyak rahasia.

"Kau yang meminta ini" Natsu melotot sangat menyeramkan dengan kepalan tangan yang sudah mengeras.

Sorano membuka matanya dengan memegang kepalanya yang pening karena dihantam benda sangat keras sekali dan ketika pandangan matanya sadar ternyata dirinya benar-benar ada di sebuah tempat yang berair namun yang lebih membuatnya terkejut dirinya dikurung dalam penjara Air dan ada wajah terasa familiar.

"Kau!?" Sorano melotot kepada orang yang sama pada saat dirinya dikalahkan dan saat dia ingin berontak tapi tak bisa karena kekuatannya lemah sekali atau dihisap berkat Penjara bola air karena dirinya pernah merasakan itu sebelumnya 'tenang dulu, aku harus cari celah untuk keluar lebih dulu'

Sorano menyadari orang itu tak bergerak atau berepreksi sama sekali seperti sebuah patung dan terdengar seseorang tengah bertarung lalu menoleh ke samping melihat wajah familiar seorang lelaki berambut pink dengan syal putih melingkar di lehernya.

'Natsu juga di sini, itu berarti dia bertarung dengan orang itu' Sorano menaruh tangannya di dagu dan berfikir dahulu untuk keluar dari sini lalu akhirnya membantu Natsu juga dia ingin balas dendam dengan yang kemarin terjadi jadi, dia tak bisa diam begitu saja.

Kisame menancapkan Samehada ke dalam air lalu menaikinya sambil bergerak cepat maju seperti sedang memainkan papan selancar, Natsu bersiap menyerang tapi tak mau terburu-buru karena lelaki ini cukup licik dalam hal serangan atau apapun itu.

Tiba-tiba Kisame lepas diri bersamaan dengan Samehada yang berputar-putar ke arah DragonSlayer Api itu, Natsu sadar bahwa Kisame muncul tiba-tiba di depannya yang sudah menangkap Samehada lalu mengayunkan senjata besar itu secara kencang dan lelaki berambut pink ini bisa memblock dengan kedua tangannya.

Tapi itu adalah sebuah kesalahan karena perban yang mengikat Samehada robek setengah hingga menunjukan wujud aslinya seperti sisik ikan berwarna biru gelap yang sangat tajam sekali, Kisame memanfaatkan moment itu lalu menarik Samehada ke bawah dan menggesekan senjata itu agar melukai tangan Natsu.

*scrattt!

Jika saja Natsu tak menggunakan Haki Bushou maka sangat dipastikan kedua tangannya sudah sobek besar tapi beruntung dia hanya mengalami luka sobek kecil tapi darah mengalir deras dari kedua tangannya yang menghitam itu.

Kisame belum selesai di melompat ke arah Natsu dengan cepat mengayunkan kembali Samehada secara horizontal dengan tenaga penuh dan itu masih bisa diblock oleh Natsu dengan pedang Cahaya, tapi karena kekuatan Kisame besar Natsu sedikit terdorong hampir ke bawah namun posisi mereka sama-sama bertahan.

*trangg!

Natsu membalikan keadaan dan menendang Kisame yang langsung mundur lalu kedua orang ini kembali maju dengan senjata diayunkan secara lurus hingga keduanya beradu dan membuat sebuah ledakan yang besar dengan efek angin yang begitu hebat karena kedua kekuatan orang ini beradu.

*duarrr!

Mereka mundur lagi beberapa inci dan kembali mengayunkan serangan mereka begitu cepat sekali, saking cepatnya itu seperti blur yang hanya seperti angin lewat saja. keduanya masih saling beradu senjata mereka bahkan tak ada yang menunjukan bahwa ingin mundur atau menyerah.

Kisame mengayunkan Samehada dengan lurus yang masih bisa diblock oleh pedang Cahaya Natsu dan tak lama muncul sesuatu biru terang dari ujung Samehada yang tak lama mengeluarkan ledakan air besar tapi masih beruntung Natsu bisa menghindar dengan terbang ke udara karena serangan mendadak.

Natsu mengangkat satu kakinya setengah lalu membuat kumpulan cahaya kuning yang berkumpul di ujung telapak kakinya dan dia sedikit maju dengan gaya berputar melepaskan tembakan laser panjang yang masih bisa dipentalkan oleh Kisame dengan Samehada namun, berkat itu efek serangan tadi akhirnya terpecah menjadi bola cahaya kecil yang menyebar kemana-mana dan meledak.

Kisame melemparkan kembali Samehada seperti sebuah Boomerang ke arah Natsu dan seperti biasa DragonSlayer Api ini sudah tau gaya serangannya lalu menunggu sesuatu di dekatnya muncul tapi tak ada yang terjadi bahkan tak sadar Samehada itu semakin dekat.

"Aku juga punya otak, mana mungkin melakukan gerakan yang sama" Kisame melakukan segel jari dan Samehada itu dilapisi kekuatan air biru lalu menembakan sesuatu yang berbentuk seperti Hiu "SYRUUDAN KOUJATSU!"

Natsu yang terkejut dengan serangan dadakan ini akhirnya tak bisa menghindar sama sekali dan dia hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan membiarkan kloning Hiu air itu melahapnya dengan mulut terbuka lebar.

*duarrrr!

Kisame melihat Natsu terseret ke dalam lautan buatan miliknya akhirnya tersenyum karena rencananya terlaksana dan ini membuat pertarungan sedikit lebih menarik saja bahkan dia belum sepenuhnya menggunakan kekuatannya dan juga dia merasakan Natsu masih tahap normal belum sangat serius.

"Coba kita lihat bagaimana kau bisa menghindari ini" Kisame menaruh telapak tangannya di atas air dan muncul cakra biru besar dari kelima jarinya itu.

"Permainan memasuki babak kedua"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

- Di Atas Tebing

Gray mendengar suara ledakan besar di atas tebing yang nampaknya suara itu berasal dari Pertambangan yang mana Natsu dan Erza sedang ada di sana untuk menyelamatkan Wendy jika, didengar dari suara ledakan itu tampaknya mereka berdua terlihat bersenang-senang terlebih Natsu yang akan selalu menggunakan kekuatan full jika bertarung meski lawannya biasa saja, jadi tak heran Master selalu komplain tentang kerusakan yang dibuat Natsu saat selesai misi padahal itu misi mudah karena DragonSlayer Api itu selalu pakai Emosi daripada otak.

Tapi Gray menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran itu untuk sementara karena saat ini dia punya masalah yang harus diselesaikan sendiri karena dia masih punya dendam dan belum membalaskannya atas pertemuan pertama yang memalukan.

Racer melesat cepat ke depan mendorong kakinya ke depan Gray bergerak ke samping sambil menyilangkan tangannya membuat bongkahan batu es yang besar dan mengarahkannya ke bawah untuk menghantam Racer cuma, lelaki rambut mohawk ini lebih cepat berlari menghindar dan naik ke atas pohon seperti seekor Kera.

"Aku lebih cepat dari siapapun dan yang aku lakukan hanya berlari saja" ucap Racer membanggakan dirinya sendiri.

"Oh, terima kasih atas infonya itu sangat membantu" Gray membalas dengan sarkastik.

Racer berlari cepat lagi karena Gray sudah mengetahui letak dan gaya serangannya dia sedikit sabar menunggu, lalu ketika lelaki rambut mohawk ini sudah di depan pengendali Es itu yang siap mengayunkan kakinya, Gray langsung membuat kunci es yang mana membuat Racer tak bisa bergerak dan dia melakukan serangan balasan dengan melayangkan tinju tangan kiri.

Meski salah satu kakinya terkunci karena Es ini Racer bisa bergerak dan membuat tubuhnya berputar lalu memblock tinju Gray tadi, karena berkat perputaran tadi akhirnya Racer bisa lepas lagi dan menjauh beberapa langkah agar situasinya tak begitu menyulitkannya.

Racer kembali maju dengan berlari cepat, Gray tau cara tadi tak cukup membantu meski berhasil dan yang perlu dia lakukan adalah menghentikan tubuh orang ini baru bisa menghajarnya dan juga perlu timing yang tepat untuk bisa menghentikannya jadi, tindakan gegabah adalah sesuatu yang merugikannya.

Gray melihat Racer sudah berada dalam jangkauannya lalu bergerak ke samping menghindari serangan lari cepat itu dan ketika targetnya sudah masuk jebakan yang dibuat, tangannya menempel ke tanah dan tak lama muncul dinding es yang begitu besar dan seketika Racer terkejut namun tak bisa menghindari itu alhasil langsung bertabrakan dengan indahnya.

"Guahhhhh!" Racer berteriak sakit.

"Kena kau!" Gray tersenyum senang lalu digerakan ke samping belakang.

"ICE MAKE : SLAPPED HAND!"

Dia membuat patung tangan Es besar yang bergerak dan langsung menampar tubuh Racer dan menghempaskannya cukup jauh dan bagi siapapun yang merasakan serangan seperti itu rasanya memalukan sekali dan Gray memang sengaja membuat jurus itu sebagai balasan saja.

"Rasakan itu!" Gray menggosok hidungnya dengan bangga "dan inilah akibatnya jika kau kebanyakan berlari mengejar Buntut Peri!"

Racer berlutut sedikit depresi "ini menyebalkan karena kau bisa menghentikanku dua kali tapi, itu adalah terakhir kalinya kau bisa menghentikanku" dia memberi glare di balik kacamatanya yang hitam itu.

Gray menyeringai "oh silahkan saja, itupun jika kau bukan tukang membual saja"

Racer tak berlari cuma berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya bahkan Gray tak bisa memprediksi gerakan itu karena lebih cepat dari sebelumnya sehingga penyihir Es ini terlihat sangat bodoh meskipun begitu Racer cuma berputar-putar saja mengelilingi Gray tanpa menyerang sama sekali.

"Permainan kita akan segera dimulai!" teriak Racer mengangkat tangan kanannya "dan sangat mudah jika aku terus menghajarmu namun, jika seperti itu takkan pernah menarik"

"GRAND DEAD PRIX!"

Gray merasakan sedikit getaran di tanah dan mendengar sesuatu suara mesin yang bergemuruh dan ketika melihat ke samping betapa terkejutnya dia karena melihat sekumpulan motor sihir yang begitu banyak dan berjalan liar ke arahnya, lalu dengan buru-buru pengendali Es ini berlari ke samping menghindar karena akan terlindas.

Racer menaiki salah satu motor itu "sekarang saatnya bersenang-senang lebih dahulu" dia memberi salam tendangan ke Gray dan melaju cepat dengan salah satu motor buatannya karena ini memang tehkniknya "kita lihat seberapa besar omonganmu itu"

Gray mengusap mulutnya dan merasa terpancing lalu akhirnya menaiki salah satu motor itu juga dan mengajaknya balapan "jika, kau menginginkan maka aku layani!" dia langsung mengejar Racer yang terlihat terkejut karena mengendarai motor sihir buatannya.

"Sungguh lucu berfikir bahwa kau bisa mengalahkanku dengan sihirku sendiri" Racer tertawa meledek

"Nah, tak ada salahnya untuk mencoba" balas Gray.

Racer sedikit lebih mengebut dengan dikejar oleh Gray yang sedikit kesulitan untuk mengendarainya namun akhirnya terbiasa juga dan akhirnya mereka mulai melakukan kejar-kejaran, Gray menembakan beberapa tombak Es yang masih bisa dihindari tapi bagi murid Ur ini sangat sulit berkendara sambil mengeluarkan sihir karena harus pakai dua tangan.

Racer mengarahkan tangannya ke belakang dan motor-motor tadi akhirnya meledak begitu saja yang menyisakan sekumpulan ban-ban motor yang menggelinding cepat ke arah Gray dengan maksud menghalangi jalan dan benar saja itu cukup menyusahkan karena itu bergerak cepat.

'Dia benar-benar menyusahkan' Gray mendecak kesal tapi tak sadar tiba-tiba Racer sudah berada di sampingnya.

"Kau lambat!" Racer menendang motor yang dikendarai Gray yang sedikit kehilangan keseimbangan namun masih bisa diatasi.

Mereka masih tetap terus kejar-kejaran hingga masuk ke dalam Gua kayu besar dan bagi Racer ini mudah karena sihirnya sendiri apalagi dia bisa berputar-putar dalam jalan arena itu seperti mainannya sendiri sedangkan Gray sangat susah tapi sudah pernah berkendara meski hanya naik sepeda saja.

Racer menembakan kumpulan rocket kecil dari motornya yang akhirnya Gray sedikit kehilangan keseimbangan dan kembali mengejarnya setelah keluar dari gua kayu itu, Gray berpapasan dengan wajah yang familiar.

"Lyon!" Gray berteriak dan kebetulan sekali karena sedikit sulit menghajar orang itu saat berkendara.

Lelaki berambut perak itu terkejut juga melihat temannya itu "Gray, apa yang kau lakukan dengan bermain-main seperti itu?" dia juga bingung dari mana dapatnya motor besar ini.

"Cepat naik!" teriak Gray.

Lyon masih keliatan bingung dan ikut naik saja "kau sedang apa sebenarnya dan bisa jelaskan padaku?" dan lupa bahwa meninggalkan Sherry sendiri yang tak ikut naik "dan bagaimana dengan Wendy sekarang?!" dia tau misi mereka adalah menyelamatkan gadis kecil itu sebelum menghancurkan Oracion Seis.

"Sudah berada di tangan Natsu sekarang" jawab Gray penuh determinasi "dan yang aku mau adalah bahwa kau harus membantuku menyerang orang itu karena, sangat menyulitkan jika situasiku saat ini"

Lyon mengangguk faham tentang situasinya "kalau begitu caranya berarti kau fokus kejar orang itu saja dan sisanya biar yang aku urus" dan memasang kuda-kuda dengan menyatukan telapak tangan dan kepalan tangan.

"Heh, kau benar-benar menggunakannya" Gray dengan seringai menyadari gaya itu sama seperti sebelumnya dan dia masih ingat perkataan Lyon beberapa bulan yang lalu sewaktu masih di pulau Bulan merah itu.

"Ur selalu mengajarkan ini pada kita" jawab Lyon tersenyum "ICE MAKE : EAGLE!" dia menembakan butiran burung Es kecil banyak sekali dan salah satunya mengenai motor Racer dan akhirnya meledak.

*duarrrr!

Tapi, Racer sudah merencanakan itu sehingga melompat lebih dulu "ini terlihat senang-senang sudah selesai sekarang!" dia bergerak maju cepat ke arah dua orang itu melayangkan tinju kuatnya.

Kedua murid Ur ini menyadarinya lebih cepat lalu meloncat dari motor sebelum Racer menghancurkannya karena serangan tadi cukup dadakan dan berbahaya, kali ini pertarungan kembali seperti semula.

Lyon membuat monyet Es besar sedangkan Gray palu Es besar tapi tetap saja serangan kedua orang itu tak bisa melukai Racer sama sekali bahkan gak berguna karena kecepatan lari Racer semakin bertambah gila saja dan tak bisa terlihat oleh mata biasa.

"Bajingan! aku benar-benar tak bisa mengenainya!" Gray sangat frustasi sekali.

"Santailah, liat situasi jarak larinya baru kita serang" balas Lyon dengan tenang lalu tak lama kedua murid Ur ini melepaskan pakaian atasnya "dan akan aku hitung lalu beri aba-aba, setelah itu serang"

'Whoa! mereka membuka bajunya' Sherry blushing tak karuan melihatnya.

"ICE GEYSER!"

"SNOW DRAGON!"

Racer mendekat dan muncul Naga Es yang bersiap menerkamnya namun masih bisa dihindari dengan melompat ke atas lalu muncul lagi lantai Es yang berduri di bawah tapi, anggota Oracion Seis ini masih bisa berlari menghindar itu lagi bahkan ini cukup mengejutkan dua orang pengendali Es itu karena Racer bertambah cepat dari sebelumnya.

Racer berlari cepat tanpa terlihat oleh mata telanjang dan muncul di belakang kedua orang itu lalu menendang keras tubuh mereka hingga terdorong jauh lalu, dia berlari cepat menjauh untuk menjaga jarak dari musuhnya.

"Sampai mati pun kalian takkan bisa mengalahkanku bahkan menyamai kecepatan lariku jadi, berhentilah untuk bermimpi" Racer tersenyum sombong dan merendahkan "dan aku harus mengakhiri ini dengan cepat lalu mengambil kembali gadis kecil itu"

"Orang-orang ini menyebalkan" Gray menggertakan giginya frustasi sekali.

"Dengarkan aku Gray" Lyon memanggil membuat temannya itu menoleh "aku ada sedikit cara untuk menghentikannya"

"Aku akan dengar"

.

.

.

.

.

- Hutan Selatan

Sementara itu sudah sejam berlalu Cobra yang sekarang tengah memata-matai atau mengikuti Jellal dan tentu saja baginya ini sangat membosankan karena membuang banyak waktu tapi, karena memang ini sebuah misi yang diberikan langsung oleh Brian maka dirinya hanya menuruti perintah saja.

Sebenarnya tugas ini sangat mudah jika dia bisa membaca isi hati seseorang dan mengetahui tujuannya tapi, sejak awal dia mengikutinya Jellal seperti tak memiliki rahasia apapun bahkan Cobra tak bisa membaca isi hatinya sama sekali dan mirip sekali dengan bayi baru lahir. itu cukup membingungkan karena dasarnya manusia dewasa langka tak memiliki fikiran sama seperti bayi lahir jadi sekarang dia hanya mengikutinya saja.

'Sungguh ini benar-benar buruk, kalau aku tau rahasianya maka tak perlu lagi mengikutinya' Cobra mengintip Jellal yang seperti orang linglung dan sedang mencari sesuatu di balik pohon besar 'tapi, itu tak masalah mungkin saja dia saat ini menuju Nirvana jadi, kita lihat dulu apa yang dia lakukan sekarang'

Cobra masih tetap mengikuti Jellal yang celingak-celinguk mencari sesuatu dan tak lama lelaki berambut biru ini berhenti dan menatap lurus ke arah sesuatu.

'Tempat apa ini?!' Cobra sendiri masih begitu asing di daerah sini dan matanya melihat sebuah pohon besar sekali dengan bagian batang yang diselimuti rantai, lalu dikeliling oleh pilar-pilar bebatuan, dan yang terpenting adalah bagian bawahnya yang memunculkan cahaya 'apakah mungkin ini Nirvana seperti yang Brain bilang?' untuk sekarang dia masih tetap mengawasi gerak-gerik Jellal dan belum bisa senang karena masih dalam situasi ambigu.

Jellal memasukan tangannya ke dalam pohon itu yang tak lama akhirnya membuat cahaya yang menyilaukan dan meledakan aura gelap yang begitu kuat sekali sehingga tumbuhan yang ada di sekelilingnya mati total.

Cobra tersenyum senang setelah tau ini bukan tipuan lagi 'akhirnya kita benar-benar menemukannya sekarang!' dia melihat cahaya itu terus meledak tanpa henti yang membuat seperti sebuah menara panjang dan semakin banyak dikelilingi aura yang sangat kuat sekali "hahahaha masa depan kita akhirnya ada di depan mata!"

*boommm! *booommm! *booommm!

Setelah meledak cukup lama akhirnya membentuk sebuah menara Kristal yang meledakan sebuah pilar cahaya gelap panjang ke atas dan dapat disaksikan oleh siapapun yang ada di sekitar hutan itu dan menara itu menyerap semua kekuatan yang ada di sekitar hutan ini.

"Hahahaha Nirvana ini akhirnya menjadi milik kita sekarang!" Cobra tertawa senang dan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sebesar ini

Sementara itu Erza yang sekarang tengah mengejar Jellal melihat pilar cahaya itu juga dan merasakan kekuatan yang familiar sekali bahkan rasa seperti ini dia masih mengingatnya walaupun sudah terlewat dua bulan lau semenjak kejadian Menara Etherion.

'Siapa yang membangkitkan itu lagi? tapi kali ini ada sedikit perbedaan' Erza sudah tak takut lagi dengan masa lalunya dan sekarang dia sudah memiliki masa depan yang indah bersama seseorang 'jika yang dibilang Natsu itu benar, maka Jellal masih hidup tapi apa yang dia lakukan sekarang?'

Padahal setau dia mantan teman masa kecilnya itu mati bersama dengan ledakan Etherion yang sangat besar sekali bahkan jika bukan karena Natsu dirinya sudah mati bersama juga namun, dia tau Natsu tak bercanda bahwa Jellal masih hidup ditambah Wendy yang bilang memiliki hubungan dengan Jellal meski entah itu apa.

Dan dia tau kekuatan itu sama dengan yang terjadi sewaktu di Menara dan tau bahwa pelakunya adalah Jellal, tapi mau Jellal atau bukan dia harus ke sana untuk menghentikannya apalagi sejak awal misi mereka memang menaklukan Oracion Seis jadi urusan pribadi diabaikan saja lebih dahulu.

'Jika itu Jellal, apa yang sebenarnya dia inginkan?' Erza mengepal tangannya sangat kesal 'jika seperti dulu lagi, maka sekarang tinggal aku yang harus menghentikannya karena semua orang sedang berurusan dengan masalah mereka masing-masing'

"Erza-san itu cahaya apa?" Wendy bertanya bingung.

Erza tersenyum mengusap rambut biru itu "bisa kau kembali ke barat sekarang? di sana ada Hibiki yang sedang menunggumu" dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dan tak ingin ikut campur "jadi aku ingin kalian ke sana sedangkan aku akan urusi masalah ini lebih dahulu"

"Tapi, kau tau dia Jellal bukan?" Happy khawatir.

Erza tersenyum ceria "aku sudah tak mengingat itu lagi yang aku lakukan sekarang adalah menyelesaikan misi saja jadi, kalian tunggu saja"

"Tolong, karena sihir Wendy sangat banyak terkuras ketika menyembuhkan pria itu jadi kita tak bisa banyak membantu!" ucap Carla memohon.

"Baiklah!" Erza berlari ke arah pilar itu.

Dan banyak hal yang dia ingin lakukan jika benar Jellal masih hidup pertama apa dia masih ingat tentang menara itu dan kedua adalah bertanggung jawab atas kematian salah satu orang yang dia sayang.

"Tunggu saja, biar aku akhiri masalah ini Jellal"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

"Hmmmm, Cahaya apa itu?" Jura melihat pilar cahaya yang panjang ke atas langit dan besar kemungkinan Oracion Seis sudah melaksanakan rencana mereka, sebenarnya dia mengecek ke sana cuma ada stalker yang terus mengikutinya

Sementara yang lainnya tengah sibuk dengan urusan masing-masing Jura yang kondisi masih setengah sehat dan setengah terluka berkat serangan dadakan Kisame memilih untuk diam di sini saja dan membiarkan mereka berdua mencari gadis kecil itu sementara dia mencari Anggota Oracion Seis yang lain karena sejak masuk ke dalam Hutan dirinya merasakan aura kuat yang sedari tadi mengikutinya.

Meskipun ada yang mengikutinya Jura tak ceroboh atau gegabah jadi dia membiarkan saja orang itu mengikutinya dan dia cuma perlu memancingnya saja dengan jalan-jalan gak jelas di dalam hutan dan tak lama dirasa sudah yakin dengan sesuai rencana dia berhenti berjalan.

Jura melirik ke belakang "aku tau kau di sana jadi, berhenti untuk main-main sekarang" dia merasakan tanah yang dipijaki jadi lembek dan membuat keseimbangannya agak goyah dan dia melihat musuhnya yang ada di sana seorang pria gendut.

"Seperti yang diharapkan dari salah satu kandidat 10 Penyihir Suci" balas Hoteye yang keluar dari persembunyiannya.

"Oracion Seis huh?" Jura tau orang ini salah satu target yang harus dikalahkan dan dia harus memanfaatkan momen itu dan tak boleh gagal apalagi dia sudah pernah sekali karena kelengahan makanya tak boleh gagal.

"Sungguh sangat membanggakan kau bisa mengenaliku" Hoteye tersenyum ramah (mungkin saja -_-)

Jura mengirimkan tumbukan batu ke depan sebagai salam awal perkenalan cuma Hoteye diam saja dan hanya menekuk jarinya dan tak lama serangan tadi berubah seperti mencair dan tak mengenai pria gendut ini.

"Kau ini tanah yang keras sedangkan aku bisa mengubah sesuatu yang keras menjadi lembut atau jadi seperti air yang lembut" ucap Hoteye menjelaskan kekuatan sihirnya "dan yang jadi, pertanyaan adalah sihir siapa yang terkuat di antara kita?"

"Itu tidak penting dan juga tergantung dari sang pengguna itu sendiri yang pintar bagaimana mengolah sihir itu sendiri yang jadi terkuat" jawab Jura bersiap mode bertarung.

Hoteye menggeleng kepala dengan senyuman "tidak kau sedikit kurang benar, yang benar adalah tidak peduli siapapun itu yang bakal menang adalah orang kaya"

"Huh?"

.

.

.

.

.

Wendy, Happy, dan Carla sudah sampai di lokasi aman atau sesuatu yang Erza bilang bahwa ada seseorang yang menunggu di sana dan ketika sudah sampai memang benar tempat itu aman dan sudah ada di sana Hibiki yang tengah menunggu sambil sesekali memberi informasi dari balik layar karena itu adalah keahliannya.

"Oh selamat datang kembali Wendy kecil" ucap Hibiki menyapanya dengan senyum ramah.

Wendy sedikit canggungg dan agak gugup "emmmm, aku hanya di sini karena Erza-san menyuruhku untuk ke sini"

"Aku tau makanya sekarang kau diam saja di sini dan biarkan yang lainnya menjalankan tugasnya" balas Hibiki dan sedang menghubungi seseorang "halo! halo! halo Natsu-kun, atau Lyon-kun? siapapun yang mendengar ini tolong jawab?"

"Kau sedang apa?" Happy bertanya.

"Semenjak mereka masuk lebih dalam lagi aku tak bisa menghubungi mereka atau memang jangkauan sihirku masih kurang" ucap Hibiki menjelaskan situasinya "tapi, terlihat cahaya tadi mungkin itu ulah Oracion Seis jadi aku berfikir mesti yang lainnya ada di sana"

"Ehhhmmmk, sebenarnya... begini..." Wendy tak tau harus berbicara apa karena masih tak begitu berani jika berbicara dengan orang asing terutama laki-laki.

Hibiki hanya tersenyum faham "aku mengerti kau ingin membantu tapi, setidaknya khawatirkan dulu kondisi tubuhmu dan istirahatlah sebentar karena sesuatu dipaksakan itu tak baik"

"Aku tak mengerti kenapa mereka selalu tak mendengarkan nasihat orang lain?" ucap Carla cukup kesal mengingatnya.

"Jika kau maksud Fairy Tail? memang mereka seperti itu sejak dulu dan bahkan takkan pernah nasihat yang gak jelas begitu tapi, percayalah mereka orang baik" jawab Hibiki.

"Terserah!" Carla mengalihkan kepalanya ke samping.

"Kau tak tau lokasi Natsu?" Happy bertanya khawatir karena terakhir kali dia lihat waktu ledakan besar ditambah Air Bah yang menyeret siapapun menjauh.

Hibiki menggeleng "aku kehilangan komunikasi semua orang dan tak bisa menghubungi siapapun bahkan aku tak bisa melacak lokasi mereka"

"Semoga Natsu-san baik-baik saja" Wendy sangat cemas sekali.

"Nak, kau jangan begitu cemas dia itu laki-laki dan sudah pasti sangat kuat" ucap Carla menenangkannya.

Hibiki mendapatkan sedikit sinyal komunikasi dan buru-buru diangkat "halo, ini aku Hibiki jadi katakan di mana kalian" dia cukup senang karena ada yang masih terjangkau.

"Ini...*gulp...aku...*gulp...Natsu"

"Oh syukurlah jika itu kau dari sekian banyak orang" Hibiki bisa bernafas lega karena Natsu ini orang yang kuat "jadi di mana posisimu sekarang? biar aku tandai dan hubungi yang lainnya, tapi ngomong-ngomong kenapa suaramu seperti ada gelembung gitu?"

"Aku...*gulp...ada...*gulp...masalah...*gulp..sedikit... jadi...*gulp...aku mau...*gulp...kirim...*gulp...Wendy... sekarang...*gulp...dan...dia...*gulp...tau...*gulp...lokasinya!"

Dan dengan itu komunikasi terputus "halo! halo! halo! Natsu-kun?! kau masih mendengarku?!" Hibiki tau ucapan tadi sedikit gawat dan dia mengumpat kesal "ahhhh, bajingan!"

"Uhmmmm, apa yang terjadi dengan Natsu-san?" Wendy bertanya karena ini berhubungan dengan lelaki berambut pink ini.

"Kau ingin ke sana membantunya bukan?" Hibiki bertanya dan mendapat anggukan dari gadis kecil ini "jika begitu ke sanalah karena cuma kau orang yang tau dan terakhir kali melihatnya"

"Uhmmm!" Wendy mengangguk senang.

Carla langsung protes "tunggu dulu! kau tak bisa seenaknya menyuruhnya seperti itu, dia masih kecil"

"Aku tak memaksanya, segala sesuatu itu tergantung keinginannya saja" balas Hibiki mengangkat bahunya

"Sudahlah Carla, aku tak bisa berdiam diri saja dan ingin membantu yang lainnya" balas Wendy sangat serius dan Carla tak membalas lagi karena gadis kecil ini lebih keras kepala sekali.

"Baiklah" Carla menyerah.

"Baiklah aku akan pasang lacrima kecil ini di rambutmu dan agar aku bisa mengetahui posisimu jika di luar jangkauan sihirku" ucap Hibiki.

"Iyah!"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Kondisi Brain saat ini tengah basah kuyup dan penampilan yang berantakan karena berkat Kisame yang seenaknya saja mengeluarkan kekuatannya tanpa ditahan alhasil menimbulkan dampak yang parah dan orang-orang yang ada di sekitar sana terseret jauh termaksud dirinya yang karena itu rencananya sedikit berantakan.

Sebenarnya dia ingin mengejar Wendy dan menyuruh seseorang namun karena Jellal sudah siuman akhirnya dia menyuruh Cobra untuk mengikutinya saja, tapi siapa tau lelaki berambut biru itu tau tempat di mana Nirvana dan benar saja dugaannya benar bahwa Jellal mengaktifkan Nirvana dan sekarang rencananya berjalan sedikit demi sedikit.

Dan sekarang rencana berjalan sesuai yang diidamkan dan tinggal orang-orang yang dari Guild lain yang mengganggu saja, tapi bisa diatasi oleh anak buahnya dan dia menunggu juga Jellal mengaktifkan setiap Nirvana di sekitar Hutan maka setelah itu dia akan bergerak.

Brian terkadang kesal dan mengumpat pada pria Hiu itu tapi masih respect karena kekuatannya gila sekali di antara Anggota Oracion Seis lainnya.

"Midnight bangunlah! sekarang tugasmu!" teriak Brian dan pria yang memiliki dandanan seperti perempuan membuka matanya "dan aku ingin kau hancurkan orang-orang yang menganggu rencanku untuk mendapatkan Nirvana"

"Dimengerti"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Cutttt, akhirnya aku bisa selesai juga meskipun masih lama untuk beberapa chapter akhir arc karena ini baru juga awal dan tak usah tergesa-gesa.

Pm

RnR